0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
52 tayangan46 halaman

Evaluasi Kualitas Lingkungan Bogor

Skripsi ini membahas evaluasi kualitas lingkungan di Kota Bogor berdasarkan indeks kota sensitif air. Penelitian ini menilai empat indikator yaitu habitat yang sehat dan beragam, kualitas dan aliran air permukaan, kualitas air tanah dan pengisiannya, serta perlindungan kawasan eksisting. Hasilnya, habitat mendapat nilai 3, kualitas air permukaan 2.33, kualitas air tanah 2, dan perlindungan kawasan 3.25. Analisis ini dig

Diunggah oleh

Benny Juntak
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
52 tayangan46 halaman

Evaluasi Kualitas Lingkungan Bogor

Skripsi ini membahas evaluasi kualitas lingkungan di Kota Bogor berdasarkan indeks kota sensitif air. Penelitian ini menilai empat indikator yaitu habitat yang sehat dan beragam, kualitas dan aliran air permukaan, kualitas air tanah dan pengisiannya, serta perlindungan kawasan eksisting. Hasilnya, habitat mendapat nilai 3, kualitas air permukaan 2.33, kualitas air tanah 2, dan perlindungan kawasan 3.25. Analisis ini dig

Diunggah oleh

Benny Juntak
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

EVALUASI KUALITAS LINGKUNGAN DI KOTA BOGOR

BERDASARKAN INDEKS KOTA SENSITIF AIR

GHALA NANDA ASANTA

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2018
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Evaluasi Kualitas
Lingkungan di Kota Bogor Berdasarkan Indeks Kota Sensitif Air adalah benar
karya saya dengan arahan dari pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk
apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau
dikutip dari karya yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan dari penulis
lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian
akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.

Bogor, Oktober 2018

Ghala Nanda Asanta


F44140063
ABSTRAK
GHALA NANDA ASANTA. Evaluasi Kualitas Lingkungan di Kota Bogor
Berdasarkan Indeks Kota Sensitif Air. Dibimbing oleh YULI SUHARNOTO.

Salah satu prinsip dari konsep kota sensitif air adalah membuat kota sebagai
daerah tangkapan air, limbah dapat dikurangi dan air hujan dapat dikendalikan
sehingga banjir dapat diantisipasi. Salah satu kriteria dari indeks kota sensitif air
yang memengaruhi kapasitas kota sebagai daerah tangkapan adalah kualitas
lingkungan. Proses transisi ini butuh perubahan yang mendasar dari aspek
infrastruktur, kesediaan institusi, kualitas lingkungan, dan prilaku masyarakat.
Penelitian ini bertujuan untuk menilai kualitas lingkungan di Kota Bogor
berdasarkan indeks kota sensitif air. Berdasarkan analisis, ditemukan kesenjangan
antara hasil focus group discussion dan bukti di lapangan. Penilaian ini digunakan
untuk menghasilkan arahan strategis yang berkaitan dengan peningkatan kualitas
lingkungan di Kota Bogor. Berdasarkan indeks kota sensitif air didapatkan bahwa
indikator habitat yang sehat dan beragam memiliki nilai 3, indikator kualitas dan
aliran air permukaan memiliki nilai 2.33, indikator kualitas air tanah dan
pengisiannya memiliki nilai 2, dan indikator perlindungan kawasan eksisting
memiliki nilai 3.25.

Kata kunci: daerah tangkapan air, indeks kota sensitif air, kualitas lingkungan

ABSTRACT
GHALA NANDA ASANTA. Evaluation of Ecological Health at Bogor City
Based on Water Sensitive City Index. Supervised by YULI SUHARNOTO

One of the principal from water sensitive city is making city as catchment
area, waste disposal can be reduced and rain water can be controlled so flood can
be anticipated. One of the criteria from water sensitive city index that affected city
capability as catchment area is ecological health. That transition process need
fundamentally changed from several aspects such as infrastructure, institution
availability, ecological health, and manner of the residence. The goal of this
research was to evaluate the ecological heath of Kota Bogor based on water
sensitive city index. Based on analysis result there was a gap between focus group
discussion result and the field result. The scoring can be used in producing
strategic to improve ecological health of Bogor City. Based on water sensitive city
index analysis, healthy and diverse habitats indicator got 3 points, surface water
flow and quality indicator got 2.33 points, quality and refill of groundwater
indicator got 2 points, and protection of existing area indicator got 3.25 points.

Keywords: ecological heath, water catchment area, water sensitive city index
EVALUASI KUALITAS LINGKUNGAN DI KOTA BOGOR
BERDASARKAN INDEKS KOTA SENSITIF AIR

GHALA NANDA ASANTA

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Teknik
pada
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2018
Judul : Evaluasi Kualitas Lingkungan di Kota Bogor Berdasarkan Indeks Kota
Sensitif Air
Nama : Ghala Nanda Asanta
NIM : F44140063

Bogor, September 2018


Disetujui,

Pembimbing

Dr. Ir. Yuli Suharnoto, M.Eng.


NIP. 19620709 198703 1 001

Diketahui,
Ketua Departemen/ Program Studi

Dr. Ir. Nora H. Pandjaitan, DEA


NIP. 19580527 198103 2 001

Tanggal Lulus:
i

PRAKATA
Puji dan syukur dipanjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya
sehingga skripsi yang berjudul “Analisis Kualitas Lingkungan di Kota Bogor
Berdasarkan Indeks Kota Sensitif Air” dapat diselesaikan. Penyusunan skripsi
dilakukan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Teknik pada
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknologi Pertanian Institut
Pertanian Bogor
Pada kesempatan ini diucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penulisan skripsi ini, terutama kepada:
1. Dr. Ir. Yuli Suharnoto, M. Eng sebagai pembimbing Tugas Akhir
2. Prof. Dr. Ir. Asep Sapei. M.S dan Ibu Namira Dita Rachmawati, S.T, M.Si
sebagai penguji ujian skripsi
3. Kedua orang tua yang selalu memberikan dukungan moral dan material,
sehingga kegiatan penelitian ini dapat terlaksana dengan baik.
4. Seluruh Staf Pengajar Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, FATETA
IPB.
5. Rekan-rekan bimbingan Hadi Suwarno, Jusri Siburian, dan Tia Rizki Ananda,
Serta segenap rekan SIL angkatan 51 atas perhatian dan kerjasamanya selama
dan setelah penelitian berlangsung.
6. Seluruh peneliti dari Australia-Indonesia Centre dan Amira Syafriana yang
selalu menjadi penuntun dan penyemangat dalam terlaksananya penelitian ini.
Disadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan laporan ini karena
keterbatasan pengetahuan. Diharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat
membangun demi peningkatan kualitas dalam penulisan selanjutnya. Semoga
laporan ini dapat memberikan manfaat.

Bogor, Oktober 2018

Ghala Nanda Asanta


ii ii

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ii
DAFTAR TABEL iii
DAFTAR GAMBAR iii
DAFTAR LAMPIRAN iii
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 2
Tujuan Penelitian 2
Manfaat Penelitian 2
Ruang Lingkup Penelitian 2
TINJAUAN PUSTAKA 2
Kota Sensitif Air 2
Kualitas Air Permukaan dan Air Tanah 6
Habitat yang Sehat dan Upaya Perlindungan Kawasan Eksisting 7
METODE PENELITIAN 8
Alat dan Bahan 8
Waktu dan Tempat 8
Prosedur Penelitian 9
HASIL DAN PEMBAHASAN 12
Habitat yang Sehat dan Beragam 12
Kualitas dan Aliran Air Permukaan 18
Kualitas Air Tanah dan Pengisiannya 21
Perlindungan Kawasan Eksisting yang Memiliki Nilai Ekologi Tinggi 23
Arahan untuk Rencana Strategis 27
SIMPULAN DAN SARAN 27
Simpulan 27
Saran 28
DAFTAR PUSTAKA 28
LAMPIRAN 31
RIWAYAT HIDUP 47
iii

DAFTAR TABEL
Tabel 1 Penggunaan lahan di Kota Bogor 16
Tabel 2 Penilaian indikator habitat yang sehat dan beragam 18
Tabel 3 Pengukuran kualitas air di Kecamatan Sempur, Bogor Tengah 19
Tabel 4 Pengukuran kualitas air di Kedunghalang, Bogor Utara 19
Tabel 5 Pengukuran kualitas air di Bendung Katulampa, Bogor Timur 20
Tabel 6 Penilaian indikator kualitas dan aliran air permukaan 21
Tabel 7 Penilaian indikator kualitas air tanah dan pengisiannya 23
Tabel 8 Penilaian indikator perlindungan kawasan eksisting 26

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Perkembangan terminologi kota sensitif air 3
Gambar 2 Klasifikasi terminologi dalam pengelolaan air perkotaan 3
Gambar 3 Tahapan pengelolaan air perkotaan 4
Gambar 4 Skema pengelolaan sumberdaya air pada umumnya 5
Gambar 5 Skema pengelolaan air dengan konsep kota sensitif air 5
Gambar 6 Peta lokasi penelitian- Kota Bogor 8
Gambar 7 Diagram alir penelitian 12
Gambar 8 Peta tata guna lahan di Kota Bogor 13
Gambar 9 Contoh tidak meratanya RTH di sekitar Kelurahan Paledang 14
Gambar 10 Peta RTRW Kota Bogor Tahun 2011-2031 15
Gambar 11 NDVI di Kota Bogor Tahun 1990, 2000, 2005, 2010 17
Gambar 12 Kebun Raya Bogor dan Bogor Forest Science Park 17
Gambar 13 Peta lokasi perlindungan kawasan eksisting 25

