Anda di halaman 1dari 24

27

2.2 Konsep Dasar Asuhan Kebidanan pada Kehamilan Trimester III, Bersalin, Nifas,

Neonatus, dan Keluarga Berencana


2.2.1 Konsep Dasar Asuhan Kehamilan Trimester III
1. Pengkajian
1) Data Subjektif

(1) Biodata atau identitas

Nama : Mengetahui nama klien dan suami berguna untuk

memperlancar komunikasi dalam asuhan sehingga tidak terlihat

kaku dan lebih akrab (Walyani, 2015).


Umur : Selama masa subur yang berlangsung 20-35 tahun (usia

reproduksi sehat), hanya 420 buah ovum yang dapat mengikuti

proses pematangan dan terjadi ovulasi (Manuaba, 2010).


Agama : Mengetahui kepercayaan sebagai dasar dalam memberikan

asuhan saat hamil dan bersalin. Memberikan motivasi pasien

sesuai dengan agamanya (Sulistyawati, 2011).


Suku / Bangsa : Banyak adat istiadat yang mempengaruhi perilaku kesehatan

pada ibu hamil, bergantung dari suku/bangsa klien dan suami

(Fraser, 2009). Untuk mewaspadai kemungkinan penyakit yang

berhubungan dengan ras (Sulistyawati, 2011).


Pendidikan : Pemberian konseling disesuaikan dengan tingkat pendidikan

ibu. Selain itu, tingkat pendidikan ibu hamil sangat berperan

dalam kualitas perawatan bayinya (Jenny J.S Sondakh, 2013).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan tingkat

pendidikan ibu hamil dengan penerapan Program Persiapan

Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). Pengetahuan

yang kurang tentang penerapan P4K yang benar, menyebabkan

ibu hamil yang menerapkan P4K hanya sekedar menerapkan


28

saja, sehingga ibu hamil sudah memiliki P4K namun masih

mengalami komplikasi kebidanan (Setiowati dkk, 2014).


Pekerjaan : Taraf hidup dan sosial ekonomi dapat diketahui dari

pekerjaan ibu dan suami, sehingga nasehat yang akan kita

berikan nanti sesuai (Romauli, 2011). Menurut Wijayanti

(2011), pekerjaaan yang harus dihindari saat hamil adalah:


a. Pekerjaan yang menuntut untuk berdiri terlalu lama
b. Pekerjaan yang mengharuskan untuk mengangkat benda-

bend berat
c. Pekerjaan yang menyebabkan terpapar zat kimia atau

logam berat.
Berdasarkan penelitian mengatakan bahwa, pekerjaan istri

merupakan pencaharian yang dijadikan pokok penghidupan

atau sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan nafkah.

Namun untuk seorang istri yang mempunyai suami bekerja,

memudahkan seorang istri untuk melakukan pemeriksaan

kehamilan rutin di tenaga kesehatan (Karningsih dkk, 2013)


Alamat : Tempat tinggal ibu dapat mempengaruhi kondisi fisik ibu

hamil, daerah pegunungan dapat meningkatkan terjadinya

kekurangan iodium, sedangkan pada daerah pesisir biasanya

terjadi hipertiroid. Alamat juga diperlukan untuk melakukan

kunjungan ulang pada ibu hamil (Wijayanti, 2011).

(2) Keluhan Utama


a. Sering buang air kecil
Keluhan sering buang air kencing karena tertekannya kandung kemih

oleh uterus yang semakin membesar dan menyebabkan kapasitas

kandung kemih berkurang serta frekuensi baung air kecil meningkat

(Sulistyawati, 2011).
b. Keputihan
29

Pada kehamilan trimester III, peningkatan volume sekresi vagina terjadi,

di mana sekresi akan berwarna keputihan, menebal, dan pH antara 3,5

sampai 6 yang merupakan hasil dari peningkatan produksi asam laktat

glikogen yang dihasilkan oleh epitel vagina sebagai aksi dari

lactobacillus acidophilus (Prawirohardjo, 2014).


c. Konstipasi
Konstipasi terjadi karena adanya pengaruh hormon progesteron yang

mempunyai efek rileks terhadap otot polos, salah satunya otot usus.

Selain itu, desakan usus oleh pembesaran janin juga menyebabkan

bertambahnya konstipasi. (Sulistyawati, 2011).


d. Nyeri Punggung Bawah
Lordosis yang progresif akan menjadi bentuk yang umum pada

kehamilan. Akibat kompensasi dari pembesaran uterus ke posisi anterior,

lordosis menggeser pusat daya berat ke belakang ke arah tungkai. Sendi

sakroiliaka, sakrokoksigis dan pubis akan meningkat mobilitasnya, yang

diperkirakan karena pengaruh hormonal. Mobilitas tersebut dapat

mengakibatkan perubahan sikap ibu dan pada akhirnya menyebabkan

perasaan tidak enak pada bagian bawah punggung terutama pada akhir

kehamilan. (Prawirohardjo, 2014).


e. Sesak Nafas
Pada kehamilan trimester III, ruang abdomen semakin membesar oleh

karena meningkatnya ruang rahim dan pembentukan hormon progesteron

menyebabkan paru-paru berfungsi sedikit berbeda dari biasanya. Nafas

akan lebih cepat dan lebih dalam karena memerlukan lebih banyak

oksigen untuk janin dan untuk dirinya. Lingkar dada agak membesar.

Lapisan saluran pernapasan menerima lebih banyak darah dan menjadi

agak tersumbat oleh penumpukan darah (kongesti). Kadang hidung dan

tenggorokan mengalami penyumbatan parsial akibat kongesti ini.


