Anda di halaman 1dari 14

PANDANGAN FILSAFAT PANCASILA TENTANG

MANUSIA, MASYARAKAT, PENDIDIKAN, DAN


NILAI
D
I
S
U
S
U
N
Oleh :
Pendidikan Administrasi Perkantoran B
Kelompok V (Lima)

Erika Nadillah Yusda


Irma
Marihot Sihite

Fakultas Ekonomi
Universitas Negeri Medan

1
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .........................................................................................................1


KATA PENGANTAR .................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................3
*Latar Belakang .............................................................................................3

BAB 2 ISI .............................................................................................4


*Pandangan filsafat tentang manusia .....................................................................4

BAB 3 PENUTUP ...........................................................................................12


*Simpulan ….………………………………..........................12
*Daftar Pustaka ...........................................................................................13

2
KATA  PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah menolong hamba-Nya
menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan-Nya
mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik. Tidak lupa
Penulis juga berterima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu
menyelesaikan makalah ini. Makalah bertujuan untuk menyelesaikan tugas dari
Dosen Penyusun, Ibu Sariana Marbun yang diembankan pada Kelompok V
(Lima) dan untuk menambah pengetahuan pembaca seputar “Pandangan Filsafat
Pancasila tentang Manusia, Masyarakat, Pendidikan, dan Nilai.”

Makalah ini memuat tentang hakekat Pancasila dalam Masyarakat


Indonesia, baik ditinjau segi atau kegunaan untuk Manusianya sendiri,
Masyarakat, Pendidikan maupun Nilai-nilai yang terkandung
didalamnya . Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas
kepada pembaca, sesuai dengan harapan penyusun tentunya. Kritik dan saran
sangat penyusun harapkan untuk perbaikan kedepannya.

Penyusun

Kelompok V (Lima)

3
BAB I
PENDAHULUAN

*LATAR BELAKANG

Filsafat Pancasila adalah hasil berpikir/pemikiran yang sedalam-dalamnya


dari bangsa Indonesia, yang oleh bangsa Indonesia dianggap, dipercaya dan
diyakini sebagai suatu kenyataan, norma-norma, nilai-nilai yang paling benar,
paling adil, paling bijaksana, paling baik dan paling sesuai bagi bangsa Indonesia.
Kalau dibedakan antara filsafat yang religius dan non religius, maka filsafat
Pancasila tergolong filsafat yang religius. Ini berarti bahwa filsafat Pancasila
dalam hal kebijaksanaan dan kebenaran mengenai adanya kebenaran mutlak yang
berasal dari Tuhan Yang Maha Esa (kebenaran religius) dan sekalipun mengakui
keterbatasan kemampuan manusia, termasuk kemampuan berpikirnya. Dan kalau
dibedakan filsafat dalam arti teoristis dan filsafat dalam arti praktis, filsafat
Pancasila digolongkan dalam arti praktis. Ini berarti bahwa filsafat Pancasila
dalam mengadakan pemikiran yang sedalam-dalamnya, tidak hanya bertujuan
mencari kebenaran dan kebijaksanaan, tidak sekedar memenuhi hasrat ingin tahu
dari manusia yang tidak habis-habisnya, tetapi juga dan terutama hasil pemikiran
yang berwujud filsafat Pancasila tersebut dipergunakan sebagai pedoman hidup
sehari-hari (pandangan hidup, filsafat hidup, way of life, weltanschaung dan
sebagainya); sehingga dapat tercapai kebahagiaan lahir dan bathin, baik dunia
maupun akhirat.
Pancasila merupakan dasar/ideologi dari pembentukan negara indonesia
sebagaimana yang dikemukakan oleh Bung Karno didalamnya lahirnya Pancasila.
Fungsi dari ideologi yaitu serangkaian nilai-nilai yang dijadikan pegangan oleh
setiap warga negara untuk mengikat seluruh anggotanya dalam suatu organisasi
negara Republik Indonesia. Pancasila sebagai ideologi mempunyai otoritas untuk
mengatur dan mengarahkan setiap kegiatan yang dilakukan baik secara pribadi
maupun kelompok untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan, yakni aman,
nyaman, damai, sejahtera, dan bahagia.
Suatu masyarakat atau bangsa menjadikan filsafat sebagai suatu
pandangan hidup yaitu merupakan asas dan pedoman yang melandasi semua
aspek hidup dan kehidupan bangsa tersebut, tanpa terkecuali aspek pendidikan.
Filsafat yang dikembangkan harus berdasarkan filsafat yang dianut oleh suatu
bangsa, sedangkan pendidikan merupakan suatu cara atau mekanisme dalam
menanamkan dan mewariskan nilai-nilai filsafat tersebut.

