Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap


manusia sejak manusia masih dalam kandungan sampai akhir kematiannya. Di
dalamnya tidak jarang menimbulkan gesekan-gesekan antar individu dalam upaya
pemenuhan HAM pada dirinya sendiri. Hal inilah yang kemudian bisa
memunculkan pelanggaran HAM seorang individu terhadap individu lain,
kelompok terhadap individu, atau individu terhadap kelompok.
Setelah reformasi tahun 1998, Indonesia mengalami kemajuan dalam
bidang penegakan HAM bagi seluruh warganya. Instrumen-instrumen HAM pun
didirikan sebagai upaya menunjang komitmen penegakan HAM yang lebih
optimal. Namun seiring dengan kemajuan ini, pelanggaran HAM kemudian juga
sering terjadi di sekitar kita. Untuk itulah kami menyusun makalah yang berjudul
“Pelanggaran Hak Asasi Manusia Kasus Terbunuhnya Angeline Margriet
Megawe”, untuk memberikan informasi tentang apa itu pelanggaran HAM.

1.2. Rumusan Masalah

1. Apa Pengertian Pelanggaran Hak Asasi Manusia ?


2. Apa Saja Macam-Macam Pelanggaran HAM ?
3. Faktor – Faktor Penyebab Pelanggaran HAM Kasus Angeline Margriet
Megawe?
4. Urgensi HAM Bagi Warganegara ?
5. Alternatif Penyelesaikan Kasus Angeline Margriet Megawe ?

1
1.3. Tujuan Masalah

1. Mengetahui pengertian Hak Asasi Manusia ?


2. Mengetahui macam-macam pelanggaran HAM ?
3. Mengetahui faktor-faktor pelanggaran HAM Kasus Angeline Margriet
Megawe?
4. Mengetahui Urgensi HAM bagi Warganegara?
5. Mengetahui alternative penyelesaian kasus Angeline Margriet Megawe ?

1.4. Manfaat

Adapun manfaat dari penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut :


1. Bagi mahasiswa
Siswa mampu memahami dan memantapkan pengetahuannya HAM.
2. Bagi Masyarakat
Masyarakat dapat mengetahui tentang HAM di Indonesia.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Pelanggaran Hak Asasi Manusia

Menurut UU no 26 Tahun 2000 tentang pengadilan HAM, Pelanggaran


HAM adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat
negara baik disengaja atau kelalaian yang secara hukum mengurangi,
menghalangi, membatasi, dan atau mencabut Hak Asasi Manusia seseorang atau
kelompok orang yang dijamin oleh Undang-Undang ini, dan tidak didapatkan,
atau dikhawatirksn tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan
benar, berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku.

Menurut Pasal 1 Angka 6 No. 39 Tahun 1999 yang dimaksud dengan


pelanggaran hak asasi manusia adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok
orang termasuk aparat negara, baik disengaja maupun tidak disengaja atau
kelalaian yang secara hukum mengurangi, menghalangi, membatasi dan atau
mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh
undang-undang dan tidak mendapatkan atau dikhawatirkan tidak akan
memperoleh penyesalan hukum yang adil dan benar berdasarkan mekanisme
hukum yang berlaku.

Pelanggaran HAM merupakan tindakan pelanggaran kemanusiaan baik


dilakukan secara sengaja atau tidak oleh individu maupun institusi negara atau
institusi lainnya terhadap hak asasi individu lain tanpa ada dasar atau alasan
hukum serta menegdepankan alasan rasional.

2.2. Macam-Macam Pelanggaran Hak Asasi Manusia

Bentuk pelanggaran HAM yang sering muncul biasa terjadi dalam 2


bentuk, yakni sebagai berikut :

A. Diskriminasi.

3
Yakni suatu pembatasan, pelecehan atau bahkan pengucilan secara
langsung maupun tidak langsung didasarkan pada pembedaan
manusia, atas dasar agama, suku, ras, kelompok, golongan, jenis kelamin,
etnik, keyakinan beserta politik yang selanjutnya berimbas pada
pengurangan, bentuk penyimpangan atau penghapusan hak asasi manusia
dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik secara individu, maupun
kolektif di dalam berbagai aspek kehidupan.

