Anda di halaman 1dari 35

Nama : Synta

AKP 5A

Akuntansi Pemerintahan 1

Pengelolaan Keuangan Negara dan Akuntansi Pemerintahan 1


1. Tiga paket peraturan perundang-undangan terkait pengelolaan keuangan
negara
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (LN Tahun
b. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
c. UU No. 15 Tahun 2004 tentang pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab
keuangan negara
2. Undang –undang Peraturan pemerintah terkait pengelolaan keuangan
daerah
a. Undang-undang No. 9 tahun 2015 perubahan Undang-undang No. 23 tahun
2014
b. Peraturan Pemerintah Nomor 12 tahun 2019 perubahan Peraturan Pemerintah
Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah

Asas-asas Pengelolaan Keuangan Negara

Pada dasarnya asas-asas pengelolaan keuangan negara bukan merupakan kaidah


hukum atau norma hukum, sehingga tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat, kecuali
hanya mempunyai kekuatan moral yang boleh dijadikan pedoman dalam pengelolaan
keuangan negara. Sekalipun demikian, pengelolaan keuangan negara tidak boleh terlepas
dari asas-asas pengelolaan keuangan negara agar dapat menghasilkan pekerjaan terbaik
sehingga tidak menimbulkan kerugian keuangan negara.
Terdapat beberapa asas yang digunakan dalam pengelolaan keuangan negara dan
diakui keberlakuannya dalam pengelolaan keuangan negara ke depan sebagai berikut:31
a. Asas kesatuan, menghendaki agar semua pendapatan dan belanja negara
disajikan dalam satu dokumen anggaran;

b. Asas universalitas, mengharuskan agar setiap transaksi keuangan ditampilkan


secara utuh dalam dokumen anggaran;

c. Asas tahunan, membatasi masa berlakunya anggaran untuk suatu tahun tertentu;

d. Asas spesialitas, mewajibkan agar kredit anggaran yang disediakan terinci secara
jelas peruntukannya.
Kemudian berlakunya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan
Negara terdapat lagi asas-asas yang bersifat baru dalam pengelolaan keuangan negara
sebagai berikut:
a. Asas akuntabilitas berorentasi pada hasil adalah asas yang menentukan bahwa
setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan pengelolaan keuangan negara harus
dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat sebagai pemegang kedaulatan
tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku;
b. Asas proporsional adalah asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan
kewajiban pengelola keuangan negara;
c. Asas profesionalitas adalah asas yang mengutamakan keahlian berdasarkan kode
etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
d. Asas keterbukaan dalam pengelolaan keuangan negara adalah asas yang membuka
diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan
tidak diskriminatif tentang pengelolaan keuangan negara dengan tetap
memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan, dan rahasia negara;
e. Asas pemeriksaan keuangan negara oleh badan pemeriksa yang bebas dan mandiri
adalah asas yang memberikan kebebasan bagi Badan Pemeriksa Keuangan Negara
untuk melakukan pemeriksaan keuangan negara dengan tidak boleh dipengaruhi
oleh siapapun.

Pejabat Pengelola Keuangan Negara

Menurut ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003


tentang Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara, Presiden selaku kepala pemerintahan memegang kekuasaan
pengelolaan keuangan negara sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan. Kekuasaan
tersebut meliputi kewenangan yang bersifat umum (administratif) dan kewenangan yang
bersifat khusus (kebendaharaan). Kewenangan tersebut selanjutnya dikuasakan secara
yuridis kepada:
a. Menteri Keuangan selaku Chief Financial Officer (CFO) Pemerintah Republik
Indonesia dan pengelola fiskal serta wakil pemerintah dalam kepemilikan
kekayaan negara yang dipisahkan
b. Menteri atau pimpinan lembaga pada hakikatnya adalah Chief Operational Officer
(COO) untuk suatu bidang tertentu pemerintahan, dan selaku pengguna anggaran
atau penggunaan barang kementerian negara atau lembaga yang dipimpinnya.
Selanjutnya menteri-menteri tersebut dapat mendelegasikan wewenangnya kepada
pejabat-pejabat di bawahnya.

c. Berkaitan dengan otonomi daerah, Presiden mendelegasikan kewenangan


pengelolaan keuangan negara kepada gubernur, bupati/walikota selaku kepala
pemerintahan daerah untuk mengelola keuangan daerah dan mewakili pemerintah
daerah dalam kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan.
d. Dalam rangka pelaksanaan kewenangan atas pengelolaan fiskal, menteri keuangan
mempunyai tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor
17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara sebagai berikut:
e. Menyusun kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi makro;

f. Menyusun rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara serta rancangan


perubahan anggaran pendapatan dan belanja negara;

g. Mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran;

h. Melakukan perjanjian internasional di bidang keuangan;

i. Melaksanakan pemungutan pendapatan negara yang telah ditetapkan dengan


undang-undang;

j. Melaksanakan fungsi bendahara umum negara;

k. Menyusun laporan keuangan yang merupakan pertanggung jawaban pelaksanaan


anggaran pendapatan dan belanja negara;

l. Melaksanakan tugas-tugas lain di bidang pengelolaan fiskal berdasarkan


ketentuan undang-undang;
Berkaitan dengan pelaksanaan fungsi bendahara umum negara, menteri keuangan
berwenang sebagaimana dimaksud dengan Pasal 7 ayat (2) undang-undang keuangan
yakni:
a. Menetapkan kebijakan dan pedoman pelaksanaan anggaran negara;
b. Mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran negara;
c. Melakukan pengendalian pelaksanaan anggaran negara;
d. Menetapkan sistem penerimaan dan pengeluaran kas negara;
e. Menunjuk bank dan/atau lembaga keuangan lainnya dalam rangka
pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran anggaran negara;
f. Mengusahakan dan mengatur dana yang diperlukan dalam pelaksanaan
anggaran negara;
g. Menyimpan uang negara;
h. Menempatkan uang negara dan mengelola/menatausahakan investasi;
i. Melakukan pembayaran berdasarkan permintaan pejabat pengguna anggaran
atas beban rekening kas umum negara;
j. Melakukan pinjaman atas nama pemerintah;
k. Memberikan pinjaman atas nama pemerintah;
l. Melakukan pengelola utang dan piutang negara;
m. Mengajukan rancangan peraturan pemerintah tentang standar akuntansi
pemerintah;
n. Melakukan penagihan piutang negara;
o. Menetapkan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan negara;
p. Menyajikan informasi keuangan negara;
q. Menetapkan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan barang
milik negara;
r. Menetapkan nilai tukar mata uang asing terhadap rupiah dalam rangka
pembayaran pajak;
s. Menunjuk pejabat kuasa bendahara umum negara;
Tugas kuasa bendahara umum negara meliputi kegiatan, yakni:
a. Menerima;

b. Menyimpan;

c. Membayar atau menyerahkan;

d. Menatausahakan; dan

e. Mempertanggungjawabkan uang dan surat berharga yang berada dalam


pengelolaannya;

Selanjutnya, Penjelasan umum Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang


Perbendaharaan Negara merumuskan bahwa konsekuensi pembagian tugas antara menteri
keuangan dengan menteri lainnya tercermin dalam pelaksanaan anggaran. Untuk
meningkatkan akuntabilitas dan menjamin terselenggaranya saling uji (check and
balance) dalam proses pelaksanaan anggaran perlu dilakukan pemisahan secara tegas
antara pemegang kewenangan administratif dengan pemegang kewenangan
kebendaharaan. Penyelenggaraan kewenangan administratif diserahkan kepada
kementerian negara atau lembaga, sementara penyelenggaraan kewenangan
kebendaharaan diserahkan kepada kementerian keuangan. Kewenangan administratif
tersebut meliputi kewenangan untuk melakukan perikatan atau tindakan-tindakan lainnya
yang mengakibatkan terjadinya penerimaan atau pengeluaran negara, melakukan
pengujian dan pembebanan tagihan yang diajukan kepada kementerian negara atau
lembaga sehubungan dengan realisasi perikatan tersebut, serta memerintahkan
pembayaran atau menagih penerimaan yang timbul sebagai akibat pelaksanaan anggaran.
Di lain pihak, menteri keuangan selaku bendahara umum dan pejabat lainnya yang
ditunjuk sebagai kuasa bendahara umum negara bukanlah sekedar kasir yang hanya
berwenang melaksanakan penerimaan dan pengeluaran negara tanpa berhak menilai
kebenaran penerimaan dan pengeluaran tersebut.
Prinsip ini perlu dilaksanakan secara konsisten agar terdapat kejelasan dalam
pembagian wewenang dan tanggung jawab, terlaksanannya mekanisme cheks and
balances serta untuk mendorong upaya peningkatan profesionalisme dalam
penyelenggaraan tugas pemerintahan.

