Anda di halaman 1dari 22

ANALISIS JURNAL KEPERAWATAN KELUARGA

HUBUNGAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL DENGAN KEPUASAN PASIEN


BPJS DI RUANG PERAWATAN INTERNA RSUD KOTA MAKASSAR

Oleh Kelompok 4 :

1. Ni Putu Ayu Dina Febriani (18101110003)

2. Ni Putu Eka Cintya Dewi (18101110006)

3. Ni Putu Mei Sanjiwani (18101110008)

4. Putu Gede Widya Adnyana (20121110005)

5. I Gusti Agung Dewi Suryaningsih (20121110016)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
ADVAITA MEDIKA TABANAN
2021
HUBUNGAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL DENGAN KEPUASAN PASIEN
BPJS DI RUANG PERAWATAN INTERNA RSUD KOTA MAKASSAR

Asmaul Husna1, Adriani Kadir2, Sri Wahyuni3


1
STIKES Nani Hasanuddin
2
Makassar STIKES Nani
Hasanuddin Makassar 3STIKES
Nani Hasanuddin Makassar

(Alamat Respondensi : husnaasmaul56@gmail.com/082396409693)

ABSTRAK

Kepuasan pasien merupakan salah satu indikator kualitas pelayanan yang diberikan dan
kepuasan pasein adalah suatu modal untuk mendapatkan pasien lebih banyak lagi dan untuk
mendapatkan pasien yang loyal. Salah satu faktor yang mempengaruhi kepuasan pasien yaitu
komunikasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan komunikasi interpersonal
perawat dengan kepuasan pasien BPJS di Ruang Perawatan Interna RSUD Kota Makassar.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional
study dan dilaksanakan pada tanggal 04 sampai 31 Desember 2017. Populasi dalam penelitian ini
adalah semua pasien BPJS yang dirawat di Ruang Perawatan Interna RSUD Kota Makassar
sebanyak 1854 pasien. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random
sampling dan jumlah sampel sebanyak 126 pasien. Hasil penelitian ini menunjukkan responden yang
mengatakan komunikasi interpersonal perawat baik berjumlah 103 responden, dimana terdapat 80
responden (77,7%) yang puas dengan pelayanan kesehatan dan 23 responden (22,3%) yang tidak
puas dengan pelayanan kesehatan. Sedangkan responden yang mengatakan komunikasi
interpersonal perawat kurang berjumlah 23 responden, dimana terdapat 12 responden (52,2%) yang
puas dengan pelayanan kesehatan dan 11 responden (47,8%) yang tidak puas dengan pelayanan
kesehatan dengan nilai p=0,026. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah ada hubungan komunikasi
interpersonal perawat dengan kepuasan pasien BPJS di Ruang Perawatan Interna RSUD Kota
Makassar. Disarankan petugas rumah sakit khususnya perawat perlu membentuk komitmen bersama
dalam hal memberikan pelayanan untuk meningkatkan sikap tanggap, peduli, ramah dan
berkomunikasi yang baik kepada pasien tanpa membeda-bedakan pasien.

Kata kunci : Komunikasi Interpersonal, Kepuasan Pasien BPJS

PENDAHULUAN merupakan suatu seni untuk dapat menyusun


Kepuasan pelanggan adalah perasaan dan menghantar suatu pesan dengan cara
senang atau puas bahwa produk atau jasa yang mudah sehingga dapat dimengerti dan
yang diterima telah sesuai atau melebihi menerima maksud dan tujuan pemberi pesan
harapan pelanggan. Kepuasan pasien karena (Nursalam, 2015).
kepuasan pasien merupakan salah satu Berdasarkan data dari Kementerian
indikator kualitas pelayanan yang diberikan Kesehatan RI, menunjukkan pada jumlah
dan kepuasan pasein adalah suatu modal peserta BPJS Kesehatan pada tahun 2015
untuk mendapatkan pasien lebih banyak lagi terdiri dari peserta PBI yang berjumlah
dan untuk mendapatkan pasien yang loyal 98.999.228 jiwa dan peserta non PBI yang
(Nursalam, 2015). berjumlah 57.791.059 jiwa. Peserta PBI terdiri
Salah satu faktor yang mempengaruhi dari peserta dengan iuran bersumber dari
kepuasan pasien yaitu komunikasi. APBN sebanyak 87.828.613 peserta dan yang
Komunikasi yaitu tata cara informasi yang bersumber dari APBD berjumlah 11.170.615
diberikan pihak penyedia jasa dan keluhan- peserta. Sedangkan peserta non PBI terdiri
keluhan dari pasien. Bagaimana keluhan- atas pekerja penerima upah yang berjumlah
keluhan dari pasien dengan cepat diterima 37.862.522 peserta, pekerja bukan penerima
oleh penyedia jasa terutama perawat dalam upah yang berjumlah 14.961.768 peserta, dan
memberikan bantuan terhadap keluhan pasien bukan pekerja yang berjumlah 4.966.769
(Nursalam, 2015). peserta. Menurut proporsinya, jumlah peserta
Komunikasi adalah suatu pertukaran BPJS Kesehatan tertinggi pada tahun 2015
pikiran, perasaan, pendapat dan pemberian yaitu segmen peserta PBI APBN sebesar
nasehat yang terjadi antara dua orang atau 56,02%, disusul kemudian oleh segmen
lebih yang bekerjasama. Komunikasi peserta Pekerja Penerima Upah (PPU)

134
Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 15 Nomor 2 Tahun 2020 ● eISSN : 2302-2531
sebesar 24,15%, dan segmen peserta Pekerja c. Pasien yang sudah dirawat selama 3
Bukan Penerima Upah (PBPU) sebesar hari.
9,54%. Proporsi jumlah peserta BPJS d. Pasien yang berumur 17-65 tahun.
Kesehatan terendah yaitu dari segmen peserta e. Pasiean yang mampu berkomunikasi
Bukan Pekerja (BP) sebesar 3,17% secara verbal.
(Kementerian Kesehatan RI, 2016). f. Bersedia menjadi responden.
Berdasarkan hasil pengumpulan data 2. Kriteria Eksklusi :
profil tahun 2014 menunjukkan penduduk yang a. Pasien yang tidak kooperatif.
dicakup Jaminan Pemeliharaan Kesehatan b. Keluarga pasien yang mengisi
sebanyak 25,54% terdiri dari Jaminan kuesioner.
kesehatan Nasional sebanyak (46,13%),
Penerima Bantuan Iuran (PBI) APBN Pengumpulan data
(34,92%), Pekerja Penerima Upah (PPU) 1. Pengumpulan data primer diperoleh
(6,32%), Pekerja Bukan Penerima Upah dengan menggunakan kuesioner yang
(PBPU) Mandiri (2,12%), bukan pekerja (BP) telah disediakan oleh peneliti.
(2,75%), Jamkesda (51,49%), Asuransi 2. Pengumpulan data sekunder diperoleh dari
Swasta (1,78%), Asuransi Perusahaan (0,0%) rekam medik RSUD Kota Makassar.
(Dinkes Sulsel, 2015).
Dimensi kualitas jasa berdasarkan lima Pengolahan Data
aspek komponen mutu. Kelima komponen 1. Editing
tersebut dikenal dengan ServQual. Kelima Hasil angket yang dikumpulkan melalui
dimensi mutu menurut Pasuraman meliputi kuesioner perlu disunting (edit) terlebih
responsiveness (cepat tanggap), reliability, dahulu. Kalau tenyata masih ada data atau
assurance, empathy dan tangibles (Muninjaya, informasi yang tidak lengkap, dan tidak
2015). mungkin dilakukan wawancara ulang, maka
Berdasarkan pengambilan data awal kuesioner tersebut dikeluarkan (drop out).
dari ruang perawatan interna RSUD Kota 2. Coding sheet
Makassar, menunjukkan bahwa jumlah pasien Lembaran atau kartu kode berisi nomor
pada tahun 2014 sebanyak 983 pasien, responden, dan nomor pertanyaan.
menurun pada tahun 2015 sebanyak 1643 3. Data entry
pasien, meningkat pada tahun 2016 sebanyak Mengisi kolom lembar sesuai dengan
2389 pasien. Sedangkan untuk data pada dari jawaban masing-masing pertanyaan.
bulan Januari sampai Oktober 2017 sebanyak 4. Tabulasi
1854 pasien. Untuk jumlah perawat di ruang Membuat tabel data, sesuai dengan tujuan
perawatan interna RSUD Kota Makassar penelitian atau yang diinginkan oleh peneliti
sebanyak 21 perawat (Rekam Medik RSUD (Notoatmodjo, 2014).
Kota Makassar).
Berdasarkan uraian latar belakang di Analisa data
atas, maka penulis merasa perlu melakukan 1. Analisis Univariat
penelitian tentang ―Hubungan Analisa univariat pada umumnya dalam
Komunikasi Interpersonal Perawat dengan analisis ini menghasilkan distribusi
Kepuasan Pasien BPJS di Ruang Perawatan frekuensi dan persentase dari tiap variabel
Interna RSUD Kota Makassar‖. 2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat yang dilakukan terhadap
BAHAN DAN METODE dua variabel yang diduga berhubungan
Lokasi, populasi, dan sampel atau berkorelasi (Notoatmodjo, 2014).
Penelitian ini dilakukan di Ruang
Perawatan Interna RSUD Kota Makassar pada HASIL PENELITIAN
tanggal 04 sampai 31 Desember 2017. 1. Analisis univariat
Populasi dalam penelitian ini adalah semua Tabel 1 Distribusi Karakteristik Responden
pasien BPJS yang dirawat di Ruang di Ruang Perawatan Interna RSUD Kota
Perawatan Interna RSUD Kota Makassar Makassar. (n=126)
sebanyak 1854 pasien dari bulan Januari
sampai Oktober 2017 dengan sampel
didapatkan 126 pasien dengan teknik simple
random sampling.
1. Kriteria Inklusi :
a. Pasien BPJS yang dirawat di ruang
perawatan interna.
b. Pasien yang dirawat di ruang amarilis.
Karakteristik n %
Umur
17-25 tahun 37 29,4
26-35 tahun 32 25,4
36-45 tahun 26 20,6
46-55 tahun 16 12,7
56-65 tahun 15 11,9

