Anda di halaman 1dari 9

J. Sains & Teknologi, Desember 2018, Vol. 18 No.

3 : 282 – 290 ISSN 1411-4674

KOMPOSISI JENIS NUTRISI DAN TEKNIK IRIGASI AKUAPONIK TERHADAP


PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN SELADA (Lactuca sativa) DAN IKAN NILA
(Oreochromis niloticus)

The Nutrition Type Composition and Aquaponic Irrigation Technique on Growth and Production of Lettuce
(Lactuca Sativa) and Nile Tilapia (Oreochromis Niloticus)

1
Andi Nur Ardha, 2Sharifuddin Bin Andy Omar, 3Nasaruddin
1
Prodi Sistem-sistem Pertanian, Sekolah Pascasarjana, Universitas Hasanuddin (email: nur.ardha12@gmail.com)
2
Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin
(email: sb.andyomar@gmail.com)
3
Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin (email: nnasaruddin@gmail.com)

ABSTRAK

Kebutuhan sayur dan ikan yang aman dan sehat untuk dikonsumsi oleh masyarakat semakin meningkat seiring dengan
tingginya pertambahan penduduk, sedangkan produksi produk pertanian semakin rendah karena keterbatasan lahan
sehingga dibutuhkan upaya pemanfaatan lahan terbatas untuk memenuhi kebutuhan tersebut, salah satunya adalah
teknik akuaponik yang merupakan sistem integrasi sayur dan ikan di lahan terbatas. Penelitian ini bertujuan
mengetahui: (1) pengaruh interaksi antara komposisi jenis nutrisi dan teknik irigasi akuaponik terhadap pertumbuhan
dan produksi tanaman selada dan ikan nila, (2) pengaruh komposisi jenis nutrisi terhadap pertumbuhan dan produksi
tanaman selada dan ikan nila, (3) pengaruh teknik irigasi akuaponik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman selada
dan ikan nila. Penelitian dilaksanakan di screen house di Kompleks BTN Antara A1 No. 6, Jalan Perintis
Kemerdekaan, Kelurahan Tamalanrea Indah, Kecamatan Tamalanrea, Makassar, yang berlangsung selama Desember
2016 hingga Februari 2017. Penelitian dilaksanakan dalam bentuk percobaan faktorial dua faktor yang disusun
berdasarkan pola rancangan acak kelompok. Faktor pertama adalah teknik irigasi akuaponik yang terdiri atas dua taraf
yaitu: teknik NFT (M1) dan teknik DFT (M2), dan faktor kedua adalah komposisi jenis nutrisi yang terdiri atas lima
taraf yaitu: larutan nutrisi AB mix 5 ml L-1 air (N1), larutan nutrisi AB mix 3,5 ml L-1 air + POC 15 ml L-1 air (N2),
larutan nutrisi AB mix 2,5 ml L-1 air + POC 25 ml L-1 air (N3), larutan nutrisi AB mix 1,5 ml L-1 air + POC 35 ml L-1
air (N4), dan POC 50 ml L-1 air (N5). Data dianalisis secara varian dengan tingkat kepercayaan 95%, dilanjutkan
dengan uji beda nyata jujur (BNJ) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) interaksi perlakuan teknik
irigasi DFT dan larutan nutrisi AB mix 5 ml L-1 air (M2N1) memberikan hasil terbaik terhadap parameter jumlah daun
sebesar 38,22 helai, luas daun sebesar 76,00 cm2, bobot segar tajuk sebesar 63,74 g, berat kering tajuk 1,147 g; (2)
perlakuan komposisi jenis larutan nutrisi ABmix 1,5 ml L-1 air + POC 35 ml L-1 (N4) memberikan rata-rata bobot ikan
tertinggi, yaitu 24,17 g, tingkat kelangsungan hidup ikan nila pada sistem akuaponik sebesar 95%; dan (3) teknik irigasi
DFT lebih baik dibandingkan teknik NFT untuk budidaya selada dan kombinasi teknik DFT dan AB mix menunjukkan
hasil selada terbaik. Namun demikian, kombinasi teknik irigasi DFT dan larutan nutrisi AB mix 2,5 ml L-1 air + POC
25 ml L-1 air (M2N3) dapat menjadi alternatif dalam budidaya selada untuk mengatasi kelangkaan AB mix dipasaran.

