Anda di halaman 1dari 49

TITIK KRITIS

PENGADAAN
BARANG/JASA

Priyono Dwi Nugroho, Ak, MM,


M.Si, CA, CRP

Jakarta, 4 Februari 2021


FAKTA
1. 77 % Kasus Korupsi Yg
Ditangani KPK Terkait dgn
Pengadaan Barang/Jasa*

2. 100 % Kasus Korupsi


Pengadaan Barang/Jasa Yang
Ditangani KPK, terjadi karena
adanya : Kolusi –
Persekongkolan Horizontal -
Vertikal

3. Proyek Yang Berasal dari


Dana ABT, Sangat Rawan
dengan Korupsi.
priyonodwinugroho@gmail.com 2
https://www.kpk.go.id/id/statistik/penindakan/tpk-berdasarkan-jenis-perkara
priyonodwinugroho@gmail.com 3
PENGERTIAN KECURANGAN
• An array of irregularities and illegal acts
characterizedby intentional deception”;

(sekumpulan tindakan yang tidak diijinkan dan


melanggar hukum yang ditandai dengan adanya
unsur kecurangan yang disengaja)

( sumber: the Institute of Internal Auditors (IIA)

priyonodwinugroho@gmail.com 4
MOTIF KECURANGAN
Perceived
Opportunity

FraudTriangle

Pressure / Motive Rationalization

Donald R. Cressey, Others People Money, A study In The Social


Psychology of Embezzlement.
priyonodwinugroho@gmail.com 5
Persekongkolan Dalam Tender
1. Persekongkolan Horizontal

2. Persekongkolan Vertikal

3. Persekongkolan Horizontal dan Vertikal

priyonodwinugroho@gmail.com 6
Persekongkolan Horisontal :
• Persekongkolan Yang Terjadi diantara Para Sesama
Rekanan.
➢ Persekongkolan ini dikategorikan sebagai Persekongkolan
dengan Menciptakan Persaingan Semu Diantara Peserta
Tender

PPK / KPA
Panitia Pengadaan Barang / Jasa

Penyedia Barang/jasa Penyedia Barang/jasa Penyedia Barang/jasa


Kontraktor Kontraktor Kontraktor
Rekanan Rekanan Rekanan
priyonodwinugroho@gmail.com 7
Persekongkolan Vertikal :
Persekongkolan Yang Terjadi Antara Salah Satu Atau
Beberapa Rekanan dengan Panitia Pengadaan
Barang atau PPK/KPA.

PPK / KPA
Panitia Pengadaan Barang / Jasa

Penyedia Barang/jasa Penyedia Barang/jasa Penyedia Barang/jasa


Kontraktor Kontraktor Kontraktor
Rekanan Rekanan Rekanan
priyonodwinugroho@gmail.com 8
Persekongkolan Horisontal & Vertikal :
Persekongkolan antara Panitia Pengadaan dan /atau
PPK/KPA dengan para Rekanan.
Salah satu bentuk persekongkolan ini adalah :
1. Pelelangan Fiktif (Proses Pelelangan sebenarnya tidak pernah dilakukan dan
hanya dibuat persyaratan administrasi saja seolah-olah telah dilakukan
pelelangan/Formalitas).
2. Melibatkan : Supplier / Agen Tunggal / Distributor / Pabrikan

PPK/KPA
Panitia Lelang atau Pengadaan Barang / Jasa

A B C
Penyedia Barang/jasa Penyedia Barang/jasa Penyedia Barang/jasa
Kontraktor Kontraktor Kontraktor
Rekanan Rekanan
priyonodwinugroho@gmail.com Rekanan 9
ALASAN YANG PALING SERING DIGUNAKAN OLEH PANITIA LELANG
UNTUK MEN - JUSTIFIKASI PROSES PENUNJUKKAN LANGSUNG

1. Waktunya sangat mendesak.


2. Kebijakan / Perintah Pimpinan.
3. Barangnya Spesifik.

Barang dikatakan Spesifik jika tidak ada Pabrikan lain yang bisa memproduksi
barang dengan fungsi dan manfaat yang sama untuk menggantikan fungsi dari
barang tersebut.

