Anda di halaman 1dari 3

Setiap RPNJM menjelaskan visi, misi, dan program-program dari Presiden, yang

formulasinya didasarkan pada RPNJM dan terdiri dari strategi pembangunan nasional,
kebijakan-kebijakan umum, program-program dari masing-masing kementerian/
departemen/badan, dan program-program lintas kementerian/departemen/badan,
progam-program regional dan lintas regional, dan juga kerangka kerja ekonomi makro,
yang meliputi situasi ekonomi secara keseluruhan, termasuk arah dari kebijakan fiskal,
dalam sebuah rencana kerja yang terdiri atas kerangka kerja regulasi dan pendanaan.
Setiap RPNJM membentuk basis bagi semua kementerian dan lembaga/badan
pemerintah non-departemen dalam memformulasikan rencana-rencana strategi (Renstra)
mereka masing-masing. Semua pemda juga harus mempertimbangkan RPNJM yang
berjalan sebagai arahan saat menyusun atau menyesuaikan rencana-rencana
pembangunan regional mereka untuk mencapai target-target pembangunan nasional.
Untuk implementasi dari RPNJM 2005-2025, RPNJM dielaborasi lebih lanjut ke dalam
Rencana Kerja Pemerintah Tahunan (RKPT) yang akan menjadi dasar untuk menyusun
rencana anggaran pendapatan dan belanja negara (RAPBN).

Saat ini sedang berjalan RPNJM 2010-2014. Seperti RPNJM 2004-2009


sebelumnya, RPNJM 2010-2014 juga dibagi ke dalam tiga strategi pembangunan
ekonomi, yaitu strategi ‘pro pertumbuhan’, strategi ‘pro kesempatan kerja’, dan strategi
‘pro miskin’. Melalui strategi ‘pro pertumbuhan’, yang sebenarnya sudah diterapkan
sejak awal era orde baru, laju pertumbuhan ekonomi nasional terus tumbuh positif
(terkecuali pada tahun 1998 sempat negatif saat Indonesia dihantam krisis keuangan
Asia), dengan didampingi oleh distribusi pendapatan yang membaik (pendapatan
dengan pemerataan); walaupun sejak reformasi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia
belum pernah mencapai setinggi yang pernah terjadi pada era Soeharto. RPNJM 2010-
2014 punya 14 prioritas nasional, sejumlah prioritas regional, yakni Sumatera, Jawa-
Bali, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua, dan prioritas-prioritas
bidang yang terdiri atas sosial-budaya, ekonomi, iptek, infrastruktur, politik, pertahanan
dan keamanan, hukum dan aparatur negara, wilayah dan spasial, serta SDA dan
lingkungan.

Strategi pembangunan fundamental kedua adalah bahwa dalam kerangka kerja


dari pembangunan untuk semua orang, konsekuensi dari pembangunan Indonesia harus
punya sebuah dimensi wilayah. Ini artinya, setiap provinsi, setiap kabupaten dan kota,
dan bahkan setiap kacamatan merupakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia,
yang harus mengkapitalisasi semua potensi yang dimiliki setiap wilayah (provinsi,
kabupaten/kota, dan kecamatan), apakah itu SDA, SDM, atau lokasinya yang strategis.
Ini adalah alasan kenapa pemerintah Indonesia selama ini sangat serius mengajak atau
menyemangati semua wilayah di perbatasan untuk memanfaatkan peluang-peluang yang
muncul dari kerja sama pembangunan wilayah antara Indonesia dengan negara-negara
tetangga dalam berbagai konteks, seperti dalam konteks IMT-GT dan dalam konteks
BIMP-EAGA, dan juga peluang-peluang yang ada dari kerja Indonesia dengan Australia
dan Timor Leste. Diterapkannya strategi pembangunan ekonomi dengan dimensi
wilayah juga menandai bahwa pemerintah terus menstimulasi setiap wilayah di tanah air
untuk memperkuat keunggulan-keunggulan kompetitif mereka. Namun demikian,
keseimbangan antarwilayah harus juga di jaga, agar kesenjangan antara provinsi, atau
kesenjangan antarkabupaten atau kota di dalam sebuah provinsi bisa dicegah.

