Anda di halaman 1dari 21

MINI PROPOSAL

Pengaruh Pemberian Edukasi Self Care Terhadap


Kualitas Hidup Klien Diabetes Melitus Tipe 2
di Rawat Jalan RSUP M. Djamil Padang

ITRIA

Disusun Oleh
FITRIA DIUMAYANI ANWAR
1721312002

PROGRAM STUDI MAGISTER KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
2017

1
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh


Alhamdulillahirobbil’alamin, puji syukur penulis panjatkan hanya untukMu
ya Allah atas segala rahmat, nikmat, barokah, dan kekuatan yang tak terhingga
untukku terus melangkah. Sholawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada
baginda Rasululloh Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan para generasi yang
meneruskan estafet perjuangan beliau. Alhamdulillah, penulis telah dapat
menyelesaikan mini proposal dengan judul Pengaruh Pemberian Edukasi Self Care
Terhadap Kualitas Hidup Klien Diabetes Melitus Tipe 2 di Rawat Jalan di RSUP M.
Djamil Padang sebagai salah satu tugas mata kuliah riset kuantitatif.
Terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada:
1. Ibu Hema Malini, MN, Ph.D., selaku dosen pembimbing mata kuliah riset
kuantitaif yang telah meluangkan waktu dan kesempatan untuk memberikan
bimbingan, nasihat, pengarahan, dan petunjuk selama penyusunan, dan
penyelesaian mini proposal ini.
2. Teman-teman Program Studi Magister Keperawatan; sahabat-sahabat perjuangan
dan teman-teman yang telah memberi dorongan semangat, nasihat, dan canda
tawa yang begitu indah.
3. Semua pihak yang telah banyak membantu penyelesaian mini proposal ini yang
tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu.
Akhir kata semoga apa yang penulis sajikan bisa bermanfaat bagi
perkembangan dunia ilmu pengetahuan khususnya di bidang keperawatan.

Padang, November 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.................................................................................................................3
DAFTAR SKEMA........................................................................................................5
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................6
2.1 Latar Belakang...............................................................................................6
2.2. Rumusan Masalah Penelitian.........................................................................8
2.3. Tujuan Penelitian............................................................................................8
2.4. Manfaat Penelitian.........................................................................................9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................10
2.1. Konsep DM Tipe 2.......................................................................................10
2.1.1. Pengertian DM Tipe 2...........................................................................10
2.1.2. Patofisiologi DM Tipe 2.......................................................................10
2.1.3. Komplikasi DM Tipe 2.........................................................................11
2.1.4. Penatalaksanaan DM Tipe 2..................................................................11
2.2. Konsep Self Care Diabetes...........................................................................12
2.2.1. Pengertian Self Care Diabetes..............................................................12
2.2.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Self Care Diabetes.......................13
2.2.3. Pengukuran Self Care Diabetes............................................................13
2.3. Konsep Kualitas Hidup................................................................................13
2.3.1. Pengertian Kualitas Hidup....................................................................13
2.3.2. Dimensi Kualitas Hidup.......................................................................14
2.3.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Hidup Klien DM tipe 214
2.3.4. Pengukuran Kualitas Hidup..................................................................14
2.4. Hubungan Self Care Dengan Kualitas Hidup Pada Klien DM tipe 2..........14
BAB III KERANGKA PENELITIAN........................................................................15
3.1. Kerangka Teori.............................................................................................15
3.2. Kerangka Konsep penelitian........................................................................16
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN...................................................................17
4.1. Desain Penelitian Kuantitatif.......................................................................17
4.2. Populasi dan Sampel....................................................................................17
4.3. Alat Ukur dan Pengukuran Hasil.................................................................18

3
4.4. Analisa Hasil................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................20

4
DAFTAR SKEMA

Skema 3.1 Kerangka Teori Penelitian........................................................................15


Skema 3.2 Kerangka Konsep Penelitian....................................................................16

