0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan39 halaman

MAKALAH

Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan39 halaman

MAKALAH

Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

FREQUENCY HOPPING SPREAD SPECTRUM DAN DIRECT

SEQUENCE SPREAD SPECTRUM


Disusun guna memenuhi Tugas Mata Kuliah Telekomunikasi Analog Dan Digital

Dosen Pengampu:
Amalia Eka Rakhmania, S.T, M.T., M.Sc.

Kelompok 3 Kelas TT 1A
Anggota Kelompok:
1. Dhinda Kusherawati A (2331130068)
2. Dwi Mahendra G (2331130006)
3. Geraldo Maulana A (2331130028)
4. Mohammad Ekhsan R (2331130020)
5. Safwan Radhe Kholibi (2331130044)

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK TELEKOMUNIKASI


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG 2024

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas limpahan rahmatnya penyusun dapat menyelesaikan makalah ini tepat
waktu tanpa ada halangan yang berarti dan sesuai dengan harapan.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Ibu Amalia Eka
Rakhmania, S.T, M.T., M.Sc. sebagai dosen pengampu mata kuliah
Telekomunikasi Analog Dan Digital yang telah membantu memberikan
arahan dan pemahaman dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih
banyak kekurangan karena keterbatasan kami. Maka dari itu penyusun
sangat mengharapkan kritik dan saran untuk menyempurnakan makalah ini.
Semoga apa yang ditulis dapat bermanfaat.

Malang,

Kelompok 3

2
DAFTAR ISI

3
DAFTAR GAMBAR

4
BAB I
Pendahuluan
1.1. Latar Belakang

Seiring berjalannya waktu, kebutuhan akan teknologi informasi sangat


meningkat dan tak terhindarkan lagi, terlebih lagi jaringannya. Teknologi
jaringan yang sampai sekarang telah berkembang dengan sangat pesat, dari
teknologi kawat tembaga dengan kecepatan 10 Mbps sampai 100 Mbps hingga
teknologi fiber optic berkecepatan sangat tinggi (> 1 Gbps). Namun setelah
teknologi jaringan menuju ke arah yang semakin cepat, timbul masalah
mobilitas. Semakin berkembangnya teknologi maka semakin dibutuhkan suatu
jaringan yang efisien khususnya dalam hal waktu dan tempat. Dibutuhkan
sebuah jaringan yang memiliki mobilitas tinggi dan dengan biaya yang
terjangkau. Oleh karena itulah sistem jaringan nirkabel dibuat. Teknologi
spread spectrum saat ini cukup jarang dibahas secara mendalam di Indonesia.

Pada saat proses pengiriman informasi/data sering dijumpai masalah


interferensi, noise, maupun jamming yang bisa merusak sinyal informasi.
Untuk mengatasi masalah tersebut maka digunakan teknik komunikasi
frequency-hopping spread spectrum. Teknik tersebut digunakan karena sinyal
pembawa (carrier) mengubah-ubah frekuensi (frequency-hopping) secara acak
tetapi sesuai urutan. Jadi dapat mengurangi kerusakan yang ditimbulkan oleh
interferensi, noise, maupun jamming dan menjamin kerahasiaan sinyal yang
dikirimkan.

Spread Spectrum ditemukan pada akhir 1940-an. Awalnya diterapkan dalam


komunikasi militer, untuk menghindari interferensi dan encoding oleh
perangkat lain. Saat ini sistem spread spectrum digunakan dalam banyak
sistem komunikasi. Antara lain yaitu; pada sistem komunikasi WLAN
(Wireless Local Area Networks) , sistem navigasi GPS (Global Positioning
System) , sistem komunikasi satelit GLOBALSTAR , sistem kendali dan
komunikasi pada Drone atau UAV (Unmanned Aerial Vehicles), sistem
komunikasi seluler generasi kedua (2G) berdasarkan standar IS-95,
Wideband-CDMA pada sistem komunikasi seluler generasi ketiga (3G) dan
sedang dikembangkan sebagai metode multiple access pada sistem
komunikasi seluler generasi kelima (5G) [5]. Selain bidang komunikasi,
sistem spread spectrum juga banyak digunakan pada: metode watermarking
digital sebagai perlindungan hak cipta atas data audio, gambar, dan video
(multimedia), metode watermarking digital dalam bidang telemedicine,
rangkaian pengubah DC/DC, LLC Resonant, dan Serial AT Attachment

5
Generasi ke-3 (SATA-III) untuk mengurangi masalah interferensi
elektromagnetik (EMI). Sistem spread spectrum yang paling banyak
digunakan adalah sistem direct-sequence dan frequency-hopping. Kedua
sistem tersebut telah banyak digunakan pada perangkat komunikasi,
khususnya pada sistem kendali dan komunikasi Drone atau

UAV. Akan tetapi masih belum diketahui secara pasti bagaimana cara
meningkatkan keoptimalan kedua sistem tersebut dalam menghindari
interferensi; dan juga bagaimana pengaruhnya jika dalam satu tempat terdapat
dua atau lebih perangkat komunikasi yang menggunakan salah satu dari kedua
sistem tersebut dengan channel yang sama. Penelitian ini dimaksudkan untuk
merancang dan mensimulasikan sistem DSSS dan FHSS, dan juga dilakukan
analisa karakterisasi pada kedua sistem tersebut. Perancangan program
simulasi dilakukan berdasarkan fungsi matematis dan langkah- langkah
pemrosesan sinyal digital pada kedua sistem, dan dengan menggunakan
software Matlab. Sedangkan analisa karakterisasi dilakukan dengan program
simulasi, yang akan mensimulasikan proses interferensi dengan sistem dan
channel yang sama. Dan akan divariasikan variabel-variabel yang terdapat
pada masing-masing sitem. Dengan begitu akan diketahui variabel-variabel
apa saja yang mempengaruhi keoptimalan masing-masing sistem. Parameter
yang digunakan untuk menentukan seberapa besar keoptimalan masing-
masing sistem yaitu nilai BER. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat
bermanfaat sebagai referensi, untuk meningkatkan keoptimalan sistem DSSS
dan FHSS pada sebuah perangkat komunikasi. Sedangkan model program
simulasi diharapkan dapat digunakan untuk perkembangan teknik multiple-
access baru, yang lebih tahan terhadap interferensi.

Sistem spread spectrum yang paling banyak digunakan adalah sistem direct-
sequence dan frequency-hopping. Sistem direct-sequence spread spectrum
(DSSS) mentransmisikan sinyal pada satu frekuensi namun pada pita yang
sangat lebar. Sedangkan sistem frequency-hopping spread spectrum (FHSS)
mentransmisikan sinyal dengan pita sempit, namun dengan cepat melompat
dari satu frekuensi ke frekuensi berikutnya (beberapa milidetik pada setiap
frekuensi).

