Anda di halaman 1dari 24

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisa SWOT Pasca Intervensi

4.1.1 Table Scoring SWOT

1. M1 (Man)
Faktor Strategi Internal (IFAS) Bobot Rating BxR SCORE
Strength
1. Jenis ketenagaan keperawatan total 15 0,3 4 1,2
dengan
a) S1 Keperawatan : 2 orang (13,4%)
b) DIII Keperawatan :13 orang (76,6%)

2. Jumlah tenaga perawat yang telah 0,4 4 1,6


mengikuti pelatihan
a) Patient savety : 3 orang,
b) pelatihan pelayanan prima :11 orang,
S-W=
c) pelatihan manajemen keperawatan : 13
3,7-4 =
orang,
-0,3
d) pelatihan rawat luka bedah : 1 orang
e) pelatihan BLS sebanyak : 15 orang.

3. Masa kerja tenaga keperawatan 0,3 3 9


a) Masa kerja > 20 tahun : 2 orang
b) Masa kerja 5-20 tahun : 8 orang
c) Masa kerja < 5 tahun : 5 orang

Total 1 3,7

Weaknesss Bobot Rating BxR


1. Jumlah tenaga perawat tidak sesuai dengan 0,5 4 2
tingkat ketergantungan pasien
2. Beberapa tindakan dilakukan tidak sesuai 0,5 4 2
dengan SOP
Total 1 4

Faktor Strategi Eksternal (EFAS) Bobot Rating BxR


Opportunity
1. Adanya kesempatan untuk melanjutkan 0,3 4 1,2
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi
2. Adanya kerja sama yang baik antar 0,2 3 0,6
mahasiswa fakultas keperawatan dengan
perawat klinik O-T=
3. Tersedianya perlengkapan dan peralatan 0,3 4 1,2 3,6-4 =
yang mendukung pekerjaan

42
43

4. Pemberian insentif tambahan atau suatu 0,2 3 0,6 -0,4


prestasi atau kerja ekstra
Total 1 3,6

Threat (T) Bobot Rating BxR


1. Terbatasnya tenaga keperawatan dengan 1 4 4
pendidikan S1
Total 1 4

2. M2 (Material)
Faktor Strategi Internal (IFAS) Bobot Rating BxR
Strength
1. Mempunyai sarana dan prasarana yang 0,2 4 0,8
memadai untuk pasien, tenaga kesehatan
dan keluarga pasien termasuk sarana dan
prasarana universal precaution untuk S-W=
perawat 3,8-3=
2. Terdapat administrasi penunjang (missal 0,3 4 1,2 0,8
: buku TT, buku visite,SOP) yang memadai
3. Tersedianya nurse station 0,2 4 1,2
4. Sudah terdapat tempat terpisah antara 0,2 3 0,6
linen infeksius dan non infeksius
Total 1 3,8

Weaknesss Bobot Rating BxR


1. Kurangnya kepatuhan keluarga pasien 1 3 3
menata alat bantu eliminasi untuk pasien
(pispot dan urinal)

Total 1 3

Faktor Strategi Eksternal (EFAS) Bobot Rating BxR


Opportunity
1. Adanya pengadaan sarana dan prasarana 1 3 3
yang rusak dari bagian pengadaan barang.
Total 1 3 O-T=
3-2,5=
Threat (T) Bobot Rating BxR 0,5
1. Kesenjangan antara jumlah pasien dengan 0,5 3 1,5
peralatan yang ada
2. Ada tuntutan tinggi dari masyarakat untuk 0,5 2 1
melengkapi sarana prasarana
Total 1 2,5

3. M3 (Method)
a. MAKP
Faktor Strategi Internal (IFAS) Bobot Rating BxR
Strength
1. Ruangan memiliki visi, misi, dan motto 0,2 3 0,6
sebagai acuan melaksanakan kegiatan
pelayanan.
44

2. Model asuhan keperawatan yang digunakan 0,2 2 0,4


di ruang imam bonjol adalah metode tim
3. Kepala ruang, kepala tim dan perawat 0,2 3 0,6
pelaksana mengetahui peran dan fungsi
masing-masing dalam menjalankan metode
tim S-W=
4. Terlaksananya Asuhan Keperawatan secara 0,2 2 0,4 2,4-2,0=
kontuinitas 0,4
5. Timbang terima sudah dilakukan dengan baik 0,2 2 0,4
sesuai SOP
Total 1 2,4

Weaknesss Bobot Rating BxR


1. Kurangnya jumlah tenaga yang membantu 0,6 2 1,2
optimalisasi penerapan model yang
digunakan
2. Ketua tim yang merangkap menjadi perawat 0,4 2 0,8
pelaksana
Total 1 2,0

Faktor Strategi Eksternal (EFAS) Bobot Rating BxR


Opportunity
1. Kepercayaan dari pasien dan masyarakat 0,3 3 0,9
cukup baik
2. Adanya mahasiswa praktik manajemen yang 0,4 4 1,6
menggunakan metode tim role play O-T=
3. Diperlukannya pelatihan dan seminar 0,3 3 0,9 3,7-3,0=
tentang menejemen keperawatan. 0,3
Total 1 3,7