30

Tekanan dan kualitas suara wanita hamil agak berubah. (Sulistyawati,

2011).
f. Bengkak pada kaki
Bengkak atau oedem adalah penumpukan atau retensi cairan pada daerah

luar sel akibat dari berpindahnya cairan intrasesuler ke ekstraseluler. Hal

ini dikarenakan tekanan uterus yang semakin meningkat dan

mempengaruhi sirkulasi cairan. Dengan bertambahnya tekanan uterus

dan tarikan gravitasi menyebabkan retensi cairan semakin besar

(Sulistyawati, 2011).
(3) Riwayat Menstruasi
Ibu hamil tidak mengalami menstruasi (amenorhea) karena pengaruh

hormon esterogen dan progesteron. Data menstruasi ini tidak secara langsung

berhubungan dengan kehamilan, tetapi dapat memberikan gambaran tentang

keadaan dasar dari organ reproduksinya. Beberapa data yang harus kita peroleh

dari riwayat menstruasi menurut Sulistyawati (2011), meliputi:

Menarche : Usia pertama kali menstruasi. Wanita Indonesia pada umumnya

mengalami menarche sekitar usia 12 – 16 tahun.


Siklus : Jarak antara menstruasi yang dialami dengan menstruasi

berikutnya dalam hitungan hari 23 sampai 32 hari. Normalnya

sekitar 23 sampai 32 hari.


Volume : Seberapa banyak darah yang dikeluarkan saat menstruasi. Untuk

mendapatkan data yang valid, dikaji berapa kali mengganti

pembalut dalam sehari.


Keluhan : Keluhan yang dirasakan saat menstruasi, misalnya nyeri hebat,

sakit kepala sampai pingsan. Ada beberapa keluhan klien yang

menunjuk pada diagnosis tertentu.


Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) dapat digunakan untuk

menentukan usia kehamilan. Metode ini dapat reliabel apabila HPHT dapat

diingat dengan tepat, siklus menstruasi teratur. Taksiran Persalinan (TP)


31

adalah tanggal taksiran perkiraan persalinan ibu yang diperoleh dari HPHT.

Rumus Naegle adalah rumus untuk mengetahui taksiran persalinan yaitu

dengan cara tanggal HPHT hari ditambah 7, bulan dikurangi 3 dan tahun

ditambah 1 (Abdul B. Saifuddin, 2010).

Perhitungan HPL dengan rumus Neagle

HPHT : Hari +7 Bulan -3 Tahun +1

Contoh : HPHT 6 – 6 – 2015 (6+7);(6-3);(2015+1) = 13 - 3 - 2016

Sumber : Sulistyawati, 2011

(4) Riwayat Obstetri Lalu


Informasi esensial tentang riwayat obstetri yang lalu meliputi :
a. Kehamilan
Mengetahui tentang kehamilan ibu yang ke berapa, adanya perdarahan,

muntah yang hebat, atau penyulit yang lain pada kehamilan sebelumnya

(Wirakususmah, 2011).
b. Persalinan
Mengetahui pada proses persalinan yang sebelumnya berlangsung

spontan atau dengan tindakan, usia kehamilan aterm atau prmature,

adanya perdarahan dan penolong persalinan. Mengetahui juga riwayat

paritas, jika riwayat paritas tinggi akan meningkatkan resiko perdarahan

postpartum dan plasenta previa , adakah penyulit kehamilan sebelumnya.

Pada proses persalinan fisiologis yang lalu berlangsung spontan, usia

kehamilan aterm, tidak ada penyulit, persalinan ditolong oleh tenaga

keehatan, tidak ada riwayat paritas tinggi (Wirakusumah, 2011).


c. Nifas
Anamnesis adanya penyulit saat nifas yang lalu seperti infeksi,

perdarahan, dan post partum blues. Dalam pengkajian nifas yang

fisiologis tidak ditemukan adanya penyulit nifas (Wirakususmah,2011)


d. Anak
32

Anamnesis anak meliputi jenis kelamin, hidup atau tidak, umur, serta

berat badan bayi lahir (Wirakususmah, 2011)

(5) Riwayat Kehamilan Sekarang


a. Kunjungan Hamil
Menurut Kemenkes RI (2013) untuk menghindari resiko komplikasi pada

kehamilan dan persalinan, anjurkan setiap ibu hamil untuk

melakukan kunjungan antenatal komprehensip yang berkualitas

minimal 4 kali, yaitu kali pada trimester I, 1 kali pada trimester II dan

2 kali pada trimester III.


b. Gerakan Janin
Gerakan janin baru dapat dirasakan pertama kali pada usia kehamilan

sekitar 18 minggu pada primigravida, dan usia kehamilan 16 minggu

pada multigravida. (Nurul Jannah, 2012). Normal gerkan janin dirasakan

oleh ibu sebanyak 10 kali/hari (pada usia diatas 32 minggu), minimal 10

kali artinya bayi baik-baik saja (Marmi, 2012).


c. Imunisasi TT
Berdasarkan Rafif Supriadi (2013), Penentuan status imunisasi WUS

dibedakan kelahiran WUS pada tahun 1979 sampai dengan tahun 1993

dan WUS yang lahir setelah tahun 1993, dimana tahun 1979 adalah tahun

dimulainya program imunisasi dasar lengkap dan tahun 1993 adalah

tahun dimulainya Bulan Imunisasi Anak Sekolah.

Tabel 2.2 Status Imunisasi TT Untuk WUS Yang Lahir Pada Tahun 1979 Sampai

Dengan Tahun 1993 Dan Ingat Jika Pada Saat Sekolah SD Dilakukan Imunisasi.

Status TT Waktu Pemberian


TT 1 Waktu imunisasi di klas 1 SD
TT 2 Waktu imunisasi di klas 2 SD
33

TT 3 Waktu imunisasi di klas calon penganten (caten)


TT 4 Waktu imunisasi di klas pertama pada saat hamil
TT 5 Waktu imunisasi di klas kedua pada saat hamil
Sumber : Kemenkes RI, 2016

Tabel 2.3 Status Imunisasi TT Untuk WUS Yang Lahir Pada Tahun 1979

Sampai Dengan Tahun 1993 Namun Tidak Ingat Pada Waktu Sekolah SD

Dilakukan Imunisasi.