Bentuk-Bentuk Pengelolaan Keuangan Negara

1. Penerimaan Negara
Penerimaan negara merupakan seluruh sumber daya yang dapat dikumpulkan oleh
negara sebagai suatu organisasi publik. Sumber daya tersebut pada prinsipnya berupa
uang, namun juga bisa mencakup tanah, peralatan, fasilitas, dan tenaga kerja. Penerimaan
dikumpulkan terutama agar negara mampu melaksanakan kegiatannya karena tanpa
adanya penerimaan yang cukup tentu saja mustahil suatu negara dapat melaksanakan
aktivitasnya dalam memenuhi kewajiban untuk menjaga kedaulatan negara, menjaga
keutuhan wilayah negara, melindungi seluruh warga negara, maupun memberikan
kesejahteraan kepada warga negara.
Pada dasarnya penerimaan negara merupakan semua penerimaan yang diperoleh
pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dari berbagai sumber yang sah, yang
menambah ekuitas dana dalam periode tahun anggaran tertentu yang menjadi hak
pemerintah pusat atau daerah. Dalam arti yang lebih luas, penerimaan negara adalah
seluruh penerimaan yang diperoleh dari hasil penjualan barang-barang atau jasa-jasa yang
dimiliki atau dihasilkan oleh pemerintah, pencetakan uang, pinjaman pemerintah,
pungutan pajak maupun pungutan lainnya yang didasarkan pada undang-undang.34
Menurut Pasal 1 angka 13 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara disebutkan bahwa penerimaan atau pendapatan negara adalah hak
pemerintah pusat yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. Sehubungan
dengan pengertian penerimaan negara dalam arti yang luas, dalam kenyataannya tidak
dapat ditarik suatu batas yang tegas terhadap macam-macam sumber penerimaan negara,
tetapi dapat digolongkan sebagai berikut:
a. Pajak
Pajak adalah pembayaran iuran oleh rakyat kepada negara yang dapat dipaksakan
dan tanpa balas jasa yang secara langsung bisa ditunjuk. Contoh pajak pusat adalah pajak
penjualan barang mewah (PPnBM), pajak bumi dan bangunan (PBB), pajak pengahsilan
(PPh), pajak pertambahan nilai barang dan jasa (PPN), bea perolehan hak atas tanah dan
bangunan (BPHTB), bea meterai, dan lain sebagainya. Adapun pajak daerah misalnya
pajak kendaraan bermotor (PKB), pajak hotel, pajak restoran, pajak reklame, pajak
hiburan, dan lain-lain.
Menurut Endang Larasati, pajak bersifat hukum publik maka pemungutannya
paling sedikit memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. Harus ditetapkan dengan undang-undang (peraturan lain yang sederajat dengan
undang-undang) terlebih dahulu.

2. Dapat dipaksakan, dalam arti bagi orang yang tidak atau belum mau membayar
dapat dikenakan upaya pemaksaan atau sanksi, seperti denda, penyitaan, dan
penyanderaan.

3. Harus memenuhi persyaratan kepastian hukum, misalkan kapan harus membayar,


berapa jumlahnya, dan siapa saja yang harus membayar.

4. Dituntut adanya kejujuran dari si pemungut atau si pelaksana. Artinya ada


jaminan bahwa pemungutan tersebut akan digunakan oleh pemerintah secara
efektif, efisien, dan dikembalikan kepada masyarakat.

Dari uraian di atas dapat dikemukakan ciri-ciri pajak sebagai berikut:


1. Pajak yang dipungut oleh negara (pemerintah pusat maupun daerah) berdasarkan
undang-undang dan peraturan pelaksanaannya.

2. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukan adanya kontra prestasi yang
secara langsung dapat diikuti oleh pembayaran pajak dan pemerintah.

3. Tujuan pemungutan pajak adalah sumber penerimaan negara.

b. Retribusi
Pemungutan retribusi merupakan pungutan yang dilakukan oleh pemerintah
kepada masyarakat yang didasarkan pada undang-undang atau peraturan pelaksanaan
tertentu sehubungan dengan jasa atau pelayanan tertentu yang diberikan oleh pemerintah.
Berbeda dengan pajak yang tidak mewajibkan pemerintah untuk memberikan balas jasa
secara langsung kepada pembayarnya, retribusi justru dipungut karena adanya pelayanan
langsung dari pemerintah kepada masyarakat. Dalam hal ini kita dapat melihat adanya
hubungan langsung antara pelayanan yang diberikan pemerintah dengan besarnya
pungutan yang dilakukan pemerintah atau yang harus dibayar oleh masyarakat. Meskipun
tidak tertutup kemungkinan bahwa pemerintah pusat memungut retribusi, pada umumnya
pungutan retribusi dilakukan oleh pemerintah daerah terhadap pelayanan langsung yang
diberikannya kepada masyarakat.37 Misalnya, retribusi pelayanan kesehatan di rumah
sakit pemerintah atau puskesmas, retribusi pelayanan kebersihan, retribusi parkir,
retribusi pasar, dan sebagainya.
c. Bagian Keuntungan dari Badan Usaha Milik Negara atau Daerah
Penerimaan ini merupakan penerimaan pemerintah yang berasal dari BUMN atau
BUMD. Pemerintah memiliki hak untuk memperoleh bagian keuntungan dari BUMN
atau BUMD karena pemerintah merupakan investor dari BUMN atau BUMD, yakni
dalam bentuk penyertaan modal. Atas penyertaan modal tersebutlah maka sebagian
keuntungan yang diperoleh dari BUMN atau BUMD harus disetorkan kepada pemerintah.
d. Denda dan Sita
Penerimaan ini merupakan penerimaan pemerintah yang berasal dari penegakan hukum
(law enforcement) terhadap berbagai ketentuanperaturan perundang-undangan.
Pemerintah di antaranya berhak untuk mengenakan denda kepada masyarakat pada setiap
pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat. Uang hasil denda tersebut kemudian masuk
ke kas negara menjadi penerimaan pemerintah. Misalnya, hasil penerimaan denda bagi
pelanggaran lalu lintas (tilang), denda atas pelanggaran atas ketentuan perpajakan, dan
sebagainya. Selain itu, pemerintah juga berhak untuk menyita barang-barang yang
dimasukan ke dalam wilayah negara tanpa izin atau tanpa dokumen yang sah. Barang
sitaan ini sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan kemudian dapat dijual dan
uang hasil penjualannya kemudian dimasukan ke kas negara sebagai penerimaan
pemerintah, misalnya hasil penjualan gula sitaan yang diselundupkan dari luar negeri.
e. Sumbangan Masyarakat
Sumbangan masyarakat ini biasanya untuk jasa-jasa yang didirikan oleh
pemerintah, seperti pembayaran biaya-biaya perizinan (lisensi). Sumbangan masyarakat
ini harus dibedakan dengan retribusi dan perbedaan ini terletak pada balas jasa yang dapat
ditunjuk secara langsung yang terdapat dalam retribusi. Di dalam sumbangan masyarakat,
balas jasa tidak selalu langsung diperoleh. Artinya, kita telah melakukan pembayaran
(menyumbang), namun perizinan yang kita ajukan belum tentu keluar pada saat kita
membayar.
f. Percetakan Uang Kertas
Berdasarkan sifat dan fungsinya, maka negara memiliki kekuasaan yang tidak
dimiliki oleh para individu dalam masyarakat. Negara mempunyai kekuasaan untuk
mencetak uang kertas sendiri yang biasanya dilakukan sebagai jalan terakhir untuk
menutup defisit anggaran negara setelah berbagai cara lain ternyata kurang efektif.
Namun percetakan uang harus dilakukan secara hati-hati karena apabila tidak
diperhitungkan secara cermat dapat memicu terjadinya inflasi. Inflasi mempunyai
pengaruh seperti halnya dengan pajak. Oleh karena itu, seringkali inflasi disebut sebagai
pajak yang tidak kentara (invisibletax), karena konsumen dengan jumlah uang yang sama
akan dapat memperoleh barang dan jasa yang semakin sedikit jumlahnya berhubung
dengan turunnya nilai uang.
g. Hasil dari Undian Negara
Dengan undian negara, maka negara akan mendapatkan dana yaitu perbedaan
antara jumlah penerimaan dari lembaran surat undian yang dapat dijual dengan semua
pengeluaran-pengeluarannya termasuk hadiah yang diberikan kepada pemenang dari
undian negara tersebut. Undian negara ini adalah baik sifatnya karena harga surat
undiannya adalah sangat murah, sehingga bagi masyarakat yang membelinya tidak begitu
merasakan rugi kalau tidak memperoleh kemenangan, tetapi sekedar menyumbang
kepada pemerintah, sedangkan yang menang akan sungguh merasa senang. Tetapi
seringkali usaha-usaha mengumpulkan dana melalui sistem undian ini membawa akibat
yang kurang baik terhadap kehidupan rakyat kecil karena berlomba dalam mencari
kemenangan, tanpa melihat kemampuannya serta kurang perhitungan. Hal ini memang
masuk akal karena bila menang, status sosialnya akan meningkat cepat sekali.
h. Hadiah
Sumber dana jenis ini dapat terjadi seperti pemerintah pusat memberikan hadiah
kepada pemerintah daerah, atau dari swasta kepada pemerintah dan dapat pula terjadi dari
pemerintah suatu negara kepada pemerintah negara lain. Penerimaan negara dari sumber
ini sifatnya adalah sukarela tanpa balas jasa langsung maupun tidak langsung.
2. Pengeluaran Negara
Pada umumnya pengeluaran negara dapat diartikan sebagai uang atau dana yang
keluar dari kas pemerintah untuk membiayai aktivitas pemerintah atau tujuan lain yang
menjadi kewenangan pemerintah. Pengeluaran negara dapat bersifat exhaustive, yaitu
pembelian barang-barang dan jasa-jasa di dalam perekonomian yang dapat langsung
dikonsumsi maupun dapat pula untuk menghasilkan barang lain lagi. Di samping itu,
pengeluaran negara itu dapat bersifat transfer saja, yaitu pemindahan uang kepada
individu-individu untuk kepentingan sosial, kepada perusahaan-perusahaan sebagai
subsidi atau mungkin pula kepada negara-negara lain sebagai grants (hadiah). Oleh
karena pengeluaran negara merupakan cerminan biaya yang harus dikeluarkan oleh
pemerintah untuk melaksanakan kebijakannya, maka pengeluaran negara akan cenderung
berbanding lurus terhadap kegiatan pemerintah. Semakin banyak kegiatan yang dilakukan
oleh pemerintah, semakin besar pulalah pengeluaran yang harus dilakukan oleh
pemerintah untuk membiayai kegiatan tersebut.
Sehubungan dengan meningkatnya kegiatan pemerintah yang mengakibatkan pula
meningkatnya pengeluaran negara, menurut Suparmoko terdapat beberapa penyebab
antara lain :
a. Adanya perang dan pergolakan dalam masyarakat; pengeluaran negara meningkat
bila terjadi perang dan pasca-perang, misalnya untuk tentara yang terlanjur
diangkat menjadi pegawai negeri sipil, dimana sebelumnya menganggur dan tidak
menjadi tanggungan pemerintah. Selain itu, pergolakan dalam masyarakat yang
menuntut keadilan, pemberantasan korupsi, pertentangan antar warga, antar
kampong, antar suku, dan antar agama, keadaan tersebut menuntut peningkatan
kegiatan dan pengeluaran pemerintah.

