Anda di halaman 1dari 10

Analisa Energi, Magnituda dan Kedalaman Gempa

Vulkanik Gunung Gede Periode Januari Hingga Mei


2021

PROPOSAL PENELITIAN

CALON PENERIMA BEASISWA MASTER


LEMBAGA PENGELOLA DANA PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI MAGISTER FISIKA


JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG


I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki sebaran gunung
api terbanyak di dunia. Gunung api tersebut 127 diantaranya merupakan
gunung api aktif yang siap untuk meletus sewaktu-waktu. Sebaran Gunung api
di Indonesia meliputi Pulau Sumatera, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara,
Kepulauan Banda, Sulawesi dan Kepulauan Sangir, dan Maluku. Beberapa
diantaranya telah masuk dalam catatan sejarah dunia karena letusannya yang
dahsyat, seperti Gunung api Tambora, Gunung api Merapi dan Gunung Api
Krakatau. Ancaman erupsi yang sewaktu-waktu bisa saja terjadi
mengakibatkan dilaksanakannya pemantauan gunung api aktif dengan berbagai
metode, seperti metode pengamatan gempa vulkanik.
Seismologi gunung api merupakan cabang ilmu seismologi yang khusus
mempelajari hubungan antara kegiatan vulkanik dan kegempaannya. Cabang
ilmu ini melihat aktifitas kegempaan melalui proyeksi sinyal yang dihasilkan
oleh kegiatan isi dalam gunung api. Gempa vulkanik merupakan salah satu
manifestasi yang tercatat di permukaan akibat kegiatan magma di dalam tubuh
gunungapi. Karena itu gejala ini digunakan sebagai dasar dalam penentuan
tingkat kegiatan gunung api.
Pemantauan aktifitas gunung api dilakukan pada beberapa cara yaitu
menggunakan GPS, EDM, Tiltmeter, seismogram, sensor gas dan sensor suhu.
GPS, EDM dan tiltmeter merupakan beberapa metode untuk mendeteksi
terjadinya deformasi dari tubuh gunung. Sensor gas untuk mendeteksi seberapa
besar rasio SO2, H2S dan CO2. Sensor suhu untuk mendeteksi kenaikan panas
pada kawah gunung. Sedangkan seismogram merekam aktifitas kegempaan dari
gunung api. Informasi yang didapat dari alat seismogram berupa proyeksi
gelombang pada kertas khusus dengan lebar amplitude tertentu. Biasanya data
tersebut akan disalurkan juga ke kantor pusat untuk dapat ditampung dan
dianalisa.
Gelombang seismik merupakan gelombang yang merefleksikan aktifitas
kegempaan dari gunung api yang aktif. Biasanya hal yang perlu untuk diamati
adalah bentuk gelombang yang dihasilkan, panjangnya durasi gempa, besarnya
amplitudo gelombang, rentang gelombang S dan gelombang P serta frekuensi
dan besarnya energi yang dikeluarkan. Dari semua aspek tersebut penulis
dapat mengidentifikasi jenis gempa yang terjadi pada suatu kejadian dan
seberapa aktif gunung api tersebut.
Gunung gede yang berlokasi di Provinsi Jawa Barat merupakan salah
satu gunung api yang masih aktif sehingga perlu dilakukan pengawasan.
Aktifitas kegempaannya mengalami perubahan yang cukup siginifikan sehingga
perlu dilakukan kajian secara lebih mendalam dan terfokus. Adanya gempa-
gempa vulkanik yang terekam di seismogram mengindikasikan terjadi
pergerakan magma pada tubuh gunung api dan menunjukkan potensi untuk
erupsi. Kajian mengenai hal tersebut cukup luas, namun penulis membatasi
pada “Analisa Energi, Magnituda, dan Kedalaman Hiposenter Gempa Vulkanik
Gunung Gede Periode Januari – Mei 2021”.

1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu, untuk mengetahui nilai energi,
magnituda, dan kedalaman gempa vulkanik Gunung Gede khususnya pada
bulan Januari sampai Mei tahun 2021.

1.3. Manfaat
Dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai
berikut:
1. Dapat membantu para ahli seismologi dalam mengindentifikasi aktifitas
kegempaan gunung api.
2. Menambah wawasan di bidang seismologi.
3. Melatih kemampuan dalam hal aplikasi teori ke dalam praktek.
II. LANDASAN TEORI

Profil Gunung Gede

Gambar 1. Gunung Gede.


