Anda di halaman 1dari 40

BAB II

TINJAUAN TEORITIS ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN

DENGAN MENINGITIS SEROSA

A. Konsep Dasar

1. Pengertian

Meningitis adalah radang pada meningen atau membrane yang

mengelilingi otak dan medulla spinalis dan di sebabkan oleh virus, bakteri

atau organ – organ jamur ( Smeltzer dan Bare, 2002 ).

Meningitis adalah inflamasi pada meningen atau membrane

( selaput otak ) yang mengelilingi otak dan spinalis yang di sebabkan

bakteri, virus dan organism jamur yang menyebabkan proses infeksi pada

sistem saraf pusat ( Muttaqin, 2008 ).

Meningitis adalah suatu peradangan arachnoid dan piameter dari

otak dan medulla spinalis ( Widagdo, 2008 ).

Meningitis Serosa adalah radang yang mengenai selaput otak,

disebabkan oleh infeksi bakteri yang menyebabkan proses infeksi pada

sistem saraf pusat yang sering disebabkan oleh Mycrobacterium

tuberculosis ( Batticaca, 2012 ).

Dari pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa Meningitis

Serosa adalah radang pada meningen atau membrane yang mengelilingi

otak dan medulla spinalis dan di sebabkan bakteri yang menyebabkan

11
proses infeksi pada sistem saraf pusat yang sering disebabkan oleh

Mycrobacterium tuberculosis dan virus.

2. Anatomi Dan Fisiologi Sistem Saraf

a. Anatomi system persarafan

Gambar : anatomi otak beserta bagian – bagiannya dan lobus.

(Smeltzer dan Bare, 2002).

1) Sel Saraf

Sistem saraf (Neuron) merupakan sel tubuh yang

berfungsi mencentuskan dan menghantarkan implus listrik

( Smeltzer & Bare, 2002).

12
Neuron merupakan unit dasar dan fungsional sistem saraf.

Satu sel saraf mempunyai badan sel (soma) yang mempunyai satu

atau lebih tonjolan (dendrite). Tonjolan ini keluar dari sitoplasma

sel saraf.satu atau dua ekspansi yang sangat panjang di sebut

akson dari satu neuro ( Wilson, 2006 ).

Dendrite dan badan sel saraf berfungsi sebagai pembawa

implus. Sel-sel saraf berbentuk mata rantai yang panjang dari

perifer kepusat dan sebaliknya.dengan demikian implus di

hantarkan secara berantai dari satu neuron ke neuron yang lain

yang berlansung dengan perantara zat kimia (Wilson, 2006)

2) Sistem Saraf Pusat

Menurut Wilson (2006), system saraf pusat terdiri atas

otak dan medulla spinalis yang dibungkus oleh selaput otak

(Meningen).

a) Otak

Otak terdiri dari :

(1). Cerebrum ( otak besar )

Cerebrum terdiri dari dua belahan yaitu hemisfer

kanan dan hemisfer kiri. Yang kedua di pisahkan oleh

fisura longitudinalis cerebri. Hemister di bagi menjadi

13
lobus-lobus yang di beri nama sesuai dengan tulang

diatasnya yaitu :

(a) Lobus frontalis

Adalah bagian ari cerebrum yang terletak depan sulkus

sentralis , yang berfungsi dalam kemampuan bergerak,

konseptul, kemampuan berbicara, abstrak/pemisahan,

pengambilan keputusan, kemampuan melukiskan kata.

(b) Lobus Parientalis

Terletak di depan sulkus sentralis, dimana lobus ini

brfungsi untuk mengkordinasi dan mengintegrasi

rangsangan ke pusat untuk interprestasi dan informasi

sensorik kearah yang berlawanan.

(c) Lobus Temporalis

Terdapat di bawah lateral dan fisural serebralis di

depan lobus oksipital, yang berfungsi sebagai tempat

memori dan menintegrasi pendengaran.

(d) Lobus Oksipital

Berfungsi sebagai pusat penglihatan dan pemahaman

akan benda. Secar garis besar struktur cerebrum terbagi

menjadi korteks selebri dan struktur – struktur

subkortikal. Korteks sensori berfungsi untuk mengenal,

interprestasi implus sensorik yang di terimah sehingga

14
individu merasakan, menyadari adanya satu

sensasi/indra tertentu. Korteks sensorik juga

menyimpan sangat banyak data memori sabagai hasil

rangsangan memori maupun motorik mempunyai

pemetaan tubuh yang disebut pemetaan samatotropik.

Otak dan medulla di lindungi oleh selaput otak yang di

sebut dengan meningen

Gambar : Meningen dan bagian – bagian yang

berkaitan ( Muttaqin, 2008).

15
Otak dilindungi oleh selaput otak (meningen) yang

terdiri dari 3 lapisan (dari luar ke dalam):

(a) Duramater

Selaput keras pembungkus otak yang berasal dari

jaringan ikat tebal dan kuat, di bagian tengkorak terdiri

dari selaput tulang tengkorak dan duramater propia di

bagian dalam. Di dalam kanal vertebralis kedua lapisan

ini terpisah. Duramater pada tempat tertentu

mengandung rongga yang mengalirkan darah vena dari

otak, rongga ini dinamakan sinus longitudinal superior,

terletak di antara kedua hemisfer otak. (Bacticaca,

2008)

(b) Arakhnoid

Merupakan membran tipis dan lembut menyerupai

sarang laba-laba. Membran ini berwarna putih karena

tidak dialiri darah. Pada dinding arakhnoid terdapat

pleksus khoroid, yang bertanggung jawab

memproduksi cairan serebrospinal ( Smelter & Bare,

2002).