6
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas dapat diambil rumusan masalah yang akan penulis
bahas antara lain adalah:
1. Bagaimana cara kerja FHSS dan DSSS dalam menyebarkan energi
sinyal?
2. Apa saja kelebihan dan kekurangan FHSS dibandingkan dengan
DSSS?
3. Dalam kondisi seperti apa FHSS lebih unggul daripada DSSS, dan
sebaliknya?
4. Bagaimana pertimbangan keamanan informasi pada masing-masing
teknik?
5. Apa saja aplikasi umum FHSS dan DSSS dalam sistem komunikasi
nirkabel?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui cara kerja DSSS dan FHSS dalam menyebarkan energi
sinyal
2. Menganalisis kelebihan dan kekurangan masing-masing teknologi
spread spectrum.
3. Membahas implementasi teknologi ini dalam perangkat komunikasi
modern seperti Wi-Fi, Bluetooth, dan sistem komunikasi militer.
4. Menganalisis bagaimana FHSS dan DSSS dapat digunakan untuk
meningkatkan keamanan komunikasi melalui penyebaran spektrum
yang lebih sulit untuk disadap.
5. Mengidentifikasi aplikasi praktis dari FHSS dan DSSS dalam
industri telekomunikasi.
1.4 Manfaat
1. Pengembangan pengetahuan kepada mahasiswa, perancang
jaringan, ataupun masyarakat luas di bidang sistem jaringan
wireless khususnya teknik modulasi DSSS dan FHSS.
2. Beberapa sistem komunikasi nirkabel menggabungkan elemen
FHSS dan DSSS untuk mendapatkan keuntungan dari kedua
teknik. Misalnya, sistem tersebut dapat menggunakan hopping
frekuensi untuk menghindari interferensi statis dan kode pseudo-
acak untuk meningkatkan kapasitas jaringan.

7
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Frequency Hopping Spread Spectrum (FHSS)


Frequency Hopping Spread Spectrum (FHSS) adalah salah satu teknik
spread spectrum yang memiliki karakteristik perubahan secara periodik pada
frekuensi pembawa dari sinyal yang ditransmisikan. Urutan frekuensi pembawa
disebut frequency-hopping pattern. Himpunan frekuensi pembawa M {f1, f2,…
,fM} disebut hopset. Waktu perubahan frekuensi pembawa disebut hop rate.
Hopping (lompatan) yang terjadi melalui pita frekuensi disebut hopping band
yang mencakup kanal frekuensi M. Setiap kanal frekuensi didefinisikan sebagai
daerah spektral yang mencakup frekuensi pembawa tunggal dari hopset sebagai
pusat frekuensi dan memiliki bandwidth cukup besar untuk mencakup daya
dalam sinyal pulsa dengan spesifik frekuensi pembawa.
Pada frequency Hopping system, carrier mengubah frekuensi, atau hops,
tergantung pada pseudo random sequence. Pseudorandom sequence merupakan
daftar dari beberapa frekuensi dimana carrier akan melompat pada interval
waktu yang dispesifikasikan sebelum terjadi berulang ulang. Transmiter
menggunakan sequence hop untuk memilih transmisi frekuensi.
Pada FHSS proses penyebaran informasi pembicaraan pada suatu daerah
frekuensi dengan lebar tertentu, dilakukan dengan cara mengubah-ubah
frekuensi sinyal pembawa setiap saat seperti contoh pada (gambar 2.1.1).
Dimana frekuensi sinyal pembawa ini membawa informasi pembicaraan.
Dari (gambar 2.1.1) terlihat bahwa informasi pembicaraan ditebarkan pada
daerah frekuensi f1 s/d fN yang jauh sangat lebar bila dibandingkan dengan
lebar bidang frekuensi informasi pembicaran. Dengan kode-kode tertentu yang
dapat diacak maka seolah-olah informasi pembicaraan akan menempati daerah
frekuensi yang berubah-ubah secara acak pula, atau dengan kata lain informasi
pembicaraan akan melompat (hopping) dari satu lokasi frekuensi ke frekuensi
lainnya antara f1 s/d fN secara acak sesuai dengan kode-kode yang sudah
ditentukan.

8
Gambar 1. Proses Penebaran Informasi FHSS

Karena daerah frekuensi yang ditempati oleh informasi pembicaraan akan


selalu berpindah- pindah (hopping) secara acak dari waktu ke waktu dengan
kecepatan perpindahan yang sangat tinggi, maka sangat sukar untuk dilakukan
jamming (pemacetan) oleh pihak lain yang tidak mengetahui atau tidak mampu
menguraikan kode-kode yang digunakan untuk mengubah-ubah frekuensi. Karena
kemampuan FHSS untuk menghindari penyadapan dan pemacetan oleh pihak yang
tidak diinginkan inilah, maka FHSS sangat tepat apabila digunakan untuk teknik
pengamanan informasi pembicaraan.
Frekuensi hopping dapat diklasifikasikan sebagai fast dan slow. Fast
frequency hopping (FFH) terjadi jika ada lebih dari satu hop untuk setiap simbol
informasi. Meskipun definisi ini tidak mengacu pada hop rate, Fast frequency
hopping (FFH) merupakan pilihan hanya jika hop rate yang melebihi information-
symbol rate dapat diimplementasikan. Pada Fast frequency hopping (FFH) nilai Tc
< Ts yaitu frekuensi hopping terjadi lebih cepat dari modulasi. Sistem fast
FH/MFSK berbeda dari sistem slow FH/MFSK bahwa ada beberapa lompatan
setiap simbol M-ary. Oleh karena itu, dapat diterapkan dari Fast frequency hopping
(FFH) yaitu Ts = NTc. Gambaran dari sistem fast FHSS dengan modulasi 4-FSK
(M = 4), 6 frekuensi lompatan (L = 6), dan 2 lompatan setiap simbol (Ts = 2Tc, N
= 2).

