Anda di halaman 1dari 9

Makalah PJOK

PENYAKIT STROKE

Disusun Oleh Kelompok 5 :


- Nur Putri Rahmayanti
- Heti Ananda
- Faizin
- Jaka Kartawijaya
- Romadona

Kelas : XII IPS 1

Guru Pembimbing:
Trisno, S.Pd

SMA NEGERI 2 MUKOMUKO


TAHUN AJARAN 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan
karunia-Nya penulis masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah PJOK yang
berjudul “STROKE”. Tidak lupa penulis mengucapkan terimakasih kepada guru pembimbing
dan teman-teman yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh
sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun.

Semoga dengan selesainya makalah ini dapat memberikan manfaat pada penulis
khususnya dan seluruh pembaca pada umumnya.

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................


DAFTAR ISI.......................................................................................................................

PENYAKIT STROKE

A. Pengertian stroke .......................................................................................................


B. Jenis/ bentuk/ klasifikasi............................................................................................
C. Faktor resiko ..............................................................................................................
D. Mekanisme kausal terjadinya penyakit .....................................................................
E. Tanda dan gejala klinis ..............................................................................................
F. Diagnosis ...................................................................................................................
G. Upaya pencegahan .....................................................................................................
H. Pengobatan ................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA

ii
PENYAKIT STROKE

A. PENGERTIAN STROKE

WHO mendefinisikan bahwa Stroke adalah


gejala-gejala defisit fungsi susunan saraf yang
diakibatkan oleh penyakit pembuluh darah otak dan
bukan oleh yang lain dari itu.
Menurut sumber Wikipedia, Stroke adalah
suatu kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke
suatu bagian otak tiba-tiba terganggu. Dalam
jaringan otak, kurangnya aliran darah menyebabkan
serangkaian reaksi bio-kimia, yang dapat
merusakkan atau mematikan sel-sel otak. Kematian
jaringan otak dapat menyebabkan hilangnya fungsi
yang dikendalikan oleh jaringan itu.
Pengertian Stroke menurut Iskandar Junaidi adalah merupakan penyakit gangguan
fungsional otak berupa kelumpuhan saraf/deficit neurologik akibat gangguan aliran darah
pada salah satu bagian otak. Secara sederhana Stroke didefinisi sebagai penyakit otak akibat
terhentinya suplai darah ke otak karena sumbatan atau perdarahan, dengan gejala lemas /
lumpuh sesaat atau gejala berat sampai hilangnya kesadaran, dan kematian.
Sumber lain menyebutkan bahwa Stroke termasuk penyakit serebrovaskuler (pembuluh
darah otak) yang ditandai dengan kematian jaringan otak (infark serebral) yang terjadi karena
berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Berkurangnya aliran darah dan oksigen ini
bisa dikarenakan adanya sumbatan, penyempitan atau pecahnya pembuluh darah.

B. JENIS/ BENTUK/ KLASIFIKASI


Stroke dibagi menjadi dua jenis yaitu Stroke iskemik maupun Stroke hemorragik. Pada
Stroke iskemik, aliran darah ke otak terhenti karena aterosklerosis (penumpukan kolesterol
pada dinding pembuluh darah) atau bekuan darah yang telah menyumbat suatu pembuluh
darah ke otak. Hampir sebagian besar pasien atau sebesar 83% mengalami Stroke jenis ini.
Pada Stroke iskemik, penyumbatan bisa terjadi di sepanjang jalur pembuluh darah arteri yang
menuju ke otak.Darah ke otak disuplai oleh dua arteria karotis interna dan dua arteri
vertebralis. Arteri-arteri ini merupakan cabang dari lengkung aorta jantung. Stroke Iskemik
terbagi lagi menjadi 3 yaitu:
1. Stroke Trombotik: proses terbentuknya thrombus yang membuat penggumpalan.
2. Stroke Embolik: Tertutupnya pembuluh arteri oleh bekuan darah.
3. Hipoperfusion Sistemik: Berkurangnya aliran darah ke seluruh bagian tubuh karena
adanya gangguan denyut jantung.
Pada Stroke hemorragik, pembuluh darah pecah sehingga menghambat aliran darah
yang normal dan darah merembes ke dalam suatu daerah di otak dan merusaknya. Hampir 70
persen kasus Stroke hemorrhagik terjadi pada penderita hipertensi.