135
Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 15 Nomor 2 Tahun 2020 ● eISSN : 2302-2531
Pendidikan tetapi puas dengan pelayanan kesehatan. Hal ini
SD 20 15,9 disebabkan karena biaya yang dikeluarkan pasien
SMP 35 27,8 mapun keluarga tidak membuat pasien terbebani
SMA 57 45,2 karena sudah ditanggung oleh pihak BPJS.
S1 14 11,1 Hasil uji statistik dengan Spearman's
Pekerjaan
IRT 51 40,5
PNS 9 7,1
Pegawai Swasta 21 16,7
Wiraswasta 36 28,6
Buruh 9 7,1

Berdasarkan tabel 1 menunjukkan


bahwa umur responden terbanyak adalah
17-25 tahun yaitu sebanyak 37 responden
(29,4%). Pendidikan tertinggi adalah SMA
yaitu sebanyak 57 responden (45,2%).
Pekerjaan yang terbanyak adalah IRT yaitu
sebanyak 51 responden (40,5%).

2. Analisis Bivariat
Tabel 2 Hubungan Komunikasi
Interpersonal Perawat dengan Kepuasan
Pasien BPJS di Ruang Perawatan Interna
RSUD Kota Makassar (n=126)
Kepuasan pasien
BPJS
Komunikasi Total
Tidak
interpersonal Puas puas
n % n % n %
Baik 80 77,7 23 22,3 103 100,0
Kurang 12 52,2 11 47,8 23 100,0
p=0,026

Berdasarkan tabel 2 Hasil uji statistik


dengan Chi-square diperoleh nilai p=0,026.
Karena nilai p<α=0,05 maka hipotesis nol
ditolak dan hipotesis alternatif diterima.
Interpretasi ada hubungan komunikasi
interpersonal perawat dengan kepuasan
pasien BPJS.

PEMBAHASAN
Berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan di Ruang Perawatan Interna RSUD
Kota Makassar didapatkan 23 responden yang
mengatakan komukasi interpersonal perawat
baik tetapi tidak puas dengan pelayanan
kesehatan. Hal ini dipengaruhi oleh masih
banyak obat yang tidak tersedia di apotik
rumah sakit sehingga keluarga pasien biasa
membeli langsung obatnya di apotek di luar
dari rumah sakit. Dalam penelitian ini pula
terdapat 12 responden yang mengatakan
komunikasi interpersonal perawat kurang
rho diperoleh nilai p=0,002, sedangkan balik langsung untuk mengetahui apakah
uji statistik dengan Chi-square pesan yang dikirimkan itu berdampak positif
diperoleh nilai p=0,026. Karena nilai atau negatif. Peranan komunikasi
p<α = 0,05 maka hipotesis nol ditolak interpersonal dalam interaksi sosial sangat
dan hipotesis alternatif diterima. penting. Interaksi sosial ditentukan oleh dua
Interpretasi hasil uji statistik faktor utama yaitu kontak sosial dan
Spearman's rho maupun Chi-square komunikasi. Hal ini menunjukan bahwa
test masing menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal sangat penting
adanya hubungan komunikasi dalam setiap hubungan antar manusia karena
interpersonal perawat dengan melalui komunikasi interpersonal inilah
kepuasan pasien BPJS. interaksi sosial dapat berlangsung. Dalam
Menurut Afnuhazi (2015), komunikasi interpersonal masing masing dari
komunikasi merupakan aspek penting komunikator dan komunikan akan
yang harus dimiliki oleh perawat dalam menjalankan fungsi secara bergantian dan
melaksanakan asuhan keperawatan mereka saling bertukar pesan untuk mencapai
pada klien. Komunikasi yang perubahan sikap diantara mereka.
diterapkan oleh perawat kepada klien Menurut Satrianegara (2014), kepuasan
merupakan komunikasi terapeutik yang pasien adalah evaluasi dari dimensi pelayanan
mempunyai tujuan untuk mencapai yang beragam. Pelayanan yang dievaluasi
kesembuhan klien. Komunikasi dapat berupa sebagian kecil dari pelayanan,
terapeutik adalah merupakan misalnya salah satu jenis pelayanan dari
komunikasi yang direncanakan secara serangkaian perawatan rawat jalan atau rawat
sadar, tujuan dan kegiatannya inap, semua jenis pelayanan yang diberikan
difokuskan untuk menyembuhkan klien. untuk menyembuhkan seorang pasien sampai
Komunikasi terapeutik merupakan dengan sistem pelayanan secara menyeluruh
media untuk saling memberi dan di dalam rumah sakit.
menerima antar perawat dengan klien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
berlangsung secara verbal dan non. (BPJS) Kesehatan adalah badan hukum yang
Menurut Triwibowo (2013), dibentuk untuk menyelenggarakan program
komunikasi interpersonal adalah jaminan kesehatan, jaminan kesehatan berupa
pengiriman pesan dari komunikator ke perlindungan kesehatan agar peserta
komunikan dengan efek dan umpan memeroleh manfaat pemeliharaan kesehatan
dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan

136
Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 15 Nomor 2 Tahun 2020 ● eISSN : 2302-2531
dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap komunikasi interpersonal perawat terhadap tingkat
orang yang telah membayar iuran atau kepuasan pasien di IRNA Dewasa Kelas 3 RS. Baptis
iurannya dibayar oleh pemerintah (Yustisia, Kediri. Kepuasan pasien sangat tegantung dari faktor
2014). interaksi perawat, selain juga faktor yang lain. Jika
Hasil penelitian ini sejalan dengan apa yang pasien harapkan dapat dimengerti oleh
penelitian yang telah dilakukan oleh Mirnawati perawat maka pasien akan sangat merasa dihargai
(2014), komunikasi interpersonal perawat dan diperhatikan. Mereka juga menganggap perawat
berhubungan terhadap tingkat kepuasan yang memberikan perawatan lebih bisa mengerti
pasien, dalam hal ini terhadap pasien rawat terhadap apa yang mereka harapkan dan juga mau
inap di ruang Cempaka RSUD Abdul Wahab mendengarkan apa yang mereka ungkapkan, selain
Sjahranie Samarinda. Komunikasi hal tersebut bentuk komunikasi ini adalah salah satu
interpersonal perawat merupakan hal yang kepedulian perawat terhadap pasien yang mereka
sangat penting dalam menunjang tingkat rawat. Sehingga semakin baik komunikasi
kepuasan pasien. Perawat dengan penerapan interpersonal yang terjalin antara perawat dan pasien
komunikasi interpersonal yang baik dan maka semakin meningkat pula kepuasan pasien
terlebih lagi jika didukung oleh pendidikan dalam menjalani perawatan. Kepuasan pasien sangat
yang lebih tinggi, pengetahuan, sikap dan terpengaruh terhadap komunikasi interpersonal
lama bekerja, semakin banyak pengalaman perawat ketika mereka menjalani perawatan, bahkan
yang dimilikinya sehingga akan semakin baik mereka sering membandingkan dengan pelayanan di
cara berkomunikasinya. Dalam tindakan tempat lain. Kepuasan itu sendiri selain faktor
keperawatan, komunikasi adalah suatu alat kesembuhan yang mereka harapkan juga bagaimana
yang penting untuk membina hubungan dan mereka diterima ataupun interaksi yang terjalin saat
dapat mempengaruhi kualitas pelayanan mereka berada di rumah sakit sebagai bentuk
keperawatan. Lebih jauh, komunikasi sangat keseriusan pihak rumah sakit dalam memberikan
penting karena dapat mempengaruhi tingkat perawatan kepada mereka, seperti tersedianya alat
kepuasan pasien terhadap pelayanan komunikasi dalam ruangan.
kesehatan yang diberikan.
Dalam penelitian Hanafi & Richard
(2012), didapatkan bahwa ada pengaruh
Penelitian lain yang telah pelayanan kesehatan karena dengan adanya
dilakukan oleh Hutagaol, dkk (2014), komunikasi interpersonal yang baik akan
menunjukkan bahwa terdapat membuat perawat lebih mengenal pasien
hubungan yang bermakna antara begitu pula sebaliknya. Dengan adanya
kepuasan pasien dengan sikap positif. komunikasi interpersonal dapat membuat
Artinya, bahwa kepuasan pasien perawat lebih mengetahui watak dari pasien
sangat berhubungan dalam sikap tersebut sehingga dapat membuat pasien
positif komunikasi interpersonal tenaga merasa lebih nyaman berada di rumah sakit
kesehatan kepada pasien. Kepuasan yang berdampak pada kepuasan pasien yang
pasien sangat tergantung terhadap tinggi terhadap pelayanan yang diberikan
komunikasi interpersonal tenaga perawat.
kesehatan ketika merekan menjalani
perawatan, bahkan mereka sering KESIMPULAN
membandingkan dengan pelayanan Ada hubungan komunikasi interpersonal
keperawatan di instansi kesehatan perawat dengan kepuasan pasien BPJS di
lainnya. Kepuasan itu sendiri selain Ruang Perawatan Interna RSUD Kota
faktor kesembuhan yang mereka Makassar.
harapkan juga bagaimana mereka
diterima ataupun interaksi yang terjalin SARAN
saat mereka berada di puskesmas 1. Disarankan petugas rumah sakit
sebagai bentuk keseriusan pihak khususnya perawat perlu membentuk
puskesmas dalam memberikan komitmen bersama dalam hal memberikan
perawatan kepada mereka, seperti pelayanan untuk meningkatkan sikap
terjadinya alat komunikasi dalam tanggap, peduli, ramah dan berkomunikasi
ruangan sehingga perawat selalu yang baik kepada pasien tanpa membeda-
merespon secara tepat terhadap bedakan pasien.
keluhan pasien atau ketika pasien 2. Pihak rumah sakit diharapkan
membutuhkan pertolongan perawat. memperhatikan kepuasan pasien karena
Menurut asumsi peneliti, kualitas pelayanan dan kepuasan pasien
komunikasi interpersonal perawat saling berhubungan, maka sangat penting
berhubungan dengan kepuasan pasien untuk senantiasa meningkatkan kualitas
BPJS karena komunikasi interpersonal pelayanan agar pasien puas setelah
perawat dibutuh dalam memberikan berobat.