9
Gambar 2. Frequency Plot dari Fast Frequency Hopping

Slow frequency hopping (SFH) terjadi jika salah satu atau lebih simbol
informasi yang ditransmisikan dalam interval waktu antara hop frekuensi. Slow
frequency hopping (SFH) biasanya lebih baik karena gelombang yang ditransmisikan
jauh lebih rapat dan switching time yang berlebihan bisa berkurang. Pada Slow
frequency hopping (SFH) ini dimana Tc > Ts. Sinyal slow FH/MFSK adalah
karakteristik dengan memiliki beberapa simbol transmisi setiap hop. Olek karena itu,
setiap simbol dari sinyal slow FH/MFSK adalah sebuah chip. Kententuan dari Slow
frequency hopping (SFH) adalah Tc = NTs. Persyaratan orthogonalitas untuk sinyal
FSK pemisahan antara simbol frekuensi FSK yang berdekatan setifaknya 2π/Ts. Oleh
karena itu, pemisahan minimum antara frekuensi hopping berdekatan adalah 2πM/Ts.
Slow frequency hopping (SFH) dengan 4-FSK (M =4), 6 frekuensi hop (L=6), dan 4
simbol setiap lompatan (tc = 4Ts, N = 4).
Gambar 3. Frequency Plot dari Slow Frequency Hopping

2.1 Sistem Frekuensi Hopping Spread Spectrum dari sisi Transmitter dan
Receiver
A. Sistem frequency Hopping Spread Spectrum pada transmitter
1. Untuk transmisi data biner dimasukkan ke dalam sebuah modulator
dengan menggunakan beberapa skema pengkodean digital-ke-analog,
semacam Frequency-shift keying(FSK) atau Binary Phase-Shift
10
Keying(BPSK).
2. Sinyal yang dihasilkan dipusatkan disekitar beberapa frekuensi dasar.
Sumber jumlah pseudorandom menyajikan apa yang dilampirkan
dalam indeks didalam tabel frekuensi.
3. Pada masing masing interval yang berurutan, dipilih sebuah frekuensi
baru dari tabel. Frekuensi ini kemudian dimodulasikan melalui sinyal
yang dihasilkan dari modulator awal agar menghasilkan sinyal yang baru
dengan bentuk yang sama namun sekarang dipusatkan di tengah tengah
frekuensi yang dipilih dari tabel.

Gambar 4. Sistem Frequency Hopping Spread Spectrum pada


Transmitter

B. Sistem Frequency Hopping Spread Spectrum pada Receiver


1. Sinyal spektrum penyebaran didemodulasikan menggunakan sejumlah
frekuensi yang sama yang didapatkan dari tabel kemudian
didemoduasikan agar menghasilkan data output.
2. Sebagai contoh, bila FSK digunakan, modulator memilih salah satu dari
dua frekuensi, katakanlah f0 atau f1, berkaitan dengan transmisi biner 1
atau biner 0.Sinyal FSK biner yang dihasilkan diartikan ke dalam frekuensi
melalui suatu jumlah yang ditentukan melalui urutan output dari generator
sumber pseudorandom. Sehingga, bila frekuensi yang dipilih pada waktu I
adalah f1 maka sinyal pada waktu I adalah baik fi + fo maupun fi + f1.

11
Gambar 5. Sistem Frequency Hopping Spread Spectrum pada
Receiver

2.2 Penerapan Frequency Hopping Spread Spectrum


Aplikasi Frequency Hopping Spread Spectrum (FHSS) telah digunakan
untuk pengamanan informasi pembicaraan (dan data) yang telah diterapkan oleh
militer Israel dalam peperangan di dataran tinggi Golan tahun 1980-an, dimana
kendaraan lapis baja (tank) milik tentara AD Israel yang dilengkapi peralatan
komunikasi dengan FHSS mampu menghindari penyadapan pihak lawan sehingga
selalu berhasil dalam setiap operasinya.
Selain itu, FHSS juga dimanfaatkan untuk komunikasi akses jamak (multiple
access) pada komunikasi seluler, yang dikenal sebagai FHMA (Frequency Hopping
Multiple Access) untuk menghasilkan multiple access ranking environment
kapasitas tinggi. Apabila pada FHSS untuk pengubahan frekuensi pembawa
dilakukan secara acak dengan menggunakan kode – kode tertentu yang
dirahasiakan, maka pada FHMA pengubahan frekuensi dilakukan secara teratur
menggunakan kode – kode yang unik. Penggunaan kode – kode yang unik pada
FHMA inilah yang merupakan dasar komunikasi seluler dengan teknologi CDMA
(Code Division Multiple Access) dan WCDMA (Wideband – CDMA).
2.3 Kelebihan dan Kekurangan Frequency Hopping Spread Spectrum
A. Kelebihan
a) Bandwidth sistem ini besar. Sistem dapat diprogram untuk
menghindari bagian dari spektrum.
b) resistansi yang tinggi terhadap interferensi narrowband

B. Kekurangan
a) Kesalahan dalam koneksi, Tidak banyak berguna untuk jangkauan yang bagus.

12
2.4 Contoh Soal Frequency Hopping Spread Spectrum
1. Bagaimana FHSS bekerja?
Pada system frekuensi Hopping, carrier mengubah frekuensi, atau hops,
tergantung pada pseudo random sequence. pseudorandom sequence merupakan
daftar dari beberapa frekuensi dimana carrier akan melompat pada interval
waktu yang dispesifikasikan sebelum terjadi berulang-ulang. Transmitter
menggunakan sequence hop untuk memilih transmisi frekuensi.
2. Apakah perbedaan dari Fast Frequency Hopping dan Slow Frequency
Hopping
Fast frequency hopping dan slow frequency hopping adalah dua metode yang
digunakan dalam teknologi pengalihan frekuensi untuk mengurangi gangguan dan
meningkatkan keamanan komunikasi nirkabel. Perbedaan utama antara keduanya
terletak pada kecepatan perubahan frekuensi yang digunakan.
 Fast Frequency Hopping:
Fast frequency hopping (pengalihan frekuensi cepat) melibatkan perubahan
frekuensi yang cepat dan acak dalam komunikasi nirkabel. Dalam metode ini,
pemancar dan penerima secara terus-menerus beralih antara saluran frekuensi
yang berbeda dengan kecepatan tinggi, seringkali dalam rentang mikrodetik atau
milidetik. Kecepatan perubahan frekuensi yang tinggi ini membuat sulit bagi
penyusup atau pemangku kepentingan yang tidak berwenang untuk mengganggu
atau memata-matai komunikasi. Kecepatan pengalihan yang cepat ini juga dapat
membantu mengurangi dampak interferensi dari sumber-sumber gangguan yang
ada.
 Slow Frequency Hopping:
Slow frequency hopping (pengalihan frekuensi lambat) melibatkan perubahan
frekuensi yang lebih lambat dan berurutan dalam komunikasi nirkabel. Dalam
metode ini, pemancar dan penerima beralih antara saluran frekuensi dengan
kecepatan yang lebih lambat, mungkin dalam rentang detik atau puluhan detik.
Pola pengalihan frekuensi biasanya terstruktur dan teratur dalam urutan yang
ditentukan sebelumnya. Keuntungan dari pengalihan frekuensi lambat adalah
memungkinkan waktu yang lebih lama bagi sistem untuk menstabilkan
komunikasi pada setiap frekuensi sebelum beralih ke frekuensi berikutnya. Hal ini
dapat meningkatkan kehandalan komunikasi dalam situasi di mana ada
interferensi frekuensi tertentu atau gangguan lainnya.
3. Mengapa Slow Frequency Hopping lebih baik ditransmisikan
daripada Fast Frequency Hopping
Karena Slow frequency hopping (SFH) terjadi jika salah satu atau lebih simbol

14
informasi yang ditransmisikan dalam interval waktu antara hop frekuensi. Slow
frequency hopping (SFH) biasanya lebih baik karena gelombang yang ditransmisikan
jauh lebih rapat dan swiching tme ang berlebihan bisa berkurang.

