0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
62 tayangan28 halaman

Panduan Pelayanan Laboratorium Puskesmas

Panduan ini membahas standar pelayanan laboratorium puskesmas untuk menjamin mutu pelayanan. Panduan ini memberikan panduan tentang standar tenaga, fasilitas, tata laksana pelayanan, logistik, keselamatan pasien dan kerja, serta pengendalian mutu laboratorium puskesmas.

Diunggah oleh

puskesmas purwasari
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
62 tayangan28 halaman

Panduan Pelayanan Laboratorium Puskesmas

Panduan ini membahas standar pelayanan laboratorium puskesmas untuk menjamin mutu pelayanan. Panduan ini memberikan panduan tentang standar tenaga, fasilitas, tata laksana pelayanan, logistik, keselamatan pasien dan kerja, serta pengendalian mutu laboratorium puskesmas.

Diunggah oleh

puskesmas purwasari
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PANDUAN PELAYANAN LABORATORIUM

PEDOMAN
LABORATORIUM

PUSKESMAS PURWASARI
2023
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, “Panduan Pelayanan Laboratorium Puskesmas Purwasari” berhasil


kami selesaikan. Panduan ini dibuat untuk menjamin mutu Pelayanan Laboratorium
agar sesuai dengan standar mutu yang berlaku di Indonesia.
Format Panduan ini disusun demikian rupa, sehingga bisa memberi arah
pada petugas dalam melaksanakan Pelayanan Laboratorium Puskesmas yang
bermutu. Dengan demikian bisa menunjang dokter dalam menegakkan diagnosis
yang lebih akurat.
Terima kasih banyak kami sampaikan kepada semua pihak atas segala
bantuan dan dukungannya.
Semoga Panduan ini bermanfaat bagi peningkatan mutu pelayanan
laboratorium di Puskesmas Purwasari

Purwasari, 23 Januari 2023

Penyusun

I
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................................... i

DAFTAR ISI .................................................................................................................. ii

BAB I ............................................................................................................................ 1

PENDAHULUAN .......................................................................................................... 1

A. Latar Belakang ................................................................................................... 1

B. Tujuan................................................................................................................. 1

C. Sasaran .............................................................................................................. 2

D. Ruang Lingkup Panduan .................................................................................... 2

E. Batasan Operasional .......................................................................................... 2

BAB II ........................................................................................................................... 3

STANDAR TENAGA .................................................................................................... 3

BAB III .......................................................................................................................... 4

STANDAR FASILITAS ................................................................................................. 4

BAB IV TATA LAKSANA PELAYANAN ....................................................................... 6

BAB V ......................................................................................................................... 14

LOGISTIK ................................................................................................................... 14

BAB VI ........................................................................................................................ 18

KESELAMATAN PASIEN .......................................................................................... 18

BAB VII KESELAMATAN KERJA .............................................................................. 19

BAB VIII ...................................................................................................................... 21

PENGENDALIAN MUTU ............................................................................................ 21

BAB VII ....................................................................................................................... 29

PENUTUP .................................................................................................................. 29

II
BAB I
PENDAHULUAN
A.
A. Latar Belakang
Dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, disebutkan
bahwa tujuan pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran,
kamauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya sebagai investasi bagi
pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomi
dalam mencapai derajat kesehatan yang optimal.
Puskesmas merupakan ujung tombak terdepan dalam pembangunan kesehatan
dan mempunyai peran besar dalam upaya mencapai tujuan pembangunan
kesehatan tersebut diatas.
Upaya kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas terdiri dari pelayanan
kesehatan perseorangan primer dan pelayanan kesehatan masyarakat primer.
Upaya kesehatan tersebut dikelompokkan menjadi upaya kesehatan wajib dan
upaya kesehatan pilihan. Oleh karena itu upaya pelayanan Laboratorium
Puskesmas merupakan satu kesatuaan yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan
upaya kesehatan di Puskesmas, maka Puskesmas wajib menyelenggarakan
Laboratorium di Puskesmas.
Dengan makin berkembangnya teknologi kesehatan, meningkatkan tuntutan
masyarakat akan pelayanan kesehatan yang berkualitas, adanya transisi
epidemiologi penyakit, perubahan struktur demografi, otonomi daerah serta
masuknya pasar bebas, maka Puskesmas diharapkan mengembangkan dan
meningkatkan mutu mutu layanannya. Untuk meningkatkan mutu pelayanan
yang optimal, maka diperlukan kegiatan yang dapat menentukan diagnose
penyakit secara pasti yaitu pelayanan Laboratorium yang bermutu.
Laboratorium Puskesmas melaksanakan pengukuran, penetapan dan pengujian
terhadap bahan yang berasal dari manusia untuk penentuan jenis penyakit,
penyebaran penyakit, kondisi kesehatan atau faktor yang dapat berpengaruh
terhadap kesehatan perorangan dan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Terlaksananya pelayanan Laboratorium yang bermutu di Puskesmas
Purwasari
2. Tujuan Khusus

1
Sebagai acuan bagi tenaga Ahli Tekhnologi Laboratorium Medik (ATLM)
dalam melaksanakan pelayanan Pemeriksaan Laboratorium yang akurat dan
bermutu di Puskesmas Purwasari
C. Sasaran
Pedoman ini disusun untuk digunakan bagi Ahli Tekhnologi Laboratorium Medik
(ATLM) Puskesmas Purwasari

D. Ruang Lingkup Panduan


Ruang lingkup pedoman ini meliputi sarana, prasarana, jenis-jenis pemeriksaan,
standard hasil pemeriksaan, keselamatan dan mutu Laboratorium.