b. Adanya kenaikan tingkat penghasilan dalam masyarakat; dengan meningkatnya


tingkat penghasilan maka kebutuhan akan konsumsi barang maupun jasa akan
meningkat baik secara kuantitas maupun kualitas. Di lain pihak, penyediaan
terhadap barang dan jasa ini banyak yang tidak bisa dilakukan oleh swasta,
misalnya penyediaan listrik, air bersih, pemeliharaan sarana dan prasarana jalan,
jembatan, dan sebagainya.

c. Adanya urbanisasi sebagai konsekuensi perkembangan ekonomi; dengan adanya


urbanisasi yaitu perpindahan penduduk dari desa ke kota, maka pemerintah perlu
melayani dengan menyediakan, misalnya lapangan pekerjaan, perumahan,
keamanan, kesehatan, dan sebagainya.

d. Perkembangan demokrasi; akibat perkembangan demokrasi menyebabkan biaya


yang besar, terutama untuk mengadakan musyawarah-musyawarah, pemungutan
suara, rapat-rapat, dan sebagainya. Pemerintahlah yang harus mengusahakan ini
semua, karena pemerintah yang memiliki kemampuan untuk menjaga kepentingan
semua pihak atau individu dalam masyarakat.

e. Pemborosan dan korupsi; seringkali semakin berkembangnya peranan pemerintah


itu justru mengakibatkan adanya ketidakefisienan, pemborosan dan birokrasi
sehingga pengeluaran pemerintah semakin besar. Ditambah lagi bila penegakan
hukum tidak baik di negara tersebut akan menciptakan kesempatan korupsi yang
semakin besar. Dampaknya peranan pemerintah semakin besar. Contoh yang jelas
dengan adanya Komisi Pemberantas Korupsi (KPK), pengeluaran negara baik
sejak pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono sampai dengan
pemerintahan Presiden Joko Widodo meningkat tinggi untuk membiaya upaya
memberantas korupsi.

Jika dilihat perkembangan kegiatan pemerintahan dari tahun ke tahun, maka pada
dasarnya pengeluaran negara untuk membiayai kegiatan pemerintah terdiri atas 2 (dua)
jenis, yakni :
a. Pengeluaran Rutin

adalah pengeluaran untuk membiayai kegiatan sehari-hari pemerintah. Walaupun


secara terperinci pengeluaran dapat dipilah menjadi pengeluaran operasi dan pengeluaran
konsumsi, namun keduanya bersifat mutlak. Lancar atau tidaknya kegiatan pemerintahan
sangat tergantung pada besar kecilnya alokasi anggaran untuk kedua unsur pengeluaran
rutin ini. Pengeluaran rutin dapat dikelompokan ke dalam 5 (lima) unsur pengeluaran
sebagai berikut:

1. Belanja pegawai.

Yang dimaksud dengan pegawai adalah pegawai negeri sipil (PNS) dan TNI serta
POLRI termasuk pensiunan. Pengeluaran untuk belanja pegawai ini terdiri dari:
1.1 Gaji dan pensiun, pengeluaran untuk gaji maksudnya adalah gaji pokok
PNS dan TNI serta POLRI termasuk pensiunannya.
1.2 Tunjangan beras, diberikan kepada PNS dan TNI serta POLRI dengan
perhitungan 10 kg untuk setiap pegawai dengan maksimum 3 orang anak.
Tunjangan lainnya adalah berupa tunjangan keluarga, tunjangan jabatan
struktural dan fungsional, tunjangan pejabat negara dan pengeluaran untuk
belanja pegawai lainnya seperti belanja kemahalan, dan sebagainya.
1.3.Uang makan dan lauk pauk , Biaya uang makan dan lauk pauk diberikan
kepada:
1) PNS

2) Pelaut dan petugas penjaga lampu menara

3) Pasien rumah sakit pemerintah


4) Penghuni panti asuhan negara

5) Para narapidana

6) Para tuna yang diasauh oleh pemerintah


1.4.Lain-lain belanja pegawai dalam negeri dan luar negeri , Pengeluaran untuk
pos lain-lain belanja pegawai berupa uang lembur, uang honorium mengajar bagi guru
tidak tetap, beasiswa, tunjangan ikatan dinas, tunjangan belajar, dan uang peralatan, dan
sebagainya.
2. Belanja barang.
Pengeluaran untuk belanja barang menampung pengeluaran untuk keperluan
sehari-hari perkantoran, seperti pembelian alat-alat tulis, barang cetakan, pengiriman
surat, biaya rapat, biaya pengamanan kantor, biaya cetak, biaya bahan-bahan komputer,
dan sebagainya.
3. Belanja rutin daerah
Yang dimaksud dengan belanja rutin daerah adalah subsidi daerah otonom. Pada
dasarnya pengeluaran ini merupakan transfer dana dari pemerintah pusat kepada
pemerintah daerah. Maksud pengeluaran transfer ini adalah dalam rangka perimbangan
keuangan antara pusat dan daerah. Pengeluaran transfer ini berupa belanja pegawai
daerah otonom yang terdiri dari gaji pokok dan tunjangan, termasuk gaji dan tunjangan
bagi pegawai negeri pusat yang ditempatkan di daerah otonom, guru-guru SD Inpres,
tenaga medis dan paramedis, juru penerang dan tenaga penyuluh (kehutanan, pertanian,
dan keluarga berencana). Secara umum belanja rutin daerah ini dibagi atas: (i) belanja
pegawai; dan (ii) belanja non-pegawai.
4. Bunga dan Cicilan Utang
Sebagai negara peminjam maka pembayaran cicilan utang terdiri atas cicilan
pokok dan bunga pinjaman. Pinjaman pemerintah dapat bersumber dari pinjaman luar
negeri dan pinjaman dalam negeri. Jumlah pinjaman luar negeri banyak dipengaruhi oleh
faktor jumlah utang, keseluruhan dan nilai tukar valuta asing, sedangkan pinjaman dalam
negeri digunakan untuk penyelesaian kewajiban pemerintah kepada pihak-pihak di dalam
negeri. Pinjaman tersebut timbul karena faktor-faktor administratif yang mengakibatkan
penyelesaian pembayarannya tidak dapat dilakukan pada periode yang sedang berjalan.
Biasanya pinjaman dalam negeri tersebut antara lain meliputi pembayaran tunggakan atas
pemakaian daya dan jasa seperti tenaga listrik, air minum, dan gas untuk instansi
pemerintah. Secara umum pengeluaran untuk pos bunga dan cicilan utang ini dapat
dibedakan menjadi: (i) utang dalam negeri; dan (2) utang luar negeri.
5. Pengeluaran rutin lainnya.
Untuk menjaga kestabilan harga dan juga perlindungan kepada konsumen maupun
produsen, pemerintah mengeluarkan dana untuk subsidi, seperti subsidi bahan bakar
minyak. Di samping itu, pengeluaran ini juga menampung pengeluaran untuk surat
menyurat, biaya listrik, dan air minum, telepon, dan berbagai keperluan lainnya, yang
sifatnya terus menerus.
b. Pengeluaran Pembangunan adalah pengeluaran yang bertujuan untuk
melaksanakan tugas-tugas pemerintah sebagai salah satu pelaku pembangunan. Bentuk
dari pengeluaran pembangunan ini dapat berupa proyek fisik, seperti pembangunan jalan,
jembatan, gedung, dan dapat pula berupa proyek non fisik seperti pendidikan, pelatihan,
penataran, dan sebagainya. Pengeluaran pembangunan ini dibagi menjadi berikut ini:
1. Pembiayaan Rupiah
Dana pemerintah yang dipergunakan untuk pengeluaran di dalam negeri dan
dikeluarkan dari sumber dalam negeri berupa rupiah murni. Rupiah murni berasal dari
tabungan pemerintah ditambah pinjaman program, yaitu bantuan luar negeri yang
dirupiahkan. Selain itu, dilihat dari kategori penggunaannya, dana yang bersumber dari
rupiah murni ini dapat dibagi menjadi 2 (dua) kategori sebagai berikut:
a. Pengeluaran habis pakai
Yaitu pengeluaran yang dipergunakan untuk membiayai proyek-proyek
pembangunan yang sifatnya secara langsung tidak menghasilkan return kepada
pemerintah, tetapi secara tidak langsung mempunyai dampak luas kepada pertumbuhan
kemajuan perekonomian negara serta pemerataan pendapatan masyarakat. Dana ini
dikelola oleh kementerian atau lembaga menurut bidangnya masing-masing dengan
peralatan dokumen yang disebut Daftar Isian Proyek (DIP). Adapun proyek-proyek yang
dibiayai dengan dana ini meliputi proyek-proyek yang mengacu pada:
1) Pertumbuhan ekonomi, seperti jalan, pelabuhan, kelistrikan, pertanian,
pengairan, pendidikan, dan penelitian;

2) Pemerataan pendapatan, seperti transmigrasi, perumahan rakyat, koperasi, dan


sebagainya;

3) Peningkatan kesejahteraan masyarakat, seperti proyek-proyek kesehatan,


kesejahteraan sosial, dan keluarga berencana;

