Anda di halaman 1dari 7

A.

Pendahuluan
Bencana alam adalah salah satu fenomena yang dapat terjadi setiap saat,
dimanapun dan kapanpun sehingga menimbulkan risiko atau bahaya terhadap
kehidupan manusia. Dalam beberapa tahun terakhir ini Indonesia sering dilanda
bencana, baik bencana alam (banjir, gunung meletus, tanah longsor, gempa bumi,
banjir, banjir bandang), non-alam (kegagalan teknologi), maupun bencana sosial
(konflik, terorisme). Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat, selama tahun
2018, terjadi 1.999 kejadian bencana di Indonesia. Dampak yang ditimbulakn bencana
tercatat 3.548 orang meninggal dunia dan hilang, 13.112 orang luka-luka, 3,06 juta jiwa
mengungsi dan terdampak bencana.
Tanah longsor merupakan bencana berupa peristiwa geologi yang terjadi karena
pergerakan masa batuan atau tanah dengan berbagai tipe dan jenis. Tanah longsor
temasuk dalam urutan bencana besar, karena memakan korban yang cukup besar.
Dalam periode 2010 hingga Februari 2018 telah terjadi bencana tanah longsor
sebanyak 3.753 kali. Sebanyak 1.661 orang meninggal dunia akibat tanah longsor.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyebutkan aada 441 kabupaten atau
kota di Indonesia yang terpantau berada dalam daerah bahaya longsor tingkat sedang-
tinggi. Daerah rawan tinggi longsor meiputi provinsi Jawa Barat, pegunungan di Jawa
Tengah, Jawa Timur, Banten dan hingga di Aceh.

B. Kependudukan
Jumlah Penduduk Kabupaten Subang pada tahun 2016 tercatat sejumlah 1.537.878
jiwa, terdiri dari penduduk laki-laki sebesar 777.790 jiwa dan perempuan sebesar
760.088 jiwa. Dari 30 Kecamatan yang ada penduduk terbanyak di Kecamatan Subang
sebesar 119.896 jiwa, sedangkan penduduk paling sedikit di Kecamatan Legonkulon
tercatat sejumlah 23.784 jiwa.

C. Geografi
Kabupaten Sumedang terletak di bagian utara Provinsi Jawa Barat antara 107o31’-
107o54’ Bujur Timur dan 6o11’-6o49’ Lintang Selatan, dengan Luas Wilayah
205.176,95 Ha, sedangkan range ketinggian tempat antara 0 – 1500 m dpl. Kabupaten
Sumdang memiliki batas wilayah administrative sebagai berikut:
Sebelah Utara : Laut Jawa
Sebelah Selatan : Kabupaten Bandung Barat
Sebelah Barat : Kabupaten Purwakarta dan Karawang
Sebelah Timur : Kabupaten Indramayu dan Sumedang
Jika dilihat dari topografinya Kabupaten Subang dapat dibagi ke dalam 3 zona
daerah yaitu:
a. Daerah Pegunungan
Daerah ini memiliki ketinggian antara 500 – 1500 m dpl dengan luas 41.035,09
Ha atau 20% dari seluruh luas wilayah Kabupaten Subang. Wilayah ini meliputi
Kecamatan Sagalaherang, Serangpanjang, Ciater, Jalancagak, Kasomalang, Cisalak
dan sebagian besar Kecamatan Tanjungsiang.
b. Daerah Berbukit
Daerah dengan ketinggian antara 50 – 500 m dpl dengan luas wilayah 71.502,16
Ha atau 34,85% dari seluruh luas wilayah Kabupaten Subang. Wilayahnya meliputi
Kecamatan Cijambe, Kecamatan Subang, Cibogo, Dawuan, Kalijati, Cipeundeuy,
sebagian besar Kecamatan Purwadadi dan Cikaum.
c. Daerah Dataran Rendah
Daerah dengan ketinggian antara 0 – 50 m dpl dengan luas wilayah 92.639,7 Ha
atau 45,15% dari seluruh luas wilayah Kabupaten Subang. Wilayahnya meliputi
Kecamatan Pagaden, Kecamatan Pagaden Barat, Binong, Tambakdahan, Cipunagara,
Compreng, Ciasem, Sukasari, Pusakanagara, Pusakajaya, Pamanukan, Legonkulon,
Blanakan, Patokbeusi, sebagian kecil Kecamatan Purwadadi dan Cikaum.
Apabila dilihat dari tingkat kemiringan lahan, maka tercatat bahwa 80,80%
wilayah Kabupaten Subang memiliki tingkat kemiringan 0o-17o, 10,64% dengan
tingkat kemiringan 18o-450, sedangkan 8,56% memiliki kemiringan diatas 45o.

