Nama : Ernie Burhanuddin
NPM : 16080025
Kelas : 25 B
HOSPITALITY SECURITY
Risiko berhubungan dengan ketidakpastian. Ketidakpastian ini terjadi oleh karena
kurang atau tidak tersedianya cukup informasi tentang apa yang akan terjadi.
Sesuatu yang tidak pasti (uncertain) dapat berakibat menguntungkan atau
merugikan.menurut Wideman, ketidak pastian yang menimbulkan kemungkinan
menguntungkan dikenal dengan istilah peluang (Opportunity), sedangkan ketidak pastian yang
menimbulkan akibat yang merugikan dikenal dengan istilah risiko (Risk).
Secara umum risiko dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang dihadapi seseorang
atau perusahaan dimana terdapat kemungkinan yang merugikan. Bagaimana jika kemungkinan
yang dihadapi dapat memberikan keuntungan yang sangat besar sedangkan kalaupun rugi
hanya kecil sekali? Misalnya membeli loterei. Jika beruntung maka akan mendapat hadiah yang
sangat besar tetapi jika tidak beruntung uang yang digunakan membeli loterei relatif
kecil.Apakah ini juga tergolong Risiko? jawabannya adalah hal ini juga tergolong resiko
A. Risk Assesment / Penilaian Resiko
Manajemen risiko adalah metode yang tersusun secara logis dan sistematis dari suatu
rangkaian kegiatan: penetapan konteks, identifikasi, analisa, evaluasi, pengendalian serta
komunikasi risiko. Proses ini dapat diterapkan di semua tingkatan kegiatan, jabatan, proyek,
produk ataupun asset. Manajemen risiko dapat memberikan manfaat optimal jika diterapkan
sejak awal kegiatan. Walaupun demikian manajemen risiko seringkali dilakukan pada tahap
pelaksanaan ataupun operasional kegiatan.
Manajemen risiko mulai diperkenalkan di bidang keselamatan dan kesehatan kerja pada
era tahun 1980-an setelah berkembangnya teori accident model dari ILCI dan juga semakin
maraknya isu lingkungan dan kesehatan. Manajemen risiko bertujuan untuk minimisasi
kerugian dan meningkatkan kesempatan ataupun peluang. Bila dilihat terjadinya kerugian
dengan teori accident model dari ILCI, maka manajemen risiko dapat memotong mata rantai
kejadian kerugian tersebut, sehingga efek dominonya tidak akan terjadi. Pada dasarnya
manajemen risiko bersifat pencegahan terhadap terjadinya kerugian maupun ‘accident’.
Ruang lingkup proses manajemen risiko terdiri dari:
Penentuan konteks kegiatan yang akan dikelola risikonya
Identifikasi risiko,
Analisis risiko,
Evaluasi risiko,
Pengendalian risiko,
Pemantauan dan telaah ulang,
Koordinasi dan komunikasi.
Pelaksanaan manajemen risiko haruslah menjadi bagian integral dari pelaksanaan sistem
manajemen perusahaan/ organisasi. Proses manajemen risiko Ini merupakan salah satu langkah
yang dapat dilakukan untuk terciptanya perbaikan berkelanjutan (continuous improvement).
Proses manajemen risiko juga sering dikaitkan dengan proses pengambilan keputusan dalam
sebuah organisasi.
Manajemen risiko adalah metode yang tersusun secara logis dan sistematis dari suatu rangkaian
kegiatan: penetapan konteks, identifikasi, analisa, evaluasi, pengendalian serta komunikasi
risiko. Proses ini dapat diterapkan di semua tingkatan kegiatan, jabatan, proyek, produk
ataupun asset. Manajemen risiko dapat memberikan manfaat optimal jika diterapkan sejak awal
kegiatan. Walaupun demikian manajemen risiko seringkali dilakukan pada tahap pelaksanaan
ataupun operasional kegiatan.
Manajemen risiko adalah bagian yang tidak terpisahkan dari manajemen proses.