4) Program yang menyentuh langsung kawasan yang terbelakang, baik sosial


maupun ekonomi, seperti proyek-proyek pengembangan kawasan terpadu (PKT),
program pengembangan wilayah (PPW);

b. Pengeluaran transfer
Yang dimaksud pengeluaran transfer adalah pengeluaran dari dana APBN yang
diserahkan kepada daerah atau perusahaan sebagai penyertaan modal atau subsidi. Dana
semacam ini dipergunakan untuk hal-hal berikut ini:
2. Bantuan pembangunan daerah yaitu dana untuk menambah APBD untuk
membangun daerahnya, seperti Bantuan Pembangunan Desa, Bantuan Pembangunan
Kota/Kabupaten, Bantuan Pembangunan Provinsi, Bantuan Pembangunan Sekolah Dasar,
Bantuan Pembangunan Sarana Kesehatan, Bantuan pembangunan Reboisasi, Bantuan
Pembangunan Sarana Pasar, Bantuan peningkatan Jalan Kota/Kabupaten, dan Bantuan
Pembangunan Jalan Provinsi.
2) Penyertaan modal pemerintah yaitu pengeluaran APBN yang dipergunakan untuk
menambah modal (equity) perusahaan, terutama perusahaan negara yang memerlukan
dalam rangka mengembangkan perusahaan yang bersangkutan. Pengelola dana untuk
penyertaan modal pemerintah ini adalah Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan.
3) Subsidi; bertujuan untuk melindungi konsumen dan produsen serta pengendalian
harga umum. Subsidi dapat diberikan melalui BUMN maupun perbankan, seperti
pengeluaran APBN untuk subsidi pupuk, dan subsidi benih. Subsidi semacam ini dapat
dikategorikan sebagai subsidi harga. Di samping subsidi harga ada juga subsidi bunga,
yang bertujuan untuk melindungi para peminjam yang umumnya masyarakat atau
pengusaha kecil, yang hasil pinjamannya dipergunakan untuk mengembangkan usaha,
seperti Kredit Modal Kerja Permanen (KMKP), dan Kredit Investasi Kecil (KIK). Selain
itu, ada juga subsidi biaya operasi, yaitu subsidi yang diberikan untuk membantu
meringankan biaya operasi pada perusahaan yang mengoperasikan sarana umum, seperti
bus, kereta api, dan sebagainya. Pemberian subsidi kepada perusahaan harus disetujui
oleh Menteri Keuangan melalui Dirjen Lembaga Keuangan setelah mendapat
rekomendasi dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

4) Pengeluaran yang merupakan tambahan dana kepada proyek-proyek khusus; dokumen


yang digunakan untuk pengeluaran dana ini adalah Daftar Isian Pembiayaan
Pembangunan (DIPP) dan tidak masuk ke dalam DIP biasa. Dana dari DIPP ini dapat
ditarik lebih dulu dan disimpan di bank agar lebih fleksibel penggunaannya. Contoh dari
proyek khusus ini adalah Proyek Otorita Batam.

5) Pengeluaran negara yang dipinjamkan lagi kepada perusahaan, terutama perusahaan


negara. Dana ini digunakan untuk dipinjamkan kepada Pemerintah Daerah
(Provinsi/Kabupaten/Kota)dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang pengembalian
berikut pembayaran bunganya merupakan dana berputar untuk dapat dipinjamkan ke
objek lainnya. Mengenai tingkat bunga pinjaman, ditentukan oleh Menteri Keuangan
dengan memperhatikan faktor-faktor berikut: (a) perkiraan tingkat inflasi rata-rata 3 tahun
terakhir; dan (b) biaya administrasi. Jangka waktu pinjaman maksimum 20 tahun
termasuk masa tenggang waktu maksimum 5 tahun.
2. Pembiyaan Proyek
Jumlah pembiayaan proyek pada sisi pengeluaran selalu sama dengan jumlah pinjaman
proyek pada sisi penerimaan, sedangkan pembiayaan rupiah adalah penjumlahan dari
pinjaman program dan tabungan pemerintah.

3. Piutang
Piutang negara adalah jumlah uang yang wajib dibayar kepada pemerintah pusat
dan/atau hak pemerintah pusat yang dapat dinilai dengan uang sebagai akibat perjanjian
atau akibat lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku atau akibat
lainnya yang sah. Timbulnya piutang negara pada umumnya disebabkan pemerintah pusat
memberikan pinjaman atau hibah kepada pemerintah daerah, badan usaha milik negara,
badan usaha milik daerah sesuai yang tercantum atau ditetapkan dalam anggaran negara.
Demikian pula pemerintah pusat memberikan pinjaman atau hibah kepada lembaga asing
sesuai yang tercantum dalam dalam anggaran negara. Sekalipun pemerintah pusat dapat
memberikan pinjaman atau hibah, ketika tidak tercantum dalam anggaran negara atau
dana yang tidak tersedia tidak cukup berarti pemerintah pusat tidak boleh melakukannya.
Tatkala pemerintah pusat melakukannya walaupun telah diketahui bahwa tidak tercantum
dalam anggaran negara atau dana yang tersedia tidak cukup berarti telah melakukan
perbuatan melanggar hukum.
Tata cara pemberian pinjaman atau hibah oleh pemerintah pusat wajib
berpedoman pada peraturan pemerintah. Dalam arti pemerintah pusat tidak boleh
memberikan pinjaman atau hibah kepada pemerintah daerah, badan usaha milik negara,
badan usaha milik daerah, atau lembaga asing, bila peraturan pemerintah tidak mengatur
tata caranya. Hal ini dapat menimbulkan kerugian negara akibat dari perbuatan
pemerintah pusat, sebaliknya menguntungkan pihak yang menerima pinjaman.
Selain itu, pejabat yang diberi kuasa untuk mengelola pendapatan, belanja, dan
kekayaan negara wajib mengusahakan agar setiap piutang negara diselesaikan seluruhnya
dan tepat waktu. Jika piutang negara tidak dapat diselesaikan seluruhnya dan tepat waktu,
diupayakan penyelesaiannya menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan perlindungan hukum terhadap piutang
negara yang berada pada pemerintah daerah, badan usaha milik negara, badan usaha milik
daerah, atau lembaga asing.
Piutang negara jenis tertentu mempunyai hak mendahulu sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Piutang negara jenis tertentu, antara lain
piutang pajak dan piutang yang diatur dalam undang-undang tersendiri. Terhadap piutang
negara jenis tertentu, penagihan dan pembayarannya harus didahulukan daripada piutang
yang bersifat keperdataan.
Penyelesaian piutang negara yang timbul sebagai akibat hubungan keperdataan dapat
dilakukan melalui perdamaian, kecuali mengenai piutang negara yang penyelesaiannya
diatur tersendiri dalam undang-undang. Penyelesain piutang negara sebagai bagian
piutang yang tidak disepakati adalah selisih antara jumlah tagihan piutang menurut
pemerintah dengan jumlah kewajiban yang diakui oleh debitur ditetapkan oleh :
1) Menteri keuangan, bila bagian piutang negara tidak disepakati tidak lebih dari sepuluh
miliar rupiah;

2) Presiden, bila bagian piutang negara yang tidak disepakati lebih dari sepuluh miliar
rupiah sampai dengan seratus miliar rupiah;

3) Presiden, setelah mendapat pendapat pertimbangan dewan perwakilan rakyat, bila


bagian piutang negara yang tidak disepakati lebih dari seratus miliar;
Sementara itu, piutang negara dapat dihapuskan secara mutlak atau bersyarat dari
pembukuan, kecuali mengenai piutang negara yang cara penyelesaiannya diatur tersendiri
dalam undang-undang. Penghapusan piutang negara sepanjang menyangkut piutang
pemerintah pusat ditetapkan oleh:
1) Menteri keuangan, bila bagian piutang negara tidak disepakati tidak lebih dari sepuluh
miliar rupiah;

2) Presiden, bila bagian piutang negara yang tidak disepakati lebih dari sepuluh miliar
rupiah sampai dengan seratus milar rupiah;

3) Presiden, setelah mendapat pendapat pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat, bila


bagian piutang negara yang tidak disepakati lebih dari seratus milar;

Mengenai tata cara penyelesaian dan penghapusan piutang negara diatur dengan
peraturan pemerintah. Dalam arti pemerintah berwenang mengatur tata cara penyelesaian
dan penghapusan piutang negara yang menjadi pedoman untuk itu. Peraturan pemerintah
merupakan bentuk peraturan perundang-undangan yang digunakan oleh pemerintah untuk
melakukan penyelesaian dan penghapusan piutang negara. Hal ini menunjukan adanya
pendelegasian wewenang dari pembuat undang-undang kepada pemerintah untuk
mengatur penyelesaian dan penghapusan piutang negara.
4. Utang
Utang negara yang merupakan salah satu bagian dari pengelolaan keuangan
negara dapat diartikan sebagai jumlah uang yang wajib dibayar pemerintah pusatyang
dapat dinilai dengan uang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, atau
berdasarkan sebab yang lain.48 Terdapat beberapa jenis utang negara di antaranya adalah
utang dalam negeri dan utang luar negeri.
Utang dalam negeri adalah utang yang berasal dari orang-orang atau lembaga-
lembaga sebagai penduduk negara itu sendiri atau dalam lingkungan negara itu sendiri,
sedangkan utang luar negeri adalah utang yang berasal dari orang-orang atau lembaga-
lembaga negara lain. Adapun utang dalam negeri itu dapat bersifat paksa maupun bersifat
sukarela, hal mana berbeda dengan utang luar negeri yang biasanya bersifat sukarela,
terkecuali bila ada suatu kekuasaan dari suatu negara atas negara lain. Baik utang dalam
negeri maupun utang luar negeri, pada dasarnya asal atau sumber utang negara dapat
dikelompokan menjadi 4 (empat) sumber, yakni:49
a. Para individu sebagai kreditur
Pemberian utang oleh para individu di antaranya dengan cara pembelian obligasi
negara. Ini dapat mempengaruhi pola konsumsi dan pola tabungan para individu yang
bersangkutan. Pada umumnya orang tidak akan mengurangi konsumsi sekedar untuk
membeli obligasi negara, tetapi mereka akan mengurangi tabungan untuk membeli
obligasi.
b. Lembaga keuangan bukan bank sebagai kreditur
Negara dapat pula menjual surat obligasi negara kepada perusahaan asuransi dan
sebagainya yang bukan bank. Pembelian obligasi oleh perusahaan jenis ini dilakukan
dengan menggunakan dana yang mengganggur dan dapat pula dipakai untuk membeli
surat-surat saham dan lain sebagainya.
c. Bank-bank umum sebagai kreditur
Bank umum karena kemampuannya memberikan kredit berbeda dengan lembaga
keuangan lain, maka perkreditan dari bank umum dapat menciptakan tenaga beli baru
dengan mendasarkan pada deking (reserved atau deking) dana utang yang dipunyai bank.
Bank Sentral (Bank Indonesia) memberikan pedoman bahwa untuk memberikan kredit,
bank umum harus mempunyai deking misalnya setinggi 5%.
d. Bank Sentral (Bank Indonesia) sebagai kreditur
Negara dapat menjual obligasi kepada Bank Sentral. Tindakan ini juga
menciptakan tenaga beli seperti halnya bila negara menjual obligasi kepada bank umum.
Bank sentral membuka rekening negara dan seolah-olah negara mempunyai simpanan di
Bank Sentral.
Menteri keuangan dapat menunjuk pejabat yang diberi kuasa atas nama menteri
keuangan untuk mengadakan utang negara yang berasal dari dalam negeri maupun dari
luar negeri sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam anggaran negara. Kuasa
yang oleh pejabat dari menteri keuangan adalah mandat karena tetap mengatasnamakan
menteri keuangan bukan atas nama penerima wewenang. Di samping itu, harus terikat
pada persyaratan sebagaimana sebagaimana dimaksud dalam anggaran negara agar
perbuatan hukum yang dilakukan berada dalam kategori perbuatan hukum yang sah.
Utang negara dapat dipinjamkan kepada pemerintah daerah, badan usaha milik negara,
atau badan usaha milik daerah takala dibutuhkan pada saat itu. Bila penggunaanya tidak
secara langsung digunakan, utang negara dimasukan ke rekening kas umum negara. Hal
ini bertujuan agar tidak terjadi suatu perbuatan melanggar hukum yang menimbulkan
kerugian terhadap keuangan negara

