Anda di halaman 1dari 5

I.

Anatomi Abdomen
Rongga Abdomen dibatasi oleh :
 Atas : diafragma
 Bawah : pelvis
 Depan : dinding depan abdomen
 Lateral : dinding lateral abdomen
 Belakang : dinding belakang abdomen serta tulang belakang

Diafragma merupakan sebuah kubah yang menonjol dalam rongga thoraks. Diafragma
turut dalam sistem pernafasan. Pada inspirasi akan turun ke bawah, pada ekspirasi
akan naik ke atas. Pada saat ekspirasi maksimal akan berada setinggi kira-kira
interkostal 4 pada garis mid-klivikuler, yang kurang lebih sama dengan papila mamae
pada laki-laki. Dengan demikian pada trauma thoraks, baik tumpul maupun tajam,
bila ditemukan sampai setinggi papila mamae (pada laki-laki) harus selalu diwaspadai
adanya trauma abdomen juga.
Organ intra-abdomen ada yang terdapat dalam rongga peritoneum (intraperitoneal)
serta ada yang tidak dalam rongga peritoneum (ekstra-peritoneal). Organ yang
terlindungi dalam kubah diafragma adalah pada sisi kanan hepar, dan pada sisi kiri
klien.
Hepar dan lien tidak mempunyai lumen (solida) dan trauma pada ke 2 organ ini akan
menimbulkan perdarahan yang akan terkumpul dalam rongga peritoneum. Keadaan
ini dikenal sebagai hemoperitoneum. Robekan usus juga dapat menimbulkan
pedarahan intr-peritoneal.
Gaster, usus halus dan usus besar, mempunyai lumen. Dengan demikian bila terjadi
peforasi, isinya akan tumpah dalam rongga peritoneum dan menimbulkan peritonitis.
Bila yang masuk rongga peritoneum adalah asam lambung, maka rangsangan kimia
akan segera menimbulkan gejala peritonitis, sedangkan bila yang masuk rongga
peritonium adalah isi usus halus atau kolon, gejala akan timbul lebih lambat.
II. Gejala dan trauma abdomen
Padaa hakekatnya gejala dan tanda yang ditimbulkan karena 2 hal ini:
1. Pecahnya organ solid
Hepar dan lien yang pecah akan menyebabkan perdarahan yang dapat bervariasi
dari ringan sampai berat, bahkan kematian.
Gejala dan tandanya adalah :
a. Gejala perdarahan secara umum
Penderita tampak anemis (pucat). Bila perdarahan berat akan timbul gejala dan
tanda dari syok hemoragik.
b. Gejala adanya darah intra-peritoneal
Penderita akan nyeri abdomen, yang dapat bervariasi dari ringan sampai nyeri
hebat. Pada saat diauskultasi biasanya bising usus menurun, yang bukan
merupakan tanda yang dapat dipercaya, karena bisisng usus akan menurun
pada banyak keadaan lain. Pada pemeriksaan akan teraba bahwa abdomen
nyeri tekan, kadang-kadang ada nyeri lepas dan defans maskular (kekuatan
otot) seperti pada pritonitis. Perut yang semakin membesar hanya akan
ditemukan apabila perdarahan hebat dan penderita tidak gemuk.
Pada perkusi akan dapat ditemukan pekak sisi yang meningi.
2. Pecahnya organ yang berlumen
Pecahnya gaster, usus halus, dan kolon akan menimbulkan peritonitis yang dapat
timbul cepat sekali atau lebih lambat. Pada pemeriksaan penderita akan mengeluh
nyeri abdomen. Pada auskultasi bising usus akan menurun. Pada palpasi akan
ditemukan defans muskular, nyeri tekan dan nyeri lepas. Pada perkusi akan nyeri
pula ( nyeri ketok). Biasanya peritonitis bukan merupakan keadaan yang
memerlukan penanganan sangar segera, berbeda dengan perdarahan intra
peritoneal sehimgga jarang menjadi masalah pada fase pra RS
Apabila trauma tajam, maka kadang-kadang akan ditemukan bahwa ada organ
intra-abdomen yang menonjol keluar (paling sering omentum,bisa juga usus halus
atau colon) keadaan ini di kenal sebagai eviserasi.
Trauma ginjal akan menyebabkan perdarahan yang tidak masuk ke rongga
peritoneum. Jarang perdarahan dari ginjal akan menyebabkan syok. Gejala lain
pada trauma ginjal adalah kencing disertai darah.

DEFINISI

Trauma abdomen dapat dibagi menjadi trauma tembus dan trauma tumpul akibat dari trauma
abdomen dapat berupa perforasi atau perdarahan. Kematian karena trauma abdomen terjadi
akibat sepsis atau perdarahan. Sebagian besar dapat dicegah dan harus menjalani pemeriksaan
yang lengkap dan tepat.