16
(c) Piamater

Piamater merupakan selaput jaringan penyambung

yang tipis yang menutupi permukaan otak dan

membentang ke dalam sulkus dan fisura dan sekitar

pembuluh darah di otak. (Bacticaca, 2008)

Diantara lapisan- lapisan terdapat rongga ;

(a) Rongga epidural ( epidural Space)

Berada dianrtara tulang tengkorak dan durameter, berisi

pembuluh darah dan jaringan lemak yang berfungsi

sebagai bantalan.

(b) Rongga subdural ( subdural space )

Berada diantara durameter dan arachnoid yang berisi

cairan serosa.

(c) Rongga subarachnoid ( subarachnoid space)

Secara fisiologis sistem saraf pusat ini berfungsi untuk

interprestasi, integrasi, kordinasi dan inisiasi, berbagai

implus saraf. Otak orang dewasa mempunyai berat

kurang lebih 2 % dari berat badan dan mendapatkan

suplai darah kurang lebih 20 % dari cardiac out put

serta membutuhkan kalori kurang lebih 400 Kkal setiap

hari. Otak merupakan jaringan yang paling banyak

17
menggunakan energy yang di butuhkan oleh

metabolism oksida glukosa. Kebutuhan oksigen dan

glukosa relative konstan, hal ini di sebabkan oleh

metabolism otak yang merupakan proses yang terus

menerus tanpa periode istirahat yang berarti bila kadar

oksigen dan glukosa kurang dalam jaringan otak maka

metabolism menjadi terganggu dalam jaringan saraf

akan mengalami kerusakan.

Struktur subkortical terdiri atas :

(a) Angsal ganglia

Melaksanakan fungsi motorik dengan rincian dan

mengkordinasi gerakan dasar, gerak halus/terampil dan

sikap tubuh.

(b) Tahalamus

Berkenaan dengan penerimaan implus sensorik yang

dapat menafsirkan pada tingkat subkortikal/disalurkan

pada daerah sensorik korteks otak dengan tujuan

mengatur perasaan dan gerakan pada pusat – pusat

tertinggi.

18
(c) Hipotalamus

Pusat tertinggi integrasi dan koordinasi sistem saraf

otonom dan terlibat dalam pengolahan perilaku insting

(makan, minum, seks dan motivasi)

(d) Hipofise

Berrsamaa dengan hipotalamus mengatur kegiatan

sebagai besar kelenjar

(2). Batang otak

Terdiri dari diencephalos, mid brain, pons dan medulla

oblongata. Merupakan tempat berbagai vital seperti

pernafasan, pusat vasomotor, pusat pengatur kegiatan

jantung, pusat muntah, bersin dan batuk dari batang otak

terdapat 12 ( dua belas ) pasang saraf cranial yaitu ;

(a) Nervus I ( olfaktorius)

Saraf ini berfungsi sebagai saraf sensasi penghidung

yang terletak dibagian atas dari mukosa hidung di

sebelah atas dari conca nasalis superior.

(b) Nervus II ( Opticus)

Saraf ini penting untuk fungsi penglihatan dan

merupakan saraf aferen sensorik khusu. Pada dasarnya

saraf ini merupakan penonjolan dari otak ke perifer.

19
(c) Nervus III, IV dan VI ( Oculomotorius, thoclhearis dan

abducens)

Ketiga saraf ini di periksa secara bersamaan karena

kesatuan fungsinya, yaitu mengururs otot – otot

ekstrinsik bola mata.

(d) Nervus V ( Trigeminus )

Saraf ini terdiri atas 3 (tiga) buah saraf yaitu nervus

optalmikus, nervus maxilaris dan nervus mandibularis

yang merupakan saraf gabungan sensori dan motoris.

Ketiga saraf ini mengurus sensasi umum pada wajah

dan sebagian kepala, bagian dalam hidung, mulut, gigi

dan meningen.

(e) Nervus VII ( vasialis )

Saraf ini merupakan gabungan saraf, saraf eferen yang

berfungsi untuk sensasi umum dan pengecapan

sedangkan saraf eferen untuk otot waja/ mimik

(f) Nervus VIII ( Acusticus )

Terdiri dari dua komponen, ialah saraf pendengaran

dan saraf keseimbangan.

(g) Nervus IX dan X ( glosofaringeus dan vagus )

Nervus ini diperiksa secara bersama, karena kedua

saraf ini berhubungan erat, sehingga gangguan

20
fungsinya jarang tersendiri, kecuali bagian perifer

sekali.

Nervus vagus mengandung lebih banyak unsure

motorik yang mensarafi ootot – otot faring dan otot

yang menggerakan pita suara.nervus glosofaringeus

mengandung lebih banyak unsure sensorik khusus yang

mengurus pengecapan lidah, tuba eustasius dan telinga

tengah.

(h) Nervus IX ( accesorius )

Merupakan komponen saraf cranial yang berpusat pada

mucleus ambigus , mengatur pergerakan oto bahu.

(i) Nervus XII ( Hipoglosus)

Saraf ini merupakan saraf eferen/motoris yang

mengurus otot – otot lidah.

(3). Cerebellum

(a) Serebelum (otak kecil).