E. Batasan Operasional
Pelayanan laboratorium Puskesmas Purwasari adalah pelayanan penunjang
diagnosis yang berlaku di lingkungan Puskesmas Purwasari Laboratorium ini
juga memberikan kesempatan bagi institusi lain untuk melakukan praktek,
magang, dan penelitian.

2
BAB II
STANDAR TENAGA

A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia


JENIS
NO KUALIFIKASI JUMLAH
TENAGA
Penanggung
1. Dokter 1
Jawab
Koordinator Minimal D3 analis
2 1
Ruangan kesehatan

B. Tugas dan Tanggung Jawab


1. Penanggung Jawab :

1) Menyusun rencana kegiatan dan kebijakan tekhnis laboratorium,

2) Bertanggung jawab terhadap peningkatan mutu pelayanan laboratorium,


validasi hasil pemeriksaan laboratorium, dan menyelesaikan masalah
yang timbul dalam pelayanan laboratorium.
3) Melaksanakan pengawasan, pengendalian, dan evaluasi kegiatan
laboratorium.
4) Merencanakan dan mengawasi kegiatan pemantapan mutu
2. Petugas Pelaksana Pelayanan Laboratorium :
1) Menyiapkan alat dan bahan,
2) Menyiapkan pasien,
3) Melaksanakan kegiatan tekhnis operasional pelayanan,
4) Melaksanakan pencatatan dan pelaporan,
5) Melaksanakan kegiatan kesehatan dan keselamatan kerja (K3)
laboratorium,
6) Menyiapkan bahan rujukan specimen,
7) Menyelesaikan proses adminstrasi.

C. Jadwal Pelayanan
Senin – Kamis : 07.30 – 15.00 WIB
Jum’at : 07.30 – 14.00 WIB
Sabtu : 07.30 – 15.00 WIB

3
BAB III
STANDAR FASILITAS

A. Standar Fasilitas
No Fasilitas
1 Meja Pengambilan Sampel Darah
2 Meja Penerimaan Sampel Urine Dan Dahak
3 Kursi Petugas Laboratorium Dan Kursi Pasien
4 Meja Pemeriksaan darah dan BTA
5 Lemari Pendingin
6 Lemari Alat Atau Reagen
7 Sumber arus listrik
8 Wastafel
9 Penampungan/Pengolahan Limbah Laboratorium
10 Tempat sampah medis dan non medis

B. Denah Ruang Laboratorium

Wasthafel
Meja

Pojok Dahak
Meja
sampling

Tempat
penerimaan
dahak/urine
washtafel

Kursi
tunggu
pasien

Pintu
Keterangan :
a. : Sampah medis
b. : Sampah non medis
c. : : Kursi

C. Standar Ruangan
1. Ruangan terdiri dari : Ruangan pemeriksaan dan ruang sampling, pojok
dahak

2. Ruangan kering dan tidak lembab

3. Memiliki ventilasi yang cukup

4
4. Memiliki cahaya yang cukup

5. Lantai terbuat dari keramik

6. Dinding dicat warna Abu-abu

D. Standar Peralatan
No Jenis Alat
1 Poct ( Glucosa,Kholesterol,Asam urat,
Hemoglobin )
2 Rapid Test ( Sphilis,HbsAg,HIV )
3 Mikroskop

5
BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN

A. Lingkup Kegiatan

Ruang lingkup pelayanan Laboratorium meliputi melaksanakan pemeriksaan


laboratorium, melaksanakan penyimpanan dan rujukan specimen, melaksanakan
kesehatan dan keselamatan kerja laboratorium, melaksanakan kegiatan
Pemantapan Mutu Intenal dan Eksternal (PMI dan PME), melaksanakan
pencatatan dan pelaporan hasil, dan melakukan interpretasi hasil laboratorium.

B. Alur Pelayanan Laboratorium

Pasien Umum
1. Perujuk (Dokter/Bidan/Perawat) membuat permintaan pemeriksaan pada
apikasi E-Puskesmas/pada form lab
2. Kemudian pasien tunai melakukan pembayaran/ menyelesaikan administrasi
dan menuju laboratorium
3. Petugas laboratorium memeriksa permintaan pemeriksaan laboratorium dari
semua unit poli yang ada di puskesmas
4. Petugas memanggil sesuai urutan dan menyapa pasien dengan senyum,
sapa, salam, sopan dan santun
5. Petugas laboratorium mempersilahkan pasien duduk.
6. Petugas laboratorium memeriksa identitas pasien dan menanyakan
nama,usia dan alamat pasien seuai dengan data yang ada di E-Puskesmas/
form lab
7. Petugas laboratorium menjelaskan dan memberitahu kepada pasien tentang
pemeriksaan dan sampel yang akan diambil dan diperiksa.
8. Petugas menggunakan APD
9. Petugas laboratorium mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
untuk pemeriksaan sesuai pemeriksaan yang diperlukan/diminta.
10. Petugas laboratorium mengambil sampel dan mempersilakan pasien untuk
menunggu hasil laboratorium di luar ruangan.
11. Petugas melengkapi prosedur pengisian laboratorium pada E-Puskesmas
12. Petugas laboratorium melakukan pemeriksaan sesuai dengan permintaan.
13. Petugas membuka alat pelindung diri yang digunakan.
14. Petugas laboratorium mencatat hasil pemeriksaan di blanko hasil
pemeriksaan laboratorium dan menginput di aplikasi E Puskesmas atau pada
hasil manual

