0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
88 tayangan14 halaman

Materi KOMSTAT Minggu 10

Dokumen tersebut membahas tentang fungsi distribusi peluang kontinu yang tersedia dalam R seperti normal, binomial, gamma, dan lainnya. Juga menjelaskan cara menggunakan fungsi-fungsi distribusi tersebut untuk menghasilkan bilangan acak, menghitung peluang dan densitas, serta membuat plot grafik distribusi.

Diunggah oleh

Pualam Wahyu
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
88 tayangan14 halaman

Materi KOMSTAT Minggu 10

Dokumen tersebut membahas tentang fungsi distribusi peluang kontinu yang tersedia dalam R seperti normal, binomial, gamma, dan lainnya. Juga menjelaskan cara menggunakan fungsi-fungsi distribusi tersebut untuk menghasilkan bilangan acak, menghitung peluang dan densitas, serta membuat plot grafik distribusi.

Diunggah oleh

Pualam Wahyu
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MINGGU KE-10

FUNGSI DISTRIBUSI PELUANG KONTINU

Beberapa distribusi peluang khusus (yang tersedia dalam R) adalah beta,


binomial, cauchy, chi-squared, exponensial, F, gamma, hipergeometrik, log-
normal, logistic, negative binomial, normal, poisson, stable, student t, uniform,
weibull, dan wilcoxon. Ekspresi R untuk masing-masing distribusi adalah beta,
binom, cauchy, chisq, exp, f, gamma, geom, lnorm, logis, nbinom, norm, pois,
stab, t, unif, weibull, wilcox dan menambah satu huruf awalan r, p, d, atau q yang
masing-masing menyatakan pembangkitan random, peluang, densitas dan quantil.
Disamping itu ekspresi untuk masing-masing distribusi memerlukan argument dan
parameter sesuai dengan yang diperlukan. Untuk itu tata tulis ekspresi dari
masing-masing distribusi perlu diperhatikan.

Contoh :
Mencari tinggi (densitas) normal N(0,1) pada titik 0
dnorm(0,mean=0,sd=1)
[1] 0.3989423

Mencari peluang kumulatif P[X ¿ 1.96] dari N(0,1)


pnorm(1.96,mean=0,sd=1)
[1] 0.9750021

Mencari titik Quantil q dari N(5,20) sehingga P[X ¿ q]= 0.75


qnorm(0.75,mean=5,sd=sqrt(20))
[1] 8.01641

Mencari 100 bilangan random dari N(2,9)


rnorm(100,mean=2,sd=3)

Membuat grafik fungsi kepadatan peluang dan fungsi distribusi kumulatifnya


menggunakan fungsi plotDistr dari package RcmdrMisc.

plotDistr(x, p, discrete=FALSE, cdf=FALSE, regions=NULL,


col="gray",legend=TRUE, legend.pos="topright", ...)

x : koordinat sumbu horizontal


p : koordinat sumbu vertical
discrerte : pilihan distribusi yang digunakan, default FALSE artinya distribusi
kontinu
cdf : FALSE (deafault, yang diplot adalah fungsi densitas)
regions : hanya untuk distribusi kontinu, untuk menunjukkan luas daerah sesuai
dengan nilai peluang kumulatifnya.
col : Warna yang digunakan
legend : untuk menampilkan legend grafik
legend.pos : untuk mengatur posisi legend, default di kanan atas (“topright”)
… : pilihan menu plot lainnya seperti label koordinat amupun judul grafik

#Membuat Plot Densitas Normal Baku


library(RcmdrMisc)
x <- seq(-4, 4, length=100)
plotDistr(x, dnorm(x), xlab="Z", ylab="p(z)", main="Standard Normal
Density")
#Menggambar luasan yang mencerminkan peluang kumulatif
#Cara 1
plotDistr(x, dnorm(x), xlab="Z", ylab="p(z)", main="Standard Normal
Density",region=list(c(1.96, Inf), c(-Inf, -1.96)), col=c("red",
"blue"))

