BAB I
SPESIFIKASI TEKNIS
1.1. URAIAN SPESIFIKASI TEKNIS
Uraian spesifikasi teknis disusun berdasarkan spesifikasi teknis yang ditetapkan
oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) sesuai jenis pekerjaan yang akan
ditenderkan, dengan ketentuan:
1. Dapat menyebutkan merk dan tipe serta sedapat mungkin menggunakan
produksi dalam negeri;
2. Semaksimal mungkin diupayakan menggunakan standar nasional (SNI);
3. Metode pelaksanaan harus logis, realistis dan dapat dilaksanakan;
4. Jangka waktu pelaksanaan harus sesuai dengan metode pelaksanaan;
5. Mencantumkan macam, jenis, kapasitas dan jumlah peralatan utama minimal
yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan;
6. Mencantumkan syarat-syarat bahan yang dipergunakan dalam pelaksanaan
pekerjaan;
7. Mencantumkan syarat-syarat pengujian bahan dan hasil produk;
8. Mencantumkan kriteria-kinerja produk (output performance) yang diinginkan;
9. Mencantumkan tata cara pengukuran dan tata cara pembayaran.
1.2. SPESIFIKASI BAHAN BANGUNAN KONSTRUKSI
1. Setiap jenis bahan bangunan konstruksi yang tergolong sebagai Bahan
Berbahaya dan Beracun (B3), seperti cat, thinner, gas acetylene, BBM, BBG,
bahan peledak, dan lain-lain, harus diberi penjelasan bahayanya, cara
pengangkutan, penyimpanan, penggunaan, pengendalian risiko dan cara
pembuangan limbahnya sesuai dengan prosedur dan/atau peraturan
perundangan yang berlaku;
2. Informasi tentang penanganan B3 dapat diperoleh dari Lembar Data
Keselamatan Bahan (Material Safety Data Sheet) yang diterbitkan olehpabrik
pembuatnya, atau dari sumber- sumber yang berkompeten dan/ atau berwenang.
1.3. SPESIFIKASI BAHAN BANGUNAN KONSTRUKSI
1. Alat dan perkakas yang digunakan harus dipastikan telah diberi sistem
perlindungan atau kelengkapan pengaman untuk mencegah paparan (expose)
bahaya secara langsung terhadap tubuh pekerja;
2. Informasi tentang jenis, cara penggunaan/ pemeliharaan/ pengamanan
alat dan perkakas dapat diperoleh dari manual produk dari pabrik pembuatnya,
ataupun dari pedoman/peraturan pihak yang kompeten.
1.4. SPESIFIKASI PROSES PEKERJAAN
1. Setiap proses/ kegiatan harus dilengkapi dengan prosedur kerja, sistem
perlindungan terhadap pekerja, perlengkapan pengaman, dan rambu- rambu
peringatan dan kewajiban pekerja menggunakan Alat Pelindung Diri (APD)
yang sesuai dengan potensi bahaya pada proses tersebut;
2. Setiap jenis proses/ kegiatan pekerjaan yang berisiko tinggi, atau
pekerjaan yang berisiko tinggi pada keadaan yang berbeda, harus lebih dulu
dilakukan Analisis Keselamatan Pekerjaan (Job Safety Analysis/JSA) dan
tindakan pengendaliannya;
3. Setiap proses/ kegiatan yang berbahaya harus melalui prosedur izin kerja lebih
dulu dari penanggung-jawab proses dan Ahli K3 Konstruksi;
4. Setiap proses dan kegiatan pekerjaan hanya boleh dilakukan oleh tenaga kerja
dan/ atau operator yang telah terlatih dan telah mempunyai kompetensi untuk
melaksanakan jenis pekerjaan/ tugasnya, termasuk kompetensi melaksanakan
prosedur keselamatan dan kesehatan kerja yang sesuai pada jenis
pekerjaan/tugasnya tersebut.
1.5. SPESIFIKASI METODE KONSTRUKSI/ METODE PELAKSANAAN/
METODE KERJA
1. Analisis Keselamatan Pekerjaan/ JSA harus dilakukan terhadap setiap
metode konstruksi/ metode pelaksanaan pekerjaan, dan persyaratan teknis
untuk mencegah terjadinya kegagalan konstruksi dan kecelakaan kerja;
2. Metode kerja harus disusun secara logis, realistis dan dapat dilaksanakan
dengan menggunakan peralatan, perkakas, material dan konstruksi sementara,
yang sesuai dengan kondisi lokasi/ tanah/ cuaca, dan dapat dikerjakan oleh
pekerja dan operator yang terlatih;
3. Persyaratan teknis yang harus dipenuhi penyedia dalam menyusun dan
menggunakan metode kerja dapat meliputi penggunaan alat utama dan alat
bantu, perkakas, material dan konstruksi sementara dengan urutan kerja yang
sistematis, guna mempermudah pekerja dan operator bekerja dan dapat
melindungi pekerja, alat, dan material dari bahaya dan risiko kegagalan
konstruksi dan kecelakaan kerja;
4. Setiap metode kerja/ konstruksi yang diusulkan penyedia, harus dianalisis
keselamatan pekerjaan/ JSA, diuji efektivitas pelaksanaannya dan efisiensi
biayanya. Jika semua faktor kondisi lokasi/ tanah/ cuaca, alat, perkakas,
material, urutan kerja, dan kompetensi pekerja/ operator telah ditinjau dan
dianalisis, serta dipastikan dapat menjamin keselamatan, kesehatan dan
keamanan konstruksi dan pekerja/ operator, maka metode kerja dapat disetujui,
setelah dilengkapi dengan gambar dan prosedur kerja yang sistematis dan/atau
mudah dipahami oleh pekerja/operator;
5. Setiap tahapan pelaksanaan konstruksi utama yang mempunyai potensi bahaya
tinggi harus dilengkapi dengan metode kerja yang didalamnya sudah mencakup
analisis keselamatan pekerjaan/ JSA. Misalnya untuk pekerjaan di ketinggian,
mutlak harus digunakan perancah, lantai kerja (platform), papan tepi, tangga
kerja, pagar pelindung tepi, serta APD yang sesuai antara lain helm, masker,
sepatu, dan sabuk keselamatan agar pekerja terlindung dari bahaya jatuh.
6. Untuk pengerjaan pabrikasi baja wajib menggunakan alat pelindung diri yang
sesuai antara lain masker, kacamata las, sarung tangan tahan panas, dan body
protection. Serta pada pekerjaan pemotongan besi wajib menggunakan alat
pelindung diri yang sesuai antara lain masker, kacamata transparan, dan sarung
tangan;
7. Setiap metode kerja harus melalui analisis dan perhitungan yang diperlukan
berdasarkan data teknis yang dapat dipertanggung-jawabkan, baik dari standar
yang berlaku, atau melalui penyelidikan teknis dan analisis laboratorium
maupun pendapat ahli terkait yang independent.
1.6. SPESIFIKASI METODE KONSTRUKSI/ METODE PELAKSANAAN/
METODE KERJA
1. Setiap kegiatan/ pekerjaan perancangan, perencanaan, perhitungan dan gambar-
gambar konstruksi, penetapan spesifikasi dan prosedur teknis serta metode
pelaksanaan/ konstruksi/ kerja harus dilakukan oleh tenaga ahli yang
mempunyai kompetensi yang disyaratkan, baik pekerjaan arsitektur,
struktur/sipil, mekanikal, elektrikal, plumbing, dan penataan lingkungan
maupun interior dan jenis pekerjaan lain yang terkait;
2. Setiap tenaga ahli tersebut pada butir di atas harus mempunyai kemampuan
untuk melakukan proses manajemen risiko (identifikasi bahaya, penilaian
risiko, dan pengendalian risiko) yang terkait dengan disiplin ilmu dan
pengalaman profesionalnya, dan dapat memastikan bahwa semua potensi
bahaya dan risiko yang terkait pada bentuk rancangan, spesifikasi teknis dan
metode kerja/ konstruksi tersebut telah diidentifikasi dan telah dikendalikan
pada tingkat yang dapat diterima sesuai dengan standar teknik dan standar K3
yang berlaku;
3. Setiap kegiatan/ pekerjaan pelaksanaan, pemasangan, pembongkaran,
pemindahan, pengangkutan, pengangkatan, penyimpanan, perletakan,
pengambilan, pembuangan, pembongkaran dan sebagainya, harus dilakukan
oleh tenaga ahli dan tenaga terampil yang berkompeten berdasarkan gambar-
gambar, spesifikasi teknis, manual, pedoman dan standar serta rujukan yang
benar dan sah atau telah disetujui oleh tenaga ahli yang terkait;
4. Setiap tenaga ahli dan tenaga terampil di bidang K3 Konstruksi di atas harus
melakukan analisis keselamatan pekerjaan (job safety analysis) setiap sebelum
memulai pekerjaannya, untuk memastikan bahwa potensi bahaya dan risiko
telah diidentifikasi dan diberikan tindakan pencegahan terhadap kecelakaan
kerja dan/atau penyakit di tempat kerja.
5. Selain personil manajerial yang harus disediakan menurut Perlem LKPP No.
12 Tahun 2021, dan untuk menjamin kegiatan konstruksi dan hasil pekerjaan
sesuai dengan standar teknis, mutu, biaya, dan jadwal, maka diperlukan
beberapa personil pendukung lainnya,
1.7. OUTLINE SPESIFIKASI
NO. JENIS BAHAN KODE SATUAN SPESIFIKASI/MERK/SETARA
GAMBAR PRODUK
BAHAN PEMBAYARAN SEKUALITAS
1 Pasir Urug M.08.a m3
2 Pasir Pasang hitam M.05.b.3 m3 Pasir Hitam Lumajang
3 Pasir Cor M.05.a.3 kg Pasir Hitam Lumajang
4 Sirtu M.08.a1 m3
5 Koral beton 2/3 M.04.a.3 kg Batu pecah mesin Lokal
6 Batu Belah 15/20 m3 Batu kali/gunung
7 Portland Cement M.23 kg Gresik / SNI
(PC)
8 Air kerja M.02.a.3 liter
9 Kaso Kayu Kelas III M.50.d m3
Uk. 5/7
10 Papan Kayu Kelas M.48.f m3 Lokal
II Uk. 3/20
11 Paku Kayu Segala M.77.d kg
Ukuran
12 Kawat M.72 kg SNI
Beton/Bendrat
13 Elektroda kg SNI
14 Besi Beton M.60.b kg SNI
Polos/Ulir
15 Baja Profil M.54 kg SNI
16 Paving block m2 Lokal mutu f'c 20 Mpa
Paving
20.10.6block
natural f'c Mutu K-300
20 Mpa
tebal 21 x10,5x6
cm, K-300
17 Kantsien bh Lokal mutu K-175
pracetak/Kerb
10.20.40
18 U-Ditch 30 x 40 x Bh Pracetak SNI (Calvary)
120 Tbl 6 cm
19 U-Ditch 40 x 60 x Bh Pracetak SNI (Calvary)
120 Tbl 6 cm
20 Cover U-Ditch 39 x Bh Pracetak SNI (Calvary)
60 Tbl 6 cm
21 Cover U-Ditch 52 x Bh Pracetak SNI (Calvary)
120 Tbl 8 cm
22 Batu merah ( bata ) bh Lokal
23 Buis Beton U Ø 0.20 bh Lokal Pres mesin P=1m
m
24 Buis Beton U Ø 0.30 bh Lokal Pres mesin P=1m
m
25 Pipa PVC tipe AW m' Maspion AW
Ø 150mm ( 6")
26 Wiremesh M8 kg SNI
27 Cat meni besi kg nippon paint
28 Kuas bh
29 Gypsum Board, Lbr
Tebal 9mm
30 Paku Skrup kg SNI
31 List Gypsum m'
32 Lem Kayu kg
33 Genteng Aspal Buah SNI
Ukuran 0,8mm x
1m
34 Paku Seng kg
35 Seng Pelat m SNI
36 Balok kayu kelas II M.33.a m3 Lokal
Uk. 8/12
37 Profil Aluminium m SNI
38 Skrup Fixer Bh SNI
39 Sealant Tube
40 Aluminium Strp m²
Tebal 2mm
41 Profil Kaca m2
Tempered Tebal
12mm
42 Profil Kaca Bening m2
Tebal 5mm
43 Cat Tembok kg Catylac
Interior
44 Cat Tembok kg Catylac
Eksterior
45 Plamir kg
46 Cat Dasar kg
47 Kawat Jaring BRC Lbr
48 Pipa GIP Ø22 mm M.112.e m'
tebal 2,3mm
49 Pipa GIP Ø57 mm M.112.e m'
tebal 2,3mm
50 Pipa GIP Ø100mm M.112.e m'
tebal 2,8mm
51 Shock Ø1,25" M.114.e bh
52 Knee Ø6" bh
53 Shock Ø6" bh
54 Lem Pipa kg
55 Jaring Lapangan m2
D60
56 Light Box Acrylic m2
57 Ubin Granit Warna m2 Roman
Uk. 60x60 cm
58 Keramik Motif Uk. m2 Roman
30x60 cm
59 Semen Warna kg
60 Lampu Lampu bh
downlight LED 12
W
61 Kbel NYM 3 x 2,5 m'
mm²
62 Kbel NYA 2,5 mm m'
63 Stop Kontak 1 P, bh
10A, 200 W + cover
dan aksesoris
64 T dos PVC bh
65 Saklar Tunggal bh
BROCO
66 Saklar Ganda bh
BROCO
67 Pipa PVC-Tipe AW m' RUCIKA
Ø1/2"
68 Pipa PVC-Tipe AW m' RUCIKA
Ø3/4"
69 Pipa PVC-Tipe AW m' RUCIKA
Ø1"
70 Pipa PVC-Tipe AW m' RUCIKA
Ø2"
71 Pipa PVC-Tipe AW m' RUCIKA
Ø3"
72 Pipa PVC-Tipe AW m' RUCIKA
Ø4"
73 Cat Kayu M.128.b kg EMCO
74 Pivot Hinges Set
75 Kunci Tanam Biasa Buah
76 Door Holder Buah
77 Batu Tempel m2
Andesit
78 Kloset Buah
Duduk/Monoblock
79 Floor Drain Unit
80 Kran Air Buah
81 Kran air drat Buah
Kuningan 1/4"
82 Kran air drat Buah
Kuningan 1"
83 Kran air drat Buah
Kuningan 3/4"
84 Jet Washer Buah
85 Pompa Transfer Set
150lpm
(Centrifugal End
Suction) + Material
Bantu / Aksesoris
86 Philips Downlight Buah
LED 7W Putih
87 Philips Downlight Buah
LED 13W Putih
88 Philips RMI + TL LED Buah
tube 1x18 W
89 Philips TKO + TL Buah
LED tube 1x18 W
90 LED Philips Parrot Buah
Wall Lantern 4 W
91 LED strip COB LED m'
strip 10W/m
include power
socket
92 SDP Wall Mounted Unit
termasuk material
bantu / aksesoris
93 Rumput Gajah Mini Buah
94 Tumbuhan Buah
Tbebuya tinggi ±3m
95 Wastafel Lengkap Unit
96 Kitchen Sink KS Unit
3131 Bolsena
Stainless
97 Water Drain Buah
98 Kaca Cermin Tebal m2
8mm
99 WF kg
[Link]
100 WF kg
[Link].8
101 Besi Tulangan kg
Polos
102 Besi Tulangan kg
Ulir
103 CNP kg
[Link],2
1.8. IZIN USAHA
IZIN USAHA BIDANG JASA KONSTRUKSI (IUBJK) dan SERTIFIKAT BADAN
USAHA JASA KONSTRUKSI (SBUJK) Kualifikasi Usaha Kecil (K) yang masih
berlaku dengan Bidang dan Klasifikasi sebagai berikut :
1. Klasifikasi Bangunan Gedung
Sub klasifikasi Jasa Pelaksana Untuk Konstruksi Gedung Lainnya (BG 009)
Kualifikasi Kecil (K); Akan terkonfersi : BG 009 Konstruksi Gedung Lainnya atau
Kode 41019 KBLI 53129 KBKI.
1.9. SPESIFIKASI GAMBAR
Gambar-gambar untuk pelaksanaan pekerjaan harus ditetapkan oleh Pejabat
Pembuat Komitmen (PPK) secara terinci, lengkap dan jelas, antara lain :
a) Peta Lokasi
b) Lay out dan denah bangunan
c) Potongan memanjang
d) Potongan melintang
e) Detail-detail konstruksi
1.10. BIAYA OVERHEAD
Pekerjaan yang termasuk dalam perhitungan biaya overhead antara lain :
a) Pagar Pengaman Proyek
b) Personil Tenaga Ahli (Pelaksana Bangunan, Petugas K3 Konstruksi)
c) Biaya Air, Listrik dan Komunikasi
d) Biaya Asuransi Tenaga Kerja (BPJS)
e) Biaya Pengujian Mutu Pekerjaan
f) Biaya Registrasi Dan Perijinan Lainnya
1.11. WAKTU PELAKSANAAN
Jangka waktu pelaksanaan kegiatan adalah selama 5 (lima) bulan atau 150 hari
kalender.
1.12. Penyusunan koefisien analisa HPS sudah berdasarkan ketentuan yang berlaku agar
menghasilkan konstruksi sesuai spesifikasi teknis, oleh karena itu dalam melakukan
evaluasi kewajaran harga apabila koefisien analisa penawaran berbeda dengan
koefisien analisa HPS maka koefisien analisa penawaran harus disamakan dengan
koefisien analisa HPS dan dilakukan evaluasi kewajaran harga berdasarkan koefisien
analisa HPS, hal ini untuk menjamin hasil pekerjaan dan koefisien analisa harga sesuai
ketentuan yang berlaku.
1.13. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 2018 Pasal 61 ayat (1) dan (2) yaitu
dalam pengadaan barang/jasa, pengguna produk dalam negeri wajib menggunakan
produk dalam negeri yang memiliki penjumlahan nilai TKDN dan Bobot
Manfaat Perusahaan minimal 40% (empat Puluh persen). Produk Dalam Negeri yang
wajib digunakan harus memiliki nilai TKDN paling sedikit 25% (dua puluh lima
persen). Rekapitulasi TKDN disampaikan saat Rapat persiapan penandatanganan
kontrak dengan nilai TKDN total gabungan pekerjaan Pembangunan Fasilitas Umum di
Kolam Retensi minimal 75,28 % dengan rincian sebagai berikut :
No. Uraian TKDN
Satuan Minimal
(%)
A RENCANAKESELAMATAN KONSTRUKSI (RKK)
Penerapan SMK3 Konstruksi
I Penyiapan Dokumen RKK, RKPPL, RMLLP, RMPK:
Pembuatan Pelaporan Penerapan RKK Buku 100,00%
II Sosialisasi, Promosi dan Pelatihan :
Spanduk Lbr 60,71%
Papan Informasi K3 Bh 76,35%
III Alat Pelindung Kerja (APK) dan Alat Pelindung Diri
(APD) :
Topi Pelindung (Safety Helmet) Bh 71,12%
Masker Keselamatan Box 50,67%
Sarung Tangan (Safety Gloves) Psg 67,40%
Sepatu Keselamatan ( Safety Shoes ) Psg 36,71%
Jas Hujan Bh 30,03%
Rompi Keselamatan (Safety Vest) Bh 43,68%
IV Asuransi dan Perizinan :
Asuransi (Construction All Risk/CAR) /BPJS Paket 100,00%
V Personel Keselamatan Konstruksi :
Petugas K3 Orang 100,00%
VI Fasilitas sarana, prasarana dan alat ksehatan :
Kotak P3K set 39,28%
No. Uraian TKDN
Satuan Minimal
(%)
Rambu dan perlengkapan lalu lintas yang diperlukan
VII ataumanajemen lalu lintas :
Rambu Peringatan Bh 29,93%
Rambu Informasi Bh 26,12%
Kegiatan dan peralatan terkait Pengendalian Resiko
VIII Keselamatan Konstruksi :
Alat Pemadam Api Ringan (APAR) (3 kg) Bh 44,49%
Lampu darurat (Emergency Lamp) Bh 25,38%
B KELOMPOKPEKERJAAN PERSIAPAN
1 Pek. Uitzet / Pas. Bowplank Ls 99,83%
2 Papan Nama Pekerjaan Ls 75,33%
3 Sewa Per' 1 Jam Pompa Air Jam 75,00%
C KELOMPOKPEKERJAAN TANAH
1 Galian Tanah m³ 100,00%
2 Galian Bor Strous m' 92,22%
3 Urugan Pasir m³ 100,00%
4 Timbunan dan Pemadatan Sirtu m³ 98,85%
D KELOMPOKPEKERJAAN STRUKTUR
1 Beton Struktur mutu f' = 19,3 Mpa (K-225), Slump 94,86%
((120±20)mm, w/c = 058 m³
2 Bekisting Kolom 3 Kali Pemakaian m² 95,50%
3 Bekisting Balok 3 Kali Pemakaian m² 96,70%
4 Bekisting Lantai 3 Kali Pemakaian m² 94,98%
5 Bongkar bekisting dan perancah secara hati-hati 100,00%
m²
(dan membereskan puing)
6 Pembesian/ Tulangan Struktur kg 56,68%
7 Baja WF [Link].8 kg 62,65%
8 Baja WF [Link] kg 62,65%
9 Gording CNP [Link],2 kg 62,65%
10 Ikatan Angin Kuda-Kuda Ø16mm kg 62,65%
11 Plat Besi kg 62,65%
E KELOMPOKPEKERJAAN ARSITEKTUR
1 Pasangan 1/2 Bata 1Pc : 5Ps m² 98,91%
2 Plesteran 1PC:5Ps tebal 15mm. m² 98,75%
3 Pemasangan Acian m² 99,01%
4 Pemasangan Papan Kayu Bengkirai, Rangka Kayu 100,00%
m²
Kelas II
5 Pemasangan Lantai Ubin Granit Ukuran 60 cm x 60 64,59%
m²
cm
6 Pas. Keramik Dinding 30 x 60 cm Motif m² 70,31%
7 Plafond Gypsum m² 72,63%
8 List Plafond Gypsum m1 65,69%
No. Uraian TKDN
Satuan Minimal
(%)
9 Rangka Plafond Hollow 40.40 x 40.20 mm m² 73,86%
10 Pemasangan genteng Aspal m² 57,66%
11 Pemasangan Kusen Aluminium m' 61,63%
12 Pemasangan Pintu Kaca Tempered tebal 12mm 60,27%
m²
13 Pemasangan Pintu &Jendela Aluminium Strip 42,84%
m²
Lebar 8 cm
14 Kaca bening t = 5 mm m² 56,72%
15 Pemasangan Engsel Tanam (Pivote Hinge) Buah 81,37%
16 Pemasangan Kunci Tanam Biasa Buah 66,60%
17 Pemasangan Door Holder Buah 84,08%
18 Pembuatan dan Pemasangan Kusen Pintu dan 100,00%
m³
Kusen Jendela,Kayu Kelas II
19 Pembuatan Daun Pintu Plywood Rangkap, Rangka 95,36%
m²
Kayu Kelas II Tertutup
20 Pengecatan Tembok Baru (1 Lapis Plamuur, 1 Lapis 77,99%
Cat Dasar, 2 Lapis Cat Penutup) m²
21 Pengecatan Plafond m² 79,77%
22 Pemasangan Dinding Batu Tempel Hitam m² 99,57%
F KELOMPOKPEKERJAAN MEP
1 Pemasangan Closet Duduk/Monoblock Buah 45,80%
2 Avour (Floor Drain) Stainless Steel Buah 68,14%
3 Pemasangan Kran Diameter ½” atau ¾” Buah 97,00%
4 Pemasangan Kran Diameter 1/4” drat Kuningan 97,62%
Buah
5 Pemasangan Kran Diameter 1” drat Kuningan 96,78%
Buah
6 Pemasangan Kran Diameter 3/4” drat Kuningan 96,99%
Buah
7 Pemasangan pipa PVC AW, Dia. 1" m' 92,58%
8 Pemasangan pipa PVC AW, Dia. 3/4" m' 92,38%
9 Pemasangan pipa PVC AW, Dia. 1/2" m' 92,76%
10 Pemasangan pipa PVC AW, Dia. 2" m' 89,81%
11 Pemasangan pipa PVC AW, Dia. 3" m' 90,76%
12 Pemasangan pipa PVC AW, Dia. 4" m' 90,27%
13 Jet Washer Buah 45,00%
14 Wastafel Porselen + Asesoris Unit 70,59%
15 Bak Cuci Stainless Steel (KitchenZink) Buah 41,55%
16 Pemasangan Kaca Cermin Tebal 8 mm m² 57,83%
17 Pemasangan Downlight Philips Downlight LED 7W 41,05%
Buah
Putih
No. Uraian TKDN
Satuan Minimal
(%)
18 Pemasangan Downlight Philips Downlight LED 13W 31,74%
Buah
Putih
19 Pemasangan Philips RMI + TL LED tube 1x18 W 29,98%
Buah
20 Pemasangan Philips TKO + TL LED tube 1x18 W 30,53%
Buah
21 Pemasangan Lampu dinding LED Philips Parrot 27,06%
Buah
Wall Lantern 4 W
22 Pemasangan LED strip COB LED strip 10W/m 34,83%
m'
include power socket
23 Saklar Tunggal Buah 59,91%
24 Saklar Ganda Buah 55,20%
25 Pemasangan Stop Kontak 1 P, 10 A, 200 W + cover 61,15%
Unit
26 Instalasi Stop Kontak Titik 99,21%
27 Pemasangan Instalasi Saklar Titik 99,31%
28 Instalasi Titik Lampu Titik 99,08%
29 Pemasangan Sub Distribution Panel (SDP) Wall 39,01%
Unit
Mounted
30 Pemasangan Unit Grounding Panel Box Unit 71,93%
G KELOMPOKPEKERJAAN LAIN LAIN
1 Pemasangan Signage dengan Acrylic m² 27,45%
2 Pasangan Pipa Galvanis diameter 2" m' 79,68%
3 Pasangan Pipa Galvanis diameter 4" m' 70,34%
4 Penanaman rumput m² 100,00%
5 Penanaman pohon sedang Tabebuya (Tabebuia 99,78%
rosea) Diameter 5-7 cm, tinggi 3-6 meter, polybag Buah
75 L
6 Pemasangan Paving Block Natural Tebal 6 cm 97,41%
m²
7 Pemasangan Kanstin, tebal 10x20x40 cm untuk 98,52%
m'
Jalan Lingkungan (Jalan Lokal)
8 Head Terminal Orbital Helia unit 0,00%
9 FRV2 Inch 2 Meter unit 0,00%
10 Pipa Support 2 inch Galvanis 4 meter unit 0,00%
11 Kabel Konduktor NYY1x70mm m' 0,00%
12 Lightning counter Virtu unit 0,00%
13 Kabel Grounding BC 1x70mm m' 0,00%
14 Full Copper Rod 5/8 inch x 4 meter unit 0,00%
15 Exothermic Welding unit 0,00%
16 Klem Kuku Macan 70mm unit 0,00%
17 Klem L unit 0,00%
18 Skun 70mm Unit 0,00%
No. Uraian TKDN
Satuan Minimal
(%)
19 Grounding pit / Bak Kontrol polymer + busbar Unit 0,00%
Pasal 1.1.5. Koordinasi Pekerjaan
1. Untuk kelancaran pekerjaan ini, harus disediakan koordinasi dari seluruh
bagian yang terlibat didalam kegiatan proyek ini. Seluruh aktifitas yang
menyangkut dalam proyek ini, harus dikoordinir lebih dahulu agar gangguan
dan konflik satu dengan yang lainnya dapat dihindarkan. Melokalisasi /
memerinci setiap pekerjaan sampai dengan detail untuk menghindari
gangguan dan konflik, serta harus mendapat persetujuan dari Konsultan
Perencana dan Konsultan Pengawas / Manajemen Konstruksi (MK).
2. Kontraktor harus melaksanakan segala pekerjaan menurut uraian dan syarat -
syarat pelaksanaan, gambar - gambar dan instruksi - instruksi tertulis dari
Konsultan Perencana dan Konsultan Pengawas / Manajemen Konstruksi
(MK).
3. Konsultan Perencana dan Konsultan Pengawas / Manajemen
Konstruksi (MK) berhak memeriksa pekerjaan yang dilakukan oleh
Kontraktor pada setiap waktu. Bagaimanapun juga kelalaian Konsultan
Perencana dan Konsultan Pengawas / Manajemen Konstruksi (MK) dalam
pengontrolan terhadap kekeliruan - kekeliruan atas pekerjaan yang
dilaksanakan oleh Kontraktor, tidak berarti Kontraktor bebas dari tanggung
jawab.
4. Pekerjaan yang tidak memenuhi uraian dan syarat - syarat pelaksanaan
(spesifikasi) atau gambar atau instruksi tertulis dari Konsultan Perencana
dan Konsultan Pengawas/ Manajemen Konstruksi (MK) harus diperbaiki atau
dibongkar. Semua biaya yang diperlukan untuk ini menjadi tanggung jawab
Kontraktor.
BAB II
SYARAT – SYARAT UMUM
2.1. UMUM
Untuk dapat memahami dengan sebaik-baiknya seluruh seluk beluk pekerjaan ini,
Kontraktor diwajibkan mempelajari secara saksama seluruh gambar pelaksanaan
beserta uraian Pekerjaan dan Persyaratan Pelaksanaan seperti diuraikan di dalam
buku ini.
Bila terdapat ketidakjelasan dan atau perbedaan dalam gambar dan uraian ini,
Kontraktor diwajibkan melaporkan hal tersebut kepada Pengawas untuk mendapatkan
penyelesaian.
2.2. LINGKUP PEKERJAAN
Penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan dan alat-alat kerja yang dibutuhkan untuk
melaksanakan pekerjaan ini serta mengamankan, mengawasi, dan memelihara bahan-
bahan, alat kerja maupun hasil pekerjaan selama masa pelaksanaan berlangsung,
sehingga seluruh pekerjaan dapat selesai dengan sempurna.
2.3. SARANA KERJA
Kontraktor wajib memasukkan jadwal kerja. Kontraktor juga wajib memasukkan
identifikasi dari tempat kerja, nama, jabatan dan keahlian masing-masing anggota
pelaksana pekerjaan, serta inventarisasi peralatan yang digunakan dalam
melaksanakan pekerjaan ini. Kontraktor wajib menyediakan tempat penyimpanan
bahan/material di lokasi yang aman dari segala kerusakan, kehilangan dan hal-hal yang
dapat mengganggu pekerjaan lain. Semua sarana persyaratan kerja, harus dilengkapi,
sehingga kelancaran dan kemudahan kerja di lokasi dapat tercapai.
2.4. GAMBAR – GAMBAR DOKUMEN
a. Dalam hal terjadi perbedaan dan atau pertentangan dalam gambar- gambar yang
ada dalam buku Uraian Pekerjaan ini, maupun pekerjaan yang terjadi akibat
keadaan di lokasi, Kontraktor diwajibkan melaporkan hal tersebut kepada
Pengawas secara tertulis, untuk mendapatkan keputusan pelaksanaan di lokasi
setelah Pengawas berunding terlebih dahulu dengan Perencana dan PPK.
Ketentuan tersebut diatas tidak dapat dijadikan alasan oleh Kontraktor untuk
memperpanjang waktu pelaksanaan.
b. Semua ukuran yang tertera dalam gambar adalah ukuran jadi, dalam keadaan
selesai/terpasang.
c. Mengingat masalah ukuran ini sangat penting, Kontraktor diwajibkan
memperhatikan dan meneliti terlebih dahulu semua ukuran yang tercantum
sebelum memulai pekerjaan.
d. Bila ada keraguan mengenai ukuran atau bila ada ukuran yang belum dicantumkan
dalam gambar, kontraktor wajib melaporkan hal tersebut secara tertulis kepada
Pengawas dan Pengawas memberikan keputusan. ukuran mana yang akan dipakai
dan dijadikan pegangan setelah berunding dahulu dengan Perencana dan PPK.
e. Kontraktor tidak dibenarkan mengubah dan atau mengganti ukuran- ukuran yang
tercantum di dalam gambar pelaksanaan tanpa sepengetahuan Pengawas.
f. Bila hal tersebut terjadi, segala akibat yang akan terjadi merupakan tanggung
jawab Kontraktor baik dari segi biaya maupun waktu.
g. Kontraktor harus selalu menyediakan dengan lengkap masing-masing dua salinan,
segala gambar-gambar, spesifikasi teknis, agenda, berita- berita perubahan dan
gambar-gambar pelaksanaan yang telah disetujui ditempat pekerjaan.
h. Dokumen-dokumen ini harus dapat dilihat Pengawas setiap saat sampai dengan
serah terima kesatu. Setelah serah terima kesatu, dokumen- dokumen tersebut akan
didokumentasikan oleh Pemberi Tugas.
