BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pakaian merupakan salah satu simbol yang mencerminkan karakter budaya suatu
kelompok sosial. Pakaian bukan hanya sekedar kain, melainkan rekam-jejak sejarah,
pemikiran, juga keyakinan suatu kelompok sosial. Seperti di Indonesia, setiap daerah
memiliki pakaian khasnya masing-masing, tak terkecuali Provinsi Riau.
Pakaian merupakan simbol budaya yang menandai perkembangan, akulturasi, dan
kekhasan budaya tertentu. Pakaian dapat pula menjadi penanda bagi pemikiran masyarakat,
termasuk pakaian tradisional masyarakat Melayu Riau. Pakaian tradisional Riau terdiri atas
pakaian harian dan pakaian resmi/pakaian adat.
Masyarakat Melayu Riau masih memegang adat dengan teguh. Pengaruh adat terasa dalam
sikap dan perilaku sebagian besar masyarakat, terutama di daerah pedesaan/perdalaman. Adat
Melayu Riau adalah adat yang bersendikan syariat Islam. Islam dan adat Melayu saling
mempengaruhi yang kemudian membentuk satu budaya baru, yang salah satunya tercermin
dalam pakaian yang dikenakan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, masalah dapat dirumuskan seperti berikut ini.
1. Bagaimana asal-usul pakaian adat?
2. Apa saja fungsi pakaian melayu Riau?
3. Apa saja nilai-nilai yang terkandung dalam pakaian melayu Riau?
4. Apa saja jenis pakaian adat dan tata cara mengenakan pakaian melayu Riau?
5. Apa arti simbol yang terdapat dalam pakaian melayu Riau?
1.3 Tujuan
Sesuai denagan rumusan masalah di atas, tujauan yang dicapai dalam penelitian sebagai
berikut.
1. Mendeskripsikan jenis-jenis pakaian melayu Riau.
2. Mendeskripsikan fungsi pakaian melayu Riau.
3. Mendeskripsikan nilai-nilai pakaian melayu Riau.
4. Mendeskripsikantata cara mengenakan pakaian melayu Riau.
1.4 Manfaat
Penelititian ini berfungsi sebagai sarana sosialisasi penggunaan pakaian melayu Riau sehigga
kita dapat menggunakan pakaian melayu sesuai dengan aturan pemakaiannya.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Asal-usul
Pakaian merupakan simbol budaya yang menandai perkembangan, alkulturasi, dan
kekhasan budaya tertentu. Adat istiadat perkawinan Melayu di Riau berpangkal pada adat
istiadat Melayu pada zaman kebesaran kerajaan-kerajaan Melayu Melaka, Johor, dan Riau,
seperti Kerajaan Siak, Indragiri, Kerajaan Riau-Lingga, Kerajaan Pelalawan, Kerajaan
Rambah, Kerajaan Gunung Sahilan, Kerajaan Rokan, dan Kerajaan Kampar. Namun di
daerah perbatasan dengan Negeri Minangkabau dan Tapanuli Selatan terdapat akulturasi adat
dan kebiasaan di kawasan tersebut.
Begitu pula dalam adat istiadat berpakaian. Mempunyai ketentuan sesuai dengan adat-istiadat
wilayah setempat. Baik itu pakaian Melayu harian, pakaian Melayu resmi, pakaian Melayu
dalam menghadiri upacara nikah kawin, pakaian Melayu dalam upacara adat, pakaian-
pakaian adat Melayu dalam prosesi nikah kawin, pakaian alim ulama dan pakaian upacara
keagamaan. Adat istiadat yang berlaku di daerah kelompok Melayu di Propinsi Riau sesuai
dengan Musyawarah Adat Melayu Riau adalah adat bersendikan syarak, syarak bersendirkan
Kitabbullah dan Sunnah Nabi.
Adat istiadat Melayu di Propinsi Riau berpangkal pada adat istiadat Melayu yang berada pada
zaman kebesaran kerajaan-kerajaan yang terdapat di Melaka, Johor dan di daerah Riau seperti
Kerajaan Siak, Kerajaan Indragiri, Kerajaan Riau Lingga, Kerajaan Pelalawan, Kerajaan
Rambah, Kerajaan Gunung Sailan, Kerajaan Rokan dan Kerajaan Kampar yang berpunca
pada kerajaan Melaka dan Johor. Namun demikian di daerah perbatasan dengan negeri
Minangkabau dan Tapanuli Selatan terdapatnya akulturasi adat dan kebiasaan dikawasan
perbatasan tersebut.
2.2 Pakaian Adat Melayu
Di dalam Sejarah Melayu dan Hikayat Hang Tuah cukup banyak gambaran yang
menyatakan bahwa seseorang yang berhasil melaksanakan perintah raja lalu ”diberi
persalinan dengan selengkap pakaian” dan “memakailah pakaian yang indah-indah. Akan
tetapi, sulit mencari keterangan seperti apakah agaknya segala macam pakaian indah-indah
yang dianugerahkan itu. Namun, disebutkan bahwa pakaian raja-raja, dengan warna Diraja
(Royal Ccolour) yaitu warna kuning, dan larang-an memakai kain tipis yang berbayang-
bayang seperti kasa. Lebih-lebih dalam Adat Raja-Raja Melayu diperoleh keterangan cukup
banyak tentang pakaian majelis (dalam arti pertamanya mengacu pada keindahan) dan patut
dibawa ke dalam majelis (dalam arti kedua yang mengacu kepada makna perkumpulan orang
ramai), sopan, dan merendahkan diri.
Bagi orang melayu, pakaian selain berfungsi sebagai penutup aurat dan pelindung tubuh
dari panas dan dingin, juga mengisyaratkan lambang-lambang.Lambang-lambang itu
mewujudkan nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya.
Pakaian melayu dari ujung kaki sampai ujung melayu ada makna dan gunanya. Semua
dikaitkan dengan norma sosial, agama, adat istiadat, sehingga pakaian berkembang dengan
makna yang beraneka ragam. Pakaian melayu juga dikaitkan dengan fungsinya yaitu:
1. Pakaian sebagai penutup malu, yang berarti pakaian berfungsi sebagai alat penutup aurat,
menutup aib dan malu dalam arti yang luas. Kalau salah memakai menimbulkan malu, kalau
salah corak juga menimbulkan malu, oleh karena itu pakaian harus dibuat, ditata dan
dikenakan sesuai dengan ketentuan adat yang berlaku didalam masyarakat.
