Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

Kornea adalah selaput bening mata, bagian selaput bening mata, bagian

selaput mata yang tembus cahaya dan menutup bola mata di sebelah depan.

Sifat tembus cahayanya disebabkan strukturnya yang uniform, avaskuler dan

deturgenses.[1]

Berbagai keluhan bisa terjadi pada kornea termasuk terbentuknya

ulkus/tukak kornea. Ulkus tersebut bisa terdapat pada sentral kornea dan

berpengaruh sekali pada visus atau bisa terdapat di tepi kornea dan tidak terlalu

berpengaruh pada visus. Ulkus kornea dapat terjadi akibat adanya trauma oleh

benda asing, insufisiensi air mata atau penyakit yang menyebabkan masuknya

bakteri atau jamur ke dalam kornea sehingga menimbulkan infeksi atau

peradangan. Penyakit ini pada umumnya dapat menyebabkan penurunan

penglihatan sehingga mengganggu kualitas kehidupan. Pada beberapa kasus

ulkus kornea dapat menimbulkan gejala sisa, misalnya tebentuknya jaringan

parut yang mengganggu fungsi penglihatan. [1,2]

Komplikasi yang ditimbulkan ulkus kornea seperti terbentuknya

jaringan parut menyebabkan penyakit ini perlu mendapatkan penanganan

khusus dan secepat mungkin. Pembentukan parut akibat ulserasi kornea adalah

penyebab utama kebutaan dan ganguan penglihatan di seluruh dunia. Di

Indonesia sendiri kekeruhan kornea masih merupakan masalah kesehatan mata

sebab kelainan ini menempati urutan kedua dalam penyebab utama kebutaan.
1
Semakin dalam ulkus yang terbentuk, maka gejala dan komplikasinya semakin

berat. Pengobatan yang diberikan disesuaikan dengan penyebab terjadinya

ulkus. Penyulit yang mungkin timbul antara lain infeksi di bagian kornea yang

lebih dalam, perforasi kornea (pembentukan lubang), kelainan letak iris dan

kerusakan mata.[3] Diharapkan tinjauan kasus ini dapat menjadi bahan

pertimbangan para klinisi untuk menetapkan langkah yang tepat dalam

menangani kasus ulkus kornea.

BAB II

2
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI

Ulkus kornea adalah hilangnya sebagian permukaan kornea akibat

kematian jaringan kornea, yang ditandai dengan adanya infiltrat supuratif

disertai defek kornea bergaung, dan diskontinuitas jaringan kornea yang dapat

terjadi dari epitel sampai stroma. Ulkus kornea merupakan suatu keadaan

darurat mata yang berpotensi mengancam penglihatan. Bahkan dengan

pengobatan yang tepat, pasien dapat menderita morbiditas yang signifikan

dengan komplikasi termasuk jaringan parut atau perforasi kornea,

perkembangan glaukoma, katarak atau sinekia anterior dan posterior dan

kehilangan penglihatan.[4,5]

Terbentuknya ulkus pada kornea mungkin banyak ditemukan oleh

adanya kolagenase oleh sel epitel baru dan sel radang. Ulkus bisa dalam

keadaan steril (tidak terinfeksi mikroorganisme) ataupun terinfeksi. Ulkus

terbentuk oleh karena adanya infiltrat yaitu proses respon imun yang

menyebabkan akumulasi sel-sel atau cairan di bagian kornea.[2,4]

B. ETIOLOGI

Ulkus kornea merupakan peradangan kornea yang diikuti kerusakan

lapisan kornea, kerusakan dimulai dari lapisan epitel. Terbentuknya ulkus

pada kornea mungkin banyak ditemukan oleh adanya kolagenase oleh sel

epitel baru dan sel radang. Ulkus bisa dalam keadaan steril (tidak terinfeksi

3
mikroorganisme) ataupun terinfeksi. Ulkus terbentuk oleh karena adanya

infiltrat yaitu proses respon imun yang menyebabkan akumulasi sel-sel atau

cairan di bagian kornea. Faktor yang dapat menyebabkan ulkus kornea secara

umum antara lain :

 Kelainan pada bulu mata (trikiasis) dan sistem air mata (insufisiensi

air mata, sumbatan saluran lakrimal).

 Faktor eksternal, yaitu : luka pada kornea (erosio kornea), karena

trauma, penggunaan lensa kontak, luka bakar pada daerah muka.

 Kelainan-kelainan kornea yang disebabkan oleh : edema kornea

kronik, exposure-keratitis (pada lagophtalmus, bius umum, koma),

keratitis karena defisiensi vitamin A, keratitis neuroparalitik, keratitis

superfisialis virus.

 Kelainan-kelainan sistemik, malnutrisi, alkoholisme, sindrom Stevens

Jhonson, sindrom defisiensi imun.

 Obat-obatan yang menurunkan mekaniseme imun seperti

kortikosteroid, IUD, anestetik lokal dan golongan imunosupresif. [6]

Berdasarkan etiologinya ulkus kornea disebabkan oleh :

1. Infeksi

 Infeksi Bakteri : P. aeraginosa, Streptococcus pneumonia dan spesies

Moraxella merupakan penyebab paling sering. Hampir semua ulkus

berbentuk sentral. Gejala klinis yang khas tidak dijumpai, hanya

4
sekret yang keluar bersifat mukopurulen yang bersifat khas

menunjukkan infeksi P aeruginosa.

 Infeksi Jamur : disebabkan oleh Candida, Fusarium, Aspergilus,

Cephalosporium, dan spesies mikosis fungoides.

 Infeksi virus, ulkus kornea oleh virus herpes simplex cukup sering

dijumpai. Bentuk khas dendrit dapat diikuti oleh vesikel-vesikel kecil

dilapisan epitel yang bila pecah akan menimbulkan ulkus. Ulkus

dapat juga terjadi pada bentuk disiform bila mengalami nekrosis di

bagian sentral. Infeksi virus lainnya varicella-zoster, variola, vacinia

(jarang).

 Acanthamoeba adalah protozoa hidup bebas yang terdapat didalam

air yang tercemar yang mengandung bakteri dan materi organik.

Infeksi kornea oleh acanthamoeba adalah komplikasi yang semakin

dikenal pada pengguna lensa kontak lunak, khususnya bila memakai

larutan garam buatan sendiri. Infeksi juga biasanya ditemukan pada

bukan pemakai lensa kontak yang terpapar air atau tanah yang

tercemar. [6]

2. Non-Infeksius

 Bahan kimia, bersifat asam atau basa tergantung PH. Bahan asam

yang dapat merusak mata terutama bahan anorganik,organik dan

organik anhidrat. Bila bahan asam mengenai mata maka akan

terjadi pengendapan protein permukaan sehingga bila

5
konsentrasinya tidak tinggi maka tidak bersifat destruktif.

Biasanya kerusakan hanya bersifat superfisial saja. Pada bahan

alkali antaralain amonia, cairan pembersih yang mengandung

kalium/natrium hidroksida dan kalium karbonat akan terjadi

penghancuran kolagen kornea.

 Radiasi atau suhu, dapat terjadi pada saat bekerja las, dan menatap

sinar matahari yang akan merusak epitel kornea.