Kata kunci: Akuaponik, selada, nutrisi, NFT, DFT, ikan nila

ABSTRACT

The needs for safe and healthy vegetable and fish increase along with the increase of human population, on the other
hand production of agricultural products getting lower due to limited land, hence intensive use of limited land area is
encorage in order to increase agriculture production, aquaponic is an integrated environmentally farming system that
combine vegetables and fish in limited space culture system. The research aimed at investigating: (1) the interaction
effect between the nutrition type composition and aquaponic irrigation technique on the growth and production of the
lettuce plant and nile tilapia, (2) the effect of the nutrition type composition on the growth and production of lettuce
plant and nile tilapia, (3) the effect of the aquaponic irrigation technique on the growth and production of the lettuce

282
Andi Nur Ardha ISSN 1411-4674

plant and nile tilapia. The research was conducted in the screen house in BTN Antara complex A1 No. 6, Jalan Perintis
Kemerdekaan, Tamalanrea Indah Village Administration, Tamalanrea District, Makassar, from Desember 2016 to
February 2017. The research was carried out in the form the factorial experiment of two factors being arranged based
on the group randomised design pattern. The first factor was the aquaponic irrigation technique comprising two phases
namely:NFT technique (M1), DFT technique (M2), and second factor was nutrition type comprising five phases
namely: nutrition solution of AB mix 5 ml L-1 water (N1), nutrient solution AB mix 3,5 ml L-1 water + POC 15 ml L-1
water (N2), nutrient solution AB mix 2,5 ml L-1 water + POC 25 ml L-1 water (N3) nutrient solution AB mix 1,5 ml L-1
water + POC 35 ml L- 1 water (N4), and POC 50 ml L- 1 water (N5). The data were analysed using the variance with the
significance level of 95%, continued with the Tukey Test of α=5%. The research result indicates that (1) the treatment
interaction of DFT technique and nutrition solution of AB mix 5 ml L-1 water (M2N1) gives the best result on the
parameter of the number of leaves of 38,22 sheet, leaf width of 76,00 cm2, canopy wet weight of 63,74 g, canopy dry
weight of 1,147 g, (2) the treatment of nutrition solution type composition of ABmix 1,5 ml L-1 air + POC 35 ml L-1
(N4) gives the highest fish weight average of 24,17 g, the nile tilapia survival rate in the aquaponic system of 95%, (3)
DFT technique is better than NFT technique for lettuce cultivation and the combination of DFT and AB Mix indicates
the best lettuce result. Nevertheless, the combination of DFT technique and nutrition solution of AB Mix 2,5 ml L-1 air
+ POC 25 ml L-1 air (M2N3) can become an alternative in the lettuce cultivation to overcome AB mix scarcity in the
market.

Keywords: Aquaponic, lettuce, nutrition, NFT, DFT, tilapia

PENDAHULUAN sangat terbatas jumlahnya seperti kalium (K),


Akuaponik adalah kombinasi akuakultur kalsium (Ca) dan besi (Fe), sehingga dapat
dan hidroponik yang bertujuan untuk memelihara mengakibatkan terjadinya kekurangan nutrisi.
ikan dan tanaman dalam satu sistem yang saling Kekurangan unsur-unsur tersebut disebabkan
terhubung (Rakocy et al., 2006). Sistem komposisi dari pakan ikan yang menyediakan
akuaponik mereduksi amonia dengan menyerap segala nutrisi yang dibutuhkan oleh ikan untuk
air buangan budidaya atau air limbah dengan tumbuh, akan tetapi belum tentu mengandung
menggunakan akar tanaman yang berfungsi semua unsur yang dibutuhkan oleh tanaman.
sebagai biofilter sehingga amonia yang terserap Sejalan dengan hal tersebut, hasil penelitian
mengalami proses oksidasi dengan bantuan Bittsanszky et al (2016) yang membandingkan
oksigen dan bakteri nitrifikasi, amonia diubah kandungan nutrisi, baik makro maupun mikro dari
menjadi nitrat (Widyastuti, 2008). Menurut limbah ikan pada sistem akuaponik dengan larutan
Nugroho & Sutrisno (2008), kandungan amonia nutrisi hidroponik standar menyatakan bahwa
dapat direduksi oleh tanaman hingga 90% dari nutrisi yang dihasilkan dari limbah ikan pada
kadar yang ada, sehingga air tersebut masih layak sistem akuaponik secara signifikan lebih rendah
digunakan kembali sebagai media pemeliharaan dibandingkan dengan larutan nutrisi hiroponik
ikan. standar, khususnya unsur nutrisi mikro Fe2+ dan
Pada sistem akuaponik semua nutrisi Mn2+ dengan rasio masing-masing 68,5 dan 138,7.
yang dibutuhkan oleh tanaman berasal dari limbah Budidaya sayuran daun secara hidroponik
ikan. Menurut Sutanto (1998), kolam umumnya menggunakan larutan hara berupa
pemeliharaan ikan kaya akan humus dan sisa larutan hidroponik standar (AB mix). Nutrisi AB
pakan yang banyak mengandung hara (N, P dan mix mengandung 16 unsur hara esensial yang
K). Air mengandung limbah organik yang diperlukan tanaman yang terdiri atas unsur hara
mempunyai nilai sebagai sumber hara bagi makro dan mikro (Agustina, 2009). Hasil
tanaman baik dengan cara hidroponik atau media penelitian Sesanti & Sismanto (2016),
tanah (Triyatmo & Probosunu, 1997). Namun, menunjukkan bahwa dari beberapa jenis nutrisi
menurut Somerville et al (2014), meskipun yang digunakan dan terdiri atas AB Mix, pupuk
limbah padat ikan mengandung hampir semua NPK, pupuk majemuk, dan pupuk organik cair,
nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman, baik unsur yang dikombinasikan dengan sistem hidroponik
makro maupun mikro, beberapa unsur nutrisi nutrient film technique (NFT) dan deep flow

