TUGAS BAHASA INDONESIA (FILM)
XI MIPA 2
“INGATLAH HARI INI”
Penulis : Qanita Ariqah Najiyah Lubis
Sutradara : Qanita Ariqah Najiyah Lubis
M. Reza Raditya Nasution
Cameramen : M. Izaz Al Fathan
Syarifah Cahaya
Editor : M. Izaz Al Fathan
Dinda Marissa Agustina
Pemeran
Dega sebagai Glen
Reza sebagai Jafar
Dira sebagai Bu Wanti dan Dania
Aisyah sebagai Kanaya
Fara sebagai Raline
Qanita sebagai Giana
Izaz sebagai Zaros
Dinda sebagai Devi
Filza sebagai Fina dan Bu Rizka
Rafi sebagai Firhan
Duta sebagai Dimas
Prolog
Kata banyak orang masa paling indah itu masa di SMA. 3 tahun di SMA itu katanya terlalu
singkat untuk dijalani, karna sisanya akan dikenang. Aku belum pernah memikirkan
seindah dan seseru apa masa itu. Aku berharap itu benar adanya.
Aku ingin mengisinya dengan berbagai pengalaman baru yang dapat aku kenang saat telah
melewati masa itu. Bertemu dengan banyak teman, bermain bersama, belajar bersama,
menikmati jam kosong, saat melakukan kenakalan dihukum bersama. Aku ingin mengabisi
waktu itu sepenuhnya, aku tidak ingin menyesal di masa depan kelak.
Saat aku baru memasuki sekolah ini ada perasaan yang membuncah melihat semua orang
yang ada di dalamnya. Pertama-tama mungkin aku merasa takut dengan berkenalan
dengan orang baru, tapi lama – lama keseruan itu mulai terasa. Mari kita jalani keseruan
masa SMA itu.
Scene 1
Glen : (celingak- celinguk mencari keberadaan kelas) “Ini kelasnya yang mana si.”
Raline : Eh dapat kelas berapa?
Glen : “Kelas X mipa 2 nih.”
Raline : “Loh sekelas dong kita, sama nih X mipa 2.”
Glen : (menunjuk ke suatu arah) “Oh itu tuh kelasnya.”
Raline : (mengikuti langkah Glen) “Nah iya itu.”
Glen : “Namamu siapa? Aku Glen.”
Raline : “Ohh Glen, Namaku Raline.”
Glen : “Dari SMP mana Ral?”
Raline : “SMP Antasari nih, Kau dari SMP mana emang?”
Glen : “SMP Yos Sudarso.”
Raline : “Sumpah! Abangku dulu juga anak situ.”
Glen : “Nama abangmu siapa? Mana tau aku kenal.”
Raline : “Raditya, dulu anak futsal.”
Glen : “Ah kenal itumah bang Radit, sering futsal bareng juga.”
Raline : “Sempit juga ya dunia ini.”
Glen : “Pantas pas liat mu tadi kok kaya mirip seseorang, rupanya adiknya bang Radit
toh.”
Raline : “Perasaan ga mirip lah.”
Glen : “Ada miripnya sikit.”
Scene 2
Glen : (mencari kursi) “Eh ini kosong kan? Aku duduk sini ya.”
Jafar : “Duduk aja kosong kok itu.”
Glen : “Namaku Glen, namamu siapa?”
Jafar : “Namaku Jafar, sama ini namanya Firhan.”
Glen : “Ini masih lama kan yah, mabar yuk.”
Jafar : “Mabar game apa?”
Glen : “Free Fire ada kan?”
Jafar : “Ada nih, ikut ga Fir?”
Firhan : “Ikut dong.”
Glen : “Login aja dulu.”
Setelah melakukan login, mereka pun mulai bermain.
Jafar : ”Jaga atas we!”
Firhan : “Bantu woy, sekarat ini udah.”
Glen : “Sabar we, rame kali disini kocak.”
