Anda di halaman 1dari 12

ANALISA TERKAIT VIDEO PRE CONFERENCE

(KELOMPOK 6 KELAS A)

Di Susun Oleh Kelompok 6 :

1. Deni Sukmahadi 7. Ikke Septyagusti


2. Eti Handayani 8. Iman Maulana
3. Evi Widiastuti 9. Isti Hanah
4. Filadelphia M 10. Khoerotunnisa
5. Frety Anggi 11. Kholifah Ulfi Sanah
6. Haidar Maulana M

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


STIKes BHAKTI MANDALA HUSADA SLAWI
Jl. Cut Nyak Dien Kalisapu, Slawi- Kab. Tegal

2020
ANALISA VIDEO PRE CONFERENCE

1. Analisis Video
Berdasarkan video yang sudah ditayangkan mengenai pre conference dari kelas A
kelompok 6, bahwa dalam video tersebut masih kurang jelas mengenai tugas dari
masing masing perawat yang melakukan pre conference dan ada beberapa poin
belum dilaksanakan sesuai standar pelaksanaan pre conference yang berlaku,
seperti:
1) Peran kepala ruangan di dalam video sudah cukup bagus dalam
melaksanakan pre conference seperti membuka acara, menyelesaikan konflik
yang ada serta menutup acara dengan baik. Namun ada beberapa poin yang
belum disampaikan kepala ruangan yaitu menanyakan rencana harian masing-
masing perawat pelaksana pada saat pre conference dimulai. Seharusnya kepala
ruangan menanyakan rencana harian masing masing perawat pelaksana sebelum
melakukan kegiatan dinasnya agar kegiatan asuhan keperawatan berjalan
dengan baik dan terencana.
2) Peran perawat pelaksana yang tidak menyampaikan kondisi pasien yang
terbaru untuk mencegah terjadinya kesalahan tindakan keperawatan yang akan
dilakukan. Seharusnya perawat pelaksana menyampaikan keluhan utama pasien
yang meliputi: TTV, kesadaran pasien, hasil pemeriksaan laboratorium atau
diagnostic terbaru, masalah keperawatan, rencana keperawatan hari ini,
perubahan keadaan terapi medis, dan rencana medis.

2. Pembahasan
1. Pre conference
Pre conference adalah komunikasi ketua tim dan perawat pelaksana setelah
selesai operan untuk rencana kegiatan pada shift tersebut yang dipimpin oleh
ketua tim atau penanggung jawab tim. Jika yang dinas pada tim tersebut hanya
satu orang maka pre conference ditiadakan. Isi pre conference adalah rencana
tiap perawat (rencana harian), dan tambahan rencana dari ketua tim dan atau
penanggung jawab tim (Modul MPKP, 2012).

Menurut Sitorus (2011), tujuan pre conference adalah membantu untuk


mengidentifikasi masalah-masalah pada saat merencanakan asuhan dan
merencanakan evaluasi hasil, mempersiapkan hal-hal yang akan ditemui di
lapangan, dan memberikan kesempatan untuk berdiskusi tentang keadaan
pasien.
Menurut modul (2012), langkah-langkah kegiatan pre conference yaitu:
1) Ketua tim atau Pj tim membuka acara
2) Ketua tim atau Pj tim menanyakan rencana harian masing-masing perawat
pelaksana
3) Ketua tim atau Pj memberikan masukan dan tindakan lanjut terkait
dengan asuhan yang diberikan saat itu
4) Ketua tim atau Pj tim memberikan reinforcement
5) Ketua tim atau Pj tim menutup acara
Menurut Gilles (2010), peran perawat pelaksana dalam melakukan pre conference
dapat menyampaikan hal-hal mengenai pasien diantaranya:
1) Keluhan utama pasien
2) Keluhan pasien
3) TTV dan kesadaran
4) Hasil pemeriksaan laboratorium atau diagnostic terbaru
5) Masalah keperawatan
6) Rencana keperawatan hari ini
7) Perubahan keadaan terapi medis
8) Rencana medis
2. Metode Tim
Model Tim merupakan suatu model pemberian asuhan keperawatan dimana
seorang perawat professional memimpin sekelompok tenaga keperawatan dalam
memberikan asuhan keperawatan pada sekelompok klien melalui upaya kooperatif
dan kolaboratif (Douglas, 1984).

