Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

MKDU AGAMA ISLAM

Di Susun Oleh :
Nama : Diah Ayu Putri Trsinawardani
NIM : 018.06.0059
Kelas :A

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM AL-AZHAR
2020 / 2021
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan
rahmat dan karunia-Nya, dan tak lupa pula penulis mengirim salam dan salawat
kepada baginda Nabi Muhammad SAW yang telah membawakan penulis suatu
ajaran yang benar yaitu agama Islam, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini dengan lancar.

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 21 yang artinya,

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri
teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah
dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab :
21)

Adapun makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data sekunder


yang diperoleh dari berbagai sumber yang berkaitan dengan agama Islam serta
infomasi dari media massa yang berhubungan dengan tema.

Mataram, 24 Maret 2020

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
  Pengertian Akhlak Secara Etimologi, Menurut pendekatan etimologi,
perkataan “akhlak” berasal dari bahasa Arab jama’ dari bentuk mufradnya
“Khuluqun” yang menurut logat diartikan: budi pekerti, perangai, tingkah laku
atau tabiat. Kalimat tersebut mengandung segi-segi persesuain dengan perkataan
“khalkun” yang berarti kejadian, serta erat hubungan ” Khaliq” yang
berartiPencipta dan “Makhluk” yang berarti yang diciptakan. Pengertian akhlak
adalah kebiasaan kehendak itu bila membiasakan sesuatu maka kebiasaannya itu
disebut akhlak. Jadi pemahamanakhlak adalah seseorang yang mengeri benar akan
kebiasaan perilaku yang diamalkan dalam pergaulan semata – mata taat kepada
Allah dan tunduk kepada-Nya. Oleh karena itu seseorangyang sudah memahami
akhlak maka dalam bertingkah laku akan timbul dari hasil perpaduan antarahati
nurani, pikiran, perasaan, bawaan dan kebiasaan dan yang menyatu, membentuk
suatukesatuan tindakan akhlak yang dihayati dalam kenyataan hidup
keseharian.Dengan demikian memahami akhlak adalah masalah fundamental
dalam Islam. Namunsebaliknya tegaknya aktifitas keislaman dalam hidup dan
kehidupan seseorang itulah yang dapatmenerangkan bahwa orang itu memiliki
akhlak. Jika seseorang sudah memahami akhlak danmenghasilkan kebiasaan
hidup dengan baik, yakni pembuatan itu selalu diulang – ulang
dengankecenderungan hati.Akhlak merupakan kelakuan yang timbul dari hasil
perpaduan antara hatinurani, pikiran, perasaan, bawaan dan kebiasaan dan yang
menyatu, membentuk suatu kesatuantindakan akhlak yang dihayati dalam
kenyataan hidup keseharian. Semua yang telah dilakukan ituakan melahirkan
perasaan moral yang terdapat di dalam diri manusia itu sendiri sebagai
fitrah,sehingga ia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat,
mana yang bermanfaatdan mana yang tidak berguna, mana yang cantik dan mana
yang buruk
1.2 Rumusan Masalah
a. Apakah pengertian dari akhlaq?
b. Bagaimana akhlak dalam Islam?
c. Bagaimana akhlak dalam keberkahan ilmu?
d. Bagaimana mendapatkan keberkahan ilmu dalam belajar mengajar terhadap
dosen?
e. Kapan dan bagaimana mendapatkan keberkahan ilmu terhadap berakhlak
kepada dosen?

1.3 Tujuan Penulis
a. Mengetahui pengertian dari akhlaq.
b. Mengetahui akhlak dalam Islam.
c. Mengetahui akhlak dalam keberkahan ilmu.
d. Mengetahui mendapatkan keberkahan ilmu dalam belajar mengajar terhadap
dosen.
e. Mengetahui mendapatkan keberkahan ilmu terhadap berakhlak kepada dosen.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian dari Akhlak

Akhlak dari segi bahasa : berasal daripada perkataan 'khulq' yang


bererti perilaku, perangai atau tabiat. Maksud ni terkandung dalam kata-kata
Aisyah berkaitan akhlak Rasulullah SAW yang bermaksud : "Akhlaknya
(Rasulullah) adalah al-Quran." Akhlak Rasulullah yang dimaksudkan di dalam
kata-kata di atas ialah kepercayaan, keyakinan, pegangan, sikap dan tingkah laku
Rasulullah SAW yang semuanya merupakan pelaksanaan ajaran al-Quran.

Akhlak dari segi istilah : Menurut Imam al-Ghazali, "Akhlak ialah suatu sifat
yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan
mudah tanpa memerlukan pertimbangan terlebih dahulu."

Menurut Ibnu Maskawih, "Akhlak ialah keadaan jiwa seseorang yang mendorong


untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa pertimbangan akal fikiran terlebih
dahulu."

Menurut Profesor Dr Ahmad Amin, "Akhlak ialah kehendak yang dibiasakan dan


ia akan menjadi kebiasaan yang mudah dilakukan."

Daripada definis tersebut dapat kita pahami bahwa akhlak merupakan suatu
perlakuan yang tetap sifatnya di dalam jiwa seseorang yang tidak memerlukan
daya pemikiran di dalam melakukan sesuatu tindakan.

2.2 Akhlak dalam Islam

Akhlak Baik (Al-Hamidah) : Jujur (Ash-Shidqu), Berprilaku baik (Husnul


Khuluqi), Malu (Al-Haya'), Rendah hati (At-Tawadlu'), Murah hati (Al-Hilmu),
Sabar (Ash-Shobr).
Dari 'Amr bin Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya, semoga Allah
merelakannya, berkata, "Rasulullah SAW. bersabda", "Ketika Allah
mengumpulkan segenap makhluk pada hari kiamat kelak, menyerulah Penyeru",
"Di manakah itu, orang-orang yang utama (ahlul fadhl) ?". Maka berdirilah
sekelompok manusia, jumlah mereka sedikit, dengan cepatnya mereka bergegas
menuju syurga, para malaikat berpapasan dengan mereka, lalu menyapa mereka.
"Kami lihat kalian begitu cepat menuju syurga, sipakah kalian ?". Orang-orang ini
menjawab, "Kamilah itu orang-orang yang utama (ahlul fadhl)". "Apa keutamaan
kalian ?", tanya para malaikat. Orang-orang ini memperjelas, "Kami, jika
didzalimi, kami bersabar. Jika diperlakukan buruk, kami memaafkan. Jika orang
lain khilaf pada kami, kamipun tetap bermurah hati". Akhirnya dikatakan pada
mereka, "Masuklah ke dalam syurga, karena demikian itulah sebaik-baik balasan
bagi orang-orang yang beramal". Setelah itu menyerulah lagi penyeru, :"Di
manakan itu, orang-orang yang bersabar (ahlush shabr) ?". Maka berdirilah
sekelompok manusia, jumlah mereka sedikit, dengan cepatnya mereka bergegas
menuju syurga, para malaikat berpapasan dengan mereka, lalu menyapa mereka.
"Kami lihat kalian begitu cepat menuju syurga, sipakah kalian ?". Orang-orang ini
menjawab, "Kamilah itu orang-orang yang sabar (ahlush shabr). "Kesabaran apa
yang kalian maksud ?", tanya para malaikat. Orang-orang ini memperjelas, "Kami
sabar bertaat pada Allah, kamipun sabar tak bermaksiat padaNya. Akhirnya
Dikatakan pada mereka, "Masuklah ke dalam syurga, karena demikian itulah
sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal". (Hilyatul Auliyaa'/ Juz III/
Hal. 140).
2.3 Akhlak dalam Keberkahan Ilmu
Allah swt Berfirman :
ٍ ‫يَرْ فَ ِع هَّللا ُ الَّ ِذينَ َءا َمنُوا ِم ْن ُك ْم َوالَّ ِذينَ أُوتُوا ْال ِع ْل َم د ََر َجا‬
‫ت‬

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan
orang-orang yang diberi ilmu (agama) beberapa derajat.” (Al-Mujaadilah:11)
Di dalam Al Qur’an diterangkan bahwa sesungguhnya Allah akan mengangkat
derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Ilmu merupakan sarana utama
menuju kebahagiaan abadi. Ilmu merupakan pondasi utama sebelum berkata-kata
dan berbuat. Dengan ilmu, manusia dapat memiliki peradaban dan kebudayaan.
Dengan ilmu, manusia dapat memperoleh kehidupan dunia, dan dengan ilmu pula,
manusia menggapai kehidupan akhirat. Ada sebuah pepatah arab mengatakan :

