Anda di halaman 1dari 19

PEDOMAN PENANGGULANGAN

COVID-19
Versi 1.0

PAPDI CABANG CIREBON Maret 2020


PENYUSUN

Tim Penanggulangan Kasus COVID-19 PAPDI Cabang Cirebon


28/SK/PAPDI-CRBN/III/2020

Pelindung/ Penasehat : dr. Sutiadi Kusuma SpPD-KHOM., FINASIM


Ketua : dr. Mohamad Luthfi, SpPD., KHOM., FINASIM., MMRS.
Wakil Ketua : dr. Ahmad Fariz Zamzam Zein, SpPD., MM.
Sekretaris : dr. Menik, SpPD.
Tim Pakar :
1. dr. Wizhar Syamsuri, SpPD-KGH, FINASIM
2. dr. Irene Gunawan, SpPD
3. dr. Ratna Sari, SpPD
4. dr. Oom Nurrohmah SpPD
Koordinator wilayah kota Cirebon :
1. dr. Indraji Dwi Mulyawan, SpPD., FINASIM
2. dr. Rizka Husna H, SpPD
Koordinator wilayah kuningan :
1. dr. Elly Wijaya Nusryam, SpPD., FINASIM, MH.Kes, MM.
2. dr. Rio Zakaria, SpPD.
3. dr. Ining Kartika Tarmidi SpPD
Koordinator wilayah Majalengka :
1. dr. Afdi Syam, SpPD, FINASIM
2. dr. Irwan Haris, SpPD.FINASIM
3. dr. R. Doddy Muhamad Turmudzi, SpPD
Koordinator wilayah Kabupaten Cirebon :
1. dr. I Made Astawa, SpPD, FINASIM, MARS
2. dr. Taufiq M. Wally, SpPD
3. dr. Sibli, SpPD
Koordinator Wilayah Indramayu :
1. dr. Moch. Reza Mahdi, SpPD.
2. dr. Bactiar muslim, SpPD
3. dr.Andreis Kia Tolok SpPD

PAPDI CABANG CIREBON Maret 2020


PENDAHULUAN
Kasus Covid-19 telah dinyatakan Pandemi oleh WHO, serta semakin meningkatnya jumlah kasus di
Indonesia, yang membutuhkan perhatian dan dukungan sumber daya di lingkungan Kesehatan Wilayah
III Cirebon, serta perlunya koordinasi dari semua pihak terkait untuk menjaga keamanan dan
kesehatan Masyarakat Jawa Barat khususnya Wilayah III Cirebon.

Berdasarkan hal tersebut, PAPDI Cabang Cirebon membentuk Tim Penanggulangan Kasus COVID-
19, untuk konsolidasi dan kordinasi serta peningkatan kesiapan dan kesiagaan dalam menghadapi
Pandemi COVID-19.

DEFINISI OPERASIONAL
Pedoman Penanggulangan COVID-19 ini dibuat berdasarkan Revisi ke-3 Pedoman Pencegahan dan
Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19) yang diterbitkan oleh Direktorat Jendral Pencegahan
dan Pengendalian Penyakit pada Bulan Maret 2020. Adapun modifikasi disesuaikan dengan kondisi
wilayah III Cirebon.

Kriteria Kasus
Kriteria kasus COVID-19 terkait dengan tanda, gejala dan faktor risiko serta terkonfirmasi atau tidak,
dapat dilihat pada tabel ringkasan berikut ini:

Kriteria Kasus Tanda dan Gejala Faktor Risiko


Seseorang dengan Infeksi Saluran Pernapasan pada 14 hari terakhir
Akut (ISPA) yaitu sebelum timbul gejala,
- demam (≥38oC) atau riwayat demam; memenuhi salah satu kriteria
disertai salah satu gejala/tanda penyakit berikut:
pernapasan seperti: a. Memiliki riwayat
batuk perjalanan atau tinggal
sesak nafas di luar negeri yang
sakit tenggorokan
melaporkan
pilek
transmisi lokal
Pasien dalam pneumonia ringan hingga berat
b. Memiliki riwayat
Pengawasan dan tidak ada penyebab lain berdasarkan
perjalanan atau tinggal
(PDP) gambara klinis yang meyakinkan
di area transmisi lokal
di Indonesia**

Seseorang dengan demam (≥38oC) atau pada 14 hari terakhir


riwayat demam atau ISPA sebelum timbul gejala memiliki
riwayat kontak dengan
kasus konfirmasi atau
probabel COVID-19

PAPDI CABANG CIREBON Maret 2020


Seseorang dengan ISPA berat/ Pneumonia di area transmisi lokal di
berat*** Indonesia** yang membutuhkan
perawatan di rumah sakit.
dan
tidak ada penyebab lain berdasarkan
gambaran klinis yang meyakinkan.