2.5. GAMBAR – GAMBAR PELAKSANAAN
a. Dokumen pelaksanaan baik berupa gambar-gambar, diagram, ilustrasi,
schedule, brosur atau data yang disiapkan Kontraktor atau Sub Kontraktor,
Supplier atau Produsen yang menjelaskan bahan- bahan atau sebagian pekerjaan.
b. Contoh-contoh bahan/material, brosur adalah benda-benda yang wajib
disediakan Kontraktor untuk menunjukkan bahan/material yang akan dipakai. Ini
akan dipergunakan oleh Pengawas sebagai pedoman, untuk pelaksanaan pekerjaan,
setelah disetujui terlebih dahulu oleh Pengawas.
c. Dengan menyetujui dan menyerahkan gambar-gambar pelaksanaan atau contoh-
contoh, dianggap Kontraktor telah meneliti dan menyesuaikan setiap gambar atau
contoh tersebut dengan Dokumen Kontrak.
d. Pengawas akan memeriksa dan menolak atau menyetujui gambar-gambar
pelaksanaan atau contoh-contoh dalam waktu sesingkat-singkatnya, sehingga tidak
mengganggu jalannya pekerjaan.
e. Kontraktor akan melakukan perbaikan-perbaikan yang diminta Pengawas dan
menyerahkan kembali segala gambar- gambar pelaksanaan dan contoh- contoh
sampai disetujui.
f. Persetujuan Pengawas terhadap gambar-gambar pelaksanaan dan contoh- contoh,
tidak membebaskan Kontraktor dari tanggung jawabnya atas perbedaan dengan
Dokumen Kontrak, apabila perbedaan tersebut tidak diberitahukan secara tertulis
kepada Pengawas.
g. Semua pekerjaan yang memerlukan gambar-gambar pelaksanaan atau contoh-
contoh yang harus disetujui Pengawas, tidak boleh di laksanakan sebelum ada
persetujuan tertulis dari Pengawas.
h. Gambar-gambar pelaksanaan atau contoh-contoh harus dikirimkan
Kontraktor kepada Pengawas dalam dua salinan. Pengawas akan memeriksa dan
mencantumkan tanda-tanda "Telah Diperiksa Tanpa Perubahan "atau" Telah
“Diperiksa Dengan Perubahan"atau "Ditolak”.
i. Satu salinan ditahan oleh Pengawas untuk arsip, sedangkan yang kedua
dikembalikan kepada Kontraktor untuk dibagikan atau diperlihatkan kepada Sub
Kontraktor atau yang bersangkutan lainnya.
j. Sebutan katalog atau barang cetakan, hanya boleh diserahkan apabila menurut
Pengawas hal-hal yang sudah ditentukan dalam katalog atau barang cetakan
tersebut sudah jelas dan tidak perlu dirubah. Barang cetakan ini juga harus
diserahkan dalam dua rangkap untuk masing-masing jenis dan diperlukan sama
seperti butir di atas.
k. Contoh-contoh yang disebutkan dalam Spesifikasi Teknis harus diserahkan kepada
Pengawas.
l. Biaya pengiriman gambar-gambar pelaksanaan, contoh-contoh, katalog- katalog
kepada Pengawas menjadi tanggung jawab Kontraktor.
2.6. JAMINAN KUALITAS
Kontraktor menjamin pada Pemberi Tugas dan Pengawas, bahwa semua bahan dan
perlengkapan untuk pekerjaan adalah sama sekali baru, kecuali ditentukan lain, serta
kontraktor menyetujui bahwa semua pekerjaan dilaksanakan dengan baik, bebas dari
cacat teknis dan estetis serta sesuai dengan Dokumen Kontrak. Apabila diminta,
kontraktor sanggup memberikan bukti-bukti mengenai hal- hal tersebut pada butir ini.
Sebelum mendapat persetujuan dari Pengawas, bahwa pekerjaan telah diselesaikan
dengan sempurna, semua pekerjaan tetap menjadi tanggung jawab Kontraktor
sepenuhnya.
2.7. CONTOH MATERIAL
a. Contoh-contoh material yang dikehendaki oleh Pemberi Tugas atau wakilnya harus
segera disediakan atas biaya Kontraktor dan contoh-contoh tersebut diambil
dengan jalan atau cara sedemikian rupa, sehingga dapat dianggap bahwa bahan
atau pekerjaan tersebutlah yang akan dipakai dalam pelaksanaan pekerjaan nanti.
b. Contoh-contoh tersebut jika telah disetujui, disimpan oleh Pemberi Tugas atau
wakilnya untuk dijadikan dasar penolakan tidak sesuai dengan contoh, baik
kualitas maupun sifatnya.
c. Kontraktor diwajibkan menyerahkan barang-barang contoh (sample) dari material
yang akan dipakai atau dipasang, untuk mendapatkan persetujuan Pengawas.
d. Barang-barang contoh (sample) harus menyertakan dengan tanda bukti atau
sertifikat pengujian dan spesifikasi teknis dari barang-barang atau material-
material tersebut.
e. Untuk barang-barang dan material yang akan didatangkan ke site (melalui
pemesanan), maka Kontraktor diwajibkan menyerahkan Brosur, katalog, gambar
kerja atau shop drawing, konster dan sample, yang dianggap perlu oleh Pengawas
dan harus mendapatkan persetujuan Pengawas.
2.8. MATERIAL DAN TENAGA KERJA
Seluruh material yang dipergunakan dalam pekerjaan ini harus baru, dan material
harus tahan terhadap iklim tropis. Seluruh peralatan harus dilaksanakan dengan cara
yang benar dan setiap pekerja harus mempunyai ketrampilan yang memuaskan, di
mana latihan khusus bagi Pekerja sangat diperlukan dan Kontraktor harus
melaksanakannya. Kontraktor harus melengkapi surat Sertifikat yang sah untuk setiap
personil ahli yang menyatakan bahwa personal tersebut telah mengikuti latihan-latihan
khusus atau pun mempunyai pengalaman-pengalaman khusus dalam bidang keahlian
masing-masing.
2.9. KOORDINASI PEKERJAAN
a. Untuk kelancaran pekerjaan ini, harus disediakan koordinasi dari seluruh bagian
yang terlibat di dalam kegiatan proyek ini. Seluruh aktivitas yang menyangkut
dalam proyek ini, harus dikoordinir lebih dahulu agar gangguan dan konflik satu
dengan lainnya dapat dihindarkan. Melokalisasi atau merinci setiap pekerjaan
sampai dengan detail untuk menghindari gangguan dan konflik, serta harus
mendapat persetujuan dari Pengawas.
b. Kontraktor harus melaksanakan segala pekerjaan menurut uraian dan syarat- syarat
pelaksanaan, gambar-gambar dan instruksi-instruksi tertulis dari Pengawas.
c. Pengawas berhak memeriksa pekerjaan yang dilakukan oleh Kontraktor pada
setiap waktu. Bagaimana pun juga kelalaian Pengawas dalam pengontrolan
terhadap kekeliruan-kekeliruan atas pekerjaan yang dilaksanakan oleh Kontraktor,
tidak berarti Kontraktor bebas dari tanggung jawab.
d. Pekerjaan yang tidak memenuhi uraian dan syarat-syarat pelaksanaan (spesifikasi)
atau gambar atau instruksi tertulis dari Pengawas harus diperbaiki atau dibongkar.
Semua biaya yang diperlukan untuk ini menjadi tanggung jawab kontraktor.
2.10. PERLINDUNGAN TERHADAP ORANG, HARTA BENDA DAN
PEKERJAAN
a. Perlindungan terhadap milik Umum:
Kontraktor harus menjaga jalan umum, jalan kecil dan jalan bersih dari alat- alat
mesin, bahan-bahan bangunan dan sebagainya serta memelihara kelancaran lalu
lintas, baik bagi kendaraan maupun pejalan kaki selama kontrak berlangsung.
b. Orang-orang yang tidak berkepentingan;
Kontraktor harus melarang siapa pun yang tidak berkepentingan memasuki tempat
pekerjaan dan dengan tegas memberikan perintah kepada ahli teknik yang bertugas
dan para penjaga.
c. Perlindungan terhadap bangunan yang ada:
Selama masa-masa pelaksanaan kontrak, Kontraktor bertanggung jawab penuh
atas segala kerusakan bangunan yang ada, utilitas, jalan-jalan, saluran-saluran
pembuangan dan sebagainya ditempat pekerjaan, dan kerusakan-kerusakan
sejenis yang disebabkan operasi- operasi Kontraktor, dalam arti kata yang luas. Itu
semua harus diperbaiki oleh Kontraktor hingga dapat diterima Pemberi Tugas.
d. Penjagaan dan perlindungan pekerjaan:
Kontraktor bertanggung jawab atas penjagaan, penerangan dan perlindungan
terhadap pekerjaan yang dianggap penting selama pelaksanaan Kontrak, siang dan
malam. Pemberi tugas tidak bertanggung jawab atas kehilangan atau kerusakan
bahan-bahan bangunan atau peralatan atau pekerjaan yang sedang dalam
pelaksanaan.
e. Kesejahteraan, Keamanan dan Pertolongan Pertama:
Kontraktor harus mengadakan dan memelihara fasilitas kesejahteraan dan tindakan
pengamanan yang layak untuk melindungi para pekerja dan tamu yang akan datang
ke lokasi. Fasilitas dan tindakan pengamanan seperti ini di syaratkan harus
memuaskan Pemberi Tugas dan juga harus menurut atau memenuhi ketentuan
Undang-undang yang berlaku pada waktu itu. Di lokasi pekerjaan, Kontraktor
wajib mengadakan perlengkapan yang cukup untuk pertolongan pertama, yang
mudah dicapai. Sebagai tambahan hendaknya di setiap site ditempatkan paling
sedikit seorang petugas yang telah dilatih dalam soal-soal mengenai pertolongan
pertama.
f. Gangguan pada tetangga:
Segala pekerjaan yang menurut Pemberi Tugas mungkin akan menyebabkan
adanya gangguan pada penduduk yang berdekatan, hendaknya dilaksanakan pada
waktu-waktu yang tidak mengganggu tetangga. Kontraktor Wajib Lapor kepada
Rukun Tetangga (RT) setempat, dan ijin kepada tetangga terdekat, baik secara lisan
maupun tertulis. Pemberi Tugas akan menentukannya dan tidak akan ada tambahan
penggantian uang yang akan diberikan kepada Kontraktor sebagai tambahan, yang
mungkin ia keluarkan.
2.11. PERATURAN TEKNIS PEMBANGUNAN YANG DIGUNAKAN
Dalam melaksanakan pekerjaan, kecuali bila ditentukan lain dalam Rencana Kerja dan
Syarat-syarat (RKS) ini, berlaku dan mengikat ketentuan-ketentuan di bawah ini
termasuk segala perubahan dan tambahannya:
a. Perpres No. 16 Tahun 2018 beserta perubahan- perubahannya.
b. Peraturan Umum dari Dinas Kesehatan Kerja Departemen Tenaga Kerja.
c. Peraturan dan Ketentuan lain yang dikeluarkan oleh Jawatan/ Instansi Pemerintah
setempat, yang bersangkutan dengan permasalahan bangunan.
Untuk melaksanakan pekerjaan dalam butir tersebut diatas, berlaku dan mengikat pula:
a. Gambar kerja yang dibuat Konsultan Perencana yang sudah direview oleh
Pengelola Teknis dan disahkan oleh Pemberi Tugas termasuk juga gambar- gambar
detail yang diselesaikan oleh Kontraktor dan sudah disahkan/disetujui
b. Rencana Kerja dan Syarat-syarat Pekerjaan (RKS).
c. Berita Acara Penjelasan Pekerjaan.
d. Surat Keputusan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) tentang Penunjukan
Kontraktor (SPPBJ).
e. Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK).
f. Surat Penawaran beserta lampiran-lampirannya.
g. Jadwal Pelaksanaan 150 hari kalender sejak penandatanganan kontrak.
h. Kontrak/Surat Perjanjian Kontraktor.
2.12. SHOP DRAWING
a. Harus selalu dibuat gambar pelaksanaan dari semua komponen struktur
berdasarkan desain yang ada dan harus dimintakan persetujuan tertulis dari
Pengawas.
b. Gambar pelaksanaan ini harus memberikan semua data-data yang diperlukan
termasuk keterangan produk bahan, keterangan pemasangan, data-data tertulis dan
hal-hal lain yang diperlukan.
c. Kontraktor bertanggung jawab terhadap semua kesalahan-kesalahan detail
fabrikasi dan ketepatan penyetelan atau pemasangan semua bagian konstruksi.
d. Pekerjaan perubahan dan pekerjaan tambahan di lapangan pada waktu pemasangan
yang diakibatkan oleh kurang teliti atau kelalaian Kontraktor, harus dilakukan atas
biaya Kontraktor.
e. Keragu-raguan terhadap kebenaran dan kejelasan gambar dan spesifikasi harus
ditanyakan kepada Pengawas.
f. Kontraktor diwajibkan untuk membuat gambar-gambar "As Built Drawing" sesuai
dengan pekerjaan yang telah dilakukan di lapangan secara kenyataan, untuk
kebutuhan pemeriksaan di kemudian hari. Gambar-gambar tersebut diserahkan
kepada Pengawas.
BAB III
PEKERJAAN PERSIAPAN
3.1. PEKERJAAN PERSIPAN
Sebelum Pekerjaan dilaksanakan, Penyedia Jasa wajib Menyediakan :
a. Pembuatan Pagar Keliling, Kontraktor diwajibkan membuat pagar keliling
sementara untuk pengaman pelaksanaan pekerjaan. Pagar keliling sementara
dengan kerangka dari kayu Usuk uk. 5/6 dan penutup menggunakan seng
gelombang tinggi 2 m
b. Test Material pada saat penurunan material dengan memakai benda uji. Pengujian
bahan dilaksanakan pada laboratorium independen yang telah disetujui Konsultan
Pengawas / Direksi.
c. Biaya pengujian menjadi beban atau tanggung jawab pihak kontraktor yang mutlak
harus dilaksanakan.
d. Biaya pengujian terhadap material yang tidak ditawar tersendiri tetapi sudah
termasuk di dalam harga penawaran pekerjaan (pihak kontraktor harus sudah
memperhitungkan di dalam penawaran)
3.2. PENERAPAN SMK3 KONSTRUKSI
3.1.1. Kewajiban Administrasi
Kewajiban umum di sini dimaksudkan kewajiban umum bagi perusahaan
Penyedia Jasa Konstruksi, yaitu:
a. Penyedia Jasa berkewajiban untuk mengusahakan agar tempat kerja, peralatan,
lingkungan kerja dan tata cara kerja diatur sedemikian rupa sehingga tenaga kerja
terlindungi dari resiko kecelakaan.
b. Penyedia Jasa menjamin bahwa mesin-mesin peralatan, kendaraan atau alat-alat
lain yang akan digunakan atau dibutuhkan sesuai dengan peraturan keselamatan
kerja, selanjutnya barang-barang tersebut harus dapat dipergunakan secara aman.
c. Penyedia Jasa turut mengadakan pengawasan terhadap tenaga kerja, agar tenaga
kerja tersebut dapat melakukan pekerjaan dalam keadaan selamat dan sehat.
d. Penyedia Jasa menunjuk petugas keselamatan kerja yang karena jabatannya di
dalam organisasi Penyedia Jasa, bertanggung jawab mengawasi koordinasi
pekerjaan yang dilakukan untuk menghindarkan resiko bahaya kecelakaan.
e. Penyedia Jasa memberikan pekerjaan yang cocok untuk tenaga kerja sesuai dengan
keahlian, umur, jenis kelamin dan kondisi fisik/kesehatannya.
f. Sebelum pekerjaan dimulai Penyedia Jasa menjamin bahwa semua tenaga kerja
telah diberi petunjuk terhadap bahaya dari pekerjaannya masing- masing dan usaha
pencegahannya, untuk itu Penyedia Jasa dapat memasang papan-papan
pengumuman, papan-papan peringatan serta sarana-sarana pencegahan kecelakaan
yang dipandang perlu.
g. Orang tersebut bertanggung jawab pula atas pemeriksaan berkala terhadap
semua tempat kerja, peralatan, sarana-sarana pencegahan kecelakaan, lingkungan
kerja dan cara-cara pelaksanaan kerja yang aman.
h. Hal-hal yang menyangkut biaya yang timbul dalam rangka
penyelenggaraan keselamatan dan kesehatan kerja menjadi tanggung jawab
Penyedia Jasa.
3.1.2. Organisasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Penyedia Jasa Konstruksi harus menugaskan secara khusus Ahli K3 dan tenaga K3
untuk setiap proyek yang dilaksanakan. Tenaga K3 tersebut harus masuk dalam
struktur organisasi pelaksanaan konstruksi setiap proyek, dengan ketentuan sebagai
berikut:
a. Petugas keselamatan dan kesehatan kerja harus bekerja secara penuh (full-time)
untuk mengurus dan menyelenggarakan keselamatan dan kesehatan kerja.
b. Pengurus dan Penyedia Jasa yang mengelola pekerjaan dengan mempekerjakan
pekerja dengan jumlah minimal 100 orang atau kondisi dari sifat proyek memang
memerlukan,diwajibkan membentuk unit pembina K3.
c. Panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja tersebut ini merupakan unit
struktural dari organisasi penyedia jasa yang dikelola oleh pengurus atau penyedia
jasa.
d. Petugas keselamatan dan kesehatan kerja tersebut bersama-sama dengan panitia
pembina keselamatan kerja ini bekerja sebaik-baiknya, dibawah koordinasi
pengurus atau Penyedia Jasa, serta bertanggung jawab kepada pemimpin proyek.
e. Penyedia jasa harus mekukan hal-hal sebagai berikut:
1) Memberikan panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja fasilitas-
fasilitas dalam melaksanakan tugas mereka;
2) Berkonsultasi dengan panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja dalam
segala hal yang berhubungan dengan keselamatan dan kesehatan kerja dalam
proyek;
3) Mengambil langkah-langkah praktis untuk memberi efek pada rekomendasi
dari panitia pembina keselamatan dan kesehatan kerja.
4) Jika 2 (dua) atau lebih Penyedia Jasa bergabung dalam suatu proyek mereka
harus bekerja sama membentuk kegiatan kegiatan keselamatan dan
kesehatan kerja.
3.1.3. Laporan Kecelakaan
Salah satu tugas pelaksana K3 adalah melakukan pencatatan atas kejadian yang
terkait dengan K3, di mana:
a. Setiap kejadian kecelakaan kerja atau kejadian yang berbahaya harus dilaporkan
kepada Instansi yang terkait.
b. Laporan tersebut harus meliputi statistik yang akan menunjukkan hal-hal sebagai
berikut :
- Menunjukkan catatan kecelakaan dari setiap kegiatan kerja, pekerja
masing-masing
- Menunjukkan gambaran kecelakaan-kecelakaan dan sebab-sebabnya
3.1.4. Keselamatan Kerja dan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan
Organisasi untuk keadaan darurat dan pertolongan pertama pada kecelakaan harus
dibuat sebelumnya untuk setiap proyek yang meliputi seluruh pegawai/petugas
pertolongan pertama pada kecelakaan dan peralatan, alat-alat komunikasi dan alat-alat
lain serta jalur transportasi, di mana:
a. Tenaga kerja harus diperiksa kesehatannya:
1) Sebelum atau beberapa saat setelah memasuki masa kerja pertama kali.
2) Secara berkala, sesuai dengan risiko-risiko yang ada pada pekerjaan tersebut.
b. Data yang diperoleh dari pemeriksaan kesehatan harus dicatat dan disimpan
untuk referensi.
c. Pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan atau penyakit yang tiba-tiba, harus
dilakukan oleh Dokter, Juru Rawat atau seorang yang terdidik dalam pertolongan
pertama pada kecelakaan (PPPK).
d. Alat-alat PPPK atau kotak obat-obatan yang memadai, harus disediakan di tempat
kerja dan dijaga agar tidak dikotori oleh debu, kelembaban udara dan lain-lain.
e. Alat-alat PPPK atau kotak obat-obatan harus berisi paling sedikit dengan obat
untuk kompres, perban, antiseptik, plester, gunting dan perlengkapan gigitan ular.
f. Alat-alat PPPK dan kotak obat-obatan harus tidak berisi benda-benda lain selain
alat-alat PPPK yang diperlukan dalam keadaan darurat.
g. Alat-alat PPPK dan kotak obat-obatan harus berisi keterangan-
keterangan/instruksi yang mudah dan jelas sehingga mudah dimengerti.
h. Isi dari kotak obat-obatan dan alat PPPK harus diperiksa secara teratur dan harus
dijaga supaya tetap berisi (tidak boleh kosong).
i. Kereta untuk mengangkat orang sakit (tandu).
j. Persiapan-persiapan harus dilakukan untuk memungkinkan mengangkut dengan
cepat, jika diperlukan untuk petugas yang sakit atau mengalami kecelakaan ke
rumah sakit atau tempat berobat lainnya.
k. Petunjuk/informasi harus diumumkan/ditempel di tempat yang baik dan
strategis yang memberitahukan antara lain:
1) Tempat yang terdekat dengan kotak obat-obatan, alat-alat PPPK, ruang PPPK,
ambulans, tandu untuk orang sakit, dan tempat di mana dapat dicari petugas
K3.
2) Tempat telepon terdekat untuk menelepon/memanggil ambulans, nomor
telepon dan nama orang yang bertugas dan lain-lain.
3) Nama, alamat, nomor telepon dokter, rumah sakit dan tempat penolong yang
dapat segera dihubungi dalam keadaan darurat
Biaya operasional kegiatan keselamatan dan kesehatan kerja harus sudah diantisipasi
sejak dini yaitu pada saat Pengguna Jasa mempersiapkan pembuatan desain dan
perkiraan biaya suatu pekerjaan konstruksi. Sehingga pada saat pelelangan menjadi
salah satu item pekerjaan yang perlu menjadi bagian evaluasi dalam penetapan
pemenang lelang. Selanjutnya Penyedia Jasa harus melaksanakan prinsip-prinsip
kegiatan kesehatan dan keselamatan kerja termasuk penyediaan prasarana, sumber
daya manusia dan pembiayaan untuk kegiatan tersebut dengan biaya yang wajar, oleh
karena itu baik Penyedia Jasa dan Pengguna Jasa perlu memahami prinsip-prinsip
keselamatan dan kesehatan kerja ini agar dapat melakukan langkah persiapan,
pelaksanaan dan pengawasannya.
3.1.5. Ketnetuan Teknis
a. Aspek Lingkungan
Dalam rangka perencanaan dan pelaksanaan K3 terutama terkait dengan aspek
lingkungan, Penyedia Jasa harus mendapatkan persetujuan dari direksi pekerjaan.
b. Tempat Kerja dan Peralatan
Ketentuan teknis pada tempat kerja dan peralatan pada suatu proyek terkait dengan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah sebagai berikut :
- Pintu masuk dan keluar
1) Pintu masuk dan keluar darurat harus dibuat di tempat-tempat kerja.
2) Alat-alat/tempat-tempat tersebut harus diperlihara dengan baik.
- Lampu / penerangan
1) Jika penerangan alam tidak sesuai untuk mencegah bahaya, alat-alat
penerangan buatan yang cocok dan sesuai harus diadakan di seluruh
tempat kerja, termasuk pada gang-gang.
2) Lampu-lampu harus aman, dan terang.
3) Lampu-lampu harus dijaga oleh petugas-petugas bila perlu mencegah
bahaya apabila lampu mati/pecah.
- Ventilasi
1) Di tempat kerja yang tertutup, harus dibuat ventilasi yang sesuai untuk
mendapat udara segar.
2) Jika secara teknis tidak mungkin bisa menghilangkan debu, gas yang
berbahaya, tenaga kerja harus disediakan alat pelindung diri untuk
mencegah bahaya-bahaya tersebut di atas.
- Kebersihan
1) Bahan-bahan yang tidak terpakai dan tidak diperlukan lagi harus
dipindahkan ke tempat yang aman.
2) Semua paku yang menonjol harus disingkirkan atau dibengkokkan
untuk mencegah terjadinya kecelakaan.
3) Sisa-sisa barang alat-alat dan sampah tidak boleh dibiarkan
bertumpuk di tempat kerja.
4) Tempat-tempat kerja dan gang-gang yang licin karena oli atau sebab
lain harus dibersihkan atau disiram pasir, abu atau sejenisnya.
5) Alat-alat yang mudah dipindah-pindahkan setelah dipakai harus
dikembalikan pada tempat penyimpanan semula.
c. Pencegahan Terhadap Kebakaran dan Alat Pemadam Kebakaran
Untuk dapat mencegah terjadinya kebakaran pada suatu tempat atau proyek dapat
dilakukan pencegahan sebagai berikut :
- Di tempat-tempat kerja dimana tenaga kerja dipekerjakan harus tersedia:
1) Alat-alat pemadam kebakaran.
2) Saluran air yang cukup dengan tekanan yang besar.
- Pengawas dan sejumlah/beberapa tenaga kerja harus dilatih untuk
menggunakan alat pemadam kebakaran.
- Alat pemadam kebakaran, harus diperiksa pada jangka waktu tertentu oleh
orang yang berwenang dan dipelihara sebagaimana mestinya.
- Alat pemadam kebakaran seperti pipa-pipa air, alat pemadam kebakaran yang
dapat dipindah-pindah (portable) dan jalan menuju ke tempat pemadam
kebakaran harus selalu dipelihara.
- Peralatan pemadam kebakaran harus diletakkan di tempat yang mudah dilihat
dan dicapai.
- Sekurang kurangnya sebuah alat pemadam kebakaran harus tersedia di tempat-
tempat sebagai berikut:
1) Di setiap gedung dimana barang-barang yang mudah terbakar disimpan.
2) Di tempat-tempat yang terdapat alat-alat untuk mengelas.
- Beberapa alat pemadam kebakaran dari bahan kimia kering harus
disediakan :
1) Di tempat yang terdapat barang-barang/benda-benda cair yang mudah
terbakar.
2) Di tempat yang terdapat oli, bensin, gas dan alat-alat pemanas yang
menggunakan api.
3) Di tempat yang terdapat aspal dan ketel aspal.
- Alat pemadam kebakaran harus dijaga agar tidak terjadi kerusakan- kerusakan
teknis.
- Jika pipa tempat penyimpanan air (reservoir, standpipe) dipasang di suatu
gedung, pipa tersebut harus :
1) dipasang di tempat yang strategis demi kelancaran pembuangan.
2) dibuatkan suatu katup pada setiap ujungnyaa
3) mempunyai sambungan yang dapat digunakan Dinas Pemadam
Kebakaran
d. Perlengkapan Keselamatan Kerja
Berbagai jenis perlengkapan kerja standar untuk melindungi pekerja dalam
melaksanakan tugasnya antara lain sebagai berikut :
1) Safety hat, yang berguna untuk melindungi kepala dari benturan benda keras
selama mengoperasikan atau memelihara AMP.
2) Safety shoes, yang akan berguna untuk menghindarkan terpeleset karena licin
atau melindungi kaki dari kejatuhan benda keras dan sebagainya.
3) Kaca mata keselamatan, terutama dibutuhkan untuk melindungi mata pada
lokasi pekerjaan yang banyak serbuk metal atau serbuk material keras lainnya.
4) Masker, diperlukan pada medan yang berdebu meskipun ruang operator telah
tertutup rapat, masker ini dianjurkan tetap dipakai.
5) Sarung tangan, dibutuhkan pada waktu mengerjakan pekerjaan yang
berhubungan dengan bahan yang keras, misalnya membuka atau
mengencangkan baut dan sebagainya.
6) Penutup telinga, diperlukan pada waktu mengerjakan pekerjaan yang
berhubungan dengan alat yang mengeluarkan suara yang keras/bising,
misalnya pemadatan tanah dengan stamper dan sebagainya.
3.1.6. Pedoman untuk Pelaku Utama Konstruksi
a. Pedoman untuk Manajemen Puncak
Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian manajemen puncak untuk
mengurangi biaya karena kecelakaan kerja, antara lain:
- Mengetahui catatan tentang keselamatan kerja dari semua manajer
lapangan. Informasi ini digunakan untuk mengadakan evaluasi terhadap
program keselamatan kerja yang telah diterapkan.
- Kunjungan lapangan untuk mengadakan komunikasi tentang keselamatan
kerja dengan cara yang sama sebagaimana dilakukan pelaksanaan monitoring
dan pengendalian mengenai biaya dan rencana penjadualan pekerjaan.
- Mengalokasikan biaya keselamatan kerja pada anggaran perusahaan dan
mengalokasikan biaya kecelakaan kerja pada proyek yang dilaksanakan.
- Mempersyaratkan perencanaan kerja yang terperinci sehingga dapat
memberikan jaminan bahwa peralatan atau material yang digunakan untuk
melaksanakan pekerjaan dalam kondisi aman.
- Para pekerja yang baru dipekerjakan menjalani latihan tentang
keselamatan kerja dan memanfaatkan secara efektif keahlian yang ada pada
masing masing divisi (bagian) untuk program keselamatan kerja.
b. Pedoman untuk Manajer dan Pengawas
Untuk para manajer dan pengawas, hal-hal berikut ini dapat diterapkan untuk
mengurangi kecelakaan dan gangguan kesehatan dalam pelaksanan pekerjaan
bidang konstruksi :
1) Manajer berkewajiban untuk melindungi keselamatan dan kesehatan pekerja
konstruksi sehingga harus menerapkan berbagai aturan, standar untuk
meningkatkan K3, juga harus mendorong personil untuk memperbaiki sikap
dan kesadaran terhadap K3 melalui komunikasi yang baik, organisasi yang
baik, persuasi dan pendidikan, menghargai pekerja untuk tindakan-tindakan
aman, serta menetapkan target yang realistis untuk K3.
2) Secara aktif mendukung kebijakan untuk keselamatan pada pekerjaan seperti
dengan memasukkan masalah keselamatan kerja sebagai bagian dari
perencanaan pekerjaan dan memberikan dukungan yang positif.
3) Manajer perlu memberikan perhatian secara khusus dan mengadakan
hubungan yang erat dengan para mandor dan pekerja sebagai upaya untuk
menghindari terjadi kecelakaan dan permasalahan dalam proyek konstruksi.
Manajer dapat melakukannya dengan cara :
- Mengarahkan pekerja yang baru pada pekerjaannya dan
mengusahakan agar mereka berkenalan akrab dengan personil dari
pekerjaan lainnya dan hendaknya memberikan perhatian yang khusus
terhadap pekerja yang baru, terutama pada hari-harinya yang pertama.
- Melibatkan diri dalam perselisihan antara pekerja dengan mandor, karena
dengan mengerjakan hal itu, kita akan dapat memahami mengenai titik
sudut pandang pari pekerja. Cara ini bukanlah mempunyai maksud untuk
merusak (“merongrong”) kewibawaan pihak mandor, tetapi lebih
mengarah untuk memastikan bahwa pihak pekerja itu telah diperlakukan
secara adil (wajar).
- Memperlihatkan sikap menghargai terhadap kemampuan para mandor
tetapi juga harus mengakui suatu fakta bahwa pihak mandor itu pun
(sebagai manusia) dapat membuat kesalahan. Hal ini dapat dilaksanakan
dengan cara mengizinkan para mandor untuk memilih para pekerjanya
sendiri (tetapi tidak menyerahkan kekuasaan yang tunggal untuk
memberhentikan pekerja).
c. Pedoman untuk Mandor
Mandor dapat mengurangi kecelakaan dan gangguan kesehatan dalam
pelaksanaan pekerjaan bidang konstruksi dengan:
1) Memperlakukan pekerja yang baru dengan cara yang berbeda, misalnya
dengan tidak membiarkan pekerja yang baru itu bekerja sendiri secara
langsung atau tidak menempatkannya bersama-sama dengan pekerja yang
lama dan kemudian membiarkannya begitu saja.
2) Mengurangi tekanan terhadap pekerjanya, misalnya dengan tidak
memberikan target produktivitas yang tinggi tanpa memperhatikan
keselamatan dan kesehatan pekerjanya.
Selanjutnya manajemen puncak dapat membantu para mandor untuk
mengurangi kecelakaan kerja dengan cara berikut ini :
1) Secara pribadi memberikan penekanan mengenai tingkat kepentingan dari
keselamatan kerja melalui hubungan mereka yang tidak formal maupun yang
formal dengan para mandor di lapangan.
2) Memberikan penekanan mengenai keselamatan kerja dalam rapat pada tataran
perusahaan.
d. Pedoman untuk Pekerja
Pedoman yang dapat digunakan pekerja untuk mengurangi kecelakaan dan
gangguan kesehatan dalam pelaksanaan pekerjaan bidang konstruksi antara lain
adalah:
1) Permasalahan pribadi dihilangkan pada saat masuk lingkungan kerja.
2) Tidak melakukan pekerjaan bila kondisi kesehatan kurang mendukung. c.
Taat pada aturan yang telah ditetapkan.
3) Memahami program keselamatan dan kesehatan kerja.
4) Memahami lingkup kerja yang diberikan.
3.3. PEMASANGAN BOUWPLANK
1) Pemasangan bouwplank dibuat untuk membantu menentukan as-as/ sumbu-sumbu
dalam perletakan bangunan, baik mengenai kesikuannya atau ukuran-ukuran
lainnya.
2) Semua papan bouwplank menggunakan kayu kelas II/terentang, papan harus lurus
diserut rata, permukaan papan harus WATERPASS dengan PEIL LANTAI ± 0,00.
Setiap jarak 1,50 m; papan bouwplank diperkuat dengan patok kayu berukuran 5/7
cm atau dolken. Pada papan bouwplank ini harus di cat sumbu-sumbu yang
diperlukan, dengan cat yang tidak luntur oleh pengaruh cuaca.
3) Jarak papan bouwplank minimal 2,00; dari garis bangunan terluar, untuk mencegah
kelongsoran terhadap galian-galian tanah pondasi.
4) Setelah pekerjaan bouwplank selesai, pemborong wajib meminta pemeriksaan
dan persetujuan tertulis dari direksi.
5) Dalam hal ini, peil lantai (± 0,00) ditentukan ± 1.10 m dari muka tanah yang ada
sekarang
3.4. PAPAN NAMA PROYEK
Papan Nama Proyek akan dibuat dan dipasang pada awal pelaksanaan [Link]
Nama Proyek ini dibuat dari spanduk dengan ukuran 100 x 120 cm, ditopang kayu (5/7)
kelas 2 dengan tinggi 250 cm dari permukaan tanah dan dicat dasar warna yang sesuai
dan huruf cetak berwarna hitam yang berisi informasi mengenai cakupan kegiatan yang
akan dilaksanakan, antara lain:
− Nama Kegiatan
− Pekerjaan yang harus dilaksanakan
− Biaya pekerjaan/ nilai kontrak
− Sumber dana
− Jangka waktu
− Nama penyedia jasa
Papan nama proyek dipasang pada lokasi yang mudah dilihat oleh masyarakat,serta
tidak mengganggu lalu lintas.
BAB IV
PEKERJAAN TANAH
4.1. GALIAN TANAH BIASA MANUAL
Mencakup seluruh galian yang tidak diklasifikasi sebagai galian batu, galian struktur,
galian sumber bahan (borrow excavation) dan galian perkerasan beraspal.
