Anda di halaman 1dari 7

PERBEDAAN OSTEOARTRITIS & REUMATOID ARTRITIS

No. Perbedaan Osteoartritis Reumatoid Artritis


1. Definisi Penyakit proses degenerative Rheumatoid Arthritis adalah
yang berkaitan dengan suatu penyakit autoimun dimana
kerusakan kartilago sendi persendian (biasanya tangan dan
kaki) mengalami peradangan,
sehingga terjadi pembengkakan,
nyeri dan seringkali
menyebabkan kerusakan pada
bagian dalam sendi
(Febriana,2015).

2. Etiologi Degeneratif Autoimun


3.
4.
5.

S Joewono, I Haryy, K Handono, B Rawan, P Riardi. Chapter 279 : Osteoartritis. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam Edisi IV FKUI 2006. 11951202

Definisi
- Rheumatoid Arthritis adalah suatu penyakit autoimun dimana persendian (biasanya
tangan dan kaki) mengalami peradangan, sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan
seringkali menyebabkan kerusakan pada bagian dalam sendi (Febriana,2015).
Rheumatoid Arthritis (RA) adalah penyakit autoimun progresif dengan inflamasi kronik
yang menyerang sistem muskuloskeletal namun dapat melibatkan organ dan sistem tubuh
secara keseluruhan, yang ditandai dengan pembengkakan, nyeri sendi serta destruksi
jaringan sinovial yang disertai gangguan pergerakan diikuti dengan kematian prematur
(Mclnnes,2011)
Febriana (2015). Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kasus Rheumatoid Arthritis Ankle
Billateral Di RSUD Saras Husada Purworejo. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
Muhammadiyah Surakarta
- Osteoartitis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif, dimana keseluruhan struktur
dari sendi mengalami perubahan patologis. Ditandai dengan kerusakan tulang rawan
(kartilago) hyalin sendi, meningkatnya ketebalan serta sklerosis dari lempeng tulang,
pertumbuhan osteofit pada tepian sendi, meregangnya kapsula sendi, timbulnya
peradangan, dan melemahnya otot–otot yang menghubungkan sendi.
S Joewono, I Haryy, K Handono, B Rawan, P Riardi. Chapter 279 : Osteoartritis. Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi IV FKUI 2006. 11951202
Etiologi
- Penyebab pasti RA masih belum diketahui secara pasti dimana merupakan penyakit
autoimun yang dicetuskan faktor luar (infeksi, cuaca) dan faktor dalam (usia, jenis
kelamin, keturunan, dan psikologis). Diperkirakan infeksi virus dan bakteri sebagai
pencetus awal RA. Sering faktor cuaca yang lembab dan daerah dingin diperkirakan ikut
sebagai faktor pencetus.
- OA disebabkan oleh perubahan biomekanikal dan biokimia tulang rawan yang terjadi
oleh adanya penyebab multifaktorial antara lain karena faktor umur, stress mekanis, atau
penggunaan sendi yang berlebihan, defek anatomik, obesitas, genetik, humoral dan faktor
kebudayaan, dimana akan terjadi ketidakseimbangan antara degradasi dan sintesis tulang
rawan.
Predileksi
- OA : Menyerang sendi-sendi besar, cenderung di bagian distal. Seperti sendi pada lutut,
sendi pada panggul, vertebra, sendi pada pergelangan kaki. Semakin bertambah usia
beban yang harus ditumpu samkin besar sehingga gesekan terjadi semakin besar pada
sendi.
- RA : Menyerang sendi-sendi kecil, Sendi-sendi kecil : PIP (Proximal Interphalangeal) di
jari’’, MCP (Metacarpophalangeal) sendi di telapak tangan, MTP
(Metatarsophalangeal)sendi di antara telapak kaki dengan jari”.cenderung di bagian
proksimal.

