Anda di halaman 1dari 34

MAKALAH KEPERAWATAN KOMUNITAS II

“PENDER’S HEALTH PROMOTION MODEL”

DISUSUN OLEH

KELOMPOK 5

DENDI SURYANDI 17031017

HARI GUSPIAN 17031028

NURUL ANISHA 17031029

ATIKA AMRI YENI PUTRI 17031031

INTAN AYUDIA ARMEL 17031034

AMELIA YULITA 17031037

AFRIJAL YOGA PRATAMA 17031043

STIKes HANGTUAH PEKANBARU

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


T.A 2020/2021

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Nikmat dan karunia-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas kami yaitu membuat Makalah ini.
Didalam Makalah ini kami akan membahas tentang “Pender’s Health Promotion
Model” Dan kami ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah ikut serta dalam
menyelesaikan Makalah ini. Kami juga mohon maaf apabila terdapat kekurangan dalam
penulisan dan penyampaian informasi nantinya.
Kami juga mengharapkan kritikan dan saran kepada rekan-rekan semua agar terciptanya
komunikasi yang baik dalam makalah ini. Semoga Makalah ini bermanfaat bagi kita semua.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Pekanbaru, 16 Maret 2020

Kelompok 5
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................................i
DAFTAR ISI......................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................1
1.1 Latar Belakang...................................................................................................1
1.2.............................................................................................Tujuan Penulisan 2
BAB II LANDASAN TEORI............................................................................................3
2.1 Sejarah Nolla J. Pender......................................................................................3
2.2 Promosi Kesehatan.............................................................................................4
2.3 Paradigma Keperawatan......................................................................................6
2.4 Model Promosi Kesehatan Menurut Nolla J. Pender.............................................9
2.5 Penjelasan Model HPM Pender.......................................................................13

BAB III PEMBAHASAN................................................................................................22


3.1 Analisa Teori Nola J. Pender...........................................................................22
3.2 Aplikasi Teori Dengan Pendekatan Masalah Keperawatan.............................23

BAB IV PENUTUP..........................................................................................................25
4.1 Kesimpulan......................................................................................................25

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................26
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan


nasional yang diupayakan oleh pemerintah. Salah satu tujuan pokok pembangunan kesehatan
adalah peningkatan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat dan mengatasi sendiri masalah
kesehatan sederhana terutama melalui upaya peningkatan, pencegahan dan penyembuhan. Hal ini
sesuai dengan prilaku masyarakat yang di harapkan dalam Indonesia Sehat 2010 yaitu: bersifat
proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit
dan melindungi dari ancaman penyakit serta berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan
masyarakat (Sudayasa, 2010). Tujuan itu akan dicapai antara lain melalui peningkatan dan
pemantapan upaya kesehatan. Hidup sehat merupakan kebutuhan dan tuntutan yang semakin
meningkat,walaupun pada kenyataannya derajat kesehatan masyarakat Indonesia masih belum
sesuai dengan harapan. Sementara itu pemerintah telah mencanangkan Indonesia Sehat 2010,
yang merupakan paradigma baru yaitu paradigma sehat, yang salah satunya menekankan
pendekatan promotif dan preventif dalam mengatasi permasalahan kesehatan di masyarakat
(Sudayasa, 2010). Terjadinya pergeseran paradigma dalam pemberian pelayanan kesehatan dari
model medikal yang menitik beratkan pada pelayanan pada diagnosis dan pengobatan ke
paradigma sehat yang lebih holistik yang melihat penyakit dan gejala sebagai informasi dan
bukan sebagai fokus pelayanan (Cohen, 1996). Perubahan paradigma ini menempatkan perawat
pada posisi kunci dalam peran dan fungsinya. Hampir semua pelayanan promosi kesehatan dan
pencegahan penyakit baik di rumah sakit maupun tatanan pelayanan kesehatan yang lain
dilakukan oleh perawat (Cohen,1996).

1.2 Tujuan Penulisan


1.2.1 Tujuan Umum

Memperoleh gambaran middle range theories dari Model Promosi Kesehatan dari

Nola J. Pender dalam lingkup pelayanan keperawatan.

1.2.2 Tujuan Khusus

a. Mendeskripsikan Sejarah Nola J. Pender


b. Mendeskripsikan Model Promosi Kesehatan Nola J. Pender.

c. Mendeskripsikan kelebihan dan kekurangan Model Promosi Kesehatan Nola J.Pender.

d. Mendeskripsikan Model Promosi Kesehatan Nola J. Pender dalam lingkup komponen


paradigma
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Sejarah Nolla J. Pender


Teori model konseptual Nolla J. Pender dilatar belakangi oleh adanya suatu bentuk
pergeseran paradigma, dimana pergeseran paradigma ini terjadi dalam suatu bentuk
pemberian pelayanan kesehatan yang menitikberatkan pada paradigma kesehatan dan
keperawatan yang lebih holistik dalam memandang sebuah penyakit dan berbagai gejala
penyebabnya, bukan sebagai fokus pelayanan kesehatan saja. Pada perubahan paradigma
inilah yang menjadikan perawat sebagai posisi kunci dalam berbagai peran dan fungsinya
dalam melakukan pelayanan kesehatan. Hampir semua lapisan dibidang pelayanan
kesehatan dalam melakukan pelayanan promosi dan preventif (pencegahan) kesehatan
dilakukan oleh para perawat. Oleh karena adanya promosi dan preventif kesehatan yang
cenderung dilakukan dan diupayakan oleh perawat inilah lahir sebuah teori dan model
konseptual dari Nolla J. Pender yang berjudul “ Health Promotion Model “ atau model
promosi kesehatan.

Nolla J. Pender lahir pada tanggal 16 Agustus 1941 di Lansing, Michigan. Ketertarikan
pada keperawatan bermula dari Nolla J. Pender berusia 7 tahun, pada saat mengamati para
perawat yang sedang memberi asuhan keperawatan pada bibinya di rumah sakit.
Keinginannya untuk memberikan perawatan kepada orang lain dikembangkan melalui
pengalaman dan pendidikan yang ia yakini sebagai profesi yang menolong orang lain.