283
Akuaponik, selada, nutrisi, NFT, DFT, ikan nila ISSN 1411-4674

technique (DFT), kombinasi larutan nutrisi AB NFT dan teknik DFT memiliki sedikit perbedaan.
Mix dan sistem hidroponik NFT menunjukkan Pada NFT, larutan nutrisi diberikan dalam bentuk
hasil terbaik bagi pertumbuhan dan hasil pakchoi. lapis tipis (0,5 mm), sedangkan pada DFT, larutan
Namun, yang menjadi kendala bagi petani dengan nutrisi diberikan dengan cara merendam akar
usaha hidroponik adalah nutrisi AB mix masih tanaman setinggi 2 - 3 cm (Departement of
jarang dijumpai di pasaran dan memiliki harga Agriculture, Sri Lanka 2009) atau 5 - 8 cm (Kao,
yang relatif mahal jika dibandingkan dengan 2008). Perbedaan mekanisme pemberian larutan
pupuk organik cair (POC). Pupuk organik cair nutrisi pada teknik hidroponik memengaruhi
digunakan sebagai pupuk tanaman memiliki proses transpor air ke tanaman, sehingga
kelebihan karena lebih cepat dapat dimanfaatkan berdampak pada efisiensi penggunaan air
oleh tanaman dan bermanfaat pula bagi ikan. (Steinberg et al., 2000), dan juga akan berdampak
Pupuk organik dapat berfungsi sebagai sumber pada penyerapan zat hara bagi tanaman.
makanan secara langsung untuk ikan dan Berdasarkan hal itu, perlu dilakukan penelitian
organisme makanan ikan lainnya atau diuraikan untuk melihat efektifitas teknik NFT dan DFT,
oleh bakteri menjadi bahan-bahan organik yang dan komposisi jenis nutrisi, terhadap pertumbuhan
merangsang pertumbuhan fitoplankton dan tanaman selada dan ikan nila dalam sistem
zooplankton (Casmuji, 2002). akuaponik.
Selada (Lactuca sativa) merupakan salah
satu sayuran yang dapat dibudidayakan secara BAHAN DAN METODE
hidroponik maupun akuaponik. Penggunaan Tempat dan Waktu
selada dalam sistem akuaponik berperan sebagai Penelitian ini dilaksanakan di screen
biofilter yang berfungsi untuk mereduksi limbah house di Kompleks BTN Antara A1 No. 6, Jalan
nitrogen budidaya ikan sehingga dapat Perintis Kemerdekaan, Kelurahan Tamalanrea
memperbaiki kualitas air, mengurangi Indah Kecamatan Tamalanrea, Makassar dan Uji
pencemaran dan memberi nilai tambah produksi Laboratorium Kualitas air Fakultas Perikanan
pada sistem budidaya. Adapun ikan yang Universitas Hasanuddin Makassar. Penelitian
dipelihara adalah ikan nila (Oreochromis dilaksanakan dari bulan Desember 2016 –
niloticus). Ikan nila termasuk famili Cichlidae Februari 2017.
dan merupakan ikan asal Afrika (Boyd, 2004). Alat dan Bahan
Menurut Omar & Bin (2012), famili Cichlidae Alat yang digunakan adalah pipa PVC,
merupakan salah satu anggota ikan-ikan air tawar pompa air HL-1800 (AC 220/240 V; 32 Watt;
sekunder, yaitu ikan-ikan yang saat ini 2.000 L/H), Potential hydrogen (pH) meter,
anggotanya hidup di perairan tawar tetapi dapat timbangan digital ( ION digital scales model
menoleransi air laut dalam waktu yang singkat. EPS05 200 g x 0,01 g), Chlorophyll Content
Ikan nila cocok untuk dibudidayakan pada sistem Meter (CCM – 200 Plus), termometer, aerator,
akuaponik karena memiliki beberapa kelebihan, boks volume 82 L, gunting, gelas ukur, kamera
yaitu mudah untuk dibudidayakan, memiliki nilai digital, penggaris.
ekonomi yang cukup tinggi, toleran terhadap Bahan yang digunakan dalam penelitian
kualitas air yang rendah, mudah untuk dibiakkan, ini adalah benih selada (Lactuca sativa) varietas
dan bersifat omnivora (Maulana, 2015). Grand Rapid, benih ikan nila strain nila gesit
Selain ketersediaan unsur hara, jenis (Oreochromis niloticus) dengan panjang rata-rata
tanaman dan ikan, teknik irigasi juga diduga 5 cm dan bobot rata-rata 2 gram, pupuk organik
berpengaruh terhadap berhasilnya sistem cair, Nutrisi AB mix, rockwool, kain flanel, net
akuaponik. Pada penelitian ini digunakan teknik pot, kertas label, pakan ikan komersil dengan
irigasi nutrient film technique (NFT) dan deep kadar protein 35%, kain flanel, lem pipa.
flow technique (DFT) (Departement of Rancangan Penelitian
Agriculture, Sri Lanka 2009) yang merupakan Penelitian dilaksanakan dalam bentuk
bentuk teknik hidroponik aktif. Kedua teknik percobaan faktorial dua faktor yang disusun
tersebut dapat digunakan dengan mudah dan berdasarkan pola Rancangan Acak Kelompok
efisien untuk budidaya tanaman Namun demikian, (RAK). Faktor pertama adalah teknik irigasi
mekanisme pemberian larutan nutrisi pada teknik akuaponik yang terdiri atas dua taraf yaitu : teknik