priyonodwinugroho@gmail.com 10
PA PPK ULP
PPHP PENYEDIA
KPA PPTK PP

RENC PEMILIHAN PELAKSANA


KEBUTUHAN TEKNIS Pemeriksa
METODE & KONTRAK
CARA SPEK CARA EVA, Adm
PAKET HPS KUALITAS,
DOK Hasil VOL,WAKT
KONTRAK
ANGGARAN KUALIFIKA Kontrak U,BIAYA
KONTRAK DG SI & DOK
PEMILIHAN LOKASI
PENYEDIA
DAN
BA HASIL
MENGENDALI MEMILIH Pemeriksa KONTRAK
RUP KANNYA PENYEDI Adm
A YG BAST DG
MAMPU Dasar BMD
PPK
Kapan Perencanaan Pengadaan ?
Penentuan
Identifikasi Penetapan Penetapan Penyusunan
Cara
Kebutuhan Barang/Jasa Jadwal Anggaran PBJ
Pengadaan

INPUT

APBN
PAGU
INDIKATIF Renja K/L

APBD
KUA/
PPAS RKA PD

priyonodwinugroho@gmail.com Pasal 18 ayat 2 & 3 12


Risiko Dalam Perencanaan PBJ

1. Penentuan anggaran pekerjaan dan jadwal pelaksanaannya


tidak diotorisasi oleh pejabat yang berwenang (PA/KPA).

2. Pelimpahan tugas dari PPK, UKPBJ/ Unit Layanan Pengadaan


dan terlambat sehingga mengganggu jadwal pelaksanaan
pekerjaan atau jadwal pelaksanaan pengadaan. Sengaja
sehingga jadi mempet tahun anggaran

3. Jadwal pelaksanaan pengadaan yang disusun tidak realistis.

4. Tidak mengumumkan secara terbuka rencana pengadaan


barang/jasa pada awal pelaksanaan anggaran. Tidak
mengumumkan di SIRUP

priyonodwinugroho@gmail.com 13
Risiko : Dalam Perencanaan PBJ
5. Pemaketan pekerjaan yang direkayasa mengarah kepada
beberapa penyedia barang/jasa yang berasal dari
kelompok tertentu dalam rangka “tender arisan” atau
bagi-bagi keuntungan.

6. Memecah pengadaan barang/jasa menjadi beberapa


paket untuk menghindari pelelangan.

7. Memecah paket pekerjaan yang menurut sifat


pekerjaannya seharusnya merupakan satu kesatuan
paket.

8. Menyatukan atau memusatkan beberapa kegiatan yang


tersebar di beberapa daerah yang menurut sifat
pekerjaan dan tingkat efisiensinya seharusnya dilakukan
di daerah masing-masing.
priyonodwinugroho@gmail.com 14
Risiko : Dalam Perencanaan PBI
9. Menggabungkan beberapa paket pekerjaan yang sifat
pekerjaan dan besaran nilainya seharusnya dapat dilakukan
usaha kecil menjadi satu paket pekerjaan yang hanya dapat
dilaksanakan oleh usaha non kecil (menengah dan
besar)...Paket UMKM sampai dengan 2,5 m pekerjaan
sederhana dan teknologi rendah.
10. Penentuan jadwal waktu pelaksanaan pekerjaan yang tidak
realistis.
11. Pemilihan metode evaluasi dengan sistem nilai (merit point)
untuk evaluasi yang seharusnya menggunakan sistem gugur,
hal ini dilakukan untuk memenangkan produk/merk atau
penyedia barang/jasa tertentu.
12. Biaya untuk mendukung pelaksanaan pengadaan tidak
dianggarkan secara memadai. Sehingga terkadang
menyulitkan pelaksanaan pelelangan/seleksi atau
mengambil dana dari para peserta pengadaan.