#Cara 2
plotDistr(x, dnorm(x), xlab="Z", ylab="p(z)", main="Standard Normal
Density",region=list(c(qnorm(0), qnorm(.025)), c(qnorm(.975),
qnorm(1)))) # same
Aplikasi lain yang berkaitan dengan fungsi distribusi peluang
1. Menghitung p-value atau signifikansi dari suatu uji hipotesis
Contoh 1:
Diketahui bahwa pada Uji Hipotesis Perbedaan Mean satu sampel diperoleh
bahwa Statistik Uji (T_hitung) mengikuti distriburi t dengan derajat bebas (n-1)
Dengan informasi T_hitung yang diperoleh maka kita dapat mencari nilai
P_value atau tingkat signifikansinya.
Misalnya diketahui T_hit = 2.302 dengan pengamatan sebanyak 50 observasi
tentukan nilai p-valuenya:
P_value = P[T > |T_hit|]=1- P[T ¿ |T_hit|]
Sintaksnya:
p_value= 1-pt(abs(T_hit),df=n-1)
atau dalam R dapat ditulis:
#Menghitung p-value uji dua sisi
>2*(1-pt(2.301,49))
[1] 0.02568618

Atau kalau digambarkan dengan dalam plot distribusi t sbb:


x <- seq(-3.5, 3.5, length.out=1000)
plotDistr(x, dt(x, df=49), cdf=FALSE, xlab="t.hit", ylab="Density",
main=paste("Luasan P-value"), region=list(c(2.302, Inf), c(-Inf,
-2.302)), col="blue")

Sedangkan daerah penolakannya adalah:

plotDistr(x, dt(x, df=49), cdf=FALSE, xlab="t.tabel", ylab="Density",


main=paste("Daerah Penolakan"),
region=list(c(qt(0,df=49),qt(0.025,df=49)),
c(qt(0.975,df=49),qt(1,df=49))),col="red")
Jika digabungkan, maka akan terlihat bahwa H0 ditolak karena pvalue < alpha,
atau ada di daerah penolakan.
x <- seq(-3.5, 3.5, length.out=1000)
#Daerah Penolakan
plotDistr(x, dt(x, df=49), cdf=FALSE, legend=FALSE,xlab="t",
ylab="Density", main=paste("Ilustrasi Uji t"),
region=list(c(qt(0,df=49),qt(0.025,df=49)),
c(qt(0.975,df=49),qt(1,df=49))),col="red")
par(new=T)
#Luasan P-value
plotDistr(x, dt(x, df=49), cdf=FALSE, legend=FALSE,xlab="t",
ylab="Density",region=list(c(2.302, Inf), c(-Inf, -2.302)), col="blue")
Sedangkan untuk mencari Nilai T_tabelnya denga alpha tertentu adalah:
> qt(0.975,49)
[1] 2.009575

2. Membuat Tabel Statistika


Contoh:
Membuat Tabel Distribusi Normal Baku dengan ketentuan inputnya adalah:
Batas bawah : bb
Batas atas : ba
Interval output : delta
Berikut adalah code programnya:

## Membuat Tabel Distribusi Normal Baku


tabel.normal_baku=function(bb,ba,delta)
{
cat("========================================================\n")
cat(" Tabel Normal Baku\n")
cat("========================================================\n")
x=seq(bb,ba,by=delta)
n=length(x)
p.t=rep(0,n)
p.kum=rep(0,n)
for (i in 1:n) {
p.kum[i]=pnorm(x[i])
}
tabel=matrix(c(x,p.kum),ncol=2)
colnames(tabel)=c("quantile","Peluang Kumulatif")
print(tabel)
}

Jika ingin mencetak nilai table peluang kumulatif Normal baku (Tabel Z) untuk
interval dari -3 sampai dengan 0, dengan interval 0.1 maka diperoleh Output:

> tabel.normal_baku(-3,0,0.1)
========================================================
Tabel Normal Baku
========================================================
quantile Peluang Kumulatif
[1,] -3.0 0.001349898
[2,] -2.9 0.001865813
[3,] -2.8 0.002555130
[4,] -2.7 0.003466974
[5,] -2.6 0.004661188
[6,] -2.5 0.006209665
[7,] -2.4 0.008197536
[8,] -2.3 0.010724110
[9,] -2.2 0.013903448
[10,] -2.1 0.017864421
[11,] -2.0 0.022750132
[12,] -1.9 0.028716560
[13,] -1.8 0.035930319
[14,] -1.7 0.044565463
[15,] -1.6 0.054799292
[16,] -1.5 0.066807201
[17,] -1.4 0.080756659
[18,] -1.3 0.096800485
[19,] -1.2 0.115069670
[20,] -1.1 0.135666061
[21,] -1.0 0.158655254
[22,] -0.9 0.184060125
[23,] -0.8 0.211855399
[24,] -0.7 0.241963652
[25,] -0.6 0.274253118
[26,] -0.5 0.308537539
[27,] -0.4 0.344578258
[28,] -0.3 0.382088578
[29,] -0.2 0.420740291
[30,] -0.1 0.460172163
[31,] 0.0 0.500000000
========================================================

3. Mengetahui bentuk perubahan kurva jika parameter suatu fungsi distribusi


diperbesar atau diperkecil
Contoh:
Akan diteliti bagaimana perubahan kurva normal jika parameter Nilai Sigma
diperbesar atau diperkecil:

x1<-seq(-10,10,by=.01) ## membuat barisan dari -5 smp 5 dengan jarak 0.01


y1<-dnorm(x1)
z1<-pnorm(x1)
y2<-dnorm(x1,0,2)
z2<-pnorm(x1,0,2)
y3<-dnorm(x1,0,3)
z3<-pnorm(x1,0,3)
win.graph()
plot(x1,y1,type="l",ylab="Densitas Normal",xlab="Quantil Normal",ylim=c(0,0.5))
par(new=T)
plot(x1,y2,type="l",col="red",ylab="Densitas Normal",xlab="Quantil Normal",ylim=c(0,0.5))
par(new=T)
plot(x1,y3,type="l",col="blue",ylab="Densitas Normal",xlab="Quantil Normal",ylim=c(0,0.5))
win.graph()
plot(x1,z1,type="l",ylab="Kumulatif Normal",xlab="Quantil Normal",ylim=c(0,1))
par(new=T)
plot(x1,z2,type="l",col="red", ylab="Kumulatif Normal",xlab="Quantil Normal",ylim=c(0,1))
par(new=T)
plot(x1,z3,type="l",col="blue", ylab="Kumulatif Normal",xlab="Quantil Normal",ylim=c(0,1))

Outputnya:
Perhatikan perubahannya:
Semakin tinggi varians maka akan semakin landau kurva Normal nya.
Latihan:
Diketahui output sebuah uji Likelihood Ratio Test untuk menguji kecocokan model
menggunakan statistik uji Chisquare sbb:

Perhatikan pada nilai baris Pearson Chi-Square, berilah kesimpulan dari uji
tersebut dengan menggunakan nilai Tabel Chi-Square dengan alpha 5% dan
buktikan nilai p-value (Sig.). Kemudian berikan ilustrasinya dalam sebuah gambar.

Jawab:
1. Mencari nilai Tabel Chisquare df=4, alpha 5%

Diperoleh bahwa nilai Chisq.hit lebih besar dari Chisq.tabel, sehingga dapat
disimpulkan bahwa H0 ditolak.

2. Bukti p-value

Dengan melihat nilai Sig. juga diperoleh kesimpulan yang sama yaitu H 0 ditolak,
karena Sig.< alpha.

3. Ilustrasi Gambar
x <- seq(0, 20, length.out=1000)
#Daerah Penolakan
plotDistr(x, dchisq(x, df=4), cdf=FALSE, legend=FALSE,xlab="x",
ylab="Density", main=paste("Ilustrasi Uji Chi-Square"),
region=list(c(qchisq(0.95,df=4), qchisq(1,df=4))),col="yellow")
par(new=T)
#luasan p-value
plotDistr(x, dchisq(x, df=4), cdf=FALSE, legend=FALSE,xlab="x",
ylab="Density", region=list(c(16.605, qchisq(1,df=4))),col="red")
Nilai Sig. jauh lebih
kecil dari alpha
Tugas: Dikumpulkan lewat aplikasi kulon.
1. Buatlah Tabel distribusi t, dengan input nilai alpha dan db maksimal yang ingin
ditampilkan. Cetaklah Hasilnya!
2. Buatlah grafik ilustrasi dari output uji hipotesis berikut: berilah kesimpulan dari
uji tersebut dengan menggunakan nilai Tabel t dengan alpha 5% dan buktikan
nilai p-value (Sig. 2 tailed). Kemudian berikan ilustrasinya dalam sebuah
gambar.

Paired Samples Test

Pair 1
SEBELUM - SESUDAH
Paired Differences Mean 2.60
Std. Deviation 3.471
Std. Error Mean
1.097
95% Confidence Interval Lower .12
of the Difference Upper 5.08
t 2.369
df 9
Sig. (2-tailed) .042

Anda mungkin juga menyukai