Anda di halaman 1dari 8

TELAAH KHASUS GAYUS TAMBUANAN

DISUSUN OLEH :

ENOS LINDU KAMBOMBU


1317035

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM

FAKULTAS ILMU-ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS KRISTEN WIRA WACANA SUMBA

TAHUN 2018/2019
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Pajak merupakan sumber penerimaan Negara disamping penerimaan dari


sumber migas dan non migas. Dengan posisi yang sedemikian penting itu
pajak merupakan penerimaan strategis yang harus dikelola dengan baik oleh
negara. Dalam struktur keuangan Negara tugas dan fungsi penerimaan pajak
dijalankan oleh Direktorat Jenderal Pajak dibawah Departemen Keuangan
Republik Indonesia.Dari tahun ke tahun telah banyak dilakukan berbagai
kebijakan untuk meningkatkan penerimaan pajak sebagai sumber
penerimaan Negara. Kebijakan tersebut dapat dilakukan melalui
penyempurnaan undang-undang, penerbitan peraturan perundang-
undangan baru dibidang perpajakan, guna meningkatkan kepatuhan wajib
pajak maupun menggali sumber hukum pajak lainnya Berbagai upaya yang
dilakukan belum menunjukkan perubahan yang signifikan bagi penerimaan
Negara. Bahkan kondisi ini makin diperparah pada tahun 1997 dengan
terjadinya krisis ekonomi bahkan krisis multi dimensi yang sampai sekarang
ini belum terselesaikan di Indonesia.
Pada umumnya dinegara berkembang, penerimaan pajaknya yang terbesar
berasal dari pajak tidak langsung, Hal ini disebabkan Negara berkembang
golongan berpenghasilan tinggi lebih rendah persentasenya.namun dalam hal
ini masih saja banyak terjadi pengusaha yang menghindarkan diri dari pajak
atau dalam arti lainnya melakukan penyelewengan pajak dimana
penghindaran diri dari pajak ini bisa saja di sebut dengan pelanggaran
undang undang dan resikonya dapat merugikan negara selain itu juga masih
banyak terjadi kasus penggelapan pajak yang masih bisa lolos dari jerat
hukum dan mengambang kasusnya dikarenakan aparat penegak hukum kita
tidak tegas dan sungguh-sungguh dalam menegakkan keadilan malah
berusaha menyiasati hukum dengan segala cara tidak lain tidak bukan
tujuannya adalah untuk melindungi tersangka mafia pajak. Dalam hal ini
saya akan membahas mengenai salah kasus penggelapan pajak yang
dilakukan oleh Gayus Tambunan, DhanaWidyatmika, Bahasyim Assife, PT
Asian Agri Group, Herry Setiadji, Indarto Catur Nugroho dan Slamet
Riyana, Penunggakan Pembayaran Pajak di Kota Bandung, Dugaan Suap
Pejabat Ditjen Pajak, Tommy Hendratno, Pargono Riyadi, Wilmar Group,
Tindak Pidana Perpajakan Yang Diduga Dilakukan Dua Wakil Ketua Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR),Fadli Zon Dan Fahri Hamzah.

2. Rumusan Masalah
 Bagaimana Kasus Kecurangan Pajak yang dilakukan oleh Gayus Tambunan
3. Tujuan
 Untuk Mengetahui Kasus Kecurangan Pajak yang dilakukan oleh Gayus
Tambunan.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian pajak

Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-


undang dengan tiada mendapat balas jasa secara langsung. Lembaga
Pemerintah yang mengelola perpajakan negara di Indonesia adalah Direktorat
Jenderal Pajak (DJP) yang merupakan salah satu direktorat jenderal yang ada
di bawah naungan Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Dalam hal
perpajakan, ada beberapa kasus yang pernah terjadi di Indonesia.
Diantaranya adalah :

2. Kasus Gayus Tambunan

Gayus Halomoan Partahanan Tambunan adalah bekas pegawai negeri sipil


di DJP Kemkeu. Ia dipenjara karena melakukan penyalahgunaan wewenang,
menerima suap dari wajib pajak, dan pidana umum lainnya. Gayus
merupakan PNS golongan IIIA namun disebut-sebut memiliki harta hingga
puluhan miliar rupiah.
Gayus dinyatakan terbukti bersalah menerima suap senilai Rp 925 juta dari
Roberto Santonius, konsultan PT Metropolitan Retailmart terkait
kepengurusan keberatan pajak perusahaan tersebut.
Gayus juga lalai menangani keberatan pajak PT Surya Alam Tunggal (SAT)
yang berakibat pada kerugian negara sebesar Rp 570 juta. Gayus juga terlibat
dalam kasus penggelapan pajak PT Megah Citra Raya.
Gayus terbukti bersalah menerima gratifikasi saat menjabat petugas penelaah
keberatan pajak di Ditjen Pajak. Gayus terbukti menerima gratifikasi sebesar
US$ 659.800 dan Sin$ 9,6 juta.
Gayus juga dijerat dengan UU Tindak Pidana Pencucian Uang. Selama
persidangan, gayus gagal membuktikan kekayaannya berupa uang RP 925
juta, US$ 3,5 juta, US$ 659.800, Sin$ 9,6 juta dan 31 keping logam mulai
masng-masing 100 gram bukan berasal dari hasil tindak pidana.
Dalam perkembangan selanjutnya Gayus sempat melarikan diri ke Singapura
beserta anak istrinya sebelum dijemput kembali oleh Satgas Mafia Hukum di
Singapura. Kasus Gayus mencoreng reformasi Kementerian Keuangan
Republik Indonesia yang sudah digulirkan Sri Mulyani dan menghancurkan
citra aparat perpajakan Indonesia. Dalam kasus penggelapan pajak oleh
pejabat pajak “ Gayus” tidak ditemukan sama sekali integritas yang tinggi,
dalam hal kejujuran pejabat tersebut telah membohongi publik, dengan
menggunakan uang yang seharusnya bukan miliknya.

