Anda di halaman 1dari 14

RUMAH SISA – ANDY ARMAN

Rumah Sisa adalah sebuah ide yang sengaja kami buat untuk menjawab tantangan tentang
definisi sebuah rumah yang bila diwujudkan akan mampu menjawab beberapa persoalan
yang sedang berkembang di daerah perkotaan. Sejalan dengan tema yang diangkat oleh
workshop ini. Desain rumah ini adalah sebuah studi sederhana untuk mendefinisikan
pengertian rumah yang kontekstual serta dekat dengan lingkungan. Desain Rumah Sisa
memakai dua pendekatan, yang pertama adalah konteks dan yang kedua adalah material sisa.
Konteks berbicara pada ranah tropis (arsitektur tropis), dengan pendekatan penyelesaian
masalah iklim, terutama pada hujan, udara panas dan cahaya matahari yang melimpah.
Masalah hujan diselesaikan dengan bentukan atap merepresentasikan sebuah arsitektur
naungan, bukan lindungan

Udara yang cukup panas pada siang hari direduksi dengan penerapan metode ventilasi silang
(bentuk bangunan yang tipis serta memiliki banyak bukaan lebar disisi kiri dan kanan
bangunan). Sedangkan cahaya melimpah direduksi dengan pemakaian secondary skin yang
berpori. Disisi yang lain, explorasi material sisa atau barang bekas menjadi issue yang tidak
kalah penting. Rumah ini bermaksud mengajarkan ke masyarakat akan pentingnya pemakaian
material sisa yang banyak ditemui disekitar lingkungan rumah kita, sehingga bisa mengurangi
dampak buruk dari material-material sisa atau barang bekas yang tidak terpakai itu.
Membangun rumah tidak harus memakai material yang baru (sehingga budget jadi tinggi),
justru bila kita jeli melihat potensi material sisa atau barang bekas yang ada disekitar kita,
dengan sedikit ide dan sentuhan kreatifitas, maka material sisa tersebut bisa menjadi elemen
pembentuk bentukan arsitektural yang artistik dan bernilai.
Desain Rumah Sisa memakai dua pendekatan, yang pertama adalah konteks dan yang kedua
adalah material sisa. Konteks berbicara pada ranah tropis (arsitektur tropis), dengan
pendekatan penyelesaian masalah iklim, terutama pada hujan, udara panas dan cahaya
matahari yang melimpah. Disisi yang lain, explorasi material sisa atau barang bekas menjadi
issue yang tidak kalah penting.

Rumah ini bermaksud mengajarkan ke masyarakat akan pentingnya pemakaian material sisa
yang banyak ditemui disekitar lingkungan rumah kita, sehingga bisa mengurangi dampak
buruk dari material-material sisa atau barang bekas yang tidak terpakai itu. Membangun
rumah tidak harus memakai material yang baru (sehingga budget jadi tinggi), justru bila kita
jeli melihat potensi material sisa atau barang bekas yang ada disekitar kita, dengan sedikit ide
dan sentuhan kreatifitas, maka material sisa tersebut bisa menjadi elemen pembentuk
bentukan arsitektural yang artistik dan bernilai.

Salah satu contoh penerapannya adalah pada secondary skin yang menjadi aksen
fasade rumah ini, secondary skin tersebut tersusun dari sisa-sisa potongan kayu hasil
pengolahan (limbah) dari beberapa tempat pengolahan kayu di lingkungan sekitar. Potongan-
potongan tersebut kami pilih terlebih dahulu, hanya potongan kayu berjenis kayu keras
(merbau/bengkirai) saja yang kami pakai. Selanjutnya potongan-potongan kayu sisa tersebut
(yang memiliki panjang bervariasi mulai dari 10 cm hingga 70 cm) di press dengan frame dari
baja WF, fungsi baja WF tersebut adalah sebagai pengikat. Selanjutnya beberapa potongan di
ambil secara acak dan diganti dengan potongan besi hollow (ukuran menyesuaikan kayu) yang
berfungsi sebagai pori-pori. Secondary skin tersebut sekaligus menjadi elemen pembentuk
interior yang menarik, permainan maju-mundur serta lubang-lubang acak tersebut menjadi
pori-pori masuknya cahaya matahari pada pagi hari serta angin yang berhembus sepanjang
hari. Disisi yang lain masalah tampias akibat dari pori-pori tersebut diselesaikan dengan
adanya ruang transisi antara secondary skin dengan ruang santai yang ada di dalamnya.
TAMPAK DEPAN

