Evaluasi Kualitas Lingkungan Bogor
Evaluasi Kualitas Lingkungan Bogor
Salah satu prinsip dari konsep kota sensitif air adalah membuat kota sebagai
daerah tangkapan air, limbah dapat dikurangi dan air hujan dapat dikendalikan
sehingga banjir dapat diantisipasi. Salah satu kriteria dari indeks kota sensitif air
yang memengaruhi kapasitas kota sebagai daerah tangkapan adalah kualitas
lingkungan. Proses transisi ini butuh perubahan yang mendasar dari aspek
infrastruktur, kesediaan institusi, kualitas lingkungan, dan prilaku masyarakat.
Penelitian ini bertujuan untuk menilai kualitas lingkungan di Kota Bogor
berdasarkan indeks kota sensitif air. Berdasarkan analisis, ditemukan kesenjangan
antara hasil focus group discussion dan bukti di lapangan. Penilaian ini digunakan
untuk menghasilkan arahan strategis yang berkaitan dengan peningkatan kualitas
lingkungan di Kota Bogor. Berdasarkan indeks kota sensitif air didapatkan bahwa
indikator habitat yang sehat dan beragam memiliki nilai 3, indikator kualitas dan
aliran air permukaan memiliki nilai 2.33, indikator kualitas air tanah dan
pengisiannya memiliki nilai 2, dan indikator perlindungan kawasan eksisting
memiliki nilai 3.25.
Kata kunci: daerah tangkapan air, indeks kota sensitif air, kualitas lingkungan
ABSTRACT
GHALA NANDA ASANTA. Evaluation of Ecological Health at Bogor City
Based on Water Sensitive City Index. Supervised by YULI SUHARNOTO
One of the principal from water sensitive city is making city as catchment
area, waste disposal can be reduced and rain water can be controlled so flood can
be anticipated. One of the criteria from water sensitive city index that affected city
capability as catchment area is ecological health. That transition process need
fundamentally changed from several aspects such as infrastructure, institution
availability, ecological health, and manner of the residence. The goal of this
research was to evaluate the ecological heath of Kota Bogor based on water
sensitive city index. Based on analysis result there was a gap between focus group
discussion result and the field result. The scoring can be used in producing
strategic to improve ecological health of Bogor City. Based on water sensitive city
index analysis, healthy and diverse habitats indicator got 3 points, surface water
flow and quality indicator got 2.33 points, quality and refill of groundwater
indicator got 2 points, and protection of existing area indicator got 3.25 points.
Keywords: ecological heath, water catchment area, water sensitive city index
EVALUASI KUALITAS LINGKUNGAN DI KOTA BOGOR
BERDASARKAN INDEKS KOTA SENSITIF AIR
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Teknik
pada
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan
Pembimbing
Diketahui,
Ketua Departemen/ Program Studi
Tanggal Lulus:
i
PRAKATA
Puji dan syukur dipanjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya
sehingga skripsi yang berjudul “Analisis Kualitas Lingkungan di Kota Bogor
Berdasarkan Indeks Kota Sensitif Air” dapat diselesaikan. Penyusunan skripsi
dilakukan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Teknik pada
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknologi Pertanian Institut
Pertanian Bogor
Pada kesempatan ini diucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penulisan skripsi ini, terutama kepada:
1. Dr. Ir. Yuli Suharnoto, M. Eng sebagai pembimbing Tugas Akhir
2. Prof. Dr. Ir. Asep Sapei. M.S dan Ibu Namira Dita Rachmawati, S.T, M.Si
sebagai penguji ujian skripsi
3. Kedua orang tua yang selalu memberikan dukungan moral dan material,
sehingga kegiatan penelitian ini dapat terlaksana dengan baik.
4. Seluruh Staf Pengajar Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, FATETA
IPB.
5. Rekan-rekan bimbingan Hadi Suwarno, Jusri Siburian, dan Tia Rizki Ananda,
Serta segenap rekan SIL angkatan 51 atas perhatian dan kerjasamanya selama
dan setelah penelitian berlangsung.
6. Seluruh peneliti dari Australia-Indonesia Centre dan Amira Syafriana yang
selalu menjadi penuntun dan penyemangat dalam terlaksananya penelitian ini.
Disadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan laporan ini karena
keterbatasan pengetahuan. Diharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat
membangun demi peningkatan kualitas dalam penulisan selanjutnya. Semoga
laporan ini dapat memberikan manfaat.