Manajemen risiko adalah bagian dari proses kegiatan didalam organisasi dan pelaksananya
terdiri dari mutlidisiplin keilmuan dan latar belakang, manajemen risiko adalah proses yang
berjalan terus menerus.
Elemen utama dari proses manajemen risiko, seperti yang terlihat pada gambar meliputi:
Penetapan tujuan; Menetapkan strategi, kebijakan organisasi dan ruang lingkup
manajemen risiko yang akan dilakukan.
Identifkasi risiko; Mengidentifikasi apa, mengapa dan bagaimana faktor-faktor yang
mempengaruhi terjadinya risiko untuk analisis lebih lanjut.
Analisis risiko; Dilakukan dengan menentukan tingkatan probabilitas dan konsekuensi
yang akan terjadi. Kemudian ditentukan tingkatan risiko yang ada dengan mengalikan
kedua variabel tersebut (probabilitas X konsekuensi).
Evaluasi risiko; Membandingkan tingkat risiko yang ada dengan kriteria standar.
Setelah itu tingkatan risiko yang ada untuk beberapa hazards dibuat tingkatan prioritas
manajemennya. Jika tingkat risiko ditetapkan rendah, maka risiko tersebut masuk ke
dalam kategori yang dapat diterima dan mungkin hanya memerlukan pemantauan saja
tanpa harus melakukan pengendalian.
Pengendalian risiko; Melakukan penurunan derajat probabilitas dan konsekuensi yang
ada dengan menggunakan berbagai alternatif metode, bisa dengan transfer risiko, dan
lain-lain.
Monitor dan Review; Monitor dan review terhadap hasil sistem manajemen risiko yang
dilakukan serta mengidentifikasi perubahan-perubahan yang perlu dilakukan.
Komunikasi dan konsultasi; Komunikasi dan konsultasi dengan pengambil keputusan
internal dan eksternal untuk tindak lanjut dari hasil manajemen risiko yang dilakukan.
Manajemen risiko dapat diterapkan di setiap level di organisasi. Manajemen risiko dapat
diterapkan di level strategis dan level operasional. Manajemen risiko juga dapat diterapkan
pada proyek yang spesifik, untuk membantu proses pengambilan keputusan ataupun untuk
pengelolaan daerah dengan risiko yang spesifik.
Eksekutif organisasi harus dapat mendefinisikan dan membuktikan kebenaran dari
kebijakan manajemen risikonya, termasuk tujuannya untuk apa, dan komitmennya. Kebijakan
manjemen risiko harus relevan dengan konteks strategi dan tujuan organisasi, objektif dan
sesuai dengan sifat dasar bisnis (organisasi) tersebut. Manejemen akan memastikan bahwa
kebijakan tersebut dapat dimengerti, dapat diimplementasikan di setiap tingkatan organisasi.
B. Security Plan / Perencanaan Dan Pengelolaan Hasil
1. Komitmen Manajemen;
Organisasi harus dapat memastikan bahwa:
Sistem manejemen risiko telah dapat dilaksanakan, dan telah sesuai dengan standar
Hasil/ performa dari sistem manajemen risiko dilaporkan ke manajemen organisasi,
agar dapat digunakan dalam meninjau (review) dan sebagai dasar (acuan) dalam
pengambilan keputusan.
2. Tanggung jawab dan kewenangan; Tanggung jawab, kekuasaan dan hubungan antar
anggota yang dapat menunjukkan dan membedakan fungsi kerja didalam manajemen
risiko harus terdokumentasikan khususnya untuk hal-hal sebagai berikut:
Tindakan pencegahan atau pengurangan efek dari risiko.
Pengendalian yang akan dilakukan agar faktor risiko tetap pada batas yang masih
dapat diterima.
Pencatatan faktor-faktor yang berhubungan dengan kegiatan manajemen risiko.
Rekomendasi solusi sesuai cara yang telah ditentukan.
Memeriksa validitas implementasi solusi yang ada.
Komunikasi dan konsultasi secara internal dan eksternal.