Untuk galian biasa, galian batu dan galian struktur kelandaian akhir, garis dan formasi
sesudah galian tidak boleh lebih dari 2 cm dari yang ditentukan dalam gambar atau
yang diperintahkan oleh direksi pekerjaan pada setiap titik.
4.1.1. Pengamanan Pekerjaan Galian
a. Penyedia Jasa harus memikul semua tanggung jawab dalam:
1) Menjamin keselamatan pekerja yang melaksanakan pekerjaan galian,
2) Menjamin keselamatan penduduk dan bangunan yang ada di sekitar lokasi
galian.
b. Selama pelaksanaan pekerjaan galian, Penyedia Jasa harus :
1) Mempertahankan lereng sementara galian yang stabil agar tetap mampu
menahan pekerjaan, struktur atau mesin di sekitarnya,
2) Memasang penyokong (shoring) dan pengaku (bracing) yang memadai untuk
menopang permukaan lereng galian yang mungkin tidak stabil.
3) Bilamana diperlukan, Penyedia Jasa harus menyokong atau mendukung struktur
di sekitarnya, yang jika tidak dilaksanakan dapat menjadi tidak stabil atau rusak
oleh pekerjaan galian tersebut.
c. Untuk menjaga stabilitas lereng galian dan keamanan pekerja maka galian tanah
yang lebih dari 5 meter harus dibuat bertangga dengan teras selebar 1 meter atau
sebagaimana yang diperintahkan Direksi Pekerjaan
d. Peralatan berat untuk pemindahan tanah, pemadatan atau keperluan lainnya tidak
diijinkan berada atau beroperasi lebih dekat 1,5 m dari tepi galian parit untuk
gorong-gorong pipa atau galian pondasi untuk struktur, terkecuali bilamana pipa
atau struktur lainnya yang telah terpasang dalam galian dan galian tersebut telah
ditimbun kembali dengan bahan yang disetujui Direksi Pekerjaan dan telah
dipadatkan.
e. Cofferdam, dinding penahan rembesan (cut off wall) atau cara lainnya untuk
mengalihkan air di daerah galian harus cukup kuat untuk menjamin bahwa
keruntuhan mendadak yang dapat membanjiri tempat kerja dengan cepat, tidak akan
terjadi.
f. Dalam setiap saat, bilamana pekerja atau orang lain berada dalam lokasi galian,
dimana kepala mereka, yang meskipun hanya kadang-kadang saja, berada di bawah
permukaan tanah, maka Penyedia Jasa harus menempatkan seorang pengawas
keamanan di lokasi kerja yang tugasnya hanya memantau keamanan dan kemajuan.
Sepanjang waktu penggalian, peralatan galian cadangan (yang belum dipakai) serta
perlengkapan P3K harus tersedia pada tempat kerja galian.
g. Bahan peledak yang diperlukan untuk galian batu harus disimpan, ditangani, dan
digunakan dengan hati-hati dan di bawah pengendalian yang extra ketat sesuai
dengan Peraturan dan Perundang-undangan yang berlaku. Penyedia Jasa harus
bertanggung jawab dalam mencegah pengeluaran atau penggunaan yang tidak tepat
atas setiap bahan peledak dan harus menjamin bahwa penanganan peledakan hanya
dipercayakan kepada orang yang berpengalaman dan bertanggungjawab.
h. Semua galian terbuka harus diberi rambu peringatan dan penghalang (barikade)
yang cukup untuk mencegah pekerja atau orang lain terjatuh ke dalamnya, dan
setiap galian terbuka pada lokasi jalur lalu lintas maupun lokasi bahu Jalan harus
diberi rambu tambahan pada malam hari berupa drum yang dicat putih (atau yang
sejenis) beserta lampu merah atau kuning guna menjamin keselamatan para
pengguna Jalan, sesuai dengan yang diperintahkan Direksi Pekerjaan.
i. Ketentuan yang disyaratkan dalam Seksi 1.8, Pemeliharaan Lalu Lintas harus
diterap-kan pada seluruh galian di Daerah Milik Jalan.
4.1.2. Perbaikan Terhadap Pekerjaan yang Tidak Memenuhi Ketentuan
Pekerjaan galian yang tidak memenuhi toleransi, sepenuhnya menjadi tanggung jawab
Penyedia Jasa dan harus diperbaiki oleh Penyedia Jasa sesuai dengan ketentuan yang
dipersyaratkan dalam Spesifikasi.
4.1.3. Utilitas Bawah Tanah
a. Penyedia Jasa harus bertanggungjawab untuk memperoleh informasi tentang
keberadaan dan lokasi utilitas bawah tanah dan untuk memperoleh dan membayar
setiap ijin atau wewenang lainnya yang diperlukan dalam melaksanakan galian
yang diperlukan dalam Kontrak.
b. Penyedia Jasa harus bertanggungjawab untuk menjaga dan melindungi setiap
utilitas bawah tanah yang masih berfungsi seperti pipa, kabel, atau saluran bawah
tanah lainnya atau struktur yang mungkin dijumpai dan untuk memperbaiki setiap
kerusakan yang timbul akibat operasi kegiatannya.
4.1.4. Retribusi untuk Bahan Galian
Bilamana bahan timbunan pilihan atau lapis pondasi agregat, agregat untuk campuran
aspal atau beton atau bahan lainnya diperoleh dari galian sumber bahan di luar daerah
milik Jalan, Penyedia Jasa harus melakukan pengaturan yang diperlukan dan membayar
konsesi dan retribusi kepada pemilik tanah maupun pihak yang berwenang untuk ijin
menggali dan mengangkut bahanbahan tersebut.
a. Penggunaan dan Pembuangan Bahan Galian
1) Semua bahan galian tanah dan galian batu yang dapat dipakai dalam batas- batas
dan lingkup proyek, bilamana memungkinkan harus digunakan secara efektif
untuk formasi timbunan atau penimbunan kembali.
2) Bahan galian yang mengandung tanah yang sangat organik, tanah gambut
(peat), sejumlah besar akar atau bahan tetumbuhan lainnya dan tanah kompresif
yang menurut pendapat Direksi Pekerjaan akan menyulitkan pemadatan bahan
di atasnya atau yang mengakibatkan setiap kegagalan atau penurunan
(settlement) yang tidak dikehendaki, harus diklasifikasikan sebagai bahan yang
tidak memenuhi syarat untuk digunakan sebagai timbunan dalam pekerjaan
permanen.
3) Setiap bahan galian yang melebihi kebutuhan timbunan, atau tiap bahan galian
yang tidak disetujui oleh Direksi Pekerjaan untuk digunakan sebagai bahan
timbunan, harus dibuang dan diratakan oleh Penyedia Jasa di luar Daerah Milik
Jalan (DMJ) seperti yang diperintahkan Direksi Pekerjaan.
4) Penyedia Jasa harus bertanggungjawab terhadap seluruh pengaturan dan biaya
yang diperlukan untuk pembuangan bahan galian yang tidak terpakai atau yang
tidak memenuhi syarat untuk bahan timbunan, termasuk pembuangan bahan
galian (yang diuraikan dalam Pasal yang berkaitan dengan perbaikan terhadap
pekerjaan galian yang tidak memenuhi ketentuan), juga termasuk pengangkutan
hasil galian ke tempat pembuangan akhir dengan jarak tidak melebihi yang
disyaratkan (dalam Pasal yang berkaitan dengan pembuangan dan penggantian
dengan material yang cocok bagi material di permukaan dasar hasil galian pada
perkerasan aspal) dan perolehan ijin dari pemilik atau penyewa tanah dimana
pembuangan akhir tersebut akan dilakukan.
4.1.5. Pengembalian Bentuk dan Pembuangan Pekerjaan Sementara
a. Kecuali diperintahkan lain oleh Direksi Pekerjaan, semua struktur sementara seperti
cofferdam atau penyokong (shoring) dan pengaku (bracing) harus dibongkar oleh
Penyedia Jasa setelah struktur permanen atau pekerjaan lainnya selesai.
Pembongkaran harus dilakukan sedemikian sehingga tidak mengganggu atau
merusak struktur atau formasi yang telah selesai.
b. Bahan bekas yang diperoleh dari pekerjaan sementara tetap menjadi milik Penyedia
Jasa atau bila memenuhi syarat dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan, dapat
dipergunakan untuk pekerjaan permanen dan dibayar menurut Mata Pembayaran
yang relevan sesuai dengan yang terdapat dalam Daftar Penawaran.
c. Setiap bahan galian yang sementara waktu diijinkan untuk ditempatkan dalam
saluran air harus dibuang seluruhnya setelah pekerjaan berakhir sedemikian rupa
sehingga tidak mengganggu saluran air.
d. Seluruh tempat bekas galian bahan atau sumber bahan yang digunakan oleh
Penyedia Jasa harus ditinggalkan dalam suatu kondisi yang rata dan rapi dengan
tepi dan lereng yang stabil dan saluran drainase yang memadai.
4.2. GALIAN BOR STROUS
Galian bor Strous merupakan kegiatan pengeboran yang dilakukan dengan tenaga
manual atau dengan tenaga manusia. Pengeboran ini dilakukan dengan menggunakan
alat bor yang memiliki ukuran berbeda beda, sesuai dengan diameter yang di inginkan.
Adapun berikut ini merupakan tahapan pelaksanaan untuk pekerjaan pengeboran
strous.
4.2.1. Persiapan
a. Tahap paling awal merupakan proses persiapan di mana lokasi akan dibersihkan
terlebih dahulu. Kemudian masuk ke dalam pembuatan bedeng pekerja dan sanitasi
MCK apabila lokasi memungkinkan. Selain itu, setting out gambar dengan proses
pemasangan bow plank dan dilanjutkan dengan adanya pemberian titik untuk
membuat pondasi.
b. Adapun beberapa peralatan atau material yang harus disiapkan di antaranya adalah
air kerja, besi beton, koral, pasir halus, semen hingga molen site mix untuk
memberikan kemudahan dalam proses pengadukan. Jika sudah, maka bisa dilanjut
ke tahap berikutnya yakni pengeboran.
4.2.2. Tahap Pengeboran
Pada tahap inilah, seorang ahli bor pile pondasi manual akan langsung
didatangkan. Dilanjutkan dengan pengaturan alat dan persiapan untuk melakukan
pengeboran. Untuk prosesnya dapat dimulai dengan alat bore pile manual yang
menggunakan mata bor khusus.
Dua orang akan memegang bagian stang bor dan mata bor dimana akan
diarahkan di titik pondasi. Alat tersebut akan ditekan dan diputar hingga mata bor terisi
tanah.
4.3. URUGAN PASIR
4.3.1 Cakupan Pekerjaan
− Urugan pasir bawah pondasi setempat
− Urugan pasir bawah pondasi menerus
− Pengurugan pasir bawah pondasi mengikuti gambar dan RKS
4.3.2 Persyaratan Bahan
- Pasir yang digunakan harus terdiri dari butir-butir yang bersih, tajam dan keras,
bebas dari lumpur, tanah lempung dan lain sebagainya, serta konsisten terhadap
NI-3 (PUBI tahun 1982) pasal 14 ayat
- Untuk air siraman digunakan air tawar yang bersih dan tidak mengandung minyak,
asam alkali dan bahan-bahan organis lainnya, serta memenuhi syarat-syarat yang
ditentukan dalam NI-3 pasal 10. Apabila dipandang perlu, Direksi dapat minta
kepada Kontraktor supaya air yang dipakai untuk keperluan ini diperiksa di
laboratorium pemeriksaan bahan yang resmi dan sah, atas biaya Kontraktor.
- Pengendalian seluruh pekerjaan ini harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan
di atas dan harus dengan persetujuan pengawas.
4.3.3 Syarat Pelaksanaan
- Lapisan pasir urug dilakukan lapis demi lapis maksimum setiap lapis 5 cm, hingga
mencapai tebal yang disyaratkan.
- Pemadatan dilakukan hingga mencapai tidak kurang dari 95 % dari kepadatan
optimum hasil Laboratorium.
- Tebal pasir urug minimum 5 cm padat atau sesuai yang ditunjukkan dalam gambar
- Lapisan pekerjaan di atasnya, dapat dikerjakan bilamana sudah mendapat
persetujuan pihak pengawas.
4.4. TIMBUNAN DAN PEMADATAN SIRTU
4.4.1. Cakupan Pekerjaan
Pengadaan, pengangkutan, penghamparan dan pemadatan tanah atau bahan berbutir
yang disetujui untuk :
a. Pembuatan timbunan,
b. Penimbunan kembali galian pipa atau struktur,
c. Timbunan umum,
yang diperlukan untuk membentuk dimensi timbunan sesuai dengan garis, kelandaian,
dan elevasi penampang melintang yang disyaratkan atau disetujui. Timbunan yang
dicakup oleh ketentuan dalam Seksi ini harus dibagi menjadi tiga jenis, yaitu timbunan
biasa, timbunan pilihan dan timbunan pilihan di atas tanah rawa.
Timbunan pilihan akan digunakan untuk :
a. Lapis penopang (capping layer) guna meningkatkan daya dukung tanah dasar,
b. Material timbunan di daerah saluran air dan lokasi serupa dimana bahan yang plastis
sulit dipadatkan dengan baik.
c. Stabilisasi lereng atau
d. Pekerjaan pelebaran timbunan jika diperlukan lereng yang lebih curam karena
keterbatasan ruangan, dan
e. Pekerjaan timbunan lainnya dimana kekuatan timbunan adalah factor yang kritis.
Timbunan pilihan di atas tanah rawa akan digunakan untuk : Melintasi daerah yang
rendah dan selalu tergenang oleh air, yang menurut pendapat Direksi Pekerjaan tidak
dapat dialirkan atau dikeringkan dengan cara yang diatur dalam Spesifikasi ini.
Pekerjaan yang tidak termasuk bahan timbunan yaitu:
1) Bahan yang dipasang sebagai landasan untuk pipa atau saluran beton,
2) Bahan drainase porous yang dipakai untuk drainase bawah permukaan atau untuk
mencegah hanyutnya partikel halus tanah akibat proses penyaringan.
Toleransi Dimensi
1) Elevasi dan kelandaian akhir setelah pemadatan harus tidak lebih tinggi atau lebih
rendah 2 cm dari yang ditentukan atau disetujui.
2) Seluruh permukaan akhir timbunan yang terekspos harus cukup rata dan harus
cukup kelandaiannya, untuk menjamin aliran air permukaan yang bebas.
3) Permukaan akhir lereng timbunan tidak boleh bervariasi lebih dari 10 cm dari garis
profil yang ditentukan.
4) Timbunan tidak boleh dihampar dalam lapisan dengan tebal padat lebih dari 20 cm
atau dalam lapisan dengan tebal padat kurang dari 10 cm.
4.4.2. Bahan
Timbunan Biasa
a. Timbunan yang diklasifikasikan sebagai timbunan biasa harus terdiri dari bahan
galian tanah atau bahan galian batu yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan sebagai
bahan yang memenuhi syarat untuk digunakan dalam pekerjaan permanen seperti
yang dipersyaratkan dalam Spesifikasi.
b. Bahan yang dipilih sebaiknya tidak termasuk tanah yang berplastisitas tinggi, yang
diklasifikasikan sebagai A-7-6 menurut AASHTO M145 atau sebagai CH menurut
"Unified atau Casagrande Soil Classification System". Bila penggunaan tanah yang
berplastisitas tinggi tidak dapat dihindarkan, bahan tersebut harus digunakan hanya
pada bagian dasar dari timbunan atau pada penimbunan kembali yang tidak
memerlukan daya dukung atau kekuatan geser yang tinggi. Tanah plastis seperti itu
sama sekali tidak boleh digunakan pada 30 cm lapisan langsung di bawah bagian
dasar perkerasan atau bahu Jalan atau tanah dasar bahu Jalan.
c. Tanah sangat expansive yang memiliki nilai aktif lebih besar dari 1,25, atau derajat
pengembangan yang diklasifikasikan oleh AASHTO T258 sebagai "very high" atau
"extra high", tidak boleh digunakan sebagai bahan timbunan. Nilai aktif adalah
perbandingan antara Indeks Plastisitas / PI - (SNI 03-1966-1989) dan persentase
kadar lempung (SNI 03-3422-1994).
Timbunan Pilihan
a. Timbunan hanya boleh diklasifikasikan sebagai "Timbunan Pilihan" bila digunakan
pada lokasi atau untuk maksud dimana timbunan pilihan telah ditentukan atau
disetujui secara tertulis oleh Direksi Pekerjaan. Seluruh timbunan lain yang
digunakan harus dipandang sebagai timbunan biasa (atau drainase porous bila
ditentukan atau disetujui sesuai dengan Seksi 2.4 dari Spesifikasi).
b. Timbunan yang diklasifikasikan sebagai timbunan pilihan harus terdiri dari bahan
tanah atau batu yang memenuhi semua ketentuan di atas untuk timbunan biasa dan
sebagai tambahan harus memiliki sifat-sifat tertentu yang tergantung dari maksud
penggunaannya, seperti diperintahkan atau disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Dalam
segala hal, seluruh timbunan pilihan harus, bila diuji sesuai dengan SNI 03-1744-
1989, memiliki CBR paling sedikit 10% setelah 4 hari perendaman bila dipadatkan
sampai 100.% kepadatan kering maksimum sesuai dengan SNI 03-1742-1989.
c. Bahan timbunan pilihan yang akan digunakan bilamana pemadatan dalam keadaan
jenuh atau banjir yang tidak dapat dihindari, haruslah pasir atau kerikil atau bahan
berbutir bersih lainnya dengan Indeks Plastisitas maksimum 6 %.
d. Bahan timbunan pilihan yang digunakan pada lereng atau pekerjaan stabilisasi
timbunan atau pada situasi lainnya yang memerlukan kuat geser yang cukup,
bilamana dilaksanakan dengan pemadatan kering normal, maka timbunan pilihan
dapat berupa timbunan batu atau kerikil lempungan bergradasi baik atau lempung
pasiran atau lempung berplastisitas rendah. Jenis bahan yang dipilih, dan disetujui
oleh Direksi Pekerjaan akan tergantung pada kecuraman dari lereng yang akan
dibangun atau ditimbun, atau pada tekanan yang akan dipikul.
4.4.3. Penghamparan dan Pemadatan Timbunan
Penyiapan Tempat Kerja
a. Semua bahan yang tidak diperlukan harus dibuang sebagaimana diperintahkan
oleh Direksi Pekerjaan sesuai dengan ketentuan dari Spesifikasi.
b. Bilamana tinggi timbunan satu meter atau kurang, dasar pondasi timbunan harus
dipadatkan (termasuk penggemburan dan pengeringan atau pembasahan bila
diperlukan), sampai 15 cm bagian permukaan atas dasar pondasi memenuhi
kepadatan yang disyaratkan untuk timbunan yang ditempatkan diatasnya.
c. Bilamana timbunan akan ditempatkan pada lereng bukit atau di atas timbunan lama
atau yang baru dikerjakan, maka lereng lama harus dipotong bertangga dengan lebar
yang cukup sehingga memungkinkan peralatan pemadat dapat beroperasi
menyiapkan timbunan yang dihampar horizontal lapis demi lapis.
Penghamparan Timbunan
a. Timbunan harus ditempatkan ke permukaan yang telah disiapkan dan disebar dalam
lapisan yang merata yang bila dipadatkan akan memenuhi toleransi tebal lapisan
yang disyaratkan dalam Spesifikasi. Bilamana timbunan dihampar lebih dari satu
lapis, lapisan-lapisan tersebut sedapat mungkin dibagi rata sehingga sama tebalnya.
b. Tanah timbunan umumnya diangkut langsung dari lokasi sumber bahan ke
permukaan yang telah disiapkan pada saat cuaca cerah dan disebarkan.
Penumpukan tanah timbunan untuk persediaan biasanya tidak diperkenankan,
terutama selama musim hujan.
c. Timbunan di atas atau pada selimut pasir atau bahan drainase porous, harus
diperhatikan sedemikian rupa agar kedua bahan tersebut tidak tercampur. Dalam
pembentukan drainase sumuran vertikal diperlukan suatu pemisah yang menyolok
di antara kedua bahan tersebut dengan memakai acuan sementara dari pelat baja
tipis yang sedikit demi sedikit ditarik saat pengisian timbunan dan drainase porous
dilaksanakan.
d. Penimbunan kembali di atas pipa dan di belakang struktur harus dilaksanakan
dengan sistematis dan secepat mungkin segera setelah pemasangan pipa atau
struktur. Akan tetapi, sebelum penimbunan kembali, diperlukan waktu perawatan
tidak kurang dari 8 jam setelah pemberian adukan pada sambungan pipa atau
pengecoran struktur beton gravity, pemasangan pasangan batu gravity atau
pasangan batu dengan mortar gravity. Sebelum penimbunan kembali di sekitar
struktur penahan tanah dari beton, pasangan batu atau pasangan batu dengan mortar,
juga diperlukan waktu perawatan tidak kurang dari 14 hari.
e. Bilamana timbunan badan Jalan akan diperlebar, lereng timbunan lama harus
disiapkan dengan membuang seluruh tetumbuhan yang terdapat pada permukaan
lereng dan dibuat bertangga sehingga timbunan baru akan terkunci pada timbunan
lama sedemikian sampai diterima oleh Direksi Pekerjaan. Selanjutnya timbunan
yang diperlebar harus dihampar horizontal lapis demi lapis sampai dengan elevasi
tanah dasar, yang kemudian harus ditutup secepat mungkin dengan lapis pondasi
bawah dan atas sampai elevasi permukaan Jalan lama sehingga bagian yang
diperlebar dapat dimanfaatkan oleh lalu lintas secepat mungkin, dengan demikian
pembangunan dapat dilanjutkan ke sisi Jalan lainnya bilamana diperlukan.
Pemadatan Timbunan
a. Setiap lapis timbunan harus dipadatkan dengan peralatan pemadat yang memadai
dan disetujui Direksi Pekerjaan sampai mencapai kepadatan yang disyaratkan
dalam Spesifikasi.
b. Pemadatan timbunan tanah harus dilaksanakan hanya bilamana kadar air bahan
berada dalam rentang 3 % di bawah kadar air optimum sampai 1% di atas kadar air
optimum. Kadar air optimum harus didefinisikan sebagai kadar air pada kepadatan
kering maksimum yang diperoleh bilamana tanah dipadatkan sesuai dengan SNI
03-1742-1989.
c. Seluruh timbunan batu harus ditutup dengan satu lapisan atau lebih setebal 20 cm
dari bahan bergradasi menerus dan tidak mengandung batu yang lebih besar dari 5
cm serta mampu mengisi rongga-rongga batu pada bagian atas timbunan batu
tersebut. Lapis penutup ini harus dilaksanakan sampai mencapai kepadatan
timbunan tanah yang disyaratkan dalam Spsifikasi.
d. Setiap lapisan timbunan yang dihampar harus dipadatkan seperti yang disya- ratkan,
diuji kepadatannya dan harus diterima oleh Direksi Pekerjaan sebelum lapisan
berikutnya dihampar.
e. Timbunan harus dipadatkan mulai dari tepi luar dan bergerak menuju ke arah sumbu
Jalan sedemikian rupa sehingga setiap ruas akan menerima jumlah usaha pemadatan
yang sama. Bilamana memungkinkan, lalu lintas alat-alat konstruksi dapat dilewatkan
di atas pekerjaan timbunan dan lajur yang dilewati harus terus menerus divariasi agar
dapat menyebarkan pengaruh usaha pemadatan dari lalu lintas tersebut
f. Bilamana bahan timbunan dihampar pada kedua sisi pipa atau drainase beton atau
struktur, maka pelaksanaan harus dilakukan sedemikian rupa agar timbunan pada kedua
sisi selalu mempunyai elevasi yang hampir sama.
g. Bilamana bahan timbunan dapat ditempatkan hanya pada satu sisi abutment, tembok
sayap, pilar, tembok penahan atau tembok kepala gorong-gorong, maka tempat-tempat
yang bersebelahan dengan struktur tidak boleh dipadatkan secara berlebihan karena
dapat menyebabkan bergesernya struktur atau tekanan yang berlebihan pada struktur.
h. Terkecuali disetujui oleh Direksi Pekerjaan, timbunan yang bersebelahan dengan ujung
Jembatan tidak boleh ditempatkan lebih tinggi dari dasar dinding belakang abutment
sampai struktur bangunan atas telah terpasang.
i. Timbunan pada lokasi yang tidak dapat dicapai dengan peralatan pemadat mesin gilas,
harus dihampar dalam lapisan horizontal dengan tebal gembur tidak lebih dari 15 cm
dan dipadatkan dengan penumbuk loncat mekanis atau timbris (tamper) manual dengan
berat minimum 10 kg. Pemadatan di bawah maupun di tepi pipa harus mendapat
perhatian khusus untuk mencegah timbulnya rongga- rongga dan untuk menjamin
bahwa pipa terdukung sepenuhnya.
j. Timbunan Pilihan di atas Tanah Rawa mulai dipadatkan pada batas permukaan air
dimana timbunan terendam, dengan peralatan yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
BAB V
PEKERJAAN STRUKTUR
5.1. PEKERJAAN PASANGAN BATU
5.1.1. Pasangan Batu Kosong Kering
• Ruang Lingkup Pekerjaan
Pekerjaaan yang dilaksanakan untuk pasangan batu kosong berupa pemasangan
batu kosong kering pada tempat yang tercantum dalam gambar atau ditunjuk oleh
Direksi sesuai dengan spesifikasi ini.
• Umum
a. Pasangan kosong harus terdiri dari batu belah dan batu pecah yang ditempatkan
pada lapisan dasar sesaui dengan ketentuan dan persyaratan yang secara detail
tercantum dalam gambar atau menurut petunjuk Direksi.
b. Semua batu belah, batu pecah dan lapisan dasar yang dipakai untuk pasangan
batu kosong yang ditentukan dalam persyaratan ini harus disediakan oleh
pemborong sesuai dengan ketentuan tentang batu, kerikil dan lapisan dasar.
• Pemasangan
a. Pemasangan batu kosong harus dibuat pada pondasi yang kuat dan pada garis
dan arah yang tercantum dalam gambar atau sesuai dengan petunjuk Direksi.
Lubang-lubang pada pondasi harus diisi oleh bahan yang baik dan dipadatkan
pada tiap lapis, setebal 15 cm. Bila pondasi telah disetujui oleh Direksi maka
lapisan dasar setebal 15 cm atau 30 cm sebagaimana tercantum dalam gambar
harus diletakkan pada pondasi lapisan dasar harus diletakkan dengan tebal yang
sama dan cukup rata meskipun demikian menjadi pondasi yang kuat untuk
pasangan batu belah dan batu pecah.
b. Batu belah dan batu pecah yang dipakai dalam pasangan batu kosong harus
diletakkan pada lapisan dasar dengan cara yang demikian sehingga pasangan
batu kosong yang selesai dikerjakan menjadi stabil dan tidak akan longsor.
Rongga besar yang terbuka diantara batu belah demikian sehingga tidak
menonjol diatas garis yang harus dihindari. Harus diusahakan agar supaya
semua batu belah dapat dijamin dipasang dengan baik pada bidang yang datar.
Batu belah harus diletakkan demikian sehingga tiadak menonjol diatas garis
yang dicantumkan didalam gambar atau menurut petunjuk Direksi, semua celah
dalam pasangan batu kosong harus diisi dengan batu pecah dengan baik.
Banyaknya batu pecah yang dipakai tidak boleh melebihi volume yang
dibutuhkan untuk mengisi rongga diantara batu belah.
c. Lapisan penutup harus dibuat pada bagian atas pasangan batu kosong dengan
kemiringan yang layak sehingga dapat memperkuat lapisan atas pasangan batu
kosong. Lapisan penutup harus terdiri dari batu belah pilihan yang lebar
diletakkan pada jalur dan arah yang sesuai dengan gambar atau menurut
petunjuk Direksi.
• Ukuran dan Pembayaran
a. Ukuran dan pembayaran untuk pasangan batu kosong akan dibuat secara
keseluruhan pasangan batu kosong, meliputi lapisan dasar, pemasangannya dan
berdasarkan pada tebal batu kosong dan lapisan dasar sesuai dengan gambar
atau menurut petunjuk Direksi berikut pekerjaan galian tanah.
b. Pembayaran untuk pekerjaan pasangan batu kosong akan dibuat atas dasar harga
satuan lelang per m3 dalam daftar volume pekerjaan untuk jenis pekerjaan
pasangan batu kosong.
c. Lelang harus sepenuhnya dibayar untuk pekerjaan yang selesai dikerjakan yang
sesuai dengan persyaratan ini dan dalam bagian lain dalam spesifikasi teknik
dan pada gambar untuk pasangan batu kosong, dan harus termasuk biaya
pengadaan dan penempatan lapisan dasar.
Tabel 5. 1 Jenis Pembayaran Pekerjaan Pasangan Batu Kosong Kering
No. Uraian Pekerjaan Satuan Pengukuran
Pasangan Batu
1 Meter Persegi (m2)
Kosong Kering
Sumber : Hasil Analisa, 2024
5.1.2. Pasangan Batu
• Ruang Lingkup Pekerjaan
Semua pasangan batu atau batu kosong yang dibutuhkan untuk dibuat dalam
persyaratan teknik ini dan untuk keperluan yang berhubungan dengannya, dan yang
mungkin ditentukan oleh Direksi, terdiri dari bahan yang dipersyaratkan disini dan
harus dicampur sesuai dengan kegunaannya, dibuat dan dipasang sesuai dengan
ketentuan dan persyaratan yang dinyatakan disini. Ketentuan dan persyaratan disini
lebih lanjut harus diterapkan untuk semua pekerjaan batu, kecuali jika ada yang
secara khusus untuk jenis pekerjaan tertentu diubah oleh Direksi.
• Bahan
Untuk pasangan batu atau batu kosong yang dibutuhkan dalam persyaratan teknik
ini meliputi batu, semen, pasir dan air, harus sesuai dengan ketentuan dan
sepenuhnya memenuhi persyaratan.
• Susunan Adukan
Untuk pasangan batu atau batu kosong terdiri dari 1 pc : 3 pasir atau 1 pc : 4 pasir
dalam volume dan air secukupnya sampai didapatkan kepekatan yang sesuai dengan
keperluan yang diinginkan.
• Adokan Adukan
Cara dan alat yang dipakai untuk mengaduk adonan harus demikian sehingga dapat
menentukan dan mengatur banyaknya masing-masing bahan secara terpisah dengan
tepat yang dimasukkan kedalam adukan dan mendapatkan persetujuan dari Direksi.
Jika dipakai mesin adukan, maka bentuk dan waktu lamanya pengadukan setelah
semua bahan dimasukkan dalam mesin pengaduk harus tidak kurang dari 2 menit,
kecuali jika banyak mengandung air. Adukan harus dibuat hanya dalam volume
yang cukup dipakai dalam pekerjaan yang segera dilaksanakan saja, semua adonan
yang setelah ditambah air dalam adukan selama 30 menit tidak dipakai harus
dibuang.
Mengencerkan kembali adukan tidak diperkenankan. Bak dan ember harus dicuci
bersih sama sekali pada setiap hari setelah selesai bekerja.
• Pemasangan
a. Batu yang dipakai dalam pasangan batu atau batu kosong harus bersih sama
sekali sebelum dipasang dan setelah disetujui.
b. Batu tidak boleh dipasang pada waktu hujan lebat atau yang cukup dapat
mengikis adukan dari pasangan batu. Adukan yang telah dipasang yang
menjadi encer karena kehujanan harus dibongkar dan diganti sebelum
melanjutkan pekerjaan pasangan batu atau batu kosong sebelum hal ini
dipersiapkan dengan seksama.
c. Batu yang dipakai untuk pasangan batu atau batu kosong dengan perekat adukan
harus dibasahi dengan air antara 3 sampai 4 jam sebelum dipakai, dengan cara
yang dapat menjamin bahwa tiap batu telah menjadi basah sama sekali dengan
merata.
• Siaran
a. Susunan adukan untuk siaran harus terdiri dari campuran 1 pc : 3 pasir dalam
volume dan airnya cukup untuk menghasil kekentalan untuk keperluan yang
diinginkan.
b. Sebelum pekerjaan siaran dimulai, celah-celah diantara batu harus dikorek
sebelum adukan dipasang (atau dicangkul untuk pasangan batu yang sudah
lama) dan permukaannya harus dibersihkan dengan sikat kawat dan dibasahi.
c. Pekerjaan siaran harus menurut petunjuk Direksi dan merupakan salah satu dari
berikut ini :
- Siaran terbenam, celah-celah diisi sampai rata sedalam 1 cm muka batu
- Siaran rata, celah-celah diisi sampai rata muka batu
- Siaran timbul, celah-celah diisi sampai timbul setebal 1 cm dan dengan lebar
tidak kurang dari 2 cm.
• Perawatan
a. Semua pasangan batu atau batu kosong termasuk siaran harus dirawat dengan
memakai air atau cara lain yang dapat diterima dan disetujui oleh Direksi.
b. Bila dirawat dengan air maka pasangan batu harus dijaga supaya tetap basah
sekurang-kurangnya 14 hari, dengan cara tertentu kecuali bila tidak, maka
caranya dengan menutupi dengan bahan yang jenuh dengan air, atau dengan
cara memakai pipa yang berlubang-lubang, semprotan air mekanis, selang karet
yang berlubang-lubang merendam dalam bak air atau dengan cara lain yang
dapat disetujui yang dapat menjaga seluruh permukaan menjadi selalu terawat
basah. Air yang dipergunakan untuk perawatan harus memenuhi persyaratan
untuk air yang dipakai untuk adukan beton.
• Perbaikan Pasangan Batu
Setelah pekerjaan pasangan batu selesai dikerjakan, maka jika pasangan batu keluar
dari jalur atau tidak mendatar, atau tidak sesuai dengan garis dan arah yang
ditunjukkan dalam gambar, maka harus dibongkar dan diganti atas biaya
pemborong kecuali bila petugas teknik memberi jaminan secara tertulis untuk
menambal atau memperbaiki bagian yang rusak.
