Anda di halaman 1dari 8

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Osmoregulasi merupakan proses pengaturan konsentrasi cairan dan
penyeimbangan pemasukan serta pengeluaran cairan tubuh oleh sel atau organisme
hidup. Proses osmoregulasi ini sangat diperlukan karena adanya perbedaan
konsentrasi cairan tubuh dengan lingkungan di sekitarnya. Jika sel menerima terlalu
banyak air maka ia akan menggembung dan pecah. Begitupun sebaliknya, jika terlalu
sedikit air, maka sel akan mengkerut dan mati. Osmoregulasi juga memiliki fungsi
ganda yaitu untuk membuang zat-zat yang tidak diperlukan oleh sel atau organisme
hidup. Osmoregulasi dapat dikatakan sebagai mekanisme pengontrolan keseimbangan
osmotik internal (H2O dan ion dalam tubuh organisme) dan lingkungan eksternal
(Kay, 1998).
Berdasarkan kemampuan adaptasi terhadap tingkat salinitas maka hewan air
dapat diklasifikasikan dalam stenohalin dan eurihalin. Stenohalin merupakan hewan
yang hanya mampu bertahan pada lingkungan salinitas yang sempit, sedangkan
eurihalin merupakan hewan yang mampu bertahan pada tingkat salinitas yang
beragam. Sintasan adalah istilah ilmiah yang menunjukkan tingkat kelulushidupan
(survival rate) dari suatu populasi dalam jangka waktu tertentu. Istilah ini biasanya
dipakai dalam konteks populasi individu muda yang harus bertahan hidup hingga siap
berkembang biak (Yuwono, 2006).
Sintasan adalah istilah ilmiah yang menunjukkan tingkat kelulushidupan dari
suatu populasi dalam jangka waktu tertentu. Istilah ini biasanya dipakai dalam
konteks populasi individu muda yang harus bertahan hidup hingga siap berkembang
biak. Percobaan sintasan ikan nila dan nilem dilakukan dengan perlakuan direct
transfer dan indirect transfer. Perlakuan direct transfer maksudnya adalah
pengukuran ikan nila dan nilem secara langsung, yaitu dimasukkan pada salinitas
yang diinginkan, sedangkan indirect secara tidak langsung atau bertahap dari salinitas
rendah ke salinitas tinggi. Perubahan salinitas lingkungan akan memicu mekanisme
osmoregulasi pada ikan yang berfungsi untuk menjaga osmolaritas plasma dan media
sesuai dengan keadaan lingkungan (Goenarso, 1989).
B. Tujuan