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ii
DAFTAR TABEL iii
DAFTAR GAMBAR iii
DAFTAR LAMPIRAN iii
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 2
Tujuan Penelitian 2
Manfaat Penelitian 2
Ruang Lingkup Penelitian 2
TINJAUAN PUSTAKA 2
Kota Sensitif Air 2
Kualitas Air Permukaan dan Air Tanah 6
Habitat yang Sehat dan Upaya Perlindungan Kawasan Eksisting 7
METODE PENELITIAN 8
Alat dan Bahan 8
Waktu dan Tempat 8
Prosedur Penelitian 9
HASIL DAN PEMBAHASAN 12
Habitat yang Sehat dan Beragam 12
Kualitas dan Aliran Air Permukaan 18
Kualitas Air Tanah dan Pengisiannya 21
Perlindungan Kawasan Eksisting yang Memiliki Nilai Ekologi Tinggi 23
Arahan untuk Rencana Strategis 27
SIMPULAN DAN SARAN 27
Simpulan 27
Saran 28
DAFTAR PUSTAKA 28
LAMPIRAN 31
RIWAYAT HIDUP 47
iii
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Penggunaan lahan di Kota Bogor 16
Tabel 2 Penilaian indikator habitat yang sehat dan beragam 18
Tabel 3 Pengukuran kualitas air di Kecamatan Sempur, Bogor Tengah 19
Tabel 4 Pengukuran kualitas air di Kedunghalang, Bogor Utara 19
Tabel 5 Pengukuran kualitas air di Bendung Katulampa, Bogor Timur 20
Tabel 6 Penilaian indikator kualitas dan aliran air permukaan 21
Tabel 7 Penilaian indikator kualitas air tanah dan pengisiannya 23
Tabel 8 Penilaian indikator perlindungan kawasan eksisting 26
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Perkembangan terminologi kota sensitif air 3
Gambar 2 Klasifikasi terminologi dalam pengelolaan air perkotaan 3
Gambar 3 Tahapan pengelolaan air perkotaan 4
Gambar 4 Skema pengelolaan sumberdaya air pada umumnya 5
Gambar 5 Skema pengelolaan air dengan konsep kota sensitif air 5
Gambar 6 Peta lokasi penelitian- Kota Bogor 8
Gambar 7 Diagram alir penelitian 12
Gambar 8 Peta tata guna lahan di Kota Bogor 13
Gambar 9 Contoh tidak meratanya RTH di sekitar Kelurahan Paledang 14
Gambar 10 Peta RTRW Kota Bogor Tahun 2011-2031 15
Gambar 11 NDVI di Kota Bogor Tahun 1990, 2000, 2005, 2010 17
Gambar 12 Kebun Raya Bogor dan Bogor Forest Science Park 17
Gambar 13 Peta lokasi perlindungan kawasan eksisting 25
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Indeks kualitas lingkungan 31
Lampiran 2 Pengukuran kualitas air Sungai Ciliwung tahun 2003 38
Lampiran 3 Pengukuran kualitas air PDAM yang diambil dari Sungai 39
Cisadane tahun 2003
Lampiran 4 Pengukuran kualitas air sumur di Kota Bogor tahun 2003 40
Lampiran 5 Standar kualitas air bersih 41
Lampiran 6 Standar kualitas air minum 42
Lampiran 7 Peta simplifikasi tata guna lahan yang diolah menggunakan 43
GIS
Lampiran 8 Hasil focus group discussion bulan November 2017 44
Lampiran 9 Notulensi FGD November 2017 45
Lampiran 10 Dokumentasi penelitian 46
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dewasa ini kekeringan, banjir, dan polusi sering terjadi di kota-kota besar di
seluruh dunia. Kota sensitif air atau water sensitive city merupakan konsep yang
bertujuan untuk memberikan solusi yang inovatif untuk menanggulangi masalah-
masalah tersebut. Salah satu prinsip dari kota sensitif air adalah menjadikan kota
sebagai wilayah tangkapan air (catchment area) agar pembuangan air limbah
dapat diminimalisasi dan limpasan air hujan dapat terkontrol sehingga mencegah
banjir (Wong dan Brown 2009). Salah satu kriteria dari water sensitive city index
yang berpengaruh pada kemampuan kota sebagai wilayah tangkapan air adalah
kualitas lingkungan. Setiap daerah memiliki karakteristik geografi yang berbeda-
beda serta ditambah dengan kegiatan manusia dengan berbagai kepentingannya,
sehingga daya dukung lingkungan akan sangat bervariasi (Sunu 2001). Di daerah
yang kondisi daya dukung lingkungannya masih relatif baik, sebagian masyarakat
masih kurang memperhatikan dampak lingkungan sehingga mengakibatkan
berkurangnya daya dukung lingkungan. Hal ini akan dapat berlaku sebaliknya,
yaitu kemampuan lingkungan untuk mendukung kehidupan manusia akan
berkurang.
Pembangunan Kota Bogor menuntut adanya perubahan tutupan lahan.
Lahan-lahan vegetasi alami semakin berkurang jumlahnya, dikonversi menjadi
lahan terbangun (Arkham et al. 2013; Irianti 2008). Koefisien limpasan air hujan
pada lahan terbangun lebih besar daripada lahan terbuka atau bervegetasi,
sehingga kemampuan lahan untuk menyerap air menjadi semakin rendah (Howard
dan Israfilov 2002). Hal ini menyebabkan kota Bogor mengalami masalah
genangan air pada musim hujan, dan kesulitan air bersih di musim kemarau.
Untuk mengatasi masalah itu diperlukan suatu inisiatif strategis yang fokus
menyasar dan spesifik membahas permasalahan yang tengah terjadi (Ferguson et
al. 2013). Dalam rangka pengembangan strategi yang fokus dan sesifik untuk
transisi Kota Bogor menuju kota sensitif air, penelitian ini akan dilakukan dengan
mengacu suatu indeks yang dikembangkan oleh Cooperative Research Center for
Water Sensitive Cities (CRCWSC).