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Indeks kualitas lingkungan 31
Lampiran 2 Pengukuran kualitas air Sungai Ciliwung tahun 2003 38
Lampiran 3 Pengukuran kualitas air PDAM yang diambil dari Sungai 39
Cisadane tahun 2003
Lampiran 4 Pengukuran kualitas air sumur di Kota Bogor tahun 2003 40
Lampiran 5 Standar kualitas air bersih 41
Lampiran 6 Standar kualitas air minum 42
Lampiran 7 Peta simplifikasi tata guna lahan yang diolah menggunakan 43
GIS
Lampiran 8 Hasil focus group discussion bulan November 2017 44
Lampiran 9 Notulensi FGD November 2017 45
Lampiran 10 Dokumentasi penelitian 46
1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dewasa ini kekeringan, banjir, dan polusi sering terjadi di kota-kota besar di
seluruh dunia. Kota sensitif air atau water sensitive city merupakan konsep yang
bertujuan untuk memberikan solusi yang inovatif untuk menanggulangi masalah-
masalah tersebut. Salah satu prinsip dari kota sensitif air adalah menjadikan kota
sebagai wilayah tangkapan air (catchment area) agar pembuangan air limbah
dapat diminimalisasi dan limpasan air hujan dapat terkontrol sehingga mencegah
banjir (Wong dan Brown 2009). Salah satu kriteria dari water sensitive city index
yang berpengaruh pada kemampuan kota sebagai wilayah tangkapan air adalah
kualitas lingkungan. Setiap daerah memiliki karakteristik geografi yang berbeda-
beda serta ditambah dengan kegiatan manusia dengan berbagai kepentingannya,
sehingga daya dukung lingkungan akan sangat bervariasi (Sunu 2001). Di daerah
yang kondisi daya dukung lingkungannya masih relatif baik, sebagian masyarakat
masih kurang memperhatikan dampak lingkungan sehingga mengakibatkan
berkurangnya daya dukung lingkungan. Hal ini akan dapat berlaku sebaliknya,
yaitu kemampuan lingkungan untuk mendukung kehidupan manusia akan
berkurang.
Pembangunan Kota Bogor menuntut adanya perubahan tutupan lahan.
Lahan-lahan vegetasi alami semakin berkurang jumlahnya, dikonversi menjadi
lahan terbangun (Arkham et al. 2013; Irianti 2008). Koefisien limpasan air hujan
pada lahan terbangun lebih besar daripada lahan terbuka atau bervegetasi,
sehingga kemampuan lahan untuk menyerap air menjadi semakin rendah (Howard
dan Israfilov 2002). Hal ini menyebabkan kota Bogor mengalami masalah
genangan air pada musim hujan, dan kesulitan air bersih di musim kemarau.
Untuk mengatasi masalah itu diperlukan suatu inisiatif strategis yang fokus
menyasar dan spesifik membahas permasalahan yang tengah terjadi (Ferguson et
al. 2013). Dalam rangka pengembangan strategi yang fokus dan sesifik untuk
transisi Kota Bogor menuju kota sensitif air, penelitian ini akan dilakukan dengan
mengacu suatu indeks yang dikembangkan oleh Cooperative Research Center for
Water Sensitive Cities (CRCWSC).
Konsep kota ideal tersebut dikenal dengan istilah water sensitive city atau
kota yang sensitif terhadap air. Suatu transisi menuju kota sensitif air sangatlah
diperlukan agar Kota Bogor dapat menjadi suatu kota yang lebih nyaman untuk
ditinggali, kota dengan pembangunan yang berkelanjutan, lenting terhadap
bencana alam dan lebih produktif. Proses transisi tersebut memerlukan suatu
perubahan fundamental dalam ketersediaan infrastruktur, kelembagaan dan
kerangka pendanaan, kualitas lingkungan, serta perilaku masyarakatnya (Brown et
al. 2009). Oleh karena itu dilakukan penelitian mengenai salah satu penilaian
pada water sensitive city index yaitu penilaian kualitas lingkungan. Berdasarkan
indeks tersebut, indikator-indikator yang harus dievaluasi mencakup habitat yang
sehat dan beragam, kualitas dan aliran air permukaan, kualitas air tanah dan
pengisiannya, serta perlindungan kawasan eksisting yang memiliki nilai ekologi
tinggi.
2

Perumusan Masalah
Kualitas lingkungan di Kota Bogor semakin berkurang karena
pembangunan pesat yang menyebabkan berkurangnya lahan terbuka hijau
sehingga mempengaruhi kualitas air dan kondisi ekosistem. Hal ini saling
berkaitan dalam menunjang kemampuan kota sebagai daerah tangkapan air. Untuk
menilai tingkat kualitas lingkungan di Kota Bogor, Australia-Indonesia Centre
(AIC) telah melaksanakan focus group discussion (FGD) pada bulan November
2017. Oleh karenanya, perlu dilakukan evaluasi terhadap hasil FGD tersebut
berdasarkan water sensitive city index untuk dapat mengetahui tingkat kualitas
lingkungan dengan bukti atau fakta di lapangan.

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menilai kualitas lingkungan Kota Bogor berdasarkan indeks kota sensitif air
2. Membuat arahan rencana strategis kualitas lingkungan Kota Bogor untuk
menuju ke arah kota sensitif air.

Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini bagi Pemerintah Kota Bogor adalah memberikan
informasi mengenai indeks kualitas lingkungan dan arahan rencana strategis
berdasarkan indeks kota sensitif air untuk patokan awal (benchmark) bagi
adaptivitas infrastruktur sumberdaya air di Kota Bogor untuk menuju kota sensitif
air

Ruang Lingkup Penelitian


Ruang lingkup penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Nilai kualitas lingkungan yang dievaluasi meliputi empat indikator dari
peningkatan kualitas lingkungan pada indeks kota sensitif air.
2. Nilai kualitas lingkungan dalam penelitian ini mengevaluasi hasil penilaian
dari workshop yang dilaksanakan pada bulan November 2017.
3. Evaluasi yang dilakukan untuk membuktikan validitas nilai diperoleh dari
wawancara, studi literatur, dan observasi lapangan mencakup keberagaman
habitat, upaya pelestarian ekosistem, kualitas air permukaan, dan air tanah serta
kebijakan-kebijakan pemerintah Kota Bogor yang berhubungan dengan
kualitas lingkungan.

TINJAUAN PUSTAKA
Kota Sensitif Air

Istilah water sensitive city atau kota sensitif air muncul pertama kali di
Australia pada tahun 2007 sebagai tujuan dari water sensitive urban design
(WSUD). Berdasarkan literatur dapat dilihat bahwa terminologi kota sensitif air
muncul pada tahun 2000-2004 seperti terlihat pada Gambar 1 (Fletcher et al
2014). Ini merupakan istilah terbaru yang muncul dalam pengelolaan sumber daya
air di perkotaan.
3

Gambar 1 Perkembangan terminologi kota sensitif air

Masing-masing terminologi tersebut memiliki batasan dan bahasan


tersendiri. Berdasarkan grafik tersebut, sejak tahun 1980 sudah muncul
terminologi konsep yang bertujuan untuk mengelola air perkotaan hingga pada
tahun 2000 sampai 2004 muncul sitasi yang menggunakan terminologi kota
sensitif air. Konsep-konsep yang dituliskan dalam grafik mempunyai terminlogi
yang berbeda-beda namun mempunyai esensi yang sama yaitu pengelolaan air
perkotaan yang tahan lama, berlanjut, dan layak. Apabila dilihat dari fokus
pembahasan dan spesifikasinya, maka secara umum dijelaskan oleh Fletcher et al.
(2014) posisi dari setiap istilah tersebut seperti terlihat pada Gambar 2. kota
sensitif air dikelompokkan sama dengan pengelolaan air perkotaan yang terpadu.

Gambar 2 Klasifikasi terminologi dalam pengelolaan air perkotaan

Kota sensitif air muncul akibat pengarusutamaan isu pembangunan


keberlanjutan (Priestley 2012). Pada perkembangan awal suatu kota, pertumbuhan
penduduk akan memicu pertambahan kebutuhan akan air, sehingga pengelolaan
yang dilakukan adalah pemenuhan kebutuhan air bagi para penduduknya. Tahap
ini disebut dengan “water supply city”. Tahap berikutnya, setelah penduduk
terpenuhi kebutuhannya akan air, maka muncul tuntutan agar air yang tersedia dan
yang telah terpakai tersebut tidak memberikan dampak terhadap kualitas
4

kesehatan penduduk. Maka muncul “sewered city” dengan respon pengelolaan


memberikan saluran air pembuangan yang terpisah dengan saluran air bersih.
Selanjutnya pertumbuhan penduduk dan pembangunan yang terus berkembang
menyebabkan suatu kota rentan akan bencana banjir. “drained city” akan memberi
respon pengelolaan untuk saluran drainase yang baik dan pertahanan terhadap
banjir, analisis kondisi eksisting merupakan faktor utama untuk mengetahui
penyebab adanya genangan air (Agus et al 2013). Faktor-faktor yang
mempengaruhi adanya genangan air yang berlebih meliputi intensitas hujan,
durasi hujan, dan distribusi curah hujan (Pontoh 2005).
Masyarakat yang sudah memiliki taraf hidup yang baik semakin menuntut
akan kenyamanan dan kualitas lingkungan, “waterway city” muncul dengan
respon penanganan limbah dan penggunaan sumber daya air yang lebih banyak
seperti pemanfaatan air limpasan hujan. Selanjutnya masyarakat perkotaan akan
memiliki kesadaran bahwa kota memiliki batas daya tampung dan daya dukung
lingkungan, terbentuklah “watercycle city” yang menangani sumber daya air kota
dengan aturan baru mengenai penggunaan sumberdaya air yang sesuai peruntukan
(fit for purpose source), contoh: penggunaan air sisa bilas untuk menyiram toilet,
dan juga mempromosikan konservasi perlindungan terhadap siklus perairan.
Terakhir adalah kota sensitif air (water sensitive city).Kota sensitif air menerapkan
kebijakan pengeloaan sumber daya air yang adaptif, penyediaan infrastruktur
multifungsi dan penataan lanskap perkotaan yang memperhatikan siklus dan sifat-
sifat air seperti disajikan pada Gambar 3 (Brown et al. 2009).

Gambar 3 Tahapan Pengelolaan Air Perkotaan

Cooperative Research Center for Water Sensitive City (CRC-WSC) dalam


Priestley et al. (2012) mendefinisikan kota sensitif air sebagai “landasan filosofi
yang fleksibel dalam penyediaan dan penggunaan sumber daya air untuk
memenuhi semua kebutuhan pengguna terkait pengumpulan dan pergerakan air,
dapat berupa teknologi untuk memudahkan pergerakan fisik air dengan suatu
desain yang mengakui dan menghargai penampakan visual dari air" seperti yang
digambarkan pada Gambar 5. Selain tiga prinsip kota sensitif air yang telah
disebutkan pada latar belakang, CRC-WSC juga menyediakan dua prinsip
pendukung yaitu minimalkan impor air baku ke dalam kota, dan ekspor air limbah
5

keluar dari kota namun` optimalkan penggunaan sumber daya air di dalam kota.