Keterangan ***ISPA berat atau pneumonia berat adalah :


Gejala PDP : • Pasien remaja atau dewasa dengan demam atau dalam pengawasan
infeksi saluran napas, ditambah satu dari:
• frekuensi napas >30 x/menit,
• distress pernapasan berat
• saturasi oksigen (SpO2) <90% pada udara kamar.
• Pasien anak dengan batuk atau kesulitan bernapas, ditambah
setidaknya satu dari berikut ini:
sianosis sentral atau SpO2 <90%
dan/atau
distres pernapasan berat (seperti mendengkur, tarikan dinding dada yang
berat)
dan/atau
tanda pneumonia berat: ketidakmampuan menyusui atau minum, letargi
atau penurunan kesadaran, atau kejang
dan/atau
Tanda lain dari pneumonia yaitu: tarikan dinding dada, takipnea :<2 bulan,
≥60x/menit; 2–11 bulan, ≥50x/menit; 1–5 tahun, ≥40x/menit;>5 tahun, ≥
30x/menit.
** Wilayah terjangkit di Indonesia dapat dilihat pada website
infeksiemerging.kemkes.go.id
Orang dalam Seseorang yang mengalami pada 14 hari terakhir
Pemantauan sebelum timbul gejala,
(ODP) - demam (≥38oC) atau riwayat demam;
memenuhi salah satu kriteria
Atau berikut:
Gejala gangguan sistem pernapasan (batuk/ a. Memiliki riwayat
sakit tenggorokan/ pilek) perjalanan atau tinggal
dan di luar negeri yang
melaporkan
tidak ada penyebab lain berdasarkan gambara
transmisi lokal
klinis yang meyakinkan
b. Memiliki riwayat
perjalanan atau tinggal
di area transmisi lokal
di Indonesia**

Kasus Probable Pasien dalam pengawasan yang diperiksa untuk COVID-19 tetapi inkonklusif
(tidak dapat disimpulkan).

PAPDI CABANG CIREBON Maret 2020


Kasus Seseorang terinfeksi COVID-19 dengan hasil pemeriksaan laboratorium positif.
Konfirmasi

Kontak Erat Tidak ada gejala Terdapat kontak fisik atau


berada dalam ruangan atau
berkunjung (dalam radius 1
meter dengan kasus pasien
dalam pengawasan,
probabel atau konfirmasi)
dalam 2 hari sebelum kasus
timbul gejala dan hingga 14
hari setelah kasus timbul
gejala.
Kontak Erat Risiko Rendah Kontak dengan PDP
Kontak Erat Risiko Tinggi Kontak dengan Kasus
konfirmasi atau probable.
Termasuk kontak erat :
a. Petugas kesehatan yang memeriksa, merawat, mengantar dan
membersihkan ruangan di tempat perawatan kasus tanpa menggunakan
APD sesuai standar.
b. Orang yang berada dalam suatu ruangan yang sama dengan kasus
(termasuk tempat kerja, kelas, rumah, acara besar) .
c. Orang yang bepergian bersama (radius 1 meter) dengan segala jenis
alat angkut/kendaraan.

SURVEILANS
Kegiatan surveilans dilakukan untuk pelacakan kontak dan mencegah penularan lebih lanjut dari
COVID-19. Kegiatan surveilans dilakukan oleh pihak terkait diantaranya : Fasilitas Pelayanan
Kesehatan, Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten, Dinas Kesehatan Provinsi dan Dinas Kesehatan Pusat.
Adapun ringkasan kegiatan surveilans berdasarkan kriteria Kasus adalah sebagai berikut:
KRITERIA
SURVEILANS DETEKSI DINI RS/ Klinik
KASUS
Pelacakan Kontak erat : a. Tatalaksana sesuai kondisi pasien
- Keluarga b. Rujuk ke RS Rujukan dengan ambulans
- Petugas Kesehatan c. Komunikasi risiko COVID-19 kepada pasien,
keluarga dan penunjung.
Pasien dalam d. Laporkan kasus ke Dinkes Kota/Kabupaten dalam
Pengawasan 1x24 jam
(PDP) e. Lakukan penyelidikan epidemiologi (pelacakan
kontak erat) bekerja sama dengan dinkes, serta
mencatat dan melaporkan hasil pemantauan kontak
secara rutin (form terlampir)
f. Pengambilan Spesimen