Konsep kota ideal tersebut dikenal dengan istilah water sensitive city atau
kota yang sensitif terhadap air. Suatu transisi menuju kota sensitif air sangatlah
diperlukan agar Kota Bogor dapat menjadi suatu kota yang lebih nyaman untuk
ditinggali, kota dengan pembangunan yang berkelanjutan, lenting terhadap
bencana alam dan lebih produktif. Proses transisi tersebut memerlukan suatu
perubahan fundamental dalam ketersediaan infrastruktur, kelembagaan dan
kerangka pendanaan, kualitas lingkungan, serta perilaku masyarakatnya (Brown et
al. 2009). Oleh karena itu dilakukan penelitian mengenai salah satu penilaian
pada water sensitive city index yaitu penilaian kualitas lingkungan. Berdasarkan
indeks tersebut, indikator-indikator yang harus dievaluasi mencakup habitat yang
sehat dan beragam, kualitas dan aliran air permukaan, kualitas air tanah dan
pengisiannya, serta perlindungan kawasan eksisting yang memiliki nilai ekologi
tinggi.
2
Perumusan Masalah
Kualitas lingkungan di Kota Bogor semakin berkurang karena
pembangunan pesat yang menyebabkan berkurangnya lahan terbuka hijau
sehingga mempengaruhi kualitas air dan kondisi ekosistem. Hal ini saling
berkaitan dalam menunjang kemampuan kota sebagai daerah tangkapan air. Untuk
menilai tingkat kualitas lingkungan di Kota Bogor, Australia-Indonesia Centre
(AIC) telah melaksanakan focus group discussion (FGD) pada bulan November
2017. Oleh karenanya, perlu dilakukan evaluasi terhadap hasil FGD tersebut
berdasarkan water sensitive city index untuk dapat mengetahui tingkat kualitas
lingkungan dengan bukti atau fakta di lapangan.
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menilai kualitas lingkungan Kota Bogor berdasarkan indeks kota sensitif air
2. Membuat arahan rencana strategis kualitas lingkungan Kota Bogor untuk
menuju ke arah kota sensitif air.
Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini bagi Pemerintah Kota Bogor adalah memberikan
informasi mengenai indeks kualitas lingkungan dan arahan rencana strategis
berdasarkan indeks kota sensitif air untuk patokan awal (benchmark) bagi
adaptivitas infrastruktur sumberdaya air di Kota Bogor untuk menuju kota sensitif
air
TINJAUAN PUSTAKA
Kota Sensitif Air
Istilah water sensitive city atau kota sensitif air muncul pertama kali di
Australia pada tahun 2007 sebagai tujuan dari water sensitive urban design
(WSUD). Berdasarkan literatur dapat dilihat bahwa terminologi kota sensitif air
muncul pada tahun 2000-2004 seperti terlihat pada Gambar 1 (Fletcher et al
2014). Ini merupakan istilah terbaru yang muncul dalam pengelolaan sumber daya
air di perkotaan.
3
keluar dari kota namun` optimalkan penggunaan sumber daya air di dalam kota.
Kualitas dan aliran air permukaan berdasarkan indeks kota sensitif air
yaitu mempunyai karakteristik kualitas dan aliran permukaan dan perairan yang
mendukung ekosistem yang sehat, kualitas ini diamati secara konsisten di seluruh
wilayah. Terdapat tindakan menangani semua polusi yang berasal dari suatu
sumber, seperti perlakuan untuk menangani air limbah domestik dan industri.
7
Habitat yang sehat berdasarkan konsep kota sensitif air yaitu habitat
perkotaan termasuk habitat di tepi sungai terhubung dengan baik di sepanjang
jalur air atau jaringan jalan dan melintasi daerah tangkapan air. Keanekaragaman
hayati dan kualitas vegetasi menyediakan sistem ekologis yang berkaitan erat
dengan konteks pembangunan di dalam, tengah, luar dan pinggiran kota. Selain
itu, perundang-undangan dan kebijakan berlaku untuk melindungi dan
melestarikan lanskap dengan makna ekologis yang tinggi. Pemetaan dan
pendataan ekstensif spesies langka dan dilindungi tersedia. Terdapat zona
konservasi yang ditentukan termasuk taman nasional dan sistem air perkotaan
yang mempertimbangkan letak zona konservasi. Konservasi air tanah juga dapat
dilakukan pada ranah masyarakat yaitu dalam bentuk sumur resapan (Iriani 2013).
Pada dasarnya konservasi air tanah tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan
volume air tanah, tetapi juga meningkatkan konservasi air permukaan (Azis et al
2016).
Dalam konteks ruang terbuka hijau, yang menjadi tujuan utama dari
keberadaan ruang terbuka hijau adalah fungsinya untuk mempertahankan kualitas
komponen lingkungan yaitu sebagai paru-paru atau filter udara, mempertahankan
kandungan air tanah dan sebagai penyeimbang alam (Shisegar et al 2018).