Pendidikan sebagai suatu lembaga yang berfungsi menanamkan dan


mewariskan sistem norma tingkah laku perbuatan yang didasarkan kepada dasar-
dasar filsafat yang dijunjung oleh lembaga pendidikan dan pendidik dalam suatu
masyarakat. Untuk menjamin supaya pendidikan dan prosesnya efektif, maka
dibutuhkan landasan-llandasan filosofis dan landasan ilmiah sebagai asas normatif
dan pedoman pelaksanaanya. Filsafat pendidikan nasional Indonesia adalah suatu
sistem yang mengatur dan menentukan teori dan praktek pelaksanaan pendidikan
yang berdiri di atas landasan dan dijiwai oleh filsafat hidup bangsa "Pancasila"
yang diabdikan demi kepentingan bangsa dan negara Indonesia dalam usaha
merealisasikan cita-cita bangsa dan negara Indonesia. 

4
BAB II
ISI
A.    Pandangan Filsafat Pancasila tentang Manusia

Kodrat manusia merupakan keseluruhan sifat-sifat asli, kemampuan-


kemampuan atau bakat-bakat alami, kekuasaan, bekal disposisi yang melekat pada
kebaradaan/eksistensi manusia sebagai makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial
ciptaan Tuhan YME. Harkat manusia adalah nilai manusia sebagai makhluk
Tuhan yang memiliki kemampuan-kemampuan yang disebut cipta, rasa dan karsa.
Derajat manusia adalah tingkat kedudukan atau martabat manusia sebagai
makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki bakat, kodrat, kebebasan hak, dan
kewajiban asasi.
a.   Sifat dan Hakekat Manusia
1.      Pengertian dan Sifat Hakekat Manusia
Ciri-ciri karakteristik, yang secara prinsipil membedakan manusia dari hewan
2.      Pendidikan Bersifat Filosofis
Filosofis berarti berdasarkan pengetahuan dan penyelidian dengan akal budi
mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal dan hukum, termasuk termasuk
teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan (berintikan logika, estetika,
metafisika, epistemology dan falsafah) Untuk mendapatkan landasan pendidikan
yang kukuh diperlukan adanya kajian yang bersifat mendasar, sistematis dan
Universal tentang ciri hakiki manusia
3.      Pendidikan Bersifat Normatif
Normatif berarti bersifat norma atau mempunyai tujuan/aturan
Pendidikan mempunyai tugas untuk menumbuhkembangkan sifat hakikat manusia
sebagai sesuatu yang bernilai luhur, dan hal itu menjadi keharusan.

b.     Wujud Sifat Hakekat Manusia


1.      Kemampuan Menyadari Diri
Kemampuan Mengeksplorasi potensi yang ada, dan mengembangkannya kearah
kesempurnaan dan menyadarinya sebagai kekuatan
2.      Kemampuan Bereksistensi
Manusia bersifat aktif dan manusia dapat menjadi manejer terhadap
lingkungannya
3.      Pemilikan Kata Hati
Kemampuan membuat keputusan tentang baik/benar  dengan yang buruk/salah
bagi manusia. Cara meningkatkan : melatih akal/kecerdasan dan kepekaan emosi
4.      Moral (etika)
Perbuatan yang dilakukan/nilai-nilai kemanusiaan. Bermoral sesuai dengan kata
hati yang baik bagi manusia, dan sebaliknya. Etiket hanya sekedar kemampuan
bersikap/mengenai sopan santun
5.      Kemampuan Bertanggung Jawab
Suatu perbuatan harus sesuai dengan tuntutan kodrat manusia
6.      Rasa Kebebasan (Kemerdekaan)
Kebebasan yang terikat(bertanggung jawab). Tugas pendidikan membuat pesreta
didik merasa merdeka dalam menjalankan tuntutan kodrat manusia.
7.      Kesediaan Melaksanakan Kewajiban dan Menyadari Hak
Dapat ditempuh dengan pendidikan disiplin:

