Anda di halaman 1dari 21

KEPEMIMPINAN ISLAM PADA MASA

RASULULLAH

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 8

Alfina Syahrini (NIM : 1021810100)


Gita Pertiwi (NIM: 102181010012)
Nida Amini Zunaida (NIM : 1021810100)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI


UNIVERSITAS ISLAM INDRAGIRI
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-
Nya, kepada kelompok 8, sehingga kelompok 8 dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “kepemimpinan islam pada masa Rasulullah“
Makalah ini disusun dan dibuat berdasarkan materi-materi yang ada. Materi-
materi bertujuan agar dapat menambah pengetahuan dan wawasan mahasiswa dalam
belajar kepemimpinan modern yang baik sesuat ajaran islam. Serta mahasiswa juga dapat
memahami nilai – nilai dasar yang direfleksikan dalam berpikir dan bertindak.
Kemampuan maksimal dan usaha yang keras telah kelompok 8 curahkan dalam
menyusun makalah ini. Semoga usaha kelompok 8 tidak sia-sia dan mendapatkan hasil
yang baik.Akhirnya, saya menyadari bahwa makalah yang saya susun ini masih jauh dari
sempurna, karena saya menyusun ini dalam rangka mengembangkan kemampuan diri.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun baik lisan maupun tulisan
sangat diharapkan.

                                                                Tembilahan , Juni 2020


                                                              

                           Kelompok 8

Kepemimpinan islam pada masa Rasulullah Page 2


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................................2
BAB I...................................................................................................................................4
PENDAHULUAN..................................................................................................................4
1.1 Latar Belakang....................................................................................................4
1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................4
1.3 Tujuan................................................................................................................4
BAB II..................................................................................................................................5
PEMBAHASAN....................................................................................................................5
1. TEORI KEPEMIMPINAN DAN KEPEMIMPINAN RASULULLAH..............................5
2. AMANAH DAN DEKAT DENGAN ALLAH DALAM KEPEMIMPINAN...................14
3. PEMIMPIN YANG PENOLONG DAN BAGUS MORALNYA...................................17
BAB III...............................................................................................................................20
A. KESIMPULAN............................................................................................................20
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................20

Kepemimpinan islam pada masa Rasulullah Page 3


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menjadi pemimpin bukan perkara yang mudah, namun banyak diantara kita yang
sangat ingin dan menginginkan untuk menjadi pemimpin. Kepemimpinan sendiri
mengandung arti proses mempengaruhi orang lain sehingga yang dipengaruhi mau
mengerti arahan sang pemimpin. Tapi untuk mewujudkan kepemimpinan yang sulit itu
sekarang banyak teori-teori kepemimpinan untuk bahan belajar dan melatih
kepemimpinan seseorang. Gaya kepemimpinan berpengaruh positif dan signifikan
terhadap para perilaku anggota/ followers..
Seorang pemimpin menerima kekuasaan sebagai amanah dari Allah yang disertai
dengan tanggung jawab yang besar. Pemimpin juga harus memiliki hubungan yang dekat
dengan Allah agar seorang pemimpin selalu ingat juga akan tugasnya sebagai makhluk
dibumi yaitu sebagai khalifah ( pemimpin ) dan sebagai Abdullah ( hamba Allah ). Al-
qur’an memerintahkan pemimpin untuk melaksanakan tugasnya untuk Allah dan
menunjukan sikap baik kepada pengikutnya.
Generasi muda sekarang harus melahirkan para calon pemimpin yang penolong,
bagus moralnya dan profesional. Pemimpin yang penolong dapat sedikit demi sedikit
meringankan beban orang lain, misalnya pada pemerintahan sekarang ini adalah
menolong dalam hal pengangkatan kemiskinan di Indonesia. Sadangkan pemimpin yang
bagus moralnya dan profesional dapat menyelamatkan pergaulan laki-laki dan perempuan
Indonesia. Sehingga teerwujudnya rakyat Indonesia yang profesional dalam bekerja
sehingga kemakmuran semakin dekat untuk digapai.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa teori kepemimpinan dan kepemimpinan dimasa Rasullullah?
2. Bagaimana kepemimpinan yang amanah, dekat dengan Allah serta bersikap
efisien?
3. Bagaimana Menciptakan para pemimpin yang memiliki jiwa penolong disertai
dengan moral yang bagus serta profesional ?

1.3 Tujuan
1. Mengkaji teori kepemimpinan dan kepemimpinan dimasa Rasullullah
2. Mengkaji kepemimpinan yang amanah, dekat dengan Allah serta bersikap efisien
3. Menciptakan para pemimpin yang memiliki jiwa penolong disertai dengan moral
yang bagus serta profesional

Kepemimpinan islam pada masa Rasulullah Page 4


BAB II
PEMBAHASAN

1. TEORI KEPEMIMPINAN DAN KEPEMIMPINAN RASULULLAH


A. Pengertian Kepemimpinan

Secara etimologi, kepemimpinan berasal dari kata dasar pemimpin, dalam bahasa
Inggrisnya “leadership” yang berati kepemimpinan, dari kata dasar “leader” berarti
pemimpin dan akar katanya “to lead” yang terkandung beberapa arti yang saling erat
berhubungan: bergerak lebih awal, berjalan di awal, mengambil langkah awal, berbuat
paling dulu, mempelopori, mengarahkan pikiran-pendapat-orang lain, membimbing,
menuntun, menggerakkan orang lain melalui pengaruhnya.
Secara terminologi terdapat beberapa definisi tentang kepemimpinan. Seseorang
pemimpin, baik ia merupakan pemimpin formal maupun informal menjalankan atau
melaksanakan “kepemimpinan” yang dengan sendirinya berbeda: derajatnya, bobotnya,
daerah jangkauannya dan sasaran-sasarannya.
B. Gaya Kepemimpinan di masa Rasulullah