PAPDI CABANG CIREBON Maret 2020


- WAJIB isolasi mandiri
a. Tatalaksana sesuai kondisi pasien
- Dilakukan pengambilan
b. Komunikasi risiko COVID-19 kepada pasien,
spesimen pada hari ke-1
keluarga dan penunjung.
dan 2
c. Isolasi diri di rumah dengan pemantauan petugas
Orang dalam - Evaluasi perburukan
d. Fasyankes melaporkan kasus ke Dinkes
Pemantauan gejala dalam waktu 14
Kota/Kabupaten dalam 1x24 jam
(ODP) hari
e. Pengambilan Spesimen
- Pemantauan oleh
Fasyankes (puskesmas
atau RS) melalui telepon
atau kunjungan langsung.

Pemantauan 14 hari sejak kontak terakhir dengan pasien pdp


Kontak Erat - Observasi dan karantina
Risiko - Tidak perlu pengambilan spesimen
Rendah - Jika kasus pdp negatif covid19 : stop surveilans
- Jika kasus pdp positif covid19 , surveilans sebagai Kontak Erat
risiko tinggi.

Pemantauan 14 hari sejak kontak terakhir dengan kasus probable atau konfirmasi.
- Observasi dan karantina
Kontak Erat - Perlu pengambilan spesimen,
Risiko Tinggi Jika tidak ada gejala pengambilan spesimen pada hari ke-1dan 14,
Jika timbul gejala , pengambilan spesimen dilakukan pada hari ke-1 dan 2.
- Jika hasil pemeriksaan positif : rujuk rs untuk isolasi

Tidak Bergejala : WAJIB


- Monitoring mandiri kemungkinan munculnya gejala selama 14 hari sejak
kepulangan.
- Mengurangi aktifitas yang tidak perlu
- Menjaga jarak kontak > 1 meter dari orang lain
Pelaku - Pemantauan melalui HAC bekerjasama dengan KKP dan Dinkes
Perjalanan Bergejala (selama 14 hari pemantauan) :
dari Negara - Membawa HAC untuk notifikasi Ke Dinas kesehatan setempat.
atau Area - Datangi fasilitas Kesehatan terdekat dan/atau menghubungi Hotline COVID-
Terjangkit 19 :
- Kota Cirebon : 119
- Kabupaten Cirebon : 0231-8800119 atau 081998800119
- Kabupaten Majalengka : 112
- Kabupaten Indramayu : 08111333314
- Kabupaten Kuningan : 081388284346
- Dinkes Provinsi Jawa Barat 0811-20-933-06

PAPDI CABANG CIREBON Maret 2020


Adapun alur deteksi berdasarkan kriteria kasus dan surveilans telah kami rangkum pada gambar
berikut :

PAPDI CABANG CIREBON Maret 2020


Berikut adalah formulir deteksi dini yang dapat digunakan di Triase RS sebagai alat bantu skrining
COVID-19:

PAPDI CABANG CIREBON Maret 2020


Dikutip dari Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Coronavirus Disease (COVID-19) Revisi ke-3

MANAJEMEN KLINIS COVID-19

Coronavirus merupakan patogen pada hewan dan manusia , pada tahun 2019 ditemukan coronavirus
baru yang diidentifikasi sebagai penyebab pneumonia di Wuhan, Hubei- China. Peningkatan kasus
menjadi pandemi dinyatakan oleh WHO pada maret 2020.

Transmisi COVID-19 terjadi dari hewan ke manusia dan dari manusia ke manusia. Transmisi
terjadi melalui droplet atau tetesan sekresi pernapasan ketika pasien mengalami batuk, bersin atau
berbicara dan menularkan orang lain jika mengalami kontak langsug dengan membran mukosa.,
menyerupai penyebaran influenza. Infeksi juga dapat terjadi jika seseorang yang menyentuh
permukaan yang terinfeksi lalu menyentuh muka atau mata atau hidungmya.

