0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
605 tayangan27 halaman

Koperasi-Kelompok 13

Makalah ini membahas tentang Koperasi Primer Sapi Perah Rakyat Mahesa Jubung di Kota Jember, Jawa Timur. Koperasi ini didirikan pada tahun 2000 dan beranggotakan 20 peternak sapi perah. Koperasi ini berperan sebagai pengepul susu sapi perah anggotanya yang kemudian didistribusikan kepada perusahaan susu. Makalah ini meninjau sejarah, struktur organisasi, aspek usaha, prinsip, strategi, permodalan, dan p

Diunggah oleh

Nurul Fauziah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
605 tayangan27 halaman

Koperasi-Kelompok 13

Makalah ini membahas tentang Koperasi Primer Sapi Perah Rakyat Mahesa Jubung di Kota Jember, Jawa Timur. Koperasi ini didirikan pada tahun 2000 dan beranggotakan 20 peternak sapi perah. Koperasi ini berperan sebagai pengepul susu sapi perah anggotanya yang kemudian didistribusikan kepada perusahaan susu. Makalah ini meninjau sejarah, struktur organisasi, aspek usaha, prinsip, strategi, permodalan, dan p

Diunggah oleh

Nurul Fauziah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Tugas Kelompok

Koperasi & Usaha Pertanian

MAKALAH
KOPERASI PRIMER SAPI PERAH RAKYAT MAHESA JUBUNG

KELOMPOK 13
1. Ananda Rachimna Zurrayda G021181041
2. Muhammad Alif Teguh Ismail G021181319
3. Nur Rahma Azizah Basmahuddin G021181330
KOPERASI & USAHA PERTANIAN A

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


DEPARTEMEN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2020

i
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah Subhana wa ta’ala yang Maha Pengasih lagi
Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang
telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga dapat
menyelesaikan Makalah Koperasi & Usaha Pertanian yang berjudul “Koperasi
Primer Sapi Perah Rakyat Mahesa Jubung”.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini tidak terlepas dari
bantuan dan dukungan dari berbagai pihak oleh karena itu, penulis menyampaikan
ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu hingga
terselesaikannya makalah ini.
Dalam kekurangan makalah ini, saran dan kritik yang sifatnya membangun
sangat penulis harapkan. Semoga makalah ini bermanfaat dan dapat memberikan
sumbangan yang berarti bagi pihak yang membutuhkan.

Makassar, 27 November 2020

Penulis

ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i
KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................... 3
1.3 Tujuan ............................................................................................................. 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Koperasi Dan Sejarah Koperasi Di Indonesia ................................................. 5
2.2 Koperasi Peternakan........................................................................................ 8
2.3 Perkembangan Koperasi Susu di Indonesia .................................................... 10
2.4 Kaitan Dengan Koperasi Peternakan Sapi Perah Rakyat Mahesa .................. 15
2.5 Deskripsi Objek Dan Sejarah Koperasi Sapi Perah Rakyat Mahesa............... 16
2.6 Struktur Organisasi dan Pembagian Tugas Serta Aspek Usaha Koperasi Sapi
Perah Mahesa ................................................................................................. 17
2.7 Prinsip, Strategi Dan Landasan Koperasisapi Perah Rakyat Mahesa Perubahan
Sosial .............................................................................................................. 21
2.8 Permodalan, Dan Pembagian Shu Koperasi Sapi Perah Rakyat Mahesa........ 21
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 23
3.2 Saran ............................................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………. 24

