Nama : Dita Dian Novitasari
NIM : P17333122426
Gambaran Umum Peraturan Pemerintah (PP) No. 50
Tahun 2012 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (SMK3)
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) (PP 50 Tahun 2012,
Pasal 1 – Ayat 1) adalah bagian dari sistem manajemen perusahaan secara keseluruhan dalam
rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat
kerja yang aman, efisien dan produktif.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah segala kegiatan untuk menjamin dan
melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan
kerja dan penyakit akibat kerja.
Audit yaitu proses sistematik, independent dan terdokumentasi untuk memperoleh bukti audit
dan mengevaluasinya secara objektif untuk menentukan sampai sejauh mana kriteria audit
telah dipenuhi.
Audit SMK3 (PP 50 Tahun 2012, Pasal 1 – Ayat 7) adalah pemeriksaan secara sistematis
dan independen terhadap pemenuhan kriteria yang telah ditetapkan untuk mengukur suatu
hasil kegiatan yang telah direncanakan dan dilaksanakan dalam penerapan SMK3 di
perusahaan.
Auditor SMK3 (PERMENNAKER RI No. 26 2014 Bab I, Pasal 1 – Ayat 3) ialah tenaga
teknis yang berkeahlian khusus dan independen untuk melaksanakan Audit SMK3 yang
ditunjuk oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk.
Lembaga Audit SMK3 (PERMENNAKER RI No. 26 2014 Bab I, Pasal 1 – Ayat 4) adalah
badan hukum yang ditunjuk oleh Menteri untuk melaksanakan audit Eksternal SMK3.
Manajemen yaitu suatu proses kegiatan meliputi planning, organization, pelaksanaan,
pengukuran dan tindak lanjut untuk mencapai tujuan yang telah di tetapkan dengan
menggunakan manusia dan sumber daya yang ada.
Sistem Manajemen yaitu kegiatan manajemen yang teratur dan saling berhubungan untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Tujuan SMK3 (PP 50 Tahun 2012, Pasal 2)
meningkatkan efektifitas perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja yang terencana,
terukur, terstruktur, dan terintegrasi
mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dengan melibatkan
unsur manajemen, pekerja/buruh, dan/atau serikat pekerja/serikat buruh
menciptakan tempat kerja yang aman, nyaman, dan efisien untuk mendorong produktivitas
Penerapan SMK3
Penerapan SMK3 dilakukan berdasarkan kebijakan nasional tentang SMK3.
Kebijakan nasional tentang SMK3 sebagai pedoman perusahaan dalam menerapkan SMK3.
Instansi pembina sektor usaha dapat mengembangkan pedoman penerapan SMK3 sesuai
dengan kebutuhan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Kewajiban Penerapan SMK3
Perusahaan yang mempekerjakan pekerja/buruh paling sedikit 100 (seratus) orang; atau
perusahaan yang mempunyai tingkat potensi bahaya tinggi. (Ketentuan mengenai tingkat
potensi bahaya tinggi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan). Penerapan
SMK3 memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan serta konvensi atau standar
internasional.
Penetapan Kebijakan K3
Pengusaha dalam menyusun kebijakan K3 paling sedikit harus:
1. melakukan tinjauan awal kondisi K3, meliputi:
1. identifikasi potensi bahaya, penilaian dan pengendalian risiko;
2. perbandingan penerapan K3 dengan perusahaan dan sektor lain yang lebih
baik;
3. peninjauan sebab akibat kejadian yang membahayakan;
4. kompensasi dan gangguan serta hasil penilaian sebelumnya yang berkaitan
dengan keselamatan; dan
5. penilaian efisiensi dan efektivitas sumber daya yang disediakan.
2. memperhatikan peningkatan kinerja manajemen K3 secara terus-menerus.
3. memperhatikan masukan dari pekerja/buruh dan/atau serikat pekerja/serikat buruh.