 Sindrom Sjorgen, pada sindrom Sjorgen salah satunya ditandai

keratokonjungtivitissicca yang merupakan suatu keadaan mata

kering yang dapat disebabkan defisiensi unsur film air mata

(akeus, musin atau lipid), kelainan permukan palpebra atau

kelainan epitel yangmenyebabkan timbulnya bintik-bintik kering

pada kornea. Padakeadaan lebih lanjut dapat timbul ulkus pada

kornea dan defekpada epitel kornea terpulas dengan flurosein.

 Defisiensi vitamin A, ulkus kornea akibat defisiensi vitamin A

terjadi karena kekuranganvitamin A dari makanan atau gangguan

absorbsi di saluran cernadan ganggun pemanfaatan oleh tubuh.

 Obat-obatan, obat-obatan yang menurunkan mekanisme imun,

misalnya;kortikosteroid, IDU (Iodo 2 dioxyuridine), anestesi lokal

dan golongan imunosupresif.

 Kelainan dari membran basal, misalnya karena trauma.

 Pajanan (exposure)

6
 Neurotropik[6]

3. Sistem Imun (Reaksi Hipersensitivitas)

Terjadinya ulkus kornea biasanya didahului oleh faktor pencetus yaitu

rusaknya sistem barier epitel kornea oleh penyebab-penyebab seperti:

 Kelainan pada bulu mata (trikiasis) dan sistem air mata

(insufisiensi air mata, sumbatan saluran lakrimal)

 Oleh faktor-faktor eksternal yaitu : luka pada kornea (erosi

kornea) karena trauma, penggunaan lensa kontak, luka bakar pada

muka

 Kelainan lokal pada kornea, meliputi edema kornea kronik,

keratitis exposure (pada lagoftalmos, anestesi umum, koma),

keratitis karena defisiensi vitamin A, keratitis neuroparalitik,

keratitis superficialis virus

 Kelainan sistemik, meliputi malnutrisi, alkoholisme, sindrom

Steven-Johnson, sindrom defisiensi imun (AIDS, SLE)

 Obat-obatan penurun sistem imun, seperti kortikosteroid, obat

anestesi lokal [6]

C. ANATOMI TERKAIT

Kornea adalah jaringan transparan, yang ukurannya sebanding dengan

kristal sebuah jam tangan kecil. Kornea ini disisipkan ke sklera di limbus,

lengkung melingkar pada persambungan ini disebut sulkus skelaris. Kornea

dewasa rata-rata mempunyai tebal 0,54 mm di tengah, sekitar 0,65 di tepi, dan

7
diameternya sekitar 11,5 mm dari anterior ke posterior, kornea mempunyai

lima lapisan yang berbeda-beda: lapisan epitel (yang bersambung dengan

epitel konjungtiva bulbaris), lapisan Bowman, stroma, membran Descement,

dan lapisan endotel. Batas antara sclera dan kornea disebut limbus kornea.

Kornea merupakan lensa cembung dengan kekuatan refraksi sebesar + 43

dioptri. Kalau kornea udem karena suatu sebab, maka kornea juga bertindak

sebagai prisma yang dapat menguraikan sinar sehingga penderita akan melihat

halo. [7]

Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan “jendela” yang

dilalui berkas cahaya menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan

strukturnya yang uniform, avaskuler dan deturgenses. Deturgenses, atau

keadaan dehidrasi relatif jaringan kornea, dipertahankan oleh “pompa”

bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel. [7]

Gambar 1. Anatomi Bola Mata

Kornea terdiri dari 5 lapisan dari luar kedalam:

8
1. Lapisan epitel

 Tebalnya 50 µm , terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak

bertanduk yang saling tumpang tindih; satu lapis sel basal,

sel polygonal dan sel gepeng.

 Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini

terdorong kedepan menjadi lapis sel sayap dan semakin

maju kedepan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat

dengan sel basal disampingnya dan sel polygonal

didepannya melalui desmosom dan macula okluden; ikatan

ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan glukosa yang

merupakan barrier.

 Sel basal menghasilkan membrane basal yang melekat erat

kepadanya. Bila terjadi gangguan akan menghasilkan erosi

rekuren.

 Epitel berasal dari ectoderm permukaan. [7]

2. Membran Bowman

 Terletak dibawah membrana basal epitel kornea yang

merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti

stroma dan berasal dari bagian depan stroma.

 Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi. [7]

3. Jaringan Stroma

9
 Terdiri atas lamel yang merupakan sususnan kolagen yang

sejajar satu dengan yang lainnya, Pada permukaan terlihat

anyaman yang teratur sedang dibagian perifer serat kolagen

ini bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen memakan

waktu lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan.Keratosit

merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblast

terletak diantara serat kolagen stroma. Diduga keratosit

membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam

perkembangan embrio atau sesudah trauma. [7]

4. Membran Descement

 Merupakan membrana aselular dan merupakan batas

belakang stroma kornea dihasilkan sel endotel dan

merupakan membrane basalnya.

 Bersifat sangat elastis dan berkembang terus seumurhidup,

mempunyai tebal 40 µm. [7]

5. Endotel

 Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal,

besar 20-40 nm.

 Endotel melekat pada membrane descement melalui

hemidosom dan zonula okluden.

10
Gambar 2. Lapisan Kornea[7]

Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensorik terutama berasal dari

saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke V, saraf siliar longus berjalan

supra koroid, masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran Bowman

melepaskan selubung Schwannya. Bulbus Krause untuk sensasi dingin

ditemukan diantara. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus

terjadi dalam waktu 3 bulan. [7]

Sumber nutrisi kornea adalah pembuluh-pembuluh darah limbus,

humour aquous, dan air mata. Kornea superfisial juga mendapat oksigen

sebagian besar dari atmosfir. Transparansi kornea dipertahankan oleh

strukturnya seragam, avaskularitasnya dan deturgensinya. [7]

11
D. EPIDEMIOLOGI

Dunia

Pola epidemiologi ulkus kornea bervariasi di seluruh dunia,

berhubungan dengan populasi pasien, lokasi geografis, dan iklim.

Staphylococcus aureus dan Aspergillus spp adalah penyebab paling umum

terjadinya ulkus kornea infeksius di negara berkembang. Sedangkan

penyebab ulkus kornea non-infeksius terbanyak adalah autoimun. Angka

kejadian ulkus kornea infeksius maupun non-infeksius terbanyak pada jenis

kelamin laki-laki. Usia penderita ulkus kornea infeksius terbanyak adalah

orang yang berusia 40 – 60 tahun dan pada sebuah penelitian di India

menunjukan 65% kasus ulkus non-infeksius terbanyak terjadi pada rentang

usia 18 – 45 tahun. [8,9]

Gambar 3. Distribusi pasien dengan ulkus kornea di India Selatan.[8]

12
Selama kurun waktu 7 tahun (Ibrahim YW et al 2012) telah

melakukan studi retrospektif yang mendeteksi tren linier patogen penyebab

ulkus kornea yang terutama terkait dengan ulkus bakteri daripada virus.