Dasar Hukum Pengelolaan Keuangan Daerah


Pengaturan pengelolaan keuangan daerah merupakan bagian dari pengelolaan
keuangan negara, oleh karenanya diatur di dalam peraturan perundang-undangan sebagai
berikut:
(1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (Bab VIII
tentang Hal Keuangan-Pasal 23).

(2) Undang-Undang di bidang Keuangan Negara terdiri atas:

a. Undang-Undang yang secara khusus materi pokoknya mengatur substansi


administrasi keuangan daerah, antara lain seperti Undang-Undang Nomor 17
Tahun 2003 tentang Keuangan Negara; Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004
tentang Perbendaharaan Negara; Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang
Pemeriksaan Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Negara; Undang-
Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara
Pemerintah Pusat dan Daerah.

b. Undang-Undang yang di dalamnya mengatur satu bagian mengenai keuangan


daerah atau merupakan dasar dalam pengaturan keuangan daerah, antara lain
seperti Undang-Undang Nomor 9 tahun 2015 perubahan Undang-Undang No. 23
Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah; dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun
2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.
c. Undang-Undang yang mengatur unsur pendukung keuangan daerah, antara lain
seperti Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah.

d. Undang-Undang pendukung lainnya, yaitu undang-undang lainnya yang


berkaitan dan banyak hubungannya dengan kegiatan keuangan daerah, yaitu:
o Undang-Undang yang mengatur badan usaha, antara lain seperti; Undang-
Undang Nomor 19 tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara; Undang-
Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas; Undang-
Undang Nomor Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan
Daerah.
o Undang-Undang yang mengatur kegiatan ekonomi lainnya khususnya
berkaitan dengan investasi dan obligasi daerah, antara lain seperti Undang-
Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.
o Undang-Undang yang berkaitan dengan pinjaman daerah, antara lain seperti
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas
Tanah Beserta Benda-Benda yang berkaitan dengan Tanah.

(3) Peraturan Pemerintah

a) Peraturan Pemerintah yang merupakan peraturan yang secara khusus materi


pokoknya mengatur substantif administrasi keuangan daerah sebagai pelaksanaan
dari undang-undang substantif di bidang keuangan daerah, antara lain seperti
Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan;
Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah; Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2011 tentang Pinjaman Daerah;
b) Peraturan Pemerintah sebagai tindak lanjut pelaksanaan dari undang-undang yang
mengatur di dalamnya satu bagian mengenai keuangan daerah atau merupakan
dasar dalam pengaturan keuangan daerah, antara lain seperti Peraturan Pemerintah
Nomor 109 Tahun 2000 tentang Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan Wakil
Kepala Daerah; Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2006 tentang Kedudukan
Protokoler dan Keuangan Pimpinan serta Anggota Dewan Perwakilan Rakyat.
c) Peraturan Pemerintah sebagai tindak lanjut pelaksanaan dari undang-undang yang
mengatur unsur pendukung keuangan daerah, antara lain seperti Peraturan
Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah.
(4) Peraturan Presiden, yaitu peraturan yang secara khusus materi pokoknya mengatur
substantif administrasi keuangan daerah, antara lain seperti Peraturan Presiden Nomor 4
Tahun 2015 tentang Pengadaaan Barang dan Jasa.
(5) Peraturan Daerah, antara lain seperti Peraturan Daerah tentang APBD,
Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD, dan lain sebagainya.

Asas-Asas Pengelolaan Keuangan Daerah


Kata “asas”dapat berarti dasar atau alas, atau sesuatu kebenaran yang menjadi
pokok dasar atau sesuatu kebenaran yang menjadi pokok dasar atau tumpuan berpikir.
Asas pada hakikatnya selalu mewarnai tingkah laku, sikap, dan perbuatan baik
perorangan, lembaga, maupun aturan-aturan yang dibuat oleh administrasi. Demikian
pula asas-asas yang digariskan dalam pengelolaan keuangan daerah merupakan sesuatu
yang dianggap benar yang menjadi pokok dasar dari aturan-aturan yang dibuat lebih
lanjut. Asas menjadi filosofi yang mendasari aturan-aturan tersebut.
Terdapat beberapa pendapat yang dikemukakan para ahli mengenai asas-asas
pengelolaan keuangan daerah, antara lain Ahmad Yani yang mengemukakan 15 asas
sebagai berikut:
(1) APBD merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam tahun anggaran tertentu.
Ketentuan ini berarti, APBD merupakan rencana pelaksanaan semua pendapatan daerah
dan semua belanja daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi dalam tahun anggaran
tertentu. Dengan demikian, pemungutan semua penerimaan daerah dalam rangka
pelaksanaan desentralisasi bertujuan untuk memenuhi target yang ditetapkan dalam
APBD. Semua pengeluaran daerah dan ikatan yang membebani daerah dalam rangka
pelaksanaan desentralisasi dilakukan sesuai jumlah dan sasaran yang ditetapkan dalam
APBD, sehingga APBD menjadi dasar bagi kegiatan pengendalian, pemeriksaan, dan
pengawasan keuangan daerah.
(2) Tahun fiskal APBD sama dengan tahun fiskal Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara.

(3) Semua penerimaan daerah dan pengeluaran daerah dalam rangka desentralisasi dicatat
dan dikelola dalam APBD. Semua penerimaan daerah dan pengeluaran daerah yang tidak
berkaitan dengan pelaksanaan dekonsentrasi atau tugas pembantuan merupakan
penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.

(4) APBD, Perubahan APBD, dan perhitungan APBD ditetapkan dengan peraturan
daerah dan merupakan dokumen daerah.

(5) APBD disusun dengan pendekatan kinerja. Anggaran dengan pendekatan kinerja
adalah suatu sistem anggaran yang mengutamakan upaya pencapain hasil kerja atau
output dari perencanaan alokasi biaya atau input yang ditetapkan.
(6) Dalam menyusun APBD, penganggaran pengeluaran harus didukung dengan adanya
kepastian tersedianya penerimaan dalam jumlah yang cukup. Ketentuan pasal ini berarti
daerah tidak boleh menganggarkan pengeluaran tanpa kepastian terlebih dahulu mengenai
ketersediaan sumber pembiayaannya dan mendorong daerah untuk meningkatkan
efisiensi pengeluaran.

(7) Jumlah pendapatan yang dianggarkan dalam APBD merupakan perkiraan yang
terukur secara rasional yang dapat dicapai untuk setiap sumber pendapatan.

(8) Jumlah belanja yang dianggarkan dalam APBD merupakan batas tertinggi untuk
setiap jenis belanja.
(9) Setiap pejabat dilarang melakukan tindakan yang berakibat pengeluaran atas beban
APBD apabila tidak tersedia atau tidak cukup tersedia anggaran untuk membiayai
pengeluaran tersebut.

(10) Perkiraan sisa lebih perhitungan APBD tahun lalu dicatat sebagai saldo awal pada
APBD tahun berikutnya, sedangkan realisasi sisa lebih perhitungan APBD tahun lalu
dicatat sebagai saldo awal perubahan APBD.

(11) Semua transaksi keuangan daerah baik penerimaan daerah maupun pengeluaran
daerah dilaksanakan melalui kas daerah.

(12) Anggaran untuk membiayai pengeluaran yang sifatnya tidak tersangka disediakan
dalam bagian anggaran tersendiri. Anggaran pengeluaran tidak tersangka tersebut
dikelola oleh Bendahara Umum Daerah.

(13) Pengeluaran yang dibebankan pada pengeluaran tidak tersangka adalah untuk
penanganan bencana alam, bencana sosial, dan pengeluaran tidak tersangka lainnya yang
sangat diperlukan dalam rangka penyelenggaraan kewenangan pemerintah daerah.

(14) Daerah dapat membentuk dana cadangan guna membiayai kebutuhan dana yang
tidak dapat dibebankan dalam satu tahun anggaran.

(15) Dana cadangan dibentuk dengan kontribusi tahunan dari penerimaan APBD, kecuali
dari Dana Alokasi Khusus, Pinjaman Daerah, dan Dana Darurat. Dana cadangan tersebut
digunakan untuk membiayai kebutuhan seperti rehabilitasi prasarana, keindahan kota,
atau pelaksanaan lingkungan hidup, sehingga biaya rehabilitasi tersebut dibebankan
dalam beberapa tahun anggaran.
Sementara itu, Mardiasmo menjelaskan asas-asas pengelolaan keuangan daerah
yaitu:
(1) Value for money; indikasi keberhasilan otonomi daerah dan desentralisasi adalah
terjadinya peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat (social welfare) yang
semakin baik, kehidupan demokrasi yang semakin maju, keadilan, pemerataan, serta
adanya hubungan yang serasi antara pusat dan daerah serta antar daerah. Keadaan
tersebut hanya akan tercapai apabila lembaga serta sektor publik dikelola dengan
memerhatikan konsep value for money.
Dalam konteks otonomi daerah, value for money merupakan jembatan untuk
menghantarkan pemerintah daerah mencapai good governance. Value for money tersebut
harus dioperasionalkan dalam pengelolaan keuangan daerah dan anggaran daerah. Untuk
mendukung dilakukannya pengelolaan dana publik (public money) yang mendasarkan
pada konsep value for money, maka diperlukan sistem pengelolaan keuangan daerah dan
anggaran daerah yang baik. Hal tersebut dapat tercapai apabila pemerintah daerah
memiliki sistem akuntansi yang baik.
(2) Akuntabilitas; mensyaratkan bahwa pengambilan keputusan berperilaku sesuai
dengan mandat yang diterimanya. Untuk ini, perumusan kebijakan, bersama-sama dengan
cara dan hasil kebijakan tersebut harus dapat diakses dan dikomunikasikan, baik secara
vertikal maupun horizontal dengan baik.

(3) Kejujuran; Pengelolaan keuangan daerah harus dipercayakan kepada staf yang
memiliki integritas dan kejujuran yang tinggi sehingga kesempatan untuk korupsi dapat
diminimalkan.

(4) Transparansi; keterbukaan pemerintah dalam membuat kebijakan-kebijakan keuangan


daerah sehingga dapat diketahui dan diawasi oleh DPRD dan masyarakat. Transparansi
pengelolaan keuangan daerah pada akhirnya akan menciptakan horizontal accountability
antara pemerintah daerah dan masyarakatnya sehingga tercipta pemerintahan daerah yang
bersih, efektif, efisien, akuntabel, dan responsif terhadap aspirasi dan kepentingan
masyarakat.

(5) Pengendalian; penerimaan dan pengeluaran daerah (APBD) harus sering dimonitor,
yaitu dibandingkan antara yang dianggarkan dan dicapai. Untuk itu, perlu dilakukan
analisis varians (selisih) terhadap penerimaan dan pengeluaran daerah agar dapat
sesegera mungkin dicari penyebab timbulnya varians dan tindakan antisipasi ke depan.
Ruang Lingkup Keuangan Daerah
Keuangan daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka
penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk di
dalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah
tersebut, dalam kerangka anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Pendekatan
yang diambil dari rumusan pengertian keuangan daerah tersebut adalah dari sisi obyek,
subyek, proses, dan tujuan.
i. Dari sisi obyek; yang dimaksud dengan keuangan daerah meliputi semua hak dan
kewajiban daerah yang dapat dinilai dengan uang, dan pengelolaan kekayaan daerah yang
dipisahkan, serta sesuatu baik berupa uang, maupun berupa barang yang dapat dijadikan
milik daerah berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut, tetapi tidak
termasuk bidang fiskal dan moneter.

ii. Dari sisi subyek; yang dimaksud dengan keuangan daerah meliputi seluruh obyek
sebagaimana tersebut sebelumnya yang dimiliki oleh daerah, dan/atau dikuasai oleh
pemerintah daerah, perusahaan daerah, dan badan lain yang ada kaitannya dengan
keuangan daerah.

iii. Dari sisi proses; keuangan daerah mencakup seluruh rangkaian kegiatan yang
berkaitan dengan pengelolaan obyek sebagaimana dijelaskan pada bagian obyek mulai
dari perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan sampai dengan
pertanggungjawaban.

iv. Dari sisi tujuan; keuangan daerah meliputi seluruh kebijakan, kegiatan, dan hubungan
hukum yang berkaitan dengan pemilikan dan/atau penguasaan obyek sebagaimana
tersebut di atas dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah.
Berdasarkan 4 (empat) pendekatan keuangan daerah tersebut, ruang lingkup
keuangan daerah terdiri atas :
(1) Keuangan daerah yang dikelola langsung dan kekayaan daerah yang dipisahkan;

(2) Keuangan daerah yang dikelola langsung adalah anggaran pendapatan dan belanja
daerah (APBD), dan barang-barang inventaris milik daerah;

(3) Kekayaan daerah yang dipisahkan adalah dana daerah yang terdapat pada Badan
Usaha Milik Daerah; dan

(4) Keuangan daerah tersebut sebenarnya merupakan suatu pengorganisasian dan


pengelolaan sumber daya atau kekayaan yang ada pada suatu daerah untuk mencapai
tujuan yang dikehendaki;
Lembaga Pengelola Keuangan Daerah
1.Pejabat Pengelola Keuangan Daerah
Keuangan daerah merupakan bagian dari kekuasaan pemerintahan daerah karena
itu secara kelembagaan para pejabat pengelolaan keuangan daerah terdiri atas:
a. Pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah dijabat oleh Kepala Daerah selaku
kepala pemerintahan daerah
b. Koordinator pengelolaan keuangan daerah dijabat oleh Sekretaris Daerah.

c. Pejabat pengelola keuangan daerah terdiri atas Kepala Badan/Dinas/Biro


Keuangan/Bagian Keuangan yang mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan APBD
dan bertindak sebagai bendahara umum daerah.89

d. Pejabat pengguna anggaran daerah/barang daerah. Adapun pengertian pengguna


anggaran daerah adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran satuan
kerja perangkat daerah, sedangkan pengertian pengguna barang daerah adalah pejabat
pemegang kewenangan penggunaan barang milik daerah.90 Adapun Pejabat pengguna
anggaran daerah/barang daerah dijabat oleh Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD). Pada setiap SKPD terdapat:

(1) Kuasa Pengguna Anggaran

(2) Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan SKPD

(3) Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD

(4) Bendahara Pengeluaran

(5) Bendaharawan Penerimaan bagi SKPD yang juga mengelola anggaran pendapatan
daerah

2.Tugas dan Wewenang


a). Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah91
Kepala daerah selaku kepala pemerintahan daerah memegang kekuasaan
pengelolaan keuangan daerah dan mewakili pemerintah daerah dalam kepemilikan
kekayaan daerah yang dipisahkan, yang mempunyai wewenang sebagai berikut:
(1) Menetapkan kebijakan tentang pelaksanaan APBD.

(2) Menetapkan kebijakan tentang pengelolaan barang daerah.

(3) Menetapkan kuasa pengguna anggaran/barang.

(4) Menetapkan bendahara penerimaan dan/atau bendahara pengeluaran.

(5) Menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan daerah.

(6) Menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah.

(7) Menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan barang milik daerah.
(8) Menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengujian atas tagihan dan
memerintahkan pembayarannya.

b).Koordinator Pengelolaan Keuangan Daerah92


Koordinator pengelolaan keuangan daerah mempunyai tugas koordinasi di bidang;
(1) Penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan APBD;

(2) Penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan barang daerah;

(3) Penyusunan rancangan APBD dan rancangan perubahan APBD;

(4) Penyusunan Raperda APBD, Perubahan APBD, dan pertanggungjawaban pelaksanaan


APBD;

(5) Tugas-tugas pejabat perencana daerah, PPKD, dan pejabat pengawas keuangan
daerah; dan

(6) penyusunan laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan


APBD;
Selain tugas-tugas tersebut di atas, koordinator pengelolaan keuangan daerah juga
mempunyai tugas :
(1) Memimpin tim anggaran pemerintah daerah;

(2) Menyiapkan pedoman pelaksanaan APBD;

(3) Menyiapkan pedoman pengelolaan barang daerah;

(4) Memberikan persetujuan pengesahan DPA-SKPD; dan

(5) Melaksanakan tugas-tugas koordinasi pengelolaan keuangan daerah lainnya


berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah;
Koordinator pengelolaan keuangan daerah bertanggung jawab atas pelaksanaan
tugas kepada kepala daerah.

c).Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD)93


PPKD mempunyai tugas sebagai berikut :
(1) Menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan keuangan daerah;

(2) Menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD;

(3) Melaksanakan pemungutan pendapatan daerah yang telah ditetapkan dengan


Peraturan Daerah;
(4) Melaksanakan furigsi Bendahara Umum Daerah (BUD);

(5) Menyusun laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan


APBD; dan

(6) Melaksanakan tugas lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah;

PPKD selaku BUD berwenang :


(1) Menyusun kebijakan dan pedoman pelaksanaan APBD;

(2) Mengesahkan DPA-SKPD;

(3) Melakukan pengendalian pelaksanaan APBD;

(4) Memberikan petunjuk teknis pelaksanaan sistem penerimaan dan pengeluaran kas
daerah;

(5) Melaksanakan pemungutan pajak daerah;

(6) Memantau pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran APBD oleh bank dan/atau
lembaga keuangan lainnya yang telah ditunjuk;

(7) Mengusahakan dan mengatur dana yang diperlukan dalam pelaksanaan APBD;

(8) Menyimpan uang daerah;

(9) Menetapkan SPD;

(10) Melaksanakan penempatan uang daerah dan mengelola/ menatausahakan investasi;

(11) Melakukan pembayaran berdasarkan permintaan pejabat pengguna anggaran atas


beban rekening kas umum daerah;

(12) Menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian jaminan atas nama pemerintah
daerah;

(13) Melaksanakan pemberian pinjaman atas nama pemerintah daerah;

(14) Melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah;

(15) Melakukan penagihan piutang daerah;

(16) Melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan daerah;

(17) Menyajikan informasi keuangan daerah;


(18) Melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan barang milik
daerah.
PPKD selaku BUD menunjuk pejabat di lingkungan satuan kerja pengelola
keuangan daerah selaku kuasa BUD. Penunjukan kuasa BUD ditetapkan dengan
keputusan kepala daerah. Kuasa BUD mempunyai tugas :
(1) Menyiapkan anggaran kas;

(2) Menyiapkan SPD;