Threat (T) Bobot Rating BxR


1. Metode Tim yang diterapkan di ruangan lain 0,4 3 1,2
memudahkan proses penanganan pasien
2. Masalah pasien tidak dapat teratasi dengan 0,3 3 0,9
baik
3. Persaingan dengan institusi kesehatan lain 0,3 3 0,9
semakin meningkat
Total 1 3,0

b. Sentralisasi obat
Faktor Strategi Internal (IFAS) Bobot Rating BxR
Strength
1. Pendokumentasian keluar masuknya obat 0,2 3 0,6
sudah optimal
2. Pembagian obat High Alert sudah optimal 0,3 3 0,9
3. Adanya lembar pendokumentasian obat yang 0,3 3 0,9 S-W
diterima disetiap status pasien (2,4-2,5) = -
Total 1 2,4 0,1
Weakness
1. Pelaksanaan tanda tangan untuk 0,5 2 1,0
pendokumentasian obat belum maksimal
45

2. Pemberian obat tanpa identitas yang sudah 0,5 2 1,0


lengkap
Total 1 2,0

Faktor Strategi Eksternal (EFAS) Bobot Rating BxR


Opportunity 1 3 3
1. Perawat memberi etiket kepemilikan
tentang penyimpanan obat
Total 1 3,0 O-T=
Treathened 3,0-2,4= 0,6
1. Makin tinggi kesalahan pemberian obat 0,4 3 1,2
2. Adanya pengajuan hukum karena 0,3 2 0,6
kesalahan yang kurang bukti
3. Adanya kelalaian pelaksanaan tanda 0,3 2 0,6
tangan
Total 1 2,4

c. Supervisi
INTERNAL FAKTOR (IFAS) Bobot Rating BxR
Strength
1. Supervisi telah dilaksanakan secara 0,5 4 2,0
rutin
2. Kepala ruangan mendukung dan 0,5 4 2,0 S-W
melaksanakan supervisi (4,0-3,0) =
1,0
Total 1 4,0
Weakness
1. Belum mempunyai format yang 1 3 3
terstruktur dalam pelaksanaan
supervisi
Total 1 3,0
EKTERNAL FAKTOR (EFAS) Bobot Rating BxR
Opportunity
1. Perbaikan dari hasil supervisi bisa 0,4 3 1,2
dijadikan pedoman pembelajaran bagi
praktik keperawatan
2. Adanya teguran dari kepala ruangan 0,3 2 0,6
bagi perawat yang tidak melaksanakan
O-T
tugas dengan baik
(2,7-3,0) = -
3. Hasil supervise bisa digunakan untuk 0,3 3 0,9
0,3
Daftar Penilaian Prestasi Pegawai
(DP3)
Total 1 2,7
Treathened
1. Makin turun tingkat kepedulian 0,5 3 1,5
terhadap pasien 0,5 3 1,5
2. Adanya pengaduan ketidaknyamanan
pasien terhadap mutu pelayanan
Total 3,0
46

d. Timbangterima
INTERNAL FAKTOR (IFAS) Bobot Rating BxR
Strength
1. Ada klarifikasi, tanya jawab, dan validasi 0,2 2 0,4
terhadap semua yang ditimbang terimakan
2. Semua perawat tahu hal-hal yang perlu 0,2 3 0,6
dipersiapkan dalam timbang terima
3. Timbang terima merupakan kegiatan rutin 0,3 3 0,9
yang telah dilaksanakan
S-W
4. Adanya buku khusus untuk pelaporan timbang 0,3 4 1,2
(3,1-2,5) =
terima 0,6
Total 1 3,1
Weakness
1. Kurang lengkapnya perawat yang 0,5 3 1,5
mengikuti timbang terima
2. Perawat dan petugas tidak 0,5 2 1
memperkenalkan diri saat timbang
terima
Total 1 2,5

EKTERNAL FAKTOR (EFAS) Bobot Rating BxR


Opportunity
1. Pelaksanaan timbang terima diikuti 0,6 3 1,8
semua perawat (dinas pagi maupun dinas
malam)
2. Sarana dan prasarana penunjang cukup 0,4 3 1,2 O-T
tersedia (3-2,4) = 0,6

Total 1 3
Treathened
1. Penurunan kualitas dan kuantitas 0,6 2 1,2
pelayanan perawat
2. Adanya penurunan tanggung jawab 0,4 3 1,2
perawat sebagai pemberi asuhan
keperawatan
Total 1 2,4

e. Discharge Planning
INTERNAL FAKTOR (IFAS) Bobot Rating BxR
Strength
1. Perawat menggunakan bahasa yang mudah 0,3 3 0,9
dipahami saat melakukan discharge
planning
2. Adanya surat kontrol berobat 0,3 3 0,9
3. Perawat memberikan pendidikan 0,4 4 1,6
kesehatan (KIE) kepada pasien atau
S-W
keluarga ketika akan pulang
47

Total 1 3,4 (3,4-2,8) = 0,6


Weakness
1. Tidak tersedianya brosur/leaflet 0,5 2 1,0
untuk pasien saat melakukan Discharge
planning
2. Pemberian pendidikan kesehatan (KIE) 0,3 4 1,2
dilakukan secara lisan pada setiap
pasien/keluarga dan tidak diberikan
leaflet
3. Belum optimal pendokumentasian 0,2 3 0,6
discharge planning
Total 1 2,8

EKTERNAL FAKTOR (EFAS) Bobot Rating BxR


Opportunity
1. Pembagian edukasi melalui 0,6 3 1,8
leaflet/brosur oleh perawat saat
pasien akan pulang
2. Adanya komunikasi yang efektif antara 0,4 3 1,2 O-T
pasien dan perawat (3,0-2,5) = 0,5