Tingkat ulkus bakteri menunjukkan peningkatan bertahap selama periode

antara 1997 dan 2003 dibandingkan dengan keratitis virus menunjukkan

peningkatan awal antara tahun 1997 dan 2000 diikuti dengan penurunan

progresif hingga tahun 2003. Pada tahun 2006 angka tersebut secara

keseluruhan keratitis infeksiosa lebih rendah daripada penelitian retrospektif

karena penurunan signifikan pada keratitis virus.(p = 0,0003) seperti yang

ditunjukkan pada tabel 1.

Tabel 1. Insidensi ulkus kornea berdasarkan penyebab di Kota Portsmouth [10]

Rumah Sakit Shahid Sadoughi, Sekolah Kedokteran, Yazd, Iran,

mengidentifikasi 80 orangkasus keratitis mikroba dari Maret 1999 sampai

Maret 2001. Dan mereka menemukan 32 pasien (40%) positif kultur, 22 di

13
antaranya adalah gram positif. Strain yang paling umum adalah

Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus aureus dan Streptococcus

pneumonia dan pada kelompok gram negatif pseudomonas paling banyak

isolat umum. Dalam 21% kultur gram negatif dan 13% kultur gram positif,

pasien telah menggunakan satu atau lebih antibiotik topikal sebelum masuk.

Keratitis akibat strain Pseudomonas spp (10 kasus) memiliki diameter

terbesar yaitu rata-rata jumlah hari rawat inap tertinggi, dan VA akhir

termiskin. Dua dari 5 pasien dengan keratitis jamur, terdapat perforasi kornea.

Tabel 2. Distribusi pasien menurut umur dan faktor predisposisi [11]

Amerika Serikat

Di Amerika, insiden ulkus kornea bergantung pada penyebabnya

yakni mikroorganisme, asupan makanan, trauma dan kelainan kongenital.

Ulkus kornea merupakan penyebab signifikan morbiditas mata di Amerika

Serikat dengan riwayat kejadian sekitar 30.000 kasus per tahun. Di California,

dilaporkan insiden 27,6 per 100.000 orang / tahun, dengan perkiraan 75.000

ulkus kornea setiap tahun di Amerika Serikat. Berdasarkan kepustakaan di

Amerika, laki-laki lebih banyak menderita ulkus kornea, yaitu sebanyak 71%.

Hal ini mungkin disebabkan karena banyaknya kegiatan kaum laki-laki

sehari-hari sehingga meningkatkan resiko terjadinya trauma termasuk trauma

kornea. [12]
14
Indonesia

Faktor predisposisi terbanyak pada ulkus kornea baik infeksius dan

noninfeksius adalah trauma mata. Di Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta,

trauma kornea merupakan penyebab terbanyak (68,4%) terjadinya ulkus

kornea. Trauma mata banyak terjadi akibat benda asing salah satunya adalah

bahan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan oleh karena itu ulkus infeksius

banyak dialami pada orang yang bekerja di sektor pertanian. Salah satu ulkus

kornea non-infeksius yaitu ulkus Mooren banyak dialami pada orang yang

bekerja sebagai petani. Kornea infeksius dan noninfeksius lebih banyak

terjadi di daerah rural atau pedesaan dibanding dengan daerah urban atau

perkotaan. [6]

Pada kebanyakan kasus ulkus kornea infeksius hanya mengenai satu

mata. Ulkus kornea non-infeksius bisa mengenai satu atau kedua mata. Ulkus

kornea non-infeksius banyak terjadi di satu mata saja atau unilateral. Ulkus

kornea merupakan penyebab utama kebutaan unilateral di negara

berkembang. [13]

E. KLASIFIKASI

Berdasarkan lokasi, dikenal ada 2 bentuk ulkus kornea , yaitu:

1. Ulkus Kornea Sentral

Ulkus kornea tipe sentral biasanya merupakan ulkus infeksi akibat

kerusakan pada epitel. Lesi terletak di sentral, jauh dari limbus vaskuler.

Etiologi ulkus kornea sentral biasanya bakteri (Pseudomonas,

15
pneumokok, Moraxela liquefaciens, Streptokok beta hemolitik, Klebsiela

pneumoni, E.coli, Proteous), virus (Herpes simpleks, Herpes zoster),

jamur (Candida albican, Fusarium solani, spesies nokardia,

Sefalosporium dan Aspergilus). [14]

Mikroorganisme ini tidak mudah masuk ke dalam kornea dengan

epitel yang sehat. Terdapat faktor predisposisi untuk terjadinya ulkus

kornea seperti erosi pada kornea, keratitis neurotrofik, pemakaian

kortikosteroid atau imunosupresif, pemakaian obat anestetika lokal,

pemakaian Idoxyuridine (IDU), pasien diabetes melitus dan ketuaan. [14]

Hipopion biasanya (tidak selalu menyertai ulkus). Hipopion

adalah penggumpalan sel-sel radang yang tampak sebagai lapisan pucat

di bagian bawah kamera anterior dan khas untuk ulkus kornea bakteri

dan jamur. Meskipun hipopion itu steril pada ulkus kornea bakteri,

kecuali terjadi robekan pada membrane Descemet, pada ulkus fungi lesi

ini mungkin mengandung unsur fungus. [14]

Ulkus kornea sentral cenderung lebih jauh di dalam kornea dan

membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh. Dapat menyebabkan pula

jaringan parut atau lubang di kornea, yang dapat menyebabkan

penurunan penglihatan. [14]

a. Ulkus Kornea Bakterialis

 Ulkus Streptokokus : Khas sebagai ulcus yang menjalar dari

tepi ke arah tengah kornea (serpinginous). Ulkus bewarna

16
kuning keabu-abuan berbentuk cakram dengan tepi ulkus yang

menggaung. Ulkus cepat menjalar ke dalam dan menyebabkan

perforasi kornea, karena eksotoksin yang dihasilkan oleh

streptokok pneumonia. [15]

 Ulkus Stafilokokus : Pada awalnya berupa ulkus yang bewarna

putik kekuningan disertai infiltrat berbatas tegas tepat dibawah

defek epitel. Apabila tidak diobati secara adekuat, akan terjadi

abses kornea yang disertai edema stroma dan infiltrasi sel

leukosit. Walaupun terdapat hipopion ulkus seringkali indolen

yaitu reaksi radangnya minimal. [15]

 Ulkus Pseudomonas : Lesi pada ulkus ini dimulai dari daerah

sentral kornea. ulkus sentral ini dapat menyebar ke samping

dan ke dalam kornea. Penyerbukan ke dalam dapat

mengakibatkan perforasi kornea dalam waktu 48 jam.

gambaran berupa ulkus yang berwarna abu-abu dengan

kotoran yang dikeluarkan berwarna kehijauan. Kadang-kadang

bentuk ulkus ini seperti cincin. Dalam bilik mata depan dapat

terlihat hipopion yang banyak. [15]