Pada tahun 1962 meraih gelar diploma keperawatan dan selanjutnya diterima bekerja
di unit bedah RS Michigan. Tahun 1964, meraih gelar BSN di Universitas State Michigan di
East Lansing, dan gelar MA pada bidang pertumbuhan dan perkembangan di Universitas
Michigan di raih pada tahun 1965. Gelar Ph.D di bidang psikolog dan pendidikan diraih tahun
1969 dari Universitas North Western di Evanston. Illinois.
Pernihakannya dengan Albert Pender seorang asisten professor di bidang bisnis dan
ekonomi memberikan inspirasi menghasilkan sebuah tulisan tentang keperawatan dalam
perspektif ekonomi. Tahun 1975, Dr. Pender mempublikasikan model konseptual kesehatan
preventif. Dasar studinya adalah bagaimana individu membuat keputusan tentang perawatan
kesehatan mereka sendiri dalam konteks keperawatan. Artikel tersebut mengidentifikasi
faktor-faktor yang ditemukan dalam pengambilan keputusan dan tindakan yang diperlukan
individu dalam pencegahan penyakit. Pada tahun 1982, edisi pertama promosi kesehatan
dalam praktek keperawatan dipublikasikan dengan konsep promosi optimal tentang kesehatan
dan perlunya pencegahan penyakit. Model promosi kesehatan pertama kali diterbitkan tahun
1987 dan mengalami revisi tahun 1996.

2.2 Promosi Kesehatan


Menurut WHO promosi kesehatan meliputi mendorong gaya hidup yang lebih sehat,
menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan, memperkuat tindakan masyarakat,
mengorientasikan kembali pelayanan kesehatan dan membangun kebijakan public yang sehat.
Kesehatan individu dan keluarga ditandai dengan efektifnya dalam komunitas, lingkungan dan
masyarakat dimana mereka perlu hidup. Perawat mengerti dan memikirkan usaha peningkatan
derajat kesehatan. Dan telah menetapkan skema untuk upaya peningkatan derajat kesehatan:

1. Kesehatan individu
Individu berperan dalam penentuan status kesehatan mereka sendiri. Peningkatan
derajat kesehatan individu itu pada tingkat membuat keputusan pribadi dan praktek. Setiap
derajat peningkatan harus mempertimbangkan dalam formulasi kesehatan nasional melalui
usaha peningkatan derajat kesehatan.

2. Kesehatan keluarga
Keluarga berperan dalam perkembangan dan kepercayaan kesehatan dan tindakan
kesehatan. Masing-masing keluarga mempunyai sebuah karakter yang berbeda, nilai, peran,
dan kekuatan struktur. Gaya orang tua dan lingkungan keluarga dapat memberikan
kesehatan atau sebaliknya. Lebih banyak perhatian harus diberikan kepada
perkembangaan strategi untuk meningkatkan derajat kesehatan keluarga.
3. Kesehatan komunitas
Berdasarkan pendapat dune, kesehatan kelompok yang baik perilaku mampu
memperbaiki kondisi kehidupan keluarga dan kelompok.

4. Kesehatan lingkungan.
Tingkat dari kesehatan lingkungan yang baik berefek luas ke individu, keluarga, dan
komunitas dapat sampai kepotensi optimal mereka. Kesehatan lingkungan yang baik adalah
manifestasi dalam keharmonisan dan keseimbangan diantara dua manusia disekeliling
mereka.

5. Kesehatan masyarakat.
Sebuah masyarakat yang baik adalah semua anggota masyarakat mempunyai standar
hidup menemukan kebutuhan dasar manusia dan mengajak dalam beraktifitas yang cepat
kepotensi mereka. Sebuah masyarakat yang baik adalah anggota masyarakat yang mau
membantu dan bertanggungung jawab untuk kesehatan.

Teori pemahaman untuk promosi kesehatan & proteksi kesehatan

1. Theory Of Reasoned Action & Theory Of Planned Behavior


Teori ini berasumsi bahwa perilaku adalah suatu kemauan dibawah kontrol bukan
sebagai hambatan untuk menunjukkan perilaku. Kepercayaan merupakan class dari pondasi
dalam struktur konseptual, dengan memperhatikan perilaku. Model ini memperhatikan
prediksi dan bergantian, sehingga perilaku mengikutinya.

2. Social Cognitive Theory (Self-Efficacy)


Teori kognitif sosial adalah sebuah pendekatan teori yang menjelaskan perilaku
manusia. Dengan perspektif individu merupakan adanya suatu kekuatan pada dirinya
bukan control yang otomatis pada stimulus eksternal. Perilaku manusia menerangkan
adanya kejadian secara timbal balik pada tindakan yang menentukan adanya interaksi
dengan yang lainnya. Persepsi self-efficacy adalah mempertimbangkan salah satu
kekuatan untuk menyelesaikan sebuah tingkatan penampilan dalam perilaku yang
spesifik.

3. The Theory Of Interpersonal Behavior


Sebuah model perilaku meliputi afektif dan psikologis dalam kekuatan yang
menerangkan perilaku ini merupakan factor yang memberikan perhatian dalam
model-model perilaku lainnya.

4. Cognitive Evaluation Theory


Motifasi manusia adalah dasar dari sebuah susunan dalam kebutuhan
psikologisnya: dari penentuan dirinya, kompetensi dan hubungan interpersonal.
Menentukan dirinya dan motivasi intrinsic (IM) adalah konsep utama dalam teori.
Motivasi intrinsic adalah energi dalam kebutuhan dalam dirinya dan hubungan dalam
kompetensi untuk nilai perilaku personal.

5. The Interaction Model Of Chen Health Behavior


Model interaksi kesehatan klien berfokus pada karakteristik, klien dan factor
eksternal pada klien untuk menyediakan keterangan secara komprehensif pada tindakan
langsung terhadap pengurangan resiko dan promosi kesehatan.

2.3 Paradigma Keperawatan


Paradigma keperawatan menggabungkan konsep orang, lingkungan, kesehatan, dan
keperawatan (Alligood 2014). Konsep-konsep ini secara independen signifikan, namun
interlaced untuk membentuk sebuah model dari disiplin keperawatan. Mengingat interpretasi
yang unik dari setiap konsep, pemanfaatan teori keperawatan tertentu bergantung pada
pandangan dunia.

Konsep manusia adalah multidimensi dan menggabungkan sosial ekonomi, budaya,


biologis, dan psikologis varians. Pengalaman hidup membentuk kemampuan seseorang
untuk mengatasi tantangan serta kemampuan mereka untuk meramalkan konsekuensi dari
perilaku ini. Setiap orang memiliki pandangan yang unik dari dunia karena nuansa luar biasa
yang telah dibuat, kepribadian dan persepsi mereka.

Hubungan antara orang dan lingkungan mereka dapat memiliki pengaruh yang
signifikan pada kesehatan mereka. Akses ke makanan bergizi, paparan bahaya kesehatan,
dan perilaku pribadi berisiko adalah pengamatan dilihat dalam pengaturan klinis. Dampak
yang kurang mudah terlihat termasuk situasi hidup, norma-norma budaya/masyarakat, dan
sistem dukungan sosial.