Umumnya tetesan sekresi pernapasan (droplets) tidak dapat berpindah jauh (tidak lebih dari 2 meter)
dan tidak bertahan diudara. Namun rekomendasi kewaspadaan airborne tetap dilakukan pada
beberapa negara dan prosedur risiko tinggi,

Onset gejala umumnya terjadi setelah masa inkubasi 2 sampai dengan 14 hari (rata-rata 4-5 hari).
Jumlah RNA virus dikatakan meningkat segera setelah timbul gejala. Transmisi dari individu yang
tidak bergejala juga dapat terjadi. Screening serologi mungkin merupakan pilihan untuk mengevaluasi
infeksi asimptomatik.

PAPDI CABANG CIREBON Maret 2020


Tingkat Keparahan Penyakit. Spektrum penyakit COVID-19 sangat bervariasi. Sebagian besar
infeksi tidak berat : Ringan (tanpa atau Pneumonia ringan) sebanyak 81%, Berat (dengan sesak nafas,
hipoksia atau keterlibatan paru >50% pada pemeriksaan radiologi dalam kurun 24-48 jam) sebanyak
14%, Kritis (dengan gagal nafas, syok atau MODS) sebanyak 5%, dengan angka kematian 2,3%.

Usia. Covid-19 dapat terjadi pada usia berapapun, meskipun usia dewasa dan usia tua yang paling
banyak terjangkit (median 49-56 tahun). Usia lanjut berhubungan dengan angka kematian yang tinggi
(8-15% pada usia > 70 tahun). Pada Anak jarang terjadi infeksi dan umumnya gejala berupa gejala
ringan (kejadian kasus 2% dari total infeksi pada usia <20 tahun)..

Gambaran Klinis
Infeksi Asimptomatik , angka kejadiannya sulit ditentukan, namun pada Februari 2020 dimana terjadi
wabah pada kapal pesiar dan dilakukan skrining COVID-19, didapatkan 17% positif dengan 50% dari
619 yang terkonfirmasi positif tidak memiliki gejala apapun (asimptomatik). Pada beberapa pasien
asimptomatik dapat juga ditemukan kelainan radilogis (CT Scan : 50% ground-glass opacities yang
khas atau patchy shadowing).

Diambil dari :Chen N, et al. Published Online January 29, 2020

Beberapa pasien dapat mengalami perburukan dalam hitungan minggu. Pada penelitian yang
dilakukan oleh Wang dkk., 138 pasien yang dirawat di Wuhan dengan pneumonia akibat SARS-Cov2
mengalami sesak napas rata-rata pada hari ke-5 sejak gejala pertama dirasakan dan masuk ke
perawatan pada hari ke-7.

ARDS (Acute Respiratory Distress Syndrome) merupakan komplikasi utama yang terjadi pada kasus
berat, terjadi 20% pada hari ke-8, dan memerlukan bantuan ventilasi mekanik 12,3%. Pada
penelitianWu C dkk., 41% kasus terjadi ARDS dan terjadi pada pasien berumur >65 tahun,
diabetes melitus dan hipertensi. Komplikasi lain berupa aritmia, gagal ginjal, syok.

PAPDI CABANG CIREBON Maret 2020


PAPDI CABANG CIREBON Maret 2020
KESIAPSIAGAAN FASILITAS KESEHATAN DAN PELAPORAN
PERANAN FASILITAS KESEHATAN
FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA
Fasilitas kesehatan tingkat pertama (Puskesmas atau Klinik) berperan dalam evaluasi kewaspadaan dini
dan respon, termasuk dalam melakukan surveilans :

 bekerja sama dengan KKP dan Dinkes setempat untuk pemantauan Pelaku perjalanan dari
wilayah/negara terjangkit selama 14 hari sejak kedatangan ke wilayah,
 Skrining awal ODP dan PDP, untuk selanjutnya melakukan rujuk pasien ke RS Rujukan,
dilaporkan ke dinkes dalam waktu 1x24 jam.
 Koordinasi dengan dinkes Kota/Kabupaten untuk melakukan pelacakan kontak erat serta
melakukan komunikasi risiko kepada kontak erat risiko rendah maupun risiko tinggi,
 Melakukan pengambilan spesimen dari ODP dan kontak erat risiko tinggi, berkoordinasi
dengan dinkes.
 Edukasi ke masyarakat.