16
2.5 Direct Sequence Spread Spectrum (DSSS)
DSSS adalah salah satu teknik spread spectrum (spektral tersebar), yaitu
suatu jenis modulasi dimana lebar bidang frekuensi (bandwidth) transmisi yang
digunakan jauh lebih besar daripada lebar bidang frekuensi minimum yang
dibutuhkan untuk mentransmisikan informasi, sementara tidak ada kaitan langsung
antara lebar bidang frekuensi keluaran dengan modulasi oleh sinyal informasinya.
Dengan adanya pemodulasian secara Direct Sequence Spread Spectrum,
sinyal informasi (termodulasi digital) yang mempunyai lebar bidang frekuensi
terbatas akan ditebarkan pada daerah frekuensi yang jauh lebih lebar, serta akan
dapat bekerja pada rapat spektral daya yang rendah.

Gambar 6. Direct Sequence Spread Spectrum pada Transmitter

Pada Direct Sequence Spread Spectrum, proses penebaran dilakukan dengan


melakukan perkalian langsung (direct) antara sinyal informasi (yang
dimodulasikan secara digital) dengan suatu urutan spreading code (kode penebar).
Lebar bidang frekuensi daerah sinyal informasi ditebarkan tergantung pada chip
rate (laju chip) dari kode penebar, dimana kode penebar ini dihasilkan oleh suatu
PN (pseudo noise) generator dengan panjang urutan tertentu yang dapat diprogram.

18
Proses demodulasi (despreading) sinyal Direct Sequence Spread Spectrum di
penerima, dilakukan menggunakan proses korelasi antara sinyal Direct Sequence
Spread Spectrum diterima dengan replika kode penebar yang dibangkitkan di
penerima dengan bantuan rangkaian akuisisi dan tracking.
Karena sinyal informasi ditebarkan pada daerah frekuensi yang cukup lebar
dengan teknik Direct Sequence Spread Spectrum, sinyal informasi akan tahan
terhadap sinyal interferensi (gangguan) dari luar dan sinyal jamming (pemacetan)
yang sengaja dilakukan oleh perangkat komunikasi lain.

2.1 Sistem Frekuensi Hopping Spread Spectrum dari sisi Transmitter dan
Receiver
A. Sistem frequency Hopping Spread Spectrum pada transmitter
1. Untuk transmisi data biner dimasukkan ke dalam sebuah modulator
dengan menggunakan beberapa skema pengkodean digital-ke-analog,
semacam Frequency-shift keying(FSK) atau Binary Phase-Shift
Keying(BPSK).
2. Sinyal yang dihasilkan dipusatkan disekitar beberapa frekuensi dasar.
Sumber jumlah pseudorandom menyajikan apa yang dilampirkan
dalam indeks didalam tabel frekuensi.
3. Pada masing masing interval yang berurutan, dipilih sebuah frekuensi
baru dari tabel. Frekuensi ini kemudian dimodulasikan melalui sinyal
yang dihasilkan dari modulator awal agar menghasilkan sinyal yang baru
dengan bentuk yang sama namun sekarang dipusatkan di tengah tengah
frekuensi yang dipilih dari tabel.

20
Gambar 4. Sistem Frequency Hopping Spread Spectrum pada
Transmitter

B. Sistem Frequency Hopping Spread Spectrum pada Receiver


1. Sinyal spektrum penyebaran didemodulasikan menggunakan sejumlah
frekuensi yang sama yang didapatkan dari tabel kemudian
didemoduasikan agar menghasilkan data output.
2. Sebagai contoh, bila FSK digunakan, modulator memilih salah satu dari
dua frekuensi, katakanlah f0 atau f1, berkaitan dengan transmisi biner 1
atau biner 0.Sinyal FSK biner yang dihasilkan diartikan ke dalam frekuensi
melalui suatu jumlah yang ditentukan melalui urutan output dari generator
sumber pseudorandom. Sehingga, bila frekuensi yang dipilih pada waktu I
adalah f1 maka sinyal pada waktu I adalah baik fi + fo maupun fi + f1.

21
Gambar 5. Sistem Frequency Hopping Spread Spectrum pada
Receiver

2.2 Penerapan Frequency Hopping Spread Spectrum


Aplikasi Frequency Hopping Spread Spectrum (FHSS) telah digunakan
untuk pengamanan informasi pembicaraan (dan data) yang telah diterapkan oleh
militer Israel dalam peperangan di dataran tinggi Golan tahun 1980-an, dimana
kendaraan lapis baja (tank) milik tentara AD Israel yang dilengkapi peralatan
komunikasi dengan FHSS mampu menghindari penyadapan pihak lawan sehingga
selalu berhasil dalam setiap operasinya.
Selain itu, FHSS juga dimanfaatkan untuk komunikasi akses jamak (multiple
access) pada komunikasi seluler, yang dikenal sebagai FHMA (Frequency Hopping
Multiple Access) untuk menghasilkan multiple access ranking environment
kapasitas tinggi. Apabila pada FHSS untuk pengubahan frekuensi pembawa
dilakukan secara acak dengan menggunakan kode – kode tertentu yang
dirahasiakan, maka pada FHMA pengubahan frekuensi dilakukan secara teratur
menggunakan kode – kode yang unik. Penggunaan kode – kode yang unik pada
FHMA inilah yang merupakan dasar komunikasi seluler dengan teknologi CDMA
(Code Division Multiple Access) dan WCDMA (Wideband – CDMA).
2.3 Kelebihan dan Kekurangan Frequency Hopping Spread Spectrum
A. Kelebihan
a) Bandwidth sistem ini besar. Sistem dapat diprogram untuk
menghindari bagian dari spektrum.
b) resistansi yang tinggi terhadap interferensi narrowband