Hijrah berarti perpindahan/migrasi dari nabi Muhammad dan pengikutnya dari


Makkah ke Madinah. Hal ini terjadi karena ada isu mengenai akan dibunuhnya Nabi
Muhammad SAW, maka secara diam-diam Nabi Muhammad bersama Abu Bakar pergi
meninggalkan kota Makkah. Sedikit demi sedikit Nabi Muhammad dan pengikutnya
berhijrah ke Yastrib 320 km utara Makkah. Yang kemudian kota Yastrib berubah nama
menjadi Madinah.
Kepemimpinan nabi Muhammad terbagi didua kota yaitu di Makkah ( selama 13
tahun ) dan di Madinah ( selama 10 tahun ). Namun, di waktu yang lebih singkat jika
dibandingkan dengan periode Makkah, Rasulullah berhasil menjadikan masyarakat di
kota Madinah sejahtera, atau yang biasa disebut masyarakat madani. Terminologi
masyarakat madani pertama kali dipopulerkan oleh Mohammad An-Nuqaib Al-Attas,
yaitu Mujtamak madani yang secara etimologi mempunyai dua arti: pertama, masyarakat
kota. Kedua masyarakat yang beradap (masyarakat tamaddun). Dalam bahasa Inggris
dikenal dengan civilty atau civilation, dalam makna ini masyarakat madani dapat berarti
dengan Civil Society yaitu masyarakat yang menjunjung peradaban.( Barnadib,1998 ).
Dalam periode Madinah, konsep ini terlihat lebih jelas dibanding periode Mekah.
Rasulullah telah menjadikan Madinah dengan kondisi yang begitu plural, berikut dengan
berbagai aliran kepercayaan yang ada di dalamanya sebagai basis untuk meletakkan
fondasi keislaman dan kemasyarakatan secara inklusif. Dalam hal ini, Rasulullah berhasil

Kepemimpinan islam pada masa Rasulullah Page 5


membentuk masyarakat yang menjunjung tinggi nilai, norma, dan hukum yang ditopang
oleh penguasaan iman, ilmu dan peradaban. Konsep inilah yang belakangan ini
diistilahkan sebagai konsep masyarakat madani ( Al-Mabarkafuri, 2008 ).
Dengan demikian, istilah masyarakat madani memiliki korelasi yang begitu erat
dengan masyarakat Madinah pada masa Rasulullah. Dari sini, kita bisa mengambil
sebuah pendapat bahwa konsep masyarakat madani tidak hanya berkutat pada
perwujudan kondisi masyarakat atau warga negara yang berperadaban secara materi
(duniawi) saja. Akan tetapi, konsep masyarakat madani sebagaimana kondisi masyarakat
Madinah pada masa Rasulullah adalah perwujudan suatu masyarakat yang memiliki basis
keimanan dan keislaman yang kuat, yang kemudian dimanifestasikan dalam nilai-nilai
dan norma-norma yang dijunjung tinggi oleh seluruh elemen masyarakat. Kondisi seperti
ini harus pula disertai dengan geliat intelektual yang tinggi, sehingga menghasilkan
komunitas yang berintegritas tinggi dan berperadaban luas. Dalam hal ini bisa
disimpulkan bahwa masyarakat madani yang dibangun oleh Rasulullah di Madinah
adalah masyarakat yang menjadikan akhirat (spirit keagamaan) sebagai fondasi, dan
dunia (materi) sebagai bangunannya.

Karekteristik kepemimpinan Rasulullah


Kepemimpinan Rasulullah memiliki berbagai macam kelebihan, keunikan
dan ciri khas yang sangat meonjol dibandingkan gaya pemimpin lainnya, seperti
yang diungkapkan oleh G. Hart bahwa dengan karekteristik tersebut Hart
memasukkan rasulullah sebagai orang nomor satu yang paling berpengaruh di
Dunia. Bahkan dalam segala aspek kehidupan Rasulullah selalu unggul. Tidak ada
di dunia ini pemimpin yang ucapan, perkataan dan perbuatannya dibukukan
hingga berjilid-jilid banyaknya seperti Rasulullah.
Adapun karekteristik kepemimpinan Rasulullah diantaranya adalah :
1. Ke-Tuhan-an
Ciri utama dan pertama dari kepemimpinan Rasulullah adalah manajemen
yang didasarkan oleh nilai-nilai yang diaajarkan oleh Allah SWT. Nilai-nilai yang
dihimpun selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Yang kemudian dikenal dengan nama
Al-Qur’an.
            Turunnya Al-Qur’an secara bertahap inilah yang kemudian menjadi
panduan Rasulullah dalam mengelola dakwahnya. Memeberikan arahan dan
pedoman untuk mewujudkan visi Islam di muka bumi seperti dalam Al-qur’an “