2. Pakaian sebagai penjemput budi, yang berarti pakaian berfungsi untuk membentuk budi
pekerti, membentuk kepribadian, membentuk watak sehingga si pemakai tahu diri dan
berakhlak mulia.
3. Pakaian penjunjung adat, yang berarti pakaian harus mencerminkan nilai-nilai luhur yang
terdapat didalam adat dan tradisi yang hidup dalam masyarakat.
4. Pakaian sebagai penolak bala, yang bermakna berpakaian dengan cara yang benar dan
patut akan menghindarkan pemakainya dari mendapat bahaya atau malapetaka
5. Pakaian menjunjung bangsa, yang berarti dengan bersepadunya lambang-lambang dan
nilai-nilai yang tertera dipakaian maka terjemalah kepribadian bangsa atau masyarakat
pemakainya. Pakaian dalam budaya melayu harus mampu menunjukkan jati diri pemakainya.
Ø Pakaian Melayu Laki-Laki
Jenis pakaian melayu Pada kaum laki- laki, yaitu:
a. Jenis-jenis pakaian untuk laki-laki yang masih bayi adalah sebagai berikut :
1. Gurita yaitu sejenis berut yang dipakain pada bagian perut bayi.
2. Baju belah yaitu sejenis baju yang tidak memakai kancing, tetapi hanya diikat saja
3. Kain bedung yaitu kain yang digunakan sebagai pembalut bayi
b. Jenis pakaian untuk laki-laki yang masih kanak-kanak adalah gurita gantung berbentuk
trapezium yang disebut juga oto, baju monyet, baju bersatu dengan celana, berlengan pendek
atau maju kemeja biasa dengan celana pendek.
c. Jenis pakaian untuk orang dewasa laki-laki adalah sebagai berikut :
1. Baju melayu gunting cina, baju ini biasa digunakan dalam sehari-hari dirumah, bersifat
santai untuk acara-acara tidak resmi. Bisa juga digunakan untuk menerima tamu dirumah atau
pergi bertamu kerumah kerabat.
Gambar Baju Gunting Cina
2. Baju melayu cekak musang terdiri dari celana, kain, dan songkok atau tanjak. Bentuk baju
ini berupa leher tidak berkerah dan berkancing hanya sebuah serta bagian depan leher baju
berbelah kebawah sepanjang lebih kurang lima jari supaya mudah dimasukkan dari atas
melalui kepala, berlengan lebar, serta berkocek sebuah dibagian atas kiri dan dua buah
dibagian kiri dan kanan. Baju ini digunakan untuk acara keluarga seperti kenduri.
Gambar Baju Melayu CekakMusang
3. Baju melayu teluk belanga, baju ini terdiri dari celana, kain sampin, dan penutup kepala
atau songkok. Bentuk baju ialah leher berkerah dan berkancing ( berupa kancing tap, kancing
emas atau permata dan lain-lain bergantung pada tingkat social dan kemampuan pemakai).
Jumlah kancing yang lazim empat buah melambangkan “sahabat rasulullah” atau lima buah
yang melambangkan “rukun islam”
Gambar Baju Teluk Belanga
d. Jenis pakaian untuk orangtua sama dengan laki-laki dewasa, hanya saja dalam
menggunakan bahan pakaian dan warna disesuaikan dengan usianya. Dahulunya orang tua
yang memegang jabatan dalam pemerintahan biasanya memakai baju berkancing tujuh
dengan pantolannya berwarna putih yang terbuat dari kain drill
Ø Pakaian Melayu Perempuan
Jenis pakaian melayu Pada kaum perempuan yaitu:
a. Bayi perempuan sama pakaiannya dengan bayi laki-laki
b. Kanak-kanak perempuan menggunakan kain sarung dengan baju pendek tanpa selendang.
c. Pakaian pada perempuan dewasa yaitu :
1. Baju kurung, yang terdiri atas kain, baju dan selendang. Panjang atau kedalaman baju agak
diatas lutut. Ada juga baju kurung untuk sehari-hari dirumah yang kedalamannya sepinggang
atau sedikit dibawah pinggang. Selendang dipakai dengan lepas di bahu dan biasanya tak
melingkar dileher pemakai .bentuk baju berlengan panjang dan ukuran badan longgar, tidak
boleh ketat. Bahannya bervariasi: polos, berbunga-bunga, dan lain-lain.
Gambar baju Kurung Perempuan
2. Baju kebaya labuh, yang terdiri dari kain, baju, dan selendang. Panjang lengan baju kira-
kira dua jari dari pergelangan tangan sehingga gelang yang dikenakan perempuan kelihatan
dan lebar lengan baju kira-kira tiga jari dari permukaan lengan. Kedalaman bervariasi dari
sampai betis atau sedikit keatas. Bagi perempuan dalam berpakaian dilengkapi dengan siput
(sanggul) yang terdiri dari tiga macam yaitu :
· Siput tegang. Biasanya digunakan untuk pengantin dan dikerjakan oleh Mak Andam.
· Siput cekak. Biasanya digunakan untuk sehari-hari.
· Siput lintang. Biasanya siput yang digunakan untuk perempuan yang berambut panjang,
lebat, dan terjurai.
Sedangkan untuk tudung atau penutup kepala dipakai dengan dua cara, yaitu :
Ø Tudung digunakan untuk menutupi kepala dengan bagian yang agak terjurai dan terjuntai
kesamping pipi kiri dan kanan.
Ø Tudung lingkup. Pemakaiannya mirip dengan cadar yang dipakai oleh wanita arab, yakni
yang kelihatan hanya mata atau sekurang-kurangnya hanya terlihat wajah.
d. Bagi perempuan tua boleh dikatakan sama dengan perempuan dewasa hanya warna yang
disesuaikan dengan tingkat usia dan bahannya.
Gambar Pakaian Melayu
2.3 Fungsi Pakaian Melayu Riau
- Fungsi Budaya
Pakaian tradisional dapat menjadi ciri kebudayaan tertentu dalam suatu masyarakat.
Secara umum, fungsi pakaian untuk menutup tubuh. Namun, kemudian muncul berbagai
aksesori dan ciri khas yang membedakan antara suatu masyarakat dengan masyarakat yang
lain. Di masyarakat Riau, pakaian menjadi simbol yang dipakai dalam pelaksanaan upacara
atau dalam acara-acara tertentu. Setiap upacara mempunyai jenis pakaian yang berbeda yang
tentu saja juga berbeda dengan pakaian yang dikenakan sehari-hari.