B. Kekurangan
a) Kesalahan dalam koneksi, Tidak banyak berguna untuk jangkauan yang bagus.

22
2.4 Contoh Soal Frequency Hopping Spread Spectrum
1. Bagaimana FHSS bekerja?
Pada system frekuensi Hopping, carrier mengubah frekuensi, atau hops,
tergantung pada pseudo random sequence. pseudorandom sequence merupakan
daftar dari beberapa frekuensi dimana carrier akan melompat pada interval
waktu yang dispesifikasikan sebelum terjadi berulang-ulang. Transmitter
menggunakan sequence hop untuk memilih transmisi frekuensi.
2. Apakah perbedaan dari Fast Frequency Hopping dan Slow Frequency
Hopping
Fast frequency hopping dan slow frequency hopping adalah dua metode yang
digunakan dalam teknologi pengalihan frekuensi untuk mengurangi gangguan dan
meningkatkan keamanan komunikasi nirkabel. Perbedaan utama antara keduanya
terletak pada kecepatan perubahan frekuensi yang digunakan.
 Fast Frequency Hopping:
Fast frequency hopping (pengalihan frekuensi cepat) melibatkan perubahan
frekuensi yang cepat dan acak dalam komunikasi nirkabel. Dalam metode ini,
pemancar dan penerima secara terus-menerus beralih antara saluran frekuensi
yang berbeda dengan kecepatan tinggi, seringkali dalam rentang mikrodetik atau
milidetik. Kecepatan perubahan frekuensi yang tinggi ini membuat sulit bagi
penyusup atau pemangku kepentingan yang tidak berwenang untuk mengganggu
atau memata-matai komunikasi. Kecepatan pengalihan yang cepat ini juga dapat
membantu mengurangi dampak interferensi dari sumber-sumber gangguan yang
ada.
 Slow Frequency Hopping:
Slow frequency hopping (pengalihan frekuensi lambat) melibatkan perubahan
frekuensi yang lebih lambat dan berurutan dalam komunikasi nirkabel. Dalam
metode ini, pemancar dan penerima beralih antara saluran frekuensi dengan
kecepatan yang lebih lambat, mungkin dalam rentang detik atau puluhan detik.
Pola pengalihan frekuensi biasanya terstruktur dan teratur dalam urutan yang
ditentukan sebelumnya. Keuntungan dari pengalihan frekuensi lambat adalah
memungkinkan waktu yang lebih lama bagi sistem untuk menstabilkan
komunikasi pada setiap frekuensi sebelum beralih ke frekuensi berikutnya. Hal ini
dapat meningkatkan kehandalan komunikasi dalam situasi di mana ada
interferensi frekuensi tertentu atau gangguan lainnya.
3. Mengapa Slow Frequency Hopping lebih baik ditransmisikan
daripada Fast Frequency Hopping
Karena Slow frequency hopping (SFH) terjadi jika salah satu atau lebih simbol

23
informasi yang ditransmisikan dalam interval waktu antara hop frekuensi. Slow
frequency hopping (SFH) biasanya lebih baik karena gelombang yang ditransmisikan
jauh lebih rapat dan switching time yang berlebihan bisa berkurang.

24
2.5 Direct Sequence Spread Spectrum (DSSS)
DSSS adalah salah satu teknik spread spectrum (spektral tersebar), yaitu
suatu jenis modulasi dimana lebar bidang frekuensi (bandwidth) transmisi yang
digunakan jauh lebih besar daripada lebar bidang frekuensi minimum yang
dibutuhkan untuk mentransmisikan informasi, sementara tidak ada kaitan langsung
antara lebar bidang frekuensi keluaran dengan modulasi oleh sinyal informasinya.
Dengan adanya pemodulasian secara Direct Sequence Spread Spectrum,
sinyal informasi (termodulasi digital) yang mempunyai lebar bidang frekuensi
terbatas akan ditebarkan pada daerah frekuensi yang jauh lebih lebar, serta akan
dapat bekerja pada rapat spektral daya yang rendah.

Gambar 6. Direct Sequence Spread Spectrum pada


Transmitter

Pada Direct Sequence Spread Spectrum, proses penebaran dilakukan dengan


melakukan perkalian langsung (direct) antara sinyal informasi (yang
dimodulasikan secara digital) dengan suatu urutan spreading code (kode penebar).
Lebar bidang frekuensi daerah sinyal informasi ditebarkan tergantung pada chip
rate (laju chip) dari kode penebar, dimana kode penebar ini dihasilkan oleh suatu
PN (pseudo noise) generator dengan panjang urutan tertentu yang dapat diprogram.

25
Proses demodulasi (despreading) sinyal Direct Sequence Spread Spectrum di
penerima, dilakukan menggunakan proses korelasi antara sinyal Direct Sequence
Spread Spectrum diterima dengan replika kode penebar yang dibangkitkan di
penerima dengan bantuan rangkaian akuisisi dan tracking.
Karena sinyal informasi ditebarkan pada daerah frekuensi yang cukup lebar
dengan teknik Direct Sequence Spread Spectrum, sinyal informasi akan tahan
terhadap sinyal interferensi (gangguan) dari luar dan sinyal jamming (pemacetan)
yang sengaja dilakukan oleh perangkat komunikasi lain.

Gambar 7. Direct Sequence Spread Spectrum pada Receiver

26
2.6 Prinsip dasar Direct Sequence Spread Spectrum

Gambar 8. Prinsip dasar Direct Sequence Spread Spectrum

Dalam sistem ini digunakan kode penebar (spreading code) sedemikian rupa
sehingga proses deteksinya mudah dilakukan, tanpa gangguan yang berarti dari
sinyal-sinyal lain yang menempati pita frekuensi yang sama. Sinyal keluaran
modulator digital dapat dituliskan sebagai berikut :
Sd(t) = 2P cos [ω Ot + θd(t)]
dimana θd(t) berharga 0 atau π karena menggunakan modulasi BPSK. Perubahan fasa
θd(t) dapat terjadi setiap perioda bit = Tb = 1/(laju bit).
Untuk menyebarkan sinyal tersebut diatas, maka Sd(t) dikalikan dengan
kode penebar c(t), yang dalam realisasinya merupakan sinyal NRZ-polar dengan
amplitude = 1 dan mempunyai lebar satuan = TC lebar “chip”. Laju “chip” atau
“chip rate” adalah jumlah chip perdetik atau = 1/ TC . Format c(t) dibuat
sedemikian rupa sehingga dapat disebut sebagai “sinyal acak semu”. Dengan
demikian, sinyal keluaran St(t) dapat dituliskan sebagai berikut:
St(t) = √2P . c(t).cos [ω Ot + θd(t)]

Sinyal St(t) inilah yang dinamakan Direct Sequence Spread Spectrum, selanjutnya
dapat oleh RFPA (radio frequency power amplifier ) diperkuat sebelum dikirimkan
ke penerima.
2.6.1. Rapat daya sinyal DS-SS
Rapat Spektral Daya Sinyal BPSK Sd(t) :
Sd (f ) = ½ PTS { sinc2 [ (f — f0 ) TS ] + sinc2 [ (f + f0 ) TS ] }