137
Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 15 Nomor 2 Tahun 2020 ● eISSN : 2302-2531
DAFTAR PUSTAKA

Afnuhazi, R. (2015). Komunikasi Terapeutik dalam Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Gosyen Publishig.

Dinkes Sulsel. (2015). Profil Kesehatan Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2014. Makassar: Dinas
Kesehatan Sulawesi Selatan.

Hanafi, I., & Richard, S. D. (2012). Ketrampilan Komunikasi Interpersonal Perawat Berpengaruh Peningkatan
Kepuasan Pasien. Jurnal STIKES, Volume 5. No. 2.

Hutagaol, D., Andayani, L. S., & Syahrial, E. (2014). The Factors Associated With Health Workers in
Interpersonal Communication Satisfactions of Outpatient Health Center Pandan Tapanuli District Middle.
Jurnal Online.

Kementerian Kesehatan RI. (2016). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2015. Jakarta: Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia.

Mirnawati. (2014). Hubungan Komunikasi Interpersonal Perawat dengan Kepuasan Pasien Rawat Inap di Ruang
Cempaka RSUD AW Sjahranie Samarinda. ejournal Psikologi, Volume 2, Nomor 1.

Muninjaya, A. G. (2015). Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan. ECG: Jakarta.

Notoatmodjo, S. (2014). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Nursalam. (2015). Manajemen Keperawatan Aplikasi Dalam Praktik Keperawatan Profesional. Jakarta: Salemba
Medika.

Satrianegara, M. F. (2014). Organisasi dan Manajemen Pelayanan Kesehatan : Teori dan Aplikasi dalam
Pelayanan Puskesmas dan Rumah Sakit. Jakarta: Salemba Medika.

Triwibowo, C. (2013). Manajemen Pelayanan Keperawatan di Rumah Sakit. Jakarta: Trans Info Media.

Yustisia, T. V. (2014). Panduan Resmi Memperoleh Jaminan Kesehatan dari BPJS. Jakarta: Visimedia.
Psikoborneo, Vol 1, No 4, 2013: 241- ISSN: 2477-2666/E-ISSN: 2477-
249 2674
ANALISI JURNAL
HUBUNGAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL DENGAN KEPUASAN
PASIEN BPJS DI RUANG PERAWATAN INTERNA RSUD KOTA
MAKASSAR

A. IDENTITAS JURNAL
a. Nama penulis : Asmaul Husna1, Adriani Kadir, Sri Wahyuni.
b. Tahun : 2020
c. Nama jurnal : Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 15 Nomor 2 Tahun 2020
d. Kota terbit jurnal : Makasar
B. POPULASI
Pasien BPJS yang di rawat di Ruang Perawatan Interna RSUD Kota Makasar dengan jumlah sample
126 Pasien dengan kriteria :
1. Kriteria Inklusi :
- Pasien BPJS yang dirawat di ruang perawatan interna.
- Pasien yang dirawat di ruang amarilis.
- Pasien yang sudah dirawat selama 3 hari.
- Pasien yang berumur 17-65 tahun.
- Pasiean yang mampu berkomunikasi secara verbal.
- Bersedia menjadi responden.
2. Kriteria Eksklusi :
- Pasien yang tidak kooperatif.
- Keluarga pasien yang mengisi kuesioner.
C. INTERVENSI
Komunikasi adalah suatu pertukaran pikiran, perasaan, pendapat dan pemberian nasehat yang
terjadi antara dua orang atau lebih yang bekerjasama. Komunikasi merupakan suatu seni untuk dapat
menyusun dan menghantar suatu pesan dengan cara yang mudah sehingga dapat dimengerti dan
menerima maksud dan tujuan pemberi pesan (Nursalam, 2015).
Menurut Afnuhazi (2015), komunikasi merupakan aspek penting yang harus dimiliki oleh perawat dalam
melaksanakan asuhan keperawatan pada klien. Komunikasi yang diterapkan oleh perawat kepada klien
merupakan komunikasi terapeutik yang mempunyai tujuan untuk mencapai kesembuhan klien.
Komunikasi terapeutik adalah merupakan komunikasi yang direncanakan secara sadar, tujuan dan
kegiatannya difokuskan untuk menyembuhkan klien. Komunikasi terapeutik merupakan media untuk
saling memberi dan menerima antar perawat dengan klien berlangsung secara verbal dan non. Menurut
Triwibowo (2013), komunikasi interpersonal adalah pengiriman pesan dari komunikator ke komunikan
dengan efek dan umpan balik langsung untuk mengetahui apakah pesan yang dikirimkan itu berdampak
positif atau negatif. Peranan komunikasi interpersonal dalam interaksi sosial sangat penting. Interaksi
241
Psikoborneo, Vol 1, No 4, 2013: 241- ISSN: 2477-2666/E-ISSN: 2477-
249 2674
sosial ditentukan oleh dua faktor utama yaitu kontak sosial dan komunikasi. Hal ini menunjukan bahwa
komunikasi interpersonal sangat penting dalam setiap hubungan antar manusia karena melalui
komunikasi interpersonal inilah interaksi sosial dapat berlangsung. Dalam komunikasi interpersonal
masing masing dari komunikator dan komunikan akan menjalankan fungsi secara bergantian dan mereka
saling bertukar pesan untuk mencapai perubahan sikap diantara mereka.
Menurut Satrianegara (2014), kepuasan pasien adalah evaluasi dari dimensi pelayanan yang
beragam. Pelayanan yang dievaluasi dapat berupa sebagian kecil dari pelayanan, misalnya salah satu
jenis pelayanan dari serangkaian perawatan rawat jalan atau rawat inap, semua jenis pelayanan yang
diberikan untuk menyembuhkan seorang pasien sampai dengan sistem pelayanan secara menyeluruh di
dalam rumah sakit.
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan adalah badan hukum yang dibentuk
untuk menyelenggarakan program jaminan kesehatan, jaminan kesehatan berupa perlindungan kesehatan
agar peserta memeroleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan
dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar
oleh pemerintah (Yustisia, 2014).
D. COMPARISON
Dalam jurnal ini hasil penelitian dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Mirnawati (2014) dalam jurnal yang berjudul “Hubungan Komunikasi Interpersonal Perawat
dengan Kepuasan Pasien Rawat Inap di Ruang Cempaka RSUD AW Sjahranie Samarinda” dimana
komunikasi interpersonal perawat berhubungan terhadap tingkat kepuasan pasien, komunikasi
interpersonal perawat merupakan hal yang sangat penting dalam menunjang tingkat kepuasan
pasien. Perawat dengan penerapan komunikasi interpersonal yang baik dan terlebih lagi jika
didukung oleh pendidikan yang lebih tinggi, pengetahuan, sikap dan lama bekerja, semakin banyak
pengalaman yang dimilikinya sehingga akan semakin baik cara berkomunikasinya.
E. OUTCOME
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Ruang Perawatan Interna RSUD Kota Makassar
didapatkan 23 responden yang mengatakan komukasi interpersonal perawat baik tetapi tidak puas
dengan pelayanan kesehatan. Hal ini dipengaruhi oleh masih banyak obat yang tidak tersedia di apotik
rumah sakit sehingga keluarga pasien biasa membeli langsung obatnya di apotek di luar dari rumah
sakit. Dalam penelitian ini pula terdapat 12 responden yang mengatakan komunikasi interpersonal
perawat kurang tetapi puas dengan pelayanan kesehatan. Hal ini disebabkan karena biaya yang
dikeluarkan pasien mapun keluarga tidak membuat pasien terbebani karena sudah ditanggung oleh
pihak BPJS. rho diperoleh nilai p=0,002, sedangkan uji statistik dengan Chi-square diperoleh nilai
p=0,026. Karena nilai p<α = 0,05 maka hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternatif diterima.
Interpretasi hasil uji statistik Spearman's rho maupun Chi-square test masing menunjukkan bahwa
adanya hubungan komunikasi interpersonal perawat dengan kepuasan pasien BPJS.