- Fungsi Estetik
Estetika busana Melayu Riau muncul dalam berbagai bentuk hiasan yang terdapat
dalam pakaian tersebut. Selain berbagai hiasan, warna-warna dalam pakaian tradisional Riau
juga mengandung makna-makna tertentu. Misalnya, warna kuning mengandung arti
kekuasaan. Pakaian dengan warna seperti ini biasanya diperuntukkan bagi sultan atau raja.
Warna hitam mengandung makna keberanian. Pakaian dengan warna seperti ini biasanya
dipakai oleh para hulubalang dan para petarung yang melambangkan ketangkasan mereka.
- Fungsi Religius
Pakaian tradisional daerah Riau mengandung makna dan berfungsi keagamaan.
Pengaruh Islam dalam tata cara berpakaian sedikit banyak berpengaruh pada pakaian daerah
Riau, di mana fungsi pakaian adalah untuk menutup aurat. Hal ini dapat kita lihat pakaian
perempuan yang berbentuk baju kurung, kerudung, dan menutupi hampir semua anggota
tubuhnya. Selain dari bentuknya, fungsi religius pakaian tradisional Riau juga terlihat dari
simbol yang digunakan sebagai hiasan yang berbentuk bulan dan bintang. Simbol tersebut
mengandung makna ketakwaan terhadap Tuhan. Fungsi religius busana Melayu di daerah
Riau juga muncul di berbagai media yang mereka gunakan untuk upacara, misalnya adanya
kelengkapan tepung tawar.
- Fungsi Sosial
Pakaian tradisional Riau mengandung makna dan berfungsi secara sosial. Pakaian
tradisional Riau yang dipakai masyarakat, baik yang berasal dari golongan bangsawan
maupun masyarakat biasa adalah sama, yaitu baju kurung. Perbedaannya hanya terletak pada
bahan dan warna yang dipilih, dikarenakan dalam tradisi masyarakat Riau warna pakaian
mempunyai lambang dan makna tertentu.
- Fungsi Simbolik
Pakaian tradisional mempunyai makna simbolik tertentu yang dapat diterka lebih
dahulu untuk mengetahui maknanya. Nilai-nilai simbolik yang terkait dengan pakaian
tradisional, perhiasan, serta kelengkapannya terdapat pada kostum yang dipakai dalam
upacara-upacara tradisional. Busana bukan hanya dimaknai sebagai pakaian yang dipakai,
namun juga peralatan upacara yang digunakan. Beberapa makna yang terkandung dalam
busana tradisional masyarakat Melayu Riau misalnya sirih (lambang persaudaraan dan
kehormatan), bibit kelapa (simbol keturunan), payung (tempat bernaung). Pakaian yang
dikenakan orang-orang Melayu Riau memperlihatkan bahwa hampir setiap apa yang mereka
kenakan mengacu pada simbol-simbol tertentu.
2.4 Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Pakaian Melayu Riau
- Nilai Tradisi
Busana yang dikenakan dalam suatu upacara adat telah menjadi tradisi selama
bertahun-tahun. Hal ini menjadi ciri khas dan keunikan sebuah masyarakat. Dari busana adat
yang dikenakan, maka dapat dipelajari mengenai tradisi masyarakat yang bersangkutan.
- Nilai Pelestarian Budaya
Pakaian merupakan salah satu produk kebudayaan modern yang semakin hari semakin
berkembang. Pakaian adat yang saat ini banyak dipakai masyarakat Melayu Riau merupakan
warisan budaya yang harus dilestarikan. Melestarikan busana tradisional tersebut sama
artinya dengan melestarikan kekayaan budaya Melayu.
- Nilai Sosial
Pakaian menjadi simbol tertentu yang menjadi penanda status seseorang. Selain itu,
lewat nilai-nilai yang dikandungnya, pakaian Melayu juga bermakna sebagai media untuk
menyatukan masyarakat. Nilai-nilai sosial itu muncul karena dalam pakaian tradisional
tersebut tersemat makna-makna tertentu yang dinilai dan ditafsirkan oleh masyarakatnya.
2.5 Jenis-jenis pakaian melayu Riau dan tata cara menggunakannya
- Pakaian Harian
Pakaian harian adalah pakaian yang dikenakan ketika melakukan kegiatan sehari-hari.
Berdasarkan kelompok pemakai, pakaian harian dapat dibedakan menjadi pakaian anak-anak,
pakaian dewasa, dan pakaian orang tua atau setengah baya. Pakaian harian merupakan
sandang yang dikenakan dalam aktivitas sehari-hari. Berdasarkan jenjang usia pemakai,
pakaian harian dapat dibedakan menjadi pakaian anak-anak, pakaian dewasa, dan pakaian
orang tua.
a. Pakaian Anak-anak
Gambar Pakaian anak laki-laki
Pakaian anak laki-laki yang masih kecil disebut baju monyet. Kalau dia sudah
meningkat besar dia memakai baju kurung teluk belakang atau baju kurung cekak musang
dan ada kalanya memakai celana setengah lutut, memakai kopiah atau ikat kepala dari kain
empat persegi yang dilipat untuk menghindarkan sengatan binatang yang berbisa, memakai
kain samping ada yang dikenakan secara utuh, ada pula yang dibelitkan dipinggang ataupun
disandang dibahu. Anak laki-laki juga memakai sarung ketika pada saat mengaji dan
beribadah. Sedangkan untuk anak perempuan yang belum dewasa memakai baju kurung yang
selaras dengan kain bermotif bunga atau satu warna dengan kain tersebut.
b. Pakaian Dewasa
Pakaian anak laki-laki yang telah dewasa disebut Baju Kurung Cekak Musang yang
dilengkapi dengan kain samping berupa sarung perekat dan kopiah atau ikat kepala.
Sedangkan untuk perempuan memakai Baju Kurung Laboh, Baju Kebaya Pendek, dan Baju
Kurung Tulang Belut. Baju ini dipadukan dengan kain sarung batik dan penutup kepala
berupa selendang atau tudung lingkup. Perempuan yang melakukan kegiatan di ladang atau
sawah biasanya memakai tutup kepala berupa selendang atau kain belacu yang dinamakan
tengkuluk.