Total 1 3,0
Treathened
1. Makin tinggi risiko kekambuhan 0,5 3 1,5
2. Meningkatnya kesadaran masyarakat 0,5 2 1,0
tentang tanggung jawab dan tanggung
gugat perawat sebagai pemberi asuhan
keperawatan
Total 1 2,5

f. Ronde Keperawatan
INTERNAL FAKTOR (IFAS) Bobot Rating BxR
Strength
1. Ada SOP tentang ronde keperawatan 0,4 3 1,2
2. Perawat menggunakan bahasa yang dapat 0,3 2 0,6
dipahami
3. Adanya pembagian tugas yang jelas 0,3 2 0,6
dalam melakukan ronde keperawatan S-W
Total 1 2,4 (2,4-2,8) = -
Weakness 0,4
1. Kurangnya tenaga dan penyamaan waktu 0,3 3 0,9
dengan tenaga professional lainnya
2. Banyaknya kasus yang memerlukan 0,2 3 0,6
perhatian khusus
3. Ronde keperawatan belum dilakukan 0,2 2 0,4
secara optimal. Dilakukan kecuali
ketika ada praktikan manajemen
4. Ronde keperawatan tidak dilaksanakn 0,3 3 0,9
tiap 3 bulan
Total 1 2,8
48

EKTERNAL FAKTOR (EFAS) Bobot Rating BxR


Opportunity
1. Adanya kesempatan dari kepala ruangan 0,5 4 2
untuk mengadakan ronde keperawatan
pada mahasiswa praktik dan juga O-T
perawat yang ada diruangan (4-3,8) = 0,2
2. Ronde keperawatan dihadiri oleh semua 0,5 4 2
tenaga ahli
Total 1 4
Treathened
1. Semakin tingginya permintaan 0,6 3 1,8
pelayanan kesehatan akibat adanya
peningkatan lama perawatan pasien
2. Meningkatnya persaingan pelayanan 0,4 5 2,0
kesehatan dengan RS lain mengenai
ketepatan perawatan
Total 1 3,8

g. Dokumentasi Keperawatan Bobot Rating BxR


INTERNAL FAKTOR (IFAS)
Strength
1. Format asuhan keperawatan sudah ada 0,5 4 2,0
2. Tersedianya sarana dan prasarana 0,2 4 0,8
dokumentasi untuk tenaga kesehatan
(sarana administrassi penunjang )
3. Perawat mengerti cara pengisian format 0,3 3 0,9 S-W
(3,7-3,0) = 0,7
dokumentasi yang ada
Total 1 3,7
Weakness
0,6 3 1,8
1. Sistem pendokumentasian masih
dilakukan secara manual
2. Diagnosa keperawatan yang muncul 0,4 3 1,2
diprioritaskan hanya 1 diagnosa
Total 1 3,0
EKTERNAL FAKTOR (EFAS)
Opportunity
1. Peluang perawat untuk mendapatkan 0,4 4 1,6
pelatihan yang diadakan oleh mahasiswa
praktik untuk meningkatkan
pengetahuan perawat mengenai asuhan O-T
keperawatan (4,0-2,0) = 2
2. Sistem MAKP tim dipraktikkan oleh 0,6 4 2,4
mahasiswa praktik manajemen
keperawatan
Total 1 4,0
Treathened
1. Risiko adanya kelalaian/malpraktik 1 2 2,0
49

Total 1 2,0

4.M4 (Machine)
INTERNAL FAKTOR (IFAS) Bobot Rating BxR
Strength
1. Sudah adanya peraturan pemerintah pusat 0,3 3 0,9
maupun daerah
2. Sudah adanya kebijakan pimpinan RS 0,2 3 0,6
3. Sudah tersedianya SPO yang cukup lengkap 0,5 3 1,5 S-W
sebanyak 99 SPO (3-1,4) =2,6
Total 1 3

Weakness
1. Tercantumnya SPO di tempat tindakan 0,2 2 0,4
2. adanya aturan pemisahan linen infeksius 0,3 1 0,3
dan non infeksius di ruangan
3. adanya aturan penataan pispot 0,2 2 0,4
4. Keluarga pasien menggunakan kalung 0,3 1 0,3
penunggu
Total 1 1,4

EKTERNAL FAKTOR (EFAS) Bobot Rating BxR


Opportunity
1. Adanya akreditasi dan audit mutu 1 4 4

Total 1 4 O-T
Treathened 0,5 2 1 (4-2) =2
1. Pelayanan lebih maksimal

2. Resiko terjadinya human error berkurang 0,5 2 1

Total 1 2

5. M5 (Money)
Faktor Strategi Internal Bobot Rating Skor
Strength (Kekuatan)
1. Adanya dana dari pemerintah pusat maupun 0,4 4 1,6
daerah serta restribusi RS sesuai Perda
2. Ada penggajian yang sesuai UMR 0,3 4 1,2 S-W
3. Adanya pengadaan sesuai RBA 0,3 4 1,2 4-3= 1
Total 1 4

Faktor Strategi Internal Bobot Rating Skor


Weaknesss (Kelemahan)
Jasa insentif untuk pelayanan dan jasa medik 1 3 3
yang diberikan sama untuk semua perawat.
Total 1 3