priyonodwinugroho@gmail.com 15
Persiapan PBJ Melalui Penyedia
Persiapan Pengadaan
PPK menetapkan :

Spesifikasi Teknis/KAK Rancangan Kontrak

Uang muka, jaminan uang


muka, jaminan pelaksanaan,
Harga Perkiraan Sendiri jaminan pemeliharaan ,
sertifikat garansi dan/atau
penyesuaian harga

priyonodwinugroho@gmail.com Pasal 25 16
Risiko Penyimpangan HPS

1. HPS tidak ada


2. HPS tidak disusun secara keahlian
3. HPS disusun tanpa berdasarkan data
pendukung yang memadai.
4. Data pendukung penyusunan HPS ditutup-
tutupi atau sulit diperoleh.
5. HPS disusun tidak berdasarkan harga standar/
harga pasar setempat.
6. HPS disusun melebihi 28 hari kalender dari
tanggal pemasukan penawaran dalam tender

priyonodwinugroho@gmail.com 17
Risiko Penyimpangan HPS
7. Penggelembungan (mark-up) harga dalam HPS.
8. HPS disusun dengan tidak memperhatikan perilaku biaya
yaitu membedakan biaya tetap (yang cenderung akan
menurun seiring dengan bertambahnya volume
pekerjaan) dan biaya variabel.
9. Harga barang/jasa dalam HPS mengarah pada
merek/produk tertentu.
10. Penambahan item-item biaya yang tidak diperkenankan
oleh ketentuan.
11. HPS tidak disahkan Pejabat Pembuat Komitmen.

priyonodwinugroho@gmail.com 18
Risiko penetapan spek teknis
1. Spek teknis yang tidak jelas
2. Spek teknis yang mengarah ke penyedia tertentu
3. Spek teknis yang tidak mengarahkan kepada
fungsional barang/jasa
4. Spek teknis yang mengakibatkan kita tergantung
kepada penyedia tersebut
5. Spek teknis yang tidak sesuai dengan lokasi
penggunaan barang/jasa
6. Spek teknis yang sudah discontinue (sdh tidak
diproduksi lagi)
7. Spek teknis yang tidak sesuai pemintanya
(usernya) priyonodwinugroho@gmail.com 19
Risiko Rancangan Kontrak
1. Rancangan kontrak tidak memindahkan risiko kepada penyedia
2. Rancangan kontrak tidak mencatumkan klausul denda keterlambatan yang
spesifik
3. Rancangan kontrak tidak mencatumkan kejelasan klausul pembayaran
kepada penyedia barang
4. Rancangan kontrak yang tidak mencantumkan kondisi kahar secara
spesifik dan tata cara tindak lanjut kondisi tersebut
5. Rancangan kontrak yang tidak mencantumkan jaminan terkait pekerjaan
tersebut (jaminan uang muka, jaminan pelaksana, dan jaminan
pemeliharaan)
6. Rancangan kontrak tidak mencanumkan klausul subkon
7. Rancangan kontrak tidak mencatumkan wanprestasi dan konsekuensinya
8. Rancangan kontrak yang menguntungkan penyedia

priyonodwinugroho@gmail.com 20
Risiko Terkait Kualifikasi (Kemampuan Teknis,
Kemampuan Usaha, dan Pengalaman Penyedia
barjas)

1. Kriteria evaluasi kualifikasi tidak ada atau


tidak jelas
2. Calon penyedia menyampaikan isian
kualifikasi tidak benar
3. Penilaian oleh pengelola pengadaan tidak
obyektif

priyonodwinugroho@gmail.com 21
Risiko Terkait Kualifikasi

• Dokumen pengadaan tidak lengkap dan kondisi-


kondisi penting tidak disajikan.
• Syarat-syarat penawaran tidak jelas, tepat dan
pasti sehingga ada ruang bagi keragu-raguan dan
intepretasi yang berbeda.
• Kurangnya keahliaan dan kompetensi ULP/Panitia
/Pejabat Pengadaan, dan adanya keterlibatan
pimpinan dalam proses persiapan dokumen
pengadaan sehingga mungkin dapat
menyebabkan dokumen pengadaan disusun
dengan tidak tepat.
priyonodwinugroho@gmail.com 22
22
Risiko Terkait Dokumen PBJ