6
15. Petugas laboratorium memberikan hasil pemeriksaan ke pasien untuk
dikonsultasikan dengan dokter.
Pasien BPJS
1. Perujuk (Dokter/Bidan/Perawat) membuat permintaan pemeriksaan pada
apikasi E-Puskesmas/pada form lab
2. Petugas laboratorium memeriksa permintaan pemeriksaan laboratorium dari
semua unit poli yang ada di puskesmas
3. Petugas memanggil sesuai urutan dan menyapa pasien dengan senyum,
sapa, salam, sopan dan santun
4. Petugas laboratorium mempersilahkan pasien duduk.
5. Petugas laboratorium memeriksa identitas pasien dan menanyakan
nama,usia dan alamat pasien seuai dengan data yang ada di E-Puskesmas/
form lab
6. Petugas laboratorium menjelaskan dan memberitahu kepada pasien tentang
pemeriksaan dan sampel yang akan diambil dan diperiksa.
7. Petugas menggunakan APD
8. Petugas laboratorium mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
untuk pemeriksaan sesuai pemeriksaan yang diperlukan/diminta.
9. Petugas laboratorium mengambil sampel dan mempersilakan pasien untuk
menunggu hasil laboratorium di luar ruangan.
10. Petugas melengkapi prosedur pengisian laboratorium pada E-Puskesmas
11. Petugas laboratorium melakukan pemeriksaan sesuai dengan permintaan.
12. Petugas membuka alat pelindung diri yang digunakan.
13. Petugas laboratorium mencatat hasil pemeriksaan di blanko hasil
pemeriksaan laboratorium dan menginput di aplikasi E Puskesmas atau pada
hasil manual
14. Petugas laboratorium memberikan hasil pemeriksaan ke pasien untuk
dikonsultasikan dengan dokter.

C. Langkah Kegiatan

A. Pemeriksaan laboratorium
Kegiatan Pemeriksaan Laboratorium dilakukan dalam 5 tahap yaitu :
a. Persiapan pasien, harus memperhatikan hal – hal berikut ini :
 Pengambilan sampel sebaiknya dilakukan pada keadaan
basal yaitu puasa selama 8 – 12 jam sebelum diambil darah
( contoh untuk pemeriksaan glukosa darah, Kolesterol, dan
asam urat)
 Menghindari obat – obatan sebelum sampel diambil

7
 Menghindari aktifitas fisik / olahraga sebelum sampel diambil
 Memperhatikan posisi tubuh, dianjurkan posisi duduk
dengan tenang selama 15 menit sebelum sampel diambil
 Memperhatikan variasi diurnal ( perubahan kadar analit
sepanjang hari )
 Beberapa faktor dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan
laboratorium, antara lain : diet makanan, Obat – obatan,
merokok, Alkohol, Olahraga, Demam, Posisi Ketinggian
daratan terhadap permukaan laut,Trauma, Variasi circadian
rythme ( perbedaan kadar zat – zat tertentu dalam tubuh dari
waktu ke waktu, umur, ras jenis kelamin, dan kehamilan
 Pemberian penjelasan pada pasien sebelum pengambilan
sampel, mengenai prosedur yang akan dilakukan , dan
meminta persetujuan pasien
b. Pemberian Identitas
Pemberian identitas sampel pasien pada permitaan pemeriksaan
laboratorium harus lengkap untuk menghindari tertukarnya sampel :
tanggal permintaan, tanggal dan jam pengambilan, nama, umur,
jenis kelamin, alamat, identitas pengirim, jenis pemeriksaan yang
diminta, sedangkan pada wadah harus memuat : nama, umur dan
alamat pasien
c. Pengambilan Sampel
Hal – hal yang harus diperhatikan dalam pengambilan sampel
antara lain :
 Peralatan yang harus digunakan harus memenuhi syarat :
bersih, kering, tidak mengandung bahan kimia atau
detergen, Terbuat dari bahan yang stabil ( Kaca / gelas),
mudah dicuci dari bekas sampel sebelumnya.
 Wadah sampel harus memenuhi syarat : berbahan gelas
atau plastic, tidak bocor, bisa ditutup rapat, ukuran wadah
sesuai volume sampel, bersih, kering, stabil ( tidak
mempengaruhi sifat zat dalam sampel ), bila zat mudah
terurai maka digunakan wadah gelas warna coklat
 Antikoagulan digunakan untuk mencegah sampel darah
beku, digunakan sesuai dengan kebutuhan sampel
 Waktu, Pada umumnya pengambilan sampel dilakukan pada
pagi hari terutama untuk pemeriksaan kimia klinik,
hematologi dan imunologi karena umumnya nilai normal
ditetapkan pada keadaan basal. Namun ada beberapa
8
pemeriksaan diambil sampelnya sesuai perjalanan
penyakitnya missal : pada dahak pasien TBC pagi hari lebih
banyak ditemukan kuman TBC daripada dahak sewaktu
 Lokasi, Sebelum dikukan sampling harus ditetapkan dulu
lokasi pengambilan,misal pengambilan sampel Darah
Lengkap dilakukan di vena cubiti daerah siku
 Volume, Volume sampel yang diambil harus mencukupi
kebutuhan pemeriksaan laboratorium yang diminta atau
dapat mewakili objek yang diperiksa
 Teknik,Pengambilan sampel harus dilaksanakan dengan
cara yang benar agar sampel tersebut mewakili keadaan
yang sebenarnya :
 Darah vena : posisi pasien duduk dengan posisi
lengan lurus menghadap ke atas dan mengepal,
pasang tourniquet 10 cm di atas siku, pilih vena cubiti,
disinfeksi daerah yang akan ditusuk dengan alcohol
70 % dan biarkan kering, tusukkan jarum dengan
sudut 15 derajat dari kulit, bila darah tampak keluar
maka lepaskan tourniquet dan kepalan, jika sudah
selesai tarik jarum dan letakkan kapas alcohol 70
%pada bekas tusukan dan diplester
 Darah kapiler : bersihkan daerah yang akan ditusuk
dengan kapas alcohol 70 % dan keringkan, dan
tusuklah dengan cepat memakai lanset steril tegak
lurus dengan posisi garis sidik jari, buanglah teetesan
yang pertama dengan kapas kering dan gunakan
darah yang keluar berikutnya.
 Urin : sebelum nya pasien harus mencuci tangan lebih
dulu , buanglah urin yang pertama keluar lalu
tampunglah urin yang keluar berikutnya, setelah itu
tutup rapat
 Dahak : Sebelum nya pasien diminta berkumur
dengan air, lalu berdiri tegak atau dududk tegak, tarik
nafas dalam 2 – 3 kali lalu hembuskan nafas
bersamaan dengan batuk berulang kali hingga dahak
keluar, tampung dahak purulen yang keluar ke dalam
wadah lalu tutup rapat
d. Pengolahan sampel
 Whole Blood
9
Darah ditampung dalam wadah yang berisikan antikoagulan
yang sesuai lalu dihomogenisasi perlahan
 Serum
Didapat dari darah dalam wadah yang dibiarkan membeku
lalu disentrifus 3000rpm selama 5 – 15 menit
 Urin
Untuk uji carik celup, urin tidak ada perlakuan khusus dan
harus diperiksa sebelum 1 jam setelah pengambilan
 Dahak
 Dahak dimasukkan ke dalam pot sputum dan segera
dilakukan pembuatan preparat BTA
B. Penyimpanan dan pengiriman sampel ( rujukan )
c. Penyimpanan
Sampel yang sudah diambil harus segera diperiksa , karena stabilitas
sampel dapat berubah. Apabila karena suatu hal sampel tidak segera
diperiksa maka harus disimpan dengan cara yang baik. Beberapa cara
penyimpanan antara lain :
 Disimpan pada suhu kamar
 Disimpan dalam lemari es dengan suhu 2 – 8 C
 Dibekukan suhu -20oC, -70oC, atau -120 oC ( jangan sampai
terjadi beku ulang )
 Menggunakan bahan pengawet
 Penyimpanan sampel darah sebaiknya dalam bentuk serum
d. Pengiriman ( rujukan )
Sampel yang akan dirujuk ke laboratorium lain sebaiknya dikirim dalam
bentuk yang relatif stabil. Untuk itu perlu diperhatikan hal – hal berikut ini :
 Waktu pengiriman jangan melampaui masa stabilitas sampel
 Tidak terkena sinar matahari langsung
 Kemasan harus memenuhi syarat keamanan kerja Laboratorium
serta diberi label “ Bahan Pemeriksaan Infeksius” atau “ Bahan
Pemeriksaan Berbahaya”
 Suhu harus memenuhi syarat
 Penggunaan tempat untuk pemeriksaan mikrobiologi
e. Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dan Pelaporan kegiatan laboratorium diperlukan dalam
perencanaan, pemantauan, dan evaluasi serta pengambilan keputusan
untuk peningkatan pelayanan laboratorium. Oleh karena itu harus

10
dilakukan dengan cermat dan teliti agar tidak terjadi kesalahan dalam
menetapkan suatu tindakan.
 Pencatatan kegiatan pelayanan dapat dilakukan dengan membuat
buku sebagai berikut :
1) Buku register besar / induk berisi data pasien secara lengkap serta
hasil pemeriksaan sampel ( E-Puskesmas )
2) Buku register pemeriksaan rujukan
3) Buku stok alat dan reagen
4) Buku catatan kalibrasi
5) Buku Nilai Kritis
 Pelaporan kegiatan pelayanan laboratorium terdiri dari :
1) Laporan kegiatan rutin harian/bulanan
2) Laporan hasil pemeriksaan
 Penyimpanan dokumen, dokumen yang harus disimpan yaitu :
1) Surat Permintaan pemeriksaan laboratorium
2) Hasil pemeriksaan laboratorium
 Pemusnahan dokumen dilakukan dengan disertai berita acara sesuai
prosedur yang berlaku, berisikan waktu pemusnahan dan otorisasi
pemusnahan dokumen
 Pengendalian dokumen, Laboratorium harus menetapkan,
mendokumentasikan, dan memelihara prosedur untuk mengendalikan
semua dokumen dan informasi ( dari sumber internal dan eksternal )
yang merupakan bagian dokumentasi mutunya

D. Kemampuan Pemeriksaan

Kemampuan pemeriksaan laboratorium di Puskesmas meliputi pemeriksaan -


pemeriksaan dasar seperti :
NO SPESIMEN JENIS PEMERIKSAAN

A Darah Hematologi:

 Hemoglobin

 Golongan Darah

Kimia Darah:

 Gula Darah Sewaktu

 Gula Darah Puasa

11
 Gula 2 jam PP

 Cholesterol Total

 Asam Urat

Serologis/Imunologi

 HIV

 HBsAg

 Syiphilis

 Dengue NS1

 Anti dengue IgG/IgM

B Urine  Tes Kehamilan

 Urine Rutin

C Mikrobiologi  TCM (GenXpert)

E. Metode

Metode pemeriksaan laboratorium di Puskesmas menggunakan metode semi


automatik

F. Rentang Nilai Yang Berlaku

NILAI RUJUKAN

HEMATOLOGI SEROLOGI

L = 14 – 18 gr/dl Dengue Ns1


Hemoglobin Non Reaktif
P = 12 – 16 gr/dl Antigen

KIMIA DARAH Anti Dengue IgG Non Reaktif

Gula Sewaktu < 200 mg / dl Anti Dengue IgM Non Reaktif

Gula Puasa 70-110mg / dl Anti HIV Non Reaktif

Gula 2 Jam PP <140 mg / dl HbsAg Non Reaktif

L = 3.5 – 7.2 mg / dl MIKROBIOLOGI


Asam Urat
P = 2.6 – 6.0 mg / dl TCM (Gen Expert) Negatif

12
Cholesterol Total < 200 mg / dl

URINE RUTIN

Warna Kuning Kejernihan Jernih

Ph 5,0 – 7,5 SG 1.005 – 1.030

Leukosit Negatif Nitrit Negatif

Urobilinogen Negatif Protein Negatif

Blood Negatif Keton Negatif

Bilirubin Negatif Glukosa Negatif

13
BAB V
LOGISTIK

C. Reagen
Reagen yang diperlukan disesuaikan dengan metode yang digunakan untuk tiap
pemeriksaan di Laboratorium Puskesmas tersebut. Penanganan dan
penyimpanan reagen harus sesuai persyaratan antara lain :
1. Perhatikan tanggal kadaluarsa, suhu penyimpanan
2. Pemakaian reagen dengan metode First in – First Out (sesuai urutan
penerimaan)
3. Sisa pemakaian reagen tidak diperbolehkan dikembalikan kedalam
sediaan induk
4. Perhatikan perubahan warna, adanya endapan, kerusakan yang terjadi
pada sediaan reagen
5. Segera tutup kembali botol sediaan reagen setelah digunakan
6. Lindungi label dari kerusakan
7. Tempatkan reagen dalam botol berwarna gelap dan lemari supaya tidak
terkena cahaya matahari langsung
8. Reagen harus terdaftar di Kementrian Kesehatan
9. Reagen HIV harus sudah dievaluasi oleh Laboratorium Rujukan Nasional

D. Daftar Jenis Reagensia Dan Bahan Lain Yang Harus Tersedia

No Nama Reagen
1 Strip Glukosa
2 Strip Asam Urat
3 Strip Kolesterol
4 Strip Hemoglobin
5 Reagen HIV
6 Reagen Syphilis
7 Reagen HbsAg
8 Alkohol Swab
9 Blood Lancet
10 Pot Dahak
11 Handscoon

14
E. Batas Bufferstock Reagensia Untuk Melakukan Pemesanan
Jika reagensia dan bahan lain untuk pemeriksaan laboratorium tidak tersedia
maka petugas laboratorium wajib menyampaikan kepada Kepada dokter dan
setiap poli, Petugas laboratorium mengajukan ke bagian bendahara untuk
dibuatkan surat pesanan kepada Dinas Kesehatan atau Distributor yang akan
dilakukan pembelian

F. Menyatakan Kapan Reagensia Tidak Tersedia (Batas Buffer Stock Untuk


Melakukan Order)
No Nama Reagen Buffer Stock
1 Strip Glukosa 1 Box
2 Strip Asam Urat 1 Box
3 Strip Kolesterol 1 Box
4 Strip Hemoglobin 1 Box
5 Reagen HIV 1 Box (1 box @25 pcs)
6 Reagen Syphilis 1 Box (1 box @25 pcs)
7 Reagen HbsAg 1 Box (1 box @25 pcs)
8 Alkohol Swab 1 Box
9 Blood Lancet 1 Box
10 1 Pack (1 Pack @ 20
Pot Dahak
pcs)
11 Handscoon 1 Box

G. Penyimpanan alat dan Pengelolaan Reagensia


a. Ketentuan Umum
Penyimpanan dan penempatan alat-alat atau bahan kimia menganut prinsip
tidak menimbulkan kecelakaan pada pemakai ketika mengambil dari dan
mengembalikan alat ketempatnya. Alat yang berat atau bahan yang
berbahaya diletakkan ditempat penyimpanan yang mudah terjangkau,
misalnya di rak paling bawah.
Peralatan disimpan ditempat tersendiri yang tidak lembab, tidak panas dan
dihindarkan berdekatan dengan bahan kimia yang bersifat korosif.
Penyimpanan alat dan bahan dapat dikelompokkan berdasarkan jenis, sifat,
ukuran/volume dan bahaya dari masing-masing alat/bahan kimia. Kekerapan
pemakaian juga dapat dipakai sebagai pertimbangan dalam menempatkan
alat. Alat yang kerap dipakai diletakan di tempat yang mudah dijangkau dan
aman di dalam ruang laboratorium.
Penyimpanan di laboratorium terdiri dari :