284
Andi Nur Ardha ISSN 1411-4674

NFT (M1) dan teknik DFT (M2), dan faktor Analisis Data
kedua adalah komposisi jenis nutrisi yang terdiri Data hasil pengamatan yang diperoleh
atas lima taraf yaitu : larutan nutrisi AB mix 5 ml dari penelitian dianalisis menggunakan Analisis of
L-1 air (N1), larutan nutrisi AB mix 3,5 ml L-1 air Variance (ANOVA) dalam Microsoft Excel 2010.
+ POC 15 ml L-1 air (N2), larutan nutrisi AB mix Apabila ada pengaruh perlakuan pada analisis
2,5 ml L-1 air + POC 25 ml L-1 air (N3), larutan sidik ragam maka dilakukan uji lanjut untuk
nutrisi AB mix 1,5 ml L-1 air + POC 35 ml L-1 air membedakan rerata antar perlakuan dengan
(N4), dan POC 50 ml L-1 air (N5). Terdapat 10 menggunakan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) dengan
kombinasi perlakuan yang diulang sebanyak 3 kali tingkat kepercayaan 95%.
sehingga terdapat 30 satuan percobaan.
Pengumpulan data HASIL
Metode yang digunakan dalam penelitian Jumlah Daun
ini adalah metode kuantitatif dengan Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa
pengumpulan data di lapangan dari awal hingga interaksi antara teknik irigasi akuaponik dan
akhir penelitian serta didukung oleh dokumentasi komposisi jenis nutrisi berpengaruh nyata
dan hasil uji laboratorium. Adapun komponen terhadap jumlah daun tanaman selada. Tabel 1
pengamatan yaitu jumlah daun, luas daun, bobot menunjukkan bahwa teknik irigasi DFT dengan
segar tajuk dan akar, bobot kering tajuk dan akar, komposisi nutrisi AB Mix 5 ml L-1 air
tingkat kelangsungan hidup ikan (SR), suhu, DO, memberikan jumlah daun tertinggi 38,22 helai cm
pH, dan Amonia. dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya.

Tabel 1. Jumlah daun (helai) pada perlakuan teknik irigasi akuaponik dan komposisi jenis nutrisi
Komposisi jenis Nutrisi
Teknik Irigasi N1 N2 N3 N4 N5 Rata-rata
36,28 24,44 14,33 21,00 17,33 22,68
M1

38,22 26,50 23,44 13,89 16,28 23,67


M2

37,25 25,47 18,89 17,44 16,81


Rata-rata
Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada baris (ab) dan kolom (pqrst) berarti tidak berbeda nyata
pada Uji BNJ 5%

Luas Daun luas daun tanaman selada. Tabel 2 menunjukkan


Sidik ragam menunjukkan bahwa bahwa perlakuan teknik irigasi DFT dengan
interaksi dan perlakuan komposisi jenis nutrisi nutrisi AB Mix 5 ml L-1 air menghasilkan luas
berpengaruh sangat nyata sedangkan perlakuan daun tertinggi 76 cm2 dan berbeda nyata
teknik irigasi tidak berpengaruh nyata terhadap perlakuan lainnya .