TAMPAK SAMPING
1. LOKASI

Site berada di sebuah komplek perumahan dengan type cluster, berada di salah satu
wilayah Jakarta. Site ini memiliki luas tanah 298/300 m2. Site ini berada di kavling no 4 yang
diapit oleh kavling no 3 dan 5 dan jalan yang berada di depan site adalah tikungan jalan/tusuk
sate dengan menghadap kearah timur. Rumah ini dibangun untuk keluarga yang terdiri dari
ayah (48 tahun), ibu (43 tahun), anak perempuan (19 tahun), anak laki-laki (15 tahun), dan
seorang pembantu (40 tahun).
2. BENTUK SITE

Site berbentuk memanjang ke arah belakang dengan ukuran lebar 10 meter dan
panjang kurang lebih 30 meter. GSB pada bagian depan site selebar 3 meter dan terdapat
perbedaan ketinggian tanah pada bagian depan sebedar 60cm. Perbedaan kontur tanah pada
bagian depan site ini dimanfaatkan sebagai carport. Peletakan carport ini juga merupakan
respon dari keberadaan site di posisi tikungan jalan (tusuk sate). Batas sebelah utara dan
selatan bangunan adalah hunian.

3. PENYINARAN MATAHARI
Matahari terbit dari arah timur sehingga sinar matahari yang baik pada arah timur saat
pagi hari. Pada bagian timur, zona site banyak mendapatkan sinar matahari pagi di
manfaatkan untuk ruangan yang membutuhkan bukaan yang cukup banyak. Massa bangunan
yang tipis juga memungkinkan pencayaan alami dapat merata ke dalam ruangan. Untuk zona
yang mendapatkan matahari sore dengan intensitas tinggi dimanfaatkan untuk area servis.
Matahari tenggelam di barat sehingga sinar matahari yang kurang baik pada arah barat saat
sore hari. Cahaya melimpah yang masuk ke dalam ruangan tersebut direduksi dengan
pemakaian secondary skin yang berpori yang tersusun dari sisa-sisa potongan kayu. Area di
sisi selatan site dibiarkan terbuka (tidak dibangun) untuk lahan hijau dan akses matahari pagi.
Arah orientasi ruang mengarah pada area terbuka di sisi selatan site.

4. SIRKULASI UDARA

Bangunan direncanakan berbentuk memanjang membujur ke belakang site.


Bangunan diletakkan ditengah-tengah site (tidak menempel pada batas site). Hal ini bertujuan
agar tetap ada sirkulasi udara disekitar bangunan. Udara yang cukup panas di siang hari
direduksi dengan penerapan metode ventilasi silang. Hal ini juga memungkinkan untuk
menciptakan cross ventilation di dalam ruangan dengan adanya bukaan pada bagian arah
selatan dan utara sebagai penghawaan alami. Semakin banyak bukaan pada bangunan maka
semakin banyak angin yang dapat masuk dan menggantikan udara yang berada di dalam
ruangan.
BENTUK BANGUNAN

1. Pola Ruang

2. Analisa zonifikasi

Analisa zonifikasi bangunan bertujuan untuk mengetahui zona yang sesuai. Zonifikasi
berfungsi untuk membedakan antara zona privat, semi publik dan publik sehingga dalam
menentukan ruang dapat sesuai dengan aktifitas dari penghuni.

a) Zona privat merupakan zona yang hanya dapat diakses pihak-pihak tertentu
b) Zona semi publik merupakan zona yang dapat diakses hampir semua pihak.
c) Zona publik merupakan zona yang dapat diakses semua pihak.