• Spesifikasi teknis mengarah pada produk atau


penyedia jasa tertentu, sebagai akibat dari adanya
conflic of interest dan memihak pada penyedia
jasa tertentu.
• Kriteria kelulusan evaluasi tidak ada atau tidak
jelas dalam dokumen pemilihan, atau
penambahan kriteria evaluasi yang tidak perlu.

priyonodwinugroho@gmail.com 23
Red flags atau titik kritis atau modus atau risiko penyimpangan
pada tahap pengumuman
1. Pengumuman fiktif
2. Tidak mengumumkan di tempat yang tidak
ditentukan
3. Dalam teks pengumuman tercantum persyaratan
yang berimplikasi dapat menghambat/membatasi
peserta
4. Materi pengumuman lelang membingungkan atau
tidak lengkap. Contoh: lokasi pengambilan dokumen
tidak jelas; pengumuman barang TI – tidak jelas apa
bentuk barang yang akan diadakan.
5. Jangka waktu pengumuman tidak sesuai ketentuan
(terlalu singkat)
priyonodwinugroho@gmail.com 24
RISIKO-RISIKO TERKAIT PENJELASAN
• Penjelasan (pre bid meeting) yang terbatas pada kelompok tertentu.
• Tidak membuat dokumentasi rapat penjelasan
• Berita acara pemberian penjelasan tidak disebarluaskan kepada
seluruh peserta.
• Seluruh kesepakatan dalam rapat yang merupakan perubahan penting
atas dokumen pemilihan penyedia tidak dituangkan dalam adendum
dokumen pemilihan penyedia (sebagai upaya agar kesepakatan yang
dicapai pada saat penjelasan lelang tidak ditaati oleh panitia lelang).
• Penjelasan yang diberikan panitia terhadap pertanyaan para peserta
lelang dibiarkan tidak jelas dan lengkap.
• Klarifikasi kepada peserta lelang diberikan oleh orang yang tidak
berwenang (panitia lelang).

priyonodwinugroho@gmail.com 25
Red Flags/ Risiko penyimpangan yang mungkin terjadi pada
pembukaan penawaran
• Adanya relokasi tempat penyerahan dokumen
penawaran yang tidak diinformasikan ke seluruh
penyedia barang/jasa yang telah mendaftar atau
lokasi penyerahan dokumen sulit ditemukan;
• Jangka waktu penyampaian penawaran yang
terlalu singkat dan kurang memperhatikan
kompleksitas barang/jasa yang diadakan;
• Batas akhir pemasukan dokumen penawaran
diundurkan atau dimajukan tanpa adanya
dokumen addendum dokumen pemilihan/seleksi;
priyonodwinugroho@gmail.com 26
• Penyimpanan dokumen penawaran tidak
dilakukan pada kotak atau tempat yang
aman/terkunci;
• Penerimaan dokumen penawaran yang
terlambat dan tidak digugurkan;
• Dokumen penawaran tidak lengkap
disampaikan dan disusulkan setelah acara
pembukaan dokumen penawaran.

priyonodwinugroho@gmail.com 27
Risk pada tahap evaluasi
• Kriteria evaluasi tidak sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam
dokumen pengadaan.
• Penggantian dokumen penawaran dari penyedia barang/jasa setelah
tahap pembukaan dokumen penawaran
• Seluruh hasil evaluasi penawaran tidak didokumentasikan dalam suatu
berita acara. Dokumen penawaran tidak lengkap disampaikan dan
disusulkan setelah acara pembukaan dokumen penawaran.
• Berita acara evaluasi penawaran tidak mencantumkan justifikasi tentang
hal-hal yang menggugurkan suatu penawaran (bila ada).
• Panitia/pejabat/unit layanan pengadaan memberlakukan standar ganda
• Panitia/pejabat/unit layanan pengadaan kurang paham mengenai
persyaratan teknis sehingga mempengaruhi penilaian/hasil evaluasi.