Tujuan praktikum kali ini adalah untuk mempelajari osmoregulasi pada hewan
eurihalin (hewan yang mampu hidup dalam perairan dengan salinitas yang cukup
luas) yaitu ikan Nila (Oreochromis sp.) serta hewan stenohialin yaitu ikan Nilem
(Osteochilus hasselti).
B. Pembahasan
Osmoregulasi adalah kemampuan organisme untuk mempertahankan
keseimbangan kadar dalam tubuh, didalam zat yang kadar garamnya berbeda.
Osmoregulasi adalah mekanisme pengaturan air dan ion dalam tubuh dengan sejumlah
mekanisme yang dilakukan untuk mengatasi problem osmotik dan mengatur perbedaan
diantara intra sel dan ekstra sel dan diantara ekstra sel dengan lingkungan secara
kolektif. Mekanisme osmoregulasi meliputi volume air, kandungan zat terlarut dan
distribusi zat terlarut. Makhluk hidup mempertahankan kekonstanan volume air dalam
tubuhnya melalui mekanisme dimana jumlah air yang masuk harus sama dengan jumlah
air yang keluar. ikan mempunyai tekanan osmotik yang berbeda dengan lingkungannya,
oleh karena itu ikan harus mencegah kelebihan air atau kekurangan air, agar proses-
proses fisiologis di dalam tubuhnya dapat berlangsung dengan normal. Pengaturan
tekanan osmotik cairan tubuh pada ikan ini disebut osmoregulasi (Fujaya, 2004).
Berdasarkan kemampuan adaptasi terhadap tingkat salinitas maka hewan air
dapat diklasifikasikan dalam stenohalin dan eurihalin. Stenohalin merupakan hewan
yang hanya mampu bertahan pada lingkungan salinitas yang sempit, sedangkan eurihalin
merupakan hewan yang mampu bertahan pada tingkat salinitas yang beragam. Sintasan
adalah istilah ilmiah yang menunjukkan tingkat kelulushidupan (survival rate) dari suatu
populasi dalam jangka waktu tertentu. Istilah ini biasanya dipakai dalam konteks
populasi individu muda yang harus bertahan hidup hingga siap berkembang biak
(Yuwono, 2006).
Berdasarkan kemampuannya bertahan hidup pada salinitas tertentu, maka hewan
dibagi menjadi hewan eurihalin dan stenohalin. Hewan eurihalin merupakan hewan yang
mampu bertahan hidup di lingkungan dengan fluktuasi osmolaritas eksternal yang sangat
besar. Hewan eurihalin juga dapat dikatakan sebagai hewan yang mampu hidup dalam
salinitas yang cukup luas. Contoh hewan eurihalin adalah ikan Salmon, ikan Sidat, ikan
Nila, dsb. Sedangkan hewan stenohalin merupakan hewan yang tidak dapat mentolerir
perubahan yang sangat besar dalam osmolaritas eksternal atau hewan yang hanya
mampu hidup dalam salinitas yang sempit. Contoh hewan stenohalin ialah ikan air tawar
seperti ikan Nilem, dsb (Susilo, 2010).
Berdasarkan konsentrasi osmotik, suatu cairan dapat dibedakan menjadi
hipoosmotik, isoosmotik dan hiperosmotik. Hipoosmotik adalah cairan yang konsentrasi
osmotiknya lebih rendah dibandingkan lingkungannya. Isoosmotik adalah cairan yang
konsentrasi osmotiknya sama dengan lingkungannya. Hiperosmotik adalah cairan yang
konsentrasi osmotiknya lebih tinggi dibandingkan lingkungannya (Susilo, 2010).
Hewan-hewan yang hidup di lingkungan air laut dapat bertahan pada media
yang memiliki kadar garam berbeda dan merupakan osmoregulator terbaik tergantung
kisaran garamnya. Kebanyakan hewan laut yang bercangkang keras bersifat isoosmotik
terhadap medium tempat hidupnya. Ketika konsentrasi medium berubah, maka tubuhnya
akan bereaksi terhadap perubahan tersebut, yaitu dengan membiarkan konsentrasi
osmotik tubuh bersesuaian dengan medium, sehingga hewan tersebut disebut
osmokonformer. Sedangkan yang mampu mengatur atau memelihara konsentrasi
osmotiknya pada tingkat tertentu, meskipun konsentrasi eksternalnya berubah, hewan ini
disebut osmoregulator (Olan & Ratsamee, 2010).
Kondisi hipertonik menyebabkan air bergerak masuk ke dalam tubuh dan ionion
keluar ke lingkungan dengan cara difusi. Ikan air tawar berosmoregulasi dengan cara
minum sedikit atau tidak minum sama sekali. Sedangkan pada kondisi hipotonik
menyebabkan air akan mengalir dari dalam tubuh ikan air laut ke lingkungannya secara
osmose melewati ginjal, insang, dan juga kulit. Sebaliknya, garam-garam akan masuk ke
dalam tubuh melalui proses difusi. Ikan air laut mempertahankan konsentrasi garam
dan air dalam tubuh dengan memperbanyak minum air laut dan melakukan
osmoregulasi. Proses osmoregulasi ikan membutuhkan energi yang cukup besar untuk
menyeimbangkan tekanan osmotic dalam tubuh maupun lingkungan sehingga energi
yang digunakan untuk pertumbuhan akan berkurang (Sitio et al.,2017)
Organisme harus melakukan penyesuaian diri dengan fluktuasi salinitas dengan
benar yang disetel dengan halus di tingkat seluler untuk mengkompensasi dan
mengendalikan fluks ion dan air lintas biologis membran. Jika terjadi peningkatan
salinitas lingkungan, osmolalitas media internal harus ditingkatkan (melalui penyerapan
atau sintesis osmolit) aktif untuk menghindari kehilangan air, dehidrasi, dan hilangnya
tekanan turgor, karena perubahan volume sel berpotensi menyebabkan denaturasi
protein pemecahan kapasitas pengaturan volume sel dan apoptosis berikutnya. Reaksi
yang berlawanan diamati dalam kasus tantangan hipotonik; mekanisme untuk
mengontrol fluks air menjadi sel meliputi: (1) penurunan permeabilitas membran
terhadap air, (2) perubahan konsentrasi efektor osmotik (asam amino dan ion organik)
untuk mengurangi internal osmolality, (3) perubahan dalam ekspresi saluran atau aktif
pembawa membran dan (4) produksi ammonia diantara yang lain (Ingraham et al.,
2017).
Faktor lingkungan yaitu salinitas sangat memengaruhi pertumbuhan. Semakin
tinggi salinitas maka aktivitas osmoregulasi ikan juga meningkat dan akan menyebabkan
ikan melakukan homeostatis untuk mempertahankan diri terhadap lingkungan
(Robisalmi et al.,2015). Salinitas yang lebih tinggi, ikan lebih banyak melakukan
transport aktif untuk mengeluarkan kelebihan Na+ sehingga membutuhkan energi yang
lebih tinggi. Sel yang berperan dalam proses osmoregulasi adalah sel chloride yang
terletak dilembaran-lembaran insang. Perlakuan salinitas yang lebih tinggi
membutuhkan energi yang lebih untuk melakukan aktivitas pemindahan ion Na+ melalui
transport aktif. Hal inilah yang menyebakan sumber energi lebih banyak digunakan
untuk proses osmoregulasi. Peningkatan salinitas dari perairan tawar ke perairan laut
akan berpengaruh terhadap mekanisme osmoregulasi ikan sidat untuk mempertahankan
konsentrasi osmotik tubuhnya yang membutuhkan energi (Lestari et al., 2017).
Ikan yang lebih besar mampu beradaptasi dengan salinitas yang tinggi dari pada
ikan kecil dan berpengaruh terhadap kinerja organ-organ dalam menjaga keseimbangan
osmoregulasi. Semakin tinggi tingkat salinitas yang diberikan, maka semakin berat
kinerja organ dalam menjaga keseimbangan osmoregulasi. Ikan air tawar yang
menghadapi salinitas yang lebih tinggi, cenderung mensekresikan air melalui ginjal
untuk mencapai keseimbangan (Firdausi et al., 2017).
DAFTAR PUSTAKA