Faktor Strategi Eksternal Bobot Rating Skor


50

Opportunity (O/Peluang)
Pengeluaran sebagian dibiayai oleh institusi 0,5 4 2
Adanya kesempatan untuk menggunakan alat 0,5 4 2
instrument medis dengan sterilisasi sehingga
menghemat pengeluaran
Total 1 4 O-T
4-3= 1
Threat (T/Ancaman)
Adanya tuntutan yang lebih tinggi dari 1 3 3
masyarakat untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan yang lebih professional sehingga
membutuhkan pendanaan yang lebih besar untuk
mendanai sarana prasarana.
Total 1 3

6. M6 (Mutu)
Faktor Strategi Internal Bobot Rating Skor
Strength (Kekuatan)
BOR di Ruang imam bonjol sebanyak 80,2% 0,2 3 0,6
ALOS di Ruang imam bonjol sebanyak 5,9 hari 0,2 3 0,6
TOI di Ruang imam bonjol sebanyak 1,49 hari 0,1 3 0,3
Kepuasan di ruang imam bonjol didapatkan 17 0,2 4 0,8
dari 33 pasien puas dalam pelayanan
Tidak ditemukan data kesalahan pemberian 0,3 4 1,2 S-W
obat (0%) pada pasien di Ruang Imam Bonjol. 3,5-3,5= 0
Total 1 3,5

Faktor Strategi Internal Bobot Rating Skor


Weaknesss (Kelemahan)
Selama role play didapatkan pasien yang 0,5 4 2
mengalami 5 plebitis di ruang Imam Bonjol.
Selama role play, terdapat 2 pasien yang 0,5 3 1,5
mengalami dekubitus karena pasien yang
tidak terkontrol mobilisasinya
Total 1 3,5

Faktor Strategi Eksternal


Opportunity (O)
Banyaknya pasien yang ingin berobat ke RS 1 4 4
Total 1 4
Threat (T) O-T
Adanya peningkatan standar masyarakat yang 0,5 3 1,5 3,5-4= -0,5
harus dipenuhi
Persaingan Rumah Sakit dalam memberikan 0,5 3 1,5
pelayanan keperawatan.
Total 1 3
4.1.2 Diagram Layang

50
51

ANALISA DATA DIAGRAM LAYANG POST INTERVENSI:

Dari hasil post intervensi yang sudah disimpulkan di diagram layang diatas
didapatkan hasil setelah dilakukan intervensi didapatkan pergeseran nilai pada
prioritas masalah yang sudah dipaparkan saat pengkajian, sebelum intervensi timbang
terima dan ronde keperawatan berada disebelah kuadran kiri atas (Turn Around) dimana
Turn Around adalah kelemahan yang masih bisa diperbaiki karena masih ada peluang
untuk meminimalisir masalah yang terjadi diruangan. Sedangkan yang berada disebelah
kuadran kiri bawah (Defensif) adalah aspek sarana prasarana.

a. Sarana (material) sebelumnya berada di kuadran kanan atas setelah post


intervensi tidak bergeser dari kuadran kanan atas (Agresif) dengan nilai
SW-OT (2,5 ; 0,5) karena setelah dilakukan intervensi tersedia stiker dan
tong pemilahan linen infeksius dan non infeksius serta adanya KIE kepada
keluarga pasien mengenai kebersihan lingkungan rumah sakit, yang dilakukan
pada tanggal 20-26 Februari 2018.

b. Prasarana (machine) sebelumnya berada di kuadran kiri bawah setelah post


intervensi bergeser ke kuadran kanan bawah (Diversifikasi) dengan nilai
(2,6 ; -0,6) karena setelah dilakukan intervensi tersedia banner dan
pemberian KIE kepada keluarga pasien berisi informasi tentang kepatuhan
penggunaan kalung penunggu, yang dilakukan tanggal 12-17 Februari 2018.

c. Timbang Terima sebelumnya berada di kuadran kiri atas setelah post


intervensi tidak bergeser ke kuadran kanan atas (Agresif) dengan nilai SW-
OT (-0,6 ; 0,2) karena setelah dilakukan intervensi tidak terjadi perubahan
dimana ketika dilakukan timbang terima anggota yang ikut serta tidak
lengkap dan hanya diwakilkan salah satu orang yang dilakukan selama
intervensi pada tanggal 12-17 Februari 2018.

d. Ronde keperawatan berada di kuadran kiri atas setelah post intervensi tidak
bergeser ke kuadran kanan atas (Agresif) dengan nilai SW-OT (-0,3 ;
0,4) karena setelah dilakukan intervensi tidak terjadi perubahan dimana
ronde keperawatan belum optimal dilakukan karena kegiatan ini sangat sulit
52

untuk menyamakan waktu ronde dengan tenaga medis lainnya dan juga
keterbatasan tenaga perawat yang ada, yang dilakukan selama intervensi
tanggal 12-17 Februari 2018.

4.2 Pembahasan Pre dan Post Intervensi

4.2.1 MATERIAL (M2)


Berdasarkan hasil pengkajian pada tanggal 5-7 Februari 2018
didapatkan hasil investaris alat keperawatan di ruang Imam Bonjol sudah
sesuai standar Depkes (2010). Namun, belum terdapat stiker atau tulisan
linen infeksius dan non infeksius di masing-masing tong linen hanya satu
yang menempel di dinding dan juga keterbatasan adanya tong linen. Sehingga
pemilahan antara linen infeksius dan non infeksius belum optimal dan
perlu tersedia sarana yang memadai untuk dilakukan pemilahan linen.
Selain itu, berdasarkan hasil pengkajian juga terdapat pispot yang
berserakan dibawah tempat tidur pasien dan tidak pada tempat pispot
seharusnya yaitu di rak. Rak pun penempatan pispot tidak tertata dengan
rapi.