D. Hazard
Daerah-daerah dengan resiko tinggi terhadap tanah longsor tersebar di wilayah
selatan Subang. Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Serangpanjang, Sagalaherang,
Ciater, Kasomalang, Cisalak, Tanjungsiang dan Cijamber. Delapan kecamatan tersebut
memasuki zona merah karena kondisi geografisnya berupa pegunungan dan
perbukitan.
Secara umum lokasi longsor merupakan perbukitan bergelombang dengan lereng
landau hingga agak terhal dengan ketinggian lebih dari 100 meter dpl. Daerah bencana
terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah menengah – tinggi, artinya daerah ini
dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang
berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami
gangguan dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali. Faktor penyebab terjadinya
tanah longsor diperkirakan karena curah hujan yang tinggi dengan durasi lama sebelum
terjadi gerakan tanah, sifat tanah pelapukan yang sarang dan mudah luruh jika terkena
air, serta banyaknya air permukaan yang meresap ke dalam tanah melalui pori tanah
akan meningkatkan beban pada lereng, sehingga membuat lereng menjadi tidak stabil.
Kabupaten Subang beriklim tropis dengan curah hujan rata-rata per tahun 2.352
mm dengan jumlah hari hujan 100 hari. Ancaman tanah longsor biasanya dimulai pada
bulan November karena meningkatnya intensitas curah hujan.
E. Vulnerability
1. Kerentanan dari Aspek Lingkungan
Kecamatan Subang merupakan suatu lokasi yang memiliki ketinggian lebih dari
100 dpl, selain itu merupakan daerah yang memiliki potensi terjadi gerakan tanah
cenderung menengah-tinggi. Dengan adanya potensi gerakan tanah yang cukup
rawan sehingga dengan adanya curah hujan di atas normal sedikit sudah dapat
menimbulkan kejadian longsor. Disamping itu, sifat tanah yang mudah luruh jika
terkena air dan banyaknya air permukaan yang meresap ke dalam tanah dapat
meningkatkan beban sehingga terjadi ketidakstabilan pada tanah.
2. Kerentanan dari Aspek Sosial
Penyelamatan jiwa menjadi faktor yang penting saat terjadinya bencana.
Semakin banyak jiwa yang terancam bencana, maka semakin rentan daerah
tersebut. Dalam aspek sosial ini menggunakan dua variabel yaitu kepadatan
penduduk dan persentase kelompok usia tua dan balita. Di Kecamatan Subang
merupakan kecamatan yang cukup padat penduduknya. Persentase kelompok usia
tua dan balita menggambarkan banyaknya penduduk yang rapuh dan tidak berdaya
saat terjadi bencana. Di Kecamatan Jebres persentase kelompok usia tua dan balita
santgat tinggi.
3. Kerentanan Pengetahuan
Kurangnya pengetahuan tentang risiko bahaya dan bencana, rendahnya
pendidikan, corak budaya individualisme, tingkat kesehatan masyarakat yang
rendah akan mempertinggi tingkat kerentanan. Penduduk Kecamatan Subang
mayoritas merupakan tamatan SD/MI yaitu sebesar 39,25%. Dengan tingkat
pendidikan yang tergolong masih rendah dapat meningkatkan adanya kerentanan
4. Kerentanan dari Aspek Ekonomi
Semakin banyak rumah tangga dengan ekonomi rendah, maka semakin rentan
dalam menghadapi kejadian tanah longsor. Dengan perekonomian yang tingkatnya
lebih tinggi dapat berperan dalam menanggulangi serta mencegah terjadinya tanah
longsor.