Kepemimpinan islam pada masa Rasulullah Page 6


Dialah (Allah) yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama
yang benar agar Dia menenangkannya di atas segala agama-agama meskipun
orang musrik membenci. ( Ash-shaf: 9)
            Inilah visi dakwah Rasulullah menjadi pemenang dalam masalah agama.
Yaitu dalam kalimat tauhid, aqidah, penyembahan dan pengabdian yang benar
kepada Allah.
            Visi lainnya yaitu menjadikan Rasulullah pemenang dalam masalah
keduniaan, sehingga Islam dan ummatnya menjadi winner dan champion sejati.
Menjadi sebaik-baik umat dan sebaik-baik makhluk (khoirul bariyah) dimuka
bumi.
            Namun Allah Juga mengajarkan kepada Rasulullah visi yang konprehensif
yaitu visi untuk menjadi champion di dunia dan akhirat seperti firman Allah : “
Dan diantara mereka ada orang yang berdoa: “ Ya Tuhan kami, berilah kami
kebaikan di dunia dan kebakan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api
neraka.” (Al-Baqarah: 201)
            Visi yang bernafaskan keTuhanan inilah yang menjadikan kepemimpinan
Rasulullah sukses secara gemilang dalam segala aspek kehidupan. Baik dalam
aspek agama, moral, ekonomi, pemikiran, militer, sosial, seni dan budaya. Baik
masalah pribadi, keluarga, masyarakat, Negara hingga hubungan international.
2. Universal
Kepemimpinan Rasulullah adalah kepemimpinan yang menyeluruh baik
sisi waktu maupun tempat. Sehingga kepemimpinan Raslullah dapat diterapkan
dimana saja, kapan saja dan oleh siapa saja.
a.    Seorang guru dapat mencontoh Rasulullah dalam mengelola murid-muridnya,
karena kepemimpinan Rasulullah terbukti menghasilkan murid-murid yang
luar biasa semisal Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali.
b. Seorang jenderal dapat mencontoh kepemimpinan Rasulullah dalam
melahirkan prajurit-prajurit yang hebat semacam Khalid bin Walid dan
Usamah.
a. Seorang ilmuwan dapat mencontoh Rasulullah dalam melahirkan ilmuwan dan
para pemkir ulung, semisal Umar yang terkenal dengan ijtihat-ijtihatnya yang
brilian, Abu Hurairah dengan kekuatan hafalannya dalam mugumpulkan hadis.

Kepemimpinan islam pada masa Rasulullah Page 7


b. Dalam mendidik manusia sederhana, wara’ (hati-hati), tawadu’ (rendah hati)
kita tempatkan pada murid-murid Rasulullah lainnya. Semisal Abu Dzar Al-
Ghifari, Ali, Bilal, dan Abdullah umi maktum
Hampir 100 persen murid-murid Rasulullah yaitu para sahabat memiliki
karekteristik yang unik dan bersejarah berkat kepiawaian beliau dalam memimpin
umatnya.
3. Humanis
Kepemmpinan Rasulullah adalah kepemimpinan yang humanis yaitu
kepemimpinan yang sesuai dan selaras dengan kehidupan manusia. Karena
Rasulullah adalah manusia biasa. Sehingga semua sikap, perilaku dan prestasinya
dapat kita contoh. Dalam firman Allah disebutkan: “ Katakanlah; Sesungguhnya
aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku, “ Bahwa
sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barang siapa
mengharap  perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan
amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seseorang pun dalam beribadah
kepada Tuhannya. (al-Kahfi: 110)
Pernah suatu kali seorang nenek datang kepada Rasulullah dan mohon
agar ia masuk surga bersama Rasululla. Nabi menjawab, “Wahai hamba Allah,
sesungguhnya surga tidak bisa  dimasuki oleh orang tua,”Langsung saja nenek
tersebut pergi sambil menagis. Kemudian Rasulullah memanggilnya dan berkata,
“ Engkau tidak masuk surga dalam keadaan tua bangka, sebab Allah akan
membangkitkan kembali para wanita tua dalam usia yang masih muda.”
Allah berfirman : “Sesunguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-
bidadari) dengan langsung. Dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.
Penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (Al-Waqiah: 35-37)
Wanita tua itu akhirnya tertawa riang mendengar senda gurau Rasulullah
tersebut. Menurut riwayat wanita tua itu adalah Bibi Rasulullah yang bernama
Safiyah.
4. Realistis
Sebagai bentuk relistas sejarah, maka dikenal dalam ilmu-ilmu Al-qur’an
a’sbabun nuzul (sebab-sebab turunnya ayat suci Al-Qur’an ). Adanya asbabun
nuzul ini membuktikan bahwa ayat Al-Qur’an turun berkaitan dengan kehidupan

Kepemimpinan islam pada masa Rasulullah Page 8


riil Rasulullah dan sahabatnya dalam menjawab berbagai permasalahan
kehidupan.
            Contohnya adalah sebab turunnya surat Al-Lahab yang berkenaan dengan
Abu Lahab. “ Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa suatu ketika Rasulullah
naik ke bukit Shafa sambi berseru: “Mari berkumpul pada pagi hari ini!” maka
berkumpullah kaum Quraisy. Rasulullah bersabda:  “Bagaimana pendapat kalian,
sendainya aku beritahu bahwa musuh akan datang besok pagi atau petang,
adakah kalian percaya padaku?” kaum quraisy menjawab: “Pasti kami percaya.”
Rasulullah bersabda:” Aku peringatkan kalian bahwa siksa Allah yang dahsat
akan datang.” Berkata abu Lahab:”Celakalah engkau! Apakah hanya untuk ini,
engkau kumpulkan kami?” Maka turunlah ayat ini berkenaan dengan peristiwa
yang melukiskan bahwa kecelakaan itu akan terkena kepada orang yang
menfitnah dan menghalang-halangi agama Allah. (HR. Al-Bukhari dan lainnya
yang bersumber dari Ibnu Abbas).
5. Harmonis
Keharmonisan ramuan kepemimpinan Rasulullah inilah yang
menghasilkan berbagai prestasi dan kesuksesan amal. Sehingga, hasilnya selalu
optimal, efektif, efesien dan ekonomis.
Dalam kisah perang Badar pasukan Rasulullah yang berjumlah 300 orang
dengan peralatan yang sederhana, namun mampu mengalahkan pasukan quraisy
yang berjumlah tiga kali lipat dengan berbagai peralatan perang yang canggih,
perang Ahzab, dimana 1000 orang pasukan menghadapi 10.000 pasukan sekutu
atau gabungan musrik, yahudi dan munafikin.
Ternyata Rasulullah sangat memahami bahwa kekuatan intelektual adalah
faktor yang paling menentukan dalam perang maupun kerja. Karena itulah
Rasulullah lebih memprioritaskan pembinaan personil dari pada unsur-unsur
manajemen lainnya. Kemudian unsur-unsur itu diramu menjadi  suatu kekuatan
yang dahsyat.
6. Berkeadilan
Yang dimaksud dengan keadilan yaitu memberikan tugas, hak, kewajiban
dan kewenangan sesuai dengan kompetensi, kapasitas, kapabilitas, hak dan
kewajibannya.

