Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mempelajari tentang geologi Indonesia dan kaitannya dengan geomorfologi


Kepulauan Indonesia, garis besar geomorfologi Kepulauan Indonesia,analisis
geomorfologi guna identifikasi masalah lingkungan fisikal dan pengembangan
distrik Indonesia. Wilayah Indonesia terletak pada wilayah tropis dan adalah
kesatuan distrik laut yang ditebari pulau-pulau atau kepulauan. Jarak terjauh Barat
- Timur 5.110 Km. dan jarak terjauh Utara Selatan 1.118 Km. ini berarti panjang
kepulauan Indonesia menempati + 1/8 equator.

Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terletak di unsur selatan katulistiwa
pada posisi 80 -120 Lintang Selatan dan 1180 - 1250 Bujur Timur adalahsalah satu
propinsi yang terdiri dari kepulauan dengan 566 pulau, 432 pulau sudah memiliki
nama dan sisanya sampai ketika ini belum memiliki nama dan dari semua pulau
yang ada, 42 pulau sudah berpenghuni sementara sisanya belum berpenghuni.
Terdapat tiga pulau besar di propinsi Nusa Tenggara Timur, yakni pulau Flores,
Sumba dan Timor, selebihnya ialah pulau-pulau kecil yang letaknya tersebar pada
perairan dengan luas tidak cukup lebih 200.000 km2. Kabupaten Sikka sendiri yang
terletak salah satu 800 22' - 80 50' derajat lintang unsur selatan dan 1210 55'40" -
1220 41'30" bujur unsur timur adalah salah satu kabupaten diantara sembilan
kabupaten lainnya di Pulau Flores yang masing masing wilayah masing-masing
kabupaten terdapat yang berada dalam satu daratan Pulau Flores dan terdapat pula
yang distrik kabupatennya merangkum pulau - pulau yang letaknya berada disekitar
Pulau Flores tersebut sendiri.

Nusa Tenggara Barat ialah sebuah provinsi di Indonesia. Sesuai dengan namanya,
provinsi ini mencakup bagian barat Kepulauan Nusa Tenggara. Dua pulau terbesar
di provinsi ini ialah Lombok yang terletak di barat dan Sumbawa yang terletak di
timur. Ibu kota provinsi ini ialah Kota Mataram yang sedang di Pulau Lombok.
Sebagian besar dari warga Lombok berasal dari suku Sasak, sedangkan suku Bima
dan Sumbawa merupakan kumpulan etnis terbesar di Pulau Sumbawa. Mayoritas
warga Nusa Tenggara Barat beragama Islam (96%).

Kepulauan Sunda Kecil atau Nusa Tenggara merupakan gugusan pulau di sebelah
unsur timur Pulau Jawa, dari Pulau Bali di sebelah barat sampai-sampai Pulau
Timor di sebelah timur. Kepulauan Sunda Kecil tergolong wilayah negara
Indonesia kecuali bagian unsur timur Pulau Timor yang tergolong wilayah negara
Timor Timur. Di Indonesia, kepulauan ini terdiri dari tiga buah provinsi, yakni
(berturut-turut dari barat): Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Sunda kecil pun memiliki kisah geologi laksana halnya pulau-pulau lainnya. Secara
goelogis Sunda kecil memeiliki ciri khas yang khas sebab terdiri dari pulau-pulau
kecil yang tersebar dibuka dari Pulau Bali sampai Pulau Timor. Sunda kecil
adalahhasil bentukan dari lempeng Samudra Hindia yang bergerak kearah unsur
utara dan mendesak lempeng Eurasia. Pulau-pulau di distrik Sunda Kecil memiliki
tidak sedikit gunung api yang masih aktif, gunung api ini adalahjaluran dari
pegunungan Busur Sunda (Jaluran Pegunungan Mediteran).
BAB II
PEMBAHASAN