Muatan Kebijakan K3 paling sedikit memuat visi; tujuan perusahaan; komitmen dan tekad
melaksanakan kebijakan; dan kerangka dan program kerja yang mencakup kegiatan
perusahaan secara menyeluruh yang bersifat umum dan/atau operasional.
Perencanaan K3
Yang harus dipertimbangkan dalam menyusun rencana K3 yaitu hasil penelaahan awal;
identifikasi bahaya, penilaian, dan pengendalian risiko; peraturan perundang-undangan dan
persyaratan lainnya; dan sumber daya yang dimiliki.
Penilaian Penerapan SMK3 (PERMENNAKER RI No. 26
2014 Bab IV, Pasal 25)
Penilaian penerapan SMK3 dilakukan oleh lembaga audit independen yang ditunjuk oleh
Menteri atas permohonan perusahaan untuk perusahaan yang memiliki potensi bahaya tinggi
wajib melakukan penilaian penerapan SMK3 sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan hasil audit sebagai bahan pertimbangan dalam upaya peningkatan SMK3.
Kategori Kritikal (PERMENNAKER RI No. 26 2014 Pasal 26) ditetapkan terhadap: temuan
pada peralatan/mesin/pesawat/instalasi/bahan, cara kerja, sifat kerja, lingkungan kerja dan
proses kerja yang dapat menimbulkan korban jiwa. Tindakan koreksi max 1×24 jam.
Kategori Mayor (PERMENNAKER RI No. 26 2014 Pasal 27) ditetapkan terhadap:
Tidak terpenuhinya perturan perundangan di bidang K3
Tidak melaksanakan salah satu prinsip SMK3
Terdapat temuan minur untuk satu kriteria Audit SMK3 di beberapa lokasi (3 lokasi)
Tindakan koreksi max 1 bulan
Kategori Minor (PERMENNAKER RI No. 26 2014 Pasal 28) ditetapkan terhadap:
ketidakkonsistenan dalam pemenuhan persyaratan peraturan perundang-undangan,
standar, pedoman, dan acuan lainnya.
Penetapan Kriteria Audit (Lampiran II PP. 50 2017, Bagian B)
Penilaian Tingkat Awal: 64 Kriteria
Penilaian Tingkat Transisi: 122 Kriteria
Penilaian Tingkat Lanjutan: 166 Kriteria
Tingkat Pencapaian Penerapan SMK3 (PERMENNAKER RI No. 26 2014
Pasal 30)
Kurang: 0 – 59%
Baik: 60 – 84%
Memuaskan: 85 – 100%
Fungsi Audit SMK3
Alat manajemen (Management Tool): memantau dan memverivikasi efektifitas penerapan
kebijakan
Alat untuk menilai kesesuaian (Conformity Assessment), seperti sertifikasi Eksternal dan
Evaluasi rantai pasokan.
Tujuan Audit SMK3 (8)
1. Prioritas Manajemen
2. Tujuan Komersial
3. Persyaratan Sistem Manajemen
4. Persyaratan Kontrak
5. Kebutuhan untuk evaluasi pemasok
6. Persyaratan pelanggan
7. Kebutuhan pihak lain yang berkepentingan
8. Risiko terhadap organisasi
Manfaat Audit SMK3
Mengetahui kelemahan unsur system operasi sebelum timbul gangguan
Memperoleh gambaran yang lengkap dan jelas mengenai status mutu pelaksanaan K3
Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran terhadap K3
Meningkatkan citra pengurus perusahaan
Sanksi Administratif
Sesuai Pasal 190 UU No. 13/03, Pelanggaran Pasal 87 dikenakan sanksi administratif,
berupa:
1. teguran
2. peringatan tertulis
3. pembatasan kegiatan usaha
4. pembekuan kegiatan usaha
5. pembatalan persetujuan
6. pembatalan pendaftaran
7. penghentian sementara sebagian atau seluruh alat produksi
8. pencabutan izin
Sumber:
PP 50 Tahun 2012
PERMENAKER RI No. 26 Tahun 2014