Strategi pembangunan fundamental ketiga adalah untuk menciptakan sebuah


ekonomi nasional terintegrasi di dalam era globalisasi. Oleh karena Indonesia adalah
sebuah ekonomi terbuka, maka pembangunan ekonomi nasional tidak bisa dilaksanakan
dalam sebuah kevakuman. Lagi pula, Indonesia adalah anggota dari banyak kelompok
ekonomi regional yang pro liberalisasi perdagangan internasional, seperti ASEAN dan
APEC, dan juga anggota dari banyak lembaga dunia yang juga pro perdagangan bebas
dunia, seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Ini artinya ekonomi Indonesia
berhubungan dengan ekonomi global, dan Indonesia punya komitmen penuh untuk
mengeliminasi semua hambatan-hambatan perdagangan antara Indonesia dengan dunia,
tetapi pada waktu bersamaan, Indonesia harus memanfaatkan hubungannya dengan
ekonomi dunia untuk mendapatkan keuntungan semaksimum mungkin bagi masyarakat
Indonesia. Dalam perkataan lain, Indonesia harus memanfaatkan kesempatan-
kesempatan yang muncul di dalam era globalisasi, sementara pada waktu bersamaan,
melindungi dari dampak-dampak negatifnya.

Strategi pembangunan fundamental keempat, yang juga menjadi satu dari kunci-
kunci keberhasilan dari proses pembangunan untuk semuanya adalah pembangunan
ekonomi lokal di setiap wilayah (provinsi dan kabupaten dan kota), dengan maksud
mengembangkan sebuah ekonomi domestik yang kuat secara nasional, yang artinya
tidak ada provinsi-provinsi di mana tingkat pembangunannya rendah atau kabupaten
dan kota yang terbelakang di sebuah provinsi. Sebuah ekonomi domestik yang kokoh
adalah aset utama bagi sebuah negara untuk bisa unggul atau paling tidak bertahan di
dalam desakan yang semakin kuat dari globalisasi. Pelajaran-pelajaran yang Indonesia
dapat dari krisis ekonomi global selama periode 2008-2009 adalah fakta bahwa negara-
negara yang mampu menghadapi resesi ekonomi global atau bisa bertahan selama resesi
terjadi adalah negara-negara dengan sebuah ekonomi domestik yang kuat. Lebih lanjut,
sebuah ekonomi domestik yang kuat juga menjamin kemampuannya memenuhi semua
kebutuhan dasarnya (mandiri). Ini merupakan sebuah alasan kenapa penguatan kembali
hubungan-hubungan antarwilayah menjadisebuah keharusan. Untuk mencapai ini
pemda dan pemerintah pusat terus meningkatkan kualitas dan kuantitas infrastruktur,
khususnya dalam bentuk fisik.

Selama periode 2004-2009, Indonesia berhasil, di antara pencapaian-pencapaian


lainnya, menyelesaikan pembangunan jembatan penyeberangan yang menghubungi
pulau Jawa dengan pulau Madura. Dengan adanya jembatan itu, hubungan antara kedua
pulau tersebut diharapkan menjadi lebih lancar dan volumenya lebih besar, dan, paling
tidak termasuk tingkat kesejahteraan penduduknya. Setiap kasus Madura ini, Indonesia
juga merencanakan akan membangun jembatan yang akan menghubungkan pulau Jawa
dan pulau Sumatera. Apabila rencana ini bisa terlaksana, maka distribusi dari
keuntungan-kruntungan dari pembanguann ekonomi nasional yang selama ini
terkonsentrasi di Jawa bisa lebih baik tersebar ke Sumatera. Sama juga, Indonesia akan
terus menyelesaikan pembangunan trans Kalimantan, trans Sulawesi, dan trans Papua.

Selain meningkatkan hubungan-hubungan secara fisik, pemerintah juga


membangun hubungan-hubungan antarwilayah dalam bentuk-bentuk fungsional.
Pemerintah terus menstimulasi produk-produk dari sebuah provinsi untuk lebih mudah
digunakan sebagai bahan-bahan dasar di provinsi-provinsi lainnya, atau untuk
digunakan sebagai produk-produk akhir bagi kebutuhan konsumen di provinsi-provinsi
lain. Untuk maksud ini, pemerintah pusat dan sejumlah Pemda sudah melakukan upaya-
upaya secara serius selama ini untuk meminimalkan atau menghilangkan hambatan-
hambatan perdagangan antarwilayah di dalam negeri, seperti pungutan-pungutan dalam
melakukan perdagangan tersebut, khususnya pungutan-pungutan tidak resmi yang
selama ini terbukti sangat menghambat kegiatan-kegiatan investasi di daerah.