Gambar 4 Skema pengelolaan sumberdaya air pada umumnya

Gambar 5 Skema pengelolaan air dengan konsep kota sensitif air

Water sensitive city indeks (WSC-Indeks) merupakan suatu perangkat


yang dikembangkan oleh CRC-WSC Monash University-Australia. Tujuan dari
penyusunan WSC-Indeks adalah untuk memberikan suatu panduan bagi
pemerintahan dan organisasi lain untuk melakukan transisi suatu perkotaan (atau
pemukiman lainnya) menjadi wilayah yang lebih nyaman untuk ditinggali,
memiliki resilensi terhadap bencana dan perubahan iklim, melaksanakan
pembangunan berelanjutan dan lebih produktif melalui aksi-aksi terkait dengan
sumberdaya air (Llyod et al. 2016). WSC-Indeks akan mencoba mengidentifikasi
indikator yang dapat digunakan sebagai patokan posisi keberadaan suatu kota
dalam pengelolaan sumberdaya airnya. Menurut Wong dan Brown 2009, WSC-
Indeks dibagi kedalam tujuh goal. Masing-masing goal memiliki indikator
masing-masing sebagai berikut ini:
1. Memastikan tata kelola pemerintahan yang sensitif air
1.1. Pengetahuan, keterampilan dan kapasitas organisasi
1.2. Air adalah elemen utama dalam perencanaan tata ruang kota
1.3. Pengaturan dan proses institusional lintas sektor
1.4. Keterlibatan publik, partisipasi dan transparansi
6

1.5. Kepemimpinan, visi jangka panjang dan komitmen


1.6. Pendanaan sumberdaya air untuk mendapatkan nilai sosial yang luas
1.7. Persamaan representasi dan perspektif
2. Meningkatkan modal sosial
2.1. Literasi air
2.2. Keterhubungan dengan air
2.3. Pembagian Kepemilikan, pengelolaan dan tanggungjawab terhadap
aset air
2.4. Kesiapan komunitas dan respon terhadap kejadian ekstrim
2.5. Keterlibatan masyarakat lokal dalam perencanaan air
3. Pencapaian persamaan dari layanan dasar
3.1. Kesamaan hak akses terhadap persediaan air yang sehat dan aman
3.2. Kesamaan hak akses terhadap sanitasi yang tersedia dan aman
3.3. Kesamaan hak akses terhadap perlindungan banjir
3.4. Kesamaan dan keterjangkauan akses terhadap nilai kenyamanan
terkait aset perairan
4. Perbaikan produktifitas dan efesiensi sumber daya
4.1. Akses keuntungan sektor lain akibat layanan terkait air
4.2. Emisi gas rumah kaca yang rendah pada sektor air
4.3. Kebutuhan tempat air minum bagi masyarakat
4.4. Peluang bisnis terkait air
4.5. Memaksimalkan pemulihan sumberdaya
5. Perbaikan kualitas lingkungan
5.1. Habitat yang sehat dan beragam
5.2. Kualitas dan aliran air permukaan
5.3. Kualitas air tanah dan pengisiannya
5.4. Perlindungan kawasan eksisting yang memiliki nilai ekologi tinggi
6. Memastikan ruang kota yang berkualitas
6.1. Pengaktifan penghubung ruang hijau dan biru perkotaan
6.2. Fungsi elemen perkotaan bagi migitasi dampak pemanasan
6.3. Liputan vegetasi
7. Promosi infrastruktur yang adaptif
7.1. Keragaman pemenuhan sendiri bagi persediaan air yang tepat guna
7.2. Sistem infrastruktur air yang multifungsi
7.3. Pengendalian yang terintegrasi dan canggih
7.4. Infrastruktur yang tahan terhadap gangguan
7.5. Infrastruktur dan kepemilikan dalam beragam skala
7.6. Perawatan yang memadai
Goal yang akan menjadi fokus penelitian adalah goal 5 yaitu perbaikan
kualitas lingkungan di Kota Bogor.

Kualitas Air Permukaan dan Air Tanah

Kualitas dan aliran air permukaan berdasarkan indeks kota sensitif air
yaitu mempunyai karakteristik kualitas dan aliran permukaan dan perairan yang
mendukung ekosistem yang sehat, kualitas ini diamati secara konsisten di seluruh
wilayah. Terdapat tindakan menangani semua polusi yang berasal dari suatu
sumber, seperti perlakuan untuk menangani air limbah domestik dan industri.
7

Selain itu, limpasan perkotaan ditangani dengan menggunakan infrastruktur hijau


seperti, lahan basah dan kebun hujan di banyak wilayah. Aliran permukaan dapat
dikendalikan dengan mengendalikan distribusi jumlah air yang meresap ke dalam
tanah (Naway et al 2013). Peresapan air ke dalam tanah dipengaruhi oleh berbagai
sifat fisik tanah, diantaranya permeabilitas tanah dan kadar air lapang.
Permeabilitas yang lebih tinggi dan kadar air lapang yang lebih rendah
menyebabkan jumlah air yang meresap lebih banyak sehingga aliran permukaan
berkurang (Sushil 2012).
Kualitas dan penambahan air tanah berdasarkan konsep kota sensitif air
mendukung ekosistem yang sangat sehat dan layanan ekosistem yang berharga
(misalnya ekosistem yang bergantung pada air tanahTindakan ekstensif dilakukan
untuk mengatasi limbah cair dalam negeri dan industri serta limpasan perkotaan
yang dapat berdampak pada air tanah (Priestley et al. 2012). Perubahan kualitas
nair tanah dapat terjadi akibat proses alami dan akibat kegiatan mahasiswa.
Pemanfaatan sumberdaya alam secara intensif dan produksi limbah yang
cenderung meningkat dewasa ini, menyebabkan menurunnya mutu air tanah
akibat pencemaran. Disamping itu, kegiatan pengambilan air tanah secara besar-
besaran akan menyebabkan turunnya permukaan air tanah secara drastis (KLH
1990).

Habitat yang Sehat dan Upaya Perlindungan Kawasan Eksisting

Habitat yang sehat berdasarkan konsep kota sensitif air yaitu habitat
perkotaan termasuk habitat di tepi sungai terhubung dengan baik di sepanjang
jalur air atau jaringan jalan dan melintasi daerah tangkapan air. Keanekaragaman
hayati dan kualitas vegetasi menyediakan sistem ekologis yang berkaitan erat
dengan konteks pembangunan di dalam, tengah, luar dan pinggiran kota. Selain
itu, perundang-undangan dan kebijakan berlaku untuk melindungi dan
melestarikan lanskap dengan makna ekologis yang tinggi. Pemetaan dan
pendataan ekstensif spesies langka dan dilindungi tersedia. Terdapat zona
konservasi yang ditentukan termasuk taman nasional dan sistem air perkotaan
yang mempertimbangkan letak zona konservasi. Konservasi air tanah juga dapat
dilakukan pada ranah masyarakat yaitu dalam bentuk sumur resapan (Iriani 2013).
Pada dasarnya konservasi air tanah tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan
volume air tanah, tetapi juga meningkatkan konservasi air permukaan (Azis et al
2016).
Dalam konteks ruang terbuka hijau, yang menjadi tujuan utama dari
keberadaan ruang terbuka hijau adalah fungsinya untuk mempertahankan kualitas
komponen lingkungan yaitu sebagai paru-paru atau filter udara, mempertahankan
kandungan air tanah dan sebagai penyeimbang alam (Shisegar et al 2018).
Masyarakat pun harus menyadari pentingnya sistem air yang dirancang untuk
mendukung lanskap signifikan ekologis dan mereka secara aktif berkontribusi
untuk melindungi dan meningkatkan nilai konservasi lanskap di ranah publik dan
swasta (Lloyd et al 2016).
8

METODE PENELITIAN
Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah laptop. Software yang
digunakan adalah Microsoft Word, Mirosoft Excel, dan ArcGIS. Program
microsoft digunakan untuk membantu penelitian dalam penulisan, dan Mirosoft
Excel membantu dalam perhitungan skala penilaian. ArgGIS digunakan untuk
mengolah data berbasis geografis. Data primer merupakan data penelitian di
lapangan yang berasal dari kegiatan notulensi wawancara dan survei di lapangan.
Data sekunder merupakan data yang diambil dari sumber tertentu seperti denah,
data kualitas air, kebijakan pemerintah, dan peraturan perundang-undangan.

Waktu dan Tempat

Penelitian dilaksanakan pada periode bulan Januari sampai September 2018.


Penelitian akan dilaksanakan di wilayah Bogor Kota yang petanya terlihat pada
Gambar 6 (BAPPEDA 2012). Penelitian dilakukan di Kota Bogor, Provinsi Jawa
Barat. Secara geografis Kota Bogor terletak pada rentang koordinat 106o 43’
59.2” - 106o 50’ 54.8” BT ; 6o 30’ 38.6” - 6o 40’ 48.5” LS. (BPS 2014).

Gambar 6 Peta Lokasi Penelitian - Kota Bogor


9

Prosedur Penelitian

Tahapan penelitian meliputi perencanaan target pengerjaan, studi literatur,


pengumpulan data, dan penialaian berdasarkan Indeks kota sensitif air yang tertera
pada lampiran 1. Pengumpulan data dapat berupa data primer dan data sekunder.
Data primer terdiri dari wawancara dengan akademisi dan komunitas masyarakat,
survei biologis, dan survei kondisi lapangan. Data sekunder teridiri dari peta
zonasi, peta normalized difference vegetation index (NDVI), laporan
keanekaragam hayati, laporan ilmiah, kebijakan-kebijakan pemerintah, laporan
kualitas air permukaan dan laporan kualitas air tanah.
Penilaian dilakukan dengan metode kualitatif yang diperkuat dengan fakta-
fakta yang berada di lapangan. Penilaian ini mengacu kepada nilai tertinggi pada
sistem penilaian sesuai dengan indeks kota sensitif air yaitu nilai lima. Berikut
adalah poin-poin yang harus dipenuhi dari keempat indikator agar Kota Bogor
dapat dikategorikan menjadi kota sensitif air (Wong dan Brown 2009).
1. Indikator habitat yang sehat dan beragam
 Habitat perkotaan (termasuk habitat di tepi sungai) terhubung dengan
sangat baik di sepanjang jalur air atau jaringan jalan dan melintasi
daerah tangkapan air.
 Keanekaragaman hayati menyediakan sistem ekologis yang berfungsi
tinggi mengingat konteks pembangunan (misalnya di tengah dan
pinggiran kota).
 Kondisi vegetasi dari tahun ke tahun mengalami peningkatan
2. Indikator kualitas dan aliran air permukaan
 Karakteristik kualitas dan aliran permukaan dan perairan di daerah
tersebut mendukung ekosistem yang sangat sehat
 Kualitas ini diamati secara konsisten di seluruh wilayah.
 Tindakan menangani semua polusi sumber titik (seperti perlakuan
yang tepat untuk air limbah domestik dan industri sebelum debit) dan
limpasan perkotaan secara ekstensif mengurangi dampak terkait aliran
sungai pada ekosistem perairan.
3. Indikator kualitas air tanah dan pengisiannya
 Kualitas dan penambahan air tanah di wilayah tersebut mendukung
ekosistem yang sangat sehat dan layanan ekosistem yang berharga
(misalnya ekosistem yang bergantung pada air tanah).
 Sebagian besar air tanah berkualitas baik dan tidak habis - ini secara
konsisten diamati di seluruh wilayah.
 Tindakan ekstensif dilakukan untuk mengatasi limbah cair dalam
negeri dan industri, dan limpasan perkotaan, berdampak pada air
tanah.
4. Indikator Perlindungan kawasan eksisting yang memiliki nilai ekologi
tinggi
 Perundang-undangan dan kebijakan berlaku untuk melindungi dan
melestarikan lanskap dengan makna ekologis yang tinggi.
 Pemetaan dan rekaman ekstensif spesies langka dan dilindungi
tersedia.
10