Status TT Waktu Pemberian


TT 1 Waktu imunisasi calon penganten (caten)
TT 2 Waktu imunisasi satu bulan setelah TT1
TT 3 Waktu imunisasi di klas pertama pada saat hamil
TT 4 Waktu imunisasi di klas kedua pada saat hamil
Sumber : Kemenkes RI, 2016

Tabel 2.4 Status Imunisasi TT Untuk WUS Yang Lahir Setelah Tahun 1993

Yang Tidak Mempunyai Kms Balita Dan Kartu TT di SD

Status TT Waktu Pemberian


TT 1 Waktu imunisasi calon penganten (caten)
TT 2 Waktu imunisasi satu bulan setelah TT1
TT 3 Waktu imunisasi di klas pertama pada saat hamil
TT 4 Waktu imunisasi di klas kedua pada saat hamil
Sumber : Kemenkes RI, 2016
Tabel 2.5 Status Imunisasi TT Untuk WUS Yang Lahir Setelah Tahun 1993

Yang Tidak Mempunyai Kms Balita Namun Mempunyai Kartu TT di SD

Status TT Waktu Pemberian


TT 1 Waktu imunisasi di klas 1 SD
TT 2 Waktu imunisasi di klas 2 SD
TT 3 Waktu imunisasi caten yang pertama
TT 4 Waktu imunisasi di klas pertama pada saat hamil
TT 5 Waktu imunisasi di klas kedua pada saat hamil
Sumber : Kemenkes RI, 2016
Tabel 2.6 Status Imunisasi TT Untuk WUS Yang Lahir Setelah Tahun 1993,

Mempunyai KMS Balita Dan Kartu TT di SD


34

Status TT Waktu Pemberian


TT 1-TT 4 Dapat dilihat di KMS dan kartu TT
TT 5 Waktu imunisasi pertama pada saat hamil
Sumber : Kemenkes RI, 2016
(6) Riwayat Kesehatan Ibu

Ibu tidak menderita penyakit yang memengaruhi ataupun dipengaruhi

kehamilan seperti penyakit menurun asma, diabetes melitus, hipertensi,

penyakit menular TBC (tuberculosis), hepatitis, penyakit menahun jantung

(Prawirohardjo, 2014). Apabila ditemukan penyakit tersebut maka dapat

terjadi :

a. TBC
Pada ibu dengan TBC ditandai dengan batuk lama dan terus-menerus. Pada

kehamilan dengan infeksi TBC resiko prematuritas, IUGR (Intra Uterine

Growth Retardation) dan berat badan lahir rendah meningkat, serta resiko

kematian perinatal meningkat 6 kali lipat (Prawirohardjo, 2014).


b. Asma
Asma ditandai dengan ibu sering sesak nafas pada kehamilan ini. Terdapat

komplikasi pre eklampsia 11%, IUGR 12% dan prematuritas 12 % pada

kehamilan dengan asma. (Prawirohardjo, 2014).


c. Diabetes Mellitus
Ibu dengan Diabetes Melitus ditandai ibu sering kencing. Pada ibu akan

meningkatkan risiko terjadinya preeklampsia, sedangkan pada janin

meningkatkan risiko terjadinya makrosomia, trauma persalinan,

hiperbilirubinemia, hipoglikemi, hipokalsemia, polisitemia,

hiperbilirubinemia neonatal, RDS (Respiratory Distress Syndrom), serta

meningkatnya mortalitas atau kematian janin (Prawirohardjo, 2014).

d. Hepatitis
Pada ibu dengan hepatitis ditandai ibu lemas, kuning. Pada ibu hamil

dengan hepatitis dapat menimbulkan abortus dan terjadinya perdarahan


35

pasca persalinan karena adanya gangguan pembekuan darah akibat

gangguan fungsi hati (Prawirohardjo, 2014)


e. Hipertensi
Hipertensi ditandai dengan tekanan darah tinggi. Dampak pre eklampsia

dan eklampsia pada janin adalah IUGR dan oligohidramnion

(Prawirohardjo, 2014).
f. Ginjal
Secara umum dapat menyebabkan gangguan elektrolit asam–basa ,

masalah kelebihan cairan, persalinan premature, dan koagulopati. Resiko

janin meliputi prematuritas dan dehidrasi pada neonatus (Prawirohardjo,

2014).
(7) Riwayat Kesahatan Keluarga
Keluarga tidak ada yang berpotensi menurun atau menularkan

penyakit kepada ibu dan bayi, meliputi penyakit jantung, hipertensi, asma,

diabetes mellitus, hepatitis, TBC, kelainan darah, maupun gemelli. Gemelli

juga dipengaruhi faktor keturunan. (Manuaba, 2010).


(8) Riwayat Pernikahan
Untuk membantu menentukan bagaimana keadaan alat reproduksi ibu,

misalnya ibu yang lama sekali kawin dan baru memiliki anak, kemungkinan

ada kelainan pada alat reproduksinya. Pada riwayat perkawinan perlu dikaji

mengenai usia pertama menikah, infertil primer, pasangan suami/istri belum

pernah hamil meskipun senggama diakukan tanpa perlindungan apapun.

Untuk waktu sekurang-kurangnya 12 bulan. Infertil sekunder, pasangan suami

istri pernah tapi kemudian tidak mampu hamil lagi dalam waktu 12 bulan,

kemudian senggama dilakukan tanpa perlindungan apapun (Hartanto, 2013).