Untuk anak laki-laki dewasa dia sudah membantu orang tuanya bekerja mencari
nafkah, pakai baju Teluk Belanga Belah atau baju kurung Cekak Musang, memakai kain
samping, ikat kepala atau berkopiah. Kalau pergi ke laut atau ke ladang sering memakai
celana setengah lutut dengan lengan yang agak sempit supaya mudah melaksanakan
pekerjaan yang berkaitan dengan kehidupan keras.
Kain samping tetap dipakai terutama menjaga kesopanan dan aib dari orang dan
digunakan untuk sholat ataupun bertamu menghadapi orang tua-tua serta dapat dipergunakan
untuk mempertahankan diri. Pakaian harian untuk anak laki-laki dewasa sering dipakai untuk
belajar ilmu silat guna mempertahankan diri dan berkesenian; belajar zapin, membuat
kelompok Mayong, sandiwara, bangsawan, dll.
Pakaian untuk anak perempuan yang sudah baligh ini adalah baju kurung, baju
Kebaya Laboh, baju Kebaya Pendek. Adapun kelengkapan baju kurung ini adalah kain
Sarung Pelekat atau batik Bunga, pakai tutup kepala berupa selendang dan ditambah dengan
Kain Tudung Lingkup yang dipakai bila keluar rumah. Kain Tudung Lingkup untuk pakaian
harian digunakan kain pelekat.
c. Pakaian Orangtua
Pakaian untuk perempuan tua setengah baya ada berbagai macam, seperti Baju
Kurung Teluk Belanga (Baju Kurung Tulang Belut), Kebaya Laboh, dan Baju Kebaya
Pendek yang biasa dipakai untuk pergi ke ladang. Kerudung untuk menutupi kepala berupa
selendang segi empat yang dibentuk segitiga sehingga menyerupai jilbab. Sedangkan untuk
laki-laki orang tua dan setengah baya memakai Baju Kurung Teluk Belanga atau Baju
Kurung Cekak Musang. Bahan pakaian ini adalah kain katun atau kain lejo. Baju ini agak
longgar sehingga nyaman dipakai.
Gambar baju Kebaya Laboh dan Kebaya pendek
Pakaian perempuan tua adalah baju kurung Teluk Belanga dan pada lehernya
bersulam bernama Tulang Belut. Baju ini longgar dan lapang dipakai, ada juga Kebaya
Laboh atau Kebaya Panjang hingga dibawah lutut. Kedua bentuk baju ini memakai pesak
atau kekek. Orang tua-tua ada juga yang memakai baju Kebaya Pendek dibawah pinggul
sering dipakai untuk bekerja di rumah atau di ladang dan ke laut. Kalau perempuan setengah
baya juga memakai seperti tersebut diatas, hanya bentuk bajunya agak sempit dan pada
umumnya berupa stelan baju dengan kain yang berbunga dan ada kalanya polos. Sebagai
penutup kepala mereka memakai selendang dari drihook bersegi empat dan kemudian
dibentuk segitiga dan diletakkan diatas kepala serta ujungnya disimpulkan dileher. Orang tua
maupun perempuan setengah baha selain selendang sebagai penutup kepala, mereka juga
menggunakan Tudung Lingkup dari Kain Pelekat.
Pakaian orang tua laki-laki dan setengah baya berupa baju kurung Teluk Belanga
Bertulang Belut dan baju kurung Cekak Musang. Untuk pakaian harian baju ini terbuat dari
bahan katun dan kain samping pelekat, bentuk baju agak longgar.
Gambar Baju Kurung Leher Cekak Musang untuk laki-laki
Baju Melayu bagi orang tua sering memakai baju Melayu Dagang Luar digunakan
untuk sholat dan bertamu ke tetangga.
Jadi bentuk pakaian harian bagi orang Melayu Riau adalah:
· Untuk kaum perempuan baju Kurung Teluk Belanga, baju Kebaya Laboh, baju Kebaya
Pendek.
· Untuk kaum laki-laki baju kurung Teluk Belanga, baju kurung Cekak Musang, celana
setengah lutut untuk anak laki-laki.
- Pakaian Resmi
Gambar pakaian resmi
Bentuk pakaian setengah resmi bagi kaum laki-laki adalah baju kurung Cekak Musang
harus dilengkapi dengan: kopiah, kain samping, sepatu atau capal. Kan samping yang dipakai
tergantung pada kemampuan seseorang; boleh kain pelekat, kain tenunan Siak, tenunan
Trenggano, tenunan Indragiri, tenunan Daek, dll.
Pakaian setengah resmi ini dipakai dalam upacara keluarga, seperti; menghadiri
perkawinan, acara keagamaan, sunnat rasul, dll. Sedangkan pakaian resmi adalah pakaian
yang dipakai waktu menghadiri undangan dari Kerajaan, dari Pemerintah atau menghadiri
jemputan resmi dari suatu kegiatan. Tidaklah sopan seandainya kita menghadiri upacara
kekeluargaan atau jemputan yang terhormat dari suatu kegiatan pemerintah yang masa
dahulunya di zaman kerajaan-kerajaan di Riau, kita memakai pakaian Melayu namun tidak
memakai kopiah dan juga kain samping, maka jelaslah kita dicap orang yang tidak tahu adat
sopan orang Melayu.
Untuk menghadiri upacara resmi seperti menghadiri jemputan dari Pemerintah, atau
menghadiri Rapat Dewan yang resmi kalau kita berpakaian Melayu harus lengkap berbaju
Melayu dengan tidak memakai kasut atau capal dan harisnya memakai sepatu kulit.
Adapun bahan baju Melayu itu sebaiknya dari bahan kain sutra atau bahan-bahan yang
bagus seperti satin, atau bahan lainnya yang berkualitas.
Warna baju dengan warna celana harus sewarna. Dulunya pada zaman kerajaan
Melayu pada masa jayanya, tidak dibenarkan memakai warna kuning, karena warna kuning
adalah warna kerajaan dan yang berhak memakai warna kuning adalah Sultan. Untuk para
Datuk dan Orang Besar Kerajaan dalam upacara resmi sering memakai warna hitam,
sedangkan warna kain boleh bebas kecuali warna kuning dan tidak dibolehkan memakai baju
hitam berkain hitam, pakaian demikian adalah hak pemimpin yaitu Raja (Sultan). Sedangkan
pakaian untuk orang lain boleh memakai warna apa saja sesuai dengan kemampuan dan
kemauannya juga selera, asalkan tertib cara memakainya.