1
C. FAKTOR RESIKO
Penyakit atau keadaan yang menyebabkan atau memperparah Stroke disebut dengan
Faktor Risiko Stroke. Faktor resiko medis penyakit tersebut di atas antara lain disebabkan
oleh:
1. Hipertensi,
2. Penyakit Jantung,
3. Diabetes Mellitus,
4. Hiperlipidemia (peninggian kadar lipid dalam darah),
5. Aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah),
6. Riwayat Stroke dalam keluarga,
7. Migrain.
Faktor resiko perilaku, antara lain:
1. usia lanjut,
2. obesitas,
3. merokok (pasif/ aktif),
4. Alkohol,
5. Mendengkur,
6. Narkoba,
7. Kontrasepsi oral,
8. suku bangsa (negro/spanyol),
9. jenis kelamin (pria),
10. Makanan tidak sehat (junk food, fast food),
11. kurang olah raga.

D. MEKANISME KAUSAL TERJADINYA PENYAKIT


Mekanisme kusal terjadinya penyakit yaitu dari suatu ateroma (endapan lemak) bisa
terbentuk di dalam pembuluh darah arteri karotis sehingga menyebabkan berkurangnya aliran
darah. Keadaan ini sangat serius karena setiap pembuluh darah arteri karotis dalam keadaan
normal memberikan darah ke sebagian besar otak. Endapan lemak juga bisa terlepas dari
dinding arteri dan mengalir di dalam darah, kemudian menyumbat arteri yang lebih kecil.
Pembuluh darah arteri karotis dan arteri vertebralis beserta percabangannya bisa juga
tersumbat karena adanya bekuan darah yang berasal dari tempat lain, misalnya dari jantung
atau satu katupnya. Stroke semacam ini disebut emboli serebral (emboli = sumbatan, serebral
= pembuluh darah otak) yang paling sering terjadi pada penderita yang baru menjalani
pembedahan jantung dan penderita kelainan katup jantung atau gangguan irama jantung
(terutama fibrilasi atrium).
Emboli lemak jarang menyebabkan Stroke. Emboli lemak terbentuk jika lemak dari
sumsum tulang yang pecah dilepaskan ke dalam aliran darah dan akhirnya bergabung di
dalam sebuah arteri.
Stroke juga bisa terjadi bila suatu peradangan atau infeksi menyebabkan penyempitan
pembuluh darah yang menuju ke otak. Obat-obatan (misalnya kokain dan amfetamin) juga
bisa mempersempit pembuluh darah di otak dan menyebabkan Stroke.
Penurunan tekanan darah yang tiba-tiba bisa menyebabkan berkurangnya aliran darah
ke otak, yang biasanya menyebabkan seseorang pingsan. Stroke bisa terjadi jika tekanan

2
darah rendahnya sangat berat dan menahun. Hal ini terjadi jika seseorang mengalami
kehilangan darah yang banyak karena cedera atau pembedahan, serangan jantung atau irama
jantung yang abnormal.

E. TANDA DAN GEJALA KLINIS


Berdasarkan lokasinya di tubuh, gejala-gejala Stroke terbagi menjadi berikut:
1. Bagian sistem saraf pusat : Kelemahan otot (hemiplegia), kaku, menurunnya fungsi
sensorik
2. Batang otak, dimana terdapat 12 saraf kranial: menurun kemampuan membau,
mengecap, mendengar, dan melihat parsial atau keseluruhan, refleks menurun,
ekspresi wajah terganggu, pernafasan dan detak jantung terganggu, lidah lemah.
3. Cerebral cortex: aphasia, apraxia, daya ingat menurun, hemineglect, kebingungan.