A. KONDISI GEOMORFOLOGI NUSA TENGGARA


Pulau-pulau di Nusa Tenggara terletak pada dua jalur geantiklinal, yang
adalahperluasan busur Randa di sebelah barat. Geantiklinal yang terbaring dari
unsur timur sampai pulau-pulau Romang, Wetar, Kambing, Alor, Pantar, Lomblen,
Solor, Adonara, Flores, Rinca, Komodo, Sumbawa, Lombok dan Bali. Sedangkan
dibagian selatan disusun oleh pulau-pulau Timor, Roti, Sawu, Raijua dan Dana.
Punggungan geantiklinal tersebut berbelah di wilayah Sawu. Salah satu cabangnya
menyusun sebuah ambang yang turun ke laut melalui Raijua dan Dana, selesai ke
arah punggungan bawah laut di unsur selatan Jawa. Cabang beda adalahrantai
penghubung dengan busur dalam yang melintasi wilayah dekat Sunda.

1. Palung Belakang

Di sebelah unsur timur Flores disusun oleh unsur barat basin Randa selatan. Di
sebelah unsur utara Flores dan Sumbawa terbentang laut Flores, yang dipisahkan
menjadi tiga bagian, yaitu: Laut Flores Barat laut, berupa dataran (platform) yang
luas dan dangkal, yang menghubungkan lengan unsur selatan Sulawesi dengan
dangkalan Sunda. Basin Flores Tengah, berbentuk segitiga dengan puncak terletak
di sebelah unsur selatan volkan Lompobatang, yang bersangkutan dengan depresi
Walanae. Sedangkan dasarnya terletak di sepanjang pantai unsur utara Flores, yang
adalahbagian terdalam (-5140). Laut Flores Timur terdiri dari punggungan dan
palung diantaranya, yang menghubungkan lengan unsur selatan Sulawesi dengan
punggungan bawah laut Batu Tara.

Di sebelah unsur utara Bali dan Lombok palung belakang ini disusun oleh Laut Bali
(lebar 100 km dan dalam 1500 m) ke arah barat dasarnya berangsur-angsur
terangkat sampai estafet dengan laut dangkal di selat Madura.
2. Busur Dalam

Busur dalam Nusa Tenggara adalahkelanjutan dari Jawa mengarah ke Busur Dalam
Randa. Di Nusa Tenggara adalahpunggungan geantiklinal. Selat diantara pulau di
unsur barat dangkal dan menjadi lebih dalam ke arah timur. Struktur umum Lombok
di sebelah unsur utara adalahzone volkanis dengan volkan aktif Rinjani (zone Solo),
dataran rendah Mataram (subzone Blitar). Di unsur selatan berupa pegunungan
unsur selatan dengan pelajaran kapur Tertier dan breksi volkanis.

Bali diceraikan oleh selat Bali terhadap Jawa. Zone di Bali sama dengan Jawa.
Raglan unsur utara adalahbagian terluas terdiri dari volkan-volkan. Kuarter yang
masih aktif, mengindikasikan kelanjutan perumahan volkan muda di Jawa. Dataran
Denpasar yang menghampar pada kaki unsur selatan volkan tergolong sub zone
Blitar di Jawa. Dataran ini dihubungkan oleh tanah genting yang menyempit dengan
bukit-bukit kapur Tertier Ulu Watu (213 m) yang dapat dikomparasikan dengan
semenanjung Blambangan. Pulau Nusa Panida (529 m) antara Bali dan Lombok
pun terdiri dari kapur Tertier ini.

Fisiografi Sumbawa yang khas ialah adanya depresi yang mengasingkan


geantiklinal menjadi sejumlah bagian, diantaranya berupa teluk di unsur timur.
Teluk tersebut diceraikan dari laut oleh pulau Mojo yang menyerahkan sifat khas
dari depresi antar pegunungan pada puncak geantiklinal. Sisi unsur utara ditumbuhi
oleh sejumlah volkan muda. Volkan Ngenges, Tambora dan Soromandi
menghasilkan batuan leucit. Sedimen tertier dan batuan kapur alkali disebarkan
secara luas di pulau Sumbawa. Hal ini memberikan cerminan bahwa zone
pegunungan Selatan Jawa ada di semua pulau Sumbawa dan depresi menengah
yang dinamakan zone Solo. Teluk Saleh adalahsebuah depressi terasing dari zone
Solo.

