Anda di halaman 1dari 7

ASKEP DEWASA DAN LANSIA

2.1    Definisi Lanjut Usia


Menurut UU no 4 tahun 1945 Lansia adalah seseorang yang mencapai umur 55 tahun,
tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima
nafkah dari orang lain (Wahyudi, 2000).
Proses menua merupakan proses yang terus menerus (berlanjut) secara alamiah dimulai
sejak lahir dan umumnya dialami pada semua makhluk hidup (Nugroho Wahyudi, 2000).
Menurut WHO, batasan lansia meliputi:
1)    Usia Pertengahan (Middle Age), adalah usia antara 45-59 tahun
2)    Usia Lanjut (Elderly), adalah usia antara 60-74 tahun
3)    Usia Lanjut Tua (Old), adalah usia antara 75-90 tahun
4)    Usia Sangat Tua (Very Old), adalah usia 90 tahun keatas
2.2    Kegiatan Asuhan Keperawatan Dasar Bagi Lansia
Kegiatan asuhan keperawatan dasar bagi lansia menurut Depkes, dimaksudkan untuk
memberikan bantuan, bimbingan pengawasan, perlindungan dan pertolongan kepada lanjut
usia secara individu maupun kelompok, seperti di rumah / lingkungan keluarga, Panti Werda
maupun Puskesmas, yang diberikan oleh perawat. Untuk asuhan keperawatan yang masih
dapat dilakukan oleh anggota keluarga atau petugas sosial yang bukan tenaga keperawatan,
diperlukan latihan sebelumnya atau bimbingan langsung pada waktu tenaga keperawatan
melakukan asuhan keperawatan di rumah atau panti.
Adapun asuhan keperawatan dasar yang diberikan, disesuaikan pada kelompok lanjut
usia, apakah lanjut usia aktif atau pasif, antara lain:
a.         Untuk lanjut usia yang masih aktif, asuhan keperawatan dapat berupa dukungan tentang
personal hygiene: kebersihan gigi dan mulut atau pembersihan gigi palsu: kebersihan diri
termasuk kepala, rambut, badan, kuku, mata serta telinga: kebersihan lingkungan seperti
tempat tidur dan ruangan : makanan yang sesuai, misalnya porsi kecil bergizi, bervariai dan
mudah dicerna, dan kesegaran jasmani.
b.         Untuk lanjut usia yang mengalami pasif, yang tergantung pada orang lain. Hal yang perlu
diperhatikan dalam memberikan asuhan keperawatan pada lanjut usia pasif pada dasarnya
sama seperti pada lanjut usia aktif, dengan bantuan penuh oleh anggota keluarga atau
petugas. Khususnya bagi yang lumpuh, perlu dicegah agar tidak terjadi dekubitus (lecet).