242
Psikoborneo, Vol 1, No 4, 2013: 241- ISSN: 2477-2666/E-ISSN: 2477-
249 2674

F. TIME
Penelitian dilakukan pada tanggal 4-31 Desember 2017
G. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
- Kelebihan :
a. Pada jurnal terdapat Judul sudah sesuai dengan isi penelitian
b. Abstrack dalam penelitian ini sudah mencangkup komponen latar belakang, tujuan,
metode, hasil, kesimpulan.
c. Dalam jurnal dinyatakan bahwa dengan adanya komunikasi interpersonal yang baik akan
membuat perawat lebih mengenal pasien begitu pula sebaliknya, sehingga dapat
membuatu pasien merasa nyaman dan puas dengan pelayanan yang ada di rumah sakit.
- Kekurangan :
a. Pada penelitian tidak ada kelompok kontrol atau pembanding
H. IMPLIKASI KEPERAWATAN
Penelitian lain yang telah dilakukan oleh Hutagaol, dkk (2014), menunjukkan bahwa terdapat
hubungan yang bermakna antara kepuasan pasien dengan sikap positif. Artinya, bahwa kepuasan
pasien sangat berhubungan dalam sikap positif komunikasi interpersonal tenaga kesehatan kepada
pasien. Kepuasan pasien sangat tergantung terhadap komunikasi interpersonal tenaga kesehatan ketika
merekan menjalani perawatan, bahkan mereka sering membandingkan dengan pelayanan keperawatan
di instansi kesehatan lainnya. Kepuasan itu sendiri selain faktor kesembuhan yang mereka harapkan
juga bagaimana mereka diterima ataupun interaksi yang terjalin saat mereka berada di puskesmas
sebagai bentuk keseriusan pihak puskesmas dalam memberikan perawatan kepada mereka, seperti
terjadinya alat komunikasi dalam ruangan sehingga perawat selalu merespon secara tepat terhadap
keluhan pasien atau ketika pasien membutuhkan pertolongan perawat. komunikasi interpersonal
perawat berhubungan dengan kepuasan pasien BPJS karena komunikasi interpersonal perawat
dibutuhkan dalam memberikan pelayanan kesehatan karena dengan adanya komunikasi interpersonal
yang baik akan membuat perawat lebih mengenal pasien begitu pula sebaliknya. Dengan adanya
komunikasi interpersonal dapat membuat perawat lebih mengetahui watak dari pasien tersebut
sehingga dapat membuat pasien merasa lebih nyaman berada di rumah sakit yang berdampak pada
kepuasan pasien yang tinggi terhadap pelayanan yang diberikan oleh perawat.

243
Psikoborneo, Vol 1, No 4, 2013: 241- ISSN: 2477-2666/E-ISSN: 2477-
249 2674

JURNAL PEMBANDING
HUBUNGAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL PERAWAT
DENGAN KEPUASAN PASIEN RAWAT INAP DI RUANG
CEMPAKA RSUD AW SJAHRANIE SAMARINDA

Mirnawati1

Program Studi Psikologi


Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Mulawarman
Samarinda

ABSTRACT. This study aims to determine the relationship between interpersonal communication with the
nurse patient satisfaction. The sample was an inpatient in the hospital cempaka Abdul Wahab Sjahranie Sa-
marinda by 75 patients. This study file was collected by the scale of Interpersonal Communication and
Patient Satisfaction scale with Likert scale models. The results of this study indicate that there is a positive
and highly significant relationship between interpersonal communication nurse with patient satisfaction in
hospitals cem- paka Abdul Wahab Sjahranie Samarinda with r = 0.694 and p = 0.000. Then the results of this
study also indicate that there is a relationship between aspects of interpersonal communication aspects of the
nurse with patient satisfaction in hospitals cempaka Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.

Keywords: interpersonal communication, patient satisfaction

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara komunikasi interpersonal dengan
faksi pasien perawat. Sampel adalah pasien rawat inap di rumah sakit cempaka Abdul Wahab Sjahranie
Samarinda sebanyak 75 orang. File penelitian ini dikumpulkan oleh skala komunikasi interpersonal dan skala
kepuasan Pasien dengan model skala Likert. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan positif
dan sangat signifikan antara komunikasi interpersonal perawat dengan kepuasan pasien di rumah sakit
cempaka Abdul Wahab Sjahranie Samarinda dengan r = 0,694 dan p = 0,000. Kemudian hasil penelitian ini
juga menunjukkan bahwa ada hubungan antara aspek komunikasi antarpribadi dengan kepuasan pasien di
rumah sakit cempaka Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.

Kata kunci: komunikasi interpersonal, kepuasan pasien

PENDAHULUAN hanya menyangkut kesembuhan dari penyakit secara


Rumah sakit adalah suatu organisasi yang meli- fisik atau meningkatkan derajat kesehatannya. Tetapi
puti tenaga medis profesional yang terorganisir, dan
salah satu sarana kesehatan tempat menyelenggara-
kan pelayanan kedokteran, asuhan keperawatan yang
berkesinambungan, diagnosis serta pengobatan pen-
yakit yang diderita oleh pasien. Tugas rumah sakit
adalah melaksanakan upaya kesehatan dengan mem-
berdayakan berbagai kesatuan personel terlatih dan
terdidik dalam menghadapi dan menangani masalah
medik untuk pemulihan dan pemeliharaan kesehatan
yang baik.
Pengguna jasa pelayanan rumah sakit dalam hal
ini pasien menuntut pelayanan yang berkualitas tidak
244
Psikoborneo, Vol 1, No 4, 2013: 241- ISSN: 2477-2666/E-ISSN: 2477-
249 2674
juga menyangkut kepuasan terhadap sikap, selalu Rumah sakit saling berlomba memberikan pela-
tersedianya sarana dan prasarana yang memadai dan yanan yang berkualitas pada pasiennya, jika pela-
lingkungan fisik yang dapat memberikan kenya- yanan yang diberikan berkualitas, pasien akan
manan. Dengan semakin meningkatnya kualitas merasa puas. Kualitas pelayanan yang memuaskan
pela- yanan maka fungsi pelayanan dirumah sakit bagi pasien dapat berasal dari berbagai aspek. Aspek
perlu dit- ingkatkan agar menjadi lebih efektif dan ter- sebut dapat berasal dari pihak internal, seperti
efisien serta memberikan kepuasan terhadap pasien, medik dan tim kesehatan lainnya, tenaga
keluarga dan masyarakat. administrasi juga sarana dan prasarana rumah sakit.