Terletak pada bagian bawah dan belakang

tengkorak dipisahkan dengan serebrum oleh fisura

transversalis dibelakangi oleh pons varoli dan di atas

medulla oblongata. Adapun fungsi serebelum yaitu :

i. Arkhioserebelum (vestibuloserebelum), serabut

afferent berasal dari telinga dalam diteruskan oleh

21
nervus VIII (auditorius) untuk keseimbangan dan

rangsangan pendengaran ke otak.

ii. Paleaserebelum (spinoserebelum), sebagai pusat

penerima impuls dari reseptor sensasi umum

medulla spinalis dan nervus vagus (nervus

trigeminus) kelopak mata, rahang atas dan bawah

serta otot pengunyah. Neoserebelum

(pontoserebelum). Korteks serebelum menerima

informasi tentang gerakan yang sedang dan akan

dikerjakan dan mengatur gerakan sisi badan.

(3). Medulla spinalis

Medulla spinalis bermula pada medulla oblongata,

menjulur kea rah kaudal melalui foramen magmum dan

berakhir antara vertebra lumbalis pertama dan kedua. Disi

medulla spinalis meruncing sebagai konus medularis, dan

kemudian sebuah sambungan tipis dari piameter, bergerak

menuju koksigis. Medulla spinalis yang berukuran

panjang sekitar 45 cm ini, pada bagian depannya di belah

oleh sebuah fisura anterior yang dalam, sementara bagian

belakang di belah oleh sebuah fisura sempit ( Pearce,

2002 ).

22
Medulla spinalis berfungsi sebagai pusat reflex spinal

dan juga sebagai jarak konduksi implus dari atau ke otak.

Medulla spinalis terdiri dari :

1) Substansia alba ( serabut hermielin)

Yang berfungsi sebagai jarak konduksi implus aferen

dan eferen antara berbagai tingkat medulla spinalis

dan otak.

2) Substansia grisea ( selaput saraf tak bermielin)

Merupakan tempat integrasi refles – refles spinal.

Pada penampangan lingtang tampak menyerupai

huruf H capital. Kedua kaki tersebut kornu anterior

dan kornu ventralis, sedangkan kedua kaki belakang

dinamakan kornu posterior atau kornu dorsalis.

Kornu ventralis terutama terdiri dari badan sel dan

dendrite neuron – neuron motorik eferen multi polar

dari radiks ventralis dan saraf spinal. Sel kornu

ventralis biasanya dinamakan jarak akhir bersama

kerana setiap gerakan ( baik yang barasal dari korteks

motorik selebral , ganglia basalis atau yang timbul

secara refles dari reseptor sensorik) harus di

terjemahkan menjadi suatu kegiatan atau tindakan

melalui struktur tersebut ( Wilson, 2006)

23
3) Anatomi Pembuluh darah Otak

Suplai darah ke otak merupakan suatu jalinan pembuluh –

pembuluh darah yang bercabang – cabang, berhubungan dengan

erat satu dengan yang lain sehingga dapat menjamin suplai darah

yang adekuat untuk sel. Suplai darah ini menjamin oleh dua arteri

yaitu arteri vetebralis dan arteri carotis interna yang bercabang –

cabang beranastomosis membentuk sirkulasi arteriosus serebri

willisi.

Jarinagn otak mendapatkan suplai darah dari dua arteri besar

yaitu :

1) Arteri carotis internal kiri dan kanan

Suplai darah arteri carotis internal merupakan cabang

dari arteri carotis communis kiri berasal dari arcus aorta

sedangkan arteri carotis communis kanan berasal dari arteri

innominat. Arteri carotis internal selalu masuk ke dalam rongga

tengkorak ia akan masuk ke sinus caversenus untuk klemudian

menenbus durameter di sebelah lateral chiasma opticum, arteri

ini akan bercabang menjadi :

24
(1). Arteri communicans posterior

Penghubung arteri carotis internal dengan arteri cerebri

posterior.

(2). Arteri corodea anterior

Arteri yang akan membentuk plexus choloeideus di

dalam ventrikulus lateralis.

2) Arteri cerebri anterior

Berjalan ke frontal di sebelah atas nervus opticus di antara

belahan otak kiri dan kanan. Ia kemudian menuju facialil

medialis, frontalis korteks cerebri.

3) Arteri cerebri media

Berjalan ke lateral melalui fosa sylvii dan kemudian bercabang

untuk selanjutnya menuju daerah insula roili.

1. Arteri vetebralis kanan dan kiri

Arteri vetebralis di percabvangkan oleh arteri

subklavia. Arteri ini berjalan ke cranial melalui foramen

transverses magmum menuju cavum crania. Arteri ini

kemudian berjalan ventral dari medulla oblongata dorsal

olivus, kaudak dari tepi kaudal pons varolii. Arteri

vetebralis kanan dan kiri akan bersatu menjadi arteri

basilaris yang kemudian berjalan ke frontal untuk akhirnya

25
bercabang menjadi dua yaitu arteri cerebri posterior kana

dan kiri.

4) Fisiologi Sistem Persarafan

Secara garis besar fungsi sistem persarafan dapat di

golongkan sebagai berikut :

a) Menerima informasi dari dalam maupun dari luar melalui

afferent sensori pathway.

b) Mengkonsumsi informasi antara sistem saraf perifer dan

system saraf pusat.

c) Mengelola informasi yang di terima baik di tingkat saraf

maupun di otak untuk menentukan respon yang tepat dengan

situasi yang di hadapi.

d) Menghantarkan informasi melalui afferent pathway ke organ

– organ tubuh sebagai control atau modifikasi tindakan atau

action.