Berdasarkan hasil kegiatan selama 6 hari dari tanggal 12 s.d 17


Februari 2018, tindakan pemilahan linen infksi dan non infeksi di ruang
Imam Bonjol terlaksana dengan efektif melalui pemasangan stiker atau
tulisan tentang pemilahan linen kotor infeksius dengan non infeksius.
Selain itu, untuk penempatan pispot yang berserakan dan juga menjaga
kebersihan lingkungan sekitar ruangan, pasien dan keluarga diberikan
penyuluhan mengenai pengembalian pispot pada tempatnya, larangan merokok
dan anjuran cuci tangan 6 langkah.

4.2.2 METHOD (M3)


53

1. Ronde Keperawatan
Tabel Pelaksanaan dan Evaluasi Ronde Keperawatan oleh Kelompok Manajemen
Keperawatan UMM 2016

Skor

Pelaksanaan
Kegiatan Uraian
Ronde

Ya Tidak

Persiapan Topik yang disajikan sudah tepat √

Sasaran klien sesuai rencana √

Dihadiri semua perawat √

Ketepatan penggunaan waktu √

Metode sesuai dengan rencana (nursing ronde) √

Pemanfaatan media secara tepat guna √

Total 83,3 %

Pelaksanaan Perawat bertanggung jawab mempersiapkan ronde √

Perawat penanggung jawab menjelaskan kondisi



klien

Ada diskusi antar anggota ronde tentang temuan



yang ada pada pasien

Menetapkan rencana yang perlu dilaksanakan



terkait dengan kondisi dan asuhan keperawatan

Melaksanakan tindakan sesuai dengan kondisi



pasien dan asuhan keperawatannya

Menetapkan tindak lanjut terkait kondisi



pasien dan asuhan keperawatannya

Mendokumentasikan hasil kegiatan ronde


keperawatan terkait dengan kondisi pasien dan √
asuhan keperawatannya

100 %

Post Melakukan evaluasi √

Melakukan rekomendasi intervensi keperawatan


Menyimpulkan hasil ronde


Melakukan penutup

54

75 %

Dari hasil tabel diatas menunjukkan bahwa pelaksanaan ronde


keperawatan di ruang Imam Bonjol telah dilakukan. Kegiatan ronde tersebut
sudah optimal dilakukan, ditunjukkan dengan pelaksanaan pre ronde
keperawatan sebesar 83 %, pelaksanaan ronde keperawatan sebesar 100 % dan
post ronde keperawatan sebesar 75 %. Selama kegiatan pre ronde keperawatan
tenaga medis lain datang terlambat tidak sesuai dengan undangan sehingga
penggunaan waktu dalam pembahasan kasusnya kurang optimal/terbatas. Pada
post pelaksanaan ronde keperawatan tim manajemen tidak bisa mengevaluasi
lebih lanjut kegiatan ronde keperawatan karena dibatasi oleh waktu yang
kurang mencukupi.

2. Timbang Terima
No Pertanyaan Ya Tidak Keterangan
1 Apakah timbang terima telah 
dilaksanakan tepat waktu ?
2 Apakah timbang terima dihadiri  Kurang lengkapnya
oleh semua perawat yang akan anggota perawat
bertugas ? ketika timbang
terima/operan
3 Siapa yang memimpin kegiatan
timbang terima ?
a. Kepala ruangan
b. Kepala tim 
4 Menyampaikan kondisi atau keadaan
umum klien 
5 Menyampaikan hal-hal penting yang
perlu ditindak lanjuti oleh dinas 
berikutnya
6 Tersusunnya rencana kerja untuk
dinas berikutnya 
7 Apakah ada buku khusus untuk
mencatat hasil laporan timbang 
terima ?
8 Apakah ada interaksi dengan
pasien saat timbang terima 
berlangsung ?
9 Meningkatkan kemampuan komunikasi 
antar perawat.
55

10 Operan dilakukan secara langsung 


(dengan melihat kondisi) dan
berkeliling ke semua pasien
11 Operan dilakukan tiap pergantian 
shift/jaga
12 Perawat fokus dengan timbang
terima yang sedang berlangsung 

Total 11 1
Presentase 91,7 % 8,3 %

Berdasarkan hasil tabel observasi diatas menunjukkan bahwa sebanyak


8,3 % timbang terima masih belum optimal dilakukan. Disebabkan kurang
lengkapnya tenaga perawat ketika operan berlangsung ke setiap pasien
karena perawat yang mengikuti operan hanya diwakili salah satu perawat
dinas sebelumnya sedangkan yang lainnya pulang.

Timbang terima yang diperankan dilaksanakan selama seminggu.


Pelaksanaannya dilakukan sebelum pres conferen dimulai dan setiap
pergantian shift dengan buku laporan operan yang berisi identitas pasien,
diagnosa penyakit, data fokus pasien, rencana tindakan yang akan
dilakukan (intervensi), tindakan yang sudah dilakukan dan yang belum
dilakukan.

3. SENTRALISASI OBAT
Berdasarkan hasil observasi di ruang Imam Bonjol, identifikasi
pasien saat pemberian injeksi obat maupun oral tanpa identitas lengkap
seperti nomor register. Sehingga berisiko terjadi kesalahan dalam
pemberian obat akibat tidak sesuai tindakan dengan SPO yang ada. Setelah
role play dilakukan selama seminggu pemberian obat di identifikasi
menggunakan label identitas pasien yang lengkap seperti nomor urut, nama,
dan no register. Hal ini mempermudah untuk pemberian obat tanpa adanya
risiko kesalahan pemberian obat.