priyonodwinugroho@gmail.com 28
RISIKO-RISIKO pengumuman pemenang

• Proses penetapan pemenang lelang tidak


didokumentasikan
• Pengumuman pemenang tidak
mencantumkan hal-hal yang menjadi
persyaratan.
• Tanggal pengumuman sengaja ditunda.
• Pengumuman pemenang tidak
diumumkan di tempat semestinya.
priyonodwinugroho@gmail.com 29
RISIKO-RISIKO pada sanggahan

• Surat sanggahan dan/atau sanggah banding tidak


ditanggapi atau ditunda-tunda sehingga melewati
batas waktu yang diperkenankan oleh ketentuan.
• Sanggahan dan/atau sanggah banding yang
diterima tidak dijawab.
• Jawaban atas sanggahan dan/atau sanggah
banding tidak memuaskan atau tidak didukung
dengan bukti yang meyakinkan.
• Jawaban atas sanggahan dan/atau sanggah
banding tidak dijawab oleh pejabat/pihak yang
berwenang.
priyonodwinugroho@gmail.com 30
RISIKO-RISIKO penunjukan pemenang

• Jangka waktu penerbitan SPPBJ melampaui


batas waktu yang diperkenankan.
• Penunjukan pemenang lelang tidak diberikan
kepada peserta yang menawarkan harga
terendah yang responsif.
• Penunjukan pemenang lelang berbeda dengan
usulan calon pemenang dari ULP.

priyonodwinugroho@gmail.com 31
Pelaksanaan Kontrak

• Penetapan SPPBJ
• Penandatanganan Kontrak;
• Pemberian Uang Muka;
• Pembayaran Prestasi Pekerjaan;
• Perubahan Kontrak;
• Penyesuaian Harga;
• Penghentian Kontrak atau berakhirnya Kontrak
• Pemutusan Kontrak;
• Serah Terima Hasil Pekerjaan; dan/atau
• Penanganan Keadaan Kahar.

priyonodwinugroho@gmail.com Pasal 52 32
Red flags pelaksanaan kontrak
• Barang/jasa yang diperjanjikan telah diterima sebelum surat
perjanjian ditandatangani oleh kedua belah pihak.
• Penandatanganan surat perjanjian yang ditunda-tunda tanpa
alasan yang jelas.
• Rekomendasi dari ULP/Pejabat Pengadaan belum/tidak
dipertimbangkan oleh pejabat yang menandatangani surat
perjanjian (Pejabat Pembuat Komitmen) pada saat surat
perjanjian tersebut ditandatangani.
• Dalam hal nilai pengadaan di atas Rp100 Miliar, surat
perjanjian yang ditandatangani belum dikonsultasikan
dengan unit kerja yang bertanggung jawab dengan masalah
hukum dan keuangan.

priyonodwinugroho@gmail.com 33
• Penyedia barang/jasa yang tercantum dalam
kontrak tidak sesuai dengan hasil penunjukan
pemenang.
• Harga kontrak tidak sesuai dengan dokumen
pemilihan barang/jasa atau penawaran dari
pemenang.
• Spesifikasi dalam surat perjanjian diubah tanpa
persetujuan kedua belah pihak.
• Klausul dalam surat perjanjian tidak lengkap dan
jelas.
• Syarat umum dan syarat khusus kontrak yang
penting sengaja dihilangkan.

priyonodwinugroho@gmail.com 34
• Klausul dalam surat perjanjian merugikan
kepentingan pemberi kerja dan atau
/negara.
• Penetapan jumlah hari pelaksanaan
pekerjaan tidak sesuai dengan penetapan
tanggalnya.
• Surat perjanjian tidak dilengkapi surat
jaminan pelaksanaan sesuai ketentuan.
• Tanggal surat jaminan pelaksanaan lebih
belakangan dibandingkan tanggal kontrak.