“Uthlubu al-’ilma min al-mahdi ila al-llahdi” artinya : tuntutlah ilmu dari buaiyan
samapai keliang lahat. Allah swt menganjurkan umatnya untuk menuntut ilmu
karena ilmu itu memang sangatlah penting seperti yang difirmankan allah swt
pada ayat diatas dengan ilmu derajat kita akan terangkat baik dimata allah ataupun
dimata manusia. Baik atau buruk nya sebuah ilmu bukan karena i8lmunya
melainkan karena niat atau tujuan sipemilik ilmu, Ibarat pisau, tergantung siapa
yang memilikinya. Jika pisau dimiliki oleh orang jahat, maka pisau itu bisa
digunakan untuk membunuh, merampok atau mencuri. Tetapi jika dimiliki oleh
orang baik, maka pisau itu bisa digunakan untuk memotong hewan qurban,
mengiris bawang atau membelah ikan.

2.4 Keberkahan Ilmu dalam Belajar Mengajar terhadap Dosen

Murid adalah orang yang sedang belajar dan menuntut ilmu kepada seorang
guru. Demi untuk keberkahan dan kemudahan dalam meraih dan mengamalkan
ilmu atau pengetahuan yang telah diperoleh dari seorang guru, maka seorang
murid haruslah memiliki akhlak atau etika yang benar terhadap gurunya.

Beberapa contoh etika murid terhadap guru (Mu’allim), diantaranya adalah


sebagai berikut :

1.      Seorang murid hendaklah hormat dan salam kepada guru, mengikuti pendapat
dan petunjuknya.

2.      Seorang murid hendaklah duduk dengan sopan di hadapan gurunya, tenang,


merendahkan diri, hormat sambil mendengarkan, memperhatikan, dan menerima
apa yang disampaikan oleh gurunya. Jangan duduk sambil menengok kanan kiri
kecuali untuk suatu kepentingan.

3.  Ketika guru sedang memberi penjelasan/ berbicara hendaklah murid tidak


memotong pembicaraannya. Kalaupun ingin menyanggah pendapat beliau maka
sebaiknya menunggu hingga beliau selesai berbicara dan hendaknya setiap
memberikan sanggahan atau tanggapan disampaikan dengan sopan dan dalam
bahasa yang baik.

4.  Meskipun sudah tidak dibimbing lagi oleh beliau ( karena sudah lulus) murid
hendaklah tetap selalu mengingat jasanya dan tetap terus mendoakan kebaikan –
kebaikan atas mereka.

5.  Jangan sekali-kali berprasangka jelek terhadap guru mengenai tindakannya yang


kelihatan mungkar menurut pandangan murid atau mahasiswa. Sebab guru atau
dosen lebih mengetahui rahasia-rahasia yang terkandung dalam tindakannya
tersebut. Jika murid atau mahasiswa mengetahui hal yang seperti itu, lebih baik
mengingatkannya dengan jalan seperti yang telah ditempuh oleh Nabi Musa a.s.
sewaktu mengingatkan Nabi Khidhr, yaitu sebagaimana yang tersebut dalam Q.S.
Al-Kahfi : 71, yang berbunyi:

Artinya: “Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu


lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: ‘Mengapa kamu melobangi perahu itu
akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?’ Sesungguhnya kamu Telah
berbuat sesuatu kesalahan yang besar.”

Bagaimanapun juga guru merupakan orang tua kedua kita setelah orang tua
kita yang di rumah. Mereka adalah orang tua kita saat kita berada di luar rumah.
Jadi sebagaimana kita menghormati orang tua kandung kita, maka kitapun juga
harus menghormati guru kita.

Sebagaimana disyiratkan dalam sabda Rasulullah SAW :

“Tidak termasuk umatku orang yang tidak menghormati orang yang lebih
tua dari kami, tidak mengasihi orang yang lebih kecil dari kami dan tidak
mengetahui hak orang alim dari kami.” (HR.Ahmad, Thabrani, dan Hakim dari
Ubadah bin Shamit Ra.)

“Pelajarilah oleh kalian ilmu, pelajarilah oleh kalian ilmu(yang dapat


menumbuhkan) ketenangan, kehormatan, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang
yang kalian menuntut ilmu darinya.” (HR. Thabrani dari Abu Hurairah. Ra)

2.5 Mendapatkan Keberkahan Ilmu terhadap Berakhlak kepada Dosen

Guru adalah orang tua kedua, yaitu orang yang mendidik murid-muridnya
untuk menjadi lebih baik sebagaimana yang diridhoi Alloh ‘azza wa jalla.
Sebagaimana wajib hukumnya mematuhi kedua orang tua, maka wajib pula
mematuhi perintah para guru selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan
syari’at agama.

Di antara akhlaq kepada guru yaitu :

Ø Memuliakan, tidak menghina atau mencaci-maki guru, sebagaimana sabda


Rosululloh saw :

‫يرنَا‬ َ ‫ْس ِمنَّا َم ْن لَ ْم يُ َوقِّرْ َكبِي َرنَا َو يَرْ َح ْم‬


َ ‫ص ِغ‬ َ ‫لَي‬         ·

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan orang yang lebih
tua dan tidak menyayangi orang yang lebih muda.” ( HSR. Ahmad dan At-
Tirmidzi )

Ø Datang ke tempat belajar dengan ikhlas dan penuh semangat, sebagaimana sabda
Rosululloh saw :

‫ك طَ ِريقًا يَ ْلتَ ِمسُ فِي ِه ِع ْل ًما َسهَّ َل هَّللا ُ لَهُ بِ ِه طَ ِريقًا إِلَى ْال َجنَّ ِة‬
َ َ‫ َم ْن َسل‬         ·

“Barangsiapa menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu padanya, Alloh


mudahkan baginya dengannya jalan menuju syurga.” ( HR. Ahmad, Muslim, Abu
Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah )

Ø Datang ke tempat belajar dengan penampilan yang rapi, sebagaimana sabda


Rosululloh saw :

َ ‫إِ َّن هَّللا َ َج ِمي ٌل ي ُِحبُّ ْال َج َم‬         ·


‫ال‬
“Sesungguhnya Alloh itu indah dan suka kepada keindahan.”( HR. Ahmad,
Muslim dan Al-Hakim )

Ø Diam memperhatikan ketika guru sedang menjelaskan, sebagaimana hadits Abu


Sa’id Al-Khudri ra :

‫ َو َسكَتَ النَّاسُ َكأ َ َّن َعلَى ُر ُءو ِس ِه ْم الطَّ ْي َر‬         ·

“Orang-orang pun diam seakan-akan ada burung di atas kepala mereka.” ( HR.
Al-Bukhori )

Ø Bertanya kepada guru bila ada sesuatu yang belum dia mengerti dengan cara baik.
Alloh berfirman :

َ‫فَاسْأَلُوْ ا أَ ْه َل ال ِّذ ْك ِر إِ ْن ُك ْنتُ ْم الَ تَ ْعلَ ُموْ ن‬         ·

“Bertanyalah kepada ahli dzikr ( yakni para ulama ) bila kamu tidak tahu.”( Qs.
An-Nahl : 43 dan Al-Anbiya’ : 7 )

Rosululloh saw bersabda :

‫أَالَ َسأَلُوْ ا إِ ْذ لَ ْم يَ ْعلَ ُموا فَإِنَّ َما ِشفَا ُء ْال ِع ِّي ال ُّسؤَا ُل‬         ·

“Mengapa mereka tidak bertanya ketika tidak tahu ? Bukankah obat dari
ketidaktahuan adalah bertanya ?” ( HSR. Abu Dawud )

Ø Dan menghindari pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada faedahnya, sekedar


mengolok-olok atau yang dilatarbelakangi oleh niat yang buruk, oleh karena itu
Alloh berfirman :

‫يَا أَيُّهَا الَّ ِذ ْينَ آ َمنُوْ ا الَ تَسْأَلُوْ ا ع َْن أَ ْشيَا َء إِ ْن تُ ْب َد لَ ُك ْم تَس ُْؤ ُك ْم‬         ·

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan sesuatu yang


bila dijawab niscaya akan menyusahkan kalian.” ( Qs. Al-Maidah : 101 )

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

‫إِ َّن أَ ْعظَ َم ْال ُم ْسلِ ِم ْينَ جُرْ ًما َم ْن َسأ َ َل ع َْن َش ْي ٍء لَ ْم يُ َح َّر ْم فَ ُح ِّر َم ِم ْن أَجْ ِل َمسْأَلَتِ ِه‬         ·

“Sesungguhnya orang muslim yang paling besar dosanya adalah orang yang
bertanya tentang sesuatu yang tidak diharamkan, lantas menjadi diharamkan
lantaran pertanyaannya itu.” ( HR. Ahmad, Al-Bukhori dan Muslim )
Ø Ketika bertanya mestinya dilakukan dengan cara dan bahasa yang bagus.