17
Gambar 4. (a) Ulkus Kornea Bakterialis dan (b) Ulkus Kornea

Pseudomonas

 Ulkus Pneumokokus : Terlihat sebagai bentuk ulkus kornea

sentral yang dalam. Tepi ulkus akan terlihat menyebar ke

arah satu jurusan sehingga memberikan gambaran

karakteristik yang disebut Ulkus Serpen. Ulkus terlihat

dengan infiltrasi sel yang penuh dan berwarna kekuning-

kuningan. Penyebaran ulkus sangat cepat dan sering terlihat

ulkus yang menggaung dan di daerah ini terdapat banyak

kuman. Ulkus ini selalu di temukan hipopion yang tidak

selamanya sebanding dengan beratnya ulkus yang

terlihat.diagnosa lebih pasti bila ditemukan dakriosistitis. [15]

Kokus gram positif biasanya menyebabkan ulserasi bulat atau

oval terlokalisasi dengan infiltrat stroma putih keabu-abuan yang

memiliki batas yang berbeda dan kabut stroma di sekelilingnya

minimal. Keratitis akibat bakteri gram negatif biasanya mengikuti

proses inflamasi cepat yang merusak yang ditandai dengan supurasi

stroma yang padat dan kornea di sekelilingnya yang kabur dengan

tampilan kaca tanah. [16]

b. Ulkus Kornea Fungi


Mata dapat tidak memberikan gejala selama beberapa hari

sampai beberapa minggu sesudah trauma yang dapat menimbulkan

18
infeksi jamur ini. [15]

Pada permukaan lesi terlihat bercak putih dengan warna keabu-

abuan yang agak kering. Tepi lesi berbatas tegas irregular dan terlihat

penyebaran seperti bulu pada bagian epitel yang baik. Terlihat suatu

daerah tempat asal penyebaran di bagian sentral sehingga terdapat

satelit-satelit disekitarnya. Tukak kadang-kadang dalam, seperti tukak

yang disebabkan bakteri. Pada infeksi kandida bentuk tukak lonjong

dengan permukaan naik. Dapat terjadi neovaskularisasi akibat

rangsangan radang. Terdapat injeksi siliar disertai hipopion. [15]

Gambar 5. Ulkus Kornea Fungi

Keratitis jamur biasanya ditandai dengan kekeringan yang

mengembang, infiltrat stroma dengan tepi berbulu, lesi satelit,

dan eksudat endotel yang tebal. [16]

c. Ulkus Kornea Virus


 Ulkus Kornea Herpes Zoster : Biasanya diawali rasa

sakit pada kulit dengan perasaan lesu. Gejala ini timbul

satu 1-3 hari sebelum timbulnya gejala kulit. Pada mata

ditemukan vesikel kulit dan edem palpebra, konjungtiva

hiperemis, kornea keruh akibat terdapatnya infiltrat


19
subepitel dan stroma. Infiltrat dapat berbentuk dendrit

yang bentuknya berbeda dengan dendrit herpes simplex.

Dendrit herpes zoster berwarna abu-abu kotor dengan

fluoresin yang lemah. Kornea hipestesi tetapi dengan

rasa sakit keadaan yang berat pada kornea biasanya

disertai dengan infeksi sekunder. [15]

 Ulkus Kornea Herpes simplex : Infeksi primer yang

diberikan oleh virus herpes simplex dapat terjadi tanpa

gejala klinik. Biasanya gejala dini dimulai dengan tanda

injeksi siliar yang kuat disertai terdapatnya suatu dataran

sel di permukaan epitel kornea disusul dengan bentuk

dendrit atau bintang infiltrasi. terdapat hipertesi pada

kornea secara lokal kemudian menyeluruh. Terdapat

pembesaran kelenjar preaurikel. Bentuk dendrit herpes

simplex kecil, ulceratif, jelas diwarnai dengan fluoresin

dengan benjolan diujungnya. [15]

Gambar 6. Ulkus Kornea Dendritik dan Ulkus Kornea Herpetik

d. Ulkus Kornea Acanthamoeba

Awal dirasakan sakit yang tidak sebanding dengan temuan

20
kliniknya, kemerahan dan fotofobia. Tanda klinik khas adalah ulkus

kornea indolen, cincin stroma, dan infiltrat perineural. [15]

Ulkus Kornea Acanthamoeba

Gambar 7. Ulkus Kornea Acanthamoeba

Keratitis Acanthamoeba ditandai dengan ketidakteraturan

epitel dengan infiltrat stroma tunggal atau multipel dalam konfigurasi

klasik berbentuk cincin. Nyeri hebat dan keratoneuritis radial (yaitu,

radang saraf kornea, terlihat sebagai garis keputihan pada saraf

kornea) juga merupakan karakteristik infeksi Acanthamoeba. [16]

Untuk membedakan tanda dan gejala terkait penyebab, dapat

digambarkan dalam bentuk tabel berikut ini : [15]

Tabel 3. Perbedaan Tanda dan Gejala Ulkus Kornea Sentral

21
2. Ulkus Kornea Perifer
Keratitis ulseratif perifer (PUK), juga dikenal sebagai ulserasi

kornea perifer, adalah gangguan yang berpotensi merusak terdiri dari

inflamasi destruktif berbentuk bulan sabit di tepi stroma kornea yang

berhubungan dengan defek epitel, adanya sel inflamasi stroma, dan

stroma progresif disertai degradasi dan penipisan. Biasanya disebut

sebagai PUK, dapat dengan cepat menyebabkan nekrosis progresif pada

stroma kornea, yang menyebabkan perforasi dan kebutaan.[17]

a. Ulkus Marginal
Bentuk ulkus marginal dapat simpel atau cincin. Bentuk simpel

berbentuk ulkus superfisial yang berwarna abu-abu dan terdapat pada

infeksi stafilococcus, toksit atau alergi dan gangguan sistemik pada

influenza disentri basilar gonokok arteritis nodosa, dan lain-lain. Yang

berbentuk cincin atau multiple dan biasanya lateral. Ditemukan pada

22
penderita leukemia akut, sistemik lupus eritromatosis dan lain-lain. [17]

Gambar 8. Ulkus Kornea Marginal

b. Ulkus Mooren
Merupakan ulkus yang berjalan progresif dari perifer kornea
kearah sentral. ulkus mooren terutama terdapat pada usia lanjut.
Penyebabnya sampai sekarang belum diketahui. Banyak teori
yang diajukan dan salah satu adalah teori hipersensitivitas
tuberculosis, virus, alergi dan autoimun. Biasanya menyerang satu
mata. Perasaan sakit sekali. Sering menyerang seluruh permukaan
kornea dan kadang meninggalkan satu pulau yang sehat pada bagian
yang sentral. [17]

Gambar 9. Mooren's Ulcer

c. Ring Ulcer

Terlihat injeksi perikorneal sekitar limbus. Di kornea terdapat

ulkus yang berbentuk melingkar dipinggir kornea, di dalam limbus,

bisa dangkal atau dalam, kadang-kadang timbul perforasi.Ulkus

marginal yang banyak kadang-kadang dapat menjadi satu menyerupai

23
ring ulcer. Tetapi pada ring ulcer yang sebetulnya tak ada hubungan

dengan konjungtivitis kataral. Perjalanan penyakitnya menahun. [16]

Gambar 10. Ring Ulcer, Foto celah lampu mata kiri mendemonstrasikan
terkait kasus klinis. (A, B) adalah gambar digital yang diambil selama
presentasi awal, yang menunjukkan kornea cincin ulkus 5 × 5 mm, epitel
sentral cacat 3 × 3 mm diwarnai dengan fluorescein, dan chemosis serta
kornea di sekitarnya yang udem. [18]

Kornea perifer memilki karakteristik morfologi dan imunologi

yang berbeda yang memungkinkan terjadinya suatu reaksi inflamasi.