1
Email: ernadwi.n@gmail.com
Dalam memenuhi kebutuhan pasien, pelayanan penuhinya secara relatif semua kebutuhan secara me-
yang dapat dilakukan oleh pihak rumah sakit tidak madai meliputi terciptanya rasa aman, kondisi
cukup hanya dengan lengkapnya fasilitas rumah lingkungan yang menyenangkan, menarik keadaan
sakit. Tetapi perlu juga untuk memahami pasien sosial yang baik, adanya penghargaan, adanya
secara mendalam, berpenampilan yang menarik, perasaan diri diakui dan bermanfaat dalam ling-
peka dengan pasien, mampu dan menguasai kungan.
pekerjaan, ter- lebih lagi mampu untuk Hasil wawancara dengan salah satu keluarga
berkomunikasi secara efektif dan mampu pasien yang notabennya pernah melaksanakan asuhan
menanggapi keluhan pasien secara pro- fessional keperawatan (Dinas) selama 2 bulan di RSUD Abdul
sebagai seorang perawat. Wahab Sjahranie Samarinda, mengatakan bahwa
Menurut Haliman (2012) dewasa ini sebagian kualitas pelayanan di ruang Cempaka RSUD Abdul
be- sar dari para pasien belum tahu atau tidak Wahab Sjahranie Samarinda ruang bangsal yang di-
memahami dengan benar hak dan kewajiban yang maksud kelas 3 masih jauh dari apa yang di harapkan
melekat disaat datang berobat atau opname disebuah
rumah sakit. Setiap rumah sakit mempunyai
kewajiban mem- berikan informasi yang benar
tentang pelayanan ru- mah sakit kepada masyarakat,
memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu,
antidiskriminasi, dan afektif dengan mengutamakan
kepentingan pasien sesuai standar pelayanan rumah
sakit. Adapun hak pasien yang harus diberikan
rumah sakit ialah mem- peroleh informasi mengenai
tata tertib, hak dan kewajiban pasien dan peraturan
yang berlaku di ru- mah sakit, memperoleh layanan
kesehatan yang ber- mutu, manusiawi, adil, jujur dan
bebas diskriminasi.
Dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan
di rumah sakit tidak terlepas dari profesi
keperawatan yang berperan penting. Perawat adalah
seseorang yang mempunyai profesi berdasarkan
pengetahuan ilmiah, ketrampilan serta sikap kerja
yang dilandasi oleh rasa tanggung jawab dan
pengabdian (Leonardi, Lumenta, Stolzle & Muler-
Hocker, 1998). Perawat merupakan tenaga
profesional yang paling lama kon- tak dengan pasien
yaitu 24 jam/hari, sehingga pela- yanan kesehatan
sangat ditentukan oleh pelayanan keperawatan.
Kepuasan pasien adalah suatu tingkat perasaan
yang timbul sebagai akibat dari kinerja pelayanan
kesehatan yang diperolehnya setelah pasien mem-
bandingkan dengan apa yang diharapkan (Imbalo,
2007). Kepuasan adalah keadaan psikis yang me-
nyenangkan, yang dirasakan oleh karena ter-
245
Psikoborneo, Vol 1, No 4, 2013: 241- ISSN: 2477-2666/E-ISSN: 2477-
249 2674
masyarakat, salah satunya perawat terkesan cuek, pasien adalah melalui komu- nikasi interpersonal
acuh tak acuh terhadap keluhan-keluhan dan infor- yang terjalin diantara keduanya, dalam hal ini
masi penyakit pasien, dan juga suka menunda dalam adalah perawat dan pasien, dan perawat melakukaan
memberikan asuhan keperawatan. Subjek juga pendekatan secara individu. Itulah
mengaku bahwa jika sakit dan harus dirawat di Ru- sebabnya komunikasi interpersonal merupakan kom-
mah Sakit akan berfikir dua kali untuk dirawat di ponen penting dalam praktek pelayanan
RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda karena keperawatan. Jenis komunikasi yang paling sering
pengalaman selama Dinas, asuhan keperawatan digunakan da- lam pelayanan keperawatan di rumah
yang diberikan tidak memuaskan, namun beda sakit adalah pertukaran informasi secara
halnya jika di ruang VIP perawat ataupun tenaga interpersonal, yaitu komunikasi interpersonal yang
kesehatan lainnya lebih menghormati pasien, lebih terjalin antara dua orang atau lebih dalam hal ini
sigap, dan juga menjaga hubungan dengan pasien komunikasi antara perawat dan pasien, terutama
diantaranya menanyakan kesehatan dan juga komunikasi perawat baik dengan pasien maupun
menjaga kebersihan ruangan pasien (28-Agustus- keluarga pasien. Komu- nikasi interpersonal
2013). Dengan demikian pasien yang dirawat biasanya lebih akurat dan tepat, serta juga
diruang bangsal (kelas 3) mengaku kurang puas merupakan komunikasi yang berlangsung dalam
dengan pelayanan di RSUD Abdul Wahab Sjahranie rangka membantu memecahkan masalah klien,
samarinda dalam hal ini pasien (Mundakir, 2006).
Penelitian yang dilakukan oleh DepKes RI di Menurut Muhammad (2002), komunikasi inter-
27 Rumah Sakit Kabupaten dan Kota pada tahun personal adalah proses pertukaran informasi diantara
2001, mendapatkan hasil keperawatan masih jauh seseorang dengan paling kurang seorang lainnya
dari apa yang diharapkan oleh pasien, contohnya atau biasanya di antara dua orang yang dapat
perawat tidak memperkenalkan diri kepada pasien langsung diketahui balikannya. Komunikasi
maupun keluarga pasien karena kurang interpersonal juga membentuk hubungan dengan
membudaya, ku- rangnya penjelasan atau informasi orang lain.
dan komunikasi pada waktu memberikan asuhan Komunikasi memegang peranan sangat penting
keperawatan dan masih kurangnya kegiatan dalam pelayanan keperawatan, bahkan dapat
monitoring dan observasi. Salah satu bentuk dikatakan komunikasi merupakan kegiatan mutlak
perlakuan yang baik dari tenaga medis kepada dan menentukan bagi hubungan/interaksi perawat-
pasien untuk menunjang kesembuhan pasien. Se- melayani dengan baik (RS. AWS, 30-Agustus-2013).
hingga hubungan komunikasi interpersonal perawat- Menurut Sarwono (2004) hal-hal yang sering
pasien menentukan kepuasan terhadap pelayanan menghambat komunikasi antara tenaga medis-pasien
keperawatan yang dirasakan oleh pasien. Kepuasan ialah penggunaan simbol (istilah-istilah medis atau
pasien sangat terpengaruh terhadap komunikasi ilmiah yang diartikan secara berbeda atau sama sekali
inter- personal perawat ketika mereka menjalani tidak dimengerti oleh pasien); pseudo- komunikasi
perawatan, bahkan mereka sering membandingkan (tetap berkomunikasi dengan lancar padahal
dengan pela- yanan di tempat lain. sebenarnya pasien tidak sepenuhnya mengerti atau
Hasil wawancara peneliti dengan pasien di mempunyai persepsi yang berbeda tentang apa yang
ruang Cempaka RSUD Abdul Wahab Sjahranie dibicarakan); dan komunikasi non-verbal (mimik
Samarinda ditemukan bahwa pasien diruang bangsal muka, nada suara, gerakan, yang mempengaruhi
(kelas 3, ASKES dan sejenisnya) ingin diperlakukan pem- ahaman pesan/informasi yang diberikan).
sama dengan kelas VIP, diberikan pelayanan sesuai Sering kali tenaga medis memberikan terlalu banyak
prosedur rumah sakit tidak memandang status sosial, informasi dan berbicara dengan gaya paternalistik
dan berharap perawat lebih menghargai pasien dan dan meren- dahkan pasien, terutama jika si pasien
tidak cuek terhadap keluhan pasien. subjek mencer- berasal dari tingkat sosial/pendidikan yang rendah.
itakan bahwa bahasa perawat maupun dokter sering Hal-hal ini dapat menimbulkan kerancuan dalam
tidak dimengerti dalam memberikan informasi juga proses komu- nikasi sehingga pesan yang ingin
terkesan buru-buru saat komunikasi dengan pasien, disampaikan oleh kedua belah pihak tidak dapat
acuh tak acuh terhadap kondisi pasien dan juga mencapai sasaran sep- erti yang diharapkan.
subjek mengatakan sesuai dengan pengalamannya Kelemahan dalam berkomunikasi merupakan
bahwa pe- layanan kesehatan di RSUD Abdul masalah yang serius bagi perawat maupun pasien.
Wahab Sjahranie Samarinda jauh berbeda dengan Perawat yang enggan berkomunikasi dan menunjuk-
Rumah Sakit di kota Bontang, karena meskipun kan raut wajah yang tegang dan ekspresi wajah yang
pasien menggunakan ASKES, layanan kesehatan marah dan tidak ada senyum akan berdampak negatif
246
Psikoborneo, Vol 1, No 4, 2013: 241- ISSN: 2477-2666/E-ISSN: 2477-
249 2674
bagi pasien. Pasien akan merasa tidak nyaman ini tentunya akan sangat berpengaruh terhadap
bahkan terancam dengan sikap perawat atau tenaga proses kepuasan pasien.
kesehatan lainnya jika bersikap seperti diatas. Salah satu tujuan komunikasi interpersonal ada-
Kondisi seperti lah menemukan personal atau pribadi (Muhammad,
2002). Adapun tujuan perawat berkomunikasi
dengan pasien adalah menolong dan membantu serta
me- ringankan beban penyakit yang di derita pasien.
Di- mana penyakit yang diderita pasien tidak hanya
secara fisik namun juga meliputi jiwa atau mental
pasien, terutama mengalami gangguan emosi seperti
mudah tersingung, patah semangat dikarenakan
sakit- nya. Dengan demikian menyebabkan dalam
dirinya timbul perasaan sedih, takut, dan lekas
tersinggung, apalagi penyakit yang dideritanya
divonis tidak bisa disembuhkan lagi. Disinilah
pentingnya komunikasi interpersonal yang dilakukan
perawat terhadap pasiennya.
Pasien yang dirawat inap di rumah sakit selain
memerlukan pengobatan secara medis juga membu-
tuhkan pengobatan secara non-medis (sering ter-
jadinya komunikasi yang bersifat menghibur, mem-
berikan semangat dan keramah-tamahan perawat,
dan lain-lain) yang dapat membantu mempengaruhi
dan membantu proses penyembuhan.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpul-
kan bahwa kegiatan komunikasi yang dilakukan an-
tara perawat dan pasien dapat pula mempengaruhi
tingkat kesehatan pasien, yaitu pasien menuruti kata
- kata dan nasehat perawat, anjuran dan lainnya yang
dapat membuat pasien lebih bersemangat sehingga
tercapai kepuasan pasien.
RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda
meru- pakan salah satu Rumah Sakit Umum milik
Pemerintah yang ada di Samarinda, yang terletak di
Jl. Dr. Soetomo. Selain tempat pelayanan kesehatan,
RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda juga se-
bagai tempat pendidikan para calon dokter, perawat,
bidan, dan mahasiswa lain dari berbagai Universitas
yang ingin melakukan penelitian. Survey penda-
huluan yang penulis lakukan pada bulan Mei 2013
dengan observasi dan wawancara terhadap pasien
yang dirawat di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Sa-
marinda dalam pelayanan perawat kepada pasien
rawat inap masih kurang ramah, sikap acuh, sikap
empati yang masih kurang, komunikasi dengan
pasien masih kurang.
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian mengenai komunikasi
in- terpersonal perawat dengan kepuasan pasien
rawat inap. Dalam penelitian ini akan dilihat faktor
yang mempengaruhi kepuasan pasien melalui
variabel komunikasi interpersonal perawat. Maka
dalam penelitian ini, difokuskan untuk melihat dan
mem- buktikan sejauh mana hubungan antara
komunikasi
247
Psikoborneo, Vol 1, No 4, 2013: 241- ISSN: 2477-2666/E-ISSN: 2477-
249 2674
interpersonal perawat dengan kepuasan pasien rawat Teori Kepuasan Pasien
inap di ruang Cempaka RSUD Abdul Wahab Sjah- Menurut Tjiptono (2008) aspek-aspek kepuasan
ranie Samarinda.
pasien mencakup beberapa hal antara lain, sebagai
TINJAUAN PUSTAKA berikut:
Komunikasi Interpersonal a. Kehandalan
Devito (1997) menyatakan bahwa komunikasi Kemampuan pemberi layanan untuk mem-
interpersonal merupakan proses pengiriman dan pen- berikan pelayanan yang dijanjikan dengan
erimaan pesan antara dua orang, secara spontan dan segera, akurat dan memuaskan.
informal. b. Daya tanggap
Kemampuan pemberi layanan untuk membantu,
Teori Komunikasi Interpersonal bersedia mendengarkan keluhan pasien dan me-
Menurut DeVito (1997) ada lima aspek efektivi- nyediakan pelayanan yang dibutuhkan dengan
tas komunikasi interpersonal, yaitu: segera.
a. Kepercayaan diri c. Jaminan
Dalam komunikasi interpersonal, komunikator Mencakup pengetahuan, kemampuan,
yang efektif haruslah memiliki kepercayaan diri kesopanan dan sifat dapat dipercaya yang
sosial, dimana seorang komunikator merasa dimiliki para pem- beri jasa untuk menimbulkan
nya- man bersama orang lain dan dalam situasi rasa percaya kepada pasien terhadap jasa yang
komu- nikasi pada umumnya. ditawarkan.
b. Kebersatuan d. Empati
Kebersatuan mengacu pada penggabungan an- Meliputi kemudahan dalam melakukan hub-
tara pembicara dan pendengar. Bahasa yang ungan, komunikasi yang baik, perhatian, sabar
menunjukkan kebersatuan umumnya ditanggapi dan memahami kebutuhan atau harapan pasien.
lebih positif dari pada yang tidak menunjukkan e. Bukti langsung
kebersatuan. Secara nonverbal misalnya dengan Meliputi fasilitas fisik, peralatan, ruang rawat,
memelihara kontak mata yang patut, kedekatan personil dan sarana komunikasi.
fisik yang menggemakan kedekatan psikologis,
sosok tubuh terbuka, tersenyum dan perilaku METODE PENELITIAN
lain yang mengisyaratkan minat pada Metode penelitian yang digunakan dalam
pembicaraan. penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Populasi
c. Manajemen interaksi pada penelitian ini adalah pasien rawat inap di ruang
Komunikator yang efektif menggendalikan in- Cemapaka RSUD AW Sjahranie Samarinda dengan
teraksi untuk kepuasan dua belah pihak, menggunakan teknik purposive sampling. Metode
sehingga tidak ada yang merasa terabaikan, pengumpulan data yang dimaksud pada penelitian
masing-mas- ing pihak berkontribusi dalam ini adalah menggunakan data pribadi subjek dan alat
komunikasi. pengukuran atau instrumen. Alat pengukuran atau
d. Daya ekspresi istrumen yang digunakan ada tiga macam yaitu alat
Daya ekspresi mengacu pada ketrampilan ukur komunikasi interpersonal dan kepuasan pasien.
mengkomunikasikan keterlibatan tulus dalam Teknik analisa data yang digunakan yaitu
in- teraksi komunikasi interpersonal. correlation product moment person untuk
e. Orientasi kepada orang lain mengetahui seberapa besar hubungan antara variabel
Orientasi kepada orang lain mengacu pada ke- bebas dan variabel terikat. Sebelum dilakukan
mampuan, perhatian dan minat kita untuk me- analisis data, terlebih da- hulu dilakukan uji asumsi
nyesuaikan diri dengan lawan bicara. yang meliputi normalitas sebaran dan linearitas
hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat.
Kepuasan Pasien Keseluruhan teknik analisis data akan menggunakan
Tjiptono (2008) menyatakan kepuasan atau program SPSS versi 16.0 for win- dows.
ketidakpuasan pelanggan adalah respon pelanggan
terhadap ketidaksesuaian yang dirasakan antara
hara- pan sebelumnya dan hasil dari pelayanan yang
dirasa- kan setelah pemakainnya.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN dilihat bahwa nilai r = 0.694 memiliki koefisien yang
Berdasarkan hasil penelitian ini juga dapat bertanda positif, hal ini berarti hubungan antara