 Pengembangan uraian dikecualikan di beberapa daerah melalui zona


konservasi yang ditentukan . Dan sistem air perkotaan yang
berdampak pada lokasi utama yang penting dibatasi.
 Masyarakat menyadari pentingnya sistem air yang dirancang untuk
mendukung lanskap signifikan ekologis dan mereka secara aktif
berkontribusi untuk melindungi dan meningkatkan nilai konservasi
lanskap di ranah publik dan swasta.
Terdapat prosedur yang dilakukan untuk menilai poin-poin yang terdapat
pada indeks kota sensitif air:
1. Indikator habitat yang sehat dan beragam
 Menggunakan GIS untuk memetakan tambalan vegetasi dan
menghitung jarak antara tambalan. Dari jarak tersebut dapat
ditentukan koridor sabuk hijau yang tidak terhubung sama sekali, di
beberapa daerah terhubung, cukup terhubung secara keseluruhan,
terhubung dengan baik, atau terhubung dengan sangat baik
 Menggunakan change matters untuk membandingkan NDVI di
berbagai tahun untuk menunjukkan peningkatan atau penurunan luas
dan kualitas vegetasi. Dari NDVI tersebut dapat ditentukan kondisi
vegetasi yang terjadi kerusakan, mengalami penurunan, cukup
konstan, mengalami peningkatan,atau sangat mengalami peningkatan
 Keanekaragaman hayati menyediakan sistem ekologis yang berfungsi
tinggi mengingat konteks pembangunan. Dari pengamatan tersebut
dapat ditentukan kondisi pembangunan terhadap keanekaragaman
hayati yang tidak memperhatikan, cukup memperhatikan namun tidak
menyediakan sistem ekologis tinggi, cukup memperhatikan dan telah
menyediakan sistem ekologis tinggi di tengah dan pinggiran kota,
memperhatikan dan menyediakan sistem ekologis tinggi di tengah dan
pinggiran kota, atau sangat memperhatikan dan menyediakan sistem
ekologis yang sangat tinggi di tengah dan pinggiran kota.
2. Indikator kualitas dan aliran air permukaan
 Menggunakan data pengukuran sekunder. Dari data tersebut dapat
ditentukan kualitas air permukaan mendukung ekosistem yang tidak
sehat, kurang sehat, cukup sehat, sehat, atau sangat sehat
 Mengevaluasi bahwa kualitas air permukaan diamati secara konsisten
di seluruh wilayah, maka dapat ditentukan pengamatan yang
dilakukan tidak konsisten dan tidak diseluruh wilayah, kurang
konsisten dan di beberapa wilayah, konsisten dibeberapa wilayah,
konsisten diseluruh wilayah, atau sangat konsisten diseluruh wilayah
 Mengevaluasi tindakan menangani semua polusi sumber titik (seperti
perlakuan yang tepat untuk air limbah domestik dan industri sebelum
debit) dan limpasan perkotaan secara ekstensif mengurangi dampak
terkait aliran sungai pada ekosistem perairan. Maka dapat ditentukan
tindakan tersebut tidak diterapkan, kurang diterapkan, cukup
diterapkan, diterapkan, atau sangat diterapkan
3. Indikator kualitas air tanah dan pengisiannya
 Menggunakan data pengukuran sekunder. Dari data tersebut dapat
ditentukan kualitas air tanah mendukung ekosistem yang tidak sehat,
kurang sehat, cukup sehat, sehat, atau sangat sehat
11

 Mengevaluasi bahwa kualitas air tanah diamati secara konsisten di


seluruh wilayah, maka dapat ditentukan pengamatan yang dilakukan
tidak konsisten dan tidak diseluruh wilayah, kurang konsisten dan di
beberapa wilayah, konsisten dibeberapa wilayah, konsisten diseluruh
wilayah, atau sangat konsisten diseluruh wilayah
 Mengevaluasi tindakan ekstensif dilakukan untuk mengatasi limbah
cair dalam negeri dan industri, dan limpasan perkotaan, berdampak
pada air tanah. Maka dapat ditentukan tindakan tersebut tidak
diterapkan, kurang diterapkan, cukup diterapkan, diterapkan, atau
sangat diterapkan
4. Indikator perlindungan kawasan eksisting yang memiliki nilai ekologi
tinggi
 Melihat adanya perundang-undangan dan kebijakan berlaku untuk
melestarikan kawasan eksisting, maka dapat ditentukan perundangan-
undangan tersebut tidak ada, ada beberapa namun belum diterapkan,
ada beberapa dan sudah diterapkan beberapa upaya, ada beberapa dan
sudah diterapkan, atau seluruh peraturan sudah diterapkan
 Melihat ketersediaan pemetaan dan rekaman ekstensif spesies langka
dan dilindungi, maka dapat ditentukan ketersediaan tersebut tidak
tersedia, tersedia namun tidak lengkap, cukup tersedia lengkap,
tersedia lengkap, atau tersedia lengkap berdasarkan spesifikasinya
 Melihat pengembangan dikecualikan di beberapa daerah berdasarkan
zona konservasi yang ditentukan menggunakan peta yang dibuat
pemerintah. Berdasarkan adanya zona konservasi tersebut maka dapat
ditentukan pengembangan daerah tidak memperhatikan zona
konservasi, dibeberapa wilayah konservasi masih bersinggungan
dengan pembangunan, wilayah konservasi mempunyai wilayah yang
tidak bersinggungan dengan pembangunan, wilayah konservasi
mempunyai wilayah khusus untuk meningkatkan nilai ekologis,
wilayah konservasi telah mempunyai nilai ekologis yang sangat
tinggi.
 Melihat kontribusi masyarakat terhadap perlindungan kawasan
eksisting yang cenderung merusak, tidak ada, masih minim, ada di
beberapa daerah, ada di sebagian besar daerah.

. Setelah semua data analisis diperoleh dan dikaji dengan seksama dibuat
kesimpulan terhadap nilai indeks kualitas lingkungan. Hasil analisis yang
diperoleh dapat meningkatkan atau mengurangi penilaian awal sesuai dengan
keadaan kualitas lingkungan di Kota Bogor. Hasil analisis tersebut dapat dijadikan
arahan rencana strategis yang merupakan gambaran besar mengenai kualitas
lingkungan kebijakan menuju kota sensitif air. Arahan tersebut tidak menjelaskan
secara detil langkah-langkah yang perlu dilakukan namun hanya garis besar yang
perlu dilaksanakan sebaagai patokan awal (benchmark) bagi pengembangan
infrastruktur sumberdaya air di Kota Bogor untuk menuju kota sensitif air.
12

Mulai

Studi Literatur

Persiapan Alat dan Bahan

Pengumpulan data

Data primer: Data sekunder:


1. Survei biologis 1. Peta tutupan lahan
pada lapangan 2. Penginderaan jauh
2. Survei kondisi
satelit
lapangan
3. Wawancara 3. Peta tata guna lahan
dengan 4. Kebijakan-kebijakan
stakeholder 5. Data kualitas air
(akademisi dan permukaan
komunitas) 6. Data kualitas air tanah

Penilaian kondisi kualitas lingkungan Kota


Bogor berdasarkan WSC-Index

Perekomendasian arahan strategis

Selesai

Gambar 7 Diagram alir penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN


Habitat yang Sehat dan Beragam

Habitat yang sehat berdasarkan konsep kota sensitif air yaitu habitat
perkotaan termasuk habitat di tepi sungai terhubung dengan baik di sepanjang
jalur air atau jaringan jalan dan melintasi daerah tangkapan air. Keanekaragaman
hayati dan kualitas vegetasi menyediakan sistem ekologis yang berkaitan erat
dengan konteks pembangunan di dalam, tengah, luar dan pinggiran kota. Selain
itu, perundang-undangan dan kebijakan berlaku untuk melindungi dan
melestarikan lanskap dengan makna ekologis yang tinggi.
Berdasarkan Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH di Kawasan
Perkotaan dalam BAPPEDA (2012) disebutkan bahwa sabuk hijau atau green belt
13

corridor merupakan RTH yang berfungsi sebagai daerah penyangga dan untuk
membatasi perkembangan suatu penggunaan lahan (batas kota, pemisah kawasan,
dan lain-lain). Berdasarkan wawancara dengan Prof. Dr. Ir. Hadi Susilo Arifin,
MS sabuk hijau perkotaan membatasi aktivitas satu dengan aktivitas lainnya agar
tidak saling mengganggu, serta pengamanan dari faktor lingkungan sekitarnya.
Ruang terbuka hijau di Kota Bogor belum membentuk green belt corridor yang
mengakibatkan ruang hijau tidak terkoneksi satu sama lain sehingga
perkembangan biodiversitas kurang merata. Peta tata guna lahan Kota Bogor yang
memperlihatkan belum terkoneksinya ruang terbuka hijau sehingga tidak
membentuk green belt corridor dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8 Peta tata guna lahan di Kota Bogor


14

Berdasarkan indeks kota sensitif air, habitat perkotaan (termasuk habitat di


tepi sungai) harus terhubung dengan sangat baik di sepanjang jalur air atau
jaringan jalan dan melintasi daerah tangkapan air, sedangkan di Kota Bogor
habitat perkotaan termasuk habitat di tepi sungai di Kota Bogor tidak merata
namun di beberapa daerah telah terhubung. Sampel wilayah yang belum
terhubung yaitu daerah sekitar Kelurahan Paledang seperti yang diperlihatkan
pada Gambar 9. Terdapat wilayah RTH sepanjang 2,667 m pada bagian Utara,
2,691 m pada bagian Selatan, 1,539 m pada bagian Timur, dan 1,349 m pada
bagian Barat Kecamatan Paledang. Dengan demikian nilai yang diperoleh sebesar
2.