Tidak seperti bagian sentral kornea yang avaskuler, kornea perifer sangat

dekat dengan konjungtiva limbal sebagai sumber nutrisi melalui

kapilernya, sumber sel imunokompeten seperti makrofag, sel

Langerhans, limfosit dan sel plasma. Beberapa stimulus inflamasi pada

kornea perifer yang disebabkan oleh invasi organisme mikroba (bakteri,

virus, jamur, parasit), deposit imun kompleks (penyakit imun sistemik),

trauma, keganasan, atau kondisi dermatologi yang menghasilkan respon

imun lokal maupun sistemik, mengakibatkan pengerahan neutropil dan

aktivasi komplemen (baik klasik maupun jalur alternatif) pada jaringan


24
maupun pembuluh darah. Aktivasi komponen komplemen dapat

meningkatkan permeabilitas vaskuler dan menggerakan faktor

kemotaktik untuk neutrofil (C3a, C5a). Neutrofil, menginfiltrasi kornea

perifer dan melepaskan enzim proteolitik dan kolagenolitik, metabolit

oksigen reaktif, dan substansi proinflamasi (platelet-activating-faktor,

leukotrin, prostaglandin), menyebabkan disolusi dan degradasi stroma

kornea. Di samping itu, konjungtiva limbal yang mengalami inflamasi

memproduksi kolagenase yang memperberat terjadinya degradasi stroma.

Penyakit sistemik dapat menyebabkan deposit kompleks imun terjadi

oleh karena enzim degradatif yang dilepaskan terutama oleh neutrofil. [17]

F. GEJALA DAN TANDA

Gejala klinis pada pasien dengan ulkus kornea sangat bervariasi,

tergantung dari penyebab dari ulkus itu sendiri. Gejala dari ulkus kornea yaitu

nyeri yang ekstrirn oleh karena paparan terhadap nervus, oleh karena kornea

memiliki banyak serabut nyeri, kebanyakan lesi kornea menimbulkan rasa

sakit dan fotopobia. Rasa sakit mi diperhebat oleh gesekan palpebra (terutama

palpebra superior) pada kornea dan menetap sampai sembuh. Karena kornea

berfungsi sebagai jendela bagi mata dan membiaskan berkas cahaya, lesi

kornea umumnya agak mengaburkan penglihatan terutama jika letaknya di

pusat. Fotopobia pada penyakit kornea adalah akibat kontraksi iris beradang

yang sakit. Dilatasi pembuluh darah Ms adalah fenomena refleks yang

disebabkan iritasi pada ujung saraf kornea. Fotopobia yang berat pada

25
kebanyakan penyakit kornea, minimal pada keratitis herpes karena hipestesi

terjadi pada penyakit ini, yang juga merupakan tanda diagnostik berharga.

Meskipun berairmata dan fotopobia umunnya menyertai penyakit kornea,

umumnya tidak ada tahi mata kecuali pada ulkus bakteri purulen. [19]

Tanda penting ulkus kornea yaitu penipisan kornea dengan defek pada

epitel yang nampak pada pewarnaan fluoresen. Biasanya juga terdapat tanda-

tanda uveitis anterior seperti miosis, aqueus flare (protein pada humor aqueus)

dan kemerahan pada mata. Refleks axon berperan terhadap pembentukan

uveitis, stimulasi reseptor nyeri pada kornea menyebabkan pelepasan mediator

inflamasi seperti prostaglandin, histamine dan asetilkolin. Pemeriksaan

terhadap bola mata biasanya eritema, dan tanda-tanda inflamasi pada kelopak

mata dan konjungtiva, injeksi siliaris biasanya juga ada. Eksudat purulen dapat

terlihat pada sakus konjungtiva dan pada permukaan ulkus, dan infiltrasi

stroma dapat menunjukkan opasitas kornea berwarna krem. Ulkus biasanya

berbentuk bulat atau oval, dengan batas yang tegas. Pemeriksaan dengan slit

lamp dapat ditemukan tanda-tanda iritis dan hipopion. [19]

Gejala yang diberikan (subjektif):

1. Mata merah

2. Sakit mata ringan hingga berat

3. Fotofobia,

4. Penglihatan menurun,

5. Mata terkadang kotor.

26
Gejala subjektif berupa eritema kelopak mata dan konjungtiva, sekret

mukopurulen, merasa ada benda asing di mata, pandangan kabur, bintik putih

pada kornea pada lokasi ulkus, mata berair, silau, nyeri. Infiltat yang steril

dapat menimbulkan sedikit nyeri, jika ulkus terdapat pada perifer kornea dan

tidak disertai dengan robekan lapisan epitel kornea. [20]

Tanda:

1. Kekeruhan berwarna putih pada kornea dengan defek epitel yang bila

diberi pewarnaan flouresen akan berwarna hijau ditengahnya.

2. Iris sukar dilihat karena keruhnya kornea akibat edema dan infiltrasi

sel radang pada kornea.

3. Gejala penyerta: penipisan kornea, lipatan descement, reaksi jaringan

uvea (akibat gangguan vaskularisasi iris) berupa suar, hipopion, hifema

dan sinekia posterior.

Gejala objektif berupa injeksi siliar, hilangnya sebagian jaringan

kornea, dan adanya infiltrat, adanya hipopion. [21]

Pada tukak kornea yang disebabkan :

Tabel 4. Perbedaan Tanda dan Gejala Berdasarkan Penyebab

Kokus gram (+), Staf Pseudomonas Jamur Virus

aureus dan

streptokok pnemoni.
Tukak yang terbatas, Tukak akan melebar Infiltrat akan Bila tukak berbentuk

Berbentuk bulat atau dengan cepat, bahan berwarna abu-abu dendrit akan terdapat
27
lonjong, berwarna purulen berwarna dikelilingi infiltrat hipestesi pada

putih abu-abu pada kuning hijau terlihat halus disekitarnya kornea.

anak tukak yang melekat pada (fenomena satelit).

supuratif. permukaan tukak.

Gambar 11. Ring infiltrate in Acanthamoeba keratitis [16]

Gambar 12. Ring infiltrate in fungal keratitis [16]

G. PATOGENESIS

Stadium Infiltrasi Progresif, Infiltrasi dari polimorfonuklear dan/atau


28
limfosit ke epitelium dari suplementasi sirkulasi perifer melalui stroma. Stadium

Ulkus Aktif, hasil dari nekrosis dan pelepasan epitelium. Lapisan Bowman dan

stroma. Dinding dari ulkus aktif membengkak pada lamella dengan menginhibisi

cairan dan sel-sel leukosit yang ada diantara lapisan bowman dan stroma.

Stadium Regresi, dipicu oleh daya tahan tubuh natural (produksi antibodi dan

immun selular) Garis demarkasi terbentuk disekeliling ulkus, yang terdiri dari

leukosit yang menetralisir dan phagosit yang menghambat organisme dan debris

sel nekrotik. Stadium Sikatrik, proses penyembuhan berlanjut dengan semakin

progresifnya epithelisasi yang membentuk lapisan terluar secara permanen.