B. Penyiksaan.

Yakni perbuatan yang dilakukan secara sengaja sehingga


menimbulkan rasa sakit yang teramat atau penderitaan baik itu jasmani
maupun rohani pada seseorang untuk mendapat pengakuan dari seseorang
ataupun orang ketiga.

Berdasarkan sifatnya, pelanggaran dapat dibedakan menjadi 2 yakni :

1. Pelanggaran HAM berat,


yakni pelanggaran HAM yang bersifat berbahaya, dan mengancam
nyawa manusia, seperti halnya pembunuhan, penganiayaan, perampokan,
perbudakan, penyanderaan dan lain sebagainya.

2. Pelanggaran HAM ringan,


yakni pelanggaran HAM yang tidak mengancam jiwa manusia,
namun berbahaya apabila tidak segera diatasi/ditanggulangi. Misal, seperti
kelalaian dalam memberikan pelayanan kesehatan, pencemaran
lingkungan secara disengaja oleh masyarakat dan sebagainya.

Pelanggaran HAM berat, menurut Undang-Undang RI nomor 26 tahun


2000 tentang Pengadilan HAM, dapat diklasifikasikan menjadi 2 yakni :

4
a) Kejahatan Genosida.

Merupakan setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud


menghancurkan atau memusnahkan seluruh maupun sebagian kelompok bangsa,
ras, kelompok, maupun agama dengan cara :

1. Membunuh setiap anggota kelompok.


2. Mengakibatkan terjadinya penderitaan fisik dan mental yang berat
terhadap anggota kelompok.
3. Menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang bisa mengakibatkan
kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya.
4. Memindahkan paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke dalam
kelompok yang lain.

b) Kejahatan terhadap kemanusiaan.


Merupakan suatu tindakan/perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari
serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut
ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil, yang berupa :
1. Pembunuhan.
2. Pemusnahan.
3. Perbudakan.
4. Pengusiran atau pemindahan penduduk yang dilakukan secara paksa.
5. Perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain dengan
sewenang-wenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum
internasional.
6. Penyiksaan.
7. Perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan
kehamilan, pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau segala bentuk
kekerasan seksual lainnya yang setara.
8. Penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu maupun perkumpulan
yang didasari dengan persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis,
budaya, agama, jenis kelamin atau alasan lainnya yang telah diakui secara
universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional.

5
9. Penghilangan orang secara paksa.
10. Kejahatan apartheid, yakni sistem pemisahan ras yang diterapkan oleh
suatu pemerintahan bertujuan untuk melindungi hak istimewa dari suatu
ras atau bangsa.

Pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia) di atas pada dasarnya adalah


bentuk pelanggaran kepada hak hidup, hak kemerdekaan, dan hak kebahagiaan
yang dimiliki oleh setiap manusia. Selain itu pula, pelanggaran HAM berat
merupakan bentuk penghinaan terhadap harkat, derajat dan martabat manusia.
Berdasarkan kasus pembunuhan Angeline termasuk macam pelanggaran
HAM berat karena telah meghilangkan nyawa dengan sengaja dan direncanakan.

2.3. Faktor – Faktor Penyebab Pelanggaran HAM Kasus Angeline


Margriet Megawe

Banyak faktor yang menyebabkan pelanggaran HAM didunia ini. ada


faktor Internal yang disebabkan oleh sang pelaku itu sendiri, atau faktor Eksternal
yang disebabkan oleh keluarga,teman,saudara dan lingkungan dimana si pelaku
tinggal. Berikut uraianya :

Faktor Internal
Faktor Penjelasan
1. Keadaan psikologis para Pelaku dalam keadaan kurang waras,gila,tertekan
pelaku saat melakukan pelanggaran HAM
2. Sifat egois Pelaku hanya memikirkan perasaannya sendiri,
tanpa memikirkan perasaan orang lain terutama
orang yang ia langgar hak asasinya
3. Tidak toleransi pada orang Pelaku tidak memberikan toleransi atau
lain keringanan terhadap suatu masalah, maupun itu
masalah besar atau kecil. Atau bersifat berlebihan
4. Tingkat kesadaran pelaku Pelaku tidak tau dan tidak mengerti tentang
pelanggaran HAM adanya HAM
5. Tidak memiliki rasa empati Pelaku seenaknya melakukan pelanggaran HAM,