Gejala
- Keluhan OA menurut Febri 2015
1. Persendiaan terasa kaku dan nyeri apabila digerakkan. Pada mulanya hanya terjadi
pagi hari, tetapi apabila dibiarkan akan bertambah buruk dan menimbulkan rasa sakit
setiap melakukan gerakan tertentu, terutama pada waktu menopang berat badan,
namun bisa membaik bila diistirahatkan. Pada beberapa pasien, nyeri sendi dapat
timbul setelah istirahat lama, misalnya duduk dikursi atau di jok mobil dalam
perjalanan jauh. Kaku sendi pada OA tidak lebih dari 15-30 menit dan timbul setelah
istirahat beberapa saat misalnya setelah bangun tidur.
2. Adanya pembengkakan/peradangan pada persendiaan. Pembengkakan bisa pada salah
satu tulang sendi atau lebih. Hal ini disebabkan karena reaksi radang yang
menyebabkan pengumpulan cairan dalam ruang sendi, biasanya teraba panas tanpa
ada kemerahan.
3. Nyeri sendi terus-menerus atau hilang timbul, terutama apabila bergerak atau
menanggung beban.
4. Persendian yang sakit berwarna kemerah-merahan.
5. Kelelahan yang menyertai rasa sakit pada persendiaan
6. Kesulitan menggunakan persendian
7. Bunyi pada setiap persendiaan (krepitus). Gejala ini tidak menimbulkan rasa nyeri,
hanya rasa tidak nyaman pada setiap persendiaan (umumnya tulang lutut)
8. Perubahan bentuk tulang. Ini akibat jaringan tulang rawan yang semakin
rusak, tulang mulai berubah bentuk dan meradang, menimbulakan rasa sakit yang
amat sangat.

- Keluhan RA biasanya mulai secara perlahan dalam beberapa minggu atau bulan ditandai
dengan kriteria ARA (American Rheumatism Association) yang direvisi tahun 1987 yang
masih dapat digunakan dalam mendiagnosis RA:
1. Kaku pagi hari pada sendi dan sekitarnya, sekurang-kurangnya selama 1 jam sebelum
perbaikan maksimal.
2. Pembengkakan jaringan lunak atau persendian (arthritis) pada 3 daerah sendi atau
lebih secara bersamaan.
3. Artritis pada persendian tangan sekurang-kurangnya terjadi satu pembengkakan
persendian tangan yaitu PIP (proximal interphalangeal) sendi pada ruas jari, MCP
(metacarpophalangeal) sendi antara telapak tangan dengan ruas jari, atau pergelangan
tangan.
4. Artritis simetris, keterlibatan sendi yang sama pada kedua belah sisi misalnya PIP
(proximal interphalangeal), MCP (metacarpophalangeal), atau MTP
(metatarsophalangeal).
5. Nodul rheumatoid, yaitu nodul subkutan pada penonjolan tulang atau permukaan
ekstensor atau daerah juksta artikuler.
6. Perubahan gambaran radiologis yang khas pada RA pada sendi tangan atau
pergelangan tangan yaitu erosi atau dekalsifikasi tulang pada sendi yang terlibat
Faktor Risiko
- OA ada 2, predisposisi dan biomekanis
Faktor Predisposisi :
1. Usia
Proses penuaan dianggap sebagai penyebab peningkatan kelemahan di sekitar sendi,
penurunan kelenturan sendi kalsifikasi tulang rawa dan menurunkan fungsi kondrosit
yang semuanya mendukung terjadinya OA.
(B Mandelbaum, W David. Etiology and Pathophysiology of Osteoarthritis.
ORTHOSupersiteFebruari 12005)
2. Jenis Kelamin
Prevalensi OA pada laki-laki sebelum usia 50 tahun lebih tinggi dibandingkan
perempuan. Tetapi setelah usia lebih dari 50 tahun prevalensi perempuan lebih tinggi
menderita OA dibandingkan laki-laki. Perbedaan tersebut menjadi semakin berkurang
setelah menginjak usia 50-80 tahun. Hal tersebut diperkirakan karena pada masa usia
50-80 tahun wanita mengalami pengurangan hormone estrogen yang signifikan
3. Faktor genetik
Faktor genetik diduga juga berperan pada kejadian OA lutut, hal tersebut
berhubungan dengan abnormalitas kode genetik untuk sintesis kolagen yang bersifat
diturunkan.
4. Faktor Gaya hidup
Kebiasaan merokok
Banyaknya penelitian telah membuktikan bahwa ada hubungan positif antara
merokok meningkatkan kandungan racun dalam darah dan mematikan jaringan akibat
kekurangan oksigen, yang memungkinkan terjadinya kerusakan tulang rawan. Rokok
juga dapat merusak sel tulang rawan sendi. Hubungan antara merokok dengan
hilangnya tulang rawan pada OA dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Merokok dapat merusak sel dan menghambat proliferasi sel tulang rawan sendi.
2. Merokok dapat meningkatkan tekanan oksidan yang mempengaruhi hilangnya
tulang rawan.
3. Merokok dapat meningkatkan kandungan karbon monoksida dalam darah,
menyebabkan jaringan kekurangan oksigen dan dapat menghambat pembentukan
tulang rawan. Perokok aktif mempunyai pengertian orang yang melakukan langsung
aktivitas merokok dalam arti mengisap batang rokok yang telah di bakar. Sedang
perokok pasif adalah seorang yang tidak melakukan aktivitas merokok secara
langsung, akan tetapi ia ikut menghirup asap yang dikeluarkan oleh perokok aktif
5. Penyakit lain
OA lutut terbukti berhubungan dengan diabetes mellitus, hipertensi dan
hiperurikemia, dengan catatan pasien tidak mengalami obesitas
6. Obesitas
Obesitas merupakan faktor risiko terkuat yang dapat di modifikasi. Selama berjalan,
setengah berat badan bertumpu pada sendi. Peningkatan berat badan akan melipat
gandakan beban sendi saat berjalan terutama sendi lutut.
7. Osteoporosis merupakan salah satu faktor risiko yang dapat menyebabkan
osteoartritis. Salah satu faktor resiko osteopororsis adalah minum-minum alkohol.
Sehingga semakin banyak orang mengkonsumsi alkohol sehingga akan mudah
menjadi osteoporosis dan osteoporosis akan menyebabkan osteoarthritis