Masyarakat pun harus menyadari pentingnya sistem air yang dirancang untuk
mendukung lanskap signifikan ekologis dan mereka secara aktif berkontribusi
untuk melindungi dan meningkatkan nilai konservasi lanskap di ranah publik dan
swasta (Lloyd et al 2016).
8
METODE PENELITIAN
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah laptop. Software yang
digunakan adalah Microsoft Word, Mirosoft Excel, dan ArcGIS. Program
microsoft digunakan untuk membantu penelitian dalam penulisan, dan Mirosoft
Excel membantu dalam perhitungan skala penilaian. ArgGIS digunakan untuk
mengolah data berbasis geografis. Data primer merupakan data penelitian di
lapangan yang berasal dari kegiatan notulensi wawancara dan survei di lapangan.
Data sekunder merupakan data yang diambil dari sumber tertentu seperti denah,
data kualitas air, kebijakan pemerintah, dan peraturan perundang-undangan.
Prosedur Penelitian
. Setelah semua data analisis diperoleh dan dikaji dengan seksama dibuat
kesimpulan terhadap nilai indeks kualitas lingkungan. Hasil analisis yang
diperoleh dapat meningkatkan atau mengurangi penilaian awal sesuai dengan
keadaan kualitas lingkungan di Kota Bogor. Hasil analisis tersebut dapat dijadikan
arahan rencana strategis yang merupakan gambaran besar mengenai kualitas
lingkungan kebijakan menuju kota sensitif air. Arahan tersebut tidak menjelaskan
secara detil langkah-langkah yang perlu dilakukan namun hanya garis besar yang
perlu dilaksanakan sebaagai patokan awal (benchmark) bagi pengembangan
infrastruktur sumberdaya air di Kota Bogor untuk menuju kota sensitif air.
12
Mulai
Studi Literatur
Pengumpulan data
Selesai
Habitat yang sehat berdasarkan konsep kota sensitif air yaitu habitat
perkotaan termasuk habitat di tepi sungai terhubung dengan baik di sepanjang
jalur air atau jaringan jalan dan melintasi daerah tangkapan air. Keanekaragaman
hayati dan kualitas vegetasi menyediakan sistem ekologis yang berkaitan erat
dengan konteks pembangunan di dalam, tengah, luar dan pinggiran kota. Selain
itu, perundang-undangan dan kebijakan berlaku untuk melindungi dan
melestarikan lanskap dengan makna ekologis yang tinggi.
Berdasarkan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH di Kawasan
Perkotaan dalam BAPPEDA (2012) disebutkan bahwa sabuk hijau atau green belt
13
corridor merupakan RTH yang berfungsi sebagai daerah penyangga dan untuk
membatasi perkembangan suatu penggunaan lahan (batas kota, pemisah kawasan,
dan lain-lain). Berdasarkan wawancara dengan Prof. Dr. Ir. Hadi Susilo Arifin,
MS sabuk hijau perkotaan membatasi aktivitas satu dengan aktivitas lainnya agar
tidak saling mengganggu, serta pengamanan dari faktor lingkungan sekitarnya.
Ruang terbuka hijau di Kota Bogor belum membentuk green belt corridor yang
mengakibatkan ruang hijau tidak terkoneksi satu sama lain sehingga
perkembangan biodiversitas kurang merata. Peta tata guna lahan Kota Bogor yang
memperlihatkan belum terkoneksinya ruang terbuka hijau sehingga tidak
membentuk green belt corridor dapat dilihat pada Gambar 8.
Kelurahan Situ Gede. Statistik koleksi vegetasi Kebun Raya terdiri atas 222
famili, 1,266 marga, 3,444 jenis, 13,865 spesimen yang ditanam di atas areal
kebun seluas 87 ha. Bogor Forest Science Park mempunyai vegetasi yang
didominasi oleh hutan hujan tropis seluas 60 ha. Dengan demikian nilai yang
diperoleh adalah 5. Berdasarkan rata- rata dari nilai yang diperoleh sebelumnya
maka diperoleh nilai 3.
Kualitas dan aliran air permukaan berdasarkan indeks kota sensitif air
yaitu mempunyai karakteristik kualitas dan aliran permukaan dan perairan yang
mendukung ekosistem yang sehat, kualitas ini diamati secara konsisten di seluruh
wilayah. Terdapat tindakan menangani semua polusi yang berasal dari suatu
sumber, seperti perlakuan untuk menangani air limbah domestik dan industri.
Selain itu, limpasan perkotaan ditangani dengan menggunakan infrastruktur hijau
seperti, lahan basah dan kebun hujan di banyak wilayah. limpasan perkotaan
secara ekstensif dimanfaatkan untuk mengurangi dampak terkait aliran sungai
pada ekosistem perairan yang dapat merusak jika berlebihan.