3. Sumber Daya Manusia; Organisasi harus dapat mengidentifikasikan persyaratan
kompetensi sumber daya manusia (SDM) yang diperlukan. Oleh karena itu untuk
meningkatkan kualifikasi SDM perlu untuk mengikuti pelatihan-pelatihan yang
relevan dengan pekerjaannya seperti pelatihan manajerial, dan lain sebagainya.
C. Budgeting
Sejumlah langkah perlu dilakukan agar implementasi sistem manajemen risiko dapat
berjalan secara efektif pada sebuah organisasi. Langkah-langkah yang akan dilakukan
tergantung pada filosofi, budaya dan struktur dari organisasi tersebut.
Setiap progam tentu harus ada pembiayaan baik itu pemeliharaan alat pelatian dan
sebagai ini harus masuk dalam rencana angganran rumah sakit
D. Securiti Manuals / Tata Cara
Proses diatas harus dilakukan oleh setiap petugas yang kebetulan bertugas dan ini
dilaparkan kebagian K3RS dan ditulis pada buku kejadian .Sebagai contoh :
1. Bila ada kesalahan pada pemberian obat ( obat tertukar ) hal ini harus cepat dilakukan
tindakan jangan sampai menumbulkan masalah bila pasien dirawat sebelum memberikan
harus dibaca obat untuk siapa dan pasiean pun ditanya apa namanya sama.
2. Setiap Petugas diruangan hasus mematikan sumber listri bila sudah tidak digunakan atau
ruangan akan ditutup
Beberapa Istilah Penting Dalam Manajemen Risiko
1. Konsekuensi
Akibat dari suatu kejadian yang dinyatakan secara kualitatif atau kuantitatif, berupa
kerugian, sakit, cedera, keadaan merugikan atau menguntungkan. Bisa juga berupa rentangan
akibat-akibat yang mungkin terjadi dan berhubungan dengan suatu kejadian.
2. Biaya
Dari suatu kegiatan, baik langsung dan tidak langsung, meliputi berbagai dampak
negatif, termasuk uang, waktu, tenaga kerja, gangguan, nama baik, politik dan kerugian-
kerugian lain yang tidak dinyatakan secara jelas.
3. Kejadian
Suatu peristiwa (insiden) atau situasi, yang terjadi pada tempat tertentu selama interval
waktu tertentu.
4. Analisis Urutan Kejadian
Suatu teknik yang menggambarkan rentangan kemungkinan dan rangkaian akibat yang
bisa timbul dari proses suatu kejadian.
5. Analisis Urutan Kesalahan
Suatu metode sistem teknik untuk menunjukkan kombinasi-kombinasi yang logis dari
berbagai keadaan sistem dan penyebab-penyebab yang mungkin bisa berkontribusi terhadap
kejadian tertentu (disebut kejadian puncak).
6. Frekuensi
Ukuran angka dari peristiwa suatu kejadian yang dinyatakan sebagai jumlah peristiwa
suatu kejadian dalam waktu tertentu. Terlihat juga seperti kemungkinan dan peluang.
7. Bahaya (hazard)
Faktor intrinsik yang melekat pada sesuatu dan mempunyai potensi untuk menimbulkan
kerugian.
8. Monitoring/ Pemantauan
Pengecekan, Pengawasan, Pengamatan secara kritis, atau Pencatatan kemajuan dari suatu
kegiatan, tindakan, atau sistem untuk mengidentifikasi perubahan-perubahan yang mungkin
terjadi.
9. Probabilitas
Digunakan sebagai gambaran kualitatif dari peluang atau frekuensi.
Kemungkinan dari kejadian atau hasil yang spesifik, diukur dengan rasio dari kejadian atau
hasil yang spesifik terhadap jumlah kemungkinan kejadian atau hasil. Probabilitas
dilambangkan dengan angka dari 0 dan 1, dengan 0 menandakan kejadian atau hasil yang tidak
mungkin dan 1 menandakan kejadian atau hasil yang pasti.
10. Risiko Ikutan
Tingkat risiko yang masih ada setelah manajemen risiko dilakukan.