(9) Pola Kebutuhan Sehari – Hari
1. Nutrisi
Aspek ini adalah komponen penting dalam riwayat prenatal. Status

nutrisi seorang wanita hamil memiliki efek langsung pada pertumbuhan

dan perkembangan janin dan wanita memiliki motivasi yang tinggi untuk
36

mempelajari gizi yang baik. Pengkajian diet dapat mengungkap data

praktik diet khusus, alergi makanan, dan perilaku makan, serta faktor-

faktor lain yang terkait dengan status nutrisi (Bobak, 2012).


Tabel 2.7 Kecukupan Gizi Ibu Hamil

Ukuran Rumah
Zat Gizi Hamil Contoh Jenis Makanan
Tangga
Nasi, roti, ubi, jagung,
Energi 3000 kkal 3 – 5 mangkuk
kentang
Daging, ikan, telur, 3-4 ( 1 porsi 60 gr
Protein 100 gram ayam, kacang-kacangan, daging, 2 butir
tahu, tempe telur)
Kuning telur, hati,
Vitamin A 6000 IU 1 tablet
sayuran
Susu, ikan teri, sayuran 2- 3 porsi ( 1 porsi
Kalsium 1, 5 gram
hijau, kacang-kacangan = 1 gelas susu )
Biji-bijian, padi-padian,
Vitamin B 1, 8 mg 3- 5 porsi
kacang-kacangan
2 – 4 porsi ( 1 porsi
Vitamin C 100 mg Sayuran, buah-buahan = 1 potong buah
ukuran sedang )
Daging, hati, sayuran
Zat Besi 15 mg hijau, bayam, kangkung, 1 porsi
daun pepaya, daun katuk
Sumber : Marmi, 2012

2. Eliminasi
Keluhan yang sering terjadi pada ibu hamil berkaitan dengan eliminasi

adalah konstipasi dan sering buang air kecil. Konstipasi mungkin terjadi

karena kurang gerak badan, peristaltik usus kurang karena pengaruh

hormone progesteron, dan tekanan pada rektum oleh kepala. Sering

buang air kecil merupakan hal umum yang terjadi selama bulan terakhir

kehamilan karena rongga perut dipenuhi oleh uterus dan peningkatan

sensitifitas kongesti darah jaringan (Wirakusumah, 2011)


3. Aktivitas
Perempuan hamil boleh melakukan pekerjaan sehari-hari di rumah, di

kantor, atau di pabrik asal bersifat ringan, namun harus diselingi istirahat.
37

Gerak badan berguna untuk sirkulasi darah menjadi baik, nafsu makan

bertambah, pencernaan lebih baik, dan tidur lebih nyenyak (Amru Sofian,

2012). Senam hamil dimulai pada umur kehamilan sekitar 24-28 minggu

dengan tujuan untuk mempersiapkan dan melatih otot-otot sehingga

dapat dimanfaatkan secara optimal pada persalinan (Manuaba, 2010).


4. Istirahat dan Tidur
Ibu hamil dianjurkan merencanakan periode istirahat, terutama saat hamil

tua. Posisi berbaring miring kiri dianjurkan untuk perfusi uterin dan

oksigenasi fetoplasental. Waktu tidur yang dibutuhkan pada malam hari 8

jam dan dalam keadaan rileks pada siang hari 1 jam (Asrinah, 2010)
5. Hubungan Seksual
Pada trimester 3 awal hubungan seksual sebaiknya dikurangi, karena

sperma megandung hormon prostagladin yang dapat merangsang

kontrkasi uterus
6. Personal Hygiene
Mandi sedikitnya dua kali sehari karena ibu hamil cenderung untuk

mengeluarkan banyak keringat. Kebersihan gigi dan mulut, perlu

mendapat perhatian karena seringkali mudah terjadi gigi berlubang,

terutama pada ibu yang kekurangan kalsium. (Suryati, 2011).

Menggunakan pakaian dengan bahan yang menyerap keringat,

menggunakan BH atau Bra yang menyangga payudara.


2) Data Objektif
(1) Pemeriksaan Umum
a. Keadaan Umum
Baik (Sulistyawati & Nugraheny, 2013)
b. Kesadaran
Penilaian kesadaran dinyatakan sebagai komposmentis, yaitu pasien sadar

sepenuhnya dan memberi respons yang adekuat terhadap stimulus yang

diberikan (Abdul Latief, 2013).


c. Tanda – Tanda Vital
a) Tekanan Darah
38

Tekanan darah normalnya adalah 100/70 mmHg sampai dengan 120/80

mmHg. Tekanan darah dikatakan tinggi apabila lebih dari 140/90 mmHg.

Tekanan darah yang tinggi ini akan berlanjut pada preeklamsi atau

eklamsi jika tidak segera ditangani. Untuk skrining pre eklampsia dapat

dilakukan pemeriksaan sebagai berikut:


(a) ROT (Roll Over Test) rumus perhitungannya: (Tekanan darah

berbaring – Tekanan darah miring)


Jika hasil ROT >15 mmHg risiko terjadi pre eklampsia lebih besar
(b) MAP (Mean Arteri Presure) rumus perhitungannya:

Jika hasil MAP >90 mmHg risiko terjadi pre eklampsia lebih besar
b) Suhu
Suhu tubuh normal adalah 360 – 37,50 C. Jika suhu tubuh lebih dari 37,50

C perlu diwaspadai terjadi infeksi.


c) Nadi
Dalam keadaan santai denyut nadi ibu sekitar 60 – 80 x/menit. Jika

denyut nadi ibu 100 x/menit atau lebih, mungkin ibu mengalami satu atau

lebih keluhan seperti, tegang, ketakutan atau cemas, perdarahan berat,

anemia, gangguan tiroid atau komplikasi lainnya.


d) Pernapasan
Pernapasan ibu normalnya 16 – 24 x/menit. Pernafasan terjadi kenaikan

sedikit.
a. Berat badan
Penambahan berat badan selama kehamilan trimester III rata- rata 0,3-0,5

kg perminggu. Untuk ibu dengan berat badan rendah (underweight) atau BMI

<19,8 kg/m2, kenaikan berat badan yang dianjurkan adalah 12,5 – 18 kg. Untuk

ibu dengan berat badan normal atau BMI 19,8- 26 kg/m 2 kenaikan yang

dianjurkan antara 11,5- 16 kg. Untuk ibu dengan berat badan berlebih
39

(overweight) atau BMI > 26 kg/m 2, kenaikan berat badan yang dianjurkan 7-

11,5 kg (Wirakusumah, 2012).