Faktor Biomekanis
1. Riwayat trauma lutut
Trauma lutut yang aus termasuk robekan pada ligament krusiatum dan meniscus
merupakan faktor risiko timbulnya OA lutut. Studi Framingham menemukan bahwa
ornga dengan riwayat trauma lutut memiliki risiko 5-6 kali lipat lebih tinggi untuk
menderita OA lutut. Hal tersebut biasanya terjadi pada kelompok usia yang lebih
muda serta dapat menyebabkan kecacatan yang lama.
2. KelainanAnatomis
Faktor risiko timbulnya OA lutut antara lain kelainan lokal pada sendi lutut seperti
genu varum, genu valgus, legg-calve Perthes disease dan dysplasia asetubulum.
Kelemahan otot quadrisep (paha bagian atas) dan laksiti ligamentum pada sendi lutut
termasuk kelainan lokal yang juga menjadi faktor risiko OA lutut.
3. Pekerjaan
Osteoartritis banyak ditemukan pada pekerja fisik berat terutama yang banyak
menggunakan kekuatan bertumpu pada lutut dan pinggang. Prevalensi lebih tinggi
menderita OA lutut ditemukan pada kuli pelabuhan, petani dan penambang
dibandingkan pekerja yang tidak menggunakan kekuatan lutut seperti pekerja
administrasi. Terdapat hubungan signifikan anatara pekerjaan yang menggunakan
kekuatan lutut dan kejadian OA lutut
4. Aktivitas fisik
Aktivitas fisik berat seperti berdiri lama ( 2 jam atau lebih setiap hari), berjalan jauh
( 2 jam atau lebih setiap hari), mengangkat barang berat (10kg-20 kg) selama 10 kali
atau lebih setiap minggu), naik turun tangga setiap hari merupakan faktor risiko OA
lutut
5. Atlit olah raga benturan keras dan membebani lutut seperti sepak bola, lari marathon
dan kung fu memiliki risiko meningkatkan untuk menderita OA lutut. Kelemahan otot
quadrisep primer merupakan faktor risiko bagi terjadinya OA dengan proses
menurunkan stabilitas sendi dan mengurangi shock yang menyerap materi otot.
Tetapi, disisi lain seseorang yang memliki aktivitas minim sehari-hari juga berisiko
mengalami OA. Ketika seseorang tidak mengalami gerakan, aliran cairan sendi akan
berkurang dan berakibat aliran makanan yang masuk ke sendi juga berkurang. Hal
tersebut akan menyebabkan proses degenerative berlebihan
- Faktor risiko RA
Penyebab pasti masih belum diketahui secara pasti dimana merupakan penyakit autoimun
yang dicetuskan faktor luar (infeksi, cuaca) dan faktor dalam (usia, jenis kelamin,
keturunan, dan psikologis). Diperkirakan infeksi virus dan bakteri sebagai pencetus awal
RA. Sering faktor cuaca yang lembab dan daerah dingin diperkirakan ikut sebagai faktor
pencetus sendi mengalami peradangan.
Faktor resiko dari arthritis rheumatoid ada 2 yaitu dapat dimidifikasi seperti pekerjaan,
merokok, makanan (sering makan daging), kopi, status ekonomi. Dan yang tidak dapat
dimodifikasi seperti genetic, jenis kelamin dan usia