4.2.3 MACHINE (M4)


Berdasarkan hasil pengkajian tanggal 5 s.d 7 Februari 2018
didapatkan di ruang Imam Bonjol sudah memiliki SPO cukup lengkap dan
56

memadai untuk setiap jenis tindakan. Hanya saja penempatan SPO yang tidak
mudah dijangkau oleh perawat ketika tindakan akan dilakukan. Sehingga SPO
tidak mudah dibaca oleh perawat yang akan melakukan tindakan ke pasien
karena penempatan SPO berada dilemari.
Selain itu, untuk peraturan penggunaan kalung penunggu bagi keluarga
pasien yang kurang ditaati. Kalung penunggu untuk setiap pasien maksimal
terdapat 2 buah kalung. Kalung penunggu tersebut kadang diletakkan
keluarga diatas meja pasien atau berada diruangan. Sehingga ketika
keluarga mengambil obat atau beraktivias selama di RS kalung tidak
digunakan.
Kepatuhan dalam melakukan tindakan keperawatan sesuai SPO harus
dilaksanakan dengan daftar SPO yang mudah dijangkau. Sehingga penempatan
SPO harus diletakkan ditempat yang terjangkau oleh tangan perawat dan
mudah dibaca ketika akan melakukan tindakan keperawatan. Penggunaan
kalung penunggu diberlakukan maksimal 2 kalung penunggu untuk 2 orang.
Kepatuhan penggunaan kalung penunggu bagi keluarga pasien harus
informasikan. Keluarga diberikan KIE melalui penyuluhan mengenai
kepatuhan menggunakan kalung penunggu selama berada di Rumah Sakit.
Penyuluhan ini mengumpulkan seluruh keluarga pasien dan dilakukan selama
1 hari dengan membahas mengenai kepentingan dan tujuan kalung penunggu.

4.2.4 MUTU PELAYANAN (M6)


Berdasarkan hasil observasi di ruang Imam Bonjol ditemukan sebanyak
5 pasien yang mengalami plebitis. Ditemukan tanda-tanda kemerahan
(inflamasi), adanya bengkak di area pemasangan infus, pasien kesakitan
ketika dilakukan injeksi obat. Ditemukan plebitis skala 3 dengan adanya
tanda-tanda nyeri, eritema, dan edema sebanyak 3 pasien kemudian ditemukan
plebitis skala 2 dengan tanda eritema, dengan atau tanpa adanya nyeri
sebanyak 2 pasien.
Untuk pasien yang mengalami dekubitus didapatkan sebanyak 3 pasien
di ruang Imam Bonjol. Klasifikasi dekubitus pada 3 pasien didapatkan
sebanyak 1 pasien mengalami dekubitus derajat 3 dengan munculnya tanda
57

nekrotik di jaringan kulit subkutan serta terdapat lubang yang menggerogoti


jaringan kulit. Sedangkan 2 pasien lainnya mengalami dekubitus derajat 2
dengan tanda munculnya luka seperti melepuh, jarngan kulit mulai kehiataman
dan belum terdapat lubang yang mengerong.

4.3 Rekomendasi untuk Ruangan

4.3.1 Penyediaan stiker dan tong pemilahan linen infeksius dan non infeksius
di Ruang Imam Bonjol
a. Rencana kegiatan
Stiker pemilahan linen infeksius dan non infeksius di ruang Imam Bonjol
sebelumnya sudah tersedia hanya tidak dibedakan antara yang infeksi dan
non infeksi. Selain itu, keterbatasan tong linen juga menjadi kendala
pemilahan linen. Penyediaan tong dan stiker pemilahan linen infeksius
dan non infeksius diberlakukan di ruang Imam Bonjol bertujuan untuk
mempermudah pemilahan linen antara yang infeksi (linen yang
terkontaminasi cairan darah, feses, urine, dan muntahan) dan yang non
infeksi (tidak terkontaminasi cairan darah, feses, urine, dan muntahan)
sehingga tidak bercampur menjadi satu dan dapat mencegah terjadinya
infeksi nosokomial.

b. Evaluasi
Evaluasi hasil implementasi berdasarkan prioritas masalah dilakukan
selama 6 hari, yaitu mulai tanggal 12 s.d 17 Februari 2018 didapatkan
hasil yaitu stiker tulisan linen infeksius hanya ada satu yang menempel
di dinding dan terdapat satu tong yang tidak ditempeli tulisan. Selama
melakukan implementasi manajemen di ruang Imam Bonjol, kami bekerjasama
dengan kepala ruangan untuk menyediakan stiker berupa tulisan linen
infeksius, linen non infeksius dan tong untuk linen sehingga pemilahan
linen dapat dibedakan berdasarkan tulisan yang sudah tersedia di masing-
masing tong linen.

c. Tindak lanjut
58

Untuk menindak lanjuti penyediaan stiker linen infeksius dan non


infeksius yaitu dengan menempelkan stiker berupa tulisan tempat linen
kotor infeksius dan non infeksius pada masing-masing tong.

