Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH AGAMA DAN ETIKA

IBADAH

OLEH

NAMA : Nur Halwiah

NO. BP : 19160076

PEMBIMBING AKADEMIK : NAJMUDDIN, Ph.D

PRODI FARMASI

UNIVERSITAS DHARMA ANDALAS PADANG

2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATARBELAKANG

Manusia perlu memperhatikan perangainya dari waktu ke waktu yang dalam perjalanan
itu kehidupan manusia mengalami banyak perubahan. Kemajuan peradaban menimbulkan
pergeseran banyak perilaku yang mempengaruhi perangai perorangan maupun kelompok.
Akhlak Tercela adalah perbuatan yang tidak Diridhoi oleh Allah. Akhlak yang tercela bermula
dari kesombongan dan rendah diri. Dari kesombongan muncul sikap bangga, sok tinggi, hebat,
ujub, hasad, keras kepala, zhalim, gila pangkat, kedudukan dan jabatan, senang dipuji padahal
tidak berbuat sesuatu dan sebagainya. Begitu banyaknya hal yang dapat menyebabkan
kemerosotan akhlak yang dapat menimbulkan akhlak atau perilaku tercela.

B. RUMUSAN MASALAH

1.Apakah yang dimaksud iri,dengki, dendam dan benci ?


2.Mengapa orang yang sudah berzakat, naik haji, berpuasa belum mencerminkan perilaku yang
baik?
3.Cara mencegah sifat iri, dengki, dendamdan benci
BAB II
PEMBAHASAN

A. Mengapa Orang Sudah Beribadah Tapi Masih Kurang Akhlaknya


Alasan Kurang Syukurnya Orang Beribadah yang Akhlaknya Buruk

Mukmin terbaik adalah yang paling baik perilakunya. “Orang mukmin yang paling sempurna
imannya adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).Yang membuat
seseorang itu baik, menyenangkan, dan menenangkan bagi sekitarnya adalah akhlak –budi
pekerti atau perangai. Bisa jadi, yang paham agama atau aktivis Islam, tidak menyenangkan
karena akhlaknya buruk.

Itulah sebabnya, misi utama Rasulullah Saw sebagai nabi dan utusan Allah, menyebarkan agama
Islam, adalah “liutammima makarimal akhlaq”, menyempurnakan akhlak mulia (HR. Imam
Ahmad dan Al-Hakim).

Akhlak mulia (Akhlaqul Karimah) merupakan manifestasi keimanan dan keislaman seseorang.
Akhlak ini melahirkan perilaku yang senantiasa berdasarkan nilai-nilai Islam sebagaimana
dipraktikkan oleh Nabi Saw dan para sahabat.

Akhlak mulia Rasul Saw tercermin dalam karakternya yang dikenal terpercaya (amanah), selalu
berkata benar dan jujur (shidiq), santun, membela kaum lemah (dhuafa), pemaaf, dan
sebagainya.Termasuk akhlak mulia adalah ikhlas, menghindari riya (pamer amal), menjauhi
ghibah (membicarakan aib orang lain), menolak hasad (iri hati kepada orang lain yang sukses
atau mendapatkan nikmat), dan sebagainya.

Rajin ibadah, namun akhlaknya kepada manusia buruk, bukan jaminan masuk surga.

“Ada beberapa orang yang datang menemui Rasulullah saw, lalu berkata, ‘Wahai Rosulullah, si
fulanah adalah orang yang rajin shalat, puasa, dan mengeluarkan zakat, tapi ia juga sering
berbuat jahat terhadap tetangganya. Lantas Rasulullah saw bersbda, “Dia adalah penghuni
neraka”. Lalu ada yang berkata kepada Rosulullah, bahwa ada seorang perempuan yang
shalatnya biasa-biasa, begitu juga dengan puasa yang dilakukan dan zakat yang dikeluarkannya,
tapi ia tidak pernah berbuat jahat terhadap tetangganya. Mendengar hal itu, beliau bersabda, “Dia
adalah penghuni surga” (HR Imam Ahmad dan Al-Hakim).

Beberapa Makna Sabda Rasulullah SAW dan Para Ulama

“Akhlak yang mulia adalah berwajah ceria, memberikan kebaikan, dan menahan diri dari
gangguan” (Ibnul Mubarak, Jami’ul Ulum wal Hikam).
“Akhlak mulia itu dengan bersabar atas gangguan manusia, tidak marah, dan tidak berlaku kasar
kepada mereka” (Imam Ahmad bin Hambal, Adab Syar’iyah).

“Asas akhlak mulia terhadap sesama manusia adalah engkau menyambung persahabatan
terhadap orang yang memutusmu dengan memberi salam, memuliakan, mendoakan kebaikannya,
memuji dan mengunjunginya” (Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa).

“Akhlak yang mulia asasnya adalah sabar dan lembut, sehingga menghasilkan sifat pemaaf,
berlapang dada, bermanfaat bagi manusia, sabar atas gangguan serta membalas kejelekan dengan
kebaikan” (Syaikh Abdurrahman As-Sa’di, Riyadhun Nadhirah).

