Anda di halaman 1dari 2

Mal- praktik keperawatan

Mal pratik dalam praktik keperawatan adalah setiap kesalahan profesional yang diperbuat oleh
seorang perawat karena menyelenggarakan asuhan keperawatan dibawah standar yang sebenarnya
secara rata-rata dan masuk akal, dapat dilakukan oleh setiap perawat dalam situasi dan ataupun
tempat yang sama (modifikasi dari A hoekema,1981)

Kriteria mal-praktik keperawatan

Kriteria terjadi malpraktik dalam pelayanan keperawatan (modifikasi dari Bernard Knight, 1972)
memenuhi tiga unsur yaitu :

1. adanya kewajiban memberikan asuhan keperawatan kepada korban


2. adanya pelanggaran terhadap kewajiban yang seharusnya dilakukan terhadap korban
3. sebagai akibat pelanggaran kewajiban tersebut, timbul kerugian pada korban

upaya mencegah mal praktik dalam pelayanan gawat darurat

untuk mencegah terjadinya malpraktik alam pelayanan gawat darurat maka, ada tiga pokok yang
harus dilakukan, yakni:

1. melaksanakan inform consent: pada korban yang gawat darurat (emergensi, kritis). Sering
tidak diperlukan
2. melaksanakan semua tindakan sesuai standar yang telah ditetapkan
3. mengisi catatan keperawatan (client record)

baik atau tidaknya pelayanan gawat darurat ditentukan antara lain pelayanan gawat darurat.
Pengaturan perilaku perawat, antara lain tercantum dalam kode etik keperawatan serta hukum
kesehatan. Untuk asuhan keperawatan gawat darurat, pengaturan aspek etis tercantum dalam
pasal-pasal kode etik keperawatan. Sedangkan untuk aspek hukum tercantum dalam pasal-pasal
yang mengatur perikatan hukum. Apabila kedua pengaturan ini dapat diterapkan dengan sebaik-
baiknya, akan dapat dicegah terjadinya keadaan yang tidak diinginkan korban (antara lain berupa
mal praktik)
STANDAR PRAKTIK GAWAT DARURAT

Mengacu kepada standar praktik registerred nurse (RN) WP-SEAR, maka yang menjadi standar dalam
keperawatan gawatdarurat adalah :

1. Assesment, melakukan penilaian awal kondisi korban gawat darurat berupa primary servey
dan secondary survey.
2. Diagnosis, melakukan diagnosis terhadap kondisi korban.
3. Intervention, melakukan perencanaan akurat sesuai kondisi korban (tindakan langsung
kepada korban)
4. Implemention melakukan implementasi lanjutan-lanjutan bagi korban guna stabilitas
korban. Prinsipnya bila dipelayanan kesehatan melakukan semua yang tercatat dan
mencatat semua yang telah dilakukan,
5. Evaluation, melakukan evaluasi serta tindakan lanjutan bagi korban.
6. Dokumentation, mendokumentasikan semua yang akan dilakukan dan yang telah dilakukan.

Hal- hal yang harus dilakukan sebelum melakukan secondary survey:

1. Telah melengkapi primary survey, melakukan survey yang lengkap mengenai kondisi korban
survey dapat pula dilakukan kepada keluarga korban dengan mengambil keterangan tentang
kondisi korban dan kondisi korban kurang jelas.
2. Initiate rescucitaton, pada kondisi gawat darurat, korban dalam kondisi kritis, dan hal ini
membutuhkan tindakan resusitasi yang cepat untuk meneylapatkan hidup korban.
3. Re-aces ABC. Sumbatan jalan nafas, dan tidak stabilnya denyut jantung korban
membutuhkan tindakan secepatnya untuk menstabilkan korban
4. Head to to evaluation. Pengecekan fisik diperlukan guna melihat apakah ada trauma atau
tidak.
5. Complete neurological check. Sesampainya di RS sebaiknya dilakukan pengecekan
neurolpgical( CT scan) untuk memastikan kondisi korban
6. Rongten. Dilakukan apabila ada indikasi trauma
7. Special prosedur. Prosedur-prosedur lainya dapat dilakukan jika terlihat ada indikasi
8. Tubes & finger in every orifice
9. Reevaluation. Perlu dilakukan untuk monitoring apabila terjadi kontra indikasi kepada
korban.