Konsep kesehatan dianggap sebagai keadaan pikiran yang mungkin ada meskipun
kehadiran penyakit kronis atau penyakit. Kesehatan diukur pada kontinum di mana periode
penyakit dapat menggoyahkan kemampuan seseorang untuk mempertahankan homeostasis.
Oleh karena itu, di saat krisis, penekanan ditempatkan pada proses penyakit. Namun, status
kesehatan seseorang dapat meningkat selama krisis sebagai perilaku mereka berubah,
menciptakan perbaikan ditandai dalam perasaan mereka secara keseluruhan kesejahteraan.
Defisit perawatan kesehatan baik dapat diperburuk atau dibantu oleh unsur-unsur dari
komponen lainnya.

Perawat memainkan peran penting dalam memfasilitasi kemampuan pasien untuk


mengenali dan mencapai keseimbangan dalam hidup. Untuk mendukung klien dalam usaha
ini perawat harus mengidentifikasi apa yang berharga untuk klien dalam jangka pendek
sambil membantu klien dalam mengembangkan tujuan jangka panjang. Memberdayakan
klien dengan pengetahuan dan memberikan intervensi perawat khusus melibatkan kolaborasi
dan introspeksi.

Nolla J. Pender pada tahun 1982 dalam upaya untuk menjelaskan bagaimana orang
melihat kesehatan mereka dan bagaimana latar belakang dan kekuatan lingkungan tindakan
pribadi langsung; akhirnya, fungsinya adalah untuk memprediksi potensi perilaku kesehatan
yang positif untuk kelompok atau individu (Sakraida 2014). Promosi kesehatan di mana-
mana dalam keperawatan. Oleh karena itu, model ini dapat diterapkan dalam arti luas.
Namun, hal itu dapat diterapkan pada tingkat individu sedangkan akuntansi untuk
pengalaman sosial budaya yang unik untuk menjelaskan fenomena perilaku mempromosikan
kesehatan (Kearney-Nunnery, 2008). Pender merevisi model ini terakhir pada tahun 2006
untuk lebih meningkatkan kegunaannya dalam mengembangkan intervensi keperawatan
dalam mempromosikan kesehatan (McCullagh, 2013). Revisi menekankan peran bahwa
harapan memiliki dalam memprediksi kemanjuran intervensi keperawatan dan
meningkatkan status kesehatan klien (Ho, Berggren & Dahlborg-Lyckhage, 2010).
HPM membagi proposisi utama dalam tiga kategori utama: karakteristik individu dan
pengalaman, kognisi perilaku spesifik dan mempengaruhi, dan hasil perilaku (Kazer &
Fitzpatrick, 2012). Penentu utama lebih dikategorikan dalam proposisi ini untuk
memprediksi perilaku mempromosikan kesehatan. Kognisi perilaku spesifik diidentifikasi
sebagai manfaat yang dirasakan tindakan, hambatan untuk bertindak, self-efficacy, aktivitas
terkait mempengaruhi, pengaruh interpersonal, dan pengaruh situasional (Sakraida 2014).
Komitmen seseorang untuk sebuah rencana tindakan, serta tuntutan dan preferensi bersaing
selanjutnya diukur untuk memprediksi hasil (McCullagh, 2013).

McCullagh (2013) menegaskan bahwa inti dari HPM didasarkan pada teori-teori
perilaku manusia, yang menganalisis dinamika motivasi pribadi; yang paling berpengaruh
adalah teori sosial-kognitif (SCT) dan teori kepentingan (EVT). Hambatan tindakan yang
bisa dikembangkan untuk tindakan keperawatan tetapi sangat tergantung pada kesiapan
untuk bertindak oleh pasien (Stark, Chase, & DeYoung, 2010). Apakah aktual atau yang
dirasakan, hambatan untuk tindakan mungkin termasuk "waktu, ketidaknyamanan, kesulitan
perilaku, serta biaya personal" (Stark et al., 2010). tuntutan attentional seperti kemampuan
untuk multitask dan memproses informasi baru, serta tuntutan afektif, yang mencakup reaksi
emosional terhadap stres, kesepian, dan kerugian harus dipertimbangkan karena dapat
membatasi perilaku promosi kesehatan, terutama pada populasi lanjut usia (Stark et al.,
2010). Menurut McGuire & Anderson, hambatan yang dirasakan diidentifikasi sebagai
faktor yang paling dominan yang mempengaruhi perilaku promosi kesehatan.

Asumsi utama dari teori ini fokus pada unsur-unsur paradigma yang Pender
gambarkan yakni:

1. Manusia
Manusia sebagai makhluk holistik yang berusaha untuk mewujudkan sebuah
negara yang optimal dari aktualisasi diri dengan menggunakan atribut bawaan dan
eksistensial untuk beradaptasi dengan lingkungan dan mencapai keseimbangan (Sakraida
2014). Isyarat ini sementara membimbing seseorang menuju negara yang sejahtera
sepanjang kontinum melalui jalur yang paling resistensi. Meskipun manusia tersebut
dipandang sebagai diri regulator independen, penyedia layanan kesehatan berpengaruh
dalam memprovokasi perubahan gaya hidup dengan peran-pemodelan dan memberikan
wawasan (Sakraida 2014). HPM ini didorong oleh persepsi klien keberhasilan; apakah
perilaku akan menghasilkan hasil yang diinginkan tergantung pada upaya yang dilakukan
dan tingkat kesulitan.

Manusia dalam model promosi kesehatan mengacu pada individu yang


merupakan fokus utama dari model pender ini, setiap orang memiliki karakteristik pribadi
yang unik dan pengalaman yang mempengaruhi tindakan selanjutnya. Diakui bahwa
individu belajar perilaku kesehatan dari keluarga dan comunity, sehingga model
mencakup komponen untuk penilaian dan intervensi pada keluarga dan comunity tingkat
serta pada tingkat individu.

Konsep Pender tentang manusia tersebut adalah jumlah dari pengalaman dan
kategori atribut pribadi termasuk biologis, psikologis, dan pengaruh sosial budaya
(Sakraida 2014). Lebih khusus, Pender mencari pandangan yang paling komprehensif dan
optimis manusia dan mendefinisikan status kesehatan sebagai keadaan halus
keseimbangan antara masing-masing orang dan atau lingkungannya (McCullagh, 2013).
Orang berusaha untuk pertumbuhan dan kemampuan beradaptasi dalam lingkungan hisor
nya.

2. Lingkungan
Lingkungan dalam teori Pender ini didefinisikan sebagai pengaruh interpersonal
dan situasional, bukan kekuatan statis. Lingkungan mengacu pada keadaan fisik,
interpersonal, dan ekonomi di mana orang hidup. Kualitas lingkungan tergantung pada
tidak adanya zat beracun, ketersediaan makanan dan sebagainya.