4.3.2 Penyuluhan Kebersihan Lingkungan Rumah Sakit


a. Rencana kegiatan
Kebersihan lingkungan di Rumah Sakit mencakup tentang kerapian
penempatan pispot, kebersihan di sekitar pasien, larangan merokok di
Rumah Sakit, anjuran cuci tangan 6 langkah. Sebelumnya untuk penempatan
pispot di ruangan tidak tertata dengan rapi ada yang diletakkan dibawah
tempat tidur pasien bahkan berantakan di rak pispotnya, lingkungan
pasien kotor, kurangnya pengetahuan keluarga tentang cuci tangan 6
langkah. Penyediaan informasi dilakukan dengan memberikan penyuluhan
yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan keluarga mengenai
kebersihan lingkungan sekitar Rumah Sakit.

b. Evaluasi
Evaluasi hasil implementasi dilakukan antara tanggal 12 s.d 17 Februari
2018 yaitu penyuluhan mengenai kebersihan lingkungan di ruang Imam
Bonjol yang berisi materi kebersihan lingkungan pasien, larangan
merokok, anjuran cuci tangan 6 langkah. Keluarga pasien antusias dengan
penyuluhan yang diberikan karena membahas tentang kebersihan yang
menyangkut pasien.

d. Tindak lanjut
Pelaksanaan penyuluhan mengenai kebersihan lingkungan Rumah Sakit
dilakukan 1 hari dengan mengumpulkan keluarga pasien diruangan Imam
Bonjol Tim 1 sebagai peserta penyuluhan. Dipaparkan materi mengenai
kebersihan lingkungan mengenai cara cuci tangan 6 langkah, penempatan
pispot yang baik dan larangan merokok area RS

4.3.3 Pemberian label identitas lengkap pada pemberian obat


59

Pada pelaksanaan implementasi, pemberian label identitas saat


menyiapkan obat sudah dilakukan agar tidak ada risiko kesalahan dalam
pemberian obat. Pemberian obat injeksi maupun oral akan mudah diberikan
kepada pasien dengan mencocokkan gelang identitas yang digunakan pasien.
Selain itu, juga menanyakan kepada pasien apakah identitasnya sesuai dengan
gelang yang dipakai sehingga pelaksanaan 5 benar obat.
Pelaksanaan pemberian label identitas lengkap pada obat injeksi atau
oral ditempelkan pada spuit obat yang telah disiapkan agar meminimalisir
terjadinya kesalahan dalam pemberian obat. Dengan adanya pemberian label
identitas lengkap, pasien teridentifikasi dengan baik dan benar.

4.3.4 Pembuatan banner dan penyuluhan kepatuhan kalung penunggu


a. Rencana kegiatan
Penggunaan kalung penunggu pasien di ruang Imam Bonjol sering tidak
digunakan oleh keluarga pasien dikarenakan keluarga merasa kurang nyaman
saat menggunakannya serta seringnya lupa dan teledor. Sehingga
dibutuhkan informasi yang cukup untuk mengingatkan keluarga pasien agar
patuh dalam memakai kalung penunggu. Selain itu diberikan edukasi kepada
keluarga pasien untuk mengetahui pentingnya kalung penunggu. Adanya
informasi keharusan menggunakan kalung penunggu pasien dibuatlah banner
berisi informasi tentang kepatuhan memakai kalung penunggu pasien.
b. Evaluasi
Pembuatan banner yang berisi anjuran tentang kepatuhan penggunaan kalung
penunggu pasien di ruang Imam Bonjol, dibuat sesuai kerjasama dengan
kepala ruangan. Banner tersebut diletakkan di 2 tempat.
c. Tindak lanjut
Untuk menindak lanjuti penyediaan banner berisi anjuran tentang
kepatuhan penggunaan kalung penunggu pasien diletakkan di 2 tempat yaitu
di sisi kanan dan kiri dalam ruangan Imam Bonjol yang bisa dilihat oleh
para keluarga pasien.

4.3.5 Pelaksanaan kontrol plebitis


60

Pasien yang mengalami plebitis akan muncul tanda-tanda seperti


eritema, nyeri, edema dan panas di area plebitis serta pasien juga mengalami
gangguan rasa nyaman. Salah satu fungsi pemasangan infus adalah untuk
memberikan terapi intravena. Dan jika terjadi plebitis terapi yang diberikan
tidak bisa dimasukkan. Perlunya untuk memberikan penanganan atau tindakan
yang tepat untuk area yang mengalami plebitis.
Penanganan plebitis dilakukan dengan cara evaluasi berkala terhadap
infus yang terpasang, apakah terdapat tanda-tanda plebitis atau tidak, dan
jika sudah terjadi plebitis maka infus yang terpasang harus dilepas.
Kemudian di evaluasi area plebitis untuk menentukan tindakan yang akan
diberikan. Salah satunya dengan mengajarkan keluarga atau pasien untuk
mengompres air hangat area plebitis yang bertujuan untuk mengurangi tanda-
tanda gejala inflamasi.