5
BAB I PENDAHULUAN

2.1 Latar Belakang


Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyakit degeneratif dengan
sifat kronis yang jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Data dari World
Health Organization (WHO) pada tahun 2012, diabetes adalah penyebab kematian
dari 2,2 juta orang dengan tingginya glukosa. Sedangkan pada tahun 2014, sekitar
8,5% yang berusia 18 tahun dan yang lebih tua menderita diabetes. Berdasarkan
data dari International Diabetes Federation (IDF) tahun 2014, Indonesia berada
pada urutan ke-7 di antara sepuluh negara di dunia dengan penderita diabetes
terbesar. Kasus yang terbanyak dari populasi diabetes di Indonesia adalah diabetes
tipe II yang mencapai 90% (Kemenkes, 2013). Sementara itu, berdasarkan data dari
Riskesdas Sumatera Barat (2013) penyakit DM yang terdiagnosis dokter sebesar
1,3% di Sumatera Barat, dimana prevalensi di kota Padang sendiri yang terdiagnosis
dokter sebesar 1,4% dan berada di posisi ke-4 penyebab kematian terbanyak di kota
Padang.
Tujuan terpenting dalam penatalaksanaan pasien DM adalah peningkatan
kualitas hidup sehingga self care yang baik harus dipahami oleh pasien. Jika pasien
DM tidak sanggup dalam melakukan self care secara mandiri maka dapat
mempengaruhi kualitas hidup mereka yang meliputi kesehatan fisik, psikologis,
hubungan sosial, dan lingkungan (Chaidir et al., 2017). Self care yang baik akan
mendorong pasien untuk mengelola glukosa darahnya dan mencegah komplikasi
(Fatehi & Malekzadeh, 2010). Dengan demikian, angka kesakitan berulang dan
komplikasi dapat dicegah. Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri
Kesehatan RI Nomor 1575 tahun 2005, telah membentuk Direktorat Pengendalian
Penyakit Tidak Menular yang memiliki tugas pokok memandirikan masyarakat agar
hidup sehat melalui pengendalian faktor risiko pada penyakit tidak menular,
khususnya penyakit DM.
Penyakit DM harus dipahami secara menyeluruh terutama perawatan maupun
pengendaliannya. Self care merupakan upaya pengendalian DM berupa promotif dan
preventif. Perawatan yang tepat akan memiliki dampak menguntungkan terhadap
pasien dan keluarga. Komplikasi yang mungkin muncul dapat dikendalikan dan

6
derajat kesehatan optimal dapat diwujudkan. Komplikasi yang muncul akan
berdampak pada menurunnya angka harapan hidup, penurunan kualitas hidup, serta
meningkatnya angka kesakitan (Nwankwo, H. Chinyere, Nandy Bikash, Nwankwo,
2010).
Self care merupakan gambaran prilaku seseorang yang dilakukan secara
sadar, universal, dan terbatas pada diri sendiri (Crist, 2007). Di dalam The Summary
of Diabetes Self-Care Activities (SDSCA) oleh Toobert, Hampson, & Glasgow,
(2000), self care yang dilakukan pada klien DM meliputi pengaturan pola
makan (diet), pemantauan kadar gula darah, terapi obat, perawatan kaki, dan
latihan fisik. Pasien harus memiliki pengetahuan, skill, dan percaya diri dalam
melakukan tindakan medis tertentu seperti cek gula darah dan pemahaman akan
pengelolaan emosi untuk dapat mengendalikan penyakitnya secara efektif (Atak,
Gurkan, & Kose, 2008). Oleh karena itu, untuk meningkatkan kualitas hidup yang
baik, pasien diabetes melitus harus mampu mandiri dalam mengelola atau
mengendalikan penyakitnya.
Self care diabetes merupakan integrasi dari pendekatan teori Self care Orem
pada proses keperawatan klien DM tipe 2. Self care yang baik dan rutin bagi
penderita DM sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup serta mencegah
atau mengurangi komplikasi. Kualitas hidup terkait dengan kesehatan adalah
penilaian subjektif mengenai kesehatan baik fisik maupun mental pasien dan efeknya
pada penyakit yang mereka alami. Hasil penelitian Niknami, Haidarnia, Rakhshani,
Zareban, & Karimy (2014) menunjukkan bahwa edukasi dengan metode modifikasi
perilaku sangat efektif dalam mengendalikan perilaku dalam perawatan diri dan
meningkatkan kualitas hidup mereka.
Kualitas hidup yang kurang seperti kesehatan fisik dan mental, telah
ditunjukkan pada pasien ulkus kaki diabetes (UKD) (Raspovic & Wukich, 2014).
UKD merupakan salah satu komplikasi kronik DM yang sering dijumpai. Dengan
adanya perkembangan metode dan teknologi penatalaksanaan UKD serta klinik
kaki diabetes maka angka kematian dan amputasi dapat ditekan. Di Indonesia,
UKD masih merupakan masalah yang rumit dan tidak terkelola dengan maksimal.
Selain itu, permasalahan pengelolaan biaya yang besar menambah rumitnya masalah
kaki diabetes (Waspadji, 2009).