Cara berpakaian baju Melayu orang laki-laki adalah baju Melayu Cekak Musang yaitu
leher berkerah setinggi 2 cm yang dalamnya dilapisi kain keras supaya kerah Cekak
Musangnya kelihatan lebih rapi. Pada leher dipasang dua buah butang baju, dan 3 buah
butang baju dibagian depan keras lebih kurang 22 cm dari leher ke dada.
Perlengkapan lain memakai baju Melayu Cekak Musang adalah kopiah hitam dan
tidak memakai apa-apa di kopiah. Pada kopiah adakalanya dipakai kain putih yang dibelitkan
di kopiah pada upacara meninggalnya atau (mangkat) seorang Sultan atau Pemimpin Negeri.
Kain yang dipakai untuk mengikuti upacara resmi ini adalah kain samping yang terpilih,
seperti: tenunan Siak, tenunan Trenggano, tenunan Indragiri, tenunan Daek, dll.
Sistem memakai kain samping ini diikat di samping pinggang yang disebut ikat kain
dagang dalam, karena baju terletak diluar kain disebut ikat kain dagang luar. Mengikat kain
tidak boleh sembarangan karena sudah ada ketentuannya antara lain: tinggi kain bagi orang
dewasa hanya setinggi lutut, sedangkan orang sudah berumur, tinggi kainnya 3 jari dibawah
lutut. Kalau orang sudah lanjut usia umumnya memakai kain sering jauh dibawah lutut.
Bentuk pakaian resmi dan setengah resmi kaum perempuan adalah baju kurung Teluk
Belanga dan baju Kebaya Laboh. Bahan baju ini dibuat dari bahan sutra, satin atau bahan
brokat serta bahan yang bagus lainnya tergantung dengan kemampuan si pemakai.
Persyaratan baju Melayu kaum perempuan ini karena dia disebut Baju Kurung maka jelas
baju ini mengurung bagian aurat di badan agar tidak kelihatan, tidak terlalu sempit, tidak
terlalu tipis yang memperlihatkan kulit badan.
Untuk kain yang dipakai adalah kain tenunan atau kain pilihan, seperti: kain Siak,
tenunan Indragiri, tenunan Daek atau kain tenunan lain yang bercorak Melayu.
Ukuran baju resmi dan setengah resmi bagi remaja panjang baju adalah 3 jari diatas
lutut sedangkan orang tua 3 jari dibawah lutut. Untuk pemakaian kain adalah dengan cara
kepala kain diletakkan di muka.
Untuk hiasan dikepala harus memakai sanggul yang disebut sanggul Jonget, sanggul
Lintang atau sanggul Lipat Pandan. Setelah rambut disanggul kepala ditutup dengan kain
tudung yang seharusnya tidak kelihatan rambut. Kain tudung untuk pakaian resmi dan
setengah resmi ini adalah kain selendang anjang dan sekarang ini kaum wanita yang Islam
umumnya menggunakan jilbab.
Memakai perhiasan didada sesuai dengan kemampuan sipemakai. Untuk alas kaki
dipakai kasut yang dipilih sesuai selera, tidak memakai sendal jepit sebaiknya pakailah kasut
yang memakai hak rendah atau hak tinggi. Warna yang dipakai dapat dipilih sesuai dengan
selera dan juga disesuaikan dengan suasana waktu siang atau malam, pagi atau sore.
Pada zaman dahulu, pakaian resmi dipakai ketika menghadiri pertemuan resmi yang
diadakan oleh kerajaan. Sedangkan di masa sekarang, pakaian resmi dikenakan dalam
berbagai acara pemerintahan. Pakaian resmi untuk laki-laki adalah Baju Kurung Cekak
Musang lengkap dengan kopiah, kain samping yang terbuat dari kain tenun Siak, Indragiri,
Daik, dan daerah-daerah di Riau lainnya.
Bahan Baju Kurung Cekak Musang berupa kain sutra, kain satin, atau kain berkualitas
tinggi lainnya. Sebagai perlengkapannya antara lain kopiah dan kain samping. Bahan untuk
kain adalah bahan yang terpilih, seperti kain songket dan kain tenun lainnya. Sistem
memakai kain samping ini ada dua macam, yaitu ikat dagang dalam dan ikat dagang luar.
Pakaian resmi untuk perempuan dewasa adalah Baju Melayu Kebaya Laboh dan Baju
Kurung Cekak Musang. Bahan untuk membuat kedua baju ini adalah kain songket atau kain
terpilih lainnya seperti Tenun Siak, Tenun Indragiri, Tenun Trengganu, dan lain-lain. Bentuk
Baju Kurung atau Kebaya Laboh ini mengikuti bentuk tubuh si pemakai, namun tidak terlalu
longgar dan tidak terlalu sempit. Panjang baju perempuan yang masih gadis adalah tiga jari di
atas lutut, sedangkan untuk orang tua panjang bajunya tiga jari di bawah lutut.
- Pakaian Upacara Adat
Upacara yang pada zaman dulu diadakan oleh pihak kerajaan yang ada di Riau, kini
dilanjutkan oleh Lembaga Adat Melayu Riau atau oleh pemerintah daerah. Beberapa upacara
tersebut seperti upacara penobatan raja, upacara pelantikan, upacara penyambutan tamu,
upacara penerimaan anugerah, dan lain sebagainya. Pakaian tradisional yang dipakai pada
saat upacara adat dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu pakaian untuk perempuan dan pakaian
untuk laki-laki.
Pakaian upacara untuk perempuan yang masih gadis berbeda dengan pakaian untuk
perempuan penikah. Jenis pakaian yang dipakai untuk perempuan tua adalah Baju Kurung
Tulang Belut. Sedangkan untuk perempuan setengah baya dan gadis adalah Baju Kebaya
Laboh Cekak Musang berwarna hitam yang terbuat dari bahan sutra. Warna hitam pada
pakaian ini hanya dipakai pada waktu upacara adat penobatan raja, menteri, atau datuk.
Sedangkan untuk upacara adat yang lain, semisal upacara penerimaan tamu agung atau pun
upacara penerimaan anugerah, para perempuan memakai baju berwarna kuning.