6
dan rasa kemanusiaan tanpa memikirkan rasa kemanusiaan
6. Adanya pandangan HAM Pelaku merasa bebas karna dia tau dia punya hak
bersifat individualistic sebagai manusia, sehingga ia mementingkan
dirinya sendiri tanpa memikirkan orang lain dan
kepentingan umum
7. Sifat individualis Pelaku tidak ingin bersosalisasi dengan
masyarakat
8. Adanya dendam Pelaku memiliki dendam terhadap orang lain
yang menyebabkan si pelaku melakukan
pelanggaran HAM
9. Adanya diskriminasi dari Pelaku sering mendapat perlakuan diskriminasi
orang yang ada dalam dari orang terdekatnya seperti, orang tua, kakak
kesehariannya dan teman sekolah

Faktor Eksternal :

Faktor Penjelasan
1. Perangkat hukum yang tidak tegas Perangkat hukum seperti polisi, yang
dan tidak jelas sehingga menimbulkan tidak tegas sehingga mudah terjadinya
ketidakpastian hokum pelanggaran HAM
2.Struktur sosial dan politik yang Kesenjangan sosial memberikan
memungkinkan terjadinya pelanggaran dampak negatif, terlebih memberikan
hukum dan HAM dorongan untuk melakukan pelanggaran
HAM
3. Kesenjangan ekonomi Adanya penyalahgunaaan teknologi,
umumnya teknologi informasi
4. Teknologi yang digunakan secara Tidak adanya penjelasan atas
salah pelanggaran HAM kepada setiap
lapisan masyarakat, dan dari setiap
umur

7
5. Belum meratanya pemahaman Adanya orang atau pihak yang
tentang HAM membuat pelanggaran HAM itu
menjadi mudah dilakukan
6. Adanya pihak yang membantu dan Ketidak tegasan penegak hukum seperti
mempermudah pelanggaran HAM polisi, hakim, jaksa dalam menangani
pelanggaran HAM. Umumnya ini
dilakukan dengan cara menyuap
7. Kurang berfungsinya lembaga-
lembaga penegak hokum

Berdasarkan uraian tersebut, bila dikaitkan dengan kasus Angeline


Margriet Megawe, faktor yang mempengaruhi adalah tentang harta warisan dan
keserakahan ibu dan saudara angkatnya. Harta warisan yang diperoleh Angeline
dari ayah angkatnya membuat ibu dan saudaranya tega membunuh angeline yang
berumur 8 tahun secara tragis. Jika keinginan harta/materi lebih tinggi dimiliki
oleh seseorang maka ambisi, keegoisan untuk memiliki sesuatu akan lebih tinggi.
Sehingga, cara apapun bisa dilakukan termasuk pembunuhan.

2.4. Urgensi HAM Bagi Warganegara

Hak asasi manusia adalah hak dasar yang dimiliki manusia sejak manusia
itu dilahirkan. Hak asasi dapat dirumuskan sebagai hak yang melekat dengan
kodrat kita sebagai manusia yang bila tidak ada hak tersebut, mustahil kita dapat
hidup sebagai manusia. Hak ini dimiliki oleh manusia semata – mata karena ia
manusia, bukan karena pemberian masyarakat atau pemberian negara.

Maka hak asasi manusia itu tidak tergantung dari pengakuan manusia lain,
masyarakat lain, atau Negara lain. Hak asasi diperoleh manusia dari Penciptanya,
yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan hak yang tidak dapat diabaikan.

Sebagai manusia, ia makhluk Tuhan yang mempunyai martabat yang


tinggi. Hak asasi manusia ada dan melekat pada setiap manusia. Oleh karena itu,
bersifat universal, artinya berlaku di mana saja dan untuk siapa saja dan tidak

8
dapat diambil oleh siapapun. Hak ini dibutuhkan manusia selain untuk melindungi
diri dan martabat kemanusiaanya juga digunakan sebagai landasan moral dalam
bergaul atau berhubungan dengan sesama manusia.