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Koperasi merupakan bagian dari tata susunan ekonomi, hal ini berarti bahwa
dalam kegiatannya koperasi turut mengambil bagian bagi tercapainya kehidupan
ekonomi yang sejahtera, baik bagi orang-orang yang menjadi anggota
perkumpulan itu sendiri maupun untuk masyarakat di sekitarnya. Koperasi
sebagai perkumpulan untuk kesejahteraan bersama, melakukan usaha dan kegiatan
di bidang pemenuhan kebutuhan bersama dari para anggotannya. Koperasi
mempunyai peranan yang cukup besar dalam menyusun usaha bersama dari
orang-orang yang mempunyai kemampuan ekonomi terbatas. Dalam rangka usaha
untuk memajukan kedudukan rakyat yang memiliki kemampuan ekonomi terbatas
tersebut, maka Pemerintah Indonesia memperhatikan pertumbuhan dan
perkembangan perkumpulan-perkumpulan Koperasi.
Pemerintah Indonesia sangat berkepentingan dengan Koperasi, karena
Koperasi di dalam sistem perekonomian merupakan soko guru. Koperasi di
Indonesia belum memiliki kemampuan untuk menjalankan peranannya secara
efektif dan kuat. Hal ini disebabkan Koperasi masih menghadapai hambatan
struktural dalam penguasaan faktor produksi khususnya permodalan. Dengan
demikian masih perlu perhatian yang lebih luas lagi oleh pemerintah agar
keberadaan Koperasi yang ada di Indonesia bisa benar-benar sebagai soko guru
perekonomian Indonesia yang merupakan sistem perekonomian yang yang
dituangkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 .
Usaha koperasi di Indonesia umumnya masih berskala kecil, namun
usaha kecil ini memberikan kontribusi yang sangat berarti terhadap
perekonomian Indonesia. Afiah dkk. (2003) memaparkan, pada tahun 1998
proporsi pelaku usaha kecil sekitar 99,8 persen dari total pelaku usaha
nasional. Angkatan kerja yang terserap oleh sektor ini mencapai angka
sekitar 88,3 persen dari total angkatan kerja Indonesia. Sedangkan sektor
usahanya sekitar 54 persen bergerak di sektor pertanian termasuk di dalamnya
peternakan.
Pembangunan peternakan memiliki peran penting dalam memenuhi
kebutuhan pangan manusia yang tiap hari terus meningkat seiring dengan
pertambahnya jumlah penduduk dan peningkatan relatif taraf hidup
masyarakat. Keberhasilan pembangunan sektor ini berdampak pada perubahan
pola konsumsi masyarakat yang awalnya banyak mengkonsumsi karbohidrat
ke konsumsi protein hewani seperti daging, telur, dan susu (Kharisma, 2003).
Sebagian dari permintaan akan produk hewani tersebut belum
sepenuhnya dapat dilayani oleh produksi dalam negeri, dengan demikian para
peternak diharapkan lebih meningkatkan usahanya. Peningkatan usaha ternak,
kiranya dapat difasilitasi jika para peternak yang umumnya terdiri atas
peternak kecil mau bergabung dalam suatu wadah koperasi. Ciri-ciri koperasi
Indonesia, nampaknya berpihak kepada kesejahteraan anggota, tetapi banyak
pernyataan pemikir ekonomi yang bernada pesimistis terhadap hal tersebut,
karena tidak sejalan dengan prinsip ekonomi pasar.
Namun demikian, Kartasasmita (1996) menyatakan bahwa pembangunan
yang berorientasi kerakyatan dan kebijakan yang berdasar pada kepentingan
rakyat tidak berarti akan menghambat upaya mempertahankan pertumbuhan,
bahkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan hanya akan
sinambung dalam jangka panjang jika sumber utamanya berasal dari rakyat
sendiri. Cernea (1991) menyatakan bahwa “mengutamakan manusia” dalam
pembangunan, merupakan suatu hal yang manusiawi dari para perencana
pembangunan. Pengertian dari hal tersebut juga sebagai suatu pemikiran yang
sungguh-sungguh agar memberikan prioritas pada aspek dasar dalam
pembangunan..
Makna ini harus digunakan dalam jangka panjang apapun rintangannya.
Mengutamakan manusia dalam pembangunan, termasuk dalam pembangunan
koperasi, sering tidak semulus konsep idealnya. Koperasi yang seharusnya
mengutamakan para anggota, sering terkalahkan oleh kepentingan-kepentingan
lain, baik itu dari dalam koperasi sendiri maupun dari luar koperasi, sementara
para anggota kesejahteraannya terabaikan. Hal ini pada akhirnya bisa
menyebabkan keruntuhan institusi koperasi. Untuk melihat bagaimana
berkembang tidaknya koperasi, dapat dilihat dari kondisi aktual koperasi. Aspek
yang bisa memberikan gambaran tentang baik tidaknya koperasi antara lain
dapat dilihat dari aspek dinamika organisasi koperasi itu sendiri.
Karena itu keberdaan suatu koperasi dalam hal ini koperasi peternakan yang
kuat secara institusi dan organisasi juga menentukan tingkatan salah satu
keberlangsungan usaha peternakan itu sendiri jika peternakan tersebut kondisinya
sangat bergantung pada koperasi itu sendiri.Peternakan yang banyak diusahakan
oleh masyarakatIndonesia karena dirasa banyak mendatangkan keuntungansalah
satunya adalah peternakan sapi. Sapi menghasilkansekitar 50% kebutuhan daging
di dunia, 95% kebutuhansusu dan 85% kebutuhan kulit. Susu sapi
mengandung3,2% protein, 3,6% lemak, 4,7% laktosa, dan 0,7%
mineral(Moeljanto dan Wiryanta, 2002).
Provinsi Jawa Timur memiliki jumlah populasi sapi perahterbanyak
dibandingkan dengan provinsi lainnya di Indonesia (Direktorat Jenderal
Peternakan, 2012). Beberapa peternakanyang ada di Jawa Timur tergabung dalam
suatu koperasi susu sapiperah, dimana koperasi tersebut berperan sebagai
pengepul susu.Koperasi susu sapi perah di Jawa Timur rata-rata bekerja
samadengan perusahaan susu Nestle.
Di Kota Jember, terdapat 2 koperasi susu sapi perah. Disetiap koperasi,
anggotanya berasal dari beberapa peternak yangtersebar di beberapa kecamatan di
kota Jember. Salah satunyaadalah Koperasi Mahesa. Koperasi ini beranggotakan
20 peternakyang berlokasi di Kecamatan Sukorambi, Ambulu, danTempurejo.
Pada Koperasi Mahesa, terdapat 3 tempatpengumpulan susu yang terdapat di Desa
Andongsari dan DesaSabrang Kecamatan Ambulu, dan juga di Desa Jubung
KecamatanSukorambi.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari penulisan makalah Koperasi Primer Sapi Perah
Rakyat Mahesa Jubung yaitu:
1. Apa itu koperasi dan sejarah koperasi di Indonesia?
2. Bagaimana koperasi peternakan?
3. Bagaimana Perkembangan Koperasi Susu di Indonesia?
4. Bagaimana kaitan dengan koperasi peternakan sapi perah rakyat mahesa?
5. Bagaimana deskripsi objek dan sejarah koperasi sapi perah rakyat mahesa?
6. Bagaimana struktur organisasi usaha koperasi sapi perah mahesa?
7. Bagaimana prinsip, strategi dan landasan koperasisapi perah rakyat mahesa?
1. Bagaimana permodalan, dan pembagian shu koperasi sapi perah rakyat
mahesa?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah Koperasi Primer Sapi Perah Rakyat
Mahesa Jubung ini yaitu :