Bagian Utara Bagian Selatan

Bagian Timur Bagian Barat

Gambar 9 Contoh tidak meratanya RTH di sekitar Kelurahan Paledang


15

Gambar 10 Peta RTRW Kota Bogor Tahun 2011-2031

Pada peta yang tercantum dalam dokumen perencanaan (BAPPEDA 2011)


sudah terbentuk green belt corridor seperti yang terlihat pada Gambar 10. Luas
Kota Bogor adalah 11,696.50 ha dan seluas 45.65% (5,340.40 ha) dari total luas
lahan merupakan lahan terbangun. Rincian penggunaan lahan dapat dilihat pada
Tabel 1.
16

Tabel 1 Penggunaan lahan di Kota Bogor


Luas
No Penggunaan Lahan
(Ha) (%)
1 Perumahan 1529.24 13.07%
2 Pemukiman 3088.01 26.40%
3 Fasilitas Kesehatan 14.47 0.12%
4 Fasilitas Pendidikan 59.18 0.51%
5 Fasilitas Peribadatan 13.94 0.12%
6 Fasilitas Olah Raga 147.11 1.26%
7 FasilitasUmum 15.55 0.13%
8 Industri 121.21 1.04%
9 Komplek militer 77.63 0.66%
10 Kantor pemerintahan 32.91 0.28%
11 Jasa 74.94 0.64%
12 Perdagangan campuran 166.21 1.42%
13 Hutan kota 129.71 1.11%
14 Kebun 1952.19 16.69%
15 Ladang 638.83 5.46%
16 Sawah 1818.66 15.55%
17 Semak 383.55 3.28%
18 Taman 188.37 1.61%
19 Tanah Kosong 867.27 7.42%
20 TPU 141.76 1.21%
21 Kolam 93.39 0.80%
22 Situ 14.50 0.12%
23 Sungai 127.43 1.09%
Jumlah 11696.05 100%

Kawasan terbangun di Kota Bogor mencakup kawasan perumahan,


permukiman, fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, fasilitas peribadatan,
fasilitas olahraga, fasilitas umum, industri, komplek militer, kantor pemerintahan,
jasa, dan perdagangan campuran. Kawasan tidak terbangun mencakup hutan kota,
kebun, ladang, sawah, semak, taman, tanah kosong, TPU, kolam, situ, dan sungai.
Kenaekaragaman hayati di Kota Bogor diklasifikasikan sedang karena ruang
terbuka hijau termasuk lahan pertanian sebesar 36.63% (BAPPEDA 2012). Masih
terdapat 17.72 % lahan di Kota Bogor yang belum terbangun dan tidak
dipergunakan sebagai pelestarian habitat. Keanekaragaman hayati dapat diamati
menggunakan NDVI Kota Bogor dari tahun ke tahun. NDVI (normalized
difference vegetation index) adalah perhitungan citra yang digunakan untuk
mengetahui tingkat kehijauan, sebagai awal dari pembagian daerah vegetasi.
NDVI dapat menunjukkan parameter yang berhubungan dengan parameter
vegetasi, antara lain biomasa dedaunan hijau dan daerah dedaunan hijau yang
merupakan nilai yang dapat diperkirakan untuk pembagian vegetasi.
Perkembangan kondisi vegetasi Kota Bogor hasil pantauan satelit yang diolah
menggunakan NDVI dapat dilihat pada Gambar 11 .
17

Tahun 1990 Tahun 2000

Tahun 2005 Tahun 2010


Gambar 11 Perkembangan NDVI Kota Bogor

Warna hijau pada Gambar 11 menunjukkan adanya penambahan luasan


vegetasi, sedangkan warna merah menunjukkan adanya pengurangan luasan
vegetasi atau penambahan lahan terbangun. Berdasarkan Gambar 11 terlihat
bahwa lahan terbangun di Kota Bogor memiliki kecenderungan meningkat tiap
tahun. Sebaliknya, tipe tutupan lahan hutan memiliki kecenderungan menurun
luasannya. Tutupan lahan Kota Bogor dalam perkembangannya mengalami
perubahan dari waktu ke waktu. Periode 2004-2014, lahan terbangun bertambah
seluas 425.91 ha. Lahan bervegetasi khususnya tutupan lahan hutan jika
dibandingkan dengan lahan terbangun terus berkurang luasnya. Periode 2004-
2014, tutupan lahan ruang terbuka hijau menurun seluas 609.88 ha. Hal ini
menunjukkan ruang terbuka hijau yang memiliki potensi sebagai lokasi
dikembangkannya tempat perlindungan habitat pun menurun. Dengan demikian
nilai yang diperoleh adalah 2.

Gambar 12 Kebun Raya Bogor dan Bogor Forest Science Park

Terdapat tempat konservasi eksitu yang berlokasi di tengah dan pinggir


Kota Bogor yang menunjang fungsi ekologis dalam pembangunan yaitu Kebun
Raya Bogor dan Bogor Forest Science Park. Kebun Raya Bogor berlokasi di
Keluarahan Paledang sedangkan Bogor Forest Science Park berlokasi di
18

Kelurahan Situ Gede. Statistik koleksi vegetasi Kebun Raya terdiri atas 222
famili, 1,266 marga, 3,444 jenis, 13,865 spesimen yang ditanam di atas areal
kebun seluas 87 ha. Bogor Forest Science Park mempunyai vegetasi yang
didominasi oleh hutan hujan tropis seluas 60 ha. Dengan demikian nilai yang
diperoleh adalah 5. Berdasarkan rata- rata dari nilai yang diperoleh sebelumnya
maka diperoleh nilai 3.

Tabel 2 Penilaian indikator habitat yang sehat dan beragam


Rangking tertinggi pada Fakta di lapangan Nilai Nilai Indika-
indikator penilaian Kota tor
Sensitif Air
Habitat perkotaan Habitat perkotaan 2 3
(termasuk habitat di tepi (termasuk habitat
sungai) terhubung di tepi sungai)
dengan sangat baik di tidak merata
sepanjang jalur air atau namun di beberapa
jaringan jalan dan daerah terhubung.
melintasi daerah
tangkapan air.

Kondisi vegetasi dari RTH mengalami 2


tahun ke tahun penurunan dari
mengalami peningkatan tahun 1990 yang
menyebabkan
potensi
dikembangkannya
tempat konservasi
berkurang.

Keanekaragaman hayati Terdapat tempat 5


dan kualitas vegetasi konservasi eksitu
menyediakan sistem di tengah dan
ekologis yang berfungsi pinggiran kota
tinggi mengingat
konteks pembangunan

Kualitas dan Aliran Air Permukaan

Kualitas dan aliran air permukaan berdasarkan indeks kota sensitif air
yaitu mempunyai karakteristik kualitas dan aliran permukaan dan perairan yang
mendukung ekosistem yang sehat, kualitas ini diamati secara konsisten di seluruh
wilayah. Terdapat tindakan menangani semua polusi yang berasal dari suatu
sumber, seperti perlakuan untuk menangani air limbah domestik dan industri.
Selain itu, limpasan perkotaan ditangani dengan menggunakan infrastruktur hijau
seperti, lahan basah dan kebun hujan di banyak wilayah. limpasan perkotaan
secara ekstensif dimanfaatkan untuk mengurangi dampak terkait aliran sungai
pada ekosistem perairan yang dapat merusak jika berlebihan.
19

Kualitas air yang melintasi Kota Bogor yaitu Sungai Ciliwung ditetapkan
DLH dengan mengukur beberapa parameter penting yaitu COD, BOD, kadar
minyak dan lemak, jumlah kolitinja, dan DO pada lokasi di bagian hilir, tengah
dan hulu sesuai dengan Lampiran 3. Secara umum terlihat bahwa kualitas air
sungai Ciliwung sudah perlu mendapat perhatian yang serius terutama kadar
COD, kadar minyak dan lemak serta kolitinja. Ambang batas toleransi dari bahan
pencemar telah ditetapkan dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 416
tahun 1990 yang terdapat pada Lampiran 6. Kadar COD melewati batas toleransi
pada tahun 2001, namun sudah bisa diturunkan pada tahun 2003. Kadar kolitinja
yang pernah mengalami peningkatan pada tahun 2001-2003 melebihi 2500%
(BPLHD 2015).
Dari data tersebut ada dugaan bahwa rumah tangga merupakan sumber
pencemar utama dengan buangan limbah cair yang mengandung bahan pencemar
senyawa organik hal ini sesuai dengan yang dilaporkan oleh Supardi (2003)
bahwa untuk kota-kota besar Indonesia, rumah tangga merupakan sumber
pencemar utama terhadap badan air permukaan. Menurutnya, rumah tangga
memberikan kontribusi pencemaran sekitar 66%, pasar, perkantoran dan hotel
13%, dan sisanya berasal dari industri sebesar 6%. Hasil pemantauan kualitas air
Sungai Ciliwung juga menunjukkan korelasi antara sebaran sumber-sumber
pencemar dengan kualitas air sungai yang ditimbulkan. Pada segmen sungai yang
tinggi pencemarannya menghasilkan tingkat pencemaran yang berat sedangkan
pada segmen sungai yang rendah/sedikit sumber pencemarnya menghasilkan
kualitas air yang lebih baik.
Karakteristik air di Kota Bogor cenderung masih baik untuk digunakan
sehari-hari namun nilai beberapa parameter berada di bawah baku mutu, Dengan
demikian nilai yang diperoleh adalah 3. Berdasarkan pemantauan kualitas air
Sungai Ciliwung dari BPLHD tahun 2007, diperoleh data seperti yang disajikan
pada Tabel 3, Tabel 4, dan Tabel 5 .