Trauma Tembus Abdomen

Usus merupakan organ yang paling sering terkena pada luka tembus abdomen, sebab usus
mengisi sebagian besar rongga abdomen

MANIFESTASI KLINIS

Trauma tembus dapat mengakibatkan peritonitis sampai dengan sepsis bila mengenai organ
yang berongga intra peritoneal. Rangsangan peritoneal yang timbul sesuai dengan isi dari
organ berongga tersebut, mulai dari gaster yang bersifat kimia sampai dengan colon yang
berisi feses. Rangsangan kimia onsetnya paling cepat dan feses paling lambat. Bila perforasi
terjadi di bagian atas, misalnya di daerah lambung, maka akan terjadi perangsangan segera
sesudah trauma dan akan terjadi gejala peritonitis hebat. Sedangkan bila bagian bawah,
seperti colon, mula-mula tidak terdapat gejala karena mikroorganisme membutuhkan waktu,
untuk berkembang biak baru selama 24 jam setelah gejala akut abdomen, karena perangsang
peritoneum. Pada trauma tembus, ushakan untuk memperoleh keterangan selengkap
mungkin, mengenai senjata yang dipakai, arah tusukan, atau bagaimana terjadinya
kecelakaan. Namun terkadang terjadi kesulitan apabila pasien dalam keadaan tidak sadar.
Setelah pasien stabil baru kita lakukan pemeriksaan fisik. Ingat syok dan penurunan
kesadaran dapat menimbulkan kesulitan pemeriksaan abdomen karena akan menghilangkan
gejala perut. Jejas di dinding perut menunjang terjadinya trauma abdomen. Pemeriksaan lain
yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan colok dubur untuk mengetahui adanya cedera
anorektal atau urethra, pemasangan kateter untuk mengetahui adanya darah pada saluran
kemih, dan monitoring produksi urine. Pemasangan kateter di lakukan setelah dipastikan
tidak terdapat cedera urethra dengan colok dubur, dan pemasangan NGT untuk mengetahui
adanya perdarahan pada saluran cerna.

PENATALAKSANAAN

Hal umum yang perlu mendapat perhatian adalah atasi ABC bila pasien telah stabil baru kita
memikirkan penatalaksanaan abdomen itu sendiri. Pipa lambung, untuk diagnostik harus
segera dipasang untuk mencegah terjadinya aspirasi bila terjadi muntah. Sedangkan kateter,
dipasang untuk mengosongkan kandung kemih dan menilai urine. Peningkatan nyeri di
daerah abdomen membutuhkan eksplorasi bedah (laparotomi). Luka tembus dapat
mengakibatkan renjatan berat bila mengenai pembuluh darah besar atau hepar. Penetrasi ke
limpa, pankreas, atau ginjal biasanya tidak mengakibatkan perdarahan massif kecuali bila ada
pembuluh darah besar yang terkena. Perdarahan tersebut harus diatasi segera, sedangkan
pasien yang tidak tertolong dengan resusitasi cairan harus menjalani pembedahan segera.

Trauma Tumpul Abdomen

Mekanisme terjadi trauma tumpul pada abdomen disebabkan oleh adanya deselerasi cepat
dan adanya organ-organ yang tidak mempunyai kelenturan seperti hati, limpa, pankreas, dan
ginjal.

MANIFESTASI KLINIS

Adanya darah atau cairan usus akan menimbulkan rangsangan peritoneum berupa nyeri
tekan, nyeri ketok, nyeri lepas, dan kekakuan dinding perut. Adanya darah dapat pula di
tentukan dengan shifting dullness sedangkan adanya udara bebas dapat diketahui dengan
hilang atau beranjaknya pekak hati. Bising usus akan melemah atau menghilang,
perangsangan peritoneum dapat pula berupa nyeri alih di daerah bahu sebelah kiri. Namun
pada trauma tumpul sering kali di perlukan observasi dan pemeriksaan berulang karena tanda
dan rangsangan peritoneum bisa timbul perlahan-lahan.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Berbeda dengan trauma tajam, pada keadaan ini kita sering dihadapkan dengan diagnosa
yang meragukan, sehingga memerlukan pemeriksaan penunjang untuk menegakan diagnosis.
Untuk membantu menentukan adanya perdarahan dapat dibantu dengan metode Von Lany
dengan membandingkan leukosit dan eritrosit setiap setengah jam. Bila leokosit meningkat
dan eritrosit menurun tanpa ada tanda-tanda radang memberikan penunjuk adanya
perdarahan.

Pemeriksaan laboratorium yang menunjang adalah pemeriksaan kadar hemoglobin, leukosit,


hematrokrit, dan analisis urine. Tetapi yang terpenting monitoring gejala klinis oleh seorang
dokter. Bila terjadi pendarahan akan terjadi penurunan hemoglobin, leukosit,dan hematrokrit.

Pemeriksaan radiologi yang bisa dilakukan adalah foto polos abdomen 3 posisi. Yang perlu di
perhatikan adalah tulang vertebra dan pelvis, benda asing, bayangan otot psoas, dan udara
bebas intra atau retroperitoneal. Sedangkan pemeriksaan sistogram hanya dilakukan jika di
curigai adanya trauma saluran kencing. Selain itu dapat juga dilakukan CT scan untuk
membantu menegakan diagnosa. CT scan adaalh prosedur diagnosa yang banyak dilakukan
untuk pemeriksaan penunjang. Tindakan lain yang efektif adalah lavase peritoneal diagnostik,
untuk mengetahui intra abdomen dan jenisnya. Tindakan ini melakukan bilasan rongga perut
dengan memasukan cairan garam fisiologis sampai 1000 ml melalui kanul, setelah
sebelumnya pada pengisapan tidak ditemukan darah atau cairan. Apabila cairanya keluar
kemerahan, adanya empedu, ditemukan bakteri atau eritrosit >100.000 ml/m 3 , leukosit > 500/
m 3 dan kadar amilase >100u/100 ml maka hasilnya positif adanya trauma tumpul.