Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM PENCELUPAN I

Pencelupan Serat Kapas dengan Zat Warna Direk

Disusun oleh
Kelompok :3
Grup : 2K3
Anggota : Nida Alya N. (18020058)
Nisa Ruffaidah (18020059)
Pniel Eka P. (18020063)
Revy Septiani (18020071)

Dosen /Asisten Dosen: Wulan S., S.ST, M.T. /


Eka O., S.ST, M.T.
David Christian, S.ST.

POLITEKNIK STTT BANDUNG


2020
I.TUJUAN

1.1 Mempelajari perencanaan dan proses pencelupan kain serat kapas dengan zat warna
direk.

II.DASAR TEORI

2.1. Serat Kapas

Serat kapas merupakan salah satu serat alami yang dapat diperoleh langsung dari alam
dalam bentuk serat. Serat kapas dihasilkan dari rambut biji tanaman yang termasuk dalam
jenis Gosylum, ialah:

a. Gossypium arboreum (berasal dari India)

b. Gossypium herbareum (asal tidak jelas)

c. Gossypium barbadense (berasal dari Peru)

d. Gossypium hirsutum (berasal dari Meksiko Selatan, Amerika Tengah, dan


Kepulauan Hindia Barat)

Spesies yang kemudian berhasil dikembangkan menjadi tanaman industri ialah


Gossypium hirsutum, yang kemudian dikenal sebagai kapas “Upland” atau kapas
“Amerika”, kapas Upland ini sekarang merupakan 87% dari produksi kapas di dunia.

a. Struktur Serat Selulosa


Serat selulosa merupakan serat hidrofil yang strukturnya berupa polimer
selulosa dengan derajat polimerisasi (DP) bervariasi. Derajat polimerisasi selulosa
pada kapas kira-kira 10.000 dengan berat molekul kira-kira 1.580.000

Gambar 2.1.1. Serat Selulosa


Sumber : http://weavingandsilk.blogspot.com/2015/04/coton-fiber.html

Pada rumus tersebut terlihat bahwa selulosa mengandung tiga buah gugus
hidroksil, yaitu gugusan hidroksil satu primer dan dua sekunder pada tiap-tiap
gugusan unit hidroksil. Gugus –OH berperan untuk mengandakan ikatan dangan zat
warna direk. Zat warna dispersi bersifat anionik sehingga pada pengerjaannya
diperlukan elektrolit agar membentuk gaya van der walls antara serat dan juga zat
warna.

b. Sifat Fisika Serat Kapas


- Warna
Warna serat kapas tidak betul-betul putih.Biasanya sedikit berwarna
krem.Pengaruh cuaca yang lama, debu, dan kotoran dapat menyebabkan warna
keabu-abuan.Sedangkan jamur dapt mengakibatkan warna puih kebiru-biruan
yang tidak hilang dalam pemutihan.

- Kekuatan
Kekuatan serat per bundelnya adalah 70.000 sampai 96.700 pon per inci persegi.
Dalam keadaan basah, kekuatannya akan bertambah.

- Mulur
Mulurnya sekitar 4-13% dengan rata-rata 7%.
- Moisture Regain
MR serat kapas pada kondisi standar adalah 7-8,5%.

- Berat jenis
Berat jenis serat kapas berkisar 1,50-1,56.
- Indeks bias
Indeks bias serat kapas yang sejajar sumbu serat 1,58. Sedangkan yang tegak
lurus adalah 1,53.

c. Sifat Kimia Serat Kapas


- Tahan kondisi penyimpanan, pengolahan, dan pemakaian normal.
- Rusak oleh oksidator dan penghirolisa.
- Rusak cepat oleh asam kuat pekat dan rusak perlahan oleh asam encer.
- Sedikit terpengaruh oleh alkali, kecuali larutan alkali kuat yang menyebabkan
penggelembungan serat.
- Larut dalam kuproamonium hidroksida dan kuprietilen diamin.
- Mudah terserang jamur dan bakteri dalam keadaan lembab dan hangat.

2.2. Zat Warna Direk

Zat warna direk adalah zat warna yang dapat mencelup serat selulosa secara langsung
dengan tidak memerlukan sesuatu senyawa mordan. Zat warna direk disebut juga zat warna
subatantif karena dapat terserap baik oleh selulosa, atau zat warna garam karena dalam
pencelupannya selalu harus ditambah garam untuk memperbesar penyerapan. Beberapa
jenis zat warna direk dapat mencelup serat-serat protein.

