Anda di halaman 1dari 6

BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep dan Definisi Pasar Modal Syariah

Pasar modal merupakan salah satu alternatif sumber pendanaan bagi perusahaan sekaligus sebagai
sarana investasi bagi para pemodal. Implementasi dari hal tersebut adalah perusahaan dapat
memperoleh pendanaan melalui penerbitan efek yang bersifat ekuitas atau surat utang. Pada sisi
lain, pemodal juga dapat melakukan investasi di pasar modal dengan membeli efek-efek tersebut.

Kegiatan-kegiatan di pasar modal dapat dikategorikan sebagai kegiatan ekonomi yang termasuk
dalam kegiatan muamalah, yaitu suatu kegiatan yang mengatur hubungan perniagaan. Menurut
kaidah fiqh, hukum asal dari kegiatan muamalah adalah mubah (boleh) kecuali ada dalil yang jelas
melarangnya.

“pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan, kecuali ada dalil yang
mengharamkannya“

Hal ini berarti suatu kegiatan muamalah, seperti pembiayaan dan investasi di pasar modal baru
dikenal saat ini, dianggap dapat diterima kecuali jika terdapat larangan di dalam Al-Quran dan hadis
secara implisit ataupun eksplisit. Beberapa larangan dalam kegiatan pembiayaan dan investasi oleh
syariah antara lain adalah transaksi yang mengandung riba’. Transaksi riba sangat jelas karena itu
transaksi dipasar modal yang di dalamnya terdapat riba, tidak di perkenankan oleh syariah. Syariah
juga melarang transaksi yang di dalamnya terdapat spekulasi dan mengandung gharar atau ketidak
jelasan, yaitu transaksi yang di dalamnya di mungkinkan terjadinya penipuan (khida). Termasuk
dalam pengertian ini, adalah melakukan penawaran palsu (najsy), transaksi atas barang yang belum
di miliki. (bai’ alma’dum) : pembelian untuk penimbunan efek (ikhtikar): menyebar luaskan informasi
yang menyesatkan atau memakai informasi orang dalam untuk memperoleh keuntungan transaksi
yang dilarang (insider trending ).

Kegiatan pembiayaan dan investasi keungan dari aspek syariah pada prinsipnya adalah kegiatan yang
dilakukan oleh pemilik harta (investor) terhadap emilik usaha (emiten) untuk memberdayakan
pemilik usaha dalam melakuan kegiatan usahanya dan pemilik harta (nvestor) berharap untuk
meperoleh manfaat tertentu. Oleh karena itu, kegiatan investasi keuangan termasuk kegiatan usaha
dari pemilik harta, tetapi secara pasif. Dengan demikian, prinsip syariah dalam investasi dan
pembiayaan keungan pada dasarnya sama dengan kegiatan usaha lainya, yaitu prinsip kehalalan dan
keadilan. Secara umum, prinsip tersebut adalah sebagai berikut.

1. Investasi hanya dapat dilakukan pada aset atau kegiatan usaha yang tidaj bertentangan
dengan prinsip syariah, dan kegiatan usaha tersebuat adalah spesifik dan bermanfaat, sehingga tas
manfaat yang timbul dapat dilakuian bagi hasil.

2. Akad yang terjadi antara pemilik harta (investor) dan pemilik usaha (emiten), dan tindakan
maupun informasi yang diberukan pemilik usaha (emiten) serta mekanisme pasar (bursa self
regulating organization lainya) tidak boleh menimbulkan kondisi keraguan yang dapat menyebabkan
ketidak pastian (gharar)

3. Pemilik harta (investor) dan pemilik usaha (emiten) tidak boleh mengambil resiko yang
melebihi kemampuan (maysir) yang dapat menimbulkan kerugian yang sebenarnya dapat dihindari.

4. Pemilik harta (investor), pemilik usaha (emiten) ataupun bursa self regualating organization
lainya tidak boleh melakukan hal-hal yang menyebabkan ganguan yang disengaja atas mekanisme
pasar, baik dari segi penawaran (supply) maupun dari segi permintaan (demand).