7
Studi pendahuluan dilakukan berdasarkan penelitian sebelumnya. Penelitian
yang dilakukan oleh Roza (2015) menunjukkan bahwa ulkus diabetikum banyak
terjadi di RSUP M.Djamil Padang dengan Peripheral Artery Disease (PAD) menjadi
faktor yang paling berpengaruh yaitu 73 % dari 60 sampel. Berdasarkan data di atas
maka peneliti akan meneliti di RSUP M.Djamil Padang.
Pada penelitian ini variabel yang akan diukur adalah self care dan kualitas
hidup klien DM tipe 2. Self care diperlukan untuk mengetahui perilaku klien DM
dalam kepatuhannya terhadap penatalaksanaan terapi. Sedangkan kualitas hidup
berkaitan dengan motivasi dan harapan terhadap kesehatan fisik dan mental.
Berdasarkan penjelasan di atas maka peneliti ingin dilakukan intervensi terhadap
klien DM tipe 2. Bentuk intervensi yang dilakukan adalah pemberian edukasi terkait
diabetes dan penatalaksanaan berdasarkan prinsip self care.

2.2. Rumusan Masalah Penelitian


Berdasarkan latar belakang masalah, maka rumusan masalah utama pada
penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana pengaruh pemberian
edukasi self care terhadap kualitas hidup klien DM tipe 2 di rawat jalan RSUP M.
Djamil Padang?

2.3. Tujuan Penelitian


1. Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian edukasi self
care terhadap kualitas hidup klien DM tipe 2.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi karakteristik kualitas hidup klien DM tipe 2
b. Mengidentifikasi kualitas hidup pada klien DM tipe 2 sebelum mengikuti
edukasi self care pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol.
c. Mengidentifikasi kualitas hidup pada klien DM tipe 2 setelah mengikuti
edukasi self care pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol.
d. Mengidentifikasi perbedaan kualitas hidup pada klien DM tipe 2 sebelum
dan setelah mengikuti edukasi self care pada kelompok intervensi dan
kelompok kontrol.

8
2.4. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Memberikan masukan dan kajian dalam edukasi pada pasien diabetes
b. Memberikan landasan untuk untuk upaya inovatif lanjutan bagi
pengembangan keperawatan khususnya pada DM tipe 2.
2. Manfaat Praktis:
a. Bagi pasien dan keluarga
Pelaksanaan edukasi self care diharapkan dapat memberikan perbaikan
terhadap kualitas hidup penderita diabetes dan dapat menambah pengetahuan
bagi keluarga dan penderita terkait diabetes dan penatalaksanaannya.
b. Tenaga Kesehatan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dan variasi dalam
meningkatkan mutu pelayanan kesehatan khususnya untuk mengatasi
masalah kualitas hidup pada klien DM tipe 2.

9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep DM Tipe 2


2.1.1. Pengertian DM Tipe 2
DM tipe 2 merupakan DM yang banyak terdapat pada orang dewasa
terutama usia 40 tahun ke atas. Masalah utama pada DM tipe 2 ini adalah terjadi
resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin (Smeltzer & Bare, 2001). DM tipe ini
tidak 100% tergantung pada insulin. Pasien dapat menggunakan insulin dibantu
dengan obat hipoglikemik oral (OHO) atau OHO saja.

