Anda di halaman 1dari 8

BAPEPAM DAN AKUNTAN PUBLIK

TUGAS MATA KULIAH PENGAUDITAN II

OLEH :

MUH ADNANDA SUWARSYAH FIQRIH (A031171505)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2020
STRUKTUR BAPEPAM
Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (disingkat BAPEPAM-LK)
adalah sebuah lembaga di bawah Kementerian Keuangan Indonesia yang bertugas membina,
mengatur, dan mengawasi kegiatan sehari-hari pasar modal serta merumuskan dan
melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang lembaga keuangan. BAPEPAM-
LK merupakan penggabungan dari Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) dan
Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan. Saat ini, BAPEPAM-LK digantikan oleh Otoritas
Jasa Keuangan (OJK) sejak berlakunya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21
Tahun 2011. Tujuan BAPEPAM adalah mewujudkan kegiatan pasar modal yang terarur,
wajar, dan efisien, serta melindungi kepentingan pemodal dan masyarakat di Indonesia.
Wewenang BAPEPAM diantaranya:
 Memberikan izin, persetujuan, dan pendaftaran kepada para pelaku pasar modal.
 Memproses pendaftaran dalam rangka penawaran umum.
 Menerbitkan peraturan pelaksanaan dari perundang-undangan di bidang pasar modal.
 Melakukan penegakan hukum atas setiap pelanggaran terhadap peraturan perundang-
undangan di bidang pasar modal.
 Membina pasar modal.
 Mengatur pasar modal.
 Mengawasi kegiatan-kegiatan yang terjadi di pasar modal.

Dalam melaksanakan tugas tersebut BAPEPAM dan Lembaga Keuangan


menyelenggarakan fungsi sebagai berikut :
 Penyusunan dan penegakan peraturan di bidang pasar modal primer dan sekunder
 Penegakan peraturan di bidang pasar modal;
 Pembinaan dan pengawasan terhadap pihak yang memperoleh izin usaha, persetujuan,
pendaftaran dari Badan dan pihak lain yang bergerak di pasar modal;
 Penetapan prinsip-prinsip keterbukaan perusahaan bagi Emiten dan Perusahaan Publik;
 Penyelesaian keberatan yang diajukan oleh pihak yang dikenakan sanksi oleh Bursa Efek,
Kliring dan Penjaminan, dan Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian;
 Penetapan ketentuan akuntansi di bidang pasar modal;
 Penyiapan perumusan kebijakan di bidang lembaga keuangan;
 Pelaksanaan kebijakan di bidang lembaga keuangan, sesuai dengan ketentuan perundang-
undangan yang berlaku;
 Perumusan standar, norma, pedoman kriteria dan prosedur di bidang lembaga keuangan;
 Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang lembaga keuangan;
 Pelaksanaan tata usaha Badan.