19
Kualitas air yang melintasi Kota Bogor yaitu Sungai Ciliwung ditetapkan
DLH dengan mengukur beberapa parameter penting yaitu COD, BOD, kadar
minyak dan lemak, jumlah kolitinja, dan DO pada lokasi di bagian hilir, tengah
dan hulu sesuai dengan Lampiran 3. Secara umum terlihat bahwa kualitas air
sungai Ciliwung sudah perlu mendapat perhatian yang serius terutama kadar
COD, kadar minyak dan lemak serta kolitinja. Ambang batas toleransi dari bahan
pencemar telah ditetapkan dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 416
tahun 1990 yang terdapat pada Lampiran 6. Kadar COD melewati batas toleransi
pada tahun 2001, namun sudah bisa diturunkan pada tahun 2003. Kadar kolitinja
yang pernah mengalami peningkatan pada tahun 2001-2003 melebihi 2500%
(BPLHD 2015).
Dari data tersebut ada dugaan bahwa rumah tangga merupakan sumber
pencemar utama dengan buangan limbah cair yang mengandung bahan pencemar
senyawa organik hal ini sesuai dengan yang dilaporkan oleh Supardi (2003)
bahwa untuk kota-kota besar Indonesia, rumah tangga merupakan sumber
pencemar utama terhadap badan air permukaan. Menurutnya, rumah tangga
memberikan kontribusi pencemaran sekitar 66%, pasar, perkantoran dan hotel
13%, dan sisanya berasal dari industri sebesar 6%. Hasil pemantauan kualitas air
Sungai Ciliwung juga menunjukkan korelasi antara sebaran sumber-sumber
pencemar dengan kualitas air sungai yang ditimbulkan. Pada segmen sungai yang
tinggi pencemarannya menghasilkan tingkat pencemaran yang berat sedangkan
pada segmen sungai yang rendah/sedikit sumber pencemarnya menghasilkan
kualitas air yang lebih baik.
Karakteristik air di Kota Bogor cenderung masih baik untuk digunakan
sehari-hari namun nilai beberapa parameter berada di bawah baku mutu, Dengan
demikian nilai yang diperoleh adalah 3. Berdasarkan pemantauan kualitas air
Sungai Ciliwung dari BPLHD tahun 2007, diperoleh data seperti yang disajikan
pada Tabel 3, Tabel 4, dan Tabel 5 .
Kualitas dan pengisian air tanah berdasarkan konsep kota sensitif air
mendukung ekosistem yang sangat sehat dan layanan ekosistem yang berharga
22
(misalnya ekosistem yang bergantung pada air tanah). Sebagian besar air tanah
berkualitas baik dan kuantitasnya mencukupi untuk kebutuhan penduduk, kedua
aspek ini secara konsisten diamati di seluruh wilayah. Tindakan ekstensif
dilakukan untuk mengatasi limbah cair dalam negeri dan industri serta limpasan
perkotaan yang dapat berdampak pada air tanah.
Air tanah yang banyak dipergunakan oleh penduduk Kota Bogor adalah air
tanah dangkal berupa sumur dengan kedalaman berkisar antara 6-15 meter. Untuk
Mengevaluasi kualitas air sumur, BPLHD melakukan pengambilan contoh-contoh
air sumur di beberapa zona di mana lokasi tersebut merupakan sentra-sentra
keberadaan sumur. Berdasarkan tabel pengukuran air tanah sesuai lampiran 5,
kualitas air sumur di Kota Bogor masih bisa dipergunakan untuk kegiatan rumah
tangga, hanya saja perlu diperhatikan pH yang berkisar antara 4.6-5.3, masih di
bahwah standar yaitu 6.5 (BPLHD 2015). Hal ini dimungkinkan oleh tingkat
kemasaman air hujan yang sudah tercemar oleh polutan yang berasal dari gas
buangan kendaraan bermotor. Pengelolaan air bawah tanah di Kota Bogor diatur
dalam Perda Jawa Barat Nomor 16 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Air Bawah
Tanah. Disebutkan bahwa pengawasan dan pengendalian dilakukan untuk
mengawasi dan mengendalikan terhadap kegiatan pengambilan air bawah tanah,
baik dari aspek teknis maupun kualitas dan kuantitas serta konservasi dan
rehabilitasi dilakukan untuk melakukan perlindungan terhadap seluruh tatanan
hidrologis air bawah tanah serta melakukan kegiatan pemantauan muka air bawah
tanah serta rehabilitasi terhadap wilayah cekungan yang sudah dinyatakan rawan
atau kritis.Karakteristik air tanah di Kota Bogor cenderung masih baik untuk
digunakan sehari-hari namun pada beberapa parameter pernah ada yang di bawah
baku mutu, dengan demikian nilai yang diperoleh adalah 3. Perolehan data
pengukuran kualitas air tanah masih sulit dengan demikian nilai yang diperoleh
adalah 2.
Pemberian kapur dalam dosis yang tepat merupakan salah satu alternatif
untuk meningkatkan pH, tetapi harus diperhatikan kadar karbonat dalam kapur
tersebut. Produk yang umum digunakan adalah kapur pertanian yang terbagi dua
yaitu kalsit dan dolomit. Kalsit bahan bakunya lebih banyak mengandung
karbonat, magnesiumnya sedikit (CaCO3), sedangkan dolomit bahan bakunya
banyak mengandung kalsium karbonat dan magnesium karbonat [CaMg(CO3)]2.