15
1) Penyimpanan Bahan Habis Pakai
Hal yang harus diperhatikan dalam penyimpanan bahan habis pakai
adalah sebagai berikut :
 Penentuan tempat penyimpanan harus memperhatikan sifat dan
bahan penyusunnya seperti kayu, besi/logam, kertas, plastik, kain,
karet, tanah liat dan sebagainya.
 Tempat penyimpanan harus aman dan bebas dari penyebab
kerusakan.
 Tata cara penyimpanan harus memperhatikan ciri khas atau jenisnya,
misalnya peralatan disimpan ditempat yang sesuai dengan
memperhatikan syarat-syarat penyimpanan.
 Penyimpanan bahan habis pakai disesuaikan dengan sifat kimia zat
tersebut.
 Bahan-bahan kimia yang berbahaya (mudah terbakar, mudah
meledak dan beracun ) harus diberi label peringatan yang tidak mudah
terlepas.

2) Penyimpanan Peralatan
Peralatan yang sering digunakan disimpan sedemikian rupa hingga
mudah diambil dan dikembalikan. Alat-alat laboratorium sebagian besar
terbuat dari gelas. Alat- alat seperti ini disimpan berkelompok berdasarkan
jenis alat, seperti tabung reaksi, gelas kimia, labu (erlenmeyer dan labu
didih), corong, buret dan pipet, termometer, cawan porselein dan gelas
ukur, klem, pinset yang terbuat dari logam dan instrumen yang memiliki
komponen-komponen dari logam yang sangat halus, seperti alat-alat ukur
yang bekerja menggunakan arus listrik, disimpan di tempat terpisah, jauh
dari zat-zat kimia terutama zat-zat yang bersifat korosif. Alat-alat seperti
ini harus disimpan ditempat yang kering dan bebas dari zat atau uap
korosif serta bebas guncangan. Masing-masing tempat penyimpanan alat
diberi nama agar mudah mencari alat yang diperlukan. Pipet dan buret
disimpan dalam keadaan berdiri. Oleh karena itu pipet dan buret perlu
ditempatkan pada tempat yang khusus.

H. Pencatatan dan Pelaporan


a. Pencatatan
Pencatatan selain untuk pemantauan data juga untuk evaluasi. Macam-
macam pencatatan antara lain :
1) Blangko Pemeriksaan Laboratorium,
2) Buku Hasil Pemeriksaan Laboratorium,
16
3) Buku bukti Pengambilan Hasil,
4) Buku Stok Reagent.
5) Buku permintaan reagen

b. Pelaporan
Pelaporan yang harus disampaikan secara berkala ke Dinas Kesehatan
Kabupaten berupa laporan bulanan yang merupakan hasil rekapitulasi
pencatan harian. Laporan triwulan, semesteran dan tahunan sesuai
ketentuan yang berlaku Pelaporan untuk penyakit tertentu menggunakan
formulir baku yang sudah ditentukan oleh program.

17
BAB VI
KESELAMATAN PASIEN

Keselamatan pasien Puskesmas adalah suatu sistem dimana Puskesmas membuat


asuhan pasien lebih aman yang meliputi asesmen resiko, identifikasi dan pengelolaan
hal yang berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan dan analisis insiden,
kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjut serta implementasi solusi untuk
meminimalkan timbulnya resiko dan mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh
kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan. Standar keselamatan pasien tersebut
terdiri dari tujuh standar yaitu :
1. Hak pasien
2. Mendidik pasien dan keluarga
3. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
4. Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk melakukan
evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien
5. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
6. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan
pasien dan tindakan yang seharusnya diambil