Belum mulai MPLS tapi suasananya udah kaya berteman 1 tahun lebih, ya wajar aja sih,
laki-laki bisa lebih mudah deket karna game yang dimainin.
Scene 3
Raline : “Eh sumpah ya, itu anak cowok kita belum mulai MPLS aja ributnya udah kaya apa
aja.’’
Kanaya: “Iya we, udah ribut aja.”
Raline : “Yaa, tukaran Ig yuk!”
Kanaya; “Bolehh, ini username punyaku.” (Kanaya menyodorkan hp nya ke arah Raline)
Raline : “Oke, udah ya. Ohh anak paskib toh.”
Kanaya: ”Iya kebetulan emang udah ikut paskib dari SD dan suka juga.”
Raline : ”Cocok sih, kau aja kaya tiang gini bentukannya.”
Kanaya: ”Ga setinggi itu ya Ral.”sautnya dengan nada membantah
Raline : ”Setinggi itu plss, aku udah kaya botol Yakult kalo di sampingmu.”
Kanaya: “Huuuu, dasar botol yakult.”
Raline : “Hehh, enak aja.” Berbicara dengan nada sedikit marah.
Tiba-tiba bel pun berdering, sehingga mereka harus menunda segala aktivitas dan
mengikuti rangkaian acara MPLS. Mereka makin dekat dengan di buatnya grup kelas.
Awalnya sih malu-malu, pasti lama kelamaan juga malu-maluin.
Scene 4
Setelah melewati rangkaian kegiatan MPLS, maka mereka mulai menjalani kegiatan
sekolah seperti biasanya. Kebetulan sekali mendapatkan wali kelas guru matematika,
namanya bu Wanti
Bu Wanti: “Assalamualaikum anak-anak, kalian sehat semua kan nak?
Murid : “Waalaikumsalam bu, sehat bu.”
Bu Wanti: “Jadi mungkin ibu pertama kali ingin mengatur soal fungsionaris kelas, bagi yang
ingin mengajukan diri dipersilahkan ya anak ibu.”
Murid : “Baik ibuu.”
Mereka pun mendiskusikan tentang fungsionaris kelas, dan melaksanakan dengan sistem
voting. Dan dari voting tersebut maka didapatkan hasilnya adalah Jafar sebagai ketua kelas
dan Zaros sebagai wakilnya. Raline sebagai sekretaris dan Fina sebagai bendahara.
Bu Wanti: “Oke anak-anak, karena kita sudah dapat fungsionaris kelas, maka ibu lanjutkan
dengan sistem pembelajaran dan sistem penilaian untuk mapel matematika. Ibu akan
menggunakan sistem poin untuk penilaian akhir. Poin bisa di dapat dengan banyak cara,
yang paling biasa adalah menjawab kuis harian ya anak-anak.”
Kringggg ( Bel pun bordering menandakan pergantian mapel)
Namun para murid tetap ricuh perihal sistem yang diterapkan oleh wali kelas mereka.
Raline : “Sumpah ya itu matematika kita sistem poin dari kuis? Iss bisa gila lah ini.”
Glen : “Sama gila Ral, aku pun terkejut tadi, inimah modal liat kanan kiri aja lah.”
Raline : “Ettt, jangan la bongkar-bongkar kali rahasia kita.”
Kanaya: “Iya we. Mana waktu ibu tu jelasin, gilaaa ngantuk parah, dia kaya mendongeng.”
Fina ; “Iya samaaa, aku udah terkantuk kantuk juga tadi pas ibu tu jelasin.”
Raline ; “Ih kek mana we kita setahun ama ibu tu, mana wali kelas lagi.”
Jafar : “Mau kek mana lagi Ral, masa minta tukar.”
Raline ; “Kalo bisa sih aku orang pertama yang maju.”
Firhan : “Dah gila ni.”
Glen : “Kata abang yang MPLS-in kita pun ibu tu baik, Cuma jangan macam macam aja,
soalnya nilai kita yang terancam.”
Raline : “Kuat-kuat lah kita we, guru MM biasanya gada ngasi jamkos.”
Devi : “Betul tu, agaknya hujan badai pun diterjangnya.”
Raline ; “Sumpah iya, guru MM SMP ku dulu gitu juga, udah hujan agak badai pun datang
dia dengan semangatnya.”
Devi : “Itu lah dia. Sesuai lagu aja , walau badai menerpa cintaku takkan ku lepas ( sela
Devi untuk memperamai suasana)
Glen : “Etdah bocah malah nyanyi, tapi bener sih cinta ibu tu waktu ngajar mm.”
Devi : “Kan dah ku bilang tadi looo.”
Melihat keadaan yang cukup kosong menandakan guru tersebut tidak hadir, Zaros pun
kepikiran untuk bermain uno, soalnya ia membawa kartu uno
Zaros : “Wee, main uno yuk, aku bawa nihh.” Seru Zaros dengan gembira
Raline : “gas ajalah uno kita, we ikut sini, uno dulu kitaa.”
Mereka pun mulai memainkan kartu uno, dan benar saja gurunya tidak masuk karena
kurang enak badan. Mereka bermain dengan cukup riuh karena yang ikut bermain juga
ramai. Keseruan ini salah satu yang paling ditunggu karena kapan lagi bisa mendapatkan
jam kosong dan pada main uno bukan main hp.
Scene 5
Karena terplihnya Fina sebagai bendahara kelas, Bu Wanti terkadang meminta
pertanggung jawaban atas kas setiap minggunya. Dengan begitu di tetapkan uang kas per-
minggu adalah Rp. 12.000.
Bu Wanti: “Fina boleh kesini sebentar?” panggil Bu Wanti terhadap Fina
Fina : ( Berjalan kearah meja guru ) “Ada apa ya Bu?”
Bu Wanti: “Boleh ibu liat perkembangan uang kas nya nak?”
Fina : “Boleh Bu, sebentar Fina ambil bukunya ya bu.” Izin Fina
Bu Wanti: ( Menganggukan kepalanya) “Oke Fina.”
Fina : “Ini ya Bu.”
Bu Wanti pun melihat keadaaan kas kelas X Mipa 2. Namun karena ada beberapa orang
yang belum membayar Bu Wanti segera memperingatinya
Bu Wanti: “Semuanya nanti jangan lupa bayar kas ya nak, uang kas ini juga untuk
kebutuhan kelas, dan wisata akhir semester.”
Murid : “Baik Ibuuu.” Seru anak-anak menjawab Bu Wanti.
Bu Wanti: “Raline, jangan lupa untuk mengisi absensi di kelas dan di BK ya!” seru Bu Wanti
Raline : “Baik Ibuu.” Jawab Raline, padahal aslinya ia juga ogah-ogahan mengisi absen di BK
karena malas.
Scene 6
Bu Wanti: “Baik anak-anak, kuis pertama halaman 17 no. 2a ya. 5 tercepat dapet 2 poin
Giana : “Buset soalnya buat bingung weh.”
Kanaya: “Kayaknya ini kaya gini deh Gi.”
Giana : “Oh kayaknya iya deh.”
Sedangkan Raline di sebelah Giana malah sedang menuju alam mimpinya, terkantuk
kantuk di kursinya
Giana : “Woy Lin malah tidur kocak, kerjain ini kuisnya.”
Raline : “Gi sumpah aku ngantuk parah, nanti aku liat punyamu pas udah siap aja
Giana : “Enak aja lu.” Masih berusaha membangunkan Raline dari kantuknya dengan
menjahilinya.
Terlihat ada 1 murid yang sudah dikumpul, Giana pun panik karna ia ingin mendapatkan
poin 2 juga.
Tidak berselang lama, Giana dan Kanaya dapat menyelesaikannya. Raline pun panik karna
dia menulis apapun
Raline : “Ih we, bantui lah aku dulu.” Panic Raline terhadap Giana dan Kanaya
Giana : “Nyeh panik kan lu cil.” Ejek Giana
Suasana pun menjadi riuh demi mendapatkan poin dari kuis tersebut
Scene 7
Jafar : “We, kita bakar bakar yok malming ini.”
Glen : “Boleh tu bangda, kabari aja yang lain.”
Jafar : “Ral, ajak napa orangtu bakar-bakar, di rumah siapa gitu malming ini.”
Raline : “Oke bang Ja, kita tanyak dulu ya orangni.”
Raline pun mengumumkan tentang bakar bakar tersebut
Raline : “We ketua kita ngajak bakar bakar malming ini. Ada ga we rumahnya yang bisa jadi
tempat bakar.”
Fina : “Rumah aku aja Ral, bisa nih kebetulan.”
Raline : “Nah ada nih we, ini siapapun boleh datang ya, nanti list aja di grup.”
Zaros : “Siap laksanakan bu Raline.” Seru Zaros meledek Raline
Raline pun mengeluarkan bombastic side eye nya.
Skip saat malam minggu ( bakar-bakar di rumah Fina)
Mereka pun berkumpul jam 8 malam, dan bakar-bakar di rumah Fina, tidak lupa mereka
mendokumentasi kegiatan mereka hai itu.
Devi : “Eh buset dapat L coy, maul ah macem boneka mixue ni.”
Kanaya : “Gapapa Dev, kan lucu tuh ni ai wo, wo ai ni, Mi xue bing cheng tianmi mi.” (nyanyi
Kanaya dengan lagu kebangsaan mixue)
Glen : “Ih kanayaa, nyanyi dia boy.”
Kanaya : “Apasih Glen ikut ikut, ga diajak padahal.”
Glen : “Yah ko gitu sih. Ajak aku plis.” (pinta Glen sedikit memohon)
Devi : “Ih najis kali aku liatnya.” (balas Devi dengan ekspresi jijik)
Raline : “Gapapa Dev kek balon gini, nanti kita kecilin, persiapan jadi agit ni.”
Giana : “Ay ay Raline semangat kali ni yang mo jadi kakel.’
Raline : “Ya dong, jelass.”
Devi : “Nanti ko kecili kali trus ketauan bk dikoyak baru tau.”
Raline : “Ay cari jalan aman la boy.”
Devi : “Nyehh.”
Mereka pun mulai terbiasa dengan pemkaian baju batik. Namum tetap saja ada kalanya
mereka lupa pakai batik dan malah pakai baju putih
Dimas mulai berjalan memasuki kelas tanpa menyadari ini hari memakai batik
Dimas : (membuka pintu) “Lahh salah baju.”
Jafar : “Bah Dim salah baju tu. Udah mandi blum masa lupa hari ini pake batik.”
Dimas : “Kebiasaan pake baju putih jadi lupa.”
Firhan : “Kau bang ja, manusia lo dia bisa lupa juga.”
Jafar ; “Lah manusia nya dia?”
Glen : “Ay ay bang ja gitu kali ah.”
Harap maklum saja kalau sudah para anak cowo mulai bercanda, kadang kadang suka ga
masuk akal.
Scene 8
Di saat kelas XI emang sudah masanya di penuhi oleh kerja kelompok. Sasaran ketuanya sih
pasti si juara kelas.
Giana : “Banyak kali pun kerkom kita. Sehari bisa 3 kelompok.”
Raline : “Emang pada ga wajar plis, awak dah dikejar setan dengan semua tugas ni.”
Kanaya : “Ini sih semangat bagi yang jadi ketua kelomok.”
Glen : “Alah gampangnya ituu.”
Giana : “Gigi kau itu gampang.”
Raline : “Inipun tugas kerkom cepet kali deadlinenya, macam betul aja ah.”
Giana : “Udah di gilakkan emang kita ni ah.”
Raline : “Iss kok bisa sih aku masuk sekolah sini.”
Giana : “Lah kata kau kan masuk sini karena dapet hidayah.”
Raline : “Nyesal pula aku bilang kemaren.”
Kanaya : “Sumpah masi lucu aja pas Raline bilang dia masuk sini karna hidayah.”
Giana : “Emang asbun banget dia.”
Scene 9
Mereka dikejutkan dengan berita terlaksananya ujian mid semester di kala puasa
ramadhan.
Raline : “Ih sumpah tah apa apa aja la pemerintah ini, bisa kali dibuatnya ujian pas puasa
gini
Glen : “Iya kan Ral, padahal kan orang mau tarawih.”
Firhan : “Alah Glen banyak kali cakapmu, macama tarawih aja kau.”
Dimas : “Gapapa la Firhan bagus dia taraweh.”
Jafar : “Dim percaya ko modelan Glem taraweh.”
Raline : “Ntah mana mungkin dia taraweh.”
Zaros : “Agaknya beputar la bumi ni.”
Raline : “Ya bumi berputar la, kalo diam aja kiamat cok.”
Zaros : “Lah iya juga sih.”
Jafar : “Agak gila cok emang, kemaren katanya libur sebulan.”
Raline : “Iya padahal awak dah semangat kali.”
Kanaya : “Makanya jangan senang dulu Ral.”
Mereka pun mulai ujian beberapa mapel
Diana : “Ih sumpah tah apa apa aja soal ujiannya, kek belum pernah dipelajari semua.”
Kanaya : “Ih iya weh, ga bisa kujawab jadinya.”
Giana : “Udah ngarang bebas ajaa.”
Raline : “Ah itu mah Cuma kau aja yang bisa gi.”
Glen : “Bisa lo we ngarang bebas.”
Raline : “Ah diam lah kau Glen, dah sakit ni perut aku karna mikir pas puasa gini.”
Devi : “Eh sumpah sama, aku dah hoyong kali ni, sampe rumah tepar.”
Diana : “Iya keknya sama ni, ga sanggup belajar ntuk besok.”
Glen : “Dahlah ngapai belajar.”
Raline : “Siap la boy.”
Scene 10
Waktu berjalan tanpa memberi jeda bagi siapapun. Siapa menyangka mereka sudah
memasuki kelas XII, Yaitu tahun terkahir mereka belajar di SMA sebelum menempuh dunia
perguruan tinggi.
Jafar : “Siapa sangka kita udah kelas XII we.”
Glen : “Cepat kali waktu berjalan oy, tiba-tiba dah kelas XII aja.”
Raline : “Gak tiba-tiba ya Glen, dah banyak kali tugas yang udah kita buat di sekolah ini.”
Glen : “Ih iya juga, setiap pagi pasti ngerjai pr dulu, trus keteteran.”
Giana : “Alah itu mah kau aja.”
Glen : “Apapula rata-rata orangni juga gitu.”
Saat menakutkan bagi anak kelas XII adalah saat ditanya mau masuk universitas mana dan
jurusan apa. Kalau SMA mah Cuma 2, kalo ga IPA ya IPS, tapi kalo kuliah kan banyak, belum
juga yang mau jadi abdi Negara dan lain sebagainya.
Bu Rizka : “Anak-anak karena kalian sudah kelas XII maka persiapkan diri kalian, tentukan
ingin masuk universitas mana dan jurusan apa.”
Murid : “Baik buu.”
Bu Rizka : “Dimas kamu sudah tau masuk mana?”
Dimas : “Belum bu.”
Jafar : “Masuk Dw lagi aja dim.”
Bu Rizka : “Hush Jafar ini, tapi kalo bisa jangan ya nak, di coba dulu masuk ptn.”
Dimas : “Iya bu.”
Bu Rizka : “Kalian udah kelas XII jangan banyak main-main lagi.”
Glen : “Siap bu.” (memberi hormat kepada Bu Rizka)
Bu Rizka : “Oh iya kalian jangan lupa semangat belajarnya. Ini tahun pertama diadakan UN
lagi setelah masa covid.
Dania : “Bu kami beneran kena UN?”
Bu Rizka : “Iya nak, dimulai dari tahun ini.”
Devi : “Nasib kali angkatan kami bu, selalu dijadiin kelinci percobaan.”
Bu Rizka : “Gapapa itu nak, biar kalian belajar cepat berdaptasi.”
Raline : “Tapi ini kecepatan sih bu.”
Tiba-tiba bel pun berbunyi menandakan pergantian mapel. Bu rizka pun keluar sambil
mengucapkan salam.
Scene 11
Beberapa hari kemudian Bu Rizka kembali masuk ke kelas dan membicarakan sesuatu
yang sangat tidak baik bagi anak kelas XII
Bu Rizka ; “Tital uang kas kalian udah berapa nak?”
Fina : “Kalau di total sudah 7 jutaan si bu.”
Bu Rizka : “Ibu ingin menyampaikan kabar yang kurang mengenakkan bagi kalian.’
Murid : “Apa itu bu.’
Bu Rizka : “Pemerintah baru saja mengeluarkan surat edaran bahwasannya tidak boleh
diadakannya perpisahan jalan-jalan dari sekolah,”
Raline : “Ya Allah bu, kami dari kelas 1 ga ada lo bu jalan-jalan karena dilarang sekolah.”
Bu Rizka : “Ibu pun baru dapat berita pagi ini Raline.”
Jafar : “Kalau kami jalan-jalan aja sama ibu tapi ga bawa nama sekolah boleh ga bu?”
Bu Rizka : “Tidak boleh juga Jafar, karena kalau ada bahaya sekolah akan di salahkan.”
Jafar : “Yah bu sayang kali la bu uang yang udah kami kumpul.”
Bu Rizka : “Itulah ibu pun bingung jadinya.”
Devi : “Ih bu masa kami gada kenang-kenangan di SMA.”
Bu Rizka : “Pemerintah mengeluarkan surat edaran itu karena banyaknya kecelakaan saat
jalan-jalan nak.”
Mereka semua pun merasa sedih karena mereka sama sekali tidak pernah merasakan
study tour maupun jalan-jalan perpisahan karena aturan pemerintah baru-baru ini.”
Scene 12
Bu Rizka : “Karena kalian ingin tamat sebentar lagi, ibu ingin kalian buat video pake lagu
Ingatlah Hari Ini. Ini bisa menjadi salah satu kenang-kenangan.
Jafar : “Boleh sih bu, tapi tenggatnya jangan cepat kali ya bu, biar kami enjoy juga
bikinnya.’’
Bu Rizka : “Iya nak, Ibu kasi kalian tenggat 1 bulan untuk mengerjakannya.”
Zaros : “Ok ibu, makasihh.’
Bu Rizka : “Tapi bukan berarti kalian lalai dalam pembuatannya ya nak.”
Glen : “Aman aja itu bu.
Mereka pun akhirnya mendiskusikan tentang konsep yang akan meraka tampilkan
Zaros : “Kelen mau kita pake kostum apa engga.”
Devi : “Ah gausah la, pake baju sekolah aja, atau baju pergi biasa.”
Kanaya : “Iya kalo kostum nanti keluar biaya lagi.”
Raline : “Nanti cowonya harus ikut masuk ya, awas aja kelen.” (ucapnya dengan ngegas)
Glen : “Siap mak Raline.”
Mereka pun berusaha membuat yang terbaik untuk video tersebut, ini salah satu momen
yang bisa dikenang oleh mereka di penghujung perjalanan di SMA.
Monolog
Tanpa terasa waktu terus berlalu, bayangan masa-masa SMA itu melekat di masing masing
benak mereka. Suasana canda tawa, main bareng teman-teman, cerita berita-berita yang
lagi hot. Ternyata benar kata orang, masa SMA terlalu singkat untuk keindahan yang kita
ciptakan. Aku tidak menyesalinya, hanya saja… aku ingin memutar kembali ke masa itu.
Terima Kasih kepada semua teman-temanku, karena dengan mereka, kenangan itu terasa
indah. Selamat Tinggal masa SMA-ku
~ SELESAI ~