Dolomit merupakan kapur karbonat yang dimanfaatkan untuk mengapuri lahan
bertanah masam atau disebut juga kapur tohor, yaitu kapur yang pembuatannya
lewat proses pembaka (Bowles, 1991). Penggunaan yang tepat dari kapur
bermanfaat untuk pengelolaan tanaman karena tanah yang tinggi kadar
keasamannya mempunyai produktivitas rendah. Khusus untuk air minum,
sebaiknya air sumur ditampung dalam wadah (drum) yang bagian dasarnya
diletakkan bahan –bahan bersifat menyaring zat-zat membahayakan serta bisa
meningkatkan pH. Bahan-bahan tersebut antara lain: arang aktif, pecahan genteng
ataun bata merah, pasir, dan ijuk.
Selain bersifat asam, air sumur dangkal di Kota Bogor masih rentan akan
kekeringan pada musim kemarau menurut wawancara dengan Dr.Ir. Yuli
Suharnoto, M.Eng. Terdapat Perda Jawa Barat Nomor 16 Tahun 2001 tentang
Pengelolaan Air Bawah Tanah sebagai fungsi pengawasan namun belum ada
program dari Pemkot yang berupaya untuk mengatasi hal ini secara terstruktur
23
dengan demikian nilai yang diperoleh adalah 1. Berdasarkan rata- rata dari nilai
yang diperoleh sebelumnya maka diperoleh nilai 2.
ranah publik dan swasta. Pemetaan dan pendataan ekstensif spesies langka dan
dilindungi tersedia. Terdapat zona konservasi yang ditentukan dan sistem air
perkotaan yang mempertimbangkan letak zona konservasi.
Terdapat kawasan yang disediakan Pemkot Bogor sebagai tempat
perlindungan habitat. Habitat biota air dilestarikan pada situ-situ seperti Situ
Gede, Situ Leutik, Situ Anggalena, Danau Bogor Raya, dan Situ Panjang.
Terdapat kawasan pelestarian alam meliputi Hutan Kota CIFOR dan kawasan
perlindungan plasma nutfah eks-situ yakni Kebun Raya Bogor (BAPPEDA 2012).
Data jenis-jenis flora yang ada mempunyai habitat di dalam Kota Bogor dapat
diketahui di LIPI, untuk data flora dan fauna yang ada di Kota Bogor dapat
diketahui di BPS Kota Bogor. Dengan demikian nilai yang diperoleh adalah 3
Taman kota yang telah dibangun Pemerintah Kota Bogor pada tahun 2017
ada 11 buah yaitu Taman Durian Bantar Kemang, Taman Mandalawangi, Taman
Manjabal, Taman Tebing Sempur, Taman Lereng CPM, Taman Bubulak, Taman
Sempur Kaler, Taman Cipaku, Taman Simpang, Taman Villa Bogor Indah (VBI)
dan Taman Tirta Cimanggu. Maka point ini medapatkan nilai 4. Terdapat
Peraturan Daerah Nomor 22 Tahun 2010 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Provinsi Jawa Barat Tahun 2009-2029 yang mengatur mengenai kawasan zona
konservasi seperti taman nasional, cagar alam, dan kebun raya yang sudah cukup
diterapkan. Dengan demikian nilai yang diperoleh adalah 3.
Terdapat BASIBA atau Bank Sampah Berbasis Aparatur merupakan salah
satu program dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor yang dipergunakan untuk
pengelolaan sampah di aparatur Kota Bogor. Bank Sampah Induk ini saat ini
mencakup 233 Bank Sampah Unit atau bank sampah yang ada di tingkat Rukun
Tetangga (RT) atau Rukun Warga (RW). Berdasarkan wawancara yang dilakukan
denghan Dr. Hendricus Andy Simarmata Bank Sampah Induk dapat
mengumpulkan sampah yang dapat di daur ulang sebanyak 300-500 kg/hari dari
sebanyak 32 jenis sampah anorganik yang diterima. Upaya perlindungan
lingkungan eksisting juga diperlihatkan dengan adanya bank sampah yang
menerapkan sistem pengelolaan sampah berbasis 3R (reduce, reuse dan recycle).
1 unit TPS 3R rata-rata dapat mencakup 8 hingga 9 RT dengan total penduduk
sekitar 2,840 jiwa. Terdapat 23 unit TPS 3R di Kota Bogor yang mencakup
sebanyak 13,113 rumah/KK yang berada di 165 RT di Kota Bogor. Jumlah bank
sampah yang telah memiliki Surat Keputusan dari masing-masing Lurah adalah
sebanyak 80 bank sampah (DLH 2017).