1. Sejarah Bursa

Bursa berawal pada ahir abad ke-13 M, ketika sebuah perusahan perdagagan dan bank tempat
menukarkan uang (monay changer) Italia melakuakan perjalanan ke negri al-falender. Di, sana
mengadakan pameran di kota-kota terkenal dan pusat perdangan antar bangsa, seperti kota bruge
dan belgia. Pada tahun 100 berdirilah bursa di kota Bruge yang bergerak di bidang keuangan dan
perniagaan. Saat itu, bursa saham belum mempunyai sistem dan peraturan seperti saat ini, tetapi
melalui proses dan perkembangan dalam 4 tahap-tahap berikut.

a. Waktu munculnya bursa barang

Perubahan yang terjadi dari sistem pertanian ke sistem perindustrian dan perpindahan buruh ke
kota membawa dampak pertumbuhan penduduk di kota. Perubahan ini diiringin pula dengan
kebutuhan bahan makanan di kota yang semakin meningkat. Hal ini memicu munculnya
perdagangan antar bangsa atas produk-produk pertanian dan kelompok pedagang yang menamakan
dirinya dengan spekulan. Banyak bank yang melakukan kerja sama untuk membantu para pedagang
ini, yang selanjutnya memunculkan bursa-bursa di berbagai tempat yang dinamakan bursa barang.
Byrsa barang pertama kali muncul diparis pada tahun 1304

b. Waktu transaksi dengan nota perdagangan

Pada abad ke 13, prancis mulai mengedarkan nota perdagangan dan surat-surat berharga lain, dan
raja philip mengizinkan para agen perbankan melakukan transaksi dengan mengunakan sistem ini.

c. Waktu transaksi bursa saham di warung-warung minum dan pinggir-pinggir jalan.

Pada mulanya, transaksi saham dilakukan pada bursa barang tetapi kemudian para pedagang keluar
dari bursa barang dan mencari tempat khusus. Awalnya, pedangang mencari tempat di pingir-pingir
jalan karena dekat dengan bursa barang dan di warung-warung minum waktu hujan dan musim
dingin.

Di london, setelah para pedagang keluar dari bursa barang, mereka berkumpul di lorong-lorong dan
warung-warung sewaktu turun hujan, seperti di kafe jonathan.

d. Waktu Transaksi Bursa Saham secara Modern

Perkembangan sektor industri dan peningkatan perekonimoan serta menibgkatkan transaksi di


bursa saham mendorong kelahiran bursa saham yang mandiri dan membawa perubahan sistem dan
peraturan-peraturqn transaksi itu sendiri. Bursa London, New york, dan Tokyo adalah bursa-bursa
yang sangat terkenal di dunia yang pertama kai mempunyai bangunan dan sistem sendiri.

B. Praktik Pasar Modal Syariah di Indonesia


Kegiatan pasar modal syariah di Indonesia secara umum tidak berbeda dengan kegiatan pasar modal
yang telah kita kenal selama ini. Pasar modal syariah di Indonesia dilaksanakan berdasarkan prinsip-
prinsip syariah di pasar modal. Berdasarkan Peraturan Bapepam-LK Nomor IX.A.13, prinsip-prinsip
syariah di pasar modal adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan pasar modal yang berdasarkan
fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), sepanjang fatwa dimaksud tidak
bertentangan dengan Peraturan dan/atau Peraturan Bapepam-LK yang didasarkan pada fatwa DSN-
MUI.

Berkenaan dengan praktik pasar modal syariah di Indonesia, dibawah in akan diuraikan ketentuan
yang mengatur pasar syariah, kronologis perkembangan pasar modal syariah yang terdiri atas
perkembangan produk, dan peraturan terkait pasar modal syariah.

Efek-efek yang dapat diperdagangkan di pasar modal syariah telah diatur dalam peraturan Bapepam-
LK Nomor IX.A.13 tentang Pernebitan Efek Syariah. Dalam peraturan tersebut didefinisikan bahwa
efek syariah adalah efek sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Pasar Modal dan peraturan
pelaksanaannya yang akad, cara, dan kegiatan usaha yang menjadi landasan penerbitannya tidak
bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah di pasar modal. Jenis efek yang tidak bertentangan
dengan prinsip syariah dimasukkan dalam kumpulan efek syariah yang disebut dengan Daftar Efek
Syariah.

Peraturan Bapepam-LK Nomor II.K.I tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah
mendefinisikan Daftar Efek Syariah adalah “Kumpulan efek yang tidak bertentangan dengan prinsip-
prinsip syariah di pasar modal”. Jenis-jenis efek tersebut adalah sebagai berikut.

1. Surat berharga syariah yang diterbitkan oleh Negara Republik Indonesia.

2. Efek yang diterbitkan oleh emiten atau perusahaan publik yang menyatakan bahwa kegiatan
usaha serta cara pengelolaan usahanya dilakukan berdasarkan prinsip syariah sebagaimana tertuang
dalam anggaran dasar.

3. Sukuk yang diterbitkan oleh emiten termasuk obligasi syariah yang telah diterbitkan oleh
emiten sebelum ditetapkannya peraturan ini.