Tabel 2.8 Penambahan Berat Badan sesuai Indeks Massa Tubuh (IMT)
Kategori Rentang Kenaikan berat badan
Underweight < 19,8 12,5 – 18
Normal 19,8 – 26,6 11,5 – 16
Overweight 26,6 – 29,0 7 - 11,5
Obesitas >29,0 ≤7
Gemeli 16 – 20,5
Sumber: Ari Sulistyawati, 2011
BMI (Body Mass Indeks) digunakan untuk skrining Pre-eklampsi.

Berikut ini cara untuk menilai berat badan (BB), dengan menggunakan

parameter indeks massa tubuh (IMT).

BB sebelum hamil (kg)


TB (m) x TB (m)

Keterangan:

(a)IMT kurang dari 19, 8 adalah terlalu kurus,


(b)IMT 19, 8-26 adalah normal,
(c)IMT 26-29 adalah kegemukan,
(d) IMT lebih dari 29 adalah obesitas

Menurut Cintya, dkk dalam jurnal kesehatan Andalas (2016), terdapat

hubungan yang bermakna antara status gizi berisiko dengan kejadian

preeklampsia, yang mana status gizi tersebut dinilai dengan pengukuran

antropometri. Salah satu komponen yang dapat dinilai dengan melakukan

pengukuran antropometri adalah IMT.

d. Tinggi Badan
Ibu hamil dengan tinggi badan kurang dari 145 cm tergolong risiko tinggi

misalnya terjadi CPD (Walyani, 2015)


e. Lingkar Lengan
Ukuran lingkar lengan atas (LiLA) normal adalah 23,5 cm. LiLA <23,5 cm

berarti status gizi ibu kurang/buruk, Kurang Rnergi Kronis (KEK), sehingga

ia berisiko melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR) (Mandriwati, 2012).


40

(2) Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan sistematis menurut Astuti (2012) :
a. Kepala
Rambut tidak rapuh. Rambut rapuh mengindikasikan kekurangan nutrisi
b. Wajah
Tidak ada edema pada muka dan tidak pucat. Edema pada muka dapat

merupakan gejala preeklampsi, eklampsi. Bila muka pucat

mengindikasikan anemia.
c. Mata
Sklera putih dan konjungtiva merah muda. Jika sklera kuning berarti

terjadi ikterus (Mandriwati, 2012). Konjungtiva pucat merupakan tanda

anemia
d. Mulut dan Gigi
Normalnya bibir lembab, tidak pucat, tidak ada karies pada gigi. Saat

hamil sering terjadi karies yang berkaitan dengaan emesis hingga

hiperemesis gravidarum, hipersalivasi dapat menimbulkan timbunan

kalsium di sekitar gigi.

e. Leher
Tidak terdapat pembesaran vena jugularis, pembesaran kelenjar tiroid

dan pembengkakan kelenjar limfe. Pembesaran kelenjar tiroid

menandakan ibu kekurangan iodium, sehingga dapat menyebabkan

terjadinya kretinisme pada bayi (Wirakusumah, 2011). Adanya

bendungan vena di leher yang kemungkinan adanya gangguan aliran

darah akibat penyakit jantung atau aneurisma vena. Pembengkakan

kelenjar limfe, kemungkinan terjadi infeksi


f. Dada
Tidak ada dispneu, rales dan ronchi. Jika terjadi dispneu kemungkinan

terdapat desakan uterus yang terlalu besar, kemungkinan penyakit paru

atau jantung
g. Buah Dada
41

Terjadi hiperpigmentasi areola mamae dan papilla mamae, kelenjar

montgomery tampak, pembuluh darah vena tampak jelas, pembentukan

kolostrum.
h. Abdoman
Bekas sectio Caesarea tidak ditemukan.
Palpasi dimulai pada usia kehamilan 24 minggu.
(a) Leopold I :
Menentukan tinggi fundus uteri (TFU), bagian janin dalam fundus,

dan konsistensi fundus (Manuaba, 2010). Jika teraba benda bulat,

melenting, mudah digerakkan, maka itu adalah kepala. Namun jika

teraba benda bulat, besar, lunak, tidak melenting, dan susah

digerakkan maka itu adalah bokong janin (Sulistyawati, 2011).


Variasi Knebel: menentukan letak kepala atau bokong dengan

satu tangan lain di atas simfisis (Manuaba, 2010).

Tabel 2.9 TFU menurut Penambahan per Tiga Jari.

Usia Kehamilan Tinggi Fundus Uteri


28 minggu 3 jari di atas pusat
32 minggu Pertengahan pusat-prosesus xiphoideus (px)
36 minggu 3 jari di bawah prosesus xiphoideus (px)
40 minggu Pertengahan pusat-prosesus xiphoideus (px)
Sumber: Sulistyawati, 2011

Tabel 2.10 TFU dalam cm sesuai dengan Usia Kehamilan.