Congo Red yang ditemukan oleh Bottiger pada tahun 1884, merupakan zat warna
direk yang pertama kali dikenal orang. Sebelum tahun 1884 serat selulosa dicelup dengan
zat warna mordan atau indigo dan zat warna lainnya yang sejenis. Cara pemakaian kedua
zat warna tersebut diatas, rumit, dan mahal, sedangkan zat warna direk, murah dan mudah
pemakaiannya, meskipun ketahanan terhadap cucian, sinar matahari, alkali, dan lain-
lainnya bernilai kurang.

Zat warna ini menyerupai zat warna asam, yakni merupakan garam natrium dari asam
sulfonat dan hampir seluruhnya merupakan senyawa-senyawa azo. Zat warna ini
mempunyai daya tembus langsung terhadap serat-serat selulosa, maka kadang-kadang juga
disebut zat warna substantive.

Meskipun zat warna ini dapat dipergunakan untuk mewarnai serat-serat protein tetapi
jarang dipergunakan untuk maksud tersebut. Golongan zat warna ini memiliki macam
warna yang cukup banyak, tetapi tahan luntur warnanya kurang.

a. Struktur Kimia Zat Warna Direk


Kebanyakan zat-zat warna golongan ini merupakan senyawa azo yang
mengandung gugusan sulfonat sebagai gugusan pelarut.Zat warna direk, dapat
merupakan senyawa mono-azo, di-azo, tri-azo atau tetraktis-azo.Dalam tahun 1887
Green membuat primulin yang merupakan zat warna direk dengan inti tiazol. Inti zat
warna direk lain yang penting adalah ftalosianin yang pada umumnya akan memberikan
warna biru kehijau-hijauan. Selain zat warna direk biasa, terdapat pula zat warna direk
khusus yang tahan luntur hasil celupannya lebih baik, yaitu zat warna direk yang
mengandung logam. Agar tidak rusak, zat warna direk yang mengandung logam tidak
boleh dipakai dalam larutan celup yang mengandung zat pelunak air. Contoh : CI
Direct Brown 44

Gambar 1. CI Direk Brown 44

Pada struktur zat warna direk diatas terdapat gugus pembawa warna atau
kromofor (N=N), lalu terdapat gugus amina sebagai gugus ausokrom yang akan berikat
dengan serat dan gugus sulfonat sebagai gugus pelarut.

b. Tahan Luntur Dan Ikatan Zat Warna Dengan Serat Selulosa


Zat warna direk dalam suhu tinggi akan membentuk ikatan hidrogen dengan gugus
hidroksi dari selulosa.

AR1-N=N-AR2SO3Na
Ikatan Hidrogien

Sel-OH

Gambar ikatan hidrogen antara zat warna direk dengan selulosa

Kekuatan ikatan hidrogen antara zat warna direk dengan serat selulosa tidak terlalu
kuat, dan mudah putus dalam suhu tinggi, sehingga daya tahan luntur zat warna direk
rendah terutama dalam pencucian panas, selain membentuk ikatan hidrogen, ikatan
antara zat warna direk dengan serat juga ditunjang oleh ikatan dari gaya van der waals,
kekuatan ikatan dari gaya van der waals juga relative sangat lemah dan akan meningkat
apabila ukuran molekul zat warna direk makin besar.
Ketahanan terhadap pencucian hasil celupan zat warna direk dapat diperbaiki
melalui proses iring, dengan zat pemiksasi kationik, dimana pada prinsipnya adalah
memperbesar ukruan molekul zat warna dalam serat sehingga zat warna akan lebih
sukar bermigrasi, akibatnya tahan luntur hasil celupan menjadi lebih baik., karena zat-
zat kation aktif akan bergabung dengan zat warna direk yang bersifat anion membentuk
molekul yang lebih kompleks sehingga tahan cucinya menjadi lebih baik, tetapi tahan
sinarnya akan berkurang.

c. Kelarutan Zat Warna Direk


Kelarutan zat warna direk merupakan factor penting yang perlu dipertimbangkan
karena zat warna direk yang kelarutannya tinggi akan memudahkan dalam
pemakaiannya akan mengurangi substantifitas zat warna dan tahan luntur hasil
celupnya lebih rendah.
Faktor yang menentukan kelarutan zat warna direk adalah ukuran partikel zat
warna direk dan jumlah gugus pelarut dalam struktur zat warnanya. Makin kecil ukuran
partikel warna makin tinggi kelarutannya, demikian pula bila jumlah gugus pelarutnya
makin banyak.