Penatalaksanaan
Pengelolaan pasien dengan OA bertujuan untuk untuk menghilangkan keluhan,
mengoptimalkan fungsi sendi, mengurangi ketergantungan dan meningkatkan kualitas
hidup, menghambat progresivitas penyakit dan mencegah komplikasi. Pilar terapi: non
farmakologis (edukasi, terapi fisik, diet/penurunan berat badan), farmakologis (analgetik,
kortikosteroid lokal, sistemik, kondroprotektif dan biologik),dan pembedahan.

Penatalaksanaan pada RA mencakup terapi farmakologi, rehabilitasi dan pembedahan


bila diperlukan, serta edukasi kepada pasien dan keluarga. Tujuan pengobatan adalah
menghilangkan inflamasi, mencegah deformitas, mengembalikan fungsi sendi, dan
mencegah destruksi jaringan lebih lanjut (Kapita Selekta,2014).
1. NSAID (Nonsteroidal Anti-Inflammatory Drug) Diberikan sejak awal untuk
menangani nyeri sendi akibat inflamasi. NSAID yang dapat diberikan atara lain: aspirin,
ibuprofen, naproksen, piroksikam, dikofenak, dan sebagainya. Namun NSAID tidak
melindungi kerusakan tulang rawan sendi dan tulang dari proses destruksi.
2. DMARD (Disease-Modifying Antirheumatic Drug) Digunakan untuk melindungi sendi
(tulang dan kartilago) dari proses destruksi oleh Rheumatoid Arthritis. Contoh obat
DMARD yaitu: hidroksiklorokuin, metotreksat, sulfasalazine, garam emas, penisilamin,
dan asatioprin. DMARD dapat diberikan tunggal maupun kombinasi (Putra dkk,2013).
3. Kortikosteroid Diberikan kortikosteroid dosis rendah setara prednison 5-7,5mg/hari
sebagai “bridge” terapi untuk mengurangi keluhan pasien sambil menunggu efek
DMARDs yang baru muncul setelah 4-16 minggu. 4. Rehabilitasi Terapi ini dimaksudkan
untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Caranya dapat dengan mengistirahatkan sendi
yang terlibat melalui pemakaian tongkat, pemasangan bidai, latihan, dan sebagainya.
Setelah nyeri berkurang, dapat mulai dilakukan fisioterapi. 5. Pembedahan Jika segala
pengobatan di atas tidak memberikan hasil yang diharapkan, maka dapat
dipertimbangkan pembedahan yang bersifat ortopedi, contohnya sinovektomi,
arthrodesis, total hip replacement, dan sebagainya. (Kapita Selekta, 2014)