1. Untuk mengetahui koperasi dan sejarah koperasi di Indonesia
2. Untuk mengetahui koperasi peternakan
3. Untuk mengetahui Perkembangan Koperasi Susu di Indonesia
4. Untuk mengetahui kaitan dengan koperasi peternakan sapi perah rakyat
mahesa
5. Untuk mengetahui deskripsi objek dan sejarah koperasi sapi perah rakyat
mahesa
6. Untuk mengetahui struktur organisasi usaha koperasi sapi perah mahesa
7. Untuk mengetahui prinsip, strategi dan landasan koperasisapi perah rakyat
mahesa
8. Untuk mengetahui permodalan, dan pembagian shu koperasi sapi perah
rakyat mahesa?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Koperasi dan Sejarah Koperasi Di indonesia.
Pengertian koperasi secara sederhana berawal dari kata ”co” yang berarti
bersama dan ”operation” (operasi) artinya bekerja. Jadi pengertian koperasi adalah
kerja sama. Sedangkan pengertian umum, Koperasi adalah suatu kumpulan orang-
orang yang mempunyai tujuan sama, diikat dalam suatu organisasi yang
berasaskan kekeluargaan dengan maksud mensejahterakan anggota.
Menurut Undang – UndangUU No. 25 Tahun 1992 (Perkoperasian
Indonesia) Koperasi adalah Badan usaha yang beranggotakan orang seorang
atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip
koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang beradasarkan atas dasar
asas kekeluargaan. Proses pembangunan kapasitas peternak dapat diperoleh secara
kolektif dari pelayanan koperasi melalui penyuluhan dan pelatihan yang dapat
membangun sikap kreatif dan professional peternak, serta dapat juga diperoleh
melalui proses pengembangan kapasitas individual seperti pendidikan formal dan
non formal yang pernah diikutinya. Pendidikan non formal seperti kursus dan
pelatihan di luar pelayanan koperasi serta kreatifitas peternak dalam
memanfaatkan kecanggihan teknologi yang memudahkan peternak dalam mencari
inovasi maupun informasi baru.
Selain proses tersebut, juga tidak terlepas dari pengembangan mental usaha
peternak dalam mengambil keputusan untuk menghadapi berbagai ancaman
usaha, baik secara ekonomi maupun sosial. Proses pembangunan kapasitas
peternak dapat diperoleh secara kolektif dari pelayanan koperasi melalui
penyuluhan dan pelatihan yang dapat membangun sikap kreatif dan professional
peternak, serta dapat juga diperoleh melalui proses pengembangan kapasitas
individual seperti pendidikan formal dan non formal yang pernah diikutinya.
Pendidikan non formal seperti kursus dan pelatihan di luar pelayanan koperasi
serta kreatifitas peternak dalam memanfaatkan kecanggihan teknologi yang
memudahkan peternak dalam mencari inovasi maupun informasi baru. Selain
proses tersebut, juga tidak terlepas dari pengembangan mental usaha peternak
dalam mengambil keputusan untuk menghadapi berbagai ancaman usaha, baik
secara ekonomi maupun sosial.
Proses pembangunan kapasitas peternak dapat diperoleh secara kolektif dari
pelayanan koperasi melalui penyuluhan dan pelatihan yang dapat membangun
sikap kreatif dan professional peternak, serta dapat juga diperoleh melalui proses
pengembangan kapasitas individual seperti pendidikan formal dan non formal
yang pernah diikutinya. Pendidikan non formal seperti kursus dan pelatihan di
luar pelayanan koperasi serta kreatifitas peternak dalam memanfaatkan
kecanggihan teknologi yang memudahkan peternak dalam mencari inovasi
maupun informasi baru. Selain proses tersebut, juga tidak terlepas dari
pengembangan mental usaha peternak dalam mengambil keputusan untuk
menghadapi berbagai ancaman usaha, baik secara ekonomi maupun sosial.
Dalam Pasal 2 Undang-Undang No.17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian
dijelaskan bahwa “ koperasi berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
Negara Republk Indonesia Tahun 1945” . Selanjutnya dalam pasal 3 dijelaskan
bahwa “ koperasi berdasar atas asas kekeluargaan”. Mencermati dari kedua
ketentuan di atas, dapat digarisbawahi bahwa adanya badan usaha koperasi di
Indonesia berlandaskan UUD 1945 dan Pancasila, sedangkan koperasi di
Indonesia berasaskan “asas kekeluargaan”.
Sehubungan dengan itu, dengan mencermati pasal-pasal dalam UUD 1945
beserta penjelasannya dan juga Garis Besar Haluan Negara (GBHN) dapat
dipahami bahwa baik founding father maupun para penentu arah negara kita pada
waktu itu sampai sekarang, ingin mencanangkan koperasi sebagai satu-satunya
bangun atau bentuk dari wadah bagi aparat produksi yang dapat diterima oleh
nilai-nilai keadilan bagi bangsa kita. Hal ini dapat diketahui dalam Pasal 33 ayat 1
UUD 1945 yang menjelaskan bahwa “Perekonomian disusun sebagai usaha
bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan”.
Tujuan utama koperasi di Indonesia adalah mengembangkan kesejahteraan
anggota pada khususnya, dan masyarakat pada umumnya. Koperasi Indonesia
adalah perkumpulan orang-orang, bukan perkumpulan modal sehingga laba bukan
merupakan ukuran utama kesejahteraan anggota. Manfaat yang diterima anggota
lebih diutamakan daripada laba. Meskipun demikian harus diusahakan agar
koperasi tidak menderita rugi. Tujuan ini dicapai dengan karya dan jasa yang
disumbangkan pada masing-masing anggota. Selain itu, tujuan utama lainnya
adalah mewujudkan masyarakat adil makmur material dan spiritual berdasarkan
Pancasila dan Undang -Undang Dasar 1945.
Dalam Pasal 3 Undang-Undang No.17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian
dinyatakan bahwa: “Koperasi bertujuan meningkatkan kesejahteraan anggota pada
khususnya dan masyarakat pada umumnya, sekaligus sebagai bagian yang tidak
terpisahkan dari tatanan perekonomian nasional yang demokratis dan
berkeadilan.” Adapun mengenai fungsi koperasi dalam Undang-Undang No.17
Tahun 2012 tentang Perkoperasian tidak ditemukan adanya pengaturan secara
khusus mengenai fungsi dari koperasi di Indonesia. Hal ini berbeda dengan
undang- undang sebelumnya yakni Pasal 4 Undang-Undang No.25 Tahun 1992
tentang Perkoperasian yang menguraikan dengan jelas fungsi-fungsi dari koperasi
di Indonesia, yaitu sebagai berikut:
1) Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi
anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk
meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya;
2) Berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan
manusia dan masyarakat;
3) Memperkokoh perekonomian rakyat sebagai dasar kekuatan dan
ketahanan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko-gurunya;
4) Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian
nasional, yang merupakan usaha bersama berdasarkan atas asas
kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.