Analisa:

Perzoningan terhadap ruang lantai 1

 Ruang bagian depan adalah zona publik terdapat ruang tamu, kamar tamu, carport,
dan teras
 Ruang bagian tengah adalah zona privat dan zona aktivitas terdapat kamar tidur
utama dan ruang makan. Menempatkan zona privat dengan menjauhkan dari sumber
kebisingan serta menempatkan zona publik pada zona yang tidak memerlukan tingkat
kebisingan rendah.
 Ruang bagian belakang adalah zona servis terdapat kamar pembantu, dapur, dan
gudang.

Perzoningan terhadap ruang lantai 2


 Ruang bagian depan adalah zona aktivitas terdapat ruang santai/ruang keluarga.
 Ruang bagian tengah adalah zona privat dan zona aktivitas terdapat kamar tidur anak
dan ruang gym/fitness
 Ruang bagian belakang adalah ruang servis terdapat dapur dan pantry.
Contoh eksplorasi material sisa yang lainnya adalah kayu bekas palet/peti kemas yang
dipakai untuk tangga, sunscreen dan meubelair, kayu gelam sisa proyek dipakai untuk
struktur tangga serta botol-botol bekas yang dipakai sebagai armatur lampu. Pada interior
rumah ini juga terlihat eksplorasi material sisa yang cukup beragam, kayu-kayu sisa palet di
desain sedemikian rupa untuk bisa menjadi meja, kursi, jam dinding sampai tatakan tempat
tidur. Konsep rumah yang unfinished juga bisa menjadi alternatif yang murah dari segi
perawatan. Sedangkan bentuk fasadenya yang tertutup adalah solusi untuk mengatasi
permasalahan rumah yang berada di kavling tusuk sate.

Rumah Sisa adalah sebuah proyek proposal yang di buat untuk acara Workshop
Omahku Kini 2013 yang digagas oleh arsitek muda dari Jakarta, Denny Setiawan. Rumah Sisa
adalah sebuah ide yang sengaja di buat untuk menjawab tantangan tentang definisi sebuah
rumah yang bila diwujudkan akan mampu menjawab beberapa persoalan yang sedang
berkembang di daerah perkotaan. Sejalan dengan tema yang diangkat oleh workshop ini.
Desain rumah ini adalah sebuah studi sederhana untuk mendefinisikan pengertian rumah
yang kontekstual serta dekat dengan lingkungan.

CASABLANCKA RESIDENCE- BUDI PRADONO


Rumah yang berlokasi di Kelating, Tabanan, Bali ini diberi nama oleh pemiliknya yaitu
Casablancka. Berlokasi sekitar satu jam setengah dari Bandar udara Internasional Ngurah Rai,
rumah dengan area seluas 573 meter persegi ini didesain dengan pendekatan alam. Dengan
pendekatan alamnya ini memang merupakan salah satu ciri khas dari arsitek ternama
Indonesia yaitu Budi Pradono. Tentunya desain rumah perlu disesuaikan dengan sitenya yang
berada dekat dengan sungai. Tidak lupa pula terdapat bangunan eksisting seperti rumah Jawa
di sekitar sungai. Menyesuaikan desain dengan lingkungan sekitar memang merupakan salah
satu pekerjaan dari Arsitek.