Kepemimpinan islam pada masa Rasulullah Page 9


Rasulullah adalah manusia yang paling adil dalam memperlakukan
pengikutnya. Bahkan terhadap musuh, hewan dan tumbuhan sekalipun. Sebagi
contoh perkataan Rasulullah “ Sekiranya Fathimah binti Muhammad mencuri
maka saya akan potong tangannya.”
            Ini merupakan cerminan Rasulullah dalam menegakkan hukum dan
merealisasikan firman Allah dalam surat Al-Maidah.” Hai orang orang yang
beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran)
karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu
terhadap sesuatu kaum,mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku
Adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah
Sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-Maidah : 8)
7. Mudah
Kepemimpinan Rasulullah adalah kepemimpinan yang mudah. Tidak
rumit dan tidak memberatkan dan tidak berlebihann. Karena semuanya telah
diukur dan di format sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas manusia. Apapun
jabatan saat ini, maka dapat diambil kemudahan dari kepemimpianan Rasulullah,
seperti perkaan beliau “ Permudahlah wahai saudaraku, jangan engkau persulit.”
Dalam firman Allah di sebutkan “ Allah tidak hendak menyulitkan kamu,
tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya
bagimu, supaya kamu bersyukur.” (Al-Maa’idah: 6) dan juga firman Allah “
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran
bagimu. (Al-Baqarah:185)
Itulah ruh dan inti kepemimpinan Rasulullah yaitu dalam rangka
memberikan kemudahan dan memberi kabar gembira kepada umatnya karena
itulah kepemimpinan Rasulullah sangat compatible dengan fitrah manusia
8. Dinamis
Dinamika Kepemimpinan Rasulullah ini berkaitan dengan banyak sisi
kehidupan. Mulai dari masalah keluarga, agama hingga masalah Negara. Dalam
peperangan misalnya Rasulullah melakukan 62 kai peperangan. Dengan rincian
35 kali peperangan yang dilakukan oeh pasukan Rasulullah tampa kehadiran
beliau. Dan 27 kali peperangan dihadiri oleh beliau langsung, 9 diantaranya beliau
yang menjadi panglima perang.

Kepemimpinan islam pada masa Rasulullah Page 10


Dalam kondisi yang seperti itu tentu dibutuhkan seorang pemimpin yang
dinamis. Karena sebagai kepala Negara, Rasulullah bukan hanya berperang,
namun juga mengurus pendidikan, mendidik dan membina istri, menantu, cucu
dan para sahabat. Beliau juga harus mengurus anak yatim, membangun ekonomi
dan masyarakat Islam agar menjadi rahmat bagi semesta balam.

Nabi Muhammad Sebagai Model Pemimpin Dalam Pendidikan


            Rasulullah Saw. Telah mendefinisikan tugas asasinya, “ Sesunggunya aku
hanya diutus untuk memberi pengajaran.” Al-Qur’anul Karim dengan sangat
tegas juga menyebut tugas asasi Rasulullah S.aw. ini dalam firman-Nya, “Dialah
yang telah mengutus seorang rasul dari kalang mereka (yang bertugas)
membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, serta
mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Hikmah (Al-Jumu’ah:2). 
            Ayat ini menyebutkan bahwa, tugas Rasululah Saw. Adalah mengajar,
mendidik, megajarkan Al-Kitab dan hikmah, serta mendidik orang berdasarkan
keduanya. Sebagian terbesar kehidupan Rasulullah Saw. Di habiskan untuk ini,
karena dari hal inilah segala kebaikan akan lahir. Tidak ada satupun aspek
kehiddupan baik politik, sosial, ekonomi, militer maupun moral yang baik kecuali
dengannya, seseorang, bangsa, maupun umat manusia tidak akan terbelakang,
kecuali bila mereka tidak memperhatikan bahkan menyimpang dari ilmu yang
benar kepada kebodohan atau sesuatu yang merusak dan tiada bermanfaat.
Fenomena dalam sejarah Muhammad Saw. adalah Rasulullah memulai
dengan membentuk umat baru yang memiliki kemampuan intelektual, perilaku,
moral, hukum, perundang-undangan, dan bahasa tersendiri. Sehingga apabila
individu yang ada di dalamnya tumbuh dan berinteraksi dengan dunia lain, yang
secara aqidah dan perilaku sama sekali berbeda, dia sudah memiliki bekal. Beliau
mengarahkan umat kepada satu arah, setiap individu mendapatkan tugasnya dan
dididik agar dapat melaksanakan tugas itu. Beliau tentukan tugas terbesar bagi
semua, menunjukkan jalan bagi mereka, dan menjelaskan sesuatu dalam segala
aspeknya.