Menurut Wilson ( 2006) fisiologi otak ada beberapa bagian

yang terdiri dari :

a) Fisiologi kebutuhan darah otak

Sistem carotis terutama melayani kedua hemister otak dan

sistem vertebra basilaris terutama memberikan darah dari batang

otak, sebelum bagian posterior hemishfer. Aliran darah ke otak

26
di pengaruhi oleh tekanan untuk memompa darah dari sistem

kapiler ke sistem vena dan pembuluh darah otak perifer serta

viskositas darah koagubilitasnya. Daya akomodasi sistem

arterial disebut daya otoregulasi pembuluh darah otak ( yang

berfungsi normal bila tekanan sistolik antara 50 – 150 mmHg).

b) Sirkulasi cerebral sirkulasi cerebral kira – kira 20 % dari curah

jantung atau sekitar 750 ml/menit. Sirkulasi ini sangat

dibutuhkan karena otak tidak menyimpan makanan, sementara

otak mempunyai kebutuhan metabolism yang tinggi. Aliran

darah ke otak ini unik, karena melawan arah gravitasi dimna

darah dari arteri mengalir dari bawah dan vena mengalir dari

atas. Kurangnya penambahan aliran darah ke lateral dapat

menyebabkan jaringan rusak irreversible. Ini berbeda dengan

organ tubuh lainnya yang cepat mentorelansi bila aliran darah

menurun karena aliran darah ke lateral adekuat.

Darah arteri yang di suplai ke otak berasal dari dua arteri

karotis interna dan dua arteri vertebral dan meluas ke sistem

percabangan dua karotis dan memberikan dua sirkulasi darah otak

bagian anterior. Arteri – arteri vertebral vertika dan masuk ke

tengkorak melalui varamen magnum. Kemudian saling

berhubungan menjadi arteri basilaris pada batang otak. Arteri

27
vetebralsilaris paling banyak mensuplai darak ke otak bagian

posterior (Wilson, 2006).

3. Etiologi

Meningitis di bagi menjadi dua golongan menurut penyebabnya yaitu :

a. Meningitis Serosa di sebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.

Penyebab lain seperti lues, virus, toxoplasma gondhii, ricketsia.

b. Meningitis Purulen di senbabkan oleh diplococus pneumonia

(pneumococus), neisseria, meningitides (meningokok), streptococcus

haemolyticus, staphylococcus aureus, haemophilus influenza,

escherchia coli, klbsiella pneumonia, pseudomonas aeruginosa (Arif

Mansjoer, 2002 ).

4. Patofisiologi

Meningitis bakteri dimulai sebagai infeksi dari orofaring dan di ikuti

dengan septicemia, yang menyebar ke meningen otak dan daerah medulla

spinalis bagian atas.

Faktor-faktor prediposisi mencangkup infeksi jalan nafas bagian atas,

otitis media, mastoiditis, anemia sel sabit dan hemoglobinopati lain,

prosedur bedah saraf baru, trauma kepala, dan pengaruh imunologis.

Saluran vena – vena yang melalui nasofaring posterior, telinga bagian

tengah dan saluran mastoiditis menuju otak dan dekat saluran vena – vena

28
meningen, semua ini penghubung yang menyokong perkembangan

bakteri.

Organism masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi

radang di dalam meningen dan bawah daerah kortekx, yang dapat

menyebabkan throbus dan penurunan alioran darah selebral. Jaringan

selebral mengalami gangguan metabolism akibat eksudat meningen,

vaskulitis dan hipoperfusi. Eksudat purulen dapat menyebar samapai

dasar otak dan medulla spinalis. Radang juga menyebar ke dinding

membrane ventrikel selebral. Meningitis bakteri dihubungkan dengan

perubahan fisiologis intra kranial, yang terdiri dari peningkatan

permeabilitas pada darah, daerah pertahanan otak, edema selebral dan

peningkatan tekanan intra cranial ( TIK ).

Infeksi akut pasien meninggal akibat toksin bakteri sebelum terjadi

meningitis. Infeksi terbanyak dari pasien ini dengan kerusakan adrenal,

kolaps sirkulasi dan dihubungkan dengan meluasnyahemoragi sebagai

akibat terjadinya kerusakan endotel dan nekrosis pembuluh darah yang

disebabkan oleh meningokokus ( Smeltzer & Bare, 2002 )

5. Manifestasi Klinis

Gejala Meningitis diakibatkan dari infeksi dan peningkatan TIK :

a. Sakit kepala dan demam adalah gejala awal yang sering.

29
b. Perubahan pada tingkat kesadaran dapat terjadi letargi, tidak

responsive dan koma

c. Iritasi meningen mengakibatkan sejumlah tanda sebagai berikut :

(1) Regiditasi nukal (kaku kuduk) upaya untuk fleksi kepala

mengalami kesukaran karena adanya sotot leher.

2) Tanda krenik positif ; ketika pasien di baringkan dengan paha

dalam keadaan fleksi kea rah abdomen, kaki tadak dapat

diestensikan sempurna.