Tabel 2. Luas daun (cm2) pada perlakuan teknik irigasi akuaponik dan komposisi jenis nutrisi
Komposisi jenis Nutrisi
Teknik Irigasi N1 N2 N3 N4 N5 Rata-rata
72,33 57,19 27,89 37,89 21,26 43,31
M1

76,00 51,31 50,42 37,46 13,22 45,68


M2

74,17 54,25 39,15 37,67 17,24


Rata-rata
Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada baris (ab) dan kolom (pqrst) berarti tidak berbeda
nyata pada Uji BNJ 5%

285
Akuaponik, selada, nutrisi, NFT, DFT, ikan nila ISSN 1411-4674

Bobot Segar Tajuk AB Mix 5 ml L-1 memberikan bobot segar tajuk


Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa tertinggi (63,74 g) dan tidak berbeda nyata dengan
interaksi dan komposisi jenis nutrisi berpengaruh perlakuan NFT + AB Mix 5 ml L-1, namun
sangat nyata, sedangkan perlakuan teknik irigasi berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Bobot
tidak berpengaruh nyata terhadap bobot segar segar tajuk terendah terdapat pada perlakuan
tajuk tanaman selada. Tabel 3 menunjukkan DFT+ POC 50 ml L-1 air yaitu 3,13 g.
bahwa interaksi perlakuan teknik irigasi DFT +

Tabel 3. Berat segar tajuk tanaman selada (g) pada perlakuan teknik irigasi akuaponik dan komposisi jenis
nutrisi
Komposisi jenis Nutrisi
Teknik Irigasi
N1 N2 N3 N4 N5 Rata-rata
63,18 22,69 6,94 11,53 6,11 22,09
M1

63,74 16,93 20,32 9,00 3,13 22,62


M2

63,46 19,81 13,63 10,27 4,62


Rata-rata
Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada baris (ab) dan kolom (pqrst) berarti tidak berbeda nyata
pada Uji BNJ 5%

Bobot Kering Tajuk Teknik irigasi DFT + AB mix 5 ml L-1 air


Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa menghasilkan bobot kering tajuk tertinggi yaitu
perlakuan teknik irigasi, komposisi jenis nutrisi 1,15 g, dan berbeda nyata dengan perlakuan
dan interaksinya berpengaruh sangat nyata lainnya sebagaimana ditunjukkan pada tabel 4.
terhadap bobot kering tajuk tanaman selada.

Tabel 4. Berat kering tajuk tanaman selada (g) pada perlakuan teknik irigasi akuaponik dan komposisi jenis
nutrisi
Komposisi jenis Nutrisi
Teknik Irigasi
N1 N2 N3 N4 N5 Rata-rata
0,79 0,45 0,22 0,27 0,33 0,41
M1

1,15 0,81 0,41 0,16 0,06 0,52


M2

Rata-rata 0,97 0,63 0,32 0,22 0,20

Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada baris (ab) dan kolom (pqrst) berarti tidak berbeda nyata
pada Uji BNJ 5%

Tingkat Kelangsungan Hidup Ikan (SR) akuaponik berkisar antara 27,67 - 28,11oC, pH air
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa berkisar antara 7,18-7,30. Oksigen terlarut pada
perlakuan teknik irigasi, komposisi jenis nutrisi awal pengamatan berkisar antara 2,6 – 9,8 ppm
dan interaksinya tidak berpengaruh nyata terhadap dan terjadi peningkatan saat akhir pengamatan,
tingkat kelangsungan hidup ikan. Rata-rata tingkat yaitu berkisar antara 6,7 – 11,5 ppm, dan kadar
kelangsungan hidup ikan nila adalah 95%. amoniak pada awal pengamatan berkisar antara
Kualitas Air 0,003 - 0,101 ppm dan pada akhir pengamatan
Hasil pengamatan pada tabel 5 berkisar antara 0,002 - 0,136 ppm. Sehingga
menunjukkan bahwa suhu air pada media secara umum terlihat kualitas air selama penelitian

286
Andi Nur Ardha ISSN 1411-4674

masih pada kondisi yang optimum untuk dan tanaman selada.


pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nila

Tabel 5. Tabel kualitas air (pH, Suhu, DO dan Amoniak)

suhu
Amoniak (NH3)
Perlakuan pH kolam DO (ppm)
(ppm)
(°C)
M1N1 7,28 27,89 7,7 0,021
M1N2 7,22 28,11 8,0 0,006
M1N3 7,18 28,00 9,3 0,002
M1N4 7,22 28,00 8,0 0,002
M1N5 7,30 28,11 6,7 0,003
M2N1 7,30 27,89 7,7 0,136
M2N2 7,29 27,72 7,4 0,011
M2N3 7,30 27,67 9,6 0,007
M2N4 7,25 27,78 11,5 0004
M2N5 7,21 27,78 10,6 0,002
Keterangan: Data Primer, 2017