Tabel 3 Pengukuran kualitas air di Kecamatan Sempur, Bogor Tengah


Parameter Satuan Nilai
TSS Mg/l 72
PO4 Tot Mg/l
BOD Mg/l 3.6
E Coli Jml /100 ml 3900
Coli Total Jml /100 ml
Indeks pencemaran : -36
Status mutu air : Cemar Berat

Tabel 4 Pengukuran kualitas air di Kecamatan Kedunghalang, Bogor Utara


Parameter Satuan Nilai
TSS Mg/l 68
PO4 Tot Mg/l
BOD Mg/l 4.6
E Coli Jml /100 ml 9000
Coli Total Jml /100 ml
Indeks pencemaran : -34
Status mutu air : Cemar Berat
20

Tabel 5 Pengukuran kualitas air di Bendung Katulampa, Bogor Timur


Parameter Satuan Nilai
TSS Mg/l
PO4 Tot Mg/l
BOD Mg/l 3.5
E Coli Jml /100 ml 4000
Coli Total Jml /100 ml
Indeks pencemaran : -33
Status mutu air : Cemar Berat

Pengukuran BPLHD tahun 2007 untuk beberapa parameter yaitu TSS,


PO4,BOD, E Coli, dan total coliform. Hal ini menunjukkan dari beberapa sumber
perolehan data, parameter yang diukur kurang konsisten dan hanya di beberapa
titik saja, dengan demikian nilai yang diperoleh adalah 2. Pengukuran BPLHD
tahun 2007 menunjukkan bahwa air permukaan yang mengalir di Sungai Ciliwung
mempunyai status mutu air cemar berat. Oleh karena itu dibutuhkan upaya
pengolahan seperti mendirikan Water Treatment Plant agar air sungai dapat
menjadi air bersih dan dapat digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Sudah
terdapat beberapa Water Treatment Plant di Kota Bogor seperti Filter Air Bogor
di Babakan Madang, Water Barokah di Cimanggu, dan Pintu Air Cisadane di
Paledang. Septic Tank Communal juga merupakan solusi untuk mengurangi
pencemaran air. Perencanaan tangki septik komunal sebagai wujud dari intalasi
pengolahan air limbah dalam skala kecil merupakan elemen esensial untuk
memperlancar sanitasi masyarakat dalam mempertahankan stabilitas ekosistem
lingkungan. Dikhawatirkan tanpa adanya sarana sanitasipengolahan air limbah
domestik, kesehatan masyarakat menurun dan mempengaruhi produktivitas
masyarakat setempat. Pembangunan WC dan tangki septik komunal dirancang
agar sistem pengolahan air dapat dilakukan secara terpusat sehingga pemeliharaan
dapat dilakukan dengan lebih mudah (Sapei 2011). Terdapat perusahaan swasta
yang mengelola produksi tangki septik komunal yaitu WASH maka upaya
penanganan polusi di Kota Bogor cukup diterapkan. Dengan demikian nilai yang
diperoleh adalah 2.
Perusahaan Daerah Air Minum Kota Bogor memakai air Sungai Cisadane
sebagai sumber air PAM yang diproses sedemikian rupa sehingga memenuhi
standar air minum yang sehat. PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor menganalisa
kualitas air PAM dengan mengambil contoh-contoh air di beberapa titik
berdasarkan zona-zona rawan tercemar yang hasil pengukurannya dapat dilihat
pada lampiran 4. Mengacu kepada hasil analisa tersebut diketahui bahwa air PAM
Kota Bogor masih baik dan layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat.
Permasalahan yang sering terjadi adalah distribusi air PAM dimana efisiensinya
masih perlu ditingkatkan dengan mengurangi kebocoran pada pipa penyalur. Hal
ini merupakan salah satu cara yang efektif dalam pengelolaan air PAM yang bisa
meningkatkan efisiensi sekitar 10-15% (Sterner 1992). Pembatasan pemakaian air
terutama untuk industri juga perlu dilakukan untuk menghindari kekurangan air
pada konsumen rumah tangga. Indikator ini tidak dinilai pada FGD November
2017. Berdasarkan rata- rata dari nilai yang diperoleh sebelumnya maka diperoleh
nilai 2.33.
21

Tabel 6 Penilaian indikator kualitas dan aliran air permukaan


Rangking tertinggi Fakta di lapangan Nilai Nilai
pada indikator Indika-
penilaian Kota Sensitif tor
Air
Karakteristik Kualitas air masih dalam 3 2.33
kualitas dan aliran status mutu air tercemar
permukaan dan berat sebelum diolah di
perairan di daerah WTP berdasarkan
tersebut pengukuran BPLHD
mendukung
ekosistem yang
sangat sehat

Kualitas ini Kota Bogor pada tahun 2


diamati secara 2007. Kadar total
konsisten di koliform pernah sangat
seluruh wilayah tinggi berdasarkan
pengukuran DLH Kota
Bogor tahun 2003.
Berdasarkan beberapa
sumber perolehan data, 2
parameter yang diukur
kurang konsisten dan
hanya di beberapa titik
saja

Tindakan Terdapat tindakan


menangani semua penanganan polusi air
polusi sumber titik pada daerah perkotaan
dan limpasan namun belum pada
perkotaan secara semua titik sumber
ekstensif terjadinya polusi.
mengurangi Terdapat Peraturan
dampak terkait Menteri Kesehatan RI
aliran sungai pada nomor 416 tahun 1990
ekosistem dan Kepmen LH No. 112
perairan. tahun 2003 (Baku Mutu
Air Limbah Domestik)
yang mengatur tentang
syarat-syarat dan
pengawasan kualitas air.

Kualitas Air Tanah dan Pengisiannya

Kualitas dan pengisian air tanah berdasarkan konsep kota sensitif air
mendukung ekosistem yang sangat sehat dan layanan ekosistem yang berharga
22

(misalnya ekosistem yang bergantung pada air tanah). Sebagian besar air tanah
berkualitas baik dan kuantitasnya mencukupi untuk kebutuhan penduduk, kedua
aspek ini secara konsisten diamati di seluruh wilayah. Tindakan ekstensif
dilakukan untuk mengatasi limbah cair dalam negeri dan industri serta limpasan
perkotaan yang dapat berdampak pada air tanah.
Air tanah yang banyak dipergunakan oleh penduduk Kota Bogor adalah air
tanah dangkal berupa sumur dengan kedalaman berkisar antara 6-15 meter. Untuk
Mengevaluasi kualitas air sumur, BPLHD melakukan pengambilan contoh-contoh
air sumur di beberapa zona di mana lokasi tersebut merupakan sentra-sentra
keberadaan sumur. Berdasarkan tabel pengukuran air tanah sesuai lampiran 5,
kualitas air sumur di Kota Bogor masih bisa dipergunakan untuk kegiatan rumah
tangga, hanya saja perlu diperhatikan pH yang berkisar antara 4.6-5.3, masih di
bahwah standar yaitu 6.5 (BPLHD 2015). Hal ini dimungkinkan oleh tingkat
kemasaman air hujan yang sudah tercemar oleh polutan yang berasal dari gas
buangan kendaraan bermotor. Pengelolaan air bawah tanah di Kota Bogor diatur
dalam Perda Jawa Barat Nomor 16 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Air Bawah
Tanah. Disebutkan bahwa pengawasan dan pengendalian dilakukan untuk
mengawasi dan mengendalikan terhadap kegiatan pengambilan air bawah tanah,
baik dari aspek teknis maupun kualitas dan kuantitas serta konservasi dan
rehabilitasi dilakukan untuk melakukan perlindungan terhadap seluruh tatanan
hidrologis air bawah tanah serta melakukan kegiatan pemantauan muka air bawah
tanah serta rehabilitasi terhadap wilayah cekungan yang sudah dinyatakan rawan
atau kritis.Karakteristik air tanah di Kota Bogor cenderung masih baik untuk
digunakan sehari-hari namun pada beberapa parameter pernah ada yang di bawah
baku mutu, dengan demikian nilai yang diperoleh adalah 3. Perolehan data
pengukuran kualitas air tanah masih sulit dengan demikian nilai yang diperoleh
adalah 2.
Pemberian kapur dalam dosis yang tepat merupakan salah satu alternatif
untuk meningkatkan pH, tetapi harus diperhatikan kadar karbonat dalam kapur
tersebut. Produk yang umum digunakan adalah kapur pertanian yang terbagi dua
yaitu kalsit dan dolomit. Kalsit bahan bakunya lebih banyak mengandung
karbonat, magnesiumnya sedikit (CaCO3), sedangkan dolomit bahan bakunya
banyak mengandung kalsium karbonat dan magnesium karbonat [CaMg(CO3)]2.
Dolomit merupakan kapur karbonat yang dimanfaatkan untuk mengapuri lahan
bertanah masam atau disebut juga kapur tohor, yaitu kapur yang pembuatannya
lewat proses pembaka (Bowles, 1991). Penggunaan yang tepat dari kapur
bermanfaat untuk pengelolaan tanaman karena tanah yang tinggi kadar
keasamannya mempunyai produktivitas rendah. Khusus untuk air minum,
sebaiknya air sumur ditampung dalam wadah (drum) yang bagian dasarnya
diletakkan bahan –bahan bersifat menyaring zat-zat membahayakan serta bisa
meningkatkan pH. Bahan-bahan tersebut antara lain: arang aktif, pecahan genteng
ataun bata merah, pasir, dan ijuk.
Selain bersifat asam, air sumur dangkal di Kota Bogor masih rentan akan
kekeringan pada musim kemarau menurut wawancara dengan Dr.Ir. Yuli
Suharnoto, M.Eng. Terdapat Perda Jawa Barat Nomor 16 Tahun 2001 tentang
Pengelolaan Air Bawah Tanah sebagai fungsi pengawasan namun belum ada
program dari Pemkot yang berupaya untuk mengatasi hal ini secara terstruktur
23

dengan demikian nilai yang diperoleh adalah 1. Berdasarkan rata- rata dari nilai
yang diperoleh sebelumnya maka diperoleh nilai 2.

Tabel 7 Penilaian indikator kualitas air tanah dan pengisiannya


Rangking tertinggi pada Fakta di lapangan Nilai Nilai
indikator penilaian Kota Indikator
Sensitif Air
Kualitas dan Kualitas air tanah masih 3 2
penambahan air tanah ada yang bersifat asam dan
di wilayah tersebut masih rentan terjadi
mendukung ekosistem kekeringan pada musim
yang sangat sehat dan kemarau Air tanah
layanan ekosistem tercemar hujan asam
yang berharga karena emisi gas
kendaraan bermotor yang
berlebihan

Sebagian besar air Berdasarkan beberapa 2


tanah berkualitas baik sumber perolehan data,
dan tidak habis - ini parameter yang diukur
secara konsisten kurang konsisten dan
diamati di seluruh hanya di beberapa titik
wilayah. saja

Tindakan ekstensif Terdapat Perda Jawa Barat 1


dilakukan untuk Nomor 16 Tahun 2001
mengatasi limbah cair tentang Pengelolaan Air
dalam negeri dan Bawah Tanah sebagai
industri, dan limpasan fungsi pengawasan,
perkotaan, berdampak namun
pada air tanah. belum ada program dari
Pemkot yang struktur
untuk mengatasi limbah
cair yang dapat berdampak
pada air tanah