11. Risiko
Peluang terjadinya sesuatu yang akan mempunyai dampak terhadap sasaran. Ini diukur
dengan hukum sebab akibat. Variabel yang diukur biasanya probabilitas, konsekuensi dan juga
pemajanan.
12. Penerimaan Risiko (acceptable risk)
Keputusan untuk menerima konsekuensi dan kemungkinan risiko tertentu.
13. Analisis risiko
Sebuah sistematika yang menggunakan informasi yang didapat untuk menentukan
seberapa sering kejadian tertentu dapat terjadi dan besarnya konsekuensi tersebut.
14. Penilaian risiko
Proses analisis risiko dan evalusi risiko secara keseluruhan.
15. Penghindaran risiko
Keputusan yang diberitahukan tidak menjadi terlibat dalam situasi risiko.
16. Pengendalian risiko
Bagian dari manajemen risiko yang melibatkan penerapan kebijakan, standar, prosedur
perubahan fisik untuk menghilangkan atau mengurangi risiko yang kurang baik.
17. Evaluasi risiko
Proses yang biasa digunakan untuk menentukan manajemen risiko dengan
membandingkan tingkat risiko terhadap standar yang telah ditentukan, target tingkat risiko dan
kriteria lainnya.
18. Identifikasi Risiko
Proses menentukan apa yang dapat terjadi, mengapa dan bagaimana.
19. Pengurangan Risiko
Penggunaan/ penerapan prinsip-prinsip manajemen dan teknik-teknik yang tepat secara
selektif, dalam rangka mengurangi kemungkinan terjadinya suatu kejadian atau
konsekuensinya, atau keduanya.
20. Pemindahan Risiko (risk transfer)
Mendelegasikan atau memindahkan suatu beban kerugian ke suatu kelompok/ bagian
lain melalui jalur hukum, perjanjian/ kontrak, asuransi, dan lain-lain. Pemindahan risiko
mengacu pada pemindahan risiko fisik dan bagiannya ke tempat lain
E. Staffing dan Executive Skills
Seorang pimpinhan harus memahami undang2 yang berlaku tentang keselamatan dan
keamanan yang berlaku untuk rumah sakit . Peraturan yang ada haris dituangkan dalam bentuk
regulasi yang berlaku di rumah sakit nya setelah itu dibuat kan standard prosedur
operasionalnya.
Kemudian harus disosialisasikan kepada seluruh anggota rumah sakit jadi dari
pimpinan sampai anggota yang terendah pun harus tahu bagai mana pelaksanan dan pencegaan
dan penanggulangannya bila terjadi .Lakukan sosialisasi sesering mungkin agar sklill tetap
mahir
F. Training
Dapat dilakukan dengan mengirim anggota rumah sakit belajar diluar rumah sakit
seperti mengikuti pelatihan . dapat juga dengan in haustrening dengan mendatangkan pakarnya
kerumah sakit dan diikuti oleh seluruh anggota dilakukan kontinyu .
G. Safety
KESELAMATANA DAN KESEHATAN KERJA
Tujuan :
1. Melindungi para pekerja dan orang lain di tempat kerja
2. Menjamin agar setiap sumber produksi dapat dipakai secara aman dan efisien
3. Menjamin proses produksi berjalan lancar
Fokus Pelaksanaan
1. Mencegah Kecelakaan Kerja
2. Mencegah Penyakit Akibat Kerja
KECELAKAAN KERJA
Suatu kejadian yang tidak di semula dan tidak dikehendaki yang mengacaukan proses yang
telah diatur dari suatu aktivitas dan dapat menimbul kan kerugian harta benda dan korban manusia
PENYAKIT AKIBAT KERJA Penyakit yang timbul karena hubungan kerja
RUANG LINGKUP UU NO.1 TAHUN 1970
Pelaksanaan UU NO.1 Tahun 1970 ditentukan oleh 3 unsur :
1. Tempat kerja digunakan untuk kegiatan usaha
2. Tenaga kerja melakukan pekerjaan untuk keperluan usaha
3. Sumber bahaya berpotensi sebagai penyebab kecelakaan dan penyakit akibat Tenaga
Kerja Tempat Kerja Sumber Bahaya
Identifikasi Bahaya
• Sebelum memulai suatu pekerjaan, harus dilakukan Identifikasi Bahaya guna mengetahui
potensi bahaya dalam setiap pekerjaan.