Kepemimpinan islam pada masa Rasulullah Page 11


1. Nabi Muhammad Sebagai Pelopor  dalam pendidikan  

Sebelum pendirian masjid, rumah menjadi satu-satunya tempat bagi


penyampaian ajaran Islam ajaran Islam. Rumah al-Arqam pada masa permulaan
Islam diputuskan menjadi aktivitas bagi agama baru ini, dan disanalah Nabi
menjelaskan doktrin-doktrin keimanan, dan beberapa orang menyataka memeluk
Islam. Muhammad biasa duduk dimasjid kota madinah sambil dikelilingi oleh
para pengikutnya dan senantiasa menyerukan kepada mereka tiga kali sehingga
mereka mengingatatau mampu menghafalnya. Beliau membuktikan diri sebagai
seorang da’i sekaligus guru dan seorang penganjur kegiatan belajar yang penuh
antusias, energik, dan penyayang. Beliau selalu memperkenalkan pengetahuan
dengan sangat mempertimbangkan tingkat intelegensi para pendenganrnya.
Disamping iti, Beliau menyampaikan ajarannya dengan hikmah dan anjuran yang
baik. Terhadap masalah ini, Al-Qur’an menganjurkan kepada Nabi untuk
memberi argumen kepada mereka dengan argument yang lebih baik.

2. Nabi Muhammad sebagai Pendidik baca tulis Al-Qur’an

Kepedulian Nabi Muhammad tidak hanya penanaman keimanan yang


bersifat religius saja tetapi pendidikan yang di bangun oleh Nabi bersifat fleksibel.
Kenyataan ini bisa dilihat setelah  kemenangan kaum muslimin pada perang Badar
pada tahun 624, ketika beliau meminta beberapa tawanan yang terdidik  untuk
mengajar anak-anak Madinah bagaimana menulis. Nabi Muhammad mengangkat
beberapa dari mereka untuk menjadi guru seperti Ubaida bin as-Samit, yang
ditunjuk menjadi pengajar disekolah Suffa di kota Madinah untuk pelajaran
menulis dan studi al-Qur’an. Suffa atau as-Zilla (dengan panggung tinggi serta
atap) adalah satu bagian dari masjid yang dibangun oleh Nabi di Madinah dan
disediakan sebagai tempat pendidikan, khususnya untuk pendidikan membaca,
menulis menghafal Al-Qur’an dan Tajwid (bagaimana membaca Al-Qur’an
dengan benar)

Kepemimpinan islam pada masa Rasulullah Page 12


3. Lembaga pendidikan dan universitas petama

Pendidikan yang ada di Suffa menurut Hamidullah sebagai Universitas


Islam pertama, Tempat ini juga dirancang sebagai pondok bagi para pendatang
baru dan pendduduk setempat yang tidak memiliki rumah sendiri. Suffa
memberian pendidikan tidak hanya diperuntukkan bagi para pemondok tetapi juga
bagi para ulama dan pengunjung, yang diselenggarakan dalam jumlah besar.
Jumlah pemondok di Suffa berubah dari waktu kewaktu. Catatan Ibnu Hanbal
menunjukkan bahwa pada suatu saat terdapat tujuh puluh orang yang tinggal
dengan pekerja pada waktu luang mereka. Di dalam masjid yang sama, Nabi Juga
pernah penyelesaikan seluruh persoalan hukum.
Suffa bukanlah salah satunya sekolah yang ada di Madinah, paling tidak
terdapat sembilan Masjid di Madinah pada Masa Nabi, dan masing-masing dari
masjid itu juga dimanfaatkan sebagai sebuah sekolah. Penduduk sekitar mengirim
anak-anak mereka ke masjid-masjid setempat. Quba terletak dekat dengan
Madinah, dimana Nabi kadang kala mengunjungi dan secara pribadi mengawasi
sekolah yang ada dalam Masjid itu.
Beliau juga mendorong masyarakat untuk belajar dari pada tetangga
mereka. Dorongan ini membuat mereka lebih memilki tanggung jawab untuk
menyampaikan ilmu pengetahuan mereka sebagaimana dianjurkan oleh Nabi
mereka untuk menyampaikan kepada sesamanya segala sesuatu yang mereka
dapatkan dari beliau meskipun hanya satu ayat.
Masyarakat yang aktif belajar merupakan sebuah potret masyarakat
religius yang menganggap agama mereka sebagai elemen pokok dalam memenuhi
kebutuhan dasar spiritual dan intelektualnya. Dengan mengesampingkan
pertanyaan tentang apakah suffah merupakan sebuah sekolah yang tetap dan
teratur, paling tidak bisa dikatakan bahwa Nabi telah meluangkan banyak
waktunya untuk mengajar. Sebagai tambahan, beberapa hadist yang diriwayatkan
oleh beberapa sahabat menunjukkan bahwa Nabi telah mengajar berbagai
kelompok masyarakat yang berasal dari tingkatan, jenis kelamin, dan usia yang
berbeda.