FASILITAS KESEHATAN TINGKAT LANJUT


Fasilitas kesehatan tingkat lanjut, dalam hal ini RSUD maupun RS swasta, saling bersinergi untuk dapat
menangani kasus-kasus ODP dan PDP yang terjadi di Wilayah III Cirebon bersama-sama.

RS non-rujukan berperan dalam evaluasi Klinis dan surveilans berikut:

 Melakukan tatalaksana sesuai kondisi pasien, untuk dilakukan isolasi di RS.


 Koordinasi dengan RS Rujukan untuk pasien-pasien yang memerlukan tatalaksana lebih lanjut.
 Melakukan notifikasi ke dinas kesehatan kota/kabupaten dalam 1x24 jam.
 Melakukan komunikasi risiko terhadap kontak erat dan ODP.
 Berkoordinasi dengan puskesmas dan dinas kesehatan kota/kabupaten untuk pemantauan
ODP dan Kontak erat.
 Melakukan pengambilan spesimen untuk kasus PDP, ODP dan Kontak erat risiko tinggi,
dengan berkoordinasi dengan dinkes kota/kabupaten dan/atau litbangkes/labkesda

RS Rujukan COVID-19 berperan dalam penanganan klinis dan surveilans sebagai berikut:

 Melakukan tatalaksana sesuai kondisi pasien, untuk dilakukan Isolasi di RS.


 Melakukan notifikasi ke dinas kesehatan kota/kabupaten dalam 1x24 jam.
 Melakukan pengambilan spesimen untuk kasus PDP, ODP dan Kontak erat risiko tinggi,
dengan berkoordinasi dengan dinkes kota/kabupaten dan/atau litbangkes/labkesda
 Melakukan komunikasi risiko terhadap kontak erat dan ODP.
 Berkoordinasi dengan puskesmas, RS yang merujuk dan dinas kesehatan kota/kabupaten
untuk pemantauan ODP dan Kontak erat.

PAPDI CABANG CIREBON Maret 2020


REKOMENDASI UNTUK FASILITAS KESEHATAN
Rekomendasi dalam situasi peningkatan kasus COVID-19 di Indonesia, maka beberapa yang dapat
dilakukan berdasarkan Handbook of COVID-19 Prevention and Treatment 2020.

Klinik Demam independen


 Menggunakan sistem satu pintu.
 Jika memungkinkan laboratorium dan ruang observasi terpisah dari pasien
lain,
Lokasi dan Layout
 Ruang tindakan yang dibedakan dengan ruang observasi/ ruang tunggu.
 Staf administrasi tidak perlu APD, namun Jarak pemberi layanan minimal 1
meter.
 Pembatasan pengunjung, jika memungkinkan pasien menunggu sendiri, jika
tidak hanya dibatasi 1 penunggu pasien.
Kebijakan terkait
 Penggunaan masker untuk pasiendengan demam.
pencegahan
 Mempersingkat durasi tunggu pasien
penularan
 Edukasi penggunaan masker, etika batuk dan cuci tangan pada pasien dan
pengunjung.
 Penggunaan masker
 Penggunaan scrub/gaun atau baju khusus dokter (tidak menggunakan jas
APD pada petugas dokter) dan perawat.
RS  Penggunaan apron/gaun dan sarung tangan dan pelindung mata pada pasien
dengan gejala respirasi
 Peningkatan kewaspadaan universal pada seluruh pekerja RS
 Petugas Laboratorium menggunakan : masker, apron, sarung tangan dan
Laboratorium, pelindung mata.
penunjang dan  Radiologi : jaga jarak dengan pasien minimal 1 meter, disinfektan alat segera
Farmasi setelah digunakan.
 Farmasi : jaga jarak pelayanan minimal 1 meter.
 Pasien diedukasi untuk perawatan di Rumah (self-isolation) dan diberikan
Surveilans dan
nomor hotline jika terjadi perburukan kondisi.
tindak lanjut
 komunikasi risiko terhadap pasien dan keluarga,
terhadap ODP
 Notifikasi ke dinkes setempat dan puskesmas sesuai tempat tinggal pasien.
 Rawat isolasi,
Surveilans dan
 tatalaksana sesuai kondisi pasien,
tindak lanjut
 komunikasi risiko terhadap pasien dan keluarga,
terhadap PDP
 Notifikasi ke dinkes setempat dan puskesmas sesuai tempat tinggal pasien.