3. Sehat
Model Pender ini memandang kesehatan sebagai keadaan makhluk yang
bervariasi dalam tingkat sepanjang kontinum, yang dipengaruhi oleh pengubah internal
dan eksternal. "Pender mendefinisikan kesehatan sebagai aktualisasi potensi manusia
yang melekat dan diperoleh melalui perilaku yang diarahkan pada tujuan, perawatan diri
yang kompeten, dan hubungan yang memuaskan dengan orang lain untuk menjaga
integritas struktural dan harmoni "(McCullagh, 2013).

4. Perawat
Dalam model Pender ini perawat memainkan peran utama dalam memberikan
informasi yang lengkap dan akurat kepada klien untuk mempromosikan self-efficacy,
yang dibuat lebih efektif bila kepercayaan praktisi dirasakan dalam keterampilan nya
sendiri/ pengetahuan yang luas. Tujuan utama dari perawat adalah untuk membantu
orang dan bisa merawat diri sendiri.

2.4 Model Promosi Kesehatan Menurut Nolla J. Pender


Model Promosi Kesehatan adalah suatu cara untuk menggambarkan interaksi manusia dengan
lingkungan fisik dan interpesonalnya dalam berbagai dimensi. Model ini mengintegrasikan teori nilai
harapan (Expectancy-value) dan teori kognitif sosial (Social Cognitive Theory) dalam perspektif
keperawatan manusia dilihat sebagai fungsi yang holistik.

a) Komponen Teori Model Promosi Kesehatan


Adapun komponen elemen dari teori ini adalah sebagai beriku .
a. Teori Nilai Harapan (Etpectancy-Value Theory)
Menurut teori nilai harapan, perilaku sehat bersifat rasional dan ekonomis.
Seseorang akan mulai bertindak dari perilakunya akan tetap digunakan dalam dirinya,
ada 2 hal pokok yaitu :

1) Hasil tindakan bernilai positif


2) Pengambilan tindakan untuk menyempurnakan hasil yang diinginkan.
b. Teori Kognitif Sosial (Social Cognitive Theory)
Teori model interaksi yang meliputi lingkungan, manusia dan perilaku yang
saling mempengaruhi. Teori ini menekankan pada:

1) Pengarahan diri (self direction)


2) Pengaturan diri (self regulation)
3) Persepsi terhadap kemajuan diri (self efficacy).
Teori ini mengemukakan bahwa manusia memiliki kemampuan dasar:

1) Simbolisasi yaitu proses dan transformasi pengalaman sebagai petunjuk


untuk tindakan yang akan datang.
2) Pikiran ke depan, mengantisipasi kejadian yang akan muncul dan
merencanakan tindakan untuk mencapai tujuan yang bermutu
3) Belajar dari pengalaman orang lain. Menetapkan peraturan untuk generasi
dan mengatur perilaku melalui observasi tanpa perlu melakukan trial dan error
4) Pengaturan diri menggunakan standar internal dan reaksi evaluasi diri
untuk memotivasi dan mengatur perilaku, mengatur lingkungan eksternal untuk
menciptakan motivasi dalam bertindak.
5) Refleksi diri, berpikir tentang proses pikir seseorang dan secara aktif
memodifikasinya.
Menurut teori ini kepercayaan diri dibentuk melalui observasi dan refleksi
diri. Kepercayaan diri terdiri dari :

1) Pengenal diri (self atribut)


2) Evaluasi diri (self evaluation)
3) Kemajuan diri (self efficacy).
Kemajuan diri adalah kemampuan seseorang untuk melakukan tindakan-tindakan
tertentu yang berkembang melalui pengalaman, belajar dari pengalaman yang lain
persuasi verbal dan respons badaniah terhadap situasi tertentu. Kemajuan diri
merupakan fungsi dari kemampuan (capability) yang berlebihan yang membentuk
kompetensi dan kepercayaan diri. Kemajuan adalah konstruksi sentral dari HPM.

b) Asumsi dari Model Promosi Kesehatan


a. Manusia mencoba menciptakan kondisi agar tetap hidup di mana mereka dapat
mengekspresikan keunikannya.
b. Manusia mempunyai kapasitas untuk merefleksikan kesadaran dirinya, termasuk
penilaian terhadap kemampuannya.
c. Manusia menilai perkembangan sebagai suatu nilai yang positif dan mencoba
mencapai keseimbangan antara perubahan dan stabilitas.
d. Setiap individu secara aktif berusaha mengatur perilakunya.
e. Individu merupakan makhluk bio-psiko-sosial yang kompleks, berinteraksi
dengan lingkungannya secara terus menerus, menjelmakan lingkungan yang diubah
secara terus menerus.
f. Profesional kesehatan merupakan bagian dari lingkungan interpersonal yang
berpengaruh terhadap manusia sepanjang hidupnya.
g. Pembentukan kembali konsep diri manusia dengan lingkungan adalah penting
untuk perubahan perilaku.
c) Proposisi Model Promosi Kesehatan
a. Perilaku sebelumnya dan karakteristik yang diperoleh mempengaruhi
kepercayaan dan perilaku untuk meningkatkan kesehatan.
b. Manusia melakukan perubahan perilaku di mana mereka mengharapkan
keuntungan yang bernilai bagi dirinya.
c. Rintangan yang dirasakan dapat menjadi penghambat kesanggupan melakukan
tindakan, suatu mediator perilaku sebagaimana perilaku nyata.
d. Promosi atau pemanfaatan diri akan menambah kemampuan untuk melakukan
tindakan dan perbuatan dari perilaku.
e. Pemanfaatan diri yang terbesar akan menghasilkan sedikit rintangan pada perilaku
kesehatan spesifik.
f. Pengaruh positif pada perilaku akibat pemanfaatan diri yang baik dapat
menambah hasil positif.
g. Ketika emosi yang positif atau pengaruh yang berhubungan dengan perilaku,
maka kemungkinan menambah komitmen untuk bertindak.
h. Manusia lebih suka melakukan promosi kesehatan ketika model perilaku itu
menarik, perilaku yang diharapkan terjadi dan dapat mendukung perilaku yang sudah
ada.
i. Keluarga, kelompok dan pemberi layanan kesehatan adalah sumber interpersonal
yang penting yang mempengaruhi, menambah atau mengurangi keinginan untuk
berperilaku promosi kesehatan.
j. Pengaruh situasional pada lingkungan eksternal dapat menambah atau
mengurangi keinginan untuk berpartisipasi dalam perilaku promosi kesehatan.
k. Komitmen terbesar pada suatu rencana kegiatan yang spesifik lebih
memungkinkan perilaku promosi kesehatan dipertahankan untuk jangka waktu yang
lama.
l. Komitmen pada rencana kegiatan kemungkinan kurang menunjukkan perilaku
yang diharapkan ketika seseorang mempunyai kontrol yang sedikit dan kebutuhan
yang diinginkan tidak tersedia.
m. Seseorang dapat memodifikasi kognisi, mempengaruhi interpersonal dan
lingkungan fisik yang mendorong melakukan tindakan kesehatan.