Selain memakai baju kurung dan kebaya, perempuan Melayu yang menghadiri upacara
adat juga memakai sanggul. Sanggul tersebut berbentuk sanggul joget, sanggul lipat pandan
yang berhiaskan bunga goyang di atasnya. Di sebelah kanan sanggul dihiasi jurai panjang dan
di sebelah kiri dihiasi jurai pendek.
Yang dimaksud upacara adat adalah suatu kegiatan yang dibuat oleh Pemerintah
(Kerajaan) antara lain:
· Upacara penobatan Raja & Permaisuri,
· Upacara pemberian gelar,
· Upacara pelantikan Datuk-Datuk, Ketua Adat atau Menteri Kerajaan,
· Upacara menjunjung duli,
· Upacara menyambut tamu-tamu agung atau tamu-tamu yang dihormati,
· Upacara adat menerima anugerah dan persembahan dari rakyat atau dari negara lain yang
bersahabat.
Upacara seperti ini diatur oleh Kerajaan dizaman dahulunya, kalau sekarang diatur
oleh Pemerintah atau Lembaga Adat Melayu Riau. Warna baju yang dipakai untuk upacara
adat adalah warna hitam, berkain samping sesuai dengan tingkat derajatnya, stelan kuning
dan stelan hitam adalah kain yang dipakai untuk Sultan atau Pemimpin Negeri. Kalau Sultan
dalam upacara adat memakai tanjak hitam, demikian juga kalau memakai warna kuning harus
seluruhnya berwarna kuning pula.
Kalau Datuk-Datuk orang besar dalam upacara adat memakai baju berwarna hitam
berkain samping apa saja warnanya sesuai dengan seleranya, itulah sebagai pertanda
perbedaan pimpinan dan bukan pimpinan. Adat di Riau walaupun terdapat beberapa wilayah
kesatuan adat,acuan dasarnya tetap sama seperti yang tercermin dalam ungkapan melayu
“Adat bersendikan syarak, syarak bersendikan kitabullah”, ungkapan ini menyatakan
kesamaan landasan adat istiadat dalam disetip wilayah kesatuan adat.
Pakaian adat ini dipakai dalam upacara adat yang pada masa lalu dipakai di kerajaan-
kerajaan di kawasan Bumi Melayu, seperti untuk: upacara penobatan raja, pelantikan menteri,
orang besar kerajaan dan datuk-datuk, upacara menjunjung duli, penyambutan tamu-tamu
agung dan tamu-tamu dihormati, upacara adat menerima anugerah dan penerimaan
persembahan dari rakyat dan negeri-negeri sahabat.
Tata berpakaian secara adat dalam upacara adat dapat dibedakan sebagai berikut.
Pakaian adat dalam acara nikah dan perkawinan, pakaian upacara adat, pakaian Melayu
sebagai mempelai pengantin, pakaian ulama dan upacara keagamaan.
a. Pakaian adat untuk kaum perempuan
Jenis pakaian dan bentuk baju yang dipakai dalam upacara adat bagi kaum perempuan
baik muda maupun tua sama saja. Baju yang dipakai adalah baju kurung Teluk Belanga, baju
Kebaya Laboh, bagi anak gadis baju Kebaya Laboh Cekaka Musang.
Kepala memakai tudung Mente dan memakai tudung Kain Lingkup. Tudung Kain
Lingkup apabila masuk ke ruangan kain Tudung Lingkup dilipatkan dipinggang kemudian
dijepit dipinggang.
Rambut disanggul dengan bentuk sanggul Melayu, seperti sanggul Jonget, sanggul
Lintang, dan sanggul Lipat Pandan. Perhiasan dipakai didada yang disebut dokoh dan gelang
serta anting-anting.
Warna baju yang dipakai isteri Datuk-Datuk dan Orang Besar adalah warna hitam
stelan dan berkain samping atau Tudung Lingkup yang berwarna lain. Warna kuning hanya
dipakai oleh Sultan dan Permaisuri atau Pimpinan Tertinggi di daerahnya.
b. Pakaian adat untuk kaum laki-laki
Gambar Baju Adat Laki-laki
Jenis pakaian dan bentuk baju yang dipakai dalam upacara adat bagi kaum lelaki
adalah baju kurung Cekak Musang, tidak dipakai baju kurung Teluk Belanga. Warna pakaian
adat kaum lelaki berwarna hitam dari bahan saten atau bahan sutera dilengkapi dengan
perlengkaan sebagai berikut:
· Baju stelan dengan celana panjang sampai ketumit,
· Kain samping terbuat dari tenunan sendiri, seperti; tenun Siak, Indragiri, tenunan Daek, dll,
· Tanjak sebagai penutup kepala,
· Bengkung pengikat pinggang,
· Sebilah keris Melayu Sepukal, atau Tuasik atau Tilam Upih,
· Kasut capal atau sepatu.
Untuk Sultan atau Pimpinan Tertinggi memakai baju Cekak Musang berwarna kuning
atau hitam satu stel baju, celana dan kain samping. Stelan baju penuh dengan taburan bunga
cengkeh, bintang dari ornamen yang ditenun khusus. Sultan memakai tanjak yang bernama
Belah Mumbang atau Elang Menyongsong Angin serta bertingkat 3 atau 5.
Biasanya Sultan memakai dua keris, satu yang pendek satu yang panjang, biasanya
keris yang anjang dibawa oleh pengawalnya yang sangat dipercaya. Pakaian adat dipakai
pada upacara adat seperti penobatan Raja-Raja, emberian gelar, penyambutan tamu agung,
musyawarah besar adat dan upacara adat yang digelar oleh Kerajaan atau Pemerintah.
Memakai Bengkung tergantung tingkat seseorang dalam jabatannya dimasyarakat
adat atau jabatan dalam struktur Kerajaan, seperti: Orang Besar Kerajaan, Putera Mahkota,
angeran, kaum bangsawan, Datuk-Datuk, Datuk Bendahara, Datuk Laksemana, Datuk
Panglima, Penghulu, Batin, Tongkat (wakil Batin) dan para pengawal. Yang memakai
selempang dari kanan ke kiri adalah Sultan berwarna kuning, sedangkan para pengawal
memakai warna merah diujung lengan dan bengkung serta ikat kepala berwarna merah.
Kecuali para pengawal yang mendampingi Sultan kemana saja adalah Hulubalang yang
tangguh memakai pakaian hitam berkain samping kain Lejo dan memakai bengkung warna
kuning dan memakai les merah.