2.3    Pendekatan Keperawatan Lanjut Usia


a.       Pendekatan fisik
Perawatan yang memperhatikan kesehatan obyektif, kebutuhan, kejadian-kejadian yang
dialami klien lanjut usia semasa hidupnya, perubahan fisik pada organ tubuh, tingkat
kesehatan yang masih bias di capai dan dikembangkan, dan penyakit yang yang dapat
dicegah atau ditekan progresifitasnya. Perawatan fisik secara umum bagi klien lanjut usia
dapat dibagi atas dua bagian yaitu :
1)   Klien lanjut usia yang masih aktif, yang keadaan fisiknya masih mampu bergerak tanpa
bantuan orang lain sehingga untuk kebutuhannya sehari-hari masih mampu melakukan
sendiri.
2)   Klien lanjut usia yang pasif atau yang tidak dapat bangun, yang keadaan fisiknya mengalami
kelumpuhan atau sakit. Perawat harus mengetahui dasar perawatan klien usia lanjut ini
terutama tentang hal-hal yang berhubungan dengan keberhasilan perorangan untuk
mempertahankan kesehatannya.
Perawat perlu mengadakan pemeriksaan kesehatan, hal ini harus dilakukan kepada klien
lanjut usia yang diduga menderita penyakit tertentu atau secara berkala bila memperlihatkan
kelainan, misalnya: batuk, pilek, dsb. Perawat perlu memberikan penjelasan dan penyuluhan
kesehatan, Perawat harus mendekatkan diri dengan klien lanjut usia membimbing dengan
sabar dan ramah. Sentuhan (misalnya genggaman tangan) terkadang sangat berarti buat
mereka.
b.      Pendekatan psikis
Dalam pendekatan psikis, perawat mempunyai peranan penting untuk mengadakan
pendekatan edukatif pada klien lanjut usia, perawat dapat berperan sebagai supporter ,
interpreter terhadap segala sesuatu yang asing, sebagai penampung rahasia yang pribadi dan
sebagai sahabat yang akrab. Perawat hendaknya memiliki kesabaran dan ketelitian dalam
memberikan kesempatan dan waktu yang cukup banyak untuk menerima berbagai bentuk
keluhan agar para lanjut usia merasa puas. Perawat harus selalu memegang prinsip ”
Tripple”, yaitu sabar, simpatik dan service.
Pada dasarnya klien lanjut usia membutuhkan rasa aman dan cinta kasih sayang dari
lingkungan, termasuk perawat yang memberikan perawatan.. Untuk itu perawat harus selalu
menciptakan suasana yang aman , tidak gaduh, membiarkan mereka melakukan kegiatan
dalam batas kemampuan dan hobi yang dimilikinya.
Bila perawat ingin merubah tingkah laku dan pandangan mereka terhadap kesehatan,
perawat bisa melakukannya secara perlahan –lahan dan bertahap, perawat harus dapat
mendukung mental mereka kearah pemuasan pribadi sehinga seluruh pengalaman yang
dilaluinya tidak menambah beban, bila perlu diusahakan agar di masa lanjut usia ini mereka
puas dan bahagia.

c.       Pendekatan sosial
Mengadakan diskusi, tukar pikiran, dan bercerita merupakan salah satu upaya perawat
dalam pendekatan social. Memberi kesempatan untuk berkumpul bersama dengan sesama
klien usia berarti menciptakan sosialisasi mereka. Jadi pendekatan social ini merupakan suatu
pegangan bagi perawat bahwa orang yang dihadapinya adalah makhluk sosial yang
membutuhkan orang lain
Tidak jarang terjadi pertengkaran dan perkelahian diantara lanjut usia, hal ini dapat
diatasi dengan berbagai cara yaitu mengadakan hak dan kewajiban bersama. Dengan
demikian perawat tetap mempunyai hubungan komunikasi baik sesama mereka maupun
terhadap petugas yang secara langsung berkaitan dengan pelayanan kesejahteraan sosial bagi
lanjut usia di Panti Werda.
d.      Pendekatan spiritual
Perawat harus bisa memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam hubungannya
dengan Tuhan atau agama yang dianutnya dalam kedaan sakit atau mendeteksi kematian.
Sehubungan dengan pendekatan spiritual bagi klien lanjut usia yang menghadapi
kematian, Dr. Tony setyobudi mengemukakan bahwa maut sering kali menggugah rasa takut.
Rasa semacam ini didasari oleh berbagai macam factor, seperti ketidakpastian akan
pengalaman selanjutnya, adanya rasa sakit dan kegelisahan kumpul lagi dengan kelurga dan
lingkungan sekitarnya. Dalam menghadapi kematian setiap klien lanjut usia akan
memberikan reaksi yang berbeda, tergantung dari kepribadian dan cara dalam mengahadapi
hidup ini. Adapun kegelisahan yang timbul diakibatkan oleh persoalan keluarga perawat
harus dapat meyakinkan lanjut usia bahwa kalaupun kelurga tadi di tinggalkan , masih ada
orang lain yang mengurus mereka. Sedangkan rasa bersalah selalu menghantui pikiran lanjut
usia.
Umumnya pada waktu kematian akan datang agama atau kepercayaan seseorang
merupakan factor yang penting sekali. Pada waktu inilah kelahiran seorang iman sangat perlu
untuk melapangkan dada klien lanjut usia.
Dengan demikian pendekatan perawat pada klien lanjut usia bukan hanya terhadap fisik
saja, melainkan perawat lebih dituntut menemukan pribadi klien lanjut usia melalui agama
mereka.

2.4    Tujuan Asuhan Keperawatan Lanjut Usia


Adapun tujuan memberikan asuhan keperawatan pada lanjut usia yaitu,  :
a.       Agar lanjut usia dapat melakukan kegiatan sehari–hari secara mandiri dengan peningkatan
kesehatan (Health Promotion), pencegahan penyakit, pemeliharaan kesehatan. Sehingga
memiliki ketenengan hidup dan produktif sapai akhir hidup.
b.      Mempertahankan kesehatan serta kemampuan dari mereka yang usianya telah lanjut dengan
jalan perawatan dan pencegahan.
c.       Membantu mempertahankan serta membesarkan daya hidup atau semangathidup klien
lanjut usia (Life Support ).
d.      Menolong dan merawat klien lanjut usia yang menderita penyakit / mengalami  gangguan
tertentu ( kronis maupun akut ).
e.       Merangsang para petugas kesehatan ( dokter, perawat )untuk dapat mengenal dan
menegakkan diagnosa yang tepat dan dini, bila mereka menjumpai suatu kelainan tertent.
f.       Mencari upaya semaksimal mungkin, agar para klien lanjut usia yang menderita suatu
penyakit / gangguan, masih dapat mempertahankan kebebasan yang maksimal tanpa perlu
suatu pertolongan (Memelihara kemandirian secara maksimal ).

2.5    Fokus Asuhan Keperawatan Lanjut Usia


Keperawatan lanjut usia berfokus pada :
a.       Peningkatan kesehatan (helth promotion)
b.      Pencegahan penyakit (preventif)
c.       Mengoptimalkan fungsi mental
d.      Mengatasi gangguan kesehatan yang umum.

2.6    Konsep Asuhan Keperawatan Lanjut Usia


2.6.1 Pengkajian
a.    Tujuan dalam pengkajian :
1)   Menentukan kemampuan klien untuk memelihara diri sendiri.
2)   Melengkapi dasar – dasar rencana perawatan individu.
3)   Membantu menghindarkan bentuk dan penandaan klien.
4)   Memberi waktu kepada klien untuk menjawab.
b.    Pengkajiam tersebut meliputi aspek :
1)   Fisik
Wawancara :
a)   Pandangan lanjut usia tentang kesehatan.
b)   Kegiatan yang mampu di lakukan lanjut usia.
c)   Kebiasaan lanjut usia merawat diri sendiri.
d)  Kekuatan fisik lanjut usia : otot, sendi, penglihatan, dan pndengaran.
e)   Kebiasaan makan, minum, istirahat/tidur, BAB/BAK.
f)    Kebiasaan gerak badan / olahraga /senam lanjut usia.
g)   Perubahan-perubahan fungsi tubuh yang sangat bermakna dirasakan.
h)   Kebiasaan lanjut usia dalam memelihara kesehatan dan kebiasaan dalam minum obat.
i)     Masalah-masalah seksual yang telah di rasakan.

Pemeriksaan fisik :
a)   Pemeriksanaan di lakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi untuk
mengetahui perubahan sistem tubuh.
b)   Pendekatan yang di gunakan dalam pemeriksanaan fisik,yaitu : Head to toe dan Sistem
tubuh

2)   Psikologis
a)    Bagaimana sikapnya terhadap proses penuaan.
b)   Apakah dirinya merasa di butuhkan atau tidak.
c)    Apakah optimis dalam memandang suatu kehidupan.
d)   Bagaimana mengatasi stress yang di alami.
e)    Apakah mudah dalam menyesuaikan diri.
f)    Apakah lanjut usia sering mengalami kegagalan.
g)   Apakah harapan pada saat ini dan akan datang.
h)   Perlu di kaji juga mengenai fungsi kognitif: daya ingat, proses pikir, alam perasaan,
orientasi, dan kemampuan dalam penyelesaikan masalah.

3)   Sosial ekonomi
a)    Darimana sumber keuangan lanjut usia
b)   Apa saja kesibukan lanjut usia dalam mengisi waktu luang.
c)    Dengan siapa dia tinggal.
d)   Kegiatan organisasi apa yang di ikuti lanjut usia.
e)    Bagaimana pandangan lanjut usia terhadap lingkungannya.
f)    Berapa sering lanjut usia berhubungan dengan orang lain di luar rumah.
g)   Siapa saja yang bisa mengunjungi.
h)   Seberapa besar ketergantungannya.
i)     Apakah dapat menyalurkan hoby atau keinginannya dengan fasilitas yang ada

4)   Spiritual
a)    Apakah secara teratur malakukan ibadah sesuai dengan keyakinan agamanya.
b)   Apakah secara teratur mengikuti atau terlibat aktif dalam kegiatan keagamaan, misalnya
pengajian dan penyantunan anak yatim atau fakir miskin.
c)    Bagaimana cara lanjut usia menyelesaikan masalah apakah dengan berdoa.
d)   Apakah lanjut usia terlihat tabah dan tawakal.

2.6.2 Diagnosa Keperawatan


Diagnose keperawatan adalah keputusan klinis mengenai seeorang, keluarga, atau
masyarakat sebagai akibat dari masalah kesehatan atau proses kehidupan yang actual dan
potensial ( NANDA,1990 ), Diaognose keperawatan memberikan dasar pemilihan intervensi
yang menjadi tanggung gugat perawat. Perumusan diagnose keperawatan adalah bagaimana
diagnose keperawatan digunakan dalam proses pemecahan masalah. Melalui identifikasi,
dapat digambarkan berbagai masalah keperawatan yang membutuhkan asuhan keperawatan.
Disamping itu, dengan menentukan atau menyelidiki etiologi masalah, akan dapat dijumpai
factor yang menjadi kendala atau penyebab. Dengan menggambarkan tanda dan gejala, akan
memperkuat masalah yang ada. Dokumentasi keperawatan merupakan catatan tentang
penilaian klinis dari respons individu, keluarga, atau komunitas terhadap masalah kesehatan
atau proses kehidupan baik actual maupun potensial.
Untuk memudahkan dalam mendokumentasikan proses keperawatan, harus diketahui
beberapa tipe diagnose keperawatan. Tipe diagnose keperawatan meliputi tipe actual, risiko,
kemungkinan, sehat dan sejahtera, dan sindroma.
Dari hasil pengkajian dapat dianalisa / disimpulkan, dirumuskan masalah atau diagnosa
keperawatan yang mungkin timbul pada lansia. Beberapa masalah keperawatan yang umum
ditemukan pada lansia antara lain:
a.         Fisik / Biologi
1)   Gangguan nutrisi : kurang / berlebihan dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
pemasukan yang tidak adekuat.
2)   Gangguan persepsi sensorik : pendengaran, penglihatan sehubungan dengan hambatan
penerimaan dan pengiriman rangsangan.
3)   Kurangnya perawatan diri sehubungan dengan penurunan minat dalam merawat diri.
4)   Gangguan pola tidur berhubungan dengan kecemasan atau nyeri.
5)   Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan penyempitan jalan nafas atau adanya sekret
pada jalan nafas.

b.         Psikososial
1)   Isolasi sosial berhubungan dengan perasaan curiga.
2)    Menarik diri dari lingkungan berhubungan dengan perasaan tidak mampu.
3)   Depresi berhubungan dengan isolasi sosial.
4)   Harga diri rendah berhubungan dengan perasaan ditolak.
5)   Coping tidak adekuat berhubungan dengan ketidakmampuan mengemukakan pendapat
secara tepat.
6)   Cemas berhubungan dengan sumber keuangan yang terbatas.

c.         Spiritual
1)   Reaksi berkabung / berduka berhubungan dengan ditinggal pasangan.
2)   Penolakan terhadap proses penuaan berhubungan dengan ketidaksiapan menghadapi
kematian.
3)   Marah terhadap Tuhan berhubungan dengan kegagalan yang dialami.
4)   Perasaan tidak tenang berhubungan dengan ketidakmampuan melakukan ibadah secara tepat

2.6.3 Perencanaan
Dalam perencanaan keperawatan, hal-hal yang perlu diperhatikan meliputi:
a.    Melibatkan klien dan keluarganya dalam perencanaan.
b.    Bekerja sama dengan profesi kesehatan lainnya.
c.    Tentukan prioritas :
1)   Klien mungkin puas dengan situasi demikian.
2)   Bangkitkan perubahan tetapi jangan memaksakan.
3)   Keamanan atau rasa aman adalah utama yang merupakan kebutuhan.
d.   Cegah timbulnya masalah-masalah.
e.    Sediakan klien cukup waktu untuk mendapat input atau pemasukan.
f.     Tulis semua rencana dan jadwal
Sesuai dengan permasalahan yang dialami lansia disusun perencanaan dengan tujuan agar
lansia / keluarga dan tenaga kesehatan terutama perawat baik yang melakukan perawatan di
rumah maupun dipanti dapat membantu lansia, sehingga dapat berfungsi seoptimal mungkin
sesuai dengan kemampuan dan kondisi fisik, psikologis dan sosial dengan tidak tergantung
pada orang lain.
Tujuan tindakan keperawatan pada lansia diarahkan untuk pemenuhan kebutuhan dasar
antara lain :
a.    Pemenuhan kebutuhan nutrisi.
b.    Meningkatnya keamanan dan keselamatan.
c.    Memelihara kebersihan diri.
d.   Memelihara keseimbangan istirahat / tidur.
e.    Meningkatkan hubungan interpersonal melalui komunikasi yang efektif.
   2.6.4 Implementasi
Semua tindakan yang telah direncanakan dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan lansia.
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
a.    Berbicara dengan lembut dan sopan.
b.    Memberikan penjelasan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan dilakukan berulan kali,
jika perlu dengan gambar.
c.    Memberikan kesempatan pada lansia untuk bertanya.
2.6.5 Evaluasi
Setiap tindakan yang telah dilakukan perlu dievaluasi / dinilai baik verbal maupun non
verbal untuk mengetahui sejauh mana lansia atau keluarga mampu melakukan apa yang telah
dianjurkan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kegiatan asuhan keperawatan dasar bagi lansia dimaksudkan untuk memberikan
bantuan, bimbingan pengawasan, perlindungan dan pertolongan kepada lanjut usia secara
individu maupun kelompok, seperti di rumah / lingkungan keluarga, Panti Werda maupun
Puskesmas, yang diberikan oleh perawat.
Dalam keperawatan lanjut usia diperlukan pendekatan baik fisik, psikis, social maupun
spiritual. Keperawatan lanjut usia berfokus pada peningkatan kesehatan (helth promotion),
pencegahan penyakit (preventif), mengoptimalkan fungsi mental, dan mengatasi gangguan
kesehatan yang umum.
3.2 Saran
Adapun saran yang dapat kelompok sampaikan bagi pembaca khususnya mahasiswa/i
keperawatan, hendaknya dapat menguasai konsep asuhan keperawatan lansia dan
memberikan asuhan keperawatan lansia dengan benar dan tepat sehingga dapat sesuai dengan
evaluasi yang diharapkan.