Pulau Flores diceraikan dari Sumba oleh selat Sape. Komodo dan Rinca tergolong
ke dalam puncak geantiklinal Flores Tengah, yang terdiri dari batuan volkanis lebih
tua (Tertier) dan intrusi magmatis yang dapat dikomparasikan dengan Pegunungan
Selatan Jawa. Volkan-volkan yang lebih muda hadir di sepanjang pantai unsur
selatan Flores Barat. Di Flores Timur geantiklinal tersebut berupa sumbu yang
tenggelam sampai-sampai batuan volkanis yang lebih tua dan intrusi granodiorit
tidak begitu banyak, serta melulu ada volkan muda yang hadir dibagian puncaknya.
Geantiklinal itu estafet disepanjang Solor, Adonara, Lomblen dan Pantar, dimana
pulau-pulau itu terdiri dari volkan yang aktif. Sumbu tersebut kemudian melewati
Alor, Kambing, Wetar dan Romang. Di unsur ini busur dalam tidak mempunyai
volkan aktif. Pulau-pulau itu tersusun dari endapan volkanis Tertier akhir yang
beberapa ada di bawah permukaan laut.

3. Palung Antara dengan Sumba

Palung ini berada salah satu busur dalam volkanis Jawa-Bali-Lombok dan
punggungan dasar laut sebelah unsur selatan Jawa. Raglan terdalam ada di unsur
selatan Lombok, berbelah dua ke arah unsur timur menjadi dua cabang yakni
sebelah unsur utara dan unsur selatan Sumba. Cabang-cabang ini
adalahpenghubung antara palung sebelah unsur selatan Jawa dan Basin Sawu antara
Flores unsur timur dan Roti. Lereng yang curam pada Wetar dan basin Sawu serta
dasar laut yang datar mengindikasikan adanya penurunan permukaan bumi.
Sedangkan ujung unsur timur dan baratnya diberi batas oleh pelantikan seperti
sembul (horst) di Kisar dan Sumba. Kedua pulau itu secara morfologis tergolong
zone palung antara.

4. Busur Luar

Pulau-pulau di nusa tenggara yang tergolong busur luar merupakan: Dana, Raijua,
Sawu, Roti, Seman dan Timor. Punggungan dasar laut dari unsur selatan Jawa hadir
sampai 1200 m dibawah permukaan laut, selanjutnya turun ke arah unsur timur
sampai 4000 m. Palung antara itu sebagian terangkat. Selanjutnya sumbu
geantiklinal tersebut naik lagi hingga ke pulau-pulau Sawu, Dana, Raijua, dan
Sawu.
Pulau sawu memiliki terumbu karang yang tingginya 300 m dpl dan mengelilingi
pulau ini yang tersusun dari batuan pre-tertier. Punggungan dana-Raijua-Sawu
serong terhadap punggungan Roti-Timor, dari lokasi itu diceraikan oleh selat
Daong. Pulau Roti tersusun dari sedimen terlipat powerful dan tertutup oleh batu
karang kuater yang tingginya 430 m dpl. Timor adalahbasil geantiklinal yang lebar.
Disamping tersebut ada depressi memanjang di puncaknya, melewati Teluk
Kupang hingga perbatasan Timor Leste dan selesai di muara sungai Lois.

5. Palung Depan

Antar pulau Chrismast dan punggungan bawah laut di unsur selatan Jawa ada
cekungan dalam utama yang terbaring arah timur-barat, kedalamannya 7450 m.
Palung depan Jawa dari sistem pegunungan Sunda tersebut membentang ke arah
timur. Sampai di Sumba kedalamannya berkurang dan di sebelah unsur selatan
Sawu melengkung ke unsur timur laut sejajar dengan Timor. Sampai di pulau Roti
diceraikan oleh punggungan (1940 m) terhadap palung Timor. Palung di unsur
selatan Jawa tersebut di unsur selatan diberi batas oleh pelantikan dasar laut yang
tidak jelas batasnya melewati Pulau Chrismast mengarah ke dasar laut yang
dalamnya 3000-4000 m. bagian unsur timur palung Timor ini diberi batas oleh
dangkalan Australia atau dangkalan Sahul.