Perlindungan Kawasan Eksisting yang Memiliki Nilai Ekologi Tinggi

Perlindungan kawasan eksisting yang memiliki nilai ekologi tinggi


berdasarkan kota sensitif air adalah terdapat pemetaan dan rekaman ekstensif
spesies langka dan dilindungi tersedia. Pengembangan uraian dikecualikan di
beberapa daerah melalui zona konservasi yang ditentukan (termasuk taman
nasional dan negara bagian, dll.) Dan sistem air perkotaan yang berdampak pada
lokasi utama yang penting dibatasi. Kegiatan pengembangan yang tepat dilakukan
di daerah lain mengingat jenis dan izin lanskap yang diperlukan untuk
pembuangan vegetasi. Masyarakat menyadari pentingnya sistem air yang
dirancang untuk mendukung lanskap signifikan ekologis dan mereka secara aktif
berkontribusi untuk melindungi dan meningkatkan nilai konservasi lanskap di
24

ranah publik dan swasta. Pemetaan dan pendataan ekstensif spesies langka dan
dilindungi tersedia. Terdapat zona konservasi yang ditentukan dan sistem air
perkotaan yang mempertimbangkan letak zona konservasi.
Terdapat kawasan yang disediakan Pemkot Bogor sebagai tempat
perlindungan habitat. Habitat biota air dilestarikan pada situ-situ seperti Situ
Gede, Situ Leutik, Situ Anggalena, Danau Bogor Raya, dan Situ Panjang.
Terdapat kawasan pelestarian alam meliputi Hutan Kota CIFOR dan kawasan
perlindungan plasma nutfah eks-situ yakni Kebun Raya Bogor (BAPPEDA 2012).
Data jenis-jenis flora yang ada mempunyai habitat di dalam Kota Bogor dapat
diketahui di LIPI, untuk data flora dan fauna yang ada di Kota Bogor dapat
diketahui di BPS Kota Bogor. Dengan demikian nilai yang diperoleh adalah 3
Taman kota yang telah dibangun Pemerintah Kota Bogor pada tahun 2017
ada 11 buah yaitu Taman Durian Bantar Kemang, Taman Mandalawangi, Taman
Manjabal, Taman Tebing Sempur, Taman Lereng CPM, Taman Bubulak, Taman
Sempur Kaler, Taman Cipaku, Taman Simpang, Taman Villa Bogor Indah (VBI)
dan Taman Tirta Cimanggu. Maka point ini medapatkan nilai 4. Terdapat
Peraturan Daerah Nomor 22 Tahun 2010 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Provinsi Jawa Barat Tahun 2009-2029 yang mengatur mengenai kawasan zona
konservasi seperti taman nasional, cagar alam, dan kebun raya yang sudah cukup
diterapkan. Dengan demikian nilai yang diperoleh adalah 3.
Terdapat BASIBA atau Bank Sampah Berbasis Aparatur merupakan salah
satu program dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor yang dipergunakan untuk
pengelolaan sampah di aparatur Kota Bogor. Bank Sampah Induk ini saat ini
mencakup 233 Bank Sampah Unit atau bank sampah yang ada di tingkat Rukun
Tetangga (RT) atau Rukun Warga (RW). Berdasarkan wawancara yang dilakukan
denghan Dr. Hendricus Andy Simarmata Bank Sampah Induk dapat
mengumpulkan sampah yang dapat di daur ulang sebanyak 300-500 kg/hari dari
sebanyak 32 jenis sampah anorganik yang diterima. Upaya perlindungan
lingkungan eksisting juga diperlihatkan dengan adanya bank sampah yang
menerapkan sistem pengelolaan sampah berbasis 3R (reduce, reuse dan recycle).
1 unit TPS 3R rata-rata dapat mencakup 8 hingga 9 RT dengan total penduduk
sekitar 2,840 jiwa. Terdapat 23 unit TPS 3R di Kota Bogor yang mencakup
sebanyak 13,113 rumah/KK yang berada di 165 RT di Kota Bogor. Jumlah bank
sampah yang telah memiliki Surat Keputusan dari masing-masing Lurah adalah
sebanyak 80 bank sampah (DLH 2017).
Berdasarkan indeks kota sensitif air masyarakat harus menyadari
pentingnya sistem air yang dirancang untuk mendukung lanskap signifikan
ekologis dan mereka secara aktif berkontribusi untuk melindungi dan
meningkatkan nilai konservasi lanskap di ranah publik dan swasta. Terdapat
beberapa komunitas masyarakat Kota Bogor yang berbasis lingkungan seperti
WASH, Eart Hour Bogor, dan Pemerhati Pembangunan dan Lingkungan Hidup
Bogor. Komunitas ini memiliki beberapa program kerja untuk mengatasi banjir
yaitu penataan sempadan sungai, pengembangan peta resiko banjir, penyusunan
roadmap, penanggulangan banjir, penanganan bencana, penanaman pohon di
daerah tangkapan air, pembuatan embung dan kolam resapan, dan pembuatan
sumur biopori. Untuk meningkatkan kuantitas air dilakukan penyediaan air bersih
dan pemeliharaan aset prasarana air bersih. Sedangkan untuk meningkatkan
kualitas air dilakukan sanitasi pengolahan sampah dan limbah, penyadaran
25

kesehatan lingkungan, dan pengawasan pencemaran air. Dengan demikian nilai


yang diperoleh adalah 3. Berdasarkan rata- rata dari nilai yang diperoleh
sebelumnya maka diperoleh nilai 3.67.

Gambar 13 Peta lokasi perlindungan kawasan eksisting


26

Tabel 8 Penilaian indikator perlindungan kawasan eksisting yang memiliki nilai


ekologi tinggi
Rangking tertinggi Fakta di lapangan Nilai Nilai
pada indikator Indikator
penilaian Kota Sensitif
Air
Perundang- Terdapat Peraturan 3 3.25
undangan dan Daerah Nomor 22
kebijakan berlaku Tahun 2010 Tentang
untuk melindungi Rencana Tata Ruang
dan melestarikan Wilayah Provinsi Jawa
lanskap dengan Barat Tahun 2009-2029
makna ekologis yang mengatur
yang tinggi. mengenai kawasan zona
konservasi seperti
taman nasional, cagar
alam, dan kebun raya.

Pemetaan dan Pemetaan dan rekaman 3


rekaman ekstensif spesies langka dan
spesies langka dan dilindungi tersedia pada
dilindungi LIPI dan BPS.
tersedia.

Pengembangan Beberapa pembangunan 4


uraian perkotaan dikecualikan
dikecualikan di di beberapa daerah
beberapa daerah melalui zona konservasi
melalui zona yang ditentukan seperti
konservasi yang Kebun Raya Bogor dan
ditentukan penting Cifor
dibatasi.

Masyarakat Telah terdapat beberapa 3


menyadari komunitas masyarakat
pentingnya sistem Kota Bogor yang
air yang dirancang berbasis lingkungan
untuk mendukung seperti WASH, Earth
lanskap signifikan Hour Bogor, dan
ekologis dan Pemerhati
mereka secara Pembangunan dan
aktif berkontribusi Lingkungan Hidup
untuk melindungi Bogor.
dan meningkatkan
nilai konservasi
lanskap di ranah
publik dan swasta.
27

Arahan untuk Rencana Strategis

Goal meningkatkan kualitas lingkungan di Kota Bogor berdasarkan indeks


kota sensitif air masih belum dikategorikan sebagai kota sensitif air. Nilai rata-rata
dari penilaian adalah sebesar 2.4 sedangkan nilai terbesar adalah 5, masih terdapat
selisih sebesar 2.6. Selisih ini merupakan gambaran dari upaya-upaya yang harus
dilakukan berbagai pemangku kekuasaan untuk mencapai kota sensitif air dalam
aspek kualitas lingkungan.
Kebijakan dan perundang-undangan di Indonesia khususnya di Kota
Bogor saat ini sudah cukup untuk mencapai kota sensitif air. Namun, dalam
realisasinya masih banyak yang belum diterapkan. Perlu kerja sama dari
pemerintah, masyarakat, dan komunitas-komunitas yang terkait dalam
menerapkan perundang-undangan. Dibutuhkan ketegasan dan komitmen dari
pemerintah untuk menerapkan peraturan-peraturan yang berlaku, dibutuhkan
kesadaran masyarakat akan pentingnya peraturan-peraturan tersebut, dan
dibutuhkan komunitas terkait sebagai media untuk sosialiasi dan edukasi bagi
masyarakat, serta menampung aspirasi masyarakat yang hendak disampaikan
kepada pemerintah.
Kota sensitif air terwujud ketika semua nilai dalam indikator adalah
sebesar 5. Dalam indikator habitat yang sehat dan beragam, perencanaan green
belt corridor perlu diterapkan untuk habitat perkotaan dan tepi sungai yang
terhubung di sepanjang badan air atau jalan seperti yang telah tertuang pada
RTRW Kota Bogor tahun 2011-2031. Selain itu, dibutuhkan ketegasan dari
penegak hukum dalam menindaklanjuti pembangunan yang memasuki zona
konservasi. Dalam indikator kualitas dan aliran air permukaan, perlu diterapkan
perencanaan septic tank komunal yang sesuai dengan master plan (Dewi 2014)
karena dapat mengurangi polusi bakteri e.coli. Peraturan Menteri Kesehatan RI
nomor 416 tahun 1990 dan Kepmen LH No. 112 (Baku Mutu Air Limbah
Domestik) harus ditegakkan terutama untuk pihak yang membuang limbah ke
sungai diatas ambang batas yang ditolerir.
Dalam indikator kualitas air tanah dan pengisiannya, perlu diterapkan
Perda Jawa Barat Nomor 16 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Air Bawah Tanah
karena kualitas air tanah di Kota Bogor bersifat asam, hal ini antara lain
disebabkan emisi gas kendaraan bermotor yang melebihi ambang batas sehingga
menyebabkan hujan asam. Zat asam tersebut dapat diatasi menggunakan zat
kapur. Dalam indikator pelindungan kawasan eksisting yang memiliki nilai
ekologi tinggi, data flora dan fauna di berbagai wilayah di Indonesia harus mudah
diakses. Masyarakat juga harus aktif berkontribusi untuk melindungi dan
meningkatkan nilai konservasi lanskap di ranah publik dan swasta.

SIMPULAN DAN SARAN


SIMPULAN

1. Berdasarkan skala penilaian indeks kota sensitif air, diperoleh nilai untuk
empat indikator aspek kualitas lingkungan di Kota Bogor yaitu indikator
habitat yang sehat dan beragam memiliki nilai 3, indikator kualitas dan
aliran air permukaan memiliki nilai 2.33, indikator kualitas air tanah dan
28

pengisiannya memiliki nilai 2, dan indikator perlindungan kawasan


eksisting yang memiliki nilai ekologi tinggi memiliki nilai 3.25. Maka
berdasarkan indeks kota sensitif air kualitas lingkungan di Kota Bogor
masih belum dapat dikategorikan sebagai kota sensitif air. Nilai rata-rata
dari penilaian adalah sebesar 2.65 sedangkan nilai maksimum adalah 5.
2. Masih perlu dilakukan beberapa upaya oleh stakeholders di Kota Bogor
untuk menjadikan Kota Bogor sebagai kota sensitif air, seperti
perencanaan wilayah green belt corridor, perencanaan tanki septik
komunal, kadar zat kapur yang tepat, dan pemetaan zona konservasi
sebagai dasar perencanaan wilayah.