2.6.2. Rapat Spektral Daya kode penebar c(t)


Rapat daya dari kode penebar c(t) adalah transformasi Fourier dari fungsi
27
otokorelasinya :

28
F (Rc(τ )) = Sc(f) = ∫ ∞ ∞ Rc(τ ) e − j2πfτ dτ Sc(f)
= Tc sinc 2 (Ftc)

2.6.3. Rapat daya sinyal DS-SS St(t)

Berikut adalah gambaran penyebaran sinyal BPSK dengan teknik DSSS,


dimana besarnya perbandingan nilai Tc = Tb/2, atau nilai chip rate Rc dua kali
nilai bit rate Rb.
Dalam pengiriman sinyal menggunakan sistem DSSS tidak menutup
kemungkinan akan mengalami gangguan. misal terkena sinyal jamming. Berikut
contoh kasus, apabila sinyal DSSS terkena sinyal jamming J, maka gambarnya
adalah seperti berikut:

Gambar 9. Spektrum sinyal DSSS + sinyal jamming J (warna merah)

Terlihat dari gambar, sinyal DSSS terkena sinyal jamming ( single tone) dengan
amplitudo sebesar J watt, yang nilainya lebih besar dari amplitudo sinyal DSSS.
Dengan digunakannya teknik DSSS, maka di penerima akan terjadi proses
despreading, sehingga amplitudo (energi) dan bandwidth sinyal BPSK kembali
seperti semula. Amplitudo (energi) menjadi A watt dan bandwidth menjadi B
hertz. Sedangkan amplitudo (energi) sinyal jamming menjadi 1/2J dan bandwidth-
nya menjadi ½ nya, seperti gambar 10.

29
Dengan amplitudo (energi) sinyal jamming ditekan menjadi 1/2J dan
bandwidthnya menjadi 2 kalinya, maka tidak akan mengganggu sinyal informasi
BPSK. Semakin besar perbandingan antara Tb dan Tc, maka amplitudo (energi)
sinyal jamming akan semakin kecil, sehingga tingkat efektivitas gangguan
sinyal jamming pada sinyal informasi BPSK semakin rendah, atau dikatakan
rasio perbandingan sinyal terhadap noise ( S/N) di penerima membesar.

Gambar 10. Spektrum sinyal informasi (BPSK) + jamming setelah


Despreading

30
2.7 Kelebihan dan Kekurangan Direct Sequence Spread Spectrum (DSSS)
A. Kelebihan
a) Lebih kebal terhadap jamming
b) Mampu menekan interferensi
c) Dapat dioperasikan pada level daya yang rendah
d) Kemampuan multiple access secara CDMA Code Division Multiple Access
e) Kerahasiaan lebih terjamin
f) Ranging
g) Mampu mengacak sinyal. Dimana hanya receiver yang mengetahui
pengacakan kode dapat kembali menjadi sinyal
h) Beberapa user dapat menggunakan bandwidth yang lebih besar
dengan sedikit interferensi. Contoh user:
1. Telepon seluler
2. Code division multiplexing (CDM)
3. Code division multiple access (CDMA)
B. Kekurangan
a.) Membutuhkan kanal pita lebar dengan distorsi fasa kecil.
b.) Membutuhkan periode waktu akuisisi yang lebih lama.
c.) Membutuhkan generator kode dengan rate yang tinggi.
d.) Ada masalah near-far (jarak jangkauan).
2.8 Contoh soal Direct Sequence Spread Spectrum (DSSS)
1. Bagaimana DSSS bekerja?
DSSS mengkombinasikan sinyal data pada station pengirim dengan data rate bit
sequence yang tinggi, dimana tergantung pada chipping code atau processing
gain. Processing gain yang tinggi meningkatkan resistansi sinyal terhadap
interferensi. Setiap chip pada code akan membedakan modulasi dengan kode
sequence.
2. Sebutkan contoh aplikasi nirkabel yang
menggunakan Teknik DSSS? aplikasi nirkabel
seperti WiFi, Bluetooth, dan sistem komunikasi
satelit.
3. Apa saja kriteria yang harus dipenuhi oleh sebuah sistem spread-spectrum?

31
1) Sinyal yang dikirimkan menduduki bandwidth yang jauh lebih lebar
daripada bandwidth minimum yang diperlukan untuk mengirimkan sinyal
informasi
2) Pada pengirim terjadi proses spreading yang menyebarkan sinyal informasi
dengan bantuan sinyal kode yang bersifat independen terhadap informasi

32
3) Pada penerima terjadi proses despreading yang melibatkan korelasi antara
sinyal yang diterima dan replika sinyal kode yang dibangkitkan sendiri oleh
suatu generator lokal.
2.9 Perbandingan Direct Sequence Spread Spectrum (DSSS) dan FHSS
(Frequency Hopping Spread Spectrum)
Berikut adalah perbandingan antara FHSS (Frequency Hopping Spread Spectrum) dan
DSSS (Direct Sequence Spread Spectrum) dalam beberapa karakteristik utama:
1. Kecepatan Sinyal
Transmisi FHSS : Memiliki kecepatan transmisi yang
rendah (up to 3 Mbps) DSSS: Memiliki kecepatan transmisi
yang tinggi (up to 11 Mbps)
2. Teknik
Modulasi
FHSS : Multilevel Frequency
Shift Keying (FSK) DSSS :
Binary Phase Shift Keying
(BPSK)
3. Pita Frekuensi
FHSS : Menggunakan narrowband carrier yang hops (melompat) di antara
saluran frekuensi yang berbeda
DSSS: Menggunakan frekuensi band yang lebih luas

4. Interferensi/gangguan
FHSS : FHSS lebih tahan terhadap interferensi karena menggunakan loncatan
frekuensi, yang membuatnya sulit untuk mencegat sinyal.dari pihak yang tidak
berwenang.
DSSS : DSSS lebih rentan terhadap gangguan karena menggunakan pita frekuensi
yang lebih lebar.
5. FHSS : Transmisi data dikodekan dan didekodekan menggunakan pola
tertentu yang disebut hopset
DSSS : Transmisi data dikodekan dan diterjemahkan menggunakan urutan biner
acak semu (pseudo random) atau kode chip.
Kedua teknik tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan tergantung pada
aplikasi dan lingkungan komunikasi yang digunakan. Pilihan antara FHSS dan
DSSS tergantung pada faktor seperti kehandalan yang diperlukan, lingkungan
frekuensi yang tersedia, keamanan data, dan kompleksitas implementasi yang
diinginkan.
bar 7. Direct Sequence Spread Spectrum pada Receiver