2.5 Penjelasan Model HPM Pender


Kerangka Konseptual Model Promosi Kesehatan
Hasil Perilaku
Sifat2 & Perilaku Spesifik
Pengalaman Pengetahuan dan Sikap
Individu
Keuntungan2 dari
tindakan yang dirasakan
Kebutuhan bersaing
Hubungan dengan segera (control
Penghambat2 untuk
perilaku rendah) & Pilihan2
bertindak yang dirasakan
sebelumnya (Kontrol tinggi

Kemajuan diri
dirasakan
Tindakan yang terkait
Faktor Pribadi; yang mempengaruhi
Komitment pd Metode Perilaku
biologi,psikologis, Rencana Promosi Kesehatan
social budaya Tindakan (HPM)
Pengaruh hubungan
interpersonal (klg,
kelompok, provider),
norma dukungan dan
model

Pengaruh situasional;
pilihan, sifat kebutuhan;
estetika
a) Karakteristik dan pengalaman individu
1. Perilaku sebelumnya
Perilaku sebelumnya mempunyai pengaruh langsung atau tidak langsung
dalam pelaksanaan perilaku promosi kesehatan, yaitu:

a. Pengaruh langsung dari perilaku masa lalu terhadap perilaku promosi


kesehatan saat ini dapat menjadi pembentuk kebiasaan yang mempermudah
seseorang melaksanakan perilaku tersebut secara otomatis.
b. Pengaruh tidak langsungnya adalah melalui persepsi pada self efficacy,
manfaat, hambatan dan pengaruhi aktivitas yang muncul dari perilaku tersebut.
Pengaruh positif atau negatif dari perilaku baik sebelum saat itu ataupun setelah
perilaku tersebut dilaksanakan akan dimasukan kedalam memori sebagai
informasi yang akan dimunculkan kembali saat akan melakukan perilaku tersebut
di kemudian waktu. Perawat dapat membantu pasien membentuk suatu riwayat
perilaku yang positif bagi masa depan dengan memfokuskan pada tahap perilaku
tersebut. Membantu pasien bagaimana mengatasi rintangan dalam melaksanakan
perilaku tersebut dan meningkatkan level/kadar efficacy dan pengaruh positif
melalui pengalaman yang sukses dan feed back yang positif.
2. Faktor personal
Faktor personal meliputi aspek biologis, psikologis dan social budaya. Faktor–
faktor ini merupakan prediksi dari perilaku yang didapat dan dibentuk secara alami
oleh target perilaku.

a. Faktor biologis personal


Termasuk dalam faktor ini adalah umur, indeks massa tubuh, status pubertas,
status menopause, kapasitas aerobik, kekuatan, kecerdasan atau keseimbangan.
b. Faktor psikologis personal
Varibel yang merupakan bagian dari faktor ini adalah harapan diri, motivasi,
kemampuan personal, status kesehatan, dan definisi sehat
c. Faktor social kultural
Faktor ini meliputi suku, etnis, pendidikan, dan status ekonomi
b) Perilaku spesifik pengetahuan dan sikap (behaviour-spesific cognitionsand affect)
1. Manfaat tindakan (perceived benefits of actions)
Rencana seseorang melaksanakan perilaku tertentu tergantung pada antisipasi
terhadap manfaat atau hasil yang akan dihasilkan. Antisipasi manfaat merupakan
representasi mental dan konsekuensi perilaku positif berdasarkan teori expecting
value.

2. Hambatan tindakan yang dirasakan (perceived barriers to actions)


Hambatan yang diantisipasi telah secara berulang terlihat dalam penelitian
empiris, mempengaruhi intensitas untuk terlibat dalam suatu perilaku yang nyata dan
perilaku actual yang dilaksanakan. Dalam hubungannya dengan perilaku promosi
kesehatan, Hambatan-hambatan ini dapat berupa imaginasi maupun nyata. Hambatan
ini terdiri atas: persepsi mengenai ketidaktersediaan, tidak menyenangkan, biaya,
kesulitan atau penggunaan waktu untuk tindakan-tindakan khusus. Hambatan-
hambatan ini sering dilihat sebagai suatu blocks, rintangan dan personal cost dari
perilaku yang diberikan.

Hilangnya kepuasan dalam menghindari atau menghilangkan perilaku-


perilaku yang merusak kesehatan seperti merokok atau makan makanan tinggi lemak
untuk mengadopsi perilaku/gayahidup yang lebih sehat juga dapat menjadi suatu
halangan. Halangan ini biasanya membangunkan motivasi untuk menghindari
perilaku-perilaku yang diberikan. Bila kesiapan untuk bertindak rendah dan hambatan
tinggi maka tindakan ini tidak mungkin terjadi. Jika kesiapan untuk bertindak tinggi
dan harnbatan rendah kemungkinan untuk melakukan tindakan lebih besar. Barier
tindakan seperti yang dilukiskan dalam HPM mempengaruhi promosi kesehatan
secara langsung dengan bertindak sebagai locks terhadap tindakan seperti penurunan
komitmen untuk merencanakan tindakan.

3. Kemajuan diri (perceived self efficacy)


Self efficacy seperti didefinisikan oleh Bandura adalah judgment/keputusan
dari kapabilitas seseorang untuk mengorganisasi dan menjalankan tindakan secara
nyata. Judgment dari personal efficacy dibedakan dari harapan yang ada dalam
tujuan. Perceived self efficacy adalah judgment dari kemampuan untuk
menyelesaikan tingkat performance yang pasti, dimana tujuannya atau harapannya
adalah suatu judgment dari suatu konsekuensi (contohnya benefit dan cost) sebanyak
perilaku yang akan dihasilkan. Persepsi dari ketrampilan dan kompetensi dalam
domain motivasi individu untuk melibatkan perilaku-perilaku yang mereka lalui.
Perasaan efficacy dan keterampilan dalam performance seseorang sepertinya
mendorong untuk melibatkan/ menjalankan perilaku yang lebih banyak daripada
perasaan ceroboh dan tidak terampil.