d. Substansi Zat Warna Direk


Substanfitas zat warna direk bervariasi tergantung type zat warnanya. Untuk
memeperbesar penyimpanan zat warna direk selama pencelupan dapat dilakukan
beberapa saha diantara lain dengan menurukan volt, menambahkan garam (NaCL dan
𝑁𝑎 𝑆𝑂4 ) serta menurunkan pH larutan pencelupan.
e. Mekanisme Peencelupan Dengan Zat Warna Direk

Serat selulosa tidak mengandung gugus polar yang dapat mengadakan


suatu ikatan dengan zat warna direk, sehingga antara zat warna direk
dengan selulosa merupakan ikatan yang disebabkan oleh gaya fisika saja. Selain
itu terjadi juga ikatan hidrogen antara gugus hidroksil dalam molekul serat selulosa dengan
gugusan amina pada zat warna direk.
Mekanisme pencelupan terdiri dari tahap difusi zat warna dari fasa ruah larutan
zat warna ke dekat permukaan serat, kemudian tahap adsorpsi zat ke permukaan serat,
lalu tahap difusi zat warna ke dalam serat dan fiksasi zat warna. Tahap yang paling
lambat dan menentukan laju pencelupan adalah tahap difusi zat warna ke dalam serat
yang sangat tergantung pada kerapatan struktur serat dan ukuran partikel zat warna.
Oleh karena itu maka suhu proses pencelupan zat warna direk golongan C lebih tinggi
dari golongan B dan seterusnya. Semakin tinggi suhu pencelupan semakin cepat laju
pencelupan, tetapi afinitas zat warna akan turun karena reaksi fiksasi zat warna dengan
serat bersifat eksoterm. Oleh karena itu pada akhir proses pencelupan zat warna direk,
penurunan suhu pencelupan sebaiknya diturunkan perlahan guna menambah
penyerapan zat warna direk.
f. Faktor Yang Memperngaruhi Proses
1. Pengaruh Elektrolit
Penambahan elektrolit ke dalam larutan celup akan memperbesar penyerapan
zat warna oleh serat, walaupun kepekaan tiap zat warna berbeda-beda. Di dalam
larutan, serat selulosa bermuatan negatif sehingga akan menolak zat warna direk
yang merupakan anionik atau pembawa muatan negatif. Maka dari itu
penambahan elektrolit akan mengurangi atau menghilangkan muatan negatif
dari serat, sehingga dapat membantu molekul-molekul zat warna akan tertarik
oleh serat membentuk ikatan van der walls. Semakin banyak gugusan sulfonat
sebagai gugus pelarut yang terkandung dalam zat warna direk tanpa
penambahan elektrolit akan mencelup dengan hasil yang sangat muda.
2. Pengaruh Suhu
Umumnya peristiwa pencelupan adalah eksotermis. Pada suhu yang lebih tinggi,
jumlah zat warna yang dapat diserap oleh serat pada keadaan setimbang akan
berkurang.Apabila suhu dinaikkan, jumlah zat warna yang dapat terserap oleh serat
akan bertambah sampai mencapai harga tertentu, kemudian akan
berkurang kembali. Akan tetapi pada umumnya dalam pencelupan perlu
pemanasan untuk mempercepat reaksi. Peristiwa tersebut akan menyebabkan
perubahan ketuaan warna bila pencelupan dilakukan pada suhu mendidih.
3. Pengaruh Perbandingan Larutan Celup
Apabila konsentrasi zat wana di dalam larutan lebih besar, maka jumlah
zat warna yang dapat terserap juga akan bertambah. Untuk
penghematan pemakaian zat warna, maka pencelupan pada perbandingan larutan
yang kecil akan lebih menguntungkan.
4. Pengaruh pH
Pada umumnya pencelupan zat warna direk dilakukan dalam suasana
netral. Penambahan alkali lemah seperti natrium karbonat kadang-kadang dapat
menghambat penyerapan zat warna, sehingga warna lebih rata. Selain
itu penambahan natrium karbonat dapat berfungsi untuk mengurangi
kesadahan air dan menambah kelarutan zat warna.