PAPDI CABANG CIREBON Maret 2020


Ruang Rawat Isolasi
 Menggunakan sistem satu pintu.
 Termasuk diantaranya adalah ruang Observasi, Ruang Rawat Isolasi dan
Ruang Rawat Isolasi intensif.
 Layout dan alur masuk sebaiknya disesuaikan dengan sarana dan prasarana
Lokasi dan Layout RS, jika memungkinkan ruangan dengan tekanan negatif dan ruang antara
untuk pencegahan penularan.
 Lokasi sebaiknya dipisahkan dari ruang rawat umum lainnya.
 Setiap pasien sebaiknya ditempatkan pada ruang tersendiri (jika
memungkinkan memiliki kamar mandi sendiri)
 Pasien sebaiknya tidak ditunggui dan/atau dikunjungi, namun masih boleh
membawa alat komunikasi.
Kebijakan terkait
 aktivitas pasien terbatas hanya di ruang isolasi
pencegahan
 Mempersingkat durasi tunggu pasien
penularan
 Edukasi metode observasi, penggunaan masker, etika batuk dan cuci tangan
pada pasien.
 Petugas di Ruang Isolasi WAJIB menggunakan :
 Baju Kerja / Scrub
 Topi
 Masker bedah (jika tidak ada tindakan aerosol)
APD pada petugas  Masker N95 (jika ada tindakan aerosol)
RS  APD Coverall (Face Shield/google/visor, masker, gaun, jas hujan/apron,
sarung tangan, sepatu boots)
 Penggunaan scrub/gaun atau baju khusus dokter (tidak menggunakan jas
dokter) dan perawat.
 Peningkatan kewaspadaan universal pada seluruh pekerja RS
 Laboratorium : pengambilan spesimen bekerjasama dengan
Dinkes/Litbangkes/Labkesda. Jika masuk ruang isolasi, wajib menggunakan
Laboratorium, APD lengkap.
penunjang dan  Radiologi : jaga jarak dengan pasien minimal 1 meter, disinfektan alat segera
Farmasi setelah digunakan. Jika masuk ruang isolasi, wajib menggunakan APD
lengkap.
 Farmasi : sebaiknya tidak memasuki area isolasi
 Pastikan kesehatan para petugas RS
Kebijakan Staff
 Pastikan APD lengkap dan tersedia

PAPDI CABANG CIREBON Maret 2020


 Sebaiknya bekerja dalam sistem Shift (rekomendasi setiap shift = 4 jam)
 Minimalisir jumlah pekerja yang memasuki area isolasi.
 Pengaturan waktu pemeriksaan, pemberian obat, tindakan dan kegiatan
disinfeksi ruangan agar meminimalisir frekuensi masuk keluar ruang isolasi.
 Setiap pekerja harus memastikan dirinya bersih sebelum keluar dari ruangan
isolasi (jika mungkin dikerjakan di ruang antara)

REKOMENDASI PENGGUNAAN APD


Penggunaan APD yang terbatas sebaiknya diatur berdasarkan kebutuhan pada petugas petugas RS,
berikut adalah rekomendasi yang disadur dari Keputusan Direktur Utama RSUP. Hasan Sadikin
Bandung tentang Penggunaan Jenis Alat Pelindung Diri (APD) yang direkomendasikan untuk
digunakan berkenaan dengan Coronavirus Disease (COVID-19) meruju tempat, personel dan jenis
aktifitas.

AREA PERSONEL AKTIFITAS REKOMENDASI


Pengukuran suhu (tidak  Jaga jarak 1 meter
kontak langsung)  Tidak perlu APD
staf Evaluasi pasien dengan
 Gunakan masker Bedah
peningkatan suhu (deteksi
 Sarung tangan
dini COVID-19)
Area Skrining
 Masker bedah
Petugas  Apron/gaun
Kebersihan Pembersihan Area  Sarung tangan rumah tangga
(CS)  Pelindung mata
 Sepatu boot
Area Kegiatan terkait  Jaga jarak 1 meter
staf
Administrasi administrasi apapun  Tidak perlu APD
 Jaga jarak 1meter
 Gunakan masker bedah
Tidak memberikan
Staf  Sarung tangan (jika ada, jika tidak
pelayanan langsung
memungkinkan: cuci tangan
setiap masuk dan keluar area)
 Masker bedah
 Apron/gaun
Area Staf pemberi  Pelindung mata
Mengantarkan pasien
Observasi layanan  Sarung tangan (jika ada, jika tidak
Sementara memungkinkan: cuci tangan
setiap masuk dan keluar area)
 Masker bedah
 Apron/gaun
Petugas
 Sarung tangan rumah tangga
Kebersihan Pembersihan Area
(CS)  Pelindung mata
 Sepatu boot

