Evaluasi Stabilitas Lereng dan Teknik Mitigasi Longsor dalam Rekayasa Geoteknik
Disusun untuk memenuhi tugas pada mata kuliah
Mekanika Tanah II
Dosen Pengampu:
Ir.Agata Iwan Candra,MT.,IPM.,ASEAN Eng.
Disusun oleh:
Frenadhi Pramudya
NIM : 202305010707
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KADIRI
2025
1. Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penggunaan soilbag sebagai
metode stabilisasi lereng terhadap pengaruh tekanan air pori dan rembesan (seepage) dalam
menjaga kestabilan lereng. Analisis dilakukan secara numerik menggunakan perangkat
lunak GeoSlope, dengan modul SEEP/W untuk simulasi tekanan air pori dan SLOPE/W
untuk perhitungan faktor keamanan menggunakan metode Bishop. Model diuji pada tiga
kondisi lereng: alami, terpotong tanpa perkuatan, dan diperkuat dengan soilbag. Hasil
simulasi menunjukkan bahwa penggunaan soilbag mampu menurunkan tekanan air pori
hingga 30% dan mempertahankan nilai faktor keamanan di atas 1,3, bahkan setelah tujuh
hari hujan berturut-turut. Selain sebagai perkuatan, soilbag juga berfungsi sebagai sistem
drainase internal yang mempercepat aliran air lateral. Secara keseluruhan, metode ini
terbukti efektif, ekonomis, dan aplikatif untuk wilayah dengan keterbatasan teknologi dalam
upaya mitigasi longsor.
2. Pendahuluan
2.1 Latar Belakang
Stabilitas lereng merupakan aspek krusial dalam perencanaan dan analisis
geoteknik, khususnya pada daerah dengan kemiringan tinggi dan intensitas curah hujan
yang signifikan. Perubahan geometri alami akibat aktivitas pemotongan lereng,
pengurangan vegetasi, dan beban bangunan di tepi lereng dapat meningkatkan tekanan
air pori, menurunkan tegangan efektif tanah, serta mempercepat terjadinya kegagalan
lereng. Kegagalan ini sering terjadi secara tiba-tiba dan menyebabkan kerusakan
struktural maupun kerugian sosial-ekonomi(Cho et al., 2024).
Dalam kondisi demikian, diperlukan metode stabilisasi lereng yang mampu
menyesuaikan dengan keterbatasan akses, sumber daya, dan kondisi geologi setempat.
Salah satu metode alternatif yang berkembang adalah penggunaan soilbag, yaitu
kantong fleksibel berisi tanah lokal yang disusun sebagai lapisan perkuatan lereng.
Soilbag tidak hanya meningkatkan stabilitas melalui penambahan kekuatan geser
internal, tetapi juga berfungsi sebagai sistem drainase horizontal yang efektif dalam
mengurangi tekanan air pori di dalam massa tanah(Amarasinghe et al., 2024).
2.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh penggunaan soilbag terhadap faktor keamanan lereng
berdasarkan analisis numerik dengan metode Bishop?
2. Sejauh mana efektivitas soilbag dalam mengendalikan tekanan air pori dan seepage
sebagai bagian dari sistem mitigasi longsor?
2.3 Tujuan Analisis
1. Menilai pengaruh soilbag terhadap peningkatan faktor keamanan lereng
2. Mengevaluasi efek tekanan air pori dan aliran air (seepage) terhadap lereng
3. Mengkaji efektivitas metode perkuatan berbasis soilbag dibandingkan kondisi lereng
tanpa perkuatan
3. Tinjauan Pustaka
3.1 Teori Stabilitas Lereng
Stabilitas lereng merupakan suatu kondisi di mana lereng dapat bertahan tanpa
terjadi pergerakan tanah atau longsor. Konsep dasar dari stabilitas lereng adalah
keseimbangan antara gaya penggerak (driving forces) yang mendorong tanah bergerak
ke bawah dan gaya penahan (resisting forces) yang menahan pergerakan tanah tersebut.
Gaya Penggerak: Gaya ini berasal dari berat tanah itu sendiri yang terletak di atas
permukaan gelincir. Faktor-faktor yang mempengaruhi gaya penggerak adalah
berat jenis tanah, ketinggian lereng, dan kemiringan lereng(Hou et al., 2024).
Gaya Penahan: Gaya penahan dihasilkan oleh kekuatan geser tanah dan kohesi
tanah. Kohesi tanah berfungsi untuk mengikat partikel-partikel tanah bersama-
sama, sementara gaya geser bergantung pada sudut friksi tanah (ϕ) yang mencegah
pergeseran(Tang et al., 2024).
