Anda di halaman 1dari 11

Pertemuan 4

Anthropometri

1. Uraian Materi
Anthropometri menurut Stevension (1998) dan Nurmianto (1991) adalah satu
kumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia
ukuran, bentuk, dan kekuatan serta penerapan dari data tesebut untuk penanganan
masalah desain.
Penerapan data anthropometri ini akan dapat dilakukan jika tersedia nilai mean (rata-
rata) dan SD (standar deviasi) dari suatu distribusi normal. Distribusi normal ditandai
dengan adanya nilai mean dan SD. Sedangkan percentil adalah suatu nilai yang
menyatakan bahwa persentase tertentu dari sekelompok orang yang dimensinya sama
dengan atau lebih rendah dari nilai tersebut. Misalnya : 95% populasi adalah sama
dengan atau lebih rendah dari 95% percentil ; 5% dari populasi berada sama dengan atau
lebih rendah dari 5% percentil. Besarnya nilai percentil dapat ditentukan dari tabel
probabilitas distribusi normal.
Dimensi tubuh manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menjadi satu
pertimbangan dalam menentukan sample data yang akan diambil. Faktor-faktor tersebut
adalah :
a. Umur, ukuran tubuh manusia akan berkembang dari saat lahir sampai sekitar umur
20 tahun untuk pria dan 17 tahun untuk wanita. Ada kecenderungan berkurang
setelah 60 tahun.
b. Jenis kelamin, pria pada umumnya memiliki dimensi tubuh yang lebih besar kecuali
bagian dada dan pinggul.
c. Rumpun  dan suku bangsa.
d. Sosial ekonomi dan konsumsi gizi yang diperoleh.
e. Cacat tubuh secara fisik.
Anthropometri dibagi atas dua bagian yaitu:
a. Anthropometri statis, pengukuran manusia pada saat posisi diam
b. Anthropometri dinamis, yaitu pengukuran keadaan dan ciri-ciri fisik manusia dalam
keadaan bergerak atu memperhatikan gerakan-gerakan yang mungkin terjadi saat
pekerja melaksanakan kegiatannya.

1. Gambar dan Nama Dimensi Tubuh Manusia (Anthropometri)

Gambar 2. Antropomethri tubuh manusia yang diukur dimensinya


Keterangan Gambar :
1 = dimensi tinggi tubuh dalam posisi tegak (dari lantai s/d ujung kepala)
2 = tinggi mata dalam posisi tegak
3 = tinggi bahu dalam posisi tegak
4 = tinggi siku dalam posisi berdiri tegak (siku tegak lurus)
5 = tinggi kepalan tangan yang terjujur lepas dalam posisi tegak       (dalam    gambar
tidak ditunjukkan)
6 = tinggi tubuh dalam posisi duduk (diukur dari alas tempat duduk / pantat sampai
dengan kepala)
7 = tinggi mata dalam posisi duduk
8 = tinggi bahu dalam posisi duduk
9 = tinggi siku dalam posisi duduk (siku tegak lurus)
10 = tebal atau lebar paha
11 = ujung paha yang diukur dari pantat s/d ujung lutut
12 = panjang paha yang diukur dari pantat s/d bagian belakang dari lutut /betis
13 = tinggi lutut yang bisa diukur baik dalam posisi berdiri ataupun duduk
14 = tinggi tubuh dalam posisi duduk yang diukur dari lantai sampai dengan   paha
15 = lebar dri bahu (bisa diukur dalam posisi berdiri ataupun duduk)
16 = lebar pinggul / pantat
17 = lebar dari dada dalam keadaan membusung (tidak tampak ditunjukkan dalam
gambar)
18 = lebar perut
19 = panjang siku yang diukur dari siku  sampai dengan ujung jari
20 = lebar kepala
21 = panjang tangan diukur dari pergelangan sampai dengan ujung jari
22 = lebar telapak tangan
23 = lebar tangan dalam posisi tangan terbentang lebar-lebar kesamping kiri-kanan
(tidak ditunjukkan dalam gambar)
24 = tinggi jangkauan tangan dalam posisi berdiri tegak, diukur dari lantai sampai
tangan yang terjangkau lurus keatas (vertikal)
25 = tinggi jangkauan tangan dalam posisi duduk tegak, diukur sperti halnya no 24
tetapi dalam posisi duduk ( tidak ditunjukkan dalam gambar )
26 = jarak jangkauan tangan yang terjulur kedepan diukur dari bahu sampai ujung jari
tangan.
Pengumpulan Data Anthropometri
Sebelum  merancang meja dan kursi kerja, terlebih dahulu dilakukan pengukuran.
Berikut dimensi-dimensi tubuh (anthropometri) yang akan digunakan untuk merancang
meja dan kursi kerja .
a. TPo (Tinggi Popliteal)
Definisi : Tinggi popliteal adalah jarak vertikal dari alas lantai sampai
bagian bawah paha
Penggunaan : Data ini berguna untuk menentukan tinggi permukaan duduk dari
alas lantai
Pertimbangan : Harus memperhatikan kekenyalan penutup alas duduk.

Gambar 3. Tinggi Popliteal
b. PPo (Pantat Popliteal)
Definisi : pantat popliteal adalah jarak horizontal dari bagian terluar pantat
sampai lekukan lutut sebelah dalam ( popliteal ) paha dan kaki
bagian bawah membentuk sudut siku-siku.
Penggunaan : Data ini berguna untuk menentukan panjang alas duduk

Gambar 4.  Pantat Popliteal

c. LP (Lebar Pinggul)
Definisi : lebar pinggul adalah jarak horizontal dari bagian luar pinggul sisi
kiri sampai bagian terluar pinggul sisi kanan
Penggunaan : Data ini berguna untuk menentukan panjang alas duduk

Gambar 5.  Lebar pinggul


d. TSP (Tinggi Sandaran Punggung)
Definisi : Tinggi sandaran punggung adalah jarak vertikal dari permukaan
alas duduk sampai puncak tulang belikat

Penggunaan: Data ini berguna untuk menentukan tinggi sandaran punggung alas duduk.

Gambar 6.  Tinggi Sandaran Punggung

e. LSD (Lebar Sandaran Duduk)


Definisi : Lebar sandaran duduk adalah jarak vertikal dari tulang belikat
sebelah kiri ke tulang belikat sebelah kanan.
Penggunaan : Data ini berguna untuk lebar sandaran duduk. namun dengan
alasan estetika dan kenyamanan maksimal, lebar sandaran duduk penulis sesuaikan
dengan lebar pinggul.

Gambar 7.  Lebar Sandaran Duduk


f. TSD (Tinggi Siku Duduk)
Definisi : Tinggi siku duduk adalah jarak vertikal dari permukaan alas
duduk sampai ujung bawah siku lengan atas membentuk sudut siku-siku dengan
lengan bawah.
Penggunaan : Data ini berguna untuk menentukan tinggi meja kerja dari alas.

Gambar  8. Tinggi Siku Duduk


  
g. LBP (Lebar Bahu ke Pungung)
Definisi : Lebar bahu ke punggung diukur dari pusat pesendian di bahu
sampai punggung
Penggunaan : Untuk menghitung jangkauan normal terhadap punggung,
sehingga dapat diketahui jarak efektif meja kerja terhadap tubuh

Gambar 9. Lebar Bahu ke Punggung ( LBP )


      
h. JJ (Jangkauan Jauh)
Definisi : Anthropometri dinamis yang mengukur rentang lengan keluar
diputar sekitar bahu.
Penggunaan : Untuk menentukan  panjang dan lebar minimum meja kerja

Gambar  10. jangkauan  Jauh


                  JN (Jangkauan Normal)
Definisi : Anthropometri dinamis yang mengukur panjang lengan bawah
yang berputar pada bidang horizontal dengan siku tetap.

Penggunaan : Menentukan letak alat-alat kerja agar berada dalam jangkauan optimum.
Gambar  11. jangkauan normal
Perancangan Kursi Kerja
Kursi untuk kerja dengan posisi duduk dirancang dengan metode floor-up, yaitu
dengan berawal pada permukaan lantai, untuk menghindarkan adanya tekanan dibawah
paha.  Setelah ketinggian kursi didapat kemudian barulah menentukan ketinggian meja
kerja yang sesuai dan konsisten dengan ruang yang diperlukan untuk paha dan lutut.
Kriteria kursi kerja yang ideal adalah sebagai berikut :
a. Stabilitas produk
Diharapkan suatu kursi mempunyai empat atau lima kaki untuk menghindarkan
ketidakstabilan produk. Kursi lingkar yang berkaki lima hendaklah dirancang dengan
posisi kaki kursi berada pada bagian luar proyeksi tubuh. Adapun kursi dengan kaki-
gelinding sebaiknya dirancang untuk permukaan yang berkarpet, karena akan terlalu
beba (mudah) menggelinding pada lantai vynil.
b. Kekuatan produk
Kursi kerja haruslah dirancang sedemikian rupa sehingga kompak dan kuat dengan
konsentrasi perhatian pada bagian-bagian yang mudah retak dilengkapi dengan sistem
mur – baut ataupun keeling  - pasak pada bagian sandaran tangan (arm-rest ) dan
sandaran punggung ( back – rest ). Kursi kerja tidak boleh dirancang pada populasi
dengan persentil dan seharusnya cukup kuat untuk menahan beban pria yang
berpersentil 99.
c. Mudah dinaik-turunkan ( Adjustable )
Ketinggian kursi kerja hendaklah mudah diatur pada saat kita duduk, tanpa harus
turun dari kursi.
d. Sandaran punggung
Sandaran punggung adalah penting untuk menahan beban punggung ke arah belakang
( lumbar spine ). Hal itu haruslah dirancang agar dapat digerakkan naik – turun
maupun maju-mundur. Selain itu harus pula dapat diatur fleksibilitasnya sehingga
sesuai dengan bentuk punggung.
e. Fungsional
Bentuk tempat duduk tidak boleh menghambat berbagai macam alternatif perubahan
postur ( posisi )
f. Bahan material
Tempat duduk dan sandaran punggung harus dilapisi dengan material yang cukup
lunak.
g. Kedalaman kursi
Kedalaman kursi ( depan-belakang) haruslah sesuai dengan dimensi panjang antara
lipat lutut ( politeal ) dan pantat ( buttock ). Wanita dengan anthropometri 5 persentil
haruslah dapat menggunakan dan merasakan manfaat adanya sandaran punggung
( back rest )
h. Lebar kursi
Lebar kursi minimal sama dengan lebar pinggul wanita 5 persentil populasi
i. Lebar sandaran punggung
Lebar sandaran punggung seharusnya sama dengan lebar punggung wanita 5 persentil
populasi. Jika terlalu lebar akan mempengaruhi kebebasan gerak siku.

 Rekomendasi Perancangan Kursi


a.     Tinggi kursi
  Ketinggian  tempat duduk harus sesuai. Bila terlalu tinggi, akan menyebabkan
gangguan peredaran  darah ditungkai bawah. Bila terlalu rendah akan berakibat:
punggung lebih membungkuk, kesulitan berdiri, dan membutuhkan ruang tungkai
(leg room ) yang lebih luas. Jadi tinggi idealnya akan berada sekitar tinggi belakang
lutut ( fosa poplitea ), cenderung sedikit lebih rendah.
b.    Kedalaman tempat duduk
        Kedalaman tempat duduk perlu mendapat perhatian. Bila terlalu dalam ( melebihi
ukuran pantat ke belakang lutut ) akan berakibat tekanan pada daerah belakang lutut
tersebut. Bila terlalu sempit ( min. lebar 30 Cm ) masih dapat memenuhi syarat.
c.     Sandaran
       Semakin tinggi sandaran punggung, makin baik menyangga pinggang. Sandaran
medium, menyangga sampai bahu. Sudut sandaran punggung yang terlalu besar,
sebagian besar berat badan akan disangga, sehingga tekanan berat ke pinggul
menjadi berkurang.   Sudut optimal sekitar 100o – 110o  ( Sanders et.all,1993 ) sudut
permukaan duduk yang optimal adalah 5 o – 10o 
d.    Alas duduk
      Guna alas ini adalah untuk mendistribusikan berat tubuh pada permukaan yang
lebih besar. Secara umum direkomendasikan ketebalan alas adalah 4-5 cm

 Meja kerja Untuk Posisi Duduk


Masalah pemilihan tinggi meja dan kursi kerja diilatar belakangi oleh sejumlah
studi penelitian. S. konz menyebutkan studi-studi terdahulu dan menjelaskan dalam
sebuah eksperimennya. Rata-rata proses produksi diukur pada setiap posisi dengan
operator yang berbeda dan dalam analisa variansi ketinggian tersebut diubah menjadi
berbagai macam ketinggian berarti. Yang paling baik adalan 50 mm di bawah siku, 50
mm di atas siku mengurangi produksi sekitar 1% dan 150 mm di bawah siku
menyebabkan produksi berkurang 2,8% .

 Metode Perancangan dan Pengembangan Produk


Proses perancangan dan pengembangan produk adalah urutan langkah-langkah
atau kegiatan di mana suatu perusahaan berusaha menyusun, merancang, dan
merekomendasikan suatu produk. Secara umum proses pengembangan produk dibagi
dalam 6 fase , sebagai berikut :
1. Perancangan
Kegiatan ini mendahului persetujuan proyek dan proses peluncuran
pengembangan produk awal.
2. Pengembangan produk
Konsep adalah uraian dari bentuk, fungsi, dan tampilan suatu produk dan biasanya
dibarengi dengan spesifikasi, analisa produk pesaing serta pertimbangan ekonomis
produk.
3. Perancangan tingkatan sistem
Mencakup definisi arsitektur dan uraian produk menjadi subsistem – subsistem
serta komponen – komponen. Out put dari fase ini biasanya mencakup tata letak
bentuk produk, spesifikasi secara fungsional dari tiap subsistem produk, serta
diagram alian proses pendahuluan untuk proses perakitan akhir.
4. Perencanaan detail
Mencakup spesifikasi lengkap dari bentuk, material, dan toleransi-toleransi dari
seluruh komponen unik pada produk dan identifikasi seluruh komponen standar
yang dibeli dari pemasok. Hal lain yang harus diperhatikan adalah ergonomi dan
estetika produk.
5. Pengujian dan perbaikan
Melibatkan konstruksi dan evaluasi dari bermacam-macam versi awal produk.
Prototipe awal biasanya dibuat dengan menggunakan komponen – komponen
dengan bentuk dan jenis material pada produksi sesungguhnya, namun tidak
memerlukan proses pabrikasi dengan proses yang sama dengan yang dilakukan
produksi sesungguhnya.
6. Produksi awal
Pada fase ini, produk dibuat dengan menggunakan sistem produksi yang
sesungguhnya dengan tujuan untuk melatih tenaga kerja dalam memcahkan
permasalahan – permasalahan  yang mungkin timbul pada proses sesungguhnya.
Tahapan dilakukan adalah desain untuk proses manufaktur, pembuatan prototipe
manufaktur, penguji prototipe, dan analisis ekonomi teknik. Analisa ekonomi
teknik untuk mendapatkan gambaran tentang biaya pembuatan produk, nilai
ekonomi produk, prediksi keuntungan. Hasil dari analisis ekonomi teknik dapat
digunakan sebagai alat untuk mengambil keputusan jika terjadi perubahan-
perubahan rencana pengembangan