• Ukuran dan Pembayaran
a. Ukuran untuk pembayaran pasangan batu harus dibuat hanya sampai batas yang
terlihat pada gambar atau ditentukan oleh Direksi secara tertulis. Volume
rongga, pipa dan lengkukan harus dikurangkan terhadap ukuran pasangan.
b. Harga satuan lelang harus meliputi harga air, pasir, semen. Kapur, angkutan,
persiapan untuk pemasangan, perawatan, perlindungan, penyelesaian dan
perbaikan permukaan pasangan dan semua pekerjaan, prosedur dan kebutuhan
lainnya yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan pasangan batu atau batu
kosong sesuai dengan persyaratan teknik ini.
Tabel 5. 2 Jenis Pembayaran Pekerjaan Pasangan Batu
No. Uraian Pekerjaan Satuan Pengukuran
1 Pasangan Batu Meter Persegi (m2)
Sumber : Hasil Analisa, 2024
5.1.3. Pasir Dan Kerikil Penyaring
• Bahan Penyaring
Bahan penyaring harus terdiri dari pasir, kerikil, atau batu pecah dari sumber bahan
yang disetujui. Bahan harus memenuhi tabel gradasi yang tepat dibawah ini dan
ukuran dari gradasi bagian-bagiannya harus diatur dengan cermat demikian
sehingga tanahnya tidak terbawa melewati saringan pasir atau pasir saringan tidak
terbawa melewati saringan kerikil. Gradasi untuk bahan penyaring.
Tabel 5. 3 Gradasi untuk Bahan Penyaring
Melewati Saringan (dalam %)
No Ukuran Saringan
Saringan Pasir Saringan Kerikil
1 20 mm - 85 - 100
2 10 mm - 50 - 85
3 2.36 mm 85 - 100 15 - 50
4 0.60 mm 50 - 85 0 - 15
5 0.10 mm 15 - 50 -
6 0.075 mm 0 - 15 -
Sumber : Hasil Analisa, 2024
Bahan saringan harus berupa butiran-butir dan bebas dari kotoran, tidak membusuk
dan bebas dari bahan yang kohesif.
• Ukuran dan Pembayaran
Ukuran dan pembayaran untuk pasir dan kerikil penyaring yang ditentukan dibawah
persyaratan teknik ini akan dibuat berdasarkan pada harga satuan lelang dalam
daftar volume pekerjaan untuk jenis pekerjaan yang bersangkutan meliputi harga
pasir dan kerikil, angkutan, persiapan untuk memasang dan semua pekerjaan dan
prosedur lainnya yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan
persyaratan teknik ini.
Tabel 5. 4 Jenis Pembayaran Pasir dan Kerikil Penyaring
No. Uraian Pekerjaan Satuan Pengukuran
Pasir dan Kerikil
1 Kilogram (Kg)
Penyraring
Sumber : Hasil Analisa, 2023
5.2. PEKERJAAN BETON
5.2.1. Lingkup Pekerjaan
a. Semua pekerjaan konstruksi beton harus dibuat menurut gambar rencana atau sesuai
petunjuk Direksi.
b. Selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sebelum pelaksanaan Kontraktor harus
mengajukan rencana kerja kepada direksi yang meliputi peralatan yang digunakan
untuk proses, penanganan pengangkutan pencampuran dari spesi beton, metode
yang digunakan, jumlah tenaga kerja serta gambar pelaksanaan, guna mendapatkan
persetujuan dari direksi.
c. Bila Kontraktor menggunakan spesi dari hasil “ready mixed concrete” yang sudah
jadi, maka Kontraktor selambat-lambatnya dalam waktu 30 (tiga puluh) hari
sebelum pelaksanaan dimulai memberitahukan secara tertulis kepada Direksi
tentang nama pabrik/supplier, lokasi, kapasitas, reputasi dari produksinya dan lain-
lain sesuai yang dibutuhkan oleh Direksi. Tanpa persetujuan tertulis, Kontraktor
tidak diperbolehkan mendapatkan/ menggunakan spesi dari “ready mixed
concrete”.
5.2.2. Bahan-Bahan
1. Semen
a. Semen yang digunakan dalam pekerjaan beton harus semen buatan dalam
negeri dengan kualitas sama dengan Portland Cement (PC) atau sesuai Standar
Nasional Indonesia (SNI) dan atau SII 0013.
b. Kontraktor harus memberitahukan kepada Direksi kapan dan di mana semen
itu dihasilkan, dan Direksi senantiasa berhak memeriksa bahan tersebut.
Kontraktor harus bersedia untuk memberi bantuan kepada Direksi dalam
proses pemeriksanaan ini.
c. Semen harus disimpan dalam ruangan yang bebas dari gangguan cuaca/hujan
dengan menyusun setinggi minimum 30 cm di atas tanah dengan maximum
tumpukan/susunan 13 sak.
d. Setelah dari 90 hari sejak tanggal pengiriman ke lapangan, semen harus
dibuang/tidak boleh digunakan.
2. Bahan Tambahan (Admixture)
a. Bila akan menggunakan bahan tambahan, Kontraktor harus mengajukan surat
ijin tertulis kepada Direksi.
b. Bahan tambahan yang digunakan untuk beton harus sesuai dengan standard
ASTM C.260 atau setara sesuai dengan petunjuk Direksi. Kontraktor harus
mengadakan test terhadap bahan tambahan atas permintaan Direksi dengan
biaya sendiri.
c. Semua biaya yang diperlukan untuk bahan tambahan harus sudah menjadi satu
kesatuan dengan harga beton.
3. Pasir
a. Pasir buatan adalah pasir yang dihasilkan oleh mesin pemecah batu. Pasir alam
adalah pasir yang didapat dari sungai atau sumber alam lainnya yang dapat
disetujui oleh Direksi mengenai sumber alam/quarry, guna mendapatkan
persetujuan dari Direksi. Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi
contoh pasir yang akan digunakan untuk diadakan test kualitas. Kontraktor
harus memperoleh semua ijin yang diperlukan dan membayar kewajiban atas
pengembalian bahan tersebut.
b. Pasir yang digunakan harus bersih, bebas dari gumpalan tanah liat, karang,
bahan organik dan alkali dan bahan-bahan lain yang dapat merusak mutu
beton, jumlah prosentase segala macam bahan yang dapat merusak tidak boleh
lebih dari 2%.
c. Semua pasir yang dipakai adalah pasir dengan ukuran butir maximum 5 mm
dan modulus kehalusan antara 2,3 – 2,8 jika diselidiki dengan saringan
standard untuk beton (sesuai PBI – 1971) atau dengan ketentuan sebagai
berikut :
Tabel 5. 5 Persyaratan Pasir untuk Konstruksi Beton
Prosentase
No Saringan
Tertinggal
(U.S. Standard)
Saringan
4 0 – 15
8 6 – 15
16 10 – 25
30 10 – 30
50 15 – 35
100 12 – 20
Pan 3–7
Sumber : SNI 7394-2008 Tentang Pekerjaan Beton
4. Agregat Kasar
a. Agregat kasar harus bersih dan bebas dari bagian-bagian yang halus seperti
lumpur, debu, dan partikel lain yang lembut, alkali dan bahan organik atau dari
substansi yang dapat merusak mutu beton dalam jumlah yang banyak.
b. Agregat kasar harus bergradasi baik dengan ukuran butiran antara 5–40 mm
atau sesuai dengan petunjuk Direksi. Agregat kasar mempunyai modulus
kehalusan butir antara 6–7,5 mm, atau bila diselidiki dengan saringan satndard
harus sesuai dengan standard Indonesia untuk beton PBI – 1971 (NI – 2).
c. Batu yang digunakan adalah batu pecah yang berasal dari gunung batu atau
dari batu besar yang bermutu kwarsa dan tras mempunyai berat jenis minimal
2,4 dengan kekuatan tekan tidak boleh kurang dari 400 Kg/cm2. Batu pecah
yang digunakan setelah ditest abrasi harus lebih kecil 40% dari berat batu yang
terabrasi.
d. Agregat harus didapat dari sumber yang disetujui oleh proyek dan kontraktor
harus memperoleh ijin dan membayar kewajiban karena pengambilan bahan
tersebut.
e. Agregat harus ditimbun dengan cara sedemikian sehingga terhindar dari
tercampurnya dengan bahan lain dan pemisahan gradasi.
5. Air
Air yang dipakai untuk campuran beton harus bebas dari lumpur, minyak, asam,
bahan organik, garam dan kotoran lain dalam jumlah yang dapat merusak. Bila
diperlukan oleh direksi, kontraktor harus menunjukan sumber air yang digunakan
serta test terhadap mutu/kualitas air, semua biaya yang dikeluarkan oleh
Kontraktor untuk keperluan pengadaan pengetesan mutu air harus sudah
dimasukan dalam harga penawaran volume batu tiap meter kubiknya.
5.2.3. Adukan Beton
1. Komposisi
Beton harus dibentuk dari unsur-unsur Portland Cement (PC), air, pasir, dan kerikil
(agregat kasar) dan dicampur dalam perbandingan yang serasi dan diaduk hingga
homogen dengan kekentalan yang baik, sesuai dengan peraturan beton Indonesia
PBI 1971 (NI – 2).
2. Kelas dan Mutu Beton
Kelas dan mutu beton harus sesuai dengan Standard Indonesia NI-2, PBI 1971,
sesuai tabel dibawah ini.
Tabel 5. 6 Kelas dan Mutu Beton
σ‘bm Kategori
σ‘bk
Mutu (Kg/cm2) bangunan Pengawasan Pengujian
(Kg/cm2)
S = 46 (tujuan)
Non Kualitas
B0 - - Kuat Desak
struktur Agregat
Pemeriksaan
B1 - - Struktur Tidak diuji
dengan mata
Pengujian
dengan
K.125 125 200 Struktur Diuji
analisa
saringan
Pengujian
K.175 175 250 Struktur Diuji
dengan
σ‘bm Kategori
σ‘bk
Mutu (Kg/cm2) bangunan Pengawasan Pengujian
(Kg/cm2)
S = 46 (tujuan)
analisa
saringan
Pengujian
dengan
K.225 225 300 Struktur Diuji
analisa
saringan
Pengujian
dengan
K.350 350 425 Struktur Diuji
analisa
saringan
Sumber : SNI 7394-2008 Tentang Pekerjaan Beton
σ’bk adalah kekuatan tekan karakteristik yang ditentukan dari hasil percobaan
benda uji, σ’bm adalah harga kekuatan tekan rata-rata. Bilamana tidak ditentukan
lain, maka kekuatan desak dari beton adalah kekuatan tekan hancur dari contoh
kubus yang diuji pada umur 28 hari.
Rumus untuk menghitung σ’bk adalah sebagai berikut:
dengan :
n = Jumlah benda uji (minimum 20 buah)
σ’b = kekuatan tekan tiap benda uji (kg/cm2)
σ’bm = Kekuatan tekan beton rata-rata (kg/cm2)
s = deviasi standar (kg/cm2)
untuk mencegah adukan beton yang terlalu kental atau terlalu encer, dianjurkan
untuk menggunakan nilai slump sebagai berikut :
Tabel 5. 7 Persyaratan Nilai Slump untuk Pengujian Beton
Slump
Jenis pekerjaan
Maximum Minimum
Dinding, pelat pondasi dan
12,5 5,0
pondasi telapak bertulang
Pondasi telapak tidak bertulang,
kaison dan konstruksi bawah 9,0 2,5
tanah
7,5
Pelat, Balok, Kolom dan dinding 15,0
Perkerasan jalan 7,5 5,0
Pembetonan Masal 7,5 2,5
Sumber : SNI 7394-2008 Tentang Pekerjaan Beton
Untuk maksud-maksud dan alasan tertentu, maka dengan persetuuan Direksi, dapat
dipakai nilai slump yang menyimpang dari tabel di atas, asal memenuhi hal-hal
sebagai berikut :
a) Beton dapat dikerjakan dengan baik.
b) Tidak terjadi pemisahan dalam adukan.
c) Mutu beton yang disyaratkan tetap terpenuhi.
3. Uji Campuran Beton
Enam puluh hari sebelum dimulai pekerjaan pembetonan, Kontraktor harus
mengadakan uji coba campuran beton untuk tiap kelas mutu beton dibawah
pengawasan Direksi. Bilamana Direksi telah menyetujui campuran beton untuk
tiap-tiap kelas beton, maka sebelum pengecoran, Kontraktor harus menyiapkan
peralatan yan cukup jumlahnya guna mengadakan uji mutu campuran. Pengecoran
hanya dapat dilaksanakan dibawah pengawasan Direksi untuk menjamin mutu
beton yang sesuai dengan kelasnya.
Dalam setiap uji campuran, kontraktor harus membuat masing-masing 3 (tiga)
silinder benda uji, untuk diuji pada umur 3 hari - umur 28 hari. Bila ternyata dari
hasil uji tegangan tidak memenuhi, maka kontraktor harus membongkar dengan
memperbaiki campuran/adukan atas biaya sendiri. Semua biaya yang dikeluarkan
oleh Kontraktor yang berkaitan dengan pekerjaan ini harus sudah diperhitungkan
dalam harga penawaran volume beton tiap meter kubiknya.
4. Pengadukan dan Pengangkutan
a) Kontraktor harus mencampur beton dengan alat pengaduk yang baik yaitu
“Batch Mixer” atau “Portable concrete mixer” dengan kapasitas yang sesuai
dengan besarnya pekerjaan. Alat pengaduk harus mampu
mengaduk/mencampur semua bahan-bahan yang merata dan pada
penuangannya tidak terjadi pemisahan.
b) Alat pengaduk harus diperlengkapi dengan alat-alat pengukur yang teliti dan
pengatur terhadap setiap bahan yang dimasukkan.
c) Urutan memasukan bahan-bahan ke dalam alat pengaduk serta lama waktu
mengaduk harus sepengetahuan Direksi.
d) Tidak diperkenankan mengaduk dalam jumlah yang lebih dengan menambah
air agar kekentalan bisa bertahan lama.
e) Dalam membuat campuran beton diperbolehkan menggunakan Truck Mixer
dan harus mendapat persetujuan dari Direksi. Truck Mixer harus bertipe
“Revolving Drum”, rapat air dan harus dilengkapi dengan peralatan yang teliti
untuk mengukur jumlah air.
f) Truck Mixer dan pengaduk harus dioperasikan dalam batas-batas kapasitas dan
kecepatan perputaran yang telah ditetapkan oleh pabrik alat tersebut. Pada
waktu menggunakan “Concrete-Mixer” maka pengisian bahan beton yang akan
diaduk harus sedemikian sehingga pada saat dituangkan kedalam acuan maupun
pada waktu pengambilan contoh (sampling) tidak terjadi pemisahan (segregasi).
g) Kontraktor harus menyiapkan peralatan dan bahan yang cukup dan memadai
selama proses pengadukan.
h) Pengangkutan, pengadukan beton dari tempat pengadukan ke tempat
pengecoran harus dilakukan dengan cara yang ditentukan Direksi, dan dijamin
tidak ada pemisahan bahan-bahan adukan.
i) Pengangkutan adukan beton harus lancar sehingga tidak terjadi perbedaan
waktu pengikatan yang menyolok antara beton yang telah dicor dengan yang
akan dicor. Pengangkutan adukan beton dengan peralatan seperti, agitator, truck
belt conveyor, talang miring hanya dapat dilakukan dengan persetujuan dari
Direksi.
j) Adukan beton sudah harus dicor dalam waktu 1-2 jam setelah pengadukan
dengan air dimulai. Apabila diperlukan jangka waktu lebih lama lagi oleh
karena proses pengangkutan harus ditambahkan bahan penghambat pengikatan
sesuai petunjuk Direksi.
5.2.4. Pengecoran Beton
• Umum
Pengecoran beton tidak dapat dimulai sebelum cetakan beton/acuan, tulangan dan
bagian-bagian yang harus tertanam terpasang dengan komplit dan telah diperiksa
dan disetujui oleh Direksi. Kecuali ditentukan lain oleh Direksi, Kontraktor tidak
dibenarkan melakukan pengecoran dalam genangan air dan dalam aliran air atau
dalam kondisi hujan.
Bilamana diperlukan oleh Direksi, Kontraktor harus menyediakan satu set atau
lebih alat komunikasi antara tempat-tempat pengadukan dan tempat pengecoran
beton. Tidak ada pembayaran khusus untuk pengadaan, pemeliharaan alat
komunikasi tersebut diatas.
• Penyiapan Tempat Pengecoran
Segera sebelum pengecoran, semua permukaan yang akan dicor harus dibersihkan
dari bahan-bahan minyak, bahan organik, kayu atau bahan-bahan lain yang dapat
mengurangi pengikatan mutu beton. Untuk permukaan pasangan batu/pondasi batu
harus dibasahi dahulu sebelum pengecoran. Untuk permukaan dasar tanah/pasir
harus diratakan dan dibasahi dahulu sebelum dicor. Pada permukaan sambungan
beton harus dibersihkan dan dibasahi terlebih dahulu sebelum dicor atau sesuai
petunjuk Direksi.
• Suhu
Suhu beton sewaktu dicor/dituang tidak boleh lebih dari 32ºC dan tidak boleh
kurang dari 4,5oC. Bila suhu beton melebihi 32oC seperti yang ditetapkan oleh
Direksi, maka Kontraktor harus mengambil langkah-langkah pendinginan
misalnya dengan mendinginkan agregat/menyiram air.
• Pengecoran Dalam Air
Pengecoran beton tidak dapat dilaksanakan di bawah air kecuali ditentukan lain oleh
Direksi dengan pengawasan yang ketat. Penambahan volume semen (PC) sangat
diperlukan dalam pekerjaan ini sehingga faktor air semen tidak boleh lebih besar
0,47. nilai slump yang terjadi harus di bawah 10 cm dengan dilakukan pengecoran
sesuai metode-metode yang disarankan oleh Direksi guna menjamin konsistensi
dan mutu beton.
• Pengecoran dan Pemadatan
a) Beton hanya dicor pada waktu Direksi ada ditempat pekerjaan dan Kontraktor
harus memberi pemberitahuan yang layak akan maksud pengecoran itu.
b) Beton harus dituang ke acuan secepat mungkin dan dengan cara-cara
sedemikian sehingga tidak menyebabkan pemisahan bahan atau hilangnya
slump.
c) Tinggi jauh pengecoran tidak boleh lebih dari 1 (satu) meter agar tidak terjadi
pemisahan atas bahan-bahannya. Pemisahan yang berlebihan karena
menjatuhkan beton dari suatu ketinggian yang cukup besar atau membentur
acuan atau tulangan tidak diperbolehkan. Kontraktor harus menyediakan
peluncur jatuh yang baik untuk mengendalikan dan menahan jatuhnya beton.
d) Beton-beton dituang secara terus-menerus dalam lapisan kira-kira horizontal,
tidak boleh terjadi rongga-rongga dan harus menutup seluruh permukaan acuan.
e) Untuk mencegah adanya rongga-rongga dalam beton, adukan beton harus
dipadatkan selama pengecoran dengan cara penggetaran dengan menggunakan
alat penggetar mekanis (Vibrator).
f) Mengolah lagi campuran beton bekas tidak diperbolehkan. Untuk beton yang
telah mengeras sehingga sulit untuk dicor, harus dibuang dan tidak ada
perhitungan pembayaran.
g) Pada setiap pengecoran (concrete placing) harus diadakan pemeriksaan “slump”
dan pengambilan kubus (cylinder sample) untuk pemeriksaan kuat tekan
(compression test) pada umur : 3 hari, 7 hari dan 28 hari, masing-masing 3 (tiga)
buah.
• Perbaikan
a) Bilamana setelah pembongkaran acuan beberapa beton dijumpai tidak sesuai
bentuknya dengan gambar, atau menyimpang dari ukuran atau elevasi seperti
dalam gambar atau terdapat permukaan-permukaan yang rusak, maka
Kontraktor harus memperbaiki sesuai petunjuk Direksi atas pembiayaan
Kontraktor.
b) Pekerjaan perbaikan beton harus dilaksanakan segera setelah acuan dibongkar.
c) Tempat-tempat atau bagian-bagian yang diperbaiki, harus dikupas, sepenuhnya
dibatasi, dan di isi dengan bahan pengisi yang disetujui sampai penuh/rapat.
• Pekerjaan Penyelesaian dan Penyempurnaan
a) Pekerjaan penyempurnaan dari permukaan beton harus dikerjakan oleh tenaga
kerja yang ahli dan di bawah pengawasan Direksi.
b) Penyelesaian dan penyempurnaan hasil pekerjaan harus dilakukan sesuai
gambar rencana kecuali ditentukan lain oleh Direksi.
c) Untuk penyempurnaan dapat digunakan campuran semen dan pasir yang
mutunya lebih baik dari campuran betonnya.
d) 1. Ketidak-teraturan permukaan yang dibentuk akibat pengecoran tidak boleh
melebihi sepanjang 1,5 m.
2. Pada permukaan-permukaan yang akan tertutup tanah, tidak perlu
penanganan kecuali untuk perbaikan-perbaikan dan koreksi-koreksi
penurunan yang melebihi 2,5 cm.
3. Untuk semua permukaan yang dibentuk lain, perubahan-perubahan secara
tiba-tiba tidak melebihi 10 mm.
4. Acuan untuk permukaan yang terbuka (eksposed) untuk pandangan atau
untuk saluran-saluran harus dikerjakan seteliti mungkin dan dengan penuh
keahlian serta harus kuat. Permukaan, yang terlihat tidak boleh
memperlihatkan retakan-retakan, cembung atau tidak lurus.
e) 1. Permukaan-permukaan yang terbentuk yang akan ditutup dengan urugan
harus diratakan sehingga didapat satu permukaan yang seragam.
2. Permukaan-permukaan yang terbuka dengan maksud untuk pandangan
atau mengalirkan air harus disempurnakan dengan alat dari logam yang
keras. Pada tempat-tempat atau bagian-bagian untuk pejalan kaki atau lalu-
lintas kendaraan harus disempurnakan dengan sapu lidi. Peralihan
permukaan tidak boleh lebih dari 7 mm dan tidak boleh secara tiba-tiba.
3. Permukaan-permukaan yang terbuka dan terpengaruh oleh cuaca harus
diberi kemiringan untuk drainase.
5.2.5. Perawatan dan Perlindungan Beton
Semua beton yang sudah dicor harus dirawat sesuai spesifikasi yang telah ditentukan
oleh Direksi. Kontraktor harus mengajukan cara-cara/metode perawatan dan
perlindungan beton kepada Direksi sebelum pelaksanaan pengecoran dimulai.
Perawatan yang digunakan harus mencegah/menjaga kelembaban beton. Beton harus
terlindung dari hujan deras selama 12 (dua belas) jam, aliran air selam 14 (empat belas)
hari dan sengatan matahari selama 3 (tiga) hari sesudah pengecoran. Perawatan dapat
dilakukan dengan cara:
a. Perawatan Dengan Air
Beton secara teratur harus disiram air sampai umur 21 hari setelah pengecoran.
Untuk menjaga kelembaban dapat dilakukan dengan cara menutup seluruh
permukaan beton dengan karung, karpet atau pasir dalam karung yang selalu
dibasahi dengan air.
b. Perawatan Dengan Uap
Bila perawatan ini yang dipakai oleh pabrik pembuat beton pracetak maka
Kontraktor harus memberitahukan kepada Direksi, yang meliputi proses perawatan,
peralatan dan bahan yang digunakan untuk mendapat persetujuannya.
5.2.6. Pengujian Kualitas Beton
1. Selama masa pelaksanaan, mutu beton harus diperiksa secara terus-menerus.
Kecuali disyaratkan lain, minimal satu sampel komposit harus diambil untuk setiap
110 m3 beton atau 460 m2 luas permukaan slab atau dinding, atau bagian-
bagiannya. Bila kuantitas campuran beton total yang ditentukan kurang dari 38 m3,
pengujian kekuatan bisa diabaikan oleh perencana/penanggung jawab struktur.
2. Tegangan ijin untuk desak dan geser beton setelah benda uji berumur 28 hari harus
lebih besar dari tegangan ijin yang disyaratkan.
3. Pembuatan dan pemeriksaan benda uji harus memenuhi hal-hal berikut:
a. Benda uji kubus harus dibuat dengan cetakan yang paling sedikit mempunyai 2
dinding yang berhadapan terdiri dari bidang-bidang yang rata betul dari plat
baja, kaca cermin atau plat alumunium. Cetakan sebelumnya dilapisi dengan
vaselin atau minyak agar mudah dilepaskan dari betonnya, kemudian diletakan
di atas bidang atas yang rata yang tidak menyerap air.
b. Adukan benda uji harus mengambil langsung dari tempat pengadukan beton dan
dituangkan dalam cetakan benda uji.
c. Pada adukan beton yang encer, adukan beton diisikan ke dalam cetakan dalam
3 lapis yang kira-kira sama tebalnya dengan tiap-tiap lapis ditusuk-tusuk 10 kali
dengan tongkat baja berdiameter 16 mm dengan ujung dibulatkan. Pada adukan
beton yang kental, cetakan harus diberi sambungan ke atas, kemudian adukan
beton diisikan sekaligus.
d. Kubus-kubus/benda uji yang baru dicetak harus disimpan di tempat yang bebas
dari getaran dan ditutup dengan karung basah selama 24 jam, setelah itu baru
dibuka dari cetakannya. Kemudian benda uji disimpan pada tempat yang
suhunya sama dengan di luar.
e. Sebelum diadakan test kekuatan, ukuran benda uji harus ditentukan dengan
ketelitian sampai mm.
f. Pada pengujian, tekanan dikerjakan pada bidang-bidang sisi dari kubus yang
menempel pada bidang-bidang yang rata dalam cetakan. Tekanan harus
dinaikkan berangsur-angsur dengan kecepatan 4 kg/cm2 per detik.
g. Sebagai beban hancur dari kubus berlaku beban tertinggi yang ditunjukan oleh
pesawat penguji. Pesawat penguji tidak boleh mempunyai kesalahan yang
melampaui 3 % pada setiap pembebanan di atas 10% dari kapasitas maximum.
5.2.7. Pengujian Bahan/Material Beton
Bilamana diminta oleh Direksi, Kontraktor harus menguji bahan yang digunakan untuk
beton. Syarat-syarat pengujian dan kualitas harus sesuai dengan yang tersebut dalam
PBI – 1971 (NI-2), kecuali ditentukan lain oleh Direksi.
5.2.8. Catatan Pengujian dan Pembetonan
Kontraktor harus menyerahkan laporan kepada Direksi yang berisikan tanggal, jam,
cuaca dan suhu dari berbagai macam pembetonan serta hasil test benda-benda uji
sebagai laporan bulanan kepada Proyek.
5.2.9. Acuan
1. Acuan/concrete form harus sesuai dengan berbagai bentuk, bidang-bidang, batas-
batas dan ukuran dari hasil beton yang diinginkan sebagaimana tertera pada gambar
rencana atau sesuai petunjuk Direksi.
2. Cetakan dapat dibuat dari logam, plywood, papan kayu yang dipasah halus atau
lainnya sesuai petunjuk Direksi.
3. Cetakan harus kuat dan kokoh untuk meyangga beban beton dan penggetaran
vibrator selama pengecoran.
4. Sebelum dituangi beton, cetakan harus dilapisi dengan vaseline atau minyak agar
beton tidak lengket dengan cetakan.
5. Cetakan beton boleh dibongkar/dibuka bila beton sudah cukup keras dengan tidak
merusak betonnya atau sesuai petunjuk Direksi.
5.2.10. Pekerjaan Lain
• Adukan Tanpa Susut dan Adukan Encer
1. Adukan tanpa susut dan adukan encer harus digunakan apabila ditunjukan
dalam gambar dan apabila diperlukan untuk pemasangan peralatan atau
pekerjaan logam. Pemborong harus menyediakan semua bahan yang
diperlukan.
2. Sebelum penempatan adukan tanpa susut dan adukan encer tersebut permukaan
beton harus dibuat kasar dan dibersihkan dari semua kotoran yang mengganggu,
dan kemudian dicuci dengan air. Permukaan beton harus dibiarkan dalam
keadaan basah selama paling tidak 12 jam sebelum adukan dituang.
3. Adukan harus dimanpatkan agar adukan sempurna. Selang waktu antara
pencampuran dan pengisian tidak boleh lebih dari 30 menit. Setelah dituang,
adukan dan adukan tanpa susut encer tidak boleh diusik atau digetarkan.
4. Permukaan terbuka dengan adukan tanpa susut dan adukan encer harus dirawat
selama 72 jam dengan menutupnya dengan kain goni basah atau pasir basah
atau cara-cara lain sesuai dengan petunjuk Direksi.
• Lobang-Lobang Rembesan
Lobang-lobang rembesan (weep hole) ditempatkan sesuai dengan gambar atau atas
petunjuk Direksi. Dapat berupa lobang, pipa atau corong yang terpendam dalam
beton atau lobang bor.
• Sambungan Pada Beton
1. Sambungan Cor (CONSTRUCTION JOINT)
Letak-letak sambungan cor sesuai dengan yang telah disetujui Direksi. Bidang
permukaan dari sambungan cor sebelum diadakan pengecoran lanjut, harus
bersih, kasar dan terlebih dahulu dibasahi. Bidang permukaan dari sambungan
cor horisontal harus dipersiapkan untuk menerima sambungan berikutnya
dengan menggunakan semprotan pasir (sand blasting) atau diadakan
pemotongan dengan semprotan air bertekanan (air-water jet).
Mengenai penggunaan “Air Water Cutting” atau “Wet Sandblasting” atau
mengenai penggunaan metode “Air Water Cutting” atau “Wet Sandblasting”
atau sambungan air akibat metode pemotongan dengan semprotan air, harus
dilaksanakan atas persetujuan Direksi.
2. Sambungan Muai (CONSTRUCTION JOINT)
Sambungan muai sebagaimana ditunjukan pada gambar dibuat pada tempat-
tempat yang sudah ditentukan. Permukaan beton bagian pertama harus bersih
dan ditutup dengan komponen pelapis sebelum beton bagian kedua dipasang.
Komponen pelapis sesuai dengan ASTM C.309.
• Sumbat Air (WATER STOP)
1. Lingkup Pekerjaan
a) Pemborong harus menyediakan dan memasang sumbatan air (water stop)
yang terbuat dari bahan polyvinyl – chloride dalam bentuk dan ukuran yang
telah ditentukan dan ditempatkan pada tempat yang sudah ditentukan dalam
gambar atau ketentuan oleh Direksi. Untuk kemudahan penempatan dalam
cetakan, dapat digunakan water stop yang memakai split-flange; namun
sebelum pengecoran beton terakhir, bagian splitflange harus disambung
sedemikian rupa sehingga adukan tidak dapat masuk diantara bagian-bagian
yang terpisah dari flens tadi.
b) Sebelum pemasangan, Kontraktor harus mengajukan contoh bahan yang
akan digunakan kepada Direksi guna diperiksa mutunya.
2. Pemasangan
a) Pemborong harus menyediakan semua bahan, peralatan dan tenaga listrik
yang diperlukan untuk membuat sambungan-sambungan lapangan dan
pemasangan sumbatan air.
b) Sambungan-sambungan lapangan untuk sumbat air harus dibuat dengan
memotong sumbatan air sesuai yang diperlukan, memansasi ujungnya
sampai dengan titik cari dan menghubungkannya untuk memperoleh
sambungan yang dikehendaki. Pemasangan ujung sambungan dilakukan
dengan menggunakan mesin penyambung yang diakui oleh pabrik sumbat
air atau dengan alat pemanas listrik yang disetujui oleh Direksi.
c) Pemasangan sumbatan air harus dilakukan dengan hati-hati untuk
memastikan agar titik pusat sumbatan air berlanjut dengan sumbangan.
Pemborong harus menjaga dan melindungi sumbatan air selama pekerjaan
berlangsung.
3. Bahan
Sumbatan air PVC harus dibuat secara proses etrusi dari komponen plastik
elastomeric, damar basis dari polyvinyl chloride murni. Dilarang menggunakan
kembali polyvinyl chloride bakas atau sisa pabrik. Campurannya harus
mengandung damar tambahan, unsur pembuat plastik unsur penyeimbang atau
bahan-bahan lain yang diperlukan untuk memastikan bahwa jika bahan-bahan
lain yang diperlukan untuk memastikan bahwa jika bahan-bahan itu dicampur,
hasil akhirnya akan mempunyai sifat fisik sebagai berikut:
Tabel 5. 8 Sifat Fisik Sumbat Air
Jenis Uji Sifat Jenis Standar
Berat Jenis 1,33 + 0,03 pada 73 F ASTM D792
Kuat Tarik 2.200-2.500 psi pada 73 F ASTM D638
Delta Panjang 360% - 400% pada 73 F ASTM D638
Suhu Getas - 55 F ASTM D746
Kekerasan 65 - 75 ASTM D2240
Sumber : SNI 7394-2008 Tentang Pekerjaan Beton
Semua sumbat air harus dibuat sedemikian rupa sehingga setiap tampangnya
harus rapat, homogin dan bebas dari porositas dan ketidak-sempurnaan.
• Pengisi Sambungan (JOINT FILLER)
a. Pengisian sambungan disediakan dan dipasang oleh Kontraktor dalam
sambungan-sambungan yang ditunjukan pada gambar dan diperintahkan oleh
Direksi.
b. Pengisian sambungan harus merupakan spon yang sangat kenyal atau karet seal,
sesuai dengan ASTM: D 1056 untuk karet SBE a5 atau SBE 45.
c. Pengisian sambungan harus dipotong dan dipasang seperti ditunjukan dalam
gambar, dipasang dengan menggunakan paku tembaga atau kuningan yang
ditanam pada beton yang dicor terdahulu. Dapat pula dipakai semacam bahan
perekat, atas ijin Direksi.
d. Sambungan di Tempat bahan pengisi harus rapat dan diplester sedemikian
sehingga adukan beton tidak dapat meresap kedalam sambungan atau bahan
pengisi sambungan. Pengisi sambungan harus ditangani dengan hati-hati dan
disimpan di tempat yang jauh dari sinar matahari langsung agar tidak rusak.