248
Psikoborneo, Vol 1, No 4, 2013: 241- ISSN: 2477-2666/E-ISSN: 2477-
249 2674
komunikasi interpersonal perawat dengan kepuasan Lebih jauh, komunikasi sangat penting karena dapat
pasien rawat inap di ruang Cempaka RSUD Abdul mempengaruhi tingkat kepuasan pasien terhadap
Wahab Sjahranie Samarinda memiliki korelasi yang pelayanan kesehatan yang diberikan.
positif, yaitu semakin tinggi komunikasi Menurut Effendy (2008) komunikasi
interpersonal perawat, maka kepuasan pasien interpersonal adalah komunikasi antara komunikator
semakin tinggi pula. Demikian sebaliknya, semakin dengan seorang komunikan, dalam hal ini antara
rendah komunikasi interpersonal perawat, maka perawat dengan pasien. Komunikasi jenis ini
kepuasan pasien semakin rendah pula. Selain itu, dianggap paling efektif dalam hal upaya mengubah
nilai yang diperoleh ini berada pada rentang nilai sikap, pendapat, dan perilaku seseorang, karena
antara 0,60 – 0,799 yang menurut Guilford (1956) sifatnya dialogis, berupa percakapan. Pentingnya
dapat di- artikan bahwa korelasi dinyatakan kuat komunikasi interpersonal bagi perawat ialah karena
(Rakhmat, 1985). perawat dapat mengetahui diri pasien selengkap-
Hasil pengujian statistik ini sesuai dengan lengkapnya. Perawat dapat mengetahui namanya,
pendapat Wiyati (2008) yang menyatakan bahwa pekerjaannya, pendidikannya, agamanya,
pelaksanaan komunikasi interpersonal yang baik pengalamannya, cita-citanya, dan sebagainya, yang
dapat meningkatkan kepuasan pelayanan penting adalah dapat mengubah sikap, pendapat, dan
keperawatan yang dirasakan oleh pasien. perilakunya. Dengan demikian perawat dapat
Komunikasi interpersonal merupakan salah satu mengarahkan pasien kesuatu tujuan sebagaimana
faktor dalam mengukur kepuasan suatu pelayanan. pasien inginkan, dengan begitu pasien akan merasa
Hal senada diungkapkan bahwa hubungan puas dan terpenuhi harapannnya.
komunikasi interpersonal perawat pasien Jenis komunikasi yang paling sering digunakan
menentukan kepuasan pelayanan keperawatan yang dalam pelayanan keperawatan di rumah sakit adalah
dirasakan oleh pasien. Sehingga dapat dijelaskan pertukaran informasi secara interpersonal, yaitu
bahwa semakin baik komunikasi interpersonal komunikasi interpersonal yang terjalin antara dua
perawat, maka akan semakin baik pula kepuasan orang atau lebih dalam hal ini komunikasi antara
pelayanan keperawatan yang dirasakan oleh pasien. perawat dan pasien, terutama komunikasi perawat
Seperti halnya Vaughans (2011) yang menyatakan baik dengan pasien maupun keluarga pasien. Komu-
bahwa meskipun perawat bisa terikat dalam nikasi interpersonal biasanya lebih akurat dan tepat,
komunikasi interpersonal dengan berbagai anggota serta juga merupakan komunikasi yang berlangsung
tim layanan kesehatan, interaksi perawat dengan dalam rangka membantu memecahkan masalah klien
pasien adalah yang terpenting. demi meningkatkan kepuasan (Mundakir, 2006).
Kemudian, berdasarkan hasil uji korelasi juga Komunikasi memegang peranan sangat penting
diperoleh bahwa ternyata komunikasi interpersonal dalam pelayanan keperawatan, bahkan dapat
perawat memiliki hubungan yang kuat dengan dikatakan komunikasi merupakan kegiatan mutlak
kepuasan pasien. Artinya bahwa komunikasi dan menentukan bagi hubungan/interaksi perawat-
interpersonal perawat berhubungan terhadap tingkat pasien untuk menunjang kesembuhan pasien. Se-
kepuasan pasien, dalam hal ini terhadap pasien rawat hingga hubungan komunikasi interpersonal perawat-
inap di ruang Cempaka RSUD Abdul Wahab pasien menentukan kepuasan terhadap pelayanan
Sjahranie Samarinda. keperawatan yang dirasakan oleh pasien. Kepuasan
Hasil penelitian ini dapat menjelaskan bahwa pasien sangat terpengaruh terhadap komunikasi
komunikasi interpersonal perawat merupakan hal inter- personal perawat ketika mereka menjalani
yang sangat penting dalam menunjang tingkat perawatan. Berdasarkan hasil uji deskriptif
kepuasan pasien. Perawat dengan penerapan diperoleh hasil bahwa rata-rata kepuasan pasien
komunikasi interpersonal yang baik dan terlebih lagi berada pada kategori tinggi. Hal ini menandakan
jika didukung oleh pendidikan yang lebih tinggi, bahwa sebagian besar pasien rawat inap merasa
pengetahuan, sikap dan lama bekerja, semakin puas dalam mejalani perawatan yang diberikan
banyak pengalaman yang dimilikinya sehingga akan perawat di ruang Cempaka RSUD Abdul Wahab
semakin baik cara berkomunikasinya. Dalam Sjahranie Samarinda. Kepuasan yang tinggi ini dapat
tindakan keperawatan, komunikasi adalah suatu alat diartikan bahwa pelayanaan keperawatan yang
yang penting untuk membina hubungan dan dapat diberikan sesuai dengan harapan
mempengaruhi kualitas pelayanan keperawatan. yang diinginkan pasien.
Memuaskan dalam hal ini adalah apa yang
dirasakan pasien, misalnya seperti bagaimana
perawat merespon dengan cepat setiap keluhan yang
249
Psikoborneo, Vol 1, No 4, 2013: 241- ISSN: 2477-2666/E-ISSN: 2477-
249 2674
dirasakan pasien, keterampilan perawat dalam
melakukan asuhan keperawatan sehingga pasien Masing-
merasa aman dan nyaman, membantu pasien dan
memberikan jasa dengan cepat, tepat dan tanggap,
serta tanggung jawab dalam pelayanan terhadap
pasien.
Hal ini dapat diperoleh dari jawaban responden
melalui angket dan wawancara bahwa pasien merasa
puas dengan pelayanan yang diberikan oleh perawat
yang ada di ruang Cempaka RSUD Abdul Wahab
Sjahranie Samarinda, karena perawat dalam
memberikan pelayanaan keperawatan sesuai dengan
apa yang dibutuhkan oleh pasien yang dirawat.
Kepuasan pasien terhadap pelayanan rumah
sakit yang dilaksanakan oleh perawat merupakan
salah satu indikator untuk mengukur mutu pelayanan
kesehatan di rumah sakit. Pasien akan selalu mencari
layanan keperawatan di fasilitas yang kinerja
perawatnya dapat memenuhi harapan pasien. Suatu
pelayanan keperawatan dinilai memuaskan bila pela-
yanan tersebut dapat memenuhi kebutuhan dan hara-
pan pasien (Syafrudin, dkk., 2009).
Kepuasan pasien sangat tergantung dari faktor
interaksi perawat, selain juga faktor yang lain. Jika
apa yang pasien harapkan dapat dimengerti oleh
perawat maka pasien akan sangat merasa dihargai
dan diperhatikan. Mereka juga menganggap perawat
yang memberikan perawatan lebih bisa mengerti
terhadap apa yang mereka harapkan.
Selain itu, berdasarkan hasil uji deskriptif juga
diperoleh hasil bahwa rata-rata komunikasi
interpersonal perawat berada pada kategori sedang,
yaitu berjumlah 34 orang atau sekitar 45.33 persen.
Hal ini menandakan bahwa sebagian besar perawat
rawat inap sudah melakukan layanan keperawatan
dengan komunikasi interpersonal yang baik, dan
dapat diartikan bahwa rata-rata komunikasi
interpersonal perawat dalam penelitian ini adalah
sedang.
Menurut jawaban dari responden melalui angket
dan wawancara, bahwa perawat di ruang Cempaka
RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda, sudah
melakukan komunikasi interpersonal dengan baik,
hal ini dapat dilihat pada skor jawaban responden
yang berada pada kategori sedang.
Menurut Devito (1997) komunikasi yang efektif
seorang komunikator harus memiliki kepercayaan
diri sosial dimana ia selalu merasa nyaman bersama
orang lain, dan dalam situasi komunikasi pada
umumnya. Dalam berkomunikasi diperlukan
komunikator yang efektif mengendalikan interaksi
untuk kepuasan kedua belah pihak, dalam
manajemen interaksi yang efektif, tidak seorang pun
merasa diabaikan atau merasa menjadi tokoh utama.
250
Psikoborneo, Vol 1, No 4, 2013: 241- ISSN: 2477-2666/E-ISSN: 2477-
249 2674
masing pihak memberikan kontribusi dalam ternyata aspek orientasi kepada orang lain dari
keseluruhan komunikasi. variabel komunikasi interpersonal perawat, juga
Berdasarkan hasil uji korelasi partial dan hasil merupakan aspek yang paling memiliki hubungan
rata-rata dari penyusunan data per-aspek pada paling erat dengan aspek kehandalan (0.579), dan
masing-masing variabel dapat dilihat ternyata aspek jaminan (0.674) yang merupakan aspek-aspek
daya ekspresi dari variabel komunikasi variabel kepuasan pasien. Artinya bahwa perawat