2.1.2. Patofisiologi DM Tipe 2


Dalam patofisiologi DM tipe 2 terdapat beberapa keadaan yang berperan
yaitu resistensi insulin dan disfungsi sel B pancreas. Diabetes melitus tipe 2 bukan
disebabkan oleh kurangnya sekresi insulin, namun karena sel sel sasaran insulin
gagal atau tidak mampu merespon insulin secara normal. Keadaan ini lazim disebut
sebagai “resistensi insulin”.
Resistensi insulin banyak terjadi akibat dari obesitas dan kurangnya aktivitas
fisik serta penuaan. Pada penderita DM tipe 2 dapat juga terjadi produksi glukosa
hepatik yang berlebihan namun tidak terjadi pengrusakan sel-sel B langerhans secara
autoimun seperti diabetes melitus tipe 2. Defisiensi fungsi insulin pada penderita
diabetes melitus tipe 2 hanya bersifat relatif dan tidak absolut. Pada awal
perkembangan diabetes melitus tipe 2, sel B menunjukan gangguan pada sekresi
insulin fase pertama,artinya sekresi insulin gagal mengkompensasi resistensi insulin.
Apabila tidak ditangani dengan baik maka pada perkembangan selanjutnya akan
terjadi kerusakan sel-sel B pankreas. Kerusakan sel-sel B pankreas akan terjadi
secara progresif seringkali akan menyebabkan defisiensi insulin,sehingga akhirnya
penderita memerlukan insulin eksogen. Pada penderita DM tipe 2 memang umumnya
ditemukan kedua faktor tersebut, yaitu resistensi insulin dan defisiensi insulin
(Harding, 2004).

10
2.1.3. Komplikasi DM Tipe 2
Pada DM yang tidak terkendali dapat terjadi komplikasi metabolik akut
maupun komplikasi vaskuler kronik, baik mikroangiopati maupun makroangiopati.
Sejak ditemukan banyak obat untuk menurunkan glukosa darah, terutama setelah
ditemukannya insulin, angka kematian penderita diabetes akibat komplikasi akut bisa
menurun drastis. Kelangsungan hidup klien diabetes lebih panjang dan diabetes dapat
dikontrol lebih lama. Menurut Waspadji (2009), komplikasi kronis yang dapat terjadi
akibat diabetes yang tidak terkendali adalah kerusakan saraf (neuropati), kerusakan
ginjal (nefropati), kerusakan mata (retinopati), penyakit jantung koroner (PJK),
stroke, hipertensi, gangguan pada hati, penyakit paru, gangguan saluran cerna, dan
infeksi. Pada pasien DM tipe 2 prevalensi neuropati pada populasi klinik berkisar
7,6% s/d 68,0%. Semakin lama seseorang terkena diabetes dan makin lama terkena
tekanan darah tinggi, maka penderita makin mudah mengalami kerusakan ginjal.
Penyakit diabetes juga bisa merusak mata penderitanya dan menjadi penyebab utama
kebutaan. Pada pasien DM tipe 2 prevalensi retinopati pada populasi klinik berkisar
10,6% s/d 47,3%. Glukosa darah yang tinggi mengganggu fungsi kekebalan tubuh
dalam menghadapi masuknya virus atau kuman sehingga penderita diabetes mudah
terkena infeksi.

2.1.4. Penatalaksanaan DM Tipe 2


Tujuan utama terapi diabetes adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin
dan kadar glukosa darah serta dalam upaya untuk mengurangi terjadinya komplikasi
vaskuler serta neuropatik. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah
mencapai kadar glukosa darah normal tanpa terjadinya hipoglikemia dan gangguan
serius pada pola aktivitas pasien. Ada lima komponen dalam penatalaksanaan
diabetes yaitu diet, latihan fisik, pemantauan gula darah, terapi (jika diperlukan) dan
pendidikan kesehatan (Brunner & Suddarth, 2009).
Penanganan terhadap pasien dengan diabetes akan bervariasi karena terjadi
perubahan pada gaya hidup, keadaan fisik dan mentalnya. Meskipun penanganan
tersebut diarahkan oleh tim kesehatan, pasien sendirilah yang tetap harus
bertanggung jawab dalam pelaksanaan terapi yang kompleks itu setiap harinya.
Pendidikan kesehatan pada pasien maupun keluarga dipandang sebagai komponen