PEMBAHASAN daun. Bobot segar tajuk tanaman selada tertinggi


Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pada perlakuan M2N1, dan tidak berbeda
interaksi teknik irigasi akuaponik dan komposisi nyata dengan perlakuan M1N1. Hal ini diduga
jenis nutrisi berpengaruh nyata hingga sangat disebabkan larutan nutrisi mampu menyediakan
nyata terhadap pertumbuhan dan produksi unsur hara N, P dan K dalam keadaan seimbang
tanaman selada. Teknik irigasi akuaponik Deep sehingga dapat diserap tanaman secara optimal
Flow Technique (DFT) dengan komposisi jenis dalam menunjang pertumbuhan tanaman.
nutrisi AB Mix 5 ml L-1 air (M2N1) memberikan Sementara itu, bobot kering tajuk dan akar
hasil tertinggi terhadap rata-rata jumlah dan luas tertinggi masing-masing terdapat pada perlakuan
daun tanaman selada, yaitu 38.22 helai dan luas M2N1 dan perlakuan M2N3 (teknik irigasi DFT
daun 76 cm2 berbeda nyata dengan interaksi dengan komposisi jenis nutrisi AB mix 2,5 ml L-1
perlakuan lainnya. Hal ini diduga terkait dengan air + POC 25 ml L-1 air).
transpor air dan nutrien ke akar tanaman yang Teknik irigasi akuaponik memberikan
cenderung lebih optimal pada teknik irigasi DFT pengaruh nyata hingga sangat nyata terhadap
yang memungkinkan akar tanaman dapat jumlah daun dan bobot kering tajuk tanaman
beradaptasi terhadap perubahan lingkungan selada. Teknik irigasi DFT memberikan rata-rata
sekitar akar sehingga mampu menyerap larutan jumlah daun tertinggi. Diduga teknik DFT
nutrisi dengan baik dan mendukung penambahan dengan metode penyiraman secara kontinyu
jumlah dan luas daun. Hasil penelitian Nakano et merendam akar tanaman setinggi 5-8 cm
al (2003), dengan tomat sebagai tanaman uji memungkinkan transpor air dan nutrisi secara
menjelaskan bahwa akar pada kondisi cukup air optimal sesuai dengan kebutuhannya, sehingga
mampu beradaptasi dengan baik terhadap mampu diserap dengan baik oleh akar tanaman.
perubahan konsentrasi nutrisi, pH, dan suhu. Demikian halnya dengan rata-rata bobot kering
Sementara itu menurut Agung & Rahayu (2004), tanaman yang dihasilkan. Hal ini terjadi karena
bahwa peningkatan luas daun terkait dengan DFT mampu menjaga suhu larutan nutrisi dan
peningkatan N dan ketersediaan air bagi tanaman. kadar oksigen tetap stabil, sehingga larutan nutrisi
Menurut Aziz & Surung (2006), bahwa dapat ditransport sesuai dengan kebutuhan
penambahan nitrogen yang cukup pada tanaman tanaman dan menghasilkan produksi tanaman
selada akan mempercepat laju pembelahan dan yang baik. Menurut Kao (2008), teknik DFT
pemanjangan sel, pertumbuhan akar, batang dan mampu menjaga suhu larutan nutrisi dalam