- Pakaian Upacara Perkawinan
Baju pengantin laki-laki Melayu adalah Baju Kurung Cekak Musang atau Baju
Kurung Teluk Belanga. Untuk daerah Limo Koto Kampar baju pengantin laki-laki berbentuk
jubah yang terbuat dari kain beludru. Baju Kurung Teluk Belanga terbuat dari bahan tenunan
Siak, Indragiri, Daek, maupun Trengganu dengan warna merah, biru, kuning, dan hitam.
Selain Baju Kurung Cekak Musang, pakaian pengantin laki-laki adalah kain samping
motif yang serupa dengan celana dan baju, distar berbentuk mahkota dipakai di kepala, sebai
warna kuning di bahu kiri, rantai panjang berbelit dua dikalungkan di leher, canggai yang
dipakai di kelingking, sepatu runcing di bagian depan, dan keris hulu burung serindit pendek
yang diselipkan di sebelah kiri.
Busana yang dikenakan pengantin perempuan berbeda-beda, tergantung jenis upacara
adatnya. Pengantin perempuan pada upacara Malam Berinai memakai Baju Kurung Teluk
Belanga. Sedangkan saat Upacara Barandam, pengantin perempuan memakai Baju Kurung
Kebaya Laboh atau Kebaya Pendek. Kepala hanya memakai sanggul yang dihiasi dengan
bunga-bunga. Pakaian pengantin perempuan pada Upacara Akad Nikah adalah Baju Kebaya
Laboh atau Baju Kurung Teluk. Kemudian untuk pakaian pada waktu upacara Bersanding
adalah Kebaya Laboh atau Baju Kurung Teluk Belanga.
Gambar Baju Adat Pengantin
a. Pakaian pengantin laki-laki
Bentuk pakaian pengantin laki-laki orang Melayu Kepulauan atau Pesisir serta orang
Melayu Daratan tidaklah berbeda jauh bentuk bajunya berupa baju kurung Cekak Musang
atau baju kurung Teluk Belanga, kecuali di daerah Lima Koto Kampar baju pengantinnya
berbentuk jubah yaitu baju terusan panjang hingga kebawah menutup mata kaki.
Perlengkapan pakaian laki-laki sebagai seorang pengantin Melayu adalah:
- Baju kurung Cekak Musang dari bahan tenunan satu stelan baju dan celana sama warnanya,
- Dikepala memakai Destar berbentuk mahkota dan adakalanya pengantin memakai tanjak,
- Memakai Sebai disebelah bahu kiri,
- Memakai kain samping dengan bunga kain kedepan,
- Pakai Bengkung,
- Pakai Keris,
- Pakai kalung panjang dilehernya pertanda ikatan keluarga,
- Membawa Sirih Lelat,
- Pakai kasut capal atau sepatu kulit.
Pakaian ini dipakai ada upacara langsung dimana pengantin laki-laki turun dari rumah
ayah dan bundanya menuju kerumah pengantin perempuan. Untuk mengikuti acara akad
nikah dan acara lainnya pengantin laki-laki memakai baju kurung Cekak Musang yang
lengkap dengan memakai kopiah, kadang-kadang kopiah dihias dengan permata, kalau Orang
Besar Kerajaan dan orang Bangsawan memakai lambang Kerajaan.
b. Pakaian pengantin perempuan
Pakaian upacara adat perkawinan bagi pengantin perempuan dalam masyarakat
Melayu Riau terdapat beberapa bentuk tergantung pada kegiatan yang akan dilaksanakan,
seperti : acara malam berinai, uacara akad nikah, acara bersanding, acara mandi damai serta
acara berandam.
Pakaian pengantin perempuan dalam upacara malam berinai memakai pakaian
Kebaya Laboh atau baju kurung Teluk Belanga, memakai hiasan dan perhiasan serta
memakai sanggul Melayu.
Pakaian pengantin pada upacara berandam hampir sama dengan memakai pakaian
Melayu harian; Kebaya Laboh atau Kebaya Pendek atau baju kurung Teluk Belanga. Rambut
disanggul dengan sanggul Lipat Pandan atau sanggul Siput Jonget dihiasi dengan bunga-
bunga hidup seperti cempaka, bunga melur dan bunga tanjung. Muka pengantin dibersihkan
dan dicukur bulu romanya, dan dihias bulu keningnya. Setelah berandam dimandikan dengan
air tujuh bunga serta memakai kain kemban didada.
Pakaian pengantin pada acara akad nikah berpakaian baju kurung Teluk Belanga atau
baju kurung Kebaya Laboh, kepala ditutup dengan hiasan serta memakai tudung Mente.
Sedangkan dada diberi perhiasan Dokoh bertingkat, pakai Pending, pakai Sebai dikanan dan
duduk dikamar pengantin.
Pakaian pengantin pada upacara langsung atau bersanding : pengantin perempuan
memakai akaian Melayu Kebaya Laboh atau baju kurung Teluk Belanga lengkap dengan
atributnya kepala memakai pekakas andam dan dikening diletakkan Ramen perhiasan emas
atau dibuat dari tekatan bedang emas, dada dihiasi dengan Dokoh bertingkat, lengan diberi
gelang berkepala naga, dilengan bawah memakai gelang patah semat, sedangkan dikaki
bergelang kaki berlipat rotan emas.
Dibahu kanan memakai sebai bertekat emas berjurai kelengan, pada pinggang
memakai pending emas, dijari pakai canggai. Canggai hanya terlekat di ibu jari dan dijari
kelingking (kedua belah jarinya). Kaki dipakai sepatu tertutup jari berwarna sesuai dengan
kehendak pengantin berhak sedang yang disebut selepa. Pakaian waktu mandi damai
berpakaian baju kurung Teluk Belanga, baju Kebaya Laboh atau baju Kebaya Pendek yang
dibuat khusus untuk upacara mandi damai. Upacara mandi damai adalah suatu upacara untuk
menyatakan syukur bahwa pengantin telah bersatu.
- Pakaian Upacara Keagamaan (Ritual)
Dalam upacara keagamaan bagi lelaki tua dan muda mengena kaian pakaian berbentuk
cekak musang atau baju kurung teluk belanga, pakai songkok, kain samping dari kain pelekat
atau kain tenunan. Sistem pemakaian baju ada dua macam, yaitu baju dagang dalam dan baju
dagang luar.