Mereka yang terkait kasus Gayus


A. 12 Pegawai Dirjen Pajak termasuk seorang direktur, yaitu Bambang Heru
Ismiarso dicopot dari jabatannya dan diperiksa.
B. 2 orang Petinggi Kepolisian , Brigjen Pol Edmon Ilyas dan Brigjen Pol Radja
Erizman dicopot dari jabatanya dan diperiksa.
C. Bahasyim Assifie, mantan Inspektur Bidang Kinerja dan Kelembagaan
Bappenas
D. Andi Kosasih
E. Haposan Hutagalung sebagai pengacara Gayus
F. Kompol Muhammad Arafat
G. Lambertus (staf Haposan)
H. Alif Kuncoro
I. Beberapa aparat kejaksaan diperiksa
J. Jaksa Cirus Sinaga dicopot dari jabatannya sebagai Asisten Tindak Pidana
Khusus Kejati Jawa Tengah, karena melanggar kode etik penanganan
perkara Gayus HP Tambunan.
K. Jaksa Poltak Manulang dicopot dari jabatannya sebagai Direktur Pra
Penuntutan (Pratut) Kejagung
Bukti – bukti
Polri telah melakukan penggeledahan terhadap rumah terdakwa mafia
hukum, Gayus Tambunan terkait pemalsuan paspor atas nama Sony
Laksono. Hasil pemeriksaan rumah Gayus di daerah Kelapa Gading, penyidik
telah menemukan berbagai barang bukti perjalanan ke beberapa negara.
"Penyidik telah menemukan berbagai barang bukti yang diperlukan sekaligus
dalam konteks pembuktian," kata Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi
Humas Polri, Kombes Pol Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta, Jumat 14
Januari 2011.
Boy pun menyebutkan barang bukti yang sudah disita Polri tersebut,
antara lain boarding pass dari China Air yang digunakan Gayus ketika
pulang dari Makau, boarding pass Air Asia atas nama istri Gayus, Milana
Anggraeni.

Meski berstatus tahanan, Gayus diduga mengajak Milana pergi ke sejumlah


negara. Mereka diduga pergi ke Makau (Hong Kong), Singapura, dan Kuala
Lumpur (Malaysia).

Selain Milana, untuk melengkapi keterangan yang dibutuhkan,


penyidik juga berharap bisa memperoleh keterangan dari Devina, penulis
surat pembaca Harian Kompas yang menguak kepergian Gayus ke luar negeri.

Dengan menggunakan paspor atas nama Sony Laksono, Gayus pelesir ke


berbagai tempat. Dari manifes, terdapat seseorang yang berinisial Sony
bepergian ke luar negeri dengan pesawat Mandala pada 24 September dengan
tujuan Makau. Pada 30 September, dengan menggunakan pesawat Air
Asia tujuan Singapura, Sony Laksono duduk di bangku 11F.
BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Seharusnya kasus sebelumnya seperti kasus Gayus, sudah menjadi
pelajaran bagi Indonesia bahwa lemahnya perhatian yang dilakukan pihak
yang berwenang terhadap kasus pajak sebelumnya. Kasus pajak ini bisa
mencoret nama baik pegawai pajak lain yang tidak melakukan penggelapan
pajak seperti yang dilakukan Gayus Tambunan. Tidak semua pegawai pajak
melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan para penggelap pajak yang
disebut kan di atas.
Diharapkan kasus penggelapan lain, diharapkan dapat ditindaklanjuti
dengan cepat tanpa menunggu lama.

2. Saran
Adapun saran yang dapat kami sampaikan mengenai kasus kecurangan pajak
yaitu sebagai berikut :
1. Pemerintah harus tegas dalam menangani kasus kecurangan pajak
yang terjadi di Indonesia
2. Penghindaran Pajak merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
penerimaan Pajak Pertambahan Nilai. Dalam hal ini, seharusnya
Kantor Pelayanan Pajak lebih meningkatkan kembali pengawasannya
kepada para wajib pajak agar tidak melakukan hal-hal yang dianggap
merugikan negara dengan tidak mengikuti peraturan undang-undang
perpajakan yang ada.
3. Penggelapan Pajak dan Penghindaran Pajak merupakan faktor yang
mempengaruhi besarnya penerimaan Pajak Pertambahan Nilai. Hal ini
harus menjadi perhatian lebih bagi Kantor Pelayanan Pajak
dikarenakan Pajak Pertambahan Nilai merupakan penerimaan negara
yang cukup besar.
DAFTAR PUSTAKA

http://www.cnnindonesia.com/nasional/20161122162351-12-
174492/rentetan-kasus-korupsi-yang-menjerat-pegawai-pajak/
http://tulusramdhani.blogspot.co.id/2016/09/contoh-kasus-pajak-dan-
penyelesaiannya.html
http://muhammadbayu05.blogspot.co.id/2016/04/penggelapan-pajak.html
http://nasional.kompas.com/read/2017/05/10/18232701/dugaan.pidana.
pajak.fahri.hamzah.dan.fadli.zon.berawal.dari.intelijen.pajak
https://id.wikipedia.org/wiki/Gayus_Tambunan
http://news.detik.com/berita/2218088/kasus-pargono-riyadi-kasus-
pemerasan-pertama-yang-diusut-kpk