Selain memiliki peranan dan fungsi, koperasi dalam menjalankan kegiatan


usahanya juga memiliki prinsip-prinsip sebagiamana dijelaskan dalam Pasal 6
Undang-Undang No.17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian, sebagai berikut:
Koperasi melaksanakan prinsip koperasi yang meliputi:

a. Keanggotaan koperasi bersifat sukarela dan terbuka;


b. Pengawasan oleh anggota diselenggarakan secara demokratis
c. Anggota berpartisipasi aktif dalam kegiatan ekonomi koperasi
d. Koperasi merupakan badan usaha swadaya yang otonom, dan independen
e. Koperasi menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi anggota,
pengawas, pengurus, dan karyawannya, serta memberikan informasi kepada
masyarakat tentang jati diri, kegiatan, dan kemanfaatan koperasi.
f. Koperasi melayani anggotanya secara prima dan memperkuat Gerakan
Koperasi, dengan bekerja sama melalui jaringan kegiatan pada tingkat lokal,
nasional, regional, dan internasional;
g. Koperasi bekerja untuk pembangunan berkelanjutan bagi lingkungan dan
masyarakatnya melalui kebijakan yang disepakati oleh anggota.

Bentuk Koperasi, Koperasi terdiri dari dua bentuk, yaitu Koperasi Primer
dan Koperasi Sekunder. Koperasi Primer adalah Koperasi yang beranggotakan
orang seorang, yang dibentuk oleh sekurang-kurangnya 20 (dua puluh) orang.
Koperasi primer memiliki otonomi untuk mengatur sendiri jenjang tingkatan,
nama, dan norma-norma yang mengatur kehidupan koperasi sekundernya.
Koperasi Primer adalah badan usaha koperasi yang didirikan oleh dan
beranggotakan orang-seorang. Orang-orang ini berkumpul untuk memikirkan
bagaimana memecahkan masalah yang mereka hadapi secara bersama-sama.
Mereka ini tentunya terdiri dari orang-orang yang memiliki kepentingan sama dan
pandangan hidup yang serupa. Koperasi primer ini dapat terbentuk sekurang-
kurangnya oleh 20 orang.
Koperasi Sekunder adalah Koperasi yang beranggotakan badan-badan
hukum koperasi yang dibentuk oleh sekurang-kurangnya 3 (tiga) Koperasi yang
telah berbadan hukum. Koperasi sekunder didirikan dengan tujuan untuk
meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan mengembangkan kemampuan koperasi
primer dalam menjalankan peran dan fungsinya. Oleh sebab itu, pendirian
koperasi sekunder harus didasarkan pada kelayakan untuk mencapai tujuan
tersebut.
2.2 Koperasi Peternakan
Koperasi memiliki perangkat organisasi yang terdiri atas rapat anggota,
jajaran pengurus, dan pengawas. Rapat Anggota merupakan pemegang kekuasaan
tertinggi dalam kehidupan berkoperasi.Perangkat organisasi lain yaitu Pengurus
Koperasi mengemban kepercayaan anggota koperasi yang diputuskan dalam rapat
anggota, dan dalam mengawasi jalannya koperasi, pengawas berkewajiban untuk
menilai apakah upaya yang dijalankan sudah sesuai dengan tujuannya atau tidak.
Usaha koperasi di Indonesia umumnya masih berskala kecil, namun usaha kecil
ini memberikan kontribusi yang sangat berarti terhadap perekonomian Indonesia.
Keberhasilan pembangunan sektor ini berdampak pada perubahan polakonsumsi
masyarakat yang awalnya banyak mengkonsumsi karbohidrat ke konsumsi protein
hewani seperti daging, telur, dan susu). Sebagian dari permintaan akan produk
hewani tersebut belum sepenuhnya dapat dilayani oleh produksi dalam negeri,
dengan demikian para peternak diharapkan lebih meningkatkan usahanya.
Peningkatan usaha ternak, kiranya dapat difasilitasi jika para peternak yang
umumnya terdiri atas peternak kecil mau bergabung dalam suatu wadah Koperasi
Peternakan. Koperasi Peternakan adalah koperasi yang anggota-anggotanya terdiri
dari pengusaha-pengusaha serta buruh peternakan yang kepentingan serta mata
pencahariannya langsung berhubungan dengan usaha peternakan yang
bersangkutan dan menjalankan usaha-usaha yang ada sangkut-pautnya secara
(Kharisma, 2003langsung dengan usaha peternakan mulai dari pemeliharaan
sampai pada pembelian atau penjualan bersama ternak atau hasil peternakan
Pembangunan peternakan memiliki peran penting dalam memenuhi
kebutuhan hidup manusia yang terus meningkat, seiring dengan bertambahnya
jumlah penduduk, dan relatif lebih meningkatnya taraf hidup masyarakat.
Keberhasilan pembangunan sektor ini berdampak pada perubahan pola konsumsi
masyarakat yang tadinya banyak mengkonsumsi karbohidrat ke konsumsi protein
hewani seperti daging, telur, dan susu (Bayu, 2003).
Sebagian dari permintaan akan produk hewani tersebut belum sepenuhnya
dapat dilayani oleh produksi dalam negeri, dengan demikian para peternak
diharapkan lebih meningkatkan usahanya. Peningkatan usaha ternak, kiranya
dapat difasilitasi jika para peternak yang umumnya terdiri atas peternak kecil mau
bergabung dalam suatu wadah koperasi.
Dalam penjelasan Undang-undang No. 12 Tahun 1967 tentang Pokok-pokok
Perkoperasian disebutkan bahwa koperasi adalah kumpulan dari orang-orang yang
secara bersama-sama bergotong-royong berdasarkan persamaan, bekerja untuk
memajukan kepentingan-kepentingan ekonomi mereka dan kepentingan
masyarakat. Selanjutnya Undang-undang Nomor 25 tahun 1992 tentang
Perkoperasian menyatakan bahwa koperasi adalah badan usaha berbadan hukum
koperasi yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi dengan
melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus gerakan
ekonomi yang berdasarkan atas asas kekeluargaan.
Koperasi merupakan usaha bersama dalam bidang ekonomi dan bukan sosial.
Dimana tujuan koperasi adalah tujuan ekonomi, koperasi juga bisa dikatakatan
usaha rakayat dimana semua kalangan masyarakat dapat ikut serta dalam usaha
koperasi dengan berbagai ketentuan. Di dalam usaha koperasi tidak ada yang
namanya persaingan dan ketimpangan namun ada juga motivasi untuk kerja keras
dan pembagian sisa hasil usaha dengan proporsional sesuai partisipasinya
terhadap koperasi.
Dalam UU no. 25 tahun 1992 pasal 1 ayat 1 bahwa “ koperasi adalah badan
usaha yang beranggotakan orang – seorang atau badan hukum koperasi dengan
melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan
ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan”. Yang perlu digarisbawahi
bahwa koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar asas kekeluargaan,
hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan diatas.
Dunia usaha peternakan sapi perah mempunyai prospek usaha yang cukup
baik sehingga perlu diperkuat dengan peningkatan kualitas SDM yang terkait
dengan bidang ini. Hal ini didukung oleh kondisi geografis, ekologi, dan
kesuburan lahan di beberapa wilayah Indonesia yang memiliki karakteristik yang
cocok untuk pengembangan agribisnis persusuan. Selain itu, dari sisi permintaan,
produksi susu domestik masih belum bisa mencukupi untuk menutupi kebutuhan
konsumsi dalam negeri. Saat ini produksi susu domestik hanya bisa memasok
tidak lebih dari 20% (Kementrian Perindustrian, 2014).
2.3 Perkembangan Koperasi Susu di Indonesia
Perkembangan koperasi susu di Indonesia Koperasi susu (sapi perah) yang
pertama di Indonesia baru berdiri pada tahun 1949 yaitu Gabungan Petani
Peternak Sapi Perah Pengalengan (GAPPSIP), dan pada tahun 1962 berdiri
koperasi peternak SAE Pujon di Malang. Pada tahun 1963 GAPPSIP terpaksa
tutup akibat buruknya situasi sosial ekonomi dan politik saat itu, dan pada tahun
1969 atas inisiatif pemerintah dan masyarakat, di tempat yang sama kembali
berdiri koperasi susu bernama Koperasi Peternak Bandung Selatan. Di Provinsi
Jawa Timur sampai dengan tahun 1978 terdapat beberapa koperasi susu selain
SAE Pujon, yaitu KUD Batu, Koperasi Setia Kawan di Nongkojajar dan Koperasi
Suka Makmur, Grati. Perjalanan koperasi susu terus berkembang sesuai dengan
berbagai permasalahan, terutama terkait dengan masalah pemasaran susu kepada
IPS. Koperasi susu memiliki posisi tawar yang sangat lemah terhadap IPS baik
dalam menentukan harga susu, jumlah dan waktu penjualan susu (BAGA, 2005).
Titik balik perkembangan koperasi susu di Indonesia dimulai pada tahun
1978, dengan terbentuknya Badan Koordinasi Koperasi Susu Indonesia (BKKSI)
yang merupakan cikal bakal GKSI. Dengan adanya kelembagaan koperasi susu
pada tingkat nasional, berbagai permasalahan yang dihadapi koperasi susu sedikit
demi sedikit dapat teratasi dengan keluarnya beberapa kebijakan pemerintah
seperti penetapan kuota impor susu oleh IPS, pengawasan pemerintah terhadap
harga susu, penyediaan pakan ternak serta impor sapi perah berkualitas. Pada
perkembangan selanjutnya dengan tetap mendapat perlindungan dan bantuan dari
pemerintah, koperasi terus berkembang dari jumlah 27 buah pada tahun 1979
menjadi 198 buah pada tahun 1989 (Baga, 2005). Pertumbuhan jumlah koperasi
sapi perah (termasuk KUD yang bergerak dalam usaha sapi perah) mengalami
pertumbuhan 5,8 persen per tahun, sementara jumlah peternak yang menjadi
anggota koperasi mengalami pertumbuhan yang lebih cepat yakni 10,8 persen per
tahun. Setelah tahun 1984 koperasi mengalami pertumbuhan yang relatif lambat
dan hampir tidak berkembang, sementara jumlah peternak per koperasi terus
meningkat tajam (Yusja dan SayutiI, 2002). Pada tahun 2000 jumlah koperasi
susu mencapai 210 buah (GKSI, 2000 dalam Yusja dan Sayuti, 2002) dan saat ini
jumlah koperasi susu yang masih aktif tinggal 96 buah dengan jumlah anggota
mencapai 92,5 ribu peternak yang memelihara sekitar 290 ribu ekor sapi (Dirjen
pembendaharaan, 2007).
Dengan demikian agribisnis sapi perah merupakan satu-satunya kegiatan
peternakan dengan pola industri peternakan yang dikuasai oleh peternak bersama
koperasinya yang tergabung dalam GKSI. Beberapa faktor yang menyebabkan
meningkatnya petani yang berusaha di bidang persusuan sapi perah antara lain
adalah (Swastika et al., 2000): (1) adanya jaminan dan kontinuitas perolehan
pendapatan dan hasil penjualan susu harian; (2) terjadinya peningkatan harga susu
di saat krisis ekonomi, sementara harga komoditas pangan/pertanian lainnya
relatif fluktuatif; (3) peternak mendapatkan insentif dari koperasi berupa
pinjaman/menghutang pakan konsentrat dan fasilitas lainnya; (4) peternak
mendapat bantuan insentif dari IPS berupa potongan harga pakan dan bonus harga
susu bila kualitas produksi susu lebih baik dari pada kualitas standart (kandungan
TS-total solid).
1. Peran Koperasi Susu dalam Pengembangan Usaha Sapi Perah
Peranan koperasi susu di Indonesia Bila melihat perkembangan agribisnis
persusuan di negara lain, peran koperasi sangatlah besar dalam mengembangkan
usaha tersebut. Di India misalnya, koperasi susu telah berkembang sedemikian
rupa sehingga sampai saat ini telah berjumlah 57 ribu unit dengan 6 juta anggota.
Demikian pula di Uruguay, dimana para peternak domestik telah mampu
memproduksi 90 persen dari total produksi susu nasional (Daryanto, 2007).
Perkembangan usaha sapi perah rakyat di Indonesia juga tidak terlepas dari
peranan koperasi yang merupakan salah satu lembaga yang mewadahi peternak
sapi perah. Pada awalnya peranan koperasi susu hanya sebatas pada penampungan
dan pemasaran susu dari peternak ke IPS. Peternak tidak dapat menjual langsung
ke IPS karena adanya persyaratan jumlah minimal setiap penyetoran susu, yang
tidak mungkin dipenuhi oleh peternak jika tidak bergabung dalam suatu koperasi.
Sebelum adanya kebijakan bukti serap (BUSEP) dijalankan, banyak IPS tidak
menerima susu domestik dan lebih memilih susu impor untuk bahan baku industri
karena kualitas dan harga susu impor yang lebih murah. Koperasi (GKSI) berhasil
mendesak pemerintah untuk mengendalikan susu impor, mewajibkan IPS untuk
menyerap susu rakyat, penentuan harga susu secara nasional, pembebasan pajak
bagi koperasi, dan terus memajukan persusuan nasional melalui gerakan koperasi
serta merealisir usaha pengembangan sapi perah di Indonesia (Syarief, 1997).
Keberhasilan koperasi dalam memperbaiki posisi tawar peternak mulai
dirasakan dengan dilaksanakannya kebijakan BUSEP yang mewajibkan IPS untuk