III. METODOLOGI PERCOBAAN

3.1. Alat dan Bahan

Alat
- Gelas piala 100ml
Bahan
- Kassa
- Pengaduk - Zat warna direk

- Pipet ukur - Zat pembasah

- Neraca - NaCl

- Kompor gas - Natrium Karbonat (Na2CO3)

- Gelas ukur - Asam Asetat (CH3COOH)

- Termometer - Sabun
- Kain kapas

3.2. Resep
Resep Pencelupan
- Zat warna direk : 1 % OWF
- Zat pembasah : 1 ml/L
- 𝑁𝑎2 𝐶𝑂3 : 1 gr/L
- NaCl : 30 gr/L
- Vlot : 1 : 20
- Waktu : 30 menit
- Suhu : 60, 70, 80, 90 °C (variasi)

Resep Pencucian

- Sabun : 1 ml/L
- Natrium karbonat : 1ml/L
- Vlot : 1: 20
- Suhu : 60°C
- Waktu : 10 menit

3.3. Skema Proses

3.4 Diagram Alir

Persiapan alat dan bahan

Proses Pencelupan

Pencucian

Pengeringan

Evaluasi
- Kerataan dan Ketuaan
3.5. Fungsi Zat
- NaCl : Mendorong penyerapan zat warna
- Natrium Karbonat (celup) : Memperbaiki kelarutan zat warna
- Zat Pembasah : Meratakan dan mempercepat proses pembasahan kain
- Sabun : Membersihkan sisa-sisa zat warna yang tidak terfiksasi
saat proses pencelupan
- Asam Asetat : Memperbaiki Kelarutan zat pemfiksasi kationik
- Natrium Karbonat (cuci) : Mempercepat pelepasan kotoran
IV. DATA PERCOBAAN
4.1. Perhitungan Resep
- Resep 1 ( Nida AN) variasi suhu 60°C
Vlot = 1 : 20
Berat bahan = 4,66 gram
Larutan = 20 x 4,66
= 93,2 ml
Resep pencelupan
1
 ZW Direk = 100 𝑥 4,66 = 0,0466 𝑔𝑟𝑎𝑚
100
= 0,0466 × = 4,66 mL
1
1
 Na2CO3 = 1000 𝑥 93,2 = 0,0932 𝑔𝑟𝑎𝑚
100
= 0,0932 × = 9,32 mL
1
30
 NaCl = 1000 𝑥 9,32 = 0,0932 𝑔𝑟𝑎𝑚
1
 Zat pembasah = 1000 𝑥 9,32 = 0,0932 𝑚𝐿

 Air = 93,2 – (0,0932 + 4,66 + 9,32) ml


= 93,2 – 14,0732
= 79,1268 ml
Resep pencucian
1
 Sabun = 1000 𝑥 93,2 = 0,0932 𝑚𝐿
1
 Na2CO3 = 1000 𝑥 93,2 = 0,0932 𝑔𝑟𝑎𝑚
100
= 0,0932 × = 9,32 mL
1

 Air = 93,2 – (9,32 + 9,4132)


= 93,2 - 9,4132 = 83,7868 ml
- Resep 2 (Pniel Eka) variasi suhu 70°C
Vlot = 1 : 20
Berat bahan = 4,91 gram
Larutan = 20 x 4,91
= 98,2 ml
Resep pencelupan
1
 ZW Direk = 100 𝑥 4,91 = 0,0491 𝑔𝑟𝑎𝑚
100
= 0,0491 × = 4,91 mL
1
1
 Na2CO3 = 1000 𝑥 98,2 = 0,0982 𝑔𝑟𝑎𝑚
100
= 0,0982 × = 9,82 mL
1
30
 NaCl = 1000 𝑥 98,2 = 3,046 𝑔𝑟𝑎𝑚
1
 Zat pembasah = 1000 𝑥 98,2 = 0,0982 𝑚𝐿

 Air = 98,2- (4,91 + 9,82 + 0,0982) ml


= 83,37 ml

Resep pencucian
1
 Sabun = 1000 𝑥 98,2 = 0,0982 𝑚𝐿
1
 Na2CO3 = 1000 𝑥 98,2 = 0,0982 𝑔𝑟𝑎𝑚
100
= 0,0982 × = 9,82 mL
1

 Air = 98,2 – (9,82+0,0982)