4. Saham Reksa Dana Syariah.

5. Unit penyertaan Kontrak Investasi Kolektif Reksa Dana Syariah.

6. Efek Beragun Aset Syariah.

7. Efek berupa saham, termasuk Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) syariah dan
waran syariah, yang diterbitkan oleh emiten dan perusahaan publik yang tidak menyatakan kegiatan
usaha serta cara pengelolaan usahanya dilakukan berdasarkan prinsip syariah.

8. Efek syariah yang memenuhi prinsip-prinsip syariah di pasar modal yang diterbitkan oleh
Lembaga Internasional yang Pemerintah Indonesia menjadi salah satu anggotanya.

9. Efek syariah lainnya.

10. Saham / Sukuk yang memebuhi prinsip-prinsip syariah di pasar modal yang diperdagangkan
di bursa efek di luar negeri.
11. Surat berharga komersial syariah (sharia commercial paper) yang memenuhi prinsip syariah
di pasar modal dan sudah mendapat peringkat dari perusahaan pemeringkat efek.

Berikut ini adalah definisi efek-efek yang diperdagangkan di pasar modal syariah Indonesia
berdasarkan peraturan Bapepam-LK Nomor IX.A.13:

1. Reksa Dana Syariah adalah reksa dana sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Pasar
Modal dan Peraturan pelaksanaaannya, yang pengelolaannya tidak bertentangan dengan prinsip-
prinsip syariah di pasar modal.

2. Kontrak investasi kolektif efek beragun aset adalah kontrak antara manajer investasi dan
bank kustodian yang mengikat pemegang efek beragun aset yang memberi wewenang kepada
manajer investasi untuk mengelola portofolio investasi kolektif dan bank kustodian diberi wewenang
untuk melaksanakan penitipan kolektif, yang pelaksanaannya tidak bertentangan dengan prinsip-
prinsip syariah di pasar modal.

3. Efek beragun aset syariah adalah efek yang diterbitkan oleh kontrak investasi kolektif efek
beragun aset syariah yang portofolionya terdiri atas aset keuangan yang tidak bertentangan dengan
prinsip-prinsip syariah di pasar modal.

4. Sukuk adalah efek syariah berupa sertifikat atau bukti kepemilikan yang bernilai sama dan
mewakili bagian yang tidak tertentu (tidak terpisahkan atau tidak terbagi [syuyu’/undivided share])
atas:

a. Aset berwujud tertentu (a’yan maujudat);

b. Nilai manfaat atas aset berwujud (manafiul a’yan) tertentu baik yang sudah ada maupun
yang akan ada;

c. Jasa (al khadamat) yang sudah ada maupun yang akan ada;

d. Aset proyek tertentu (maujudat masyru’ mu’ayyan); dan / atau

e. Kegiatan investasi yang telah ditentukan (nasyath ististmarin khashah).

Akad yang dapat digunakan dalam penerbitan efek-efek tersebut antara lain sebagai berikut:

1. Mudharabah (muqaradhah) / qiradh, yaitu akad kerja sama suatu usaha antara dua pihak
yang pertama (malik, shahib al-mal, LKS) menyediakan seluruh modal, sedangkan pihak kdeua (‘amil,
mudharib, nasabah) bertindak selaku pengelola, dan keuntungan usaha dibagi di antara mereka
sesuai kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak.

2. Wakalah, yaitu pelimpahan kekuasaan oleh satu pihak kepada pihak lain dalam hal yang
boleh diwakilkan.

3. Musyarakah, yaitu pembiayaan berdasarkan akad kerja sama antara dua pihak atau lebih
untuk suatu usaha tertentu, yang masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan
ketentuan bahwa keuntungan dan risiko ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.

4. Salam, yaitu bahwa jual beli barang dengan cara pemesanan dan pembayaran harga lebih
dahulu dengan syarat-syarat tertentu.

5. Istishna’, yaitu akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan
kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli,mustashni’) dan penjual
(pembuat, shani’).
6. Ijarah, yaitu akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang dalam waktu tertentu
dengan pembayaran sewa (ujrah) tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang.

7. Kafalah, yaitu jaminan yang diberikan oleh penanggung (kafil) kepada pihak ketiga untuk
memenuhi kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung (makfuul’anhu, ashil).

Adapun efek-efek yang idak boleh diperdagangkan di pasar modal syariah adalah efek-efek yang
diterbitkan tidak sesuai dengan prinsip-sprinsip syariah di pasar modal dan transaksi, yang di
dalamnya mengandung unsur dharar, gharar, riba’, maysir, risywah, maksiat, dan kezaliman.