Pengetahuan individu tentang self efficacy didasarkan pada 4 tipe informasi :

a. Pencapaian performance dari perilaku yang dilaksanakan secara nyata dan


evaluasi performance yang berhubungan dengan beberapa standar pribadi atau
umpan balik yang diberikan
b. Pengalaman-pengalaman dan mengobservasi performan-ce orang lain dan
hubungannya dengan evaluasi diri sendiri dan umpan balik dan orang lain.
c. Ajakan secara verbal kepada orang lain bahwa mereka mempunyai
kemampuan untuk melaksanakan tindakan tertentu.
d. Kondisi psikologis (kecemasan, ketakutan, ketenangan) di mana seseorang
menyatakan kemampuannya
Dalam HPM, self efficacy yang diperoleh dipengaruhi oleh aktivity
related affect. Semakin positif affeck, semakin besar persepsi eficacynya,
sebaliknya self eficacy mempengaruhi hambatan tindakan, dimana efficacy yang
tinggi akan mengurangi persepsi terhadap hambatan untuk melaksanakan perilaku
yang ditargetkan. Self efficacy memotivasi perilaku promosi kesehatan secara
langsung dengan harapan efficacy dan secara tidak langsung dengan mempengaruhi
hambatan dan komitmen dalam melaksanakan rencana tindakan.

1) Activity-related affect (sikap yang berhubungan dengan aktivitas)


Perasaan subjektif muncul sebelum, saat dan setelah suatu perilaku,
didasarkan pada sifat stimulus perilaku itu sendiri. Respon afektif ini dapat
ringan, sedang atau kuat dan secara sadar di nanti, disimpan didalam memori dan
dihubungkan dengan pikiran-pikiran perilaku selanjutnya. Respon-respon afektif
terhadap perilaku khusus terdiri atas 3 komponen yaitu : emosional yang muncul
terhadap tindakan itu sendiri (activity-related), menindak diri sendiri (self-
related), atau lingkungan dimana tindakan itu terjadi (context-related).

Perasaan yang dihasilkan kemungkinan akan mempengaruhi apakah


individu akan mengulang perilaku itu lagi atau mempertahankan perilaku
lamanya. Perasaan yang tergantung pada perilaku ini telah diteliti sebagai
determinan perilaku kesehatan pada penelitian terakhir. Perilaku yang
berhubungan dengan afek positif kemungkinan akan di ulang dan yang negatif
kemungkinan akan dihindari. Beberapa perilaku bisa menimbulkan
perasaan positif dan negatif. Dengan demikian, keseimbangan di antara
afek positif dan negative sebelum, saat dan setelah perilaku tersebut merupakan
hal yang penting untuk diketahui.

Activity-related affect ini berbeda dari dimensi evaluasi terhadap sikap


yang dikemukakan oleh Fishbein dan Ajzen. Dimensi evaluasi terhadap sikap
lebih mencerminkan evaluasi afektif pada hasil spesifik dari suatu perilaku dari
pada respon terhadap sifat stimulus perilaku itu sendiri. Untuk beberapa perilaku
yang diberikan, rentang penuh dari perasaan negatif dan positif harus diuraikan
sehingga keduanya dapat diukur secara akurat. Dalam beberapa instrument untuk
mengukur afek, perasaan negatif diuraikan secara lebih luas dari pada perasaan
positif. Hal ini tidak rnengherankan karena kecemasan, ketakutan dan depresi
telah diteliti lebih banyak dibandingkan perasaan senang, gembira dan tenang.
Berdasarkan teori kognitif social, terdapat hubungan antara self-efficacy dan
activity related affect.

McAulay dan Courneya menemukan bahwa respon afek positif saat


latihan merupakan predictor yang penting terhadap efficacy setelah latihan. Hal
ini sesuai dengan pernyataan Bandura bahwa respon emosional dan pengaruhnya
terhadap keadaan psikologis saat melakukan suatu perilaku berperan sebagai
sumber informasi efficacy. Dengan demikian, activity-related Affect dikatakan
mempengaruhi perilaku kesehatan secara langsung maupun tidak langsung
melalui self-efficacy dan komitmen terhadap rencana tindakan.

2) Interpersonal Influences
Menurut HPM, pengaruh interpersonal adalah kesadaran mengenai
perilaku, kepercayaan atau pun sikap terhadap orang lain. Kesadaran ini bisa atau
tidak bisa sesuai dengan kenyataan. Sumber utama pengaruh interpersonal
pada perilaku promosi kesehatan adalah keluarga (orang tua dan saudara
kandung), teman, dan petugas perawatan kesehatan. Pengaruh interpersonal
meliputi: norma (harapan dari orang-orang yang berarti), dukungan sosial
(dorongan instrumental dan emosional) dan modeling (pembelajaran melalui
mengobservasi perilaku khusus seseorang). Tiga proses interpersonal ini pada
sejumlah penelitian kesehatan tampak mempredisposisi seseorang untuk
melaksanakan perilaku promosi kesehatan. Norma sosial mernbentuk standar
pelaksanaan yang dapat dipakai atau ditolak oleh individu. Dukungan sosial untuk
suatu perilaku menyediakan sumber-sumber dukungan yang diberikan oleh orang
lain. Modeling menggambarkan komponen berikutnya dari perilaku kesehatan
dan merupakan strategi yang penting bagi perubahan perilaku dalam teori kognitif
sosial. Pengaruh interpersonal mernpengaruhi perilaku promosi kesehatan secara
langsung maupun tidak langsung melalui tekanan social atau dorongan untuk
komitmen terhadap rencana tindakan.

Individu sangat berbeda dalam sensitivitas mereka terhadap harapan,


contoh pujian orang lain. Namun, diberikan motivasi yang cukup untuk
berperilaku dalam cara yang konsisten dengan pengaruh interpersonal, individu
mungkin akan melakukan perilaku-perilaku yang akan menimbulkan pujian.

3) Situational influences (pengaruh situasional)


Persepsi dan kesadaran personal terhadap berbagai situasi atau keadaan
dapat memudahkan atau menghalangi suatu perilaku. Pengaruh situasi
pada perilaku promosi kesehatan meliputi persepsi terhadap pilihan yang ada,
kharakteristik permintaan, dan ciri-ciri estetik dari suatu lingkungan
dimana perilaku tersebut dilakukan. Individu tertarik dan lebih kompeten dalam
perilakunya di dalam situasi atau keadaan lingkungan yang mereka rasa lebih
cocok dari pada lingkungan yang tidak cocok, lingkungan yang berhubungan dari
pada yang asing, lingkungan yang aman dan meyakinkan dari pada lingkungan
yang tidak aman dan mengancarn. Lingkungan yang menarik juga lebih
diinginkan untuk melaksanakan perilaku kesehatan.