 Geomorfologi Pulau-pulau di Nusa Tenggara Barat dan Timur

Berdasarkan keterangan dari Umhgrove, pulau-pulau Nusa Tenggara Barat dan


Timur adalahhasil pelipatan pada miosen, bersamaan dengan pembentukan
geantiklin Jawa Selatan. Pelipatan pada miosen yang sangat intensif ada dilrian
dibagian unsur utara kepala burung lantas masuk ke unsur tengah Irian Jaya. Secara
garis besar pulau-pulau di NTB dan NTT bisa dikelompokkan kedalam dua
kumpulan yang setiap mengarah dari unsur timur ke barat Barisan Utara: terdiri dari
P. Kambing, P. Alor, P. Pentar, P. Lomblen, P.Solor, P. Andonara, P. Flores, P.
Rinca, P. Komodo, P. Sumba, P. Lombok, dan P.Bali. Sedangkan deretan selatan
terdiri dari : P. Timor, P. Semau, P. Roti, P. Sawu,P. Raijua, P. Dana. Diantara
deretan utara dan unsur selatan ada P. Sumba yang menurut keterangan dari Van
Bemmelen adalahpenghubung dua deretan tersebut.

Pembagian fisiografis di P. Bali serupa dengan di P. Jawa, dimana dibagian unsur


selatan P. Bali merupakan wilayah kapur dan dibagian unsur utara merupakan
wilayah vulkanis dengan sejumlah puncaknya sebagai berikut: G. Bratan, Batukau,
Batur, dan G. Agung. Begitu halnya dengan P. Lombok dimana bagian unsur utara
berupa wilayah vulkanis dan dibagian unsur selatan berupa wilayah kapur. P.
Sumbawa mempunyai format yang agak berlainan, disini teluk saleh nyaris
memotong pulau itu menjadi dua bagian. Vulkan pun ada dibagian utara laksana G.
Tambora. Kemudian guna P. Flores posisinya mengarah kebarat daya-timur laut
dengan sejumlah vulkan yang menempati bagian unsur utara maupun selatan.

Dapat anda lihat bahwa di kedua pulau ini ada dua mountain land (southern dan
northern) yang terbentuk : gunung api Mio-Pliosen yang kini tererosi etape tua
menyusun pematang-pematang sempit tertoreh dalam, dan gunung berapi aktif
Kuarter muda yang bentuknya masih kerucut. Ini menggambarkan perkembangan
busur volkanik unsur dalam seiring dengan bergeraknya zone subduksi ke utara. Di
Lombok dan Sumbawa jalur volkanik tua terdapat di sebelah selatan. Sisa-sisa
gunung api tua andesitik-basaltik ini contohnya Gunung Mareje (716 m) di sekitar
Mataram Lombok atau Gunung Sepakat dan Gunung Dinding di Sumbawa selatan.
Di selama gunung ini bisa dipelajari dengan baik bagaimana asal dan sekuen
gunung ini dalam hubungannya dengan batuan sediment yang terbuka di sekitarnya,
apakah intrusi magmatik yang menerobos batuan sediment lebih tua, apakah
gunungapi tuayang di pinggirnya ditumbuhi terumbu karang, dsb.

Pengangkatan Resen terjadi paling kuat di sebelah unsur selatan Lombok-


Sumbawa. Batu gamping dan konglomerat dari gunung api tua terangkat menyusun
tebing pantai, misalnya di sekitar Kuta dan Blongas di Lombok unsur selatan
(bandingkan dengan pantai Uluwatu, Bali unsur selatan - urusan yang sama juga).
Dataran tinggi sebelah unsur selatan Taliwang di Sumbawa baratdaya, pun
adalahuplifted coral limestones yang dulunya tumbuh menumpu (onlap) gunungapi
andesitik ke sebelah unsur selatan dan tenggaranya.