Pada setiap hak melekat kewajiban. Karena itu,selain ada hak asasi
manusia, ada juga kewajiban asasi manusia, yaitu kewajiban yang harus
dilaksanakan demi terlaksana atau tegaknya hak asasi manusia (HAM). Dalam
menggunakan Hak Asasi Manusia, kita wajib untuk memperhatikan,
menghormati, dan menghargai hak asasi yang juga dimiliki oleh orang lain.

Kesadaran akan hak asasi manusia , harga diri , harkat dan martabat
kemanusiaannya, diawali sejak manusia ada di muka bumi. Hal itu disebabkan
oleh hak – hak kemanusiaan yang sudah ada sejak manusia itu dilahirkan dan
merupakan hak kodrati yang melekat pada diri manusia. Sejarah mencatat
berbagai peristiwa besar di dunia ini sebagai suatu usaha untuk menegakkan hak
asasi manusia.

Menurut Jack Donnely, hak asasi manusia adalah hak-hak yang dimiliki
manusia semata-mata karena ia manusia. Umat manusia memilikinya bukan
karena diberikan kepadanya oleh masyarakat atau berdasarkan hukum positif,
melainkan semata-mata berdasarkan martabatnya sebagai manusia.

Sementara Meriam Budiardjo, berpendapat bahwa hak asasi manusia


adalah hak yang dimiliki manusia yang telah diperoleh dan dibawanya bersamaan
dengan kelahirannya di dalam kehidupan masyarakat. Dianggap bahwa beberapa
hak itu dimilikinya tanpa perbedaan atas dasar bangsa, ras, agama, kelamin dan
karena itu bersifat universal.

Dasar dari semua hak asasi ialah bahwa manusia memperoleh kesempatan
berkembang sesuai dengan harkat dan cita-citanya. Hal yang sama juga
dikemukakan oleh Slamet Marta Wardaya yang menyatakan bahwa hak asasi
manusia yang dipahami sebagai natural rights merupakan suatu kebutuhan dari
realitas sosial yang bersifat universal.

9
Nilai universal ini yang kemudian diterjemahkan dalam berbagai produk
hukum nasional di berbagai negara untuk dapat melindungi dan menegakkan
nilai-nilai kemanusian. Bahkan nilai universal ini dikukuhkan dalam intrumen
internasional, termasuk perjanjian internasional di bidang HAM.

Sementara dalam ketentuan menimbang huruf B Undang-undang Nomor


39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia menegaskan bahwa hak asasi
manusia merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia,
bersifat universal dan langgeng, oleh karena itu harus dilindungi, dihormati,
dipertahankan dan tidak boleh diabaikan, dikurangi atau dirampas oleh siapapun.

Mengenai perkembangan pemikiran hak asasi manusia, Ahli hukum


Perancis, Karel Vasak mengemukakan perjalanan hak asasi manusia dengan
mengklasifikasikan hak asasi manusia atas tiga generasi yang terinspirasi oleh tiga
tema Revolusi Perancis, yaitu : Generasi Pertama; Hak Sipil dan Politik (Liberte);
Generasi Kedua, Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (Egalite) dan Generasi Ketiga,
Hak Solidaritas (Fraternite).

Tiga generasi ini perlu dipahami sebagai satu kesatuan, saling berkaitan dan saling
melengkapi. Vasak menggunakan istilah “generasi” untuk menunjuk pada
substansi dan ruang lingkup hak-hak yang diprioritaskan pada satu kurun waktu
tertentu.

Ketiga generasi hak asasi manusia tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Hak asasi manusia generasi pertama, yang mencakup soal prinsip


integritas manusia, kebutuhan dasar manusia, dan prinsip kebebasan sipil
dan politik. Termasuk dalam generasi pertama ini adalah hak hidup, hak
kebebasan bergerak, perlindungan terhadap hak milik, kebebasan berpikir,
beragama dan berkeyakinan, kebebasan berkumpul dan menyatakan pikiran,
hak bebas dari penahanan dan penangkapan sewenang-wenang, hak bebas
dari hukum yang berlaku surut dsb.

10
Hak-hak generasi pertama ini sering pula disebut sebagai “hak-hak negatif”
karena negara tidak boleh berperan aktif (positif) terhadapnya, karena akan
mengakibatkan pelanggaran terhadap hak-hak dan kebebasan tersebut.

2. Pada perkembangan selanjutnya yang dapat disebut sebagai hak asasi


manusia Generasi Kedua, konsepsi hak asasi manusia mencakup pula upaya
menjamin pemenuhan kebutuhan untuk mengejar kemajuan ekonomi, sosial
dan kebudayaan, termasuk hak atas pendidikan, hak untuk menentukan
status politik, hak untuk menikmati ragam penemuan penemuan-penemuan
ilmiah, dan lain-lain sebagainya.

3. Hak-hak generasi ketiga diwakili oleh tuntutan atas “hak solidaritas””


atau “hak bersama”. Hak-hak ini muncul dari tuntutan gigih negara-negara
berkembang atau Dunia Ketiga atas tatanan internasional yang adil.

Melalui tuntutan atas hak solidaritas itu, negara-negara berkembang


menginginkan terciptanya suatu tatanan ekonomi dan hukum internasional yang
kondusif bagi terjaminnya hak-hak berikut: (i) hak atas pembangunan; (ii) hak
atas perdamaian; (iii) hak atas sumber daya alam sendiri; (iv) hak atas lingkungan
hidup yang baik dan (v) dan hak atas warisan budaya sendiri.

UU Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia (UU HAM)


memuat prinsip bahwa hak asasi manusia harus dilihat secara holistik bukan
parsial sebab HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan
keberadaan manusia sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan
anugrah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara
hukun, Pemerintahan, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan
harkat dan martabat manusia.

Oleh sebab itu perlindungan dan pemenuhan hak asasi manusia di bidang
sosial politik hanya dapat berjalan dengan baik apabila hak yang lain di bidang
ekonomi, sosial dan budaya serta hak solidaritas juga juga dilindungi dan
dipenuhi, dan begitu pula sebaliknya.

11
Dengan diratifikasinya konvenan Hak EKOSOB oleh Indonesia melalui
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005, kewajiban Indonesia untuk melakukan
pemenuhan dan jaminan-jaminan ekonomi, sosial dan budaya harus diwujudkan
baik melalui aturan hukum ataupun melalui kebijakan-kebijakan pemerintah.

Pentingnya Supremasi Hukum Dalam Rangka Peningkatan


Perlindungan HAM

Perlu dicatat, bahwa dari segi hukum, dalam sepuluh tahun terakhir ini ada
sejumlah kemajuan penting mengenai upaya bangsa ini untuk melindungi HAM.
Seperti diketahui, ada sejumlah produk hukum yang penting tentang HAM. Mulai
dari dikeluarkannya TAP MPR No. XVII/1998, amandemen UUD 1945 yang
secara eksplisit sudah memasukkan pasal-pasal cukup mendasar mengenai hak-
hak asasi manusia, UU No.39/1999 tentang Hak-Hak Asasi Manusia, dan UU
No.26/2000 tentang Pengadilan HAM.

Dalam tataran hukum normatif, dengan amandemen, UUD 1945


sebenarnya sudah dapat dijadikan sebagai dasar untuk memperkokoh upaya-upaya
peningkatan perlindungan HAM.

Tetapi dengan adanya undang-undang tentang HAM dan peradilan HAM,


secara institusional maupun hukum materil (hukum positif), menjadikan
perangkat organik untuk menegakkan hukum dalam kerangka perlindungan HAM
atau sebaliknya penegakan supremasi hukum dalam rangka perlindungan HAM
menjadi kuat.

Adanya Komisi Nasional HAM (Komnas HAM) dan peradilan HAM patut
dicatat sebagai perangkat kelembagaan dasar peningkatan upaya penghormatan
dan perlindungan HAM dengan peningkatan kelembagaan yang dapat dikaitkan
langsung dengan upaya penegakan hukum.

Pada tataran implementasi, memang masih banyak kelemahan dari kedua


lembaga tersebut, akan tetapi dengan adannya Komnas HAM dan peradilan HAM
dengan sendirinya upaya-upaya peningkatan penghormatan dan perlindungan

12
HAM ini memiliki dua pijakan penting, yaitu pijakan normatif berupa konstitusi
dengan UU organiknya serta Komnas HAM dan peradilan HAM yang
memungkinkan berbagai pelanggaran HAM dapat diproses sampai di pengadilan.

Dengan demikian, maka perlindungan HAM dapat diletakkan dalam


kerangka supremasi hukum karena telah memperoleh pijakan legal, konstitusional
dan institusional dengan dibentuknya kelembagaan yang berkaitan dengan HAM
dan hukum. Namun demikian tidak berarti bahwa perjuangan HAM sebagaimana
dilakukan oleh lembaga-lembaga di luar negeri tidak penting.

Peran masyarakat tetap penting, karena institusi Negara biasanya


memiliki kepentingannya sendiri. Lebih-lebih bila dilihat dari logika penegakan
HAM, dengan kekuasaan yang dimilikinya Negara, lebih khusus aparat
pemerintah terutama yang berurusan dengan keamanan dan pertahanan, termasuk
yang paling potensial melakukan pelanggaran HAM.

Tetapi sebaliknya Negara termasuk aparat kekuasaannya (Polisi dan


Tentara) berkewajiban, bukan hanya melindungi, menghormati dan memberi
jaminan atas HAM akan tetapi bila dilihat dari penegakan supremasi hukum maka
pemerintah dituntut untuk semakin menyempurnakan dan membenahi perangkat
hukum dan perundang-undangan yang kondusif bagi penegakan HAM.

Untuk mewujudkan hal ini, mau tidak mau diperlukan suatu grand agenda
yang perlu dilakukan, yaitu :
1). Terus menyempurnakan Produk-produk hukum, perundang-undangan
tentang HAM. Produk hukum tersebut perlu disesuaikan dengan semangat
konstitusi yang secara eksplisit sudah memberi dasar bagi perlindunan dan
jaminan atau HAM.
2) Melakukan inventarisasi, mengevaluasi dan mengkaji seluruh produk
hukum, KUHP dan KUHAP, yang berlaku yang tidak sesuai dengan HAM.
Banyak sekali pasal-pasal dalam berbagai UU yang tidak sesuai, bahkan
bertentangan dengan HAM. Termasuk beberapa UU yang dihasilkan dalam
sepuluh tahun terakhir ini. Hal ini sebagai konsekuensi dari watak rejim

13
sebelumnya yang memang anti- HAM, sehingga dengan sendirinya produk
UU-nya pun kurang atau sama sekali tidak mempertimbangan masalah
HAM.
3) Mengembangkan kapasitas kelembagaan pada instansi-instansi
peradilan dan instansi lainnya yang terkait dengan penegakan supremasi
hukum dan perlindungan HAM. Penulis tidak ingin ikut membicarakan
persoalan memburuknya kondisi system peradilan kita, akan tetapi yang
perlu diprioritaskan dalam pengembangan kelembagaan ini adalah
meningkatkan kapasitas hakim, jaksa, polisi, panitera dan unsur-unsur
pendukungnya dalam memahami dan menangani perkara-perkara hukum
yang berkaitan dengan HAM.
4) Pentingnya sosialisasi dan pemahaman tentang HAM itu sendiri,
khususnya di kalangan pemerintahan, utamanya di kalangan instansi yang
secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan masalah HAM.

5) kerjasama dengan kalangan di luar pemerintahan, terutama kalangan


Ornop/LSM, akademisi/perguruan tinggi dan kalangan masyarakat lainnya
yang memiliki kepedulian terhadap penegakan hukum dan HAM seharusnya
menjadi agenda yang terprogram dengan baik.

Bukan saatnya bagi instansi pemerintah tertutup dengan kalangan


masyarakat sebagaimana terjadi di masa lalu. Dalam kerangka mengembangkan
iklim yang lebih demokratis, kini saatnya kalangan pemerintah, bersikap lebih
terbuka kepada masyarakat, lebih- lebih untuk keinginan bersama memajukan
HAM dalam konteks penegakan hukum.

Anak merupakan salah satu pihak yang rentan mengalami objek


pelanggaran Hak Asasi. Berdasarkan kasus angeline pentinya HAM untuk seorang
anak yang masih kecil seharusnya memiliki hak perlindungan, hak untuk hidup
serta hak untuk mendapat kasih sayang. Berdasarkan UU No.23/2002 Tentang
Perlindungan Anak “Hak identitas, Hak kebebasan beragama, Hak Kesehatan,
Hak Pendidikan, Hak Jaminan Sosial, Hak Perlindungan khusus.

14
Akibat kekurang pahaman ibu dan sudara angkat angeline tentang HAM,
membuat mereka tega menghilangkan nyawa dengan sengaja dan berencana.
Dengan adanya kasus ini, sangatlah penting untuk setiap warga Negara
memahami pentinya Hak Asasi pada Setiap Manusia.
Begitupun sangat penting peran penegak hukum dan peralatan HAM untuk
melakukan tugasnya dengan baik. Tanpa mendiskriminasi kasus yang terjadi pada
masyarakat.

2.5. Alternatif Penyelesaikan Kasus Angeline Margriet Megawe

Angeline yang awalnya dikabarkan hilang akhirnya ditemukan meninggal


beberapa pekan kemudian. Jenazahnya ditemukan didekat kandang
ayam di belakang rumah ibu angkatnya, Margriet Megawe, 60 tahun. Ibu angkat
telah ditetapkan tersangka baru Margriet Megawe, ibu angkat korban yang turut
menganiaya dan menyuruh pelaku utama untuk membunuh serta mengubur jasad
korban di pekarangan belakang rumah sendiri.

Apa yang menimpa Angeline Margriet Megawe,seorang bocah berumur 8


tahun merupakan pelanggaran terhadap hak asasi yang di berikan Negara
Indonesia kepada tiap anak Indonesia untuk dapat
hidup,tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat
dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan
diskriminasi.

Negara Republik Indonesia dalam hal ini memberikan perlindungan


terhadap hak-hak serta kesejahteraan anak melalui undang-undang nomor 35 tahu
2014 tentang perubahan atas undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang
perlindungan anak.

Kematian dan ratap tangis Angeline ini terlebih merupakan tamparan keras
terhadap keberadaan undang-undang perlindungan anak, apalah artinya sebuah
UU Jika tidak diimplementasikan dengan baik bahwa NegaraKesatuan Republik
Indonesia NKRI menjamin kesejahteraan tiap warga negaranya,termasuk
perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia.

15
Pencegahan kejahatan menurut pakar kriminologo dan viktimologi tidak
hanya dapat dilakukan aparat penegak hokum semata. Melainkan diperlukan pula
peran masyarakat secara aktif meloporkan kejanggalan terhadap dugaan adanya
kasus-kasus kejahatan, dalam hal ini terkait kekerasan terhadap anak.

Peran dan Fungsi Polri dalam memelihara kemanan dan ketertiban


ditengah-tengah masyarakat, memberikan perlindungan, pengayoman, dan
pelayanan kepada masyarakat, serta dalam rangka
menegakkan hukum akan terasa semakin optimal bila didukung oleh peran serta
masyarakat tadi, kepedulian antar sesama anggota masyarakat dapat memperepat
tercapainya keamanan serta ketertiban ditengah-tengah masyarakat.

16
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Hak Asasi Manusia adalah sejumlah nilai yang merupakan cirri khas
manusia yang wajib dihormati, dilindungi, dan dijunjung tinggi.
2. Menurut UU no 26 Tahun 2000 tentang pengadilan HAM, Pelanggaran
HAM adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk
aparat negara baik disengaja atau kelalaian yang secara hukum
mengurangi, menghalangi, membatasi, dan atau mencabut Hak Asasi
Manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-
Undang ini, dan tidak didapatkan, atau dikhawatirksn tidak akan
memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar, berdasarkan
mekanisme hukum yang berlaku.
3. Banyak faktor yang menyebabkan pelanggaran HAM, ada faktor Internal
yang disebabkan oleh sang pelaku itu sendiri, atau faktor Eksternal yang
disebabkan oleh keluarga,teman,saudara dan lingkungan dimana si pelaku
tinggal
4. Pencegahan kejahatan menurut pakar kriminologo dan viktimologi tidak
hanya dapat dilakukan aparat penegak hukum semata. Melainkan
diperlukan pula peran masyarakat secara aktif meloporkan kejanggalan
terhadap dugaan adanya kasus-kasus kejahatan, dalam hal ini terkait
kekerasan terhadap anak.

17