“Agama ini seluruhnya akhlak, barangsiapa memperbaiki akhlaknya maka baik pula agamanya”
(Ibnul Qayyim, Madarijus Salikin).

Rasulullah Saw pernah ditanya tentang amalan apa yang paling banyak menyebabkan manusia
masuk surga, maka beliau menjawab: “Taqwallahi wa husnul khuluq”, takwa kepada Allah dan
akhlak yang mulia (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Imam Ahmad, Ibnu Hibban, dan Al Hakim dari
Abu Hurairah). Wallahu a’lam.

Nabi Muhammad tidak hanya mengajarkan sikap baik kepada Allah subhânhû wa ta’âlâ saja
namun juga mengajarkan akhlak yang indah terhadap sesama. Berperilaku baik kepada sesama
pun tidak terbatas kepada orang muslim saja. Banyak hadits yang menyatakan bahwa Baginda
Nabi tidak memberikan spesifikasi agama yang dipeluk orang lain dalam ranah urusan-urusan
sosial. Contohnya adalah dalam masalah bertetangga. Suatu ketika istri Rasul, Sayyidah Aisyah
radliyallâhu ‘anhâ meminta petunjuk Nabi.

ْ ‫فَإِلَىأ َ ِي ِه َماأ ُ ْه ِد‬،‫اري ِْن‬


َ‫قَا َل‬،‫ي‬ َ ‫س‬
َ ‫ ِإنَّ ِلي َج‬،ِ‫وَلهلل‬ ِ ‫إِلَىأ َ ْق َر ِب ِه َم‬
َ َ‫ي‬:‫ام ْن ِكبَابًا‬
ُ ‫ار‬

Artinya: “Wahai Rasulullah, saya mempunyai dua tetangga. Kepada siapa saya perlu
memberikan hadiah? Rasul menjawab, ‘Kepada orang yang pintunya paling dekat darimu’.” (HR
Bukhari)

Memberikan hadiah bukanlah sebuah kewajiban. Namun apabila ada satu barang, dengan dua
jumlah tetangga atau lebih, prioritas sasaran pemberian jatuh pada tetangga yang pintunya paling
dekat dari rumah si pemberi. Rasulullah tidak menyarankan pilihlah agamanya yang paling
Islam, tidak. Rasul menyarankan yang paling dekat. Sebab Rasulullah sedang mengajarkan
tentang hak-hak bertetangga. Sedangkan kita tidak bisa lepas dengan peranan tetangga. Dalam
satu kesempatan, ada sahabat yang bertanya kepada Baginda Nabi Muhammad

. ‫سا ِن َها‬
َ ‫يرانَ َها ِب ِل‬ ِ ‫وتُؤْ ذ‬،
َ ‫ِيج‬ َ ‫صد َُّق‬ َ ‫وتَ ْف َعل‬،
َ َ‫وت‬،ُ َ ‫ار‬ ُ َ ‫ِإنَّفُ ََلنَةَتَقُو ُماللَّ ْيلَ َوت‬
َ ‫صو ُمال َّن َه‬

Artinya: “Sesungguhnya Fulanah melakukan ibadah malam dengan rutin, ia juga bersedekah,
tapi ia menyakiti tetangga-tetangga dengan mulutnya.” Rasul pun kemudian menjawab:
ِ َّ‫ ِه َي ِم ْنأ َ ْه َِللن‬،‫ََل َخي َْرفِي َها‬
َ‫ار‬

Artinya: “Ia tak punya kebaikan sama sekali. Dia termasuk ahli neraka.”

َ‫قِي َل‬:‫سلَّ ََم‬


َ ‫صلَّىاللَّ ُهعَلَ ْي ِه َو‬ ُ ‫س‬
َ ‫وَللل ِه‬ ُ ‫فَقَالَ َر‬،‫صدَّقُبِا ْْلَثْ َو ِار َو ََلتُؤْ ذِيأ َ َحدًا‬ ْ ‫ص ِل‬
َ َ‫يال َم ْكتُوبَة‬
َ َ ‫وت‬، َ ُ ‫ َوفُ ََلنَةَت‬:َ‫ِهيَ ِم ْنأ َ ْه َِل ْل َجنَّ ِة‬

Artinya: “Rasul ditanya lagi, si Fulanah itu shalat hanya yang wajib-wajib saja. Dia
menyedekahkan beberapa potong roti keju, namun dia tidak pernah menyakiti hati tetangganya.
Rasul kemudian menjawab, ‘Dia termasuk ahli surga’.” (Lihat: Al-Baihaqi, Syu’abul Îmân,
[Maktabah ar-Rusyd, Riyadl, 2003], juz 12, halaman 94).