Konsep model ini didasarkan kepada falsafah bawah sekelompok tenaga


keperawatan bekerja secara bersama-sama secara terkoordinasi dan kooperatif
sehingga dapat berfungsi secara menyeluruh dalam memberikan asuhan
keperawatan kepada setiap pasien.

Model Tim didasarkan pada keyakinan bahwa setiap anggota kelompok


mempunyai kontribusi dalam merencanakan dan memberikan asuhan keperawatan
sehingga timbul motivasi dan rasa tanggung jawab perawat yang tinggi, sehingga
setiap anggota tim merasakan kepuasan karena diakui kontribusinya di dalam
mencapai tujuan bersama yaitu mencapai kualitas asuhan keperawatan yang
bermutu.  Potensi setiap anggota tim saling komplementer menjadi satu kekuatan
yang dapat meningkatkan kemampuan kepemimpinan serta timbul rasa
kebersamaan dalam setiap upaya pemberian asuhan keperawatan, sehingga dapat
menghasilkan sikap moral yang tinggi.
a. Tujuan Metode Tim, yaitu:
1) Memfasilitasi pelayanan keperawatan yang komprehensif
2) Menerapkan penggunaan proses keperawatan sesuai standar
3) Menyatukan kemampuan anggota tim yang berbeda-beda
Menurut Kron & Gray (1987) pelaksanaan model tim harus berdasarkan konsep
berikut:
1) Ketua tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan tehnik
kepemimpinan.
2) Komunikasi yang efektif penting agar kontinuitas rencana keperawatan
terjamin.
3) Anggota tim menghargai kepemimpinan ketua tim.
4) Peran kepala ruang penting dalam model tim. Model tim akan berhasil baik
bila didukung oleh kepala ruang.

Metode ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda-beda dalam
memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien. Perawat ruangan
dibagi menjadi 2–4 tim/ group yang terdiri dari tenaga professional, tehnikal dan
pembantu dalam satu grup kecil yang saling membantu. Dalam penerapannya ada
kelebihan dan kelemahannya yaitu (Suyanto, 2010).
a) Kelebihan :
1) Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh.
2) Mendukung pelaksanakaan proses keperawatan.
3) Memungkinkan komunikasi antar tim sehingga konflik mudah diatasi
dan memberi kepuasan kepada anggota tim.
b) Kelemahan :
Komunikasi antar anggota tim terbentuk terutama dalam bentuk
konferensi tim, yang biasanya membutuhkan waktu dimana sulit untuk
melaksanakan pada waktu-waktu sibuk.