• Bahan Kedap Sambungan (JOINT SEALER)
Bahan kedap sambungan harus disediakan dan dipasang oleh Kontraktor pada
permukaan terbuka pengisi sambungan, guna melindunginya dan menjaga agar
sambungan-sambungan bebas dari air dan kotoran. Bahan tersebut harus sesuai
dengan persyaratan ASTM: D 1850, dan digunakan tepat sesuai dengan spesifikasi
dari pabrik pembuatnya.
• Pekerjaan Bongkaran Beton
Dilakukan pekerjaan bongkaran terhadap beton yang mengalami kerusakan sesuai
arahan dari Direksi Pekerjaan.
• Pekerjaan Chiping
Pekerjaan chipping dimaksudkan untuk mengupas beton yang sudah mengalami
spalling atau crack, chipping dilakukan sampai kedalaman tertentu atau sampai
tulangan terlihat sesuai petunjuk Direksi. Untuk pelaksanaan chipping digunakan
alat Electrik Hammer Drill, dan apabila pekerjaan chipping sudah selesai maka hasil
chipping dibersihkan dengan High Pressure Water Jetting untuk membersihkan
hasil chipping dari sisa-sisa debu dan sekaligus memberikan penjenuhan terhadap
beton existing.
• Pengadaan dan Pemasangan Balok Penahan 25 x 20 cm K225
Kontraktor harus membuat serta memasang balok beton dengan mutu beton seperti
ditunjukkan dalam gambar atau ditentukan oleh Direksi Pekerjaan.
5.2.11. Pengukuran dan Pembayaran
Pengukuran dan pembayaran pada pekerjaan beton ini mengacu pada kelas dan mutu
beton sesuai spesifikasi teknis ini, dimana pengukuran untuk pembayaran beton akan
dilakukan dalam satuan meter kubik sesuai dengan dimensi yang ditunjukkan dalam
gambar atau sesuai volume beton yang terpasang atas persetujuan Direksi. Perhitungan
volume beton ini tidak termasuk pada beton yang digunakan untuk pekerjaan
sementara. Tidak ada pengurangan volume beton akibat adanya pipa berdiameter
kurang dari 200 mm kecuali hal tersebut menjadi struktur lain yang terbayar pada item
pekerjaan yang lain. Kebutuhan untuk peningkatan kadar semen, bahan tambahan
(admixture) dan untuk finishing beton tidak diukur secara terpisah.
Pengukuran dari pengadaan dan pemasangan Blok Beton diukur setelah material
tersedia di site dan terpasang termasuk didalamnya adalah penyediaan material,
pekerja, peralatan, transportasi, pemindahan dan penempatan sesuai persetujuan
Direksi
Pembayaran pekerjaan beton sesuai dengan harga Penawaran Kontrak untuk Jenis
Pembayaran yang ditunjukkan dibawah ini mencakup semua biaya untuk penyelesaian
pekerjaan beton termasuk didalamnya adalah penyediaan material, pekerja, peralatan,
transportasi, pemindahan dan penempatan semen, bahan tambah, pencampuran beton,
pengecoran, finishing dan perawatan beton.
Tabel 5. 9 Jenis Pembayaran Pekerjaan Beton
Satuan
No Uraian
Pengukuran
1 Pekerjaan Beton Meter Kubik (m3)
Sumber : Hasil Analisa, 2023
5.3. PEKERJAAN BAJA TULANGAN
5.3.1. Umum
• Uraian
Pekerjaan ini harus mencakup pengadaan dan pemasangan Baja Tulangan sesuai
dengan Spesifikasi dan Gambar atau sebagaimana diperintahkan oleh Direksi.
• Penerbitan Detail Konstruksi
Detail Konstruksi untuk baja tulangan yang tidak disertakan pada waktu lelang akan
diserahkan oleh Direksi setelah peninjauan kembali rancangan awal telah selesai.
• Pekerjaan yang Berhubungan yang Ditetapkan Dibagian Lain
• Toleransi
(a) Toleransi untuk pembuatan / Fabrikasi harus seperti yang disyaratkan dalam
ACI 315.
(b) Baja tulangan harus dipasang sedemikian rupa sehingga selimut beton yang
menutup bagian luar dari baja tulangan adalah sebagai berikut :
i. Selimut beton 3.5 cm untuk beton yang tidak terbuka langsung terhadap
udara atau terhadap air tanah atau terhadap bahaya kebakaran.
ii. Seperti yang ditunjukkan dalam Tabel berikut. untuk beton yang
terendam/tertanam atau terbuka langsung terhadap cuaca atau urugan tanah
tetapi masih dapat diamati untuk pemeriksaan :
Tabel 5. 10 Ukuran Batang Tulangan Berdasarkan Selimut Beton
Ukuran Batang Tulangan Tebal Selimut Beton
Yang akan diselimuti Minimum
( mm ) ( mm )
Batang 16 mm dan lebih kecil 3.5
Batang 19 mm dan 22 mm 5
Batang 25 mm dan lebih besar 6
Sumber : SNI 07 2052 2002 Tentang Baja Tulang Beton
iii. Selimut 7.5 cm untuk seluruh beton yang terendam/tertanam yang tidak bisa
dicapai, atau untuk beton yang tak bisa dicapai yang bila kehancuran karena
karat dari tulangan dapat menyebabkan kerusakan atau kehancuran struktur,
atau untuk beton yang ditempatkan langsung diatas tanah atau karang atau
untuk beton yang berhubungan langsung dengan kotoran pada selokan atau
cairan korosif lainnya.
• Penyimpanan dan Penanganan
(a) Kontraktor harus mengangkut tulangan ketempat kerja dalam ikatan, diberi
label, dan ditandai dengan label metal yang menunjukkan ukuran batang,
panjang dan informasi lainnya sehubungan dengan tanda yang ditunjukkan pada
diagram penulangan.
(b) Kontraktor harus menangani serta menyimpan seluruh baja tulangan
sedemikian untuk mencegah distorsi, pengotoran, korosi atau kerusakan.
• Pelaporan
(a) Sebelum memesan material, seluruh daftar pesanan dan diagram
pembengkokan harus disediakan oleh Kontraktor untuk mendapatkan
persetujuan dari Direksi dan tidak ada material yang dipesan sebelum daftar
tersebut serta diagram pembengkokan disetujui.
(b) Sebelum memulai pekerjaan baja tulangan, Kontraktor harus menunjukkan
kepada Direksi daftar yang disyahkan dari pabrik pembuat baja yang
memberikan berat satuan nominal dalam kilogram dari tiap ukuran dan kelas
dari batang tulangan atau anyaman baja yang dilas yang akan digunakan dalam
pekerjaan.
• Mutu Pekerjaan dan Perbaikan dari Pekerjaan yang Tidak Memuaskan
(a) Pekerjaan atas daftar pesanan dan diagram pembengkokan dalam segala hal
tidak membebaskan Kontraktor atas tanggung jawabnya untuk memastikan
ketelitian dari daftar dan diagram tersebut. Revisi material yang disediakan
sesuai dengan daftar dan diagram untuk memenuhi gambar rencana, harus atas
biaya Kontraktor.
(b) Baja tulangan yang cacat sebagai berikut tidak akan diijinkan dalam pekerjaan:
i. Panjang batang, ketebalan dan bengkokan yang melebihi toleransi
pembuatan yang disyaratkan dalam ACI 315;
ii. Bengkokan atau tekukan yang tidak ditunjukkan pada Gambar atau
Gambar kerja akhir;
iii. Batang dengan penampang yang mengecil karena karat yang berlebih atau
oleh sebab lainnya.
(c) Dalam hal kekeliruan dalam pembuatan bentuk tulangan, batang tidak boleh
dibengkokan kembali atau diluruskan tanpa persetujuan Direksi atau yang akan
merusak atau melemahkan material. Pembengkokan kembali dari batang harus
dilakukan dalam keadaan dingin terkecuali disetujui lain oleh Direksi. Dalam
segala hal batang tulangan yang telah dibengkokan kembali lebih dari satu kali
pada tempat yang sama tidak diijinkan digunakan pada pekerjaan. Kekeliruan
yang tidak dapat diperbaiki oleh pembengkokan kembali atau bila
pembengkokan kembali tidak disetujui oleh Direksi harus diperbaiki dengan
mengganti menggunakan batang yang baru yang dibengkokan dengan benar dan
sesuai dengan bentuk dan ukuran yang disyaratkan.
(d) Kontraktor harus menyediakan fasilitas ditempat kerja untuk pemotongan dan
pembengkokan tulangan, baik bila melakukan pemesanan biaya tulangan yang
telah dibengkokan maupun tidak dan harus menyediakan stok yang cukup dari
batang lurus ditempat, untuk pembengkokan yang dibutuhkan untuk
memperbaiki kekeliruan atau penggantian.
• Penggantian Ukuran Batang
Penggantian batang dari ukuran berbeda hanya akan diijinkan bila secara jelas
disyahkan Direksi. Bila baja tulangan diganti haruslah dengan luas penampang
yang sama dengan ukuran rancangan awal atau lebih besar.
5.3.2. Material
• Baja Tulangan
(a) Baja tulangan harus baja polos atau berulir kelas U-40 yang memenuhi
persyaratan AASTHO M 31-77, atau lainnya yang disetujui oleh Direksi.
(b) Bila anyaman tulangan baja diperlukan, sepertti untuk tulangan pelat, anyaman
pelat yang dilas yang memenuhi AASTHO M 55 dapat digunakan.
• Tumpuan untuk Tulangan
Tumpuan untuk tulangan harus dibentuk dari batang besi ringan atau blok beton
cetak dari kelas II / K 275 seperti yang disyaratkan dalam spesifikasi ini, terkecuali
disetujui lain oleh Direksi. Kayu, bata, batu atau material lain tidak boleh diijinkan
sebagai tumpuan.
• Pengikat untuk Tulangan
Kawat pengikat untuk mengikat tulangan harus kawat baja yang telah dilunakan
yang memenuhi AASTHO M 32-78.
5.3.3. Pembuatan dan Penempatan
• Pembengkokan
(a) Terkecuali ditentukan lain oleh Direksi, seluruh tulangan harus dibengkokan
dalam keadaan dingin dan sesuai dengan prosedur ACI 315, menggunakan
batang pada awalnya lurus dan bebas dari tekukan-tekukan, bengkokan-
bengkokan atau kerusakan. Bila penggunaan panas untuk pembengkokan
dilapangan disetujui oleh Direksi, tindakan pengamanan harus diambil untuk
menjamin bahwa sifat fisik dari baja tidak banyak berubah.
(b) Batang dari diameter 2 cm dan lebih besar harus dibengkokan dengan mesin
pembengkok.
• Penempatan dan Pengikatan
(a) Tulangan harus dibersihkan saat sebelum pemasangan untuk menghilangkan
kotoran, Lumpur, oli, cat, karat dan kerak, percikan adukan atau lapisan lain
yang dapat mengurangi atau merusak pelekatan dengan beton.
(b) Tulangan harus secara tepat ditempatkan sesuai dengan gambar atau seperti
yang diperintahkan oleh direksi apabila ada perubahan.
(c) Batang tulangan harus diikat kencang dengan menggunakan kawat pengikat
sehingga tidak tergeser sewaktu operasi pengecoran. Pengelasan dari batang
melintang atau pengikat terhadap tulangan baja tarik utama tidak
diperkenankan.
(d) Seluruh tulangan harus disediakan sesuai dengan panjang keseluruhan yang
ditunjukkan pada gambar. Penyambungan dari batang, terkecuali ditunjukkan
pada Gambar, tidak akan diijinkan tanpa persetujuan tertulis dari Direksi. Setiap
penyambungan yang dapat disetujui harus dibuat bertahap sejauh mungkin dan
harus diletakkan pada titik dengan tegangan tarik minimal.
(e) Bila sambungan yang menumpang disetujui maka panjang yang menumpang
haruslah 40 diameter batang dan batang tersebut harus diberikan kait pada
ujungnya.
(f) Pengelasan dari baja tulangan tidak akan diijinkan terkecuali diperinci dalam
Gambar atau secara khusus diijinkan oleh Direksi secara tertulis. Bila Direksi
menyetujui pengelasan dari penyambungan, maka sambungan dalam hal ini
adalah las tumpu ujung yang menembus penuh yang memenuhi syarat AWS D
2.0. Pendinginan benda las dengan air tidak diijinkan.
(g) Simpul dari kawat pengikat harus diarahkan meninggalkan permukaan beton
sehingga tidak tampak dari luar.
(h) Anyaman baja yang dilas harus dipasang sepanjang mungkin, dengan bagian
sambungan harus menumpang paling sedikit satu kali jarak anyaman. Anyaman
harus dipotong mengikuti bentuk pada kerb dan bukaan, dan harus dihentikan
pada sambungan antara pelat.
(i) Bila tulangan tetap dibiarkan terbuka untuk suatu perioda yang cukup panjang
maka harus secara keseluruhan dibersihkan dan dipulas dengan adukan semen.
(j) Tidak boleh ada bagian tulangan yang telah ditempatkan boleh digunakan untuk
memikul perlengkapan penghantar beton, jalan pendekat, lantai kerja atau
beban konstruksi lainnya.
5.3.4. Pengukuran dan Pembayaran
• Pengukuran
(a) Baja tulangan akan diukur dalam jumlah kilogram terpasang dan diterima oleh
Direksi. Jumlah kilogram yang ditempatkan harus dihitung dari panjang yang
sesungguhnya ditempatkan, atau luas anyaman baja yang dihampar, dan satuan
berat dalam kilogram per meter panjang untuk batang atau kilogram per meter
persegi luas anyaman. Satuan berat yang disetujui oleh Direksi akan didasarkan
atas berat nominal yang disediakan oleh produsen baja, atau bila Direksi
memerintahkan atas dasar pengujian penimbangan yang dilakukan Kontraktor
pada contoh yang dipilih Direksi.
(b) Penjepit, pengikat, pemisah atau material lain yang digunakan untuk
penempatan atau pengikatan baja tulangan pada tempatnya tidak akan
dimasukkan dalam berat untuk pembayaran.
(c) Penulangan yang diletakkan didalam pipa gorong-gorong atau didalam struktur
lain yang mana pembayarannya untuk struktur tersebut disediakan ditempat lain
dalam spesifikasi ini, tidak boleh diukur untuk pembayaran dibawah artikel ini.
• Pembayaran
Jumlah baja tulangan yang diterima, yang ditetapkan seperti uraian diatas, harus
dibayar pada Harga Penawaran Kontrak untuk Jenis Pembayaran yang ditunjukkan
dibawah ini, yang pembayarannya merupakan konpensasi penuh untuk pengadaan,
pembuatan dan penempatan material, termasuk seluruh peralatan, seluruh pekerja,
perkakas, pengujian, pekerjaan pelengkap lain untuk menyelesaikan pekerjaan
seperti diuraikan dalam spesifikasi ini.
Tabel 5. 11 Ukuran Batang Tulangan Berdasarkan Selimut Beton
No Uraian Pekerjaan Satuan Pengukuran
1 Baja Tulangan Kilogram (Kg)
Sumber : Hasil Analisa, 2023
5.4. PEKERJAAN BEKISTING
5.4.1. Desain Bekisting
Bekisting harus disediakan untuk menghasilkan beton yang mengeras sesuai garis,
tingkat dan bentuk yang ditunjukkan pada Gambar. Bekisting harus memiliki kekuatan
yang memadai untuk menahan semua beban yang diterjadi, termasuk tekanan dari beton
segar. efek getaran, berat pekerja dan peralatan, tanpa kehilangan bentuk yang
diharapkan. Bekisting harus dirancang dengan baik sehingga pada saat pelepasan
bekisting tanpa menimbulkan risiko kerusakan kepada struktur beton yang telah selesai
dikerjakan. Joint pada bekisting harus tegak lurus terhadap poros utama dari bentuk
beton, kecuali jika dinyatakan lain atau disetujui oleh Direksi.
Jika diminta oleh Direksi, gambar rinci, perhitungan desain, termasuk asumsi desain
seperti kecepatan penuangan dan temperatur beton, deskripsi dan / atau contoh material
yang diusulkan untuk digunakan harus diajukan untuk mendapat persetujuan dari
Direksi, sebelum pembuatan bekisting dimulai, bekisting harus dikonstruksi/dirakit dan
cukup untuk mentolerir frekuensi tinggi getaran dan harus memiliki kekakuan seragam
agar terhindar dari getaran yang bervariasi pada permukaan bekisting selama
pemadatan beton. Desain bekisting harus sedemikian rupa sehingga tidak perlu
menuangkan beton dari ketinggian yang lebih tinggi dari dua (2) meter atau untuk
mengalirkan beton sepanjang bekisting setelah penuangan. Untuk balok, girder dan
bagian yang serupa, desain bekisting harus memungkinkan dilakukan pelepasan pada
sisi samping bekisting, tanpa mengganggu sisi lain dari bekisting. Pelepasan bekisting
harus memungkinkan perpindahan tekanan dari bekisting ke struktur berjalan dengan
pelan dan bertahap.
Penempatan bekisting harus pada posisi yang tepat dan akurat dengan alat kelengkapan,
baut, angkur dan bentuk seperti yang ditunjukkan pada Gambar. Alat kelengkapan
sementara yang digunakan untuk mendukung bekisting harus dapat dipindahkan tanpa
merusak beton. Jika bekisting digunakan kembali untuk beberapa kali, desainnya harus
menunjukkan berapa tingkat penurunan kualitas bahan yang akan terjadi dalam setiap
penggunaannya. Penggunaan bekisting yang tidak dapat dilepas tidak diizinkan kecuali
ditunjukkan pada Gambar atau disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
5.4.2. Konstruksi Bekisting
1. Cetakan haruslah dengan berbagai bentuk, bidang – bidang, batas – batas dan
ukuran dari beton yang diinginkan sebagaimana pada gambar – gambar atau seperti
ditetapkan Direksi.
2. Cetakan untuk mencetak beton dan membuatnya menurut model yang dikehendaki
harus digunakan bila perlu. Bekesting dapat terbuat dari kayu, baja, beton pracetak,
polystyrene atau bahan lain yang disetujui. Bahan untuk bekisting harus cukup
seragam, bersih dan rata sehingga permukaan beton jadi sesuai seperti yang
ditentukan. Bahan kayu untuk bekisting harus kuat, bersih bebas dari cacat, retakan
yang dapat mempengaruhi kekuatan kayu atau memperburuk penampilan
permukaan beton jadi.
3. Permukaan yang rata dari beton adalah yang dikehendaki pada bagian jalan air.
Cetakan untuk permukaan yang demikian dapat dibuat dari kayu ataupun dari
logam dan harus di dalam segala hal benar – benar berbentuk dan berukuran yang
tetap pada tempat dan bentuknya selama pembebanan dan berlangsunya pekerjaan
vibrasi pemadatan beton. Usaha yang sesuai dan efektif harus dilaksanakan pada
pembuatan cetakan untuk menguatkan pinggiran batas dan ujung lainnya dalam
arah yang tepat untuk menghindari terbentuknya pelengkungan – pelengkungan,
sisi pinggiran tersebut atau kerusakan – kerusakan permukaan beton yang telah
diselesaikan.
4. Semua cetakan yang dibangun harus teguh, alat – alat dan usaha – usaha yang
sesuai dan cocok untuk membuka cetakan – cetakan tanpa merusak permukaan
dari beton yang telah selesai harus tersedia. Sebelum beton dicor, semua material
untuk mempermudah melepaskan cetakan harus dipakai hanya setelah disetujui
oleh Direksi / Pengawas. Penggunaan minyak cetakan harus berhati – hati agar
tidak kontak dengan besi beton yang mengakibatkan kurang daya lekat.
5. Semua cetakan harus betul – betul teliti dan aman pada kedudukannya sehingga
dicegah pengembangan atau lain gerakan selama penuangan beton. Penyangga
cetakan (Perancah) harus bersandar pada fondasi yang baik sehingga tidak ada
kemungkinan penurunan cetakan selama pelaksanaan.
5.4.3. Pelepasan Bekisting
Pelepasan bekisting harus seijin dari Pengawas atau Direksi Pekerjaan. Bekisting harus
tidak boleh terganggu sampai beton benar-benar mengeras dan telah mencapai umur
dan kekuatan optimum. Bekisting juga dapat melindungi beton dari suhu rendah dan
penguapan yang berlebihan. Tanpa permintaan tertulis dari Direksi, bekisting tidak
boleh dilepas apabila umur pelepasan bekisting belum memenuhi sesuai Tabel 3-12
Waktu pelepasan bekisting dapat diperpanjang oleh Direksi Pekerjaan.
Dalam kasus beton yang mengandung campuran khusus, waktu pelepasan bekisting
harus ditentukan oleh Direksi, dimana akan mempertimbangkan umur dan kekuatan
beton sama seperti beton dengan semen portland biasa tanpa aditif. Untuk mendapatkan
kualitas beton yang memuaskan, bekisting dilepas dalam waktu tidak kurang dari 12
jam atau lebih dari 48 jam setelah pengecoran beton, tergantung kondisi cuaca.
Tabel 5. 12 Syarat Pelepasan Bekisting
Untuk Campuran Beton yang Dirancang
dengan:
Posisi Bentuk Bangunan
Semen dengan
Semen PC Biasa
Kekuatan Tinggi
Konstruksi Balok, Kolom,
Dinding, dll. Ketika tinggi
dalam setiap hari penuangan:
• Dibawah 0.6 m 1 hari 18 jam
• 0.6 s/d 3.0 m 2 hari 1.5 hari
• 3.0 s/d 6.0 m 3 hari 2.5 hari
• 6.0 s/d 9.0 m 5 hari 4 hari
Sisi Tiang Pancang
12 hari 8 hari
Berbentuk Persegi
Sisi Tiang Pancang
24 hari 18 hari
Berbentuk Segi-8
Bentuk Pendukung dan
Bekisting
• Dibawah plat lantai
7 hari 7 hari
jembatan gelagar
• Dibawah kontruksi plat
10 hari 10 hari
sederhana
• Dibawah batang balok
penobang sederhana dan 21 hari 21 hari
lengkungan bentang tunggal
Hingga gaya prategang yan diterapkan ke beton
Bekisting Beton Pratekan mencapai 70% kecuali ada perubahan lain yang
sudah diatur
5.4.4. Pengukuran dan Pembayaran
Pengukuran bekisting disesuaikan dengan kebutuhan untuk pengecoran beton sesuai
dengan gambar dan persetujuan Direksi. Pembayaran untuk pekerjaan bekisting diukur
dengan satuan meter persegi sesuai dengan harga penawaran di kontrak dengan
persetujuan Direksi. Harga pada pembayaran ini harus merupakan kompensasi penuh
untuk pengadaan, pembuatan dan penempatan material, termasuk seluruh peralatan,
seluruh pekerja, perkakas, pengujian, pekerjaan pelengkap lain untuk menyelesaikan
pekerjaan seperti diuraikan dalam spesifikasi ini
Tabel 5. 13 Jenis Pembayaran Pekerjaan Bekisting
No Uraian Pekerjaan Satuan Pengukuran
1 Bekisting Meter Persegi (m2)
Sumber : Hasil Analisa, 2024
5.5. PEKERJAAN RANGKA ATAP
Persyaratan bahan :
- WF 200.100.5,5.8
- WF [Link]
- CNP [Link],2
- C.[Link],3
- Gording L 75x75x7
- Plat Plendes WF tbl. 12 mm
- Plat Sambung WF tbl. 12 mm
- Baut Angkur Ø19mm - 60 cm
- Mur Baut HTB Ø19 mm
- Pek. Trekstang ∅8 mm
Persyaratan Alat :
- Scafolding Set
- Genset 5 Kva
- Mesin Potong
- Gerinda
- Hand Drill
- Screw Driver
- Las Listrik
- Gun Sealent
- APD (Helm, Rompi Safety, Body Harness, Sepatu, Sarung Tangan, & Masker)
1. Pasang Rangka Kuda-Kuda WF 200.100.5,5.8
2. Pasang Rangka Kuda-Kuda WF [Link]
3. Gording CNP [Link],2
4. Penahan Gording L 75x75x7
5. Plendes WF tbl. 12 mm, 15 mm
6. Sambung WF tbl. 12 mm
7. Pasang Gording Canal C.[Link],2
8. Pasang Plat Simpul tebal 12mm
9. Pasang Base Plat tebal 12 mm
10. Pas. Trackstang Ø8 mm & Bracing Ø8 mm
11. Pasang Mur dan Baut
12. Pasang Angkur
Item no.1 dan no.12. Merupakan kegiatan yang sama, maka dijabarkan sebagai berikut :
Proses Pekerjaan :
- Sebelum fabrikasi dimulai, Kontraktor harus membuat dan mengajukan gambar- gambar
kerja yang diperlukan dan menyerahkan gambar kerja untuk diperiksa dan disetujui
Konsultan / Direksi. Bilamana disetujui, Kontraktor dapat mulai pekerjaan fabrikasinya.
- Fabrikasi dari elemen-elemen konstruksi besi/baja harus dilaksanakan oleh tukang- tukang
yang berpengalaman dan diawasi oleh mandor-mandor yang ahli dalam konstruksi baja.
- Semua konstruksi besi/baja yang telah selesai difabrikasi harus dibedakan dengan kode
yang jelas sesuai bagian masing-masing agar dapat dipasang dengan mudah.
- Pengelasan harus dilaksanakan sesuai AWS atau AISC Specification dan baru dapat
dilaksanakan setelah mendapatkan ijin tertulis dari Konsultan / Direksi. Pengelasan harus
dilakukan dengan las listrik, bukan dengan las karbit.
- Posisi lubang-lubang baut harus benar-benar tepat dan sesuai dengan diameter baut. Jika
tidak disebutkan secara khusus di dalam gambar, maka diameter lubang baut maksimal
1.60 mm (1/16 inci) lebih besar dari diameter baut. Kontraktor tidak boleh membuat
lubang baru di lapangan tanpa seijin Konsultan / Direksi.
13. Pasang Cutting Plate
- Semua bahan yang disebutkan pada bab ini harus dikerjakan sesuai dengan standard dan
spesifikasi dari pabrik.
- Bahan plat besi harus dalam keadaan rata.
- Pemasangan dilakukan oleh tenaga ahli yang khusus dalam pekerjaan ini dengan
menunjukkan surat keterangan referensi pekerjaan-pekerjaan yang pernah dikerjakan
kepada Direksi Lapangan untuk mendapatkan persetujuan
- Pelaksanaan pemasangan harus lengkap dengan peralatan bantu untuk
mempermudah serta mempercepat pemasangan dengan hasil pemasangan yang akurat ,
teliti dan tepat pada posisinya.
- Untuk pemasangan rangka, pasang dahulu besi hollow nya dengan posisi seperti pada
gambar kerja sebagai dasar rangka panel.
- Untuk mengikat besi siku dengan dinding, digunakan dinabolt ø 10mm yang
sebelumnya sudah di bor. Jarak antar dinabolt bisa dilihat pada gambar kerja.
- Rangka-rangka untuk panel harus diperiksa dengan teliti, harus tegak lurus, dan terpasang
pada posisinya.
- Sebelum dipasang harus di perhatikan ketelitian, juga ukurannya agar tidak terjadi
kesalahan.
- Pembersihan panel setelah pekerjaan selesai dapat dilaksanakan dengan air dan spons atau
sikat lembut. Apabila pengotoran lebih berat bisa ditambahkan deterjen netral.
- Kontraktor harus melindungi pekerjaan yang telah selesai dari hal-hal yang dapat
menimbulkan kerusakan. Bila hal itu terjadi, Kontraktor harus memperbaiki tanpa biaya
tambahan.
5.6. PEKERJAAN PENUTUP ATAP
5.5.1. Lingkup Pekerjaan
1. Termasuk dalam pekerjaan atap ini adalah penyediaan tenaga kerja, bahan – bahan,
peralatan, termasuk alat – alat bantu dan alat angkut yang diperlukan untuk
melaksanakan pekerjaan atap ini, sehingga dicapai hasil yang bermutu baik.
2. Pekerjaan kostruksi penutup atap meliputi konstruksi pekerjaan penutup atap
gedung dan selasar bangunan.
5.5.2. Persyaratan Bahan
1. Penutup atap, Penutup atap Nok, Penutup atap utama adalah genteng aspal/Bitumen.
2. Bubungan atap
3. Perlengkapan bantu (paku-skrup) menggunakan material dengan kualitas terbaik.
5.5.3. Syarat Pelaksanaan
1. Pemasangan sambungan-sambungan konstruksi atap harus cukup kuat sehingga tahan
terhadap beban-beban yang ada.
2. Tidak diperkenankan menggunakan material genteng yang cacat.
3. Sebelum pelaksanaan dimulai, Penyedia Jasa diwajibkan memeriksa gambar-
gambar pelaksanaan termasuk lapisan-lapisan isolasi seperti yang dinyatakan dalam
gambar, serta melakukan pengukuran-pengukuran setempat.
4. Penyedia Jasa atas dasar gambar pelaksanaan diwajibkan menyediakan shop
drawing yang memperlihatkan sambungan antara bahan yang satu dengan yang lain,
pengakhiran-pengakhiran dan lain-lainnya yang belum/tidak tercakup dalam gambar
kerja, namun memenuhi persyaratan pabrik.
5. Pemasangan sambungan-sambungan konstruksi atap harus cukup kuat sehingga tahan
terhadap beban-beban yang ada.
6. Penyimpanan atap disimpan dalam keadaan tetap kering, tidak boleh berhubungan
dengan tanah/lantai dan sebaiknya disimpan di dalam gudang beratap.
7. Sebelum dimulai pemasangan, permukaan semua gording atau rangka diperiksa
terlebih dahulu apakah sudah berada pada satu bidang, jika perlu dengan
mengganjal atau menyetel bagian-bagian ini terhadap rangka penumpunya. Dalam
keadaan apapun juga ganjal tidak boleh dipasang langsung di bawah pelat kait untuk
mengatur kemiringan atap.
8. Penyetelan yang tepat akan menjamin kekuatan pengikatan antara lembaran dan plat
kait. Sebaliknya penyetelan yang tidak tepat akan mengakibatkan gangguan terutama
jika jarak penyangga yang kecil.
9. Pada waktu pelaksanaan harus selalu diperiksa dengan seksama, untuk
menghindarkan penggeseran pada pemasaran. Untuk memperbaiki kelurusan
lembaran dapat distel dengan menarik pelat kait menjauhi atau menekannya ke arah
lembaran pada saat pemasangan pelat itu.
10. Untuk atap dengan sudut kemiringan yang besar ataupun tegak, harus dipergunakan
pengikat positif (sekrup atau baut) untuk mencegah genteng bergerak ke bawah.
11. Pada hampir semua pekerjaan pemasangan atap perlu dilakukan pemotongan-
pemotongan dengan alat potong rotasi tinggi, atau juga dilakukan pengeboran lobang-
lobang pengikat.
12. Semua sisa-sisa pekerjaan (serbuk gergaji, sisa potongan dan lain-lain yang berupa
kotoran), harus dibersihkan dari atas permukaan atap, agar tidak terjadi pengaratan.
13. Sapulah seluruh permukaan atap sampai bersih dengan sapu, lalu berikan
perhatikan khusus pada daerah-daerah dimana pengeboran atau penggergajian telah
dilakukan. Juga bersihkan semua talang-talang.
14. Hasil pemasangan harus datar dengan kelandaian yang cukup agar tidak terjadi
kebocoran.
15. Pelaksanaan pemasangan penutup atap ini, harus sesuai dan mengikuti persyaratan dari
pabrik bahan yang digunakan berikut kelengkapannya serta petunjuk-petunjuk
Konsultan MK dan atau Pemberi Tugas.
16. Pemasangan penutup atap harus benar-benar lurus sehingga terlihat rapi dan baik.
5.5.4. Tahap Pelaksanaan
1. Setelah Reng terpasang (jarak antar reng ke reng maksimal 40,5 cm dari as reng
ke as reng)
2. kemudian Lapisan Pertama dipasang Multipleks / Plywood. Tebal Multipleks
minimal 9mm (Dengan bahan yg lebih tebal dan bagus sangat disarankan), Multipleks
/ Plywood di screw di atas reng. Multipleks dipasang maju 7-10 cm dari lisplank.
3. Untuk bagian bawah Multipleks / Plywood (pertemuan antara multipleks dengan
lisplank) dipasang Flashing berbentuk U, fungsinya melindungi Multipleks dari
tampias air hujan pada ujung atap. Untuk multipleks yang bertemu dengan dinding
sopi-sopi, dipasang flashing dinding berbentuk Z (Wall Flashing).
4. Pemasangan harus tepat dan rapih sesuai yang disyaratkan oleh pabrik dan design
yang sudah direncanakan [Link]-lambatnya 2 ( dua ) minggu sebelum
pekerjaan atap ini, Penyedia Jasa diwajibkan mengajukan contoh bahan yang akan
digunakan kepada Pengawas Lapangan /Pemilik Proyek.
5. Setelah Multipleks terpasang, kemudian dipasang pelapis underlayer. Ada 2 cara untuk
memilih jenis Underlayer yang dipakai, dilihat berdasarkan kemiringan Atap :
a. Untuk kemiringan Atap lebih dari 15 derajat s/d 90 derajat dipasang
Underlayer diatas Multipleks / Plywood, fungsinya untuk mengurangi
kelembapan di Multiplek. Underlayer berbentuk Roll ( 1 Roll dimensi
1mx10m / 1mx20m) dipasang dengan cara di gelar diatas Multipleks.
Overlap antar underlayer 10 cm. jenis underlayer disarankan memiliki perekat
bitumen pada permukaan bawah yang bertemu dengan multyplek ini akan
memaksimalkan fungsi waterproofing pada material underlayer ini.
b. Untuk kemiringan 1 derajat s/d 15 derajat dipasang Underlayer Waterproofing
membrane jenis torching /bakar dengan ketebalan membran minimal 2 mm.
Membrane Waterproofing dipasang dengan cara dibakar dibagian bawah
membran, overlap antar membran 10 cm.
6. Setelah underlayer / membrane terpasang di lanjutkan pemasangan awalan CTI
dinamakan Roofstarter / Starter CTI. Bahan material yang dipakai untuk starter adalah
lembaran genteng CTI yang dipotong diambil bagian yang lurus. Dipasang berderet
kesamping horisontal sepanjang keliling penutup atap. Fungsi Starter untuk menutupi
celah diantara daun Bitumen yang terlihat dari bawah dan juga berfungsi untuk
meluruskan pasangan genteng CTI. Untuk pemasangan CTI, harus diawali dengan
membuka pelindung HDPE protection film adhesive Shingle pada tiap lembarnya.
a. Untuk kemiringan atap lebih dari 15 derajat, pemasangan Starter CTI
dengan cara dipaku. Pemakuan harus tepat pada atas nat/parit dari masing-
masing genteng dengan jumlah paku minimal 4 paku per lembar genteng.
Untuk kemiringan Atap 1 derajat s/d 15 derajat, pemasangan starter CTI
ditempel diatas permukaan Membran Torching yang sudah dibakar terlebih
dahulu.
7. Setelah dipasang starter, Genteng CTI dipasang bertahap mulai dari bawah
berderet horisontal, kemudian mulai keatas. Untuk bagian bawah diawali dengan
pemasangan genteng CTI overlape dengan Starter CTI. Untuk kemiringan atap lebih
dari 15 derajat, pemasangan genteng CTI dengan cara dipaku. Pemakuan harus
tepat pada atas nat/parit dari masing-masing genteng, dengan jumlah paku minimal
4 paku per lembar genteng ( untuk kemiringan atap yg cukup curam harus memakai
paku double. Untuk kemiringan Atap 1 derajat s/d 15 derajat, pemasangan CTI
ditempel diatas permukaan Membran Torching yang sudah dibakar terlebih dahulu.
8. Pada Bubungan/Nok/ridge : atap dipotong menjadi 3 bagian dengan batasan
nat/parit dari atas kebawah, kemudian setiap daun di bagian overlap dipotong sudut.
Pemasangan dengan ditumpuk sesuai overlap dengan cara dipaku. 1m2 genteng=3m1
Nok (Tipe 3Tab Shingle).
5.5.5. Syarat Pemeliharaan
• Perbaikan
Pemasangan pekerjaan finishing atap yang tidak rapih, mengalami cacat atau rusak
harus segera diperbaiki atas biaya Pemborong.
• Pemeliharaan
Setelah pemasangan pekerjaan finishing atap selesai, permukaan atap harus
dibersihkan sehingga diperoleh hubungan permukaan satu dengan lainnya menjadi
rapat, rapih pada posisinya.
BAB VI
PEKERJAAN ARSITEKTUR
6.1. PEKERJAAN DINDING
6.1.1. Lingkup Pekerjaan
1. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, dan alat-alat
bantu yang dibutuhkan dalam terlaksananya pekerjaan ini untuk mendapatkan
hasil yang baik
2. Pekerjaan pasangan Bata Ringan ini meliputi seluruh detail yang
disebutkan/ditunjukkan dalam gambar atau sesuai petunjuk
Supervisi/Perencana.
6.1.2. Persyaratan Bahan
1. Batu bata harus memenuhi NI-10
2. Semen Portland harus memenuhi NI-8
3. Pasir harus memenuhi NI-3 Pasal 14 ayat 2
4. Air harus memenuhi PVBI-1982 Pasal 9
5. Kualitas baik, tidak hancur saat dipotong, dengan merk tertera pada bata
6.1.3. Syarat-syarat Pelaksanaan
1. Pasangan batu bata/batu merah, dengan menggunakan aduk campuran 1 PC : 5
pasir pasang
2. Untuk semua dinding luar, semua dinding lantai dasar mulai dari permukaan
sloof sampai ketinggian 30 cm diatas permukaan lantai dasar, dinding didaerah
basah setinggi 160 cm dari permukaan lantai, serta semua dinding yang pada
gambar menggunakan symbol aduk trasraam/kedap air digunakan aduk rapat air
dengan campuran 1pc : 2 pasir pasang.
3. Sebelum digunakan batu bata harus direndam dalam bak air atau drum hingga
jenuh.
4. Setelah bata terpasang dengan aduk, nad/siar-siar harus dikerok sedalam 1 cm
dan dibersihkan dengan sapu lidi dan kemudian disiram air.
5. Pasangan dinding batu bata sebelum diplester harus dibasahi dengan air terlebih
dahulu dan siar-siar telah dikerok serta dibersihkan.
6. Pemasangan dinding batu bata dilakukan bertahap, setiap tahap terdiri
maksimum 24 lapis setiap harinya, diikuti dengan cor kolom praktis.
7. Bidang dinding 1/2 batu yang luasnya lebih besar dari 12 m2 ditambahkan
kolom dan balok penguat (kolom praktis) dengan ukuran 12 x 12 cm, dengan
tulangan pokok 4 diameter 10 mm, beugel diameter 6 mm jarak 20 cm.
8. Pembuatan lubang pada pasangan untuk perancah/steiger sama sekali tidak
diperkenankan.
9. Pembuatan lubang ada pasangan bata yang berhubungan dengan setiap bagian
pekerjaan beton (kolom) harus diberi penguat stek-stek besi beton diameter 6
mm jarak 75 cm, yang terlebih dahulu ditanam dengan baik pada bagian
pekerjaan beton dan bagian yang ditanam dalam pasangan bata sekurang-
kurangnya 30 cm kecuali ditentukan lain.
10. Tidak diperkenankan memasang bata merah yang patah dua melebihi dari 5 %.
Bata yang patah lebih dari 2 tidak boleh digunakan.
11. Pasangan batu bata untuk dinding 1/2 batu harus menghasilkan dinding finish
setebal 15 cm dan untuk dinding 1 batu finish adalah 25 cm. Pelaksanaan
pasangan harus cermat, rapi dan benar-benar tegak lurus.
6.1.4. Lokasi Pengerjaan
Sesuai dengan gambar pada Gambar Kerja dan Bill of Quantity.
6.2. PEKERJAAN DINDING KERAMIK
6.2.1. Umum
1. Meliputi pekerjaan penyediaan, pengiriman dan pemasangan semua bahan yang
dilaksanakan oleh Kontraktor sebagaimana dalam gambar atau yang dipersyaratkan
dalam dokumen kontrak.
2. Pekerjaan dinding keramik ini meliputi seluruh detail yang disebutkan / ditunjukkan
dalam gambar atau sesuai petunjuk Direksi Lapangan / Konsultan Pengawas
6.2.2. Persyaratan bahan
1. Tile/Keramik
a. Jenis : Keramik Tile Setara Roman
b. Ukuran : Ditentukan dalam gambar perencanaan atau pada room
finish schedule.
c. Ketebalan : Minimum 3 mm
d. Type dan warna : standard ditentukan kemudian.
2. Penegendalian seluruh pekerjaan ini harus sesuai dengan peraturan-peraturan
ASTM, Peraturan Keramik Indonesia (NI-19), PVBB 1970 dan PVBI 1982.
3. Bahan-bahan yang dipakai, sebelum dipasang terlebih dahulu harus diserahkan
contoh-contohnya untuk mendapatkan persetujuan dari Direksi Lapangan /
Konsultan Pengawas.
4. Kontraktor harus menyerahkan 2 copy ketentuan dan persyaratan teknis operatif
dari pabrik sebagai informasi bagi Direksi Lapangan / Konsultan Pengawas.
5. Material lain yang tidak terdapat pada daftar tersebut, tetapi dibutuhkan untuk
penyelesaian/penggantian pekerjaan dalam bagian ini, harus kualitas terbaik dari
jenisnya dan harus disetujui Direksi Lapangan / Konsultan Pengawas.
6.2.3. Pelaksanaan
1. Pada permukaan plesteran dinding/beton yang ada, keramik dapat langsung
diletakkan, dengan menggunakan perekat keramik, diaduk baik air 1,5 liter tiap 5
kg bahan perekat, pemakaian perekat menggunakan trowel bergigi dengan tebal
adukan ± 3 mm.
2. Keramik yang dipasang adalah yang telah diseleksi dengan baik, warna, motif tiap
keramik harus sama tidak boleh retak, gompal atau cacat lainnya.
3. Pemotongan keramik harus menggunakan alat potong khusus, sesuai dengan
petunjuk pabrik.
4. Sebelum keramik dipasang, keramik terlebih dahulu harus direndam air sampai
jenuh.
5. Pola keramik harus memperhatikan ukuran/letak dan semua peralatan yang akan
terpasang di dinding : Exhaust Fan, Panel, Stop Kontak, Lemari Gantung dan
lainlain sebagimana yang tertera didalam gambar.
6. Ketinggian peil tepi atas pola keramik disesuaikan dengan gambar.
7. Awal pemasangan keramik pada dinding dan kemana sisa ukuran harus ditentukan
serta harus dibicarakan terlebih dahulu dengan Direksi Lapangan / Konsultan
Pengawas sebelum pekerjaan pemasangan dimulai.
8. Bidang dinding keramik harus benar-benar rata, garis-garis siar harus benar-benar
lurus. Siar arah horizontal pada dinding yang berbeda ketinggian peil lantainya
harus merupakan satu garis lurus.
9. Keramik harus disusun menurut garis-garis lurus dengan siar sebesar 4-5 mm setiap
perpotongan siar harus membentuk dua garis tegak lurus. Siar-siar keramik diisi
dengan bahan pengisi siar sehingga membentuk setengah lingkaran seperti yang
disebutkan dalam persyaratan bahan dan warnanya akan ditentukan kemudian.
10. Bersihkan permukaan keramik segera jika terkotori dengan pekerjaan grouting dan
kotoran lainnya, bersihkan dengan hati-hati, tanpa merusak permukaan, lindungi
keramik selama 14 hari setelah pemasangan.
11. Pembersihan permukaan keramik yang sudah terpasang dari sisa-sisa adukan semen
hanya boleh dilakukan dengan menggunakan cairan pembersih untuk keramik.
12. Nat-nat pada pemasangan keramik harus diisi dengan bahan komponen semen
mortar siap pakai (tile grout) yang dicampur air diisikan ke nat keramik dan
diratakan dengan busa (spons).
13. Pemasangan keramik pada dinding kamar mandi atau lokasi lain yang disyaratkan
harus memakai waterproofing dilakukan setelah hasil tes waterproofing disetujui
Supervisi.
6.3. PEKERJAAN PENGECATAN
6.3.1. Umum
1. Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, biaya, peralatan dan
alat-alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini, hingga dapat
tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna.
2. Pengecatan dinding dan plafond dilakukan pada bagian luar dan dalam serta pada
seluruh detail yang disebutkan / ditunjukkan dalam gambar.
3. Semua permukaan bidang yang tampak (exposed) seperti tercantum dalam
Gambar Kerja.
4. Pekerjaan seksi lain yang berkaitan :
- Pekerjaan dinding partisi
- Pekerjaan plafon.
- Pekerjaan penutup atap
- Pekerjaan kuda-kuda baja dan gording
- Pekerjaan lisplank
- Pekerjaan waterproofing
6.3.2. Bahan
a. Pekerjaan pengecatan dinding partisi dan plafond menggunakan cat interior yang
terbuat dari bahan acrylic emulsion dengan kualitas yang baik dan tahan terhadap
udara dan garam. Cat interior yang digunakan sesuai speksifikasi Teknis tipe
Brilian White.
b. Pekerjaan pengecatan penutup atap menggunakan cat genteng berbahan dasar air
dan memiliki daya lekat yang kuat terhadap substrat, tahan cuaca, tahan lumut dan
jamur, warna tahan lama dan tidak mudah pudar serta mempunyai daya tutup yang
baik. Cat yang digunakan sesuai speksifikasi Teknis.
c. Pekerjaan pengecatan kuda-kuda, gording dan lisplank menggunakan cat
besi dengan kualitas baik. Pengecatan kuda- kuda dan gording ini menggunakan
cat besi anti korosi berfungsi sebagai cat dasar sekaligus cat akhir. Warna cat yang
digunakan untuk kuda-kuda dan gording menggunakan tipe Canary Yellow dan
warna cat yang digunakan untuk lisplank menggunakan tipe Teak Brown.
d. Pekerjaan pengecatan waterproofing menggunakan cat anti bocor dan anti rembes
yang terbuat dari bahan elastomer arylic polymer terlarut dalam air dengan daya
penguluran yang tinggi (± 600%), tahan sinar UV dan tahan air.
6.3.3. Syarat Teknis Pelaksanaan Pekerjaan
a. Sebelum bahan dikirim ke lokasi pekerjaan, Kontraktor harus
menyerahkan/mengirimkan contoh bahan dari beberapa macam hasil produk
kepada Direksi. Selanjutnya akan diputuskan jenis bahan dan warna yang akan
digunakan. Direksi akan menginstruksikan kepada Kontraktor selama tidak
lebih dari 7 (tujuh) hari kalender setelah contoh bahan diserahkan.
b. Contoh bahan yang digunakan harus lengkap dengan label pabrik pembuatnya.
c. Contoh bahan yang telah disetujui, akan dipakai sebagai standard untuk
pemeriksaan/penerimaan setiap bahan yang dikirim oleh Kontraktor ke tempat
pekerjaan.
d. Sebelum pekerjaan dapat dimulai atau dilakukan, percobaan- percobaan bahan
dan warna harus dilakukan oleh Kontraktor untuk mendapatkan persetujuan
Perencana dan Direksi. Pengerjaan harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan
yang disyaratkan oleh pabrik yang bersangkutan.
e. Pengecatan dilakukan setelah mendapat persetujuan dari Direksi serta jika seluruh
pekerjaan instalasi di dalamnya telah selesai dengan sempurna.
f. Hasil pengerjaan harus baik, warna dan pola texture merata, tidak terdapat noda-
noda pada permukaan pengecatan. Harus dihindarkan terjadinya kerusakan
akibat dari pekerjaan-pekerjaan lain.
g. Bila terjadi ketidak-sempurnaan atau kerusakan dalam pengerjaan, Kontraktor
harus memperbaiki/mengganti dengan bahan yang sama mutunya tanpa adanya
tambahan biaya.
h. Kontraktor harus menggunakan tenaga-tenaga kerja terampil/ berpengalaman
dalam pelaksanaan pekerjaan pengecatan tersebut, sehingga dapat tercapainya
mutu pekerjaan yang baik dan sempurna.
6.3.4. Prosedur Pelaksanaan
a. Pekerjaan pengecatan dinding partisi dan plafond :
1) Persiapan Permukaan
a) Seluruh permukaan dinding yang cacat seperti retak rambut atau lubang-
lubang kecil, diperbaiki menggunakan bahan PROCRETE Cement Filler
CF – 700 yang dicampur dengan PROCRETE Bonding Agent BDA – 810
dan air, kemudian biarkan kering minimal 5 (lima) hari.
b) Pastikan kadar air / kelembaban tembok ? 16% diukur menggunakan alat
Protimeter dan kadar alkali tembok (pH) 7 – 8 diukur menggunakan alat
Universal pH indicator.
c) Permukaan tembok harus dibersihkan dari kotoran, debu, lemak, minyak,
sisa air semen dan lain-lain.
2) Lapisan Dasar
Aplikasikan 1 (satu) lapis cat dasar tanpa pengenceran menggunakan roll
untuk permukaan tembok dengan kadar alkali yang sangat tinggi. Biarkan
lapisan cat dasar ini mengering minimal 2 (dua) jam.
3) Touch Up
a) Periksa kembali seluruh permukaan dinding yang telah diberi cat
dasar, apabila ditemukan bagian yang cacat seperti retak rambut atau
lubang-lubang kecil, lakukan perbaikan plamir menggunakan alat
aplikasi kape, kemudian biarkan kering ± 2 – 24 jam, tergantung
ketebalan.
b) Aplikasikan kembali cat dasar, khusus pada bagian – bagian yang
diperbaiki, lalu biarkan kering minimal 2 (dua) jam.
4) Lapisan Akhir
a) Aplikasikan 1 (satu) lapis cat yang diencerkan dengan air bersih 10 – 20
?rat, menggunakan roll. Kemudian biarkan lapisan cat finish pertama ini
mengering minimal 2 (dua) jam
b) Lakukan kembali hingga lapisan ketiga (jika warna lapisan kedua belum
menutup sempurna)
b. Pekerjaan pengecatan penutup atap :
1) Persiapan Permukaan
Permukaan substrat yang akan dicat harus kering dan bersih serta bebas
dari debu, jamur, lumut, minyak atau kotoran lainnya. Gunakan
FUNGICIDAL WASH untuk membersihkan permukaan yang berlumut
dan berjamur
2) Pelapisan Cat
Aduk Cat Genteng hingga rata, pengenceran dengan air bersih 10 – 20 %
sesuai kebutuhan aplikasi. Aplikasikan dengan kuas atau roll atau spray
sampai merata pada pada seluruh permukaan genteng. Biarkan kering
minimal 2 jam. Lapis sekali lagi Cat Genteng, biarkan kering.
c. Pekerjaan pengecatan kuda-kuda, gording dan lisplank menggunakan cat besi
1) Pretreatment / Persiapan Permukaan
Pretreatment / persiapan permukaan merupakam tahap yang sangat penting
dalam menentukan hasil akhir pengecatan. Bersihkan permukaan substrat dari
karat, debu, minyak dan kotoran lainnya hingga benar-benar bersih.
2) Pengecatan Cat Anti Karat
Aplikasikan Cat Anti Karat 2x lapis (2×40 mikron) dengan kuas atau semprot
/ spray.
Rasio Pengecatan Fengan Kuas Dengan Spray
Thinner B 15% 35%
d. Pekerjaan pengecatan waterproofing
1) Bersihkan permukaan subtrat dari minyak, debu, jamur/lumut, dan kotoran
2) Lapisan pertama Ultraproof diencerkan dengan 10% air bersih, aduk hingga
rata
3) Lapisan kedua dan ketiga gunakan Ultraproof tanpa dicampur air. Untuk
dinding, dapat menggunakan pengenceran 10% air bersih.
4) Aplikasikan lapisan pertama dan biarkan kering
5) Aplikasikan lapisan kedua dan ketiga secara menyilang dengan selang waktu
pengecatan minimal 2 jam.
6) Gunakan kuas, roll, atau airless spray untuk aplikasi
6.4. PEKERJAAN LANTAI KERAMIK
6.4.1. Umum
1. Lingkup Pekerjaan :
a. Plesteran kasar untuk dasar pasangan ubin keramik lantai.
b. Pasangan ubin keramik tanah liat untuk lantai pada area-area, sesuaikan
dengan yang ditunjukkan pada gambar.
c. Tile Grout untuk pengisi nat nat keramik / joint filler.
d. Pasangan ubin keramik untuk tangga.
2. Pekerjaan yang berhubungan :
a. Pekerjaan Pasang bata
b. Pekerjaan screed lantai.
c. Pekerjaan Waterproofing ( pada area basah ).
3. Standard
a. PUBI : Persyaratan Umum Bahan Bangunan Indonesia – 1982 (NI-3)
b. ANSI : American National Standard Institute
c. TCA : Tile Council of America, USA TCA 137.1 – Recommended Standard
Spesification for Ceramic Tile
4. Persetujuan
a. Contoh bahan
Guna persetujuan Direksi/Perencana, Kontraktor harus menyerahkan contoh
contoh semua bahan yang akan dipakai; keramik, bahan-bahan additive untuk adukan,
dan bahan untuk tile grouts.
b. Mock-up/contoh pemasangan
Sebelum mulai pemasangan, kontraktor harus membuat contoh pemasangan
yang memperlihatkan dengan jelas pola pemasangan, warna dan groutingnya. Mock-
up yang telah disetujui akan dijadikan standard minimal untuk pemasangan keramik.
c. Brosur
Untuk keperluan Direksi/Perencana, Kontraktor harus menyediakan brosur
bahan guna pemilihan jenis bahan yang akan dipakai.
5. Kondisi Lingkungan
Suhu dan ventilasi ruang dimana keramik akan dipasang harus dijaga agar sesuai
dengan rekomendasi pabrik sehingga tidak mempengaruhi rekatan keramik.
6.4.2. Bahan/Produk
1. Kualitas Lantai keramik Roman dan granit Setara Granito
6.4.3. Pemasangan
1. Umum
a. Sebelum pekerjaan dimulai, lebih dahulu harus dipelajari dengan seksama
lokasi pemasangan keramik, kualitas, bentuk dan ukuran ubinnya dan kondisi
pekerjaan setelah studi diatas dilaksanakan, tentukan metoda persiapan
permukaan pemasangan ubin, joints dan curing, untuk diusulkan kepada Direksi
Lapangan.
b. Pemborong harus menyiapkan ‘tiling manual’, yang berisi uraian tentang bahan,
cara instalasi, sistim pengawasan, perbaikan/koreksi, perlindungan, testing dan
lain-lain untuk diperiksa dan disetujui Direksi Lapangan.
c. Sebelum instalasi dimulai, siapkan lay out nat-nat, hubungan dengan finishing
lain dan dimensi-dimensi joint, guna persetujuan Direksi/Perencana.
d. Pemilihan Tile Tile yang masuk ke tapak harus diseleksi, agar berkesesuaian
dengan ukuran, bentuk dan warna yang telah ditentukan.
e. Pemotongan Tile Ujung potongan tile harus dipoles dengan gurinda atau batu
2. L e v e l.
a. Kecuali ditentukan lain pada spesifikasi ini atau pada gambar, level yang
tercantum pada gambar adalah level finish lantai karenanya screeding dasar
harus diatur hingga memungkinkan pada tiles dengan ketebalan yang berbeda
permukaan finishnya terpasang rata.
b. Lantai harus benar-benar terpasang rata; baik yang ditentukan datar maupun
yang ditentukan mempunyai kemiringan.
c. Lantai yang ditentukan mempunyai kemiringan, keimiringan tidak boleh kurang
dari 25 mm pada jarak 1 m untuk area toilet. Sedangkan untuk area lain, tidak
boleh kurang dari 12 mm pada jarak 1 m. Kemiringan harus lurus hingga air
bisa mengalir semua tanpa meninggalkan genangan.
d. Jika ketebalan screed tidak memungkinkan untuk mendapatkan kemiringan
yang ditentukan, kontraktor harus segera melaporkan kepada Direksi untuk
mendapatkan jalan keluarnya.
3. Persiapan Permukaan
a. Kontraktor harus menyiapkan permukaan sehingga memenuhi syarat yang
diperlukan, sebelum memasang ubin/keramik.
b. Secara tertulis, kontraktor harus memberikan laporan kepada Direksi Lapangan
tiap kondisi yang menurut pendapatnya akan berpengaruh buruk pada
pelaksanaan pekerjaan.
c. Permukaan beton yang akan diplester untuk penempelan ubin/keramik, harus
dikasarkan dan dibersihkan dari debu dan bahan-bahan lepas lainnya. Sebelum
dilaksanakan plesteran, permukaan ini harus dibebaskan.
d. Penyimpangan kerataan permukaan beton tidak boleh lebih dari 5 mm untuk
jarak 2 m, pada semua arah, Tonjolan harus dibuang (Chip off) tekukan
kedalaman diisi dengan mortar (1 : 2), sehingga plesteran dasar (Setting bed)
mempunyai ketebalan yang sama
4. Pemasangan ubin keramik dinding di bagian dalam (internal)
a. Sebelum pemasangan dimulai, plesteran dasar dan ubin harus dibasahi. Pakai
benang untuk menentukan lay out ubin, yang telah ditentukan dan pasang
sebaris ubin guna jadi patokan untuk pemasangan selanjutnya.
b. Kecuali ditentukan lain pemasangan ubin harus dimulai dari bawah dan
dilanjutkan ke bagian atas.
c. Pada pemasangan keramik, tempelkan dibagian belakang keramik adukan dan
ratakan, kemudian ubin yang telah diberi adukan ini ditekankan ke plesteran
dasar. Kemudian permukaan ubin dipukul perlahan-lahan hingga mortar perekat
menutupi penuh bagian belakang ubin dan sebagian adukan tertekan keluar dari
tepi ubin.
d. Tiap hari pemasangan, tidak diperkenankan memasang tile dengan ketinggian
lebih dari ketentuan berikut:
• 1,2 m – 1,5 m, untuk tile tinggi 60 mm,
• 0,7 m -0,9 m, untuk tile tinggi 90 – 120 mm,
• Max 1,8 m, untuk semi porcelain tile.
e. Jika tile sudah terpasang, mortar yang berada di nat (joint) harus dibuang /
dikeluarkan dengan sikat atau cara lain yang tidak merusakkan permukaan tile.
Mortar yang mengotori permukaan tile harus dibuang dengan kain lap basah.
f. Pemasangan tile grout (pengisian nat) harus sesuai dengan ketentuan pabrik.
5. Pemasangan Ubin Keramik
a. Tile dipasang pada permukaan yang telah discreed. Komposisi adukan untuk
screeding:
• Area kering : 1 pc : 4 ps
• Area basah : 1 pc : 2 ps
b. Pada pemasangan di area yang luas, harus dilaksanakan secara kontinu. Dan
harus disediakan ‘Kepalaan’ (guide line course) pada interval 2,0 m – 2,5 m.
Pemasangan tile lainnya berpedoman pada guide line ini.
c. Kikis semua mortar yang mempel pada nat dan bersihkan ketika proses
pemasangan tile berlangsung. Pasangan tile tidak boleh diinjak dalam waktu
24 jam setelah pemasangan.
d. Nat-nat pada pemasangan tile harus diisi dengan bahan tile grout berwarna dan
kondisi pemasangan harus sesuai dengan rekomendasi pabrik.
6. Pemeriksaan (Inspection)
a. Rekatan (bond).
Ketika pelaksanaan pemasangan tile, ambil beberapa tile yang telah terpasang,
secara random, untuk memastikan bahwa adukan perekat telah merekat dengan
baik pada bagian belakang tile dan telah terpasang dengan baik.
b. Tension Test.
Tension test harus dilakukan pada pasangan ubin di dinding; terutama di
exterior. Test harus dilaksanakan pada area pekerjaan tiap tukang. Test
dilaksanakan tiap hari kerja dan sampel diambil secara random jika umur
pemasangan sample tidak lebih dari 5 hari, kekuatan rekatan harus minimal 3
kg/cm2.
6.4.4. Perlindungan dan Pembersihan
1. Perlindungan
a. Kontraktor harus melindungi ubin yang telah terpasang maupun
adukan perata dan harus mengganti, atas biaya sendiri kerusakan
yang terjadi, Penyerahan pekerjaan dilakukan dalam keadaan
bersih.
b. Setelah pemasangan, kontraktor harus melindungi tile lantai yang
telah terpasang. Jika mungkin dengan mengunci area tersebut.
Batasi lalu lintas diatasnya; hanya untuk yang penting saja.
2. Pembersihan
Secara prinsip, permukaan tile dibersihkan dengan air, menggunakan sikat, kain lap,
dan sebagainya. Tetapi jika area-area yang tidak bisa dibersihkan hanya dengan air,
pembersihan memakai campuran air dengan hidrochloric acid, perbandingan 30 : 1 Sebelum
pembersihan dengan asam ini, lindungi semua bagian yang memungkinkan akan berkarat atau
rusak oleh asam. Setalah dibersihkan dengan asam ini, bersihkan area ini dengan air biasa,
hingga tidak ada campuran asam yang tersisa.
6.5. PEKERJAAN KUSEN ALUMINIUM
6.5.1. Lingkup Pekerjaan
a. Pekerjaan ini dilakukan pada area sesuai dengan yang disebutkan/ ditunjukkan
dalam gambar kerja. Dalam hal ini termasuk pengadaan tenaga kerja, bahan-
bahan, alat-alat dan peralatan pembantu lainnya.
b. Warna dan corak bahan diajukan oleh Kontraktor dengan persetujuan
pengawas dan atau pemilik pekerjaan.
c. Kontraktor harus meneliti keadaan bidang kerja dan instalasi yang berkaitan
sebelum pekerjaan ini dimulai.
d. Apabila kondisi lapangan tidak memenuhi persyaratan untuk penyelesaian
pekerjaan secara sempurna, maka kontraktor harus memberitahukan secara tertulis
kepada konsultan pengawas.
e. Pekerjaan tidak boleh dimulai apabila kerusakan dan kekurangannya
belum diselesaikan.
6.5.2. Persyaratan Bahan
Bahan yang dipergunakan adalah bahan dengan kualitas baik dan memiliki spesifikasi
sebagaimana disebutkan dalam finishing schedule/ Bill of Quantity. Bahan sesuai
spesifikasi teknis. Bahan memiliki beberapa persyaratan, yaitu :
a. Kusen Aluminium dengan spesifikasi :
Bahan : Dari bahan alumunium framming sistem
dengan Ukuran 4” (4,4x10,2cm) tebal 1,3 mm.
Bentuk profil : Sesuai shop drawing yang disetujui Perencana
dan Pengawas untuk kusen, Pintu dan jendela.
Warna profil : Brown / coklat
Lebar profil : 4” (4,4 x 10,2 cm), (pemakaian lebar bahan
sesuai yang ditunjukkan dalam gambar)
Pewarnaan : Natural
Karet/Gasket : Gasket Neoprene, PVC, Santoprene, EPDM,
Kepadatan : Tahan Terhadap Perubahan Cuaca,
Sealent Dinding k : Silicon
: Type 60Sealent,
80 i h
Single Komponen
Screw : Bahan Steinless Steel
Angkur & : Bagian yang berhubungan dengan aluminium
Angkur dilapisi Galvanisasi s/d 18 micron. Bagian lain
Joint Sealer dib i l i antara
Sambungan ikprofilZihorizontal
Ch T
dengan
vertical diberi sealer yang berserat guna menutup
l h b fil b hi
b. Persyaratan bahan-bahan yang digunakan harus memenuhi uraian dan syarat dari
pekerjaan alumunium serta memenuhi ketentuan-ketentuan dari pabrik yang
bersangkutan.
c. Konstruksi kusen alumunium yang dikerjakan seperti yang ditunjukkan dalam
detail gambar termasuk bentuk dan ukurannya.
d. Ketahanan terhadap air dan angin untuk setiap tipe harus disertai hasil tes minimum
100 kg/m2.
e. Ketahanan terhadap udara tidak kurang dari 15 m2/hr dan terhadap tekanan air 15
kg/m2 yang harus disertai hasil tes.
f. Bahan yang akan diproses fabrikasi harus diseleksi terlebih dahulu sesuai dengan
bentuk toleransi ukuran, ketebalan, kesikuan, kelengkungan dan pewarnaan yang
disyaratkan.
g. Untuk keseragaman warna yang diisyaratkan, sebelum proses fabrikasi warna
profil-profil harus diseleksi secermat mungkin. Kemudian pada waktu fabrikasi
unit-unit, jendela, pintu partisi dll, profil harus diseleksi lagi warnanya sehingga
dalam tiap unit didapatkan warna yang sama
h. Pekerjaan memotong, punch dan drill, dengan mesin harus sedemikian rupa
sehingga diperoleh hasil yang telah dirangkai untuk jendela, dinding dan pintu
mempunyai toleransi ukuran sebagai berikut :
- Untuk tinggi dan lebar 1 mm.
- Untuk diagonal 2 mm.
i. Aksesoris
Sekrup dari stainless steel galvanized kepala tertanam, weather strip dari vinyl,
pengikat alat penggantung yang dihubungkan dengan alumunium harus ditutup
caulking dan sealant, angkur-angkur untuk rangka/ kusen alumunium terbuat dari
steel plate tebal 2-3 mm, dengan lapisan zink tidak kurang dari 13 micron sehingga
dapat bergeser.
j. Bahan Finishing.
Treatment untuk permukaan kusen jendela dan pintu yang bersentuhan dengan
bahan alkaline seperti beton, aduk atau plester dan bahan lainnya harus diberi
lapisan finish dari laquer yang jernih atau anti corrosive treatment dengan insulating
varnish seperti asphaltic varnish atau bahan insulation lainnya.
6.5.3. Pengerjaan
a. Semua pekerjaan dilaksanakan dengan mengikuti petunjuk gambar, uraian dan
syarat pekerjaan dan membuat contoh jadi untuk semua detail sambungan dan profil
alumunium yang berhubungan dengan sistem konstruksi bahan lain.
b. Pekerjaan kusen harus rapi dan dilakukan sesuai dengan yang dipersyaratkan
dari pabrik yang bersangkutan sehingga dapat diperoleh hasil pekerjaan bermutu
baik dan dapat tahan lama.
c. Pekerjaan kusen dilakukan dengan berkooordinasi terlebih dahulu dengan
pekerjaan-pekerjaan terkait.
d. Tempat penyimpanan barang harus terhindar dari genangan air, tidak lembab,
terhindar dari cuaca (panas matahari / air hujan) dan selalu bersih.
e. Tahap pemasangan kusen aluminium, meliputi :
1) Prioritas proses fabrikasi, harus sudah siap sebelum pekerjaan dimulai,
dengan membuat lengkap dahulu shop drawing dengan petunjuan Konsultan
Pengawas meliputi gambar denah, lokasi, merk, kualitas, bentuk dan ukuran.
2) Semua frame/ kusen dikerjakan secara fabrikasi dengan teliti sesuai dengan
ukuran dan kondisi lapangan agar hasilnya dapat dipertanggung jawabkan.
3) Pemotongan alumunium hendaknya dijauhkan dari material besi untuk
menghindarkan penempelan debu besi pada permukaannya. Didasarkan untuk
mengerjakan pada tempat yang aman dengan hati- hati tanpa menyebabkan
kerusakan pada permukaannya
4) Pengelasan dibenarkan menggunakan non-activated gas (argon) dari arah
bagian dalam agar sambungannya tidak tampak oleh mata.
5) Akhir bagian kusen harus disambung dengan kuat dan teliti dengan sekrup,
rivet, stap dan harus cocok. Pengelasan harus rapi untuk memperoleh kualitas
dan bentuk yang sesuai dengan gambar.
6) Angkur-angkur untuk rangka/ kusen alumunium terbuat dari steel setebal 2-3
mm dan ditempatkan pada interval 600 mm.
7) Penyekrupan harus dipasang tidak terlihat dari luar dengan sekrup anti karat/
stainless steel, sedemikian rupa sehingga hair line dari tiap sambungan harus
kedap air dan memenuhi syarat kekuatan terhadap air sebesar 1.000 Kg/cm2.
Celah antara kaca dan sistem kusen alumunium harus ditutup oleh sealant.
8) Untuk fitting hard ware dan reinforcing material yang mana kusen alumunium
akan kontak dengan besi, tembaga atau lainnya maka permukaan metal yang
bersangkutan harus diberi lapisan chromium untuk menghindari kontak korosi.
9) Toleransi Pemasangan kusen alumunium di satu sisi dinding adalah 10- 25 mm
yang kemudian diisi dengan beton ringan/grout.
10) Untuk memperoleh kekedapan terhadap kebocoran udara terutama pada ruang
yang dikondisikan hendaknya ditempatkan mohair dan jika perlu dapat
digunakan synthetic rubber atau bahan dari synthetic resin. Penggunaan ini pada
swing door dan double door.
11) Sekeliling tepi kusen yang terlihat berbatasan dengan dinding agar diberi sealant
supaya kedap air dan kedap suara.
f. Lokasi Pengerjaan sesuai dengan gambar pada Gambar Kerja dan Bill of Quantity.
6.5.4. Pengerjaan
g. Semua pekerjaan dilaksanakan dengan mengikuti petunjuk gambar, uraian dan
syarat pekerjaan dan membuat contoh jadi untuk semua detail sambungan dan profil
alumunium yang berhubungan dengan sistem konstruksi bahan lain.
h. Pekerjaan kusen harus rapi dan dilakukan sesuai dengan yang dipersyaratkan
dari pabrik yang bersangkutan sehingga dapat diperoleh hasil pekerjaan bermutu
baik dan dapat tahan lama.
i. Pekerjaan kusen dilakukan dengan berkooordinasi terlebih dahulu dengan
pekerjaan-pekerjaan terkait.
j. Tempat penyimpanan barang harus terhindar dari genangan air, tidak lembab,
terhindar dari cuaca (panas matahari / air hujan) dan selalu bersih.
k. Tahap pemasangan kusen aluminium, meliputi :
12) Prioritas proses fabrikasi, harus sudah siap sebelum pekerjaan dimulai,
dengan membuat lengkap dahulu shop drawing dengan petunjuan Konsultan
Pengawas meliputi gambar denah, lokasi, merk, kualitas, bentuk dan ukuran.
13) Semua frame/ kusen dikerjakan secara fabrikasi dengan teliti sesuai dengan
ukuran dan kondisi lapangan agar hasilnya dapat dipertanggung jawabkan.
14) Pemotongan alumunium hendaknya dijauhkan dari material besi untuk
menghindarkan penempelan debu besi pada permukaannya. Didasarkan untuk
mengerjakan pada tempat yang aman dengan hati- hati tanpa menyebabkan
kerusakan pada permukaannya
15) Pengelasan dibenarkan menggunakan non-activated gas (argon) dari arah
bagian dalam agar sambungannya tidak tampak oleh mata.
16) Akhir bagian kusen harus disambung dengan kuat dan teliti dengan sekrup,
rivet, stap dan harus cocok. Pengelasan harus rapi untuk memperoleh kualitas
dan bentuk yang sesuai dengan gambar.
17) Angkur-angkur untuk rangka/ kusen alumunium terbuat dari steel setebal 2-3
mm dan ditempatkan pada interval 600 mm.
18) Penyekrupan harus dipasang tidak terlihat dari luar dengan sekrup anti karat/
stainless steel, sedemikian rupa sehingga hair line dari tiap sambungan harus
kedap air dan memenuhi syarat kekuatan terhadap air sebesar 1.000 Kg/cm2.
Celah antara kaca dan sistem kusen alumunium harus ditutup oleh sealant.
19) Untuk fitting hard ware dan reinforcing material yang mana kusen alumunium
akan kontak dengan besi, tembaga atau lainnya maka permukaan metal yang
bersangkutan harus diberi lapisan chromium untuk menghindari kontak korosi.
20) Toleransi Pemasangan kusen alumunium di satu sisi dinding adalah 10- 25 mm
yang kemudian diisi dengan beton ringan/grout.
21) Untuk memperoleh kekedapan terhadap kebocoran udara terutama pada ruang
yang dikondisikan hendaknya ditempatkan mohair dan jika perlu dapat
digunakan synthetic rubber atau bahan dari synthetic resin. Penggunaan ini pada
swing door dan double door.
22) Sekeliling tepi kusen yang terlihat berbatasan dengan dinding agar diberi sealant
supaya kedap air dan kedap suara.
l. Lokasi Pengerjaan sesuai dengan gambar pada Gambar Kerja dan Bill of Quantity.
6.6. PEKERJAAN DAUN PINTU
6.6.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan pembuatan kusen aluminum dan daun pintu/jendela meliputi seluruh
detail yang dinyatakan / ditunjukkan dalam gambar.
6.6.2. Persyaratan Bahan
a. Bahan kusen dari aluminium
b. Ukuran finish kusen sesuai detail gambar.
c. Bahan-bahan penutup daun pintu/jendela adalah :
- Panel penutup daun pintu adalah kaca bening 5 mm
- Rangka aluminium warna hitam.
d. Kesemua bahan di atas harus disetujui oleh Konsultan Pengawas, Perencana dan
Pemberi Tugas.
6.6.3. Syarat-syarat Pelaksanaan
a. Sebelum melaksanakan pekerjaan, Kontraktor diwajibkan untuk meneliti gambar-
gambar yang ada dan kondisi di lapangan (ukuran dan lubang-lubang), termasuk
mempelajari bentuk, pola, layout / penempatan, cara pemasangan, mekanisme dan
detail-detail sesuai gambar.
b. Sebelum pemasangan kusen harus dipastikan ukuran dan kerataan area yang akan
dipasang kusen & pintu
c. Harus diperhatikan semua sambungan dalam pemasangan, baut, angker-angker dan
penguat lain yang diperlukan hingga terjamin kekuatannya dengan memperhatikan /
menjaga kerapihan terutama untuk bidang-bidang tampak tidak boleh ada lubang-
lubang atau cacat bekas penyetelan.
d. Kusen yang terpasang harus sesuai petunjuk gambar dan diperhatikan ukuran, bentuk
profil, type kusen dan arah pembukaan pintu / jendela.
e. Celah/Gap antara kusen & tembok harus di silent sesuai warna kusennya dengan rapi
tidak boleh tercecer
f. Detail kusen dan sambungan dengan material lain harus disesuaikan dengan type pintu
/ jendela yang akan terpasang.
g. Pembuatan dan penyetelan / pemasangan kusen-kusen harus lurus dan siku, sehingga
mekanisme pembukaan pintu / jendela bekerja dengan sempurna.
h. Semua kusen yang melekat pada dinding beton / bata diberi penguat baut & fisher
diameter 8 mm. Pada setiap sisi kusen pintu yang tegak dipasang minimal 3 baut &
fisher dan untuk sisi kusen jendela 2 angker.
i. Setelah kusen dan daun pintu/jendela dipasang, antara kusen dan daun pintu/jendela
tidak terjadi gap/jarak yang besar, maksimal toleransi adalah 3mm.
j. Setelah terpasang perlu diberi pelindung terhadap benturan dan pengotoran dari
pelaksanaan pekerjaan lain.
6.7. PEKERJAAN PLAFOND GYPSUM
6.7.1. Umum
1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini dilakukan meliputi pemasangan plafond yang disebutkan/ditunjukkan
dalam gambar dan sesuai petunjuk Konsultan MK dan atau Pemberi Tugas
2. Pekerjaan yang berhubungan :
• Pekerjaan kayu kasar
• Pekerjaan Pengecatan
• Pekerjaan Logam non Struktur
• Pekerjaan Mekanikal
• Pekerjaan Elektrikal
3. Standard
ANSI : A 42.4 - Interior Lathing and Furring
4. Persetujuan
a. Sebelum pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor harus memberikan contoh jenis
langit-langit yang dipakai, lengkap dengan brosur dan syarat pelaksanaan dari
pabrik.
b. Kontraktor harus menyediakan shop drawing yang memperlihatkan dengan
jelas hubungan langit-langit satu dengan lainnya tanpa naad dan hubungannya
dengan lampu, AC dan lain-lain.
6.7.2. Bahan/Produk
1. Bahan Rangka Full System
• Rangka/gantungan dari metal produk/merk Jaya Board type Full System
• Sebagai rangka langit-langit digunakan rangka Hollow.
• Bahan: Hollow Galvalum 4x4 tebal 0.35 cm anti karat.
• Memenuhi persyaratan SII 0137-80/SII 0884-83, JAPAN Standard: JIS
G3302. American Standard: ASTM A.525/1.526/A.527/A.528
• Lapisan pelindung:min. 15 micron
2. Gypsum board tebal 9 mm setara Jaya Board .
3. List plafond: gypsum profil 10 cm
6.7.3. Pelaksanaan
1. Rangka hollow disusun sejajar dengan bidang Gypsum yang akan dipasang, dengan
jarak mak. 60 cm, dipasang menerus, tidak terputus.
2. Rangka hollow pada arah tegak lurus disusun sejajar, jarak max. 120 cm.
3. Suspension road clamp dipasang pada hollow, jarak min. 120 cm.
4. Seluruh sisi bagian bawah rangka langit-langit harus diratakan, pola pemasangan
rangka/penggantung harus disesuaikan dengan detail gambar serta hasil pemasangan
harus rata/tidak melendut.
5. Semua ukuran dalam gambar adalah ukuran jadi (finish).
6. Pada Pekerjaan langit-langit ini perlu diperhatikan pekerjaan elektrikal dan
perlengkapan instalasi lain yang teletak di atas langit-langit. Untuk detail
pemasangan harus konsultansi dengan Supervisi.
7. Bidang pemasangan langit-langit harus rata/waterpass, jarak pemasangan naad
dibuat 0,5 cm atau sesuai dengan detail gambar. Naad harus lurus dan sama lebar,
pada pertemuan harus saling berpotongan tegak lurus satu sama lain.
8. Rangka langit-langit besi hollow dengan penggantung besi bulat diameter 10 mm
yang dilengkapi dengan mur dan klem, penggantung-penggantung terikat kuat pada
beton, dinding atau rangka baja yang ada.
9. Rangka langit-langit dipasang setelah sisi bagian bawah diratakan, pemasangan
sesuai dengan pola yang ditunjukkan/disebutkan dalam gambar dengan
memperhatikan modul pemasangan penutup langit-langit yang dipasangkan.
10. Bidang pemasangan bagian rangka langit-langit harus rata, tidak cembung, kaku dan
kuat, kecuali bila dinyatakan lain, misal: permukaan merupakan bidang miring/tegak
sesuai yang ditunjukkan dalam gambar.
11. Setelah seluruh rangka langit-langit terpasang, seluruh permukaan rangka harus rata,
lurus dan waterpas, tidak ada bagian yang bergelombang, dan batang-batang rangka
harus saling tegak lurus.
12. Bahan penutup langit-langit adalah accoustic dengan mutu bahan seperti yang telah
dipersyaratkan dengan pola pemasangan sesuai yang ditunjukkan dalam gambar.
13. Pertemuan antara bidang langit-langit dan dinding, digunakan bahan seperti yang
ditunjukkan dalam gambar.
14. Hasil pemasangan penutup langit-langit harus rata, tidak melendut.
15. Seluruh antara permukaan langit-langit dan dinding dipasang list profil dari bahan
accoustic dengan bentuk dan ukuran sesuai gambar.
16. Accoustic board yang dipasang adalah accoustic board yang telah dipilih dengan
baik, bentuk dan ukuran masing-masing unit sama, tidak ada bagian yang retak,
gompal atau cacat-cacat lainnya dan telah mendapat persetujuan dari Konsultan MK
dan atau Pemberi Tugas.
6.8. PEKERJAAN KUNCI DAN PENGGANTUNG
6.8.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, biaya, peralatan dan alat-
alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini, hingga dapat tercapai hasil
pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna.
Meliputi pengadaan, pemasangan, pengamanan dan perawatan dari seluruh alat-alat
yang dipasang pada daun pintu dan pada daun jendela serta seluruh detail yang
disebutkan/ditentukan dalam gambar.
Pekerjaan seksi lain yag berkaitan :
- Pekerjaan kusen
- Pekerjaan pintu
- Pekerjaan lantai
6.8.2. Persyaratan Bahan
a. Bahan yang dipergunakan adalah bahan dengan kualitas baik dan memiliki
spesifikasi sebagaimana disebutkan dalam gambar kerja dan Bill of Quantity.
Bahan yang digunakan :
1) Lockcase Besar
2) Handel Lever + Mortis Lock Kunci Handle Set
3) Engsel Pintu Ess
4) Door Closer Warna Silver
b. Semua hardware dalam pekerjaan ini, dari produk yang bermutu baik, seragam
dalam pemilihan warnanya serta dari bahan-bahan yang telah disetujui Direksi.
c. Mekanisme kerja dari semua peralatan harus sesuai dengan ketentuan gambar.
d. Semua anak kunci harus dilengkapi dengan tanda pengenal terbuat dari pelat
aluminium yang tertera nomor pengenalnya.
e. Seluruh kunci pintu yang akan dipasang harus direncanakan Setiap kunci pintu
dilengkapi 3 (tiga) buah anak kunci.
f. Kunci tanam, harus terpasang kuat pada rangka daun pintu.
g. Setelah kunci terpasang, noda-noda bekas cat atau bahan finish lainnya yang
menempel pada kunci harus dibersihkan dan dihilangkan sama sekali.
h. Pemasangan door closer pada rangka kusen dan daun pintu, diatur sedemikian rupa
sehingga pintu selalu menutup rapat pada kusen pintu, serta dapat berfungsi dengan
baik.
6.8.3. Syarat Teknis Pelaksanaan Pekerjaan
a. Semua peralatan yang akan digunakan dalam pekerjaan ini, sebelum dipasang
terlebih dahulu diserahkan contoh-contohnya kepada Direksi/ Pengawas untuk
mendapatkan persetujuan. Pengajuan / penyerahan harus disertai brosur/spesifikisi
dari pabrik yang bersangkutan.
b. Engsel atas dipasang tidak lebih dari 28 cm (as) dari sisi atas pintu ke bawah. Engsel
bawah dipasang tidak lebih dari 32 cm (as) dari permukaan lantai ke atas. Engsel
tengah dipasang pada jarak 20 cm (as) dibawah engsel atas.
c. Penarik pintu (handle) dipasang 100 cm (as) dari permukaan lantai setempat.
d. Posisi ‘lock’ dan ‘latch’ harus diajukan oleh Kontraktor kepada Direksi untuk
mendapatkan persetujuan.
e. Door closer yang digunakan type hydrolic, automatic back chek dengan 'adjustable
force'. Pengatur kecepatan closing dan latch, dikehendaki jenis "holdopen”, yaitu
pintu dapat menutup secara regular dan dapat berhenti dalam posisi terbuka dengan
sudut buka tertentu seperti yang dikehendaki dalam ruang-ruang yang
membutuhkan seperti yang tertera pada pelengkap gambar.
6.9. PEKERJAAN PLESTERAN
6.9.1. Lingkup Pekerjaan
a. Lingkup pekerjaan
Bagian ini meliputi seluruh pekerjaan plesteran dan kebutuhan persyaratan yang
tercantum dibawah ini :
- Untuk semua plesteran dinding biasa.
b. Pekerjaan seksi lain yang berkaitan.
- Dasar ukuran tinggi dan ukuran-ukuran pokok.
- Pengukuran dan papan bangunan.
6.9.2. Kontrol dan Batasan
Pekerjaan plesteran harus dilaksanakan oleh Kontraktor dengan mengikuti syarat yang
tercantum di dalam RKS ini, PUBI 1982, SII.0013-81, PUBI 1970 dan semua
petunjuk yang disampaikan oleh Direksi/Konsultan Manajemen Konstruksi selama
berlangsungnya pekerjaan.
6.9.3. Persyaratan Bahan
a. Semen Portland
Semen yang digunakan adalah semen type I, yaitu semen Portland untuk penggunaa
umum yang tidak memerlukan persyaratan- persyaratan khusus seperti yang
disyaratkan pada jenis lain (SII0013-81).
b. Pasir
Pasir haruslah mempunyai gradasi yang baik dan kekerasan yang memungkinkan
untuk menghasilkan adukan yang baik. Pasir untuk plesteran harus diayak cukup
halus, dan pasir laut atau pasir yang memiliki kandungan tanah tidak diperkenankan
untuk digunakan. Pasir yang digunakan merupakan pasir Lumajang atau pasir
Kediri.
c. Air
Air yang digunakan harus air tawar yang bersih dan tidak mengandung minyak,
asam alkali, dan bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang dapat mengurangi
mutu pekerjaan.
6.9.4. Persyaratan Campuran Plesteran.
a. Adukan yang digunakan untuk plesteran adalah:
- Plesteran dinding non traasram biasa adalah campuran 1 PC : 4 Pasir b) Acian,
hanya digunakan pada dinding-dinding terplester yang akan dicat. Formula
acian adalah sebagai berikut : 1 PC dipakai pada dinding dinding terplester yang
akan dicat
- Cara dan alat yang dipakai untuk mencampur haruslah sedemikan rupa sehingga
jumlah dari setiap bahan adukan bisa dikontrol dan ditentukan secara tepat
sesuai persetujuan Direksi. Buat adukan dalam jumlah yang dapat dipakai
habis dalam waktu 45 menit. Adukan/Plesteran dapat dipakai sampai batas
adukan/plesteran tidak dapat lagi diolah (lebih kurang 90 menit setelah adukan
jadi). Pemakaian kembali adukan tersebut tidak diperkenankan. Kotak untuk
mengaduk harus dibersihkan setiap akhir dari hari kerja.
6.9.5. Penyelenggaraan Pekerjaan
a) Sebelum pekerjaan plesteran dikerjakan, semua bidang yang akan diplester harus
disiram air sampai jenuh, dan siar-siarnya telah dikeruk sedalam lebih kurang 1 cm
b) Pelaksanaan pekerjaan plesteran dapat dilaksanakan setelah pipa-pipa air dan listrik
sudah terpasang.
c) Sebelum melanjutkan ke pekerjaan acian, permukaan plesteran telah rata, lurus dan
tegak satu sama lain. Penggunaan mistar perata kayu (belabas) sangat dianjurkan.
d) Merupakan permukaan plesteran basah (bukan dibasahi). Tidak dibenarkan
meninggalkan pekerjaan plesteran sampai kering sebelum dilanjutkan dengan
pekerjaan acian.
e) Sedapat mungkin mempergunakan mesin-mesin pengaduk (molen) dan peralatan
yang memadai. Persiapkan dan bersihkan permukaan- permukaan yang akan
diplester, dari kotoran-kotoran dan bahan bahan lain yang dapat merusak plesteran.
Tukang- tukang plester yang dinilai tidak cakap, karena pekerjaan yang buruk harus
diganti dengan yang baik.
f) Plesteran/adukan yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis ini harus disingkirkan
dari pekerjaan.
g) Pekerjaan plesteran harus rata pada bidang pemasangannya, dan pekerjaan yang
tidak rata harus diperbaiki sesuai perintah Direksi Teknik.
h) Tebal plesteran yang dimaksud, kecuali bila dinyatakan lain adalah 10 mm dengan
toleransi maksimum 15 mm. Bilamana ketebalan toleransi ini ternyata dilampaui
karena kondisi permukaan dinding harus diperbaiki.
i) Untuk bidang yang akan dipasangi dinding keramik, maka permukaan pleseteran
harus dikasarkan dan tidak perlu di aci, untuk menjamin kelekatan yang sempurna
antara tembok dan keramik.
6.10. PEKERJAAN ACIAN DINDING BATA RINGAN
6.10.1. Lingkup Pekerjaan
Bagian ini meliputi seluruh pekerjaan plesteran dan kebutuhan persyaratan yang
tercantum dibawah ini:
1) Untuk semua plesteran yang disebutkan dalam gambar kerja.
2) Pekerjaan seksi lain yang berkaitan.
3) Dasar ukuran tinggi dan ukuran-ukuran pokok.
4) Pengukuran dan papan bangunan.
5) Sebaiknya saat memulai suatu pekerjaan plesteran hendaknya dinding batu bata
ringan disiram terlebih dahulu dengan air agar semen plesteran cepat menempel
di dinding. Setelah seluruh dinding diplester, diamkan 1 x 24 jam (tanpa
membutuhkan waktu beberapa hari) agar kadar airnya cepat hilang.
6.10.2. Syarat-Syarat Plesteran Tembok Dinding
a. Tembok dinding yang akan diplester harus datar.
b. Sebelum memulai memplester tembok harus digaruk dengan sapu lidi dan
dibersihkan dengan air tawar (air minum).
c. Tebal lapis plester dengan semen hanya 8 mm – 10 mm
d. Adukan yang dipakai : semen dan hanya perlu ditambahkan air secukupnya tanpa
material lainnya seperti pasir dan lain-lainnya
6.10.3. Peralatan dan Bahan
a. Semen Portland Komposit (PCC)
b. Timba 2 pcs.
c. Cetok.
d. Roskam ( kasut ) yang terbuat dari steel ( baja ) atau pvc bias juga yang dari kayu.
e. Kertas bekas bungkus semen. f) Kuas ukuran 3 dim.
6.10.4. Syarat Teknis Pelaksanaan Pekerjaan
a. Tembok yang akan diplester dibagi dalam beberapa bagian (petak- petak).
b. Pada keempat sudut petak tembok dipasang paku dengan kepala menonjol .± 3 cm
dari bidang tembok, untuk merentangkan benang. c) Jarak benang dari sisi tembok
1,5 cm dan bila ada tembok yang menempel pada benang, maka temboknya harus
dipahat dulu supaya didapat plester sama tebal dan rata.
c. Di tempat-tempat tertentu yaitu pada paku dan rentangan benang dibuat plester
utama yang berhimpit dengan benang-benang tadi, sebagai standar tebal plester.
d. Plester utama yang vertikal ini dibuat tiap-tiap jarak 1,00 meter. Setelah ini selesai,
benang dapat dilepas.
e. Diantara 2 lajur plester utama di isi penuh dengan adukan, kemudian digores
dengan penggaris besar dan lurus mulai dari bawah ke atas untuk memperoleh
bidang yang rata.
f. Rusuk-rusuk dan sudut pertemuan plester tembok harus merupakan sudut
siku ( = 90°) dan ini harus diplester.
6.11. PEKERJAAN KACA DAN CERMIN ( Ashahimas / Mulia Glass )
6.11.1. Umum
1. Lingkup Pekerjaan
a. Menyedian tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat bantu lainnya untuk
melaksanakan pekerjaan sehingga dapat tercapai hasil pekerjaan yang bermutu
baik dan sempurna.
b. Pekerjaan kaca dan cermin meliputi seluruh detail yang disebutkan/ ditunjukkan
dalam detail gambar.
2. Pekerjaan yang berhubungan
a. Pekerjaan Kusen Aluminium
b. Pekerjaan Pintu dan Jendela Rangka Alumnium
3. Standard :
a. ANSI : American National Standard Institute. 97.1-1975- Safety Mateliars Used
in Building
b. ASTM : American Society for Testing and Materials . E6 – P3 Proposed
Specification for Sealed Insulating Glass Units
4. Persyaratan Bahan
a. Kaca adalah benda terbuat dari bahan glass yang pipih pada umumnya
mempunyai ketebalan yang sama, mempunyai sifat tembus cahaya, dapat
diperoleh dari proses-proses tarik tembus cahaya, dapat diperoleh dari proses-
proses tarik, gilas dan pengembangan (Float glass).
b. Toleransi lebar dan panjang.
Ukuran panjang dan lebar tidak boleh melampaui toleransi seperti yang
ditentukan oleh pabrik.
c. Kesikuan
Kaca lembaran yang berbentuk segi empat harus mempunyai sudut serta tepi
potongan yang rata dan lurus, toleransi kesikuan maximum yang diperkenankan
adalh 1,5 mm per meter.
d. Cacat-cacat.
• Cacat-cacat lembaran bening yang diperbolehkan harus sesuai ketentuan
dari pabrik.
• Kaca yang digunakan harus bebas dari gelembung (ruang-ruang yang berisi
gas yang terdapat pada kaca).
• Kaca digunakan harus bebas dari komposisi kimia yang dapat
mengganggu pandangan.
• Kaca harus bebas dari keretakan (garis-garis pecah pada kaca baik sebagian
atau seluruh tebal kaca).
• Kaca harus bebas dari gumpilan tepi (tonjolan pada sisi panjang dan lebar
kearah luar/masuk).
• Harus bebas dari benang (string) dan gelombang (wave) benang adalah
cacat garis timbul yang tembus pandangan, gelombang adalah permukaan
kaca yang berobah dan mengganggu pandangan.
• Harus bebas dari bintik-bintik (spots), awan (cloud) dan goresan (scratch).
• Bebas lengkungan (lembaran kaca yang bengkok).
• Mutu kaca lembaran yang digunakan AA.
• Ketebalan kaca lembaran yang digunakan tidak boleh melampaui toleransi
yang ditentukan oleh pabrik. Untuk ketebalan kaca 5 mm kira-kira 0,3 mm.
6.11.2. Bahan/Produk
1. Bahan kaca dan cermin, harus sesuai SII 0189/78 dan PBVI 1982. Kaca bening dari
jenis sheet glass dengan ketebalan 3 mm dan 5 mm.
2. Semua bahan kaca dan cermin sebelum dan sesudah terpasang harus mendapat
persetujuan Perencana/SUPERVISI.
3. Sisi kaca yang tampak maupun yang tidak tampak akibat pemotongan, harus digurinda/
dihaluskan, hingga membentuk tembereng.
6.11.3. Syarat Pelaksanaan
1. Semua pekerjaan dilaksanakan dengan mengikuti petunjuk gambar, uraian dan syarat
pekerjaan dalam buku ini.
2. Pekerjaan ini memerlukan keakhlian dan ketelitian.
3. Semua bahan yang telah terpasang harus disetujui oleh Perencana/SUPERVISI.
4. Bahan yang telah terpasang harus dilindungi dari kerusakan dan benturan, dan diberi
tanda untuk mudah diketahui, tanda-tanda tidak boleh menggunakan kapur. Tanda-
tanda harus dibuat dari potongan kertas yang direkatkan dengan menggunakan
lem aci.
5. Pemotongan kaca harus rapi dan lurus, diharuskan menggunakan alat-alat
pemotong kaca khusus.
6. Pemotongan kaca harus disesuaikan ukuran rangka, minimal 10 cm masuk kedalam
alur kaca pada kusen.
7. Pembersih akhir dari kaca harus menggunakan kain katun yang lunak dengan
menggunakan cairan pemberih kaca.
8. Hubungan kaca dengan kaca atau kaca dengan material lain tanpa melalui kusen, harus
diisi dengan lem silicon. Warna trasnparant cara pemasangan dan persiapan- persiapan
pemasangan harus mengikuti petunjuk yang dikeluarkan pabrik.
9. Cermin dan kaca harus terpasang rapi, sisi tepi harus lurus dan rata, tidak
diperkenankan retak dan pecah pada sealant/tepinya, bebas dari segala noda dan bekas
[Link] yang terpasang sesuai dengan contoh yang telah diserahkan dan semua
terpasang harus disetujui Perencana/Konsultan Pengawas, jenis cermin sesuai dengan
yang telah disebutkan dalam syarat pemakaian bahan material dalam uraian dan syarat
pekerjaan tertulis ini type VVV polished, tebal 5 mm.
10. Pemotongan cermin harus rapi dan lurus, diharuskan menggunakan alat potong kaca
khusus.
11. Pemasangan Cermin :
a. Cermin ditempel dengan dasar kayu lapis jenis MR yang disekrupkan pada
kios-kios di dinding, kemudian dilapis dengan plastik busa tebal 1 cm.
Pemasangan cermin menggunakan penjepit aluminium siku atau sekrup- sekrup
kaca yang mempunyai dop penutup stainless steel.
b. Setelah terpasang cermin harus dibersihkan dengan cairan pembersih yang
mengandung ammonia.
6.12. PEKERJAAN PAPAN KAYU
6.12.1. Umum
a. Uraian
Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, peralatan dan bahan bahan yang
berhubungandengan pekerjaan kayu, baik kayu kasar maupun kayu halus dalam hubungannya
dengan gambar dan spesifikasi, dan pelaksanaan pekerjaan hingga selesai sesuai dengan
gambar rencana.
b. Standar-standar yang dipakai
Pada setiap tahapan pekerjaan kayu yang ditentukan harus dari kualitas yang baik, tidak
ada getah,celah, mata kayu yang lepas atau mati, susut pinggir, bekas dimakan bubuk dan
cacat-cacat lainnya. mutu dan kualitas kayu yang dipakai sesuai dengan persyaratan NI-5,
PKKI Tahun 1961 dan persyaratan-persyaratan lain yang berkaitan dengan konstruksi kayu.
c. Kualitas Kayu
Jenis dan klasifikasi Kayu kelas II, digunakan untuk pekerjaan kayu halus seperti
pada gambar rencana. Semua permukaan kayu halus yang akan kelihatan permukaannya bila
sudah jadi (finish), harus dikerjakan dengan baik. Semua kayu untuk pekerjaan kayu kasar
harus dihaluskan, kecuali ditentukan lain. Bagi permukaan mulus dan keras yang dapat
diterima.
d. Kualitas Paku
Pada setiap sambungan kayu diberikan penguat menggunakan paku. Paku yang digunakan
yaitu paku beton. Sebelum digunakan, paku harus diberikan pelapis anti karat terlebih dahulu.
6.12.2. Persyaratan Bahan
Semua kayu untuk jenis yang ditentukan harus dari kualitas yang baik, tidak ada getah,celah,
mata kayu yang lepas atau mati, susut pinggir, bekas dimakan bubuk dan cacat-cacat lainnya.
mutu dan kualitas kayu yang dipakai sesuai dengan persyaratan NI-5, PKKI Tahun 1961 dan
persyaratan-persyaratan lain yang berkaitan dengan konstruksi kayu.
Jenis dan klasifikasi Kayu kelas II, digunakan untuk pekerjaan kayu halus seperti pada gambar
rencana. Semua kayu untuk pekerjaan kasar harus dihaluskan, kecuali ditentukan lain. Bagi
permukaan mulus dan keras yang dapat diterima.
6.13. PEKERJAAN PASANGAN BATU TEMPEL (Batu Alam)
6.13.1 Umum
1. Gambar kerja atau shop drawing finishing pola batu alam yang sudah disetujui oleh MK
/ konsultan.
2. Spesifikasi material batu alam yang dipakai
3. Sample material dan mock up
6.13.1 Alat dan Bahan
1. Sipatan
2. Meteran
3. Palu
4. Pahat Kecil
5. Benang
6. Waterpass
7. Gerinda potong
8. Paku
9. Ember
6.13.2 Langkah Kerja
1. Persiapkan dinding yang akan ditempel dengan batu alam dengan cara mengupas atau
membobok dinding secara acak. Hal ini bertujuan untuk memperkasar permukaan
dinding sehingga adukan semen dapat merekat dengan batu alam secara sempurna.
2. Bidang dinding yang akan dipasang batu alam sebaiknya tidak di plester untuk
mempermudah mengatur kerataan permukaan batu alam yang permukaanya bervariasi.
3. Permukaan bidang dinding dibersihkan dari kotoran / debu, bekas adukan, minyak, dll.
4. Terlebih dahulu surveyor akan memberikan marking untuk menentukan starting point
pemasangan batu alam dengan pola sesuai gambar kerja. Lakukan pengukuran untuk
memasang benang referensi kerja, baik posisi vertikal maupun horizontal, serta
ketebalan finish permukaan dari bidang yang akan dipasang batu alam.
5. Seleksi material batu alam dengan mengacu pada keseragaman dimensi, ketebalan
material serta keserasian corak dan warna. Harus dipastikan juga bahwa batu alam
berbentuk siku, apabila tidak siku maka dilakukan pemotongan dengan gerinda potong
agar siku. Sebelum dipasang batu alam harus dibasahi atau direndam dengan air agar
menjaga kelembabannya. Batu alam memiliki pori yang besar, sehingga apabila terlalu
kering akan menyerap air semen di dalam adukan.
6. Sebelum adukan semen pasir ditebar, permukaan bidang dinding disiram air terlebih
dahulu, kemudian lakukan pemasangan kepalaan horizontal sesuai dengan marking
starting point dengan menggunakan adukan semen pasir sesuai ketentuan. Kepalaan
horizontal ini nantinya digunakan sebagai acuan untuk pemasangan berikutnya.
7. Pemasangan selanjutnya dilakukan dengan memasang benang sebagai acuan untuk
mendapatkan pasangan batu alam yang rata dan lurus. Jangan lupa nat atau gap antar
batu alam diberi ganjal agar batu alam yang belum merekat dengan baik tidak merosot.
8. Pada saat pemasangan batu alam untuk dinding luar, batu alam harus ditekan dengan
tangan atau dipukul menggunakan palu karet untuk mendapatkan permukaan yang sama
rata. Selanjutnya dilakukan pengecekan dengan waterpass/jidar untuk memastikan
kerataan permukaan batu alam yang telah dipasang.
9. Setelah permukaan batu alam selesai, biarkan beberapa saat untuk mengeluarkan udara
yang ada didalam pasangan batu alam. Setelah itu barulah dilanjutkan pekerjaan
perapian / finishing nat.
10. Pekerjaan terakhir setelah pemasangan selesai yaitu pembersihan sisa-sisa adukan yang
menempel pada permukaan material. Jika diperlukan, pergunakan sikat ijuk dan air
deterjen untuk membersihkan permukaan batu alam.
11. Langkah terakhir dari proses pemasangan batu alam adalah dengan epoxy pelindung /
coating anti lumut yang transparan.
6.14. PEKERJAAN KUSEN KAYU
6.14.1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan refinish kusen kayu dan daun pintu/jendela meliputi seluruh detail yang
dinyatakan / ditunjukkan dalam gambar.
6.14.2. Persyaratan Bahan
a. Kusen existing kayu
b. Finishing ulang & perapihan kusen dengan cat sesuai detail gambar.
c. Bahan daun pintu adalah :
- Panel penutup daun pintu double plywood lapis hpl taco/setara.
- Rangka kayu solid.
d. Kesemua bahan di atas harus disetujui oleh Konsultan Pengawas, Perencana dan
Pemberi Tugas.
e. Accessories daun pintu/jendela lihat di pasal pekerjaan Hardware.
6.14.3. Syarat-syarat Pelaksanaan
a. Sebelum melaksanakan pekerjaan, Kontraktor diwajibkan untuk meneliti gambar-
gambar yang ada dan kondisi di lapangan (ukuran dan lubang-lubang), termasuk
mempelajari bentuk, pola, layout / penempatan, cara pemasangan, mekanisme dan
detail-detail sesuai gambar.
b. Sebelum pemasangan pintu harus dipastikan ukuran, lurus atau tidaknya [Link]
harus sudah difinishing.
c. Pembuatan dan penyetelan / pemasangan kusen-kusen harus lurus dan siku, sehingga
mekanisme pembukaan pintu / jendela bekerja dengan sempurna.
d. Setelah kusen dan daun pintu/jendela dipasang, antara kusen dan daun pintu/jendela
tidak terjadi gap/jarak yang besar, maksimal toleransi adalah 3mm.
e. Setelah terpasang perlu diberi pelindung terhadap benturan dan pengotoran dari
pelaksanaan pekerjaan lain.
BAB VII
PEKERJAAN Mechanical, Electrical And Plumbing
(MEP)
7.1. PEKERJAAN SANITAIR
7.1.1. Umum
1. Lingkup Pekerjaan
a. Termasuk dalam pekerjaan pemasangan sanitair ini adalah penyediaan tenaga
kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat bantu lainnya yang digunakan dalam
pekerjaan ini hingga tercapai hasil pekerjaan yang bermutu dan sempurna dalam
pemakaiannya/ operasinya.
b. Pekerjaan pemasangan kloset, kitchen sink, kran air, pengering lantai (floor
drain), serta septictank.
2. Pekerjaan yang berhubungan :
• Pekerjaan Waterproofing
• Pekerjaan Plumbing
3. Persetujuan
a. Semua bahan sebelum dipasang harus ditunjukkan kepada
Perencana/SUPERVISI beserta persyaratan/ketentuan pabrik untuk
mendapatkan persetujuan. Bahan yang tidak disetujui harus diganti tanpa biaya
tambahan.
b. ika dipandang perlu diadakan penukaran/penggantian bahan, pengganti harus
disetujui Perencana/SUPERVISI berdasarkan contoh yang dilakukan
Kontraktor.
7.1.2. Persyaratan Bahan/Produk
1. Closet duduk setara Toto terpasang lengkap
2. Wastafel setara Toto terpasang lengkap
3. Jet Washer setara Toto lengkap terpasang
4. Floor Drain setara Toto lengkap terpasang
5. Kaca Cermin t = 5 mm
6. Kran Air setara Toto lengkap terpasang
7.1.3. Syarat Pelaksanaan
1. Sebelum pemasangan dimulai, Kontraktor harus meneliti gambar-gambar yang ada dan
kondisi dilapangan, termasuk mempelajari bentuk, pola, penempatan,
pemasangan sparing-sparing, cara pemasangan dan detail-detail sesuai gambar.
2. Bila ada kelainan dalam hal ini apapun antara gambar dengan gambar, gambar dengan
spesifikasi dan sebagainya, maka Kontraktor harus segera melaporkannya kepada
Perencana/SUPERVISI.
3. Kontraktor tidak dibenarkan memulai pekerjaan di suatu tempat bila ada
kelainan/berbedaan ditempat itu sebelum kelainan tersebut diselesaikan.
4. Selama pelaksanaan harus selalu diadakan pengujian/pemeriksaan untuk
kesempurnaan hasil pekerjaan dan fungsinya.
5. Kontraktor wajib memperbaiki/mengulangi/mengganti bila ada kerusakan yang
terjadi selama masa pelaksanaan dan masa garansi, atas biaya Kontraktor, selama
kerusakan bukan disebabkan oleh tindakan Pemilik.
6. Pekerjaan Kloset
a. Kloset beserta kelengkapannya yang dipasang adalah yang telah diseleksi
dengan baik, tidak ada bagian yang gompal, retak atau cacat-cacat lainnya dan
telah disetujui Supervisi.
b. Kloset harus terpasang dengan kokoh letak dan ketinggian sesuai gambar,
waterpass. Semua noda-noda harus dibersihkan, sambungan-sambungan pipa
tidak boleh ada kebocoran-kebocoran.
7. Pekerjaan Keran
a. Semua keran yang dipakai, kecuali keran dinding adalah ex. lokal, dengan
chromed finish.
b. Ukuran disesuaikan keperluan masing-masing sesuai gambar plumbing dan
brosur alat-alat sanitair. Keran-keran tembok dipakai yang berleher panjang dan
mempunyai ring dudukan yang harus dipasang menempel pada dinding. Keran-
keran yang dipasang dihalaman harus mempunyai ulir sink di ruang saji dan
dapat disambung dengan pipa leher angsa (extention).
c. Stop keran yang dapat digunakan ex. lokal bahan kuningan dengan putaran
berwarna hijau, diameter dan penempatan sesuai gambar untuk itu.
d. Keran-keran harus dipasang pada pipa air bersih dengan kuat, siku,
penempatannya harus sesuai dengan gambar-gambar untuk itu.
8. Floor Drain dan Clean Out
a. Floor drain dan Clean out yang digunakan adalah metal verchroom, lobang
dia.2" dilengkapi dengan siphon dan penutup berengsel untuk floor drain
dan depverchron dengan draad untuk clean out.
b. Floor drain dipasang ditempat-tempat sesuai gambar untuk itu. Floor drain yang
dipasang telah diseleksi baik, tanpa cacat dan disetujui Supervisi/Pengawas.
c. Pada tempat-tempat yang akan dipasang floor drain, penutup lantai harus
dilobangi dengan rapih, menggunakan pahat kecil dengan bentuk dan ukuran
sesuai ukuran floor drain tersebut.
d. Hubungan pipa metal dengan beton/lantai menggunakan perekat beton kedap
air Embeco dan pada lapis teratas setebal 5 mm diisi dengan lem Araldit.
e. Setelah floor drain dan clean out terpasang, pasangan harus rapih waterpass
dibersihkan dari noda-noda semen dan tidak ada kebocoran.
9. Pekerjaan Metal Sink
a. Metal sink yang digunakan ialah jenis satu bowl tebal minimum 1 mm, bahan
stainless steel.
b. Metal sink yang dipasang adalah yang telah diseleksi dengan baik sehingga
tidak ada bagian yang cacat dan direkatkan dengan kuat pada dasarnya sesuai
dengan gambar untuk itu.
c. Setelah metal sink terpasang, letak ketinggian pemasangan sesuai dengan
gambar untuk itu, baik waterpassnya dan bebas dari kebocoran-kebocoran air.
7.2. PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK DAN ARMATURE LAMPU
7.2.1. Persyaratan Bahan
Persyaratan bahan :
• Kabel NYM 3x2,5mm, [Link]/KABEL INDO
• Pipa Conduit 20mm, [Link]
• Lampu Philips Downlight LED 7W Putih
• Lampu Philips Downlight LED 13W Putih
• Lampu Philips RMI + TL LED tube 1x18 W
• Lampu Philips TKO + TL LED tube 1x18 W
• Lampu dinding LED Philips Parrot Wall Lantern 4 W
• Lampu LED strip COB LED strip 10W/m include power socket
• Stop Kontak Dinding Broco
• Saklar Tunggal Broco
• Pasang Saklar Ganda Broco
Persyaratan Alat :
• Scafolding Set
• Avo Meter
• Gerobak Dorong
• APD (Helm, Rompi Safety, Body Harness, Sepatu, Sarung Tangan, &
Masker)
7.2.2. Pengerjaan
1. Pas. Instalasi Penerangan NYM 3 x2,5mm
- Mempelajari gambar konstruksi dan menghitung ; bahan, alat utama atau
pendukung, serta tenaga sesuai kebutuhan
- Mendatangkan bahan dan alat yang telah dihitung sesuai kebutuhan konstruksi
- Mempersiapkan dan mengontrol kesiapan lokasi hingga dapat dilaksanakan
pekerjaan.
- Setelah mendapat persetujuan direksi akan dilaksanakan perakitan dan
pemasangannya dilapangan.
- Semua instalasi di dalam conduit.
- Mempersiapkan bahan, alat dan tenaga sesuai kebutuhan.
- Semua hantaran (kabel) yang ditarik dalam pipa / cabelduct harus diusahakan
tidak tampak dari luar (tertanam)
- Pemasangan pipa harus dilaksanakan setelah pengecoran.
- Pemasangan sparing-sparing listrik yang melintas di plat, balok, kolom beton
harus dipasang terlebih dahulu sebelum pengecoran, kabel diusahakan dimasuk- kan
bersamaan dengan pemasangan sparing.
- Pipa yang dipasang pada dinding dilaksanakan sebelum pekerjaan plesteran dan
acian dikerjakan.
- Penempatan sambungan/percabangan harus ditempatkan di daerah yang mudah
dicapai untuk perbaikan (perawatan).
- Sambungan harus menggunakan klem / isolasi kabel supaya terlindung dengan
baik sehingga tidak tersentuh atau menggunakan lasdop dan ditempatkan pada Te Dos.
- Lekukan/belokan pipa harus beradius > 3 kali diameter pipa dan harus rata (untuk
memudahkan penarikan kabel).
- Pada hantaran di atas langit-langit, harus diklem pada bagian bawah plat / balok atau
pada balok kayu rangka langit-langit.
- Untuk hantaran/tarikan kabel yang menyusur dinding bata/beton pada shaft harus
diklem atau dengan papan dan kabeltrey bila jaringan terlalu rumit (banyak).
- Box atau kotak Panel bodynya harus diarde, untuk menghindari adanya arus.
- Memberikan surat jaminan instalasi (garansi pemasangan) kepada direksi dan
pengawas.
- Mempersiapkan bahan, alat dan tenaga sesuai kebutuhan
- Melakukan check bahan untuk memastikan bahan berfungsi maksimal, dan kualitas
sesuai spek
- Marking jalur conduit pada dinding dan bobok dinding bata, jangan lupa gunakan
cutter.
- Pasang conduit dan inbow dos.
- Tunggu sampai plester dinding akhir.
- Sambungan saklar, stop kontak dengan aslinya.
- Pasang saklar dan stop kontak, gunakan waterpass agar rata.
- Melakukan pemasangan stop kontak sesuai gambar rencana instalasi listrik, dan testing
sambungan per titik.
2. Pas. Instalasi stop kontak NYM 3 X 2,5mm
- Mempelajari gambar konstruksi dan menghitung ; bahan, alat utama atau
pendukung, serta tenaga sesuai kebutuhan
- Mendatangkan bahan dan alat yang telah dihitung sesuai kebutuhan konstruksi
- Mempersiapkan dan mengontrol kesiapan lokasi hingga dapat dilaksanakan
pekerjaan.
- Setelah mendapat persetujuan direksi akan dilaksanakan perakitan dan
pemasangannya dilapangan.
- Semua instalasi di dalam conduit.
- Mempersiapkan bahan, alat dan tenaga sesuai kebutuhan.
- Semua hantaran (kabel) yang ditarik dalam pipa / cabelduct harus diusahakan
tidak tampak dari luar (tertanam)
- Pemasangan pipa harus dilaksanakan setelah pengecoran.
- Pemasangan sparing-sparing listrik yang melintas di plat, balok, kolom beton
harus dipasang terlebih dahulu sebelum pengecoran, kabel diusahakan dimasuk- kan
bersamaan dengan pemasangan sparing.
- Pipa yang dipasang pada dinding dilaksanakan sebelum pekerjaan plesteran dan
acian dikerjakan.
- Penempatan sambungan/percabangan harus ditempatkan di daerah yang mudah
dicapai untuk perbaikan (perawatan).
- Sambungan harus menggunakan klem / isolasi kabel supaya terlindung dengan
baik sehingga tidak tersentuh atau menggunakan lasdop dan ditempatkan pada Te
Dos.
- Lekukan/belokan pipa harus beradius > 3 kali diameter pipa dan harus rata (untuk
memudahkan penarikan kabel).
- Pada hantaran di atas langit-langit, harus diklem pada bagian bawah plat / balok atau
pada balok kayu rangka langit-langit.
- Untuk hantaran/tarikan kabel yang menyusur dinding bata/beton pada shaft harus
diklem atau dengan papan dan kabeltrey bila jaringan terlalu rumit (banyak).
- Box atau kotak Panel bodynya harus diarde, untuk menghindari adanya arus.
- Memberikan surat jaminan instalasi (garansi pemasangan) kepada direksi dan
pengawas.
- Mempersiapkan bahan, alat dan tenaga sesuai kebutuhan
- Melakukan check bahan untuk memastikan bahan berfungsi maksimal, dan kualitas
sesuai spek
- Marking jalur conduit pada dinding dan bobok dinding bata, jangan lupa gunakan
cutter.
- Pasang conduit dan inbow dos.
- Tunggu sampai plester dinding akhir.
- Sambungan saklar, stop kontak dengan aslinya.
- Pasang saklar dan stop kontak, gunakan waterpass agar rata.
- Melakukan pemasangan stop kontak sesuai gambar rencana instalasi listrik, dan
testing sambungan per titik.
3. Pas. Lampu Philips Downlight LED 7W Putih
4. Pas. Lampu Philips Downlight LED 13W Putih
5. Pas. Lampu Philips RMI + TL LED tube 1x18 W
6. Pas. Lampu Philips TKO + TL LED tube 1x18 W
7. Pas. Lampu dinding LED Philips Parrot Wall Lantern 4 W
8. Pas. Lampu LED strip COB LED strip 10W/m include power socket
Item no.3 sampai no.8 merupakan kegiatan yang sama, maka dijabarkan
sebagai berikut :
Proses Pekerjaan :
- Mempersiapkan bahan, alat dan tenaga sesuai kebutuhan
- Melakukan check bahan untuk memastikan bahan berfungsi maksimal, dan
kualitas sesuai spek
- Semua fixture penerangan dan perlengkapan-perlengkapan harus dipasang
oleh tukang-tukang yang berpengalaman dengan cara yang benar dan
disetujui pengawas seperti yang ditunjukkan dalam gambar.
- Pada daerah yang tidak memakai ceiling pemasangan lampu menempel
pada kanal yang dipasang lengkap dengan penggantungnya.
- Pada waktu pemeriksaan akhir semua “fixture” dan perlengkapan harus
sudah siap menyala dan bebas dari cacat.
- Semua fixtures dan perlengkapan harus bersih bebas dari debu, plastes dan
lain lain.
- Semua reflector, kaca, panel pinggir atau bagian-bagian lain yang rusak
sebelum pemeriksaan akhir harus diganti oleh pemborong tanpa biaya
tambahan
- Setelah pemasangan selesai, maka meminta direksi untuk dapat
mengawasi testing lampu per titik.
9. Pas. Saklar Tunggal “Broco”
10. Pas. Saklar Ganda “Broco”
11. Pas. Stop Kontak “Broco”
12. Pas. Stop Kontak AC “Broco”
Item no. 9 sampai no.12 merupakan kegiatan yang sama, maka dijabarkan
sebagai berikut :
Proses Pekerjaan :
- Mempersiapkan bahan, alat dan tenaga sesuai kebutuhan
- Melakukan check bahan untuk memastikan bahan berfungsi maksimal, dan kualitas
sesuai spek
- Marking jalur conduit pada dinding dan bobok dinding bata, jangan lupa gunakan
cutter.
- Pasang conduit dan inbow dos.
- Tunggu sampai plester dinding akhir.
- Sambungan saklar, stop kontak dengan aslinya.
- Pasang saklar dan stop kontak, gunakan waterpass agar rata.
- Melakukan pemasangan saklar sesuai gambar rencana instalasi listrik, dan testing
sambungan per titik
3. Pekerjaan Pemasangan Sub Distribution Panel (SDP)
Lingkup Pekerjaan :
Meliputi pengadaan bahan, peralatan, pemasangan, penyambungan, pengujian dan
perbaikan selama masa pemeliharaan, ijin-ijin, tenaga teknisi dan tenaga ahli. Dalam lingkup
ini termasuk seluruh pekerjaan yang tertera di dalam gambar dan spesifikasi teknis ini maupun
tambahan-tambahan lainnya.
Tipe dan Macam Panel :
Panel-panel daya dan penerangan lengkap dengan semua komponen yang harus ada seperti
yang ditunjukkan dalam gambar. Panel-panel yang dimaksud untuk beroperasi pada 500 V, 1
phase, 3 kawat, 50 Hz dan Solidly Grounded dan harus dibuat mengikuti standard SNI, IEC,
BS, NEMA dan sebagainya.
Karakteristik Panel :
- Tegangan kerja : 500 volt
- Tegangan uji : 3.000 volt
- Tegangan uji impulse : 20.000 volt
- Frekwensi : 50 Hz
Konstruksi Panel
a. Panel tegangan rendah harus dapat dioperasikan dengan aman oleh petugas,
misalnya seperti pengoperasian sakelar daya (MCB/MCCB), pemasangan kembali
indikator-indikator, pengecekan tegangan, pengecekan gangguan dan sebagainya.
b. Panel tegangan rendah terdiri dari lemari-lemari yang digunakan untuk pemasangan
peralatan-peralatan atau penyambungan-penyambungan. Setiap lemari hanya dapat
dibuka bila semua peralatan bertegangan dalam lemari tersebut telah off/mati.
c. Peralatan yang merupakan bagian dari sistem pengamanan/interlock harus dibuat
sedemikian rupa, sehingga tidak mungkin terjadi kecelakaan akibat kesalahan-
kesalahan operasi yang dibuat oleh petugas.
d. Panel/kubikel dibuat dari pelat baja tebal tidak kurang dari 2,00 mm dan diberi
penguat besi siku atau besi kanal dengan ukuran standard, sehingga dapat
dipertukarkan dan diperluas dengan mudah dan masing-masing terpisah satu sama
lain dengan alat pemisah.
e. Tiap kubikel terdiri dari bagian sebagai berikut :
i. Ruangan busbar disebelah atas dilengkapi dengan penutup yang dapat
dilepaskan dengan baut setelah panel dimatikan.
ii. Ruangan peralatan dilengkapi dengan pintu di sebelah muka, yang
dihubungkan dengan sebuah handel pembuka peralatan sedemikian
rupa, sehingga hanya dapat dibuka bila bagian dalam ruangan tersebut
telah off/mati.
Letak engsel maupun handel dan kunci dari pintu harus disesuaikan ketinggiannya.
Finishing dari panel harus dilaksanakan sebagai berikut :
- Semua mur dan baut harus tahan karat, dilapisi Cadmium
- Semua bagian dari baja harus bersih dan sandlasted setelah pengelasan, kemudian
secepatnya harus dilindungi terhadap karat dengan cara galvanisasi atau
"Chromium Plating" atau dengan "Zinc Chromate Primer".
- Pengecatan finish dilakukan dengan cara “Powder Coating” dengan warna abu-
abu atau warna lain yang disetujui Pemilik/Pengawas.
f. Panel harus dilengkapi dengan Relay pengaman terhadap kesalahan hubungan
ketanah (Earth/Ground Fault Relay), dan kelengkapan Relay pengaman lainnya
(Over Current Relay, Over Voltage Relay dan lain-lain)seperti terdapat pada
gambar. Main busbars dalam panel harus dipasang horizontal dibagian bawah/atas
dan mempunyai kemampuan hantar arus kontinu minimal sebesar 1,5 (satu
setengah) kali dari rating ampere frame main pemutus dayanya.
Busbars dari bahan tembaga murni dengan minimum konduktivitas 99,99% .
Busbars harus dicat sesuai kode warna dalam PUIL 2000;
Phasa : Merah, kuning, hitam
Netral : Biru
Ground : Hijau – Kuning.
g. Magnetic Contactor harus dapat bekerja tanpa getaran maupun dengan kumparan
contactor harus sesuai untuk tegangan 220 Volt, 50 Hz dan tahan bekerja kontinu
pada 10% tegangan lebih dan harus pula dapat menutup dengan sempurna pada 85%
tegangan nominal. Magnetic Contactor harus dari Telemekanik dan yang setaraf.
h. Pemberian Tanda Pengenal
Tanda pengenal harus dipasang, yang menunjukkan hal-hal berikut :
- Fungsi peralatan dalam panel
- Posisi terbuka atau tertutup
- Arah putaran dari handel pengontrol dari switch
- Dan lain-lain.
Tanda pengenal ini harus jelas dan tidak dapat hilang.
i. Pengujian Pengujian ini perlu dilakukan bila pabrik tidak menunjukkan sertifikat
pengujian yang diakui oleh PLN (LMK) :
- Test kekuatan tegangan impuls
- Test kenaikan temperature
- Test kekuatan hubung singkat
- Test untuk alat-alat pengaman
- Pemeriksaan apakah peralatan sudah sesuai dengan yang dimaksud
- Pemeriksaan alat-alat interlock dan fungsi kerja handel-handel
- Pemeriksaan kekuatan mekanis dari handel dan alat interlock
- Pemeriksaan kontinuitas rangkaian.
4. Pemasangan Unit Grounding Panel Box
Seluruh bagian-bagian besi dalam panel harus diketanahkan secara baik, dengan
menggunakan sistem solid grounding (langsung dibumikan). Elektroda pembumian
terbuat dari batang tembaga diameter 6 mm2 dan harus ditanam minimal sedalam 6 m,
sehingga dapat dicapai tahanan pembumian maksimal 2 Ohm. Untuk peralatan-peralatan
yang terletak di lantai atas, dapat dibuat hubungan pembumian terpadu, yaitu dengan
mengikuti standard-standard yang berlaku dalam PUIL 2000.
Ketentuan-ketentuan yang harus diikut antara lain sebagai berikut :
Penampang Konduktor Penampang Konduktor
daya yang digunakan (mm2) pembumian (mm2)
< = 6 mm² 6 mm²
10 mm² 10 mm²
16 mm² 16 mm²
25 mm² 16 mm²
35 mm² 25 mm²
50 mm² 25 mm²
70 mm² 35 mm²
>=S S/2
7.3. PEKERJAAN INSTALASI PIPA
7.3.1. Lingkup Pekerjaan
a. Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, biaya, peralatan
dan alat-alat bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini, hingga dapat
tercapai hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna.
b. Bagian ini meliputi pekerjaan instalasi pipa air hujan dan kelengkapannya seperti
pemasangan roof drain yang telah disebutkan dalam Gambar Kerja.
7.3.2. Bahan
a. Seluruh bahan yang digunakan harus dalam keadaan baik.
b. Dalam penyimpanan bahan yang akan dipakai disimpan di daerah yang terlindung
dari cuaca. Tempat tumpukan harus jauh dari lalu lintas kendaraan proyek yang
mungkin mengganggu.
c. Instalasi pipa air hujan menggunakan pipa PVC dilengkapi dengan roof drain yang
terbuat dari Cast Iron dengan tipe SS 4”.
d. Luas laluan air pada tutup roof drain ialah sebesar dua kali luas penampang pipa
buangan.
e. Bahan pipa maupun perlengkapan harus terlindung dari kotoran, air, karat dan
tekanan mekanis sebelum, selama dan sesudah pamasangan.
f. Semua barang yang dipergunakan harus jelas menunjukkan identitas pabrik
pembuat.
7.3.3. Persyaratan Pemasangan
a. Pipa yang dipasang adalah pipa baru dari Pabrik pipa.
b. Setiap pipa yang datang masih dilengkapi / ditutup kedua ujungnya dengan penutup
(plug) guna menghindari masuknya kotoran.
c. Kotoran, lumpur, minyak yang menempel pada pipa harus dibersikan terlebih
dahulu dengan detergent.
d. Pipa yang sudah cacat dan berkarat karena kesalahan penyimpanan dan
pengangkutan tidak diijinkan untuk dipakai pada proyek ini.
e. Perpipaan harus dikerjakan dengan cara yang benar untuk menjamin kebersihan,
kerapihan, ketinggian / elevasi yang benar, dengan kemiringan yang cukup serta
diupayakan memperkecil banyaknya penyilangan
f. Semua pipa dan fitting harus dibersihkan dengan cermat dan teliti sebelum
dipasang, membersihkan semua kotoran, benda-benda tajam / runcing serta
penghalang lainnya.
g. Pekerjaan perpipaan harus dilengkapi dengan semua katup-katup yang diperlukan
h. Semua perpipaan yang akan disambung dengan peralatan, harus dilengkapi
dengan union atau flange.
i. Sambungan lengkung, reducer dan sambungan-sambungan cabang pada
pekerjaan perpipaan harus mempergunakan fitting buatan pabrik.
j. Semua pekerjaan perpipaan harus dipasang secara menurun searah aliran kearah
titik buangan yang dilengkapi dengan manual valve
BAB VIII
PEKERJAAN LAIN LAIN
8.1 PEKERJAAN PAVING
8.1.1 Persyaratan Bahan
- Paving block tebal 21 x10,5x6 cm, K-300
- Uskup tebal 30x21x8cm, K-300
- Pasir Urug
8.1.2 Persyaratan Alat
- Waterpass
- Hand Stamper
- Gerobak Dorong
- APD (Helm, Rompi Safety, Sepatu, Sarung Tangan, & Masker)
1. Pas. Paving Block tebal 21 x10,5x6 cm, K-300
2. Pas. Kanstin 15x25x40 cm
8.1.3 Proses Pekerjaan :
- Memastikan Semua Paving dan Uskup harus berkualitas baik dan sesuai mutu yang
telah ditentukan. Pihak pemborong memperlihatkan contohnya kepada Direksi
untuk mendapat persetujuan sebelum mengadakan pasangan.
- Memastikan permukaan lahan dalam kondisi rata
- Pemasangan paving block dengan cara maju kedepan
- Setelah semua paving block terpasang, isi celah antara paving dengan pasir urug
- Pemadatan paving block yang sudah terpasang menggunakan hand stamper sampai
dengan 2 kali putaran.
8.2 PEKERJAAN TAMAN
8.2.1 Persyaratan bahan
- Rumput Gajah Mini (Gebalan)
- Tanah Taman
- Tabebuya (Tabebuia rosea) Diameter 5-7 cm, tinggi 3-6 meter,
8.2.2 Persyaratan Alat :
- Waterpass
- Tandon Air
- Bak Air
- Gerobak Dorong
- APD (Helm, Rompi Safety, Sepatu, Sarung Tangan, & Masker)
8.2.3 Pelaksanaan
- Mempersiapkan bahan sesuai spek, alat dan tenaga sesuai kebutuhan
- Memberikan sample kepada direksi tentang wastafel yang akan dipasang.
- Rumput Gajah Mini dan tanaman Tabebuya ditanam di media yang telah
ditentukan
- Perawatan dilaksanakan selama pagi dan sore selama masa perawatan bangunan
gedung.
8.3 INSTALASI PENANGKAL PETIR
8.3.1. Umum
Lingkup Pekerjaan ini meliputi pengurusan perizinan / pengesahan dari badanyang berwenang,
pengadaan bahan, peralatan dan tenaga pekerja,pemasangan, pengujian dan perbaikan selama
masa pemeliharaan untuk suatu sistem penangkal petir yang lengkap.
Pekerjaan tersebut terdiri dari :
- Terminal Udara (Spit Tembaga),
- Penghantar Pentahanan (Down Conductor),
- Terminal dan Elektroda Pentanahan,
- Izin Instalasi dari instansi yang berwenang,
- Pekerjaan lain yang menunjang.
8.3.2. Alat dan Bahan
Teminal Udara / Air Termination meliputi peralatan-peralatan sebagai berikut :
1. Head Terminal Orbital Helia
2. FRV 2 Inch 2 Meter
3. Pipa Support 2 inch Galvanis 4 meter
4. Kabel Konduktor NYY 1x70mm
5. Lightning counter Virtu
6. Kabel Grounding BC 1x70mm
7. Full Copper Rod 5/8 inch x 4 meter
8. Exothermic Welding
9. Klem Kuku Macan 70mm
10. Klem L
11. Skun 70mm
12. Grounding pit / Bak Kontrol polymer + busbar
13. Sistem Pentanahan
a. Terminal Pentanahan.
b. Elektroda Pentanahan, terbuat dari batang tembagamasif dengan diameter ¾”
disambung dengan pipa GIP Ø 1½”.
c. Tahanan / hambatan / resistansi tanah tidak boleh lebihdari 2 [Link] tahanan
tersebut tidak dapat dicapai dengan satu elektrodamaka harus dibuatkan
beberapa batang pentahanan yang terpasangsecara pararel sampai tahanan tanah
yang diisyaratkan terpenuhi.
8.3.3. Pengerjaan dan Pemasangan
1. Cara-cara pemasangan sistem penangkalan petir harussesuai dengan gambar dan harus
mengikuti Petunjuk Pengawas Lapangan.
2. Down Conductor disepanjang konstruksi penyanggahharus dipasang memakai klem
dengan jarak setiap 75 cm.
3. Down Conductor diatas permukaan tanah sampai padaketinggian 2 meter dari
permukaan tanah harus dipasang didalam pipaPVC Kelas AW.
4. Pada Elektroda pentanahan harus dibuat terminalpentanahan dengan baut dan ring.
Sambungan pada elektroda pentanahan harus memakai junction box.
5. Elektroda pentanahan dari batang tembaga diameter ¾”dan panjang tembaga harus
dilindungi terhadap korosi dengan serbukarang disekitar batang tembaga. Lokasi
ditentukan sesuai dengan yangditunjukkan pada gambar. Tanam secara vertikal pipa
baja diameter 5”sampai sedalam 12 meter atau sampai mencapai permukaan air
[Link] pipa dicabut kembali sehingga akan meninggalkan lubangdengan
diameter kurang dari 5” sedalam 12 meter. Isi lubang tersebutdengan serbuk arang
padat. Terakhir, elektroda pentanahan ditengah-tengah bumbung arang tersebut.
6. Terminal pentanahan harus terletak dalam bak kontrolkhusus untuk keperluan tersebut
dan untuk pengecekan tahanan tanahsecara berkala, tahanan pentanahan maksimum 2
Ohm.
8.4 DEWATERING
Pelaksanaan pekerjaan yang perlu diperhatikan dalam pedoman spesifikasi teknis
pekerjaan dewatering harus memuat :
a. Pengelakan
Untuk metode pengelak sebagai berikut:
1. Laksanakan pembangunan pengelak diperpanjang untuk menyediakan ruang kerja
yang kering agar konstruksi dapat dikerjaan, penggalian dilakukan pada dasar
kolam untuk memusatkan arah air pada kolam;
2. pondasi dibangun pada lokasi yang kering di belakang pengelak;
3. Pengelak hanya berupa penghentian aliran agar air tidak masuk ke area konstruksi
b. Pompa
Pompa diperlukan untuk membuang air yang berada di belakang pengelak untuk
mengeringkan setelah pengelak terpasang. Kapasitas Pompa yang digunakan sesuai dengan
kebutuhan dilapangan
8.5 PEMASANG HURUF STAINLESS STEEL DAN AKRILIK
8.5.1. Persiapan Pekerjaan
1. Pembuatan dan pengajuan gambar shop drawing pekerjaan pasang huruf stainless
steel tinggi 20 cm.
2. Approval material yang akan digunakan.
3. Persiapan lahan kerja.
4. Persiapan material kerja, antara lain :huruf stainless steel, Akrilik, baut, lem, paku,
dll.
5. Persiapan alat kerja, antara lain : cutter, obeng, meteran, las listrik, bor listrik, dll.
8.5.2. Pelaksanaan Pekerjaan
1. Persiapkan huruf yang sudah dibentuk sesuai dengan gambar Shop Drawing.
2. Mengukur media yang akan digunakan sebagai tempat peletakan huruf stainless
steel, serta penentuan ketinggian letak pemasangan. Lalu pasang paku dan tali untuk
menandai area pemasangan agar huruf-huruf dapat diletakkan dengan lurus.
3. Atur rencana peletakkan sesuai keinginan. Apabila telah menemukan susunan dan
peletakan yang tepat, gambar pola cetakan pada media dengan pensil. Ukur jarak
masing-masing huruf dengan menggunakan meteran. Buat pola huruf pada tembok
dengan pensil satu per satu sampai semua huruf selesai.
4. Tandai dan lubangi dengan menggunakan bor pada titik-titik yang telah ditentukan.
Sesuaikan dengan lubang pemasangan baut pada belakang huruf [Link]
merupakan salah satu tahapan paling penting.
5. Pasanglah baut dan mur pada masing-masing lubang di belakang huruf timbul satu-
per satu hingga selesai. Pastikan baut terpasang baik dan kuat.
6. Setelah baut terpasang dengan baik pada huruf, cocokkan baut dengan lubang pada
dinding, Apabila telah sesuai, lepaskan kembali huruf, lalu masukkan lem pada
lubang didinding, sampai penuh.
7. Kemudian pasangkan kembali huruf stainless tersebut, dengan baut-baut ditanamkan
ke dalam lubang didinding yang sudah diberi lem tadi.
8. Pada tahap finishing, bersihkan bekas pola pensil pada tembok, dan lap bersih tiap-
tiap huruf agar terlihat bagus dan berkilau. Biarkan hingga lem mengering.
Mojokerto, Juli 2023
Dibuat oleh,
CV. GEOSENTRIS
WIJAYANTO, ST.
Direktur