Hadits di atas dapat memberikan pemahaman kepada kita bahwa pintu surga tidak hanya terbuka
melalui satu jalan ibadah vertikal saja. Tapi harus dikomparasikan dengan hubungan baik secara
horizontal. Ibadah malam, berpuasa di siang hari itu sangat baik apabila dibarengi dengan
hubungan sosial yang bagus, terutama dalam masalah bertetangga. Dalam bertetangga, Rasul
juga pernah berpesan kepada Abu Dzar, untuk memperbanyak kuah saat memasak. Tujuannya,
walaupun material masakan sedikit, apabila dipadu kuah yang banyak, tetap bisa berbagi kepada
tetangga sebelah. Ada lima pesan Rasulullah ‫ ﷺ‬kepada Abu Hurairah yang penting kita
perhatikan:

َ ‫وأ َ ِحبَّ ِللنَّا ِس َمات ُ ِحبُّ ِلنَ ْف ِس َكتَ ُك ْن ُم ْس ِل ًم‬،‫ا‬


َ‫و ََلتَ ْكث ُ ِرالض َِّح َكفََإِ َّن‬،‫ا‬ ِ ‫وأَحْ ِس ْنإِلَى َج‬،
َ ًَ‫ار َكت َ ُك ْن ُمؤْ ِمن‬ ِ َّ‫س َمالل ُهلَ َكتَ ُك ْنأ َ ْغنَىالن‬
َ ‫اس‬ َ َ‫ضبِ َماق‬
َ ‫ار‬
ْ ‫و‬،
َ ‫اس‬ ِ ‫ات َّ ِق ْال َم َح‬
ِ َّ‫ار َمتَ ُك ْنأ َ ْعبَدَالن‬
ََ ‫َكثْ َرةَالض َِّح َكت ُ ِميت ُ ْالقَ ْل‬
‫ب‬

Artinya: “Hindarilah segala macam bentuk perkara yang haram, niscaya kamu akan menjadi
orang yang paling beribadah kepada Allah. Relakan atas apa yang Allah bagikan kepadamu,
kamu akan menjadi orang yang paling kaya. Perbaikilah hubunganmu dengan tetangga, kamu
akan jadi orang yang beriman. Cintailah manusia sebagaimana kamu mencintai diri kamu
sendiri, kamu pasti akan jadi orang muslim sejati. Janganlah kamu memperbanyak tertawa,
sesungguhnya tertawa itu bisa mengakibatkan hati mati.” (Musnad Ahmad: 8095)

Pada hadits yang masyhur, dikatakan:

َ ‫اآلخ ِرفَ ْليُ ْك ِر ْم َج‬


ُ‫ارَه‬ ِ ‫َم ْنكَانَيُؤْ ِمنُبِاللَّ ِه َواليَ ْو ِم‬

Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tetangga.”
(HR Bukhari: 6019)

Dua hadits ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa ada hubungan yang erat antara
keimanan seseorang dengan hubungan sosial, tertutama bertetangga. Oleh karena itu, tidak heran
jika ada orang rajin ibadah namun sebab bertetangganya buruk, mengakibatkan dia masuk neraka
sesuai sabda Nabi Muhammad di atas. Na’ûdzu billâh
mindzâlik.Wallâhua’lam.(AhmadMundzir)
Pengertian

Iri artinya tidak senang orang lain memperoleh nikmat.

Dengki adalah merasa tidak senang melihat orang lain mendapatkan anugrah kenikmatan dari
Allah SWT.

Pengertian Dendam adalah rasa marah yang tidak terlampiaskan atau tidak tersalurkan sehingga
didalam hati menjadi sifat buruk yang selalu berkeinginan membalas perbuatan orang lain.

Pengertian Benci adalah rasa tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh orang lain

Mengapa orang yang sudah berzakat, naik haji, berpuasa belum mencerminkan perilaku yang
baik?

Karena mereka tidak memiliki ilmu islam yang benar dan mereka tidak mengamalkan ilmu yang
mereka dapat dari yang mereka kerjakan.

Cara mencegah sifat iri, dengki, dendam dan benci sebagai berikut :

1. Perbanyak beribadah
2. Biasakan berbagi
3. Selalu bersyukur atas nikmat Allah
4. Pahami keterbatasan manusia
5. Jaga tali silaturahmia
6. Introspeksi
7. Pelihara perkataan baik
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Akhlak tercela adalah semua sikap dan perbuatan yang dilarang oleh Allah, karena akan
mendatangkan kerugian baik bagi pelakunya ataupun orang lain. Akhlak, memiliki sebab-sebab
yang dapat menjadikannya tinggi dan mulia, dan sebaliknya juga mempunyai sebab-sebab yang
dapat menjadikannya merosot dan jatuh ke dalam keterpurukan.

Akhlaq tercela dapat menciptakan perilaku tercela. Perilaku tercela dapat di golongkan menjadi
dua macam, yaitu perilaku yang berdampak buruk bagi dirinya sendiri dan perilaku tercela yang
berdampak buruk bagi orang lain. Begitu banyaknya macam-macam akhlak tercela yang terdapat
dalam hati manusia. Beberapa akhlak tercela, yaitu iri, dengki, dendam dan benci.

B. Saran
1. Al-Qur’an menunjukkan cara melawan hawa nafsu dan setan dengan cara yang sangat mudah
yaitu dengan memohon perlindungan dan berpaling dari orang bodoh, dan menolak perlakuan
jahat mereka dengan berbuat baik.

2. Bersyukurlah atas karunia yang telah Allah berikan, maka insyaallah, hati kita akan selamat
dari akhlak tercela.