Usia Kehamilan TFU (cm)


28 mg 26,7 cm di atas simpisis
30 mg 29,5-30 cm di atas simpisis
32 mg 29,5-30 cm di atas simpisis
34 mg 31 cm di atas simpisis
36 mg 32 cm di atas simpisis
38 mg 33 cm di atas simpisis
40 mg 37,7 cm di atas simpisis
Sumber: Amru Sofian, 2012

(b) Leopold II :

Menentukan batas samping kanan rahim kanan- kiri dan mentukan

letak punggung janin (Manuaba, 2010). Jika teraba benda yang rata,

tidak teraba bagian kecil, tersa ada tahan maka itu adalah punggung.
42

Jika teraba bagian-bagian yang kecil dan menonjol maka itu adalah

bagian kecil janin (Sulistyawati, 2011).

Variasi Buddin: Menentukan letak punggung dengan satu tangan

menekan di fundus (Manuaba, 2010).

Variasi Ahfeld: Menentukan letak punggung dengan pinggir tangan

kiri diletakkan tegak ditengah perut (Manuaba, 2010).

(c) Leopold III :

Menentukan bagian terbawah janin dan apakah bagian terbawah

janin sudah masuk atau masih goyang (Manuaba, 2010). Jika teraba

bagian yang bulat, besar, lunak, dan sulit digerakkan maka itu adalah

bokong (Sulistyawati, 2011).

(d) Leopold IV :

Menentukan seberapa jauh janin sudah masuk pintu atas panggul

(PAP). Disebut konvergen jika kedua tangan dapat saling bertemu,

bagian terendah belum masuk panggul. Disebut sejajar jika kedua

tangan sejajar, bagian terendah sebagian besar masuk panggul.

Disebut divergen jika kedua tangan tidak saling bertemu, bgagian

terendah sudah masuk panggul (Sulistyawati, 2011)

Pada primigravida, bagian terbawah janin masuk panggul saat usia

kehamilan 36 minggu dan pada multigravida bagian terbawah janin

masuk panggul saat menjelang persalinan (Manuaba, 2010). Kepala

harus sudah masuk PAP, apabila tidak masuk maka terjadi Cephalo

Pelvic Dispropotion (CPD) (Prawirohardjo, 2011).

i. Punggung
43

Lordosis yang progresif akan menjadi bentuk yang umum pada

kehamilan (Prawirohardjo, 2011).


j. Genetalia

Varises tidak ada, condiloma lata tidak ada ada, kondiloma

akuminata tidak ada (Mandriwati, 2012). Kondiloma akuminata,

karena infeksi virus, jika ukurannya besar sebaiknya persalinan

melalui Sectio Caesarea (SC) (Manuaba, 2010)

k. Anus

Hemoroid tidak ada. Pembesaran hemoroid dapat meningkatkan

ketidak nyamanan dan perdarahan

l. Ekstremitas

Ekstremitas atas tidak oedem, capillary refill time pada kuku, telapak

tangan tidak pucat. Ekstremitas bawah tidak oedem dan tidak

varises. Apabila ditemukan adanya oedem pada ekstremitas atas atau

bawah dapat dicurigai adanya pre eklampsi bahkan eklampsia.

m. Reflek patella

Pada pemeriksaan reflek patella normal, tungkai bawah akan sedikit

bergerak ketika tendon ditekuk. Bila gerakannya cepat dan

berlebihan, mungkin tanda dari pre eklampsi. Bila reflek patella

negatif, kemungkinan pasien kekurangan vitamin B1.


n. Pemeriksaan Panggul
Pemeriksaan panggul terutama dilakukan untuk ibu primigravida,

ukurannya yaitu:
Tabel 2.11 Ukuran-Ukuran Panggul Luar

Ukuran Panggul Keterangan


Distansia spinarum Jarak antara kedua spina iliaka anterior sinistra dan
dekstra (24 cm – 26 cm)
Distansia kristarum Jarak yang terpanjang antara dua tempat yang simetris
pada Krista iliaka kanan dan kiri
Distansia Intetrokanterika Jarak antara kedua trokantor mayor
44

Konjugata eksterna (Boudeloque) Jarak antara bagian atas simfisis ke prosesus spinosus
lumbal ke-5 (+ 18 cm).
Distansia tuberum Jarak antara tuber iskii kanan dan kiri. Nilai normal
±10,5 cm.
Lingkar panggul Ukurannya ±80-90 cm
Sumber: Sarwono Prawirohardjo, 2014

(3) Pemeriksaan Penunjang


a. Pemeriksaan Laboratorium
a) Pemeriksaan Darah
Pemeriksaan darah bertujuan untuk mengetahui kesehatan umum ibu

hamil. Pemeriksaan darah juga dilakukan untuk memeriksa kadar

hemoglobin, menilai adanya gejala anemia (Manuaba, 2010).


Tabel 2.12 Klasifikasi Hasil Pemeriksaan Hb Sahli

Klasifikasi Nilai
Hb > 10,5 gr % Normal
9- 10 gr % Anemia ringan
7-8 gr % Anemia sedang
<7 gr % Anemia berat
Sumber : Manuaba dkk, 2010
Pemeriksaan darah dilakukan minimal dua kali selama kehamilan, yaitu

pada trimester I dan trimester III (Manuaba dkk, 2010).


b) Golongan darah
Dilakukan jika ibu belum mengetahui golongan darahnya. Pemeriksaan

golongan darah pada ibu hamil sebagai perencanaan pencegahan

komplikasi dalam program P4K.


c) Pemeriksaan Urine
(a) Reduksi Urine
Mengetahui ada tidaknya protein dalam urine. Pemeriksaan dilakukan

pada kunjungan pertama dan pada setiap kunjungan pada akhir

trimester II.

Tabel 2.13 Klasifikasi Hasil Pemeriksaan Protein Urine


Nilai Klasifikasi
45

Negatif (-) Urine tidak keruh


Positif 2 (++) Kekeruhan mudah dilihat dan ada endapan halus
Positif 3 (+++) Urine lebih keruh dan ada endapan yang lebih jelas terlihat
Positif 4 (++++) Urine sangat keruh dan disertai endapan menggumpal
Sumber: Winkjosastro, 2009.