Berkata Imam Maimun bin Mihron : “Pertanyaan yang bagus menunjukkan


separuh dari kefahaman.” ( AR. Al-Khothib Al-Baghdadi dalam Al-Jami’ )

Ø Menegur guru bila melakukan kesalahan dengan cara yang penuh hormat,
sebagaimana sabda Rosululloh :

‫ال هَّلِل ِ َو لِ ِكتَابِ ِه َو لِ َرسُولِ ِه َو ألَئِ َّم ِة ْال ُم ْسلِ ِمينَ َو عَا َّمتِ ِه ْم‬
َ َ‫ لِ َم ْن ؟ ق‬: ‫ قُ ْلنَا‬, ُ‫ص ْي َحة‬
ِ َّ‫ال ِّديْنُ الن‬         ·

“Agama adalah nasihat.” Kami ( Shahabat ) bertanya : “Untuk siapa ?” Beliau


menjawab : “Untuk menta’ati Alloh, melaksanakan Kitab-Nya, mengikuti Rosul-
Nya untuk para pemimpin kaum muslimin dan untuk orang-orang umum.” ( HR.
Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi dll )

Ingatlah,bahwasannya guru ketika mendidik kamu sangat sulit diantaranya :


Mendidik akhlak kalian, mengajarkan ilmu yang bermanfaat dan memberikan
nasihat yang baik, kesemuanya itu agar kamu bahagia seperti orang tua
membahagiakan anaknya dan mengharapkan masa depan kalian berpendidikan.
Kemudian apabila kamu ingin menyenangkan guru kamu maka tetapkanlah
kewajibanmu diantaranya :
1.      Untuk hadir setiap hari dan jangan sampai terlambat kecuali ada alasan yang
membenarkan.
2.      Dahulukan masuk ke kelas.
3.      Faham dalam segala pelajaran.
4.      Menghafalkan dan menela’ah atau mempelajari kembali  pelajaran.
5.      Menjaga kebersihan di buku kalian dan diperalatan sekolah kalian.
6.      Patuh terhadap perintah guru.
7.      Jangan sampai marah ketika gurumu mendidik kalian karena mendidik kamu
suatu kewajiban dan hendaklah bersyukur dan tidak sombong.
8.      Mendo’akannya.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Akhlak merupakan suatu perlakuan yang tetap sifatnya di dalam jiwa
seseorang yang tidak memerlukan daya pemikiran di dalam melakukan sesuatu
tindakan. Berdasarkan apa yang telah menjadi pokok bahasan pada materi di atas,
maka secara sederhana dapat di tarik sebuah kesimpulan yaitu akhlak merupakan
cerminan dari agama Islam itu sendiri, dimana bila akhlak seorang manusia
mencerminkan sebuah kebaikan, kesucian, kesopanan dan lain sebagainya yang
bertujuan menggapai ridho Allah. Yang menjadi ukuran baik dan
buruknya akhlak adalah syarak, iaitu apa yang diperintahkan oleh syarak, itulah
yang baik dan apa yang dilarang oleh syarak itulah yang buruk. Perkembangan
teknologi dapat mempengaruhi lingkungan serta kebudayaan masyarakat. Apabila
dalam dingkungan masyarakat tersebut tidak memiliki tembok yang kuat, niscaya
keruntuhan Akhlak dan morallah yang akan terjadi. Yaitu di mulai dengan
hilangnya norma-norma dalam masyarakat tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

As,Asmara: Pengantar Studi Akhlak,Jakarta,Rajawali,1994.

Din,Haron dkk.: Manusia dan islam, jilid 1, 2, dan 3, Kuala Lumpur, Dewan


Bahasa dan Pustaka,990.

Djatnika, Rachmat: system Ethika Islam, Surabaya, Pustaka Islam,1987

Raliby,Osman: Allah,Alam dan Manusia, Jakarta,Fajar Sidiq,t.t

Saltut, Mahmud: Akidah dan Syari’ah jilid 1 dan 2, Jakarta, Bina Aksara, 1985 

Suwendi. 2004. Sejarah dan Pemikiran Pendidikan dalam Islam. Jakarta:

RajaGrafindo Persada