priyonodwinugroho@gmail.com 35
Red flags
• Jaminan pelaksanaan tidak disesuaikan dengan
addendum perpanjangan waktu/nilai kontrak
• Terdapat kesepakatan di bawah tangan atau surat
perjanjian lain yang ditandatangani antara
pemberi kerja dengan penyedia barang/jasa.
• Negosiasi penurunan harga kontrak diikuti pula
dengan pengurangan lingkup atau volume
pekerjaan yang seharusnya mensyaratkan
perlunya dilakukan tender ulang.

priyonodwinugroho@gmail.com 36
Red flags penyerahan
• Pengadaan barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya
– Penyedia barang/jasa tidak melanjutkan atau tidak
menyelesaikan pengadaan barang/jasa.
– Keterlambatan penyerahan barang/jasa oleh penyedia
barang/jasa tanpa alasan yang diperkenankan dalam
kontrak, dan belum dikenakan sanksi denda
keterlambatan sesuai ketentuan dalam kontrak.
– Pemberian addendum oleh PPK terhadap keterlambatan
tanpa pertimbangan yang layak dan wajar sesuai dengan
ketentuan dalam kontrak.
– Volume/jumlah barang/jasa yang diserahkan tidak sesuai
dengan ketentuan dalam surat perjanjian.

priyonodwinugroho@gmail.com 37
– Kualitas barang/jasa yang diserahkan tidak sesuai dengan ketentuan
dalam spesifikasi teknis dalam surat perjanjian.
– Pekerjaan fiktif, dilakukan hanya sebagian atau tidak dilakukan sama
sekali. Biasanya terjadi atau dilakukan pada pekerjaan yang dilakukan
di tempat sulit (misalnya daerah terpencil, hutan atau gunung) atau
pekerjaan yang sulit dilakukan pengecekan fisik (misalnya di dalam
tanah atau di bawah laut).
– Nilai barang/pekerjaan dalam Contract Change Order (CCO) yang
dituangkan dalam addendum melebihi 10% dari nilai kontrak awal
yang tidak disebabkan oleh kondisi darurat/penanganan bencana
alam.
– Addendum pekerjaan tambah (kurang dari 10% nilai kontrak ) yang
dilakukan tidak sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan.

priyonodwinugroho@gmail.com 38
– Pekerjaan disubkontrakkan kepada rekanan lainnya tanpa persetujuan
PPK.
– Penyerahan barang/jasa dilakukan di lokasi yang tidak tepat.
– Barang/jasa yang diadakan belum/tidak dapat dimanfaatkan oleh
satker pengguna.
– Tidak ada petugas yang ditunjuk untuk menerima barang/jasa (tidak
ada panitia penerima hasil pekerjaan).
– PPHP tidak melakukan pengecekan jumlah atau volume dan kualitas
atau spesifikasi barang/jasa sesuai dengan surat perjanjian.
– PPHP telah melakukan pengecekan jumlah atau volume dan kualitas
atau spesifikasi barang/jasa tetapi gagal menemukan adanya
perbedaan jumlah atau volume dan kualitas atau spesifikasi
barang/jasa sesuai dengan surat perjanjian.
– Perubahan lingkup pekerjaan.

priyonodwinugroho@gmail.com 39
• Pekerjaan jasa konsultansi
– Penggantian personil dan/atau peralatan oleh
penyedia barang/jasa tanpa alasan yang jelas dan
persetujuan PPK.
– Penyedia jasa tidak menyerahkan laporan akhir
penyelesaian pekerjaan dan atau laporan akhir
belum disetujui PPK.

priyonodwinugroho@gmail.com 40
Red flags PEMBAYARAN DAN PELAPORAN

• Pembayaran yang tidak sesuai kemajuan fisik pekerjaan.


• Pembayaran dibuat tanpa otorisasi yang tepat dan sesuai
ketentuan.
• Pembayaran kepada Penyedia Barang/Jasa terlambat tanpa
ada justifikasi dari PPK, dan tanpa dikenakan ganti rugi.
• Kekurangan pemungutan dan penyetoran pajak/PNBP.
• Pelaporan yang tidak dilaksanakan.
• Pelaporan yang tidak sesuai keadaan yang sebenarnya terjadi.

priyonodwinugroho@gmail.com 41
Klausul Kontrak ….Vendor Audit

nh@2006 PROCUREMENT CASE


edit by pri@2020
Pelaku KORUPSI Sebagaimana UU NO 31 / 1999 yang telah diubah
denganUU NO 20 / 2001

SUBYEK PERBUATAN AKIBAT

-Memperkaya diri, orang lain, koorporasi


secara melawan hukum (Psl 2)
SETIAP ORANG -Menguntungkan diri, orang lain, koorporasi
dengan menyalahgunakan kewenangan,
kesempatan atau sarana karena jabatan
-Setiap orang /kedudukan (Psl 3) -Merugikan Ku /
-Pegawai negeri ekonomi Negara
-Penylgr negara -Merugikan individu,
-Suap (Psl 5,6,11,12,13)
-Hakim
instansi, dunia usaha
-Advokat
-Perbuatan curang, membahayakan
& masyarakat
PEMBORONG keamanan umum (Psl 7) -Bangsa dan negara
terpuruk
-Penggelapan uang/surat berharga (Psl 8)
-Pegawai negeri
-Pemalsuan, menghilangkan, merusakkan
-Selain PN buku-buku/daftar-daftar (Psl 9, 10)

-UU Lain yang menyebut -----korupsi


nh@2006 PROCUREMENT CASE
edit by pri@2020
Modus Terungkap di Korupsi PBJ
Dana sebesar itu, hemat Larto dari praktik sejumlah kasus korupsi selama ini, sangat
mudah ‘dijarah’, antara lain melalui intervensi kewenangan. Apalagi kelemahan dari
instansi pemerintah dalam pengadaan barang dan jasa umumnya adalah tidak mengetahui
lingkup apa yang diperlukan, termasuk mengenai harga.
Praktik memanfaatkan sisi lemah instansi ini pernah dipraktikkan M Nazaruddin
(terpidana sejumlah kasus korupsi) dalam ‘menguasai’ berbagai proyek pengadaan barang
dan jasa. Untuk mengarahkan proyek itu, ia menyediakan orang-orang yang memberi
masukkan, termasuk rincian kebutuhan dan harga pengadaan barang dan jasa.
“Dalam hal pengadaan Alkes (Alat-alat kesehatan-red), ia bisa menyingkirkan farma-farma
(perusahaan) lain. Begitu pula modus di Proyek Hambalang, perusahaan ‘karya’ mereka
saling membuat penawaran. Sangat mudah melakukan tindak pidana korupsi,” tukas
Larto.

http://ubb.ac.id/content/kpk-beberkan-modus-korupsi-pengadaan-barang-dan-jasa

priyonodwinugroho@gmail.com 44
“KPK menangani ‘grand corruption’ yang didesain orang tertentu. Hampir sebagian besar
kasus yang kita tangani mulai dari proses perencanaan. Pertanyaannya: apakah (proyek)
pengadaan itu keinginan atau kebutuhan? Kalau jawabnya: kebutuhan, ‘nah’ mengapa
kebutuhan (proyek pengadaan-red) itu diadakan di akhir tahun?,” ujar Larto.
Masih dari aspek perencanaan, modus tindak pidana korupsi itu tampak dari adanya paket-
paket titipan dari pimpinan lembaga, pemecahan paket untuk menghindari lelang,
Rencana Anggaran Belanja (RAB)/gratifikasi yang bersumber dari penyedia (pihak
ketiga) dan pembahasan anggaran yang melibatkan penyedia.
Sedangkan dari aspek pelaksanaan, menurut Larto indikasi peluang ke arah korupsi
itu tampak dari HPS (Harga Perkiraan Sendiri) di ‘mark-up’ (dinaikkan), pembuatan
syarat lelang yang diskriminatif, arisan lelang, pengadaan langsung, pelaksanaan
kontrak tanpa pengawasan, serahterima pekerjaan di bawah standar mutu dan
pelaksanaan pembayaran yang tidak sesuai.
“Paket-paket pengadaan langsung, dengan nilai pekerjaan di bawah Rp 200 juta, harus
diawasi. Ini bisa menjadi lahan korupsi baru. Kalau di KPK, paket pengadaan langsung
harus dibandingkan dengan sekurangnya lima penyedia, dan pemenangnya diumumkan
kepada publik.
Mengenai aspek penyedia, larto menyebutkan sebaiknya Unit Layanan Pengadaan (ULP)
memiliki basis data (data based) tentang kondisi vendor, dan di akhir tahun harus ada
penilaian seputar kemampuan vendor.

http://ubb.ac.id/content/kpk-beberkan-modus-korupsi-pengadaan-barang-dan-jasa

priyonodwinugroho@gmail.com 45
Diskusi Konsep ...PBJ (1)
Anggaran ATK/supplies setahun Rp 300 juta diantaranya adalah
kertas. Data untuk menyusun Anggaran berdasarkan harga satuan
yang dikeluarkan oleh Kantor yaitu Rp 60.000/rim. Kebutuhan Unit
Kerja pertahun 3.000 rim. Selama ini Unit Kerja melakukan
pengadaan secara mandiri dan membeli di toko dilokasi masing2.
Info awal tahun sbb:
1. Harga aceran kertas per RIM Rp 58.000 (termasuk pajak)
2. Harga grosir kertas per 100 RIM Rp 45.000 (termasuk pajak)
3. Harga Pabrik di Kota Solo per 500 RIM minimal beli 2000 rim
Rp 42.000 plus ongkos kirim Rp 1.000/rim.

Diskusi :
Apa yang dilakukan PA/PPK supaya hemat dan efisien jika menemui
hal tersebut?

46
Diskusi Konsep ...PBJ (2)
Anggaran pengadaan komputer jinjing (Laptop) sebanyak 10 unit
dengan pagu anggaran Rp 25.000.000 per unit. Waktu survey harga di
lokasi kantor OPD harga laptop jenis dan spek yang sama Rp 21.000.000
per unit (sudah termasuk pajak), sedangkan harga di e katalog LKPP
harga perunit Rp 23.000.000 termasuk pajak dan ongkos kirim. Harga di
tokopedia Rp 10.000.000 ditambah ongkos kirim sampai kelokasi Rp
150.000/unit. Penyedia langganan kantor menawarkan Rp
24.800.000/unit sudah termasuk pajak. Harga satuan yang dikeluarkan
Bupati/Kota setempat adalah Rp 25.000.000/unit.

Diskusi :
PPK sedang menyusun HPS untuk pengadaan laptop tersebut. Referensi
mana yang sebaiknya dipakai PPK?

47
Diskusi Konsep ...PBJ (3)
Anggaran pembangunan gedung Kantor seluas 200 m2 satu lantai Rp 2,5 milyar.
Dalam prosesnya PPK menetapkan HPS sebesar Rp 2,46 milyar. Oleh Satuan
Kerja telah dirposes dengan benar sesuai Perpres 16/2018 dan menghasilkan
pemenang PT. Hobby Duit dengan penawaran Rp2,05 milyar. Kontrak
ditandatangani sebesar Rp 2,05 milyar. Kontrak bisa diselesaikan dengan baik
sesuai spek dan tepat waktu Gedung kantor terbangun 200m2.
Pada akhir kontrak PPK melakukan addendum dengan menambah taman dan
area merokok disamping gedung kantor yang disepakati dan menambah kontrak
sebesar Rp 230 jt. Taman serta tempat merokok sudah jadi dan fungsional.

Diskusi :
Apa PENDAPAT AUDITOR DAN BUKTI APA UNTUK MENDUKUNG PENDAPAT
AUDITOR jika menemui hal tersebut?

48
priyonodwinugroho@gmail.com 49