Pakaian acara keagamaan ini disesuaikan pemakaiannya pada acara kegiatan
keagamaan yang akan kita laksanakan atau yang akan kita hadiri. Bagi Pembesar Agama
seperti Qodhi, Imam Mesjid memakai jubah berwarna hitam, panjang jubah sampai dimata
kaki, kepala memakai terbus dan dibelit dengan kain tipis berwarna putih, biasanya dibuat
berwarna merah. Bilal :biasanya memakai jubah berwarna hijau lumut disebelah luarnya
sedangkan didalam tetap memakai baju kurung Cekak Musang dan juga memakai terbus
dibalut kain putih tipis. Gharin Mesjid memakai baju Melayu Dagang Luar dengan memakai
kopiah hitam atau kopiah haji dan memakai kain samping pelekat. Sedangkan orang biasa
dalam acara agama ada terbagi dua:
1) Kalau acara resmi dalam rangka kegiatan Hari Raya, pada hari-hari besar agama memakai
pakaian baju Melayu lengkap seperti baju Melayu Cekak Musang atau baju Melayu Teluk
Belanga, yang disebut baju Melayu Dagang Dalam.
2) Untuk pergi sholat Jum’at biasanya boleh memakai baju Melayu harian atau baju Melayu
Dagang Luar dengan memakai kain samping kain pelekat dan pakai kopiah, pada umumnya
kalau sudah pernah menunaikan ibadah haji bisa memakai kopiah haji.
2.5 Simbol Pakaian Melayu Riau
- Motif
Dilihat dari carak atau motifnya pakaian melayu memiliki simbol dan makna tertentu:
o Corak semut beriring. Corak ini dikaitkan dengan makna yang mengacu pada sifat
kerukunan dan gotong royong.
o Corak itik pulang. Corak ini dikaitkan dengan dengan kerukunan dan persatuan, tidak
terpecah belah.
o Corak naga berjuang. Corak ini dihubungkan dengan legenda tentang tentang naga sebagai
penguasa lautan, gagah berani, dan pejuang.
o Corak bunga-bunga. corak ini dikaitkan dengan keindahan, kecantikan, dan kesucian.
- Warna Pakaian Tradisional Melayu Riau
Warna yang sangat dominan dalam masyarakat Melayu Riau adalah kuning keemasan,
hijau lumut dan merah darah burung, warna tersebut merupakan warna yang telah diturunkan
secara turun temurun sejak nenek moyang orang melayu di Bumi Lancang Kuning ini. Ketiga
warna tersebut terhampar pada tabir-tabir pelaminan melayu Riau dalam suatu acara adat
perkawinan ataupun adat kebesaran Budaya Melayu.
· Warna Kuning Keemasan , melambangkan kebesaran dan kewibawaan dan
kemegahan serta kekuasaan Warna kuning keemasan pada zaman kerajaan Siak,Kerajaan
Riau Lingga, Kerajaan Indragiri dan Kerajaan Pelalawan adalah warna larangan dn tabu bagi
masyarakat biasa jika memakainya. Yang memakai warna kuning keemasan adalah Sultan
atau Raja suatu negeri dari kerajaan Melayu. Permaisuri Kerajaan atau istri Sultan memakai
kuning keemasan pada upacara -upacara kerajaan.
· Warna Hijau Lumut, melambangkan kesuburan dan kesetiaan, taat serta patuh,
terhadap ajaran agama. Warna Pakaian Hijau Lumut dipakai oleh kaum-kaum bangsawan,
Tengku, Encik, dan Wan.
· Warna Merah Darah Burung, melambangkan kepahlawanan dan keberanian, patuh
dan setia terhadap raja dan rakyat. Warna Merah dari darah burung memancarkan
kecemerlangan.
· Warna Hitam, melambangkan kesetiaan, ketabahan dan bertanggung jawab serta
jujur. Baju warna Hitam dipakai oleh datuk dan orang besar kerajaan dalam upacara adat
kebesaran kerajaan
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan tersebut, Pakaian harian dipakai setiap hari, baik oleh anak-
anak, dewasa, maupun orang tua. Pakaian sehari-hari dikenakan untuk berbagai kegiatan
harian, misalnya saat bekerja di ladang, bermain, ke laut, di rumah, maupun kegiatan yang
lain. Jenis pakaian untuk perempuan dikelompokkan menjadi pakaian perempuan anak-anak
dan pakaian perempuan dewasa Sedangkan pakaian resmi atau pakaian adat dikenakan pada
acara-acara tertentu yang berkenaan dengan kegiatan resmi atau pada saat acara adat. Warna,
bentuk, dan model pakaian adat ditentukan berdasarkan filosofi masyarakat Melayu Riau
yang mengandung nilai-nilai tertentu.
Selain itu, pakaian dan perhiasan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan atau
kegunaan estetika, namun juga mengandung semangat tertentu. Semangat tersebut
melingkupi nilai budi dan kejujuran.
3.2 Saran
Pakaian tradisional masyarakat Melayu Riau merupakan salah satu kekayaan nasional
yang wajib dilestarikan. Masyarakat Riau sendiri sadar bahwa busana tradisional ini suatu
ketika akan punah bila tidak dilestarikan.
DAFTAR PUSTAKA
Jamil, O.K. Nizami. 2005. Pakaian Tradisional Melayu Riau. Pekanbaru: LPNU Press dan
Lembaga Adat Melayu Riau.
http://www.riaudailyphoto.com/2013/04/pakaian-tradisional-melayu-riau.html
S, Abdulkadir Muhammad. 1987. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Fajar Agung.
Zulkifli, Encik. 2005. Adat Perkawinan dan Pakaian Tradisional Masyarakat Melayu Kota
Pekanbaru. Pekanbaru: Pemerintah Kota Pekanbaru dan Lembaga Adat Melayu Riau.
M.A. Effendi, et al. 2004. Busana Melayu, Pakaian Adat Tradisional Daerah Riau.
Pekanbaru: Yayasan Pustaka Riau.
O.K. Nizami Jamil et al. 2005. Pakaian Tradisional Melayu Riau. Pekanbaru: LPNU Press
dan Lembaga Adat Melayu Riau.
Siti Zainon Ismail, 2004. “Busana Melayu Melaka” dalam Abdul Latiff Abu Bakar dan
Mohd. Nefi Imran, 2004. Busana Melaka. Bukit Peringgit: Institut Seni Malaysia Melaka.