Jika tanda-tanda dan gejala tersebut hilang dalam waktu 24 jam, dinyatakan
sebagai Transient Ischemic Attack (TIA), dimana merupakan serangan kecil atau serangan
awal Stroke. Pada sumber lain tanda dan gejala Stroke yaitu:
 Adanya serangan defisit neurologis fokal, berupa Kelemahan atau kelumpuhan
lengan atau tungkai atau salah satu sisi tubuh
 Hilangnya rasa atau adanya sensasi abnormal pada lengan atau tungkai atau salah satu
sisi tubuh. Baal atau mati rasa sebelah badan, terasa kesemutan, terasa seperti terkena
cabai, rasa terbakar
 Mulut, lidah mencong bila diluruskan
 Gangguan menelan : sulit menelan, minum suka keselek
 Bicara tidak jelas (rero), sulit berbahasa, kata yang diucapkan tidak sesuai keinginan
atau gangguan bicara berupa pelo, sengau, ngaco, dan kata-katanya tidak dapat
dimengerti atau tidak dipahami (afasia). Bicara tidak lancar, hanya sepatah-
sepatah kata yang terucap
 Sulit memikirkan atau mengucapkan kata-kata yang tepat
 Tidak memahami pembicaraan orang lain
 Tidak mampu membaca dan menulis, dan tidak memahami tulisan
 Tidak dapat berhitung, kepandaian menurun
 Tidak mampu mengenali bagian dari tubuh
 Hilangnya kendalian terhadap kandung kemih, kencing yang tidak disadari
 Berjalan menjadi sulit, langkahnya kecil-kecil
 Menjadi pelupa ( dimensia)
 Vertigo ( pusing, puyeng ), atau perasan berputar yang menetap saat tidak beraktifitas
 Awal terjadinya penyakit (Onset) cepat, mendadak dan biasanya terjadi
pada saat beristirahat atau bangun tidur
 Hilangnya penglihatan, berupa penglihatan terganggu, sebagian lapang pandangan
tidak terlihat, gangguan pandangan tanpa rasa nyeri, penglihatan gelap atau ganda
sesaat
 Kelopak mata sulit dibuka atau dalam keadaan terjatuh
 Pendengaran hilang atau gangguan pendengaran, berupa tuli satu telinga
atau pendengaran berkurang

3
 Menjadi lebih sensitif: menjadi mudah menangis atau tertawa
 Kebanyakan tidur atau selalu ingin tidur
 Kehilangan keseimbangan, gerakan tubuh tidak terkoordinasi dengan baik,
sempoyongan, atau terjatuh
 Gangguan kesadaran, pingsan sampai tidak sadarkan diri

F. DIAGNOSIS
Stroke biasanya ditegakkan berdasarkan perjalanan penyakit dan hasil pemeriksaan
fisik. Pemeriksaan fisik dapat membantu menentukan lokasi kerusakan pada otak. Ada dua
jenis teknik pemeriksaan imaging (pencitraan) untuk mengevaluasi kasus Stroke atau
penyakit pembuluh darah otak (Cerebrovascular Disease/CVD), yaitu Computed
Tomography (CT scan) dan Magnetic Resonance Imaging(MRI).
CT scan diketahui sebagai pendeteksiimaging yang paling mudah, cepat dan relatif
murah untuk kasus Stroke. Namun dalam beberapa hal, CT scan kurang sensitif dibanding
dengan MRI, misalnya pada kasus Stroke hiperakut.
Untuk memperkuat diagnosis biasanya dilakukan pemeriksaan CT scan atau MRI.
Kedua pemeriksaan tersebut juga bisa membantu menentukan penyebab dari Stroke, apakah
perdarahan atau tumor otak. Kadang dilakukan angiografi yaitu penentuan susunan pembuluh
darah/getah bening melalui kapilaroskopi atau fluoroskopi.