BAPEPAM dan Lembaga Keuangan terdiri dari 1 Ketua Badan dan membawahi 1
Sekretariat dan 12 Biro Teknis, di mana lingkup pembinaan dan pengawasan meliputi aspek
pasar modal, dana pensiun, perasuransian, perbankan dan usaha jasa pembiayaan serta modal
ventura.
 Sekretariat Badan, mempunyai tugas melaksanakan koordinasi pelaksanaan tugas serta
pembinaan dan pemberian dukungan administrasi kepada semua unsur di lingkungan
Badan.
 Biro Pengelolaan Investasi, bertugas melaksanakan pengembangan dan pengaturan
pengelolaan investasi, pemrosesan izin usaha, pernyataan pendaftaran dan ijin orang
perseorangan, membina dan mengawasi Pengelola Investasi, Manajer Investasi, Wakil
Manajer Investasi, dan Penasihat Investasi.
 Biro Transaksi dan Lembaga Efek, bertugas melaksanakan pemrosesan perijinan dan
persetujuan, pembinaan, pengawasan, dan pemeriksaan Bursa Efek, Lembaga Kliring dan
Penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, Biro Administrasi Efek,
Kustodian, Penjamin Emisi Efek, Perantara Pedagang Efek, Wakil Perantara Pedagang
Efek, Wakil Penjamin Emisi Efek, dan pengawasan transaksi Efek, serta Pengawasan
Perdagangan Surat Utang Negara.
 Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa, bertugas melaksanakan penelaahan
dan pemantauan keterbukaan Emiten dan Perusahaan Publik yang bergerak di sektor jasa.
 Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Riil, bertugas melaksanakan penelaahan,
dan pemantauan keterbukaan Emiten dan Perusahaan Publik yang bergerak di sektor riil.
 Biro Standar Akuntansi dan Keterbukaan, bertugas melaksanakan penyusunan dan
pengembangan standar akuntansi, standar pemeriksaan akuntansi, standar penilaian di
bidang pasar modal, standar tata kelola perusahaan, penelaahan dan penyusunan
peraturan perundang-undangan penilaian keuangan perusahaan, pengumpulan dan
analisis data dalam rangka pengembangan akuntansi dan keterbukaan, pembinaan,
pengawasan dan inspeksi profesi Akuntan dan Penilai; Pemeringkat Efek; dan Wali
Amanat yang melakukan kegiatan di pasar modal serta pengembangan pasar modal
Syariah.
 Biro Kepatuhan Internal, bertugas melaksanakan penelaahan dan penilaian kepatuhan
pelaksanaan tugas sekretariat dan biro di lingkungan BAPEPAM dan LK, serta
pemberian rekomendasi peningkatan pelaksanaan tugas.
 Biro Perundang-undangan dan Bantuan Hukum, mempunyai tugas melaksanakan
penyusunan peraturan, penetapan sanksi, penanganan keberatan, pemberian bantuan
hukum, pemberian bantuan dalam penyelesaian masalah antara pihak tanpa melalui jalur
hukum, melakukan litigasi, pemberian pertimbangan, saran, dan pendapat hukum di
bidang Pasar Modal dan Lembaga Keuangan serta pembinaan dan pengawasan profesi
hukum yang melakukan kegiatan di bidang Pasar Modal.
 Biro Riset dan Teknologi Informasi, mempunyai tugas melaksanakan kegiatan riset dan
pemanfaatan teknologi informasi dalam upaya pengembangan di bidang pasar modal dan
lembaga keuangan.
 Biro Pemeriksaan dan Penyidikan, bertugas menegakkan hukum di bidang transaksi
dan lembaga Efek, Pengelolaan Investasi, Keterbukaan Emiten, dan Perusahaan Publik
serta melakukan kerjasama dengan pihak-pihak yang terkait dalam rangka penegakan
hukum
 Biro Pembiayaan dan Penjaminan, bertugas menyiapkan perumusan kebijakan,
standardisasi, evaluasi, pelaksanaan dan pengawasan di bidang lembaga pembiayaan dan
lembaga penjaminan.
 Biro Perasuransian, bertugas menyiapkan perumusan kebijakan standardisasi dan
bimbingan teknis, evaluasi serta pelaksanaan pengawasan di bidang perasuransian,
termasuk program Tabungan Hari Tua dan Asuransi Kesehatan bagi Pegawai Negeri Sipil
dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
 Biro Dana Pensiun, bertugas menyiapkan perumusan kebijakan, standardisasi,
bimbingan teknis, pelaksanaan dan evaluasi pengawasan dana pensiun, melaksanakan
analisis, evaluasi dan pelaporan atas pengelolaan dana program pensiun Pegawai Negeri
Sipil, dan melakukan pembinaan lembaga penunjang dana pensiun.