= 88,28 ml
- Resep 3 (Revy S) variasi suhu 80°C
Vlot = 1 : 20
Berat bahan = 4,92 gram
Larutan = 20 x 4,92
= 98,4 ml
Resep pencelupan
1
 ZW Direk = 100 𝑥 4,92 = 𝑔𝑟𝑎𝑚
100
= 0,0492 × = 4,92 mL
1
1
 Na2CO3 = 1000 𝑥 98,4 = 0,0984 𝑔𝑟𝑎𝑚
100
= 0,0984 × = 9,84 mL
1
30
 NaCl = 1000 𝑥 98,4 = 2,952 𝑔𝑟𝑎𝑚
1
 Zat pembasah = 1000 𝑥 98,4 = 0,0984 𝑚𝐿

 Air = 98,4 – 4,92 – 0,0984 – 9,84


= 83,5616 ml
Resep pencucian
1
 Sabun = 1000 𝑥 98,4 = 0,0984 𝑚𝐿
1
 Na2CO3 = 𝑥 98,4 = 0,0984 𝑔𝑟𝑎𝑚
1000
100
= 0,0984 × = 9,84 mL
1

 Air = 98,4 – 0,0984 – 9,84


= 88,4616 ml
- Resep 4 (Nisa R) variasi suhu 80°C
Vlot = 1 : 20
Berat bahan = 4,71 gram
Larutan = 20 x 4,71
= 94,2 ml
Resep pencelupan
1
 ZW Direk = 100 𝑥 4,71 = 0,0471 𝑔𝑟𝑎𝑚
100
= 0,0471 × 1
= 4,71 mL
1
 Na2CO3 = 1000 𝑥 94,2 = 0,0942 𝑔𝑟𝑎𝑚
100
= 0,0942 × = 9,42 mL
1
30
 NaCl = 1000 𝑥 94,2 = 2,826 𝑔𝑟𝑎𝑚
1
 Zat pembasah = 𝑥 9,42 = 0,0932 𝑚𝐿
1000

 Air = 94,2 – (0,0942 + 4,71 + 9,42) ml


= 94,2 – 12,2242
= 81,9758 ml
Resep pencucian
1
 Sabun = 1000 𝑥 94,2 = 0,0942 𝑚𝐿
1
 Na2CO3 = 1000 𝑥 94,2 = 0,0942 𝑔𝑟𝑎𝑚
100
= 0,0942 × = 9,42 mL
1

 Air = 94,2 – (9,42 + 0,0942)


= 93,2 - 9,5142
= 84,6858 ml
4.2. Data Percobaan

No. Evaluasi Kain 1 Kain 2 Kain 3 Kain 4


1. Berat awal (gram) 4,66 4,91 4,92 4,71
2. Variasi Suhu (oC) 60 70 80 90

Data Evaluasi Ketuaan

Kain Pengamat ∑ TOTAL Peringkat


I II III IV
1 (60°C) 1 1 1 1 4 4
2 (70°C) 2 2 2 2 8 3
3 (80°C) 3 4 4 4 15 1
4 (90°C) 4 3 3 3 13 2
Data Evaluasi Kerataan