C. Landasan Hukum

Dalam ajaran Islam, kegiatan investasi dapat dikategorikan sebagai kegiatan ekonomi yang termasuk
ke dalam kegiatan muamalah, yaitu suatu kegiatan yang mengatur hubungan antar manusia dengan
manusia lainnya. Sementara itu dalam kaidah fiqhiyah disebutkan bahwa hukum asal dari kegiatan
muamalah adalah mubah (boleh), kecuali yang jelas ada larangannya dala al Qur’an dan Al Hadits. Ini
berarti bahwa ketika suatu kegiatan muamalah baru muncul dan belum dikenal, maka kegiatan
tersebut dianggap dapat diterima kecuali terdapat indikasi dari al Qur’an dan hadits yang
melarangnya secara implisit maupun eksplisit. Konsep inilah yang menjadi prinsip pasar modal
syariah di Indonesia.

Salah satu aktivitas bermuamalah tersebut adalah melakukan investasi. Investasi sangat dianjurkan
dalam rangka mengembangkan karunia Allat SWT. Islam tidak memperbolehkan harta kekayaan
ditumpuk dan ditimbun. Karena hal-hal demikian adalah menyianyiakan ciptaan Allah SWT dari
fungsi sebenarnya harta dan secra ekonomi akan membahayakan karena akan terjadi pemusatan
kekayaan pada golongan tertentu saja. Landasan lainnya yang mendorong setiap musliim melakukan
investasi yaitu perintah zakat yang akan dikenakan terhadap semua bentuk aset yang kurang/tidak
produktif (iddle asset). Kondisi demikian akan menyebabkan terkikisnya kekayaan tersebut.

Dalam Peraturan Bapepam dan LK Nomor IX.A.13 tentang Penerbitan Efek Syariah disebutkan bahwa
Efek Syariah adalah Efek sebagaimana dimaksud dalam UUPM dan peraturan pelaksanaannya yang
akad, cara, dan kegiatan usaha yang menjadi landasan pelaksanaannya tidak bertentangan dengan
prinsip – prinsip syariah di Pasar Modal.

Berbeda dengan efek lainnya, selain landasan hukum, baik berupa peraturan maupun Undang-
Undang, perlu terdapat landasan fatwa yang dapat dijadikan sebagai rujukan ditetapkannya efek
syariah. Landasan fatwa diperlukan sebagai dasar untuk menetapkan prinsip-prinsip syariah yang
dapat diterapkan di pasar modal.

Sampai dengan saat ini, pasar modal syariah di Indonesia telah memiliki landasan fatwa dan
landasan hukum sebagai berikut :

Terdapat 14 fatwa yang telah dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional- Majelis Ulama Indonesia
(DSN-MUI) yang berhubungan dengan pasar modal syariah Indonesia sejak tahun 2001, yang
meliputi antara lain:

1. Fatwa No. 20/DSN-MUI/IX/2001 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi Untuk Reksadana


Syariah

2. Fatwa No. 32/DSN-MUI/IX/2002 tentang Obligasi Syariah


3. Fatwa No. 33/DSN-MUI/IX/2002 tentang Obligasi Syariah Mudharabah

4. Fatwa No. 40/DSN-MUI/X/2003 tentang Pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan
Prinsip Syariah di Bidang Pasar Modal

5. Fatwa No. 41/DSN-MUI/III/2004 tentang Obligasi Syariah Ijarah

6. Fatwa No. 59/DSN-MUI/V/2007 tentang Obligasi Syariah Mudharabah Konversi

7. Fatwa No. 65/DSN-MUI/III/2008 tentang Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD)
Syariah

8. Fatwa No. 66/DSN-MUI/III/2008 tentang Waran Syariah

9. Fatwa No. 69/DSN-MUI/VI/2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN)

10. Fatwa No. 70/DSN-MUI/VI/2008 tentang Metode Penerbitan SBSN

11. Fatwa No. 71/DSN-MUI/VI/2008 tentang Sale and Lease Back

12. Fatwa No. 72/DSN-MUI/VI/2008 tentang SBSN Ijarah Sale and Lease Back

13. Fatwa No. 76/DSN-MUI/VI/2010 tentang SBSN Ijarah Asset To Be Leased

14. Fatwa No. 80/DSN-MUI/III/2011 tentang Penerapan Prinsip Syariah dalam Mekanisme
Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas di Pasar Reguler Bursa Efek.

Terdapat 3 (tiga) Peraturan Bapepam & LK yang mengatur tentang efek syariah sejak tahun 2006,
yaitu:

1. Peraturan Bapepam & LK No IX.A.13 tentang Penerbitan Efek Syariah

2. Peraturan Bapepam & LK No IX.A.14 tentang Akad-akad Yang Digunakan Dalam Penerbitan
Efek Syariah di Pasar Modal

3. Peraturan Bapepam & LK No II.K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah

Terdapat 1 Undang-Undang yang mengatur tentang SBSN (Surat Berharga Syariah Negara) yaitu: UU
No. 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara.