Hubungan Coping dan Stress Akademik denganAcademic
Engagement Pada Siswa SMP di Kota Semarang
1.1.Latar Belakang Masalah
Wabah COVID-19 terus berkembang di berbagai negara, termasuk
Indonesia. Terhitung sejak bulan maret hingga 07 februari 2021, total kasus
COVID-19 di Indonesia yaitu 1.157.837 orang terkonfirmasi positif COVID-19,
lalu 949.990 orang mengalami sembuh, dan 31.556 orang meninggal dunia (data
yang didapatkan dari laman:https://www.covid19.go.id/). Data di Provinsi Jawa
Tengah menunjukkan sejumlah 135.552 orang terkonfirmasi positif COVID-19,
116.624 orang sembuh, dan 8.515 orang meninggal dunia (data yang didapatkan
dari laman:https://corona.jatengprov.go.id/data). Sementara itu, data kasus
COVID-19 di Kota Semarang menunjukkan bahwa 21.968 orang terkonfirmasi
positif COVID-19, 19. 925 orang sembuh, dan 1.576 orang meninggal dunia (data
yang didapatkan dari laman:
https://siagacorona.semarangkota.go.id/halaman/covid19). Data tersebut bukan
tidak mungkin akan terus bertambah meskipun jumlahnya tidak dapat diperkirakan,
sementara dampak atas banyaknya batasan yang diberlakukan kian bertumpuk.
Namun sejak tahun 2020 hingga kini di tahun 2021, sistem pendidikan
sangatlah berbeda.Wabah COVID-19 menyebar di berbagai negara memaksa
adanya sebuah perubahan secara kolektif dan akumulatif dalam sistem pendidikan
internasional maupun nasional.Setiap negara termasuk Indonesia mau tidak mau
siap melaksanakan digital e-learning dalam semua tingkatan pendidikan mulai dari
PAUD hingga Perguruan Tinggi (PT).Majunya dunia teknologi informasi membuat
sistem pendidikan akibat pandemi COVID-19 menjadi berbeda dari
biasanya.Sistem pembelajaran online atau e-learning adalah media yang dapat
digunakan untuk Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau dalam jaringan (daring).
Penyakit yang disebabkan oleh virus Corona-19 itu tak hanya berdampak
pada kesehatan dan situasi ekonomi, tetapi juga pada ranah pendidikan. Pada
institusi pendidikan, terjadi perubahan sistem pembelajaran dari luring menjadi
daring, bahkan ada sebagian siswa yang memutuskan untuk berhenti bersekolah
karena berbagai faktor. Salah satu risiko putus sekolah ini dikarenakan anak
“terpaksa” bekerja untuk membantu keuangan keluarga di tengah krisis pandemi
COVID-19 (Kemendikbud, 2020). Bagi siswa yang tetap bersekolah, sistem
pembelajaran dari tingkatan PAUD hingga Perguruan Tinggi (PT) terpaksa
berubah dari sistem pembelajaran luring menjadi daring.
Definisi pembelajaran luring menurut Sunendar, dkk.disebutkan bahwa
istilah luring adalah akronim dari ’luar jaringan’, terputus dari jaringan komputer
yang artinya sistem pembelajaran dilakukan secara langsung. Sedangkan
pembelajaran daring adalah pembelajaran yang menggunakan jaringan internet
dengan aksesibilitas, konektivitas, fleksibilitas, dan kemampuan untuk
memunculkan berbagai jenis interaksi pembelajaran (Moore, Dickson-Deane, &
Galyen (2011).Berkaitan dengan perubahan sistem pembelajaran akibat
mewabahnya COVID-19, ada beberapa dampak yang terjadi setelah pembelajaran
itu berlangsung.
Pada tingkatan Perguruan Tinggi (PT), sebuah penelitian dilakukan oleh
Sadikin & Hamidah (2020) tentang pembelajaran daring yang dilakukan di tengah
wabah pandemi COVID-19. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa tidak
terawasi dengan baik selama proses pembelajaran daring. Lemahnya sinyal internet
dan mahalnya biaya kuota internet juga menjadi tantangan tersendiri selama
pelaksanaan pembelajaran daring.Meskipun demikian, pembelajaran daring efektif
untuk mengatasi pembelajaran yang memungkinan dosen dan mahasiswa
berinteraksi dalam kelas virtual yang dapat diakses dimana saja dan kapan
saja.Pembelajaran daring juga dapat membuat mahasiswa belajar mandiri dan
motivasinya belajarnya meningkat.
Pada jenjang Sekolah Menengah Akhir (SMA) dan/ Kejuruan (SMK), serta
Madrasah Aliyah (MA), penelitian telah dilakukan oleh Cahyani, dkk.(2020)
tentang motivasi belajar selama pembelajaran daring saat pandemi dengan
menggunakan Google Form ke seluruh siswa SMA/SMK/MA yang ada di
Indonesia. Hasil penelitian atas 344 responden ini menunjukkan bahwa sebanyak
52,6% siswa mengalami penurunan motivasi belajar saat mengikuti pembelajaran
daring atau online di tengah situasi pandemi virus COVID-19. Ada beberapa faktor
yang mempengaruhi menurunnya motivasi belajar pada siswa jika ditinjau secara
inheren dengan situasi belajar selama masa covid-19, baik faktor internal maupun
faktor eksternal.Berdasarkan data deskriptif yang diperoleh, bahwa faktor eksternal
seperti kondisi lingkungan belajar memberikan pengaruh terhadap menurunnya
motivasi belajar siswa.Selain itu, faktor lain lain yang menyebabkan turunnya
motivasi belajar siswa adalah waktu yang tepat untuk belajar. Sebanyak 61,1%
siswa mengaku sulit untuk menemukan waktu yang tepat untuk belajar di rumah.
Studi eksploratif mengenai pembelajaran jarak jauh yang dilakukan oleh
Handayani (2020) di SMPN 3 Bae Kudus, menunjukkan beberapa kekurangan
yang telah dialami oleh siswa. Sebanyak 38,34% mengalami ketidakstabilan
jaringan, sebanyak 18.31% mengungkapkan bahwa terjadinya interaksi sepihak
karena guru menyampaikan materi, lalu sebanyak 23,13% mengalami kesulitan
untuk berkonsentrasi selama pembelajaran jarak jauh. Selain beberapa kesulitan
yang dialami siswa di atas, ternyata para siswa juga mengalami beberapa
keuntungan pembelajaran selama pandemi. Sebanyak 31,01% merasa nyaman
belajar di rumah, sebanyak 26.98% siswa merasa waktu yang digunakan lebih
efektif karena tidak perlu melakukan perjalanan untuk pergi ke sekolah, sebanyak
20,95% siswa lebih merasa nyaman untuk mengajukan pertanyaan dan
menyampaikan pendapat. Tanggapan para siswa atas pembelajaran jarak jauh atau
daring selama pandemi ini sangatlah beragam. Meskipun demikian, persentase
tertinggi sebanyak 38,34% siswa mengalami ketidakstabilan jaringan.
Penelitian yang dilakukan oleh Alfiah, dkk. (2020), terhadap 144 siswa
yang terdiri dari 8 siswa SD/MI, 67 siswa SMP/MTS, 60 siswa SMA/MA, dan 9
siswa SMK, menunjukkan bahwa sebanyak 39,9% setuju dan 43,4% sangat setuju
atas anjuran pemerintah untuk mengikuti pembelajaran daring. Kemudian
mengenai pertanyaan apakah pembelajaran daring efektif dan efisien, hasil
menyatakan bahwa 53,8% kurang setuju dan 9,8% tidak setuju. Selanjutnya,
pertanyaan apakah tugas yang diberikan kepada oleh Bapak/Ibu guru mampu
memfasilitasi siswa dalam memahami materi menghasilkan bahwa 32,2% setuju
dan 49,7% kurang setuju. Hal ini menunjukkan bahwa, meskipun responden
menyetujui atas dilaksanakannya pembelajaran daring, namun pembelajaran daring
masih dianggap kurang efektif.
Dari berbagai dampak negatif yang terjadi akibat pandemi COVID-19
terhadap sistem pendidikan di Indonesia, HundrED berkolaborasi dengan OECD
(The Organization for Economic Co-operation and Development) dalam Widakdo
& Fananie (2020) mengidentifikasi beberapa tantangan-tantangan dalam sistem
pendidikan, antara lain: 1) Daerah yang minim akses internet mengalami hambatan
kegiatan belajar dan mengajar, 2) Minimnya bukti kolaborasi antar negara dalam
kondisi ini, 3) Dorongan yang dipaksakan kepada para pendidik untuk mengajar
dalam sistem pendidikan yang belum begitu siap, 4) Sistem pembelajaran yang
kolaboratif dan kooperatif begitu terbatas seperti kelas seni, musik, teater dll. 5)
Pembelajar yang termotivasi secara intrinsik relatif tidak merasakan pengaruh
tanpa kehadiran pembimbing. Namun, bagi mereka yang suka belajar secara
otodidak lebih suka mandiri dan belajar sendiri, 6) Adanya kekhawatiran tentang
peningkatan pembelajaran di depan layar seperti komputer, handphone, pada
peserta didik sementara para guru perlu melayani aktivitas-aktivitas secara offline,
7) Seringkali seluruh anggota keluarga berada di rumah sedangkan orang tua
bekerja di luar rumah, 8) Tidak adanya kejelasan tentang praktik terbaik untuk
jangka umur yang berbeda dalam perkembangan mereka di dalam sistem
homeschooling. Maka dari itu muncullah pertanyaan bagaimana kita melayani
murid-murid dengan kesulitan belajar dan kebutuhan khusus, 9) Banyaknya alat
dan sumber di luar sana namun masih minim pihak yang menawarkan pemahaman
solusi yang efektif dan bagaimana penerapannya dengan baik dan mudah.
Salah satu dari sekian tantangan yang dibawa oleh wabah berkaitan dengan
sistem pembelajaran daring ini, para siswa SMP menjadi salah satu kelompok yang
mengalami dampak negatif pelaksanaan pembelajaran daring. Sekolah Menengah
Pertama yang disingkat dengan SMP merupakan jenjang pendidikan dasar pada
pendidikan formal di Indonesia setelah lulus sekolah dasar (atau sederajat). Sekolah
menengah pertama ditempuh dalam waktu 3 tahun, mulai dari kelas 7 sampai kelas
9.Lulusan sekolah menengah pertama dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah
menengah atas atau sekolah menengah kejuruan (atau sederajat).Pelajar sekolah
menengah pertama umumnya berusia 13-15 tahun.
Penelitian yang dilaksanakan oleh Robandi & Mudjarin (2020), bahwa
motivasi belajar siswa SMP Di Bukittinggi pada pembelajaran berbasis daring,
sebesar 11% siswa berada pada kategori sangat tinggi, 38% siswa berada
pada kategori cukup, 27% siswa berada pada kategori motivasi sedang dan 24%
siswa berada pada kategori motivasi rendah. Dari hasil ini dapat diketahui
bahwa pencapain hasil motivasi belajar belum maksimal. Lebih lanjut, Robandi
& Mudjarin (2020) mengungkapkan bahwa pembelajaran daring masa pandemic
COVID-19 mempunyai sebagian akibat terhadap siswa ialah: pendidikan
daring masih membingungkan siswa; siswa jadi pasif, kurang kreatif serta
produktif, penimbunan data/ konsep pada siswa kurang berguna; siswa hadapi
stress; dan kenaikan keahlian literasi bahasa siswa.
Pembatasan sosial yang diberlakukan oleh pandemi, telah menyebabkan
peningkatan stres akademik yang parah pada siswa.Ada cukup bukti untuk
menunjukkan bahwa stres terkait akademis yang parah dan berkepanjangan
memiliki efek buruk pada kinerja akademis, kesehatan mental, dan kesejahteraan
anak-anak dan remaja.Stres terkait akademik secara signifikan dikaitkan dengan
penurunan motivasi akademik siswa (Liu, 2015) dan pelepasan akademik (Liu &
Lu, 2011). Hal ini pada gilirannya membuat mereka rentan putus sekolah,
menganggur di masa depan, dan meningkatnya insiden gangguan kejiwaan seperti
depresi, kecemasan, dan gangguan penggunaan zat (Pascoe et al., 2020). Paparan
stres jangka panjang pada anak-anak dan remaja juga dapat menyebabkan
perkembangan masalah kesehatan fisik seperti sindrom metabolik, obesitas, dan
penurunan sensitivitas insulin serta penurunan angka harapan hidup (Pervanidou &
Chrousos, 2012).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sari, Permata, dkk. (2020)
menunjukkan bahwa manajemen stress dan kelola emosi berpengaruh secara
signifikan terhadap kecemasan siswa di era new normal. Sebuah penelitian
mengungkapkan bahwa keberhasilan individu dalam memanajemen stress
dipengaruhi oleh suatu hal yang dinilai kronis, situasi yang mengancam, serta
tuntutan-tuntutan yang harus dilakukan (Kassymova et al., 2018). Memasuki masa
new normal akibat pandemi COVID-19, banyak individu merasakan cemas, salah
satunya kalangan siswa.Hal ini sesuai dengan penelitian yang menjelaskan bahwa
dampak dari pandemic covid-19 ini banyak individu yang mengalami kecemasan
Ketika mengerjakan aktivitasnya (Suprabowo, 2020).
Data yang diperoleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa
Indonesia (PDSKJI) dalam Ananda & Apsari (2020), yang meneliti tentang
perkembangan psikologis masyarakat saat pandemi COVID-19 menunjukkan
bahwa 64,3 % dari 1.522 responden mengalami masalah kecemasan/stress sebagai
dampak dari adanya pandemi ini. Responden tersebut terdiri dari perempuan
sebanyak 76,1 % yang berusia dari 14 tahun-71 tahun. Mereka berasal dari
beberapa wilayah yaitu Jawa Barat (23,4 %), Jawa Tengah (15,5 %), Jawa Timur
(12,8 %), dan DKI Jakarta (16,9%).
Dampak negatif dari pembelajaran daring (Amini, 2020) adalah banyaknya
siswa yang merasa tertekan bahkan depresi karena tidak bisa mengikuti
pembelajaran dengan baik atau juga karena proses adaptasi yang berjalan lambat,
munculnya stres akademik yang berakibat pada menurunnya prestasi siswa,
kesulitan memahami pelajaran karena kondisi lingkungan yang kurang kondusif,
kurangnya interaksi antar siswa dengan teman-teman dan gurunya yang
menyebabkan siswa menjadi jenuh dan tidak bersemangat dalam mengikuti
pembelajaran, serta menyebabkan banyak siswa yang mengalami gangguan pada
matanya karena terlalu sering terpapar sinar radiasi dari monitor yang digunakan
saat pembelajaran daring berlangsung.
Data pendukung dampak negatif lainnya atas pelaksanaan pembelajaran
daring terhadap tingkat stress pada siswa adalah salah satu kasus bunuh diri yang
dilakukan oleh siswa SMP. Siswa (15th) salah satu SMP di Tarakan ditemukan
tewas gantung diri di kamar mandi tempat tinggalnya di Kelurahan Sebengkok,
Tarakan, dikarenakan stress mengerjakan tugas-tugas sekolah. Kasus ini terjadi
pada tanggal 27 oktober 2020 (diakses melalui laman:
https://republika.co.id/berita/qivw7k456/sempat-keluhkan-tugas-sekolah-siswa-di-
tarakan-bunuh-diri ). Berita lainnya yaitu, seorang siswi (16th) Sekolah Menengah
Atas (SMA) di Kecamatan Manuju, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan juga
melakukan bunuh diri diakibatkan beban tugas-tugas sekolah yang berat (diakses
melalui laman: https://www.liputan6.com/regional/read/4398726/fakta-baru-di-
balik-kasus-siswi-sma-gowa-yang-disebut-bunuh-diri-karena-tugas-daring ).
Berbagai dampak yang dialami oleh siswa SMP selama masa pandemi dan
menjalani pembelajaran secara daring ini karena mereka masuk masa remaja yang
merupakan masa-masa transisi.Masa remaja adalah masa transisi atau peralihan
dari anak-anak menuju dewasa yang di dalamnya mencakup kematangan mental,
emosional, sosial, dan juga fisik (Hurlock, Elizabeth. B. 1999 : 206). Remaja
mengalami kematangan dari segi fisik, psikologi, dan sosial. Secara psikologis,
remaja adalah usia seseorang yang memasuki proses menuju usia dewasa. Masa
remaja merupakan masa dimana mereka sudah tidak merasa bahwa dirinya anak-
anak dan sudah sejajar dengan orang lain di sekitarnya walaupun orang tersebut
lebih tua. (Hurlock, 2011).Para remaja yang biasanya sering melakukan aktivitas di
luar rumah seperti bersekolah, bermain, bersosialisasi dengan orang lain,
dll.terbatasi aktivitasnya karena harus melakukan banyak hal di rumah termasuk
sekolah di depan layar gawai mereka. . Kepribadian remaja sangat ditentukan oleh
faktor lingkungan tempat dia tinggal, apakah mendukung dia menjadi pribadi yang
lebih baik atau bahkan sebaliknya. Menurut Ali & Asrori (2006), faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi perkembangan emosi remaja diantaranya adalah
perubahan jasmani, perubahan pola interaksi dengan orangtua, perubahan pola
interaksi dengan teman sebaya, adanya perubahan pandangan luar, serta adanya
perubahan interaksi dengan sekolah seperti apa yang terlaksana di tingkatan SMP
yaitu pembelajaran daring. seperti data penelitian dan kasus yang terjadi, salah
satunya disebabkan oleh stress karena sistem pembelajaran daring yang bagi
sebagian siswa belum siap menjalaninya.
Stress merupakan perasaan yang dialami oleh seorang individu saat
menghadapi situasi yang tertekan. Menurut Cameron dan Meichenbaum, stress
terbagi menjadi beberapa macam bentuk, tergantung dari ciri-ciri individu yang
merasakannya, kemampuan untuk menghadapinya (coping skills), dan sifat stressor
yang dihadapinya. Stress adalah usaha penyesuaian diri dimana bila individu tidak
mampu mengatasinya, maka dapat memunculkan gangguan fisik, perilaku,
perasaan hingga gangguan jiwa dengan berbagai faktor seperti frustasi, konflik,
tekanan, serta krisis (Maramis & Maramis, 2012). Menur Malinda, dkk. (2020)
stress didefinisikan sebagai suatu rangsangan fisik maupun psikologis yang
menghasilkan reaksi mental dan fisiologi yang dapat menimbulkan berbagai
macam penyakit. Sedangkan secara teknis stress merupakan perusakan
keseimbangan tubuh (homeostasis) yang dicetus oleh pengalaman-pengalaman
yang tidak menyenangkan, baik pengalaman yang nyata maupun pengalaman yang
tidak nyata.
Penyebab dari munculnya stress bisa dikarenakan adanya penyaluran dari
proses penilaian kognitif yang tidak sesuai sehingga memunculkan pikiran-pikiran
negatif yang berakibat stress (Sarafino, 2008). Sedangkan menurut Tad dalam Hesi
Oktamiati dan Yossie Susanti Eka Putri (2013), faktor-faktor penyebab siswa
menjadi stress dalam proses belajar adalah sebagai berikut: 1) aspek kognitif. Bila
perkembangan kognitif belum tercapai dengan optimal, maka dapat memunculkan
pemikiran-pemikiran yang negatif seperti kebiasaan menunda, kelemahan dalam
pengambilan keputusan, kecenderungan lupa atau lemahnya daya ingat, kesulitan
untuk berkonsentrasi, kehilangan harapan, berpikir negatif, berputus asa,
menyalahkan diri sendiri dan kebingungan, 2) aspek lingkungan belajar (sekolah)
seperti lokasi, ruang belajar, fasilitas, kelengkapan sarana-prasarana, 3) elemen
sekolah, seperti guru misalnya. Sifat pribadi guru yang dapat memicu stress pada
siswanya antara lain kasar, suka marah, kurang senyum, suka membentak, sinis
atau sombong, acuh dan tidak adil. Elemen sekolah lainnya yaitu suasana atau
kondisi di sekolah selalu diwarnai oleh kompetisi di antara siswanya. Bagi siswa
yang mampu mengelola stress ia akan selalu terpacu atau terdorong oleh keadaan
demikian namun bagi siswa yang kurang mampu mengatasi keadaan tersebut maka
akan menjadikan suatu tekanan dan hubungan antara siswa di kelas yang kurang
harmonis juga dapat menimbulkan ketidaknyamanan seperti kekerasan, saling
mengejek, suka mengganggu, membuat onar, egois, sombong dan tidak adil.
Elemen terakhir adalah kurikulum.Mata pelajaran yang berstandar tinggi atau sulit,
pemadatan materi dan pelajaran tertentu contohnya pelajaran eksak dapat menjadi
sumber stress bagi siswa. 4) tugas-tugas sekolah. Tugas-tugas yang terlalu banyak
dan sulit dapat memicu terjadinya stress dikalangan siswa, hal tersebut disebabkan
tuntutan yang dihadapi tidak didukung oleh sumber daya yang dimiliki. 5) ujian,
stress sering diartikan lebih sempit sebagai perasaan terancam yang disertai usaha-
usaha yang bertujuan untuk mengurangi ancaman-ancaman yang datang, bagi
kebanyakan siswa ujian menimbulkan ancaman kegagalan yang berusaha diatasi
dengan cara belajar, pada situasi ujian sebagian besar dari mereka lupa atas apa
yang telah mereka pelajari, ketegangan dapat dijadikan salah satu alasan karena
siswa tersebut sedang cemas akan kegagalan ketika menghadapi ujian tersebut. 6)
kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan ekstrakurikuler yang padat dan banyak dapat
menjadi sumber stress, hal tersebut dikarenakan siswa tidak memiliki waktu yang
cukup dalam beristirahat sebagai upaya untuk melepaskan ketegangan fisik dan
psikologis.
Salah satu faktor penyebab tingkat stress anak remaja saat ini adalah karena
mereka mengalami kesulitan saat harus belajar di rumah akibat pandemi. Mereka
beranggapan bahwa dengan sistem daring ini, pembelajaran menjadi kurang efektif
untuk dilaksanakan. Dari survei yang dilakukan KPAI, sebanyak 79,9 % anak
berpendapat bahwa interaksi berkurang dan guru hanya memberikan tugas berat
saja sehingga anak mengalami peningkatan stress dan 20,1 % yang menganggap
adanya interaksi dalam proses pembelajaran. (liputan6.com). Ternyata, dampak
negatif dari adanya peraturan seperti Social & Physical Distancing serta PSBB,
anak-anak merasa jiwanya menjadi lebih tertekan. Menurut WHO (2019), stress
yang muncul selama masa pandemi COVID-19 bisa berupa rasa takut dan cemas
mengenai kesehatan diri dan kesehatan orang terdekatnya, pola tidur/pola makan
berubah, sulit berkonsentrasi, hingga menggunakan obat-obatan/ narkoba.
Berdasarkan permasalahan mengenai dampak pembelajaran daring selama
COVID-19 terhadap para remaja yang tergolong sebagai siswa SMP ini, diperlukan
usaha untuk pengelolaan stress untuk mengatasinya. Coping merupakan suatu
proses yang dilakukan setiap waktu dalam lingkungan keluarga, lingkungan kerja,
sekolah maupun masyarakat. Coping digunakan seseorang untuk mengatasi stress
dan hambatan–hambatan yang dialami. Lazarus dan Folkman (dalam Sarafino ;
1997) mengartikan coping adalah suatu proses dimana individu mencoba untuk
mengatur kesenjangan persepsi antara tuntutan situasi yang menekan dengan
kemampuan mereka dalam memenuhi tuntutan tersebut. Sedangkan Rasmun
mengatakan bahwa coping adalah dimana seseorang yang mengalami stres atau
ketegangan psikologi dalam menghadapi masalah kehidupan sehari-hari yang
memerlukan kemampuan pribadi maupun dukungan dari lingkungan, agar dapat
mengurangi stres yang dihadapinya. Dengan kata lain, coping adalah proses yang
dilalui oleh individu dalam menyelesaikan situasi stressful. Coping tersebut adalah
merupakan respon individu terhadap situasi yang mengancam dirinya baik fisik
maupun psikologi. (Rasmun, 2004 ; 29). Berdasarkan beberapa pengertian diatas
coping stress merupakan suatu bentuk upaya yang dilakukan individu untuk
mengatasi dan meminimalisasikan situasi yang penuh akan tekanan (stress) baik
secara kognitif maupun dengan perilaku.
Pada pelaksanaan pembelajaran selama pandemi COVID-19 ini, coping
stress menjadi suatu hal yang saling berkaitan. Hal ini berkaitan dengan bagaimana
cara siswa mengelola stressnya, dan apakah upaya coping yang dilakukan sudah
dilakukan dengan cara yang tepat. Sementara itu, hasil penelitian yang dilakukan
oleh Nwosu, dkk.(2018), menyatakan bahwa coping dan keterlibatan akademis
responden berhubungan secara signifikan karena responden penelitian lebih
mengadopsi coping yang berfokus pada masalah dan terlibat secara akademis
dalam penelitian mereka.Ini adalah pembuka mata bagi konselor sekolah tentang
bagaimana program intervensi harus disediakan dan berfokus pada masalah yang
dialami oleh individu.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi bahwa
terdapat beberapa masalah sebagai berikut:
1.2.1 Mewabahnya COVID-19 yang ditetapkan sebagai pandemi hingga
dilakukannya pembatasan aktivitas baik itu di bidang pendidikan maupun
aktivitas-aktivitas yang melibatkan kerumunan.
1.2.2 Dampak negatif yang dialami oleh para siswa SMP terkait dengan
pelaksanaan pembelajaran daring selama masa pandemi COVID-19 yaitu
stress terhadap pandemik.
1.2.3 Pentingnya coping stress bagi siswa yang mengalami stress selama
pembelajaran daring di masa pandemi COVID-19.
1.2.4 Tingginya stress akademik karena pelaksanaan pembelajaran daring selama
masa pandemi COVID-19
1.3 Cakupan Masalah
Cakupan masalah penelitian ini meliputi hubungan antara coping dan stress
akademik dengan student engagement pada siswa SMP selama masa pandemi
COVID-19 di Kota Semarang.Semua cakupan masalah tersebut bertumpu pada
fakta di lapangan bahwa: 1) banyaknya pembatasan yang dilakukan selama masa
pandemi COVID-19 mengakibatkan berkurangnya aktivitas di dalam sekolah dan
keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, 2) Pada saat ini sekolah (SMP) di
Kota Semarang melaksanakan kelas secara daring, 3) anak-anak usia remaja dapat
mengelola stressnya, dan apakah upaya coping yang dilakukan sudah dilakukan
dengan cara yang tepatberfokus pada masalah akademis..
1.4 Perumusan Masalah
1. Bagaimana kondisi stress akademik anak usia SMP di kota Semarang?
2. Bagaimana coping dalam menghadapi stress akademik yang dilakukan anak
usia SMP di kota Semarang?
3. Apakah ada hubungan antara stres akademik dan student engagement siswa
pada jenjang SMP di Kota Semarang?
4. Apakah ada hubungan antara coping stres akademik dengan student
engagement siswa pada jenjang SMP di Kota Semarang?
1.5 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mendeskripsikan kondisi stress akademik anak usia SMP di kota Semarang.
2. Mendeskripsikan coping dalam menghadapi stress akademik yang
dilakukan anak usia SMP di kota Semarang.
3. Menganalisis hubungan antara stres akademik dan student engagement
siswa pada jenjang SMP di Kota Semarang.
4. Menganalisis hubungan antara coping stres akademik dengan student
engagement siswa pada jenjang SMP di Kota Semarang.
1.6 Manfaat Hasil Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.6.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan pengetahuan bagi
para pembaca, khususnya para mahasiswa Bimbingan Konseling dalam
mengembangkan keilmuannya, terutama pengkajian tentang hubungan antara
coping dan stress academic dengan academic engagement peserta didik pada
jenjang SMP.
1.6.2 Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuanyang
bermanfaat bagi:
1) Guru BK disekolah, penelitian ini dapat menambah wawasan tentang kajian
hubungan coping dan stress akademic dengan academic engagement siswa
pada jenjang SMP.
2) Peneliti selanjutnya yang akan meneliti dengan topik yang sama, agar
penelitian ini dapat menjadi tambahan referensi.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR, DAN HIPOTESIS
2.1 Kajian Pustaka
2.1.1 Student Engagement
Trowler (2010) menyebutkan bahwa tidak ada definisi tunggal dari konsep
student engagement secara mendalam karena kompleksitas gagasan tersebut.
Coates (dalam Trowler, 2010) menjelaskan engagement sebagai konstruk luas yang
mencakup aspek akademik yang menonjol serta non-akademik tertentu dari
pengalaman siswa, seperti belajar aktif dan kolaboratif, berpartisipasi dalam
aktivitas akademik yang menantang, menjalin komunikasi dengan staf akademik,
terlibat dalam memperkaya pengalaman pendidikan, dan merasa didukung oleh
komunitas belajar sekolah. Seorang peneliti lainnya mengatakan engagement
merupakan sebuah cara penting yang mana para siswa mengembangkan perasaan
tentang teman sebaya, guru, dan institusi mereka yang memberikan mereka rasa
keterkaitan, afiliasi, dan rasa memiliki, sementara secara bersamaan menawarkan
kesempatan untuk belajar dan berkembang (Axelson & Flick, 2010).
Skinner, dkk., (1990:24) menjelaskan bahwa engagement Inisiasi upaya,
tindakan, dan kegigihan seseorang dalam pekerjaan serta keadaan emosi selama
mengerjakan sebuah pekerjaan. Rashedi, dkk., (2015:127) menjelaskan secara
ilmiah, engagement digambarkan sebagai energi dalam sebuah tindakan, dimana
mempunyai keterkaitan antara individu dan aktivitas. Setiap orang yang memiliki
engagement dengan suatu aktivitas tertentu, maka akan memiliki kekuatan untuk
melakukan berbagai hal dalam aktivitas tersebut. Hal ini, menjadi dasar peneliti
untuk mengaitkan antara academic dengan engagement, sehingga menciptakan
sebuah definisi tentang academic engagement.
Menurut Steinberg (dalam Suarez-Orosco, dkk., 2013:738) academic
engagement adalah tingkatan sejauh mana mahasiswa atau pelajar ‘terhubung’
dengan apa yang ada di dalam kelas atau perkuliahan. Terhubung yang dimaksud
oleh Steinberg adalah mahasiswa atau pelajar memperhatikan materi perkuliahan
yang ada di dalam kelas, mengerjakan tugas baik tugas individu ataupun kelompok,
dan juga keaktifan mahasiswa atau pelajar di dalam kelas.Besar atau kecilnya
keterhubungan mahasiswa dengan perkuliahan yang ada sangat berpengaruh
terhadap performa akademis.
Menurut Abolmaali, dkk. (2014:226) keterlibatan akademis adalah usaha
dan partisipasi lebih mahasiswa dalam kegiatan akademik untuk mencapai hasil
kemajuan dalam pendidikan. Hasil kemajuan dalam pendidikan mahasiswa yang
dimaksud seperti lulus dari perguruan tinggi, menyelesaikan pendidikan sarjana
atau master dalam jangka waktu tertentu, dan meraih nilai tertinggi dalam setiap
mata kuliah yang dijalankan. Menurut Linnenbrink dan Pintrich (dalam
Abolmaalidkk., 2014:226) ada beberapa dimensi dalam academic engagement
yaitu perilaku, afeksi, dan emosi.
Jimmerson (dalam Hart, Stewart, & Jimmerson, 2011) menyebutkan student
engagement diidentifikasikan sebagai variabel primer dalam memahami dropout
dan mempengaruhi keputusan akhir untuk menarik diri.Trowler (2010)
mendefinisikan student engagement sebagai interaksi antara waktu dan usaha dari
siswa maupun sekolah, dimaksudkan untuk mengoptimalkan pengalaman siswa
dalam meningkatkan hasil pembelajaran dan prestasi siswa di sekolah dan juga
reputasi dari sekolah. Veiga, dkk (2012) mendefinisikan student engagement
sebagai pengalaman dari ikatan siswa kepada sekolah dalam aspek yang spesifik,
seperti kognitif, afektif, behavioral, dan instansi (siswa sebagai agen dari tindakan),
serta sebagai nilai untuk mengembangkan komitmen siswa kepada sekolah dan
motivasi untuk belajar.
Dari beberapa penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwastudent
engagement merupakan keterlibatan siswa yang mana siswa mencurahkan segala
usaha dan waktunya, baik secara kognisi, emosi, serta tingkah laku untuk
melakukan aktivitas kelas maupun sekolah dalam rangka mengembangkan diri dan
meningkatkan hasil belajar siswa.
2.1.1.1. Aspek-Aspek Student Engagement
Adapun aspek-aspek student engagement yang dikemukakan oleh Fredricks,
Blumenfeld, dan Paris (2004) terdiri atas tiga aspek, yaitu :
1. Behavioural engagement
Behavioural engagement didefinisikan dalam tiga cara. Behavioural
engagement dapat dilihat melalui perilaku positif, seperti mematuhi dan
mengikuti aturan/norma di dalam kelas, serta tidak melakukan perilaku buruk
seperti membolos dan mendapat masalah lainnya.Definisi kedua berfokus pada
keterlibatan dalam belajar dan tugas akademik, termasuk perilaku di dalamnya
seperti usaha, ketekunan, konsentrasi, atensi, mengajukan pertanyaan, dan
berkontribusi dalam diskusi kelas.Definisi ketiga melibatkan partisipasi yang
berhubungan dengan aktivitas sekolah, seperti olahraga dan organisasi sekolah
(Fredricks, Blumenfeld, & Paris, 2004).
2. Emotional Engagement
Emotional engagement mengarah pada reaksi afektif siswa di dalam kelas,
termasuk ketertarikan, rasa bosan, rasa bahagia, rasa sedih, dan rasa cemas.Finn
(Fredricks, Blumenfeld, & Paris, 2004) menyebutkanemotional engagement
sebagai kepemilikan (perasaan bahwa dirinya penting untuk sekolah) dan nilai
(penghargaan kesuksesan dalam hasil terkait sekolah).emotional engagement
fokus pada reaksi positif dan negatif kepada guru, akademik, atau sekolah.
Selain itu, menurut Finn & Voelkl (Fredricks & McColskey, 2012) emotional
engagement termasuk rasa memiliki, perasaan bahwa dirinya penting bagi
sekolah, perasaan berharga, atau sebuah penghargaan terhadap kesuksesan yang
berkaitan dengan sekolah
3. Cognitive Engagement
Cognitive engagement mencakup penggunaan motivasi, usaha, dan
strategi (Fredricks, Blumenfeld, & Paris, 2004).Cognitive engagement
didefinisikan sebagai tingkat investasi siswa dalam pembelajaran, mencakup
pemikiran, strategi dalam pembelajaran, dan bersedia memberikan usaha yang
diperlukan untuk memahami gagasan kompleks atau penguasaan keterampilan
yang sulit (Fredricks & McColskey, 2012). Hart, Stewart, dan Jimmerson (2011)
menyebutkan cognitive engagement mencakup persepsi dan keyakinan siswa
yang terkait dengan sekolah dan pembelajaran (misal: saya akan melakukan
dengan baik di kelas ini jika saya mencoba).
Aspek lain terkait student engagement yang dipandang sebagai gagasan
multi-dimensi juga dikemukakan oleh Appleton, Christenson, Kim, dan Reschly
(2006) yang terdiri dari :
a. Academic Engagement
Academic engagement ditandai dengan waktu siswa dalam mengerjakan
tugas, jumlah jam pelajaran, serta bagaimana siswa menyelesaikan pekerjaan
rumah.
b. Behavioural engagement
Behavioural engagement ditandai dengan kehadiran siswa, partisipasi
siswa di kelas, keaktifan di sekolah siswa, dan kegiatan ekstrakurikuler.
c. Cognitive Engagement
Cognitive engagement ditandai dengan regulasi diri, relevansi sekolah
dengan usaha di masa mendatang, nilai pembeljaran (goal setting), dan
mengatur strategi sekolah.
d. Psychological Engagement
Psychological engagement ditandai dengan rasa memiliki dan menjalin
hubungan baik dengan anggota sekolah.
Berdasarkan penjelasan mengenai aspek-aspek student engagement di
atas, dapat disimpulkan bahwa aspek student engagement yang dikemukakan
oleh Fredricks, Blumenfeld, dan Paris (2004) terdiri dari behavioural
engagement, emotional engagement, dan cognitive engagement. Sedangkan
aspek yang dikemukakan oleh Appleton. Christenson, Kim, dan Reschly (2006)
yaitu academic engagement, behavioural engagement, cognitive engagement,
dan psychological engagement. Pada dasarnya, aspek-aspek tersebut terangkum
dalam aspek yang dikemukakan oleh teori Fredricks, Blumenfeld, dan Paris (2004).
2.1.1.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Student Engagement
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi student engagement dikemukakan
oleh Kahu (2013), yaitu:
a. Pengaruh Struktural, dibagi menjadi struktural sekolah dan struktural siswa.
Struktural sekolah terdiri dari budaya, kebijakan, kurikulum, penilaian, dan
disiplin di sekolah. Struktural siswa terdiri dari latar belakang siswa,
dukungan, keluarga, serta beban hidup.
b. Pengaruh Psikososial, dibagi menjadi pengaruh psikososial sekolah dan
siswa. Pengaruh psikososial di sekolah terdiri dari praktek mengajar,
hubungan dengan warga sekolah, dan beban kerja di sekolah. Pengaruh
psikososial dari siswa merupakan pengaruh yang berkaitan dengan
psikologis dan sosial dari dalam diri siswa diantaranya terdiri dari motivasi,
kemampuan, kepribadian, dan efikasi diri.
Murray, Mitchell, Gale, Edwards, dan Zyngier (2008) membagi faktor-faktor
yang berkaian dengan student engagement menjadi dua faktor, yaitu faktor non
sekolah dan faktor sekolah.Faktor non sekolah menjadi faktor yang rentan
mengalami dis-engagement dan faktor sekolah yang merupakan faktor yang
berkaitan dengan engagement pada siswa.
Faktor non-sekolah diantaranya terdiri dari:
a. Faktor Individu
Faktor individu terdiri dari harga diri yang rendah, intelegensi yang rendah,
masalah psikologis dan psikiatrik, kesehatan fisik yang buruk dan disabilitas,
prestasi akademik yang buruk, tidak naik kelas, adanya masalah pembelajaran
secara khusus (misal kemampuan menghitung, membaca, dan menulis yang
buruk), ketidakmampuan belajar, masalah perilaku, serta sering tidak hadir ke
sekolah.
b. Faktor Keluarga
Faktor keluarga terdiri dari ukuran keluarga yang besar, disfungsi keluarga
(misal, konflik keluarga dan mendapat perlakuan kejam), perpisahan keluarga
dan pembentukan keluarga baru, mobilitas keluarga yang tinggi, terpisah dari
keluarga, orangtua yang sakit, status sosio-ekonomi yang rendah, pendapatan
dan pencapaian pendidikan yang rendah, serta orangtua atau keluarga
pengangguran.
c. Faktor Sosial
Faktor sosial terdiri dari gender-maleness, ras atau etnis Non-Anglo,
lingkungan dan karakteristik daerah (stastus sosial ekonomi yang rendah, lokasi
terpencil atau di pedesaan, norma masyarakat negatif (misal, pravelensi perilaku
anti sosial).
Faktor selanjutnya adalah faktor sekolah yang merupakan faktor yang
berkaitan dengan engagement pada siswa, diantaranya :
a. Level Sekolah
Level sekolah terdiri dari kepemimpinan sekolah, aturan sekolah,
perbandingan antara siswa dan staf, grade retention practices, campuran gender
sekolah (coeducational atau single-sex), kualitas infrastruktur sekolah, budaya
disiplin di sekolah, budaya sosial (misal toleransi keberagaman, tidak
melakukan intimidasi dan perilaku anti-sosial), pengembangan staf professional,
beban kerja dan hubungan staf, partisipasi orangtua dan masyarakat, status
sosial ekonomi siswa dan komunitasnya.
b. Level Kelas
Level kelas yang berkaitan dengan student engagement diantaranya
ukuran kelas, akses ke sumber belajar (misal, teknologi), budaya kelas,
hubungan guru dan siswa, hubungan teman sebaya, pengalaman dan
pengetahuan guru, komitmen dan moral guru, perencanaan dan perilaku guru,
kurikulum, aktivitas instruksional, dan praktek penilaian.
Berdasarkan pemaparan faktor di atas, stres akademik yang menjadi
variabel independen termasuk dalam faktor individu/personal.Adapun faktor yang
dikemukakan oleh Kahu (2013), stres akademik termasuk dalam faktor psikososial
karena berhubungan dengan psikologis dalam diri siswa.
2.1.2 Stress Akademik
2.1.2.1 Pengertian Stress Akademik
Konsep stres pertama kali dicetuskan oleh Cannon pada tahun 1930, yang
memandang stres sebagai sebuah reaksi psikologis yang mana individu
menyiapkan tindakan berupa fight or flight (Khan, 2016). Sarafino dan Smith
(2012) mendefinisikan stres sebagai keadaan dimana seseorang merasakan adanya
ketidaksesuian antara tuntutan fisik atau psikologis dalam suatu situasi dan
bersumber pada biologis, psikologis, atau sistem sosial. Bernstein (Sonia & Sarita,
2015) memandang stres sebagai proses negatif emosional, kognitif, perilaku, dan
fisiologis yang terjadi saat seseorang mencoba menyesuaikan diri dengan atau
mengatasi stresor.
Philips mengklasifikasikan stresor di sekolah kedalam dua kategori mayor
yaitu stresor pencapaian prestasi (seperti mendapat nilai yang tidak sesuai
ekspektasi, ekspektasi guru, dan pembandingan siswa dengan siswa lain) dan
stresor sosial (seperti, teman sebaya yang tidak bersahabat atau diejek dan
diintimidasi oleh teman sebaya) (Agrawal, Garg, & Urajnik, 2010). Stres
didefinisikan sebagai beban, tanggungan, tekanan, kecemasan serta kekhawatiran
(Harsha, 2017).
Stres menurut Cohen, Kesser, dan Gordon (dalam Harsha, 2017) merupakan
sebuah proses yang mana terdapat tuntutan dari lingkungan yang melebihi
kapasitas beradaptasi individu, menghasilkan perubahan secara psikologis dan
biologis yang memungkinkan seseorang beresiko mengalami gangguan, seperti
rasa cemas, depresi, dan burnout.
Menurut Nurmalasari, Yustlana, dan Ilflanda (2016), stres akademik merupakan
salah satu bagian distres yang disebabkan oleh pikiran negatif siswa terhadap tuntutan-
tuntutan akademik di sekolah. Stres akademik menurut Gupta dan Khan (Sonia &
Sarita, 2015) adalah suatu distres mental dengan mengindahkan frustasi maupun
kegagalan akademik atau bahkan kesadaran dalam mengalami kegagalan. Definisi stres
akademik lainnya dijelaskan oleh Oktamiati dan Putri (2013) merupakan stres yang
bersumberkan dari proses belajar mengajar atau hal-hal lainnya yang berkaitan dengan
aktivitas belajar yang dikenal dengan tekanan akademik dan tekanan teman sebaya.
Banerjee (Harsha, 2017) menyebutkan stres akademik muncul karena faktor akademik
seperti, jadwal sekolah yang padat, harapan dan tuntutan dari guru serta orangtua yang
tidak realistis, rendahnya prestasi akademik, kebiasaan belajar yang buruk, dan tidak
memiliki waktu yang cukup untuk membagi beberapa prioritas sekolah.
Definisi stres akademik dijelaskan oleh Desmita (2009) yaitu merupakan kondisi
atau perasaan tidak nyaman yang siswa rasakan akibat tuntutan sekolah yang dianggap
menekan, sehingga memicu terjadinya ketegangan fisik, psikologis, serta perubahan
tingkah laku yang mempengaruhi prestasi belajar.Stres akademik menurut
Nurmaliyah (2014) adalah stres berupa ketegangan-ketegangan yang bersumber
dari faktor akademik yaitu dari kegiatan belajar siswa di sekolah yang
mengakibatkan terjadinya distorsi pada pikiran siswa, mempengaruhi fisik, emosi,
dan tingkah laku.Wilks (2008).menjelaskan stres akademik merupakan hasil dari
kombinasi antara tuntutan akademik yang melebihi kemampuan adaptif dari
seseorang.
Berdasarkan beberapa pemaparan terkait definisi dari stes akademik maka
dapat disimpulkan bahwa stres akademik merupakan kondisi psikologis berupa
distres mental yang mana siswa mengalami distorsi pikiran yang diakibatkan dari
faktor akademik seperti jadwal sekolah yang terlalu padat, banyaknya tugas
sekolah, tuntutan yang berlebihan dari guru dan orangtua terkait prestasi akademik,
dan lain-lain, sehingga menimbulkan ketegangan emosi, tekanan, dan perubahan
pada emosional, kognitif, perilaku, dan fisiologis siswa.
2.1.2.2. Aspek-Aspek Stres Akademik
Adapun aspek-aspek stres yang dikemukakan oleh Sarafino dan Smith (2011)
terdiri dari dua aspek, yaitu :
a. Aspek Biologis
Setiap orang yang menghadapi suatu kondisi tertentu yang mengancam
dan berbahaya bagi dirinya dapat memunculkan reaksi fisiologis pada tubuh
terhadap stres, misalnya detak jantung yang menjadi lebih cepat (Sarafino &
Smith, 2011).Reaksi fisiologis lainnya menurut Yumba (2008) ditandai dari
perilaku seseorang seperti tangan dan kakinya terasa dingin, berkeringat, perut
terasa tidak karuan.Stres akademik berhubungan kuat dengan simptom
psikosomatis, seperti sakit kepala dan sakit pada bagian perut, dirasakan
setidaknya satu minggu sekali yang dapat menggangu kesehatan dan
kesejahteraan mereka untuk kedepannya (Hesketh, Zhen, Dong, Jun, & Xing,
2010). Serangkaian reaksi fisiologis disebut dengan General Adaption Syndrom
(GAS), yang terdiri atas tiga tahap, yaitu pertama alarm reaction merupakan
tahap pertama respon tubuh (fight or flight) bahaya yang berguna untuk
memobilisasi sumber daya tubuh. Kedua, stages of resistance, merupakan tahap
dimana tubuh mulai beradaptasi dengan stresor, namun pada tahap ini individu
dapat rentan terhadap masalah kesehatan. Ketiga, stages of exhaustion,
merupakan ketegangan fisiologis dimana tubuh tidak mampu bertahan melawan
stressor sehingga membuat kekebalan tubuh menjadi menurun dan
menyebabkan stres.
b. Aspek Psikososial
Stresor dapat menghasilkan perubahan-perubahan psikologis serta sosial
dari individu, perubahan tersebut antara lain:
1. Kognitif
Stres dapat mengganggu fungsi kognitif dengan mengalihkan perhatian
individu.Putwain (Sarafino & Smith, 2011) menjelaskan bahwa kognitif
berkaitan dengan ingatan, kesulitan dalam berkonsentrasi, mudah lupa, dan
ketidakmampuan dalam pemecahan masalah.Selama stres mencerminkan bahwa
stres dapat mengalihfungsikan sumber daya kognitif.
2. Emosi
Emosi cenderung membarengi stres dan orang sering menggunakan
keadaan emosional mereka untuk menilai kondisi stres yang dialami.Stres
menimbulkan perasaan takut sebagai reaksi emosi umum yang sering dialami
oleh individu, merasa cemas, merasa sedih, merasa marah karena frustasi yang
dapat menyebabkan perilaku agresif, hingga merasa depresi.
3. Perilaku Sosial
Stres dapat mengubah perilaku seseorang terhadap orang lain. Seseorang
yang merasa berada dalam situasi stres menjadi kurang ramah dan tidak peka
terhadap kebutuhan orang lain (Cohein & Spacapan, dalam Sarafino & Smith,
2011). Ketika stres dan rasa marah disatukan dapat meningkatkan perilaku sosial
yang negatif seperti perilaku agresif dan cenderung bermusuhan dengan orang
lain.
Agrawal, Garg, dan Urajnik (2010) menjelaskan terdapat empat domain
stresor di sekolah, yaitu :
a. Academic
Domain ini ditandai dengan aktivitas kelas yang berkaitan dengan pelajaran dan
tugas di sekolah.
b. Peer Interaction
Domain ini ditandai dengan interaksi siswa dengan siswa lainnya atau persepsi
siswa tentang teman sebayanya terhadap mereka, seperti siswa berbicaradengan
siswa lainnya, siswa mengolok-ngolok maupun menyalahkan siswa lainnya.
c. Teacher
Domain ini ditandai dengan interaksi siswa dengan guru ataupun persepsi
tentang sikap guru terhadap siswa, seperti guru yang mengoreksi siswa.
d. Discipline
Domain ini ditandai dengan perasaan taat dan patuh ataupun melanggar
aturan/tata tertib sekolah yang dilakukan oleh siswa di sekolah.
Sinha, Sharma, dan Mahendra (2001) menyebutkan lima komponen yang
mengindikasikan stres akademik, yaitu :
a. Kognitif
Komponen kognitif ditandai dengan sulitnya berkonsentrasi, mudah lupa,
banyak berkhayal, kesulitan dalam penyelesaian masalah, tidak menjawab,
meragukan kemampuan diri sendiri, dan ragu untuk bertanya.
b. Afektif
Komponen afektif ditandai dengan perasaan rendah diri, kurang percaya diri,
merasa berada dibawah tekanan, merasa gagal, khawatir atas harapan orangtua,
dan merasa bersedih.
c. Fisiologis
Komponen fisiologis ditandai dengan merasa sakit kepala, gugup, hilangnya
nafsu makan, sulit tidur, dan jantung berdetak cepat.
d. Sosial/interpersonal
Komponen sosial/interpersonal ditandai dengan merasa kesal dengan banyak
orang, orang lain tidak memberikan pertolongan, hilangnya minat berinteraksi
dengan orang lain, suka menyendiri, dan tidak ada seorangpun yang memahami
diri.
e. Motivasi
Komponen motivasi ditandai dengan hilangnya rasa minat, tidak nyaman
dengan kegiatan ekstrakurikuler, kesulitan menyelesaikan pelajaran, mudah
merasa bosan, merasa tidak ingin melanjutkan pelajaran, hilangnya keinginan
untuk pergi ke sekolah, dan mudah mengantuk.