Faktor keamanan lereng dihitung dengan membandingkan gaya penahan dan gaya
penggerak:
𝐺𝑎𝑦𝑎 𝑃𝑒𝑛𝑎ℎ𝑎𝑛
𝑆𝐹 =
𝐺𝑎𝑦𝑎 𝑃𝑒𝑛𝑔𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘
Jika faktor keamanan lebih besar dari 1, lereng dianggap stabil. Sebaliknya, jika faktor
keamanan kurang dari 1, lereng dianggap berisiko mengalami kegagalan atau longsor.
metode yang digunakan untuk menganalisis stabilitas lereng antara lain metode
lingkaran gelincir dan metode Bishop. Metode Bishop adalah salah satu metode yang
paling banyak digunakan untuk menganalisis stabilitas lereng, terutama pada lereng
yang terpotong oleh bidang melingkar. Metode ini menghitung faktor keamanan
berdasarkan keseimbangan gaya yang bekerja pada setiap elemen yang membentuk
lingkaran gelincir(Zhang et al., 2025).
3.2 Pengaruh Air Tanah terhadap Stabilitas Lereng
Air tanah, atau lebih khususnya seepage (aliran air tanah), dapat mempengaruhi
stabilitas lereng dengan meningkatkan tekanan air pori dalam tanah. Tekanan air pori
adalah tekanan yang dihasilkan oleh air yang mengisi pori-pori tanah.(Feng et al., 2023)
Peningkatan tekanan air pori dapat mengurangi tegangan efektif tanah, yang sangat
penting dalam mempertahankan kekuatan geser tanah. Tegangan efektif (σ′) dihitung
dengan rumus:
σ′ = σ − u
Di mana:
● σ adalah tegangan normal pada tanah (beban yang bekerja pada tanah),
● u adalah tekanan air pori.
Ketika tekanan air pori meningkat, bagian dari beban yang biasanya ditanggung oleh
tanah kini "ditanggung" oleh air, yang menyebabkan penurunan tegangan efektif. Hal
ini mengurangi kekuatan geser tanah dan meningkatkan risiko longsor, karena tanah
menjadi lebih mudah bergerak. sedangkan Seepage terjadi ketika air mengalir melalui
tanah, mengubah distribusi tekanan dalam tanah. Ini biasanya terjadi pada lereng yang
memiliki lapisan tanah permeabel di bawah permukaan tanah atau pada lereng yang
terpapar oleh aliran air permukaan yang besar(Zhang et al., 2025).
3.3 Teknik Mitigasi Longsor
Teknik mitigasi longsor bertujuan untuk memperbaiki kestabilan lereng yang
terpengaruh oleh berbagai faktor, termasuk seepage dan tekanan air pori. Beberapa
teknik yang sering digunakan antara lain:
3.3.1 Drainase
Sistem drainase digunakan untuk mengurangi tekanan air pori dalam tanah.
Dengan mengalirkan air keluar dari dalam tanah, sistem drainase membantu
menstabilkan lereng dan mencegah akumulasi air yang dapat mengurangi
kekuatan tanah. Beberapa metode drainase yang digunakan meliputi pipa
drainase, French drains, dan drainase vertikal(Chengzhong & Shuangjian, 2023).
3.3.2 Geotekstil
Geotekstil adalah bahan sintetis yang digunakan untuk memperkuat tanah.
Geotekstil berfungsi untuk memperbaiki permeabilitas tanah, meningkatkan
kohesi tanah, dan membantu menstabilkan lereng. Bahan ini sering digunakan
pada lereng yang mengalami erosion atau seepage yang signifikan(Jia et al.,
2024).
3.3.3 Soilbags
Soilbags terbuat dari bahan daur ulang dan digunakan untuk memperkuat
tanah pada lereng yang rawan longsor. Penggunaan soilbags berfungsi untuk
mengurangi permeabilitas tanah, memperbaiki kohesi, dan mengontrol aliran air
tanah. Soilbags juga dapat digunakan untuk membuat dinding penahan tanah yang
lebih murah dan ramah lingkungan(Jia et al., 2024).
3.3.4 Dinding Penahan
Dinding penahan tanah (retaining walls) digunakan untuk mencegah
pergerakan tanah yang dapat menyebabkan longsor. Dinding penahan ini dapat
dibangun dengan menggunakan material seperti beton, batu, atau sheet piles.
Sheet piles sering digunakan pada lereng yang terpapar air tanah untuk
mengontrol seepage dan meningkatkan stabilitas lereng(Wang & Li, 2025).
4. Metode Analisis
Analisis dilakukan secara numerik menggunakan perangkat lunak GeoSlope dengan
modul SEEP/W untuk evaluasi tekanan air pori akibat rembesan, dan SLOPE/W untuk
analisis stabilitas lereng menggunakan metode Bishop. Model dibangun dalam tiga kondisi:
lereng asli, lereng terpotong tanpa perkuatan, dan lereng diperkuat soilbag, dengan
parameter geometri dan sifat tanah diperoleh dari survei lapangan dan studi terdahulu.
Simulasi dilakukan dalam kondisi tunak dan transien dengan memperhitungkan curah hujan
ekstrem dan variasi muka air tanah. Soilbag dimodelkan sebagai lapisan perkuatan kaku
dengan parameter kekuatan geser dari literatur. Nilai tekanan air pori hasil simulasi
kemudian digunakan untuk menghitung faktor keamanan dan mengidentifikasi bidang
gelincir kritis pada masing-masing kondisi lereng(Hong-in et al., 2024).
5. Hasil dan Pembahasan
5.1 Analisis Faktor Keamanan Lereng dengan Metode Bishop
Hasil simulasi numerik menunjukkan bahwa kondisi geometri dan perkuatan
sangat memengaruhi stabilitas lereng. Nilai faktor keamanan (FoS) pada lereng alami
tanpa gangguan (Case 1) tercatat sebesar 1,215, menurun drastis setelah beberapa hari
hujan. Lereng yang telah mengalami pemotongan (Case 2) memiliki nilai FoS awal
1,425, namun tetap tidak stabil saat kondisi jenuh. Sebaliknya, pada lereng yang
diperkuat dengan soilbag (Case 3), nilai FoS mencapai 1,572 dan tetap berada di atas
ambang batas aman (>1,3) bahkan setelah tujuh hari hujan. berikut memperlihatkan tiga
model geometri lereng yang digunakan dalam simulasi: (a) lereng alami, (b) lereng
terpotong tanpa perkuatan, dan (c) lereng yang diperkuat dengan soilbag
Gambar 5.1. Model geometri lereng: asli, terpotong, dan diperkuat soilbag
5.2 Perhitungan Faktor Keamanan Lereng Menggunakan Metode Bishop
Untuk mendukung hasil dari simulasi numerik, dilakukan perhitungan manual
pada salah satu irisan lereng menggunakan metode Bishop sebagai bentuk verifikasi
kestabilan secara sederhana. Data yang digunakan meliputi kohesi tanah sebesar c = 10
kPa, sudut geser dalam ϕ = 20∘, tekanan air pori u = 12 kPa, berat tanah W = 25 kN,
panjang bidang gelincir l = 1,2 m, dan sudut lereng α = 25∘. Berdasarkan data tersebut,
diperoleh hasil sebagai berikut:
Gaya normal efektif:
𝑁 = (25 . cos 25°) − (12 . 1,2) = 8,26 𝑘𝑁
Kekuatan geser tanah:
,
𝜏 = 10 + ,
. tan(20°) = 12,5 kPa
Gaya penggerak:
𝑇 = 25 . sin(25°) = 10,57 𝑘𝑁
Faktor keamanan lokal:
12,5 . 1,2
𝐹𝑆 = ≈ 1,42
10,57
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa irisan dalam kondisi stabil karena nilai faktor
keamanannya lebih besar dari 1,3. Nilai ini juga mendekati hasil simulasi numerik
untuk lereng yang diperkuat soilbag, yang berada pada rentang FoS 1,328 hingga 1,572,
tergantung kondisi jenuh. Gambar berikut memperlihatkan skema gaya-gaya yang
bekerja pada irisan lereng dalam metode Bishop, yang mendasari perhitungan ini:
Gambar 5.2. Skema irisan lereng metode Bishop
Perhitungan ini memperkuat bahwa pendekatan analitis sederhana masih dapat
digunakan untuk memahami prinsip dasar kestabilan lereng, serta dapat digunakan
sebagai verifikasi awal sebelum dilakukan pemodelan numerik yang lebih kompleks.
5.3 Pengaruh Seepage dan Tekanan Angkat terhadap Kestabilan Lereng
Hasil analisis menunjukkan bahwa tekanan air pori meningkat tajam akibat
rembesan air hujan pada lereng tanpa perkuatan, dengan nilai mencapai 20,3 kPa di
bagian tengah dan 19,0 kPa di kaki lereng. Sebaliknya, pada lereng dengan soilbag,
tekanan air pori tercatat lebih rendah, sekitar 12,7 hingga 16,7 kPa. Hal ini
menunjukkan bahwa soilbag mampu mempercepat aliran air secara lateral melalui
permeabilitas anisotropiknya, sehingga mencegah akumulasi tekanan di zona kritis dan
mengurangi risiko tekanan angkat dari bawah. Gambar berikut menunjukkan perbedaan
sifat hidraulik antara soilbag dan tanah asli, yang menjelaskan mengapa soilbag lebih
efektif dalam mengendalikan tekanan air pori saat kondisi jenuh.
Gambar 5.3. Perbandingan karakteristik hidraulik soilbag dan tanah SP-SM
5.4 Evaluasi Efektivitas Teknik Mitigasi seperti Drainase, Geotekstil, dan Dinding
Penahan
Studi ini menunjukkan bahwa soilbag dapat menggantikan beberapa sistem
mitigasi sekaligus dalam satu kesatuan. Sebagai drainase, soilbag mampu mempercepat
aliran air dan mengurangi tekanan air pori, sedangkan sebagai perkuatan, susunan
berlapisnya berfungsi seperti geotekstil yang menahan gaya geser dan menjaga
kestabilan lereng. Penambahan tiang kayu di bagian bawah juga berperan sebagai
penahan ringan untuk menjaga posisi soilbag dan mencegah pergerakan tanah.
Kombinasi ketiga elemen ini terbukti efektif menjaga kestabilan lereng saat hujan lebat
dan mudah diterapkan dengan material lokal. Gambar berikut menunjukkan konfigurasi
lapangan yang menggambarkan susunan soilbag bertingkat serta penguatan
menggunakan tiang kayu sebagai penahan bagian bawah lereng.
Gambar 5.4. Penampang perkuatan lereng dengan soilbag dan woodpile
5.5 Evaluasi Metode Mitigasi Longsor Berdasarkan Studi Jurnal
Berdasarkan hasil simulasi numerik, metode stabilisasi lereng menggunakan
soilbag terbukti efektif dalam meningkatkan faktor keamanan dan mengendalikan
kondisi hidraulik lereng. Soilbag berfungsi sebagai elemen perkuatan sekaligus sistem
drainase internal, dengan karakteristik permeabilitas anisotropik yang memungkinkan
pelepasan tekanan air pori secara lateral. Setelah simulasi hujan berturut-turut selama
tujuh hari, nilai faktor keamanan pada lereng dengan soilbag tetap berada di atas
ambang batas aman. Metode ini juga dinilai efisien dan aplikatif karena memanfaatkan
material lokal serta konstruksi sederhana, menjadikannya solusi mitigasi yang adaptif
terhadap keterbatasan sumber daya.
5.6 Tabel Perbandingan Hasil Studi Terkait Efek Seepage pada Stabilitas Lereng
Untuk mengetahui pengaruh rembesan air terhadap kestabilan lereng, hasil
simulasi dibandingkan pada tiga kondisi lereng, yaitu lereng alami, lereng tanpa
perkuatan, dan lereng yang diperkuat dengan soilbag. Perbandingan ini mencakup
tekanan air pori, muka air tanah, dan nilai faktor keamanan, yang menunjukkan
seberapa besar peran soilbag dalam menjaga lereng tetap stabil saat terjadi hujan
berkepanjangan.
Kondisi Tekanan Muka Air Nilai Faktor Keterangan
Lereng Air Pori Tanah Keamanan Teknis
Maksimum (FoS)
Lereng alami 20,3 kPa Tinggi, 1,215 → <1,0 Tidak stabil
(Case 1) (Section A) mendekati (hari ke-5) setelah 4–5 hari
permukaan hujan; bidang
gelincir mendalam
Tanpa 19,0 kPa Tinggi 1,425 → Stabilitas
perkuatan (Section B) 1,081 (hari menurun; potensi
(Case 2) ke-7) longsor meningkat
di zona jenuh
Dengan soilbag 12,7–16,7 Lebih rendah 1,572 → Tekanan air pori
(Case 3) kPa (turun ±1 m) 1,328 (hari terkontrol; lereng
ke-7) tetap stabil dalam
kondisi jenuh
Berdasarkan tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa penerapan soilbag secara nyata
mampu menurunkan tekanan air pori hingga 30%, menjaga kestabilan lereng dalam
jangka waktu hujan berkepanjangan, dan mempertahankan nilai FoS di atas batas aman
(>1,3). Hal ini membuktikan bahwa soilbag efektif dalam mengendalikan efek seepage
sebagai salah satu faktor utama penyebab longsor.