menyerap susu dari koperasi. Kebijakan ini berdampak terhadap peningkatan
share produksi susu dari koperasi terhadap produksi susu nasional, dari sekitar
17,5 persen pada tahun 1979 menjadi 92,6 persen pada tahun 1984. Dengan
kebijakan ini rasio penyerapan susu domestik dapat diperjuangkan menjadi 1:3,5
pada tahun 1984, dari perbandingan 1:20 pada tahun 1979 (Baga, 2003 dan Baga,
2005). Namun dalam perkembangannya, tingkat harga yang diterima oleh
peternak tidak terus membaik. Besarnya ratio farm gate price terhadap consumer
price semakin menurun. Apalagi dengan adanya Inpres No. 4 tahun 1998 yang
merupakan bagian dari LoI yang ditetapkan IMF, maka ketentuan pemerintah
yang membatasi impor susu melalui BUSEP menjadi tidak berlaku lagi sehingga
susu impor menjadi komoditas bebas masuk. Hal ini merupakan pukulan yang
berat bagi peternak, karena posisi IPS menjadi lebih kuat dibandingkan peternak
dan mengakibatkan rendahnya harga susu segar yang diterima peternak.
Pada tahun 2000 ratio farm gate price terhadap consumer price kurang dari
separuh ratio pada tahun 1979. Untuk mengatasi ketergantungan pemasaran
terhadap IPS dan membuka pasar bagi produk susunya, beberapa koperasi seperti
KPSBU Lembang dan KPBS Pengalengan telah merintis pengembangan usahanya
ke arah pengembangan industri down stream, melalui pengembangan susu
pasteurisasi maupun ultra high temperature (UHT). Koperasi juga membantu
peternak dalam penyediaan dan pendistribusian sarana produksi, sarana
pemasaran, kesehatan hewan, IB, dan lain sebagainya. Dalam pengadaan sapronak
koperasi bekerja sama dengan dinas terkait, GKSI, perbankan, pemasok bahan
baku dan pabrik makanan ternak. Beberapa koperasi susu sudah mampu
memproduksi konsentrat yang dibutuhkan oleh para anggotanya. Usaha
pengadaaan pakan ternak sapi perah tersebut merupakan usaha kedua terbesar
setelah susu segar (Yusdja dan Sayuti, 2002), walaupun dalam pelayanan
penyediaan konsentrat ini masih ditemui kendala terkait dengan kualitas, harga,
cara penyaluran serta kontinuitas pengadaan Sebagian besar konsentrat yang
diproduksi oleh koperasi memiliki kualitas rendah dan belum dapat memenuhi
kebutuhan nutrisi untuk sapi perah yang berproduksi susu tinggi. Penelitian yang
dilakukan di daerah Jawa Barat mendapatkan, bahwa konsentrat yang diproduksi
oleh koperasi-koperasi susu masih berkualitas sangat rendah dengan kandungan
protein kasar hanya sekitar 10,6 persen dan energi TDN di bawah 65 persen
(Siregar dan Winugroho, 2005). Sapi-sapi perah yang berkemampuan tinggi
dalam berproduksi susu memerlukan konsentrat yang mengandung protein kasar
minimal 18 persen dan energi TDN 75 persen dari bahan kering (Siregar , 1996).
Pemberian konsentrat yang berkualitas rendah berakibat kepada kemampuan
berproduksi susu yang rendah, dan umur ekonomis sapi perah akan menurun
yaitu maksimal hanya sampai laktasi ke tujuh. Rendahnya kualitas konsentrat
yang diproduksi oleh koperasi selain disebabkan oleh kurangnya
kemampuan/keahlian dalam menyusun ransum juga karena rendahnya daya beli
peternak. Untuk mengatasi kekurangan bibit sapi perah untuk
replacement, beberapa koperasi telah melakukan kegiatan pembibitan (rearing)
sapi perah. Pada sub sistem penunjang koperasi dapat berperan dalam
pengembangan sumberdaya manusia (SDM) peternak, transfer teknologi,
ketersediaan permodalan dan asuransi serta sebagai advokator-negosiator
terdepan dalam pembentukan regulasi yang melindungi nasib petani (Baga,
2005). Yunasaf (2008) menyatakan bahwa fungsi koperasi dalam hal ini belum
optimal, terutama yang terkait dengan: (1) fungsi pengembangan keanggotaan, (2)
fungsi pemberdayaan kelompok, dan (3) fungsi pengembangan partisipasi.
Melemahnya peran koperasi dalam aktivitas sub sistem penunjang tersebut
kemungkinan disebabkan melemahnya motivasi individu-individu koperasi susu
dalam upaya terus meningkatkan kinerja koperasi susu dalam agibisnis susu
nasional (Baga, 2005).
2. Upaya peningkatan kualitas dan kuantitas susu sapi di Indonesia
Upaya koperasi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas susu salah satunya
adalah dengan membenahi manajemen produksi dan keswan serta meningkatkan
pengetahuan peternak. Seperti telah diketahui bahwa rendahnya produksi dan
kualitas susu dalam negeri selain dipengaruhi oleh rendahnya mutu pakan karena
mahalnya harga, juga karena tingginya prevalensi penyakit mastitis subklinis
(80%) yang dapat menurunkan tingkat produksi sekitar 20% dan belum ditangani
dengan baik. Pengelolaan yang berorientasi pada kualitas yang baik harus
dipersiapkan dari hulu (peternak) sampai ke hilir (diterima di IPS). Pembenahan
manajemen di tingkat peternak dilakukan oleh KPSBU sejak 2004 melalui
pendidikan dan pelatihan dasar berkoperasi bagi setiap anggota. Selain itu juga
dilakukan penyuluhan untuk memperbaiki manajemen peternak dengan materi
manajemen pakan, manajemen kebersihan alat-alat susu serta manajemen
pemerahan. Penerapan harga susu yang berorientasi pada kualitas, dilakukan
melalui penerapan reward dan punishment. Penetapan harga berdasarkan kualitas
susu akan mempengaruhi harga jual susu yang diterima peternak (Setiadi, 2006).
Berikut adalah beberapa upaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas susu,
antara lain :
1) Peningkatan skala usaha
2) Memberikan pakan yang cukup dan berkualitas
3) Meningkatkan frekuensi pemberian pakan
4) Meningkatkan frekuensi pemerahan
5) Menekan biaya produksi
2.4 Kaitan dengan Koperasi Peternakan Sapi Perah Rakyat Mahesa
Pencapaian produktivitas sapi perah dalam mendukung keberhasilan usaha,
tidak terlepas dari perbaikan kualitas sumber daya internal peternak dan dorongan
eksternal koperasi. Perbaikan kualitas SDM melalui pembangunan kapasitas,
mengacu pada proses dimana individu peternak mengembangkan kemampuannya
baik secara individual maupun kolektif untuk melaksanakan fungsi sebagai
manajer sekaligus pekerja dalam usahanya, menyelesaikan masalah, dan mencapai
tujuan-tujuan secara mandiri..
Proses pembangunan kapasitas peternak dapat diperoleh secara kolektif dari
pelayanan koperasi melalui penyuluhan dan pelatihan yang dapat membangun
sikap kreatif dan professional peternak, serta dapat juga diperoleh melalui proses
pengembangan kapasitas individual seperti pendidikan formal dan non formal
yang pernah diikutinya. Pendidikan non formal seperti kursus dan pelatihan di
luar pelayanan koperasi serta kreatifitas peternak dalam memanfaatkan
kecanggihan teknologi yang memudahkan peternak dalam mencari inovasi
maupun informasi baru. Selain proses tersebut, juga tidak terlepas dari
pengembangan mental usaha peternak dalam mengambil keputusan untuk
menghadapi berbagai ancaman usaha, baik secara ekonomi maupun sosial.
Koperasi Peternakan Rakyat Mahesa adalah salah satu koperasi peternakan
yang berada di Kabupaten Jember. Koperasi Rakyat Mahesa adalah koperasi yang
bergerak khusus di pengembangan dan pembudidayaan sapi perah. Koperasi ini
sebagai peternakan sapi perah menghasilkan susu setiap harinya untuk selanjutnya
didistribusikan ke kabupaten jember dan sekitarnya. Selain itu, koperasi rakyat
mahesa ini juga telah menjadi pemasok tetap susu segar bagi perusahaan besar
Nestle. Dalam menjalankan kegiatan perkoperasian, koperasi rakyat mahesa
menerapkan beberapa prinsip koperasi. Keanggotaan bersifat sukarela dan
terbuka, artinya tidak ada syarat yang mengikat untuk siapa saja yang ingin
menjadi anggota koperasi.
Masyarakat yang memiliki keinginan unutk memelihara sapi perah bisa
bergabung dengan koperasi ini untuk mendapatkan bantuan dana. Masyarakat
yang sudah memiliki hewan ternak juga bisa mendapatkan bantuan dana. Selain
itu koperasi rakyat mahesa juga menyediakan produk-produk lain seperti pakan
ternak. Jadi kesejahteraan anggota sangat diutamakan.
2.5 Deskripsi Objek dan Sejarah Koperasi Sapi Perah Rakyat Mahesa
Koperasi Sapi Perah Rakyat Mahesa secara fakta berdiri sekitar tahun 2010
dan secara hukum berdiri tahun pada awal tahun 2011 yang dibuktikan dari SK
Badan Hukum No. 518/979.BH/XVI.7/410/2011 Tanggal 7 Juli 2011. Dengan
modal awal sekitar satu milyar yang kebanyakan digunakan untuk membeli
beberapa sapi seharga rata 12,5 Juta per ekor. Sisanya digunakan untuk pembelian
makanan dan pakan serta kebutuhan operasional lainnya seperti obat-obatan.
Modal awal tersebut semuanya berasala dari modal pribadi anggota koperasi. Dan
dalam perkembangannya jika mengalami kesulitan permodalan sudah di backing
oleh pihak perbankan, yaitu Bank BRI. Ini dilakukan jika nasabah koperasi atau
anggota koperasi membutuhkan permodalan yang tidak mampu ditangani oleh
pihak koperasi. Jadi pihak koperasi dalam hal ini sebagai lembaga intermediasi.
Dalam perkembangannya saat ini di salah satu sentra peternakan sapi di
Jubung ini terdapat sekitar 60 ekor sapi yang diternakkan, dan produk susu
sebanyak 400-500 liter tiap dua kali pemerahan. Dengan jumlah anggota sebanyak
20 orang. Sejak pertama kali berdiri koperasi ini sudah melakukan kerjasama
dengan perusahaan susu Nestle. Sehingga hasil susu yang diperoleh sebagian juga
dijual di pihak Nestle dengan tiga kulitas tingkatan susu, yang meliputi grade A
dan grade B, dan sebagian lagi dijual di sekitar lingkungan untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat. Pemasarannya juga meliputi dalam kabupaten Jember dan
luar Jember seperti di Kabupaten Lumajang.
Dalam perkembangannya koperasi ini juga mengalami beberapa hambatan
salah satunya terkait harga pakan yang sering mengalami fluktuasi yang cukup
tinggi. Untuk alat pengetesan dan pengepakan susu di sediakan secara kredit dari
pahak perusahaan Nestle. Dalam sejarahnya untuk koperasi ini berdasarkan
penuturan salah satu pegawai koperasi ada sentra peternakan yang dulu dikelola
oleh Kaperasi Mahesa di daerah Ambulu tapi peternakan tersebut mengalami
kerugian dan akhirnya tutup sehingga koperasi tersebut pinmdah ke Jubung
Kecamatan Sukorambi.
Daalam perkembangnnya saat ini, koperasi Sapi Perah Rakyat Mahesa ini
masih hanya menghasilokan produk primer berupa susu. Dan belum ada rencana
menghasilkan atau memproduksi turunan ataupun diversifikasi produk dari susu
sapi karena terkendala SDM dan Modal serta fasilitas pendukung lainnya. Saat ini
koperasi ini menanugi tiga anggota sentra peternakan sapi perah. Sentra
Peternakan di Jubung sendiri sudah mempekerjakan 12 karyawan dengan sistem
kerja shift. Dimana menurut salah satu penuturan tenaga kerja atau karyawan di
peternakan tersebut bahwa keberdaan koperasi dan peternakan sapi perah sangat
membantu dan ikut mendukung perekonomian keluarga karyawan dan ekonomi
msayarakat lingkungan sekitar.
2.6 Struktur Organisasi dan Pembagian Tugas Serta Aspek Usaha Koperasi
Sapi Perah Mahesa
1. Aspek Kelembagaan
a. Pendirian Koperasi
1. Nama Koperasi : Koperasi Peternak Sapi Perah Rakyat Mahesa
2. Tanggal Berdiri : 21 Mei 2011
3. Alamat Semula : Dusun Tirtosari RT 01 RW 01 Desa Andongsari
Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember Jawa
Timur
4. Alamat Sekarang : Jl. Perumdim Raya Dusun Jubung Lor RT 06 RW
07 Desa Jubung Kecamatan Sukorambi
Kabupaten Jember Jawa Timur
5. No. Badan Hukum : 518/979.BH/XVI.7/410/2011 Tgl. 7 Juli
6. Jumlah Anggota : 20 orang
7. Susunan Pengurus Koperasi Masa Bakti 2012-2017 :
a) Ketua : Abdul Ghofur, S.E.
b) Sekretaris I : drh. Hilmi Sulaiman
c) Sekretaris II : M. Nur Hidayat, S.Sos.I.
d) Bendahara : H. Abdul Karim, S.Ag.
2. Aspek Usaha
Jenis usaha yang telah dilaksanakan oleh Koperasi :
Koperasi PSPR Mahesabergerak di bidangusahapengelolaansapiperahyang
hasilnya berupa susu segar. Susu segar tersebut diperoleh dari para peternak yang
merupakan para anggota Koperasi PSPR Mahesa dengan cara membelinya dan
kemudian disetor/dijual ke PT. Nestle Indonesia Kejayan Factory Kabupaten
Pasuruan Jawa Timur.
Struktur Organisasi Koperasi Peternakan Sapi Perah Rakyat Mahesa

Rapat Anggota

Pengurus Pengawas

Anggota
Keterangan:
: Garis Komando
: Garis Pembinaan
: Garis Pengawasan
: Garis Pelayan
1. Rapat Anggota
Rapat Anggota koperasi merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam
Koperasi Indonesia dimana Rapat dilakukan oleh anggota koperasi dan
pelaksanaannya diatur dalam Anggaran Dasar. Ketentuan ini sebenarnya menjadi
bagian integral dari koperasi indonesia yang berlaku untuk seluruh koperasi
Indonesia.
Keputusan Rapat Anggota koperasi dilakukan dengan musyawarah untuk
mencapai mufakat dan apabila tidak diperoleh keputusan dengan cara
musyawarah, maka pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan suara
terbanyak atau kita sering mengenalnya dengan voting.
Kewenangan Rapat anggota yaitu Rapat Anggota berwenang menetapkan:
a. Anggaran Dasar
b. Kebijaksanaan umum di bidang organisasi, manajemen, dan usaha Koperasi
c. Pemilihan, pengangkatan, pemberhentian Pengurus dan Pengawas
d. Rencana kerja, rencana anggaran pendapatan dan belanja Koperasi, serta
pengesahan laporan keuangan
e. Pengesahan pertanggungjawaban Pengurus dalam pelaksanaan tugasnya
f. Pembagian sisa hasil usaha
g. Penggabungan, peleburan, pembagian, dan pembubaran Koperasi
2. Pengawas
Pengawas pada Koperasi Peternakan Sapi Perah Rakyat Mahesa bertugas
untuk:
a. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijaksanaan dan
pengelolaan Koperasi
b. Membuat laporan tertulis tentang hasil pengawasannya
c. Merahasiakan hasil pengawasan terhadap pihak ketiga
3. Pengurus
3.1 Susunan Pengurus
Adapun susunan pengurus Koperasi Peternakan Sapi Perah Rakyat
Mahesa masa bakti 2012 – 2017 adalah sebagai berikut:
Ketua : Abdul Ghofur, S.E
Sekretaris I : drh. Hilmi Sulaiman
Sekretaris II : M. Nur Hidayat, S.Sos.I
Bendahara : H. Abdul Karim, S.Ag
3.2 Pembagian Tugas
1) Ketua
a. Memimpin Koperasi dan mengkoordinasikan kegiatan seluruh
Anggota Pengurus.
b. Mewakili Koperasi di dalam dan di luar pengadilan.
c. Melaksanakan segala perbuatan sesuai dengan Keputusan Rapat
anggota dan Rapat Pengurus.
d. Membina dan mengawasi bidang orgsnisasi dan administrasi.
e. Melaksanakan pendidikan dan penyuluhan.
f. Mengkoordinasi rencana program kerja.
g. Menyelenggarakan kotrak usaha dengan pihak lain
2) Sekretaris I
a. Bertanggung jawab kegiatan administrasi dan perkantoran.
b. Mengusahakan kelengkapan organisasi.
c. Mengatur jalannya perkantoran.
3) Sekretaris II
a. Memimpin dan mengarahkan tugas karyawan.
b. Menghimpun dan menyusun laporan kegiatan bersama bendahara
dan pengawas.
c. Menyususn rancangan rencana program kerja organisasi
4) Bendahara
a. Bertanggung jawab masalah keuangan koperasi.
b. Mengatur jalannya pembukuan keuangan.
c. Menyusun anggran setipa bulan.
d. Mengawasi penerimaan dan pengeluaran uang.
e. Menyusun rencana anggaran dan pendapatan koperasi.
f. Menyusun laporan keuangan.
g. Mengendalikan anggaran.
5) Anggota
Anggota dari Koperasi Peternakan Sapi Perah Rakyat Mahesa
merupakan para peternak sapi perah. Dimana koperasi sebagai wadah
bagi para peternak sapi perah yang inging menjual hasil susu segar dari
peternakannya. Koperasi di sini bertugas untuk menyalurkan susu segar
ke PT Nestle Indonesia Kejayan Factory di Pasuruan dengan tujuan
koperasi dapat menjual susu segar dengan harga yang layak agar
peternak sapi perah dapat memperoleh keuntungan yang selayaknya.
Keanggotaan dari Koperasi Peternakan Sapi Perah Rakyat Mahesa
ini bersifat terbuka, para pternak sapi yang ingin bergabung dengan
Koperasi Peternakan Sapi Perah Rakyat Mahesa bisa mendaftarkan
dirinya secara langsung. Sampai saat ini, anggota Koperasi Peternakan
Sapi Perah Rakyat Mahesa yang tercatat adalah sebanyak 20 orang
peternak sapi perah.
2.7 Prinsip, Strategi dan Landasan KoperasiSapi Perah Rakyat Mahesa
Prinsip, strategi dan landasan yang diterapkan dalam Koperasi Sapi Perah
Rakyat Mahesa ini didasarkan pada prinsip koperasi pada umumnya seperti yang
telah disinggung dalam bagian keanggotaan dan struktur koperasi diatas yaitu
gotongroyong dan kekeluargan sebagai prinsip, strategi dan landasan koperasinya.
Semua dijalankan sesuai dengan peraturan perundang-umdangan yang berlaku
yaitu tentang perkoperasian, dimana berkaitan dengan prinsip koperasi dalam UU
no. 25 tahun 1992 bagian kedua BAB III pasal 5 menyatakan bahwa :
1. Koperasi melaksanakan prinsip koperasi sebagai berikut :
a. Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka
b. Pengelolaan dilakukan secara demokratis
c. Pembagian sisa hasil usaha secara adil sebanding dengan besarnya
jasa usaha masing – masing anggota
d. Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal
e. Kemandirian
2. Dalam mengembangkan koperasi, maka koperasi melaksanakan pula prinsip
koperasi sebagai berikut :
a. Pendidikan perkoperasian
b. Kerjasama antar koperasi
2.8 Permodalan, dan Pembagian SHU Koperasi Sapi Perah Rakyat Mahesa
Untuk permodalan Koperasi seperti yang telah disinggung sebelumnya,
bahwa koperasi ini berdiri dari modal yang berasal dari para anggotanya. Modal
dari anggota ini dapat dihimpun dari simpanan wajib, pokok dan sukarela dari
setiap anggota. Untuk penarikan simpanan sifatnya tidak ada ketentuan pasti
jumlahnya. Biasanya dihitung dari keuntungan yang diperoleh dari hasil
pemerahan susu tersebut.
Sedangkan untuk pembagian SHU dihitung dari kontribusi dan balas jasa
anggota koperasi terhadap penggunaan jasa-jasa koperasi, seperti pembelian
pakan ternak dari koperasi, obat-obat atau produk dan jasa koperasi lainnya.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat saya simpulkan bahwa koperasi adalah Badan usaha
yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi dengan
melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan
ekonomi rakyat yang beradasarkan atas dasar asas kekeluargaan. Proses
pembangunan kapasitas peternak dapat diperoleh secara kolektif dari pelayanan
koperasi melalui penyuluhan dan pelatihan yang dapat membangun sikap kreatif
dan professional peternak, serta dapat juga diperoleh melalui proses
pengembangan kapasitas individual seperti pendidikan formal dan non formal
yang pernah diikutinya. Pendidikan non formal seperti kursus dan pelatihan di
luar pelayanan koperasi serta kreatifitas peternak dalam memanfaatkan
kecanggihan teknologi yang memudahkan peternak dalam mencari inovasi
maupun informasi baru.
3.2 Saran
Berdasarkan atas data yang diperoleh penulis dalam makalah ini, penulis
menyarankan agar pemerintah lebih memberikan perhatian terhadap para peternak
sapi perah, agar mereka dapat meningkatkan produktifitas susu serta dapat
meningkatkan kualitas susu. Sehingga peternak dapat bersaing di pasar impor.
Disamping itu agar susu-susu yang dihasilkan juga dapat memenuhi permintaan
susu dalam negeri dan dapat menekan angka impor susu di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA

Afiah dkk. (2003) Afiah, Nunuy Nur; Tetet Fitrijanti; dan Prima Yusi Sari. 2003.
“Problematika dan Prospek Pengembangan Koperasi dan Usaha Kecil
Menengah (UKM) di Jawa Barat”, dalam Soemitro, S dkk. (ed.),
Analisis Ekonomi Jawa Barat. Bandung: Unpad Press.
Arief Noviyanto,Dkk. 2016. Jember : Laporan Kuliah Lapang Koperasi
Peternakan Di Koperasi Sapi Perah Rakyat Mahesa Jubung.( 26
November 2020)
Https://Www.Academia.Edu/24910561/Laporan_Kuliah_Lapang_Koper
asi_Peternakan_Di_Koperasi_Sapi_Perah_Rakyat_Mahesa_Jubung.
Baga, Lukman. 2005. Revitalisasi Koperasi Pertanian. Kassel : Agrimedia Vol 10
Direktorat Jendral, Peternakan. 2012. Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Livestock And Animal Health Statistic 2012. Jakarta ; Direktorat Jendral
Peternakan dan Kesehatan Hewan. Kementrian Pertanian.
Jaenuri. 2018. Makalah Koperasi Susu. Agrotek Pertanian, Universitas Negeri
Jamber.
Kartasasmita (1996) Kartasasmita Ginanjar. 1996. Pembangunan untuk Rakyat
Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan. PT. Pustaka Cidesindo ;
Jakarta
Moeljanto dan Wiryanta, 2002 Moeljanto, Rini Damayanti & Wiryanta, B.T.
Wahyu. (2002). Khasiat dan Manfaat; Susu Kambing, Agromedia
Pustaka, Depok.
Yusdja, Y. Dan R. Sayuti. 2002. Skala usaha koperasi susu dan implikasinya bagi
pengembangan usaha sapi rakyat. J. Agro Ekonomi 20(1): 48 – 63

Anda mungkin juga menyukai