(b) Albumin Urine


Tabel 2.14 Klasifikasi Hasil Pemeriksaan Glukosa dalam Urine

Nilai Klasifikasi
Negatif (-) Warna biru sedikit kehijau-hijauan dan sedikit keruh
Positif 1 (+) Hijau kekuning-kuningan dan agak keruh
Positif 2 (++) Kuning keruh
Positif 3 (+++) Jingga keruh
Positif 4 (++++) Merah keruh
Sumber: Winkjosatro, 2009.

b. KSPR (hanya digunakan di Jawa Timur)

Tabel 2.15 Nilai Skor Poedji Rochjati


Kehamilan
Jumlah Skor Kelompok Resiko Perawatan Rujukan
Kehamilan Resiko
2 Bidan Tidak Dirujuk
Rendah
Kehamilan Resiko Bidan Bidan
6-10
Tinggi Dokter Puskesmas
Kehamilan Resiko
>12 Dokter Rumah Sakit
Sangat Tinggi
Sumber: Buku KIA, 2016.

Bila ada glukosa dalam urine maka harus dianggap sebagai gejala DM,

kecuali kalau dapat dibuktikan hal- hal lain penyebabnya


(Winkjosastro, 2009).

2. Interpretasi Data Dasar


1) Diagnosa
G (kehamilan ke ....), P (jumlah anak) yang terdiri dari Aterm, Preterm, Imatur,

Abortus, Hidup. Tuanya kehamilan. Anak tunggal / kembar. Anak hidup / mati.

intra uterine / ekstra uterine. Letak bujur / lintang. Presentasi kepala / bokong.

Kesan jalan lahir. Keadaan umum ibu dan bayi. (Wirakusumah,2011).


2) Masalah ibu hamil Trimester III
1. Cemas menghadapi persalinan
2. Sering BAK
3. Kram
4. Sakit punggung
5. Konstipasi
3) Kebutuhan ibu hamil Trimester III
46

Kebutuhan ibu hamil Trimester III meliputi, P4K, tanda-tanda persalinan, tanda

bahaya persalinan, dukungan emosional, nutrisi, personal hygeine

(Sulistyawati,2011).

3. Identifikasi Diagnosa dan Masalah Potensial

1) Diagnosa Potensial
Tidak ada
2) Masalah Potensial
Tidak ada
4. Identifikasi Kebutuhan Tindakan Segera
Menurut Varney (2007), antisipasi atau kebutuhan tindakan segera pada ibu

dengan kehamilan fisiologis adalah persiapan persalinan.


5. Perencanaan
Asuhan yang dilakukan meliputi:
1) Kunjungan Ulang di Usia kehamilan 34-36 minggu
(1) Jelaskan pada ibu mengenai kondisi kehamilannya dan rencana asuhan yang

akan diberikan.

Rasional : Mengetahui hasil kondisi ibu dengan pemeriksaan tanda tanda

vital dan pemeriksaan penunjang serta kondisi janinnya.

(2) Berikan KIE pada ibu untuk mengatasi keluhan terhadap ketidaknyamanan

ibu pada kehamian trimester III.

Rasional : Mampu mengatasi ketidaknyamanan pada kehamilan trimester

III.

Tabel 2.16 Ketidaknyamanan Pada Ibu Hamil Trimester III

NoKetidaknyamanan Fisiologi Intervensi


1. Sering BAK Tekanan uterus pada Posisi badan apabila
kandung kemih. tidur menggunakan
ekstra bantal.

2. Keputihan Hyperplasia mukosa vagina Peningkatan kebersihan


kelenjar endocervikal akibat dengan mandi tiap hari,
hormon estrogen memakai pakaian dalam
menyerap keringat dan
tidak ketat.
47

3. Konstipasi Peningkatan kadar Tingkatkan intake


progesteron sehingga cairan,makan makanan
peristaltic usus jadi lambat. yang berserat, istirahat
cukup dan senam..
4. Sesak nafas Diafragma terdorong keatas Perbanyak minum pada
(60%) siang hari, dan kurangi
minum pada malam hari
Istirahat, teknik nafas
5. Kram otot Karena penekanan pada Lakukan masase dan
syaraf akibat uterus yang kompres hangat pada
membesar. otot yang kram

Sumber : Yuni, dkk, 2008


(3) Berikan KIE pada ibu tentang kebutuhan nutrisi, aktivitas/ istirahat,

kebersihan pada ibu hamil trimester III


Rasional : Dapat meningkatkan pengetahuan ibu sehingga kesejahteraan ibu

dan janin tercapai dan mencegah terjadi komplikasi.


(4) Jelaskan pada ibu tanda-tanda bahaya yang mungkin terjadi saat kehamilan

trimester III. Tanda-tanda bahaya trimester III, meliputi: perdarahan

pervaginam, sakit kepala yang hebat, pandangan mata kabur, bengkak pada

muka dan tangan, nyeri abdomen yang hebat, pergerakan janin berkurang,

dan perdarahan pervaginam yang abnormal.


Rasional : Ibu memahami dan segera mencari pertolongan ke petugas

kesehatan jika ditemukan tanda-tanda bahaya kehamilan trimester III .