Dalam HPM, pengaruh situasional telah dikemukakan sebagai pengaruh


langsung atau tidak langsung pada perilaku kesehatan. Situasi dapat secara
langsung mempengaruhi perilaku dengan menyediakan suatu lingkungan yang
diisi dengan petunjuk-petunjuk yang akan menimbulkan tindakan. Sebagai
contoh, sutau lingkungan yang di tulis dilarang merokok akan menciptakan
karakteristik perilaku tidak merokok dilingkungan tersebut seperti yang diminta.
Kedua situasi ini mendukung komitmen untuk tindakan kesehatan. Pengaruh
situasional telah memberikan sedikit perhatian pada penelitian HPM sebelumnya
dan dapat diteliti lebih lanjut sebagai determinan yang secara potensial penting
bagi perilaku kesehatan. Mereka dapat dipegang sebagai kunci penting dalam
mengembangkan strategi baru yang lebih efektif untuk memfasilitasi penerimaan
dan pemeliharaan perilaku kesehatan.

c) Hasil perilaku
Tanggung jawab untuk merencanakan tindakan (POA) merupakan awal dari suatu
peristiwa perilaku. Tanggung jawab ini akan mendorong individu ke arah perilaku yang
di harapkan.

1. Tanggung jawab untuk merencanakan tindakan (POA).


Manusia umumnya meningkatkan perilaku berorganisasi dari pada tidak.
Kesengajaan adalah faktor utama yang menentukan kemauan berperilaku. Tanggung
jawab dalam merencanakan tindakan pada HPM yang telah direvisi menunjukkan
pokok yang mendasari proses kognitif:

2. Tanggung jawab untuk melakukan tindakan yang spesifik pada waktu dan tempat
yang telah diberikan dengan orang-orang tertentu atau secara sendirian, dengan
mengabaikan pilihan berkompetensi
3. Mengidentifikasi strategi-strategi yang menentukan untuk mendapatkan,
membawa dan memperkuat perilaku
4. Kebutuhan mengidentifikasi strategi-strategi spesifik digunakan pada tempat yang
berbeda didalam rangkaian perilaku, kedepannya merupakan kemungkinan yang
disengaja dan yang lebih lanjut bahwa perencanaan tindakan (POA) yang
dikembangkan oleh perawat dan klien akan sukses di implementasikan. Tanggung
jawab sendiri tanpa strategi-strategi dari teman sejawat sering mengahasilkan tujuan
yang baik, namun gagal membentuk suatu nilai perilaku kesehatan
5. Kebutuhan Untuk Segera Berkompetisi dan Pilihan-Pilihan
Kebutuhan untuk segera berkompetisi atau pilihan-pilihan merujuk pada
alternatif perilaku yang memaksakan kedalam kebingungan sebagai bagian dari yang
mungkin terjadi sebelumnya dan segera diharapkan menjadi perilaku promosi
kesehatan yang direncanakan. Kebutuhan berkompetisi dipandang sebagai perilaku
alternatif dimana individu relatif memiliki level kontrol yang rendah karena
ketergantungan terhadap lingkungan seperti bekerja atau tanggung jawab perawatan
keluarga. Kegagalan berespon terhadap suatu kebutuhan dapat memiliki efek yang
tidak menguntungkan untuk diri sendiri atau untuk hal-hal lain yang penting. Pilihan
berkompetisi dipandang sebagai alternatif perilaku dengan kekuatan penuh yang
bersifat lebih yang mana individu relatif menggunakan level kontrol yang tinggi.
Mereka dapat mengeluarkan perilaku promosi kesehatan dan setuju menjadi perilaku
kompetisi.

Tingkat dimana individu mampu melawan pilihan kompetensi tergantung


pada kemampuannya menjadi pengatur diri. Contoh dari “memberi” pilihan kompetisi
adalah memilih makanan tinggi lemak dari pada rendah lemak karena rasa atau selera
pilihan, mengemudi dengan melewati pusat rekreasi, selalu berlatih berhenti di mall
(suatu pilihan untuk melihat-lihat atau belanja daripada berolahraga). Kedua
kebutuhan kompetisi dan pilihan dapat menggelincirkan suatu rencana tindakan yang
salah satunya telah dilakukan. Kebutuhan kompetisi dapat berbeda dari rintangan
yang harus dibawa oleh individu dan perilaku yang tidak diantisipasi berdasarkan
pada kebutuhan eksternal atau hasil yang tidak baik/menghitungkan dapat terjadi.
Pilihan kompetisi dapat berbeda dari rintangan seperti kekurangan waktu, karena
pilihan kompetisi adalah dorongan terakhir yang didasari pada hirarki pilihan yang
menggelincirkan suatu rencana untuk tindakan kesehatan yang positif.

Ada terdapat bermacam kemampuan individu untuk mendukung perhatian dan


menghindari gangguan. Beberapa individu dapat mempengaruhi perkembangan atau
secara biologis menjadi lebih mudah dipengaruhi selama tindakan daripada yang lain.
Hambatan pilihan kompetensi memerlukan latihan dari pengaturan diri sendiri.
Komitmen yang kuat dapat mendukung pengabdian untuk melengkapai suatu
perilaku mengingat kebutuhan akan kornpetisi atau pilihan. Didalarn HPM,
kebutuhan kompetisi dengan segera dan pilihan secara langsung mempengaruhi
kemungkinan terjadinya perilaku kesehatan.

6. Perilaku promosi kesehatan


Perilaku promosi kesehatan adalah titik akhir atau hasil tindakan pada HPM.
Bagaimanapun harus dicatat bahwa perilaku promosi kesehatan pada akhirnya adalah
langsung bertujuan untuk mencapai kesehatan yang positif bagi klien. Perilaku
promosi kesehatan, khususnya ketika berintegrasi menjadi gaya hidup sehat yang
meliputi semua aspek kehidupan, menghasilkan pengalarnan kesehatan yang positif
disepanjang proses kehidupan.
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Analisa Teori Nola J. Pender

Teori keperawatan Nola J. Pender tentang “Health Promotion Model” yang menjelaskan
bahwa perilaku kesehatan merupakan hasil tindakan yang ditujukan untuk mendapatkan hasil
kesehatan yang optimal. (Alligood, 2014). Model ini mengabungkan 2 teori yaitu teori nilai
harapan (expectancy value) dan teori kognitif sosial (social cognitive theory) yang konsisten
dalam melihat pentingnya promosi kesehatan dan pencegahan penyakit yakni bersifat logis dan
ekonomis. HPM membantu perawat dalam memahami perilaku kesehatan individu, yang
menjadi dasar konseling dalam meningkatkan gaya hidup sehat (Sukut et al., 2015).