5
 Disiplin Rasional -> dilanggar -> rasa Salah
 Disiplin Afektif -> dilanggar -> rasa Gelisah
 Disiplin Sosial -> dilanggar -> rasa Malu
 Disiplin Agama -> dilanggar -> rasa Berdosa

8.      Kemampuan Menghayati Kebahagiaan


Kesanggupan menghayati kebahagiaan berkaitan dengan 3 hal : Usaha, norma-
norma, dan Takdir.

c.    Dimensi-Dimensi Hakekat Manusia


1.      Keindividualan (pribadi yang berbeda dari yang lain)

2. Kesosialan (ketergantungan kebutuhan pada orang lain)


3. Kesusilaan (menyangkut etika dan etiket)
4. Keberagaman (keyakinan ada kekutan yang mengendalikan seluruh aspek
kehidupan di luar kemampuan makhlup hidup di dunia)
5. Intelektual(mengembangkan wawasan dan iptek, terampil
mengkomunikasikan pengetahuan dan memecahkan masalah)
6. Produktivitas (Kesanggupan memilih pekerjaan sesuai dengan
kemampuan, keserasian hidup bekeluarga, pandai menempatkan diri
sebagai konsumen dan produsen, serta kreatif dan berkarya)

  Pancasila sebagai dasar dan nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat,
bangsa, dan negara Indonesia memandang bahwa manusia adalah makhluk
tertinggi ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Mulia yang dianugerahi
kemampuan atau potensi untuk tumbuh dan berkembang, baik sebagai individu
maupun sebagai anggota masyarakat atau sosial.
Kedudukan manusia dihadapan Tuhan adalah sama dan sama-sama
memiliki harkat dan martabat sebagai manusia mulia. Paulus Wahana (dalam
H.A.R. Tilaar. 2002 : 191) mengemukakan gambaran manusia pancasila sebagai
berikut :
1.      Manusia adalah makhluk monopluralitas yang memungkinkan manusia itu dapat
melaksanakan sila-sila yang tercantum di dalam pancasila.
2.      Manusia adalah makhluk ciptaan tuhan yang tertinggi yang dikaruniakan
memiliki kesadaran dan kebebasan dalam menentukan pilihannya.
3.      Dengan kebebasannya manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan dapat
menentukan sikapnya dalam hubungannya dengan pencipta Nya.
4.      Sila pertama menunjukkan bahwa manusia perlu menyadari akan kedudukannya
sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa dan oleh sebab itu harus mampu
menentukan sikapnya terhadap hubungannya dengan pencipta Nya.
5.      Manusia adalah otonom dan memiliki harkat dan martabat yang luhur.
6.      Sila kedua yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab menuntut akan kesadaran
keluhuran harkat dan martabatnya yaitu dengan menghargai akan martabat sesama
manusia.
7.      Sila persatuan Indonesia berarti manusia adalah makhluk sosial yang berada di
dalam dunia Indonesia bersama-sama dengan manusia Indonesia lainnya.
8.      Manusia haruslah dapat hidup bersama, menghargai satu dengan yang lain dan
tetap membina rasa persatuan dan kesatuan bangsa yang kokoh.

6
9.      Manusia adalah makhluk yang dinamis yang melakukan kegiatannya bersama-
sama dengan manusia Indonesia yang lain.
10.  Sila keempat atau sila demokrasi dituntut manusia Indonesia yang saling
menghargai, memiliki kebutuhan bersama di dalam menjalankan dan
mengembangkan kehidupannya.
11.  Dalam sila kelima manusia Indonesia dituntut saling memiliki kewajiban
menghargai orang lain dalam memanfaatkan sarana yang diperlukan bagi
peningkatan taraf kehidupan yang lebih baik.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa manusia Pancasila adalah
manusia yang bebas dan bertanggung jawab terhadap perkembangan dirinya
sebagai individu dan perkembangan masyarakat (sosial) Indonesia. Manusia
ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa dianugerahi kemampuan atau potensi untuk
bertumbuh dan berkembang sepanjang hayat.