Perforasi, terjadi bila proses ulkus lebih dalam dan mencapai membrana

descement, keluar sebagai descemetocele. Pada stadium ini, tekanan yang

meningkat pada pasien secara tiba-tiba seperti batuk, bersin, mengejan, dan lain-

lain akan menyebabkan perforasi, kebocoran humor aqueous, tekanan intraokuler

yang menurun dan diafragma iris-lensa akan bergerak depan. [5]

Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui cahaya,

dalam perjalanan pembentukan bayangan di retina, karena jernih, sebab susunan

sel dan seratnya tertentu dan tidak ada pembuluh darah. Biasan cahaya terutama

terjadi di permukaan anterior dari kornea. Perubahan dalam bentuk dan kejernihan

kornea, segera mengganggu pembentukan bayangan yang baik di retina. Oleh

karenanya kelainan sekecil apapun di kornea, dapat menimbulkan gangguan

penglihatan yang hebat terutama bila letaknya di daerah pupil. [5]

29
Karena kornea avaskuler, maka pertahanan pada waktu peradangan tidak

segera datang, seperti pada jaringan lain yang mengandung banyak vaskularisasi.

Maka badan kornea, wandering cell dan sel-sel lain yang terdapat dalam stroma

kornea, segera bekerja sebagai makrofag, baru kemudian disusul dengan dilatasi

pembuluh darah yang terdapat dilimbus dan tampak sebagai injeksi perikornea.

Sesudahnya baru terjadi infiltrasi dari sel-sel mononuclear, sel plasma, leukosit

polimorfonuklear (PMN), yang mengakibatkan timbulnya infiltrat, yang tampak

sebagai bercak berwarna kelabu, keruh dengan batas-batas tak jelas dan

permukaan tidak licin, kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbullah

ulkus kornea. [5]

Kornea mempunyai banyak serabut saraf maka kebanyakan lesi pada

kornea baik superfisial maupun profunda dapat menimbulkan rasa sakit dan

fotofobia. Rasa sakit juga diperberat dengan adanaya gesekan palpebra (terutama

palbebra superior) pada kornea dan menetap sampai sembuh. Kontraksi bersifat

progresif, regresi iris, yang meradang dapat menimbulkan fotofobia, sedangkan

iritasi yang terjadi pada ujung saraf kornea merupakan fenomena reflek yang

berhubungan dengan timbulnya dilatasi pada pembuluh iris. [5]

Penyakit ini bersifat progresif, regresif atau membentuk jaringan parut.

Infiltrat sel leukosit dan limfosit dapat dilihat pada proses progresif. Ulkus ini

menyebar kedua arah yaitu melebar dan mendalam. Jika ulkus yang timbul kecil

dan superficial maka akan lebih cepat sembuh dan daerah infiltrasi ini menjadi

30
bersih kembali, tetapi jika lesi sampai ke membran Bowman dan sebagian stroma

maka akan terbentuk jaringan ikat baru yang akan menyebabkan terjadinya

sikatrik.[5]

H. DIAGNOSIS

Diagnosis ulkus kornea ditegakkan berdasarkan anamnesis,

pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan penunjang. Keberhasilan penanganan

ulkus kornea tergantung pada ketepatan diagnosis, penyebab infeksi, dan

besarnya kerusakan yang terjadi. Adapun jenis pemeriksaan yang dapat

dilakukan untuk membantu penegakan diagnosis adalah:

 Anamnesis

Dari riwayat anamnesis, didapatkan adanya gejala subjektif

yang dikeluhkan oleh pasien, dapat berupa mata nyeri, kemerahan,

penglihatan kabur, silau jika melihat cahaya, kelopak terasa berat.

Yang juga harus digali ialah adanya riwayat trauma, kemasukan benda

asing, pemakaian lensa kontak, adanya penyakit vaskulitis atau

autoimun, dan penggunaan kortikosteroid jangka panjang. [23]

 Pemeriksaan fisis

- Visus

Didapatkan adanya penurunan visus pada mata yang mengalami

infeksi oleh karena adanya defek pada kornea sehingga

menghalangi refleksi cahaya yang masuk ke dalam media refrakta.

- Slit lamp

31
Seringkali iris, pupil, dan lensa sulit dinilai oleh karena adanya

kekeruhan pada kornea. Hiperemis didapatkan oleh karena adanya

injeksi konjungtiva ataupun perikornea. Harus diperhatikan

perjalanan pantulan cahaya saat menggerakan cahaya di atas

kornea. Dengan cara ini terlihat daerah kasar yang menandakan

adanya defek epitel. [23]

 Pemeriksaan penunjang

- Tes fluorescein

Tes fluoresensi mata adalah tes yang menggunakan pewarna

oranye (fluorescein) dan cahaya biru untuk mendeteksi benda asing

di mata. Tes ini juga dapat mendeteksi kerusakan pada epitel

kornea, permukaan luar mata. Zat warna fluoresin akan berubah

hijau pada media alkali. Zat warna fluoresin bila menempel pada

epitel kornea yang defek akan memberikan warna hijau karena

jaringan epitel yang rusak bersifat lebih basa. Pada ulkus kornea,

didapatkan hilangnya sebagian permukaan kornea. Untuk melihat

adanya daerah yang defek pada kornea. (warna hijau menunjukkan

daerah yang defek pada kornea, sedangkan warna biru

menunjukkan daerah yang intak).

32
Gambar 13. Tes Fluoresensi Mata, Area hijau merupakan lokasi defek kornea

- Pewarnaan gram dan KOH

Untuk menentukan mikroorganisme penyebab ulkus, oleh jamur.

Biasanya kokus gram positif, stafilokokkus aureus dan streptokok

pneumoniakan memberikan gambaran ulkus yang terbatas,

berbentuk bulat atau lonjong, berwarna putih abu-abu pada anak

ulkus yang supuratif. Pemeriksaan jamur dilakukan dengan sediaan

hapus dengan menggunakan larutan KOH.

- Kultur

Kadangkala dibutuhkan untuk mengisolasi organisme kausatif pada

beberapa kasus. Kultur bakteri biasanya dilakukan pada semua

kasus pada saat kunjungan pertama. Kultur untuk jamur,

acanthamoeba, atau virus dapat dikerjakan bila gambaran klinis

nya khas atau bila tidak ada respon terhadap terapi infeksi bakteri.
[23]

I. DIAGNOSIS BANDING

Diagnosis banding untuk pasien dengan gejala mata merah dan nyeri

meliputi abrasi kornea, keratitis nonulseratif, benda asing, iritis, glaukoma

33
sudut tertutup akut, luka bakar kimiawi, episkleritis, skleritis, dan uveitis

anterior. [24]