Kain Pengamat ∑ TOTAL Peringkat


I II III IV
1 (60°C) 4 4 4 4 16 1
2 (70°C) 3 3 3 3 12 2
3 (80°C) 2 2 2 2 8 3
4 (90°C) 1 1 1 1 4 4

*Keterangan =
Skala metoda rangking evaluasi kerataan adalah 0-4
V. DISKUSI

Dari praktikum dilakukan pencelupan kain dari serat selulosa (kapas) dengan zat warna
direk, dengan mekanisme pencelupan yang terdiri dari tahap difusi zat warna dari fasa ruah
larutan zat warna ke dekat permukaan serat, kemudian tahap adsorpsi zat ke permukaan serat,
lalu tahap difusi zat warna ke dalam serat dan fiksasi zat warna. Tahap yang paling lambat
dan menentukan laju pencelupan adalah tahap difusi zat warna ke dalam serat yang sangat
tergantung pada kerapatan struktur serat dan ukuran partikel zat warna. Oleh karena itu maka
suhu proses pencelupan zat warna direk perlu diperhatikan dengan tujuan untuk
mengoptimumkan proses pencelupan.
Proses pencelupan merupakan proses eksotermis, yaitu proses yang menghasilkan kalor
atau panas. Seharusnya proses pencelupan tidak dilakukan dengan suhu tinggi, karena
prosesnya sendiri akan menghasilkan kenaikan suhu. Tetapi dalam praktikum, untuk
mencapai kondisi tersebut membutuhkan waktu yang lama, maka untuk mempersingkat
waktu diperlukan pemanasan untuk mempercepat reaksi.
Praktikum ini dilakukan dengan memvariasikan suhu dengan besaran 60, 70, 80 dan
90°C. Hasil praktikum menunjukan perbedaan ketuaan dan kerataan pada kain. Kain kapas
pada suhu 80°C terlihat lebih tua dibandingkan kain dengan suhu yang lain. Pada praktikum
ini tidak dilakukan proses iring, maka untuk hasil ketuaan warna yang didapatkan
kemungkinan tidak begitu bagus. Proses iring sangat penting untuk dilakukan, sebab zat
warna direk merupakan zat warna yang ketahanan cucinya kurang baik meskipun larut dalam
air dan dapat mewarnai serat kapas dengan langsung. Karena tidak dilakukan proses iring,
kemungkinan tidak semua zat warna direk dalam proses pencelupan terfiksasi kedalam serat,
zat warna yang tidak terfiksasi akan kembali dalam fase larutan.
Dari praktikum didapatkan bahwa semakin tinggi suhu yang digunakan saat proses
pencelupan, semakin tua warna yang dihasilkan. Yang artinya penyerapan zat warna semakin
bagus pada suhu tinggi. Tetapi ada suhu optimum yang didapat agar penyerapan zat warna
semakin bagus. Pada suhu 80°C warna yang dihasilkan tua, seharusnya pada suhu 90°C
warna yang dihasilkan lebih tua tetapi hasil yang didapatkan kain pada suhu 90°C lebih muda
dari kain pada suhu 80C. Ini menunjukkan adanya kejenuhan serat pada kain dalam menyerap
zat warna. Kain pada suhu 80°C menyerap zat warna dengan optimal sedangkan kain pada
suhu 90°C tidak optimal menyerap zat warna karena suhu yang berlebih. Oleh karena itu
warna yang dihasilkan pada kain 90°C lebih muda dari kain 80°C.

Untuk hasil kerataan yang dihasilkan pada kain berbanding terbalik dengan hasil yang
didapat pada ketuaan warna. Semakin rendah suhu yang digunakan, semakin rata warna kain
yang dihasilkan. Hal ini disebabkan karena pada suhu rendah, molekul zat warna bergerak
tidak begitu cepat dan tidak banyak bertumbukan, oleh karenanya molekul zat warna masuk
kedalam serat sedikit demi sedikit yang menyebabkan warna yang dihasilkan menjadi rata.
Proses pencelupan dengan suhu tinggi didapatkan hasil yang tidak rata dibandingkan dengan
yang lainnya. Hal ini dikarenakan molekul zat warna bergerak bebas dengan cepat dan saling
bertumbukan satu sama lain pada suhu tinggi. Karena terus bertumbukan, molekul zat warna
yang masuk kedalam serat menjadi bergerombol dan menyebabkan warna yang tidak rata.

VI. KESIMPULAN

Dari hasil praktikum, dapat disimpulkan:

 Pada proses pencelupan, suhu yang digunakan sangat berpengaruh terhadap hasil
pencelupan. Maka suhu yang digunakan harus diatur. Semakin tinggi suhu yang
digunakan pada proses pencelupan, semakin baik hasil pencelupan yang didapatkan.
 Pada proses pencelupan ada suhu optimum. Saat proses pencelupan melewati suhu
optimum, hasil yang didapatkan tidak begitu bagus, baik dari ketuaan warna maupun
kerataan warna yang didapatkan.
 Kain dengan warna yang paling tua didapatkan pada suhu optimum yaitu 80°C.
DAFTAR PUSTAKA

1. Karyana Dede, Elly K. 2005. Bahan Ajar Praktikum Pencelupan 1. Bandung : Sekolah
Tinggi Teknologi Tekstil.
2. Ir. Djufri, Rasjid, dkk. 1976. Teknologi Pengelantangan, Pencelupan, dan Pencapan.
Bandung: Institut Teknologi Tekstil.
3. Serat-Serat Tekstil. Bandung: Institut Teknologi Tekstil.
4. Shore, John. 1990. Colorants and Auxiliaries. Manchester: Society of Dryers and
Coulorists.
5. Kartini. 2012. MODUL “Proses Pencelupan“. Bandung : SMKN 1 Ketapang
Lampiran

1. Pencelupan dengan zat warna direk pada kapas dengan variasi suhu

Suhu 60°C Suhu 70°C

Suhu 80°C Suhu 80°C