PAPDI CABANG CIREBON Maret 2020


Rawat Jalan/IGD
 Masker bedah
 Ruangan terpisah dengan
pasien lain
Pasien dengan  Berikan jarak aman 1 meter
Kegiatan apapun
gejala pernapasan dengan pasien lain
Ruang Tunggu
 Edukasi etika batuk,
penggunaan masker dan cuci
tangan.
Pasien tanpa
Kegiatan apapun  Tidak perlu menggunakan APD
gejala pernapasan
 Masker bedah
 Apron/gaun/scrub
Pemeriksaan fisik pada
pasien dengan gejala  Sarung tangan (ganti tiap
pernapasan pasien atau cuci tangan sesuai
Dokter/Perawat 5 momen)
 Pelindung mata
Ruang Pemeriksaan fisik pada
 APD sesuai standar
Konsultasi pasien tanpa gejala
kewaspadaan dan kajian resiko
pernapasan
 Masker bedah
Pembersihan setelah dan
 Apron/gaun
Petugas diantara pasien dengan
 Sarung tangan rumah tangga
Kebersihan (CS) keluhan gangguan
pernapasan  Pelindung mata (jika perlu)
 Sepatu boot
 Jaga jarak 1 meter
Triase awal
 Tidak perlu APD
 Masker bedah
 Apron/gaun/scrub
Pemeriksaan fisik pada
pasien dengan gejala  Sarung tangan (ganti tiap
Dokter/Perawat pasien atau cuci tangan sesuai
pernapasan
5 momen)
Ruang Triase  Pelindung mata
IGD Pemeriksaan fisik pada
 APD sesuai standar
pasien tanpa gejala
kewaspadaan dan kajian resiko
pernapasan
 Masker bedah
Pembersihan setelah dan
 Apron/gaun
Petugas diantara pasien dengan
 Sarung tangan rumah tangga
Kebersihan (CS) keluhan gangguan
pernapasan  Pelindung mata (jika perlu)
 Sepatu boot
 Jaga jarak 1meter
 Gunakan masker bedah
Tidak memberikan  Sarung tangan (jika ada, jika
Staf
pelayanan langsung tidak memungkinkan: cuci
Ruang Isolasi tangan setiap masuk dan keluar
Sementara area)
 Masker bedah
Staf pemberi  Apron/gaun
Mengantarkan pasien
layanan  Pelindung mata
 Sarung tangan (jika ada, jika

PAPDI CABANG CIREBON Maret 2020


tidak memungkinkan: cuci
tangan setiap masuk dan keluar
area)
 Masker bedah
 Apron/gaun/scrub
Dokter/Perawat/ Pemeriksaan fisik dan
tenakes lain tindakan non-aerosol  Sarung tangan (ganti tiap
pasien)
 Pelindung mata
 Masker bedah
Pembersihan setelah dan
 Apron/gaun
Petugas diantara pasien dengan
 Sarung tangan rumah tangga
Kebersihan (CS) keluhan gangguan
pernapasan  Pelindung mata (jika perlu)
 Sepatu boot
 Masker Bedah
Pemeriksaan fisik dan  Gaun
tindakan non-aerosol  Sarung tangan
Dokter/Perawat/  Pelindung mata
tenakes lain  Masker N95
Melakukan tindakan  Gaun/apron/coverall
Ruang Isolasi
aerosol  Sarung tangan
Definit
 Pelindung mata
 Masker bedah
 Apron/gaun
Petugas
Pembersihan area  Sarung tangan rumah tangga
Kebersihan (CS)
 Pelindung mata
 Sepatu boot
 Masker N95
Dokter/Perawat/  Gaun/apron/coverall
Kegiatan apapun
tenakes lain  Sarung tangan
 Pelindung mata
Ruang Isolasi
 Masker bedah
Intensif
 Apron/gaun
Petugas Pembersihan area setelah
 Sarung tangan rumah tangga
Kebersihan (CS) digunakan
 Pelindung mata
 Sepatu boot