2.1.3 Coping Stress
2.1.3.1 Pengertian Coping
Menurut Lazaruz (1984) coping merupakan strategi untukmemanajemen
tingkah laku kepada pemecahan masalah yang palingsederhana dan realistis,
berfungsi untuk membebaskan diri darimasalah yang nyata maupun tidak
nyata.Coping umumnyadidefinisikan sebagai “upaya kognitif dan perilaku yang
terusberubah yang diperlukan untuk menguasai, mengurangi ataumentolerir
hubungan orang, lingkungan yang bermasalah” (Lazarus& Folkman, 1984:152)
dalam penelitian (Hallen, Joran and Brian,2020:79). Dengan kata lain, coping
adalah tentang bagaimana kitamengelola atau mengatasi masalah dan kesulitan.
Beberapa lebih suka membatasi konsep coping pada tanggapan sukarela; yang lain
mencakup tanggapan otomatis dan tidak disengaja dalam konstruksi coping
(Compas et al., 2001).
Weiten dan Lloyd (Farid, 2012: 221) mengemukakan bahwa coping
merupakan upaya atau usaha untuk mengelola, mengatasi dan mengurangi ancaman
karena stres yang dialami.
Berdasarkan pengertian di atas coping itu sendiri dimaknai sebagai apa yang
dilakukan oleh individu untuk menguasai situasi yang dinilai sebagai suatu
tantangan atau luka atau kehilangan atau ancaman. Jadi, coping lebih mengarah
pada yang individu lakukan untuk mengatasi tuntutan-tuntutan yang penuh tekanan
atau yang membangkitkan emosi.Coping juga merupakan suatu usaha atau upaya
yang dilakukan oleh individu untuk menghadapi, mengelola dan mengatasi situasi,
tuntutan-tuntutan, ancaman atau masalah yang sedang dihadapinya dan bagaimana
reaksi orang ketika menghadapi stres atau tekanan.
2.1.3.2 Strategi Coping Stress
Menurut penelitian Kaur (2019) coping stress mendefinisikanstres persis
sebagai respons fisiologis seseorang terhadap stimuluseksternal yang memicu
reaksi “lawan atau lari”. Manajemen stress adalah teknik dan psikoterapi spektrum
luas yang bertujuan untukmengendalikan tingkat stres seseorang, terutama stres
kronis,biasanya untuk tujuan meningkatkan fungsi sehari-hari.
Kaurmengidentifikasikan strategi yang dapat membantu
mahasiswa/siswamenghadapi stres akademik, yakni dengan cara, (1) makan
denganbaik, (2) latihan, (3) tidur nyenyak dimalam hari, (4) janganmenggunakan
alkohol, narkoba, atau tembakau. (5) tetapkan tujuanyang realistis untuk diri anda
sendiri, (6) pelajari keterampilanmanajemen stres, seperti teknik relaksasi dan
pemecahan masalah.(7) jangan menjadwalkan aktivitas secara berlebihan, (8) cari
waktuuntuk bersantai, (9) membuat jadwal aktivitas atau perencanaankegiatan, (10)
menjadi teratur, (11) bersikaplah optimis, dan (12)membangun ketahanan.
Kualitas yang membuat beberapa orang secara alami tangguhbahkan ketika
menghadapi stres tingkat tinggi, untuk membangunketahanan teens Health (2007)
merekomendasikan agar berupayamengembangkan sikap dan prilaku berikut:
1. Pikirkan perubahan sebagai tantangan dan bagian kehidupannormal.
2. Lihat kemunduran dan masalah sebagai sementara dan dapatdipecahkan.
3. Percaya bahwa bekerja menuju tujuan akan menuju kesuksesan.
4. Mengambil tindakan untuk memecahkan masalah.
5. Bangun hubungan yang kuat dengan keluarga dan teman sertamintalah
bantuan jika diperlukan.
6. Bicaralah dengan orang dewasa tentang stres yang tidakterkendali.
Berdasarkan strategi coping stress di atas mahasiswa dapatmemanajemen
keadaan stres yang dialami dengan melakukanbeberapa hal positif, mecari
dukungan sosial dan melakukanperencanaan mengatasi stres, serta memperkuat
pertahanan diridengan mengembangkan sikap dan prilaku.
Beberapa hal lain yang perlu diketahu untuk menggali lebihdalam tentang
coping stress dan strategi dasar yang digunakan dalammengatasi stres dijabarkan
dengan mengetahui jenis atau bentukcoping stress, macam-macam coping terhadap
stres, aspek-aspek strategi coping, dan faktor-faktor yang mempengaruhi strategi
coping.
2.1.3.3 Jenis atau Bentuk Coping
Lazarus dan Folkman (Sarafino, 2011:111-112) mengatakan coping dapat
memiliki dua fungsi utama yaitu dapat berupa fokus ke titikpermasalahan serta
melakukan regulasi emosi dalam merespons masalah. Lazarus membagi coping
menjadi dua kategori besar:
a. Problem-Focused Coping
Problem-Focused Coping ditujukan untuk mengurangi tuntutansituasi yang
penuh tekanan atau memperluas sumber daya untukmenghadapinya. Kehidupan
sehari-hari menyediakan banyak halcontoh coping yang berfokus pada masalah,
termasuk berhentipekerjaan yang menegangkan, menegosiasikan perpanjangan
untukmembayar sebagian tagihan, menyusun jadwal baru untuk belajar(dan
menempel untuk itu), memilih karier yang berbeda untukmengejar, mencari
perawatan medis atau psikologis, dan belajaryang baru keterampilan. Orang
cenderung menggunakan pendekatanyang berfokus pada masalah ketika mereka
percaya sumber dayamereka atau tuntutan situasinya berubah (Lazarus &
Folkman,1984). Sebagai contoh, pengasuh pasien yang sakit parahmenggunakan
mengatasi masalah yang lebih fokus pada bulan-bulansebelum kematian dari
pada saat berkabung. Pada strategi coping ini,individu akan dapat berpikir logis
dan memecahkan masalahnyadengan positif.
Folkman dan Lazarus (Safaria, Triantoro dan Saputra, 2009),
mengidentifikasikan beberapa aspek problem focused coping.
Aspek-aspek tersebut ialah:
1) Seeking informational support, yaitu mencoba untukmemperoleh informasi
dari orang lain, seperti dokter, psikolog,atau guru.
2) Confrontative coping, yaitu melakukan penyelesaian masalahsecara
konkret.
3) Planful problem-solving, menganalisis setiap situasi yangmenimbulkan
masalah serta berusaha mencari solusi secaralangsung terhadap masalah
yang dihadapi.
b. Emotion-Focused Coping
Emotion-Focused Coping ditujukan untuk mengendalikan
responsemosional terhadap situasi stres.Orang bisa mengatur responsemosional
mereka melalui perilaku dan pendekatan kognitif.Contohpendekatan perilaku
termasuk menggunakan alkohol atau narkoba,mencari emosi sosial dukungan
dari teman atau kerabat, dan terlibatdalam kegiatan, seperti olahraga atau
menonton TV, yang mengalihkanperhatian-perhatian dari masalah.Pendekatan
kognitif melibatkanbagaimana orang berpikir tentang situasi yang membuat
stres.
Folkman dan Lazarus (Safaria, dkk, 2009) mengidentifikasikanbeberapa
aspek emotion-focused coping. Aspek-aspek tesebut ialah:
1) Seeking social emotional supports, yaitu mencoba untukmemperoleh
dukungan secara emosional maupun sosial dari oranglain.
2) Distancing, yaitu mengeluarkan upaya kognitif unutk melepaskandiri dari
masalah atau membuat sebuah harapan positif.
3) Escape avoidance, yaitu mengkhayal mengenai situasi ataumelakukan
tindakan atau menghindar dari situasi yang tidakmenyenangkan. Individu
berandai jika permasalaannya pergi danmencoba untuk tidak memikirkan
mengenai masalah dengan tiduratau menggunakan alkohol berlebih.
4) Self control, yaitu mencoba untuk mengatur perasaan diri sendiri,atau
tindakan dalam hubungannya untuk menyelesaikan masalah.
5) ) Accepting responsibility, yaitu menerima untuk menjalankanmasalah yang
dihadapinya sambil mencoba untuk memikirkan jalankeluarnya.
6) Positive reappraisal, yaitu mencoba membuat suatu arti positif darisituasi
tersebut, kadang-kadang dapat bersifat religius.
Jadi suatu pendekatan kognitif, orang mendefinisikan kembalisituasi
untuk menempatkan wajah yang baik di atasnya, seperti denganmemperhatikan
hal-hal yang bisa terjadi lebih buruk, membuatperbandingan dengan individu
yang kurang kaya, atau melihat sesuatuyang baik tumbuh dari masalah.
2.1.3.4. Macam-macam Copping terhadap Stres
Coping terhadap stres itu ada yang positif atau konstruktif, dan adajuga yang
negatif. Berikut penjelasan masing-masing:
a. Coping Negatif
Menurut Weiten Lloyd (Farid Mashudi, 2012: 228), coping negative meliputi
beberapa hal.
1) Giving up (withdraw), melarikan diri dari kenyataan atau situasistress, yang
bentuknya seperti sikap apatis, kehilangan semangat,atau perasaan tak
berdaya, dan meminum-minuman keras ataumengonsumsi obat-obatan
terlarang.
2) Agresif, yaitu berbagai perilaku yang ditujukan untuk menyakitiorang lain,
baik secara verbal maupun nonverbal.
3) Memanjakan diri sendiri (indulging yourself) dengan
berperilakukonsumerisme yang berlebihan, seperti makanan yang
enak,merokok, dan menghabiskan uang untuk berbelanja.
4) Mencela diri sendiri (blaming yourself) yaitu mencela atau menilainegatif
terhadap diri sendiri sebagai respons terhadap frustrasi ataukegagalan dalam
memperoleh sesuatu yang diinginkan.
5) Mekanisme pertahanan diri (defense mechanism), yang bentuknyaseperti
menolak kenyataan dengan cara melindungi diri dari suatukenyataan yang
tidak menyenangkan, berfantasi, rasionalisasi, danover compensation.
b. Coping Positif
Coping yang konstruktif diartikan sebagai upaya-upaya untukmenghadapi
situasi stres secara sehat.Beberapa orang ahli psikologisudah lama
memperkirakan bahwa humor merupakan respons copingyang positif.Dalam hal
ini, Martin dan Lefcourt (Farid Mashudi, 2012:229) menemukan bahwa humor
berfungsi mengurangi dampak burukstress terhadap suasana hati atau perasaan
seseorang.Coping yangpositif-konstruktif ini memiliki beberapa ciri.
1) Menghadapi masalah secara langsung, mengevaluasi alternatif
secararasional dalam upaya memecahkan masalah tersebut.
2) Menilai atau mempersepsi situasi stress didasarkan kepadapertimbangan
yang rasional.
3) Mengendalikan diri (self control) dalam mengatasi masalah yangdihadapi.
2.1.3.5. Aspek-aspek Strategi Coping
Carver, Scheir, dan Wientraub, (1989) menyebutkan aspek-aspekstrategi
coping, yaitu:
a. Keaktifan diri, suatu tindakan untuk mencoba menghilangkan
penyebabstres atau memperbaiki akibatnya dengan cara langsung.
b. Perencanaan, memikirkan tentang bagaimana mengatasi penyebab
stresantara lain dengan membuat strategi untuk bertindak,
memikirkantentang langkah upaya yang perlu diambil dalam menangani
suatumasalah.
c. Kontrol diri, individu membatasi keterlibatannya dalam aktifitaskompetisi
atau persaingan dan tidak bertindak terburu-buru.
d. Mencari dukungan sosial yang bersifat instrumental, yaitu sebagainasihat,
bantuan atau informasi.
e. Mencari dukungan sosial yang bersifat emosional, yaitu melaluidukungan
moral, simpati atau pengertian.
f. Penerimaan, sesuatu yang penuh dengan stres dan keadaan
yangmemaksanya untuk mengatasi masalah tersebut.
g. Religiusitas, sikap individu menenangkan dan menyelesaikan
masalahsecara keagamaan dalam hubungannya secara vertikal kepada
Tuhan.
Dapat diambil kesimpulan bahwa aspek-aspek strategi coping adalahusaha
yang dilakukan individu dalam menghadapi dan mengatasi masalahyang dialami
dengan mengoptimalkan potensi diri (keaktifan diri, perencanaan, kontrol diri, dan
penerimaan), kemudian mengoptimalkan peran lingkungan dengan mencari
dukungan yang bersifat intrumental dan dukungan sosial yang bersifat emosional,
serta usaha yang bersifat religius.
2.1.3.6. Faktor yang Mempengaruhi Strategi Coping
Taylor dan Staton (Jamaluddin, 2012), mengungkapkan bahwaindividual
differences mempengaruhi seseorang dalam mengatasi kondisi
stressfulyang pada akhirnya akan berdampak pada kesehatan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi pemilihan strategi coping, yaitu:
a. Optimism (Optimis), yaitu harapan bahwa akan terjadi hasil baik padadiri
daripada hal buruk.
b. Personal Control (Kontrol Personal), yaitu perasaan bahwa orang
dapatmembuat keputusan dan tindakan efektif untuk mendapatkan hasil
yangdiharapkan, serta menghindari yang tidak diharapkan.
c. Interpretasi positif terhadap diri sendiri serta self esteem yang tinggi.
d. Social Support (Dukungan Sosial), persepsi atau pengalaman dicintaiatau
diperhatikan oleh orang lain serta perasaan berharga dan bernilaibagi orang
lain.
Lazarus dan Folkman (Sarafino, 2011:115) mengatakan bahwastrategi coping
menunjuk pada berbagai upaya, baik mental maupunperilaku, untuk menguasai,
mentoleransi, mengurangi, atauminimalisasikan suatu situasi atau kejadian yang
penuh tekanan. Haltersebut dapat dikatakan bahwa strategi coping merupakan suatu
prosesdimana individu berusaha untuk menangani dan menguasai situasi stress
yang menekan akibat dari masalah yang sedang dihadapinya dengan
caramelakukan perubahan kognitif maupun perilaku guna memperoleh rasaaman
dalam dirinya.
Berdasarkan uraian di atas pemilihan strategi yang dilakukan olehindividu
dalam menghadapi masalah yang dialaminya dapatmempengaruhi bagaimana
kepribadian, cara mengontrol diri dan tingkatstres seseorang.
2.2 Penelitian Relevan
Sepanjang pengetahuan peneliti, telah ada beberapa penelitian yang
telahdilakukan terkait dengan penelitian yang akan peneliti lakukan, dan
adapunbeberapa penelitian yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan
ialah:
1. Penelitian yang diakukan oleh Tamrin, Abdul Kadir, Samrin dan
Syamsuddin(2019), dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa bahwa
terdapatpengaruh keadilan terhadap kinerja pegawai PNS IAIN Kendari
melaluikomunikasi sebesar 0,414 atau sebesar 44,1% artinya untuk
meningkatkankinerja pegawai PNS IAIN Kendari maka harus diawali dengan
memperbaikikualitas kebijakan pimpinan yang lebih adil dan proporsional dan
komunikasiyang lebih baik dengan pegawai PNS IAIN Kendari.
2. Penelitian yang diakukan oleh Harpreet Kaur (2019), dengan judul Strategiesfor
Coping with Academic Stress, Stress Manajemen. Hasil penelitianmenunjukan
semua peristiwa dalam hidup membawa reaksi, tetapi adaberbagai cara dimana
orang bereaksi atau menanggapinya, mengatasi stress adalah upaya untuk
mengelola atau mengatasi stres. Dalam pandangan mereka,mengatasi tidak selalu
menghasilkan kesuksesan.Mereka berkomentar bahwacoping yang sukses termasuk
menyadari kejadian dan situasi yang seseoranganggap sebagai stres, dan mengenali
penyebab stres berarti menyadaribagaimana tubuh Anda merespons stres.
Meskipun pusat konseling menasihatisetiap mahasiswa yang memanfaatkan diri
mereka sendiri untuk konselingtentang manajemen waktu, diharapkan bahwa
lokakarya, seminar dankonferensi tentang “teknik dalam mengelola stres” dan
“manajemen waktu”untuk semua mahasiswa akan sangat membantu mahasiswa
dengan caramengatasi stres.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Lakyntiew, dkk (2014) dengan judul
“StressLevel of College Students: Interrelationship between Stressors and
CopingStrategies” menunjukan hasil bahwa stres akademik berkorelasi positif
denganstrategi coping seperti mediasi, berdoa dan tidur untuk membantu
mengurangistres akademik. Sedangkan stres akademik berkorelasi negatif dengan
strategicoping seperti menggunakan obat-obatan.
4. Penelitian yang dilakukan oleh Nuriyana Sipayung (2016), dengan
hasilpenelitian yang diperoleh adalah (1) Tingkat stres dan copng stress
mahasiswapenulis skripsi Prodi BK USD Angkatan 2012 Tahun Ajaran 2015/2016
yangtermasuk dalam kategori stres tinggi berjumlah 33 mahasiswa (62%),
kategorirendah berjumlah 20 mahasiswa (38%), (2) Kategori coping stres baik
berjumlah 20 mahasiswa (38%), dan yang termasuk dalam kategori copingstres
cukup baik berjumlah 33 mahasiswa (62%). (3) Berdasarkan uji Uji T-test(Uji
Independen Sample T-Test) yang dilakukan terdapat perbedaan signifikan antara
coping stres pada mahasiswa yang tingkat stresnya tinggi dan tingkat stresnya
rendah pv 0,05(0,032<0,05). (3) berdasarkan analisis terhadap capaian skor butir-
butir pengukuran coping stress mahasiswa penulis skripsi, diperoleh 3 butir item
yang termasuk dalam kategori rendah dan digunakan sebagai dasar untuk
merumuskan usulan topik-topik coping stress.
5. Penelitian yang dilakukan oleh Indra Rukmana (2019) dengan hasil penelitianini
menunjukan bahwa variabel strategi coping dan dukungan sosial yangdigunakan
berpengaruh sebesar 16,6% dalam mengelola stres akademik,sedangkan sisanya
83,4% dipengaruhi oleh variabel lain di luar penelitian. Hasil menunjukan terdapat
3 variabel yang berpengaruh secara signifikan dalam mengelola stres akademik.
6. Penelitian yang dilakukan oleh Aina and Primardiana (2019) dengan
judul“Coping the Academic Stress: the Way the Students Dealing with
Stress”menunjukan hasil sumber stres utama sttres akademik adalah
kekhawatiranmahasiswa tentang ujian mereka dimana 60% mahasiswa stuju
dengansubskala ini. Selain itu, dalam menghadapi stres akademik, lebih dari
sepuluhmahasiswa (52,6%) sering kali menemukan rasa nyaman dalam
keyakinanspiritual dengan berdoa atau bemeditasi sambil menerima kenyataan
danmencoba menjalaninya (52,6%). Sebaliknya hanya sedikit mahasiswa
(5,3%)yang jarang menggunakan narkoba dan alkohol untuk membuat diri mereka
lebih baik.
Penelitian yang dilakukan di atas identik dengan judul yang diteliti oleh
peneliti sehingga tidak ada keraguan untuk meyakini hasil penelitian bahwa
terdapat pengaruh strategi coping stress terhadap stres akademik mahasiswa yang
mengerjakan skripsi, sebab hasilnya didukung oleh tujuh penelitian di atas.Namun
demikian tidak berarti peneliti melakukan duplikasi terhadap penelitian
sebelumnya.Penelitian yang disebutkan diatas hanya memiliki keidentikan dengan
penelitian yang peneliti lakukan, yakni membahas strategi coping stress terhadap
stres akademik mahasiswa yang mengerjakan skripdi di Jurusan Pendidikan MIPA
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Kendari.
Berdasarkan rujukan penelitian yang diambil terdapat aspek lain
yangmemiliki perbedaan dengan penelitian yang peneliti lakukan, diantaranya
sebabpenelitian/latar belakang, aspek indikator yang diteliti, lokasi dan waktu
sertapopulasi dan sampel penelitian. Sedangkan persamaan dengan penelitian
yangpeneliti lakukan diantaranya untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh
daripenelitian tersebut.
2.3 Kerangka Pikir
Peserta didik usia SMP dalam mengikuti proses pembelajaran selama
pandemic Covid-19 mengalami kendala atau hambatan,seperti kesulitan dalam
pembuatan topik atau judul penenlitian, kesulitan menemukan bahan
literature/referensi penelitian, kesulitan dalam berkomunikasi dan bertemu dengan
guru, lain sebagainya. Peserta didik dituntut untuk dapat menyelesaikan tugas –
tugas belajar dengan tepat waktu sesuaidengan aturan dan syarat yang telah
ditetapkan. Fakta-fakta tersebut menggambarkan bahwa peserta didik seringkali
mengalami kesulitan dalam penyusunan tugas yang tidak disertai dengan
pemahaman teori atau konsep pelajarannya. Masalah atau hambatan yang muncul
dan dialami oleh peserta didik tersebutdapat berdampak pada individu itu sendiri.
Apabila berbagai masalah tersebuttidak dapat diatasi dengan baik dan efektif, akan
memberikan dampak yang negatif pada individu tersebut, dan dapat menimbulkan
stres baik stres fisikmaupun stres psikologis yang dapat mengganggu kestabilan
emosi selamapembelajaran/pendidikan. Stres akademik dapat diartikan sebagai
bentukketika seseorang tidak mampu menangani tekanan dan tuntutan yang ada
makaorang tersebut akan mengalami cemas, stres pada jangka waktu yang
panjangakan memberikan dampak negatif bagi kesehatan tubuh, karena adanya
pikirandan tubuh sangat kuat, apabila pikiran tertekan maka tubuh akan menderita.
Stress akademik timbul di lingkungan pendidikan yang ditimbulkan dari tingkat
pendidikan itu sendiri.
Sumber stres juga beragam, baik sumber yang berasal dari dalam diri
individu maupun dari luar individu dan lingkungan sekitar atau komunitas
masyarakat. Begitu pula dengan faktor yang menyebabkan stres dapat berasal dari
factor biologis, psikologis dan lingkungan.Gejala yang diakibatkan pun banyak,
baikpositif maupun negatif, walaupun kebanyakan berakibat negatif.Disini
siswajuga dalam perkembangannya sering mengalami stres dalam menyusun tugas
pelajaran.
Berdasarkan hal tersebut, diperlukan suatu strategi atau cara atau upaya
untukmenghadapi dan mengatasi masalah tersebut yaitu diperlukan suatu
strategicoping yang efektif yang dapat digunakan oleh mahasiswa tingkat akhir
dalammenghadapi stres selama penyusunan tugas akhir skripsi. merupakan suatu
usahaatau upaya yang dilakukan oleh individu untuk menghadapi, mengelola
danmengatasi situasi, tuntutan-tuntutan, ancaman atau masalah yang
sedangdihadapinya dan bagaimana reaksi orang ketika menghadapi stres atau
tekanan.
Coping dimaknai sebagai apa yang dilakukan oleh individu untukmenguasai
situasi yang dinilai sebagai suatu tantangan dalam hidup. Setiapindividu pun
memiliki cara yang berbeda-beda dalam menghadapi stres, ada yangdapat
mengatasinya dengan cara efektif ada pula dengan cara yang kurang efektifsesuai
dengan kepribadian masing-masing individu. Mengatasi secara langsungdengan
mempersiapkan diri menghadapi sumber stres, ada pula yang dengan
caramenghindari, menarik diri dari sumber stres tersebut, karena faktor yang
menentukan sejauh mana strategi coping yang sering dan efektif digunakan
tergantung pada bagaimana kepribadian seseorang dan sejauh mana tingkat stress
yang dialami seseorang.
Pemahaman mengenai strategi coping yang efektif sangatlah penting
bagisiswa karena dapat dijadikan bahan acuan untuk membantu mengatasi
danmenghadapi penyebab stres (stressor) selama penyusunan tugas
pelajaran.Dalam keadaan stres, individu memiliki cara yang berbeda-beda dalam
menghadapi dan mengurangi stres, cara tersebut disebut dengan coping. Terdapat
dua jenis strategi coping yang telah disebutkan oleh Lazarus & Folkman yaitu
problem focused coping dan emotional focused coping. Dengan begitu,
dapatdikatakan bahwa stres akademik memiliki hubungan dengan coping
stress,persepsi individu mengenai stres yang dialami membedakan dalam
pemilihanstrategi coping antara satu dengan yang lainnya. Sehingga kerangka pikir
dalam penelitian ini digambarkan melalui bagan sebagai berikut:
Kondisi siswa selama
pandemi Covid-19
Stress Akademik
Student
Engagement
Coping Stress
Gambar 2.1 Kerangka Berpikir
2.4 Hipotesisi Penelitian
Hipotesis dapat dikatakan sebagai jawaban teori tehadap rumusan masalah
pada penelitian, sebelum jawaban yang empirik (Sugiyono, 2015). Berdasarkan
landasan teori dan kerangka berpikir yang telah dipaparkan, maka
dirumuskansebuah hipotesis yaitu:
1. Ada pengaruh yang positif dan signifikan strategi copingstress terhadap
stres akademik yang dialami siswa pada jenjang SMP.
2. Ada pengaruh positif dan signifikan dari stres akademik terhadap student
engagementsiswa pada jenjang SMP.
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
kuantitatif dimana pendekatan analisis menekankan analisisnya pada data-data
numerikal (angka) yang diolah dengan metode statistika Azwar (2012:5). Data-data
numerikal yang dimaksud adalah data-data yang berupa angka-angka sebagai alat
untuk menemukan keterangan atau informasi mengenai apa yang ingin diketahui
dalam penelitian ini, kemudian hasil dari data numerikal tersebut dianalisis dengan
menggunakan teknik statistik.
3.2 Desain Penelitian
Desain penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah
korelasional. Penelitian korelasional merupakan penelitian guna menentukan
hubungan antara dua atau lebih variablePurwanto(2013:17). Penelitian korelasional
bertujuan untuk menyelidiki sejauhmana variasi pada satu variabel berkaitan
dengan variabel lain, berdasarkan koefisien korelasi Azwar (2012:8).
3.3 Identifikasi Variabel Penelitian
Identifikasi variabel merupakan langkah penetapan variabel-variabel utama
dalam penelitian dan penentuan fungsinya masing-masingAzwar (2012:61). Dalam
penelitian ini terdapat dua jenis variabel yang akan diidentifikasi, yaitu variabel
tergantung (y) atau dependent dan variabel bebas (x) atau independent.
Varibel bebas (independent) merupakan variabel yang menjadi antiseden
bagi varibel tergantung, sedangkan varibel tergantung (dependent) merupakan
konsekuensi dari atau tergantung pada variabel antiseden Purwanto (2013:57).
Menurut Azwar (2012:62) variabel tergantung merupakan variabel
penelitian yang diukur untuk mengetahui besarnya efek atau pengaruh variabel
lain. Sedangkan variabel bebas merupakan suatu variabel yang variasinya
mempengaruhi variabel lain. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Variabel Bebas (Variabel X) : stres kerja
b. Variabel Terikat/ Tergantung (Variabel Y) : motivasi belajar
3.4 Hubungan antar Variabel
Penelitian ini akan mencari hubungan antara stres kerja sebagai variable
bebas dengan motivasi belajar sebagai variable tergantung. Berikut ini adalah
gambar hubungan antar variabel, yaitu:
Stres akademic (X) Coping Stres (Y1)
Student Engagement(Y2)
Gambar 3.1 Hubungan Antar Variabel
3.5 Definisi Operasional
Definisi operasional adalah suatu definisi mengenai variabel yang dirumuskan
berdasarkan karakteristik-karakteristik variabel tersebut dan dapat diamati Azwar
(2011:74).Definisi operasional dikemukakan dengan tujuan untuk memberi batasan
arti variabel penelitian untuk memperjelas makna yang dimaksudkan dan
membatasi ruang lingkup. Definisi operasional dalam penelitian ini terkait dengan
variabel stress akademik (X), coping stress (Y1), dan student engagement (Y2).
3.5.1 Stres Akademik
Stres akdemik adalah suatu bentuk respon seseorang, baik secara fisik
maupun mental, terhadap suatu perubahan di lingkungan belajar yang dipandang
sebagai suatu ancaman terhadap kemampuan belajar, keseimbangan psikologis dan
fisiologis seseorang sehingga menggerakkan, menyiagakan atau membuat aktif
dirinya.
Stres kerja diukur berdasarkan gejala-gejala stres akademik yaitu gejala
fisik, gejala fisiologis, gejala psikologis, dan gejala sosial.
3.6 Populasi dan Sampel
3.6.1 Populasi
Populasi merupakan kelompok subjek yang hendak dikenai generalisasi
hasil penelitian Azwar (2012:77). Sebagai suatu populasi, kelompok subjek ini
harus memiliki ciri-ciri atau karakteristik-karakteristik bersama yang
membedakannya dari kelompok subjek yang lain. Ciri yang dimaksud tidak hanya
tidak terbatas hanya sebagai ciri lokasi akan tetapi dapat terdiri dari karakteristik-
karakteristik individu. Pengertian lain diungkapkan oleh Purwanto (2011:56)
bahwa populasi adalah sebuah kelompok yang kepada mereka hasil-hasil penelitian
yang dilakukan hendak digeneralisasikan.
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah peserta didik di SMP
Negeri ... Kota Semarang
3.6.2 Sampel
Sampel merupakan sebagian dari populasi Azwar(2012:79). Menurut
Purwanto (2011:57) istilah sampel menunjukkan pada sebuah kelompok yang dari
padanya peneliti memperoleh informasi yang pada gilirannya akan
digeneralisasikan kepada kelompok yang lebih besar. Dalam penelitian ini,
pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling, dimana sampel yang
diambil adalah sampel yang memiliki ciri-ciri spesifik yang peneliti tentukan.
Teknik ini tergolong dalam non-probability sampling yang berarti tidak semua
anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi subjek penelitian.
Sesuai dengan tujuan penelitian, maka karakteristiknya adalah
1. Siswa kelas VIII angkatan tahun 2020-2021
2. Siswa yang masih aktif belajar
3.7 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data merupakan cara yang digunakan untuk
memperoleh data yang diteliti. Metode pengumpulan data dalam kegiatan
penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkap fakta mengenai variabel yang
diteliti Azwar(2011:91). Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui
pengaruh stres akademik terhadapcoping stress dan student engagement pada
peserta didik pada jenjang SMP. Dalam penelitian ini metode yang digunakan
adalah dengan menggunakan skala psikologi.
Sebagai alat ukur, skala psikologi memiliki karakteristik-karakteristik yang
membedakan dari berbagai alat pengumpulan data lainnya. Menurut Azwar
(2013:6-7) karakteristik tersebut adalah :
a. Stimulusnya berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung
mengungkap atribut yang hendak diukur, melainkan mengungkap indikator
perilaku dari atribut yang bersangkutan. Artinya meskipun subjek memahami
pertanyaan atau pernyataan yang diberikan, namun subjek tidak mengetahui
arah jawaban yang dikehendaki dari pertanyaan atau pernyataan yang diajukan
sehingga jawaban subjek sangat bergantung pada interpretasi subjek terhadap
pertanyaan atau pernyataan tersebut.
b. Skala psikologi selalu berisi banyak aitem. Hal tersebut karena atribut
psikologis diungkap secara tidak langsung melalui indikator-indikator perilaku,
sedangkan indikator perilaku diterjemahkan dalam bentuk aitem. Jawaban
subjek terhadap satu aitem baru merupakan indikasi mengenai atribut yang
diukur, sedangkan kesimpulan akhir baru dicapai bila semua aitem telah
dijawab subjek.
c. Respon subjek tidak diklasifikasikan sebagai jawaban yang “benar” atau
“salah”. Semua jawaban dapat diterima diberikan secara benar dan sungguh-
sungguh, hanya jawaban yang berbeda yang diinterpretasikan secara berbeda
pula.
Dalam penelitian ini, skala yang digunakan adalah skala stres akademik, skala
coping stress, dan skala student engagement.
3.7.1 Skala Student Engagement
Skala Student engagement pada siswa SMP ini berisi aitem pernyataan-
pernyataan ini disusun karakteristikStudent engagement.Pedoman pembuatan aitem
pernyataan tersusun dari penjabaran aspek menjadi indikator-indikator
keperilakuaan yang kemudian dijabarkan lagi menjadi aitem-aitem. Pedoman
pembuatan aitem pada skala Student engagement dituangkan dalam Blue
Printberikut :
Tabel 3.1 Blue Print Skala Student Engagement
Variabel Indikator No item Jumlah
F UF
Student Behavioral Enggement 1 2,5 3
Engagem
ent Emotional Engagement 6,8,9,10,11 7 6
Cognitive Engagement 13,16,17,18,19 - 5
Jumlah 14
Masing-masing aitem dalam skala ini disusun dengan empat pilihan
jawaban, yaitu Sangat Sesuai (SS), Sesuai (SR), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat
Tidak Sesuai (STS). Adapun pemberian skor dalam skala ini, setiap respon positif
terhadap aitem favorable akan diberi bobot lebih tinggi daripada respon negatif.
Sebaliknya, untuk aitem unfavorable, respon positif akan diberi skor yang
bobotnya lebih rendah daripada respon negatif. Untuk lebih jelasnya, pemberian
skor pada skala Student engagement pada siswa SMP dapat dilihat pada tabel
dibawah.
Tabel 3.2
Skor Skala Student Engagement
Pilihan Jawaban Favorable Unfavorable
Sangat sesuai (SS) 4 1
Sesuai (S) 3 2
Tidak sesuai (TS) 2 3
angat tidak sesuai (STS) 1 4
3.7.2 Skala Stres Akademik
Skala stres kerja ini berisi aitem pernyataan-pernyataan mengenai aspek-
aspek stres kerja.Pedoman pembuatan aitem pernyataan tersusun dari penjabaran
aspek menjadi indikator-indikator keperilakuaan yang kemudian dijabarkan lagi
menjadi aitem-aitem. Pedoman pembuatan aitem pada skala stres kerja ini
dituangkan dalam blue print berikut :
Tabel 3.3 Blue Print Skala Stress Akademik
No. Aspek Indikator No item Jumlah
F UF
1. Gejala Sakit kepala 1 8
fisiologis Keluar keringat dingin 2 9
Gangguan pola tidur 3 10
Cepat lelah/lesu 4 11
Sakit perut 5 12
Kaku leher 6 13
Nafsu makan berkurang 7 14 14
2. Gejala Mudah tersinggung 15 24
psikologis Cemas 16 25
Gugup 17 26
Mimpi buruk 18 27
Murung 19 28
Mudah marah 20 29
Mudah menangis 21 30
Gelisah 22 31
Putus asa 23 32 18
3. Gejala Acuh tak acuh 33 40
perilaku Mencari kesalahan orang lain 34 41
Menutup diri 35 42
Mudah ingkar janji 36 43
Menunda/menghindari
pekerjaan 37 44
Penurunan prestasi dan
produktivitas 38 45
Meningkatnya frekuensi
absensi 39 46 14
Jumlah 46
Masing-masing aitem dalam skala ini disusun dengan empat pilihan
jawaban, yaitu Sangat Sering (SS), Sering (SR), kadang-kadang (KD), dan tidak
pernah (TP). Adapun pemberian skor dalam skala ini, setiap respon positif terhadap
aitem favorable akan diberi bobot lebih tinggi daripada respon negatif. Sebaliknya,
untuk aitem unfavorable, respon positif akan diberi skor yang bobotnya lebih
rendah daripada respon negatif. Untuk lebih jelasnya, pemberian skor pada skala
stres akademik pada siswa SMP dapat dilihat pada tabel dibawah.
Tabel 3.4 Skor Skala Stres Akademik
Alternatif Jawaban Favorable Unfavorable
Sangat Sering (SS) 4 1
Sering (SR) 3 2
Kadang-kadang (KD) 2 3
Tidak Pernah (TP) 1 4
3.8 Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur
Azwar (2012: 105) mengatakan bahwa sejauh mana kepercayaan dapat
diberikan pada kesimpulan penelitian sosial tergantung antara lain pada akurasi dan
kecermatan data yang diperoleh. Akurasi dan kecermatan data hasil pengukuran
tergantung pada validitas dan reliabilitas alat ukurnya.
3.8.1 Validitas
Validitas berarti sejauh mana akurasi tes atau skala dalam menjalankan
fungsi pengukurannya. Pengukuran dikatakan mempunyai validitas yang tinggi
apabila menghasilkan data yang secara akurat memberikan gambaran mengenai
variabel yang diukur seperti dikehendaki oleh tujuan pengukuran tersebut
Azwar(2012: 8).
Mengukur validitas instrumen ada dua cara yaitu : validitas logis dan
validitas empiris. Validitas logis yaitu validitas yang diperoleh dengan suatu usaha
hati-hati melalui cara-cara yang benar sehingga menurut logika akan dicapai suatu
tingkat valid yang dikehendaki, sedangkan validitas empiris instrument dilakukan
dengan melakukan percobaan instumen pada sasaran penelitian. Langkah ini biasa
disebut dengan istilah uji coba (try-out) instrumen. Data yang didapat dari uji coba
apabila sudah sesuai dengan yang seharusnya, maka berarti instrumennya telah
baik dan valid Arikunto (2011:145).
Untuk menguji tiap-tiap item dalam skala akan digunakan teknik korelasi
Product Moment dengan bantuan SPSS for windows karena item yang digunakan
dalam penelitian ini menggunakan korelasi antara skor item dan skor total item.
Penelitian ini menggunakan pengujian dengan korelasi product moment,
(Arikunto, 2011):
(∑ 𝑋)(∑ 𝑌)
∑ 𝑥𝑦 −
𝑁
𝑟𝑥𝑦 = (∑ 𝑋)2 (∑ 𝑌)2
√{∑ 𝑥 2 − }{∑ 𝑌 2 − }
𝑁 𝑁
Keterangan :
rxy = Koefisien korelasi antara X dan Y
xy = Product dari X kali Y
N = Jumlah subyek yang diselidiki
∑xy = Jumlah asli perkalian X dan Y
∑Y = Jumlah seluruh skor Y
∑X = Jumlah seluruh skor X
3.8.2 Reliabilitas
Selain validitas, instrumen juga harus diukur reliabilitasnya. Reliabilitas
adalah sejauhmana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Hasil pengukuran
dapat dipercaya hanya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran
terhadap kelompok subjek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama, selama
aspek yang diukur dalam diri subyek memang belum berubahAzwar ( 2012: 4).
Reliabilitas skala stres akademik, coping stress, dan skala student
engagementakan menggunakan pendekatan reliabilitas konsistensi internal karena
hanya melakukan perhitungan berdasarkan data dari instrumen saja. Menurut
Azwar (2012: 42) antar item atau antar bagian dalam tes itu sendiri. Analisis
reliabilitas skala stres akademik, coping stress, dan skala student engagementakan
menggunakan teknik Alpha Cronbach dengan bantuan SPSS for Windows.
3.9 Teknik Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
analisis statistik karena tehnik ini digunakan untuk menghitung antara dua atau
lebih variabel Arikunto (2011). Analisis data dapat penelitian ini dibedakan
menjadi dua yaitu analisis dekriptif dan analisis inferensial. Analisis deskriptif
menunjukkan gambaran secara umum sebaran data penelitian yang meliputi nilai
rata-rata (mean), simpangan baku (standar deviasi), nilai tertinggi (max), nilai
terendah (min), dan jangkaun (Range).
3.9.1 Uji Asumsi Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel
pengganggu atau residual memiliki distribusi normal.Seperti diketahui bahwa uji t
dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal.Kalau
asumsi ini dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel
kecil (Ghozali, 2011).Uji statistik normalitas data menggunakan uji Kolmogorov-
Smirnov (K-S). Uji K-S dilakukan dengan membuat hipotesis:
H0 : Data residual berdistribusi normal
Ha : Data residual berdistribusi tidak normal.
3.9.2 Uji Homogenitas
Pengujian homogenitas sampel sangat penting untuk melakukan generalisasi
terhadap hasil penelitian serta penelitian yang datanya diambil dari kelompok-
kelompok yang terpisah yang berasal dari satu populasi. Uji homogenitas dilakukan
dengan menggunakan data tes dari kelompok eksperimen dan kelompok control,
lalu data tersebut diolah dengan menggunakan aplikasi SPSS kemudian diteruskan
dengan uji homogenitas dengan uji levene test, yang hasilnya dikonversikan
sebagai berikut :
Jika level signifikan (sig) > 0,05, maka data tersebut homogen
Jika level signifikan (sig) ≤ 0,05, maka data tersebut tidak homogen
3.9.3 Uji Hipotesis
Uji hipotesis penelitian berdasarkan data pengaruh variabel independen
dengan variabel dependen yaitu dengan menggunakan nilai korelasi (rxy) variabel
dependen dengan independen.Untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini
menggunakan nilai korelasi.
Hipotesis statistik yang akan di uji dalam penelitian ini adalah :
1. H0 : µ1 = µ0 = Tidak ada pengaruh variabel independen terhadap variabel
dependen.
2. H1 : µ1 ≠ µ0 = Ada pengaruh variabel independen terhadap variabel
dependen.
Untuk menguji hipotesis penelitian ini digunakan uji statistik parametrik jika
data berdistribusi normal. Apabila data tidak berdistribusi normal maka digunakan
uji statistik non parametrik. Uji hipotesis dilakukan menggunakan SPSS dengan
kriteria pengujian jika H0 tidak dapat diterima jika p-value ≤ 0,05 dan H1 diterima
(Santoso, 2014).
DAFTAR PUSTAKA
Agolla., Joseph E. dan Ongori H. 2009. An Assessment of Academic Stress Among
Undergraduate Students: The Case of University of Botswana. Educational
Research and Review Vol. 4(2),pp. 063-070,.University of Botswana.
Areepattamannil, S. (2011). Academic self-concept, academic motivation,
academic engagement, and academic achievement: a mixed methods study
of indian adolescents in canada and india. A Dissertation of Philosophy.
Ontario Canada: Queen’s University
Arikunto, Suharsini. 2011. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek edisi
Revisi XI. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Atkinson, dkk. 2010. Pengantar Psikologi. Jakarta: Erlangga
Azwar, Saifuddin. 2012. Metode Penelitian Edisi I Cetakan XIII. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar Offset.
_______________.2011. Reliabilitas dan Validitas Edisi IV Cetakan II.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.
Bilge, F., Dost T, M., & Cetin, B. (2014). Factors affecting burnout and school
engagement among high school students: study habits, self efficacy
beliefs,and academic success. Educational Sciences, Theory & Practice.
14(5), 17211727.DOI:10.12738/estp.2014.5.1727
Courtner, A. (2014). Impact of student engagement on academic performance and
quality of relationships of traditional and nontraditional students.
InternationalJournal of Education. 6 (2), 24-45.
Erten, Ismail Hakki., et al. 2014.Interaction between academic motivation and
students teachers’ academic achievement.Procedia Social and Behavioral
Sciences. 152 (2014) 173-178.
Fredricks, J. A & McColskey, W. (2012). The Measurement of Student
Engagement-A Comparative Analysis of Various Methods. Handbook of
Research onStudent Engagement. DOI 10. 1007/978-1-4614-2018-7_37
Fredricks, J. A. (2015). Academic engagement. International Encyclopedia of the
Social & Behavioral Sciences, 2nd edition, 1, 31-36. DOI: 10.1016/B978-0-
08097086-8.26085-6
Hakimzadeh, R., Besharat M. A., Khaleghinezhad, S.A., & Jahromi, R. G. (2016).
Peers’ perceived support, student engagement in academic activities, and
lifesatisfaction: a structural equations modeling approach. School
PsychologyInternational, 1-15. DOI: 10.1177/0143034316630020
Hamalik, Oemar. 2013. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Hamzah, Abdul Rahman, Esuh Ossai-Igwei Lucky & Mohd. Hasanur Raihan
Joader. 2014. Time Management, External Motivation and Students
Academic Performance: Evidence from a Malaysian Public
Universitywithin Asian Social Science, Vol.10 No. 13, 2014.
Hamzah B, Uno. 2011. Teori Motivasi & Pengukurannya Analisis di Bidang
pendidikan, Jakarta, Bumi Aksara.
Harsha, P.P. (2017). Family Environment and Academic Stress as Predictor of
Depression in Adolescents. A Dissertation Submitted to Sikkim University
Hart, S. R., Stewart, K., & Jimerson, S. R. (2011). The student engagement in
schools questionnaire (SESQ) and the teacher engagement report form-
new(TERF-N): examining the preliminary evidence. Contemporary
SchoolPsychology. 15, 65-79.
Juvonen, J., Espinoza., & Knifsend, C. (2012). The role of peer relationships in
student academic and extracurricular engagement. CA: Handbook
ofResearch on Student Engagement. DOI 10.1007/978-1-4614-2018-7_3
Kahu, E. R. (2013). Framing student engagement in higher education. Studies in
Higher Education, 38 (5), 758-773. DOI : 10.1080/03075079.2011.598505
Khan, M. J., Altaf, S., & Kasar, H. (2013). Effect of perceived academic stress on
students’ performance. FWU Journal of Social Sciences, Winter2013,
7(2),146-151
Khan, A & Alam, S. (2016). Influence of academic stress on students self concept,
adjustment and achievement motivation. Thesis for the Degree of Doctor
ofPhilosophy in Psychology. Aligarg Muslim University, India.
Kusmartini, E. Sri, 2011. Academic Motivation, Parental Education and Writing
Achievement of English Study Program Students, Sriwijaya State
Polytechinic.Sriwijaya State Polytechinic.Vol.4 No.8.
Lee, J, S. (2012). The effects of the teacher-student relationship and academic press
student engagement and academic performance. International Journal
ofEducational Research, 53, 330-340
Mahatmamya, D., Lohman, B. J., Matjasko, J. L., & Farb, A. F. (2012).
Engagement across developmental periods. S. I Christenson et al (eds).
Handbook of Research on Student Engagement. DOI 10.1007/978-1-4614-
2018-7_3
Papalia. E.Diane, Old.W. Sally, Feldman.D.Ruth. 2009. Human Development
(Psikologi Perkembangan) Bagian VI s/d IX . Jakarta: Kencana Prenada
Media Group.
Pratama, M. Riyan, 2014. Hubungan Motivasi belajar Dengan Tingkat Stres belajar
Mahasiswa Keperawatan Semester VI Stikes ‘Aisyiyah Yogyakarta.Skripsi
(Tidak diterbitkan). Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ‘Aisyiyah
Yogyakarta.
Prastowo, A. (2014). Pemenuhan kebutuhan psikologis peserta didik SD/MI
melalui pembelajaran tematik-terpadu. Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar. 1
(1), 1-13.
Pourrajab, M., Rabbani, M., & Kasmaienezhadfard, S. (2014). Different effects of
stress on male and female students. The Online Journal of Counselling
andEducation. 3(3), 31-39
Purwanto, E. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif Cetakan I. Semarang: Jurusan
Psikologi FIP UNNES.
Raufelder, D., Kittler, F., Braun, S. R., Latsch, A., Wilkinson, R. P., & Hoferichter,
F. (2013). The interplay of perceived stress, self-determination and
schoolengagement in adolescence. School Psychology International, 1-16.
DOI:10.1177/0143034313498953
Reeve, J. (2012). A self determination theory perspective on student engagement.
In: Christenson, S.L., Reschly, A.L., Wyle, C. Handbook of Research
onStudent Engagement. Springer, New York, 140-172
Reyes, M. R., Brackett, M. A., Rivers, S. E., White, M., & Salovey. (2012).
Classroom emotional climate, student engagement, and academic
achievement.Journal of Educational Psychology. 104 (3), 700-712
Santoso, S. (2014). Konsep dan Aplikasi Statistik Non Parametrik dengan SPSS.
Jakarta : Elexmedia Komputindo.
Santrock, J.W. (2011). Life-span Development: Perkembangan Masa Hidup Jilid
1Edisi ke-13. Jakarta: Penerbit Erlangga
Sarafino, E. P & Smith, T. W. (2011). Health Psychology
BiopsychosocialInteraction 7th Editon. United States of America: Wiley
John Willy & Sons,Inc.
Sinha, K. U., Sharma, V., & Mahendra K. (2001). Development of a scale
forassessing academic stress:a preliminary report. Journal of the Institute
ofMedicine, 23(1&2), 105-112.
Skinner, E. A & Pitzer, J. R. (2012). Developmental Dynamics of Student
Engagement, Coping, and Everyday Resilience. In: Christenson, S.L.,
Reschly,A.L., Wyle, C. Handbook of Research on Student Engagement.
Springer, NewYork, 21-44
Slameto. 2011. Belajar & Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka
Cipta.
Slavin, Robert E. 2009. Psikologi Pendidikan Teori dan Praktik Jilid Kedua
Terjemahan Marianto Samosir.Jakarta : PT Indeks.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung :
Alfabeta
Rifa’i, Achamad dan Catharina Tri Anni. 2011. Psikologi Pendidikan. Semarang:
UNNES PRESS.
Undang- Undang Republik Indonesia.No. 20 Tahun 2003. Tentang Sistem
Pendidikan Nasional ( Sisdiknas), Pasal 1 Ayat 1, Jakarta: Sinar Grafika,
2003.