Fujaya Y. 2004. Fisiologi Ikan (Dasar Pengembangan Teknologi Perikanan).


Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Ingraham, R., Lignot, J., & Georgina., 2017. Osmoregulation, Bioenergetics And
Oxidative Stress In Coastal Marine Invertebrates: Raising The Questions For
Future Research. Journal Of Experimental Biology, pp. 1749-1760.

Firdausi, A. P., Sukenda, & Nuryati, S., 2017. Efikasi Vaksinasi Pada Benih Ikan Nila
(Oreochromis Niloticus) Dengan Metode Infiltrasi Hiperosmotik Untuk
Mencegah Infeksi Streptococcus Agalactiae. Jurnal Veteriner, pp. 634-641.

Kay, I., 1998. Introduction To Animal Physiology. New York: Bios Scientific Publisher.
Lestari, S. N., Rachmawati, F. N., & Susilo, U., 2017. Perubahan Kadar Protein Dan
Status Lipostatik Ikan Sidat, Anguilla Bicolor, Stadia Silver Yang Dipelihara
Pada Salinitas Yang Berbeda. Scripta Biologica, pp. 41-45.

Olan, N. T, & Ratsamee, K., 2010. A Comparative Study On The Blood Osmolality Of
The Mud Crab (Scylla Serrata) And The Blue Swimming Crab (Portunus
Pelagicus) Exposed To Different Salinities: A Case Study For The Topic
“Osmotic Regulation” In High School Biology. Asian Journal Of Biology
Education 10 (4).
Robisalmi, A., Setyawan, P., & Gunadi, B., 2015. Evaluasi Respons Pertumbuhan Dan
Nilai Heritabilitas Ikan Nila Merah F-2 Hasil Seleksi Famili Pada Tambak
Bersalinitas Tinggi. Jurnal Riset Akuakultur, pp. 313-323.

Sitio, M. H., Jubaedah, D., & Syaifudin, M., 2017. Kelangsungan Hidup Dan
Pertumbuhan Benih Ikan Lele (Clarias Sp.) Pada Salinitas Media Yang Berbeda.
Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia, pp. 83-89.

Susilo, U.,& S. Sukmaningrum., 2010. Osmoregulasi Ikan Sidat Anguilla Bicolor


Mccelland Pada Media Dengan Salinitas Berbeda. Sains Akuatik pp. 111-119.
Yuwono, E., 2006. Fisiologi Hewan II. Purwokerto : UNSOED Press.