Upaya promosi kesehatan juga diarahkan tidak hanya masalah pencegahan penyakit atau
kelemahan fisik tetapi kesejahteraan mental dan sosial yang menyeluruh guna mendapatkan
generasi berkarakter baik, perlu dilakukan pembinaan kesadaran sosial, terutama kepada keadaan
orang lain, pemahaman pikiran serta pemahaman terhadap situasi yang rumit dalam kehidupan
dan tujuan utama meningkatkan kesadaran, kemauan dan keterampilan dalam berperilaku
sehat (Asniar, 2013). Teori yang dikemukakan merupakan contoh berdasarkan pengalaman
pribadi dan hasil penelitian yang dikembangkan atas riset kualitatif dan kuantitatif, riset yang
berhubugan dengan HPM memberikan kontribusi pengembangan body of knowledge secara
umum dari ilmu keperawatan.

Namun teori ini mempunyai kelemahan seperti pada pasien cacat sejak lahir seperti
malfungsi sel yang berperan untuk daya tahan tubuh, sulit diterapkan pada ekonomi yang lemah
dan tingkat pendidikan rendah karena cenderung memenuhi kebutuhan dasarnya dibanding
dengan motivasi meningkatkan status kesehatan, membuhkan role model yang sempurna untuk
mempengaruhi masyarakat, tenaga kesehatan yang kurang mengaplikasikan teori ini dalam
mempengaruhi klien/masyarakat dan masyarakat lebih mempercayai budaya sehingga
mensosialisasikan dan mengaplikasikan teori ini kurang.
3.2 Aplikasi Teori Dengan Pendekatan Masalah Keperawatan

Terapi hemodialisis dikatakan optimal apabila memenuhi kriteria adekuasi hemodialsis


dengan penilai Kt/V dan nilai URR. Armezya et al., (2014) terapi hemodialysis mempunyai
pengaruh terhadap nilai URR pada pasien yang menjalani hemodialsisis, tetapi terdapat 38%
pasien mengalami tindakan hemodialysis tidak adekuat. Telah diketahui bahwa biasanya untuk
meningkatkan AHD dapat dilakukan dengan meningkatkan kecepatan aliran darah menuju
mesin HD dan volume darah yang disaring mesin HD, tetapi perlu diketahui bahwa langkah
tersebut bisa berakibat mual, pusing dan kram otot (Tria Firza, Aminah, & Adam Riyadi, 2015).
Penelitian Hartanti (2016) bahwa exercise intradialisis berpengaruh meningkatkan nilai URR
pasien gagal ginjal kronik. Hasil penelitian (Nur Muji, I Ketut, & Haryanto, 2017) menunjukkan
bahwa kombinasi stretching exercise dan pernafasan yoga efektif untuk menurunkan tekanan
darah pasien gagal ginjal.

Oleh karena itu exercise intradialisis perlu dipahami dan diketahui oleh pasien gagal
ginjal kronis sehingga dapat diaplikasikan saat melakuakan terapi hemodialsis guna
meningkatkan kesehatan dan mencegah komplikasi. Pasien gagal ginjal harus mampu melakukan
pengolahan terhadap penyakitnya untuk mencegah terjadinya komplikasi yang mamperberat
keadaan pasien dan memaksimalkan aspek yang ada dalam dirinya untuk menentukan pilihan
terbaik.

Promosi kesehatan merupakan konsep dalam pemberdayaan kemampuan individu atau


keluarga untuk meningkatkan kesehatan. HPM membantu perawat dalam menolong dan
mengindentifikasi faktor terhadap kesehatan dan perilaku sehat yang sudah dilakukan guna
membentuk perilaku baru yang dapat mencapai kesehatan yang optimal (Utami, 2017). Peran
perawat dalam keperawatan Pender adalah mencegah pasien gagal ginjal kronis kearah yang
lebih buruk dengan mengajak individu dan lingkungan sekitar agar berperilaku positif terhadap
pemeliharan dan peningkatan kesehatan, meningkatkan motivasi dan komitmen agar pasien
gagal ginjal terhindar dari komplikasi. Pada penelitian (Nuari & Kartikasari,
2015) mengidentifikasi faktor personal, manfaat tindakan yang dirasakan dan hambatan untuk
bertindak berpengaruh segnifikan dalam mempengaruhi self empowerment. Tidak seperti model
pencegahan kesehatan lainya, HPM menekankan pada metode motivasi positif (Nuari &
Kartikasari, 2015).
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Model Promosi Kesehatan adalah suatu cara untuk menggambarkan interaksi manusia
dengan lingkungan fisik dan interpesonalnya dalam berbagai dimensi. Model ini
mengintegrasikan teori nilai harapan (Expectancy-value) dan teori kognitif sosial (Social
Cognitive Theory) dalam perspektif keperawatan manusia dilihat sebagai fungsi yang holistik.

Perilaku promosi kesehatan adalah titik akhir atau hasil tindakan pada Health PM.
Bagaimanapun harus dicatat bahwa perilaku promosi kesehatan pada akhirnya adalah
langsung bertujuan untuk mencapai kesehatan yang positif bagi klien. Perilaku promosi
kesehatan, khususnya ketika berintegrasi menjadi gaya hidup sehat yang meliputi semua
aspek kehidupan, menghasilkan pengalarnan kesehatan yang positif disepanjang proses
kehidupan.
DAFTAR PUSTAKA

Alligood, M. R. (2014). Nursing theorists and their work (8th ed.). St. Louis, MO:
Elsevier/Mosby.

Ho, A., Berggren, I., &Dahlborg-Lyckhage, E. (2010). Diabetes empowerment related to


Pender's Health Promotion Model: a meta-synthesis. Nursing & Health Sciences, 12(2),
259-267.doi:10.1111/j.1442-2018.2010.00517.x

Kazer, M., & Fitzpatrick, J. (2012).Encyclopedia of Nursing Research. New York, NY: Springer
Pub.

Kearney-Nunnery, R. (2008). Advancing Your Career: Concepts of Professional Nursing.


Philadelphia: F.A. Davis.

McCullagh, M. C. (2013). Health promotion. In S. J. Peterson, & T. S. Bredow (Eds.), Middle


range theories- application to nursing research (3rd ed. (pp. 224-234). Philadelphia, PA:
Wolters Kluwer/Lippincott Williams & Wilkins.

Sakraida, T. J. (2014). Health promotion model. In M. R. Alligood (Ed.), Nursing theorists and
their work (8th ed. (pp. 396-416). St. Louis, MO: Elsevier/Mosby.

Stark, M., Chase, C., &DeYoung, A. (2010). Barriers to Health Promotion in Community
Dwelling Elders.Journal of Community Health Nursing, 27(4), 175-
186.doi:10.1080/07370016.2010.515451
Slide 1

Slide 2
Slide 3

Slide 4
Slide 5

Slide 6
Slide 7

Slide 8