Ide utama dalam desain rumah ini adalah untuk menciptakan Arsitektur Bali yang diambil dari
konsep Tri Mandala dimana akan terdapat tiga area atau wilayah dalam bangunan. Pertama
terdapat Nista Mandala yaitu area paling terluar bangunan, lalu Madya Mandala yang berada
di tengah-tengah, dan yang ketiga adalah Utama Mandala sebagai area dalam dan tersuci
diantara kedua area lainnya. Jika dalam bangunan pura, Utama Mandala merupakan tempat
bersembahyang dan tempat upacara keagamaan dilakukan.
rumah ini adalah transformasi struktur tradisional Bali yang diberi nama Taring yang
merupakan bangunan sementara. Taring terbuat dari bambu dan biasanya digunakan oleh
masyarakat Bali untuk kegiatan khusus seperti pernikahan, kremasi, dan lain-lain. Sejatinya
Taring menggambarkan pemisahan antara lantai, dinding, dan struktur atap yang berdiri
mandiri. Tetapi bagian-bagian ini memiliki hubungan khusus yang akan diimplementasikan.

Konsep Interior
Konsep Interior adalah transformasi dialog antara Timur dan Barat, sebagian besar furnitur
menggunakan bahan daur ulang dari awal 40-an selama pendudukan periode Belanda di
Indonesia dengan interpretasi modern, dengan menggunakan warna lembut kain biru dan
putih. dan juga menggunakan furnitur kayu tua dari Jawa.

Penggunaan material pada rumah ini menunjukkan bahwa desain rumah ini dibuat untuk
mendekatkan pemilik rumah dengan alam. Dinding yang didesain dari batu bata, disusun zig
zag dan diberi beton penyangga di dalamnya. Dinding batu bata tentunya akan mengurangi
udara panas di Bali. Warna alami dari batu bata pun memberikan tone pada interior
ruangan dalam rumah. Banyaknya bukaan pada massa bangunan menjadi salah satu solusi
yang diberikan pada rumah ini. Hal ini dilakukan agar udara alami bisa keluar dan masuk
secara leluasa.
Untuk penggunaan bamboo yang cukup mencolok dan dominan di rumah ini sebagai
struktur kolom dan struktur atap. Untuk finishing lantai rumahnya terbuat dari semen abu-
abu yang merupakan material buatan orang local. Sedangkan yang satunya adalah ubin
buatan Jawwa yang biasa digunakan pada bangunan colonial di era 30-an yang sering
terlihat pada bangunan ala Belanda.
Dinding rumah dari material kaca pun menjadi pembatas antara ruang luar dan ruang
dalam. Menyatukan suasana alam dengan interior kontemporer menjadi sesuatu yang baru.
Atap bamboo yang dibentuk seperti gunung dan pada puncaknya terdapat skylight yang
membuat cahaya alami masuk ke setiap ruangan. Hal ini menunjukkan hubungan antara
manusia dengan langit. Furniture menggunakan material daur ulang dengan memberikan
sentuhan modern .A

SIRKULASI

- Intensitas matahari
Pada pagi hari bangunan Casablancka residence ini berhadapan langsung dengan
matahari, intensitas cahayanya langsung pada setiap ruang-ruang yang terdapat
dibangunan dikarenakan bukaan kaca yang besar dan viewnya berhadapan langsung
didaerah persawaan . Sedangkan intensitas cahaya pada sore hari cahayanya tersinari
langsung pada bagian belakang bangunan.
- Intensitas udara
Sirkulasi udara pada bangunan casablancka residence ini masih memanfaatkan udara
alami karena bangunan ini terletak di area persawaan dan sungai sehingga bangunan
ini tidak menggunakan AC , banyaknya bukaan pada bangunan ini membuat setiap
ruangan terasa sejuk karena memanfaatkan udara alami dari lingkungan sekitar.

LOKASI

Site berada di sebuah area perkampungan yang berdekatan dengan sungai dan
persawaan warga dan memiliki luas lahan 573 M2 dan site yang menghadap langsung
tepat menghadap langsung tepat ke area sungai dan persawaan warga .
Rumah ini bersifat pribadi dan dibangun untuk villa keluarga . Site yang berupa bentuk
persegi Panjang dengan luas 573 M2,dengan fisik tanah yang berkontur pada bagian
depan bangunan dimanfaatkan sebagai area kolam renang dan area bersantai .