287
Akuaponik, selada, nutrisi, NFT, DFT, ikan nila ISSN 1411-4674

kondisi konstan. Peningkatan suhu larutan nutrisi secara optimal sehingga diperoleh produksi
dapat menurunkan kadar oksigen terlarut, yang berupa bobot segar pada tanaman selada.
berakibat pada penurunan kecepatan respirasi Secara umum rata-rata tingkat
akar. kelangsungan hidup ikan nila pada budidaya
Komposisi jenis nutrisi memberikan akuaponik sebesar 95%. Tingkat kelangsungan
pengaruh nyata hingga sangat nyata terhadap hidup ikan yang tinggi diduga disebabkan karena
jumlah daun, luas daun, bobot segar tajuk , dan terpenuhinya kebutuhan nutrisi ikan yang
bobot kering tajuk tanaman selada. Hasil bersumber dari pakan yang diberikan sehingga
penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi dapat mempertahankan sistem imun tubuh.
konsentrasi ABMix, semakin tinggi rata-rata Menurut Meyer & Pena (2001), bahwa kadar
pertambahan jumlah daun pada tanaman selada. protein untuk pakan ikan nila berkisar antara 25-
Perlakuan komposisi jenis nutrisi N1 (AB Mix 5 35%. Selain protein, ikan nila juga membutuhkan
ml.L-1 air) memiliki rata-rata jumlah daun karbohidrat dan lemak untuk pertumbuhannya.
tertinggi dan berbeda nyata dengan perlakuan N2, Hasil pengamatan selama penelitian
N3, N4, dan N5. Hal ini membuktikan bahwa AB menunjukkan kualitas air berada pada kondisi
Mix merupakan pupuk yang baik untuk tanaman yang optimum untuk pertumbuhan selada dan
selada pada sistem akuaponik karena proses kelangsungan hidup ikan nila. Menurut Lovell
penyerapan hara oleh tanaman yang cepat. (1989), ikan nila mampu menoleransi pH air
Menurut Imam (2013), pupuk/nutrisi hidroponik antara 5-11, dan menurut Boyd & Lichtkoppler
AB Mix adalah pupuk yang telah diformulasikan (1991), kandungan oksigen terlarut yang baik
khusus dari garam-garam mineral yang larut untuk ikan adalah lebih dari 5 ppm. Kadar
dalam air, mengandung unsur-unsur hara penting amonia dan nitrit sangat beracun untuk ikan
yang diperlukan tanaman untuk tumbuh dan sehingga harus dipertahankan di bawah kadar 1
berkembang. Salah satu unsur hara yang paling mg/liter (Somerville et al., 2014). Sedangkan
penting untuk pertumbuhan tanaman adalah untuk tanaman selada, menurut Muliawati (2007),
Nitrogen (N). Lingga (2005), menyatakan bahwa kebanyakan unsur-unsur hara lebih mudah larut
nitrogen berfungsi untuk memacu pertumbuhan dan tersedia bagi tanaman pada kisaran pH 6,0 -
pada fase vegetatif terutama daun dan batang. 7,0, dan suhu yang dapat menyokong
Pertambahan jumlah daun yang rendah pada pertumbuhan tanaman berkisar antara 5 – 35oC.
perlakuan komposisi nutrisi dengan konsentrasi Pada umumnya tanaman membutuhkan kadar DO
POC yang lebih tinggi (N4 dan N5) diduga terjadi yang tinggi (> 3 mg/liter) dalam air, dan kadar
karena kandungan hara dalam POC rendah, amoniak dan nitrit 0-1 mg/liter pada sistem
terutama unsur nitrogen, sehingga kurang aquaponik tidak akan menimbulkan masalah bagi
mendukung pertumbuhan vegetatif tanaman. tanaman budidaya (Somerville et al., 2014).
Selain itu, ketersediaan unsur hara N, P, dan K
dalam larutan nutrisi berpengaruh pula pada rata- KESIMPULAN DAN SARAN
rata bobot segar tanaman selada. Rata-rata bobot Berdasarkan hasil penelitian yang
segar tajuk pada perlakuan M2N1 menghasilkan diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa
bobot segar tajuk tertinggi, yaitu 63,74 g, tidak Interaksi teknik irigasi DFT dengan penambahan
berbeda nyata dengan perlakuan M1N1 dengan larutan nutrisi AB mix 5 ml L-1 air memberikan
rata-rata bobot segar tajuk 63,18 g. Peningkatan hasil terbaik terhadap pertumbuhan dan produksi
bobot segar tanaman menunjukkan bahwa pupuk selada, dengan rata-rata hasil pengukuran
AB Mix yang diberikan telah dapat dimanfaatkan parameter pengamatan tertinggi, yaitu jumlah
sepenuhnya dalam pertumbuhan tanaman seperti daun 38,22 helai, luas daun 76 cm2, berat segar
pembentukan daun, batang dan akar yang pada tajuk 63,74 g, berat segar tanaman 80,22 g.
akhirnya memengaruhi bobot tanaman secara Teknik irigasi DFT pada sistem akuaponik
keseluruhan. Selain itu, nutrisi yang dibutuhkan memberikan hasil terbaik dan berpengaruh nyata
tanaman selada juga berasal dari limbah hasil hingga sangat nyata terhadap parameter
metabolisme ikan. Ketersediaan unsur hara pertumbuhan dan produksi tanaman selada, yaitu
makro dan mikro yang cukup dan sesuai jumlah daun dan bobot kering tanaman,
menyebabkan pertumbuhan tanaman akan terpacu sedangkan komposisi jenis nutrisi N1 memberikan

