Anda di halaman 1dari 1

Pelayanan kesehatan dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menggunakan mekanisme

rujukan berjenjang mulai dari fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) sampai fasilitas kesehatan
tingkat lanjutan (FKRTL). Dalam JKN, posisi FKTP penting karena terdepan dalam melayani peserta.
Namun, hampir tiga tahun Kesehatan berjalan, peran FKTP belum optimal.

Kemampuan FKTP yang belum merata di seluruh Indonesia membuat pelayanan yang diberikan kepada
peserta JKN masih mengalami disparitas. Standar dan sarana prasarana yang dimiliki setiap FKTP
berbeda-beda. Padahal, dalam program JKN, dituntut mampu menangani paling sedikit 144 diagnosis
penyakit. Sebagian FKTP mampu menjalani tugasnya dengan baik, tapi tidak sedikit pula yang tidak bisa
menunaikannya. (Baca juga: ).

Begitulah sebagian penjelasan anggota DJSN, Usman Sumantri, melihat FKTP yang saat ini memberi
pelayanan kepada peserta JKN. Per Desember 2015 tercatat jumlah Puskesmas 9.740 unit. Tapi tidak
semua Puskesmas itu memiliki tenaga kesehatan – dokter umum, dokter gigi, perawat, bidan, dan
tenaga kefarmasian-- yang lengkap sebagaimana diatur Permenkes No.75 Tahun 2014 tentang
Puskesmas. (Baca: ).

Mengingat peran FKTP sangat penting dalam program JKN, Usman mengusulkan kepada pemerintah
terutama Kementerian Kesehatan untuk membenahi dan memperkuat FKTP. Sebab 70 persen pelayanan
kesehatan bisa diselesaikan di tingkat FKTP. Usman mencatat setidaknya tiga hal yang bisa dilakukan
pemerintah untuk membenahi FKTP.

, menaikan besaran kapitasi yang dibayar BPJS Kesehatan kepada FKTP. Usman mencatat saat ini kapitasi
yang dibayar BPJS Kesehatan kepada FKTP bisa mencapai Rp10 ribu per peserta setiap bulan. Biasanya,
satu FKTP menangani lebih dari 2.500 orang peserta dalam satu wilayah.