F. Capacity
1. Kapasitas Fisik.
a. Fasilitas
- Jumlah fasilitas kesehatan di suatu wilayah
- Jarak penduduk untuk mencapai tempat pengungsian ketika terjadi
bencana
2. Kapasitas Sosial
a. Keberadaan organisasi
Tingkat keberadaan organisasi kemasyarakatan yang berhubungan dengan
penanggulangan bencana di masyarakat.
b. Kekerabatan penduduk dalam upaya penanggulangan bencana
Tingkat kekerabatan penduduk dalam masyarakat sebagai upaya
penanggulangan bencana.
c. Institusi yang bergerak dalam bidang penanggulangan bencana
Bekerja dengan Institusi yang bergerak dalam bidang penanggulangan
bencana secara cepat, dan tingginya kepedulian mahasiswa Universitas
Padjajaran dengan penggalangan dana dan bantuan tenaga selama tanah
longsor.

3. Kapasitas Sumber Daya Masyarakat


a. Keterlibatan masyarakat dalam sosialisasi kebencanaan
- Tingkat keterlibatan masyarakat didalam diskusi/sosialisasi.
- Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang resiko tanah longso
b. Keterlibatan masyarakat dalam pelatihan persiapan sebelum terjadi bencana.
Intensitas warga dalam mengikuti pelatihan persiapan bencana.

4. Kapasitas Ekonomi
a. Rata-rata pendapatan masyarakat dalam waktu satu bulan
Tingkat pendapatan masyarakat dalam satu bulan.
b. Kepemilikan asuransi jiwa
Tingkat kepemilikan asuransi jiwa.
G. Siklus Penanganan Bencana

Gambar 1. Siklus Penanganan Bencana


Tabel 1. Kegiatan dalam Siklus Penanggulangan Tanah Longsor
Siklus Kegiatan
Pencegahan • Edukasi mengenai faktor yang dapat mempengaruhi
(Prevention) terjadinya longsor
• Penanggulangan bencana longsor
Penanganan • Pemberitahuan dan Penyebaran Informasi Prakiraan
(Intervention/ Response) Longsor
• Reaksi Cepat dan Bantuan Penanganan Darurat Longsor
Pemulihan • Bantuan Segera Kebutuhan Hidup Sehari-hari dan
(Recovery) Perbaikan Sarana dan Prasarana
- Pembersihan dan Rekonstruksi Pasca Longsor
- Rehabilitasi dan Pemulihan Kondisi Fisik dan Non-
Fisik
• Penilaian Kerusakan/Kerugian dan Asuransi Bencana
Longsor
• Kajian Penyebab Terjadinya Bencana Longsor

H. Disaster Management
1. Pra Bencana
a. Pencegahan:
1) Edukasi penduduk mengenai longsor
2) Peningkatan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca serta tanda bahaya
akan munculnya longsor
3) Evakuasi penduduk yang terancam tanah longsor setelah diketahui tanda
tebing akan longsor ke tempat aman
4) Mengubah geometri kelerengan
5) Mengendalikan aliran air permukaan
6) Penanaman pohon di lajur rawan longsor
7) Sementasi
8) Betonisasi
b. Mitigasi:
1) Membuat peta rawan bencana
2) Mengenali daerah setempat dalam menentukan tempat yang aman untuk
mengungsi
3) Memperbaharui rencana kegawatdaruratan dengan informasi,
penyuluhan dan pelatihan penyelamatan dan tanggap darurat yang
melibatkan masyarakat
4) Membuat daftar sarana kesehatan dan tenaga kesehatan, jumlah lansia,
balita dan ibu hamil daerah setempat serta buat penilaian skala resiko
bencana
5) Sosialisasi dan pelatihan prosedur tetap penanggulangan dan
kesiapsiagaan bencana
6) Mendirikan Posko di wilayah RT/ RW
7) Penyebarluasan informasi daerah longsor, ancaman/bahaya, dan tindakan
yang harus diambil oleh masyarakat yang tinggal di daerah rawan
bencana
8) Pemantauan lokasi-lokasi rawan (kritis) secara terus-menerus
9) Persiapan evakuasi ke lokasi yang lebih aman
10) Penyediaan peralatan berat (backhoe, excavator, truk, buldozer, dan
lain-lain) dan disiapsiagakan pada lokasi yang strategis, sehingga
sewaktu-waktu mudah dimobilisasi
11) Penyiapan peralatan dan kelengkapan evakuasi
c. Kesiapsiagaan
1) Kesiapsiagaan dilakukan oleh pemerintah daerah. Kegiatan yang
dilakukan antara lain : pemantauan cuaca, pengamatan peringatan dini,
penyebaran informasi, inventarisasi kesiapsiagaan
2) Simak informasi terkini melalui TV, radio, atau peringatan tim warga
3) Menyediakan cadangan pangan dan sandang serta peralatan darurat
lainnya
4) Siapkan bahan makanan mudah saji dan penyediaan pompa air, mobil
tangki air dan mobil tinja serta persediaan air bersih.
5) Siapkan obat-obatan darurat, tenaga medis, paramedis, dan ambulance
6) Penyiapan jalur evakuasi dan lokasi penampungan sementara.
2. Saat Terjadi Bencana
1) Bila dalam keadaan bahaya segeralah ke tempat perlindungan yang telah
disiapkan.
2) Jika berada di dalam bangunan seperti rumah, gedung perkantoran,
sekolah, rumah sakit, pabrik, pusat perbelanjaan, gedung pencakar langit,
maka yang harus dilakukan adalah segera pergi ketempat yang aman
(pengungsian) dan lakukan pemindahan korban dengan hati-hati.
3) Bila tidak memungkinkan untuk mencari tempat perlindungan, maka
lingkarkan tubuh anda seperti bola dengan kuat dan lindungi kepala anda.
Posisi ini akan memberikan perlindungan terbaik untuk badan anda.