Berdasarkan indeks kota sensitif air masyarakat harus menyadari
pentingnya sistem air yang dirancang untuk mendukung lanskap signifikan
ekologis dan mereka secara aktif berkontribusi untuk melindungi dan
meningkatkan nilai konservasi lanskap di ranah publik dan swasta. Terdapat
beberapa komunitas masyarakat Kota Bogor yang berbasis lingkungan seperti
WASH, Eart Hour Bogor, dan Pemerhati Pembangunan dan Lingkungan Hidup
Bogor. Komunitas ini memiliki beberapa program kerja untuk mengatasi banjir
yaitu penataan sempadan sungai, pengembangan peta resiko banjir, penyusunan
roadmap, penanggulangan banjir, penanganan bencana, penanaman pohon di
daerah tangkapan air, pembuatan embung dan kolam resapan, dan pembuatan
sumur biopori. Untuk meningkatkan kuantitas air dilakukan penyediaan air bersih
dan pemeliharaan aset prasarana air bersih. Sedangkan untuk meningkatkan
kualitas air dilakukan sanitasi pengolahan sampah dan limbah, penyadaran
25
1. Berdasarkan skala penilaian indeks kota sensitif air, diperoleh nilai untuk
empat indikator aspek kualitas lingkungan di Kota Bogor yaitu indikator
habitat yang sehat dan beragam memiliki nilai 3, indikator kualitas dan
aliran air permukaan memiliki nilai 2.33, indikator kualitas air tanah dan
28
SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Agus HP, Mahendra AM, Fifi S. 2013. Perencanaan dan Studi Pengaruh Sistem
Drainase Marvell City Terhadap Saluran Kalibokor di Kawasan Ngagel-
Surabaya. Jurnal Teknik POMITS. 1(1) : 1-6
Arkham, Arifin H S, Kaswanto R L, Arifin N H S. 2013. Manajemen Lanskap
Ruang Terbuka Biru di Daerah Aliran Sungai Ciliwung. Prosiding
Lokakarya Nasional dan Seminar Fokus Komunikasi Perguruan Tinggi
Pertanian Indonesia. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Azis A, Faisal Z, Yusuf H. 2016. Konservasi Air Tanah Melalui Pembuatan
Sumur Resapan Air Hujan di Kelurahan Maradekaya Kota Makasar. Jurnal
INTEK. 3(2):87-90.
[BAPPEDA] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. 2012. Strategi Sanitasi
Kota Bogor 2010-2014 (Edisi Revisi 2013-2017). Pemerintah Daerah Kota
Bogor.
Bowles, Joseph E. Johan K. Helnim. 1991. Sifat-sifat Fisis dan Geoteknis Tanah
(Mekanika Tanah). Jakarta (ID): Erlangga
[BPLHD] Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Kota Bogor. 2015. Buku
Data Status Lingkungan Hidup Daerah Kota Bogor. Bogor (ID):
Pemerintah Daerah Kota Bogor.
[BPS] Badan Pusat Statistika. 2014. Badan Pusat Statistik Kota Bogor. Bogor
Dalam Angka 2013 [internet]. [diacu 26 Februari 2017]. Tersedia dari :
http://bappeda.kotabogor.go.id/frontend/ bogorangka/2014
Brown R, Keath N, Wong T. 2009. Urban Water Management in Cities:
Historical, Current and Future Regimes. Journal of Water Science &
Technology, Vol 59 (5): 48-55.
29
Dewi, Nura Adithia. 2014. Perencanaan sistem penyaluran air limbah domestik
Kota Bogor menggunakan air hujan untuk debit penggelontoran. [Skripsi]
Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
ESRI. 2015. ESRI Indonesia. Normalized Difference Vegetation Index City
Change Matters [internet]. [diacu 30 Juli 2018]. Tersedia dari:
http://changematters.esri.com/compare.
Ferguson B C, Frantzaskaki N, Brown R R. 2013. A Strategic Program for
Transitioning to a Water Sensitive City. Journal of Landscape and Urban
Planning. Vol 15 (2): 32-45.
Fletcher T D, Shuster W, Hunt W F, Ashley R, Butler D, Arthur S, Trowsdale S,
Barraud S, Davies A S, Krajewski J L, Mikkelsen P S, Rivard G, Uhl M,
Dagenais D, Viklander M. 2014. SUDS, LID, BMPs, WSUD and more –
The Evolution and Application of Terminology Surrounding Urban
Drainage, Journal of Urban Water. Vol 21 (1): 51-54
Howard K W F, Israfilov R G. 2002. Current Problems of Hydrogeology in
Urban Areas, Urban Agglomerates and Industrial Centres. Ottawa (CA):
Kluwer Academic Publishers Springer-Science Business Media.
Irianti E F. 2008. Perubahan Penggunaan, Penutupan Lahan, dan Ruang Terbuka
Hijau Kota Bogor Tahun 1905-2005 [skripsi]. Bogor (ID): Program Studi
Arsitektur Lanskap Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
[KemenKes] Kementerian Kesehatan. 1990. Syarat-syarat dan pengawasan
kualitas air. Peraturan Menteri Kesehatan No. 416/ MEN. KES/ IX/ 1990.
Jakarta (ID): Kementerian Kesehatan.
[KemenLH] Kementrian Lingkungan Hidup. 2003. Baku mutu air limbah
domestic. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.
112/MEN.LH/VII/2003. Jakarta (ID): Kementerian Lingkungan Hidup.
[KLH] Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup. 1990.
Kualitas Lingkungan di Indonesia 1990. Jakarta (ID): PT. Intermasa.