Kualifikasi dan Registrasi Akuntan Publik di BAPEPAM


Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) adalah suatu badan pemerintah yang
menangani pasar modal, dibentuk guna membantu para investor untuk mendapatkan informasi
andaluntuk membuat keputusan investasi. Untuk itu, Undang-undang No.15/1952 tentang
Bursa yang dijabarkan lebih lanjut oleh Keppres No.53/1990 tentang pasar modal dan
Keputusan Menteri Keuangan No.1548/1990 tentang pasar modal, mewajibkan perusahaan
(emiten) yang bermaksud menerbitkan efek-efek ke masyarakat untuk mengajukan
permohonan kepada BAPEPAM untuk memperoleh persetujuan. Emiten juga diwajibkan
untuk menyampaikan laporan tahunan rinci kepada BAPEPAM. Untuk itu akuntan publik
harus memperhatikan sejumlah laporan khusus yang disyaratkan oleh ketentuan BAPEPAM.
Laporan terpenting diantaranya :
 Surat Pengantar untuk Pernyataan Pendaftaran dalam Rangka Penawaran Umum.
Formulir ini harus diisi dan diserahkan kepada BAPEPAM apabila suatu perusahaan
bermaksud untuk penawaran umum kepada masyarakat.
 Laporan keterbukaan Informasi. Laporan ini disampaikan paling lambat akhir hari
kerja kedua setelah keputusan atau terjadinya suatu peristiwa, keterangan penting dan
relevan yang mungkin dapat mempengaruhi nilai efek perusahaan atau keputusan
investasi pemodal. Peristiwa tersebut meliputi akuisisi atau penjualan suatu perusahaan
anak, perubahan susunan direksi, penambahan lini / jenis produk yang baru, pergantian
auditor dan sebagainya.
 Laporan Tahunan. Laporan ini harus disampaikan setiap tahun dalam waktu 120 hari
setelah penutupan tahun buku. Dalam laporan ini dimuat informasi keuangan yang
lengkap dan terinci, termasuk laporan keuangan yang telah diaudit.
 Laporan Kuartalan. Laporan kuartalan harus disampaikan oleh semua perusahaan
publik. Laporan ini berisi informasi keuangan tertentu yang disyaratkan oleh BAPEPAM.

Keterkaitan BAPEPAM dengan Auditor Independen


Independensi adalah keadaan bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain,
tidak tergantung pada orang lain. Berikut tiga aspek independensi seorang auditor.
 Independensi dalam Fakta (Independence in fact) : Artinya auditor harus mempunyai
kejujuran yang tinggi, keterkaitan yang erat dengan objektivitas.
 Independensi dalam Penampilan (Independence in appearance) : Artinya pandangan
pihak lain terhadap diri auditor sehubungan dengan pelaksanaan audit.
 Independensi dari sudut Keahliannya (Independence in competence) : Independensi dari
sudut pandang keahlian terkait erat dengan kecakapan profesional auditor.

Tujuan audit atas laporan keuangan oleh auditor independen pada umumnya adalah
untuk menyatakan pendapat tentang kewajaran, dalam semua hal yang material, posisi
keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum di Indonesia. Standar auditing yang ditetapkan Institut Akuntan Indonesia
mengharuskan auditor menyatakan apakah, menurut pendapatnya, laporan keuangan disajikan
sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia dan jika ada, menunjukkan
adanya ketidak konsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan
periode berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode
sebelumnya.

Tanggung Jawab Akuntan Publik Terhadap BAPEPAM


Tanggung jawab Akuntan Publik berdasarkan PMK No. 17 Tahun 2008 pasal 44 ayat
(1) menyatakan akuntan publik dan/atau KAP bertanggung jawab atas seluruh jasa yang
diberikan dan ayat (2) menyatakan Akuntan Publik bertanggung jawab atas Laporan Auditor
Independen dan Kertas Kerja dari Akuntan Publik yang bersangkutan selama 10 (sepuluh)
tahun. Tanggung Jawab Akuntan Publik dalam Pasal 80 UU No.8 tahun 1995 tentang Pasar
Modal menyatakan Akuntan Publik sebagai jasa professional ikut bertanggung jawab bila
Pernyataan Pendaftaran Emiten yang dijaminnya tidak memuat informasi mengenai Fakta
Material sesuai Undang-Undang sehingga informasi tersebut menyesatkan. Namun tanggung
jawab auditor terbatas pada pendapat yang diberikannya.
Tanggung jawab Akuntan Publik berdasarkan Keputusan Ketua Badan Pengawas
Pasar Modal dan Lembaga Keuangan Nomor: KEP-86/BL/2011 tentang independensi akuntan
yang memberikan jasa di pasar modal, pada pasal 7 menyatakan dalam penerimaan penugasan
profesional, Akuntan wajib mempertimbangkan secara profesional dan memiliki independensi
yang dapat dipertanggungjawabkan sebagaimana diatur dalam Standar Profesional Akuntan
Publik (SPAP).Tanggung jawab akuntan di pasar modal dapat diklasifikasikan sebagai
berikut:
 Tanggung jawab yuridis, berkaitan dengan opini yang diberikan akuntan yang
dsampaikan kepada masyarakat, opini akuntan dan penyampaian informasi lainnya harus
sesuai dengan standar profesi dan peraturan pasar modal yang berlaku. Pelaksanaan
penugasan akuntan di pasar modal tidak terlepas dari kemungkinan adanya tuntutan atau
gugatan baik administratif, perdata, maupun pidana.
 Tanggung jawab finansial, dalam kaitannya dengan kemungkinan munculnya kerugian
yang diderita oleh pihak ketiga. Hal ini dapat mengakibatkan tuntutan ganti rugi dari
pihak-pihak yang merasa dirugikan tersebut.
 Tanggung jawab moral, dalam kaitannya dengan kewajiban akuntan untuk menjunjung
tinggi kode etik akuntan serta selalu menjaga sikap mental yang independen. Hal ini
diperlukan mengingat profesi akuntan sebagai profesi yang dipercaya oleh masyarakat
sehingga harus selalu menjaga kepercayaan yang diberikan dan menghindari tindakan-
tindakan yang dapat merugikan masyarakat.
Apabila ketiga tanggung jawab tersebut dipahami maka diharapkan profesi akuntan
yang bergerak di pasar modal selalu berhati-hati dalam bersikap dan bertindak, sehingga
akuntan tidak terjebak pada hal-hal yang dapat merugikan akuntan yang bersangkutan dan
profesi akuntan secara keseluruhan. Akuntan yang terdaftar di BAPEPAM-LK mempunyai
tanggungjawab untuk turut menjaga kualitas informasi di Pasar Modal melalui pemberian
opini yang berkualitas dan independen atas laporan keuangan.

Otoritas Jasa Keuangan


Otoritas Jasa Keuangan merupakan lembaga Independen yang menggantikan tugas
BAPEPAM-LK yang dahulu berada dibawah Kementerian Keuangan. OJK mulai bertugas
sejak 1 Januari 2013, sehingga BAPEPAM-LK dibubarkan. Menurut Pengamat Ekonomi,
Seto Wardono, berpindahnya wewenang ini tidak akan membawa dampak yang besar
terhadap dunia pasar modal karena kinerja OJK sebenarnya sama saja dengan BAPEPAM-LK
walaupun akan membawa perubahan dan perbedaan sedikit. UU OJK sendiri telah disahkan
pada 2010 lalu yang mengamanatkan kepada OJK untuk melakukan pengawasan terhadap
lembaga keuangan baik sektor perbankan, sektor pasar modal maupun sektor non perbankan.
Alasan pembentukan OJK ini antara lain makin kompleks dan bervariasinya produk jasa
keuangan, munculnya gejala konglomerasi perusahaan jasa keuangan, dan globalisasi industri
jasa keuangan. Disamping itu, salah satu alasan rencana pembentukan OJK adalah karena
pemerintah beranggapan bahwa BI, sebagai Bank Sentral telah gagal dalam mengawasi sekor
perbankan.
OJK dibentuk dan dilandasi dengan prinsip-prinsip tata kelola yang baik, yang mana
mengingatkan pemikiran pada prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik dan benar
(Good Corporate Governance) yang terdiri dari 5 prinsip, yaitu:
 Transparancy (keterbukaan informasi). Secara sederhana bisa diartikan sebagai
keterbukaan untuk menyediakan informasi yang cukup, akurat, dan tepat waktu.
 Accuntability (akuntabilitas). Adanya kejelasan fungsi, struktur, sistem, kejelasan akan
hak dan kewajiban serta wewenang dari elemen-elemen yang ada.
 Responsibility (pertanggungjawaban). Kepatuhan perusahaan terhadap peraturan yang
berlaku, diantaranya termasuk masalah pembayaran pajak, hubungan industrial,
kesehatan dan keselamatan kerja, perlindungan lingkungan hidup, memelihara
lingkunganbisnis yang kondusif bersama masyarakat dan sebagainya;
 Independency (kemandirian). Mensyaratkan agar perusahaan dikelola secara profesional
tanpa adanya benturan kepentingan dan tekanan atau intervensi dari pihak manapun
maupun yang tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku.
 Fairness (kesetaraan atau kewajaran). Prinsip ini menuntut adanya perlakuan yang adil
dalam memenuhi hak shareholders dan stakeholders sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku.