Anda di halaman 1dari 6

PARADIGMA DALAM SOSIOLOGI

A. Konsensus dalam Paradigma Sosiologi


1. Paradigma
Secara umum, paradigma diartikan sebagai seperangkat kepercayaan
atau keyakinan dasar yang menentukan seseorang dalam bertindak pada
kehidupan sehari-hari. Ada yang menyatakan bahwa paradigma merupakan
suatu citra yang fundamental dari pokok permasalahan dari suatu ilmu.
Paradigma menggariskan apa yang harus dipelajari, pernyataan-pernyataan
apa yang seharusnya dikemukakan dan kaidah-kaidah apa yang seharusnya
diikuti dalam menafsirkan jawaban yang diperolehnya. Secara demikian,
maka paradigma adalah ibarat sebuah jendela tempat orang mengamati
dunia luar, tempat orang bertolak menjelajahi dunia dengan wawasannya
(Muslih M, 2004).
Paradigma adalah suatu pendekatan investigasi suatu objek atau titik
awal mengungkapkan point of view (Nurkhalis N, 2012). Menurut Thomas
Khun dalam Muslih M (2004), paradigma sebagai seperangkat keyakinan
mendasar yang memandu tindakan-tindakan kita, yang dimana ketika
adanya asumsi harus adanya perlakuan kegiatan empirik yang tidak
terbantahkan. Dengan demikian Paradigma bisa dikatakan sebagai frame
yang tidak perlu dibuktikan kebenaranya karena paradigma memiliki
pendukung yaitu masyarakat yang mempercayainya.
2. Paradigma Sosiologi
Sosiologi memiliki berbagai paradigma untuk mengkaji suatu masalah,
sehingga sosiologi merupakan ilmu sosial yang berparadigma ganda.
(Adibah, 2017). Adapun struktur paradigma di dalam sosiologi adalah
sebagai berikut, Paradigma sosiologi lahir dari teori-teori sosiolog dari
masa klasik hingga era modern ini. Menurut Thomas Kuhn mengatakan
bahwa paradigma sosiologi berkembang secara revolusi bukan secara
kumulatif seperti pendapat sosiolog sebelumnya. Kuhn menyekemakan
munculnya paradigma sebagai berikut: Paradigma I → Normal Science →
Anomalies → Crisis → Revolusi Science → Paradigma II. Sehingga
paradigma sosiologi dapat berkembang sesuai dengan fakta sosial.
3. Konsensus dalam Sosiologi
Konsensus dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah
kesepakatan kata atau permufakatan bersama (mengenai pendapat,
pendirian, dsb) yang dicapai melalui kebulatan suara. Pengertian lain
mengatakan bahwa konsensus adalah sebuah frasa atau kalimat untuk
menghasilkan sebuah kesepakatan yang disetujui secara bersama-sama baik
antar kelompok atau individu setelah adanya perdebatan dan penelitian
yang dilakukan secara bersama untuk mendapatkan keputusan. Konsensus
bersifat abstrak, sehingga tidak mempunyai keterlibatan terhadap politik
praktis akan tetapi dalam prakteknya konsensus dapat memengaruhi
politik.
Durkheim membangun sebuah kesimpulan bahwa eksistensi
masyarakat tergantung pada konsensus moral. Ide bahwa konsensus moral
adalah kondisi yang diperlukan bagi mewujudkan keteraturan sosial adalah
salah satu postulat teori sosial fungsional. Konsensus terkandung dalam
konsepnya yang terkenal yaitu kesadaran kolektif yang artinya sumber
solidaritas yang mendorong mereka untuk mau bekerja sama. Solidaritas
mekanik dari kesadaran kolektif ditentukan oleh rumusan Durkheim,
bahwa setiap orang “mengetahui bahwa kita sama dengan orang-orang
yang merepresentasi kita” (Durkheim, 1951). Representasi yang dipikirkan
Durkheim adalah bukan hanya menyamakan fisik, melainkan juga
kesamaan-kesamaan pikiran dan perasaan.
Menurut Gibson, et al (1997), hubungan selain dapat menciptakan
kerjasama, hubungan saling tergantung dapat pula melahirkan konflik. 
B. Konflik dalam Paradigma Sosiologi
Tokoh dari teori konflik ini adalah Dahrendorf. Menurut Dahrendorf,
konflik yang mendasarkan pada wewenang dan posisi yang merupakan fakta
sosial. Dalam hal ini, adanya ketidakadilan dalam pembagian kekuasaan dan
wewenang merupakan penentu konflik dalam masyarakat. Konflik terjadi
karena adanya perbedaan keinginan dari penguasa untuk mempertahankan diri
dan di lain pihak adanya keinginan dari yang dikuasai untuk mengadakan
perombakan.
Dalam suatu interaksi masyarakat, pasti ada terjadi konflik. Terjadinya
konflik dikarena adanya perbedaan di setiap individu dan itu wajar terjadi.
Tidak mungkin kehidupan dalam bermasyarakat selalu berjalan mulus. Ralf
dahrendorf mengatakan bahwa proses konflik sosial merupakan kunci bagi
struktur sosial. Adapun macam-macam konflik yang terjadi sebagai berikut:
1. Konflik Individu atau kelompok, konflik ini berdasarkan pelakunya
perorangan atau kelompok.
2. Konflik horizontal atau vertical, konflik ini berdasarkan status pihak-
pihak yang terlibat, sejajar atau bertingkat. Konflik horizontal bisa antar-
etnis, antar-agama, antar-aliran, dan lain sebagainya. Sedangkan konflik
vertical antara buruh dengan majikan, pemberontakan atau gerakan
separatis/makar terhadap kekuasaan negara.
3. Konflik Laten, konflik ini bersifat tersembunyi dan perlu diangkat ke
permukaan agar dapat ditangani secara efektif.
4. Konflik Terbuka, konflik ini sangat berakar dalam, dan sangat nyata. Dan
akan memerlukan berbagai tindakan untuk mengatasi akar penyebab dan
berbagai efeknya.
5. Konflik di Permukaan, konflik ini memiliki akar yang dangkal/tidak
memiliki akar, muncul hanya karena kesalah- fahaman mengenai sasaran
yang dapat diatasi dengan meningkatkan komunikasi.