SARAN

1. Dibutuhkan penelitian yang terintegrasi mengenai 6 indikator lainnya


untuk mengetahui di posisi mana Kota Bogor dalam indeks kota sensitif
air secara keseluruhan, serta arahan strategis yang menyeluruh dapat
dirancang
2. Pengumpulan data kuantitatif dan analisis sistem perlu dilakukan sebelum
FGD diadakan, sehingga penilaian yang dilakukan saat FGD dapat lebih
objektif.

DAFTAR PUSTAKA
Agus HP, Mahendra AM, Fifi S. 2013. Perencanaan dan Studi Pengaruh Sistem
Drainase Marvell City Terhadap Saluran Kalibokor di Kawasan Ngagel-
Surabaya. Jurnal Teknik POMITS. 1(1) : 1-6
Arkham, Arifin H S, Kaswanto R L, Arifin N H S. 2013. Manajemen Lanskap
Ruang Terbuka Biru di Daerah Aliran Sungai Ciliwung. Prosiding
Lokakarya Nasional dan Seminar Fokus Komunikasi Perguruan Tinggi
Pertanian Indonesia. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Azis A, Faisal Z, Yusuf H. 2016. Konservasi Air Tanah Melalui Pembuatan
Sumur Resapan Air Hujan di Kelurahan Maradekaya Kota Makasar. Jurnal
INTEK. 3(2):87-90.
[BAPPEDA] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. 2012. Strategi Sanitasi
Kota Bogor 2010-2014 (Edisi Revisi 2013-2017). Pemerintah Daerah Kota
Bogor.
Bowles, Joseph E. Johan K. Helnim. 1991. Sifat-sifat Fisis dan Geoteknis Tanah
(Mekanika Tanah). Jakarta (ID): Erlangga
[BPLHD] Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Kota Bogor. 2015. Buku
Data Status Lingkungan Hidup Daerah Kota Bogor. Bogor (ID):
Pemerintah Daerah Kota Bogor.
[BPS] Badan Pusat Statistika. 2014. Badan Pusat Statistik Kota Bogor. Bogor
Dalam Angka 2013 [internet]. [diacu 26 Februari 2017]. Tersedia dari :
http://bappeda.kotabogor.go.id/frontend/ bogorangka/2014
Brown R, Keath N, Wong T. 2009. Urban Water Management in Cities:
Historical, Current and Future Regimes. Journal of Water Science &
Technology, Vol 59 (5): 48-55.
29

Dewi, Nura Adithia. 2014. Perencanaan sistem penyaluran air limbah domestik
Kota Bogor menggunakan air hujan untuk debit penggelontoran. [Skripsi]
Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
ESRI. 2015. ESRI Indonesia. Normalized Difference Vegetation Index City
Change Matters [internet]. [diacu 30 Juli 2018]. Tersedia dari:
http://changematters.esri.com/compare.
Ferguson B C, Frantzaskaki N, Brown R R. 2013. A Strategic Program for
Transitioning to a Water Sensitive City. Journal of Landscape and Urban
Planning. Vol 15 (2): 32-45.
Fletcher T D, Shuster W, Hunt W F, Ashley R, Butler D, Arthur S, Trowsdale S,
Barraud S, Davies A S, Krajewski J L, Mikkelsen P S, Rivard G, Uhl M,
Dagenais D, Viklander M. 2014. SUDS, LID, BMPs, WSUD and more –
The Evolution and Application of Terminology Surrounding Urban
Drainage, Journal of Urban Water. Vol 21 (1): 51-54
Howard K W F, Israfilov R G. 2002. Current Problems of Hydrogeology in
Urban Areas, Urban Agglomerates and Industrial Centres. Ottawa (CA):
Kluwer Academic Publishers Springer-Science Business Media.
Irianti E F. 2008. Perubahan Penggunaan, Penutupan Lahan, dan Ruang Terbuka
Hijau Kota Bogor Tahun 1905-2005 [skripsi]. Bogor (ID): Program Studi
Arsitektur Lanskap Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
[KemenKes] Kementerian Kesehatan. 1990. Syarat-syarat dan pengawasan
kualitas air. Peraturan Menteri Kesehatan No. 416/ MEN. KES/ IX/ 1990.
Jakarta (ID): Kementerian Kesehatan.
[KemenLH] Kementrian Lingkungan Hidup. 2003. Baku mutu air limbah
domestic. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.
112/MEN.LH/VII/2003. Jakarta (ID): Kementerian Lingkungan Hidup.
[KLH] Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup. 1990.
Kualitas Lingkungan di Indonesia 1990. Jakarta (ID): PT. Intermasa.
Lloyd S, Roberts S, Beck L. 2016. Water Sensitive Cities Benchmarking and
Assessment: Moonee Valley City Council Melbourne. Melbourne (AT):
Cooperative Research Centre for Water Sensitive Cities.
Naway R, Halim F, Jasin MI, Kawet L. 2013. Pengembangan sistem pelayanan air
bersih. Jurnal Sipil Statik 1(6): 444-451.
Pontoh NK. 2005. Hubungan Perubahan Penggunaan Lahan dengan Limpasan Air
Permukaan Studi Kasus Kota Bogor. Jurnal Perencanaan Wilayah dan
Kota. 16(3): 44-56
Priestley A J, Biermann S, Laves G. 2012. Towards Assessment Criteria for
Water Sensitive Cities. Urban Water Security Research Alliance. Technical
Report No. 43. Queensland (AT).
Republik Indonesia. 2001. Pengelolaan Air Bawah Tanah. Peraturan Daerah
Provinsi Jawa Barat No. 16/PERDA/VII/2001. Bandung (ID): Sekretariat
Negara.
Republik Indonesia. 2010. Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat
Tahun 2009-2029. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No.
16/PERDA/XI/2010. Bandung (ID): Sekretariat Negara.
Sapei A, Purwanto M Y J, Sutoyo, Kurniawan A. 2011. Desain Instalasi Pengolah
Limbah WC Komunal Masyarakat Pinggir Sungai Desa Lingkar Kampus.
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. Vol 16 (2): 92
30

Shisegar S, Duchesne S, Pelletier G. 2018. Optimization Method Applied to


Stormwater Management Problems: a Review. Urban Water Journal. Vol
15 (3): 276-286
Sterner, T. 1992. Policy Instruments for Environmental and Natural Resources
Management. Washington (US). Resources For The Future Press.
Sushil. 2012. Interpreting the Interpretive Structural Model. Global Journal of
Flexible Systems Management. Vol 13 (2): 87–106.
Sunu, P. 2001. Melindungi Lingkungan Dengan Menerapkan ISO 14001. Jakarta
(ID): PT. Gramedia Widiasarana.
Supardi, H.I. 2003. Lingkungan Hidup dan Kelestariannya Edisi Kedua. Bandung
(ID). P.T. Alumni.
Wong T H F, Brown R R. 2009. The water sensitive city: principles for practice.
Journal of Water Science & Technology. Vol 9 (2): 65-71.
Yazdi, J. 2017. Water Quality Monitoring Network Design for Urban Drainage
System, an Entropy Method. Urban Water Journal. Vol 15 (3): 227-233.
31

Common questions

Didukung oleh AI

The quality of surface and groundwater in Bogor significantly impacts its functionality as a water-sensitive city. Poor surface water quality due to urban runoff and inconsistent pollution control greatly affects urban ecosystems. Groundwater issues, such as depletion and contamination (from acid rain and pollution), undercut the availability of clean water. Effective pollution management and strategic improvements in water quality are essential for Bogor to fully realize its potential as a water-sensitive city .

Bogor has implemented several strategies aligning with the water-sensitive city index indicators, such as improving surface water quality through centralized water treatment and introducing conservation zones. However, key areas like tackling point source pollution and managing urban runoff remain inadequately addressed across all necessary locations. Existing urban plans embrace strategic conservation, yet the overall sustainability score averaged only 2.65 out of 5, indicating significant room for improvement .

High-quality and diverse urban habitats play a critical role in Bogor's sustainability by providing robust ecological systems capable of supporting healthy biodiversity and essential ecosystem services. These habitats contribute to urban resilience against climate fluctuations, pollution mitigation, and overall ecological balance, which are integral for the city's sustainable development and its transition to a water-sensitive city .

The analysis of Bogor's transition revealed gaps between the results from the focus group discussions (FGD) and the actual field data. Specifically, there were discrepancies in the assessed quality of surface water and ecological health versus the focus group results, indicating that earlier assessments may not fully reflect the city's real conditions. Moreover, there's a lack of consistent data measurement across various points, revealing the necessity of more objective and comprehensive assessments before conducting FGDs .

Bogor can enhance ecological health through improved water resource management by establishing communal septic tanks to optimize pollution control, improving the efficiency of the PDAM water distribution to reduce leakage, and enforcing stricter regulations on industrial and domestic water usage. Furthermore, reforestation of urban green belts and strategic placement of rainwater harvesting systems can significantly increase the city's resilience against water scarcity and flooding .

For Bogor to transition towards a water-sensitive city, fundamental changes are required in several areas: improving infrastructure, ensuring the availability of institutions and funding frameworks, enhancing ecological health, and altering the behavior of residents. These changes aim at making the city capable of functioning as a water catchment area where waste is reduced, rainwater is managed to mitigate flooding, and overall ecological health is improved .

To close the developmental gap, Bogor needs a holistic strategy that includes integrated research across all six additional indicators of the water-sensitive city index. Recommendations include enhancing data consistency, pre-FGD quantitative data gathering, improved greenbelt corridor planning, communal septic systems to manage pollution, and clear zoning for conservation areas. Engaging cross-sectoral stakeholders in routine evaluations can further refine adaptive strategies .

The reduction of vegetated land in Bogor, due to urban development, affects its ability to function as a water-sensitive city by increasing the runoff coefficient compared to open or vegetated land. This decreases the land's ability to absorb water, resulting in issues such as waterlogging during the rainy season and clean water shortages during dry seasons. Effective urban planning strategies are crucial to maintaining or increasing green spaces to enhance the city's ecological health and water management capabilities .

The hurdles Bogor faces in becoming a water-sensitive city include inconsistencies in data collection and measurement, inefficient pollution control infrastructure, insufficient public engagement and awareness of ecological conservation, and inadequate zoning and protection of conservation areas. Addressing these challenges requires coordinated efforts between government bodies, communities, and private stakeholders to effectively implement urban environmental strategies .

Public awareness and action are pivotal in protecting ecologically significant landscapes in Bogor. Efforts include educating communities about the importance of water management systems that support ecological conservation, and actively involving them in initiatives to protect and enhance the conservation values of public and private landscapes. Well-informed and engaged communities are more likely to contribute positively to the maintenance of ecological integrity in urban environments .

Anda mungkin juga menyukai