18
BAB VII
KESELAMATAN KERJA

Setiap kegiatan yang dilakukan di laboratorium puskesmas,mulai dari persiapan


pasien sampai selesai dapat menimbulkan bahaya / resiko terhadap petugas yang
berada di dalam laboratorium. Untuk mengurangi/ mencegah bahaya yang terjadi,
terutama untuk mencengah tertularnya penyakit dimana di puskesmas banyak kasus –
kasus penyakit menular seperti : TBC, Kusta, Hepatitis, HIV / AIDS, dan penyakit yang
disebabkan virus lainnya, maka setiap petugas laboratorium harus melaksanakan
pekerja dengan hati hati. Kegiatan tersebut upaya kesehatan dan keselamatan kerja
laboratorium. Beberapa hal yang perlu diperhatikan meliputi :
1. Kesehatan dan Kesehatan Kerja yang bersifat umum
a. Setiap petugas diwajibkan memakai jas laboratoium, sarung tangan
(handscoon) dan masker medis.
b. Tidak diperbolehkan makan minum dan merokok di dalam ruangan
laboratorium.
c. Tidak boleh menyimpan makanan dan minuman di dalam lemari es bersama
reagen.
d. Jaga kebersihan ruangan laboratorium dan bersihkan dengan desinfektan
e. Anggap semua spesimen mengandung bahan infeksius.
2. Kesehatan dan Keselamatan kerja yang bersifat khusus
a. Yang berkaitan dengan mikroorganisme
1) Jangan memipet dengan mulut, gunakan alat bantu pipet.
2) Jangan meniup pipet, yang berisi bahan infeksius.
3) Jangan menuangkan cairan yang telah terkontaminasi langsung kedalam
pipa saluran.
b. Yang berkaitan dengan bahan kimia
1) Beri label pada semua bahan kimia meliputi Nama ,Konsentrasi , Tanggal
Penerimaan , Tanggal Pembuatan dan Tanggal Kadaluarsa ,
Keterangan/Peringatan tentang bahaya bahan.
2) Bahan kimia disimpan pada ruang yang terang yang tidak terpapar sinar
matahari langsung, dalam lemari / rak secara rapi dan teratur, yang
bersifat corrosive harus diletakan di tempat rendah.
3) Pembuangan bahan kimia yang mudah terbakar dan mudah menguap
dikumpulkan dalam kaleng yang aman dan jangan dibuang kedalam pipa
saluran umum.
c. Yang berkaitan dengan listrik
1) Jangan menggunakan cairan atau gas yang mudah terbakar di sekitar
perlatan listrik.
19
2) Peralatan listrik harus dirawat dan dipelihara.
d. Yang berkaitan dengan limbah
1) Pengumpulan dan pembuangan limbah infeksius dan tidak infeksius ( cair
dan padat) sesuai ketentuan yang berlaku.
2) Lakukan desinfeksi sisa sample, tampung dalam wadah berisi kaporit,
diamkan 12 jam, buang ke saluran pembuangan.
3) Naturalisasi sisa reagen dengan pengencaran yaitu penambahan air
sampai netral ( tidak bersifat asam/ basa kuat).
4) Rendam alat habis pakai selama 12 jam dengan larutan desinfektan
(kaporit), cuci bersih dengan air sabun, keringkan.
e. Yang berkaitan dengan ruangan laboratorium
1) Bila ruangan laboratorium menggunakan AC, maka bak pencuci harus
terpisah atau mempunyai penyedot udara, terutama untuk ruangan
laboratorium mikrobiologi atau kimia dengan menggunakan mudah
menguap.
2) Ruangan laboratorium tidak diperkenankan menggunkan kipas angin.

20
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU

Pengendalian mutu laboratorium dilakuan dengan dua cara yaitu dengan


pemantapan mutu internal dan pemantapan mutu eksternal.

A. Bakuan Mutu
Demi menjamin tercapai dan terpeliharanya mutu dari waktu ke waktu,
diperlukan bekuan mutu pedoman / bakuan yang tertulis yang dapat dijadikan
pedoman kerja bagi tenaga pelaksana.
1. Tiap pelaksana yang ditunjuk memiliki pegangan yang jelas tentang apa
dan bagaimana prosedur melakukan suatu aktifitas.
2. Standar yang tertulis memudahkan proses pelatihan bagi tenagapelaksana
baru yang akan dipercayakan untuk mengerjakan suatu aktifitas.
3. Kegiatan yang dilaksanakan dengan mengikuti prosedur baku yang tertulis
akan menjamin konsistensinya mutu hasil yang dicapai.
4. Kebijakan mutu dibuat oleh penanggung jawab laboratorium
5. Standar Operasional Prosedur dan instruksi kerja di buat oleh tenaga teknis
laboratorium dan disahkan oleh penanggung jawab laboratorium
puskesmas.

B. Pemantapan Mutu
Pemantapan mutu (quality assurance) adalah keseluruhan proses atau semua
tindakan yang dilakukan untuk menjamin ketepatan waktu dan ketelitian hasil
pemeriksaan. Pemantapan mutu harus dilakukan dan diselenggarakan di
laboratorium, kegiatan ini berupa pemantapan mutu internal dan eksternal.
1. Pemantapan Mutu Internal (PMI) adalah kegiatan yang dilakukan oleh
petugas laboratorium untuk menjamin mutu pemeriksaan dengan
mencegah terjadinya kesalahan dan mendeteksi sedini mungkin bila
terjadi kesalahan sehingga diperoleh hasil pemeriksaan yang tepat.
a. Manfaat
 Pemantapan dan penyempurnaan metode pemeriksaan
dengan mempertimbangkan aspek analitik dan klinis.
 Mempertinggi kesiagaan tenaga, sehingga pengeluaran hasil
yang salah tidak terjadi dan perbaikan penyimpanan dapat
dilakukanseger
 Memastikan bahwa semua proses mulai daari persiapan
pasien, pengambilan, pengiriman, penyimpanan dan
21
pengolahan dan pemeriksaan specimen sampai dengan
pencatatan dan pelaporan telah dilakukan dengan benar
 Mendeteksi penyimpangan dan mengetahui sumbernya
 Membantu perbaikan pelayanan kepada pelanggan

b. Cakupan

Objek Pemantapan Mutu Internal meliputi tahap pra analitik, tahap


analitik dan tahap pasca analitik.
1. Tahap Pra-Analitik adalah tahap mulai mempersiapkan ppasien,
mengambil spesimen, menerima spesimen, memberi identitas
spesimen, mengirim spesimen rujukan sampai dengan
menyimpan spesimen.
a. Persiapan pasien
Sebelum spesimen diambil harus diberikan penjelasan
kepada pasien mengenai persiapan dan tindakan yang
hendak dilakukan
b. Penerimaan spesimen
Petugas penerimaan spesimen harus memeriksa kesesuaian
antara spesimen yang diterima dengan formulir permintaan
pemeriksaan
c. Penanganan spesimen
Pengelolaan spesimen dilakukan sesuai persyaratan, kondisi
penyimpanan spesimen sudah tepat, penanganan spesimen
sudah benar untuk pemeriksaan-pemeriksaan khusus, kondisi
pengiriman spesimen sudah benar
d. Pengiriman spesimen
Spesimen yang sudah siap diperiksa dikirimkan ke bagian
pemeriksaan sesuai dengan jenis pemeriksaan yang diminta.
Jika laboratorium puskesmas tidak mampu melakukan
pemeriksaan, maka spesimen dikirim ke laboratorium lain dan
sebaiknya dikirim dalam bentuk yang relatife stabil
e. Penyimpanan spesimen
Beberapa spesimen yang tidak langsung diperiksa dapat
disimpan dengan memperhatikan jenis pemeriksaan yang
akan diperiksa.
2. Tahap Analitik adalah tahap mulai dari persiapan reagen,
mengkalibrasi dan memelihara alat laboratorium, uji ketepatan
dan ketelitian dengan menggunakan bahan kontrol dan
22
pemeriksaan spesimen.
a. Persiapan reagen
Reagen memenuhi syarat sesuai standar yang berlaku, masa
kadaluarsa tidak terlampaui, cara pelarutan atau
pencampuran sudah benar, cara pengenceran sudah benar.

b. Kalibrasi dan pemeliharaan peralatan


Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil
pemeriksaan laboratorium adalah peralatan laboratorium,
wadah spesimen. Harus dilakukan kalibrasi dan pemeliharaan
peralatan laboratorium secara teratur dan terjadwal. Wadah
spesimenharus bersih dan tidak terkontaminasi.

Contoh beberapa peralatan laboratorium yang perlu dikalibrasi


adalah:

 Inkubator (Incubator)

 Lemari es (Refrigerator/freezer)

 OvenAutoklaf (Autoclave)

 Micro Pipet

 Penangas air (Waterbath)

 Sentrifus (Centrifuge)

 Fotometer (Photometer)

 Hematologi Analyzer

 Urine Analyzer

 Timbangan analitik

 Timbangan elektrik

 Thermometer

c. Uji ketelitian dan ketepatan dengan menggunakan bahan


kontrol.
d. Pemeriksaan spesimen menurut metoda dan prosedur
sesuaiprotap masing-masing parameter.
3. Tahap Pasca-Analitik adalah tahap mulai dari mencatat haasl
pemeriksaan dan melakukan validasi hasil serta memberikan
interpretasi hasil sampai dengan pelaporan.

23
c. Pemantapan Mulu Eksternal (PME) adalah kegiatan yang diselenggarakan
oleh pihak luar secara periodik untuk memantau dan menilai penampilan
laboratorium dalam bidang tertentu.
Kegiatan ini antara lain diselenggarakan oleh pemerintah dengan
melibatkan peran serta organisasi profesi dan swasta baik secara nasional
maupun regional.
Setiap laboratorium Puskesmas wajib mengikuti Pemantapan Mutu
Eksternal yang diselenggarakan oleh pemerintah secara teratur dan
periodik meliputi semua bidang pemeriksaan laboratorium.
Pemantapan mutu eksternal untuk berbagai bidang pemeriksaan
diselenggarakan pada berbagai tingkatan, yaitu :
a. Tingkat nasional/tingkat pusat : Kementrian Kesehatan
b. Tingkat Regional : BBLK
c. Tingkat Provinsi/wilayah : BBLK/BLK
Kegiatan pemantaan mutu eksternal ini sangat bermanfaat bagi
Laboratorium Puskesmas, karena dari hasil evaluasi yang diperoleh dapat
menunjukan performance laboratorium yang bersangkutan dalm bidang
pemeriksaan yang ditentukan.

Dalam melaksanakan kegiatan ini tidak boleh diperlakukan secara


khusus, harus dilaksanakan oleh petugas yang biasa melakukan
pemeriksaan tersebut serta menggunakan peralatan/reagen/metoda yang
biasa digunakan, sehingga hasil pemantapan mutu eksternal tersebut
benar- benar dapat mencerminkan penampilan laboratorium yang
sebenarnya. Setiap nilai yang diterima dari penyelenggara dicatat dan
dievaluasi untuk mencari penyebab-penyebab dan mengambil langkah-
langkah perbaikan.

C. PENINGKATAN MUTU

Peningkatan Mutu adalah suatu proses terus menerus yang dilakukan oleh
laboratorium sebagai tindak lanjut dari Pemantapan Mutu Internal (PMI) dan
Pemantapan Mutu Eksternal (PME) untuk meningkatkan kinerja laboratorium.

24
BAB VII
PENUTUP

Panduan Pelayanan Laboratorium Puskesmas Purwasari ini digunakan


sebagai acuan pelaksanaan pelayanan Laboratorium di Puskesmas Purwasari
Untuk keberhasilan pelaksanaan Pelayanan Laboratorium diperlukan komitmen dan
kerja sama semua pihak. Hal tersebut akan menjadikan Pelayanan Laboratorium di
Puskesmas Purwasari semakin optimal dan dapat dirasakan manfaatnya oleh
pasien dan masyarakat.

29

Anda mungkin juga menyukai