(Anonim, 2013)
Gunung Gede merupakan gunung api strato tipe A yang terletak di
kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur. Posisi geografis Gunung Gede berada
pada 6047’ LS dan 106059’ BT. Erupsi G.Gede pertama kali terjadi pada tahun
1747-1748. Erupsi-erupsi G. Gede selanjutnya yang tercatat dalam sejarah
terjadi pada tahun 1761,1832, 1840, 1843, 1845, 1847, 1848, 1852, 1853,
1866, 1870, 1885, 1886, 1887, 1890, 1891, 1899, 1900, 1909, 1946, 1947,
1948, 1949, 1955, 1956, 1957. Rinciannya dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Sejarah Letusan Gunung Gede.
Tahun Keterangan
1747-1748 Pada periode ini terjadi erupsi besar dan menghancurkan
1761 Erupsi kecil yang menghasilkan sedikit abu.
1832 Pada tanggal 29 Agustus, awan panas mengepul dari kawah
dan menyebabkan hujan abu deras pada pukul 11.00-12.00.
Abu vulkanik sangat halus dan berwarna kehitam-hitaman dan
berhembus kearah Jakarta (Betawi).
1840 Terjadi beberapa kali erupsi besar
Tanggal 12 november pukul 03.00 WIB, terjadi erupsi besar
dan abu letusan mencapai daerah Bogor.
Tanggal 14 november, abu letusan tertiup angin sejauh lebih
kurang 20 km.
Tanggal 22 november pukul 01.00 WIB, bumi berguncang dan
terdengar suara keras selama asap dan material vulkanik
dimuntahkan.
Pada tanggal 1 Desember pukul 06.00 WIB, terjadi erupsi
paroksisma, tiang api mencapai ketinggian lebih kurang 200 m
dari tepi kawah. Kolom asap mencapai ketinggian lebih kurang
2000 m.
Pada tanggal 3 dan 11 Desember terjadi erupsi yang serupa
dengan erupsi pada tanggal 1 Desember, yang kemudian
disusul dengan hujan abu.
1843 Pada tanggal 28 Juli, pukul 23.30 terjadi hujan abu tipis.
1845 Tanggal 23 januari pukul 10.30 wib , tampak kolom asap
bergerak naik dari kawah dan disertai dengan suara gemuruh.
Kejadian yang sama terjadi kembali pada tanggal 5 maret 22.30
1847 Tanggal 17-18 Oktober, malam hari, terjadi hujan bau tipis di
Bogor
1848 Tanggal 8 mei, di pagi hari ttiba-tiba muncul tiang asap tebal di
kawah gede
1852 28 mei abu dan batu berdiameter 2 dan 12 kaki dalam jumlah
besar dilontarkan dari puncak G. Gede.
1853 14 maret antara pukul 07.00-09.00 tiang awan membumbung
1866 18 september terjadi hujan abu
1870 Tanggal 29 agustus – 30 september teramati bara api dan asap
sangat tinggi. 3 Oktober pukul 09.45 terdengar ledakan kuat
1885 Suara gemuruh terjadi pada bulan Januari dan Februari
1886 10 Juni – 16 Agustus terjadi ledakan dan dentuman serta
hujan abu
1887 Tanggal 22 Oktober
1888-1889 Tanggal tidak diketahui
1891 Tanggal tidak diketahui
1899 1- 14 Mei Suara Gemuruh dan sinar api di waktu malam
1900 Suara Gemuruh
1909 Tanggal 2 Mei, hujan abu dan suara gemuruh. Merupakan
erupsi yang terjadi di kawah pusat
1946 19-20 Desember tampak asap membumbung dari kawah ratu
1947 Tanggal 2 september terjadi erupsi kecil dari kawah ratu
27 september terjadi hujan abu tipis, pada pukul 09.00 dan
09.30 kolom letusan setinggi lk. 50 m
17 Oktober pukul 20.30, 20.40, dan 21.00 terjadi erupsi
pendek
1 November pukul 13.40 terjadi erupsi pendek
15 november pukul 12.15 terjadi erupsi pendek
28 november pukul 11.25 terjadi erupsi selama 2-3 menit
30 november pukul 21.27 terjadi erupsi selama 2-3 menit
1948 8 januari pukul 00.20 terjadi erupsi selama 3 menit disertai
semburan pasir dan lapilli
11 januari pukul 21.50 terjadi erupsi selama 20 detik
17 januari pukul 15.45 terjadi erupsi pendek
1949 Tanggal 17 januari dan 5 februari, terjadi erupsi kecil dari
kawah pusat
1955 Pada tanggal 2 agustus pukul 00.20 tampak asap hitam pekat
dan tebal menyembur setinggi 300-400 m.
1956 28 April pukul 07.00, tampak awan abu tebal berwarna hitam
disertai dengan sinar dan berlangsung selama setngah jam
1957 13 maret pukul 19.14 – 19.16 terjadi erupsi disertai gemuruh
dengan tinggi kolom erupsi lk 3m dari bibir kawah
1972 Pada bulan juli, kawah lanang mengeluarkan asap putih agak
tebal berbau belerang dan bersuara mendesis. Lokasi tembusan
gas vulkanik telah bergeser sekitar 10 m

Gunung Gede umumnya memiliki erupsi yang kecil dan singkat, kecuali erupsi
yang terjadi pada tahun 1747-1748 yang mengeluarkan aliran lava dari
Kawahlarang. Umumnya hanya mengeluarkan abu atau pasir halus. Periode
erupsi terpendek selama kurang dari satu tahun dan yang terpanjang selama 71
tahun (Kunrat, dkk., 2013).
Pengamatan aktifitas Gunung Gede telah dilakukan sejak tahun 1985.
Pengamatan tersebut dilakukan dari pos pengamatan gunung api dengan
menggunakan seismograf analog PS-2 Kinemetrik dengan lokasi seismometer
berada di lereng barat-laut dan berjarak 4 km dari puncak. Secara geografis,
seismometer ini terletak pada 6045’36,72’’ LS dan 107000’19,44’’ BT pada
ketinggian 1629 mdpl. Selain secara permanen, pemantauan aktifitas
kegempaan dilakukan pula secara temporer dengan tujuan untuk mengetahui
secara pasti hiposenter gempa dan mekanismenya Hiposenter gempa
terkonsentrasi antara puncak gunung Gede dan gunung Pangrango, merupakan
kelurusan struktur sesar. Kedalaman gempa kira-kira antara 1 – 5 km dari
puncak. Ini menggambarkan bahwa kegempaan berasal dari gerakan sesar
normal dengan arah bidang sesar NE – SW dan kemiringannya sekitar
80°.(Octavia,2017).
Selain pengamatan kegempaan, metoda penyelidikan geofisika lain
yang telah dilakukan di Gunung Gede, yaitu metoda gaya berat. Hasil
penyelidikan gaya berat (Tatang Yohana dkk., 1992) memperlihatkan, bahwa
berdasarkan peta anomali regional, peta anomali bouguer, peta anomali
residual (sisa), disimpulkan bahwa terlihat adanya kecenderungan arah
struktur yang berarah baratdaya – timurlaut, massa jenis batuan ke arah
puncak semakin kecil dan dari peta residual pola struktur terlihat jelas
berarah barat– timur.

Magnituda
Magnituda adalah besaran absolut suatu gempa, sekalipun gempa
tersebut tidak terasa. Magnituda gempa mencerminkan besarnya energi yang
dilepaskan pada proses patahan didalam kulit bumi. Besaran ini akan bernilai
sama, meskipun dihitung dari tempat yang berbeda. Skala yang umum
digunakan untuk menyatakan magnituda gempa yaitu skala Richter. Dalam
pengertian internasional, harga magnituda suatu gempa dihitung dengan
menggunakan skala Richter (Suryani, 2003).
Magnituda gempa erat kaitannya dengan jumlah energi total seismik
yang dilepaskan gempa bumi. Hal itu berlaku selama semua energi total seismik
ditransfer dalam bentuk energi gelombang. Karena tidak semua energi gempa
ditransfer dalam bentuk energi gelombang, maka pada dasarnya magnituda
merupakan karakteristik dari jumlah total energi gelombang elastik. Sehingga
magnitude hanya merupakan harga karakteristik untuk menggambarkan energi
gelombang (Situngkir,1997).
Secara umum, magnituda dapat dihitung menggunakan persamaan
berikut:
M = log + ( )

dimana:
M adalah magnitudo (dalam Skala Richter)
a adalah amplitudo gerakan tanah (dalam mikrometer)
T adalah periode gelombang (dalam sekon)
adalah jarak pusat gempa atau episenter (dalam meter)
adalah kedalaman gempa (dalam meter)
dan adalah faktor koreksi yang bergantung pada kondisi lokal dan
regional daerahnya.
Menurut Sapiie (2012), kuatnya sinyal gelombang yang bervariasi yang
tergantung dari banyak faktor mendasari dibuatnya skala logaritmik. Sehingga
jika magnituda 1 mengindikasikan kelipatan 10 atau amplitude gelombang 10
kali lebih besar. Selanjutnya magnitude 2 diindikasikan menjadi sepuluh kali
lebih besar dan magnituda 3 berarti seratus kali.
Selain Skala Richter diatas, terdapat beberapa definisi magnitudo yang
dikenal dalam kajian gempa bumi yakni,MS yang diperkenalkan oleh Guttenberg
dengan menggunakan fase gelombang permukaan gelombang Rayleigh, serta m b
(body waves magnitudo) yang diukur berdasarkan amplitudo gelombang badan,
baik P maupun S.
Perhitungan magnituda gempa lokal juga telah dikembangkan oleh
Tsumuara (1967) maupun Lee, dkk (1972) dengan menggunakan variabel durasi
gempa. Metode ini digunakan agar dapat menghindari kesalahan yang
disebabkan oleh amplituda gempa yang melewati batas maksimum kemampuan
simpangan jarum galvanometernya, sehingga diperoleh persamaan seperti di
bawah ini:
M = a + b log (T) + c∆
dimana a, b dan c adalah konstanta.
Berdasarkan hasil rekaman gempa pada suatu stasiun, Lee, dkk (1972)
memperoleh nilai magnituda yang dapat disetarakan dengan skala Richter,
yakni:
M = -0.87 + 2 log (T) + 0.0035∆
dengan mengabaikan nilai konstanta dari jarak pusat gempa yang
sangat kecil.
Siswowidjojo dalam pengamatannya pada Gunung Lawu (1979) juga
memperoleh hal yang sama, yaitu:
M = -1.45 + 1.91 log (T)

Energi
Kekuatan gempa di sumbernya dapat juga diukur dari energi total yang
dilepaskan oleh gempa tersebut. Energi yang dilepaskan oleh gempa biasanya
dihitung dengan mengintegralkan energi gelombang keseluruh komponen ruang
dan waktu yang dilewati oleh gelombang. Berdasarkan perhitungan energi dan
magnitudo yang pernah dilakukan, magnituda dan energi memiliki hubungan
yang sederhana dari persamaan Gutenberg-Richter, seperti di bawah ini:
Log E = 4.8 + 1.5 M
dimana: E adalah energi (Joule) dan M adalah magnitudo (dalam skala Richter)
(Shearer, 2009).

Kedalaman Gempa Vulkanik


Penentuan kedalaman dari gempa vulkanik dilakukan untuk
mengidentifikasi sebaran gempa yang terjadi dibawah permukaan. Selain itu,
data dari kedalaman gempa vulkanik memberikan gambaran bagaimana
aktifitas desakan magma untuk membuat celah baru. Menurut Suryani (2003),
metode yang digunakan biasanya adalah metode Lokus. Metode ini
membutuhkan informasi cepat rambat gelombang P dan S serta waktu tiba
gelombang P dan S. Tetapi karena cepat rambat gelombang tergantung pada
jenis sebuah gempa, maka kedua aspek Vp dan Vs dapat dianggap sebagai
sebuah konstanta K. Sehingga dapat disederhanakan rumusnya menjadi :
( )
Dimana K merupakan koefisien jarak. Harga k akan sama dengan anggapan
bahwa gelombang merambat melalui medium homogen isotropis.
Informasi yang diperlukan untuk mendapatkan nilai D adalah selisih
waktu tiba gelombang longitudinal (P) dan gelombang transversal (S) dari data
hasil rekaman gempa yang terekam pada tiap stasiun seismograph. Selisih
waktu rambat kedua gelombang (S-P) akan terus bertambah sebanding dengan
pertambahan jarak tempuh (D) kedua gelombang tersebut. Sehingga dapat
dikatakan bahawa hubungan antara nilai D dan S-P adalah berbanding lurus
(Situngkir, 1997).
III. METODELOGI PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan di Institute Teknologi Bandung. Waktu
penelitian ini dalam pengambilan data dilakukan selama 5 bulan dari tanggal 1
Januari – 30 Maret 2021.

3.2. Alat dan Bahan


Penelitian ini menggunakan peralatan dan bahan berupa software
swarm origin, GAD, gloal mapper dan data seismic gunung gede.
3.3 Prosedur Penelitian
Adapun prosedur penelitian yaitu:
1. Pengambilan data seismic digital dari PVMBG
2. Buka aplikasi swarm input data seismic digital dalam format SAC.
3. Picking data gempa vulkanik gunung gede
4. Tentukan waktu tiba gelombang p dan waktu tiba gelombang s serta
durasinya
5. Tentukan banyak gempa yang terjadi persatu bulan dan buat grafik
menggunakan origin
6. Input data waktu tiba gelombang p dan waktu tiba gelombang s serta
durasinya kedalam excel untuk mencari nilai magnitude, energy
gempa, dan sebaran gempa vulkanik.
7. Analisis nilai magnitude, energy gempa dan kedalaman gempa

3.4 Pengolahan Data dan Analisia Data


Menganalisis gelombang p dan gelombang s untuk mencari nilai
magnitude, energy gempa dan sebaran gempa.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2013. Gunung Gede. http://www.vsi.esdm.go.id/index.php/gunungapi


/data-dasar gunungapi/212-g-gede. Diakses pada tanggal 24 Mei 2019
pukul 10:30 WIB.
Lee et al., 1972. Lee, W.H., Bennett, R.E., Meagher, K.L. 1972. A Method of
Estimating Magnitude of local earthquakes from signal duration. U.S.
Geological Survey Open-File Report, p. 28.
Octavia, Indah Sasmita. 2017. Analisa b-value Gempa Vulkanik Gunung Api
Gede Periode Januari 2015 Hingganovember 2016 Dan Penentuan Lokasi
Hiposenter Gempa Vulkanik Gunung Guntur (Periode 1-15 Oktober 2013
Dan November 2013) Dengan Metode Geiger’s Adaptive Damping. Laporan
Kerja Praktek. Yogyakarta : UNiversitas Gadjah Mada.
Sapiie, Benyamin., Magetsari, Noer Aziz., Harsolumakso, Agus Handoyo dan
Abdullah, Chalid Idham. 2012. GL 2011 Geologi Dasar. Bandung :
Penerbit ITB.
Shearer, P, M. 2009. Introduction to Seismology. New York: America by
Cambridge University Press
Siswowidjojo, S., dan Suratman . 1981. Seismologi Gunungapi: Sistem
Pengamatan, Analisa Gempa dan Hubungannya dengan Tingkat Kegiatan
Gunungapi. Bandung: Subdirektorat Pengamatan Gunungapi Direktorat
Vulkanologi
Situngkir, Kapner. 1997. Analisis Magnituda dan Energi Gunung Awu Di
Kepulauan Sangir Talaud, Sulawesi Utara Tahun 1994 Sampai Tahun
1996. Laporan Kerja Praktek. Bandung : Universitas Padjajaran.
Suryani, Elis. 2003. Karakteristik Gempa Vulkanik Gunung Tangkuban Parahu
Berdasarkan Distribusi Kedalaman Hiposenter, Magnituda, Energi dan
Faktor b (Data Kegempaan Tahun 1999-2002). Laporan Tugas Akhir.
Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia.
Tatang Yohana, Sugiyo dan Cahyadi, 1992, Laporan Penyelidikan Gayaberat
(Gravity) G. Gede, Juli – Agustus 1992, Direktorat Vulkanologi.

Tsumura, 1967. K. Tsumura Determination of earthquake magnitude from total


duration of oscillation Bull. Earthquake Res. Inst. Tokyo, 45 (1967), pp. 7-
18.