33
2.10 Prinsip dasar Direct Sequence Spread Spectrum

Gambar 8. Prinsip dasar Direct Sequence Spread Spectrum

Dalam sistem ini digunakan kode penebar (spreading code) sedemikian rupa
sehingga proses deteksinya mudah dilakukan, tanpa gangguan yang berarti dari
sinyal-sinyal lain yang menempati pita frekuensi yang sama. Sinyal keluaran
modulator digital dapat dituliskan sebagai berikut :
Sd(t) = 2P cos [ω Ot + θd(t)]
dimana θd(t) berharga 0 atau π karena menggunakan modulasi BPSK. Perubahan fasa
θd(t) dapat terjadi setiap perioda bit = Tb = 1/(laju bit).
Untuk menyebarkan sinyal tersebut diatas, maka Sd(t) dikalikan dengan
kode penebar c(t), yang dalam realisasinya merupakan sinyal NRZ-polar dengan
amplitude = 1 dan mempunyai lebar satuan = TC lebar “chip”. Laju “chip” atau
“chip rate” adalah jumlah chip perdetik atau = 1/ TC . Format c(t) dibuat
sedemikian rupa sehingga dapat disebut sebagai “sinyal acak semu”. Dengan
demikian, sinyal keluaran St(t) dapat dituliskan sebagai berikut:
St(t) = √2P . c(t).cos [ω Ot + θd(t)]

Sinyal St(t) inilah yang dinamakan Direct Sequence Spread Spectrum, selanjutnya
dapat oleh RFPA (radio frequency power amplifier ) diperkuat sebelum dikirimkan
ke penerima.
2.10.1.Rapat daya sinyal DS-SS
Rapat Spektral Daya Sinyal BPSK Sd(t) :
Sd (f ) = ½ PTS { sinc2 [ (f — f0 ) TS ] + sinc2 [ (f + f0 ) TS ] }

2.10.2.Rapat Spektral Daya kode penebar c(t)


Rapat daya dari kode penebar c(t) adalah transformasi Fourier dari fungsi
34
otokorelasinya :

35
F (Rc(τ )) = Sc(f) = ∫ ∞ ∞ Rc(τ ) e − j2πfτ dτ Sc(f)
= Tc sinc 2 (Ftc)

2.10.3.Rapat daya sinyal DS-SS St(t)

Berikut adalah gambaran penyebaran sinyal BPSK dengan teknik DSSS,


dimana besarnya perbandingan nilai Tc = Tb/2, atau nilai chip rate Rc dua kali
nilai bit rate Rb.
Dalam pengiriman sinyal menggunakan sistem DSSS tidak menutup
kemungkinan akan mengalami gangguan. misal terkena sinyal jamming. Berikut
contoh kasus, apabila sinyal DSSS terkena sinyal jamming J, maka gambarnya
adalah seperti berikut:

Gambar 9. Spektrum sinyal DSSS + sinyal jamming J (warna merah)

Terlihat dari gambar, sinyal DSSS terkena sinyal jamming ( single tone) dengan
amplitudo sebesar J watt, yang nilainya lebih besar dari amplitudo sinyal DSSS.
Dengan digunakannya teknik DSSS, maka di penerima akan terjadi proses
despreading, sehingga amplitudo (energi) dan bandwidth sinyal BPSK kembali
seperti semula. Amplitudo (energi) menjadi A watt dan bandwidth menjadi B
hertz. Sedangkan amplitudo (energi) sinyal jamming menjadi 1/2J dan bandwidth-
nya menjadi ½ nya, seperti gambar 10.

36
Dengan amplitudo (energi) sinyal jamming ditekan menjadi 1/2J dan
bandwidthnya menjadi 2 kalinya, maka tidak akan mengganggu sinyal informasi
BPSK. Semakin besar perbandingan antara Tb dan Tc, maka amplitudo (energi)
sinyal jamming akan semakin kecil, sehingga tingkat efektivitas gangguan
sinyal jamming pada sinyal informasi BPSK semakin rendah, atau dikatakan
rasio perbandingan sinyal terhadap noise ( S/N) di penerima membesar.

Gambar 10. Spektrum sinyal informasi (BPSK) + jamming setelah


Despreading

37
2.11 Kelebihan dan Kekurangan Direct Sequence Spread Spectrum (DSSS)
C. Kelebihan
a) Lebih kebal terhadap jamming
b) Mampu menekan interferensi
c) Dapat dioperasikan pada level daya yang rendah
d) Kemampuan multiple access secara CDMA Code Division Multiple Access
e) Kerahasiaan lebih terjamin
f) Ranging
g) Mampu mengacak sinyal. Dimana hanya receiver yang mengetahui
pengacakan kode dapat kembali menjadi sinyal
h) Beberapa user dapat menggunakan bandwidth yang lebih besar
dengan sedikit interferensi. Contoh user:
1. Telepon seluler
2. Code division multiplexing (CDM)
3. Code division multiple access (CDMA)
D. Kekurangan
e.) Membutuhkan kanal pita lebar dengan distorsi fasa kecil.
f.) Membutuhkan periode waktu akuisisi yang lebih lama.
g.) Membutuhkan generator kode dengan rate yang tinggi.
h.) Ada masalah near-far (jarak jangkauan).
2.12 Contoh soal Direct Sequence Spread Spectrum (DSSS)
4. Bagaimana DSSS bekerja?
DSSS mengkombinasikan sinyal data pada station pengirim dengan data rate bit
sequence yang tinggi, dimana tergantung pada chipping code atau processing
gain. Processing gain yang tinggi meningkatkan resistansi sinyal terhadap
interferensi. Setiap chip pada code akan membedakan modulasi dengan kode
sequence.
5. Sebutkan contoh aplikasi nirkabel yang
menggunakan Teknik DSSS? aplikasi nirkabel
seperti WiFi, Bluetooth, dan sistem komunikasi
satelit.
6. Apa saja kriteria yang harus dipenuhi oleh sebuah sistem spread-spectrum?