Kepemimpinan islam pada masa Rasulullah Page 13


2. AMANAH DAN DEKAT DENGAN ALLAH DALAM
KEPEMIMPINAN
A. Kepemimpinan yang Amanah

Kepemimpinan dalam islam terkenal dengan khalifah islamiyah atau biasa


disebut juga dengan imamah. Sebagai seorang kepala Negara dalam islam disebut
khalifah/imam ( Al-Mawardi, 1973 ). Kepemimpinan islam juga dijelaskan dalam hadist
Rasulullah SAW : “ Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai
pertanggung jawaban oleh Allah SWT “. Minimalnya sebagai manusia kita harus
tanggung jawab terhadap diri sendiri, karena didepan Tuhan kita semua akan dimintai
pertanggung jawaban ( menurut materi perkuliahan).
Amanah merupakan salah satu bahasa Indonesia yang telah disadur dari bahasa
Arab. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, kata yang menunjuk makna kepercayaan
menggunakan dua kata, yaitu amanah atau amanat. Amanah memiliki beberapa arti,
antara lain 1) pesan yang dititipkan kepada orang lain untuk disampaikan. 2) keamanan:
ketenteraman. 3) kepercayaan. Sedangkan amanat diartikan sebagai 1) sesuatu yang
dipercayakan atau dititipkan kepada orang lain. 2) pesan. 3) nasihat yang baik dan
berguna dari orang tua-tua; petuah. 4) perintah (dari atas). 5) wejangan (dari seorang
pemimpin). Sedangkan dalam bahasa Arab, kata amanah diambil dari akar kata alif, mim
dan nun yang memiliki dua makna: 1) lawan kata khianat yaitu ketenangan dan
ketenteraman hati, 2) al-tasdiq yaitu pembenaran ( Tim Penyusun Kamus Bahasa
Indonesia, 2008 ). Sedangkan menurut mata kuliah kepemimpinan amanah merupakan
salah satu karakteristik dari seorang mu’min, sebagaimana diterangkan dalam Q.S. Al-
Mu’min ( 23 ) : 8. Orang yang amanah mau menerima tugas dan mau melaksanakannya.
Seperti yang diajarkan Nabi Muhammad bahwa seorang pemimpin harus
memiliki sifat amanah. Beliau sendiri adalah pemimpin yang selalu menjunjung tinggi
amanah. Beliau tidak pernah berjanji kecuali janji itu ditepati. Al-amin atau orang yang
terpercaya merupakan atribut yang melekat dalam dirinya. Sikap amanah yang diakui
bukan hanya oleh sahabat – sahabatnya. Bahkan oleh mereka yang berbeda keyakinan.
Karena amanahnya setiap keputusan yang diambil selalu memuaskan semua pihak
( Yulistina, 2007 ).
Dalam pandangan islam kepemimpinan merupakan amanah dan tanggung jawab
yang tidak hanya dipertanggung jawabkan kepada anggota-anggota yang dipimpinnya
saja tetapi juga akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah swt. Dalam Al-Qur’an,
manusia satu-satunya makhluk yang dicela karena menerima amanah dari Allah SWT.
Pada saat makhluk lain menolaknya ketika ditawarkan kepadanya. Hal ini sesuai dengan

Kepemimpinan islam pada masa Rasulullah Page 14


firman Allah dalam surat Al-ahzab ( 33 ) : 72 yang artinya “ Sesungguhnya kami telah
mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya
enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan
dipikulah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat
bodoh”. Namun kebanyakan manusia sering berlaku zalim dan bodoh, yaitu mau
menerima tugas tetapi tidak mau melaksanakanya. Ini merupakan amanat yang sangat
berat untuk diemban manusia padahal makhluk yang lain memilih untuk ‘enggan’
menerima amanat ini ( Chundori, 2012 ).

B. Hubungan Dekat dengan Allah

Seorang pemimpin harus memiliki hubungan yang dekat dengan Allah agar
selalu ingat akan tanggung jawabnya. Secara kategorial Al-Qur’an mendudukan manusia
kedalam dua fungsi pokok, yaitu sebagai hamba (‘abd ) Allah ( Priatna, 2004 ).
Pandangan kategorikal ini tidak mengisyaratkan suatu pengertian yang bercorak dualisme
dikotomik. Dengan penyebutan kedua fungsi ini, al-Quran ingin menekankan muatan
fungsional yang harus diemban oleh manusia dalam melaksanakan tugas - tugas
kesejarahan dalam kehidupannya di muka bumi. Pertama, manusia sebagai hamba
(‘abid), dituntut untuk sukses menjalin hubungan secara vertikal dengan Tuhan. Kedua,
manusia sebagai khalifah, dituntut untuk sukses menjalin hubungan secara horizontal
dengan sesama makhluk. Tidak sukses sebagai hamba, jika seseorang gagal dalam
menjalani tugasnya sebagai khalifatullah. Begitu sebaliknya, tidak sukses sebagai
khalifah, jika seseorang gagal menjalin hubungan sebagai hamba dengan Tuhan. Manusia
yang paripurna atau manusia seutuhnya (insan kamil) adalah orang yang sukses sebagai
hamba juga sebagai khalifah ( Shihab, 2007 ).
Secara terminologi Hasan Langgulung ( 1989 ) membagi pengertian khalifah
berdasarkan siapa menggantikan siapa dalam kata khalifah disimpulkan menjadi tiga
pendapat. Pertama, mengatakan bahwa umat manusia sebagai makhluk yang
menggantikan makhluk yang lain yang telah menempati bumi ini. Dipercayai bahwa
makhluk itu adalah jin. Kedua, khalifah hanya bermakna mana–mana kumpulan manusia
menggantikan yang lain. Ketiga, Khalifah tidak sekadar seorang yang menggantikan
orang lain, tapi ia (manusia) adalah pengganti Allah. Khalifah bertindak dan berbuat
sesuai dengan perintah Allah ( Langgulung, 1989 ).
Peta dan kompas itu adalah al Qur’an. Allah SWT menyatakan, al Qur’an adalah
petunjuk bagi manusia (hudan linnas). Hal ini sesuai dengan firman allah yang artinya
“Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya

Kepemimpinan islam pada masa Rasulullah Page 15


diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-
penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).”…
(QS. Al Baqarah (2): 185). ( Al-qur’an dan terjemahan, 1998 )
Selain al-qur’an sebagai petunjuk umat islam didunia, Allah SWT juga telah
menetapkan para khulafaurrasyidin. Kata khulafaurrasyidin itu berasal dari bahasa arab
yang terdiri dari kata khulafa dan rasyidin, khulafa’ itu menunjukkan banyak khalifah,
bila satu di sebut khalifah, yang mempunyai arti pemimpin dalam arti orang yanng
mengganti kedudukan rasullah SAW sesudah wafat melindungi agama dan siasat (politik)
keduniaan agar setiap orang menepati apa yang telah ditentukan oleh batas-batanya dalam
melaksanakan hukum-hukum syariat agama islam. Adapun kata Arrasyidin itu berarti arif
dan bijaksana. Jadi khulafaurrasyidin mempunyai arti pemimpim yang bijaksana sesudah
nabi muhammad wafat. Mereka itu terdiri dari para sahabat nabi muhammad SAW yang
berkualitas tinggi dan baik adapun sifat-sifat yang dimiliki khulafaurrasyidin sebagai
berikut :
a. Arif dan bijaksana
b. Berilmu yang luas dan mendalam
c. Berani bertindak
d. Berkemauan yang keras
e. Berwibawa
f. Belas kasihan dan kasih saying
g. Berilmu agama yang amat luas serta melaksanakan hukum-hukum islam
Para sahabat yang disebut khulafaurrasyidin terdiri dari empat orang khalifah yaitu :
1. Abu Bakar Ash-Shiddiq (11-13 H/632-634M).
Abu Bakar, nama lengkapnya ialah Abdullah bin Abi Quhafa At-Tammi. Di zaman pra
Islam bernama Abdul Ka’bah, kemudian diganti oleh Nabi menjadi Abdullah. Gelar Ash-
Shiddiq diperolehnya karena ia dengan segera membenarkan nabi dalam berbagai
pristiwa, terutama Isra’ dan Mi’raj. Abu Bakar memangku jabatan khalifah selama dua
tahun lebih sedikit, yang dihabiskannya terutama untuk mengatasi berbagai masalah
dalam negeri yang muncul akibat wafatnya Nabi ( Amin, 2009 ).
2. Umar bin Khaththab (13-23H/634-644M)
Umar bin Khaththab nama lengkapnya adalah Umar bin Khaththab bin Nufail keturunan
Abdul Uzza Al-Quraisi dari suku Adi; salah satu suku terpandang mulia. Umar dilahirkan
di mekah empat tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ia adalah seorang
berbudi luhur, fasih dan adil serta pemberani. ( Amin, 2009 ).

Kepemimpinan islam pada masa Rasulullah Page 16


Selama pemerintahan Umar, kekuasaan Islam tumbuh dengan sangat pesat. Islam
mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia
(yang mengakhiri masa kekaisaran sassanid) serta mengambil alih Mesir, Palestina, Syria,
Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi . Saat itu ada dua negara adi daya
yaitu Persia dan Romawi. Namun keduanya telah ditaklukkan oleh kekhalifahan Islam
dibawah pimpinan Umar. Selama pemerintahan Umar, kekuasaan Islam tumbuh dengan
sangat pesat. Islam mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti
Sassanid dari Persia (yang mengakhiri masa kekaisaran sassanid) serta mengambil alih
Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi . Saat itu ada
dua negara adi daya yaitu Persia dan Romawi. Namun keduanya telah ditaklukkan oleh
kekhalifahan Islam dibawah pimpinan Umar. ( Donner, 1981 )
3. Utsman bin Affan (23-36H/644-656M).
Khalifah ketiga adalah Utsman bin Affan. Nama lengkapnya ialah Utsman bin Affan bin
Abil Ash bin Umayyah dari suku Quraisy. Seperti halnya Umar, Utsman diangkat
menjadi Khalifah melalui proses pemilihan. Bedanya, Umar dipilih atas penunjukan
langsung sedangkan Utsman diangkat atas penunjukan tiadak langsung, yaitu melewati
badan Syura yang dibentuk oleh Umar menjelang wafatnya ( Abu, 1996 ).
4. Ali bin Abi Thalib.
Setelah Usman wafat, masyarakat beramai-ramai membaiat Ali bin Abi Thalib sebagai
khalifah. Ali memerintah hanya enam tahun. Selama masa pemerintahannya, ia
menghadapi berbagai pergolakan. Tidak ada masa sedikit pun dalam pemerintahannya
yang dapat dikatakan setabil. Setelah menduduki jabatan khalifah, Ali memecat para
gubernur yang di angkat oleh Usman. Dia juga menarik kembali tanah yang dihadiahkan
Usman kepada penduduk dengan menyerahkan hasil pendapatannya kepada negara, dan
memakai kembali sistem distribusi pajak tahunan diantara orang-orang Islam
sebagaimana pernah ditetapkan Umar ( Amin, 2009 ).

3. PEMIMPIN YANG PENOLONG DAN BAGUS MORALNYA


A. Penolong

Pemimpin adalah pelayan, penolong, memiliki kemampuan untuk membimbing


( Darmawan, 2006 ). Perintah allah untuk saling tolong-menolong sesama manusia dalam
hal kebaikan dan ketaqwaan tercantum dalam QS. Al-Maidah ayat 2 yang artinya Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan
melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-
ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang

Kepemimpinan islam pada masa Rasulullah Page 17


mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan
apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah
sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi
kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-
menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-
menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah,
sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya ( Al-Qur’an dan terjemahan, 1998 ).

B. Bagus Moralnya

Ada lima nilai moral dalam islam, yaitu :

a. Tauhid ( kebebasan ).

