Pada zaman dahulu, hiduplah seorang anak perempuan cantik dan manis bernama Cinderella.
Ia
tinggal bersama ibu dan dua orang saudara tiri yang sangat kejam.
Setiap hari, Cinderella harus mengerjakan pekerjaan rumah. Ia juga mendapat siksaan dari ibu dan
saudara tirinya. Namun, ia tetapi tidak pernah membenci atau marah kepada ibu atau saudara
tirinya. Ia juga tidak pernah mengeluh atau merasa lelah dengan semua pekerjaan yang diberikan.
Suatu hari, sebuah sayembara pesta dansa datang dari istana. Sang pangeran sedang mencari gadis
untuk menjadi pendamping hidup. Ibu dan saudari tirinya sangat antusias untuk datang ke acara
tersebut.
Saudara Tiri: “Aku ingin datang ke pesta itu. Aku akan berdansa dengan pangeran,”
Ibu Tiri: “Ibu pasti akan sangat bahagia, jika kamu bisa menikah dengan Pangeran dan kita akan
menjadi keluarga terpandang,”
Sayembara pesta dansa juga terdengar oleh Cinderella.
Ia pun meminta izin kepada ibu tirinya untuk ikut hadir ke pesta dansa istana itu.
Cinderella: “Bolehkan aku ikut ke pesta dansa bersama kalian bu?”
Ibu dan kakak tirinya tertawa dan memandang Cinderella dengan rendah.
Ibu Tiri: “Hai gadis muda, kau hanya akan menghinaku saat datang ke pesta,”
Saudara Tiri: “Kau benar, bu. Orang-orang hanya akan tertawa melihatmu di sana!”
Hari pesta dansa pun tiba.
Semua orang di rumah Cinderella sibuk menata rambut dan mencoba gaun indah untuk pergi ke
acara tersebut, kecuali dirinya.
Ibu dan dua kakak tiri Cinderella pergi ke pesta dansa. Cinderella masuk ke dalam kamarnya dan
menangis. Ia sangat ingin datang ke pesta dansa kerajaan itu sama seperti gadis-gadis lain.
Saat Cinderella sedang sedih karena tidak bisa pergi ke pesta dansa, muncullah seorang peri dari
jendela kamarnya.
Ibu Peri: “Berhentilah menangis anak baik,”
Cinderella merasa terkejut dengan kehadiran ibu peri di kamarnya. Ia pun menghapus air matanya.
Cinderella: “Aku sangat ingin pergi ke pesta dansa. Tapi haruskah aku pergi dengan pakaian
compang-camping ini?"
Ibu peri menyentuhnya dengan tongkat sihir, seketika pakaian lusuhnya menjadi gaun yang indah.
Ibu peri juga memberikan sepasang sepatu kaca terbaik di dunia. Dengan pakaian yang sangat indah
dan kereta kuda, Ia berangkat ke istana untuk ikut dalam pesta dansa. Namun, sebelum pergi ibu peri
menitip pesan bahwa ia harus meninggalkan pesta dansa tepat pukul 12 malam.
Kehadiran Cinderella sukses menarik perhatian semua tamu di pesta dansa, termasuk pangeran.
Dengan tangannya sendiri, pangeran meminta Cinderella untuk berdansa bersamanya. Mereka
berdua menari sangat anggun dan sangat serasi.
Ibu dan dua kakak tiri Cinderella sangat iri dengan wanita yang tak dia kenali itu. Mereka benar-benar
sangat kesal melihatnya.
Lalu, suara lonceng tanda tengah malam berbunyi. Cinderella pun bergegas untuk keluar dari pesta
dansa. Pangeran mencoba menahannya, tetapi ia tetap berlari keluar dan tanpa sadar meninggalkan
sepatu kacanya.
Pangeran yang sangat penasaran dengan gadis cantik di pesta dansa. Ia kembali melakukan
pengumuman bahwa sedang mencari gadis yang memiliki sepatu kaca dan datang ke pesta dansa.
Satu demi satu rumah didatangi langsung oleh pangeran, tetapi tidak ada yang cocok dengan sepatu
yang ia bawa.
Sampai akhirnya, saat berada di rumah Cinderella, sang pangeran berkata.
Pangeran: “Apakah tidak ada gadis lain di sini?”
Ibu Tiri: “Tidak ada, hanya ada putriku ini,”
Pangeran: “Baiklah, kalau begitu aku akan mencari ke tempat lain,”
Saat Pangeran dan dua pengawalnya keluar, tiba-tiba ia melihat seorang gadis dari jendela.
Kemudian, ia mengatakan hal itu kepada si ibu tiri dan akhirnya ia membiarkan Cinderella keluar dari
kamarnya. Pangeran sangat terkejut, karena sepatu kaca yang ia bawa sangat pas dengan Cinderella.
Kemudian, Cinderella mengeluarkan sepatu yang ia miliki. Sesuai janjinya, pangeran menikahi gadis
pemilik sepatu kaca dan menjadikannya sebagai putri di kerajaan miliknya.
Cinderella pun hidup bahagia selamanya.