B.     Pandangan Filsafat Pancasila tentang Masyarakat

Nilai yang terkandung dalam Pancasila, Nilai-nilai itulah sebagai ciri


kepribadian masyarakat-bangsa dan negara Indonesia. Rakyat Indonesia adalah
keseluruhan jumlah semua orang, warga dalam lingkungan negara Indonesia.
Hakekat rakyat Indonesia adalah pilar negara dan yang berdaulat. Segala sesuatu
yang merupakan hak dalam hubungan hidup kemanusiaan yang mencakup
hubungan antara negara dengan warga negara, hubungan negara dengan negara,
dan hubungan antar sesama warga negara yang dinamakan adil (Surajiyo, 2008).
Untuk menghindarkan masalah etno-nasionalisme yang dapat berakibat
disintegrasi bangsa, Hamdi Huruk (dalam H.A.R. Tilaar. 2002: 76)
mengemukakan program sebagai berikut :
1.      Didalam menyikapi dorongan etno-nasionalisme yang negatif maka dihindarkan
cara-cara pemecahan koersif (militeristk), tetapi dengan menggunakan metode
persuasive dan dialogis, serta mengikut sertakan masyarakat setempat.
2.      Perlu diakui identitas etnis dalam arti kultural bukan dalam arti politik.
3.      Menyadarkan kelompok-kelompok yang berkeinginan kepada separatisme, bahwa
berpisah dengan negara dan bangsa Indonesia akan merugikan.
4.      Menghindari berbagai pelanggaran HAM dan menghormati HAM.
Oleh karena itu, budaya etnis masing-masing suku harus diberi
kesempatan yang seluas-luasnya untuk diperkembangkan sebagai modal dasar
mengembangkan demokrasi atau sikap demokratis, saling menghargai, dan
menghormati bagi setiap warga negara. Itulah yang menjadi nilai-nilai dasar
Pancasila terhadap masyarakat Indonesia.

C.    Pandangan Filsafat Pancasila tentang Pendidikan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan


suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Pasal 1 UU RI No. 20 Tahun
2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional).

7
Sebagai usaha sadar dan terencana, pendidikan tentunya harus
mempunyai dasar dan tujuan yang jelas, sehingga dengan demikian baik isi
pendidikan maupun cara-cara pembelajarannya dipilih, diturunkan dan
dilaksanakan dengan mengacu kepada dasar dan tujuan pendidikan yang telah
ditetapkan. Selain itu, pendidikan bukanlah proses pembentukan peserta didik
untuk menjadi orang tertentu sesuai kehendak sepihak dari pendidik. Karena
manusia (peserta didik) hakikatnya adalah pribadi yang memiliki potensi dan
memiliki keinginan untuk menjadi dirinya sendiri, maka upaya pendidikan harus
dipandang sebagai upaya bantuan dan memfasilitasi peserta didik dalam rangka
mengembangkan potensi dirinya. Upaya pendidikan adalah pemberdayaan peserta
didik. Hal ini hendaknya tidak dipandang sebagai upaya dan tujuan yang bersifat
individualistic semata, sebab sebagaimana telah dikemukakan bahwa kehidupan
manusia itu multi dimensi dan merupakan kesatuan yang integral.

Selain hal di atas, dimensi hitorisitas, dinamika, perkembangan


kebudayaan dan tugas hidup yang diemban manusia mengimplikasikan bahwa
pendidikan harus diselenggarakan sepanjang hayat. Pendidikan hendaknya
diselenggarakan sejak dini, pada setiap tahapan perkembangan hingga akhir hayat.
Sebab itu, pendidikan hendaknya diselenggarakan baik pada jalur pendidikan
informal, formal, maupun nonformal yang dapat saling melengkapi dan
memperkaya.

Tujuan Pendidikan berdasarkan Pandangan Pancasila tentang hakikat realitas,


manusia, pengetahuan dan hakikat nilai
Mengimplikasikan bahwa pendidikan seyogyanya bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertangung
jawab. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 3 UU RI No. 20 Tahun 2003
Tentang sistem Pendidikan Nasional. Tujuan pendidikan tersebut hendaknya kita
sadari betul, sehingga pendidikan yang kita selenggarakan bukan hanya untuk
mengembangkan salah satu potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
berilmu saja, bukan hanya untuk terampil bekerja saja, dsb., melainkan demi
berkembangnya seluruh potensi peserta didik dalam konteks keseluruhan dimensi
kehidupannya secara integral.