6. Kesimpulan dan Saran
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis numerik dan perhitungan manual, penggunaan soilbag
terbukti efektif dalam meningkatkan faktor keamanan lereng dan menurunkan tekanan
air pori selama kondisi jenuh akibat hujan. Soilbag tidak hanya berfungsi sebagai
elemen perkuatan, tetapi juga sebagai sistem drainase internal yang mempercepat aliran
air lateral, sehingga mampu menjaga kestabilan lereng tetap di atas ambang batas aman.
Metode ini dinilai efisien, mudah diterapkan, dan cocok digunakan sebagai solusi
mitigasi longsor di lokasi dengan keterbatasan sumber daya dan akses konstruksi
konvensional.
6.2 Saran
Untuk mendukung penerapan metode soilbag secara lebih luas, disarankan dilakukan
pemantauan lapangan secara berkala guna mengevaluasi kinerja jangka panjang
terhadap perubahan tekanan air pori dan deformasi lereng. Pengembangan model tiga
dimensi juga perlu dipertimbangkan untuk menganalisis kondisi geometri lereng yang
lebih kompleks. Selain itu, variasi material pengisi dan pola pemasangan soilbag dapat
dikaji lebih lanjut agar teknik ini dapat dioptimalkan pada berbagai jenis tanah dan
kondisi hidrologi yang berbeda.
Daftar Pustaka
Amarasinghe, M. P., Robert, D., Kulathilaka, S. A. S., Zhou, A., & Jayathissa, H. A. G. (2024).
Slope stability analysis of unsaturated colluvial slopes based on case studies of rainfall-
induced landslides. Bulletin of Engineering Geology and the Environment, 83(11).
https://doi.org/10.1007/s10064-024-03933-1
Chengzhong, W., & Shuangjian, N. (2023). Engineering analysis and numerical study on
stability evaluation of seepage slope reinforcement stability of Yunmao expressway.
Frontiers in Materials, 10. https://doi.org/10.3389/fmats.2023.1269175
Cho, M. T. T., Sato, T., Saito, H., Izumi, A., & Kohgo, Y. (2024). Effects of pore water and
pore air pressure on the slope failure mechanisms due to rainfall in centrifuge
investigation. Geoenvironmental Disasters, 11(1). https://doi.org/10.1186/s40677-024-
00305-5
Feng, Y., Yan, F., Wu, L., Lu, G., & Liu, T. (2023). Numerical Analyses of Slope Stability
Considering Grading and Seepage Prevention. Water (Switzerland), 15(9).
https://doi.org/10.3390/w15091745
Hong-in, P., Takahashi, A., & Likitlersuang, S. (2024). Engineering and environmental
assessment of soilbag-based slope stabilisation for sustainable landslide mitigation in
mountainous area. Journal of Environmental Management, 359.
https://doi.org/10.1016/j.jenvman.2024.120970
Hou, F., Ni, Z., Wang, S., Sun, H., Zhao, F., Zhong, W., & Zhang, Y. (2024). Study on Soil
and Water Loss on Slope Surface and Slope Stability Under Rainfall Conditions. Water
(Switzerland), 16(24). https://doi.org/10.3390/w16243643
Jia, J., Mao, C., & Tenorio, V. O. (2024). Slope stability considering multi-fissure seepage
under rainfall conditions. Scientific Reports, 14(1). https://doi.org/10.1038/s41598-024-
62387-3
Tang, L., Yan, Y., Zhang, F., Li, X., Liang, Y., Yan, Y., Zhang, H., & Zhang, X. (2024). A
Case Study for Analysis of Stability and Treatment Measures of a Landslide Under
Rainfall with the Changes in Pore Water Pressure. Water (Switzerland), 16(21).
https://doi.org/10.3390/w16213113
Wang, M., & Li, L. (2025). Slope Stability Analysis Considering Degradation of Soil
Properties Induced by Intermittent Rainfall. Water (Switzerland), 17(6).
https://doi.org/10.3390/w17060814
Zhang, C., Qin, M., Hong, L., & Qi, Y. (2025). Seepage and stability analysis of fractured soil
slope considering permeability anisotropy. Scientific Reports, 15(1).
https://doi.org/10.1038/s41598-025-92433-7