• Identifikasi Bahaya dilakukan bersama pengawas pekerjaan dan Safety Departement.
• Semua hasil identifikasi Bahaya harus didokumentasikan dengan baik dan dijadikan
sebagai pedoman dalam melakukan setiap kegiatan .
H. Emergency Prosedure
Tujuan keselamatan pasien di rumah sakit adalah mencegah terjadinya cidera yang
disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil
tindakan yang harusnya diambil.
Pelayanan kesehatan adalah untuk menyelamatkan pasien sesuai dengan yang
diucapkan Hipocrates 2400 tahun yang lalu, yaitu Primum, non nocere (First, do no harm).
Namun dengan semakin berkembangnya ilmu dan teknologi pelayanan kesehatan, di rumah
sakit terdapat ratusan macam obat, ratusan tes dan prosedur, banyak alat dengan teknologi
canggih, bemacam jenis tenaga profesi dan non profesi yang memberikan pelayanan pasien
24 jam terus menerus, sangat berpotensi untuk terjadinya Kejadian Tidak Diharapkan
(Adverse event) apabila tidak dikelola dengan baik dan hati-hati.
Rumah sakit harus memiliki komitmen untuk tetap menjaga dan terus meningkatkan
mutu pelayanan dan keselamatan pasien sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan
yang prima (service excellent) secara terus menerus dan berkelanjutan bagi masyarakat. Oleh
karena itu seluruh karyawan /anggota rumah sakit dalam memberikan pelayanan selalu
memperhatikan Enam Sasaran Keselamatan Pasien sesuai International Patient Safety Goals,
6 SASARAN KESELAMATAN PASIEN
1. Mengidentifikasi pasien dengan benar (nama, no RM);
2. Meningkatkan komunikasi yang efektif;
3. Meningkatkan keamanan obat-obatan yang harus di waspadai;
4. Memastikan lokasi pembedahan yang benar, prosedur yang benar, pembedahan pada
pasien yang benar;
5. Mengurangi resiko infeksi akibat perawatan kesehatan; dan
6. Mengurangi resiko cedera pasien akibat terjatuh.
I. Investigations
Ini harus dilakukan secara kontinyu dan disetiap bagian atau celah terjadinya oelah
setiap petugas dan bila ada yang mencurigakan harus segara lapor securiti
Pelayanan keperawatan yang baik adalah pelayanan keperawatan yang memperhatikan
keselamatan pasien. Setiap tindakan keperawatan yang dilakukan beserta dengan peralatan dan
lingkungan sekitar sudah seharusnya dikondisikan secara sempurna untuk menunjang
keselamatan pasien. Oleh karena itu, diperlukan pengkajian terhadap keselamatan pasien.
Pengkajian tersebut meliputi pengkajian dalam bidang sebagai berikut :
1. Struktur
2. Lingkungan
3. Peralatan dan teknologi
4. Proses
5. Orang
6. Budaya
Mengacu kepada enam bidang tersebut, maka aplikasi keselamatan pasien dapat dilakukan
pada tempat dan dengan standar aplikasi sebagai berikut.
1. Kamar operasi
Kamar operasi adalah suatu unit khusus di dalam rumah sakit yang berfungsi sebagai
tempat untuk melakukan tindakan pembedahan, baik elektif maupun akut. Secara umum,
lingkungan kamar operasi terdiri dari tiga area, yaitu :
1. Area bebas terbatas (unrestricted area)
Pada area ini petugas dan pasien tidak perlu menggunakan pakaian khusus kamar operasi.
1. Area semi ketat (semi restricted area)
Pada area ini petugas wajib mengenakan pakaian khusus kamar operasi yang terdiri atas topi,
masker, baju dan celana operasi.