38
1) Sinyal yang dikirimkan menduduki bandwidth yang jauh lebih lebar
daripada bandwidth minimum yang diperlukan untuk mengirimkan sinyal
informasi
2) Pada pengirim terjadi proses spreading yang menyebarkan sinyal informasi
dengan bantuan sinyal kode yang bersifat independen terhadap informasi

39
3) Pada penerima terjadi proses despreading yang melibatkan korelasi antara
sinyal yang diterima dan replika sinyal kode yang dibangkitkan sendiri oleh
suatu generator lokal.
2.13 Perbandingan Direct Sequence Spread Spectrum (DSSS) dan FHSS
(Frequency Hopping Spread Spectrum)
Berikut adalah perbandingan antara FHSS (Frequency Hopping Spread Spectrum) dan
DSSS (Direct Sequence Spread Spectrum) dalam beberapa karakteristik utama:
6. Kecepatan Sinyal
Transmisi FHSS : Memiliki kecepatan transmisi yang
rendah (up to 3 Mbps) DSSS: Memiliki kecepatan transmisi
yang tinggi (up to 11 Mbps)
7. Teknik
Modulasi
FHSS : Multilevel Frequency
Shift Keying (FSK) DSSS :
Binary Phase Shift Keying
(BPSK)
8. Pita Frekuensi
FHSS : Menggunakan narrowband carrier yang hops (melompat) di antara
saluran frekuensi yang berbeda
DSSS: Menggunakan frekuensi band yang lebih luas

9. Interferensi/gangguan
FHSS : FHSS lebih tahan terhadap interferensi karena menggunakan loncatan
frekuensi, yang membuatnya sulit untuk mencegat sinyal.dari pihak yang tidak
berwenang.
DSSS : DSSS lebih rentan terhadap gangguan karena menggunakan pita frekuensi
yang lebih lebar.
10. FHSS : Transmisi data dikodekan dan didekodekan menggunakan pola
tertentu yang disebut hopset
DSSS : Transmisi data dikodekan dan diterjemahkan menggunakan urutan biner
acak semu (pseudo random) atau kode chip.
Kedua teknik tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan tergantung pada
aplikasi dan lingkungan komunikasi yang digunakan. Pilihan antara FHSS dan
DSSS tergantung pada faktor seperti kehandalan yang diperlukan, lingkungan
frekuensi yang tersedia, keamanan data, dan kompleksitas implementasi yang
diinginkan.

40
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Frequency Hopping Spread Spectrum (FHSS) adalah salah satu teknik
spread spectrum yang memiliki karakteristik perubahan secara periodik
pada frekuensi pembawa dari sinyal yang ditransmisikan. Urutan frekuensi
pembawa disebut frequency-hopping pattern.FHSS telah digunakan untuk
pengamanan informasi pembicaraan (dan data), komunikasi akses jamak
(multiple access), Bluetooth, dan walkie talkie.Direct Sequence Spread
Spectrum (DSSS) adalah salah satu teknik spread spectrum (spektral
tersebar), yaitu suatu jenis modulasi dimana lebar bidang frekuensi
(bandwidth) transmisi yang digunakan jauh lebih besar daripada lebar
bidang frekuensi minimum yang dibutuhkan untuk mentransmisikan
informasi, sementara tidak ada kaitan langsung antara lebar bidang
frekuensi keluaran dengan modulasi oleh sinyal informasinyaPada Direct
Sequence Spread Spectrum, proses penebaran dilakukan dengan melakukan
perkalian langsung (direct) antara sinyal informasi (yang dimodulasikan
secara digital) dengan suatu urutan spreading code (kode penebar).DSSS
telah digunakan dalam aplikasi nirkabel seperti WiFi, Bluetooth, dan sistem
komunikasi satelit.
Secara garis besar dapat dinyatakan bahwa DSSS memiliki keunggulan pada
kapasitas tetapi sangat sensitif terhadap lingkungan apakah itu noise, pantulan dan
lain-lain. Disisi lain FHSSadalah teknologi yang sangat handal dan kurang sensitif
terhadap pengaruh lingkungan. Padasuatu area geografis tertentu beberapa Sistem
FHSS dapat dioperasikan secara simultan jauh lebih banyak daripada sistem DSSS.
Dapat disimpulkan bahwa DSSS dan FHSS adalah metode penyebaran spektrum
yang efektif untuk komunikasi nirkabel. Keduanya memiliki keunggulan dan
kelemahan masing- masing,serta dapat digunakan dalam berbagai aplikasi. Penting
untuk memilih metode yang sesuai dengan kebutuhan spesifik dalam rangka
mencapai komunikasi yang optimal.

41
3.2 Saran
Berdasarkan analisis perbandingan antara Frequency-Hopping Spread
Spectrum (FHSS) dan Direct Sequence Spread Spectrum (DSSS), terdapat
beberapa saran yang dapat diambil dalam konteks penulisan makalah ini.
Pertama, disarankan untuk lebih mendalam mempelajari implementasi dari
masing-masing metode. Selanjutnya, saran penting lainnya adalah untuk
melibatkan studi kasus konkret yang melibatkan aplikasi nyata dari kedua
metode. Dengan menganalisis bagaimana FHSS dan DSSS digunakan dalam
industri tertentu, contohnya dalam komunikasi nirkabel, akan memberikan
pemahaman yang lebih baik tentang keunggulan dan kelemahan masing-
masing metode dalam konteks praktis. Terakhir, penting untuk menyoroti
perkembangan terkini dalam teknologi FHSS dan DSSS, seperti penerapan
dalam Internet of Things (IoT) atau komunikasi 5G. Dengan
mempertimbangkan perkembangan terbaru, makalah ini akan menjadi lebih
relevan dan memberikan wawasan yang up-to-date tentang FHSS dan DSSS
dalam konteks teknologi komunikasi nirkabel saat ini.

1
3.3 Referensi
1. Muhammad, Ocki Aditya, Suwadi, dan Titiek Suryani. 2014.
Implementasi Frequency Hopping Spread Spectrum (FHSS) pada DSK
TMS320C6416T. Surabaya. JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 3, No.
1, (2014) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print)
2. Abdya, Julianda. 2015. Teknologi Spread Spectrum. URL:
https://infokom-anda.blogspot.com/2014/05/teknologi-spread-
spectrum.html
3. Unknown.2018.PengertianSpreadSpectrum,DSSS,FHSS.URL:
https://rgcs2002.blogspot.com/2018/11/pengertian-spread-spectrum-
dsss-fhss.html
4. Kamalulazmi. 2020. SPREAD SPECTRUM. URL:
https://kamalulazmi97.medium.com/spread- spectrum-1c4b2b5ae57b
5. Bhadari, Sandeep. 2023. Perbedaan Antara FHSS dan DSSS. Punjabi.
URL: https://askanydifference.com/id/difference-between-fhss-and-
dsss/
6. Bawahab, Fawzan Ghalib Abdul Karim, Elvan Yuniarti, Edi
Kurniawan. 2019. ANALISIS KARAKTERISASI TEKNOLOGI
DIRECT SEQUENCE SPREAD SPECTRUM DAN
7. FREQUENCY HOPPING SPREAD SPECTRUM. Jakarta. Journal of
Materials Science, Geophysics, Instrumentation and Theoretical
Physics.Vol.2 No.II Tahun 2019, 129-138
8. Tjahjono, Budi. 2012. PERBANDINGAN TEKNIK MODULASI DSSS
DAN FHSS PADA SISTEM JARINGAN WIRELESS LAN. Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai