Panduan Pelayanan Laboratorium Puskesmas
Panduan Pelayanan Laboratorium Puskesmas
PEDOMAN
LABORATORIUM
PUSKESMAS PURWASARI
2023
KATA PENGANTAR
Penyusun
I
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................................... i
BAB I ............................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN .......................................................................................................... 1
B. Tujuan................................................................................................................. 1
C. Sasaran .............................................................................................................. 2
BAB II ........................................................................................................................... 3
BAB V ......................................................................................................................... 14
LOGISTIK ................................................................................................................... 14
BAB VI ........................................................................................................................ 18
PENUTUP .................................................................................................................. 29
II
BAB I
PENDAHULUAN
A.
A. Latar Belakang
Dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, disebutkan
bahwa tujuan pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran,
kamauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya sebagai investasi bagi
pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomi
dalam mencapai derajat kesehatan yang optimal.
Puskesmas merupakan ujung tombak terdepan dalam pembangunan kesehatan
dan mempunyai peran besar dalam upaya mencapai tujuan pembangunan
kesehatan tersebut diatas.
Upaya kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas terdiri dari pelayanan
kesehatan perseorangan primer dan pelayanan kesehatan masyarakat primer.
Upaya kesehatan tersebut dikelompokkan menjadi upaya kesehatan wajib dan
upaya kesehatan pilihan. Oleh karena itu upaya pelayanan Laboratorium
Puskesmas merupakan satu kesatuaan yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan
upaya kesehatan di Puskesmas, maka Puskesmas wajib menyelenggarakan
Laboratorium di Puskesmas.
Dengan makin berkembangnya teknologi kesehatan, meningkatkan tuntutan
masyarakat akan pelayanan kesehatan yang berkualitas, adanya transisi
epidemiologi penyakit, perubahan struktur demografi, otonomi daerah serta
masuknya pasar bebas, maka Puskesmas diharapkan mengembangkan dan
meningkatkan mutu mutu layanannya. Untuk meningkatkan mutu pelayanan
yang optimal, maka diperlukan kegiatan yang dapat menentukan diagnose
penyakit secara pasti yaitu pelayanan Laboratorium yang bermutu.
Laboratorium Puskesmas melaksanakan pengukuran, penetapan dan pengujian
terhadap bahan yang berasal dari manusia untuk penentuan jenis penyakit,
penyebaran penyakit, kondisi kesehatan atau faktor yang dapat berpengaruh
terhadap kesehatan perorangan dan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Terlaksananya pelayanan Laboratorium yang bermutu di Puskesmas
Purwasari
2. Tujuan Khusus
1
Sebagai acuan bagi tenaga Ahli Tekhnologi Laboratorium Medik (ATLM)
dalam melaksanakan pelayanan Pemeriksaan Laboratorium yang akurat dan
bermutu di Puskesmas Purwasari
C. Sasaran
Pedoman ini disusun untuk digunakan bagi Ahli Tekhnologi Laboratorium Medik
(ATLM) Puskesmas Purwasari
E. Batasan Operasional
Pelayanan laboratorium Puskesmas Purwasari adalah pelayanan penunjang
diagnosis yang berlaku di lingkungan Puskesmas Purwasari Laboratorium ini
juga memberikan kesempatan bagi institusi lain untuk melakukan praktek,
magang, dan penelitian.
2
BAB II
STANDAR TENAGA
C. Jadwal Pelayanan
Senin – Kamis : 07.30 – 15.00 WIB
Jum’at : 07.30 – 14.00 WIB
Sabtu : 07.30 – 15.00 WIB
3
BAB III
STANDAR FASILITAS
A. Standar Fasilitas
No Fasilitas
1 Meja Pengambilan Sampel Darah
2 Meja Penerimaan Sampel Urine Dan Dahak
3 Kursi Petugas Laboratorium Dan Kursi Pasien
4 Meja Pemeriksaan darah dan BTA
5 Lemari Pendingin
6 Lemari Alat Atau Reagen
7 Sumber arus listrik
8 Wastafel
9 Penampungan/Pengolahan Limbah Laboratorium
10 Tempat sampah medis dan non medis
Wasthafel
Meja
Pojok Dahak
Meja
sampling
Tempat
penerimaan
dahak/urine
washtafel
Kursi
tunggu
pasien
Pintu
Keterangan :
a. : Sampah medis
b. : Sampah non medis
c. : : Kursi
C. Standar Ruangan
1. Ruangan terdiri dari : Ruangan pemeriksaan dan ruang sampling, pojok
dahak
4
4. Memiliki cahaya yang cukup
D. Standar Peralatan
No Jenis Alat
1 Poct ( Glucosa,Kholesterol,Asam urat,
Hemoglobin )
2 Rapid Test ( Sphilis,HbsAg,HIV )
3 Mikroskop
5
BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN
A. Lingkup Kegiatan
Pasien Umum
1. Perujuk (Dokter/Bidan/Perawat) membuat permintaan pemeriksaan pada
apikasi E-Puskesmas/pada form lab
2. Kemudian pasien tunai melakukan pembayaran/ menyelesaikan administrasi
dan menuju laboratorium
3. Petugas laboratorium memeriksa permintaan pemeriksaan laboratorium dari
semua unit poli yang ada di puskesmas
4. Petugas memanggil sesuai urutan dan menyapa pasien dengan senyum,
sapa, salam, sopan dan santun
5. Petugas laboratorium mempersilahkan pasien duduk.
6. Petugas laboratorium memeriksa identitas pasien dan menanyakan
nama,usia dan alamat pasien seuai dengan data yang ada di E-Puskesmas/
form lab
7. Petugas laboratorium menjelaskan dan memberitahu kepada pasien tentang
pemeriksaan dan sampel yang akan diambil dan diperiksa.
8. Petugas menggunakan APD
9. Petugas laboratorium mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
untuk pemeriksaan sesuai pemeriksaan yang diperlukan/diminta.
10. Petugas laboratorium mengambil sampel dan mempersilakan pasien untuk
menunggu hasil laboratorium di luar ruangan.
11. Petugas melengkapi prosedur pengisian laboratorium pada E-Puskesmas
12. Petugas laboratorium melakukan pemeriksaan sesuai dengan permintaan.
13. Petugas membuka alat pelindung diri yang digunakan.
14. Petugas laboratorium mencatat hasil pemeriksaan di blanko hasil
pemeriksaan laboratorium dan menginput di aplikasi E Puskesmas atau pada
hasil manual
6
15. Petugas laboratorium memberikan hasil pemeriksaan ke pasien untuk
dikonsultasikan dengan dokter.
Pasien BPJS
1. Perujuk (Dokter/Bidan/Perawat) membuat permintaan pemeriksaan pada
apikasi E-Puskesmas/pada form lab
2. Petugas laboratorium memeriksa permintaan pemeriksaan laboratorium dari
semua unit poli yang ada di puskesmas
3. Petugas memanggil sesuai urutan dan menyapa pasien dengan senyum,
sapa, salam, sopan dan santun
4. Petugas laboratorium mempersilahkan pasien duduk.
5. Petugas laboratorium memeriksa identitas pasien dan menanyakan
nama,usia dan alamat pasien seuai dengan data yang ada di E-Puskesmas/
form lab
6. Petugas laboratorium menjelaskan dan memberitahu kepada pasien tentang
pemeriksaan dan sampel yang akan diambil dan diperiksa.
7. Petugas menggunakan APD
8. Petugas laboratorium mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
untuk pemeriksaan sesuai pemeriksaan yang diperlukan/diminta.
9. Petugas laboratorium mengambil sampel dan mempersilakan pasien untuk
menunggu hasil laboratorium di luar ruangan.
10. Petugas melengkapi prosedur pengisian laboratorium pada E-Puskesmas
11. Petugas laboratorium melakukan pemeriksaan sesuai dengan permintaan.
12. Petugas membuka alat pelindung diri yang digunakan.
13. Petugas laboratorium mencatat hasil pemeriksaan di blanko hasil
pemeriksaan laboratorium dan menginput di aplikasi E Puskesmas atau pada
hasil manual
14. Petugas laboratorium memberikan hasil pemeriksaan ke pasien untuk
dikonsultasikan dengan dokter.
C. Langkah Kegiatan
A. Pemeriksaan laboratorium
Kegiatan Pemeriksaan Laboratorium dilakukan dalam 5 tahap yaitu :
a. Persiapan pasien, harus memperhatikan hal – hal berikut ini :
Pengambilan sampel sebaiknya dilakukan pada keadaan
basal yaitu puasa selama 8 – 12 jam sebelum diambil darah
( contoh untuk pemeriksaan glukosa darah, Kolesterol, dan
asam urat)
Menghindari obat – obatan sebelum sampel diambil
7
Menghindari aktifitas fisik / olahraga sebelum sampel diambil
Memperhatikan posisi tubuh, dianjurkan posisi duduk
dengan tenang selama 15 menit sebelum sampel diambil
Memperhatikan variasi diurnal ( perubahan kadar analit
sepanjang hari )
Beberapa faktor dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan
laboratorium, antara lain : diet makanan, Obat – obatan,
merokok, Alkohol, Olahraga, Demam, Posisi Ketinggian
daratan terhadap permukaan laut,Trauma, Variasi circadian
rythme ( perbedaan kadar zat – zat tertentu dalam tubuh dari
waktu ke waktu, umur, ras jenis kelamin, dan kehamilan
Pemberian penjelasan pada pasien sebelum pengambilan
sampel, mengenai prosedur yang akan dilakukan , dan
meminta persetujuan pasien
b. Pemberian Identitas
Pemberian identitas sampel pasien pada permitaan pemeriksaan
laboratorium harus lengkap untuk menghindari tertukarnya sampel :
tanggal permintaan, tanggal dan jam pengambilan, nama, umur,
jenis kelamin, alamat, identitas pengirim, jenis pemeriksaan yang
diminta, sedangkan pada wadah harus memuat : nama, umur dan
alamat pasien
c. Pengambilan Sampel
Hal – hal yang harus diperhatikan dalam pengambilan sampel
antara lain :
Peralatan yang harus digunakan harus memenuhi syarat :
bersih, kering, tidak mengandung bahan kimia atau
detergen, Terbuat dari bahan yang stabil ( Kaca / gelas),
mudah dicuci dari bekas sampel sebelumnya.
Wadah sampel harus memenuhi syarat : berbahan gelas
atau plastic, tidak bocor, bisa ditutup rapat, ukuran wadah
sesuai volume sampel, bersih, kering, stabil ( tidak
mempengaruhi sifat zat dalam sampel ), bila zat mudah
terurai maka digunakan wadah gelas warna coklat
Antikoagulan digunakan untuk mencegah sampel darah
beku, digunakan sesuai dengan kebutuhan sampel
Waktu, Pada umumnya pengambilan sampel dilakukan pada
pagi hari terutama untuk pemeriksaan kimia klinik,
hematologi dan imunologi karena umumnya nilai normal
ditetapkan pada keadaan basal. Namun ada beberapa
8
pemeriksaan diambil sampelnya sesuai perjalanan
penyakitnya missal : pada dahak pasien TBC pagi hari lebih
banyak ditemukan kuman TBC daripada dahak sewaktu
Lokasi, Sebelum dikukan sampling harus ditetapkan dulu
lokasi pengambilan,misal pengambilan sampel Darah
Lengkap dilakukan di vena cubiti daerah siku
Volume, Volume sampel yang diambil harus mencukupi
kebutuhan pemeriksaan laboratorium yang diminta atau
dapat mewakili objek yang diperiksa
Teknik,Pengambilan sampel harus dilaksanakan dengan
cara yang benar agar sampel tersebut mewakili keadaan
yang sebenarnya :
Darah vena : posisi pasien duduk dengan posisi
lengan lurus menghadap ke atas dan mengepal,
pasang tourniquet 10 cm di atas siku, pilih vena cubiti,
disinfeksi daerah yang akan ditusuk dengan alcohol
70 % dan biarkan kering, tusukkan jarum dengan
sudut 15 derajat dari kulit, bila darah tampak keluar
maka lepaskan tourniquet dan kepalan, jika sudah
selesai tarik jarum dan letakkan kapas alcohol 70
%pada bekas tusukan dan diplester
Darah kapiler : bersihkan daerah yang akan ditusuk
dengan kapas alcohol 70 % dan keringkan, dan
tusuklah dengan cepat memakai lanset steril tegak
lurus dengan posisi garis sidik jari, buanglah teetesan
yang pertama dengan kapas kering dan gunakan
darah yang keluar berikutnya.
Urin : sebelum nya pasien harus mencuci tangan lebih
dulu , buanglah urin yang pertama keluar lalu
tampunglah urin yang keluar berikutnya, setelah itu
tutup rapat
Dahak : Sebelum nya pasien diminta berkumur
dengan air, lalu berdiri tegak atau dududk tegak, tarik
nafas dalam 2 – 3 kali lalu hembuskan nafas
bersamaan dengan batuk berulang kali hingga dahak
keluar, tampung dahak purulen yang keluar ke dalam
wadah lalu tutup rapat
d. Pengolahan sampel
Whole Blood
9
Darah ditampung dalam wadah yang berisikan antikoagulan
yang sesuai lalu dihomogenisasi perlahan
Serum
Didapat dari darah dalam wadah yang dibiarkan membeku
lalu disentrifus 3000rpm selama 5 – 15 menit
Urin
Untuk uji carik celup, urin tidak ada perlakuan khusus dan
harus diperiksa sebelum 1 jam setelah pengambilan
Dahak
Dahak dimasukkan ke dalam pot sputum dan segera
dilakukan pembuatan preparat BTA
B. Penyimpanan dan pengiriman sampel ( rujukan )
c. Penyimpanan
Sampel yang sudah diambil harus segera diperiksa , karena stabilitas
sampel dapat berubah. Apabila karena suatu hal sampel tidak segera
diperiksa maka harus disimpan dengan cara yang baik. Beberapa cara
penyimpanan antara lain :
Disimpan pada suhu kamar
Disimpan dalam lemari es dengan suhu 2 – 8 C
Dibekukan suhu -20oC, -70oC, atau -120 oC ( jangan sampai
terjadi beku ulang )
Menggunakan bahan pengawet
Penyimpanan sampel darah sebaiknya dalam bentuk serum
d. Pengiriman ( rujukan )
Sampel yang akan dirujuk ke laboratorium lain sebaiknya dikirim dalam
bentuk yang relatif stabil. Untuk itu perlu diperhatikan hal – hal berikut ini :
Waktu pengiriman jangan melampaui masa stabilitas sampel
Tidak terkena sinar matahari langsung
Kemasan harus memenuhi syarat keamanan kerja Laboratorium
serta diberi label “ Bahan Pemeriksaan Infeksius” atau “ Bahan
Pemeriksaan Berbahaya”
Suhu harus memenuhi syarat
Penggunaan tempat untuk pemeriksaan mikrobiologi
e. Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dan Pelaporan kegiatan laboratorium diperlukan dalam
perencanaan, pemantauan, dan evaluasi serta pengambilan keputusan
untuk peningkatan pelayanan laboratorium. Oleh karena itu harus
10
dilakukan dengan cermat dan teliti agar tidak terjadi kesalahan dalam
menetapkan suatu tindakan.
Pencatatan kegiatan pelayanan dapat dilakukan dengan membuat
buku sebagai berikut :
1) Buku register besar / induk berisi data pasien secara lengkap serta
hasil pemeriksaan sampel ( E-Puskesmas )
2) Buku register pemeriksaan rujukan
3) Buku stok alat dan reagen
4) Buku catatan kalibrasi
5) Buku Nilai Kritis
Pelaporan kegiatan pelayanan laboratorium terdiri dari :
1) Laporan kegiatan rutin harian/bulanan
2) Laporan hasil pemeriksaan
Penyimpanan dokumen, dokumen yang harus disimpan yaitu :
1) Surat Permintaan pemeriksaan laboratorium
2) Hasil pemeriksaan laboratorium
Pemusnahan dokumen dilakukan dengan disertai berita acara sesuai
prosedur yang berlaku, berisikan waktu pemusnahan dan otorisasi
pemusnahan dokumen
Pengendalian dokumen, Laboratorium harus menetapkan,
mendokumentasikan, dan memelihara prosedur untuk mengendalikan
semua dokumen dan informasi ( dari sumber internal dan eksternal )
yang merupakan bagian dokumentasi mutunya
D. Kemampuan Pemeriksaan
A Darah Hematologi:
Hemoglobin
Golongan Darah
Kimia Darah:
11
Gula 2 jam PP
Cholesterol Total
Asam Urat
Serologis/Imunologi
HIV
HBsAg
Syiphilis
Dengue NS1
Urine Rutin
E. Metode
NILAI RUJUKAN
HEMATOLOGI SEROLOGI
12
Cholesterol Total < 200 mg / dl
URINE RUTIN
13
BAB V
LOGISTIK
C. Reagen
Reagen yang diperlukan disesuaikan dengan metode yang digunakan untuk tiap
pemeriksaan di Laboratorium Puskesmas tersebut. Penanganan dan
penyimpanan reagen harus sesuai persyaratan antara lain :
1. Perhatikan tanggal kadaluarsa, suhu penyimpanan
2. Pemakaian reagen dengan metode First in – First Out (sesuai urutan
penerimaan)
3. Sisa pemakaian reagen tidak diperbolehkan dikembalikan kedalam
sediaan induk
4. Perhatikan perubahan warna, adanya endapan, kerusakan yang terjadi
pada sediaan reagen
5. Segera tutup kembali botol sediaan reagen setelah digunakan
6. Lindungi label dari kerusakan
7. Tempatkan reagen dalam botol berwarna gelap dan lemari supaya tidak
terkena cahaya matahari langsung
8. Reagen harus terdaftar di Kementrian Kesehatan
9. Reagen HIV harus sudah dievaluasi oleh Laboratorium Rujukan Nasional
No Nama Reagen
1 Strip Glukosa
2 Strip Asam Urat
3 Strip Kolesterol
4 Strip Hemoglobin
5 Reagen HIV
6 Reagen Syphilis
7 Reagen HbsAg
8 Alkohol Swab
9 Blood Lancet
10 Pot Dahak
11 Handscoon
14
E. Batas Bufferstock Reagensia Untuk Melakukan Pemesanan
Jika reagensia dan bahan lain untuk pemeriksaan laboratorium tidak tersedia
maka petugas laboratorium wajib menyampaikan kepada Kepada dokter dan
setiap poli, Petugas laboratorium mengajukan ke bagian bendahara untuk
dibuatkan surat pesanan kepada Dinas Kesehatan atau Distributor yang akan
dilakukan pembelian
15
1) Penyimpanan Bahan Habis Pakai
Hal yang harus diperhatikan dalam penyimpanan bahan habis pakai
adalah sebagai berikut :
Penentuan tempat penyimpanan harus memperhatikan sifat dan
bahan penyusunnya seperti kayu, besi/logam, kertas, plastik, kain,
karet, tanah liat dan sebagainya.
Tempat penyimpanan harus aman dan bebas dari penyebab
kerusakan.
Tata cara penyimpanan harus memperhatikan ciri khas atau jenisnya,
misalnya peralatan disimpan ditempat yang sesuai dengan
memperhatikan syarat-syarat penyimpanan.
Penyimpanan bahan habis pakai disesuaikan dengan sifat kimia zat
tersebut.
Bahan-bahan kimia yang berbahaya (mudah terbakar, mudah
meledak dan beracun ) harus diberi label peringatan yang tidak mudah
terlepas.
2) Penyimpanan Peralatan
Peralatan yang sering digunakan disimpan sedemikian rupa hingga
mudah diambil dan dikembalikan. Alat-alat laboratorium sebagian besar
terbuat dari gelas. Alat- alat seperti ini disimpan berkelompok berdasarkan
jenis alat, seperti tabung reaksi, gelas kimia, labu (erlenmeyer dan labu
didih), corong, buret dan pipet, termometer, cawan porselein dan gelas
ukur, klem, pinset yang terbuat dari logam dan instrumen yang memiliki
komponen-komponen dari logam yang sangat halus, seperti alat-alat ukur
yang bekerja menggunakan arus listrik, disimpan di tempat terpisah, jauh
dari zat-zat kimia terutama zat-zat yang bersifat korosif. Alat-alat seperti
ini harus disimpan ditempat yang kering dan bebas dari zat atau uap
korosif serta bebas guncangan. Masing-masing tempat penyimpanan alat
diberi nama agar mudah mencari alat yang diperlukan. Pipet dan buret
disimpan dalam keadaan berdiri. Oleh karena itu pipet dan buret perlu
ditempatkan pada tempat yang khusus.
b. Pelaporan
Pelaporan yang harus disampaikan secara berkala ke Dinas Kesehatan
Kabupaten berupa laporan bulanan yang merupakan hasil rekapitulasi
pencatan harian. Laporan triwulan, semesteran dan tahunan sesuai
ketentuan yang berlaku Pelaporan untuk penyakit tertentu menggunakan
formulir baku yang sudah ditentukan oleh program.
17
BAB VI
KESELAMATAN PASIEN
18
BAB VII
KESELAMATAN KERJA
20
BAB VIII
PENGENDALIAN MUTU
A. Bakuan Mutu
Demi menjamin tercapai dan terpeliharanya mutu dari waktu ke waktu,
diperlukan bekuan mutu pedoman / bakuan yang tertulis yang dapat dijadikan
pedoman kerja bagi tenaga pelaksana.
1. Tiap pelaksana yang ditunjuk memiliki pegangan yang jelas tentang apa
dan bagaimana prosedur melakukan suatu aktifitas.
2. Standar yang tertulis memudahkan proses pelatihan bagi tenagapelaksana
baru yang akan dipercayakan untuk mengerjakan suatu aktifitas.
3. Kegiatan yang dilaksanakan dengan mengikuti prosedur baku yang tertulis
akan menjamin konsistensinya mutu hasil yang dicapai.
4. Kebijakan mutu dibuat oleh penanggung jawab laboratorium
5. Standar Operasional Prosedur dan instruksi kerja di buat oleh tenaga teknis
laboratorium dan disahkan oleh penanggung jawab laboratorium
puskesmas.
B. Pemantapan Mutu
Pemantapan mutu (quality assurance) adalah keseluruhan proses atau semua
tindakan yang dilakukan untuk menjamin ketepatan waktu dan ketelitian hasil
pemeriksaan. Pemantapan mutu harus dilakukan dan diselenggarakan di
laboratorium, kegiatan ini berupa pemantapan mutu internal dan eksternal.
1. Pemantapan Mutu Internal (PMI) adalah kegiatan yang dilakukan oleh
petugas laboratorium untuk menjamin mutu pemeriksaan dengan
mencegah terjadinya kesalahan dan mendeteksi sedini mungkin bila
terjadi kesalahan sehingga diperoleh hasil pemeriksaan yang tepat.
a. Manfaat
Pemantapan dan penyempurnaan metode pemeriksaan
dengan mempertimbangkan aspek analitik dan klinis.
Mempertinggi kesiagaan tenaga, sehingga pengeluaran hasil
yang salah tidak terjadi dan perbaikan penyimpanan dapat
dilakukanseger
Memastikan bahwa semua proses mulai daari persiapan
pasien, pengambilan, pengiriman, penyimpanan dan
21
pengolahan dan pemeriksaan specimen sampai dengan
pencatatan dan pelaporan telah dilakukan dengan benar
Mendeteksi penyimpangan dan mengetahui sumbernya
Membantu perbaikan pelayanan kepada pelanggan
b. Cakupan
Inkubator (Incubator)
Lemari es (Refrigerator/freezer)
OvenAutoklaf (Autoclave)
Micro Pipet
Sentrifus (Centrifuge)
Fotometer (Photometer)
Hematologi Analyzer
Urine Analyzer
Timbangan analitik
Timbangan elektrik
Thermometer
23
c. Pemantapan Mulu Eksternal (PME) adalah kegiatan yang diselenggarakan
oleh pihak luar secara periodik untuk memantau dan menilai penampilan
laboratorium dalam bidang tertentu.
Kegiatan ini antara lain diselenggarakan oleh pemerintah dengan
melibatkan peran serta organisasi profesi dan swasta baik secara nasional
maupun regional.
Setiap laboratorium Puskesmas wajib mengikuti Pemantapan Mutu
Eksternal yang diselenggarakan oleh pemerintah secara teratur dan
periodik meliputi semua bidang pemeriksaan laboratorium.
Pemantapan mutu eksternal untuk berbagai bidang pemeriksaan
diselenggarakan pada berbagai tingkatan, yaitu :
a. Tingkat nasional/tingkat pusat : Kementrian Kesehatan
b. Tingkat Regional : BBLK
c. Tingkat Provinsi/wilayah : BBLK/BLK
Kegiatan pemantaan mutu eksternal ini sangat bermanfaat bagi
Laboratorium Puskesmas, karena dari hasil evaluasi yang diperoleh dapat
menunjukan performance laboratorium yang bersangkutan dalm bidang
pemeriksaan yang ditentukan.
C. PENINGKATAN MUTU
Peningkatan Mutu adalah suatu proses terus menerus yang dilakukan oleh
laboratorium sebagai tindak lanjut dari Pemantapan Mutu Internal (PMI) dan
Pemantapan Mutu Eksternal (PME) untuk meningkatkan kinerja laboratorium.
24
BAB VII
PENUTUP
29