b. Tanggung Jawab Perawat Dalam Model Asuhan Keperawatan Profesional


(MAKP) Tim (Nursalam, 2017)
1) Tanggung jawab kepala ruangan
a) Perencanaan
(1) Menunjuk ketua tim yang akan bertugas di ruangan masing-
masing.
(2) Mengikuti serah terima pasien di shift sebelumnya.
(3) Mengidentifikasi tingkat ketergantungan klien: gawat, transisi
dan persiapan pulang bersama ketua tim.
(4) Mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan
berdasarkan aktifitas dan kebutuhan klien bersama ketua tim,
mengatur penugasan / penjadwalan.
(5) Merencanakan strategi pelaksanaan keperawatan.
(6) Mengikuti visite dokter untuk mengetahui kondisi,
patofisiologis, tindakan medis yang dilakukan, program
pengobatan dan mendiskusikan dengan dokter tentang
tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien.
(7) Mengatur dan mengendalikan asuhan keparawatan:
a) Membimbing pelaksanaan asuhan keperawatan.
b) Membimbing penerapan proses keperawatan dan menilai
asuhan keperawatan.
c) Mengadakan diskusi untuk pemecahan masalah.
d) Memberikan informasi kepada pasien atau keluarga yang
baru masuk RS.
e) Membantu mengembangkan niat pendidikan dan latihan
diri.
f) Membantu membimbing terhadap peserta didik
keperawatan.
g) Menjaga terwujudnya visi dan misi keperawatan di rumah
sakit.
b) Pengorganisasian
(1) Merumuskan metode penugasan yang digunakan
(2) Merumuskan tujuan metode penugasan.
(3) Membuat rincian tugas tim dan anggota tim secara jelas.
(4) Membuat rentang kendali kepala ruangan membawahi 2
ketua tim dan ketua tim membawahi 4-5 perawat.
(5) Mengatur dan mengendalikan logistik ruangan.
(6) Mengatur dan mengendalikan situasi tempat praktik.
(7) Mendelegasikan tugas kepala ruang tidak berada di tempat,
kepada ketua tim.
(8) Memberi wewenang kepada tata usaha untuk mengurus
administrasi pasien.
(9) Identifikasi masalah dan cara penanganannya.
c) Pengarahan
(1) Memberikan pengarahan tentang penugasan kepada ketua
tim.
(2) Memberikan pujian kepada anggota tim yang
melaksanakan tugas dengan baik.
(3) Memberikan motivasi dalam peningkatan pengetahuan,
keterampilan dan sikap.
(4) Menginformasikan hal – hal yang dianggap penting dan
berhubungan dengan asuhan keperawatan pasien.
(5) Melibatkan bawahan sejak awal hingga akhir kegiatan.
(6) Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan dalam
melaksanakan tugasnya.
(7) Meningkatkan kolaborasi dengan anggota tim lain.
d) Pengawasan
(1) Melalui komunikasi : mengawasi dan berkomunikasi
langsung dengan ketua tim dalam pelaksanaan mengenai
asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien.
(2) Melalui supervisi:
(a) Pengawasan langsung melalui inspeksi, mengamati
sendiri atau melalui laporan langsung secara lisan dan
memperbaiki / mengawasi kelemahannya yang ada
saat itu juga.
(b) Pengawasan tidak langsung yaitu mengecek daftar
hadir ketua tim, membaca dan memeriksa rencana
keperawatan serta catatan yang dibuat selama dan
sesudah proses keperawatan dilaksanakan
(didokumentasikan), mendengar laporan ketua tim
tentang pelaksanaan tugas.
(c) Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan
dengan rencana keperawatan yang telah disusun
bersama ketua tim.
(d) Audit keperawatan.

2) Tanggung Jawab Ketua Tim


a) Mengkaji setiap pasien dan menetapkan rencana keperawatan.
b) Mengkoordinasi rencana keperawatan dengan tindakan
medik.
c) Membagi tugas yang harus dilaksanakan oleh setiap anggota
tim dan memberikan bimbingan melaui pre atau post
conference.
d) Mengevaluasi asuhan keperawatan baik proses ataupun hasil
yang diharapkan serta mendokumentasikannya.
3) Tanggung Jawab Anggota Tim
a) Melaksanakan tugas berdasarkan rencana asuhan keperawatan
yang telah disusun.
b) Mencatat dengan jelas dan tepat asuhan keperawatan yang
telah diberikan berdasarkan respon pasien.
c) Berpartisipasi dalam setiap memberikan masukan untuk
meningkatkan asuhan keperawatan.
d) Menghargai bantuan dan bimbingan dari ketua tim.
Pelaksanaan model tim tidak dibatasi oleh suatu pedoman yang kaku.  Model tim
dapat diimplementasikan pada tugas pagi, sore, dan malam.  Apakah terdapat 2
atau 3 tim tergantung pada jumlah dan kebutuhan serta jumlah dan kualitas tenaga
keperawatan.  Umumnya satu tim terdiri dari 3-5 orang tenaga keperawatan untuk
10-20 pasien.

Berdasarkan hasil penelitian Lambertson seperti dikutip oleh Douglas (1984),


menunjukkan bahwa model tim bila dilakukan dengan benar merupakan model
asuhan keperawatan yang tepat dalam meningkatkan pemanfaatan tenaga
keperawatan yang bervariasi kemampuannya dalam memberikan asuhan
keperawatan.  Hal ini berarti bahwa model tim dilaksanakan dengan tepat pada
kondisi dimana kemampuan tenaga keperawatan bervariasi. Kegagalan penerapan
model ini, jika penerapan konsep tidak dilaksanakan secara menyeluruh/ total dan
tidak dilakukan pre atau post conference dalam sistem pemberian asuhan
keperawatan untuk pemecahan masalah yang dihadapi pasiendalam penentuan
strategi pemenuhan kebutuhan pasien.

GAMBAR SISTEM PEMBERIAN METODE TIM


DAFTAR  PUSTAKA

Douglas. (1984). Rinciples Of Language Learning And Teaching. Englewood Cliffs.


Prentice-Hall.

Gilles, Dee Ann. (2010). Manajemen Keperawatan. FKUI: Jakarta

Nursalam, (2017). Manajemen Keperawatan  : Aplikasi Dalam Praktik Keperawatan


Profesional. Salemba Medika: Jakarta.

Sitorus. (2011). Manajemen Keperawatan dengan pendekatan praktis, Edisi I.


Penerbit Erlangga: Jakarta

Suyanto. (2010). Mengenal Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatn di Rumah


Sakit. Jakarta : Mitra Cendikia Offset
Lampiran
STANDAR OPERASIONAL PELAKSANAAN
PRE CONFERENCE

Pengertian Pre conference adalah komunikasi ketua tim dan perawat


pelaksana setelah selesai operan untuk rencana kegiatan
pada shift tersebut yang dipimpin oleh ketua tim atau
penanggung jawab tim.
Tujuan 1. Membantu mengidentifikasi masalah-masalah pasien,
merencanakan asuhan dan merencanakan evaluasi
hasil
2. Mempersiapkan hal-hal yang akan ditemui di
lapangan
3. Memberikan kesempatan untuk berdiskusi tentang
keadaan pasien
Kebijakan 1. Pre conference dilaksanakan sebelum pemberian
asuhan keperawatan.
2. Waktu efektif yang diperlukan 10 atau 15 menit
3. Topik yang dibicarakan harus dibatasi, umumnya
tentang keadaan pasien, perencanaan tindakan
rencana dan data-data yang perlu ditambahkan
4. Yang terlibat dalam conference adalah kepala
ruangan, ketua tim dan anggota tim
Prosedur 1. Persiapan
a. Masing-masing tim menyiapkan tempat
pelaksanaan pre conference.
b. Masing-masing ketua tim sudah menjadwalkan
kegiatan pre conference
2. Pelaksanaan
a. Melakukan konferensi setiap hari segera setelah
dilakukan pergantian dinas pagi atau sore sesuai
dengan jadwal pelaksana.
b. Dipimpin oleh ketua tim atau penanggung jawab
tim
c. Konferensi dihadiri oleh ketua tim dan perawat
pelaksana
d. Menyampaikan perkembangan dan masalah pasien
berdasarkan hasil tindakan yang diberikan
e. Perawat pelaksana menyampaikan hal-hal meliputi
1) Keluhan pasien
2) TTV dan kesadaran pasien
3) Hasil pemeriksaan laboratorium atau diagnosis
terbaru
4) Masalah keperawatan
5) Rencana keperawatan hari ini
6) Perubahan keadaan terapi medis
7) Rencana medis
f. Ketua tim mendikusikan dan mengarahkan perawat
pelaksana tentang masalah yang terkait dengan
perawatan pasien yang meliputi :
1) Pasien yang terkait dengan pelayanan seperti :
keterlambatan, kesalahan pemberian makan,
kebisikan pengunjung lain, kehadiran dokter
yang dikonsulkan.
2) Ketepatan pemberian infuse
3) Ketepatan pemantauan asupan dan pengeluaran
cairan
4) Ketepatan pemberian obat / injeksi
5) Ketepatan pelaksanaan tindakan lain
6) Ketepatan dokumentasi
g. Mengingatkan kembali standar prosedur yang
ditetapkan.
h.  Mengingatkan kembali tentang kedisiplinan,
ketelitian, kejujuran dan kemajuan masing–masing
perawatan asosiet.
i. Membantu perawat pelaksana menyelesaikan
masalaah yang tidak dapat diselesaikan.
Unit terkait Ruang Rawat Inap