Kurikulum Pendidikan. Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang


pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan
memperhatikan:
a)      peningkatan iman dan takwa;
b)      peningkatan akhlak mulia;
c)      peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik;
d)     keragaman potensi daerah dan lingkungan;
e)      tuntutan pembangunan daerah dan nasional;
f)       tuntutan dunia kerja;
g)      perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
h)      agama;
i)        dinamika perkembangan global; dan

8
j)        persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan. Ketentuan mengenai
pengembangan

kurikulum sebagaimana dimaksud di atas diatur lebih lanjut dengan Peraturan


Pemerintah (Pasal 36 UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan
Nasional).

Metode Pendidikan. Berbagai metode pendidikan yang ada


merupakan alternative untuk diaplikasikan. Sebab, tidak ada satu metode
mengajar pun yang terbaik dibanding metode lainnya dalam segala konteks
pendidikan. Pemilihan dan aplikasi metode pendidikan hendaknya dilakukan
dengan mempertimbangkan tujuan pendidikan yang hendak dicapai, hakikat
manusia atau peserta didik, karakteristik isi/materi pendidikan, dan fasilitas alat
bantu pendidikan yang tersedia. Penggunaan metode pendidikan diharapkan
mengacu kepada pada prinsip cara belajar siswa aktif (CBSA) dan sebaiknya
bersifat multi metode.

Peranan Pendidik dan Peserta Didik. ada berbagai peranan pendidik


dan peserta didik yang haruis dilaksanakannya, namun pada dasarnya berbagai
peranan tersebut tersurat dan tersirat dalam semboyan: “ing ngarso sung tulodo”
artinya pendidik harus memberikan atau menjadi teladan bagi peserta didiknya;
“ing madya mangun karso”, artinya pendidik harus mampu membangun karsa
pada diri peserta didiknya; dan” tut wuri handayani” artinya bahwa sepanjang
tidak berbahaya pendidik harus memberi kebebasan atau kesempatan kepada
peserta didik untuk belajar mandiri.

Orientasi pendidikan. Pendidikan memiliki dua fungsi utama, yaitu


fungsi konservasi dan fungsi kreasi. Fungsi konservasi dilandasi asumsi bahwa
terdapat nilainilai, pengetahuan, norma, kebiasaan-kebiasaan, dsb. yang dijunjung
tinggi dan dipandang berharga untuk tetap dipertahankan. Contoh: pengetahuan
dan nilai-nilai yang bersifat mutlak tentunya tetap harus dipertahankan, demikian
juga pengetahuan dan nilai nilai budaya yang masih dipandang benar dan baik
juga perlu dikonservasi. Adapun fungsi kreasi dilandasi asumsi bahwa realitas
tidaklah bersifat terberi (given) dan telah selesai sebagaimana diajarkan oleh sains
modern. Tetapi realitas “mewujud” sebagaimana kita manusia dan semua anggota
alam semesta berpartisipasi “mewujudkannya”. Semua anggota semesta ikut
berpartisipasi dalam mewujudkan realitas. Sebab itu, peran manusia baik sebagai
individu maupun kelompok adalah merajut realitas yang diinginkannya yang
dapat diterima oleh lingkungannya. Dalam hal ini hakikat pendidikan seyogyanya
diletakkan pada upaya-upaya untuk menggali dan mengembangkan potensi para
pelajar agar mereka tidak saja mampu memahami perubahan tetapi mampu
berperan sebagai agen perubahan atau perajut realitas (A. Mappadjantji Amien,
2005).

Perubahan merupakan suatu keharusan atau kenyataan yang tidak


dapat kita tolak, sehingga pelajar-pelajar harus kita didik untuk menguasainya dan
bukan sebaliknya, mereka menjadi dikuasai oleh perubahan.

9
Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun
2003 dijelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, masyarakat, bangsa, dan negara.
Selanjutnya dalam UU sidiknas Tahun 2003 BAB II Pasal 3
dijelaskan tujuan pendidikan sebagai berikut : Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung
jawab.
Pendidikan berlangsung dikeluarga, dirumah, disekolah, dan
dimasyarakat. Pendidikan harus berlangsung dengan keteladanan dan komunikasi.
Orang tua adalah pendidik dikeluarga (dirumah); Guru dan tenaga kependidikan
lainnya adalah pendidik disekolah; Tokoh atau pemuka masyarakat, alim ulama,
pejabat dsb. adalah teladan bagi peserta didik. Karena itu, masing-masing individu
atau manusia dewasa adalah pendidik dan contoh bagi individu lainnya terutama
bagi peserta didik yang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan.

