Anda di halaman 1dari 5

Analisis Putusan PTUN

Nomor 166/G/2015/PTUN-JKT

1) KASPOS
 Penggugat : NURAINUN, Kewarganegaraan Indonesia, Pekerjaan Ibu Rumah
Tangga, bertempat tinggal di Jalan STM No. 36, Kelurahan Sukamaju, Kecamatan
Medan Johor, Kota Medan
 Tergugat : DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI, berkedudukan di Jalan
Jenderal Ahmad Yani (By Pass) Jakarta Timur 13230

 Objek Gugatan:
Bahwa yang menjadi objek gugatan dalam perkara a quo, adalah tentang sikap diam
(fiktif-negative) Tergugat terhadap permohonan Penggugat No. 109/KU/UM/I/2015,
tanggal 6 Januari 2015, Perihal : Permohonan Surat Keputusan Pensiun atas nama
Sjamsul Bahri, selaku Pegawai Negeri Sipil pada Dirjen Bea dan Cukai R.I., Jabatan
terakhir Kepala Seksi Entrepot pada Kinsp tipe A2 Dirjen Bea Dan Cukai Pontianak,
Kalimantan Barat;

 Kepentingan Penggugat:
Bahwa penggugat adalah isteri dan Ahli Waris sah dari Alm. Sjamsul Bahri, dimana
memiliki kepentingan terhadap Surat Keputusan Pensiunan dari kedinasannya di
Kantor Bea dan Cukai dengan Jabatan terakhir selaku Kepala Seksi Entrepot pada
Kinsp Tipe A2 Dirjen Bea dan Cukai Pontianak, Kalimantan Barat. Bahwa sejak
tahun 1998 atau sudah lebih dari 16 (enam belas) tahun suami penggugat (Sjamsul
Bahri) meninggal dunia akan tetapi pihak Tergugat belum menerbitkan surat
keputusan pensiunan. Sjamsul Bahri tersebut. Bahkan hingga gugatan ini diajukan,
meskipun penggugat melalui markas besar L.V.R.I. Badan pimpinan harian Pusat
Korps Cacat Veteran R.I. Dengan surat No. 109/KU/UM/I/2015, tanggal 6 Januari
2015 telah meminta tergugat untuk menerbitkan surat keputusan pension an. Syamsul
Bahri (suami Penggugat) tersebut. Akan tetapi Tergugat tidak menanggapinya sama
sekali.;
Bahwa atas sikap diam (fiktif-negatif) tergugat tersebut sehingga berakibat Penggugat
selaku isteri dan ahli waris sah dari Alm. Syamsul Bahri mengalami kerugian
dikarenakan tidak dapat menerima, dana pensiun, tabungan dan asuransi Pegawai
Negeri (Taspen) serta uang koperasi atas nama Alm. Syamsul Bahri yang semula
selaku Pegawai Negeri Sipil pada kantor Bea dan Cukai dengan Jabatan terakhir
Kepala Seksi Entrepot pada Kinsp Tipe A2 Dirjen Bea dan Cukai Pontianak,
Kalimantan barat. Oleh karena itu penggugat, selaku isteri dan ahli waris dari Alm.
Sjamsul bahri sangat berkepentingan atas keputusan tergugat tersebut. Hal ini sesuai
ketentuan pasal 53 ayat (1) UU No.5 tahun 1986 jo. UU No.9 tahun 2004 jo. UU
No.51 tahun 2009 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara

 Uraian Singkat:
Penggugat selaku Isteri dan Ahli Waris Sjamsul Bahri mendatangi Kantor PT.
Taspen untuk mencairkan Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri Sipil an.
Sjamsul Bahri (Suami Penggugat). Akan tetapi pihak PT. Taspen tidak dapat
memenuhi permintaan Penggugat tersebut, dikarenakan Penggugat tidak dapat
memperlihatkan Surat Keputusan Pensiun dari Alm. Sjamsul Bahri. Dan atas petunjuk
pihak PT. Taspen Penggugat disarankan untuk mengurus SK Pensiun dari Alm.
Sjamsul Bahri tersebut kepada Dirjen Bea dan Cukai di Jakarta, tempat/Instansi
dimana Suami Penggugat (Sjamsul Bahri) dahulu bekerja.
Kemudian Penggugat pada tanggal 6 Januari 2015 melalui Markas Besar
L.V.R.l Badan Pimpinan Harian Pusat KORPS CACAD VETERAN R.I. telah
Mengajukan permohonan SK Pensiun an. Sjamsul Bahri kepada Tergugat dengan
surat No.109/KU/UM/I/2015 dan surat mana secara resmi telah diterima pihak
Tergugat pada tanggal 8 januari 2015, sebagaimana dimaksud dalam Tanda terima
tanggal 8 -01-2015 diterima oleh sdr. REZKY;
Akan tetapi hingga gugatan ini diajukan Tergugat tidak menanggapi surat
permohonan Penggugat tersebut yang meminta agar Tergugat menerbitkan Surat
Keputusan Pensiun an. Sjamsul Bahri (Suami Penggugat) dari PNS Dirjen Bea Dan
Cukai. Dan sikap diam (fiktif-negatif) Tergugat tersebut dianggap sebagai telah
mengeluarkan keputusan penolakan Tergugat atas surat permohonan Penggugat
tersebut, sebagaimana dimaksud ketentuan Pasal 3 ayat (1) dan (3) UU No.5 Tahun
1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara telah di ubah dengan UU No. 9 Tahun
2004 tentang Perubahan atas UU No. 5 Tahun 1986 dan UU No. 51 Tahun 2009
Tentang Perubahan kedua atas UU No.5 Tahun 1986
Bahwa keputusan penolakan Tergugat menerbitkan SK Pensiun an. Sjamsul
Bahri (suami Penggugat) eks. PNS pada Dirjen Bea Dan Cukai, adalah suatu
keputusan yang melanggar Azas-azas Umum Pemerintahan yang Baik (AUPB)
khususnya azas kepastian hukum, dimana permasalahan Penggugat dalam pengurusan
ke kantor PT. Taspen menjadi terkatung-katung tanpa adanya suatu kepastian hukum.
Dan hal ini sangat merugikan Penggugat.

2) PETITUM
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya;
2. Menyatakan Batal atau tidak sah Keputusan (Fiktif-negative) penolakan Tergugat
terhadap Surat Permohonan Penggugat No.109/KU/UM/I/2015, tanggal 6 Januari
2015, Perihal : Permohonan Surat Keputusan Pensiun atas nama Sjamsul Bahri, eks.
PNS Dirjen Bea dan Cukai R.I., Jabatan terakhir kepala seksi Entrepot pada kinsp
tipe A2 kalimantan barat, dengan Pangkat / Golongan Penata III/C, Eselon IV.a. ;
3. Memerintahkan Tergugat untuk menerbitkan Surat Keputusan Pensiun a.n. Sjamsul
Bahri, eks. PNS Dirjen Bea dan Cukai R.I., Jabatan terakhir kepala seksi Entrepot
pada kinsp tipe A2 kalimantan barat, dengan Pangkat / Golongan Penata III/C,
Eselon IV.a. ;
4. Membebankan Tergugat untuk membayar biaya perkara yang timbul dalam perkara
ini

3) PERTIMBANGAN HAKIM
Menimbang, bahwa Majelis Hakim telah melaksanakan Pemeriksaan Persiapan
dengan memanggil Kuasa Penggugat sebanyak 4 kali yaitu tanggal 19 Agustus 2015,
tanggal 26 Agustus 2015, tanggal 2 September 2015, tanggal 9 September 2015 .
Menimbang, bahwa pada tanggal 7 September 2015, Majelis Hakim telah
menerima surat dari Kuasa Penggugat Nomor : 005/Mdr/RP/VIII/2015, tanggal 29
Agustus 2015, perihal Mengundurkan Diri Selaku Kuasa Hukum, yang pada pokoknya
berisi mengenai pengunduran diri sebagai kuasa hukum atas diri Penggugat .
Menimbang, bahwa kemudian Majelis Hakim telah memanggil Penggugat Asal
pada tanggal 16 September 2015, akan tetapi Penggugat maupun kuasanya tidak pernah
hadir pada pemeriksaan persiapan tersebut .
Menimbang, bahwa ketentuan Pasal 71 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
menyatakan sebagai berikut :
(1) Dalam hal penggugat atau kuasanya tidak hadir di persidangan pada hari
pertama dan pada hari yang ditentukan dalam panggilan yang kedua tanpa
alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, meskipun setiap kali dipanggil
dengan patut, gugatan dinyatakan gugur dan penggugat harus membayar biaya
perkara.
(2) Dalam hal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) penggugat berhak
memasukkan gugatannya sekali lagi sesudah membayar uang muka biaya
perkara.
Menimbang, bahwa berdasarkan ketentuan tersebut diatas Majelis Hakim telah
memanggil Penggugat 5 (lima) kali berturut-turut dan Penggugat tidak hadir di
persidangan tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menimbang, bahwa dengan tidak dipenuhinya oleh Penggugat ketentuan Undang-
Undang sebagaimana tersebut diatas, maka Majelis Hakim menyatakan gugatan
Penggugat Gugur.
Menimbang, bahwa oleh karena gugatan Penggugat dinyatakan Gugur, maka
kepada Penggugat dibebankan untuk membayar biaya perkara yang timbul dalam perkara
ini.

4) AMAR PUTUSAN
MENGADILI:
1. Menyatakan gugatan Penggugat Gugur. ;
2. Menghukum Penggugat untuk membayar biaya Perkara yang timbul dalam sengketa
ini sebesar Rp. 309.500,- ( Tiga ratus sembilan ribu lima ratus rupiah ).

ANALISIS
Berdasarkan Amar putusan diatas, Majelis Hakim menyatakan gugatan Penggugat gugur
dikarenakan Penggugat maupaun Kuasanya tidak hadir di persidangan pada hari pertama
dan pada hari yang ditentukan dalam panggilan kedua tanpa alasan yang dapat
dipertanggungjawabkan, meskipun Majelis Hakim sudah memanggil Penggugat secara
patut. Saya setuju atau sependapat dengan putusan dan pertimbangan Majelis Hakim
dalam kasusu diatas. Terkait dengan gugatan Penggugat Gugur dalam acara peradilan
tata usaha negara berdasarkan ketentuan Pasal 71 Undang-Undang No.5 Tahun 1986
Tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang berbunyi;
(1) Dalam hal penggugat atau kuasanya tidak hadir di persidangan pada hari pertama
dan pada hari yang ditentukan dalam panggilan yang kedua tanpa alasan yang dapat
dipertanggungjawabkan, meskipun setiap kali dipanggil dengan patut, gugatan
dinyatakan gugur dan penggugat harus membayar biaya perkara.
(2) Dalam hal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) penggugat berhak memasukkan
gugatannya sekali lagi sesudah membayar uang muka biaya perkara.

Maka dapat diindetifikasikan pada ayat (1) yaitu Penggugat tidak memenuhi panggilan
Majelis Hakim tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Bahwa, Penggugat
tidak hadir di persidangan hari pertama pada tanggal 19 Agustus 2015 kemudian Hakim
telah menentukan hari pelaksanakan pemeriksaan persiapan dengan memanggil Kuasa
Penggugat di tanggal 26 Agustus 2015, 2 Sepetember 2015, dan 9 September 2015.
Kemudian bahwa pada tanggal 7 September Hakim menerima surat dari Kuasa
Penggugat mengenai pengunduran diri sebagai kuasa hukum dari Penggugat yang
tertanggal pada 29 Agustus 2015. Selanjutnya Hakim memanggil Penggugat kembali
pada tanggal 16 September 2015, akan tetapi Penggugat tidak juga hadir tanpa memberi
alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga disimpulkan bahwa Penggugat dan
Kuasanya tidak memenuhi panggilan dari Majelis Hakim sebanyak 5 (lima) kali secara
berturut-turut.
Dan jika diidentifikasikan dalam ayat (2), Penggugat tidak mengajukan gugatannya
sekali lagi.
Oleh karena hal itu, berdasarkan ketentuan Pasal 71 Undang-Undang No.5 Tahun 1986
PERATUN sudah selayaknya Majelis Hakim mengambil sikap dengan menyatakan
bahwa gugatan Penggugat Gugur dan menghukum Penggugat untuk membayar biaya
perkara yang ditentukan.

Anda mungkin juga menyukai