1. Area ketat atau terbatas (restricted area).
Pada area ini petugas wajib mengenakan pakaian khusus kamar operasi lengkap dan
melaksanakan prosedur aseptik. Selain itu, petugas wajib mengenakan pakaian khusus kamar
operasi lengkap yang berupa topi, masker, baju dan celana operasi.
Pelaksanaan atau aplikasi patient safety dalam kamar operasi dapat berupa hal sebagai berikut
1. Semua peralatan yang ada di dalam kamar operasi harus beroda dan mudah dibersihkan.
2. Untuk alat elektrik, petunjuk penggunaaanya harus menempel pada alat tersebut agar
mudah dibaca.
3. Sistem pelistrikan harus aman dan dilengkapi dengan elektroda untuk memusatkan arus
listrik mencegah bahaya gas anestesi.
4. Air yang tersedia dalam kamar operasi harus bersih, yaitu air yang tidak berwarna, tidak
berbau, tidak berasa, tidak mengandung kuman pathogen, tidak mengandung zat kimia,
dan tidak mengandung zat beracun.
5. Setiap petugas medis yang akan melakukan tindakan operasi wajib mengenakan
pakaian khusus operasi.
6. Petugas medis wajib melaksanakan prosedur aspetik, salah satu contohnya adalah
mencuci tangan.
1. Unit Gawat Darurat
Unit Gawat Darurat (UGD) adalah suatu unit di dalam rumah sakit yang menyediakan
penanganan awal bagi pasien yang menderita sakit dan cedera yang dapat mengancam
kelangsungan hidupnya. Sifat pasien yang mendapatkan perawatan di UGD adalah sebagai
berikut :
1. Perlu mendapatkan pertolongan segera, cepat, tepat, dan aman
2. Mempunyai masalah patologis, psikologis, lingkungan, dan keluarga
3. Perlu mendapatkan informasi secara cepat dan tepat
4. Unik
Selain itu, pasien yang mendapatkan perawatan di UGD, diklasifikasikan berdasarkan kondisi
atau keadaan jasmani pasien. Klasifikasi tersebut meliputi :
1. Pasien TGDG “false emergency” (Label Hijau)
Merupakan pasien yang memerlukan tindakan medis tidak segera
1. Pasien DTG (Label Kuning)
Merupakan korban tidak gawat tetapi memerlukan pertolongan medik untuk mencegah
keadaan yang lebih gawat atau mencegah cacat.
1. Pasien GD (Label Merah)
Merupakan korban yang berada dalam keadaan nyawa terancam apabila tidak memperoleh
pertolongan dengan segera.
1. Pasien GTD (Label Putih)
Merupakan pasien dalam keadaan parah yang tidak memiliki harapan atau harapan yang tipis
jika diberikan pertolongan.
1. Pasien yang meninggal atau death on arrival (Label Hitam)
Aplikasi keselamatan pasien dalam unit gawat darurat dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut :
1. Fasilitas yang terdapat dalam UGD terlah tersedia dengan lengkap.
2. Peralatan medis yang terdapat pada UGD adalah alat yang steril.
3. Menggunakan alat injeksi sekali pakai.
4. Petugas medis harus menerapkan komunikasi antar petugas dengan baik saat
melakukan serah terima pasien sehingga tidak terjadi kesalahan saat melakukan
tindakan kepada pasien.
5. Petugas medis harus mampu mengatasi pasien secara cepat dan tepat.
6. Petugas medis harus memiliki kognitif yang baik dalam menangani pasien.
7. Petugas medis wajib melaksanakan prosedur aseptik mencegah infeksi nosokomial.
1. Intensif Care Unit (ICU)
Intensive Care Unit (ICU) atau Unit Perawatan Intensif (UPI) adalah tempat atau unit
tersendiri di dalam rumah sakit yang menangani pasien-pasien gawat karena penyakit, trauma
atau komplikasi penyakit lain. Intensive Care Unit (ICU) merupakan cabang ilmu kedokteran
yang memfokuskan diri dalam bidang life support atau organ support pada pasien-pasien sakit
kritis yang membutuhkan monitoring intensif.