D.    Pandangan Filsafat Pancasila tentang Nilai

Menurut Kaelan, pada tahun 2000, (dalam Surajiyo, 2008) menjelaskan


bahwa pancasila merupakan suatu kesatuan dari sila-silanya harus merupakan
sumber nilai, kerangka berpikir serta asas moralitas bagi pembangunan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu, sila-sila dalam Pancasila
menunjukkan sistem etika dalam pembangunan iptek.
Isi dari Nilai/kandungan Pancasila sebagai Berikut :
1.      Ketuhanan yang Maha Esa
a.       Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaanya dan ketaqwaanya kepada Tuhan
Yang Maha Esa.
b.      Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai
dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan
yang adil dan beradab.
c.       Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk
agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang
Maha Esa.
d.      Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
e.       Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang
menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

10
f.       Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai
dengan agama dan kepercayaanya masing masing.
g.      Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha
Esa kepada orang lain.

2.      Kemanusiaan yang adil dan beradab


a.       Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya
sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
b.      Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia,
tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin,
kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
c.       Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
d.      Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
e.       Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
f.       Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
g.      Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
h.      Berani membela kebenaran dan keadilan.
i.        Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
j.        Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa
lain.

3.      Persatuan Indonesia


a.       Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan
bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan
golongan.
b.      Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila
diperlukan.Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
c.       Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
d.      Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi
dan keadilan sosial.
e.       Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
f.       Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.
4.      Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan / Perwakilan

11
a.       Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia
mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.
b.      Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
c.       Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan
bersama.
d.      Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
e.       Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil
musyawarah.
f.       Dengan i’tikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil
keputusan musyawarah.
g.      Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan
pribadi dan golongan.
h.      Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang
luhur.
i.        Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada
Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-
nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi
kepentingan bersama.
j.        Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk
melaksanakan pemusyawaratan.
5.      Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia
a.       Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana
kekeluargaan dan  kegotongroyongan.
b.      Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
c.       Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
d.      Menghormati hak orang lain.
e.       Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
f.       Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan
terhadap orang lain
g.      Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya
hidup mewah.
h.      Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan
kepentingan umum.
i.        Suka bekerja keras.
j.        Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan
kesejahteraan bersama.
k.      Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan
berkeadilan sosial.

12
BAB III PENUTUP
KESIMPULAN
1.      Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Pancasila adalah sumber nilai bagi
pembangunan bangsa Indonesia. Pancasila menjadi kerangka kognitif dalam
identifikasidiri sebagai bangsa, sebagai landasan, arah, dan etos, serta sebagai
moral pembangunan nasional.

2.      Budaya etnis masing-masing suku harus diberi kesempatan yang seluas-luasnya
untuk diperkembangkan sebagai modal dasar mengembangkan demokrasi atau
sikap demokratis, saling menghargai, dan menghormati bagi setiap warga negara.
Itulah yang menjadi nilai-nilai dasar Pancasila terhadap masyarakat Indonesia.

3.      Manusia Pancasila adalah manusia yang bebas dan bertanggung jawab terhadap
perkembangan dirinya sebagai individu dan perkembangan masyarakat (sosial)
Indonesia. Manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa dianugerahi kemampuan
atau potensi untuk bertumbuh dan berkembang sepanjang hayat.

4.      Pancasila sebagai dasar dan nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat, bangsa,
dan negara Indonesia memandang bahwa manusia adalah makhluk tertinggi
ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Mulia yang dianugerahi kemampuan
atau potensi untuk tumbuh dan berkembang, baik sebagai individu maupun
sebagai anggota masyarakat atau sosial.

5.      Disiplin Rasional -> dilanggar -> rasa Salah, Disiplin Afektif -> dilanggar -> rasa
Gelisah, Disiplin Sosial -> dilanggar -> rasa Malu, Disiplin Agama -> dilanggar
-> rasa Berdosa

13
DAFTAR PUSTAKA

Koentjaraningrat. 1980. Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta: PT.


Gramedia.
Nopirin. 1980. Beberapa Hal Mengenai Falsafah Pancasila, Cet. 9. Jakarta:
Pancoran Tujuh.
Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta:
Rineka Cipta
Tim pengajar.2010. Filsafat pendidikan. Medan: Universitas Negeri Medan
Salam, H. Burhanuddin, 1998. Filsafat Pancasilaisme. Jakarta: Rineka Cipta

14