(3) Menerbitkan SP2D; dan

(4) Menyimpan seluruh bukti asli kepemilikan kekayaan daerah;

d).Pejabat Pengguna Anggaran/Penggunan Barang Daerah94


Pejabat pengguna anggaran/pengguna barang daerah mempunyai tugas dan
wewenang :
(1) Menyusun RKA--SKPD;

(2) Menyusun DPA-SKPD;

(3) Melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja;
(4) Melaksanakan anggaran SKPD yang dipimpinnya;

(5) Melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran;

(6) Melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak;

(7) Mengadakan ikatan/perjanjian kerjasama dengan pihak lain dalam batas anggaran
yang telah ditetapkan;

(8) Mengelola utang dan piutang yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya;

(9) Mengelola barang milik daerah/kekayaan daerah yang menjadi tanggung jawab SKPD
yang dipimpinnya;

(10) Mengawasi pelaksanaan anggaran SKPD yang dipimpinnya;

(11) Melaksanakan tugas-tugas pengguna anggaran/pengguna barang lainnya berdasarkan


kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah;

(12) Bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah melalui
sekretaris daerah.
Pejabat pengguna anggaran dalam melaksanakan tugasnya dapat melimpahkan
sebagian kewenangannya kepada kepala unit kerja pada SKPD selaku kuasa pengguna
anggaran/pengguna barang. Pelimpahan wewenang ditetapkan oleh kepala daerah atas
usul kepala SKPD. Penetapan kepala unit kerja pada SKPD berdasarkan pertimbangan
tingkatan daerah, besaran SKPD, besaran jumlah uang yang dikelola, beban kerja, lokasi,
kompetensi dan/atau rentang kendali dan pertimbangan objektif lainnya. Kuasa pengguna
anggaran bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada pengguna
anggaran/pengguna barang.
Selain itu, pejabat pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran dalam
melaksanakan program dan kegiatan dapat menunjuk pejabat pada unit kerja SKPD
selaku PPTK. Penunjukan PPTK berdasarkan pertimbangan kompetensi jabatan,
anggaran kegiatan, beban kerja, lokasi, dan/atau rentang kendali dan pertimbangan
objektif lainnya. Adapun PPTK mempunyai tugas mencakup : (1) mengendalikan
pelaksanaan kegiatan; (2) melaporkan perkembangan pelaksanaan kegiatan; dan (3)
menyiapkan dokumen anggaran atas beban pengeluaran pelaksanaan kegiatan. PPTK
bertanggung jawab kepada pejabat pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran.
Dalam rangka melaksanakan wewenang atas penggunaan anggaran yang dimuat
dalam Dokumen Pelaksanaan Aanggaran (DPA)-SKPD, kepala SKPD menetapkan
pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD sebagai pejabat
penatausahaan keuangan SKPD. Pejabat penatausahaan keuangan SKPD mempunyai
tugas :
(1) Meneliti kelengkapan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) langsung (LS) yang
diajukan oleh PPTK;

(2) Meneliti kelengkapan SPP Uang Persediaan (UP), SPP Ganti Uang Persediaan (GU)
dan SPP Tambahan Uang Persediaan (TU) yang diajukan oleh bendahara pengeluaran;

(3) Menyiapkan Surat Perintah Membayar (SPM); dan

(4) Menyiapkan laporan keuangan SKPD;


Pejabat penatausahaan keuangan SKPD tidak boleh merangkap sebagai pejabat
yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan negara/daerah, bendahara, dan/ atau
PPTK.
Atas usul pejabat pengelola keuangan daerah, kepala daerah mengangkat
bendahara penerimaan untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka
pelaksanaan anggaran pendapatan dan bendahara pengeluaran dalam pelaksanaan
anggaran belanja pada SKPD. Bendahara penerima dan bendahara pengeluaran adalah
pejabat fungsional. Bendahara penerima dan bendahara pengeluaran baik secara langsung
maupun tidak langsung dilarang melakukan kegiatan perdagangan, pekerjaan
pemborongan dan penjualan jasa atau bertindak sebagai penjamin atas
kegiatan/pekerjaan/penjualan tersebut, serta menyimpan uang pada suatu bank atau
lembaga keuangan lainnya atas nama pribadi. Bendahara penerimaan dan bendahara
pengeluaran secara fungsional bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada
PPKD selaku BUD.

Bagan Lembaga Pengelolaan Keuangan Daerah


APBD

A. Arti Penting dan Fungsi APBD

Anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) adalah suatu rencana keuangan
tahunan daerah yang ditetapkan berdasarkan peraturan daerah. Oleh karena itu,
APBD mempunyai arti penting yakni:

(1) Sebagai alat bagi pemerintah daerah untuk mengarahkan dan menjamin
kesinambungan pembangunan serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

(2) APBD diperlukan karena adanya kebutuhan dan keinginan masyarakat yang
tidak terbatas dan terus berkembang, sedangkan sumber daya yang ada terbatas.

Selain itu, APBD merupakan salah satu bentuk instrumen kebijakan ekonomi di daerah,
sehingga dengan sendirinya mempunyai fungsi yaitu:

(1) Otorisasi Mengandung arti bahwa anggaran menjadi dasar untuk melaksanakan
pendapatandan belanja pada tahun yang bersangkutan.

(2) Perencanaan Mengandung arti bahwa anggaran menjadi pedoman bagi manajemen
dalam merencanakan kegiatan pada tahun yang bersangkutan.

(3) Pengawasan Mengandung arti bahwa anggaran menjadi pedoman untuk


menilai, apakah kegiatan penyelenggaraan pemerintahan sesuai dengan ketentuan yang
telah ditetapkan.

(4) Alokasi Mengandung arti bahwa anggaran harus diarahkan untuk mengurangi
pengangguran dan pemborosan sumber daya serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas
perekonomian.

(5) Distribusi Mengandung arti bahwa kebijakan anggaran harus memerhatikan rasa
keadilan dan kepatutan.

(6) Stabilisasi Mengandung arti bahwa anggaran pemerintah menjadi alat untuk
memelihara dan mengupayakan keseimbangan fundamental perekonomian.

Fungsi APBD lainnya dikemukakan juga oleh Mardiasmo sebagai berikut:

(1) Alat perencanaan, yang antara lain digunakan untuk:

a. Merumuskan tujuan dan sasaran kebijakan sesuai dengan visi dan misi yang
ditetapkan
b. Merencanakan berbagai program dan kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi
serta merencanakan alternatif sumber pembiayaannya

c. Mengalokasikan sumber-sumber ekonomi pada berbagai program dan kegiatan yang


telah disusun

d. Menentukan indikator kinerja dan tingkat pencapaian

(2) Alat pengendalian, yang antara lain digunakan untuk:

a. Mengendalikan efisiensi
b. Membatasi kekuasaan atau kewenangan pemerintah

c. Mencegah adanya overspending, underspending dan salah sasaran


dalam pengalokasian anggaran pada bidang lain yang bukan
merupakan prioritas

d. Memonitor kondisi keuangan dan pelaksanaan operasional

atau kegiatan pemerintaH

(3) Alat kebijakan fiskal yang digunakan untuk menstabilkan ekonomi dan
mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pemberian fasilitas, dorongan, dan koordinasi
kegiatan ekonomi masyarakat sehingga mempercepat pertumbuhan ekonomi.

(4) Alat politik yang digunakan untuk memutuskan prioritas-prioritas dan kebutuhan
keuangan terhadap prioritas tersebut. APBD sebagai dokumen politik merupakan bentuk
komitmen eksekutif dan kesepakatan legislatif atas penggunaan dana publik untuk
kepentingan tertentu. Oleh karena itu, penyusunan APBD membutuhkan political skill,
coalition building, keahlian bernegosiasi, dan pemahaman tentang prinsip pengelolaan
keuangan publik.

(5) Alat koordinasi unit kerja dalam organisasi pemerintah daerah yang terlibat
dalam proses penyusunan anggaran. APBD yang disusun dengan baik akan mampu
mendeteksi terjadinya inkonsistensi suatu unit kerja dalam pencapaian tujuan
organisasi. Di samping itu, APBD juga berfungsi sebagai alat komunikasi antar unit
kerja.

(6) Alat evaluasi kinerja. APBD pada dasarnya merupakan wujud komitmen
pemerintah daerah kepada pemberi wewenang (masyarakat) untuk melaksanakan
kegiatan pemerintahan dan pelayanan masyarakat. Kinerja pemerintah daerah dapat
dinilai berdasarkan target anggaran yang dapat direalisasikan.

(7) Alat untuk memotivasi manajemen untuk bekerja secara ekonomis, efektif, dan
efisien dalam mengejar target kinerja. Dalam hal ini target kinerja hendaknya
ditetapkan dalam batas rasional yang dapat dicapai (tidak terlalu tinggi dan tidak
terlalu rendah).

(8) Alat untuk menciptakan ruang publik, dalam arti bahwa proses
penyusunan APBD harus melibatkan seluas mungkin masyarakat. Keterlibatan
masyarakat tersebut dapat dilakukan melalui proses penjaringan aspirasi masyarakat
yang hasilnya digunakan sebagai dasar penyusunan arah dan kebijakan umum
anggaran.

B. Struktur APBD

Terdapat beberapa pengertian dalam struktur APBD sebagai berikut:

1. Penerimaan daerah adalah uang yang masuk ke kas daerah.

2. Pengeluaran daerah adalah uang yang keluar dari kas daerah.

3. Pendapatan daerah yang tercantum dalam APBD adalah semua


penerimaan uang melalui rekening kas umum daerah, yang menambah
ekuitas dana, yang merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran dan
tidak perlu dibayar kembali oleh daerah.

4. Belanja daerah yang tercantum dalam APBD adalah semua pengeluaran


dari rekening kas umum daerah yang mengurangi ekuitas dana, dan
merupakan kewajiban daerah dalam satu tahun.

C. TAHAPAN APBD

1. Penyusunan APBD

Untuk menyusun APBD, pemerintah daerah harus menyusun Rencana


Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) yang menggunakan bahan dari rencana kerja satuan
kerja perangkat daerah (SKPD) untuk jangka waktu 1 (satu) tahun yang mengacu kepada
Rencana Kerja Pemerintah Pusat. RKPD memuat rancangan kerangka ekonomi
daerah, prioritas pembangunan dan kewajiban daerah, rencana kerja yang terukur
dan pendanaannya, baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah pusat,
pemerintah daerah maupun ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. RKPD
disusun untuk menjamin keterkaitan dengan konsistensi antara perencanaan,
penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan. Penyusunan RKPD diselesaikan paling
lambat akhir bulan Mei sebelum tahun anggaran yang direncanakan. RKPD ditetapkan
dengan Peraturan Kepala Daerah, Berdasarkan RKPD dan pedoman penyusunan APBD
yang ditetapkan Menteri Dalam Negeri setiap tahun, Kepala Daerah menyusun
rancangan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan rancangan Prioritas dan Plafon
Anggaran Sementara (PPAS).

Dalam menyusun rancangan KUA dan rancangan PPAS, Kepala Daerah


dibantu oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) yang dipimpin oleh Sekretaris
Daerah. Rancangan KUA dan rancangan PPAS yang telah disusun, disampaikan oleh
Sekretaris Daerah selaku ketua TAPD kepada Kepala Daerah, paling lambat pada
minggu pertama bulan Juni. Rancangan KUA memuat kondisi ekonomi, makro daerah,
asumsi penyusunan APBD, kebijakan pendapatan daerah,kebijakan belanja daerah,
kebijakan pembiayaan daerah, dan strategi.

Selanjutnya, rancangan KUA dan rancangan PPAS disampaikan Kepala


Daerah kepada DPRD paling lambat pertengahan bulan Juni tahun anggaran berjalan
untuk dibahas dalam pembicaraan pendahuluan RAPBD tahun anggaran berikutnya.
Pembahasan dilakukan oleh TAPD bersama Panitia Anggaran DPRD. Rancangan KUA
dan rancangan PPAS yang telah dibahas selanjutnya disepakati menjadi KUA dan PPAS
paling lambat akhir bulan Juli tahun anggaran berjalan. KUA dan PPAS yang telah
disepakati masing-masing dituangkan ke dalam nota kesepakatan yang ditandatangi
bersama oleh Kepala Daerah dan pimpinan DPRD dalam waktu bersamaan.

RKA-SKPD yang telah disusun oleh kepala SKPD disampaikan


kepada Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) yang selanjutnya dibahas oleh Tim
Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD). Penelaahan RKA-SKPD oleh TAPD tersebut
ditekankan pada kesesuainnya dengan:

Kebijakan Umum APBD

Prioritas dan plafon anggaran sementara

Prakiraan maju yang telah disetujui tahun anggaran sebelumnya

Dokumen perencanaan lainnya

Indikator kinerja, analisis standar belanja, standar satuan harga, dan


standar pelayanan minimal

Apabila dalam menelaah RKA-SKPD ternyata TAPD menemukan


ketidaksesuaian dengan hal-hal tersebut di atas, maka kepala SKPD menyempurnakan.
Selanjutnya berdasarkan RKA-SKPD yang telah ditelaah oleh TAPD dan
disempurnakan oleh kepala SKPD, PPKD menyusun rancangan peraturan daerah tentang
APBD.

2. Penetapan APBD

Kepala Daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang APBD


kepada DPRD disertai penjelasan dan dokumen pendukungnya pada minggu pertama
bulan Oktober tahun sebelumnya untuk dibahas dalam rangka. Bagaimanakah
apabila DPRD sampai batas waktu tersebut tidak mengambil keputusan bersama Kepala
Daerah? Tentu hal ini akan dapat menyulitkan pelaksanaan anggaran. Apabila hal ini
terjadi maka dalam tahun anggaran bersangkutan Kepala Daerah melaksanakan
pengeluaran setinggi-tingginya sebesar angka APBD tahun sebelumnya untuk
membiayai keperluan setiap bulan yang diprioritaskan untuk belanja yang bersifat
mengikat dan belanja yang bersifat wajib.

Belanja yang bersifat mengikat adalah belanja yang dibutuhkan secara terus
menerus dan harus dialokasikan oleh pemerintah daerah dengan jumlah yang cukup
untuk keperluan setiap bulan dalam tahun anggaran bersangkutan, seperti belanja
pegawai, belanja barang dan jasa. Belanja yang bersifat wajib adalah belanja untuk
terjaminnya kelangsungan pemenuhan pendanaan pelayanan dasar masyarakat antara
lain: pendidikan dan kesehatan, dan/atau melaksanakan kewajiban kepada pihak
ketiga. Pengeluaran ini dapat dilaksanakan berdasarkan rancangan Peraturan Kepala
Daerah tentang APBD yang telah disahkan oleh Menteri Dalam Negeri bagi provinsi,
dan gubernur bagi kabupaten/kota. Pengesahan dimaksud dilakukan selambat-lambatnya
15 (lima belas) hari terhitung sejak diterimanya rancangan Peraturan Kepala Daerah
tersebut ditetapkan menjadi Peraturan Kepala Daerah tentang APBD.
3. PELAKSANAAN APBD

Semua penerimaan dan pengeluaran daerah dalam rangka pelaksanaan urusan


pemerintahan daerah dikelola dalam APBD. Setiap SKPD yang mempunyai tugas
memungut dan/atau menerima pendapatan daerah wajib melaksanakannya,
berdasarkan ketentuan yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan.
Penerimaan SKPD berupa uang atau cek harus disetor ke rekening kas umu m
daerah paling lama 1 (satu) hari kerja. Jumlah belanja yang dianggarkan dalam APBD
merupakan batas tertinggi untuk setiap pengeluaran belanja. Pengeluaran tidak dapat
dibebankan pada anggaran belanja, jika untuk pengeluran tersebut tidak cukup
tersedia dalam APBD. Pengeluaran belanja daerah menggunakan prinsip hemat, tidak
mewah, efektif, efisien dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

4. PERUBAHAN APBD

Perubahan APBD dapat dilakukan apabila terjadi:

(a) Perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi KUA dapat berupa
terjadinya pelampauan atau tidak tercapainya proyeksi pendapatan daerah,
alokasi belanja daerah, sumber, dan penggunaan pembiayaan yang semula
ditetapkan dalam KUA. Rancangan kebijakan umum perubahan APBD
dan PPAS perubahan APBD disampaikan kepada DPRD paling lambat
minggu pertama bulan Agustus dalam tahun anggaran berjalan.

(b) Keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antar


unit organisasi, antar kegiatan, dan antar jenis belanja.

(c) Keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun sebelumnya harus
digunakan dalam tahun berjalan.

(d) Keadaan darurat; pemerintah daerah dapat melakukan pengeluaran yang


belum tersedia anggarannya, yang selanjutnya diusulkan dalam rancangan
perubahan APBD.

(e) Keadaaan luar biasa; keadaan yang menyebabkan estimasi penerimaan


dan/atau pengeluaran dalam APBD mengalami kenaikan atau penurunan
lebih besar dari 50% (lima puluh persen.
5. Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD

PPK-SKPD menyiapkan laporan keuangan SKPD tahun anggaran


bersangkutan dan disampaikan kepada kepala SKPD untuk ditetapkan sebagai
laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD oleh SKPD. Laporan keuangan
SKPD disampaikan kepada kepala daerah melalui PPKD paling lambat 2 (dua)
bulan setelah tahun anggaran berakhir. Laporan keuangan disusun oleh pejabat
pengguna anggaran sebagai hasil pelaksanaan APBD pada SKPD yang menjadi
tanggungjawabnya. Laporan keuangan SKPD terdiri atas laporan realisasi anggaran;
neraca; laporan arus/aliran kas; dan catatan atas laporan keuangan. Berikut ini
penjelasannya:

Laporan realisasi anggaran; menyajikan ikhtisar sumber, alokasi, dan


pemakaian APBD dalam 1 (satu) periode. Unsur yang tercakup
dalam laporan realisasi APBD terdiri dari pendapatan, belanja,
transfer, dan pembiayaan. Terhadap unsur-unsur tersebut masing-
masing didefinisikan sebagai berikut:

a. Pendapatan (basis kas) adalah penerimaan oleh bendahara umum


daerah yang menambah ekuitas dana lancar dalam periode tahun
anggaran bersangkutan yang menjadi hak pemerintah daerah dan tidak
perlu dibayar kembali. Pendapatan (basis akrual) adalah hak
pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan
bersih.

b. Belanja (basis kas) adalah semua pengeluaran bendahara umum


daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar dalam periode tahun
anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya
kembali. Belanja (basis akrual) adalah kewajiban pemerintah daerah
yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih.

c. Transfer adalah penerimaan/pengeluaran uang dari suatu entitas


pelaporan dari/kepada entitas pelaporan lain, termasuk dana
perimbangan dan dana

bagi hasil.

Neraca; menggambarkan posisi keuangan suatu entitas


pelaporan mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas dana pada tanggal
tertentu. Neraca sekurang-kurangnya mencantumkan pos-pos berikut:

a. Kas dan setara kas;

b. Investasi jangka pendek;

c. Piutang pajak dan bukan pajak;

d. Persediaan;

e. Investasi jangka panjang;

f. Aset tetap;

g. Kewajiban jangka pendek


Laporan Arus/Aliran Kas; menyajikan informasi kas sehubungan dengan
aktivitas operasional, investasi aset non keuangan, pembiayaan dan transaksi non
anggaran yang menggambarkan saldo awal, penerimaan, pengeluaran, dan saldo
akhir kas pemerintah daerah selama periode tertentu. Unsur yang tercakup dalam
laporan arus kas terdiri atas penerimaan dan pengeluaran kas, yang masing-masing
didefinisikan sebagai berikt:

a. Penerimaan kas adalah semua aliran kas terdiri atas penerimaan


yang masuk ke bendahara umum daerah.

b. Pengeluaran kas adalah semua aliran kas yang keluar dari


bendahara umum daerah.