G. UPAYA PENCEGAHAN
Stroke sangat dapat dicegah, hampir 85% dari semuaStroke dapat dicegah , karena
ancaman Stroke hingga merenggut nyawa dan derita akibat Stroke. Hidup bebas tanpa
Stroke merupakan dambaan bagi semua orang. Tak heran semua orang selalu berupaya untuk
mencegah Stroke atau mengurangi faktor risiko dengan menerapkan pola hidup sehat,
olahraga teratur, penghindari stress hingga meminum obat atau suplemen untuk menjaga
kesehatan pembuluh darah hingga dapat mencegah terjadinya Stroke.

H. PENGOBATAN
Diperkirakan ada 500.000 penduduk yang terkena stroke. Dari jumlah tersebut:
 1/3 –> bisa pulih kembali,
 1/3 –> mengalami gangguan fungsional ringan sampai sedang,
 1/3 sisanya –> mengalami gangguan fungsional berat yang mengharuskan penderita
terus menerus di kasur.
Hanya 10-15 % penderita stroke bisa kembali hidup normal seperti sedia kala, sisanya
mengalami cacat, sehingga banyak penderita Stroke menderita stress akibat kecacatan yang
ditimbulkan setelah diserang stroke.
Jika mengalami serangan stroke, segera dilakukan pemeriksaan untuk menentukan
apakah penyebabnya bekuan darah atau perdarahan yang tidak bisa diatasi dengan obat
penghancur bekuan darah.
Penelitian terakhir menunjukkan bahwa kelumpuhan dan gejala lainnya bisa dicegah
atau dipulihkan jikarecombinant tissue plasminogen activator (RTPA)
ataustreptokinase yang berfungsi menghancurkan bekuan darah diberikan dalam waktu 3 jam
setelah timbulnya stroke.

4
Antikoagulan juga biasanya tidak diberikan kepada penderita tekanan darah tinggi dan
tidak pernah diberikan kepada penderita dengan perdarahan otak karena akan menambah
risiko terjadinya perdarahan ke dalam otak.
Penderita stroke biasanya diberikan oksigen dan dipasang infus untuk memasukkan
cairan dan zat makanan. Pada stroke in evolution diberikan antikoagulan (misalnya heparin),
tetapi obat ini tidak diberikan jika telah terjadi completed stroke.
Pada completed stroke, beberapa jaringan otak telah mati. Memperbaiki aliran darah ke
daerah tersebut tidak akan dapat mengembalikan fungsinya. Karena itu biasanya tidak
dilakukan pembedahan.
Pengangkatan sumbatan pembuluh darah yang dilakukan setelah stroke ringan
atau transient ischemic attack, ternyata bisa mengurangi risiko terjadinya stroke di masa yang
akan datang. Sekitar 24,5% pasien mengalami stroke berulang.
Untuk mengurangi pembengkakan dan tekanan di dalam otak pada penderita stroke
akut, biasanya diberikan manitol atau kortikosteroid. Penderita stroke yang sangat berat
mungkin memerlukan respirator (alat bantu bernapas) untuk mempertahankan pernafasan
yang adekuat. Di samping itu, perlu perhatian khusus kepada fungsi kandung kemih, saluran
pencernaan dan kulit (untuk mencegah timbulnya luka di kulit karena penekanan).
Stroke biasanya tidak berdiri sendiri, sehingga bila ada kelainan fisiologis yang
menyertai harus diobati misalnya gagal jantung, irama jantung yang tidak teratur, tekanan
darah tinggi dan infeksi paru-paru. Setelah serangan stroke, biasanya terjadi perubahan
suasana hati (terutama depresi), yang bisa diatasi dengan obat-obatan atau terapi psikis.

5
DAFTAR PUSTAKA

J, Iskandar (2007), Stroke A-Z. PT BIP-Gramedia, Jakarta.


www.medicastore.com
www.wikipedia.com
www.yastroki.or.id

Anda mungkin juga menyukai