(5) Ajarkan kepada ibu untuk menghitung gerakan janin setiap 24 jam
Rasional : Ibu dapat memantau kesejahteraan janin dan deteksi dini

adanya tanda bahaya kehamialn trimester III yaitu gerakan janin berkurang
(6) Bantu ibu dan keluarga untuk mempersiapkan persalinan dan mendiskusikan

P4K
Rasional : Kerja sama dengan ibu dan keluarga bertujuan mengidentifikasi

kebutuhan yang harus dipersiapkan untuk mempersiapkan persalinan serta

P4K.
(7) Anjurkan ibu untuk kunjungan ulang 2 minggu lagi/ sewaktu-waktu bila ada

keluhan.
Rasional : Memantau keadaan ibu dan kesejahteraan janin
2) Kunjungan Ulang di Usia kehamilan 36-37 minggu
48

(1) Jelaskan kepada ibu mengenai hasil pemeriksaan kehamilan.


Rasional : pemberian informasi mengenai hasil pemeriksaan.
(2) Ajarkan kepada ibu untuk melakukan perawatan payudara.
Rasional : Ibu dapat menjaga kebersihan payudara sehingga pada saat

diperlukan tidak menimbulkan masalah dalam proses laktasi


(3) Anjurkan kepada ibu untuk menghitung gerakan janin setiap 24 jam
Rasional : Ibu dapat memantau kesejahteraan janin dan deteksi dini adanya

tanda bahaya kehamialn trimester III yaitu gerakan janin berkurang


(4) Evaluasi ibu untuk mengatasi keluhan terhadap ketidaknyamanan ibu pada

kehamian trimester III.


Rasional : Mampu mengatasi ketidaknyamanan yang terjadi pada trimester

III.
(5) Evaluasi ulang mengenai tanda-tanda bahaya kehamilan trimester III
Rasional : keterlambatan mengenali tanda bahaya kehamilan dapat

meningkatkan komplikasi dan menyebabkan kegawatdaruratan pada ibu

hamil trimester III.


(6) Evaluasi sejauh mana persiapan ibu terhadap kelahiran
Rasional : kerja sama dengan ibu dan keluarga untuk mengidentifikasi

kebutuhan yang harus dipersiapkan untuk mempersiapkan kelahiran.


(7) Jelaskan pada ibu tentang tanda-tanda persalinan, meliputi: his semakin kuat

dan teratur/ mules semakin kuat, keluar lendir bercampur darah dari jalan

lahir, keluar cairan yang banyak dengan tiba-tiba dari jalan lahir (Buku

Saku Kementerian Kesehatan RI, 2010).


Rasional : pemberian informasi mengenai tanda-tanda persalinan mencegah

keterlambatan penanganan pada ibu bersalin.


(8) Anjurkan pada ibu untuk melakukan kunjungan ulang 1 minggu lagi/

sewaktu-waktu bila ada keluhan.


Rasional : semakin tua usia kehamilan, jarak kunjungan ulang semakin

dekat untuk memantau kesejahteraan ibu dan janin.


3) Kunjungan Ulang di Usia kehamilan 37-38 minggu
(1) Jelaskan kepada ibu mengenai kondisi kehamilannya.
Rasional : Mengetahui hasil kondisi ibu dengan pemeriksaan tanda tanda

vital dan pemeriksaan penunjang serta kondisi janinnya.


49

(2) Berikan KIE pada ibu tentang kebutuhan nutrisi, aktivitas/ istirahat,

kebersihan pada ibu hamil trimester III


Rasional : Dapat meningkatkan pengetahuan ibu sehingga kesejahteraan ibu

dan janin tercapai dan mencegah terjadi komplikasi.


(3) Anjurkan ibu untuk melakukan perawatan payudara.
Rasional : Ibu dapat menjaga kebersihan payudara sehingga pada saat

diperlukan tidak menimbulkan masalah dalam proses laktasi


(4) Evaluasi persiapan ibu terhadap kelahiran dan pemantapan P4K
Rasional : Memudahkan proses persalinan dan kemungkinan resiko yang

terjadi.
(5) Evaluasi kembali mengenai tanda-tanda bahaya kehamilan trimester III
Rasional : ibu yang paham tentang tanda bahaya kehamilan trimester III.
(6) Evaluasi dan bantu ibu untuk mengingat kembali tentang tanda-tanda

persalinan.
Rasional : Ibu yang paham mengenai tanda persalinan akan segera datang ke

tempat bersalin saat mengalami salah satu tanda-tanda persalinan.


(7) Anjurkan pada ibu untuk periksa ulang 1 minggu lagi/ sewaktu-waktu bila

ada keluhan.
Rasional : semakin tua usia kehamilan, jarak kunjungan ulang semakin

dekat untuk memantau kesehatan ibu dan kesejahteraan janin serta

memantau kemungkinan tanda-tanda persalinan.


4) Kunjungan Ulang di Usia Kehamilan 39-40 minggu
(1) Beritahu ibu mengenai hasil pemeriksaannya.
Rasional : Untuk mengurangi kecemasan ibu terhadap diri dan janinnya.
(2) Evaluasi dan pemantapan P4K.
Rasional : Memudahkan persiapan persalinan dan proses persalinan
(3) Evaluasi dan bantu ibu untuk mengingat kembali tentang tanda-tanda

persalinan.
Rasional : Ibu yang paham mengenai tanda persalinan akan segera datang ke

tempat bersalin saat mengalami salah satu tanda-tanda persalinan.


(4) Anjurkan pada ibu untuk periksa ulang 1 minggu lagi/ sewaktu-waktu bila

ada keluhan.
Rasional : semakin tua usia kehamilan, jarak kunjungan ulang semakin

dekat untuk memantau kesehatan ibu dan kesejahteraan janin serta

memantau kemungkinan tanda-tanda persalinan.


50

7. Implementasi
Merupakan tahap pelaksanaan dari semua bentuk rencana tindakan sebelumnya

(Sudarti dan Fauziah, 2011).


8. Evaluasi
Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang diberikan, ulangi kembali proses

manajemen dengan benar terhadap setiap aspek asuhan yang sudah dilaksanakan

tapi belum efektif atau merencanakan kembali yang belum terlaksana


(Sofian, 2012)