interpersonal, merupakan aspek yang paling secara natural memiliki kepedulian terhadap kondisi
memiliki hubungan paling erat dengan aspek-aspek pasien, hal ini ditunjukkan dalam bentuk memberi
variabel kepuasan pasien, yaitu aspek kehandalan bantuan kepada pasien. Orientasi ini mencakup
(0.668) seperti, memberikan tindakan cepat serta pengkomunikasian perhatian dan minat terhadap apa
respon yang tepat pada saat dibutuhkan oleh pasien, yang dikatakan oleh lawan bicara, seperti
daya tanggap (0.609) yang ditunjukkan dalam menyebutkan nama pasien pada saat berbicara,
bentuk mendengarkan dengan penuh minat terhadap menghargai pendapat pasien, dalam hal ini perawat
keluhan pasien, dan aspek jaminan (0.746) yang dan pasien rawat inap di ruang Cempaka RSUD
ditunjukkan seperti, perawat memberikan informasi Wahab Sjahranie Samarinda. Meskipun komunikasi
secara jelas dan mudah dimengerti, yang ternyata yang ada sudah baik, tetapi masih ada juga beberapa
hal ini dapat menimbulkan rasa percaya kepada pasien yang merasa bahwa perawat belum
pasien, sehingga pasien merasa terjamin dengan melakukan komunikasi dengan baik.
layanan keperawatan yang diberikan. Artinya Berdasarkan hasil rata-rata dari penyusunan data
bahwa perawat dapat mengekspresikan diri dengan per-aspek pada masing-masing variabel bahwa
baik dalam berkomunikasi, sehingga pasien dapat ternyata aspek kepercayaan diri (12.35), dan
menangkap setiap informasi yang disampaikan manajemen interaksi (14.57) dari variabel
secara baik, hal ini juga ditunjukkan dalam bentuk komunikasi interpersonal adalah aspek yang
perawat tersenyum dan mengangguk untuk memiliki skor paling rendah diantara aspek-aspek
merespon pasien. lainnya. Hal ini menunjukkan kepercayaan diri
Selain itu, berdasarkan hasil uji korelasi partial perawat masih kurang, ketidakpercayaan diri
dan hasil rata-rata dari penyusunan data per-aspek perawat menghambat pengekspresian diri perawat,
pada masing-masing variabel dapat dilihat juga dalam
mengambil keputusan perawat terkesan lambat memberikan respon dengan perasaan kasihan,
merespon karena konfirmasi dengan dokter terlebih komunikasi hanya sampai pada usaha sikap ramah,
dahulu, perawat kurang percaya diri dalam menyapa dan tindakan cepat saat pasien
mengambil tindakan secara cepat, hal ini terkait membutuhkan. Komunikasi perawat hanya
dengan kompetensi perawat. Perawat perlu dipermukaan, kurang menyentuh terhadap pasien,
membangun interaksi dengan pasien sehingga perhatian yang diberikan ternyata kurang mendalam,
komunikasi akan berjalan dengan baik, memberikan ini terlihat dari aspek empati yang rendah.
kepercayaan kepada pasien, dan mengendalikan Seorang perawat yang professional diharapkan
interaksi untuk kepuasan kedua belah pihak. tidak hanya dilihat dari keahlian atau ket-
Selain itu, berdasarkan hasil rata-rata dari erampilannya dibidang medis, tetapi dilihat juga dari
penyusunan data per-aspek pada masing-masing keterampilannya melakukan komunikasi interper-
variabel dapat dilihat juga bahwa ternyata aspek sonal. Seperti memberikan perhatian khusus kepada
bukti langsung (12.00) dari variabel kepuasan pasien setiap pasien, kepedulian terhadap keluhan pasien,
memiliki skor paling rendah diantara aspek-aspek pelayanan kepada semua pasien tanpa membeda-
lainnya. Artinya perawat perlu memperhatikan bedakan status, sering bertukar fikiran dengan pasien,
kebersihan ruangan, serta selalu berpenampilan rapi, memberikan semangat dan membangkitkan rasa
juga menarik, dan selalu tersenyum saat pelayanan percaya diri pasien, memberikan penghargaan yang
keperawatannya. positif kepada pasien, dan lain-lain yang dapat mem-
Kemudian, dapat pula dijelaskan dari hasil rata- buat pasien merasa senang, cepat sembuh dan be-
rata dari penyusunan data per-aspek pada masing- rusaha melakukan peningkatan kesehatan.
masing variabel, yang didukung dengan data hasil Perhatian merupakan hal yang sangat penting
uji korelasi partial dimana aspek empati dari variabel pada saat pasien berada di rumah sakit, seperti
kepuasan pasien memiliki korelasi yang rendah bagaimana perawat mendengarkan keluhan pasien,
dengan semua aspek dari variabel komunikasi maupun dalam memenuhi harapan pasien, bagaimana
interpersonal. Artinya perawat kurang berempati mereka mendapatkan informasi sesuai dengan
dalam hal mendengarkan keluhan pasien dan keluhan yang mereka rasakan, dan juga bagaimana
251
Psikoborneo, Vol 1, No 4, 2013: 241- ISSN: 2477-2666/E-ISSN: 2477-
249 2674
pasien dapat menerima semua jawaban atas keluhan mereka yang dijelaskan oleh perawat secara
mendalam.
Sebenarnya setiap rumah sakit harus menyadari
bahwa pada saat seorang pasien masuk rumah sakit
untuk opname, ia berada dalam kondisi yang sangat
tertekan, sedih, cemas, takut, dan bahkan kehilangan
harkat sebagai manusia. Hal ini disebabkan pasien
tersebut tidak lagi bisa menentukan kemauannya
sendiri, ketika pasien diminta ganti pakaian,
mungkin yang melepas dan memakaikan pakaian
rumah sakit adalah keluarga atau para perawat
karena pasien sudah tidak mampu lagi berganti
pakaian sendiri. Pada saat itulah timbul perasaan
seakan harga dan harkat dirinya terampas (Haliman,
2012).
Pada umumnya orang yang sakit sangat
membutuhkan pertolongan, perhatian, dan perawatan
dari seseorang yaitu dokter dan perawat. Pasien yang
berada dirumah sakit sangat membutuhkan
perhatian, dorongan dan semangat dari keluarga dan
perawat. Yang diinginkan oleh seorang pasien
terhadap perawat adalah empati, kepekaan,
pengalaman atau keterampilan, dan percaya diri
seorang perawat untuk bisa memberikan semangat
dan membangkitkan rasa percaya diri seorang
pasien. Oleh karena itu disini perawat harus dapat
berkomunikasi, melakukan komunikasi interpersonal
dengan pasien, agar pasien merasa diperhatikan dan
mendapatkan dorongan dan semangat untuk
melakukan peningkatan kesehatan untuk mencapai
kesembuhan.
Empati disini yaitu kemampuan perawat untuk
memberikan perhatian penuh kepada pasien dengan
kemudahan dalam melakukan kontak komunikasi
yang baik, memahami kebutuhan pasien dengan
sopan dan peduli. Menurut Imbalo (2007) empati
adalah rasa peduli untuk memberikan perhatian
secara individual kepada pelanggan, kemudahan
untuk di hubungi, serta memahami kebutuhan
pelanggan, dalam hal ini pasien rawat inap di ruang
Cempaka RSUD AW. Sjahranie Samarinda.
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya
hubungan komunikasi interpersonal perawat dengan
kepuasan pasien rawat inap di ruang Cempka RSUD
AW. Sjahranie Samarinda. Hal ini dapat dilihat dari
komunikasi interpersonal perawat berada pada
kategori sedang, komunikasi interpersonal perawat
terhadap pasien baik, seperti saat berkomunikasi
selalu bertatap muka, tidak berbelit-belit, membantu
pasien, tanggap, mampu mendengarkan keluhan
pasien, memberikan perhatian kepada pasien, dan
memberikan gambaran saat pasien tidak mengerti
apa yang dimaksud oleh perawat, sehingga pasien
merasa terpenuhi harapannya.
252
Psikoborneo, Vol 1, No 4, 2013: 241- ISSN: 2477-2666/E-ISSN: 2477-
249 2674
Disisi lain, masih ada beberapa pasien merasa bahwa perawat belum melakukan komunikasi
interpersonal dengan baik, seperti saat meningkatkan kepuasan pasien melalui
berkomunikasi perawat kurang percaya diri dalam aspek empati.
mengambil keputusan, dan tindakan secara cepat,
kurang mampu mengendalikan interaksi, dan
kepercayaan kepada pasien. Maka dapat dikatakan
bahwa komunikasi interpersonal perawat
berhubungan dengan kepuasan yang dirasakan
pasien. Semakin tinggi komunikasi interpersonal
perawat, maka kepuasan pasien semakin tinggi pula.
Demikian juga sebaliknya, semakin rendah
komunikasi interpersonal perawat, maka kepuasan
pasien semakin rendah pula.
Rumah sakit bertujuan memberikan pelayanan
yang terbaik dalam rangka meningkatkan kepuasan
pelanggan, dalam hal ini adalah pasien. Demi
mencapai tujuan tersebut, rumah sakit senantiasa
berbenah diri dalam pengembangan pelayanan
terbaik, utamanya dalam bidang keperawatan,
karena pelayanan keperawatan merupakan barisan
pertama di rumah sakit yang berhubungan langsung
dengan pasien.