Tauhid merupakan satu kunci utama dalam agama Islam, artinya seseorang
dikatakan beragama jika tidak lepas dari tauhid. Pengertian tauhid sendiri adalah percaya
kepada Tuhan atau meng-Esa-kan Tuhan ( hanafi, 1996 ). Sekalipun tauhid sebagai
bentuk manifestasi dari sikap percaya kepada tuhan yang dilakukan oleh penganut agama
tetapi cara bertauhidnya berbeda-beda. ( Nurulyamin, 2004 ). Karena bagaimanapun
tingkat kepercayaan kepada Tuhan dalam diri seseorang tidak dapat dilihat dan dihitung
dengan angka dengan oleh manusia lainnya.
Adapun ajaran tauhid dalam islam sebagaimana difirmankan oleh Allah swt dalam surat
Al-baqarah ayat 163 yang artinya : “ Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa, tidak
ada Tuhan selain Dia yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. ( Universitas Islam
Indonesia, 2003 ).

b. Nikah ( nilai keluarga ).

Dalam pandangan islam pernikahan merupakan konsep illahi yang didalamnya


terkandung unsure-unsur religi maupun unsure social. Pernikahan sebagai suatu cara
membentuk keluarga merupakan perintah agama ( QS. An-nisa:3 ), agar manusia dapat
hidup tentram dan bahagia ( QS. Ar-Rum : 21 ). Selanjutnya jika dilihat dari sisi hokum
Islam, pernikahan merupakan suatu adat penyerahan dan penyerahan ( ijab qobul ) yang
mengandung makna sangat dalam ( Suwaid, 2006 ).
Namun pada akhir-akhir ini kecenderungan demoralisasi dalam kehidupan
berkembang dengan luar biasa. berkembangnya seks bebas dikalangan remaja merupakan
suatu hal yang sangat mengkhawatirkan. Penelitian terhadap remaja di 11 kota besar di

Kepemimpinan islam pada masa Rasulullah Page 18


Indonesia menghasilkan suatu kesimpulan bahwa 20% remaja telah melakukan seks
bebas sebelum nikah ( Yusuf, 2007 ).

c. Hayati ( nilai kemanusiaan )

Manusia semuanya dimata Allah itu sama sedrajat. Hal ini dijelaskan pula dalam
pancasila sila ke 2 yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab, dijelaskan pula dalam surat
al-hujarat ayat 13 yang artinya : “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu
dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa
dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling
mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” ( Universitas Islam
Indonesia, 2003 ).

d. Adil ( nilai keadilan )

Adil adalah proporsional, sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Pemimpin


harus bersikap adil, karena jika pemimpin tidak adil maka memunculkan kecemburuan
masyarakat yang dapat memicu kerawanan social, konflik dan ketegangan dalam
masyarakat. Pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang dapat membawa rakyatnya
menjadi makmur dalam keadilan dan adil dalam kemakmuran. Allah berfirman dalam
surat Al-Maidah ayat 8 yang artinya “ hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi
orang –orang yang selalu menegakkan ( kebenaran ) karena Allah, menjadi saksi dengan
adil. Dan janganlah sekali-kali kebencian terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk
berlaku tidak adil. Berlaku adilah, karena adil itu lebih dekat dengan taqwa. Dan
bertaqwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan”. ( Hakim, 2007 ).

e. Amanah ( nilai kejujuran )

Amanah dapat ditampilkan dalam bentuk ketrbukaan, kejujuran, pelayanan yang


optimal, ihsan ( berbuat yang terbaik dalam segala hal untuk memberikan pelayanan
kepada masyarakat ). Dengan amanah maka akan terhindar dari kolusi, korupsi dan
manipulasi serta akan dapat memberikan kepercayaan penuh dari anggotanya atau orang
lain sehingga program-program kepemimpinan akan dapat dukungan optimal dari para
anggotanya. Dijelaskan dalam Al-Mu’minun ayat 8 yang artinya dan orang-orang yang
memelihara amanat-amanat ( yang dipikulnya ) dan janjinya ( Al-mu’minun: 8 ) ( Hakim,
2007 ).

Kepemimpinan islam pada masa Rasulullah Page 19


BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Gaya kepemimpinan akan bersifat membangun jika gaya kepemimpinan yang
digunakan sesuai dengan para followers/pengikutnya. Pemimpin harus bersifat amanah,
dan harus dekat dengan Allah agar mengetahui tanggung jawabnya sebagai pemimpin dan
bersifat lebih efisien dalam memimpin. Mewujudkan pemimpin yang penolong yaitu
peduli dengan sesama, professional dapat menciptakan para SDM yang bagus mutunya
serta baik moralnya. Dan kita perlu meneladani sikap kepemimpinan Rasulullah
Kepemimpinan nabi Muhammad terbagi didua kota yaitu di Makkah ( selama 13 tahun )
dan di Madinah ( selama 10 tahun ). Namun, di waktu yang lebih singkat jika
dibandingkan dengan periode Makkah, Rasulullah berhasil menjadikan masyarakat di
kota Madinah sejahtera, atau yang biasa disebut masyarakat madani. Terminologi
masyarakat madani pertama kali dipopulerkan oleh Mohammad An-Nuqaib Al-Attas,
yaitu Mujtamak madani yang secara etimologi mempunyai dua arti: pertama, masyarakat
kota. Kedua masyarakat yang beradap (masyarakat tamaddun). Dalam bahasa Inggris
dikenal dengan civilty atau civilation, dalam makna ini masyarakat madani dapat berarti
dengan Civil Society yaitu masyarakat yang menjunjung peradaban.

Kepemimpinan islam pada masa Rasulullah Page 20


DAFTAR PUSTAKA
Abdul Aziz, Jum’ah Amin. 2010. Fiqih Dakwah Studi Atas Berbagai Prisip Dan Kaidah Yang
Harus Djadikan Acuan Dalam Dawah Islamiyah. Surakarta : Adicitra Intermedia.

http://umifadill.blogspot.com/2013/07/kepemimpinan-rasulullah-sebagai.html

Kepemimpinan islam pada masa Rasulullah Page 21