288
Andi Nur Ardha ISSN 1411-4674

hasil terbaik terhadap pertumbuhan dan produksi Lovell T. (1989). Nutrition and feeding of fish.
tanaman selada. Sistem akuaponik memberikan New York : Van National reinhold.
kualitas air yang optimum untuk pertumbuhan dan Maulana I. (2015). Nila akuaponik, Lima alasan
produksi selada dan perkembangan ikan nila, ikan ini terbaik untuk akuaponik. Diunduh
khususnya kadar amonia (0,002 - 0,136 ppm), pH tanggal 19 Mei 2016. Available from:
(7,18-7,30), DO, dan suhu. URL: HYPERLINK
http://gardenaquaponic.com/id/2015/11/26/
DAFTAR PUSTAKA nila-akuaponik/
Agung T. & Rahayu A. (2004). Analisis Meyer D. E. & Pena. (2001). Ammonia
efesiensi serapan N, pertumbuhan, dan hasil excretion rates and protein adequacy in diets
beberapa kultivar kedelai unggul baru for tilapia Oreachromis sp. World
dengan cekaman kekeringan dan pemberian Aquaculture Society, 1: 61-70
pupuk hayati. Agrosains, 6(2):70-74 Muliawati E. S. (2007). Kajian pemanfaatan
Agustina. (2009). Dasar Nutrisi Tanaman. ekstrak kompos sebagai sumber nutrisi
Jakarta : Rineka Cipta. untuk perbesaran bibit Adenium sp. pada
Azis & Surung. (2006). Produktivitas tanaman berbagai komposisi media tanam. Makalah
selada pada berbagai dosis Posidan-HT. Seminar Nasional Hortikultura; Desember
Jurnal Agrisistem, (2): 36-42 2007, Fakultas Pertanian UNS Surakarta. .
Bittsanszky et.al. (2016). Nutrient supply of Nakano et.al. (2003). External and internal root
plants in aquaponics systems. Scientific structure of tomato plants grown
journal of the European Ecocylces Society hydroponically in a humid atmosphere or in
Ecocycle, 2 (2): 17-20 a nutrient solution. Journal of the Japanese
Boyd C.E. & Lichtkoppler F. (1991). Water Society for Horticultural Science 72(2):148-
Quality Management and Aeration in 155.
Shirmp Farming. Fisheries and Allied Nugroho E. & Sutrisno. (2008). Budidaya Ikan
Aquaculture Departement, Series No. 2, dan Sayuran dengan Sistem Akuaponik.
Auburn University. Jakarta : Penebar Swadaya 68 hlm.
Boyd C. E. (2004). Farm Level Issues in Omar A. S. Bin. (2012). Dunia Ikan.
Aquaculture Certification: Tilapia. WWF- Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
US. Auburn, Alabama. Rakocy et.al. (2006). Development of an
Casmuji. (2002). Penggunaan Supernatan Aquaponic System for the Intensive
Kotoran Ayam dan Tepung Terigu dalam Production of Tilapia and Hydroponic
Budidaya Daphnia sp.(Skripsi). Bogor : Vegetables. University of the Virgin Island
Institut Pertanian Bogor. Agricultural Experiment Station. Kingshill,
Departement of Agriculture Sri Lanka. (2009). U.S Virgin Island.
Hydroponics Soil-less Culture. 34 p. Sesanti R.N. & Sismanto. (2016). Pertumbuhan
Imam W. (2013). Pupuk nutrisi hidroponik dan hasil pakchoi (Brasicca rapa L.) pada
abmix. Diunduh 15 Oktober 2017. dua sistem hidroponik dan empat jenis
Available nutrisi. Jurnal Kelitbangan Vol. 04 No. 01.
from:http//imamwibawa.blogspot.co.id/201 Somerville et.al. (2014). Small-scale aquaponic
3/05/pupuk-nutrisi-hidroponik-ab- food production integrated fish and plan
mix.html?m=1. farming. Food and Agriculture
Kao T. (2008). The dynamic root floating Organization of the United Nations.
hydroponic technique: year-round Steinberg et.al. (2000). Wheat respons to
production of vegetables in Roc on Taiwan. differences in water and nutritional status
Diunduh 21 Juni 2016. Available from: between zeoponic and hydroponic growth
http://ipgri.cgiar.org/publications/HTMLPu system. Agronomy Journal 92: 353-360.
blications/500/ch02.htm. Sutanto R. (1998). Inventarisasi teknologi
Lingga P. (2005). Hidroponik bercocok tanam alternatif dalam mendukung pertanian
tanpa tanah. Jakarta : Penebar Swadaya. berkelanjutan. Yogyakarta : Fakultas
Pertanian UGM.

289
Akuaponik, selada, nutrisi, NFT, DFT, ikan nila ISSN 1411-4674

Triyatmo B. & Probosunu N. (1997). Budidaya


Lele Dumbo Bersama Tanaman Air.
Yogyakarta : Fakultas Pertanian UGM.
Widyastuti Y. R. (2008). Peningkatan produksi
air tawar melalui budidaya ikan sistem
akuaponik. Prosiding Seminar Nasional
Limnologi IV LIPI. Bogor: 62-73.

290