Telah anda ketahui bahwa Sunda Kecil yang akan anda pelajari disini adalahsuatu
kepulaun di sebelah unsur timur Pulau Jawa yang terdiri dari sejumlah pulau besar
contohnya Bali, Lombok, Sumbawa, dan Flores. Kondisi geologi distrik NTB
dengan batuan tertua berumur Tersier dan yang termuda berumur Kuarter,
didominasi oleh Batuan Gunungapi serta Aluvium (recent). Batuan Tersier di Pulau
Lombok terdiri dari perselingan batupasir kuarsa, batulempung, breksi, lava, tufa
dengan lensa-lensa batugamping, batugamping dan dasit.

Sedangkan di Pulau Sumbawa terdiri dari lava, breksi, tufa, andesit, batupasir
tufaan, batulempung, dasit, tonalit, tufa dasitan, batugamping berlapis,
batugamping tufaan dan lempung tufaan. Batuan Kuarter di Pulau Lombok terdiri
dari perselingan breksi gampingan dan lava, breksi, lava, tufa, batuapung dan breksi
lahar. Sedangkan di Pulau Sumbawa terdiri dari terumbu koral terangkat, epiklastik
(konglomerat), basil gunungapi tanah merah, gunungapi tua, gunungapi
Sangeangapi, gunungapi Tambora, gunung api muda dan batugamping koral.
Aluvium dan endapan pantai lumayan luas ada di Pulau Sumbawa dan Lombok.

Data geologi yang disajikan guna Pulau Lombok dari basil pengamatan, maka bisa
dikerhukakan jenis batuan yang terdapat di Pulau Lombok. Terdapat dua bagian
geologi utama di Pulau Lombok yakni lingkaran gunung berapi di sebelah unsur
utara dan lingkaran rendah yang telah tua di sebelah selatan. Diantara kedua unsur
ini ada lembah yang merupakah peralihan. Gunung berapi dilapisan unsur atasnya
dan pegunungan tua di lapisan bawah dan yang sangat berpengaruh ialah Gunung
Rinjani, Gunung Punikan dan Gunung Nangi disusun oleh tidak banyak beresia dan
larya, yang disebarkan oleh Bresia Rinjani ke arah barat
dan timur.

Struktur geologi regional Bali dibuka dengan adanya pekerjaan di lautan sekitar
kala Miosen Bawah yang menghasilkan batuan lava bantal dan breksi yang disisipi
oleh batu gamping. Di bagian unsur selatan terjadi pengendapan oleh batu gamping
yang lantas membentuk Formasi Selatan. Di jalur yang berbatasan dengan tepi
utaranya terjadi pengendapan sedimen yang lebih halus. Pada akhir kala Pliosen,
seluruh wilayah pengendapan tersebut muncul di atas permukaan laut. Bersamaan
dengan pengangkatan, terjadi pergeseran yang menyebabkan sekian banyak bagian
tersesarkan satu terhadap yang lainnya. Umumnya sesar ini tenggelam oleh bahan
batuan organik atau endapan yang lebih muda.

Selama kala Pliosen, di lautan sebelah unsur utara terjadi endapan berupa bahan
yang berasal dari endapan yang lantas menghasilkan Formasi Asah. Di barat laut
beberapa dari batuan hadir ke atas permukaan laut. Sementara ini semakin ke barat
pengendapan batuan karbonat lebih dominan. Seluruh jalur tersebut pada akhir
Pliosen terangkat dan tersesarkan.

Kegiatan gunung api lebih tidak sedikit terjadi di daratan, yang menghasilkan
gunung api dari barat ke timur. Seiring dengan terjadinya dua kaldera, yaitu
terdahulu kaldera Buyan-Bratan dan lantas kaldera Batur, Pulau Bali masih
merasakan gerakan yang mengakibatkan pengangkatan di unsur utara. Akibatnya,
Formasi Palasari terangkat ke permukaan laut dan Pulau Bali pada umumnya
memiliki penampang Utara-Selatan yang tidak simetris. Raglan unsur selatan lebih
landai dari unsur Utara.