11
yang sama pentingnya dengan komponen lain pada penatalaksanaan diabetes
(Smeltzer & Bare, 2001). Adapun lima komponen dalam penatalaksanaan diabetes
ini akan diuraikan sebagai berikut:
1. Pengaturan pola makan (diet)
Standar yang dianjurkan dalam pengaturan makan bagi klien DM tipe 2 yaitu
karbohidrat (45-60%), protein (10-20%), dan lemak (20-25%).
2. Latihan fisik
Latihan fisik dianjurkan dilakukan secara teratur minimal 3-5 kali seminggu,
lamanya kurang lebih 30 menit yang sifatnya sesuai CRIPE (continous, rhythmical,
interval, progressive, endurance trainning). Jenis latihan fisik yang dapat dilakukan
adalah olahraga ringan dengan cara jalan kaki biasa selama 30 menit. Olahraga
sedang dengan cara berjalan cepat selama 20 menit, olahraga berat misanya jogging.
3. Pemantauan gula darah
Klien DM tipe 2 diperbolehkan untuk mengukur kadar gula darahnya secara mandiri
minimal 2-3 kali per minggu (Brunner & Suddarth, 2009).
4. Obat berkhasiat hipoglikemik
Jika terjadi kegagalan pengendalian glikemia pada klien DM tipe 2 setelah
melakukan perubahan gaya hidup maka memerlukan intervensi pemberian obat-
obatan agar dapat mencegah atau menghambat komplikasi diabetes.
5. Pendidikan kesehatan
Penyuluhan yang diberikan pada klien adalah program edukasi diabetes yang
merupakan pendidikan dan pelatihan tentang pengetahuan dan keterampilan bagi
klien diabetes. Penyukuhan kesehatan tentang bagaimana memilih jenis makanan,
pelaksanaan olahraga, aturan minum obat, dan perawatan kaki.

2.2. Konsep Self Care Diabetes


2.2.1. Pengertian Self Care Diabetes
Teori Self care dikemukakan oleh Dorothea Orem, bertujuan untuk
meningkatkan kemandirian klien sehingga klien dapat berfungsi secara optimal.
Semua manusia memiliki kebutuhan – kebutuhan self care dan mereka mempunyai
hak untuk mendapatkan kebutuhan itu sendiri kecuali tidak mampu. Perawat
mengupayakan agar klien mampu mandiri dalam memenuhi semua kebutuhannya

12
tersebut, khususnya klien diabetes, diharapkan mereka mampu melakukan self care
diabetes tanpa bantuan orang lain karena perilaku self care diabetes merupakan
tanggung jawab bagi setiap klien DM tipe 2 (Tomey & Alligood, 2014). Jadi, self
care diabetes adalah tindakan mandiri yang dilakukan oleh klien diabetes dalam
kehidupan sehari-hari dengan tujuan untuk mengontrol gula darah yang meliputi
aktifitas pengaturan pola makan (diet), latihan fisik, pemantauan gula darah, dan
perawatan kaki.

2.2.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Self Care Diabetes


Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi klien dalam melakukan self care
yaitu usia, jenis kelamin, sosial ekonomi, lamanya menderita DM, aspek emosional,
motivasi, keyakinan terhadap efektifitas penatalaksanaan DM, komunikasi petugas
kesehatan (Ji, Bai, Sun, & Wang, 2016; Nwankwo, H. Chinyere, Nandy Bikash,
Nwankwo, 2010).

2.2.3. Pengukuran Self Care Diabetes


Pengukuran self care diabetes menggunakan The Summary of Diabetes Self-
Care Activities (SDSCA). Self care yang dilakukan pada pasien DM meliputi
pengaturan pola makan (diet), pemantauan kadar gula darah, terapi obat,
perawatan kaki, dan latihan fisik (Toobert et al., 2000).

2.3. Konsep Kualitas Hidup


2.3.1. Pengertian Kualitas Hidup
Kualitas hidup adalah persepsi individu dalam hidup yang dapat ditinjau dari
konteks budaya dan sistem nilai individu yang berhubungan dengan standar hidup,
harapan, kesenangan, dan perhatian. Hal tersebut merupakan konsep yang
terangkum secara kompleks mencakup kesehatan fisik seseorang, status psikologis,
tingkat kebebasan, hubungan sosial, dan individu terhadap lingkungan (WHO,
1997).

13
2.3.2. Dimensi Kualitas Hidup
Menurut WHO dalam pedoman pengukuran kualitas hidup WHOQOL-BREF,
ada 6 domain terkait penilaian kualitas hidup seseorang. Domain tersebut antara lain
yaitu kesehatan fisik yang meliputi kesehatan umum, nyeri, energi dan vitalitas,
aktivitas seksual, tidur, dan istirahat; kesehatan psikologis yang meliputi cara
berpikir, belajar, memiri, dan konsentrasi; tingkat aktivitas yang meliputi mobilitas,
aktivitas sehari-hari, komunikasi, dan kemampuan kerja; hubungan sosial yang
meliputi hubungan sosial dan dukungan sosial; lingkungan yang meliputi keamanan,
lingkungan rumah, dan kepuasan kerja; dan kepercayaan rohani atau religius.

2.3.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Hidup Klien DM tipe 2


Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kualitas hidup klien DM tipe 2
yaitu usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status sosial ekonomi, lama menderita
DM, dan komplikasi akibat menderita DM.

2.3.4. Pengukuran Kualitas Hidup


Pengukuran kualitas hidup dapat dilakukan dengan menggunakan insrumen
World Health Organization Quality of Life-100 (WHOQOL-100). Struktur
WHOQOL-100 memiliki enam domain yaitu (a) kesehatan fisik; (b) psikologis; (c)
tingkat aktivitas; (d) hubungan sosial; (e) lingkungan; dan (f) spiritualitas/agama/
kepercayaan. Kualitas hidup pada pasien DM dapat diukur dengan Diabetes Quality
of Life (DQOL). Indikator dari kualitas hidup ini terdiri dari (a) kesehatan fisik; (b)
psikologis; (c) hubungan sosial; dan (d) lingkungan.

2.4. Hubungan Self Care Dengan Kualitas Hidup Pada Klien DM tipe 2
Self care yang dilakukan pada penderita diabetes melitus lebih di titik
beratkan pada pencegahan komplikasi dan pengontrolan gula darah. Apabila self care
dilakukan dengan baik maka secara tidak langsung dapat meningkatkan kualitas
hidup pasien DM sehingga dapat menjalankan aktifitas sehari-hari dengan normal.

14
BAB III KERANGKA PENELITIAN

3.1. Kerangka Teori


Kerangka teori merupakan landasan penelitian yang disusun berdasarkan
informasi dan konsep-konsep teori terkait yang telah dijelaskan dalam tinjauan
pustaka. Berikut gambaran kerangka teori penelitian yang dijabarkan dalam bentuk
skema yang ditulis berdasarkan teori-teori yang telah dijabarkan.

Stimulus:
Diagnosis DM tipe 2, gejala
yang muncul, komplikasi

Faktor yang mempengaruhi


kualitas hidup
Penatalaksanaan Umum  Usia
 Diet  jenis kelamin
 Latihan fisik  tingkat pendidikan
 Pemantauan gula darah  status sosial ekonomi
 Terapi farmakologi  lama menderita DM
 Pendidikan kesehatan komplikasi akibat
menderita DM

Coping: aktifitas self care


 Diet Kualitas hidup

 Latihan fisik  Kesehatan fisik

 Pemantauan gula darah  Kesehatan psikologis

 Terapi farmakologi  Kesehatan sosial

 Perawatan kaki  Lingkungan

Skema 3.1 Kerangka Teori (Sumber : WHO (1997), Brunner & Suddarth
(2009), Toobert, D.J et all (2009), Waspadji (2009)

15
3.2. Kerangka Konsep penelitian

Variabel Independen Variabel Dependent

Edukasi Self Care DM Tipe 2

Kualitas Hidup Klien

Variabel Confounding
 Usia
 Jenis kelamin
 Tingkat pendidikan
 Status sosial ekonomi
 Lama menderita DM
 Komplikasi akibat
menderita DM

Skema 3.2 Kerangka Konsep Penelitian

16
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

4.1. Disain Penelitian Kuantitatif


Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain
quasi eksperimen yaitu memberikan perlakuan atau intervensi pada subyek penelitian
kemudian efek perlakuan tersebut diukur dan dianalisis. Penelitian quasy
experimental merupakan penelitian dimana satu kelompok dilakukan intervensi
sesuai dengan metode yang dikehendaki, kelompok lainnya dilakukan seperti
biasanya (Nursalam, 2013). Rancangan penelitian yang digunakan adalah dengan
pendekatan desain pre post test group design dengan kelompok kontrol. Intervensi
yang akan diberikan adalah edukasi tatap muka dengan penderita DM yang sudah
memenuhi kriteria inklusi. Desain ini digunakan untuk membandingkan hasil
intervensi edukasi self care dan kualitas hidup klien DM tipe 2 pada kelompok yang
diukur sebelum dan sesudah dilakukan intervensi.

4.2. Populasi dan Sampel


Populasi adalah seluruh klien diabetes yang melakukan rawat jalan di
poliklinik penyakit dalam RSUP M.Djamil Padang berdasarkan data kunjungan
pasien pada bulan September sampai pertengahan November 2017 yang berjumlah
60 orang. Sampel adalah sebagian klien diabetes yang melakukan rawat jalan di
poliklinik penyakit dalam RSUP M.Djamil Padang, Teknik pengambilan sampel
dalam penelitian ini dilakukan dengan total sampling sehingga sampel berjumlah 60
orang yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol, yang sesuai
dengan kriteria inklusi dan ekslusi di bawah ini:
1. Kriteria inklusi:
a. Pria dan wanita
b. Penderita rawat jalan dengan diagnosis DM tipe 2 yang ditunjuk dan bersedia ikut
dalam penelitian
c. Penderita dengan ulkus diabetikum
d. Penderita yang ikut dalam penelitian termasuk dalam kategori dewasa berusia
≥ 18 tahun

15
17
55
2. Kriteria eksklusi:
a. Penderita dengan komplikasi parah dan mengancam jiwa, seperti gagal ginjal dan
gagal jantung.
b. Memiliki keterbatasan fisik, mental, dan kognitif (buta, tuli, demensia)

4.3. Alat Ukur dan Pengukuran Hasil


Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Instrumen data demografi
2. Kuisioner self care
Kuisioner digunakan untuk mengetahui self care penderita diabetes terhadap
penatalaksanaan terapi (The Summary of Diabetes Self-Care Activities
(SDSCA)). Jumlah item pertanyaan dalam kuesioner self care terdiri dari 24
pertanyaan.
3. Kuisioner kualitas hidup
Kuisioner untuk mengukur kualitas hidup klien DM tipe 2 adalah Diabetes
Quality of Life Questionnaire. Hasil pengisian kuesioner akan diolah secara
manual dengan menggunakan rumus: jumlah jawaban/jumlah skor tertinggi x
100%. Kemudian jawaban dikelompokkan ke dalam self care baik (56%-
100%) dan kurang baik (<56%). Hasil pengisian kuesioner akan diolah secara
manual dengan menggunakan rumus: jumlah jawaban/jumlah skor tertinggi x
100%. Kemudian jawaban dikelompokkan ke dalam kualitas hidup baik
(56%-100%) dan kurang baik (<56%).
4. Instrumen yang membantu dalam penyampaian edukasi:
Digunakan handout atau booklet yang berisi mengenai materi edukasi terkait
diabetes dan penatalaksanaannya yang akan diberikan kepada pasien.

4.4. Analisa Hasil


Hasil kuisioner yang sudah disi peserta penelitian, dirubah ke dalam bentuk
angka kuantitatif dan dilakukan analisis statistik. Pengaruh dari intervensi diketahui
dengan membandingkan nilai perubahan sebelum dan setelah intervensi pada
kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Uji statistik menggunakan SPSS 18.0.

18
a. Analisa univariat
Tujuan dari analisis ini adalah untuk menjelaskan/mendeskriptifkan
karakteristik masing-masing variabel yang diteliti. Untuk data numerik (umur,
pendidikan, pekerjaan, lama menderita diabetes, dan komplikasi selain ulkus)
digunakan nilai mean, median, baru, nilai minimal dan maksimal. Sedangkan data
kategorik (self care dan kualitas hidup) dijelaskan dengan nilai presentasi dan
proporsi masing-masing kelompok.
b. Analisa bivariat
Untuk menentukan jenis uji yang akan digunakan, terlebih dahulu dilakukan
uji homogenitas dan normalitas data. Kemudian uji hipotesis untuk self care dan
kualitas hidup dua kelompok tersebut dilakukan uji independen t-test.

19
DAFTAR PUSTAKA

Alligood, MR & Tomey AN. (2014). Nursing Theorist and Their Work, Sixth
Edition. St. Louis Mosby.
Atak, N., Gurkan, T., & Kose, K. (2008). The Effect of Education on Knowledge,
Self Management Behaviours and Self Efficacy of Patients with Type 2
Diabetes. Australian Journal of Advanced Nursing, The, 26(2), 66. Retrieved
from
http://search.informit.com.au/documentSummary;dn=198857737071665;res=IE
LAPA
Bennett, P. (2008). Epidemiology of Type 2 Diabetes Millitus. In LeRoith et.al,
Diabetes Millitus a Fundamental and Clinical Text. Philadelphia: Lippincott
William & Wilkins. 43 (1): 544-7.
Brunner, L.S., & Suddarth, D.S. (2009). Textbook of Medical-surgical nursing.
Lippincott: Williams & Wilkins.
Chaidir, R., Wahyuni, A. S., Furkhani, D. W., Studi, P., Keperawatan, I., Yarsi, S., &
Bukittinggi, S. (2017). Hubungan self care dengan kualitas hidup pasien
diabetes melitus, 2(June), 132–144.
Crist, J. D. (2007). Diabetes Self-Management in the, 5(1).
Fatehi, F., & Malekzadeh, G. (2010). The Effect of Short Message Service on
Knowledge of Patients with Diabetes in Yazd, Iran. Iranian Journal of Diabetes
and Obesity, (3), 27–31. Retrieved from http://ijdo.ssu.ac.ir/browse.php?
a_code=A-10-3-23&sid=1&slc_lang=en\nhttp://www.ijdo.ir/browse.php?
a_code=A-10-3-23&slc_lang=en&sid=1&sw=Diabetes+Mellitus
Harding, A.-H. (2004). Dietary Fat and the Risk of Clinical Type 2 Diabetes: The
European Prospective Investigation of Cancer-Norfolk Study. American Journal
of Epidemiology, 159(1), 73–82. https://doi.org/10.1093/aje/kwh004
Ji, L., Bai, J., Sun, J., & Wang, Z. (2016). Nursing care for diabetic toe ulcers: A case
series report and literature review. International Journal of Nursing Sciences,
3(3), 332–336. https://doi.org/10.1016/j.ijnss.2016.04.007
Niknami, S., Haidarnia, A., Rakhshani, F., Zareban, I., & Karimy, M. (2014). The
effect of self-care education program on reducing HbA1c levels in patients with

20
type 2 diabetes. Journal of Education and Health Promotion, 3(1), 123.
https://doi.org/10.4103/2277-9531.145935
Nursalam. (2013). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Pendekatan praktis
Edisi 3. Jakarta: Salemba Medika.
Nwankwo, H. Chinyere, Nandy Bikash, Nwankwo, O. B. . (2010). Factors
Influencing Diabetes Management Outcomeamong Patients Attending
Government Health Facilities in South East Nigeria. International Journal of
Tropical Medicine.
Raspovic, K. M., & Wukich, D. K. (2014). Self-Reported Quality of Life and
Diabetic Foot Infections. The Journal of Foot and Ankle Surgery, 53(6), 716–
719. https://doi.org/10.1053/j.jfas.2014.06.011
Sastroasmoro S dan Ismael S. (2010). Dasar-dasar metodologi penelitian klinis, edisi
3. Jakarta: Sagung Seto.
Sugiono (2015). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Toobert, D. J., Hampson, S. E., & Glasgow, R. E. (2000). The Summary of Diabetes
Self-Care. Diabetes Care Journal, 23(7), 943–950.
https://doi.org/10.2337/diacare.23.7.943
Waspadji, S. (2009). Komplikasi Kronik Diabetes Mekanisme Terjadinya,
Diagnosis dan Strategi Pengelolaan : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III
Edisi V. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
1134 hlm.

21