3) Tandea brudziki ; bila leher pasien di fleksikan maka akan di

hasilkan fleksi lutut dan pinggul. Bila dilakukan fleksi pasif pada

ekstermitas bawah pada salah satu sisi ekstermitas yang

belawanan.

d. Mengalami foto fobia atau sensitive yang berlebihan pada cahaya.

e. Kejang akibat area fokal kortikal yang peka dan peningkatan TIK

f. Adanya ruam merupakan ciri menyolok pada meningitis

meningokokal.

g. Infeksi fluminatin dengan tanda – tanda septicemia : demam tinggi

tiba – tiba muncul lesi purpura yang menyebar, syok dan tanda

koagulopati intravaskuler diseminata ( Smeltzer & Bare, 2002 ).

30
Gejala klinik meningitis berdasarkan stadium adalah sebagai berikut :

Stadium I

Stadium prodomal berlangsung kurang 2 sampai 3 bulan. Permulaan

penyakit ini bersifat sub akut, sering panas atau kenaikan suhu yang

ringan atau hanya dengan tanda – tanda infeksi umum, tak ada nafsu

makan, muntah – muntah, murung, berat badan menurun, tak ada gairah,

mudah tersinggung, cengeng, tidur terganggu dan gangguan kesadaran

berupa apatis, gejala – gejala tadi sering terlihat pada anak kecil. Pada

orang dewasa terdapat panas yang hilang timbul, nyeri kepala, konstipasi,

tak ada nafsu makan, foto fobia, nyeri punggung, halusinasi, delusi dan

sangat gelisah.

Stadium II

Gejala – gejal terlihat lebih berat, terdapat kejang umum atau fokal

terutama pada anak kecil dan bayi. Tanda – tanda rangsangan meningel

mulai nyata, seluruh tubuh dapat menjadi kaku dan timbul opistotonus,

terdapat tanda-tanda peningkatan tekanan intrakarnial, ubun – ubun

menonjol dan lebih bera. Nyri kepala bertambah berat dan progresif .

kesadaran makin menurun. Terdapat gangguan nervus cranial antara lain :

N II,, IIIIV, VI, VII dan VIII. Dalam stadium ini dapat terjadi deficit

neurologis fokal seperti hemiparesis, hemiplegia karena infrak otak dan

regiditas deserebrasi.

31
Stadium III

Dalam stadium ini suhu tidak teratur dan semakin tinggi yang di

sebabkan oleh terganggunya regulasi pada diensephalon. Pernafasan dan

nadi juga tidak teratur dan terdapat gangguan dalam bentuk cheyne-

strokes atau kussmaul. Di dapatka pula adanya gangguan kesadaran

makin menurun sampai koma yang dalam. Pada stadium ini penderita

dapat meninggal dunia dalam waktu 3 minggu bila tidak memperoleh

pengobatan sebagaimana mestinya ( Baticaca, 2012 ).

6. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan darah

Dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin, jumlah dan hitung jenis

leukosit, Laju Endap Darah ( LED ), kadar glukosa puasa, kadar ureum,

elektrolit.

b. Cairan otak ( CSS ) : periksa lengkap termaksuk pemeriksaan

mikrobiologis.

c. Pemeriksaan Radiologi :

1) Foto dada

2) Foto kepala, bila mungkin CT Scan ( Arif Manjoer, 2002 )

32
7. Penatalaksanaan Medis

Penatalaksanaan yang berhasil bergantung pada pemberian antibiotik

yang melewati daerah barier otak kedalam subarkhnoid dalam kosentrasi

yang cukup untuk menghentikan perkembang biakan bakteri. Cairan

seresbrospinal ( CSS ) dan darah perlu di kultur dan terapi anti mikroba di

mulai segera. Dapat di gunakan penisilin, ampisilin, atau kloramphenicol.

Antibiotik lain di gunakan jika di ketahui strein bakteri resisten ( Smeltzer

& Bare, 2002 ).

Dehidrasi atau syok di obati dengan pemberian tambahan volume

cairan. Kejang yang dapat terjadi pada awal penyakit, dikontrol dengan

menggunakan diazepam atau fenotoin. Dimetik osmotic ( seperti manitol )

dapat di gunakan untuk mengobati edema selebral ( Smeltzer & Bare,

2002).

8. Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi pada meningitis yaitu peningkatan

tekanan intracranial, hydrocephalus, deficit saraf cranial, ensepalitis,

syndrome of inapporiate of antidiuretic hormone ( SIADH ), abses otak,

kerusakan visual, deficit intelektual, kejang, endokarditis, pneumonia

( Widakdo, 2008).

33
9. Dampak Meningitis terhadap system tubuh yang lain

a. Sistem Pernafasan

Penderita meningitis dapat mengalami kerusakan saraf pengatur

pernafasan sehingga terjadi control sistem pernafasan yang tidak

adekuat. Pola nafas berubah sehingga pengambilan oksigen dari

atmosfir dapat berkurang, yang beakhir dengan kondisi hipoksia.

Kerusakan vaskuler pada jaringan susunan saraf pusat akan

menghambat proses transportasi oksigen sehingga sehingga otak

kekurangan oksigen yang berdampak terjadinya kematian sel – sel

jaringan otak, distress pernafasan terjadi akibat penekanan pusat

pernafasan di medulla oblongata oleh peningkatan intracranial.

b. Sistem Kardiovaskular

Proses peradangan pada meningen menyebabkan perubahan pada

jaringan selapu otak sehingga menghambat sirkulasi darah. Gangguan

pola nafas menyebabkan kadar oksigen berkurang sehingga perfusi

jaringan menurun yang ditandai dengan adanya sianosis pada beberapa

bagian tubuh tekanan darah meningkat atau menurun dan frekuensi

nadi meningkat.