B. KONDISI GEOLOGI NUSA TENGGARA


1. Geologi Nusa Tenggara Barat
Berdasarkan peta diatas, jenis batuan yang ada di Nusa tenggara barat bagian
Sumbawa telah di bagi berdasarkan warna, dan batuan yang dominan pada peta
tersebut yaitu batuan sedimen, selain itu sisanya merupakan batuan vulkanik dan
batuan terobosan. Adapun jenis batua berdasarkan warna pada peta diatas meliputi
sebagai berikut :
1. Kuning, merupakan batuan sedimen (batu lempung tufan). Batu lempung tufan
merupakan sisipan batu pasir, dan kerikil hasil rombakan batuan gunung api.
2. Merah jambu, merupakan batuan vulkanik dengan satuan breksi tanah merah.
Satuan breksi tanah merah merupakan breksi gunung api bersusun andesit hasil
letusan gunung, dan jenis batuan ini berumur kuarter.
3. Coklat, merupakan batuan vulkanik dengan satuan breksi andesit-basal. Satuan
breksi andesit-basal merupakan breksi gunung api, lahar, tuf, abu, dan lava,
bersusun andesit basal.
4. Pingk tuah, merupakan batuan terobosan yaitu andesit, basal, desit, dan batuan yang
tak teruraikan yang sebagian batuan beku lelehan. Satuan ini menerobos batuan
berumurmiosenawal.

2. Geologi Nusa Tenggara Timur

Berdasarkan peta diatas dapat diketahui jenis batuan yang ada di Nusa Tenggara
Timur yang meliputi sebagai berikut :
1. Warna Ungu merupakan formasi kiro, jenis batuannya yaitu breksi, lava, tufa
pasiran dan batu pasir tufaan.
2. Biru muda merupakan formasi waihekang, jenis batuannya yaitu batu gamping
tufaan, batu gamping pasiran kasar.
3. Kuning merupakan formasi tahahau, jenis batuannya yaitu lava desit, breksi, tufa,
lava riolit, tufa kaca.
4. Coklat merupakan batuan gunung api (vulkanik)
5. Hijau gelap merupakan formasi loka, jenis batuannya yaitu tufa berseling dengan
batu pasir tufa, dan bersisipan dengan batu gamping pasiran-tufaan.
6. Merah jambu merupakan jenis batuan gradiorit, garanit, granodiorit, dan diorite
kuarsa.
7. Coklat mudah merupakan hasil gunung api tua, dengan jenis batuan lava, breksi,
aglomerat, dan tufa pasiran, terdapat juga breksi batu apung.

Dapat kita lihat bahwa di kedua pulau ini terdapat dua mountain land
(southern dan northern) yang terbentuk : gunung api Mio-Pliosen yang sekarang
tererosi tahap tua membentuk pematang-pematang sempit tertoreh dalam, dan
gununapi aktif Kuarter muda yang bentuknya masih kerucut. Ini mencerminkan
perkembangan busur volkanik bagian dalam seiring dengan bergeraknya zone
subduksi ke utara. Di Lombok dan Sumbawa jalur volkanik tua ada di sebelah
selatan. Sisa-sisa gunungapi tua andesitik-basaltik ini misalnya Gunung Mareje
(716 m) di dekat Mataram Lombok atau Gunung Sepakat dan Gunung Dinding di
Sumbawa selatan. Di sekitar gunung ini dapat dipelajari dengan baik bagaimana
asal dan sekuen gunung ini dalam hubungannya dengan batuan sediment yang
tersingkap di sekitarnya, apakah intrusi magmatik yang menerobos batuan sediment
lebih tua, apakah gunungapi tuayang di pinggirnya ditumbuhi terumbu karang, dsb.
Pengangkatan Resen terjadi sangat kuat di sebelah selatan Lombok-
Sumbawa. Batugamping dan konglomerat dari gunung api tua terangkat
membentuk tebing pantai, misalnya di dekat Kuta dan Blongas di Lombok selatan
(bandingkan dengan pantai Uluwatu, Bali selatan – hal yang sama juga). Dataran
tinggi sebelah selatan Taliwang di Sumbawa baratdaya, juga merupakan uplifted
coral limestones yang dulunya tumbuh menumpu (onlap) gunungapi andesitik ke
sebelah selatan dan tenggaranya.