Penyebab konflik menurut Dahrendorf adalah kepemilikan wewenang


(otoritas) dalam kelompok yang beragam. Jadi, konflik bukan hanya materi
(ekonomi saja) ketidakseimbangan antara hubungan-hubungan masyarakat
seperti, kesenjangan status sosial, kurang meratanya pembangunan kemudian
menimbulkan masalah seperti diskriminasi, pengangguran, kemiskinan,dan
kejahatan. Masing-masing tingkat tersebut menjadi saling berkaitan dan
membentuk sebuah rantai dan menghadirkan perubahan, baik yang konstruktif
maupun yang destruktif. Dahrendorf berpendapat bahwa konflik hanya muncul
melalui relasi-relasi sosial dalam sistem. Dinamika konflik yang terjadi menurut
Dahrendorf akan muncul karena adanya suatu isu tertentu yang muncul
ditengah masyarakat yang belum terbukti benar serta memicu konflik antar
kelompok.

Akibat atau akhir dari sebuah konflik yaitu:


1. Meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (ingroup) yang
mengalami konflik dengan kelompok lain.
2. Keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai.
3. Perubahan kepribadian pada individu, misalnya timbulnya rasa dendam,
benci, dan saling curiga.
4. Kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia.
5. Dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik.
6. Pihak yang berkonflik dapat memghasilkan respon terhadap konflik
menurut sebuah skema duadimensi.
- Pengertian yang tinggi untuk hasil kedua belah pihak akan
menghasilkan percobaan untuk mencari jalan keluar yang terbaik.
- Pengertian yang tinggi untuk hasil kita sendiri hanya akan
menghasilkan percobaan untuk "memenangkan" konflik. Pengertian
yang tinggi untuk hasil pihak lain hanya akan menghasilkan percobaan
yang memberikan "kemenangan".
7. Konflik bagi pihak tersebut. Adapun dampak dari konflik, dilihat dari
permasalahan setiap konflik itu sendiri karena konflik juga bisa berdampak
baik dan berdampak buruk bagi kehidupan individu maupun kehidupan
masyarakat.

C. Tindakan Sosial dalam Paradigma Sosiologi


Tindakan sosial Max Weber sebagai pengemuka eksemplar dari
paradigma definisi sosial, secara defenitif merumuskan Sosiologi sebagai ilmu
yang berusaha untuk menafsirkan dan memahami (interpretative
understanding) tindakan sosial serta antar hubungan sosial untuk sampai pada
penjelasan kausal. Bagi Max Weber, studi tentang tindakan sosial berarti
mencari pengertian subyektif atau motivasi yang terkait pada tindakan-tindakan
sosial.
Weber menganggap subject matter dari Sosiologi adalah tindakan sosial
yang penuh arti. Dengan mempelajari perkembangan suatu pranata secara
khusus dari luar tanpa memperhatikan tindakan manusianya sendiri, menurut
Weber, berarti mengabaikan segi-segi yang prinsipil dari kehidupan sosial.
Perkembangan dari hubungan sosial dapat pula diterangkan melalui tujuan
tujuan-tujuan dari manusia yang melakukan hubungan sosial itu dimana ketika
ia mengambil manfaat dari tindakan itu sendiri dalam tindakannya; memberikan
perbedaan makna kepada tindakan itu sendiri dalam perjalanan waktu.
Ringkasnya paradigma ini memiliki tiga premis berikut:
1. Manusia adalah aktor kreatif
2. Fakta sosial memiliki arti subyektif (motivasi & tujuan)
3. Cara aktor mendefiniskan fakta sosial adalah cara mereka mendefinisikan
situasi.

Bertolak dari konsep dasar tentang tindakan sosial dan antar hubungan
sosial itu, Max Weber mengemukakan lima ciri pokok yang menjadi sasaran
penelitian Sosiologi, yaitu:
1. Tindakan manusia yang menurut si aktor mengandung makna yang
subyektif. Ini meliputi berbagai tindakan nyata.
2. Tindakan nyata dan yang bersifat membatin sepenuhnya dan bersifat
subyektif.
3. Tindakan yang meliputi pengaruh positif dari suatu situasi, tindakan yang
sengaja diulang serta tindakan dalam bentuk persetujuan diam-diam.
4. Tindakan itu diarahkan pada seseorang atau pada beberapa individu.
5. Tindakan itu memperhatikan tindakan orang lain dan terarah kepada
orang lain.

Tindakan sosial merupakan tindakan individu yang mempunyai makna


atau arti subyektif bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain.
Sebaliknya, tindakan individu yang diarahkan kepada benda mati atau obyek
fisik semata tanpa dihubungkan dengan tindakan orang lain bukan suatu
tindakan sosial. Menurut Weber, mempelajari perkembangan pranata haruslah
juga melihat tindakan manusia. Sebab tindakan manusia merupakan bagian
utama dari kehidupan sosial.