Transportasi
Area yang
dilewati Semua kegiatan tanpa
Seluruh staf  Tidak perlu menggunakan APD
(ruangan atau kontak dengan pasien
Selasar)
 Masker bedah
Dokter/Perawat/ Melakukan Transport  Gaun/apron
tenakes lain pasien PDP/ Suspek  Sarung tangan
 Pelindung mata
 Jaga jarak 1 meter
Ambulans Hanya mengemudi
 Tidak perlu APD
 Masker bedah
Sopir
Membantu menurunkan  Gaun/apron
dan menaikkan pasien  Sarung tangan
 Pelindung mata

PAPDI CABANG CIREBON Maret 2020


Hanya mengemudi namun
tanpa barier ruang sopir  Masker bedah
dan pasien
 Masker bedah
Pembersihan ambulans
 Apron/gaun
Petugas setelah digunakan
 Sarung tangan rumah tangga
Kebersihan (CS) dan/atau akan digunakan
kembali  Pelindung mata
 Sepatu boot

RUMAH SAKIT WILAYAH III CIREBON


Berikut ini adalah data rumah sakit di Wilayah III Cirebon, beserta data kesediaan ruangan Isolasinya.
Adapun mengikuti perkembangan situasi COVID-19 di Indonesia, kondisi dan kesiapan RS mungkin
akan mengalami perubahan.

JUMLAH
JUMLAH
RUANGAN JUMLAH NOMOR
NO. NAMA RUMAH SAKIT RUANGAN
ISOLASI VENTILATOR KONTAK
ISOLASI
INTENSIF
1 RSUD INDRAMAYU 4 n/a 1
2 RS GUNUNG JATI 4 2 n/a
3 RSUD WALED 5 0 3
4 RSUD ARJAWINANGUN 3 n/a tentatif
5 RSUD 45 KUNINGAN 2
n/a tentatif
(onprogres)
6 RS CIDERES 0 n/a 0
7 RSP SIDAWANGI 2 0 5
8 RSUD MAJALENGKA 3 n/a 1
9 RS CIREMAI 8 (konfirmasi) n/a 2
10 RS MITRA PLUMBON 2 n/a 3
11 RSU UMC 4 (tenda) 1 (onprogres) 1
12 RS HAZNA MEDIKA
2 n/a 0
KUNINGAN
13 RS PERTAMINA CIREBON 5 (onprogres) 1 2
14 RS BHAYANGKARA
n/a 0 3
INDRAMAYU
15 RS SUMBER WARAS
2 0 3
CIWARINGIN
16 RS WIJAYA KUSUMA
1 (onprogres) n/a n/a
KUNINGAN
Keterangan _ : RS Rujukan sesuai Kepgub Tentang Penetapan Rumah Sakit Rujukan Penanggulangan Penyakit
Infeksi Emerging Tertentu.
Data berdasarkan konfirmasi per tanggal 21/maret/2020

PAPDI CABANG CIREBON Maret 2020


NOMOR TELEPON PENTING
HOTLINE COVID-19 :

- Kota Cirebon : 119


- Kabupaten Cirebon : 0231-8800119 atau 081998800119
- Kabupaten Majalengka : 112
- Kabupaten Indramayu : 08111333314
- Kabupaten Kuningan : 081388284346
- Dinkes Provinsi Jawa Barat : 0811-20-933-06

Referensi :
1. Direktorat Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementrian Kesehatan RI.
Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Coronavirus Disease (COVID-19) Revisi ke-3. Jakarta :
Maret 2020.
2. Zhang J, Zhou L, Yang Y, Peng W, Chen, X.Therapeutic and triage strategies for 2019 novel
coronavirus disease in fever clinics.Lancet Respir Med 2020; published online Feb 13.
3. Keputusan Gubernur Jawa Barat. Nomor 445/Kep.186-Dinkes/202, Tentang Penetapan
Rumah Sakit Rujukan Penanggulangan Penyakit Infeksi Emerging Tertentu. 17 Maret 2020.
4. Keputusan Direktur Utama RSUP. Hasan Sadikin Bandung No. HK. 02.03/X.4.1.3/5188/2020
Tentang Penggunaan Jenis Alat Pelindung Diri (APD) yang direkomendasikan untuk digunakan
berkenaan dengan Coronavirus Disease (COVID-19) meruju tempat, personel dan jenis
aktifitas. 18 Maret 2020.
5. Liang, Tingbo. The Handbook of COVID-19 Prevention and Treatment. Editor-in-Chief.
2020

PAPDI CABANG CIREBON Maret 2020