Tabel 5. Diagnosis Banding Ulkus Kornea

Konjungtitivitis Keratitis/Ulkus Iritis Akut Glaukoma


Kornea Akut
Sakit Kesat Sedang Sedang Hebat dan
sampai hebat menyebar
Kotoran Sering purulen Hanya reflex Ringan tidak ada
epifora
Fotofobia Ringan epifora Hebat Sedang
Kornea Jernih Flouresein (+++) Muddy Abu-abu
kehijauan
Penglihata N <N <N <N
n
Sekret (+) (-) (-) (-)
Tekanan N N <N <N+++
Injeksi Konjungtival Siliar Siliar Episkelara
Uji Bakteri Sensibilitas Infeksi local Tonometri

J. TATALAKSANA

Pengobatan umumnya untuk ulkus kornea adalah dengan sikloplegik,

antibiotika yang sesuai topikal dan subkonjungtiva. Pengobatan bertujuan

untuk menghalangi hidupnya bakteri dengan antibiotika dan mengurangi

reaksi radang dengan steroid. Secara umum, ulkus diobati sebagai berikut :

1. Tidak boleh dibebat, karena akan menaikkan suhu, sehingga akan

berfungsi sebagai inkubator,

2. Sekret yang terbentuk dibersihkan 4 kali sehari,

3. Diperhatikan kemungkinan terjadinya glaukoma sekunder,

4. Debridement sangat membantu penyembuhan,

34
5. Diberi antibiotika yang sesuai dengan kausa. Biasanya diberi lokal

kecuali keadaan berat.

Penderita ulkus kornea perlu melakukan berbagai pemeriksaan seperti

tes refraksi, tes air mata, pengukuran kornea (keratometri), dan tes

respons refleks pupil.[22]

Prinsip umum pengobatan :

1. Keputusan untuk mengobati berdasarkan temuan klinis namun etiologi

penyebab tidak dapat diperkirakan hanya dengan melihat gambaran

dari ulkusnya. Pengobatan harus dilakukan bahkan sebelum hasil

kultur tersedia.

2. Terapi topikal dapat mencapai konsentrasi pada jaringan lebih baik dan

sebaiknya diberikan antibiotika spektrum luas agar dapat mencakup

berbagai patogen yang umum.

3. Terapi kombinasi dengan dua obat untuk mengatasi kuman gram-

positif dan gram-negatif sekaligus. Namun kombinasi ini tidak tersedia

secara umum di pasaran, sehingga harus dipersiapkan secara khusus.


[22]

Terapi Farmakologi

1. Pengobatan Konstitusi

Oleh karena ulkus biasannya timbul pada orang dengan keadaan

umum yang kurang dari normal, maka keadaan umumnya harus

diperbaiki dengan makanan yang bergizi, udara yang baik, lingkungan

35
yang sehat, pemberian roboransia yang mengandung vitamin A, vitamin

B kompleks dan vitamin C. Pada ulkus-ulkus yang disebabkan kuman

yang virulen, yang tidak sembuh dengan pengobatan biasa, dapat

diberikan vaksin tifoid 0,1 cc atau 10 cc susu steril yang disuntikkan

intravena dan hasilnya cukup baik. Dengan penyuntikan ini suhu badan

akan naik, tetapi jangan sampai melebihi 39,5°C. Akibat kenaikan suhu

tubuh ini diharapkan bertambahnya antibodi dalam badan dan menjadi

lekas sembuh. [22]

2. Pengobatan Lokal

Benda asing dan bahan yang merangsang harus segera dihilangkan.

Lesi kornea sekecil apapun harus diperhatikan dan diobati sebaik-baiknya.

Konjungtuvitis, dakriosistitis harus diobati dengan baik. Infeksi lokal

pada hidung, telinga, tenggorok, gigi atau tempat lain harus segera

dihilangkan. Infeksi pada mata harus diberikan :

- Sulfas atropine sebagai salap atau larutan, Kebanyakan dipakai

sulfas atropine karena bekerja lama 1-2 minggu. Efek kerja sulfas

atropine : Sedatif (menghilangkan rasa sakit), dekongestif

(menurunkan tanda-tanda radang), menyebabkan paralysis M.

siliaris dan M. konstriktor pupil. Dengan lumpuhnya M. siliaris

mata tidak mempunyai daya akomodsi sehingga mata dalan

keadaan istirahat. Dengan lumpuhnya M. konstriktor pupil, terjadi

36
midriasis sehinggga sinekia posterior yang telah ada dapat dilepas

dan mencegah pembentukan sinekia posterior yang baru.

- Skopolamine sebagai agen midiratik

- Analgetik: dapat diberikan pantokain atau tetrakain, tapi tidak

boleh sering

- Antibiotik: sesuai dengan kuman penyebabnya atau berspektrum

luas, dapat diberikan sebagai salep, tetes, atau injeksi konjungtiva,

walaupun pada ulkus kornea sebaiknya tidak diberikan salep

karena dapat memperlambat penyembuhan dan dapat menyebabkan

erosi kembali. Berikut ini contoh antibiotik: Sulfonamide 10-30%,

Basitrasin 500 unit, Tetrasiklin 10 mg, Gentamisin 3 mg, Neomisin

3,5-5 mg, Tobramisin 3 mg, Eritromisin 0,5%, Kloramfenikol 10

mg, Ciprofloksasin 3 mg, Ofloksasin 3 mg, Polimisin B 10.000

unit. Untuk Acanthamoeba, dapat diberikan poliheksametilen

biguanid + propamidin isetionat atau salep klorheksidin glukonat

0,02%.

- Anti Jamur

Terapi medikamentosa di Indonesia terhambat oleh terbatasnya

preparat komersial yang tersedia berdasarkan jenis keratomitosis

yang dihadapi bisa dibagi :

37
 Jenis jamur yang belum diidentifikasi penyebabnya : topikal

amphotericin B 1, 2, 5 mg/ml, Thiomerosal 10 mg/ml,

Natamycin > 10 mg/ml, golongan Imidazole

 Jamur berfilamen : topikal amphotericin B, thiomerosal,

Natamicin, Imidazol

 Ragi (yeast) : amphotericin B, Natamicin, Imidazol

 Actinomyces yang bukan jamur sejati : golongan sulfa,

berbagai jenis antibiotic[22]

- Anti Virus

Untuk herpes zoster pengobatan bersifat simtomatik diberikan

streroid lokal untuk mengurangi gejala, sikloplegik, anti biotik

spektrum luas untuk infeksi sekunder analgetik bila terdapat

indikasi, sementara untuk herpes simplex diberikan pengobatan

IDU, ARA-A, PAA, interferon inducer. [22]

Terapi Non Farmakologi

Untuk menghindari penjalaran ulkus dapat dilakukan :

1. Kauterisasi

- Dengan zat kimia : Iodine, larutan murni asam karbolik, larutan

murni trikloralasetat

- Dengan panas (heat cauterisasion) : memakai elektrokauter atau

termophore. Dengan instrumen ini dengan ujung alatnya yang

38
mengandung panas disentuhkan pada pinggir ulkus sampai

berwarna keputih-putihan. [22]

2. Pengerokan epitel yang sakit

Parasentesa dilakukan kalau pengobatan dengan obat-obat tidak

menunjukkan perbaikan dengan maksud mengganti cairan coa yang lama

dengan yang baru yang banyak mengandung antibodi dengan harapan

luka cepat sembuh. Penutupan ulkus dengan flap konjungtiva, dengan

melepaskan konjungtiva dari sekitar limbus yang kemudian ditarik

menutupi ulkus dengan tujuan memberi perlindungan dan nutrisi pada

ulkus untuk mempercepat penyembuhan. Kalau sudah sembuh flap

konjungtiva ini dapat dilepaskan kembali. [22]

Bila seseorang dengan ulkus kornea mengalami perforasi spontan

berikan sulfas atropine, antibiotik dan balut yang kuat. Segera berbaring

dan jangan melakukan gerakan-gerakan. Bila perforasinya disertai prolaps

iris dan terjadinya baru saja, maka dapat dilakukan :

- Iridektomi dari iris yang prolapse

- Iris reposisi

- Kornea dijahit dan ditutup dengan flap konjungtiva

- Beri sulfas atripin, antibiotic dan balut yang kuat

Bila terjadi perforasi dengan prolaps iris yang telah berlangsung

lama, kita obati seperti ulkus biasa tetapi prolas irisnya dibiarkan saja,

39
sampai akhirnya sembuh menjadi leukoma adherens. Antibiotik

diberikan juga secara sistemik.