34
35
36
B. Tinjauan Teoritis Tentang Asuhan Keperawatan

Proses keperawatan yaitu serangkaian perbuatan atau tindakan untuk

menetapkan, merencanakan dan melaksanakan pelayanan keperawatan dalam

rangka membantu klien untuk mencapai dan memelihara kesehatan secara

optimal. Tindakan keperawatn tersebut dilaksanakan secara komprehensif

yang saling berkesinambungan dan berkaitan satu sama lain dari mulai

pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi .

Adapun langkah –langkah dari proses keperawatan adalah :

1. Pengkajian

Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang

bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang klien, agar

dapat mengidentifikasi, mengenali masalah – masalah, kebutuhan

kesehatan dan keperawatan, baik fisik, mental, sosial dan lingkungan

( Petter & Perry, 2005 ).

a. Pengumpulan data

Pengumpulan data adalah kegiatan mengumpulkan informasi

tentang klien yang dilakukan secara sistematis untuk menentukan

masalah – masalah serta kebutuhan – kebutuhan klien, biasanya

menggunakan anamnase atau wawancara, observasi, pemeriksaan

fisik, studi dokumentasi. Data dapat diperoleh dari klien sendiri,

keluarga klien atau orang lain yang ada hubungannya dengan

klien, catatan medic serta tim kesehatan lainnya ( Priharjo, 2002 ).

37
1) Data biografis yang meliputi :

a) Identitas klien

Pada biodata ini terdapat identitas klien yang mencangkup nama,

umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku/bangsa,

pendidikan, pekerjaan, nomor registrasi, diagnose medik dan alamat.

b) Identitas penanggung jawab

Meliputi nama, umur, agama, pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan,

hubungan dengan klien.

2) Riwayat Kesehatan

a) Riwayat kesehatan sekarang

(1) Riwayat Masuk Rumah Sakit

Merupakan alas an masuk atau keluhan yang di rasakan sehingga

klien di bawah ke rumah sakit, puskesmas, atau tempat – tempat

pelayanan kesehatan lainnya. Biasanya klien dengan Meningitis

Serosa masuk dengan adanya keluhan nyeri kepala, kejang kaku

kuduk, gangguan motorik atau sensorik, dan penurunan kesadaran.

(2) Keluhan Utama

Merupakan keluhan yang di rasakan klien saat pengkajian

dilakukan. Keluhan yang di rasakan oleh klien selalu dikaji

dengan PQRST. Keluhan – keluhan yang lazim di temukan yang

berkenaan dengan gangguan sistem persarafan khususnya

meningitis antara lain : nyerikepala, gangguan motorik,

38
penurunan kesadaran disertai kejang, gangguan sensorik, sesak

dan kaku kuduk.

(3) Riwayat keluhan utama

Dikembangkan dengan menggunakan konsep PQRST mulai dari

adanya keluhan sampai dating ke rumah sakit untuk meminta

pertolongan.

Provokatif/Paliative ( P ) : apa yang menyebabkan bertambahnya

atau berkurangnya keluhan. Pada penderita Meningitis Serosa

sesak yang terjadi sebagai akibat adanya mikroorganisme yang

masuk ke lapisan meningen dan mukosa saraf yang menggangu

atau menekan pusat pernafasan di otak.

Qualitas/Kuantitas ( Q ) : bagaiman bentuk atau gambaran berat

keluhan, sejauh man tingkat dan seberapa sering terjadi. Pada

mengngitis penderita biasanya keluhan sesak berat dan tampak

adanya retrasi pada dinding dada. Selain itu kejang biasanya

terjadi di sertai kekakuan pada leher dan ekstermitas.

Region ( R ) : lokasi keluhan yang di rasakan dan penyebabnya.

Sesak pada penderita Meningitis Serosa keluhan di rasakan pada

daerah dada dan Nyeri pada daerak kepala.

Skala ( S ) : intensitas keluhan apakah sampai mengganggu atau

tidak. Penderita meningitisbiasanya keluhan lain yang dirasakan

sangat mengganggu seperti kejang, nyeri.

39
Timing ( T ) : kapan waktu mulai terjadi keluhan dan beberapa

lama kejadian ini berlangsung. Pada penderita meningitis serosa

biasanya klien tidak menyadari kapan nyeri kepala muncul

meraka sering beranggapan bahwa, mereka hanya mengalami

sakit kepala biasa.

b) Riwayat kesehatan dahulu

Pada riwayat kesehatan dahulu, pernakah klien menderita

penyakit yang sama atau perlu dikaji apakah klien pernah mengalami

penyakit yang berat atau suatu penyakit tertentu yang memungkinkan

akan berpengaruh dengan kesehatannya sekarang. Data yang perlu di

telusuri guna mendapatkan gambaran yang akurat apakah pasien

mengalami cedera kepala, pembedahan padsa persarafan, serta

penyakit lainnya misalnya TB Paru, infeksi jalan nafas bagian atas,

otitis media, mastoiditid dan pengaruh imunologi, karena semua hal

tersebut adalah merupakan factor-faktor prediposisi yang dapat

menyebabkan meningitis ( Smeltzer & Bare 2002).

c) Riwayat kesehatan keluarga

Dengan menggunakan genogram tiga generasi, apakah ada

anggota keluarga yang menderita penyakit seperti klien, penyakit yang

menyertai siapa dan apakah sembuh, bertambah para atau meninggal.

Pengkajian terhadap keluarga apakah ada anggota keluarga

yang menderita penyakit persarafan, apakah adakeluarga yang

40
menderita TB, serta penyakit lain yang bersifat herediter atau genetik

(Muttaqin, 2008).

3) Pemeriksaan Fisik

Menurut Muttaqin ( 2008) langkah – langkah pemeriksaan fisik

adalah :

a) Tanda – tanda vital

Pada klien meningitis biasanya didapatkan peningkatan suhu

tubuh lebih dari normal 38 – 41 ◦C , dimulai pada fase sistemik,

kemerahan, panas, kulit kering, berkeringat. Keadaan ini biasanya

dihubungkan dengan proses inflamasi dan iritasi meningen yang

sudah mengganggu pusat pengaturan suhu tubuh. Penurunan

denyut nadi berhubungan dengan tanda – tanda peningkatan TIK.

Jika disertai peningkatan frekuensi nafas sering kali berhubungan

dengan peningkatan laju metabolism umum danm adanya infeksi

pada system pernafasan sebelum mengalami meningitis . Tekanan

Darah ( TD ) biasanya normal atau meningkat dan berhubungan

dengan tanda – tanda peningkatan TIK.

b) Sistem Pernafasan

Inspeksi apakah klien batuk, produksi sputum, sesak nafas,

penggunaan otot bantu nafas dan peningkatan frekuensi nafas

yang system di dapatkan pada klien meningitis yang disertai

adanya gangguan pada sistem pernafasan. Palpasi thoraks hanya

41
dilakukan jika terdapat dermovitas pada tulang dada pada klien

dengan efusi pleura massif ( jarang terjadi pada klien dengan

meningitis ). Aulkultasi bunyi nafas tambahan seperti ronkhi pada

klien dengan meningitis tuberculosis dengan penyebaran primer

pada paru.

c) Sistem kardiovaskuler

Pengkajian pada sistem kardiovaskuler terutama dilakukan

pada klien meningitis pada tahap lanjut seperti apabila klien sudah

mengalami rentan ( Syok). Infeksi fuminitas terjadi pada sekitar

10 % klien meningitis menikokus, dengan tanda – tanda

septicemia : demam tinggi yang tiba –tiba muncul, lesi purpura

yang menyebar (sekitar wajah dan ekstermitas), syok dan tanda –

tanda koagulasi intravascular diseminata ( CID ). Kematian

mungkin terjadi dalam beberapa jam setelah serangan infeksi.

d) Sistem pencernaan

Mual sampai muntah disebabkan peningkatan produksi asam

lambung .pemenuhanutrisi pada klien meningitis menurun karena

anoreksia dan adanya kejang.

e) Sistem endokrin

Yang perlu dikaji adalah apakah klien mengalami gangguan

pada sistem endokrin . biasanya klien dengan meningitis Serosa

42
tidak ada gangguan pada sistem endokrin seperti pembesaran

kelenjar tiroid.

f) Sistem Imun

g) Sistem integument

Penting mengkaji adanya peningkatan suhu tubuh sebagai

dampak infeksi sistemik, selain itu klien dengan gangguan

meningitis seringkali terjadi penurunan kesadaran sehingga kita

harus berbaring lama di tempat tidur dan dapat terjadi gangguan

integritas kulit sebagai dampak dari berbaring lama. Turgor jelek.

h) Sistem musculoskeletal

Pada pengkajian system muskulskletal perlu diarahkan

pada kerusakan motorik, kelemahan tubuh, massa otot, dan perlu

dikaji rentang gerak dari ekstermitas.

i) Sistem perkemihan

Pada system urinaria dapat terjadi retensi urin dan

inkontinensia urine. Pada kondisi lebih lanjut akan terjadi albumin

karena proses katabolisme terutama jika terjadi dalam kondisi

kurang kalori protein ( KKP).

j) Sistem reproduksi

Klien dengan meningitis biasanya tidak terjadi gangguan pada

sistem reproduksi .

k) Sistem saraf

43
Pengkajian sistem saraf merupakan pemeriksaan focus dan

lebih lengkap dibandingkan pengkajian pada system lainnya.

(1) Pengkajian pada tingkat kesadaran

Kualitas kesadaran klien merupakan para meter yang paling

mendasar dean para meter yang paling pentin g yang

membutuhkan pengkajian. Tingkat kewaspadaan klien dan

respon terhadap lingkungan adalah indicktor paling sensitive

untuk system persarafan. Pada keadaan lanjut tingkat kesadaran

klien biasanya berkisar tingkat letargi, stupor dan

semikomantosa.

(2) Pengkajian fungsi selebral

Status mental : observasi penampilan, tingkah laku, nilai gaya

bicara, ekspresi wajah, dan aktivitas motorik klien. Pada klien

Meningitis tahap lanjut biasanya status mental klien

mengalami perubahan.

(3) Pengkajian saraf kranial pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan

saraf I – XII .

Kerusakan pada saraf kranial yaitu Nervus vagus yang

mengakibatkan penurunan rfleks menelan , nervus kranial lain

yang umummnya terkena yaitu : nervus II, III, IV, IV .

44
(4) Pengkajian sistem motorik

Kekuatan otot menurun, control keseimbangan, dan koordinasi

pada meningitis tahap lanjut mengalami perubahan .

(5) Pengkajian Refleks pemeriksaan reflex pofunda, pengetukan

pada tendon, ligamentum derajat reflex pada respon

normal.refleks patologik akan didapatkan pada klien

meningitis dengan tingkat kesadaran koma. Adanya reflex

babinski ( + )

(6) Pengkajian sistem sensorik

Pemeriksaan sensorik pada meningitis biasanya didapatkan

sensasi raba, nyeri, suhu yang normal, tidak ada perasaan

abnormal pada permukaan tubuh.

Pemeriksaan lainnya yang berhubungan dengan peningkatan

TIK ( tekanan intra cranial ). Iritasi meningen juga mengakibatkan

sejumlah tanda yang mudah di kenal yang umumnya terlihat pada

semua tipe meningitis yaitu kaku kuduk, tanda kerning ( + ) dan

adanya tanda Bruzinski.

4) Aktivitas sehari – hari

Merutu muttaqin ( 2002) dapat terjadi perubahan atau gangguian

dalam memenuhi kebutuhan baik di rumah maupuin di rumah

sakit.

45
a) Nutrisi

Biasanya klien kehilangan nafsu makan, muntah, anoreksia,

dan bila klien mengalami penurunan kesadaran, reflex menelan

terjadi penurunan, sehingga klien harus Naso Gastric Tube

(NGT).

b) Eliminasi

Pada umumnya klien dengan penurunan kesadaran akan terjadi

inkontinensia urin sehingga harus dipasang dower kateter.

c) Istrahat dan tidur

Istraha dan tidur terganggu akibat adanya sesak nafas, nyeri

kepala hebat akibat penekanan tekanan intra cranial (TIK).

Hal ini merupakanmechanoreceptor terhadap reticular

activating sistem (RAS).

d) Personal Hyegiene

Biasanya mengalami gangguan pemenuhan ADL termaksud

personal hygiene akibat kelemahan otot terutama pada klien

dengan pemenuhan kesadaran.

e) Aktivitas dan olah Raga

Bagaimna kegiata klien sehari – hari, sebelum masuk rumah

sakit klien aktif pada setiap kegiatannya, sedangkan pada saat

setelah masuk rumah sakit, aktivitas terbatas karena klien harus

bedrest total guna kesembuhannya.

46
5) Riwayat Psikososial

Perlu di kaji tentang tanggapan aktifitas disekitarnya baik

ketika di rumah atau di rumah sakit. Hubungan dan pola interaksi

klien dalam keluarga dan masyarakat akan semakin meningkat

akibat kondisi klienyang berbeda dengan sebelum sakit.

Menurut zaidin (2002) data psokologi mencakup :

a) Status emosional

Klien menjadi irritable atau emosional yang labil secara tiba –

tiba klien menjadi mudah tersinggung.

b) Konsep diri

(1) Body image : sikap individu terdddhadap tubuhnya, baik

secara sadar maupun tidak sadar, meliputi : performance,

potensi tubuh, bentuk tubuh serta persepsi dan perasaan

tenang ukuran dan bentuk tubuh.

(2) Ideal diri : presepsi individu tentang prilakunya, di sesuaikan

dengan standar pribadi yang terkait dengan cita-cita, harapan

dan keinginan.

(3) Harga diri : penilaian individu terhadap hasil yang di capai

dengan cara menganalisi seberapa jauh perilaku individu

tersebut dengan ideal diri. Aspek utama harga diri adalah

47
dicintai, disayangi, dikasihi orang lain, dan mendapatkan

penghargaan orang lain.

(4) Peran : pola prilaku, sikap, nilai, dan aspirasi yang

diharapkan individu berdasarkan posisinya di masyarakat.

(5) Identitas diri : kesadaran akan diri pribadi yang bersumber

dari pengamatan dan penilaian, sebagai sistensi semua aspek

konsep diri dan menjadi satu kesatuan yang utuh .

c) Pola koping

Hal apa yang dilakukan klien dalam mengatasi masalahnya

adalah tindakan maladaptive dan kepada siapa klien meminta

bantuan atau menceritakan apabila ada masalah.

6) Riwayat Spiritual

Kesulitan untuk melakukan kewajiban sebagai umat beragama

karena penyakit dan aktivitas terbatas, optimism keluarga terhadap

kesembuhan klien semakin meningkat meskipun pada tahap awal

keluarga akan meluangkan waktuyang banyak untuk mengurus

klien.( Muttaqin, 2008)

7) Pemeriksaan penunjang

a) laboratorium

(1) pemeriksaan darah rutin ( Hb, leukosit, LED, trombosit,

glukosa )

48
(2) Analisis cairan serebrospinal melalui lumbal fungfsi

karakteristik CSF pada Meningitis Serosa adalah :

(a) Warna CSF jernih

(b) Jumlah sel eritrosit dan leukosit meningkat

(c) Biokimia :

i. Kalium meningkat

ii. Klorida menurun

iii. Glukosa menurun

iv. Protein meningkat

(3) Pemeriksaan CIE ( Counter Immune Electrophoresis)

digunakan secara luas untuk mendektesi antigen bakteri

pada cairan tubuh, umumnya cairan serebrospinal dan

urine.

b) Foto thoraks melihat kemungkinan adanya penyakit saluran

nafas sebagi infeksi primer.

c) Scanning/CT Scan di lakukan untuk menentukan adanya

udema selebral atau penyakit saraf lainnya.

49
50