Pasien yang perlu mendapatkan perawatan di ruang ICU adalah pasien yang dalam
keadaan terancam jiwanya sewaktu-waktu karena kegagalan atau disfungsi satu atau multiple
organ atau sistem dan masih ada kemungkinan dapat disembuhkan kembali melalui perawatan,
pemantauan dan pengobatan intensif. Pasien yang memperoleh perawatan di ruang ICU
berbeda dengan pasien yang memperoleh perawatan di ruang rawat inap biasa. Pasien yang
dirawat di ruang ICU mempunyai ketergantungan yang sangat tinggi terhadap perawat dan
dokter. Pasien yang berada di ruang ICU adalah pasien yang berada dalam keadaan kritis atau
kehilangan kesadaran atau mengalami kelumpuhan sehingga segala sesuatu yang terjadi dalam
diri pasien hanya dapat diketahui melalui monitoring yang baik dan teratur.
Pengelolaan pasien yang mendapatkan perawatan di ruang ICU adalah sebagai berikut.
1. Pendekatan Pasien ICU
1. Anamnesis
Merupakan tindakan pengobatan sebelum diagnosis definitif ditegakkan.
1. Serah Terima Pasien
Bertujuan untuk mengetahui riwayat tindakan pengobatan sebelumnya dan sebagai bentuk
aspek legal.
1. Pemeriksaan Fisik
Meliputi pemeriksaan fisik secara umum, penilaian neurologis, sistem pernafasan,
kardiovaskuler, gastro intestinal, ginjal dan cairan, anggota gerak, haematologi dan posisi
pasien.
1. Kajian hasil pemeriksaan
Meliputi biokimia, hematologi, gas darah, monitoring TTV, foto thorax, CT scan, efek
pengobatan.
1. Identifikasi masalah dan strategi penanggulangannya
2. Informasi kepada keluarga
3. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang diberikan kepada pasien meliputi :
1. ABC
2. Jalan nafas dan kepala
3. Sistem pernafasan
4. Sistem sirkulasi
5. Sistem gastrointestinal
6. Anggota gerak
7. Monitoring rutin
8. Intubasi dan Pengelolaan Trakhea
9. Cairan
Diberikan pada pasien dengan kondisi dehidrasi.
1. Perdarahan Gastrointestinal
Stress ulcer dapat merupakan kompensasi dari penyakit akut.
1. Nutrisi
Berdasarkan penjelasan diatas, maka aplikasi keselamatan pasien dalam ICU dapat dilakukan
dengan cara sebagai berikut:
1. Fasilitas dalam ruang ICU tersedia lengkap sehingga monitoring terhadap kondisi
pasien dapat berjalan dengan baik.
2. Tenanga medis harus berhati-hati saat hendak melakukan pemasangan kateter dan slang
atau tube sehingga tida terjadi kesalahan.
3. Menggunakan alat injeksi sekali pakai.
4. Peralatan medis yang tersedia harus dalam kondisi steril.
5. Petugas medis wajib melakukan prosedur aseptik.
6. Tenaga kesehatan harus menerapkan komunikasi yang baik antar petugas sehingga
tidak terjadi kesalahan saat serah terima pasien dilakukan.
7. Tenaga kesehatan harus mampu melaksanakan prosedur pengelolaan pasien secara
tepat dan aman.
Daftar Pustaka
1.https://kuatkitabersama.wordpress.com/2012/05/11/konsep-pasien-safety/
2.Zaman ketiga manajemen risiko dimulai tahun 1995 dengan diterbitkannya AS/NZS
4360:1995 oleh Standards Australia of the World's Risk management Standard
3. https://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen_risiko
4. hsecenter-id.com/manajemen-resiko/25 Jan 2015 - Manajemen Resiko adalah penerapan secara
sistematis dari kebijakan manajemen, prosedur dan aktifitas dalam kegiatan identifikasi Klik ...
5.https://rekamkesehatan.com/sasaran-keselamatan-pasien-rumah-sakit/Klik ...