3. Post Bencana

1.) Hindari daerah longsor, karena tidak menutup kemungkinan longsor


susulan akan terjadi.
2.) Periksa korban luka dan korban yang terjebak longsor tanpa langsung
memasuki daerah longsor.
3.) Bantu arahkan SAR ke lokasi longsor.
4.) Waspada akan adanya banjir atau aliran reruntuhan setelah longsor.
5.) Laporkan kerusakan fasilitas umum yang terjadi kepada pihak yang
berwenang.
6.) Periksa keadaan pondasi rumah dan tanah di sekitar lokasi longsor.
7.) Rehabilitasi : membuat tempat pengungsian sementara selama rumah
penduduk belum aman dari tanah longsor.

8.) Rekonstruksi : pembangunan kembali bangunan atau infrastruktur yang


rusak akibat tanah longsor.

I. Disaster Plan

Puskesmas di semua Kabupaten Ogan Komering Ilir terutama kecamatan yang rawan
banjir, dalam persiapan evakuasi bencana dapat mempersiapkan hal-hal di bawah ini:
1. Membuat perencanaan lokasi posko bencana alam di lokasi yang aman dan
terjangkau.
2. Melakukan kerjasama dengan Rumah Sakit Umum Daerah terdekat untuk
pengadaan kendaraan untuk evakuasi korban bencana.
3. Melakukan kerjasama dengan BASARNAS, POLRI dan TNI untuk membantu
evakuasi korban, membersihkan jalan dari reruntuhan longsor, dan melakukan
pengamanan di posko pengungsian
4. Membuat jalur evakuasi dan lokasi evakuasi bencana dengan rambu-rambu yang
jelas, terutama bila melalui hutan
5. Melakukan kerjasama lembaga swadaya masyarakat dan perusahaan sekitar
untuk pengadaan pangan dan sembako untuk persedian di posko pengungsian.
6. Membentuk tim darurat bencana dengan melibatkan dokter, perawat, bidan,
mahasiswa di bidang kesehatan/kedokteran, ataupun masyarakat sekitar dalam
membantu para korban bencana di posko pengungsian.
7. Melakukan kerjasama dengan pemuka agama untuk membantu para korban di
bidang spiritual. Atau dengan tokoh masyarakat untuk meningkatkan motivasi
dan menurunkan risiko PTSD.
8. Melakukan pemantauan dan koordinasi dengan BMKG untuk mengetahui
keadaan terkini mengenai cuaca hujan.
9. Membuat pendataan yang lengkap mengenai jumlah korban luka, korban
meninggal
10. Membuat pendataan mengenai persediaan pangan dan obat-obatan di posko
pengungsian.