Gambar 14. Ulkus kornea perforasi (jaringan iris keluar dan menonjol, infiltrat pada

kornea ditepi perforasi) [22]

3. Keratoplasti

Keratoplasti adalah jalan terakhir jika urutan penatalaksanaan diatas tidak

berhasil. Indikasi keratoplasti terjadi jaringan parut yang mengganggu

penglihatan, kekeruhan kornea yang menyebabkan kemunduran tajam

penglihatan, serta memenuhi beberapa kriteria yaitu :

- Kemunduran visus yang cukup menggangu aktivitas penderita

- Kelainan kornea yang mengganggu mental penderita.

- Kelainan kornea yang tidak disertai ambliopia. [22]

40
Gambar 15. Ulkus kornea perforasi (jaringan iris keluar dan menonjol, infiltrat pada

kornea ditepi perforasi)

Terdapat dua jenis teknik keratoplasti, Penetrating Keratoplasty dimana

keseluruhan lapisan kornea diganti, dan Lamellar Keratoplasty dimana

hanya sebagian lapisan kornea diganti. [22]

Gambar 16. Skema Lamellar Keratoplasty berdasarkan lapisan yang diganti

K. PENCEGAHAN

Faktor risiko paling signifikan untuk ulkus kornea adalah penggunaan

lensa kontak. Oleh karena itu, pendidikan pasien tentang penggunaan yang

tepat adalah salah satu aspek terpenting dari pencegahan ulkus ini. [25]

Pendidikan pasien harus mencakup instruksi tentang cara memasang,

membersihkan, dan menyimpan lensa kontak dengan benar serta pentingnya

menghindari penggunaan dalam semalam atau dalam waktu lama. Pasien

harus menerima pendidikan tentang bahaya berenang / mandi dalam kontak

41
dan membeli kontak dari sumber non-medis serta peningkatan risiko infeksi

dengan lensa kontak yang diperpanjang.

Pencegahan terhadap ulkus dapat dilakukan dengan segera

berkonsultasi kepada ahli mata setiap ada keluhan pada mata. Sering kali luka

yang tampak kecil pada kornea dapat mengawali timbulnya ulkus dan

mempunyai efek yang sangat buruk bagi mata.

- Lindungi mata dari segala benda yang mungkin bisa masuk


kedalam mata

- Jika mata sering kering, atau pada keadaan kelopak mata tidak bisa
menutup sempurna, gunakan tetes mata agar mata selalu dalam
keadaan basah
- Jika memakai lensa kontak harus sangat diperhatikan cara memakai
dan merawat lensa tersebut.[5]

L. KOMPLIKASI

Komplikasi ulkus kornea yang tidak diobati atau tidak diobati secara

memadai termasuk jaringan parut kornea, vaskularisasi, atau perforasi,

glaukoma, astigmatisme tidak teratur, katarak, endophthalmitis, dan

kehilangan penglihatan.[5]

M. PROGNOSIS

Prognosis tergantung pada etiologi, ukuran, dan lokasi ulkus serta

respons terhadap pengobatan. Ulkus kornea yang luas memerlukan waktu

penyembuhan yang lama, karena jaringan kornea bersifat avaskular. Semakin

tinggi tingkat keparahan dan lambatnya mendapat pertolongan serta timbulnya


42
komplikasi, maka prognosisnya menjadi lebih buruk. Penyembuhan yang lama

mungkin juga dipengaruhi ketaatan penggunaan obat. Dalam hal ini, apabila

tidak ada ketaatan penggunaan obat terjadi pada penggunaan antibiotika maka

dapat menimbulkan resistensi. [5]

Ulkus kornea harus membaik setiap harinya dan harus disembuhkan

dengan pemberian terapi yang tepat. Ulkus kornea dapat sembuh dengan dua

metode; migrasi sekeliling sel epitel yang dilanjutkan dengan mitosis sel dan

pembentukan pembuluh darah dari konjungtiva. Ulkus superfisial yang kecil

dapat sembuh dengan cepat melalui metode yang pertama, tetapi pada ulkus

yang besar, perlu adanya suplai darah agar leukosit dan fibroblas dapat

membentuk jaringan granulasi dan kemudian sikatrik. [5]

43
BAB III

SIMPULAN

Ulkus Kornea merupakan hilangnya sebagian permukaan kornea akibat

kematian jaringan kornea, yang ditandai dengan adanya infiltrat supuratif

disertai defek kornea bergaung, dan diskontinuitas jaringan kornea yang dapat

terjadi dari epitel sampai stroma. Ulkus kornea adalah suatu kondisi yang

berpotensi menyebabkan kebutaan yang membutuhkan penatalaksanaan secara

langsung.

Berdasarkan kepustakaan di USA, laki-laki lebih banyak menderita

ulkus kornea, yaitu sebanyak 71%, begitu juga dengan penelitian yang

dilakukan di India Utara ditemukan 61% laki-laki. Hal ini mungkin

disebabkan karena banyaknya kegiatan kaum laki-laki sehari-hari sehingga

meningkatkan resiko terjadinya trauma termasuk trauma kornea.

Ulkus Kornea bisa disebabkan oleh infeksi (bakteri, jamur ,virus dan

Acanthamoeba), noninfeksi ; seperti bahan kimia bersifat asam atau basa

tergantung PH, radiasi atau suhu, Sindrom Sjorgen, defisiensi vitamin, obat-

obatan, pajanan (exposure), neurotropik dan juga bisa disebabkan oleh

pengaruh sistem imun (Reaksi Hipersensitivitas).

Pengobatan pada ulkus kornea tergantung penyebabnya, diberikan obat

tetes mata yang mengandung antibiotik, anti virus, anti jamur, sikloplegik dan

mengurangi reaksi peradangan dengann steroid. Pasien dirawat bila

44
mengancam perforasi, pasien tidak dapat memberi obat sendiri, tidak terdapat

reaksi obat dan perlunya obat sistemik.

Prognosis ulkus kornea tergantung pada tingkat keparahan dan cepat

lambatnya mendapat pertolongan, jenis mikroorganisme penyebabnya, dan

ada tidaknya komplikasi yang timbul.

45