Friendship Rivalry
Tema: Persahabatan, persaingan, kehidupan anak sekolah
Tokoh dan Penokohan:
● Nadia (Sekar) = tokoh utama, tomboy, pintar dalam hal musik
● Geo (Darren) = ketua kelas, ranking 1, pintar tapi sombong
● Vienna (Fenny) = teman Nadia, cuek tapi care sama temannya
● Mike (Jeffery) = sohib Geo, ceria, kocak
● Pak Adi (Ricky) = wali kelas yang baik dan ramah
● Putri (Jessyca) = siswi pendiam yang suka baca buku
● Gracia (Franciska) = kakak yang baik dan pengertian
● Anak 1 (Kellen)
● Anak 2 (Felisia)
● Pelajar 1 (Charles)
● Pelajar 2 (Vicka)
● Pelajar 3 (Willian)
● Pelajar 4 (Jonatan T.)
● Narator (Kenisha)
● Scriptwriter (Chatarina)
● Sutradara (Chatarina)
● Ast. Sutradara (Kenisha)
● Penata Rias (Franciska)
Properti:
● Buku
● Kertas-kertas ulangan
● Gitar
● HP masing masing tokoh
● Meja & kursi
● Kunci motor
Ket:
() = ekspresi/kegiatan/sikap
Adegan 1
Suatu pagi di SMK Santa Maria, suasana di kelas sangat ramai. Para murid
sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Beberapa dari mereka saling
mengobrol, ada juga yang membaca buku, dan ada juga yang bermain HP.
Pak Adi : (memasuki kelas)
Para Murid: (buru-buru duduk di kursinya masing-masing)
Geo : “Berdiri!” (para murid berdiri) “Beri salam!”
Para Murid: “Selamat pagi pak guru.” (kompak)
Pak Adi : “Selamat pagi semua.” (para murid kembali duduk) “Baik, buka
buku kalian. Kita lanjutkan materi kita kemarin.”
Nadia : (berlari masuk ke dalam kelas) “Maaf pak, saya terlambat.”
Pak Adi : “Nadia! kamu kenapa terlambat? Sudah, berdiri di depan kelas!”
Nadia : “Ishh, iya pak, iya.” (berdiri di depan kelas)
Pak Adi : “Oh iya, kalau tidak salah minggu kemarin bapak ada kasi kalian
tugas. Sudah dikerjakan belum?”
Para Murid: “Sudah pak.” (kompak)
Pak Adi : “Baik, kalau begitu ketua kelas tolong kumpulkan buku
teman-temannya, ya.”
Geo : (mengumpulkan buku kemudian memberikan semua bukunya pada
Pak Adi.)
Pak Adi : (memeriksa buku para murid) “Lho, punyamu mana Geo?”
Geo : “Gak kerja pak, lupa.” (tertawa santai)
Pak Adi : “Dia yg ngumpulin dia sendiri yang gk kerja, gimana sih.Ya udh
kamu ikut Nadia berdiri di depan kelas.”
Geo : “Wah jangan dong pak, mending kasi saya hukuman lari di
lapangan, sekalian olahraga pak.”
Pak Adi : “Ya udah, kamu lari keliling lapangan 100x ya?”
Geo : “Eh, eh, gk jadi deh pak, makasih. Saya berdiri di depan kelas aja.”
Pak Adi : “Lah, gimana sih. Tadi minta, dikasi gk mau.” (geleng-geleng
kepala)
Geo : (berdiri di samping Nadia)
Nadia : (cekikikan sambil ngeliat Geo)
Geo : “Apa lo liat-liat? Gw ganteng ya?”
Nadia : “Dih, ge-er.”
Pak Adi : “Geo… kamu jangan ambil kesempatan buat pdkt, berdirinya
jauhan dikit.”
Geo : “Yeuu, bilang aja pak guru iri.” (sedikit menjauh dari Nadia)
Pak Adi : (geleng-geleng kepala, lagi)
Geo & Nadia : (bertukar pandangan lalu tersenyum bareng)
Begitulah Geo dan Nadia, setiap hari ada saja masalah yang dibuat dan berakhir
mereka dihukum bersama. Karena itu, mereka jadi semakin dekat tiap harinya.
Kring kringgg…
Para Murid: (mengemas tas masing-masing)
Pak Adi : “Baik anak-anak, jangan lupa belajar untuk ulangan besok. Selamat
siang.”
Para Murid: “Selamat siang pak!” (kompak)
Pak Adi : (keluar kelas)
Adegan 2
Nadia & Geo: (menghampiri Vienna & Mike)
Mike : “Nebeng pulang Ge.”
Geo “ (melemparkan kunci motor kepada Mike) “Lo yang bawa
motornya ya.”
Mike : “Sipp, asekk bawa motor baru…”
Vienna : “Eh, ikut dong. Sekalian mabar, gimana?”
Mike : “Boleh, sekalian tu anak disamping lo diajak juga.”
Vienna : “Ikut gk? Nad. Ntar lo bonceng gw aja.”
Nadia : “Kuy lah, daripada gabut dirumah.”
Mereka berempat pun pergi ke sebuah cafe. Mereka duduk berkumpul dan
membuka sebuah permainan di handphone mereka.
Vienna : “Yess, gw MVP haha…”
Nadia : “GG”
Geo : “Halah, MVP modal carry aja bangga.”
Nadia : “Iri bilang bos.”
Geo : “Udah sore, gw mau pulang dulu ya. Mike, ikut gk?”
(menggendong tasnya)
Mike : “Ikut! Nadia, Vienna kami pulang dulu ya.” (menyimpan hpnya
dan mengikuti Geo)
Nadia & Vienna: “Bye”
Vienna : “Oh ya, besok ada ulangan kan?” (masih fokus dengan hpnya)
Nadia : “Ya, ntar malam deh gw belajar.” (menyimpan hp dan bersiap
pulang)
Vienna : “Ngapain belajar, gak masuk otak. Mending main game.” (masih
sibuk dengan hpnya)
Nadia : “Gimana sih, udahan itu mainnya, ayo pulang. Lo mau disini
sampai cafenya tutup?” (berkacak pinggang)
Vienna : “Iya iya… cerewet ihh kayak ibu-ibu” (mengikuti Nadia pulang)
Adegan 3
Keesokan harinya di sekolah, suasana kelas sangat hening karena sedang
mengadakan ulangan. Semua murid mengerjakan soal soal yang diberikan
dengan sungguh-sungguh. Walaupun ada juga yang kebingungan.
Mike : (menoleh ke arah Geo) “Woi, woi Geo, Geo! Bagi jawaban lah”
Geo : (tidak peduli dengan Mike)
Mike : “Woi! Geo, Geo!”
Pak Adi : (berjalan ke meja Mike dan menarik telinganya) “Kamu ya Mike!
Bisa-bisanya nyontek di depan bapak.”
Mike : “Alaaa alahh Pak sakit pak! Ampun pak!” (meringis kesakitan)
Pak Adi : “Waktu ulangan sudah habis. Kumpulkan jawaban kalian pada
Geo!” (melepaskan jewerannya)
Geo : (berdiri dan mengumpulkan lembar jawaban teman-temannya.
Kemudian memberikannya pada pak Adi.)
Pak Adi : (menerima kertas ulangan) “Nah, sekarang kita istirahat dulu!
Setelah istirahat nanti bapak akan berikan hasil ulangannya.”
Para Murid: (berhamburan keluar kelas)
Adegan 4
Bel istirahat berbunyi, lantai bawah dan kantin pun seketika penuh oleh para
murid yang beraktivitas. Vienna menyusuri lorong sekolah dan mendapati
Nadia sedang bermain gitar. Permainannya sangat bagus dan suaranya juga
indah.
Nadia : (bermain gitar)
Vienna : (berjalan mendekati Nadia) “Lagunya bagus!”
Nadia : “Eh, sorry Vi. Gw gak ngeliat lo soalnya lagi sibuk sama gitar nih.”
Vienna : “Gpp kok, lanjut aja mainnya. Lagu lo bagus kok.” (Vienna dan
Nadia tersenyum bersama)
Geo : (berjalan melewati mereka dengan tangan terlipat) “Berasa jadi
artis ya? Sok sokan nyanyi. Pamer aja terus.” (iri)
Nadia : “Bacot”
Vienna : “Udah udah, orang kayak gitu gak usah diladenin.”
Nadia : “Iya, bodo amat juga”
Adegan 5
Bel masuk kelas berbunyi. Kelas menjadi sunyi ketika pak Adi datang
membagikan hasil ulangannya. Semua murid langsung heboh saat mengetahui
hasil ulangan mereka masing-masing.
Vienna : (mendatangi Nadia) “Lo kenapa murung gitu?”
Nadia : “Gw dapat 67, gimana nih? Padahal gw udah belajar tapi tetap gak
tuntas.” (raut wajah masam) “Btw, lo dapat berapa?”
Vienna : “Uhh… 92?? Kayaknya sih tuntas”
Nadia : “HAHH??” (terkejut dan melihat hasil ulangan Vienna) “Kok bisa
sih? Padahal lo gak pernah belajar, gak pernah dengerin di kelas
juga. Lo nge-cheat ya?”
Vienna : “Yeuu, enak aja. Gw cuma jawab asal. Jadi anggap aja
keberuntungan tahunan gw kepake semua kali ini.”
Nadia : “Ishh… gak adil ini mah namanya.” (kesal)
Geo : (datang bersama Mike dan melihat hasil ulangan Nadia) “Ck ck
ck… Ulangan segampang ini aja lo gak tuntas? Hahahahahaa. Nih
lihat dong gw, dapat 100.”
Nadia : “Sombong banget sih! Mentang-mentang ranking 1.”
Mike : “Tau nih, nilai 100 bukannya bagi-bagi. Nilai gw jadi 40 nih.”
(ikutan kesal)
Vienna : “Itu mah emg lo nya aja yang kebangetan.” (cibirnya pada Mike
dengan pelan)
Geo : “Makanya kalian tuh belajar yang bener. Salah kalian sendiri nilai
jelek.”
Putri : (merasa sedikit terganggu dengan keributan itu) “Geo, kamu
jangan sombong gitu. Bukan kamu aja kok satu-satunya
disini yang dapat nilai 100.”
Geo : “Dih, apaan sih? Gak usah sok bijak deh. Heh! Anak culun! Cuma
ranking 3 gak usah sok gitu deh.”
Putri : (menundukan kepala dan diam)
Geo : “Au ah, males gw disini” (mendorong Putri) “minggir”
Nadia : (membantu Putri berdiri) “Geo! Lo itu udah keterlaluan tau!!”
Geo : (terus berjalan tidak peduli dengan teman-temannya)
Mike : “Aduhh… tu bocah emang rada-rada ya. Sorry Nad, Putri juga.
Anak itu emg kadang suka ngeselin. Jangan dimasukin ke hati ya?”
(mengejar Geo dan mengikutinya pergi)
Nadia : “Kamu gak papa, Put?”
Putri : “Iya, gapapa kok. Aku mau ke perpus dulu ya.”
Nadia : “Okay, bye.” (menoleh ke arah Vienna) “Vi, ikut gw yok.”
Vienna : “Kemana?” (bermain hp)
Nadia : “Yaelah ni anak ternyata dari tadi main hp. Temennya kena bully
bukannya ditolongin”
Vienna : “Yang bertengkar kalian kenapa gw harus ikut campur???”
Nadia : “Astagaaa… Lo tuh cuek nya kebangetan” (merebut hp Vienna)
“Udah ah, lo ikut gw aja. Gw lagi bete nih” (beranjak pergi)
Vienna : “Iya iyaa, tapi hp gw balikin dulu sini” (mengejar Nadia)
Adegan 6
Hari Minggu tiba. Seperti biasa, banyak orang yang menghabiskan hari Minggu
dengan bersantai atau pun pergi bermain. Nadia dan Vienna salah satunya.
Mereka kini sedang berada di sebuah taman, bersantai sambil bermain gitar.
Nadia : (memainkan gitar)
Vienna : (ikut bernyanyi bersama Nadia)
Anak 1 : “Wahh… lihat itu! Kakak itu suaranya bagus ya.” (menunjuk ke
Nadia dan Vienna)
Anak 2 : “Ayo kesana”
Anak 1 : “Ayo ayo” (berlari ke tempat Nadia diikuti oleh anak-anak
lainnya)
Vienna : “Eh liat tuh, fans lo datang. Hahaha. Banyak juga ya?”
Nadia : (menghentikan nyanyiannya sebentar namun masih bermain gitar)
“Iya dong, siapa dulu artisnya” (tertawa bersama Vienna lalu
lanjut bernyanyi)
Ditengah keseruan mereka, Geo dan Mike yang kebetulan juga sedang berada di
taman tersebut lewat dan melihat Nadia dan Vienna yang tengah bernyanyi
dikelilingi oleh anak kecil. Geo yang melihat itu merasa iri dan memutuskan
untuk menghampiri mereka.
Geo : (mendatangi Nadia)
Anak-anak : “Lariii… ada kakak serem… Hahahaha” (berlari ke tempat lain)
Geo : (kesal)
Nadia : “Yahh… mereka pergi… Lo sih Geo.”
Geo : “Dih, sok.”
Nadia : “Apaan sih, ngerusak mood orang aja”
Geo : “Lo tuh yang ngerusak mood gw. Lagu lo gak enak, sakit telinga
gw dengarnya”
Vienna : “Telinga lo aja kali yang rusak. Gini-gini Nadia punya banyak
subscriber di Youtube nya karena sering cover lagu”
Geo : “Suaii!!”
Nadia : “Napa? Iri?”
Geo : “Ge-er!!” (pergi dari mereka dengan wajah kesal. Mike
mengikutinya)
Mike : “Ge, stop bentar”
Geo : “Apaan lagi sih?”
Mike : “Lah? Harusnya gw yang nanya. Lu tuh kenapa? Gw tau sifat lo
dari dulu emang buruk tapi lo udah keterlaluan sama Nadia. Dia
gak ada salah apa-apa kenapa lo selalu nyari masalah ama dia?
Masa iya lo iri sama Nadia?”
Geo : “Apa lo bilang?!!” (mencengkram kerah baju Mike dan
menantangnya)
Mike : (sedikit takut tapi berusaha tetap berani) “Lo iri sama Nadia”
Geo : (marah) “Gak usah sok tau dan sok jadi pahlawan kesiangan deh.
Aneh-aneh aja.” (menyentak Mike dan berlalu pergi)
Mike : “Yaelah, gitu aja marah” (mencibir pelan)
Adegan 7
Sejak saat itu, setiap kali Nadia menyapa Geo, Geo selalu mengabaikannya.
Nadia yang menyadari perubahan sikapnya itu akhirnya memberanikan diri
untuk bertanya.
Nadia : (mendatangi Geo yang sedang bermain hp) “Hai, Geo”
Geo : (diam & cuek)
Nadia : “Heh, budek! Orang panggil masa gak dijawab?”
Geo : “Apaan sih!?” (kesal dan menjawab dengan kasar)
Nadia : “Ih, masa gitu sih sama temen sendiri?”
Geo : (berdiri menghadap Nadia sambil melipat tangan di depan dada)
“Teman? Emg gw anggap lo teman? Gak usah sok dekat deh.”
Nadia : “Hah? Kok lo jadi berubah gini sih? Lo ada masalah apa? Bisa kan
ngomong baik-baik?”
Geo : “Lo nya aja yang ngelunjak. Minggir!!” (menabrak Nadia dan
pergi)
Nadia : “Eh! Enak aja nabrak-nabrak orang! Jalan biasa aja apa susahnya
sih?”
Adegan 8
Suatu hari, Geo mendapat penghargaan atas prestasinya di sekolah. Semua
murid mengetahui penghargaan tersebut tak terkecuali Nadia. Nadia pun
berinisiatif mengucapkan selamat pada Geo.
Nadia : “Selamat ya, Geo.”
Geo : “Ye” (malas)
Nadia : “Kok jawabnya gitu sih?”
Geo : “Suka-suka gw lah, gak usah sok akrab deh! Gw ama lo itu beda
level. Jadi ngapain gw harus jawab lo?”
Nadia : “Dih, emang lo doang yang punya prestasi?”
Geo : “Emang prestasi lo apaan? Cuma nyanyi doang, gak guna. Lo juga
terkenal cuma modal muka. Nilai gak pernah tuntas. Ntar udah gak
punya followers lagi nangis lo.”
Nadia : “Lo!!” (mau marah tapi gak bisa) “Harus banget ya lo
ngomongnya sekasar itu.” (suara tercekat, seperti mau nangis)
Vienna : “GEO!!” (datang dari belakang Nadia dan menyentak Geo ke
belakang) “Lo udah keterlaluan! Nadia cuma mau ngasih lo ucapan
selamat. Kenapa lo jadi egois gini?”
Geo : “Gak usah ikut campur! Pergi sana!!”
Vienna : “Lo aja yang pergi! Kami maunya disini.” (menjulurkan lidah)
Geo : (melirik bentar ke arah Nadia yang nahan nangis) “Dasar manja”
(pergi meninggalkan mereka)
Vienna : (berbalik ke arah Nadia) “Lo gak papa?”
Nadia : “Iya” (menundukkan kepala) “Padahal dulu kami teman, kenapa
sekarang malah jadi kayak gini?” (berucap pelan)
Vienna : (mengusap bahu Nadia pelan)
Adegan 9
Nadia pulang ke rumah dengan perasaan kesal. Dia masih tidak terima dengan
sikap Geo kepadanya. Nadia pun memutuskan untuk curhat pada kakaknya,
Gracia tentang kejadian di sekolahnya tadi.
Nadia : (murung dan duduk terdiam)
Gracia : “Eh, dek? Kau napa?”
Nadia : “Gk kok, gpp”
Gracia : “Apanya yang gpp? Jelas-jelas mukamu masem gitu. Kenapa? Ada
masalah di sekolah?”
Nadia : “Ini gara-gara Geo tuh, Nyebelin banget jadi orang.”
Gracia : “Emangnya dia ngapain?”
Nadia : “Masa karena dia ranking 1 lalu dapat penghargaan dia
merendahkan temannya sendiri?” (kesal) “Dia ngejek aku, bahkan
sekarang dia ngejauhin aku padahal sebelumnya kami berteman.”
Gracia : “Mungkin ada alasannya kenapa sikapnya tiba-tiba berubah. Coba
pikir, sebelum ini ada masalah apa diantara kalian?”
Nadia : (berpikir sebentar) “Gak ada apa apa sih, palingan dia cuman iri
karena belakangan ini dia tau kalau aku terkenal dan sering
nyanyi.”
Gracia : “Kalau dia menjauh darimu hanya karena sebatas iri ya biarin aja.
Orang kayak gitu gak bakal berubah kalau kita ladenin pakai
kata-kata. Diemin aja, lama-lama nanti dia bakal sadar sendiri
dengan kesalahannya.”
Nadia : “Tapi dia tuh bikin aku kesal.”
Gracia : “Iya tau. Tapi kamu gak perlu emosi. Justru dia bakal senang kalau
ngeliat kau emosi kayak gini.”
Nadia : “Ya udah deh. Aku mau tidur aja.” (beranjak pergi)
Gracia : “Kerjakan dulu pr nya, baru tidur.”
Nadia : “Mager, besok pagi aja.”
Gracia : “Eitss, gk boleh. Kerjakan dulu, sekarang.” (menahan tangan
Nadia)
Nadia : “Tapi--”
Gracia : “No no no, gk ada tapi-tapian.”
Nadia : “Ishh… kak Gracia nyebelin” (masuk ke rumah sambil cemberut)
Gracia : (tertawa kecil)
Adegan 10
Semenjak hari itu, Nadia dan Geo tidak pernah bertemu ataupun bermain
bersama lagi. Mereka juga tidak pernah bertegur sapa. Hal ini membuat Nadia
merasa sepi. Nadia pun pergi ke rumah Vienna. Disana dia duduk sambil
bermain gitar, sedangkan Vienna bermain game di sebelahnya.
Nadia : (asyik bermain gitar lalu tiba-tiba berhenti, wajahnya tampak
murung) “Vienna”
Vienna : “Hmm?” (menatap hp)
Nadia : “Galau nih…”
Vienna : “Emang kenapa?”
Nadia : “Gak ada Geo rasanya gak seru, sepi rasanya. Tapi dia tuh suka
bikin kesal, jadi malas kalau mau ngajak dia.”
Vienna : (diam, masih bermain hp)
Nadia : “bete deh, lagian dia tuh gengsi banget sih jadi orang. Udah gitu
sombong pula hanya karena dia ranking 1.”
Vienna : (masih bermain)
Nadia : “Coba aja kami masih berteman kayak dulu. Rasanya bener-bener
gak enak jauhan gini. Gw kenapa ya? Padahal gw kesel ama dia
tapi kok berasa kangen?”
Vienna : (masih diam)
Nadia : (menoleh ke Vienna) “Woi, lo denger gak sih orang lagi cerita?”
Vienna : (masih belum berpaling dari hpnya) “Hah?”
Nadia : (melempar jaketnya pada Vienna) “Ni anak, orang curhat malah
main game.” (mengganggu Vienna dengan cara menghalangi
pandangannya dari hp)
Vienna : “Apaan sih? Kan jadi kalah nih, hero gw mati.” (sedikit kesal)
Nadia : “Makanya jangan main game terus, dengerin kalau ada orang
ngomong.”
Vienna : “Duhh… lo tuh makin hari makin mirip ama ibu-ibu ya.”
Nadia : “Enak aja gw disamain sama ibu-ibu. Udah ah, gw mau pulang aja.
Udah sore, ntar keburu malem sampe rumah.”
Vienna : “Oke, hati-hati di jalan ya.”
Adegan 11
Nadia : (berjalan pelan)
Mike : (tidak sengaja lewat dan menyapa) “Hai, Nadia.”
Nadia : “Oh? I-iya, hai” (terkejut)
Mike : “Lo kenapa? Kok bengong? Awas ntar kesambet lho, hahaha.”
Nadia : “Apaan sih, haha. Lo sendiri kenapa disini?”
Mike : “Gak ada apa apa sih, cuma nyari angin doang.”
Nadia : “Geo mana? Lo sendiri aja?”
Mike : “Baru aja pulang. Btw, dia juga sama kayak lo tadi. Sama-sama
murung. Heran deh ngeliat kalian. Ketemu berantem, pas pisah
malah galau.”
Nadia : “Ohh…”
Mike : “Emang kenapa nyari Geo? Kangen yaa?”
Nadia : “Ishh, gak kok. Cuman rasanya sepi aja gak ada dia.”
Mike : “Itu namanya kangen, astagaaa… Lagian kenapa kalian gak baikan
aja? Kan biar cepet kelar gitu masalahnya.”
Nadia : “Ah, percuma aja. Ntar juga dia ngejek gw lagi.”
Mike : “Geo itu sebenernya suka ama lo, dia suka berteman ama lo. Tapi
lo nya malah gak peka.”
Nadia : “Hah? Maksudnya?”
Mike : “Gkk… gw pergi dulu ya.” (berlalu pergi)
Nadia : “O-ok…” (masih bingung)
Adegan 12
Besoknya di sekolah, Mike menceritakan pertemuannya dengan Nadia kemarin
pada Geo. Selama Mike bercerita, Geo hanya diam dan tidak terlalu peduli
dengan Mike.
Mike : “Ge, lo itu denger gak sih gw cerita?”
Geo : “Denger kok”
Mike : “Gw serius ge. Nadia itu juga sama kayak lo. Dia juga ngerasa sepi
kalau gak ada lo.”
Geo : (diam)
Mike : “Lo gak sadar apa? Semenjak kalian musuhan, kalian berdua selalu
murung.”
Geo : “Terus?”
Mike : “Baikan lah sana. Emg lo suka tiap hari kayak gini terus?”
Geo : “Berisik ah”
Mike : “Terserah lo deh. Gw ngomong gini sebagai teman lo. Mendingan
lo cepat baikan ama Nadia sebelum dia jadi benci sama lo.”
Geo : (terdiam)
Adegan 13
Sejak percakapannya dengan Mike hari itu, Geo mulai menyadari kesalahannya.
Dia pun mengakui bahwa semuanya terasa sepi tanpa Nadia. Geo akhirnya
memutuskan untuk berbaikan dengan Nadia, namun Nadia yang sudah terlanjur
kesal malah menghindarinya setiap kali mereka bertemu.
Nadia : (duduk bermain hp)
Geo : (mendatangi Nadia) “Hei, Nad”
Nadia : (tidak peduli) “Apa?”
Geo : “Jangan gitu, Gw mau minta maaf nih.”
Nadia : “Hari ini lo minta maaf, besoknya ngejek lagi. Buat apa minta
maaf? Simpen aja, gw gak butuh.”
Geo : “Ndak kok, gw sadar kalau gw salah. Makanya gw mau minta
maaf.”
Nadia : “Udah ahh, pergi sana. Gw udah capek denger omong kosong lo.”
Geo : (meninggalkan Nadia dengan perasaan sedih)
Vienna : (datang dan duduk di sebelah Nadia) “Lo kenapa sih Nad? Dingin
amat ama Geo? Kasian tuh anak orang ampe kusut gitu mukanya.”
Nadia : “Bodo amat”
Vienna : “Gw tau lo kesel ama dia. Tapi belakangan ini dia udah berubah
dan itu semua juga karena lo.”
Nadia : “Gw gak peduli mau dia berubah kek atau apa kek. Suka-suka dia
aja, gw males ngadepin dia.”
Vienna : “Jangan gitu dong. Gw tau kok selama ini lo kesepian gak ada
Geo. Dia juga udah mau berubah, udah mau minta maaf. Kurang
baik apa lagi sih?”
Nadia : (berhenti main hp) “Terus gw harus gimana?”
Vienna : “Coba ngomong ama dia sekali lagi. Maafin dia, baikan, lalu
berteman lagi.”
Nadia : “Iya deh, iya” (pergi)
Adegan 14
Nadia hendak membeli jajan, namun dia justru bertemu dengan Geo. Geo yang
melihatnya pun buru-buru mengejarnya sementara Nadia hendak menghindar
lagi.
Nadia : (berbalik arah dan hendak pergi)
Geo : (menahan tangan Nadia) “Nad, tunggu dulu Nad. Ada yang mau
gw omongin ama lo.”
Nadia : (menarik napas sebentar dan berbalik pada Geo)
Geo : (tampak senang) “Nadia, gw mau minta maaf atas semua kesalahan
yang gw buat ke lo. Gw tau gw keterlaluan selama ini dan gw
minta maaf. Gw harap kita bisa kembali berteman seperti dulu lagi.
Gw gk bisa pisah ama lo terus kayak gini.”
Nadia : (terdiam sebentar) “Gw juga minta maaf, karena udah nyuruh lo
pergi tadi. Gw cuma gak mau sakit hati lagi.”
Geo : “Gw janji gw gak akan ngejek lo lagi dan temen-temen yang lain
juga. Jadi lo mau kan maafin gw?”
Nadia : “Iya, gw maafin. Mulai sekarang kita berteman lagi ya.”
(tersenyum)
Geo : (ikut tersenyum) “Makasih Nadia”
Nadia : “Ya udah, kalau gitu pulang sekolah mabar game lagi yuk.”
Geo : “Skuy, sekalian ajak yang lain juga biar ramai.”
Nadia : “Siappp…”
Bel sekolah berbunyi, mereka berdua masuk ke dalam kelas. Pulangnya Nadia,
Geo, Vienna, dan Mike pergi ke cafe dan bermain game bersama.
Suasana menjadi ramai dan menyenangkan saat kita melakukan hal bersama.
Karena persahabatan lah kita bisa berbagi suka duka bersama. Geo pun
menepati janjinya. Ia tidak pernah merendahkan temannya lagi dan menjadi
lebih rendah hati serta lebih peduli terhadap teman-temannya.
Tamat