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Berdasarkan analysis data yang telah dilakukan
pada bab sebelumnya, maka dihasilkan beberapa
temuan penelitian sebagai berikut:
1. Terdapat hubungan yang positif antara
komunikasi interpersonal perawat dengan
kepuasan pasien rawat inap di ruang Cempaka
RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.
2. Terdapat keeratan hubungan antara aspek-aspek
komunikasi interpersonal perawat dengan
aspek- aspek kepuasan pasien rawat inap di
ruang Cempaka RSUD Abdul Wahab Sjahranie
Samarinda.

Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini maka peneliti
menyarankan beberapa hal sebagai berikut:
1. Saran bagi Rumah Sakit
a. Bagi pihak rumah sakit, khususnya di ruang
Cempaka RSUD Abdul Wahab Sjahranie
Samarinda, diharapkan dapat
mempertahankan dan lebih konsisten dalam
melakukan komunikasi interpersonal
sehingga tingkat kepuasan pasien bisa
terjaga.
b. Pihak rumah sakit masih perlu dalam
mengembangkan komunikasi interpersonal
perawat. Seperti kepercayaan diri yang
dapat ditingkatkan dengan cara
meningkatkan kompetensi perawat, dan
253
Psikoborneo, Vol 1, No 4, 2013: 241- ISSN: 2477-2666/E-ISSN: 2477-
249 2674
c. Sangat perlu diadakan pelatihan
komunikasi interpersonal dan kompetensi
perawat, khususnya mengenai aspek
kepercayaan diri yang berkaitan dengan
kompetensi perawat, dan aspek manajemen
interaksi serta aspek empati yang dalam
penelitian ini memiliki skor rendah, yang
berarti dinilai kurang menyentuh bagi
pasien.

2. Saran bagi Perawat


a. Bagi perawat, diharapkan bisa
mempertahankan aspek-aspek komunikasi
interpersonal, yaitu daya ekspresi dan
orientasi kepada orang lain dalam
melakukan komunikasi interpersonal yang
dinilai sudah baik. Seperti kesan awal
perawat yang ramah, perhatian dan minat
perawat untuk mnyesuaikan diri dengan
pasien, serta ketrampilan perawat
mengkomunkasikan keterlibatan tulus
dalam interaksi komunikasi interpersonal
yang berkaitan dengan kepuasan yang
dirasakan pasien.
b. Diharapkan setiap perawat mengetahui
tentang kewenangan saat mengambil
keputusan dalam keadaan normal/biasa dan
dalam keadaan darurat. Sehingga perawat
percaya diri dalam mengambil keputusan
dan tidak perlu selalu konfirmasi dengan
dokter, serta tidak membiarkan pasien
menunggu lama. Hal tersebut sebagai
upaya meningkatkan kualitas personal
perawat.
3. Saran Bagi Peneliti Selanjutnya
Diharapkan dalam rangka mempertahankan
kepuasan pasien yang sudah dinilai baik oleh
pasien serta meningkatkan kepuasan pasien
perlunya penelitian lebih lanjut mengenai
aspek- aspek yang menentukan kepuasan
pasien, ataupun analisis aspek yang
mempengaruhi motivasi perawat dalam
menjalin komunikasi interpersonal, sehingga
pasien akan lebih merasa nyaman dalam
menjalani perawatan di rumah sakit.

DAFTAR PUSTAKA
DeVito, J. A. (1997). Interpersonal communication.
New York: Longman Inc.
Effendy, O. U. (2008). Dinamika komunikasi. Ban-
dung: Remaja Rosdakarya.
Guilford, J. P. (1956). The structure of intellect. Psy-
chological bulletin, 53 (4), 267.
254
Haliman, A. (2012). Cerdas Memilih Rumah Sakit.
Yogyakarta: Anda.
Imbalo S, P. (2007). Mutu Pelayanan Keperawatan.
Jakarta: EGC.
Leonardi, M. A., Lumenta, C. B., Stölzle, A., & Müller-Höcker, J. (1998). Unusual clinical presentation
of a meningeal melanocytoma with seizures: case report and review of the literature. Acta
neurochirurgica, 140 (6), 621-
628.
Muhammad, A. (2002). Komunikasi Organisasi (Ce- takan kelima). Jakarta: Bumi Aksara.
Mundakir. (2006). Komunikasi Keperawatan Ap- likasi dalam Pelayanan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Rakhmat, J. (1985). Metode Penelitian Komunikasi,
Cetakan kedua. Bandung: PT. Remadja Karya.
Sarwono, S. (2004). Sosiologi Kesehatan. Yogya- karta: Gadjah Mada University Press.
Syafruddin, D., Asih, P., Dewi, R. M., Coutrier, F., Rozy, I. E., Susanti, A. I., & Rogers, W. O. (2009).
Seasonal prevalence of malaria in West Sumba district, Indonesia. Malaria journal, 8 (1), 8.
Tjiptono, F. (2008). Service Management Mewujudkan Layanan Prima. Yogyakarta: Andi offset.
Vaughans, B. (2011). Keperawatan Dasar. Yogya- karta: Rapha publishing.