Lloyd S, Roberts S, Beck L. 2016. Water Sensitive Cities Benchmarking and
Assessment: Moonee Valley City Council Melbourne. Melbourne (AT):
Cooperative Research Centre for Water Sensitive Cities.
Naway R, Halim F, Jasin MI, Kawet L. 2013. Pengembangan sistem pelayanan air
bersih. Jurnal Sipil Statik 1(6): 444-451.
Pontoh NK. 2005. Hubungan Perubahan Penggunaan Lahan dengan Limpasan Air
Permukaan Studi Kasus Kota Bogor. Jurnal Perencanaan Wilayah dan
Kota. 16(3): 44-56
Priestley A J, Biermann S, Laves G. 2012. Towards Assessment Criteria for
Water Sensitive Cities. Urban Water Security Research Alliance. Technical
Report No. 43. Queensland (AT).
Republik Indonesia. 2001. Pengelolaan Air Bawah Tanah. Peraturan Daerah
Provinsi Jawa Barat No. 16/PERDA/VII/2001. Bandung (ID): Sekretariat
Negara.
Republik Indonesia. 2010. Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat
Tahun 2009-2029. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No.
16/PERDA/XI/2010. Bandung (ID): Sekretariat Negara.
Sapei A, Purwanto M Y J, Sutoyo, Kurniawan A. 2011. Desain Instalasi Pengolah
Limbah WC Komunal Masyarakat Pinggir Sungai Desa Lingkar Kampus.
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. Vol 16 (2): 92
30
The quality of surface and groundwater in Bogor significantly impacts its functionality as a water-sensitive city. Poor surface water quality due to urban runoff and inconsistent pollution control greatly affects urban ecosystems. Groundwater issues, such as depletion and contamination (from acid rain and pollution), undercut the availability of clean water. Effective pollution management and strategic improvements in water quality are essential for Bogor to fully realize its potential as a water-sensitive city .
Bogor has implemented several strategies aligning with the water-sensitive city index indicators, such as improving surface water quality through centralized water treatment and introducing conservation zones. However, key areas like tackling point source pollution and managing urban runoff remain inadequately addressed across all necessary locations. Existing urban plans embrace strategic conservation, yet the overall sustainability score averaged only 2.65 out of 5, indicating significant room for improvement .
High-quality and diverse urban habitats play a critical role in Bogor's sustainability by providing robust ecological systems capable of supporting healthy biodiversity and essential ecosystem services. These habitats contribute to urban resilience against climate fluctuations, pollution mitigation, and overall ecological balance, which are integral for the city's sustainable development and its transition to a water-sensitive city .
The analysis of Bogor's transition revealed gaps between the results from the focus group discussions (FGD) and the actual field data. Specifically, there were discrepancies in the assessed quality of surface water and ecological health versus the focus group results, indicating that earlier assessments may not fully reflect the city's real conditions. Moreover, there's a lack of consistent data measurement across various points, revealing the necessity of more objective and comprehensive assessments before conducting FGDs .
Bogor can enhance ecological health through improved water resource management by establishing communal septic tanks to optimize pollution control, improving the efficiency of the PDAM water distribution to reduce leakage, and enforcing stricter regulations on industrial and domestic water usage. Furthermore, reforestation of urban green belts and strategic placement of rainwater harvesting systems can significantly increase the city's resilience against water scarcity and flooding .
For Bogor to transition towards a water-sensitive city, fundamental changes are required in several areas: improving infrastructure, ensuring the availability of institutions and funding frameworks, enhancing ecological health, and altering the behavior of residents. These changes aim at making the city capable of functioning as a water catchment area where waste is reduced, rainwater is managed to mitigate flooding, and overall ecological health is improved .
To close the developmental gap, Bogor needs a holistic strategy that includes integrated research across all six additional indicators of the water-sensitive city index. Recommendations include enhancing data consistency, pre-FGD quantitative data gathering, improved greenbelt corridor planning, communal septic systems to manage pollution, and clear zoning for conservation areas. Engaging cross-sectoral stakeholders in routine evaluations can further refine adaptive strategies .
The reduction of vegetated land in Bogor, due to urban development, affects its ability to function as a water-sensitive city by increasing the runoff coefficient compared to open or vegetated land. This decreases the land's ability to absorb water, resulting in issues such as waterlogging during the rainy season and clean water shortages during dry seasons. Effective urban planning strategies are crucial to maintaining or increasing green spaces to enhance the city's ecological health and water management capabilities .
The hurdles Bogor faces in becoming a water-sensitive city include inconsistencies in data collection and measurement, inefficient pollution control infrastructure, insufficient public engagement and awareness of ecological conservation, and inadequate zoning and protection of conservation areas. Addressing these challenges requires coordinated efforts between government bodies, communities, and private stakeholders to effectively implement urban environmental strategies .
Public awareness and action are pivotal in protecting ecologically significant landscapes in Bogor. Efforts include educating communities about the importance of water management systems that support ecological conservation, and actively involving them in initiatives to protect and enhance the conservation values of public and private landscapes. Well-informed and engaged communities are more likely to contribute positively to the maintenance of ecological integrity in urban environments .