C. Struktur Geologi Sunda Kecil (NTB dan NTT)


Telah kita ketahui bahwa Sunda Kecil yang akan kita pelajari disini
merupakan suatu kepulaun di sebelah timur Pulau Jawa yang terdiri dari beberapa
pulau besar misalnya Bali, Lombok, Sumbawa, dan Flores. Kondisi geologi
wilayah NTB dengan batuan tertua berumur Tersier dan yang termuda berumur
Kuarter, didominasi oleh Batuan Gunungapi serta Aluvium (recent). Batuan Tersier
di Pulau Lombok terdiri dari perselingan batupasir kuarsa, batulempung, breksi,
lava, tufa dengan lensa-lensa batugamping, batugamping dan dasit.
Sedangkan di Pulau Sumbawa terdiri dari lava, breksi, tufa, andesit, batupasir
tufaan, batulempung, dasit, tonalit, tufa dasitan, batugamping berlapis,
batugamping tufaan dan lempung tufaan. Batuan Kuarter di Pulau Lombok terdiri
dari perselingan breksi gampingan dan lava, breksi, lava, tufa, batuapung dan breksi
lahar. Sedangkan di Pulau Sumbawa terdiri dari terumbu koral terangkat, epiklastik
(konglomerat), hasil gunungapi tanah merah, gunungapi tua, gunungapi
Sangeangapi, gunungapi Tambora, gunungapi muda dan batugamping koral.
Aluvium dan endapan pantai cukup luas terdapat di Pulau Sumbawa dan Lombok.
Data geologi yang disajikan untuk Pulau Lombok dari hasil pengamatan,
maka dapat dikerhukakan jenis batuan yang ada di Pulau Lombok. Terdapat dua
unsur geologi utama di Pulau Lombok yaitu lingkaran gunung berapi di sebelah
utara dan lingkaran rendah yang sudah tua di sebelah selatan. Diantara kedua bagian
ini terdapat lembah yang merupakah peralihan. Gunung berapi dilapisan bagian
atasnya dan pegunungan tua di lapisan bawah dan yang paling berpengaruh adalah
Gunung Rinjani, Gunung Punikan dan Gunung Nangi dibentuk oleh sedikit beresia
dan larya, yang disebarkan oleh Bresia Rinjani ke arah barat dan timur.
Selama kala Pliosen, di lautan sebelah utara terjadi endapan berupa bahan
yang berasal dari endapan yang kemudian menghasilkan Formasi Asah. Di barat
laut sebagian dari batuan muncul ke atas permukaan laut. Sementara ini semakin ke
barat pengendapan batuan karbonat lebih dominan. Seluruh jalur itu pada akhir
Pliosen terangkat dan tersesarkan.
Kegiatan gunung api lebih banyak terjadi di daratan, yang menghasilkan gunung
api dari barat ke timur. Seiring dengan terjadinya dua kaldera, yaitu mula-mula
kaldera Buyan-Bratan dan kemudian kaldera Batur, Pulau Bali masih mengalami
gerakan yang menyebabkan pengangkatan di bagian utara. Akibatnya, Formasi
Palasari terangkat ke permukaan laut dan Pulau Bali pada umumnya mempunyai
penampang Utara-Selatan yang tidak simetris. Bagian selatan lebih landai dari
bagian Utara.

DAFTAR PUSTAKA : Buccu, Keizya. Makalah Geologi Nusa Tenggara (Sunda


Kecil)
<http://www.academia.edu/5337104/MAKALAH_GEOLOGI_Nusa_Tenggara_S
unda_kecil_BAB_I_PENDAHULUAN> (diakses tanggal 26 oktober 2015)