4.3.6 Pelaksanaan rawat luka pada pasien dekubitus


Salah satu aspek utama dalam pemberian asuhan keperawatan adalah
mempertahankan integritas kulit. Intervensi keperawatan pada kulit yang
terencana dan konsisten merupakan intervensi terpenting untuk menjamin
perawatan yang berkualitas tinggi. Gangguan integritas kulit terjadi akibat
tekanan yang lama, iritasi kulit atau imobilisasi, sehingga menyebabkan
terjadinya dekubitus. Beberapa tahapan dalam penanganan luka dekubitus yaitu
dengan cara mengurangi tekanan pada luka, mempertahankan kondisi bersih di
area luka, dan pelaksanaan rawat luka secara berkala yang bertujuan untuk
mengurangi tingkat risiko terjadinya infeksi pada luka.
Pelaksanaan rawat luka dilakukan 2 hari sekali sesuai dengan keadaan
luka masing-masing pasien. Selain itu, keluarga pasien diberikan penyuluhan
disertai leaflet berisi informasi mengenai dekubitus. Dijelaskan juga cara
pencegahan serta perawatan jika pasien sudah terkena dekubitus atau belum.
Kemudian menganjurkan mobilisasi miring kanan dan kiri selama 2 sampai 4
jam sekali atau sesuai dengan kondisi dan kenyamanan pasien. Perawatan luka
dekubitus dilakukan terhadap 3 pasien yang memiliki derajat 3 sebanyak 1
orang dan derajat 2 sebanyak 2 pasien.
61

4.4 Evaluasi (Proses, Struktur, Hasil) dari Kegiatan Role Play (Timbang Terima
dan Ronde Keperawatan)
1) Timbang terima
a. Struktur
Pada timbang terima, sarana prasarana yang menunjang telah
tersedia antara lain: Lembar timbang terima, status klien, work sheet
dan alat tulis, serta kedua kelompok shift timbang terima. Kepala
ruangan seharusnya memimpin timbang terima yang dilaksanakan pada
pergantian shift yaitu malam ke pagi, pagi ke sore. Kegiatan timbang
terima pada shift sore ke malam dipimpin oleh perawat pelaksana yang
bertugas saat itu.

b. Proses
Proses timbang terima dipimpin oleh Karu dan diikuti oleh
seluruh perawat yang bertugas sebelumnya maupun yang akan ganti dinas.
Perawat pelaksana mengoperkan kepada Perawat pelaksana berikutnya yang
akan mengganti dinas. Timbang terima pertama dilakukan di Nurse Station
kemudian ke bed klien dan kembali lagi ke Nurse Station. Isi timbang
terima mencakup identitas klien, diagnosis keperawatan, intervensi
yang sudah dilakukan, intervensi yang belum dilakukan dan pesan khusus.
Setiap klien tidak lebih dari 5 menit saat klarifikasi ke pasien.

c. Hasil
1. Timbang terima dapat dilaksanakan setiap pergantian shift.
2. Setiap perawat dapat mengetahui perkembangan asuhan keperawatan
yang diberikan kepada masing - masing pasien
3. Komunikasi antar perawat berjalan dengan baik

2) Ronde Keperawatan

1. Struktur
a. Sudah ada organisasi ronde sesuai tupoksi.
b. Ronde keperawatan dilaksanakan di Ruang Imam Bonjol.
62

c. Sudah ada draft ronde.


d. Sudah ada pasien kelolaan dan keluarga.
e. Adanya kolaborasi antar profesional yang baik (gizi,
fisioterapi, psikologi, CCM).

Kendala
a. Draft dan undangan tertulis tidak diberikan H-1, namun undangan
lisan sudah disampaikan.
b. Tidak tepatnya waktu mulai pelaksanaan ronde.
c. Tidak ada presensi.
d. Wakaru tidak dapat hadir karena sedang mengikuti workshop
SENAR.
e. Apoteker tidak dapat hadir karena anaknya sakit.
f. Dosen dari kampus tidak dapat hadir karena ada acara di Batu.
2. Proses
a. Peserta mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir, namun
Psikolog datang terlambat oleh karena kesibukan menangani
pasien di klinik.
b. Seluruh peserta berperan aktif dalam kegiatan ronde sesuai
peran masing-masing.
3. Hasil
a. Pasien dan keluarga
 Pasien puas dengan hasil kegiatan dengan indikasi :
 Pasien banyak bertanya pada profesional.
 Pasien dan keluarga sudah memahami apa yang disampaikan.
 Kesanggupan pasien dan keluarga untuk mentaati apa yang
disampaikan.
 Pasien dan keluarga merasa dapat pencerahan dan sangat
berterimakasih.
63

 Masalah pasien dapat teratasi :


Diagnosa 1 : Pasien sudah bersedia melakukan cuci darah.
Diagnosa 2 : Pasien sudah memahami pembatasan asupan
cairan.
Diagnosa 3 : Pasien bisa mobilisasi mandiri, duduk dan
miring tanpa bantuan.
Diagnosa 4 : Anoreksia dan mual teratasi, karena diit pasien
habis 100%.
Diagnosa 5 : Krusakan integritas kulit tidak terjadi.
Diagnosa 6 : Ansietas berkurang, karena pasien paham
tentang penyakit dan sudah memahami dalam
terapi HD.
Diagnosa 7 : Kurang pengetahuan tertasi karena pasien
paham tentang penyakit dan perjalanan penyakit,
diit serta tindakan cuci darah.
b. Tim Ronde, memiliki pengalaman riil, sehingga dapat :
1) Menumbuhkan cara berfikir yang kritis dan sistematis
2) Meningkatkan kemampuan validitas data pasien
3) Meningkatkan kemampuan menentukan diagnosa keperawatan
4) Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang
berorietasi pada masalah pasien, seperti diit, dan kepatuhan
minum obat.
5) Meningkatkan kemampuan memodifikasi rencana asuhan keperawatan
seperti diit pada pasien dengan hemodialisa, serta jadwal
hemodialisa.
6) Meningkatkan kemampuan justifikasi, seperti ketaatan diit,
ketaatan terapi, ketaan melakukan tindakan hemodialisa, ketaatan
psikospiritual.
7) Meningkatkan kemampuan menilai hasil kerja: self assesement
64